• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Motivasi AlGazali

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Teori Motivasi AlGazali"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Aktualisasi Diri

Aktualisasi Diri PerspekPerspektif Al-Ghazalitif Al-Ghazali Oleh : Dudun Ubaedullah, M.Ag.

Oleh : Dudun Ubaedullah, M.Ag. Pendahuluan

Pendahuluan

Para ahli psikologi sepakat bahwa manusia adalah makhluk yang unik. Unik dalam Para ahli psikologi sepakat bahwa manusia adalah makhluk yang unik. Unik dalam arti tidak ada satu pun manusia yang benar-benar sama dengan manusia lainnya arti tidak ada satu pun manusia yang benar-benar sama dengan manusia lainnya secara utuh, baik fsik

secara utuh, baik fsik maupun psikis. Mungkin karena itulah agaknya tidak mungkinmaupun psikis. Mungkin karena itulah agaknya tidak mungkin memahami manusia secara utuh kecuali hanya dengan pendekatan-pendekatan memahami manusia secara utuh kecuali hanya dengan pendekatan-pendekatan yang umumnya dimiliki oleh individu manusia. Pendekatan itu lebih kepada teori yang umumnya dimiliki oleh individu manusia. Pendekatan itu lebih kepada teori tentang kepribadian manusia.

tentang kepribadian manusia.

Pembahasan tentang kepribadian sangat berkaitan erat dengan perilaku manusia, Pembahasan tentang kepribadian sangat berkaitan erat dengan perilaku manusia, dan salah satu dari determinan perilaku adalah motivasi. Determinan perilaku dan salah satu dari determinan perilaku adalah motivasi. Determinan perilaku tersebut dapat dibagi menjadi 

tersebut dapat dibagi menjadi  bagian.bagian. PertamaPertama, determinan yang timbul dari, determinan yang timbul dari dalam individu !

dalam individu !determinan internaldeterminan internal" seperti instink, cita-cita, harapan, dan emosi." seperti instink, cita-cita, harapan, dan emosi. Kedua

Kedua, determinan yang timbul dari lingkungan, seperti bahaya, desakan teman,, determinan yang timbul dari lingkungan, seperti bahaya, desakan teman, dan ancaman.

dan ancaman. KetigaKetiga, tujuan, insenti#, atau nilai dari suatu obyek, baik berasal dari, tujuan, insenti#, atau nilai dari suatu obyek, baik berasal dari dalam diri individu maupun dari luar lingkungan individu, seperti kepuasan !berasal dalam diri individu maupun dari luar lingkungan individu, seperti kepuasan !berasal dari dalam individu", dan status sosial !

dari dalam individu", dan status sosial ! berasal dari luar individuberasal dari luar individu".".

$erdasarkan penggolongan determinan tersebut, para psikolog mengemukakan $erdasarkan penggolongan determinan tersebut, para psikolog mengemukakan teori-teorinya tentang motivasi. %alah satu teori tersebut adalah

teori-teorinya tentang motivasi. %alah satu teori tersebut adalah teori aktualisasiteori aktualisasi diri. &eori ini pertama kalinya dikemukakan oleh 'arl (ogers yang kemudian

diri. &eori ini pertama kalinya dikemukakan oleh 'arl (ogers yang kemudian dikembangkan oleh tokoh mad)hab ketiga dari aliran psikologi amerika, yaitu dikembangkan oleh tokoh mad)hab ketiga dari aliran psikologi amerika, yaitu *brahalm +arold Maslow.

*brahalm +arold Maslow.

*ktualisasi diri adalah potensi tertinggi yang dimiliki manusia sehingga orang yang *ktualisasi diri adalah potensi tertinggi yang dimiliki manusia sehingga orang yang dapa

dapat t mengamengaktualktualisasisasikan dirinya ikan dirinya adalaadalah h oranorang-orag-orang ng yang yang selaselalu lu berpberpikir ikir dandan ber

bersiksikap ap pospositiiti##. . al-al-ha)ha)ali ali dendengan gan kokonsensep p ftrftrahnahnya ya jujuga ga memmemandandang ang bahbahwawa manusia pada

manusia pada dasarnya memiliki dasarnya memiliki potensi-potenpotensi-potensi positi#. onsep tersebut dikenalsi positi#. onsep tersebut dikenal den

dengan gan isistiltilahah al-nafs al-rabbaniyyahal-nafs al-rabbaniyyah. arya-karya al-ha)ali melalui pendekatan. arya-karya al-ha)ali melalui pendekatan tasawu#nya banyak mengungkap hakekat dan perilaku manusia.

tasawu#nya banyak mengungkap hakekat dan perilaku manusia.

Pembahasan Pembahasan

.

. %t%tururktktur ur /i/iwawa

*l-ha)ali menjelaskan tentang struktur jiwa ini dalam

*l-ha)ali menjelaskan tentang struktur jiwa ini dalam karya-karyakarya-karyanya, baiknya, baik sebelum memasuki dunia tasawu# seperti

sebelum memasuki dunia tasawu# seperti Mizan al-amal dan Mi’raj Mizan al-amal dan Mi’raj al-Salikinal-Salikin,, maupun setelah menjalani hidup kesufannya seperti

maupun setelah menjalani hidup kesufannya seperti Ihya Ulumu al-DinIhya Ulumu al-Din khususnya khususnya pada bab

pada bab Ajaib al-alb Ajaib al-alb. Pandangan *l-ha)ali tentang manusia baik sebelum. Pandangan *l-ha)ali tentang manusia baik sebelum maupun sesudah memasuki kehidupan tasawu#nya secara mendasar tidak maupun sesudah memasuki kehidupan tasawu#nya secara mendasar tidak adaada perbedaan.

(2)

*l-ha)ali membagi manusia dalam tiga dimensi, yaitu dimensi materi ! al- jism", dimensi nabati !al-nabatiyyah" dan hewani !al-!aya"aniyun", dan dimensi

insani. %ulaiman Dunya mengelompokkan dimensi mausia menurut *l-gha)ali menjadi empat dengan memisahkan unsur nabati !tumbuhan" dan unusr hewani. etiga dimensi tersebut merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. 0ebih lanjut %ulaiman Dunya menjelaskan bahwa manusia ditinjau dari sisi manusia yang berkembang biak, dan memerlukanmakanan maka manusia mempunyai dimensi al-na#s al-nabatiyyah, manusia yang memliki anggota tubuh dan bergerak sesuai

dengan iradat -nya maka manusia memiliki dimensi al-na#s al-hayawaniyyah, dan manusia yang dapat memilih alternati# dari perilaku-perilaku yang muncul dengan akal, mampu berpersepsi, dan daya cerap maka manusia memiliki dimensi al-na#s al-insaniyyah.1

Dalam membahas ketiga dimensi di atas *l-ha)ali memberikan istilah al-2alb, al-ruh, al-na#s, dan al-3a2l. $erikut ini penjelasan singkat dari istilah-istilah tersebut4

Pertama# al-$alb% *l-ha)ali memandang al-2alb ini dalam dua sudut pandang, yaitu al-2alb dalam arti jantung !ragawi" dan dalam arti latifah, sesuatu immateri dan bersi#at rabbani ruhani !ruh ilahiah".

%ekalipun *l-ha)ali memberikan dua kategori terhadap term al-$alb namun pada dasarnya mencakup ketiga dimensi seperti tersebut di atas. *l-5alb dalam arti  jantung merupakan term yang dapat digunakan dalam konteks ragawi !al-jism"

sekaligus dalam konteks hewani ! al-haya"aniyyun" sebaga secara fsik ia berupa materi !organ tubuh" yang juga terdapat pada hewan. *dapun al-$alb dalam arti latifah merupakan esensi dari manusia yang memiliki daya cerap, mengetahui dan mengenal, dan sekaligus yang menjadi obyek pertangungjawaban terhadap

perbuatan yang dilakukannya. 6amun demikian dalam hal ini *l-ha)ali hanya menjelaskan bagaimana si#at dan kondisi yang menyertai al-$alb, bukan pada hakikat al-$alb !dalam arti latifah" karena makna dari hakekat lati#ah tersebut di luar jangkauan manusia.7

Pergerakan al-$alb pada setiap manusia menurut al-ha)ali terdapat empat macam, yaitu raf’# fath# khafd# dan "a$f .8 Al-$alb akan berada pada tingkata raf’ ketika seseorang melakukan )ikir kepada *llah dengan tanda-tandanya adanya mura$abah, hilangnya mukhalafah !penyimpangan", dan lestarinya kerinduan.  Al-$alb bergerak ke arah fath !terbukanya hati seseorang" manakala ia ridha kepada %ulaiman Dunya, Al-!a$i$at & 'azri al-(hazali, Mesir4 Dar al-Ma9ari#, :;, cet. ke-, h. 18;.

1<bid., h. 1=>.

*l-ha)ali, Ihya Ulum al-Dini# $eirut4 Dar al-?ikr, ::7, jilid <<<, h.7.

7Ibid%

8*l-ha)ali, Minhaj al-)Ari&n, dalam Majmu’at *asail al-(hazali, $eirut4Darul ?ikr, ::=, cet. pertama, h. 17.

(3)

*llah dengan cirinya tawakal, ketulusan, dan keyakinan. %ebaliknya ketika

seseorang menyibukkan diri dari selain *llah maka pergerakan hati akan berada pada kondisi khafd dengan tanda-tandanya selalu bangga diri, pamer diri, dan tamak. %elanjutnya pergerakan hati akan sampai pada tahapan "a$f manakala seseorang lalai dari *llah %@& dengan cirinya hilangnya rasa manis ketaatan, tiadanya rasa pahit kemaksiatan, dan ketidakjelasan kehalalan.

Kedua# makna al-ruh. %eperti halnya al-$alb, term al-ruh ini juga mengandung dua makna. Al-ruh diartikan seperti udara yang dibawa darah hitam dan disebarkan ke bagian tubuh melalui perantaraan pembuluh darah.= Uraian yang dimaksud *l-ha)ali tersebut mengarah kepada arti oksigen. %ama halnya dnegan makna al-$alb di atas, al-ruh dalam arti ini juga dimiliki oleh manusia, hewan, bahkan juga tumbuhan. Dengan demikian al-ruh pada arti yang pertama mencakup dua dimensi pertama.

*dapun al-ruh dalam arti lainnya adalah latifah sebagaimana makna yang diungkap pada penjelasan tentang al-2alb.

Ketiga, al-nafs yang mengandung arti emosi ! gadab" dan hasrat !syah"at ". +al ini merupakan makna yang berkonotasi negati# dalam pandangan tasawu#, dan al-nafs dalam arti bagian dari hakekat manusia ! latifah" seperti halnya kedua term sebelumnya. Untuk makna kedua hal ini merupakan itni dari manusia dan bagian terpenting dalam kajian tasawu#. 'afs dalam perspekti# yang kedua ini terdapat tiga tingkata sesuai dengan keadaan $alb !bukan dalam arti jantung". etiga tingkatan tersebut adalah nafs mutmainah, nafs la""amah# dan nafs ammarah bi al-su% %usunan tersebut menunjukkan hirarki dari tingkat tertinggi !mulia" hingga tingkat terendah !buruk".

 Al-'afs dalam tahap nafs mutmainnah adalah na#s dlam kondisi di mana $alb selalu tenang dan tentram !dalam menerima ketentuan *llah %@&" dan terhindar dari kegelisahan yang diakibatkan oleh berbagai macam ambisi. %ebaliknya apabila ia selalu gelisah karena berada dalam kondisi berseteru !berlawanan" terhadap ambisi dan na#su !syahwat" maka nafs turun peringkat berada dalam stage kedua yaitu nfas la""amah. %elanjutnya jika tidak ada perseteruan antara $alb dan ambisi-ambisi tersebut bahkan cenderung berkawan dan mengikuti ambisi-ambisi yang muncul maka nafs turun peringkat lagi hingga ke peringkat terakhir yaitu nafs ammarat bi al-su%

Keem+at# al-a$l% ajian yang memiliki relevansi dengan pembahasan ini terdapat dua makna dari al-a$l, pertama dalam arti pengetahuan tentang hakikat sesuatu permasalahan, dankedua dalam makna latifah seperti makna ketiga term sebelumnya.

Dari uraian di atas, pandangan para ahli tasawu# tentang na#s dalam makna pertama, al-nafs !emosi dan hasrat", pada dasarnya tidak selalu negati#. edua term tersebut dalam psikologi dikenal dengan teori motivasi. +al ini juga dikemukakan *l-ha)ali sekalipun berbeda istilah. 0ebih lanjut *l-*l-ha)ali memasukkan gadab dan syah"at  sebagai bagian dari apa yang disebutnya sebagai  junud al-$alb.;

=*l-ha)ali, *audat at-,alibin "a Umdat al-Salikin , $eirut4 Dar al-?ikr, ::=, cet. pertama, h. .

(4)

*dapun #ungsi dari tentara hati sebagaimana disebut *l-ha)ali adalah  +ertama ber#ungsi sebagai pembangkit dan pendorong sekaligus moti#. Kedua

sebagai impuls, dan ketiga sebagai instrumen pengetahuan dan pencerapa

!kogniti#".A ekuatan kogniti# ini dapat berupa lahirian seperti panca indera maupun secara batiniah yang meliputi daya persepsi !al-hiss al-musytarak ", imajinasi

!khayal", daya pikiran, daya ingatan, dan daya ha#alan.: Proses pencerapan tersebut keduanya bekerja secara sistematis dan saling berkaitan satu sama lain.

Uraian mengenai unsur manusia sebagaimana tersebut di atas menunjukkan bahwa *l-ha)ali memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki kualitas insani. 6amun *l-ha)ali juga tidak mengingkari adanya unsur jiwa yang bersi#at hewati selain unsur materi !jasmani". Unsur tersebut memiliki pengertian secara tiga dimensi yang tidak hanya dimensi fsik-biologis dan mental-psikologis saja melainkan *l-ha)ali memandang manusia memiliki dimensi spiritual-religius. <nti kemanusiaan menurut *l-ha)ali terletak pada empat unsur di atas yang bermakna pada satu kata yaitu latifah atau al-ruh al-rabbaniyyah dan keempat unsur tersebut dalam pengertian metafsik memiliki integritas yang tinggi antara satu sama lainnya dan tidak dapat dibeda-bedakan semuanya bersi#at ruhaniah, suci, mampu

mengenali dan memahami sesuatu yang diciptakan &uhan dengan si#at kekal. Unsur manusia yang terbagi pada al-$alb# al-ruh# al-nafs# dan al-a$l pada dasarnya mengerucut pada satu makna yaitu latifahi# esensi hakiki dari manusia. Dalam karya lainnya *l-ha)ali memberikan istilah esensi hakikat dari manusia tersebut dengan al-nafs al-nathi$ah.>

 &erlepas dari kualitas insani yang dimaksud di atas, *l-ha)ali membedakan manusia dengan hewan dan makhluk lainnya dalam dua sisi. Pertama manusia memiliki pengetahuan, dan kedua manusia memiliki kehendak.

Pengetahuan yang dimaksud *l-ha)ali bersi#at universal, baik pengetahuan tentang duniawi maupun ukhrawi dan pengetahuan yang bersi#at rasional.

Pengetahuan yang dimaksud di sini tampaknya merupakan sebuah proses yang dialami dan didapati manusia melalui belajar dalam makna yang luas. %elain melalui pembelajaran *l-ha)ali juga mengakui adanya pengetahuan yang tidak diperoleh melalui usaha pembelajaran, yaitu melalui ilham.

Pengetahuan yang didapat manusia melalui usaha pembelajaran sebagaimana tersebut di atas menunjukkan adanya si#at keunikan dari manusia. Dengan

pengalaman dan pemelajran yang didapat menjadikan manusia yang satu dengan ;*l-ha)ali, Ihya, +%.it%, h. ;.

AIbid%

:*l-ha)ali, *audat at-,alibin "a Umdat al-Salikin , +%.it%, h. 8.

>*l-ha)ali, al-*isalah al-/aduniyah# dalam Majmu’ *asail al-Imam al-(hazali# $eirut4 Dar al-?ikr, ::=, cet. pertama, h. 118.

(5)

yang lain tidak ada yang memiliki keperibadian yang sama. onsep ini juga diakui oleh psikologi, terutama psikologi keperibadian.

ehendak atau keinginan yang ada pada manusia sebagaimana yang

dimaksud *l-ha)ali di atas bukan dorongan secara biologis seperti yang terdapat pada hewan !syah"at ". Dorongan yang dimiliki oleh hewan ! +hysilgi.al needs" adalah keinginan yang tidak disertai nalar dan cenderung ke arah kenikmatan secara biologis, sedangkan dorongan yang berdasarkan hasil nalar cenderung bertujuan demi kemaslahatan manusia. Dalam hal ini *l-ha)ali memberikan contoh tentang pengobatan berbekam. Syah"at cenderung menolak pengobatan tersebut karena sakit, seangkan secara nalar justeru menginginkan hal tersebut sekalipun harus mengeluarkan biaya karena yang ingin dicapai adalah

kemaslahatan !sembuh dari sakit".1

Perbedaan antara kehendak pada sisi hewani dan kehendak pada sisi insani sebagaimana dimaksud al-ha)ali adalah adanya penilaian yang diperankan oleh akal terhadap kehendak tersebut sebelum sebuah perbuatan direalisasikan.

Perbuatan yang dilakukan oleh seekor hewan hanya didasarkan atas dorongan-dorongan yang bersi#at biologis dengan berbagai cara tanpa melakukan penilaian apakah dorongan tersebut berakibat baik atau buruk. +al ini berbeda dengan manusia. %ebuah dorongan yang muncul, baik bersi#at intrinsik maupun ekstrinsi, oleh akalnya terlebih dahulu akan dinilai baik atau buruk. emudian hasil penilaian tersebut suatu perbuatan akan direalisasikan. 6amun standar nilai baik dan buruk bagi manusia inilah yang menjadi pembicaraan lain. Dalam tulisan lain, *l-ha)ali memberikan standar nilai baik dan buruk dalam sebuah terma akhlak yang

dijelaskan dalam karyanya Ihya Ulumuddin pada bab adab# Ayyuha al-"alad, dan beberapa risalah lainnya.

1. /unud al-5alb sebagai unsur motivasi

*da tiga unsur yang harus dibagai mengenai sebuah teori motivasi, yaitu dorongan, perilaku bermotivasi, dan tujuan. %elain itu tujuan merupakan

satu-satunya dasar yang sehat dan pokok bagi landasan konstruksi klasifkasi kehidupan motivasional. etiga unsur tersebut merupakan unit motivasional yang secara khas berdasarkan manusia sebagai obyeknya. Bleh karena itu pembahasan motivasi *l-ha)ali paling tidak mencakup ketiga unsur itu.

%truktur jiwa dalam pandangan *l-ha)ali sebagaimana yang telah diuraikan di atas tampak bahwa inti dari manusia adala al-ruh al-rabbaniyah, sebuah konsep psiko-spiritual. +al tersebut tercermin dari pembagian unsur-unsur terjadinya

sebuah perilaku yang disebut junud al-$alb !tentara hati". Penekanan pada

Pembahasan $alb tersebut menunjukkan bahwa inti manusia itu adalah hati ! al-$alb" dalam arti ruh rabbaniyah sebagaimana yang telah disebutkan. onsep inilah yang menjadi dasar pemikiran *l-ha)ali tentang sebuah perilaku.

*l-ha)ali membagi dua macam junud al-$alb# yaitu junud al-$alb dalam bentuk fsik dan kasat mata, dan junud al-$alb dalam arti psikis yang hanya dapat dilihat dengan mata hati. +ubungan antara hati dengan  junud ini adalah sebagai

(6)

sebuah sistem perilaku di mana hati sebagai pusatnya !*l-ha)ali menyebutnya hati sebagai raja".

*dapun junud al-$alb dalam bentuk kasat mata adalah semua anggota tubuh, dan anggota gerak yang bertugas melayani dan mengikuti perintah hati, antara lain tangan, kaki, mata, telinga, dan lidah.

 0unud al-$alb dalam bentuk kasat mata ini ber#ungsi sebagai alat penggerak tubuh dari apa yang diperintahkan hati. +al ini tampaknya berbeda dengan konsep medis yang menyatakan bahwa anggota tubuh adalah sebagai alat penggerak yang diperintahkan oleh otak. /adi dalam pandangan medis sebuah gerakan adalah hasil dari impuls yang diperintahkan oleh otak.

 0unud al-$alb dalam bentuk psikis terbagai dua, yaitu syah"at dan gadab. Syah"at ber#ungsi sebagai impuls yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu !moti# mendekat" dan ghadab ber#ungsi sebagai impuls yang melawan atau menolak dari sesuatu !moti# menjauh". eduanya bekerja sama dengan  judul al-$alb dalam bentuk kasat mata sebagaimana telah disebutkan. &erhadap konsep motivasi ini, yang didasar oleh moti# mendekat dan moti# menjauh, *l-ha)ali

menguraikannya dalam Ihya dengan menyebutkan moti# mendekat sebagai sebab-sebab instrinsik !al-sabab al-dakhili" dan moti# menjauh sebagai sebab-sebab-sebab-sebab

ekstrinsik !al-sabab al-Khariji".7

%ebagai contoh, apabila seseorang merasakan lapar, syah"at akan

memberikan impuls kepada anggota tubuh untuk dapat memenuhi kebutuhan akan makan itu dnegan cara-cara yang la)im. Dalam teori motivasi hal ini disebut moti# mendekat. /ika seseorang melihat seekor ular dan dalam persepsinya, *l-ha)ali menyebutnya dengan istilah al-idrak , ular adalah binatang yang berbahaya maka dalam hal ini ghadab memberikan impuls kepada anggota tubuh untuk menjauh, misalnya dalam bentuk lari, lompat, atau teriak. Dalam teori motivasi ini yang disebut moti# menjauh.

Syah"at dan gadab sebagaimana yang telah diuraikan di atas memiliki #ungsi sebagai pembangkin atau pendorong., *l-ha)ali menyebutkan sebagai keinginan atau kehendak !iradah" dan anggota tubuh memiliki #ungsi sebagai al-$udrat .

 &erm syah"at dan gadab yang telah digambarkan di atas menunjukkan bahwa pada dasarnya kedua term tersebut tidak berarti negati#. <a akan memiliki nilai

negati# !buruk" apabila syah"at dan gadab menguasai hati dan bernilai positi# !baik" manakala hati yang menguasai syah"at dan gadab.8

 &eori motivasi di atas bukanlah teori motivasi yang sesungguhnya

dimaksudkan *l-ha)ali, sebab bentuk motivasi yang terjadi pada #enomena di atas tidak hanya dimiliki oleh manusia melainkan hewan juga memiliki bentuk yang

sama, sehingga dalam hal ini tidak ada perbedaan antara manusia dan hewan. Perilaku motivasional manusia yang khas adalah sebuah perilaku yang

didasarkan atas pengetahuan dan kehendak ! iradat ". Pengetahuan manusia melalui Ibid%, h. A.

7Ibib%# h. ;A.

8?atiyah +asan %ulaiman, Aliran-aliran dalam Pendidikan1 Studi tentang Aliran Pendidikan menurut Al-(hazali, terj. Kitab Mazahib & ,arbiyah# bahtsun &

(7)

akalnya juga memiliki keinginan. *ntara keinginan !dorongan" yang bersumber dari akal berbeda dengan dorongan yang bersumber dari syah"at . Dorongan yang

bersumber dari akal cenderung untuk mendapatkan suatu kemasalahan bagi dirinya seperti yang telah disebutkan di atas.

Mengenai pengetahuan yang bersumber dari akal, *l-ha)ali membagi dua. Pertama, pengetahuan dasar !pengetahuan naluriah" dan bersi#at universal. edua, pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman maupun sebagai hasil pemikiran dan penalaran.

 Al-$alb dalam makna al-ruh al-*abbaniyyah sebagaimana yang dimaksud *l-ha)ali adalah manusia yang seutuhnya ! al-insan al-kamil". onsep inilah yang menjadi tujuan perilaku motivasional manusia sebab hanya manusia yang mampu mencapai tingkatan tersebut. +al ini tercermin dalam kaitan antara al-$alb dan  junud al-$alb yang diuraikan sebagai berikut4

*dapun kebutuhan hati kepada tentara ini sama seperti kebutuhannya kepada kendaraan dan bekal untuk perjalanan, yang memang untuk itu ia diciptakan. Cakni perjalanan menuju *llah %@&, melewati bermacam-macam terminal, untuk berjuma dengan-6ya. Untuk itulah hati !kalbu" diciptakan. Dan tiadalah *ku !*llah"

menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdi kepada-uE !5%. *d)-D)ariat48=". *dapun kendaraan hati adalah tubuhnyaF dan bekalnya adalah ilmu. %edangkan sarana yang dapat menyampaikan kepada bekalnya itu serta peman#aatannya, adalah amal salehnya semata-mata. Dalam kenyataannya,

seorang hamba takkan mungkin sampai kepada *llah %@& sebelum tubuhnya diam !mati" tak bergerak lagi, dan sebelum ia melewati !kehidupan" dunia ini.=

Pernyataan *l-ha)ali di atas jelas menunjukkan bahwa tujuan dari segala aspek perilaku manusia harus ditujukan untuk sampai kepada *llah %@&. onsep psiko-spiritual inilah yang menjadi landasan teori motivasi, motivasi yang

berdasarkan atas moti# teogenetis.

*da tiga tingkatan perilaku motivasional manusia menurut *l- ha)ali.

Pertama, tingkatan al-ammarah. Perilaku yang dilandasi oleh motivasi tingkat ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut4

. ebutuhan-kebutuhan yang dicari bersi#at +hysilgi.al needs dan hedonistik.

1. Upaya pemenuhan kebutuhannya cenderung bersi#at bi-hmestatis !prinsip keseimbangan yang bersi#at biologis atau fsik" tanpa batas. . ehidupan psikologis bersi#at patologisF

(8)

7. ?ormulasi si#at-si#at hati terdiri atas syaithaniyyah23, sabuiyyah24, dan bahimiyyah25.

Perilaku manusia yang dimotivasi oleh jenis ini cenderung menghasilkan kepribadian yang mengejar pada prinsip-prinsip kenikmatan ! +leasure +rin.i+le".

 &ingkatan kedua dari motivasional menurut *l-ha)ali adalah al-la""amah% Melalui pengalaman, pencerapan, dan latihan-latihan kehidupan motivasional ammarah ini dapat meningkat menjadi perilaku motivasional la""amah.

Posisi perilaku motivasional la""amah berada antara tingkat terendah

!motivasi ammarah" dan tingkat tertinggi !motivasi mutmainnah" sehingga perilaku motivasional pada tingkat ini bagian upaya untuk sampai pada tingkat yang lebih tinggi atau justeru perjalanan menuju tingkat yang lebih rendah akibat munculnya distorsi-distorsi yang diakibatkan oleh si#at-si#at hati yang empat.

?ormulasi si#at-si#at hati pada tingkatan ini mencakup seluruh si#at-si#at hati yang disebutkan al-ha)ali, yaitu rabbaniyyah syaithaniyah, sabu’iyyah, dan bahimiyah% %i#at rabbaniyyah senantiasa mengontrol ketiga si#at lainnya, hal ini tidak terdapat pada perilaku motivasional pada tahap sebelumnya. %ejauh mana si#at rabbaniyyah tersebut mampu mengontrol si#at hati yang tiga tergantung

upaya, cita-cita, dan pengetahuan seseorang. /ika seseorang memiliki cita-cita yang tinggi untuk dapat hidup secara mutmainnah maka ia akan memiliki upaya-upaya kuat yang secara otomatis kekuatan kontrol rabbaniyyah akan semakin baik hingga ia akan sampai pada kehidupan motivasional mutmainnah. %ebaliknya apabila

seseorang tidak memiliki cita-cita tinggi dan tidak diimbangi oleh pengetahuan !agama" maka sedikit demi sedikit kontrol yang diberikan oleh si#at rabbaniyyah pada diri seseorang akan melemah dan pada kondisi tertentu si#at itu menghilang dari dirinya sehingga ia terjerumus pada tingkata perilaku motivasional yang sangat rendah, tingkata perilaku motivasional yang dimiliki oleh hewan-hewan lainnya, yaitu perilaku motivasional ammarah.

etiga dari tingkatan perilaku motivasional menurut *l-a)ali adalah

mutmainnah. Manusia yang dapat mencapai tingkatan ini adalah manusia-manusia yang mampu beraktualisasi diri, bertransendensi, dan mencapai tingkat  +eak-e6+erien.e.

;%i#at syaithaniyyah adalah si#at yang secara terus menerus membangkitkan kerasukan, emosi !marah", mendorong dan memuji kejahatan.

Aata sabu’iyyah mengandung arti buas. *l-ha)ali memberikan misal dnegan seekor anjing. *njing sebagai binatang buas yang suka menggigit. $ukan buas karena struktur fsik melainkan jiwanya yang buas dan ganas. Manusia yang senantiasa diliputi oleh amarah adalah manusia yang memiliki si#at sabu’iyyah.

:7ahimiyyah berarti binatang atau hewan. *l-ha)ali memberikan misal dnegan binatang babi. $abi memliki jiwa rakus dan jorok. Manusia yang hatinya dikuasai oleh syah"at  adalah manusia babi, manusia yang rakus dan jorok.

(9)

*ktualisasi diri, transendensi, dan puncak pengalaman !peak-eGperence" manusia-manusia yang mutmainnah tidak hanya didasarkan atas pengalaman-pengalaman melainkan dengan ilmu dan usaha. Manusia yang mutmainah adalah manusia yang dapat mengkatualisasikan ftranhya, al-ruh al-rabbaniyyah, manusia yang dapat bertransendensi ilahiyyah sehingga mampu mencapai ma’rifat melalui daya cita rasa !dza"$", dan kasyf  !terbukanya tabir misteri yang menghalangi penglihatan batin manusia". ebenaran dari pengetahuan yang dicapai adalah kebenaran yang bersi#at supra rasional sehingga bisa jadi tidak mampu diterima akal.

'iri-ciri dari perilaku motivasi mutmainnah menurut <bn 5ayyim al-/au)y sebagaimana dikutip *bdul Mujib adalah memiliki harga diri, rendah hati,

dermawan, wibawa, memelihara diri, berani, prihatin, ekonomis, waspada, frasat, memberi peringatan, memberi hadiah, sabar, pemaa#, mengetahui dan berilmu, dapat dipercaya, penuh pegharapan, menceritakan nikmat dari *llah, hati lembut, iri hati atas kebaikan, berlomba demi kebaikan, menyintai *llah, tawakkal, bersikap hati-hati, mendapat inspirasi dari malaikat, dan cekatan dalam bekerja.1>

Pada tahapan ini tidak ada #ormulasi dari si#at-si#at hati kecuali si#at

rabbaniyah. etiga si#at lainnya yaitu si#at syaithaniyah# sabu’iyyah# dan bahimiyah sudah tidak tampak dan bahkan hilang dikalahkan oleh si#at  rabbaniyah. ebutuhan fsiologis dan kebutuhan lain yang muncul hanya sebatas menjaga kesehatan dan menjauhkannya dari penyakit-penyakit yang akan menyebabkan kebinasaan.

Peralihan dari perilaku motivasional ammarah ke tingkat yang lebih tinggi hanya dapat dicapai pada satu derajat di atasnya. +al itu disebabkan oleh

prosentase si#at-siat hati yang tiga, sealin si#at rabbaniyyah, lebih dekat dengan prosentasi daya akal dan terlalu jauh jaraknya dengan daya kalbu.1

+irarki dari perilaku motivasional di atas bukanlah sesuatu yang permanen, dalam artian bahwa seseorang sudah mencapai tingkat mutmainnah dapat saja kembali ke tahapan di bawahnya apabila tidak ada usaha untuk mempertahankan posisi motivasionalnya. $egitupula manusia yang pada awal perilakunya selalu didasari atas motivasi ammarah dengan usaha-usaha tertentu dapat naik satu tahap ke tahapan berikutnya yang lebih tinggi.

 &eori motivasi yang telah diuraikan di atas dalam perspekti# psikologi modern dapat ditinjau dari dua sisi. Pertama, dari sisi tujuan perilaku motivasional tersebut dapat dikategorikan sebagai teori aktualisasi diri. Pandangan ini didasarkan atas tujuan perilaku yang diharapkan oleh *l-ha)ali yaitu manusia-manusia yang memiliki motivasi mutmainnah, sebuah motivasi tingkat tertinggi, motivasi insan yang hakiki.

1>*bdul Mujib# 8itrah dan Ke+ribadian Islam Sebuah Pendekatan Psiklgis , /akarta4 Darul ?alah, :::, h. ;>.

(10)

edua, dari sisi keseimbangan antara stimulus-respon yang dikategorikan sebagai teori homoestatis dengan bentuk yang lebih spesifk dan mendalam, yaitu s+iritual-hmestatis.11 Perbedaannya dengan psikologi modern terletak pada subyek hmestatis. *pabila psikologi modern memandang bahwa terjadinya homeostatis adalah stimulus-respon yang bersi#at fsik maka menurut *l-ha)ali adalah spiritual, al-ruh al-rabbaniyah. /iwa yang bersi#at al-ruh al-rabbaniyyah jika diberikan stimulus oleh hal-hal yang bukan ftrahnya akan terjadi suatu

ketidakseimbangan sehingga akan terjadi konHik, ketegangan jiwa, dan kegelisahan hati. %ebaliknya jika diberikan situmuls yang sesuai dengan ftrah manusia maka terjadilah sebuah keseimbangan, hmestatis, yang ditandai dengan ketenangan hati, berpikir positi#, transendensi, dan  +eak-e6+erien.e. +al ini dapat dibuktikan dengan pengalaman *l-ha)ali ketika mengalami goncangan jiwa sebagaimana yang ia tulis dalam al-mun$idz min al-dlalal.

8. *ktualisasi Diri

Makna aktualisasi diri dalam kajian ini adalah dalam pengertian

transendensi1 !dalam istilah psikologi $arat" atau sufstik !dalam istilah literatur <slam".

$erkaitan dengan aktualisasi diri, *l-ha)ali lebih banyak menulis hampir pada setiap karyanya, terutama karya-karyanya setelah mengalami kegelisahan hati, konHik batin, dan memasuki dunia kesufan, antara lain Ihya Ulumuddin#

*audatuttalibin "a umdatussalikin# Minhaj al-Ari&n.

Dalam bukunya Al-Mun$idz min al-Dhalal secara jelas *l-ha)ali

menggambarkan perjalanan hidupnya dalam melewati masa kegelisahan diri dan masa konHik batin yang terjadi pada dirinya hingga ia menemukan sebuah jalan menuju tasawu#, sebuah proses menuju transendensi.

Proses transendensi yang dialami *l-ha)ali jelas bukan merupakan proyek ilmiah, lebih subyekti#, dan penuh spiritual-religius. %ekalipun bukan sebuah proyek ilmiah, namun bukan berarti transendensi dalam <slam tidak dapat dipelajari. 'ara-cara dan upaya untuk mencapai transendensi diri kemudian oleh al-ha)ali

diungkapkan dalam tulisan-tulisannya.

11eseimbangan dalam budi pekerti dan perilak adalah pertanda bagi sehatnya  jiwa. %ebaliknya, penyimpangan yang baik dalam perilaku adalah pertanda bagi

sakitnya jiwa. Pokok dari segala penyakit jiwa adalah ingkar dan ku#ur kepada *llah %wt, dan kesehatan jiwa terletak pada mengakui-6ya dan tetap beribadah dengan penuh khusuk kepada-6ya. 0ihat catatan kaki pada ?athiyah +asan %ulaiman, +%.it%, h. 87.

1*braham +. Maslow memberikan da#tar 8 defnisi transendensi, antara lain the same kind f self-frgenfulness "hi.h .mes frm getting absrbed , fas.inated# .n.entrated% 'ara yang dapat dilakukan untuk mencapai transendensi adalah dengan metode meditasi. 0ebih lanjut lihat Maslow, 9arius Meanings f

,ran.enden.e# dalam ,he 8arther *ea.hes f !uman 'ature , 6ew Cork4 &he Iiking Press, :;, h. 1=:-1;:.

(11)

Menurut *l-ha)ali, ciri-ciri manusia yang sampai pada tingkat aktualisasi diri adalah sebagai berikut4

. Mengendalikan lidah dengan berkata jujur, amar ma’ruf , nahi munkar , berkata baik, dan sebagainya. Pengendalian lidah juga dapat berupa menghindari

pembicaraan negati#, seperti pembicaraan yang tidak berguna ! ghibah", berlebihan dalam berbicara, melibatkan diri dalam pembicaraan yang batil,

melakukan perbantahan17 dan perdebatan, pertengkaran, memaksakan bersajak dan membuat-buat ke#asihan, memberikan laknat binatang, benda mati atau manusia, bersenda gurau yang berlebihan atau terus menerus, menyebarkan rahasia, melakukan janji palsu, menghasut, dan bentuk pembicaraan negati# lainya.

1. Menghargai hak-hak sesama manusia dan hubungan antara sesama manusia, seperti hak-hak kedua orang tua dan anak, hak-hak kerabat dan sanak

keluarga, dan hak-hak tetangga.

. Mudah memberi maa#, setia, dan ikhlas.

7. $ersi#at simpati dan empati terhadap sesama.

8. Pada orang-orang yang mampu mencapai bertransendensi dapat mencapai ilmu mukasafah, sebuah perolehan ilmu secara langsung dari *llah %@&.

*ktualisasi diri dapat dilakukan antara lain melalui riyadah al-nafs, tatahhur !penyucian jiwa", taha$$u$ !realisasi dari penyucian jiwa", i$tida atau tahallu$. Pengertian riyadah al-nafs yang dimaksud adalah dalam bentuk pengendalian hawa na#su. &erhadap hal ini dalam karyanya mukasyafat al-$ulub# al-ha)ali banyak mengutip hadis dan perkataan sahabat lainnya tentang na#su, antara lain adalah perkataan Cahya bin Mu9ad) *r-(a)i.

Perangilah na#sumu dengan ketaatan kepada *llah dan riyadhah. *iyadhah adalah meninggalkan tidur, sedikit bicara, bertahan dari gangguan manusia, dan sedikit makan. Dari sedikit tidur keinginan-keinginan hati menjadi baik, dari sedikit bicara akan timbul keselamatan dari bahaya, dari kesabaran menghadapi gangguan ia akan mencapai derajat tertinggi dan dari sedikit makan akan lenyap kesenangan-kesenangan na#su.18

%elanjutnya, arti dari tatahhur  menurut al-ha)ali sebagai bentuk penyucian  jiwa yang terdiri atas pengawasan !mura$abah", perhitungan !muhasabah", dan

menghukum diri atas segala kekurangan ! mu’a$abah", bersungguh-sungguh !mujahadah", dan mencela diri !mu’atabah".

 &ahapan kedua untuk mencapai aktualisasi diri adalah melakukan taha$$u$ !pencapaian" berbagai ma$am !state". Ma$am !state" yang harus ditempuh

seseorang untuk mencapai transendensi ilahi ! ma’rifat " setidaknya meliputi zuhud, tawakal, cinta !mahabbah Allah", khauf# raja# "ara# syukur, sabar, rida, mura$abah dan musyahadah. Puncak dari taha$$u$ tersebut adalah kondisi di mana seseorang 17%a9id +awwa, Mensu.ikan 0i"a1 Knse+ ,azkiyatun 'afs ,er+adu ,

terj. Al-Mustakhlash & ,azkiyat al-Anfus, /akarta4 (obbani Press, 1>>>, cet. ke-, h. 7;:.

18*l-ha)ali, Dibalik Ketajaman Mata !ati, terj. dari Mukasyafat al-ulub, /akarta4 Pustaka *mani, ::;, h. 18.

(12)

telah merasakan bahwa *llah %@& melihatnya ! mura$abah" dan beribadah kepada *lah %@& seolah-olah ia melihat-6ya ! musyahadah".

 &ahapan terakhir untuk mencapai aktualisasi diri ! transendensi " adalah tahallu$. ,ahallu$ adalah peneladanan terhadap si#at-si#at *llah %@& yang

terkandung dalam sebagian asmaul husna. %elain itu, proses taha$$u$ juga harus meneladani si#at-si#at (asulullah saw.

%elain memberikan arahan dalam upaya pencapaian transendensi *l-ha)ali  juga memberikan "arning terhadap setan atau ilusi diri sendiri yang merasa sudah

mencapai transendensi. &idak mustahil orang menganggap bahwa dirinya telah sampai pada tingkatan transendensi padahal tidak. &erhadap hal ini *l-ha)ali menyebutnya ghurur !orang-orang yang terkelabui. Bleh karena itu dalam rangka mencapai transendensi, setiap orang harus benar-benar memperhatikan kaedah agama yang meliputi akidah, syariat, dan ihsan%

Da#tar Pustaka

*l-ha)ali. *isalah /aduniyah# dalam Majmu’ *asail Imam (hazali# $eirut4 Dar al-?ikr, ::=, cet. pertama

---. Dibalik Ketajaman Mata !ati , terj. dari Mukasyafat al-ulub, /akarta4 Pustaka *mani, ::;.

---. Ihya Ulum al-Dini# $eirut4 Dar al-?ikr, ::7, jilid <<<.

---. Minhaj al-)Ari&n, dalam Majmu’at *asail al-(hazali , cet. pertama. $eirut4Darul ?ikr, ::=,

---. *audat at-,alibin "a Umdat al-Salikin, cet. pertama. $eirut4 Dar al-?ikr, ::=. Dunya, %ulaiman. Al-!a$i$at & 'azri al-(hazali. cet. ke-. Mesir4 Dar al-Ma9ari#, :;. +awwa, %a9id. Mensu.ikan 0i"a1 Knse+ ,azkiyatun 'afs ,er+adu , terj. Al-Mustakhlash &

,azkiyat al-Anfus. 'et. ke-. /akarta4 (obbani Press, 1>>>.

Maslow, *.+., 9arius Meanings f ,ran.enden.e# dalam ,he 8arther *ea.hes f !uman 'ature, 6ew Cork4 &he Iiking Press, :;.

Mujib# *bdul. 8itrah dan Ke+ribadian Islam Sebuah Pendekatan Psiklgis , /akarta4 Darul ?alah, :::.

%ulaiman, ?atiyah +asan. Aliran-aliran dalam Pendidikan1 Studi tentang Aliran Pendidikan menurut Al-(hazali, terj. Kitab Mazahib & al-,arbiyah# bahtsun & al-mazhabi al-tarba"y inda al-(hazali, %emarang4 Dina Utama %emarang, ::.

Referensi

Dokumen terkait

Imunisasi pilihan adalah imunisasi lain yang tidak termasuk dalam imunisasi wajib, namun penting diberikan pada bayi, anak, dan dewasa di Indonesia mengingat beban

Perhitungan waktu dalam proses metode penimbangan 1 batch ( Sumber : PT. Jadi, walaupun metode standart paling cepat daripada metode yang lain, namun metode tersebut

Karena, begitu pesatnya minat masyarakat Tionghoa terutama bagi para pemuda dalam memainkan permainan ini, maka memunculkan inovasi baru bagi masyarakat Tionghoa

Dalam membuat keputusan apakah hendak menceritakan informasi privat tersebut kepada orang lain atau tidak, seseorang membutuhkan orang yang dapat dipercaya

Daya Saing(Competitiveness) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (Studi Tentang Kapabilitas Pimpinan Terhadap Orientasi Pasardan Orientasi Pembelajaran dan Dampaknya Terhadap Kinerjadan Daya

Dari permasalahan yang dikemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variasi temperatur cetakan (100 0 C, 120 0 C dan 140 0 C)

7 | Pentingnya Memahami Gaya Belajar.. Jika saya harus belajar cara melakukan sesuatu, saya belajar paling baik ketika saya: A. menonton seseorang menunjukkan caranya.

Laporan hasil penelitian wilayah ASEAN 2 menunjukan bahwa dari 26 komponen laporan terdapat 22 (84,6%) komponen laporan akhir penugasan tenaga pengajar BIPA masa tugas