7 BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Distribusi
2.1.1 Pengertian Distribusi
Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2003) distribusi merupakan suatu proses kegiatan aliran atau penyaluran barang dari produsen sampai ke tangan konsumen. Distribusi memerlukan perencanaan, dan pengendalian yang baik untuk menciptakan keuntungan ataupun pengurangan biaya operasional bagi perusahaan. Banyaknya lokasi pelanggan yang berada jauh dari pabrik pembuatan barang, maka diperlukan sistem penyimpanan yang bertingkat ganda (multi level warehousing) dengan persediaan yang bertingkat pula (multi level inventory). Dipandang dari segi distribusi atau penjualan, hal ini disebut sistem distribusi bertingkat ganda (multi level atau multiechelon distribution system). Persoalan yang paling banyak ditemui dalam sistem distribusi barang adalah:
1. Persediaan barang yang berlebih 2. Barang berada di tempat yang salah
3. Layanan terhadap pelanggan yang kurang baik; dan 4. Kehilangan penjualan karena kehabisan persediaan.
Pusat induk distribusi atau master distribution center (MDC) adalah tingkat atau level tertinggi dari sistem distribusi yang langsung berhubungan dengan pemasok atau pabrik produk. Regional distribution center (pusat distribusi regional) adalah pusat distribusi yang berada satu tingkat di bawah pusat distribusi induk tetapi belum langsung berhubungan dengan pelanggan, sedangkan lower distribution center (LDC) adalah level terendah dari sistem distribusi yang langsung berhubungan dengan pelanggan atau pemakai barang. Kebanyakan, produk yang dimaksudkan di sini adalah produk jadi atau barang jadi yang disalurkan dari pabrik ke para pelanggan. Namun dalam prakteknya cukup banyak juga di mana pusat distribusi juga melakukan pekerjaan penyelesaian seperti reparasi, perakitan,
8
pengepakan, dan pekerjaan sejenis itu. Berikut adalah contoh sistem distribusi dengan tiga tingkat yang ditampilkan pada Gambar 2.1 :
Gambar 2. 1 Bagan Multi Tingkat dalam Jaringan Distribusi (Sumber : Indrajit dan Djokopranoto, 2003)
Keterangan:
MDC = Master Distribution Center RDC = Regional Distribution Center LDC = Lower Distribution Center
Berbeda dengan teoritis, setiap perusahaan pasti mempunyai pertimbangan dalam setiap keputusannya. Begitupun dengan CV PQR, perusahaan ini hanya memiliki dua tingkat jaringan distribusi yakni dari MDC langsung ke LDC tanpa melalui RDC.
2.1.2 Fungsi Distribusi
Kegiatan distribusi berfungsi mendekatkan produsen dengan konsumen. Kegiatan distribusi merupakan penghubung antara kegiatan produksi dan konsumsi. Pelaku kegiatan distribusi dinamakan distributor. Fungsi distribusi dalam kegiatan ekonomi merupakan kegiatan yang berada di antara sampai ke tangan konsumen. Barang yang telah dihasilkan oleh produsen agar sampai ke tangan konsumen memerlukan adanya lembaga yang disebut dengan distributor (Swasta dan Irawan, 1980).
9
Kenyataan dilapangan tidak selamanya barang yang dihasilkan produsen untuk sampai ke konsumen harus melewati distributor. Namun dalam hal perekonomian modern kegiatan distribusi memegang peranan yang cukup penting. Terlebih dengan makin majunya teknologi transportasi yang mengakibatkan hubungan antarbangsa menjadi lebih dekat. Hal ini mengakibatkan peranan distribusi semakin penting (Ginting, 2007).
2.1.3 Tujuan Distribusi
Tujuan kegiatan distribusi baik yang dilakukan oleh individu ataupun lembaga secara umum ialah sebagai berikut (Zabidi, 2001) :
1. Kelangsungan kegiatan produksi dapat terjamin
Produsen atau perusahaan membuat barang untuk dijual dan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan yang kembali digunakan untuk proses produksi dimana keuntungan tersebut didapatkan jika terdapat distributor. 2. Barang atau jasa hasil produksi dapat bermanfaat bagi konsumen
Barang atau jasa produksi tidak akan ada artinya jika tetap berada di tempat produsen. Barang atau jasa dapat bermanfaat bagi konsumen jika telah ada kegiatan distribusi.
3. Konsumen memperoleh barang dan jasa dengan mudah
Tidak semua barang atau jasa dapat dibeli langsung konsumen dari produsen dimana hal ini membutuhkan penyalur atau distribusi dari produsen ke konsumen.
2.1.4 Jenis Distribusi
Zabidi (2001) menuturkan hubungan antara produsen dan konsumen, sistem distribusi dibedakan menjadi dua yaitu antara lain:
1. Distribusi langsung
Pengertian distribusi adalah penyaluran atau penjualan barang yang dilakukan secara langsung oleh produsen ke konsumen yang dilakukan tanpa perantara.
10 2. Distribusi tak langsung
Pengertian distribusi tak langsung adalah penyaluran atau penjualan barang dari produsen kepada konsumen melalui perantara. Perantara yang terlibat kegiatan jual beli adalah pedagang, agen, makelar, dan komisioner.
2.2 Distribution Requirement Planning (DRP)
Menurut Gasperz (2004), DRP adalah suatu metode atau model penentuan pola pengiriman dari beberapa titik penawaran atau sumber ke beberapa titik permintaan atau tujuan dengan maksud untuk meminimalkan total biaya transportasi dan biaya produksi. Sumber dapat berupa pabrik, gudang, kantor perwakilan yang menunjukkan asal barang-barang akan dikirimkan. Sedangkan tujuan adalah beberapa tempat yang menerima barang-barang kiriman tersebut Beberapa kegunaan dari metode DRP diantaranya :
1. Metode ini digunakan bila perusahaan yang mempunyai beberapa pabrik atau cabang dan beberapa gudang bermaksud menambah kapasitas satu pabriknya atau realokasi pelayanan dari setiap pabrik serta penambahan pabrik atau gudang baru.
2. Menentukan lokasi pabrik dimana harus dipilih beberapa lokasi dari beberapa alternatif lokasi yang ada.
Sistem DRP yang baik akan mempunyai kemampuan pengelolaan dalam persediaan terutama pada bidang pengiriman. Metode DRP akan selalu berusaha untuk dapat menyeimbangkan antara pasokan material dengan kebutuhan produksi. Melakukan pengioriman persediaan kepada pelanggan dengan efektif. Sebagai tambahan, sistem pada metode DRP ini juga diharapkan dapat melakukan penghematan biaya logistik yang signifikan melalui perencanaan kapasitas produksi secara agregat dan penugasan pengiriman yang efktif dan efisien (Gasperz, 2004).
2.2.1 Konsep Distribution Requirement Planning (DRP)
Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2003) metode DRP memiliki suatu konsep untuk menangani pengadaan persediaan dalam suatu jaringan distribusi multi eselon. Proses yang dilakukan pada metode ini yaitu peramalan untuk memenuhi
11
struktur pengadaannya. Berapapun banyaknya level yang ada dalam jaringan distribusi, semuanya merupakan variabel yang dependent kecuali level yang langsung memenuhi permintaan konsumen. Metode DRP lebih menekankan pada aktivitas pengendalian dari pada kegiatan pemesanan. Metode ini mengantisipasi kebutuhan mendatang dengan perencanaan pada setiap tingkat jaringan distribusi. Metode ini juga dapat memprediksi masalah-masalah sebelum masalah-masalah tersebut benar-benar terjadi dan memberikan titik pandang terhadap jaringan distribusi. logika dasar DRP adalah sebagai berikut:
1. Gross Requirement (Forecast Demand) diperoleh dari hasil forecasting. 2. Dari hasil peramalan, dihitung Time Phased Net Requirement. Net
Requirement tersebut mengidentifikasikan kapan level persediaan (Scheduled Receipt (jika ada) + Projected On Hand Periode sebelumnya) dipenuhi oleh Gross Requirement. Untuk sebuah periode : Net Requirement = (Gross Requirement + Safety Stock) – (Schedule Receipt (jika ada) + Projected On Hand Periode sebelumnya). Nilai Net Requirement yang dicatat (recorded) adalah nilai yang bernilai positif. 3. Setelah itu dihasilkan sebuah Planned Order Receipt sejumlah Net
Requirement tersebut (ukuran lot tertentu) pada periode tersebut.
4. Ditentukan kapan harus melakukan pemesanan tersebut (Planned Order Release) dengan mengurangkan periode terjadwalnya Planned Order Receipt dengan Lead Time.
5. Dihitung Projected On Hand pada periode tersebut: Projected On Hand = (Projected On Hand Periode sebelumnya + Planned Order Receipt) - (Gross Requirement). Besarnya Planned Order Release menjadi Gross Requirement pada periode yang sama untuk tahap berikutnya dari jaringan distribusi.
2.2.2 Fungsi Distribution Requirement Planning (DRP)
Metode DRP berperan baik untuk sistem distribusi manufaktur yang terintegrasi maupun sistem distribusi manufaktur murni. Metode ini memiliki kemampuan untuk memprediksi suatu masalah sebelum benar-benar terjadi dengan
12
memperhatikan kebutuhan persediaan time phasing pada tiap level dalam jaringan distribusi. Sistem DRP bekerja berdasarkan penjadwalan yang telah dibuat untuk permintaan di masa yang akan datang sehingga mampu mengantisipasi perencanaan masa depan dengan perencanaan yang lebih dini pada setiap tingkat distribusi (Indrajit dan Djokopranoto, 2003).
2.2.3 Tahapan Penggunaan Distribution Requirement Planning (DRP) Tersine (1994) mengemukakan bahwa metode ini berfungsi menentukan kebutuhan-kebutuhan untuk mengisi kembali persediaan pada branch warehouse. Masukan untuk kebutuhan distribusi antara lain catatan persediaan, struktur jaringan pemasarandan rencana induk penjualan.
Menurut Vollman et al (1998) secara garis besar proses perhitungan metode DRP adalah sebagai berikut :
1. Perhitungan Kebutuhan Bersih (Netting)
Merupakan proses perhitungan kebutuhan bersih (net requirements) yang besarnya merupakan selisih antara kebutuhan kotor (gross requirements) dengan jadwal penerimaan barang (planned receipts) dan persediaan awal yang tersedia (beginning inventory). Data yang dibutuhkan dalam perhitungan kebutuhan bersih adalah:
a. Kebutuhan kotor untuk setiap periode.
b. Persediaan yang dimiliki pada awal perencanaan. c. Rencana penerimaan untuk setiap periode perencanaan.
Rumus yang berhubungan dengan proses netting ini dijelaskan sebagai berikut :
POHt = (On-Hand)t-1– (GRt-1) + (SR)t-1
(NR)t = (GR)t – (SR)t - POHt
Keterangan:
POHt = Planned On-Hand (persediaan ditangan) pada periode t GRt = Gross Requirement (kebutuhan kotor) pada periode t SRt= Schedule Receipt (jadwal kedatangan) pada periode t NRt = Net Requirement (kebutuhan bersih) pada periode t
13
Kebutuhan bersih (net requirements) akan ditujukan sebagai nilai positif yang sesuai dengan pertambahan negatif dari persediaan di tangan dalam periode yang sama. Apabila lot sizing dipakai, kebutuhan bersih adalah prediksi kekurangan material, sehingga perlu dimasukkan dalam perhitungan rencana penerimaan pesanan (planned order receipts) dan tidak hanya menghitung kenaikan dalam nilai negatif yang ditunjukkan dalam baris persediaan di tangan (Vollman et al, 1998).
2. Lotting
Lotting dibuat guna menjamin bahwa semua kebutuhan-kebutuhan akan dipenuhi, pesanan akan dijadwalkan untuk penyelesaian pada awal periode dimana ada kebutuhan bersih yang positif. Ukuran dari pesanan dapat mungkin sama dengan kebutuhan bersih di periode bersangkutan, atau mungkin saja lebih besar yang meliputi kebutuhan bersih di periode mendatang untuk memanfaatkan skala ekonominya (Vollman et al, 1998). Lotting adalah suatu proses untuk menetukan besarnya jumlah pesanan optimal untuk setiap barang secara individual didasarkan pada hasil perhitungan kebutuhan bersih yang telah dilakukan. Ukuran lot menentukan besarnya jumlah barang yang diterima dalam tiap pemesanan. Penentuan ukuran lot sangat bergantung pada biaya-biaya persediaan, seperti biaya pesan, biaya simpan, biaya modal, dan harga barang itu sendiri (Vollman et al, 1998).
3. Offseting
Merupakan proses yang bertujuan untuk menentukan saat yang tepat untuk merencanakan pemesanan dalam rangka memenuhi kebutuhan bersih. Rencana pemesanan diperoleh dengan cara mengurangkan saat awal tersedianya kebutuhan bersih yang diinginkan dengan lead time yang dibutuhkan (Vollman et al, 1998).
4. Explosion
Proses explosion merupakan proses perhitungan kebutuhan kotor untuk tingkat mata rantai di bawahnya (sub distributor dan distributor) yang didasarkan atas rencana pemesanan. Dalam proses ini struktur jaringan
14
inilah proses explosion akan berjalan dan dapat menentukan ke arah mata rantai mana harus dilakukan explosion (Vollman et al, 1998).
2.3 Pengendalian Biaya Distribusi
Biaya distribusi telah dipandang semakin penting pada akhir-akhir ini. Kini kenyataannya pada banyak perusahaan, biaya distribusi malah melebihi biaya produksi atau biaya perolehan atau pembelian. Secara umum dapat dikatakan bahwa biaya produksi telah semakin menurun, sedangkan biaya distribusi semakin meningkat saat ini (Elfiraworotitjan, 2010).
2.3.1 Klasifikasi Umum Biaya Distribusi
Elfiraworotitjan (2010) memaparkan bahwa secara pengertian luas biaya distribusi dapat didefinisikan sebagai biaya yang berhubungan dengan semua kegiatan mulai dari saat barang-barang telah dibeli atau diproduksi sampai barang-barang tiba di tempat pelanggan. Biaya yang masuk biaya ini adalah biaya pemasaran atau penjualan, sehingga biaya distribusi adalah biaya-biaya yang lazim berada di bawah pengendalian eksekutif pemasaran atau penjualan, tidak termasuk biaya administrasi atau biaya finansial. Klasifikasi umum biaya distribusi diantaranya sebagai berikut:
1. Biaya langsung penjualan (direct selling expense)
Semua biaya langsung untuk memperoleh order, termasuk biaya langsung dari salesman, manajemen dan pengembalian penjualan, yaitu semua biaya yang lazim berhubungan dengan mencari order.
2. Biaya periklanan dan promosi penjualan
Semua pengeluaran media promosi, biaya-biaya yang berhubungan dengan berbagai jenis promosi penjualan, pengembangan pasar dan publisitas. 3. Biaya transportasi
Seluruh beban transportasi untuk pengiriman barang kepada para pelanggan dan atas barang yang dikembalikan, serta biaya untuk mengelola dan memelihara bekerjanya fasilitas-fasilitas transportasi keluar.
15
4. Biaya penggudangan dan penyimpanan (warehousing dan storage expense), termasuk semua biaya untuk penggudangan, penyimpanan, penanganan persediaan, pemenuhan order, pembukuan, dan penyiapan pengiriman.
5. Biaya distribusi umum
Semua biaya lain yang berhubungan dengan fungsi-fungsi distribusi di bawah manajemen penjualan, yang tidak termasuk pada poin 1 sampai 4 di atas. Ini dapat meliputi biaya umum pengelolaan penjualan, pelatihan, riset pasar, dan fungsi-fungsi staf seperti akuntansi.
2.3.2 Pertimbangan Lain dalam Penetapan Standar Biaya Distribusi
Menurut Elfiraworotitjan (2010) controller mempunyai tanggung jawab bersama dengan para eksekutif penjualan dalam penetapan-penetapan standar biaya distribusi. memenuhi tanggung jawab ini, ada baiknya agar dia mengingat kerumitan yang ada. Sebagai contoh, dalam pabrik biasanya hanya ada satu biaya standar untuk produk. Namun terdapat banyak biaya standar untuk pendistribusian setiap barang yang sama, sehingga biaya perkunjungan dapat berbeda dalam setiap daerah atau distrik penjualan.
Secara umum prinsip-prinsip yang berlaku bagi standar-standar biaya produk juga berlaku pada biaya distribusi. Standar-standar memerlukan revisi bilamana kondisi-kondisi operasi berubah secara material, juga bila dalam standar terdapat unsur biaya tetap, maka pengaruh volume harus diperhatikan (Elfiraworotitjan, 2010).
2.4 Peramalan (Forecasting)
Keberhasilan masa depan dari suatu perusahaan salah satunya ditentukan oleh kemampuan produk yang dibuat untuk memenuhi permintaan konsumen. Ketidakpastian jumlah permintaan ini mengakibatkan suatu perusahaan harus memikirkan metode yang tepat untuk mengatasinya. Metode untuk mengatasi masalah ketidakpastian jumlah permintaan adalah metode peramalan. Peramalan (forecasting) merupakan bagian vital bagi setiap organisasi bisnis dan untuk setiap
16
pengambilan keputusan manajemen yang sangat signifikan (Murahartawaty, 2009).
Peramalan menjadi dasar bagi perencanaan jangka panjang perusahaan, di area fungsional keuangan peramalan memberikan dasar dalam menentukan anggaran dan pengendalian biaya, di bagian pemasaran peramalan penjualan dibutuhkan untuk merencanakan produk baru, kompensasi tenaga penjual dan beberapa keputusan penting lainnya, di bagian produksi dan operasi menggunakan data-data peramalan untuk perencanaan kapasitas, fasilitas, produksi, penjadwalan, dan pengendalian persedian (inventory control). Penetapan kebijakan ekonomi, seperti tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran, tingkat inflasi dan lain sebagainya dapat pula dilakukan dengan teknik metode peramalan dan pengukuran kesalahan peramalan. Peramalan ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing perusahaan terhadap competitor dengan produk yang sejenis dan dapat melakukan pengendalian persedian (inventory control) sehingga perusahaan dapat memaksimalkan keuntungan dan mengurangi biaya inventory (Murahartawaty, 2009).
2.4.1 Pengertian Peramalan
Peramalan atau forecasting adalah suatu perkiraan tingkat permintaan yang diharapkan untuk suatu produk atau beberapa produk dalam periode waktu tertentu di masa yang akan datang. Peramalan pada dasarnya merupakan suatu taksiran, tetapi dengan menggunakan cara-cara tertentu peramalan dapat lebih daripada hanya satu taksiran. Peramalan adalah suatu taksiran yang ilmiah meskipun akan terdapat sedikit kesalahan yang disebabkan oleh adanya keterbatasan kemampuan manusia (Biegel, 1999).
Peramalan tidak jarang terjadi kesalahan misalnya saja penjualan sering tidak sama dengan nilai eksak yang diperkirakan. Sedikit variasi dari perkiraan seringdapat diserap oleh kapasitas tambahan, sediaan penjadwalan permintaan, tetapi variasi perkiraan yang besar dapat merusak operasi. Terdapat tiga cara untuk mengakomodasi perkiraan, yaitu yang pertama adalah mencoba mengurangi kesalahan melakukan pemerakiraan yang lebih baik, yang kedua adalah membuat fleksibilitas pada operasi dan yang terakhir adalah mengurangi waktu tunggu yang
17
dibutuhkan dalam prakiraan. Kemungkinan kesalahan terkecil adalah tujuan yang konsisten dengan biaya prakiraan yang masuk akal (Biegel, 1999).
2.4.2 Jenis Peramalan
Menurut Sofyan (1984) Situasi peramalan sangat beragam dalam horizon waktu peramalan, faktor yang menentukan hasil sebenarnya, tipe pola dan berbagai aspek lainnya. Peramalan pada umumya dapat dibedakan dari berbagai segi tergantung dalam cara melihatnya. dilihat dari jangka waktu ramalan yang disusun, peramalan dapat dibedakan atas dua macam, yaitu :
1. Peramalan jangka panjang, yaitu peramalan yang dilakukan untuk penyusunan hasil ramalan yang jangka waktunya lebih dari satu setengah tahun atau tiga semester.
2. Peramalan jangka pendek, yaitu peramalan yang dilakukan untuk penyusunan hasil ramalan yang dilakukan kurang dari satu setengah tahun atau tiga semester.
Dilihat dari sifat ramalan yang telah disusun, maka peramalan dapat dibedakan atas dua macam, yaitu :
1. Peramalan kualitatif atau teknologis, yaitu peramalan yang didasarkan atas data kualitatif masa lalu. Metoda kualitatif dibagi menjadi dua metode, yaitu:
a. Metode eksploratif. b. Metode normatif.
2. Peramalan kuantitatif, yaitu peramalan yang didasarkan atas data kuantitatif pada masa lalu. Hasil peramalan yang dibuat tergantung pada metode yang digunakan dalam peramalan tersebut.
2.4.3 Jenis Pola Data Peramalan
Menurut Makridakis (1999), langkah penting dalam memilih suatu metode deret berkala (time series) yang tepat adalah dengan mempertimbangkan jenis pola data, sehingga metode yang paling tepat dengan pola tersebut dapat diuji. Pola data dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu :
18 1. Pola data horizontal
Pola data ini terjadi bilamana data berfluktuasi di sekitar nilai rata-rata. Suatu produk yang penjualannya tidak meningkat atau menurun selama waktu tertentu.
2. Pola data trend
Pola data ini terjadi bilamana terdapat kenaikan atau penurunan sekuler jangka panjang dalam data.
3. Pola data musiman
Pola data ini terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh faktor musiman (misalnya kuartal tahun tertentu, bulan atau hari-hari pada minggu tertentu). 4. Pola data siklis
Pola data ini terjadi bilamana datanya dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka panjang seperti yang berhubungan dengan siklus bisnis.
2.4.4 Metode Peramalan
Menurut Makridakis (1999), metode peramalan dapat diklasifikasikan dalam dua kategori yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif. Metode kuantitatif dapat dibagi menjadi dua tipe yaitu causal dan time series. Bebebrapa metode time series diantaranya :
1. Double Moving Average.
Double moving average adalah rata-rata bergerak kedua, dengan kata lain double moving average adalah hasil dari single moving average yang digunakan untuk melakukan double moving average atau rata-rata bergerak dari rata-rata bergerak sebelumnya. Double moving average dapat digunakan ketika data aktual mempunyai pola tren. Orde pada metode ini yang digunakan harus sama, misal 3x3, maksudnya dari data awal dilakukan moving average dengan orde 3, kemudian hasil dari MA(3) dilakukan moving average dengan orde 3 juga. Double moving average diformulasikan sebagai berikut:
S't = 𝑋𝑡 + 𝑋𝑡−1+⋯ + 𝑋𝑛 𝑡−1 ...(2.1)
S''t = S
′
𝑡 +S′𝑡−1+⋯ + S′𝑡−1
19 𝑎𝑡 = 𝑆′𝑡 +(𝑆′ 𝑡− 𝑆′′𝑡 ) ...(2.3) 𝑏𝑡= 1 𝑥 (𝑆′𝑡− 𝑆′′𝑡) ...(2.4) 𝐹𝑡+𝑚 = 𝑎𝑡+ 𝑏𝑡 . 𝑚 ...(2.5) Dimana :
S't = Single moving average S''t = Moving average kedua
𝐹𝑡+𝑚 = Peramalan untuk m periode kedepan 2. Double Exponential Smooting satu parameter Brown.
Dasar pemikiran dari pemulusan eksponensial linier dari Brown adalah serupa dengan rata-rata bergerak linier, karena kedua nilai pemulusan tunggal dan ganda ketinggalan dari data yang sebenarnya bilamana terdapat unsur trend. Persamaan yang dipakai dari metode ini adalah sebagai berikut: S' = 𝛼 . 𝑋𝑡+ (1 − 𝛼). 𝑆′𝑡−1 ...(2.6) S'' = 𝛼 . 𝑆′𝑡+ (1 − 𝛼). 𝑆′′𝑡−1 ...(2.7) 𝛼𝑡 = 𝑆′𝑡 + (𝑆′ 𝑡 − 𝑆′′𝑡 )...(2.8) 𝑏𝑡= 1− 𝛼𝛼 (𝑆′𝑡 − 𝑆′′𝑡 ) ...(2.9) 𝐹𝑡+𝑚 = 𝛼𝑡−1 + 𝑏𝑡−1 . 𝑚...(2.10) Dimana :
S't = Moving average pertama S''t = Moving average kedua
𝐹𝑡+𝑚 = Peramalan untuk m periode kedepan
2.4.5 Kesalahan Peramalan
Makridakis (1999) menyatakan kesalahan dalam peramalan mempengaruhi keputusan melalui dua cara yaitu kesalahan dalam memilih teknik peramalan dan kesalahan dalam mengevaluasi keberhasilan penggunaan teknik peramalan, jika terdapat nilai pengamatan dan ramalan untuk n periode waktu, maka akan terdapat n buah kesalahan. terdapat dua macam ukuran kesalahan yaitu ukuran statistik dan ukuran relatif, dibawah ini jenis-jenis ukuran kesalahan peramalan :
20 Mean Error (ME)
ME = ∑𝑒𝑡
𝑛 ...(2.11) Mean Squared Error (MSE)
MSE = ∑𝑒𝑡
2
𝑛 ...(2.12) Mean Absolute Deviation (MAD)
MAD = ∑|𝑒𝑛𝑡| ...(2.13) Mean Percentage Error (MPE)
MPE = ∑𝑃𝑒 (%)
𝑛 ...(2.14) Mean Absolute Percentage error (MAPE)
MAPE = ∑|𝑃𝑒|