• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Statistik Kriminal Papua Barat Tahun 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KATA PENGANTAR. Statistik Kriminal Papua Barat Tahun 2016"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

Publikasi Statistik Kriminal Provinsi Papua Barat 2016 ini merupakan edisi keempat yang menyajikan data dan informasi terkait keamanan dan kriminalitas yang terjadi di Papua Barat.

Data dari publikasi ini bersumber dari Polda Papua Barat, Polres/ Polresta se-Papua Barat, dan data Statistik Potensi Desa (Podes) 2014 yang diselenggarakan oleh BPS. Data dari Kepolisian menggambarkan situasi keamanan berdasarkan pencatatan kejadian kejahatan yang dilaporkan masyarakat, atau kejadian yang pelakunya ketangkap tangan. Data Podes menggambarkan situasi keamanan di wilayah desa/ kelurahan yang bersumber dari aparat desa setempat. Untuk data dan informasi dari rumah tangga terkait korban kejahatan tidak ditampilkan karena terbatasnya ketersediaan data dari Kabupaten/Kota.

Akhir kata, semoga publikasi ini dapat bermanfaat bagi semua

stakeholders dan para perencana dan pengambil keputusan pembangunan di Papua Barat. Pembuatan publikasi ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu saran dan kritik membangun dari pembaca sangat kami harapkan dalam perbaikan publikasi di masa mendatang.

Manokwari, 05 September 2017 Kepala Badan Pusat Statistik

Provinsi Papua Barat Endang Retno Sri Subiyandani

(5)

KATA PENGANTAR ... DAFTAR ISI ... DAFTAR GAMBAR ... PENDAHULUAN ... 1.1 Latar Belakang ... 1.2 Maksud dan Tujuan ... 1.3 Ruang Lingkup ... 1.4 Sistematika Penulisan ... METODOLOGI ... 2.1 Sumber Data ... 2.2 Konsep dan Definisi ... GAMBARAN UMUM KRIMINALITAS DI PAPUA BARAT ... 3.1 Tingkat Perkembangan Kriminalitas ... 3.2 Jenis Tindak Kejahatan ... 3.3 Fenomena Konflik Massal ... LAMPIRAN ... iii iv v 2 2 4 4 5 7 7 10 17 15 19 23 26

http://papuabarat.bps.go.id

5 / 62

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Jumlah Tindak Pidana di Papua Barat, 2012-2016 ……….. Gambar 3.2 Jumlah Tindak Pidana Menurut Kabupaten/Kota 2015-2016 ... Gambar 3.3 Persentase Jumlah Tindak Kejahatan Konvesional terhadap

barang menurut klasifikasi/Jenisnya di Papua Barat, 2016 ……….. Gambar 3.4 Persentase Jumlah Tindak Kejahatan Konvensional Pencurian menurut Klasifikasi/Jenisnya di Papua Barat, 2016 .………

Gambar 3.5 Jumlah Tindak Kejahatan Pencurian dan jenisnya menurut Kabupaten/Kota di Papua Barat, 2016 ………....

Gambar 3.6 Persentase Jumlah Tindak Kejahatan Narkotika dan Psikotropika menurut Kabupaten/kota di Papua Barat, 2016 ... Gambar 3.7 Jumlah Desa dengan Kejadian Konflik Masal yang terjadi

sepan-jang tahun 2014 di Papua Barat ……… Gambar 3.8 Kejadian Konflik Masal menurut inisiator penyelesaian

kon-flik tahun 2014 di Papua Barat ……… 17 18 20 20 21 22 24 25

http://papuabarat.bps.go.id

6 / 62

(7)

INFOGRAFIS

(8)

1.1

Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Manusia sebagai bagian integral yang berintegrasi satu sama lainnya dalam motivasinya memenuhi kebutuhan dasar (fisiologis,keamanan,kasih sayang,harga diri dan aktualisasi diri). Setiap kebutuhan manusia merupakan suatu tegangan integral sebagai akibat dari perubahan dari setiap komponen sistem. Tekanan tersebut dimanifestasikan dalam perilakunya untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan sampai terpenuhinya tingkat kepuasan klien.

Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow dalam teori Hirarki, kebutuhan menyatakan bahwa setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta, harga diri, dan aktualisasi diri (Potter dan Patricia, 1997). Kebutuhan rasa aman menurut Maslow adalah suatu kebutuhan yang meliputi memberi dan menerima kasih sayang, perasaan dimiliki dan hubungan yang berarti dengan orang lain, kehangatan, persahabatan, serta mendapat tempat atau diakui dalam keluarga, kelompok dan lingkungan sosialnya.

Negara secara jelas menjamin hak masyarakat untuk mendapatkan rasa aman, yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yang berbunyi..”Pemerintah dan Negara Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia...”. Peryataan tersebut telah dijalaskan secara gamblang bahwa rasa aman semua warga negara telah dijamin oleh UUD 1945.

(9)

Rasa aman juga secara eksplisit tersirat dalam UU No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusi (HAM) pada pasal 30 yang berbunyi “...Setiap orang berhak atas rasa aman dan tentram serta perlindungan terhadap ancaman....”. Walaupun negara dan pemerintah sudah melindungi dan menjamin kemanan setiap warga negara, tetapi hal tersebut tidak serta merta dapat berdampak langsung dalam memberikan rasa aman bagi warga dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini tercermin dengan kejadian kriminal yang sekarang marak menjadi pembicaraan di media. Perkembangan tingkat kriminal itu sendiri sangatlah sulit untuk diukur. Kecenderungan penilaian tentang rasa aman itu sendiri lebih mengarah kepada hal-hal negatif, seperti jumlah kejadian kejahatan di suatu daerah dengan indikasi apabila angka jumlah kejahatan meningkat, artinya tingkat keamanan di daerah tersebut menjadi buruk atau masyarakat daerah tersebut merasa semakin tidak aman.

Keamanan merupakan salah satu faktor yang tak terpisahkan dari proses pembangunan di Papua Barat yang sedang berlangsung saat ini. Pemerintah Daerah hendaknya dapat lebih apresiatif dalam melihat tingkat keamanan yang secara langsung mempengaruhi pembangunan di Papua Barat. Apabila tercipata kondisi yang aman dan kondusif, maka secara langsung akan mempengaruhi keberhasilan pembangunan yang ditargetkan, serta warga akan melaksanakan aktifitas ekonomi dengan baik dan terbebas dari rasa takut.

(10)

Pengukuran tingkat keamanan sebagimana telah disebutkan sebelumnya bahwa sangat luas dan dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial ekonomi dan faktor lainnya. Penulisan Publikasi Statistik Kriminal Papua Barat 2016 ini untuk memperoleh suatu gambaran tingkat keamanan yang berkesinambungan. Dengan adanya publikasi ini ketersediaan data kemanan yang berkesinambungan tersebut dapat dipakai sebagai alat ukur pembangunan serta analisis sektoral bidang keamanan di Papua Barat dalam kurun waktu yang dimaksud.

Secara garis besar tujuan pembuatan publikasi ini adalah untuk mendapatkan gambaran secara makro tentang situasi keamanan di Papua Barat dalam kurun tiga tahun terakhir , dan secara eksplisit menjelaskan tentang jenis kejahatan serta kejadian perkelahian massal yang terjadi di Papua Barat selama kurun waktu dimaksud.

1.2

Maksud dan Tujuan

1.3

Ruang Lingkup

Publikasi Statistik Kriminal Papua Barat ini menyajikan data dan informasi tentang kejadian kejahatan, korban kejahatan yang terjadi di Papua Barat untuk tingkat kabupaten/kota selama tiga tahun terakhir. Ketersediaan data dan indikator kejadian kejahatan, jenis kejahatan dan korban kejahatan disajikan tahun 2014-2016. Data tahun 2015 berbeda dengan tahun sebelumnya karena sumber data yang dipakai dari Polda Papua Barat, sedangakan data tahun 2014 dan 2016 merupakan data yang bersumber dari setiap Kepolisian resort (Polres) kabupaten/kota . Untuk data kejadian perkelahian masal dan upaya warga menjaga keamanan disajikan tahun 2014 yang bersumber dari PODES 2014.

(11)

Sistematika penulisan publikasi ini terdiri dari empat bagian yang terdiri dari Bab 1 yang menjelaskan tentang latar belakang, maksud dan tujuan penyusunan publikasi, ruang lingkup serta sistematika penulisan publikasi. Bab 2 metodologi yang menyajikan tentang sumber data dan konsep dan definisi yang dipakai dalam publikasi ini. Bab 3 menyajikan tentang perkembangan kriminal di Papua Barat yang meliputi banyaknya kejadian kejahatan, jenis-jenis tindak kejahatan serta korban kejahatan yang terjadi selam tiga tahun terakhir, serta informasi tentang perkelahian masal yang terjadi tahun 2014, dan pada bagian keempat menyajikan tentang upaya yang dilakukan warga untuk menjaga keamanan.

1.4

Sistematika

Penulisan

(12)

INFOGRAFIS

(13)

BAB II

M E T O D O L O G I

Data yang disajikan dalam publikasi ini diperoleh dari beberapa sumber diantaranya :

1. Polda Papua Barat, Polres/Polresta di Papua Barat yang mencakup data jumlah kejadian kejahatan, jenis kejahatan, serta pelaku kejahatan yang bersumber dari data Survei Statistik POLKAM tahun 2014-2016

2. Data jenis dan jumlah kejadian konflik massal yang diolah dari raw data Podes 2014

2.1

Sumber

Data

Survei Statistik Politik dan Kemanan (POLKAM) merupakan survei rutin yang diselenggarakan oleh BPS setiap tahun, dengan mengumpulkan data-data terkait politik dan keamanan. Responden/ sumber data dari survei POLKAM ini adalah instansi terkait yang antara lain mencakup Pemerintah Daerah (Pemda), Sekertaris Dewan (Setwan), Kepolisian, KPU, Kejaksaan dan Pengadilan Negeri (PN). Untuk penyusunan Publikasi Statistik Kriminal Papua Barat 2011 hanya diambil data yang bersumber dari Kepolisian level kabupaten/kota yang mencakup karakteristik kejadian tindak kejahatan, pelaku kejahatan dan jumlah kerugian akibat tindak kejahatan.

Survei Statistik Politik dan Keamanan (Polkam)

(14)

Statistik Potensi Desa (Podes) 2014

Data Statistik Potensi Desa (Podes) merupakan satu-satunya data kewilayahan yang dikumpulkan BPS. Pendataan Podes dilakukan di seluruh desa/kelurahan di wilayah negara kesatuan Republik Indonesia, termasuk desa persiapan, desa definitif, Satuan Pemukiman Transmigrasi (SPT), Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) dan Satuan Pemukiman Masyarakat Terasing (SPMT).

Respoden untuk pendataan Podes adalah Kepala Desa/Lurah atau aparat desa/kelurahan lainnya dan nara sumber lainnya, seperti petugas kesehatan yang bertugas di desa/kelurahan (dokter puskesmas/bidan desa), guru/kepala sekolah, petugas penyuluh pertanian (PPL) dan petugas lapangan Keluarga Berencana (PLKB).

Salah satu fungsi pendataan Podes adalah menyajikan data atau informasi tentang desa/kelurahan untuk memenuhi keperluan perencanaan kegiatan sensus. Data atau informasi tersebut antara lain adalah tentang luas wilayah, jumlah RW, jumlah RT dan satuan lingkungan setempat (SLS) yang merupakan bagian wilayah desa/ kelurahan beserta batas-batas wilayahnya, keadaan geografis, keadaan topografis, jumlah dan struktur penduduk, dan struktur perekonomian. Sejalan dengan fungsinya tersebut, pelaksanaan pendataan Podes biasanya dilakukan menjelang penyelenggaraan suatu sensus.

Data yang dikumpulkan dalam Podes juga mencakup data tentang jenis dan jumlah fasilitas umum yang ada desa/kelurahan, baik fasilitas sosial seperti posyandu, puskesmas, sekolah, mesjid, gereja

(15)

dan tempat ibadah lainnya, maupun fasilitas ekonomi seperti pasar, pertokoan, super market, KUD, sarana transportasi, Bank dan lembaga keuangan/perkreditan lainnya. Pendataan Podes juga mencakup pengumpulan data tentang jenis dan jumlah kejadian-kejadian penting yang sedang atau pernah terjadi di desa, seperti jenis dan jumlah bencana alam, wabah penyakit, kejadian kejahatan dan konflik massal, baik antar warga desa maupun antar desa.

(16)

2.2

Konsep dan

Definisi

Sesuai dengan jenis data yang digunakan dalam penyusunan publikasi ini serta jenis sumber data yang menghasilkan data tersebut, konsep dan definisi serta terminologi dari berbagai variabel atau karakteristik yang digunakan dalam publikasi ini juga merujuk pada konsep dan definisi serta terminologi yang digunakan oleh sumber data yang bersangkutan. Sejalan dengan itu, penjelasan mengenai konsep dan definisi pada bagian ini akan diuraikan sesuai dengan urutan sumber data.

2.2.1. Konsep-Konsep Kriminalitas Dalam Laporan Data Kriminalitas

a. Tindak kejahatan/kriminalitas atau pelanggaran merupakan perbuatan seseorang yang dapat diancam hukuman berdasarkan KUHP atau Undang-Undang serta peraturan lainnya yang berlaku di Indonesia.

b. Peristiwa yang dilaporkan ialah setiap peristiwa yang dilaporkan masyarakat pada Polri, atau peristiwa dimana pelakunya tertangkap tangan oleh kepolisian. Laporan masyarakat ini akan dicatat dan ditindak-lanjuti oleh Polri jika dikategorikan memiliki cukup bukti. c. Peristiwa yang diselesaikan oleh kepolisian, adalah :

 Peristiwa yang berkas perkaranya sudah siap atau telah diserahkan kepada jaksa.

 Dalam hal delik aduan, pengaduannya dicabut dalam tenggang waktu yang telah ditentukan menurut undang-undang

A. Peristiwa Kejahatan (Kriminalitas)/Pelanggaran

(17)

 Peristiwa yang telah diselesaikan oleh kepolisian berdasarkan azaz Plichmatigheid.

 Peristiwa yang tidak termasuk kompetensi Kepolisian.

 Peristiwa yang tersangkanya meninggal dunia.

 Peristiwa yang telah kadaluwarsa.

B. Pelaku Kejahatan

a. Pelaku Kejahatan adalah :

 Orang yang melakukan kejahatan.

 Orang yang turut melakukan kejahatan.

 Orang yang menyuruh melakukan kejahatan.

 Orang yang membujuk orang lain untuk melakukan kejahatan.

 Orang yang membantu untuk melakukan kejahatan.

b. Klasifikasi pelaku kejahatan menurut umur :

 Anak-anak adalah orang yang berumur kurang dari 16 tahun.

 Dewasa adalah orang yang berumur 16 tahun dan lebih.

 Umum adalah anak-anak dan dewasa.

C. Tahanan

Tahanan adalah tersangka pelaku tindak kejahatan/pelanggaran yang ditahan oleh pihak kepolisian sebelum diteruskan kepada Kejaksaan atau masih dalam proses pengusutan lebih lanjut. Lamanya ditahan kurang dari 20 hari.

(18)

D. Kerugian

Kerugian adalah hilang, rusak atau musnahnya harta benda yang ditimbulkan akibat dari suatu peristiwa kejahatan/pelanggaran dan tidak termasuk korban jiwa atau badan.

E. Korban

Korban kejahatan adalah seseorang atau harta bendanya yang selama setahun terakhir mengalami atau terkena tindak kejahatan atau usaha /percobaan tindak kejahatan.

2.2.2. Konsep-Konsep Kriminalitas Dalam Podes A. Kejahatan/ Kriminalitas

Konsep dan definisi kejahatan yang digunakan dalam Susenas dan Podes pada dasarnya merujuk pada konsep kejahatan yang digunakan oleh Polri maupun KUHP. Namun, karena konsep ini ditanyakan pada responden yang umumnya awam tentang hukum, pengertian tentang konsep kejahatan ini lebih didasarkan pada pengakuan, pemahaman dan persepsi responden tanpa melihat lagi aspek hukumnya. Sejalan dengan itu, jenis-jenis tindak kejahatan yang dicakup Susenas atau Podes lebih terfokus pada jenis kejahatan yang dikenal masyarakat, misalnya perampokan untuk menggantikan konsep pencurian dengan kekerasan yang biasa digunakan Polri.

(19)

B. Korban Kejahatan

Konsep korban kejahatan dalam Susenas adalah korban/ sasaran dari tindak kejahatan yang terjadi dalam rentang waktu selama setahun yang lalu. Korban kejahatan dalam Susenas dikelompokkan menjadi dua klasifikasi, yaitu rumah tangga dan individu. Penentuan kriteria korban kejahatan ini hanya berdasarkan pada pengakuan responden tanpa melihat lagi aspek hukumnya.

Rumah tangga korban kejahatan adalah rumah tangga yang selama setahun lalu pernah mengalami kejadian atau usaha/percobaan tindak kejahatan yang sasarannya adalah harta atau kekayaan milik rumah tangga, misalnya pencurian televisi milik rumah tangga, pencuri-an ternak, termasuk pembunuhpencuri-an terhadap salah satu pencuri-anggota rumah tangga.

Individu dikatakan sebagai korban kejahatan jika individu yang bersangkutan selama setahun yang lalu pernah mengalami kejadian atau usaha/percobaan tindak kejahatan.

C. Konflik Massal

Konsep konflik massal yang digunakan dalam Podes merujuk pada konflik fisik berupa perkelahian massal yang terjadi dalam satu wilayah desa/kelurahan yang meliputi:

Perkelahian antar kelompok warga adalah perkelahian antara kelompok warga dengan kelompok warga yang lain dalam satu

(20)

Perkelahian warga antar desa/kelurahan adalah perkelahian antara warga desa/kelurahan/nagari dengan warga desa/ kelurahan/ nagari lainnya.

Perkelahian warga dengan aparat keamanan adalah perke-lahian antara warga desa/kelurahan/nagari dengan aparat keamanan.

Perkelahian warga dengan aparat pemerintah adalah perke-lahian antara warga desa/kelurahan/nagari dengan aparat pemerintah.

Perkelahian antar pelajar/mahasiswa adalah perkelahian antar pelajar suatu sekolah dengan pelajar sekolah lain.

Perkelahian antar suku/etnis adalah perkelahian antar suku/ etnis yang terjadi di desa/kelurahan/nagari.

Perkelahian Lainnya adalah perkelahian antar warga dengan pelajar/mahasiswa, perkelahian antar agama, perkelahian antar aparat keamanan dan sebagainya.

2.3

Penjelasan

Teknis

 Angka Indeks Kejahatan ( It )

It = Jumlah peristiwa kejahatan pada tahun t

Jumlah peristiwa kejahatan pada tahun t0 X 100

2. Angka kejahatan per 10.000 Penduduk (Crime Rate)

Jumlah peristiwa kejahatan pada tahun t

Jumlah penduduk X 10.000 =

(21)

3. Skala waktu kejahatan tahun t (Crime clock)

365 x 24 x 60 x 60

Jumlah peristiwa kejahatan tahun t X (Detik) =

4. Persentase penyelesaian Peristiwa Kejahatan (Crime clearence)

Jumlah peristiwa kejahatan yang diselesaikan

Jumlah peristiwa kejahatan yang dilaporkan X 100 (%) =

(22)

INFOGRAFIS

(23)

BAB III

GAMBARAN UMUM KRIMINALITAS

DI PAPUA BARAT TAHUN 2016

3.1

Perkembangan Tingkat Kriminaliitas

Gambar 3.1

Jumlah Tindak Pidana di Papua Barat, 2012-2016

Perkembangan kriminalitas di Papua Barat tahun 2012-2016 cukup memprihatinkan. Hal ini ditunjukan dengan jumlah tindak pidana yang meningkat tiap tahunnya. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir (tahun 2012-2016), laju perubahan jumlah kejadian tindak pidana di Papua Barat meningkat hampir 100 persen. Jumlah tindak kejahatan tahun 2012 sebanyak 1.825 kasus meningkat menjadi 3.621 kasus di tahun 2016. Dari jumlah tindak kejahatan dari 2012 ditarik garis linier, didapatkan suatu persamaan Y=35,92x+132,42. Dari persamaan ini diperkirakan jumlah tindak kejahatan di Papua Barat akan meningkat menjadi 4.557 kasus di tahun 2020.

(24)

Gambar 3.2

Jumlah Tindak Pidana Menurut Kabupaten/Kota 2015-2016

Perkembangan jumlah tindak kejahtan menurut Kabupaten/Kota seperti yang diperlihatkan pada Gambar 3.2 berikut ini menunjukan suatu keprihatinan.

Kabupaten Manokwari dan Kota Sorong memiliki tingkat kejahatan tertinggi di Papua Barat dengan total kasus kejahatan sebanyak 1023 kasus dan 1411 kasus. Peningkatan tingkat kejahatan di kedua daerah ini mencapai 100 persen. Tahun 2015 tingkat kejahatan di Manokwari sebanyak 556 kasus meningkat menjadi 1.023 kasus di tahun 2016. Hal yang sama juga terjadi di Kota Sorong dengan jumlah kasus sebanyak 555 kasus naik menjadi 1.411 kasus di tahun 2016. Kabupaten/kota yang berhasil menekan tingkat kejahatan di tahun 2016 adalah Kabupaten Teluk Wondama, Kab.Teluk Bintuni, dan Kab. Fak-Fak. Kabupaten terkondusif adalah Kab.Teluk Wondama dengan total jumlah

Sumber : Polres/Polresta Se-Papua Barat

(25)

Bentuk/jenis tindak kejahatan diklasifikasi menjadi 6 yakni kejahatan konvensional, kejahatan transnasional, kejahatan kekayaan negara, kejahatan kontijensi, gangguan dan bencana alam/non alam.

Data Polda Papua Barat tahun 2015 menyebutkan tingkat kejahatan tertinggi yaitu kejahatan konvensional dengan jumlah kasus mencapai 2.257 kasus atau 98,95 persen total kasus kejahatan selama tahun 2015. Jumlah kasus transnasional sebanyak 7 kasus, 16 kasus kekayaan Negara dan 1 kasus kejahatan kontijensi.

 Kejahatan Konvensional

Kejahatan konvensional memiliki ciri-ciri seperti tidak ada penggunaan Teknologi Informasi secara langsung, alat bukti berupa bukti fisik (terbatas menurut pasal 184 KUHAP), pelaku dan korban biasanya berada dalam satu tempat, pelaksanaan penyidikan melibatkan laboratorium komputer, proses penyidikan dilakukan di dunia nyata, tidak ada penanganan komputer sebagai TKP dan dalam proses persidangan, keterangan ahli tidak menggunakan ahli TI.

Jenis-jenis kejahatan konvensional berupa penganiayaan, pencurian, penipuan, penggelapan, KDRT, pembunuhan dll.

Jenis kejahatan konvensional di Papua Barat tahun 2015 tercatat sebanyak 2.819 kasus. Jika dirinci menurut jenisnya, terdapat kasus tindakan fisik terhadap manusia (pembunuhan, perkosaan dll) sebanyak 538 kasus, kejahatan terhadap barang (pembakaran, pencurian dengan pemberatan, pencurian ringan, penggelapan dll)

3.2

Jenis Tindak

Kejahatan

(26)

Jika dikelompokan menurut jenisnya, kejahatan konvensional tertinngi adalah jenis kejahatan pencurian (71,76%), selanjutnya kasus pembakaran 15,09 persen, penghancuran barang 6,85 persen dan penggelapan 5,94 persen.

Gambar 3.3

Persentase Jumlah Tindak Kejahatan Konvesional terhadap barang menurut klasifikasi/Jenisnya di Papua Barat, 2016

Gambar 3.4

Persentase Jumlah Tindak Kejahatan Konvensional Pencurian menurut Klasifikasi/Jenisnya di Papua Barat, 2016

Sumber : Polres/Polresta Se-Papua Barat

(27)

Tindak kejahatan pencurian tertinggi di Kota Sorong dengan jumlah kasus sebanyak 474 kasus, dan 165 kasus diantaranya adalah kasus pencurian dengan pemberatan. Kabupaten Manowkari memiliki jumlah kasus pencurian sebanyak 389 kasus dengan 134 kasus dengan kasus pencurian dengan pemberatan sebanyak 134 kasus.

Kasus pencurian kendaraan bermotor di Papua Barat sepanjang tahun 2016 hanya terjadi di tiga kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Sorong (8 kasus), Kota Sorong (82 kasus), dan Kabupaten Manokwari dengan jumlah kasus curanmor tertinggi dengan 115 kasus.

Setengah dari total kasus pencurian di Papua Barat terjadi di Kota

Gambar 3.5

Jumlah Tindak Kejahatan Pencurian dan Jenisnya menurut Kabupaten/Kota di Papua Barat, 2016

Sumber : Polres/Polresta Se-Papua Barat

(28)

2. Kejahatan Transnasional

Tindak kejahatan transnasional yang terjadi di Papua Barat selama tahun 2016 sebanyak 35 kasus yang semuanya adalah kasus kejahatan Narkotika dan Psikotropika.

Kabupaten Sorong dan Kota sorong memiliki jumlah kasus kejahatan Narkotika dan Psikotropika terbanyak di Papua Barat terbanyak dengan persentase 34,29 persen dan 40,00 persen.

3. Kejahatan terhadap harta kekayaan negara

Jumlah kasus kejahatan terhadap kekayaan negara selama tahun 2016

Gambar 3.6

Persentase Jumlah Tindak Kejahatan Narkotika dan Psikotropika menurut Kabupaten/kota di Papua Barat, 2016

Sumber : Polres/Polresta Se-Papua Barat

(29)

di Papua Barat sebanyak 3 kasus kejahatan. Adapun keseluruhan kasus tersebut adalah kasus korupsi. Kejahatan terhadap kekayaan Negara (korupsi) terjadi di Kab.Teluk Wondama (1 kasus), Kab. Teluk Bintuni (1 kasus) dan Kota Sorong (1 kasus).

4. Kejahatan Kontinjensi

Kejahatan Kontinjensi selama tahun 2016 di Papua Barat jarang terjadi. Kejahatan yang termasuk dalam kategori ini seperti kasus perkelahian antar pelajar/mahasiswa dll. Pada tahun 2015 tercatat hanya 1 kasus kejahatan yang terjadi di Papua Barat, dan sepanjang tahun 2016 tidak ada kasus kejahatan kontinjensi yang terjadi di Papua Barat.

Lingkungan aman adalah dambaan semua masyarakat Indonesia. Tetapi ternyata keadaan aman yang diidamkan belum terpenuhi sepenuhnya. Salah satu ancaman yang sering terjadi adalah konflik yang muncul di lingkungan rumah tangga. Perkelahian antar warga masih terjadi, perkelahian pelajar sering kita lihat, pertentangan antar suku masih terjadi dan yang paling sering dilihat adalah bentrok warga dengan aparat penegak hukum.

Konflik yang muncul di masayarakat bisa diukur dari statistik konflik yang bisa dikeluarkan dari sensus desa POTENSI DESA (Podes) yang dilakukan BPS. Data terakhir diukur pada tahun 2014.

3.3

Fenomena Konflik Massal Tahun 2014

http://papuabarat.bps.go.id

29 / 62

(30)

Secara keseluruhan, terdapat 59 desa/kelurahan (3,37%) total desa/ kelurahan di Papua Barat yang pernah terjadi konflik di masyarakatnya. yang terjadi sepanjang tahun 2014. Kabupaten teluk Wondama dan Kabupaten Sorong Selatan adalah wilayah dengan jumlah desa dengan kejadian konflik masal terbanyak se-Papua Barat.

Dari 75 desa yang mengalami konflik masal, persentase penyelesaian konflik sebesar 97,96 persen terselesaikan dan 2,04 persen tidak dapat terselesaikan. Hal ini mengindikasikan bahwa modal sosial dalam masyarakat perlu ditanamkan lebih baik lagi, sehingga penyelesaian masalah atau konflik dalam masyarakat dapat terselesaikan dan tidak berbuntut panjang.

Gambar 3.7

Jumlah Desa dengan Kejadian Konflik Masal yang Terjadi Sepanjang Tahun 2014 di Papua Barat

Sumber : Podes 2014

(31)

Untuk inisiator yang aktif dalam menyelesaikan masalah, persentase terbanyak adalah tokoh masyarakat (38,54 persen) dan aparat keamanan (27,08 persen). Hal ini mengindikasikan bahwa konflik masal yang terjadi dapat terselesaikan dengan cepat apabila tokoh masyarakat atau tokoh agama yang menyelesaikan konflik.

Gambar 3.8 Jumlah Desa dengan Kejadian Konflik Masal menurut inisiator penyelesaian konflik tahun 2014 di Papua Barat Sumber : Podes 2014

http://papuabarat.bps.go.id

31 / 62

(32)
(33)

Tabel 1.

Jumlah Tindak Pidana (Crime Total) di Papua Barat Tahun 2014-2016 Kabupaten/Kota 2014 2015 2016 (1) (2) (3) (4) Fakfak 229 270 244 Kaimana 204 163 198 Teluk Wondama 99 106 68 Teluk Bintuni 114 89 78 Manokwari - 575 1023 Sorong Selatan 170 121 166 Sorong 222 297 297 Raja Ampat 82 105 136 Kota Sorong 919 555 1411 Papua Barat 2.039 2.281 3.621

Sumber : Polres/Polresta Se-Papua Barat

Catatan : Data Tahun 2015 bersumber dari POLDA Papua Barat

(34)

Tabel 2.

Jumlah Tindak Kejahatan yang Diselesaikan di Papua Barat Tahun 2014-2016

Kabupaten/Kota 2014 2015 2016 (1) (2) (3) (4) Fakfak 220 64 170 Kaimana 171 74 146 Teluk Wondama 83 23 64 Teluk Bintuni 83 21 55 Manokwari - 82 379 Sorong Selatan 109 24 153 Sorong 146 110 187 Raja Ampat 75 30 84 Kota Sorong 589 123 385 Papua Barat 1,476 551 1.623

Sumber : Polres/Polresta Se-Papua Barat

Catatan : Data Tahun 2015 bersumber dari POLDA Papua Barat

(35)

Tabel 3.

Persentase Penyelesaian Tindak Kejahatan (Clearence Rate) di Papua Barat Tahun 2014-2016

Kabupaten/Kota 2014 2015 2016 (1) (2) (3) (4) Fakfak 96.00 23.70 69.67 Kaimana 84.00 45.39 73.74 Teluk Wondama 83.80 21.69 94.12 Teluk Bintuni 72.17 23.59 70.51 Manokwari - 14.74 38.91 Sorong Selatan 64.12 19.83 92.17 Sorong 66.00 37.03 62.96 Raja Ampat 63.50 28.57 61.76 Kota Sorong 64.09 22.16 27.29 Papua Barat 72.39 24,36 44,82

Sumber : Polres/Polresta Se-Papua Barat

Catatan : Data Tahun 2015 bersumber dari POLDA Papua Barat

(36)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Pembunuhan 1

Penganiayaan Berat (Anirat) 2

Penganiayaan Ringan (Anira) 40

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) 0

Perkosaan 2

Pencabulan 3

Penculikan 0

Pencurian Dengan Kekerasan (Curas) 0

Pencurian Biasa (Termasuk Ringan) 13

Pencurian Kendaraan Bermotor (Curanmor) 0

Pencurian Dengan Pemberatan (Curat) 14

Pengrusakan/Penghancuran Barang 14

Pembakaran Dengan Sengaja 0

Pembakaran Dengan Sengaja 4

Penggelapan 2

TOTAL 95

Tabel 6.

Jumlah Kejahatan Konvensional menurut jenisnya di Kabupaten Fak-Fak Tahun 2016

Sumber : Polres Fak-Fak

(37)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Pembunuhan 0

Penganiayaan Berat (Anirat) 0

Penganiayaan Ringan (Anira) 47

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) 8

Perkosaan 2

Pencabulan 2

Penculikan 0

Pencurian Dengan Kekerasan (Curas) 0

Pencurian Biasa (Termasuk Ringan) 54

Pencurian Kendaraan Bermotor (Curanmor) 0

Pencurian Dengan Pemberatan (Curat) 0

Pengrusakan/Penghancuran Barang 4

Pembakaran Dengan Sengaja 4

Pembakaran Dengan Sengaja 18

Penggelapan 5

TOTAL 144

Tabel 7.

Jumlah Kejahatan Konvensional menurut jenisnya di Kabupaten Kaimana Tahun 2016

Sumber : Polres Kaimana

(38)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Pembunuhan 0

Penganiayaan Berat (Anirat) 4

Penganiayaan Ringan (Anira) 0

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) 0

Perkosaan 2

Pencabulan 0

Penculikan 0

Pencurian Dengan Kekerasan (Curas) 0

Pencurian Biasa (Termasuk Ringan) 6

Pencurian Kendaraan Bermotor (Curanmor) 0

Pencurian Dengan Pemberatan (Curat) 7

Pengrusakan/Penghancuran Barang 3

Pembakaran Dengan Sengaja 0

Pembakaran Dengan Sengaja 8

Penggelapan 3

TOTAL 33

Tabel 8.

Jumlah Kejahatan Konvensional menurut jenisnya di Kabupaten Teluk Wondama Tahun 2016

Sumber : Polres Teluk Wondama

(39)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Pembunuhan 1

Penganiayaan Berat (Anirat) 2

Penganiayaan Ringan (Anira) 17

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) 0

Perkosaan 0

Pencabulan 0

Penculikan 0

Pencurian Dengan Kekerasan (Curas) 3

Pencurian Biasa (Termasuk Ringan) 11

Pencurian Kendaraan Bermotor (Curanmor) 0

Pencurian Dengan Pemberatan (Curat) 0

Pengrusakan/Penghancuran Barang 4

Pembakaran Dengan Sengaja 0

Pembakaran Dengan Sengaja 10

Penggelapan 6

TOTAL 54

Tabel 9.

Jumlah Kejahatan Konvensional menurut jenisnya di Kabupaten Teluk Bintuni Tahun 2016

Sumber : Polres Teluk Wondama

(40)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Pembunuhan 6

Penganiayaan Berat (Anirat) 26

Penganiayaan Ringan (Anira) 134

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) 45

Perkosaan 4

Pencabulan 0

Penculikan 0

Pencurian Dengan Kekerasan (Curas) 48

Pencurian Biasa (Termasuk Ringan) 92

Pencurian Kendaraan Bermotor (Curanmor) 115

Pencurian Dengan Pemberatan (Curat) 134

Pengrusakan/Penghancuran Barang 32

Pembakaran Dengan Sengaja 2

Pembakaran Dengan Sengaja 77

Penggelapan 17

TOTAL 732

Tabel 10.

Jumlah Kejahatan Konvensional menurut jenisnya di Kabupaten Manokwari Tahun 2016

Sumber : Polres Manokwari

(41)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Pembunuhan 3

Penganiayaan Berat (Anirat) 0

Penganiayaan Ringan (Anira) 37

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) 6

Perkosaan 0

Pencabulan 2

Penculikan 0

Pencurian Dengan Kekerasan (Curas) 0

Pencurian Biasa (Termasuk Ringan) 28

Pencurian Kendaraan Bermotor (Curanmor) 16

Pencurian Dengan Pemberatan (Curat) 0

Pengrusakan/Penghancuran Barang 9

Pembakaran Dengan Sengaja 0

Pembakaran Dengan Sengaja 10

Penggelapan 3

TOTAL 114

Tabel 11.

Jumlah Kejahatan Konvensional menurut jenisnya di Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2016

Sumber : Polres Sorong Selatan

(42)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Pembunuhan 1

Penganiayaan Berat (Anirat) 0

Penganiayaan Ringan (Anira) 37

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) 2

Perkosaan 2

Pencabulan 0

Penculikan 0

Pencurian Dengan Kekerasan (Curas) 7

Pencurian Biasa (Termasuk Ringan) 33

Pencurian Kendaraan Bermotor (Curanmor) 8

Pencurian Dengan Pemberatan (Curat) 87

Pengrusakan/Penghancuran Barang 6

Pembakaran Dengan Sengaja 0

Pembakaran Dengan Sengaja 9

Penggelapan 13

TOTAL 205

Tabel 12.

Jumlah Kejahatan Konvensional menurut jenisnya di Kabupaten Sorong Tahun 2016

Sumber : Polres Sorong

(43)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Pembunuhan 0

Penganiayaan Berat (Anirat) 0

Penganiayaan Ringan (Anira) 24

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) 5

Perkosaan 0

Pencabulan 3

Penculikan 1

Pencurian Dengan Kekerasan (Curas) 0

Pencurian Biasa (Termasuk Ringan) 34

Pencurian Kendaraan Bermotor (Curanmor) 0

Pencurian Dengan Pemberatan (Curat) 0

Pengrusakan/Penghancuran Barang 0

Pembakaran Dengan Sengaja 0

Pembakaran Dengan Sengaja 7

Penggelapan 0

TOTAL 74

Tabel 13.

Jumlah Kejahatan Konvensional menurut jenisnya di Kabupaten Raja Ampat Tahun 2016

Sumber : Polres Raja Ampat

(44)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Pembunuhan 1

Penganiayaan Berat (Anirat) 4

Penganiayaan Ringan (Anira) 1

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) 48

Perkosaan 6

Pencabulan 7

Penculikan 0

Pencurian Dengan Kekerasan (Curas) 135

Pencurian Biasa (Termasuk Ringan) 92

Pencurian Kendaraan Bermotor (Curanmor) 82

Pencurian Dengan Pemberatan (Curat) 165

Pengrusakan/Penghancuran Barang 41

Pembakaran Dengan Sengaja 0

Pembakaran Dengan Sengaja 106

Penggelapan 49

TOTAL 737

Tabel 14.

Jumlah Kejahatan Konvensional menurut jenisnya di Kabupaten Kota Sorong Tahun 2016

Sumber : Polresta Kota Sorong

(45)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Narkotika 2 Terorisme 0 Imigran Gelap 0

Perdagangan Manusia/ Human Trafficking 0

Pencucian Uang / Money Laundry 0

Kejahatan Dunia Maya / Cyber Crime 0

Penyeludupan Hewan 0

Pelintas Batas Illegal 0

Psikotropika 0

Kejahatan Transnasional Lainnya 0

TOTAL 2

Tabel 15.

Jumlah Kejahatan Transnasional menurut jenisnya di Kabupaten Fak-Fak Tahun 2016

Sumber : Polres Fak-Fak

(46)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Narkotika 1 Terorisme 0 Imigran Gelap 0

Perdagangan Manusia/ Human Trafficking 0

Pencucian Uang / Money Laundry 0

Kejahatan Dunia Maya / Cyber Crime 0

Penyeludupan Hewan 0

Pelintas Batas Illegal 0

Psikotropika 0

Kejahatan Transnasional Lainnya 0

TOTAL 1

Tabel 16.

Jumlah Kejahatan Transnasional menurut jenisnya di Kabupaten Kaimana Tahun 2016

Sumber : Polres Kaimana

(47)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Narkotika 0 Terorisme 0 Imigran Gelap 0

Perdagangan Manusia/ Human Trafficking 0

Pencucian Uang / Money Laundry 0

Kejahatan Dunia Maya / Cyber Crime 0

Penyeludupan Hewan 0

Pelintas Batas Illegal 0

Psikotropika 0

Kejahatan Transnasional Lainnya 0

TOTAL 0

Tabel 17.

Jumlah Kejahatan Transnasional menurut jenisnya di Kabupaten Teluk Wondama Tahun 2016

Sumber : Polres Teluk Wondama

(48)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Narkotika 5 Terorisme 0 Imigran Gelap 0

Perdagangan Manusia/ Human Trafficking 0

Pencucian Uang / Money Laundry 0

Kejahatan Dunia Maya / Cyber Crime 0

Penyeludupan Hewan 0

Pelintas Batas Illegal 0

Psikotropika 0

Kejahatan Transnasional Lainnya 0

TOTAL 5

Tabel 18.

Jumlah Kejahatan Transnasional menurut jenisnya di Kabupaten Teluk Bintuni Tahun 2016

Sumber : Polres Teluk Bintuni

(49)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Narkotika 0 Terorisme 0 Imigran Gelap 0

Perdagangan Manusia/ Human Trafficking 0

Pencucian Uang / Money Laundry 0

Kejahatan Dunia Maya / Cyber Crime 0

Penyeludupan Hewan 0

Pelintas Batas Illegal 0

Psikotropika 0

Kejahatan Transnasional Lainnya 0

TOTAL 0

Tabel 19.

Jumlah Kejahatan Transnasional menurut jenisnya di Kabupaten Manokwari Tahun 2016

Sumber : Polres Manokwari

(50)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Narkotika 0 Terorisme 0 Imigran Gelap 0

Perdagangan Manusia/ Human Trafficking 0

Pencucian Uang / Money Laundry 0

Kejahatan Dunia Maya / Cyber Crime 0

Penyeludupan Hewan 0

Pelintas Batas Illegal 0

Psikotropika 0

Kejahatan Transnasional Lainnya 0

TOTAL 0

Tabel 20.

Jumlah Kejahatan Transnasional menurut jenisnya di Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2016

Sumber : Polres Sorong Selatan

(51)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Narkotika 12 Terorisme 0 Imigran Gelap 0

Perdagangan Manusia/ Human Trafficking 0

Pencucian Uang / Money Laundry 0

Kejahatan Dunia Maya / Cyber Crime 0

Penyeludupan Hewan 0

Pelintas Batas Illegal 0

Psikotropika 0

Kejahatan Transnasional Lainnya 0

TOTAL 12

Tabel 21.

Jumlah Kejahatan Transnasional menurut jenisnya di Kabupaten Sorong Tahun 2016

Sumber : Polres Sorong

(52)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Narkotika 1 Terorisme 0 Imigran Gelap 0

Perdagangan Manusia/ Human Trafficking 0

Pencucian Uang / Money Laundry 0

Kejahatan Dunia Maya / Cyber Crime 0

Penyeludupan Hewan 0

Pelintas Batas Illegal 0

Psikotropika 0

Kejahatan Transnasional Lainnya 0

TOTAL 1

Tabel 22.

Jumlah Kejahatan Transnasional menurut jenisnya di Kabupaten Raja Ampat Tahun 2016

Sumber : Polres Raja Ampat

(53)

Jenis Kejahatan Jumlah Tindak Kejahatan (1) (2) Narkotika 14 Terorisme 0 Imigran Gelap 0

Perdagangan Manusia/ Human Trafficking 0

Pencucian Uang / Money Laundry 0

Kejahatan Dunia Maya / Cyber Crime 0

Penyeludupan Hewan 0

Pelintas Batas Illegal 0

Psikotropika 0

Kejahatan Transnasional Lainnya 0

TOTAL 14

Tabel 23.

Jumlah Kejahatan Transnasional menurut jenisnya di Kota Sorong Tahun 2016

Sumber : Polresta Kota Sorong

(54)

Tabel 24.

Jumlah dan Persentse Desa/Kelurahan Menurut Kabupaten/Kota dan Keberadaan Pekelahian Massal di Wilayahnya Tahun 2014

Kabupaten/ Kota Ada Kejadian Perkelahian Massal Tidak Ada Kejadian Perkelahian Massal Jumlah Desa/ Kelurahan N % N % N % (1) (2) (3) (2) (3) (2) (3) Fakfak 2 4.07 121 98.37 123 100.00 Kaimana 1 1.16 85 98.84 86 100.00 Teluk Wondama 20 20.78 57 74.03 77 100.00 Teluk Bintuni 2 0.84 236 99.16 238 100.00 Manokwari 9 10.63 151 94.38 160 100.00 Sorong Selatan 9 12.40 112 92.56 121 100.00 Sorong 2 1.42 139 98.58 141 100.00 Raja Ampat 0 0.00 121 100.00 121 100.00 Tambrauw 4 5.26 72 94.74 76 100.00 Maybrat 3 0.64 154 98.09 157 100.00 Manokwari Selatan 7 21.05 50 87.72 57 100.00 Pegunungan Arfak 10 5.59 169 94.41 179 100.00 Kota Sorong 6 35.48 25 80.65 31 100.00 Papua Barat 75 4.79 1.492 95.21 1567 100.00

http://papuabarat.bps.go.id

54 / 62

(55)

Tabel 25.

Banyaknya Desa/Kelurahan yang Selama Tahun yang Lalu Menjadi Lokasi Konflik Perkelahian Massal Menurut Kabupaten/Kota dan

Jenis Pekelahian Massal Tahun 2014

Sumber : Podes 2014 Kabupaten/Kota Antar Kelompok Warga Warga Antar Desa/ Kelurahan Warga Dengan Aparat Keamanan Warga Dengan Aparat Pemerintah (1) (2) (3) (4) (5) Fakfak - 1 - - Kaimana 1 - - - Teluk Wondama 7 9 1 1 Teluk Bintuni 1 1 - - Manokwari 8 1 - - Sorong Selatan 4 2 - - Sorong - - - - Raja Ampat - - - - Tambrauw 4 - - - Maybrat 2 1 - - Manokwari Selatan 2 3 1 1 Pegunungan Arfak 4 5 1 - Kota Sorong 3 - 3 - Papua Barat 36 23 6 2

http://papuabarat.bps.go.id

55 / 62

(56)

Lanjutan Tabel 25.

Sumber : Podes 2014

Kabupaten/Kota Antar Pelajar/

Mahasiswa Antar Suku Lainnya Jumlah

(1) (2) (3) (4) (3) Fakfak - - 1 2 Kaimana - - - 1 Teluk Wondama 1 1 - 20 Teluk Bintuni - - - 2 Manokwari - - - 9 Sorong Selatan - 2 1 9 Sorong - 1 1 2 Raja Ampat - - - 0 Tambrauw - - - 4 Maybrat - - - 3 Manokwari Selatan - - - 7 Pegunungan Arfak - - - 10 Kota Sorong - - - 6 Papua Barat 1 4 3 75

http://papuabarat.bps.go.id

56 / 62

(57)

Tabel 26.

Persentase Desa/Kelurahan yang Selama Tahun yang Lalu Menjadi Lokasi Konflik Perkelahian Massal Menurut Kabupaten/Kota dan

Jenis Pekelahian Massal Tahun 2014

Sumber : Podes 2014 Kabupaten/Kota Antar Kelompok Warga Warga Antar Desa/ Kelurahan Warga Dengan Aparat Keamanan Warga Dengan Aparat Pemerintah (1) (2) (3) (4) (5) Fakfak 0.00 50.00 0.00 0.00 Kaimana 100.00 0.00 0.00 0.00 Teluk Wondama 35.00 45.00 5.00 5.00 Teluk Bintuni 50.00 50.00 0.00 0.00 Manokwari 88.89 11.11 0.00 0.00 Sorong Selatan 44.44 22.22 0.00 0.00 Sorong 0.00 0.00 0.00 0.00 Raja Ampat 0.00 0.00 0.00 0.00 Tambrauw 100.00 0.00 0.00 0.00 Maybrat 66.67 33.33 0.00 0.00 Manokwari Selatan 28.57 42.86 14.29 14.29 Pegunungan Arfak 40.00 50.00 10.00 0.00 Kota Sorong 50.00 0.00 50.00 0.00 Papua Barat 48.00 30.67 8.00 2.67

http://papuabarat.bps.go.id

57 / 62

(58)

Lanjutan Tabel 26. Sumber : Podes 2014 Kabupaten/Kota Antar Pelajar/ Mahasiswa

Antar Suku Lainnya Jumlah

(1) (2) (3) (4) (4) Fakfak 0.00 0.00 50.00 100.00 Kaimana 0.00 0.00 0.00 100.00 Teluk Wondama 5.00 5.00 0.00 100.00 Teluk Bintuni 0.00 0.00 0.00 100.00 Manokwari 0.00 0.00 0.00 100.00 Sorong Selatan 0.00 22.22 11.11 100.00 Sorong 0.00 50.00 50.00 100.00 Raja Ampat 0.00 0.00 0.00 - Tambrauw 0.00 0.00 0.00 100.00 Maybrat 0.00 0.00 0.00 100.00 Manokwari Selatan 0.00 0.00 0.00 100.00 Pegunungan Arfak 0.00 0.00 0.00 100.00 Kota Sorong 0.00 0.00 0.00 100.00 Papua Barat 1.33 5.33 4.00 100.00

http://papuabarat.bps.go.id

58 / 62

(59)

Tabel 27.

Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan yang Selama Tahun yang Lalu Menjadi Lokasi Konflik Perkelahian Massal dan Cara

Penyelesaian Konflik Tahun 2014

Kabupaten/Kota

Cara Penyelesaian Perkelahian Massal Jumlah Desa/ Kelurahan Dengan Inisiator Tanpa Inisiator

N % N % N % (1) (2) (3) (2) (3) (2) (3) Fakfak 5 100.00 0 0.00 5 100.00 Kaimana 1 100.00 0 0.00 1 100.00 Teluk Wondama 16 100.00 0 0.00 16 100.00 Teluk Bintuni 2 100.00 0 0.00 2 100.00 Manokwari 17 100.00 0 0.00 17 100.00 Sorong Selatan 15 100.00 0 0.00 15 100.00 Sorong 2 100.00 0 0.00 2 100.00 Raja Ampat 0 0.00 0 0.00 0 - Tambrauw 4 100.00 0 0.00 4 100.00 Maybrat 1 33.33 2 66.67 3 100.00 Manokwari Selatan 12 100.00 0 0.00 12 100.00 Pegunungan Arfak 10 100.00 0 0.00 10 100.00 Kota Sorong 11 100.00 0 0.00 11 100.00 Papua Barat 96 97.96 2 2.04 98 100.00

http://papuabarat.bps.go.id

59 / 62

(60)

Tabel 28.

Persentase Desa/Kelurahan yang Menjadi Lokasi Konflik Perkelahian Menurut Inisiator/Mediator yang Dilibatkan Dalam Upaya Penyelesaian Konflik Tahun 2014

Kabupaten/ Kota

Inisiator/Mediator yang Dilibatkan Dalam Penyelesaian Pekelahian Massal Aparat Keamanan Aparat Pemerintah Tokoh Masyarakat N % N % N % (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Fakfak 1 20.00 1 20.00 2 40.00 Kaimana 1 100.00 0 0.00 0 0.00 Teluk Wondama 4 25.00 5 31.25 5 31.25 Teluk Bintuni 2 100.00 0 0.00 0 0.00 Manokwari 4 23.53 4 23.53 6 35.29 Sorong Selatan 3 20.00 4 26.67 8 53.33 Sorong 2 100.00 0 0.00 0 0.00 Raja Ampat 0 0.00 0 0.00 0 0.00 Tambrauw 2 50.00 1 25.00 1 25.00 Maybrat 0 0.00 0 0.00 1 100.00 Manokwari Selatan 3 25.00 3 25.00 3 25.00 Pegunungan Arfak 0 0.00 0 0.00 7 70.00 Kota Sorong 4 36.36 1 9.09 4 36.36 Papua Barat 26 27.08 19 19.79 37 38.54

http://papuabarat.bps.go.id

60 / 62

(61)

Lanjutan Tabel 28.

Kabupaten/ Kota

Inisiator/Mediator yang Dilibatkan Dalam Penyelesaian Pekelahian Massal

Tokoh Agama Lainnya Jumlah

N % N % N % (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Fakfak 1 20.00 0 0.00 5 100.00 Kaimana 0 0.00 0 0.00 1 100.00 Teluk Wondama 1 6.25 1 6.25 16 100.00 Teluk Bintuni 0 0.00 0 0.00 2 100.00 Manokwari 3 17.65 0 0.00 17 100.00 Sorong Selatan 0 0.00 0 0.00 15 100.00 Sorong 0 0.00 0 0.00 2 100.00 Raja Ampat 0 0.00 0 0.00 0 - Tambrauw 0 0.00 0 0.00 4 100.00 Maybrat 0 0.00 0 0.00 1 100.00 Manokwari Selatan 3 25.00 0 0.00 12 100.00 Pegunungan Arfak 0 0.00 3 30.00 10 100.00 Kota Sorong 0 0.00 2 18.18 11 100.00 Papua Barat 8 8.33 6 6.25 96 100.00

http://papuabarat.bps.go.id

61 / 62

(62)

Gambar

Gambar 3.8  Jumlah Desa  dengan Kejadian  Konflik Masal  menurut inisiator  penyelesaian konflik  tahun 2014 di  Papua Barat   Sumber : Podes 2014  http://papuabarat.bps.go.id                             31 / 62

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa, karena atas rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan Kajian Fiskal Regional Provinsi Sumatera Barat Tahun 2016