LAPORAN PENDAHULUAN KANKER SERVIKS

26 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN KANKER SERVIKS

OLEH :

NI KADEK ANITA RISMAWATI P07120213037

TINGKAT 3 SEMESTER V

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR JURUSAN KEPERAWATAN

D IV REGULER 2015

(2)

LAPORAN PENDAHULUAN PADA KLIEN DENGAN KANKER SERVIKS A. Pengertian

Kanker Cerviks yaitu keganasan pada leher rahim yang merupakan keganasan pada bagian terendah rahim yang menonjol ke liang sanggama / vagina ( Depkes RI, 2006) . Kanker Cerviks merupakan pertumbuhan dari Human Papilloma Virus (Kline, 2007). Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya. (FKUI, 1990; FKKP, 1997). Kanker serviks adalah penyakit kanker yang terjadi pada daerah leher rahim, yaitu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk kearah rahim, letaknya antara rahim (uterus) dengan liang senggama wanita (vagina) (Wijaya, 2010).

B. Etiologi

Menurut Wijaya (2010), ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan peluang seorang wanita untuk terkena kanker serviks. Faktor-faktor tersebut adalah : a. Infeksi Virus Human Papilloma (HVP)

Faktor resiko dari infeksi HPV adalah factor yang terpenting dalam timbulnya penyakit kanker serviks ini. Human Papilloma Virus adalah sekelompok lebih dari 100 virus yang berhubungan yang dapat menginfeksi sel-sel pada permukaan kulit, ditularkan melalui kontak kulit seperti vaginal, anal, atau oral seks. Virus ini berasal dari familia Papovaridaedan genus Papilloma virus. Hubungan seks yang tidak aman terutama pada usia muda atau melakukan hubungan seks dengan banyak pasangan, memungkinkan terjadinya infeksi HPV. Organ reproduksi wanita pada usia remaja (12-20 tahun) sedang aktif berkembang. Bila terjadi rangsangan oleh penis/sperma dapat memicu perubahan sifat sel menjadi tidak normal, apalagi bila terjadi luka saat berhubungan seksual dan kemudian terjadi infeksi virus HPV. b. Pasangan Seksual yang Berganti-ganti

Dari berbagai penelitian yang dilakukan timbulnya penyakit kanker serviks berkaitan erat dengan perilaku seksual seperti mitra seks yang berganti-ganti. Resiko kanker serviks lebih dari 10 kali bila berhubungan dengan 6 atau lebih mitra seks.

(3)

c. Usia Pertama Melakukan Hubungan Seks

Wanita yang melakukan hubungan seks pertama sekali pada umur dibawah 17 tahun hampir selalu 3x ;lebih mungkin terkena kanker serviks di usia tuanya. Semakin muda seorang wanita melakukan hubungan seks maka semakin besar resiko terkena kanker serviks. Hal ini disebabkan karena alat reproduksi wanita pada usia ini belum matang dan sangat sensitif.

d. Merokok

Tembakau atau rokok mengandung bahan-bahan karsinogenik baik yang dikunyah atau dihisap sebagai rokok atau sigaret. Penelitian menunjukkan lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya terdapat di dalam rokok. Produk sampingan rokok seringkali ditemukan pada mukosa serviks dari wanita perokok.

e. Jumlah Anak

Wanita yang sering melahirkan mempunyai resiko 3-5 x lebih besar terkena kanker leher rahim. Terjadinya trauma pada bagian leher rahim yang tipis dapat merupakan penyebab timbulnya suatu peradangan dan selanjutnya berubah menjadi kanker. Menurut berapa pakar, jumlah kelahiran yang lebih dari 3 akan meningkatkan resiko wanita terkena kanker serviks.

f. Kontrasepsi

Pil KB yang dipakai dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan resiko terkena kanker serviks.Dari beberapa penelitian menemukan bahwa resiko kanker serviks meningkat berkaitan dengan semakin lama wanita tersebut menggunakan pil KB, dan cenderung akan menurun pada saat pil tersebut dihentikan. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pemakaian pil KB akan menyebabkan wanita lebih sensitif terhadap HPV sehingga makin meningkatkan resiko terkena kanker serviks. g. Riwyat Keluarga

Sama seperti jenis kanker lainnya, maka pada kanker leher rahim juga akan meningkatkan resiko lebih besar terkena pada wanita yang mempunyai keluarga (ibu atau kakak perempuan) terkena kanker leher rahim.

(4)

Seseorang yang melakukan diet ketat, diet rendah sayuran dan buah-buahan, rendahnya konsumsi vitamin A,C, dan E setiap hari dapat menyebabkan kurangnya daya tahan tubuh, sehingga oang tersebut gampang terinfeksi oleh berbagai kuman, termasuk HPV. Penurunan kekebalan tubuh dapat juga mempercepat pertumbuhan sel kanker dari noninvasive menjadi invasif.

C. Patofisiologi

Serviks mempunyai dua jenis sel epitel yang melapisi nektoserviks dan endoserviks, yaitu sel epitel kolumner dan sel epitel squamosa yang disatukan oleh Sambungan Squamosa Kolumner (SSK).Proses metaplasia adalah proses pergantian epitel kolumner dan squamosa. Epitel kolumner akan digantikan oleh squamosa baru sehingga SSK akan berubah menjadi Sambunga SquamosaSquamosa (SSS)/ squamosa berlapis.

Pada awalnya metaplasia berlangsung fisiologis Namun dengan adanya mutagen dari agen yang ditularkan melalui hubungan seksual seperti sperma, virus herpes simplek tipe II, maka yang semula fisiologis berubah menjadi displasia. Displasia merupakan karakteristik konstitusional sel seperti potensi untuk menjadi ganas.

Hampir semua ca. serviks didahului dengan derajat pertumbuhan prakanker yaitu displasia dan karsinoma insitu. Proses perubahan yang terjadi dimulai di daerah SquamosaColumner Junction (SCJ) atau SSK dari selaput lendir portio. Pada awal perkembangannya, ca. serviks tidak memberikan tanda-tanda dan keluhan. Pada pemeriksaan speculum, tampak sebagai portio yang erosive (metaplasia squamosa) yang fisiologik atau patologik.

Tumor dapat tumbuh sebagai berikut:

1. Eksofitik, mulai dari SCJ kearah lumen vagina sebagai masa proliferasi yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis.

2. Endofitik, mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stroma serviks dan cenderung untuk mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.

3. Ulseratif, mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dan melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas.

Displasia pada serviks disebut Neoplasia Servikal Intraepitelial (CIN). CIN ada tiga tingkatan yaitu:

(5)

1. CIN I : Displasia ringan, terjadi di epitel basal lapisan ketiga, perubahan sitoplasmik terjadi di atas sel epitel kedua dan ketiga.

2. CIN II : Displasia sedang, perubahan ditemukan pada epitel yang lebih rendah dan pertengahan, perubahan sitoplasmik terjadi di atas sel epitel ketiga.

3. CIN III : Displasia berat, terjadi perubahan nucleus, termasuk pada semua lapis sel epitel, diferensiasi sel minimal dan karsinoma insitu.

D. Manifestasi Klinis

Menurut Sukaca (2009), gejala penderita kanker serviks diklasifikasikan menjadi dua yaitu gejala pra kanker serviks dan gejala kanker serviks.

Gejala pra kanker serviks ditandai dengan gejala : a. Keluar cairan encer dari vagina(keputihan)

b. Pendarahan setelah sanggama yang kemudian dapat berlanjut menjadi pendarahan yang abnormal.

c. Pada fase invasive dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat bercampur dengan darah.

d. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi pendarahan kronis

e. Timbul nyeri panggul(pelvis) atau diperut bagian bawah bila ada radang panggul Bila sel-sel tidak normal ini berkembang menjadi kanker serviks, maka muncul gejala-gejala sebagai berikut :

a. Pendarahan pada vagina yang tidak normal.

Ditandai dengan pendarahan diantara periode menstruasi yang regular, periode menstruasi yang lebih lama dan lebih banyak dari biasanya, pendarahan setelah hubungan seksual.

b. Rasa sakit saat berhubungan seksual.

c. Bila kanker telah berkembang makin lanjut maka dapat timbul gejala-gejala seperti penurunan berat badan, nyeri panggul, kelelehan, berkurangnya nafsu makan, keluar tinja dari vagina, dll.

E. Klasifikasi.

menurut FIGO (Federation Internationale de Gynecologic et Obstetrigue), 1988 : a. Tingkat Kriteria

1. Karsinoma Pra invasive

(6)

2. Karsinoma Invasif

a. Stadium I : Proses terbatas pada serviks (perluasan ke korpus uteri tidak dinilai).

- Stadium I a : Karsinoma serviks preklinis hanya dapat didiagnostik secara mikroskopis, lesi tidak lebih dari 3 mm atau secara mikroskopik kedalamannya > 3-5 mm dari epitel basal dan memanjang tidak lebih dari 7 mm.

- Stadium I b : Lesi invasif > 5, dibagi atas lesi < 4 Cm dan > 4 Cm.

b. Stadium II : Proses keganasan telah keluar dari serviks dan menjalar ke 2/3 bagian atas vagina dan atau ke parametrium tetapi tidak sampai dinding panggul.

- Stadium II a : Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infiltrat tumor.

- Stadium II b : Penyebaran ke parametrium, uni atau bilateral tetapi belum sampai dinding panggul.

b. Stadium III : Penyebaran sampai 1/3 distal vagina atau ke parametrium sampai dinding panggul.

- Stadium III a : Penyebaran sampai 1/3 distal vagina namun tidak sampai ke dinding panggul.

- Stadium III b : Penyebaran sampai dinding panggul, tidak ditemukan daerah bebas infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul atau proses pada tingkat I atau II tetapi sudah ada gangguan faal ginjal/hidronefrosis. c. Stadium IV : Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan

mukosa rektum dan atau vesika urinaria (dibuktikan secara histologi) atau telah bermetastasis keluar panggul atau ketempat yang jauh.

- Stadium IV a : Telah bermetastasis ke organ sekitar. - Stadium IV b : Telah bermetastasis jauh.

F. Penatalaksanaan 1. Pembedahan

(7)

Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar), seluruh kanker sering kali dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah ataupun melalui LEEP (loop electrosurgical excision procedure) atau konisasi. Dengan pengobatan tersebut, penderita masih bisa memiliki anak. Histerektomi adalah suatu tindakan pembedahan yang bertujuan untuk mengangkat uterus dan serviks (total) ataupun salah satunya (subtotal). Biasanya dilakukan pada stadium klinik IA sampai IIA (klasifikasi FIGO).

2. Terapi penyinaran (radioterapi)

Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel tumor pada serviks serta mematikan parametrial dan nodus limpa pada pelvik. Kanker serviks stadium II B, III, IV sebaiknya diobati dengan radiasi.

3. Kemoterapi

Kemoterapi adalah penatalaksanaan kanker dengan pemberian obat melalui infus, tablet, atau intramuskuler. Obat kemoterapi digunakan utamanya untuk membunuh sel kanker dan menghambat perkembangannya. Tujuan pengobatan menggunakan kemoterapi tergantung jenis kanker dan fase saat diagnosis. Kemoterapi disebut sebagai pengobatan adjuvant ketika kemoterapi digunakan untuk mencegah kanker kambuh. Kemoterapi sebagai pengobatan paliatif ketika kanker sudah menyebar luas dan dalam fase akhir, sehingga dapat memberikan kualitas hidup yang baik. (Galle, 2000). Kemoterapi bekerja saat sel aktif membelah, namun kerugian dari kemoterapi adalah tidak dapat membedakan sel kanker dan sel sehat yang aktif membelah seperti folikel rambut, sel disaluran pencernaan dan sel batang sumsum tulang. Pengaruh yang terjadi dari kerja kemoterapi pada sel yang sehat dan aktif membelah menyebabkan efek samping yang umum terlihat adalah kerontokan rambut, kerusakan mukosa gastrointestinal dan mielosupresi. Sel normal dapat pulih kembali dari trauma yang disebabkan oleh kemoterapi, jadi efek samping ini biasanya terjadi dalam waktu singkat.

Macam-Macam kemoterapi

a. Obat golongan Alkylating agent, platinum Compouns, dan Antibiotik Anthrasiklin obat golongan ini bekerja dengan antara lain mengikat DNA di inti sel, sehingga sel-sel tersebut tidak bisa melakukan replikasi.

(8)

b. Obat golongan Antimetabolit, bekerja langsung pada molekul basa inti sel, yang berakibat menghambat sintesis DNA.

c. Obat golongan Topoisomerase-inhibitor, Vinca Alkaloid, dan Taxanes bekerja pada gangguan pembentukan tubulin, sehingga terjadi hambatan mitosis sel.

d. Obat golongan Enzim seperti, L-Asparaginase bekerja dengan menghambat sintesis protein, sehingga timbul hambatan dalam sintesis DNA dan RNA dari sel-sel kanker tersebut.

G. Komplikasi

1. Komplikasi yang terjadi karena radiasi

Waktu fase akut terapi radiasi pelvik, jaringan-jaringan sekitarnya juga terlibat seperti intestines, kandung kemih, perineum dan kulit. Efek samping gastrointestinal secara akut termasuk diare, kejang abdominal, rasa tidak enak pada rektal dan perdarahan pada GI. Diare biasanya dikontrol oleh loperamide atau atropin sulfate. Sistouretritis bisa terjadi dan menyebabkan disuria, nokturia dan frekuensi. Antispasmodik bisa mengurangi gejala ini. Pemeriksaan urin harus dilakukan untuk mencegah infeksi saluran kemih. Bila infeksi saluran kemih didiagnosa, terapi harus dilakukan segera. Kebersihan kulit harus dijaga dan kulit harus diberi salep dengan pelembap bila terjadi eritema dan desquamasi. Squele jangka panjang (1 – 4 tahun setelah terapi) seperti : stenosis pada rektal dan vaginal, obstruksi usus kecil, malabsorpsi dan sistitis kronis.

2. Komplikasi akibat tindakan bedah

Komplikasi yang paling sering akibat bedah histerektomi secara radikal adalah disfungsi urin akibat denervasi partial otot detrusor. Komplikasi yang lain seperti vagina dipendekkan, fistula ureterovaginal, pendarahan, infeksi, obstruksi usus, striktur

(9)

dan fibrosis intestinal atau kolon rektosigmoid, serta fistula kandung kemih dan rektovaginal.

(10)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KANKER SERVIKS

A. Pengkajian

1. Data Subjektif

Pengumpulan data pada pasien dan keluarga dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik dan melalui pemeriksaan penunjang

a. Data pasien : Identitas pasien, usia, status perkawinan, pekerjaan jumlah anak, agama, alamat jenis kelamin dan pendidikan terakhir.

b. Keluhan utama : pasien biasanya datang dengan keluhan intra servikal dan disertai keputihan

c. Riwayat penyakit sekarang : Biasanya klien pada stadium awal tidak merasakan keluhan yang mengganggu, baru pada stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul keluhan seperti : perdarahan, keputihan dan rasa nyeri intra servikal.

d. Riwayat penyakit sebelumnya :

1) Data yang perlu dikaji adalah : Riwayat abortus, infeksi pasca abortus, infeksi masa nifas, riwayat operasi kandungan, serta adanya tumor. Riwayat keluarga yang menderita kanker.

2. Data Objektif

a. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya pembengkakan kelenjar limfe supraklavikuler dan pembesaran hepar.

Pada pemeriksaan spekulum didapatkan lapisan-lapisan besar selaput lendir mudah lepas dan mudah berdarah waktu disuap spatel

Adanya warna kemerahan di sekitar ostium eksternum servikalis uteri :

1) Inspeksi :

(11)

n, keputihan 2) Palpasi : nyeri abdomen, nyeri punggung bawah b. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan pap smear

Dilakukan untuk mendeteksi sel kanker lebih awal pada pasien yg tidak memberikan keluhan. Sel kanker dapat diketahui pada secret yg diambil dari posio serviks. Pemeriksaan ini harus mulai dilakukan pada wanita usia 18 tahun atau ketika telah melakukan aktivitas seksual sebelum itu. Setelah 3x hasil pemeriksaan pap smear setiap 3 tahun sekali sampai usia 65 tahun.

2. Pemeriksaan DNA HPV

Pemeriksaan ini dimasukkan pada skrining bersama-sama dengan pap’s smear untuk wanita diatas 30 tahun. Deteksi DNA HPV yang positif yang ditemukan kemudian dianggap sebagai HPV yg persisten. Apabila hal ini dialami pada wanita dengan usia yg lebih tua maka akan terjadi peningkatan resiko kanker serviks.

3. Biopsy

Biopsy dilakukan jika pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan atau luka pada serviks atau jika hasil pemeriksaan pap smear menunjukkan suatu abnormalitas atau kanker. Teknik yang biasa dilakukan adalah punch biopsy yang tidak memerlukan anastesi & teknik cone biopsy yang menggunakan anastesi. Biopsy dilakukan untuk mengetahui kelainan yang ada pada serviks. Jaringan yang diambil dari daerah bawah kanal servikal. Hasil biopsy akan

(12)

memperjelas apakah yang terjadi itu kanker invasive atau hanya tumor saja.

4. Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)

Kolposkopi dilakukan untuk melihat daerah yg terkena proses metaplasia. Pemeriksaan ini kurang efisien dibandingkan dengan pap smear karena kolposkopi memerlukan ketrampilan & kemampuan kolpokospi dalam mengetes darah yang abnormal.

5. Tes schiller

Pada pemeriksaan ini serviks diolesi dengan larutan iodium. Pada serviks yang normal akan membentuk bayangan yang terjadi pada sel epitel serviks karena adanya glikogen. Sedangkan pada sel epitel serviks yang mengandung kanker akan menunjukkan warna yang tidak berubah karena tidak ada glikogen.

6. Radiologi

Pemeriksaan radiologi direkomendasikan untuk mengevaluasi kandung kemih & rectum yg meliputi sitoskopi, pielogram intravena (IVP), enema barium, & sigmoidoskopi. Magnetic resonance imaging (MRI) atau CT scan abdomen/pelvis digunakan untuk menilai penyebaran local tumor &/atau terkenanya nodus limpa regional. 7. Pelvic limphangiografi  dapat menunjukkan adanya gangguan pada

saluran pelvic atau peroartik limfe

B. Diagnosa Keperawatan 1. Pre operasi :

a. Nyeri akut b/d agens cidera biologis b. Risiko kekurangan volume cairan

c. Defisiansi pengetahuan b/d kurang pajanan informasi 2. Post Operasi

a. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan mencerna makanan

(13)

c. Ansietas b.d perubahan status kesehatan

d. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum, tirah baring

e. Gangguan citra tubuh b.d tahapan perkembangan penyakit dan terapi penyakit (post kemoterapi)

C. Perencanaan Keperawatan No. Diagnosa

Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi 1 Nyeri akut b/d agens

cidera biologis NOC Pain control Kriteria Hasil: - Mampu mengontrol nyeri - Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan

manajemen nyeri - Mampu mengenali

nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)

- Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang NIC Pain management - Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi - Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan - Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien - Kontrol lingkungan yang

dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan

(14)

penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi, dan inter personal)

- Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi

- Ajarkan tentang teknik non farmakologi

- Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri

- Evaluasi keefektifan kontrol nyeri

- Tingkatkan istirahat - Kolaborasikan dengan

dokter jika ada keluhan dam tindakan nyeri tidak berhasil

Analgesic administration - Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan derajat nyeri sebelum pemberian obat - Cek instruksi dokter

tentang jenis obat, dosis dan frekuensi

- Cek riwayat alergi - Pilih analgesic yang

diperlukan atau kombinasi dari analgesic ketika pemberian lebih

(15)

dari satu

- Tentukan pilihan analgesic tergantung tipe dan beratnya nyeri - Tentukan analgesic

pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal

- Pilih rute pemberian secara IV, Im untuk pengobatan nyeri secara teratur

- Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic pertama kali

- Berikan analgesic tepat waktu terutama saat nyeri hebat

- Evaluasi efektivitas analgesic, tanda dan gejala 2 Resiko kekurangan volume cairan NOC - Fluid balance - Hydration

- Nutritional status: food and fluid intake

Kriteria Hasil:

- Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine

NIC Fluid management - Timbang popok/pembalut jika diperlukan - Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

(16)

normal, HT normal - Tekanan darah, nadi,

suhu tubuh dalam batas normal

- Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor baik, membrane mukosa lembab, tidak ada rasa haus yag berlebihan

(kelembaban membrane mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik) jika diperlukan

- Monitor vital sign

- Monitor masukan makanan/cairan dan hitung intake kalori harian

- Kolaborasikan pemberian cairan IV - Monitor status nutrisi - Berikan cairan IV - Dorong masukan oral - Berikan penggantian

nesogatrik sesuai output - Dorong keluarga untuk

membantu pasien makan - Tawarkan snack (jus

buah, buah segar)

- Kolaborasi dengan dokter

- Atur kemungkinan transfusi

- Persiapan untuk transfusi Hypovolemia

management

- Monitor status cairan termasuk intake dan

(17)

output cairan - Pelihara IV line

- Monitor tingkat Hb dan hematocrit

- Monitor tanda vital - Monitor respon pasien

terhadap penambahan cairan

- Monitor berat badan - Dorong pasien untuk

menambah intake oral - Pemberian cairan IV

monitor adanya tanda dan gejala kelebihan volume cairan

- Monitor adanya tanda gagal ginjal

3. Resiko infeksi NOC

- Imunne Status

- Knowledge: Infection control

- Risk control Kriteria Hasil:

- Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi - Mendeskripsikan

proses penularan penyakit, faktor yang mempengaruhi

NIC

Infection Control

- Bersihkan dlingkungan setelah dipakai pasien lain

- Pertahankan teknik isolasi

- Batasi pengunjung bila perlu

- Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah

(18)

penularan serta pelaksanaannya - Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi

- Jumlah leukosit dalam batas normal - Menunjukkan perilaku hidup sehat berkunjung meninggalkan pasien - Gunakan sabun

antimikroba untuk cuci tangan

- Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan - Gunakan baju, sarung

tangan sebagai alat pelindung

- Pertahankan lingkungan aseptic selama pemasangan alat

- Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai dengan petinjuk umum

- Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing

- Tingkatkan intake nutrisi - Berikan terapi antibiotic

bila perlu

- Monitor tanda dan gejala infeksi sitemik dan lokal - Monitor perhitungan

granulosit, WBC

- Monitor kerentanan terhadap infeksi

(19)

- Batasi pengunjung - Inspeksi kulit dan

membrane mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase

- Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi

- Laporkan kecurigaan infeksi

- Laporkan kultur positif 4 Ansietas b.d perubahan status kesehatan NOC - Anxiety self-control - Anxiety level - Coping Kriteria Hasil: - Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas - Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menujukkan teknik untuk mengontrol cemas

- Vital sign dalam batas normal

- Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan tingkat aktivitas menunjukkan

NIC

Anxiety Reduction

- Lakukan pendekatan yang menenangkan - Nyatakan dengan jelas

harapan terhadap perilaku pasien

- Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur

- Pahami perspektif pasien terhadap situasi stres - Temani pasien untuk

memberikan keamanan dan mengurangi takut - Dorong keluarga untuk

menemani pasien - Lakukan back/neck rub - Dengarkan dengan

(20)

berkurangnya kecemasan

penuh perhatian

- Identifikasi tingkat kecemasan

- Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan

kecemasan

- Dorong pasien untuk mengungkapkan

perasaan, ketakutan, dan persepsi

- Instruksikan pasien melakukan teknik relaksasi

- Berikan obat untuk mengurangi kecemasan 5. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum, tirah baring NOC - Energy conservation - Activity tolerance - Self Care : ADLs

Kriteria Hasil

- Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR - Mampu melakukan aktivitas aktivitas sehari-hari secara mandiri NIC Activity Therapy - Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalam merencanakan program terapi yang tepat

- Bantu klien untk mengidentifikasi

aktivitas yang mampu dilakukan

- Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi, dan sosial

(21)

- TTV normal - Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan - Bantu untuk mendapatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda

- Bantu klien utnuk membuat jadwal latihan di waktu luang

- Bantu pasien untuk mengembangkan

motivasi diri dan penguatan

- Monitor respon fisik, emosi, sosial dan spiritual

6. Gangguan citra tubuh b.d tahapan perkembangan

penyakit dan terapi penyakit (post kemoterapi) NOC - Body Image - Self esteem Kriteria Hasil: - Body image positif - Mampu mengidentifikasi kekuatan personal - Mendiskripsikan secara factual perubahan fungsi tubuh - Mempertahankan NIC Body image enhancement

- Kaji secara verbal dan non verbal

- Monitor frekuensi mengkritik klien

- Jelaskan tentang pengobatan, perawatan, kemajuan dan prognosis penyakit

- Dorong klien mengungkapkan

(22)

interaksi sosial perasaannya

- Fasilitasi kontak dengan individu lain dalam kelompok kecil

7. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah sekunder terhadap penyakit dan pengobatan (kemo) NOC

- Nutritional status: food and fluid intake

- Nutritional status: nutrient intake

- Weight control Kriteria Hasil:

- Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan

- Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan

- Mampu

mengidentifikasi kebutuhan nutrisi - Tidak ada tanda-tanda

malnutrisi - Menunjukkan

peningkatan fungsi pengecapan dari menelan

- Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

NIC

Nutrition management - Kaji adanya alergi

makanan

- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien - Anjurkan pasien untuk

meningkatkan intake Fe, ptotein, dan vitamin C - Berikan substansi gula - Yakinkan diet yang

dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi - Monitor jumlah nutrisi

dan kandungan kalori - Berikan informasi

tentang kebutuhan nutrisi

- Beri makanan yang terpilih (sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)

- Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan

(23)

nutrisi yang dibutuhkan Nutrition monitoring - BB pasien dalam batas

normal

- Monitor adanya penurunan berat badan - Monitor tipe dan jumlah

aktivitas yang biasa dilakukan

- Monitor lingkungan selama makan

- Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan - Monitor kulit kering dan

perubahan pigmentasi - Monitor mual dan

muntah

- Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht

- Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva

- Monitor kalori dan intake nutrisi

- Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papilla lidah dan cavitas oral

(24)

8. Defisiansi pengetahuan NOC - Knowledge: disease process - Knowledge: health behavior Kriteria Hasil:

- Pasien dan keluarga menyatakan

pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis, dan program pengobatan

- Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar - Pasien dan keluarga

mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya NIC Teaching: disease process - Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik

- Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi dengan cara yang tepat - Gambarkan proses

penyakit dengan cara yang tepat

- Gambarakan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit dengan cara yang tepat - Sediakan informasi pada

pasien tentang kondisi dengan cara yang tepat - Diskusikan pilihan terapi

atau penanganan

- Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan dengan cara yang tepat

(25)

D. Pelaksanaan Keperawatan

Melaksanakan intervensi yang telah ditetapkan berdasarkan diagnose yang ditemukan pada klien.

E. Evaluasi

Hasil yang diharapkan dari tindakan keperawatan adalah : 1. Mampu mengontrol nyeri

2. Kebutuhan Nutrisi dan Kalori pasein tercukupi kebutuhan tubuh 3. Tidak ada tanda-tanda infeksi

4. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal

5. Pasien mampu mempertahankan tingkat aktifitas yang optimal.

6. Ansietas, kekuatiran dan kelemahan menurun sampai dengan pada tingkat dapat diatasi.

7. Pasien dapat mengungkapkan dampak dari diagnosa kanker terhadap perannya dan mendemontrasikan kemampuan untuk menghadapi perubahan peran.

8. Pasien dapat mengungkapkan perencanaan pengobatan tujuan dari pemberian terapi

(26)

Daftar Pustaka

Arif Mansjoer dkk (2000), Kapita Selekta Kedokteran , Edisi 3 , Jilid 1. EGC : Jakarta

Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad Bandung. (2000). Obstetri Fisiology. Bandung : Elemen.

Carpenitto, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Alih bahasa : Monica Ester, Edisi 8. EGC : Jakarta.

Doengoes, Marilynn E. (2001). Rencana Perawatan Maternal / Bayi Edisi 2. Jakarta : EGC.

G.W Garland and Joan M.E, 1999, Quickly Obstetric and ginekology of Nurses, English University Press, London

Haen Forer. (1999). Perawatan Maternitas Edisi 2. Jakarta : EGC. Hinchliff, Sue. (1996). Kamus Keperawatan. Edisi; 17. EGC : Jakarta

Lynda Jual Carpenito, 2001, Buku Saku Diagnosa keperawatan edisi 8,EGC,Jakarta

Manuaba. (2001). Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta : EGC.

Muchtar Rustam. (1998). Sinopsis Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi Edisi: 2. Jakarta : EGC.

Figur

Memperbarui...

Referensi

  1. Diare
Related subjects :