KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 12 October 2016

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KOPI DARAT

Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat

12 October 2016

Topik #27

Membangun Budaya Baca dan Mengantisipasi Perubahan Manajemen Perpustakaan

Meningkatkan keterampilan literasi Belajar membaca di kelas-kelas awal telah terbukti sangat penting bagi anak untuk dapat mengembangkan kemampuannya dalam menguasai keterampilan-keterampilan lain yang lebih sulit. Anak-anak yang tidak mengembangkan kemahirannya dalam membaca di kelas awal tidak akan mampu memahami informasi tertulis, mengikuti instruksi tertulis dan berkomunikasi secara tertulis. Mereka beresiko terpuruk semakin dalam dan tertinggal semakin jauh seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan mereka.

Indonesia telah mencapai target Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) dalam hal literasi di kalangan remaja secara nasional, yang peringkatnya semakin tinggi di kelompok usia 15-24 tahun sejak 1990 dan bahkan mendekati 100% di tahun 2015. Pengecualiannya hanya pada Provinsi Papua dimana hanya 87,2% remaja yang dianggap memiliki keterampilan literasi yang memadai. Kesetaraan gender dalam hal kemampuan literasi di kalangan remaja juga telah berhasil dicapai oleh sebagian besar wilayah Indonesia.

Meski demikian, Indonesia belum menunjukkan performa yang baik dalam uji keterampilan membaca di tingkat internasional. Indonesia adalah satu di antara 12 negara dengan nilai yang rendah secara signifikan di bawah standar internasional mengacu pada Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS). Di samping itu, Programme for International Student Assessment (uji PISA) menunjukkan bahwa pelajar Indonesia berada 3 tahun tertinggal di belakang rata-rata kemampuan membaca para pelajar di negara-negara yang tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Lebih dari 50% pelajar Indonesia berusia 15 tahun tidak menguasai keterampilan dasar membaca atau matematika. Indonesia bahkan berada di urutan ke-60 dari 61 negara, berdasarkan tingkat literasinya, seperti yang disebutkan oleh Connecticut State University Amerika Serikat di tahun 2016 ini.

Early Grade Reading Assessments (EGRA) atau Penilaian Kemampuan Membaca di Kelas-Kelas Awal di Indonesia mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah kelompok tertentu yang mampu membaca dengan lebih baik dibandingkan kelompok lainnya. Misalnya, anak-anak di Jawa dan Bali mampu membaca dengan pemahaman yang lebih baik dibandingkan dengan anak-anak dari daerah lain di Indonesia, terutama mereka yang tinggal di bagian timur Indonesia. Anak perempuan menunjukkan kemampuan membaca yang lebih baik dibandingkan anak laki-laki, dan anak-anak yang berasal dari daerah perkotaan juga terbukti membaca dengan lebih baik dibandingkan anak-anak yang hidup di pedesaan – dan terutama di daerah terpencil. Anak-anak yang menggunakan/menikmati bahasa ibu sebagai bahasa pengantar di kelas terbukti dapat membaca dengan lebih lancar dan disertai pemahaman yang lebih baik, dibandingkan dengan mereka yang menggunakan bahasa yang berbeda antara kegiatan di kelas dan kehidupan sehari-hari di rumah. Guru dapat membantu meningkatkan keterampilan membaca di antara anak-anak Indonesia

Misalnya, guru dapat dilatih lebih jauh dalam membangun kesadaran phonemic, bunyi atau suara (phonics), kelancaran membaca, penguasaan kosa kata dan keterampilan pemahaman teks. Instruksi kosa kata dapat ditujukan untuk meningkatkan pemahaman membaca, dengan mendorong pada definisi kontekstual dan pengumpulan/pemberian contoh, daripada belajar dengan cara mengingat atau belajar dengan tekanan intensif. Strategi pemahaman lain yang dapat digunakan adalah misalnya dengan meminta anak untuk menebak atau merangkum teks bacaan sebelum, selama dan sesudah membaca. Sebagai tambahan, dukungan yang lebih besar dapat diberikan terhadap pemanfaatan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar, untuk menjadikannya sebagai sarana bantuan bagi anak-anak – terutama anak laki-laki – di daerah terpencil.

(2)

Salah satu cara paling efektif untuk membangun kelancaran dan pemahaman dalam membaca adalah dengan memberi anak-anak kesempatan yang lebih besar untuk terlibat dalam kegiatan membaca rutin. Hal ini perlu didukung dengan peningkatan waktu yang didedikasikan untuk membaca, setiap harinya.

Membangun kecintaan terhadap buku dan kegiatan membaca

Membaca sebagai hiburan terbukti memberi manfaat besar bagi pencapaian keterampilan membaca dan membantu anak-anak membangkitkan kemampuan kognitif rendah mereka, melalui pengembangan kosa kata dan pengetahuan umum. Uji PISA juga membuktikan bahwa anak-anak yang menjadikan kegiatan membaca sebagai hiburan, menunjukkan prestasi akademis yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak melakukannya dengan cara demikian. Di samping mendatangkan manfaat akademis, membaca untuk kesenangan juga terbukti meningkatkan keterampilan emosi, keterampilan sosial dan membangun kreativitas.

Laporan OECD tahun 2009 mencatat bahwa 90% murid-murid Indonesia menyatakan bahwa mereka membaca untuk kesenangan, melampaui peringkat mayoritas negara-negara yang termasuk dalam OECD, dimana 37% murid menyatakan mereka membaca bukan untuk kesenangan. Namun demikian, hasil studi yang lebih baru pada tahun 2012 oleh UNESCO mengindikasikan bahwa hanya 1 orang dari setiap 1.000 penduduk memiliki minat untuk membaca dan diperlukan upaya besar untuk meningkatkan minat ini.

Di berbagai negara, pada umumnya, anak perempuan dan murid-murid yang beruntung secara sosial-ekonomi telah menjalani kegiatan membaca untuk kesenangan, dibandingkan anak laki-laki dan murid-murid yang kurang beruntung. Namun demikian - secara umum di berbagai negara - kegiatan membaca untuk kesenangan tampak menurun, terutama di kalangan anak laki-laki.

Apakah kegiatan membaca untuk kesenangan dapat dibangun dan ditingkatkan?

Orang tua dan guru terbukti mampu mempengaruhi minat anak-anak untuk membaca dengan cara memberikan motivasi dalam bentuk pengakuan, penghargaan atau pun insentif. Hal tersebut dapat membangun nilai dan kepercayaan anak terhadap diri sendiri sebagai pembaca yang baik. Terlebih jika mereka termasuk yang telah memiliki keterampilan membaca tingkat tinggi.

Sekolah juga memiliki peran penting dalam membangun minat murid untuk membaca. Mempelajari minat anak dan memastikan bahan bacaan yang tersedia menjawab minat mereka, adalah salah satu cara untuk memupuk budaya baca ini. Cara lain untuk melibatkan mereka dalam kegiatan membaca adalah dengan menawarkan kesempatan bagi anak-anak untuk memilih atau membeli sendiri bahan bacaan yang mereka inginkan. Sekolah juga dapat menggugah anak laki-laki untuk membaca, tidak hanya dengan memadukan minat mereka dengan bahan bacaan, tetapi disertai teladan nyata yang ditunjukkan guru, staf sekolah atau tokoh komunitas – yang pria. Lebih jauh, sekolah dapat mendorong orang tua untuk menciptakan kegemaran membaca di rumah melalui keterlibatan dalam inisiatif-inisiatif seperti festival membaca atau membentuk kelompok baca orangtua-anak. Lebih jauh sekolah dapat membangun praktik membaca yang dapat dimanfaatkan orang tua untuk memperkuat kebiasaan membaca di rumah. Bagi kebanyakan anak, rumah menjadi tempat pemberian contoh dan untuk menerima arahan budaya baca. Secara global, murid-murid dimana orang tuanya membaca untuk kesenangan, terbukti berhasil mencapai keterampilan membaca yang lebih tinggi dibandingkan murid dengan orang tua yang tidak melakukannya demikian. Masa depan buku dan pergeseran tren membaca Perangkat digital seperti komputer tablet kerap ‘disalahkan’ karena mengganggu perhatian anak dari kegiatan membaca, serta menjadi penyebab menurunnya kemampuan mereka untuk mengingat dan memahami informasi. Namun demikian banyak studi menyatakan bahwa teknologi sebenarnya mengandung banyak manfaat – termasuk untuk mengembangkan keterampilan literasi dan akuisisi bahasa, membuka akses yang lebih luas terhadap informasi, mendukung kegiatan belajar, memotivasi murid dan membangun kepercayaan diri.

(3)

Indonesia adalah satu di antara sepuluh negara dengan pengguna Internet terbanyak. 90% penggunaan internet di Indonesia adalah untuk kegiatan komunikasi di media sosial, dimana menurut data tahun 2014, dari sebanyak 88,1 juta pengguna internet di Indonesia - 79 juta di antaranya adalah pengguna aktif media sosial. Indonesia berada di peringkat 4 dunia dalam hal penggunaan aktif Facebook dan berada di peringkat 3 dunia dalam hal penggunaan aktif Twitter. Minimum sebanyak 4,1 juta tweets muncul dari Indonesia setiap harinya.

Penggunaan internet yang sangat maju di Indonesia dapat mendatangkan manfaat bagi anak-anak di daerah terpencil untuk dapat menikmati akses yang lebih luas terhadap bahan bacaan sebagai kompensasi sulitnya mereka mendapatkan bahan bacaan dalam format fisik. Solusi ini dipandang strategis mengingat sekolah-sekolah di daerah terpencil melayani rumah tangga miskin yang hampir tidak mungkin menikmati sumber daya lebih dan hanya memiliki sedikit dana bagi pengeluaran tetap, seperti untuk mengelola sebuah perpustakaan.

Di lain pihak, kebangkitan teknologi digital menimbulkan kekhawatiran besar atas keberadaan buku dan keberlangsungan toko buku di masa depan. Ellie Hirschhorn, Chief Digital Officer yang bekerja di perusahaan penerbit Simon & Schuster melakukan prediksi pada tahun 2010 lalu, bahwa di tahun 2013 separuh jumlah buku yang dijual akan berbentuk e-book. Salah satu alasannya menurut Russell Grandinetti - orang yang bertanggungjawab atas bisnis Kindle milik Amazon - pembaca masih lebih menyukai fitur-fitur khas buku; mudah dibawa, ringkas dan tahan lama.

Bagaimana pun, inovasi terus dilakukan terhadap bagaimana format buku dan akses terhadapnya akan dikembangkan. Misalnya, OpenEdition Books dan Open Book Publishers yang menyediakan platform bagi penerbit yang ingin mengakses koleksi bahan online, dan menjual konten digital pada pelanggan dalam format yang dapat diunduh dan dicetak. Masa depan perpustakaan Perpustakaan anak-anak berpotensi untuk mendukung proses belajar membaca dan memberikan mereka akses ke semua media. Perpustakaan seperti ini dapat mempromosikan gairah untuk membaca dengan merancang proram dan kegiatan yang dapat mendekatkan anak-anak dengan kegiatan membaca dan peningkatan literasi akan informasi, termasuk literasi digital. Perpustakaan semacam ini juga menyediakan lingkungan yang aman bagi anak-anak untuk mengerjakan pekerjaan sekolah, membangun jejaring sosial mereka dan bekerja bersama komunitas. Perpustakaan di seluruh dunia tengah mengembangkan inisiatif untuk melibatkan anak-anak dalam membaca, belajar dan tanggung jawab masyarakat. Di Singapura, “My Tree House” (Rumah pohonku) Perpustakaan Anak-anak dari Green Children adalah perpustakaan pertama di dunia yang digerakkan oleh prinsip-prinsip ‘hijau’, dan bertujuan mendorong anak-anak untuk menumbuhkan keingintahuan mereka untuk belajar dan memelihara lingkungan. Di Uganda, Uganda Community Libraries Association/Asosiasi Perpustakaan Masyarakat Uganda menyelenggarakan perkemahan bertemakan kesehatan dan teknologi untuk anak-anak pedesaan. Agar dapat menyelenggarakan kegiatan semacam ini, maka penting untuk mendapatkan pendanaan untuk perpustakaan anak-anak, mengadakan pelatihan pegawai, termasuk tentang TIK (teknologi informasi komunikasi) dan melek informasi, mendukung jaringan perpustakaan anak-anak dan pendanaan peralatan TIK dan pelatihan TIK untuk para pegawai.

Saat ini, banyak sekolah di Indonesia tidak memiliki perpustakaan yang memadai. Pada tahun 2002 sebuah survei menyatakan, bahwa dari 25.052 sekolah, 2.321 di antaranya mempunyai perpustakaan, sementara hanya 3.511 sekolah yang memiliki perpustakaan yang semi permanen. Dari semua sekolah yang memiliki perpustakaan, hanya 4.851 pustakawaan yang bekerja penuh waktu. Perpustakaan tersebut memiliki kurang dari satu buka untuk setiap lima murid.

Perpustakaan di Indonesia menempati urutan terendah di seluruh negara ASEAN. Sejumlah alokasi dana tersedia setiap tahunnya untuk perpustakaan, namun dibutuhkan jumlah yang signifikan mengingat meningkatnya harga buku dan jurnal. Saat ini terdapat 1 Perpustakaan Nasional, 25 perpustakaan daerah, 519 perpustakaan universitas, 12.620 perpustakaan sekolah, 769 perpustakaan umum di tingkat kota dan 800 perpustakaan khusus.

(4)

Indonesia telah membentuk beberapa sistem “khusus” untuk berbagi informasi dan penelitian di bidang pertanian dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai contoh Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA) di Bogor telah mengkoordinir berbagi informasi mengenai pertanian dan biologi antara peneliti, petugas penyuluhan, akademisi, petani dan pemangku kepentingan lainnya. Hal yang serupa dilakukan oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), di mana mereka mengkoordinir berbagi informasi terkait ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, Jaringan Perpustakaan Digital Indonesia dimulai oleh Institut Teknologi Bandung guna menyediakan akses yang luas ke koleksi perpustakaan. Terdapat sejumlah upaya global untuk menyediakan akses online ke perpustakaan yang bisa dimanfaatkan oleh Indonesia. Contohnya, Digital Public Library of America/Perpustakaan Umum Digital di Amerika Serikat yang diluncurkan pada 18 April 2013 terdiri dari tujuh juta buku dan obyek lainnya, yang terhubung dengan berbagai koleksi digital yang telah dimiliki. Hampir sebanyak satu juta pengunjung dari hampir seluruh negara di dunia telah mengunjungi website DPLA.

Untuk mengambil manfaat dari peluang via internet ini, Indonesia memerlukan sumber daya manusia, yakni pustakawan, yang mampu memahami perubahan kondisi dan proses informasi. Untuk keperluan ini, peluang pelatihan dan peluang untuk melanjutkan pendidikan termasuk membangun jaringan antar perpustakaan dan pustakawan akan sangat penting bagi Indonesia agar tetap mendapatkan informasi mutakhir tentang penelitian terkini dan berpengaruh, dengan cara masuk ke dalam jaringan pengetahuan yang baru di tingkat nasional, regional dan global. Narasumber: - Dr. Supriano, M.Ed Direktur Pengembangan Sekolah Menengah Pertama Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan - Hanna Catherina George, SS, MI.Kom Ketua Umum Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia - Nur Kana’ah, SH Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan - Muhammad Basri, S.Pd., M.Si Kepala Sekolah SDN 1 Allakuang, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan Sekolah Mitra USAID PRIORITAS - Sulasmo Sudharno Pendiri iJakarta (perpustakaan digital pertama berbasis media sosial) Sumber Referensi: - ACDP, 2014. The Critical Importance of Early Grade Reading and Assessment. - Arif, Ahmad. “Iliterate Nation.” Kompas. 28 September, 2016. - Brotosedjati, Soebagyo, 2002. “Perpustakaan sekolah: pemikiran ke arah pengembangan”. Marsela Media Informasi Pustakawan Indonesia. - Clark, Christina and Amelia Foster, 2005. Children’s and Young People’s Reading Habits and Preferences: the who, what, why, where and when. National Literacy Trust. - Darnton, Robert, 2014. “A World Digital Library is Coming True!” The New York Review of Books. 22 May 2014. - Dredge, Stuart. “Are Tablet Computers Harming Our Children’s Ability to Read?” The Guardian. 24 August 2015. https://www.theguardian.com/technology/2015/aug/24/tablets-apps-harm-help-children-read. - Libraries for Children and Young Adults Section, International Federation of Library Associations. “How Libraries for Children and Young Adults are Supporting Development by Providing Access to Information”. http://www.ifla.org/files/assets/hq/topics/libraries-development/documents/libraries-for-children-and-young-adults.pdf. - Mullis, Ina V.S., Michael O. Martin, Pierre Foy and Kathleen T. Drucker, 2011. PIRLS 2011 International Results in Reading. - MDG summary report - OECD, 2015. Education in Indonesia: Rising to the Challenge. - OECD, 2009. PISA in Focus: Do Students Today Read for Pleasure?

(5)

- O’Hara, Susan and Robert Pritchard, 2014. “What is the Impact of Technology on Learning?” http://www.education.com/reference/article/what-impact-technology-learning/. - Ricci, Colleen. “Reading for Pleasure Boosts Children Academically and Emotionally”. The Sydney Morning Herald. 16 August, 2015. - Widharto. Libraries and Librarians in Indonesia in the Information Age: Challenges and Risks. - Winarko, Bambang, 2011. Disseminating Agricultural Information Through the Internet: Indonesian Center for Agricultural Library and Technology Dissemination Experience. Lembar Latar Belakang ini disiapkan oleh Tim Knowledge Management, ACDP Indonesia : Hilary Saccomanno, Research Assistant, ditinjau oleh Dr. David Harding Lead Adviser, Education and Knowledge Management, diterjemahkan oleh Daniella Situmorang dan Sari Soegondo, Communication Team dan diedit oleh Sari Soegondo, Communication Specialist. Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi: Daniella Situmorang Fara Ramadhina dc2morang@yahoo.com fara.ramadhina@gmail.com ella@acdp-indonesia.org fara@acdp-indonesia.org 0812-9718-1088 0811-9890-271

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :