185
ANALISA PERBANDINGAN EASYHOTSPOT DAN MIKROTIK DALAM
PENERAPAN HOTSPOT AREA DENGAN SISTEM AAA
Rizal Fakhruddin Lubis
1, Suwanto Raharjo
2, Edhy Sutanta
31,2,3
Teknik Informatika, institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta
1
[email protected], 2 [email protected], 3 [email protected] ABSTRACT
At present more and more public places are provided hotspots area in order to attract consumers. Such facilities are generally only be used by a particular user is allowed, so needed a software to authenticate the prospective user prior to access to the Internet using hotspots area. Many alternative software options available, so that the necessary guidelines for choosing the right software to do security, one with the AAA system (Authentification, Authorized, Accounting). This study compared two software namely EasyHotspot and Mikrotik for the implementation of the AAA system in hotspot areas.
Key words: EasyeHotspot, Mikrotik, hotspots, internet. INTISARI
Saat ini semakin banyak tempat keramaian yang disediakan fasilitas hotspot area dengan tujuan untuk menarik konsumen. Fasilitas tersebut umumnya hanya bisa digunakan oleh user tertentu yang diijinkan, sehingga diperlukan sebuah software untuk autentifikasi calon user sebelum melakukan akses ke internet menggunakan fasilitas hotspot area. Banyak alternatif pilihan software yang tersedia, sehingga diperlukan panduan memilih software yang tepat untuk melakukan pengamanan, salah satunya dengan sistem AAA (Authentification, Authorized, Accounting). Penelitian ini membandingkan dua software yaitu EasyHotspot dan Mikrotik untuk pada implementasi sistem AAA pada hotspot area.
Kata-kata kunci : EasyeHotspot, Mikrotik, hotspot area, internet. PENDAHULUAN
Hotspot area semakin banyak dijumpai pada tempat-tempat keramaian dan strategis, seperti cafe, pusat perbelanjaan/mall, perkantoran, dan bahkan tempat kos. Tujuan penyediaan fasilitas hotspot area sebagain besar dimaksudkan untuk menarik para calon konsumen, sehingga umumnya bersifat gratis namun hanya dapat diakses oleh user tertentu, misal pelanggan cafe dan pusat perbelanjaan. Permasalahan yang akan timbul adalah bagaimana cara untuk memberikan layanan hotspot tersebut hanya kepada user tertentu yang diijinkan, sehingga diperlukan sebuah software untuk autentifikasi calon user sebelum melakukan akses ke internet. Saat ini tersedia cukup banyak software yang berfungsi untuk melakukan autentifikasi user pada hotspot area, sehingga dibutuhkan panduan untuk memilih software yang sesuai sesuai dengan kebutuhan penyedia fasilitas hotspot area.
Penelitian ini membandingkan dua software yaitu EasyHotspot dan Mikrotik pada implementasi sistem AAA di hotspot area. EasyHotspot adalah suatu sistem operasi atau distro ciptaan anak bangsa yang dikembangkan dari linux Ubuntu yang didesain untuk billing hotspot. EasyHotspot menyediakan paket-paket yang dibutuhkan untuk membangun billing hotspot seperti FreeRadius untuk autentikasi user, Chillispot sebagai gateway, dan database MySQL sebagai basis data untuk menyimpan account user.Saat ini EasyHotspot sudah sampai pada versi 0.2 yang berbasis Ubuntu 8.4, sementara pada penelitian ini menggunakan EasyHotspot versi 0.1 berbasis Ubuntu 7.10 (http://easyhotspot.sourceforge.net/index.php/documentation, 13 Januari 2010). Mirotik hardware merupakan Mikrotik dalam bentuk perangkat keras yang khusus dikemas dalam board router, di dalamnya sudah terinstal Mikrotik Router OS.
METODE PENELITIAN
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah koneksi internet, komputer server dengan spesifikasi mempunyai dua kartu jaringan, RAM minimal 512 MB, dan kapasitas hardisk miniman 10 GB, software EasyHotspot versi 0.1, dan software Mikrotik versi 2.9.4.
186
Pelaksanaan penelitian ini menggunakan beberapa alat yaitu WinBox versi 2.2.15 (software untuk remote Mikrotik), access point (merk WRT54G Wireless G Broadband Router) keluaran Cisco, komputer klien, kuisioner/angket, serta software pengukur kecepatan bandwidth (diperoleh dari www.speedtest.telkomspeedy.com/, 01 Desember 2009). Data penelitian dikumpulkan menggunakan studi pustaka, simulasi sistem, dan kuisioner.
Analisa dalam penelitian ini mengacu pada hasil penelitian Rofiq (2009) yang meneliti tentang pemanfaatan captive portal sebagai autentikasi client untuk keamanan jaringan hotspot menggunakan software EasyHotspot, dan penelitian Saputra (2009) yang meneliti tentang pemanfaatan Mikrotik untuk manajemen bandwidth pada jaringan wireless dengan model voucher menggunakan captive portal. Cara konfigurasi access point mengacu pada penelitian Lubis (2006) yang telah menganalisa dan mengimplementasikan keamanan wireless 2,4 Ghz untuk jaringan lokal.
Tahapan penelitian dilakukan sebagai berikut:
Langkah 1 .Merancang topologi jaringan yang akan diterapkan.
Langkah 2. Menganalisa IP, Gateway, Broadcast, dan DNS Server untuk memperoleh IP yang akan digunakan oleh client/server, serta access point/switch dan komputer server agar dapat membuat suatu jaringan lokal yang dapat mengakses ke internet. Langkah 3. Menginstal dan mengkonfigurasi sistem Mikrotik dan EasyHotspot satu- persatu agar dapat berjalan sesuai fungsinya.
Langkah 4. Membandingkan kedua sistem untuk memperoleh informasi tentang
kelebihan dan kekurangan kedua sistem. Parameter yang dianalisa dalam
perbandingan kedua sistem meliputi 5 aspek, yaitu kemudahan instalasi, kemudahan konfigurasi, manajemen user, kecepatan banwidth untuk upload/download, serta tampilan interface. Tahapan ini dilakukan dengan memanfaatkan kuisioner dari para pengguna dan simulasi sistem. Kuisioner dibagikan kepada 30 orang responden yang paham pemahamaman tentang jaringan. Kuisioner berisi pertanyaan yang meliputi parameter kemudahan instalasi, kemudahan konfigurasi, dan tampilan/interface, sedangkan perbandingan parameter manajemen sistem dan kecepatan bandwidth dilakukan berdasarkan hasil simulasi sistem.
PEMBAHASAN
Rancangan jaringan yang akan diterapkan dan dianalisa dalam penelitian ini ditampilkan pada Gambar 1. Rancangan tersebut selanjutnya dianalisa sesuai langkah-langkah dalam tahapan penelitian yang telah ditetapkan.
187
Hasil analisa tentang kemudahan instalasi ditampilkan pada Tabel 1, hasil analisa tentang kemudahan konfigurasi ditampilkan pada Tabel 2, hasil analisa tentang tampilan/interface ditampilkan pada Tabel 3, dan ringkasan hasil analisa setiap parameter ditampilkan pada Tabel 4.
Tabel 1: Hasil analisa tentang kemudahan instalasi
EasyHotspot Mikrotik
Cukup banyak tahapan dalam instalasi Tidak banyak tahapan dalam instalasi Hardisk yang digunakan dapat dipartisi dan
digunakan untuk sistem operasi Lain
Hardisk yang digunakan hanya dipartisi untuk Mikrotik
Memerlukan spesifikasi komputer yang cukup tinggi (RAM 512MB, Hardisk 10GB)
Tidak memerlukan spesifikasi komputer yang tinggi (RAM 32MB, Hardisk 64MB)
Tabel 2: Hasil analisa tentang kemudahan konfigurasi
EasyHotspot MikrotikOS
Tidak banyak tahapan konfigurasi Cukup banyak tahapan konfigurasi DHCP server secara otomatis sudah aktif dan
tidak perlu melakukan konfigurasi gateway karena secara otomatis aktif
Harus melakukan konfigurasi gateway dan mengaktifkan DHCP server sebelum dikonfigurasi menjadi server hotspot
Dilakukan dari console (layar hitam-putih) Dapat dilakukan melalui console dan WinBox (secara visual)
Konfigurasi server hotspot tidak dapat dilakukan remote
Konfigurasi server hotspot dapat dilakukan remote
Tabel 3: Hasil analisa tentang tampilan/interface
EasyHotspot MikrotikOS
Tampilan cukup sulit untuk dimodifikasi karena dibuat dengan CI (Code Integer) dengan nama file hotspotlogin.cgi
Tampilan cukup mudah untuk dimodifikasi karena dibuat dengan html yang familiar dengan nama file login.html
Tidak perlu menggunakan software tambahan untuk mengambil file yang akan dimodifikasi
Menggunakan software tambahan seperti FTP untuk mengambil file yang akan dimodifikasi
Tabel 4: Ringkasan hasil kuisioner setiap parameter
Parameter Mikrotik EasyHotspot
Kemudahan instalasi 21 9
Kemudahan konfigurasi 12 18
Tampilan/interface yang user friendly 19 11
Jumlah 52 38
Kelebihan dan Kekurangan Software
Berdasarkan hasil analisa dalam penelitian ini, dapat disimpulkan kelebihan dan kekurangan kedua software yang diteliti. Kelebihan Mikrotik antara lain tampilan grafis penuh, manajemen bandwidth dapat ditetapkan sesuai keinginan, satu account user hanya dapat digunakan untuk satu user, serta dapat mencatat MAC Address dan IP Address user, sedangkan kelebihan EasyHotspot antara lain tampilan grafis minim, mempunyai halaman logout secara otomatis, dan mempunyai fitur billing hotspot. Kekurangan Mirotik antara lain halaman logout tidak muncul secara otomatis, terdapat cookies untuk account user yang telah login, dan sistem billing hotspot secara default, sedangkan kelemahan EasyHotspot antara lain satu account user dapat digunakan oleh lebih dari satu user secara bersamaan, manajemen bandwidth sudah ditetapkan mulai dari 32kbps dan seterusnya dengan kelipatan 32kbps, dan tidak dapat melihat user yang sedang aktif.
188
Hasil uji untuk manajemen sistem ditampilkan pada Tabel 5. Tabel 5: Manajemen Sistem
Parameter Mikrotik EasyHotspot
Tampilan/interface
Kemudahan dan keleluasaan dalam memanajemen bandwidth
Mempunyai halaman logout yang keluar secara otomatis Satu account user hanya bisa digunakan satu user pada
saat yang bersamaan
Dapat melihat user yang sedang aktif/online
Kemudahan dan keleluasaan menciptakan billing hotspot Kecepatan Bandwidth
Pengujian kecepatan bandwidth dilakukan pada situs http://www.speedtest.telkomspeedy.com. Pengujian dilakukan pada saat hanya satu user yang sedang aktif dan user tersebut hanya melakukan aktifitas pengujian kecepatan bandwidth. Agar memperoleh hasil yang cukup valid, maka pengujian dilakukan sebanyak dua kali, dan hasilnya ditampilkan pada Tabel 6 untuk pengujian pertama, dan pada Tabel 7 untuk pengujian kedua.
Tabel 6: Hasil pengujian kecepatan bandwidth pertama
Pengujian Mikrotik EasyHotspot
Download 129Kbps (16.1KBps) 131kbps (16.4KBps) Upload 126Kbps (15.8KBps) 127kbps (15.9KBps)
Tabel 7: Hasil pengujian kecepatan bandwidth kedua Keterangan Mikrotik EasyHotspot
Download 130Kbps (16.3KBps) 129kbps (16.1KBps) Upload 127Kbps (16KBps) 127kbps (15.9KBps)
Hasil-hasil analisa dan pengujian selanjutnya dapat diringkas menjadi hasil gabungan yang menujukkan kelebihan software secara relatif (diberi tanda ) sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 8.
Tabel 8: Ringkasan hasil analisa dan pengujian secara keseluruhan
Parameter Mikrotik EasyHotspot
Kemudahan instalasi
Kemudahan konfigurasi
Manajemen system
Kecepatan bandwidth untuk upload/download Tampilan/interfaceyang user friendly
Berdasarkan Tabel 8, Mikrotik mendapatkan 4 poin sedangkan EasyHotspot mendapatkan 2 poin. Secara umum, sistem keamanan pada penerapan server hotspot, Mikrotik lebih unggul daripada EasyHotspot. Mikrotik mempunyai sistem keamanan di mana satu account user hanya bisa digunakan oleh satu user pada saat bersamaan, Mikrotik juga mampu mencatat IP/MAC Address user, sehingga Mikrotik mempunyai keamanan yang lebih baik karena satu account user hanya dapat digunakan pada satu komputer. Kelebihan EasyHotspot adalah memiliki suatu sistem billing server secara default. Billing server yang ada pada EasyHotspot bersifat pra-bayar dan paska-bayar. Billing hotspot tepat digunakan untuk server hotspot dengan sistem berbayar seperti yang dapat dijumpai pada warung internet (seperti Intersat, Merapi-Net, dan Lion-net) yang menawarkan fasilitas hotspot berbayar, walaupun EasyHotspot tidak memiliki sistem keamanan sebaik yang dimiliki oleh Mikrotik. Mikrotik dan EasyHotspot diciptakan dari keluarga linux/unix sehingga kelebihan dan kekurangan dari kedua software tersebut dapat seimbang. EasyHotspot memiliki billing hotspot secara default sedangkan Mikrotik tidak memiliki billing hotspot secara default, namun pada Mikrotik masih dapat dibuat billing hotspot secara manual.
189
Berdasarkan hasil kuisioner, parameter kemudahan instalasi lebih unggul Mikrotik dari pada EasyHotspot, hasil kuisioner Mikrotik memperoleh 21 poin dan EasyHotspot memperoleh 9 poin. Paratemeter kemudahan konfigurasi lebih unggul EasyHotspot dari pada Mikrotik, hasil kuisioner EasyHotspot memperoleh 18 poin dan Mikrotik memperoleh 12 poin. Parameter manajemen sistem lebih unggul Mikrotik dari pada EasyHotspot, hasil kuisioner Mikrotik memperoleh 4 poin dari 7 poin pada sub-parameter manajemen sistem, dan EasyHotspot memperoleh 3 poin dari 7 poin pada sub-parameter tersebut. Parameter kecepatan bandwidth hasil yang diperoleh adalah kedua sistem tidak ada perbedaan yang menonjol atau dapat dikatakan seimbang
Parameter tampilan/interface Mikrotik lebih unggul dari pada EasyHotspot, hasil kuisioner EasyHotspot memperoleh 19 poin dan Mikrotik memperoleh 11 poin.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, beberapa hal dapat disimpulkan bahwa penerapan sistem AAA (Authentification, Authorized, Accounting) pada jaringan hotspot adalah suatu sistem keamanan yang cukup handal. Berdasarkan parameter yang ditentukan, maka hasilnya adalah sebagai berikut: 1.Parameter kemudahan instalasi, Mikrotik lebih unggul dari pada EasyHotspot. 2. Paratemeter kemudahan konfigurasi, EasyHotspot lebih unggul dari pada Mikrotik. 3. Parameter manajemen sistem, Mikrotik lebih unggul dari pada EasyHotspot. 4. Parameter kecepatan bandwidth, tidak ada perbedaan yang signifikan pada kedua software atau dapat dikatakan seimbang. 5.Parameter tampilan/interface, Mikrotik lebih unggul dari pada EasyHotspot.
Mikrotik memiliki sistem keamanan yang lebih baik dibandingkan EasyHotspot karena mampu menyimpan IP/MAC address sebagai validasi account user yang membuat jaringan hotspot lebih aman. EasyHotspot memiliki sistem billing yang memudahkan pengelolaan pada hotspot berbayar. Selain itu juga Mikrotik dan EasyHotspot dikembangkan dari keluarga linux/unix sehingga kelebihan dan kekurangan kedua software bisa dinyatakan seimbang dengan cara setting secara manual.
DAFTAR PUSTAKA
Lubis, M.S., 2006, Analisa &Implementasi Keamanan Wireless 2,4 Ghz untuk Jaringan Lokal, Skripsi, Jurusan Teknik Informatika, FTI, IST AKRPIND, Yogyakarta
Rofiq, M., 2009, Pemanfaatan Captive Portal sebagai Otentikasi Client untuk Keamanan Jaringan Hotspot, Skripsi, Jurusan Teknik Informatika, FTI, IST AKPRIND, Yogyakarta Saputra, M.R.H., 2009, Manajemen Bandwidth menggunakan Mikrotik untuk Jaringan Wireless
dengan Model Voucher di Grissee Cafe, Skripsi, Jurusan Teknik Informatika, FTI, IST AKPRIND, Yogyakarta