7
2.1 Lembaga Keuangan
2.1.1 Pengertian Lembaga Keuangan
Pengertian lembaga keuangan menurut Iskandar (2008:2) adalah sebagai berikut:
“Badan usaha yang bergerak dalam bidang jasa keuangan yaitu menghimpun dana dan menyalurkannya serta jasa keuangan lainnya”.
Lembaga keuangan sering juga disebut sebagai lembaga intermediasi dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu:
1. Lembaga Keuangan Bank adalah badan usaha yang dalam kegiatan usahanya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan kemudian menyalurkannya dalam bentuk pinjaman serta kegiatan jasa lainnya. Bentuk simpanan umum berupa: Kredit Modal Kerja, kredit investasi dan kredit konsumtif serta kredit lainnya. Yang termasuk dalam lembaga keuangan bank adalah:
1. Bank Sentral atau bank Indonesia
2. Bank Umum berdasarkan prinsip konvensional 3. Bank Umum berdasarkan prinsip syariah 4. Bank Perkreditan Rakyat
2. Lembaga Keuangan Bukan Bank adalah perusahaan yang dalam kegiatan usahanya melakukan investasi, pembiayaan atau memberikan perlindungan terhadap resiko kepada konsumennya.
Yang termasuk dalam kegiatan usaha melakukan investasi (investment company adalah:
1. Pasar Uang 2. Pasar Modal
Dan yang termasuk dalam kegiatan usaha melakukan pembiayaan (finance company) adalah:
1. Leasing 2. Anjak piutang 3. Sewa guna usaha 4. Pembiayaan Konsumen 5. Kartu kredit
6. Pegadaian
Sedangkan yang termasuk dalam kegiatan uasaha perlindungan terhadap resiko adalah:
1. Asuransi 2. Dana Pensiun
2.1.2 Peranan Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank
Peran Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank menurut Budisantoso,
Totok dan Sigit Triandaru (2006:11) adalah sebagai berikut:
Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank mempunyai peran yang sangat penting dalam sistem keuangan, yaitu:
a. Pengalihan aset (asset transmutation)
b. Transaksi (transaction)
c. Likuiditas (liquidity) d. Efisiensi (efficiency)
Berikut adalah penjelasan mengenai peran bank dan lembaga keuangan diatas:
a. Pengalihan aset (asset transmutation)
Bank dan lembaga keuangan bukan bank akan memberikan pinjaman kepada pihak yang membutuhkan dana dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati. Sumber dana pinjaman tersebut diperoleh dari pemilik dana yaitu unit surplus yang jangka waktunya dapat diatur sesuai dengan keinginan pemilik dana. Dalam hal ini bank dan lembaga keuangan bukan bank telah berperan sebagai pengalih aset yang likuid dari unit surplus (lenders) kepada unit defisit
(borrowers). Dalam kasus yang lain, pengalihan aset dapat pula terjadi jika bank dan lembaga keuangan bukan bank menerbitkan sekuritas sekunder (giro, deposito berjangka, dana pensiun dan sebagainya) yang kemudian dibeli oleh unit surplus dan selanjutnya ditukarkan dengan sekuritas primer (saham, obligasi, promes, commercial paper dan sebagainya) yang diterbitkan oleh unit defisit.
b. Transaksi (transaction)
Bank dan lembaga keuangan bukan bank memeberikan berbagai kemudahan kepada pelaku ekonomi untuk melakukan transaksi barang dan jasa. Dalam ekonomi modern, transaksi barang dan jasa tidak pernah terlepas dari transaksi keuangan. Transaksi keuangan selalu diperlukan baik secara langsung dalam jual-beli barang jadi dalam proses produksi. Produk-produk yang dikeluarkan oleh bank dan lembaga keuangan bukan bank (giro, tabungan, deposito, saham, dan sebagainya) merupakan pengganti uang dan dapat digunakan sebagai alat pembayaran.
c. Likuiditas (liquidity)
Unit surplus dapat menempatkan dana yang dimilikinya dalam bentuk produk-produk berupa giro, tabungan, deposito dan sebagainya. Produk-produk-produk tersebut masing-masing mempunyai tingkat likuiditas yang berbeda-beda. Untuk kepentingan likuiditas para pemilik dana dapat menempatkan dananya sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya. Dengan demikian, lembaga keuangan memberikan fasilitas pengelolaan likuiditas kepada pihak yang mengalami surplus likuiditas. Dengan kata lain, lembaga keuangan secara bersamaan menyalurkan likuiditas kepada pihak yang memerlukan tambahan likuiditas, dengan cara menyalurkan dana dari pihak yang mengalami kelebihan likuiditas.
d. Efisiensi (efficiency)
Bank dan lembaga keuangan bukan bank dapat menurunkan biaya transaksi dengan jangkauan pelayanan. Peranan bank dan lembaga keuangan bukan bank sebagai broker adalah menemukan peminjam dan pengguna modal tanpa mengubah produknya. Disini mereka hanya memperlancar dan mempertemukan
pihak-pihak yang saling membutuhkan. Adanya informasi yang tidak simetris (assymetric information) antara peminjam dan investor menimbulkan masalah intensif. Peranan lembaga perantara keuangan menjadi penting untuk memecahkan masalah intensif ini. Indonesia dengan pasar yang belum efisisen, atau adanya informasi yang tidak sempurna, menyebabkan ekonomi biaya tinggi. Ekonomi biaya tinggi akan menyebabkan Indonesia tidak dapat bersaing dalam pasar global. Terlihat disini lembaga perantara keuangan mempunyai peranan untuk menjembatani dua pihak yang saling berkepentingan untuk menyamakan informasi yang tidak sempurna. Pemerintah Indonesia dengan peraturannya akan dapat memberikan iklim untuk mendukung operasi lembaga tersebut.
2.2 Bank
2.2.1 Pengertian Bank
Bank menurut Dendawijaya (2009:14), yaitu sebagai berikut :
“Bank adalah suatu badan usaha yang tugas utamanya sebagai lembaga keuangan (financial intermediaries), yang menyalurkan dana dari pihak berkelebihan dana (idle fund surplus unit), kepada pihak yang membutuhkan dana atau kekurangan (deficit unit) pada waktu yang ditentukan”.
Dictionary of Banking and financial service by Jerry Rosenberg dalam
Taswan (2006 : 4) adalah sebagai berikut:
“Bank adalah lembaga yang menerima simpanan giro, deposito dan membayar atas dasar dokumen yang ditarik pada orang atau lembaga tertentu, mendiskonto surat berharga, dan menanamkan dananya dalam surat berharga”.
Dalam pasal 1 Undang-undang No. 4 Tahun 2003 tentang
Perbankan adalah sebagai berikut:
“B a n k a d a l a h B a n k u m u m d a n B a n k P e r k r e d i t a n R a k y a t y a n g m e l a k s a n a k a n kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran”.
Dari pengertian atau definisi bank di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa bank merupakan badan usaha yang tugas utamanya sebagai lembaga keuangan yang kegiatannya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, menyalurkan dana kepada masyarakat dengan cara memberikan kredit atau menyediakan dana bagi masyarakat yang membutuhkan dan memberikan jasa-jasa bank lainnya.
2.2.2 Fungsi Bank
Fungsi bank menurut Siamat, Dahlan (2004:88), adalah sebagai berikut:
“Bank umum sebagai lembaga intermediasi keuangan memberikan jasa-jasa keuangan baik kepada unit surplus maupun kepada unit defisit”.
Bank melaksanakan beberapa fungsi dasar, sebagai berikut:
a. Menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang lebih efisien dalam kegiatan ekonomi.
b. Menciptakan uang
c. Menghimpun dana dan menyalurkannya kepada masyarakat. d. Menawarkan jasa-jasa keuangan lain.
2.2.3 Jenis Bank
Jenis atau bentuk bank menurut Dendawijaya (2009:15) adalah sebagai berikut:
“jenis atau bentuk bank bermacam-macam, tergantung pada cara penggolongannya”.
Penggolongannya dapat dilakukan berdasarkan hal-hal sebagai berikut:
1. Formalitas berdasarkan undang-undang.
2. Kepemilikannya.
3. Penekanan kegiatan usahanya.
4. Pembayaran bunga atau pembagian hasil usaha.
1. Jenis bank berdasarkan undang-undang
Berdasarkan pasal 5 Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, terdapat dua jenis bank, yaitu:
a. Bank umum adalah bank yang dalam pengumpulan dananya terutama menerima simpanan dalam bentuk giro dan deposito dalam usahanya terutama dalam memberikan kredit jangka pendek.
b. Bank perkreditan rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalulintas pembayaran.
Dengan catatan bahwa bank umum dapat mengkhususkan diri untuk melaksanakan kegiatan tertentu atau memberikan perhatian lebih besar kepada kegiatan tertentu.
2. Jenis bank berdasarkan kepemilikannya
a. Bank milik Negara (badan usaha milik Negara atau BUMN)
b. Bank milik pemerintah daerah (badan usaha milik daerah atau BUMD) c. Bank milik swasta nasional
d. Bank milik swasta campuran (nasional dan asing) e. Bank milik asing (cabang atau perwakilan)
3. Jenis bank berdasarkan penekanan kegiatannya
a. Bank retail (retail banks)
b. Bank korporasi (corporate banks) c. Bank komersial (commercial banks) d. Bank pedesaan (rural banks)
e. Bank pembangunan (development banks) f. Dan lain-lain
4. Jenis bank berdasarkan pembayaran bunga atau pembagian hasil usaha
a. Bank konvensional
2.3 Laporan Keuangan
2.3.1 Pengertian Laporan Keuangan
Taswan (2005:39) menjelaskan definisi laporan keuangan adalah sebagai
berikut :
“Bentuk informasi yang disajikan oleh bagian akuntansi adalah laporan
keuangan. Laporan keuangan disusun sebagai bentuk
pertanggungjawaban manajemen terhadap pihak-pihak yang
berkepentingan dengan kinerja perusahaan yang dicapai selama periode tertentu”.
Menurut Kasmir (2008:7), adalah sebagai berikut :
“Laporan yang menunjukan kondisi keuangan perusahaan secara pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu.
Dari pengertian atau definisi bank di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa Laporan Keuangan adalah bentuk informasi yang disajikan bagian akuntansi dalam suatu perusahaan selama periode tertentu yang dapat menunjukan kondisi keuangan suatu perusahaan.
2.3.2 Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2008: 10-11), berikut ini beberapa tujuan pembuatan atau penyusunan laporan keuangan yaitu:
1. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva(harta) yang dimiliki perusahaan pada saat ini
2. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang dimiliki perusahaan pada saat ini
3. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh pada suatu periode tertentu
4. Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode terntentu
5. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi terhadap aktiva, pasiva dan modal perusahaan
6. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu periode
7. Memberikan informasi tentang catatan-catatan atas laporan keuangan 8. Informasi keuangan lainnya
Tujuan Laporan keuangan menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar
Akuntansi Keuangan (2009:2) menyatakan:
"Memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukan pertanggung jawaban (Stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka"
2.3.3 Pihak-pihak yang Memerlukan Laporan Keuangan
Pihak yang paling berkepentingan tentunya pemilik usaha itu sendiri. Sementara itu, pihak luar adalah mereka yang memiliki hubungan, baik langsung maupun tidak langsung terhadap perusahaan. Masing-masing pihak memiliki kepentingan tersendiri tergantung dari sudut mana kita memendangnya, (Kasmir,
2008:19).
Adapun pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap laporan keuangan bank adalah sebagai berikut:
1. Pemilik atau pemegang saham
Pemilik pada saat ini adalah mereka yang memiliki usaha tersebut. Hal inni tercermin dari kepemilikan saham yang dimiliknya. Kepentingan bagi para pemegang saham yang dimilikinya.
2. Manajemen
Kepentingan pihak manajemen perusahaan terhadap laporan keuangan perusahaan yang mereka buat juga memiliki arti tertentu. Bagi pihak manajemen laporan keuangan yang dibuatmerupakan cermin kinerja mereka dalam suatu periode tertentu.
3. Kreditor
Kreditor adalah pihak penyandang dana bagi perusahaan. Artinya pihak pemberi dana seperti bank atau lembaga keuangan lainnya. Kepentingan kreditor terhadap laporan keuangan perusahaan adalah dalam hal memberi pinjaman atau pinjaman yang telah berjalan sebelumnya.
4. Pemerintah
Pemerintah juga memiliki nilai penting atas laporan keuangan yang dibuat perusahaan. Bahkan pemerintah melalui departemen keuangan mewajibkan kepada setiap perusahaan untuk menyusun dan melaporkan keuangan perusahaan secara periodik.
5. Investor
Investoradalah pihak yang hendak menenmkan dana disuatu perusahaan. Jika suatu perusahaan memerlukan dana untuk memperluas usahanya disamping memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan, seperti bank dapat pula diperoleh dari para investor melalui penjualan saham.
2.3.4 Jenis-jenis Laporan keuangan Bank
Kasmir (2000:175) Sama seperti lembaga bank lainnya, bank juga memiliki
beberapa jenis laporan keuangan bank, yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Neraca
Neraca merupakan laporan menunjukan posisi keuangan bank pada tanggal tertentu. Posisi keuangan dimaksudkan adalah posisi Aktiva (Harta), Pasiva (kewajiban dan ekuitas) suatu bank. Penyusunan komponen di dalam neraca didasarkan pada tingkat likuiditas dan jatuh tempo.
2. Laporan Komitmen dan Kontinjensi
Laporan komitmen merupakan suatu ikatan atau kontrak yang berupa janji yang tidak dapat dibatalkan secara sepihak (Irrevocable) dan harus dilaksanakan apabila persyaratan yang disepakati bersama dipenuhi. Contoh laporan komitmen adalah komitmen kredit, komitmen penjualan atau pembelian aktiva bank dengan
syarat Repurchase Agrement, sedangkan laporan kontinjensi merupakan tagihan atau kewajiban bank yang memungkinkan timbulnya tergantung pada terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa dimasa yang akan datang. Penyajian laporan komitmen dan kontinjensi disajikan tersendiri tanpa pos lama.
3. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi merupakan laporan keuangan bank yang menggambarkan hasil usaha bank dalam suatu periode tertntu.
4. Laporan Arus Kas
Merupakan laporan yang menunjukan semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan bank baik yang berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap kas. Laporan arus kas harus disusun berdasarkan konsep kas selama periode laporan.
5. Catatan atas Laporan Keuangan
Merupakan laporan yang berisi catatan tersendiri mengenai posisi Devisa Neto menurut jenis mata uang dan aktivitas lainnya.
6. Laporan Keuangan Gabungan dan Konsolidasi
Laporan gabungan merupakan laporan dari seluruh cabang-cabang bank yang bersangkutan baik yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri. Sedangkan laporan konsolidasi merupakan laporan bank yang bersangkutan dengan anak perusahaan.
2.4 Analisis Kinerja Bank
2.4.1 Analisis Rasio Likuiditas
Dendawijaya (2009:114) yang dimaksud dengan analisis rasio likuiditas
adalah sebagai berikut:
“Analisis rasio likuiditas adalah analisis yang dilakukan terhadap kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya atau kewajiban yang sudah jatuh tempo”.
Beberapa rasio likuiditas yang sering digunakan dalam menilai kinerja suatu bank antara lain adalah sebagai berikut:
1. Cash ratio
Cash ratio adalah rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga yang dihimpun bank yang harus segera dibayar.
2. Reserve requitment
Reserve requirement atau lebih dikenal juga dengan likuiditas wajib minimum adalah suatu simpanan minimum yang wajib dipelihara dalam bentuk giro di Bank Indonesia bagi semua pihak.
3. Loan to deposit ratio (LDR)
LDR adalah rasio antara seluruhjumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank.
4. Loan to asset ratio
Loan to Asset Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas bank yang menunjukan kemampuan bank untuk memenuhi permintaan kredit dengan menggunakan total asset yang dimiliki bank.
5. Rasio kewajiban bersih call money
Persentase dari rasio kewajiban bersih call money terhadap aktiva lancer atau aktiva yang paling likuid dari bank.
2.4.2 Analisis Rasio Rentabilitas
Dendawijaya (2009:118) yang dimaksud dengan Analisis rasio rentabilitas
adalah sebagai berikut:
“Analisis rasio rentabilitas bank adalah alat untuk menganalisis atau mengukur tingkat efesiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan”.
Analisis rasio rentabilitas suatu bank antara lain: 1. Return on Asset (ROA)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Semakin besar ROA uatu
bank, maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan aset.
2. Return on Equity (ROE)
ROE adalah perbandingan antara laba bersih bank dengan ROE modalsendiri. 3. Rasio biaya (Beban) operasional
Rasio biaya operasional adalah perbandingan antara biaya operational dan pendaptan operasional.
4. Net profit margin (NPM) ratio
Net profit margin adalah rasio yang menggambarkan tingkat keuntungan (laba) yang diperoleh bank dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya.
2.4.3 Analisis Rasio Solvabilitas
Menurut Dendawijaya (2009:120) yang dimaksud dengan Analisis rasio solvabilitas adalah sebagai berikut:
“Analisis rasio solvabilitas adalah analisis yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya atau kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jika terjadi likuidasi bank”.
Yang termasuk rasio solvabilitas adalah sebagai berikut: 1. Capital adequacy ratio (CAR)
CAR adalah rasio yang memeprlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank, di samping memeproleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank, seperti dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain.
2. Debt to equity ratio
Debt to equity ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menutup sebagian atau seluruh utang-utangnya, baik jangka panjang maupun jangka pendek, dengan dana yang berasal dari modal bank sendiri.
3. Long term debt to asset ratio
Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa jauh nilai seluruh aktiva bank yang dibiayai atau dananya diperoleh dari sumber-sumber utang jangka panjang.
2.5 Tingkat Kesehatan Bank
2.5.1. Metode CAMEL
Undang-undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31, tambahan Lembaran Negara Nomor 3472) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, tambahan Lembaran Negara Nomor 3790).
Berdasarkan Undang-undang RI No. 10 Tahun 1998, Tentang Perbankan Pasal 29, disebutkan beberapa ketentuan sebagai berikut:
(1) Pembinaan dan pengawasan bank dilakukan oleh Bank Indonesia.
(2) Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan, kualitas asset, kualitas manajemen, rentabilitas, likuiditas, solvabilitas dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian.
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3843) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 7, Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4357).
Pasal 8 undang-undang No. 3 tahun 2004, tentang Bank Indonesia
disebutkan beberapa ketentuan sebagai berikut:
(1) Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter. (2) Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. (3) Mengatur dan mengawasi bank.
Berdasarkan ketentuan dalam undang-undang tentang perbankan tersebut, Bank Indonesia telah mengeluarkan Surat Edaran No.6/23/DPNP Jakarta 31 Mei 2004, yang mengatur tentang Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Metode atau cara penilaian tingkat kesehatan bank tersebut diatas kemudian dikenal sebagai metode CAMELS.
2.5.2 Penilaian Tingkat Kesehatan Bank
Berdasarkan Surat Edaran No.6/23/DPNP Jakarta 31 Mei 2004, sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4382) Bank wajib melakukan penilaian Tingkat Kesehatan Bank secara triwulanan. Sehubungan dengan hal tersebut perlu diatur ketentuan pelaksanaan penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum dalam suatu Surat Edaran Bank Indonesia dengan pokok-pokok ketentuan sebagai berikut:
I. UMUM
1. Dengan semakin meningkatnya kompleksitas usaha dan profil risiko, Bank perlu mengidentifikasi permasalahan yang mungkin timbul dari operasional Bank. Bagi perbankan, hasil akhir penilaian kondisi Bank tersebut dapat digunakan sebagai salah satu sarana dalam menetapkan strategi usaha di waktu yang akan datang sedangkan bagi Bank Indonesia antara lain digunakan sebagai sarana penetapan dan implementasi strategi pengawasan Bank oleh Bank Indonesia.
2. Tingkat Kesehatan Bank merupakan hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu Bank melalui penilaian faktor permodalan, kualitas aset, manajemen, rentabilitas, likuiditas, dan sensitivitas terhadap risiko pasar. Penilaian terhadap faktor-faktor tersebut dilakukan melalui penilaian kuantitatif dan atau kualitatif setelah
mempertimbangkan unsur judgement yang didasarkan atas materialitas dan signifikansi dari faktor-faktor penilaian serta pengaruh dari faktor lainnya seperti kondisi industri perbankan dan perekonomian nasional.
II. FAKTOR PENILAIAN
Penilaian tingkat kesehatan bank mencakup penilaian terhadap faktor-faktor CAMELS yang terdiri dari:
a. Permodalan (Capital)
Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor permodalan antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut: 1) kecukupan pemenuhan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM)
terhadap ketentuan yang berlaku; 2) komposisi permodalan;
3) trend ke depan/proyeksi KPMM;
4) aktiva produktif yang diklasifikasikan dibandingkan dengan modal Bank; 5) kemampuan Bank memelihara kebutuhan penambahan modal yang berasal
dari keuntungan (laba ditahan);
6) rencana permodalan Bank untuk mendukung pertumbuhan usaha; 7) akses kepada sumber permodalan; dan
8) kinerja keuangan pemegang saham untuk meningkatkan permodalan Bank. b. Kualitas Aset (Asset Quality)
Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor kualitas aset antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut: 1) aktiva produktif yang diklasifikasikan dibandingkan dengan total aktiva
produktif;
2) debitur inti kredit di luar pihak terkait dibandingkan dengan total kredit;
3) perkembangan aktiva produktif bermasalah (non performing asset) dibandingkan dengan aktiva produktif;
4) tingkat kecukupan pembentukan penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP);
5) kecukupan kebijakan dan prosedur aktiva produktif;
6) sistem kaji ulang (review) internal terhadap aktiva produktif; 7) dokumentasi aktiva produktif; dan
8) kinerja penanganan aktiva produktif bermasalah. c. Manajemen (Management)
Penilaian terhadap faktor manajemen antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut:
1) manajemen umum;
2) penerapan sistem manajemen risiko; dan
3) kepatuhan Bank terhadap ketentuan yang berlaku serta komitmen kepada Bank Indonesia dan atau pihak lainnya.
d. Rentabilitas (Earnings)
Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor rentabilitas antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut: 1) return on assets (ROA);
2) return on equity (ROE); 3) net interest margin (NIM);
4) Biaya Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Operasional (BOPO); 5) perkembangan laba operasional;
6) komposisi portofolio aktiva produktif dan diversifikasi pendapatan 7) penerapan prinsip akuntansi dalam pengakuan pendapatan dan biaya; dan 8) prospek laba operasional.
e. Likuiditas (Liquidity)
Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor likuiditas antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut: 1) aktiva likuid kurang dari 1 bulan dibandingkan dengan pasiva likuid kurang
dari 1 bulan;
2) 1-month maturity mismatch ratio; 3) Loan to Deposit Ratio (LDR);
4) proyeksi cash flow 3 bulan mendatang;
5) ketergantungan pada dana antar bank dan deposan inti;
6) kebijakan dan pengelolaan likuiditas (assets and liabilities management/ ALMA);
7) kemampuan Bank untuk memperoleh akses kepada pasar uang, pasar modal, atau sumber-sumber pendanaan lainnya; dan
8) stabilitas dana pihak ketiga (DPK).
f. Sensitivitas terhadap risiko pasar (Sensitivity to Market Risk)
Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor sensitivitas terhadap risiko pasar antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut:
1) modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi suku bunga dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat fluktuasi (adverse movement) suku bunga;
2) modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi nilai tukar dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat fluktuasi (adverse movement) nilai tukar; dan
3) kecukupan penerapan sistem manajemen risiko pasar.
III. TATA CARA PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK UMUM
1. Formula dan indikator pendukung dalam rangka penilaian setiap komponen sebagaimana dimaksud dalam angka romawi II berpedoman kepada Matriks Perhitungan/Analisis Komponen setiap faktor sebagaimana diuraikan pada Lampiran 1a, Lampiran 1b, Lampiran 1c, Lampiran 1d, Lampiran 1e, dan Lampiran 1f Surat Edaran Bank Indonesia ini.
2. Berdasarkan formula dan indikator pendukung setiap komponen sebagaimana dimaksud pada angka 1 dilakukan proses analisis untuk menetapkan peringkat setiap komponen dengan berpedoman kepada Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Komponen sebagaimana diuraikan pada Lampiran 2a, Lampiran 2b, Lampiran 2c, Lampiran 2d, Lampiran 2e, dan Lampiran 2f Surat Edaran Bank
Indonesia ini. Dalam proses ini juga dilakukan analisis terhadap berbagai indikator pendukung dan atau pembanding yang relevan.
3. Selanjutnya dilakukan proses analisis untuk menetapkan peringkat setiap faktor penilaian dengan berpedoman kepada Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Faktor sebagaimana diuraikan pada Lampiran 3a, Lampiran 3b, Lampiran 3c, Lampiran 3d, Lampiran 3e, dan Lampiran 3f Surat Edaran Bank Indonesia ini. Proses penetapan peringkat setiap faktor penilaian dilaksanakan setelah mempertimbangkan unsur judgement yang didasarkan atas materialitas dan signifikansi dari setiap komponen.
4. Berdasarkan hasil penetapan peringkat setiap faktor penilaian sebagaimana dimaksud pada angka 3, dilakukan proses analisis untuk menetapkan peringkat komposit Bank dengan berpedoman kepada Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Komposit sebagaimana diuraikan pada Lampiran 4a Surat Edaran Bank Indonesia ini. Proses penetapan peringkat komposit Bank dilaksanakan setelah mempertimbangkan unsur judgement yang didasarkan atas materialitas dan signifikansi dari setiap faktor.
5. Untuk memproses penetapan peringkat sebagaimana dimaksud pada angka 2, angka 3, dan angka 4, Bank menggunakan kertas kerja sebagaimana diuraikan pada Lampiran 5a, Lampiran 5b, Lampiran 5c, Lampiran 5d, Lampiran 5e, dan Lampiran 5f Surat Edaran Bank Indonesia ini.
6. Sesuai dengan Pasal 8 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, Bank wajib melakukan penilaian Tingkat Kesehatan Bank secara triwulanan untuk posisi bulan Maret, Juni, September dan Desember. Apabila diperlukan Bank Indonesia meminta hasil penilaian Tingkat Kesehatan Bank tersebut secara berkala atau sewaktu-waktu untuk posisi penilaian tersebut terutama untuk menguji ketepatan dan kecukupan hasil analisis Bank. Penilaian Tingkat Kesehatan Bank dimaksud diselesaikan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah posisi penilaian atau dalam jangka
waktu yang ditetapkan oleh pengawas Bank terkait. Laporan hasil penilaian Tingkat Kesehatan Bank tersebut berpedoman kepada format laporan sebagaimana diuraikan pada Lampiran 6 Surat Edaran Bank Indonesia ini.
Perhitungan tingkat kesehatan bank berdasarkan metode CAMEL yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah beberapa dari faktor-faktor CAMELS dan yang digunakan hanya beberapa faktor CAMEL, yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR), Rasio Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan terhadap Aktiva Produktif, Manajemen umum, Rasio Return On Equity (ROE), Rasio Return on Total Assets (ROA), Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional, Net Interest Margin (NIM) dan Loan to Deposit Ratio (LDR).
2.6 Rasio Kesehatan Bank Berdasarkan Metode CAMEL
Rasio kesehatan keuangan bank dapat digunakan untuk menganalisis laporan keuangan terhadap beberapa komponen CAMEL yang akan digunakan di dasarkan pada Surat Edaran No.6/23/DPNP Jakarta, 31 Mei 2004 sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4382) Bank wajib melakukan penilaian Tingkat Kesehatan Bank secara triwulanan.
Berikut adalah komponen dari beberapa faktor yang akan digunakan adalah sebagai berikut:
1. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dan dana modal sendiri bank, disamping memperoleh dana-dana dan sumber-sumber di luar bank, seperti dana masyarakat, pinjaman, dan lain-lain. Rasio ini merupakan indikator terhadap kemampuan bank untuk menutupi
penurunan aktivanya sebagai akibat dan kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva yang berisiko, (Dendawijaya, 2009:121).
Kecukupan pemenuhan ”Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum” (KPMM) terhadap ketentuan yang berlaku. Capital Adequacy Ratio (CAR) Besarnya nilai CAR suatu bank dapat dihitung dengan rumus berikut:
CAR = 100% (ATMR) Risiko Menurut Tertimbang Aktiva Modal ×
a. Perhitungan Modal dan Aktiva menurut Risiko (ATMR) berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku.
b. Rasio dihitung per posisi.
c. Komponen modal terdiri dari modal inti (Tier 1), Modal pelengkap (Tier 2) dan Modal pelengkap tambahan (Tier 3) berpedoman pada ketentuan yang berlaku.
Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, bank yang dinyatakan termasuk sebagai bank yang sehat harus memiliki CAR paling sedikit sebesar 8%. Hal ini didasarkan kepada ketentuan Surat Edaran No.6/23/DPNP Jakarta, 31 Mei 2004 sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, yang mengatur Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum.
2. Rasio Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan terhadap Aktiva Produktif
Dalam Lampiran 1b Surat Edaran No.6/23/DPNP Jakarta, 31 Mei 2004 sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, yang mengatur Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Besar nilai Kualitas aktiva produktif suatu bank dapat dihitung dengan rumus berikut:
APYD terhadap AP = 100% Produktif Aktiva asikan Diklasifik yang produktif Aktiva ×
a. Cakupan komponen dan kualitas aktiva produktif berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia tentang Kualitas Aktiva Produktif yang berlaku.
b. Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan (APYD) adalah aktiva, baik yang sudah maupun yang mengandung potensi tidak memberikan penghasilan atau menimbulkan kerugian, yang besarnya ditetapkan sebagai berikut:
1) 25 % dari Aktiva Produktif yang digolongkan Dalam Perhatian Khusus 2) 50% dari Aktiva Produktif yang digolongkan Kurang Lancar
3) 75% dari Aktiva Produktif yang digolongkan Diragukan 4) 100% dari Aktiva Produktif yang digolongkan Macet c. Rasio dihitung per posisi
3. Manajemen Umum
Berdasarkan Lampiran 1d Surat Edaran No.6/23/DPNP Jakarta, 31 Mei 2004 sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, yang mengatur Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Manajemen Umum dinilai dari praktek Good Corporate Governance sebagai berikut:
1) Struktur dan komposisi pengurus Bank
a. Bank memiliki komposisi dan jumlah serta kualifikasi anggota Komisaris yang sesuai dengan ukuran, kompleksitas (karakteristik), kemampuan keuangan, dan sasaran strategik Bank.
b. Bank memiliki komposisi dan jumlah serta kualifikasi anggota Direksi yang sesuai dengan ukuran, kompleksitas (karakteristik), kemampuan keuangan, dan sasaran strategik Bank.
2) Penanganan conflict of interest
Dalam hal terjadi conflict of interest, anggota dewan Komisaris, anggota Direksi, Pejabat Eksekutif, dan Pemimpin Kantor Cabang mampu menghindari atau tidak mengambil tindakan yang dapat merugikan atau mengurangi keuntungan Bank dan segera melakukan pengungkapan (disclosure) conflict of interest tersebut dalam setiap keputusan.
3) Independensi pengurus Bank
Anggota dewan Komisaris dan atau anggota Direksi memiliki kemampuan untuk bertindak independen dan menangani pengaruh (intervensi) pihak eksternal yang dapat mengakibatkan Good Corporate Governance kualitas praktek Bank memburuk (menurun).
4) Kemampuan untuk membatasi atau mencegah penurunan kualitas good corporate governance
Bank memiliki kemampuan untuk mencegah atau membatasi kegiatan usaha Bank yang menurunkan kualitas good corporate governance, seperti perlakuan khusus kepada pihak intern misalnya pejabat dan pegawai Bank dan pemberian kredit secara tidak sehat kepada pihak terkait.
5) Transparansi informasi dan edukasi nasabah
a. Bank transparan dalam menyelenggarakan good corporate governance dan menginformasikan kepada publik secara konsisten.
b. Bank secara berkesinambungan melaksanakan edukasi kepada nasabah mengenai kegiatan operasional maupun produk dan jasa Bank untuk menghindari timbulnya informasi yang menyesatkan dan merugikan nasabah.
6) Efektifitas kinerja fungsi Komite
Bank memiliki fungsi komite yang efektif untuk menunjang pengambilan keputusan yang tepat oleh pengurus Bank, antara lain efektivitas dari komite manajemen risiko.
4. Return on Equity ( ROE)
Return on Equity ( ROE) adalah Perbandingan antara laba bersih bank dengan ROE modal sendiri (Dendawijaya, 2009:118).
Berdasarkan Lampiran 1d Surat Edaran No.6/23/DPNP Jakarta, 31 Mei 2004 sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, yang mengatur
Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Besarnya nilai Return on Equity ( ROE) dapat dihitung denagn rumus berikut:
ROE = 100% Inti Modal rata -Rata Pajak Setelah Laba ×
a. Perhitungan laba setelah pajak disetahunkan b. Rata-rata modal inti
c. Perhitungan modal inti berpedoman pada ketentuan bank Indonesia yang berlaku.
5. Rasio Return on Total Assets (ROA)
Return on Assets (ROA) adalah Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan secara keseluruhan. Semakin besar ROA bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dan segi penggunaan asset (Dendawijaya, 2009:118). Berdasarkan Lampiran 1d Surat Edaran No.6/23/DPNP Jakarta, 31 Mei 2004 sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, yang mengatur Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Besarnya nilai Return on Assets (ROA ) dapat dihitung dengan rumus berikut:
ROA = 100% Aset Total rata -Rata Pajak Sebelum Laba ×
6. Net Interest Margin (NIM)
Berdasarkan Lampiran 1d Surat Edaran No.6/23/DPNP Jakarta, 31 Mei 2004 sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, yang mengatur Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Besarnya nilai Net Interst Margin (NIM ) dapat dihitung dengan rumus berikut:
NIM = 100% Produktif Aktiva rata -Rata Bersih Bunga Pendapatan ×
a. Pendapatan Bunga bersih = Pendapatan bunga–beban bunga b. Perhitungan pendapatan bunga disetahunkan
c. Aktiva produktif yang diperhitungkan adalah aktiva produktif yang menghasilkan bunga.
7. Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional
Rasio biaya operasional adalah perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efesiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya, (Dendawijaya,
2009:120). Berdasarkan Lampiran 1d Surat Edaran No.6/23/DPNP Jakarta, 31
Mei 2004 sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, yang mengatur Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Besarnya nilai BOPO dapat dihitung dengan rumus:
BOPO = 100% l Operasiona Pendapatan l Operasiona Beban ×
Beban operasional terdiri dari:
a. Beban Bunga
b. Beban operasional lainnya
Pendapatan operasional terdiri dari:
a. Pendapatan bunga
b. pendapatan provisi dan komisi c. Pendapatan operasional lainnya
8. Loan to Deposit Ratio (LDR)
LDR adalah rasio antara seluruh jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank. Rasio ini menunjukan salah satu penilaian likuiditas bank (Dendawijaya, 2009:116). Berdasarkan Lampiran 1e Surat Edaran No.6/23/DPNP Jakarta, 31 Mei 2004 sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia
Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, yang mengatur Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Besarnya nilai loan to deposit ratio dapat dihitung dengan rumus
berikut: LDR = 100% ketiga Pihak Dana Kredit ×
a. kredit merupakan total kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk kredit pada Bank lain).
b. Dana pihak ketiga meliputi giro, tabungan, dan depositi (tidak termasuk antar bank).
2.7 Kriteria Penempatan Peringkat Komponen
Berdasarkan Surat Edaran No.6/23/DPNP Jakarta, 31 Mei 2004 sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, yang mengatur Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Kriteria penempatan komponen sebagaimana diuraikan pada Lampiran 2a, Lampiran 2b, Lampiran 2c, Lampiran 2d dan Lampiran 2e. Berikut adalah tabel Kriteria Penempatan Peringkat Komponen dapat dilihat pada tabel 2.1, sebagai berikut:
Tabel 2.1
Kriteria Penempatan Peringkat Komponen
No Komponen Peringkat 1 2 3 4 5 Capital (C) 1 Rasio kecukupan modal (CAR) Rasio KPMM lebih tinggi sangat signifikan dibandingkan dengan rasio KPMM yang ditetapkan dalam ketentuan Rasio KPMM cukup signifikan dibandingkan dengan rasio KPMM yang ditetapkan dalam ketentuan Rasio KPMM
lebih tinggi secara marginal dibandingkan dengan rasio KPMM yang ditetapkan dalam ketentuan (8% ≤ KPMM ≤ 9%) Rasio KPMM dibawah ketentuan yang berlaku Rasio KPMM dibawah ketentuan yang berlaku dan bank cenderung menjadi tidak solvable
No Komponen Peringkat 1 2 3 4 5 Asset (A) 1 APYD terhadap AP Rasio sangat rendah atau sangat tidak signifikan Rasio rendah atau tidak signifikan Rasio Moderat
atau rasio berkisar antara 3% sampai dengan 6% Rasio relatif tinggi atau diatas rasio peringkat 3 Rasio sangat tinggi Management (M) 1 Manajemen Umum Penerapan manajemen umum dilaksanakan dengan sangat baik dan konsisten. Penerapan manajemen umum dilaksanakan dengan baik dan cukup konsisten.
Penerapan manajemen umum dilaksanakan
dengan cukup
baik dan cukup konsisten namun terdapat kelemahan minor. Penerapan manajemen umum dilaksanakan dengan kurang baik dan kurang konsisten. Penerapan manajemen umum dilaksanakan dengan tidak baik dan tidak konsisten.
Earnings (E)
1 ROE Perolehan laba
sangat tinggi
Perolehan laba
tinggi
Perolehan laba
cukup tinggi, atau
rasio ROE berkisar antara 0.5% sampai dengan 1.25% Perolehan laba bank rendah atau cenderung mengalami kerugian (ROE mengarah negatif) Bank mengalami kerugian yang besar (ROE negatif)
2 ROA Perolehan laba
sangat tinggi
Perolehan laba
tinggi
Perolehan laba
cukup tinggi, atau
rasio ROA berkisar antara 0.5% sampai dengan 1.25% Perolehan laba bank rendah atau cenderung mengalami kerugian (ROA mengarah negatif) Bank mengalami kerugian yang besar (ROA negatif)
3 NIM Margin bunga
bersih sangat tinggi Margin bunga bersih tinggi Margin bunga bersih cukup
tinggi atau rasio
NIM berkisar antara 1.5% sampai 2% Margin bunga bersih rendah mengarah negatif Margin bunga bersih sangat rendah atau negatif
No Komponen Peringkat 1 2 3 4 5 Earnings (E) 4 BOPO Tingkat efesiensi sangat baik Tingkat efesiensi baik Tingkat efesiensi cukup baik atau
rasio BOPO berkisar antara 94% sampai dengan 96% Tingkat efesiensi buruk Tingkat efesiensi sangat buruk Liquidiy (L) 1 LDR 50% < Rasio ≤ 75% 75% < rasio ≤ 85% 85% < Rasio ≤ 100% atau rasio ≤ 50 100%< Rasio ≤120% Rasio> 120%
Sumber: Lampiran 2a s/d 2e Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004
2.8 Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Faktor
Berdasarkan Surat Edaran No.6/23/DPNP Jakarta, 31 Mei 2004 sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, yang mengatur Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Proses analisis untuk menetapkan peringkat setiap faktor penilaian dengan berpedoman kepada Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Faktor sebagaimana diuraikan pada Lampiran 3a, Lampiran 3b, Lampiran 3c, Lampiran 3d dan Lampiran 3e. Proses analisis untuk menetapkan peringkat setiap faktor penilaian dengan berpedoman kepada matriks kriteria penetapan peringkat faktor. Matriks kriteria penetapan peringkat faktor dapat dilihat pada tabel 2.2., sebagai berikut:
Tabel 2.2.
Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Faktor
Komponen Peringkat 1 2 3 4 5 Permodalan (Capital) Tingkat modal secara signifikan
berada lebih tinggi
dari ketentuan
KPMM yang
berlaku dan Diper kirakan tetap berada di tingkat ini untuk 12 (dua belas) bulan mendatang.
Tingkat modal
berada lebih
tinggi dari
ketentuan KPMM yang berlaku dan diperkirakan tetap berada di tingkat ini serta membaik dari tingkat saat ini untuk 12 (dua
belas) bulan
mendatang.
Tingkat modal
berada sedikit
diatas atau sesuai ketentuan KPMM yang berlaku dan diperkirakan tetap berada di tingkat ini selama 12 (dua
belas) bulan
mendatang.
Tingkat modal
Sedikit dibawah
ketentuan KPMM yang berlaku dan diperkirakan mengalami perbaikan dalam 6 (enam) bulan mendatang. Tingkat modal berada lebih rendah dari ketentuan KPMM yang berlaku dan diperkirakan tetap berada di tingkat ini atau menurun dalam 6 (enam) bulan mendatang.
Kualitas Aset
(Asset)
Kualitas asset
sangat baik dengan
risiko portofolio yang sangat minimal. Kebijakan pemberian kredit/ investasi,prosedur dan administrasi
sangat men dukung kegiatan
operasional yang
aman dan sehat, serta
didokumentasikan dengan sangat baik.
Kualitas aset baik
namun terdapat minordeficiencies yang tidak signifikan. Kebijakan pem berian kredit/ investasi,prosedur dan administrasi mendukung kegiatan opera
sional yang aman dan sehat, serta didokumentasikan dengan baik.
Kualitas aset baik
namun terdapat minordeficiencies yang tidak signifikan. Kebijakan pem berian kredit/ investasi,prosedur dan administrasi cukup mendukung kegiatan operasional yang aman dan sehat,
serta didokumen
tasikan dengan
cukup baik.
Kualitas asset
kurang baik dan diperkirakan akan mengancam Kelangsungan hidup bank apa
bila tidak di koreksi.Kebijakan pemberian kredit/ investasi,prosedur dan administrasi kurang mendukung kegiatan operasional yang
aman dan sehat, serta kurang didokumentasikan dengan baik.
Kualitas aset
tidak baik dan diperkirakan tingkat asset bermasalah semakin memburuk. Kebijakan pemberian kredit/ investasi, prosedur dan administrasi tidak mendukung kegiatan operasional yang aman dan sehat, serta tidak didokumentasikan dengan baik.
Komponen Peringkat 1 2 3 4 5 Manajemen (Management) Manajemen Bank memiliki track
record kinerja yang
sangat memuaskan, independen, mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi ekstern, dan memiliki sistem pengendalian risiko yang sangat kuat serta ampu mengatasi masalah yang dihadapi baik saat ini maupun di
masa yang akan
datang. Respon
pengurus sangat
baik sehingga tidak diperlukan tindakan pengawasan yang bersifat mandatory. Manajemen Bank memiliki track record kinerja yang memuaskan, independen, mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi ekstern, dan memiliki system pengendalian risiko yang kuat
serta mampu
mengatasi
masalah yang
dihadapi baik saat
ini maupun di
masa yang akan
datang. Respon
pengurus baik dan
otoritas hanya memerlukan tindakan pengawasan (mandatory) yang tidak material. Manajemen Bank memiliki track record kinerja yang cukup memuaskan, cukup independen, cukup mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi ekstern, dan memiliki sistem pengendalian risiko yang memadai serta cukup mampu mengatasi masalah yang dihadapi baik saat ini maupun di masa yang akan datang.
cukup baik namun
otoritas perlu
mengambil tindakan pengawasan (mandatory) agar kondisi Bank tidak Berpotensi mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya. Manajemen Bank memiliki track record kinerja yang kurang memuaskan, kurang independen, kurang mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi ekstern, dan memiliki system pengendalian risiko yang lemah
serta kurang
mampu mengatasi
masalah yang
dihadapi baik saat
ini maupun di
masa yang akan
datang. Respon pengurus kurang baik sehingga otoritas perlu mengambil beberapa tindakan pengawasan (mandatory) agar kondisi Bank tidak mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya. Manajemen Bank memiliki track record kinerja yang tidak memuaskan, tidak independen, tidak mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi ekstern, dan memiliki sistem pengendalian risiko yang sangat lemah serta tidak mampu mengatasi
masalah yang
dihadapi baik saat
ini maupun di
masa yang akan
datang. Respon pengurus tidak baik sehingga otoritas perlu mengambil beberapa tindakan pengawasan (mandatory) untuk menghindari pencabutan izin usaha atau pembekuan kegiatan usahanya.
Komponen Peringkat 1 2 3 4 5 Rentabilitas (Earnings) Secara umum Kinerja rentabilitas sangat baik. Kemampuan rentabilitas sangat tinggi untuk mengantisipasi potensi kerugian dan meningkatkan modal. Kemampuan rentabilitas tinggi Untuk mengantisipasi potensi kerugian dan meningkatkan modal.
Secara umum kinerja
rentabilitas cukup
baik. Kemampuan
rentabilitas cukup
tinggi untuk
mengantisipasi potensi kerugian dan meningkatkan modal. Secara umum kinerja rentabilitas buruk Kemampuan rentabilitas rendah untuk mengantisipasi potensi kerugian dan meningkatkan modal. Secara umum kinerja rentabilitas sangat buruk. Kemampuan rentabilitas sangat rendah untuk mengantisipasi potensi kerugian dan meningkatkan modal. Liquiditas (Liquidity) Secara umum kinerja likuiditas sangat baik. Kemampuan likuiditas untuk Mengantisipasi kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas sangat kuat.
Secara umum kinerja
likuiditas baik. Kemampuan likuiditas untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas kuat.
Secara umum kinerja likuiditas cukup baik. Kemampuan likuiditas untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas memadai. Secara umum kinerja likuiditas kurang baik. Kemampuan likuiditas untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas lemah. Secara umum kinerja likuiditas kurang baik. Kemampuan likuiditas untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas sangat
Sumber: Lampiran 3a s/d 3e Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004
2.9 Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Komposit
Berdasarkan Surat Edaran No.6/23/DPNP Jakarta, 31 Mei 2004 sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, yang mengatur Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Berdasarkan hasil penetapan peringkat
setiap faktor, dilakukan proses analisis untuk menetapkan peringkat komposit bank dengan berpedoman kepada matriks kriteria penetapan peringkat komposit ebagaimana diuraikan pada Lampiran 4a Surat Edaran Bank Indonesia ini. Matriks kriteria penetapan peringkat komposit dapat dilihat pada tabel 2.3, sebagai berikut:
Tabel 2.3.
Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Komposit
Komponen Peringkat 1 2 3 4 5 1. Permodalan 2. Kualitas Aktiva 3. Manajemen 4. Rentabilitas 5. Likuiditas Bank tergolong sangat baik dan mampu mengatasi Pengaruh negatif kondisi Perekonomian dan industri keuangan. Bank tergolong
baik dan mampu mengatasi
pengaruh negatif
kondisi
perekonomian dan industri keuangan namun Bank masih memiliki
kelemahan-kelemahan minor
yang dapat segera
diatasi oleh
tindakan rutin.
Bank tergolong
cukup baik namun terdapat beberapa kelemahan yang dapat menyebabkan peringkat kompositnya memburuk apabila Bank tidak segera Melakukan tindakan korektif.
Bank tergolong kurang
baik dan sensitif
terhadap pengaruh
negatif kondisi
perekonomian dan
industry keuangan atau
Bank memiliki
kelemahan keuangan
yang serius atau
kombinasi dari kondisi beberapa faktor yang tidak memuaskan,yang apabila tidak dilakukan tindakan korektif yang
efektif berpotensi
mengalami kesulitan
yang membahayakan
kelangsungan usahanya.
Bank tergolong tidak baik dan sangat sensitif terhadap pengaruh negatif kondisi perekonomian dan industri keuangan serta mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya.
Sumber: Lampiran 4a s/d Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004
2.10 Kertas Kerja-Penetapan Peringkat Komponen
Berdasarkan Surat Edaran No.6/23/DPNP Jakarta, 31 Mei 2004 sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, yang mengatur Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Untuk memproses penetapan peringkat
sebagaimana dimaksud pada angka 2, angka 3, dan angka 4, Bank menggunakan kertas kerja sebagaimana diuraikan pada Lampiran 5a, Lampiran 5b, Lampiran 5c, Lampiran 5d, dan Lampiran 5e. Kertas kerja penetapan peringkat komponen dapat dilihat pada tabel 2.4., sebagai berikut:
Tabel 2.4.
Kertas Kerja-Penetapan Peringkat Komponen
No Komponen Hasil Perhitungan, Analisis dan Kesimpulan Peringkat
1 2 3 4 5
Permodalan (capital)
1 Kecukupan pemenuhan
KPMM terhadap
ketentuan yang berlaku (CAR)
Hasil Perhitungan:
Analisis dan Kesimpulan:
Kualitas Aset
1 Aktiva produktif yang
diklaifikasikan terhadap Aktiva Produktif
Hasil Perhitungan:
Analisis dan Kesimpulan:
Manajemen
1 Manajemen Umum Hasil Perhitungan:
Analisis dan Kesimpulan:
Rentabilitas
1 Return On Equity
(ROE)
Hasil Perhitungan:
Analisis dan Kesimpulan:
2 Return On Asset
(ROA)
Hasil Perhitungan:
Analisis dan Kesimpulan:
3 Net Interest Margin
(NIM)
Hasil Perhitungan:
Analisis dan Kesimpulan:
No Komponen Hasil Perhitungan, Analisis dan Kesimpulan Peringkat 1 2 3 4 5 4 Biaya Operasionel dibandingkan dengan Pendapatan Operasional Hasil Perhitungan:
Analisis dan Kesimpulan:
Likuiditas
1 Loan to Deposit Ratio ( LDR)
Hasil Perhitungan:
Analisis dan Kesimpulan:
Sumber: Lampiran 5a s/d 5e Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004
2.11 Laporan Hasil Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum
Sesuai dengan pasal 8 (1) Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilain Tingkat Kesehatan Bank Umum, Bank wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan bank secara Triwulan untuk posisi bulan Maret, Juni, September, dan Desember. Apabila diperlukan Bank Indonesia meminta hasil penilaian tingkat kesehatan bak tersebut secara berkala atau sewaktu-waktu untuk posisi penilaian tersebut terutama untuk menguji ketepatan dan kecukupan hasil analisis Bank. Penilaian Tingkat Bank dimaksud diselesaikan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah posisi penilaian atau dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh pengawas Bank terkait. Laporan hasil Penilaian tingkat kesehatan bank tersebut berpedoman kepada format laporan sebagaimana diuraikan pada lampiran 6 surat Edaran Bank Indonesia ini. Pada tabel 2.5 akan digambarkan tentang tentang Laporan Hasil Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, sebagai berikut:
Tabel 2.5
Laporan Hasil Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum
No Faktor Kesimpulan Peringkat
1 2 3 4 5 1 Permodalan (Capital) 2 Kualitas Aset 3 Manajemen 4 Rentabilitas 5 Likuiditas
Sumber: Lampiran 6 Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004
Catatan:
1. Bentuk dan format laporan penilaian tingkat kesehatan kantor cabang bank asing disesuaikan dengan faktor penilaian yang relevan.
2. Laporan hasil penilaian dilengkapi kertas kerja penetapan peringkat setiap komponen dan faktor penilaian pada (lampiran 5). Lampiran 5 terdapat pada tabel 2.4.
3. Kolom kesimpulan diisi dengan uraian singkat hasil analisis Bank terhadap setiap faktor penilaian dan peringkat komposit, disertai dengan penjelasan tentang kelemahan-kelemahan yang memerlukan perhatian bank. Sedangkan kolom peringkat diisi dengan angka hasil penetapan bank terhadap peringkat faktor dan peringkat komposit.
4. Ukuran pada contoh format laporan bersifat tidak mengikat, sehingga Bank dapat mengembangkan sesuai dengan kebutuhan.