ANALISIS PENGGUNAAN CAMPUR KODE
DALAM CERAMAH Y.M. BHIKKHU UTTAMO
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan dalam Menyelesaikan Program Sarjana (S1) Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
Oleh
Eko Mandala Putra
NIM E1C 008 016
UNIVERSITAS MATARAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA
INDONESIA, DAN DAERAH
2012
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS MATARAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
Jln. Majapahit No. 62 Telpon (0370) 623873 Fax 634918 Mataram NTB
LEMBAR PERSETUJUAN
Skripsi ini Disusun oleh : Eko Mandala Putra
NIM : E1C 008 016
Judul Skripsi : Analisi Penggunaan Campur Kode dalam Ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo.
Skripsi ini telah memenuhi syarat dan diajukan untuk diuji Tanggal : Juli 2012
Pembimbing I
Drs. I Nyoman Sudika, M.Hum. NIP. 196212311989031024
Pembimbing II
Ahmad Sirulhaq, M.A. NIP. 1998006212005011003
Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
Drs. Mar’i, M.Si. NIP. 196412311993031014
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS MATARAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
Jln. Majapahit No. 62 Telpon (0370) 623873 Fax 634918 Mataram NTB
LEMBAR PENGESAHAN
ANALISI PENGGUNAAN CAMPUR KODE DALAM CERAMAH Y.M. BHIKKHU UTTAMO
Oleh
Eko Mandala Putra NIM E1C008016
Skripsi ini telah dipertahankan di depan dosen penguji dan dinyatakan lulus pada tanggal 26 Juli 2012.
Dosen Penguji Ketua,
Drs. I Nyoman Sudika, M.Hum. NIP. 196212311989031024 Anggota,
Ahmad Sirulhaq, M.A. NIP. 1998006212005011003
Mengetahui,
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram Prof. Dr. H. Mahsun, M.S. NIP. 195909251986031004 Anggota, Drs. Kaharuddin, M.Hum. NIP. 195902281986021003
MOTO DAN PERSEMBAHAN
Moto:
Jangan terlena dalam kelengahan.
Jangan terikat pada kesenangan-kesenangan indera Selalu waspada dan terus berusaha.
Dan percaya bahwa pada akhirnya kebahagiaan pasti akan datang. Persembahan
Karya ini kupersembahkan untuk:
Bapak dan Ibuku tersayang (Suartadi dan Kartini) yang tiada henti selalu menyayangi kami anak-anaknya serta tiada tara selalu berjuang demi kami. Terima kasih atas do’a yang selalu engkau panjatkan. Atas usaha yang bapak ibu lakukan serta dukungan yang selalu engkau berikan semoga keluarga kita selalu berbahagia.
Kepada saudara-saudaraku tercinta, adikku David dan Ade. Aku sayang sama kalian semua, terima kasih atas motivasi dan dukungan yang kalian berikan. Teruslah berjuang dan bahagiakanlah kedua orang tua kita. Buat mereka selali tersenyum.
Dosen pembimbing saya dalam penulisan skripsi ini (Bapak I Nyoman Sudika, M.Hum. dan Bapak Ahmad Sirulhaq, M.A.) yang selalu bersabar dalam membimbing saya hingga terselesainya sekripsi ini. Terima kasih atas bimbingan dan transfer ilmu yang bapak berikan.
Teman-teman susah dan senang di “HIKMAHBUDHI” (Adit, Ume, Lia, Gatya, fitri, dan yang lainya) berjuanglah kawan, mari kita raih mimpi-mimpi kita dan buatlah orang tua kita selalu bangga. Appamadena Sampadetha.
Temen-temen PPL ku (Sri, Abduh, Dina, dan Atiek) dan temen-temen KKN ku (Dani, Opie, Ayu, Ariz, Irma, Ani, Desi, Dewi, Imam, dan Galang) kalian tidak akan aku lupakan, kalian teman susah dan senang. Hadapilah hidup ini dengan senyuman kawan.
Temen-temen seperjuanganku anak-anak “B-gank Comunity” (BB, Devi, Edhie, Ana, Indra, Bahri, dan Sujiz) serta teman-temen sekelas yang selalu mensuport aku. Selamat berjuang teman-teman, jangan pernah menyerah. Temen-temen seperjuangan BASTRINDO angkatan 2008. Kawan raih
mimpi-mimpimu dan buat orang-orang disekitarmu selalu tersenyum. Semangat...!!!
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sang Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha), karena berkat rahmat dan karma baik penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Penggunaan Campur Kode dalam Ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo” sesuai dengan rencana.
Bantuan dan dukungan tidak pernah lepas dalam pelaksanaan, baik dalam penulisan ataupun dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Ir. H. Sunarpi, Ph. D. selaku rektor Universitas Mataram. 2. Bapak Prof. Dr. H. Mahsun, M.S. selaku Dekan FKIP UNRAM.
3. Bapak Drs. Kamaluddin, M.A., Ph.D. Selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni.
4. Bapak Drs. Mar’i, M.Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah.
5. Bapak Drs. I Nyoman Sudika, M.Hum. selaku Dosen Pembimbing I 6. Bapak Ahmad Sirulhaq, S.Pd., M.A. selaku dosen pembimbing II 7. Bapak Drs. Kaharuddin, M.Hum. selaku dosen penetral.
8. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam proses penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini sangat sederhana dan masih jauh dari sempurna, baik dari segi isi maupun dari uraiannya. Hal ini disebabkan keterbatasan akan pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki. Untuk itu penulis sangat mengharapkan masukan-masukan berupa kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk kesempurnaannya dimasa-masa yang akan datang. Akhirnya semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
ANALISIS PENGGUNAAN CAMPUR KODE DALAM CERAMAH Y.M. BHIKKHU UTTAMO
Oleh
Eko Mandala Putra
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan kajian tentang peristiwa campur kode bahasa yang terdapat dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk, jenis, fungsi, serta faktor penyebab campur kode dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode simak, kemudian dilanjutkan dengan teknik sadap, teknik rekam, dan teknik catat. Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah metode deskriftif kualitatif.
Hasil analisis yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) bentuk-bentuk campur kode yang terdapat dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo ada tiga yaitu: penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata, penyisipan unsur-unsur yang berwujud frase dan penyisipan unsur-unsur yang berwujud bentuk klausa. (2) Jenis campur kode dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo merupakan campur kode keluar (outer code-mixing), karena bahasa yang dicampurkan merupakan bahasa asing yakni bahasa Pali dan bahasa Inggris. (3) Fungsi campur kode dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo yaitu: sebagai perulangan, sebagai penyisip kalimat, dan sebagai kutipan. Adapun (4) faktor penyebab terjadinya campur kode dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo yaitu: faktor penutur sendiri dan faktor kebiasaan.
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
MOTO DAN PERSEMBAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... vii
DAFTAR ISI ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1Latar Belakang ... 1 1.2Rumusan Masalah ... 4 1.3Tujuan Penelitian ... 5 1.4Manfaat Penelitian ... 5 1.5Definisi Operasional ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8
2.1 Tinjauan Pustaka ... 8
2.2 Landasan Teori ... 13
2.2.1 Kedwibahasaan ... 15
2.2.2 Campur Kode ... 19
BAB III METODE PENELITIAN ... 30
3.1 Jenis Penelitian ... 30
3.2 Data Penelitian dan Sumber Data ... 31
3.3 Instrumen Penelitian ... 31
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 31
3.5 Metode Analisis Data ... 32
3.6 Metode Penyajian Data ... 34
BAB IV PEMBAHASAN ... 35
4.1.1 Campur Kode Berupa Kata ... 36
4.1.2 Campur Kode Berupa Frasa ... 51
4.1.3 Campur Kode Berupa Klausa ... 57
4.2 Jenis Campur Kode ... 64
4.3 Fungsi Campur Kode ... 66
4.4 Faktor Penyebab Campur Kode ... 70
BAB V PENUTUP ... 73 5.1 Simpulan ... 73 5.2 Saran ... 74 DAFTAR PUSTAKA ... 75 LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat yakni sebagai sarana komunikasi. Tanpa bahasa dapat dipastikan bahwa segala macam kegiatan berinteraksi dalam masyarakat akan lumpuh. Mengingat pentingnya bahasa dalam menjalankan segala aktivitas sehari-hari, tentu setiap anggota masyarakat selalu terlibat dalam komunikasi, baik bertindak sebagai komunikator (pembicara) maupun sebagai komunikan (penyimak). Peristiwa-peristiwa komunikasi yang berlangsung tersebut dapat dijadikan tempat atau media untuk mengungkapkan ide, gagasan, isi pikiran, maksud, realitas, dan sebagainya. Dengan demikian, bahasa digunakan sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pesan atau maksud pembicara kepada pendengar (Nababan, 1984:66). Bahasa menjadi salah satu media yang paling penting dalam komunikasi baik secara lisan maupun tulis.
Kepandaian dalam berbicara merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan seseorang disukai bahkan disegani oleh orang lain. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti kualitas suara, struktur bahasanya yang bagus, dan resonansi yang menyenangkan dan fleksibel yang digunakan oleh pembicara tersebut. Selain hal tersebut pemilihan kata-kata yang tepat pada waktunya dan dapat mengekspresikan idenya dengan jelas dan dengan contoh
menarik atau analogi yang tepat akan menimbulkan perhatian atau daya tarik untuk orang lain.
Setiap orang secara konkret memiliki kekhasan sendiri-sendiri dalam berbahasa (berbicara atau menulis). Kekhasan ini dapat mengenai volume suara, pilihan kata, penataan sintaksis, dan penggunaan unsur-unsur bahasa lainnya (Chaer dan Agustina, 2010: 34).
Salah satu sarana yang digunakan menyampaikan pesan kepada orang lain adalah melalui ceramah atau pidato. Sebab Melalui ceramah ataupun pidato seseorang dapat menyampaikan gagasan, pikiran atau informasi kepada orang banyak secara lisan. Dalam pelaksanaanya antara pidato dan ceramah tidak dapat dibedakan, keduanya sama-sama menyampaikan suatu gagasan atau pesan kepada khalayak. Hanya saja yang membedakan keduanya adalah situasi, tempat, waktu (kesempatan), tema dan sumbernya. Ceramah lebih bersifat khusus untuk masalah keagamaan. Aristoteles (dalam E. Kuswandi, 2011) menyatakan bahwa baik pidato maupun ceramah keduanya merupakan seni membujuk atau mempersuasi (The Art of Persuation). Kata mempersuasi tersebut dapat diartikan menjadikan orang lain mengetahui, memahami, serta menerima maksud yang disampaikan. Oleh karena itu, dalam tulisan ini kedua istilah tersebut digunakan secara bergantian atau bersamaan.
Peranan pidato atau ceramah penyajian penjelasan lisan kepada kelompok massa merupakan suatu hal yang sangat penting, baik pada waktu sekarang maupun pada waktu-waktu yang akan datang. Mereka yang mahir
berbicara dengan mudah dapat menguasai massa dan berhasil memasarkan gagasan mereka dengan baik sehingga mudah diterima oleh orang lain. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh pembicara atau penceramah guna menyampaikan gagasannya kepada pendengar. Salah satunya adalah penggunaan aspek kebahasaan berupa campur kode (code mixing) guna meyakinkan pendengarnya mengenai gagasan yang disampaikan. Oleh karena itu, sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari banyak pembicara atau penceramah yang menggunakan dua bahasa atau lebih dalam ceramahnya. Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam lagi mengenai penggunaan campur kode dalam ceramah atau pidato. Namun dalam hal ini penulis menganalisis penggunaan campur kode yang terdapat dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo sebagai fokus kajiannya.
Y.M. Bhikkhu Uttamo merupakan seorang penceramah yang memiliki kemampuan yang baik dalam berceramah sehingga beliau memiliki banyak penggemar di kalanggan umat Buddha. Apabila diperhatikan dengan cermat, materi ceramah yang disampaikannya menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari. Namun terkadang dicampur dengan bahasa Pali dan bahasa Inggris. Sehingga apa yang disampaikan dapat dengan mudah dimengerti oleh para pendengarnya.
Y.M. Bhikkhu Uttamo memiliki kekhasan tersendiri dalam berpidato (ceramah), baik dari segi volume suara, intonasi, gaya bahasa, dan sebagainya. Selain itu juga, beliau memiliki kemahiran dalam menggunakan bahasa
(retorik). Hal inilah yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan namanya terkenal dan banyak disegani oleh kalangan umat Buddha.
Bahasa-bahasa yang digunakan dalam berpidato tidak terkesan monoton, karena beliau memanfaatkan berbagai aspek kebahasaan. Salah satunya adalah campur kode (code mixing). Tetapi sebenarnya masih banyak aspek-aspek kebahasaan yang dimanfaatkan oleh Y.M. Bhikkhu Uttamo dalam pidato-pidatonya seperti gaya bahasa yang baik, penataan kalimat, dll. Akan tetapi dalam penelitian ini, hanya difokuskan pada penggunaan aspek kebahasaan berupa campur kode (code mixing), mengingat aspek kebahasan tersebut relatif sering ditemukan.
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dikemukakan yaitu mengenai penggunaan campur kode yang digunakan oleh Y.M. Bhikkhu Uttamo dalam ceramah atau pidatonya. Oleh karena itu dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut.
1. Bagaimanakah bentuk campur kode (code mixing) dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo?
2. Bagaimanakah jenis campur kode (code mixing) dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo?
3. Bagaimanakah fungsi campur kode (code mixing) dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo?
4. Faktor apakah yang menyebabkan campur kode (code mixing) dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo?
1.3Tujuan Penelitian
Setiap melakukan kegiatan penelitian tentu mempunyai tujuan, demikian pula halnya dengan penelitian ini. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu :
1. mendeskripsikan bentuk campur kode (code mixing) dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo;
2. mendeskripsikan jenis campur kode (code mixing) dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo;
3. mendeskripsikan fungsi campur kode (code mixing) dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo;
4. mendeskripsikan faktor penyebab campur kode (code mixing) dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo.
1.4Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan pada umumnya serta masyarakat secara keseluruhan. Tulisan ini juga sebagai bukti bahwa aspek kebahasan berupa campur kode masih relevan dengan
kebutuhan berbahasa (berkomunikasi) dalam masyarakat terutama dalam berceramah atau berpidato.
1.4.2 Manfaat Praktis
Secara praktis, tulisan ini diharapkan dapat memberi pengetahuan dan wawasan tentang penggunaan campur kode (code mixing) yang dapat digunakan dalam berpidato kepada peneliti dan pembaca pada umumnya.
1.5Definisi Operasional
Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda maka istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini perlu dijelaskan sebagai berikut :
1. Campur Kode (code mixing)
Campur kode (code mixing) adalah penggunaan unsur-unsur bahasa, dari satu bahasa melalui ujaran khusus ke dalam bahasa yang lain. Nababan (1984:32) mengatakan campur kode yaitu suatu keadaan berbahasa lain, ialah bilamana orang mencampur dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa yang menuntut percampuran bahasa itu. Kemudian kaitannya dengan penelitian ini, peristiwa campur kode merupakan fokus kajian utama dalam penelitian ini. Sebab yang akan diteliti adalah peristiwa campur kode (code mixing) dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo.
2. Ceramah
Ceramah atau pidato merupakan salah satu bentuk dari keterampilan berbicara. Antara ceramah dan pidato sesungguhnya memiliki makna yang sama, yakni menyampaikan gagasan di depan orang banyak. Hanya saja yang membedakan keduanya adalah, bahwa ceramah lebih identik mengenai persoalan keagaamaan, sedangkan berpidato sifatnya lebih umum.
Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) dinyatakan bahwa kata “ceramah” memiliki makna pidato yang disampaikan oleh pembicara di depan audiens (banyak orang). Jadi dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan ceramah adalah penyampaian gagasan atau pikiran pembicara di depan audiens (orang banyak) yang isinya lebih ke arah masalah keagamaan.
Kaitannya dengan penelitian ini, ceramah dijadikan sebagai sumber data atau objek yang diteliti. Dalam penelitian ini yang dimaksudkan adalah ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo. Sehingga isi ceramahnya pun berisi persoalan tentang agama. Khususnya mengenai agama Buddha.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1Tinjauan Pustaka
Penelitian tentang kebahasaan, terutama yang berkaitan dengan penelitian penggunaan campur kode sudah sering dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Sebagai bahan perbandingan, penelitian-penelitian tersebut memberikan arahan yang cukup berarti dalam proses penelitian ini.
Penelitian yang relevan tentang peristiwa campur kode ini antara lain dilakukan oleh Anwar (2006) dalam skripsinya yang mengkaji mengenai “Bentuk Peristiwa Campur Kode Pemakaian Bahasa Indonesia pada Pengajian Tuan Guru Bajang (H.M. Zainul Majdi, M.A.)”. Penelitian yang dilakukan oleh Anwar (2006) meneliti tentang peristiwa campur kode yang dilakukan oleh Tuan Guru Bajang (H.M. Zainul Majdi, M.A.) dalam memberikan pengajian yang menggunakan dua bahasa. Penelitian tersebut menguaraikan bentuk campur kode yang dilakukan yaitu mencampur bahasa Indonesia dengan Bahasa Sasak karena jamaah pengajian pada umumnya berbahasa ibu bahasa Sasak.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Kusdiratin, Nirwanto, Paridi, dan Sudika (1992) yang berjudul “Pemakaian Bahasa Indonesia dalam Komunikasi Lisan di Kalangan Pegawai FKIP Universitas Mataram”. Penelitian yang dilakukan itu, mengacu pada gejala kebahasaan. Secara umum penelitian tersebut membahas komunikasi lisan di kalangan pegawai
FKIP Unram. Tentu saja komunikasi lisan yang diamati dalam penelitian tersebut tidak terlepas dari individu yang bilingual. Selain itu, penelitian juga dilakukan oleh Rosalia (2006) tentang “Pijinitasi dalam Masyarakat Etnis Sasak di Kelurahan Ampenan Tengah”. Dalam penelitian ini Rosalia (2006) meneliti bagaimana peristiwa pijinisasi itu terjadi di wilayah Ampenan Tengah tersebut sehingga mempengaruhi masyarakat etnis Sasak yang berada disana. Istilah Pijin berarti bahasa yang tumbuh sebagai akibat hubungan antara berbagai bangsa, biasanya terbentuk pencampuran bahasa-bahasa (Alwasih, 1985: 74). Peristiwa Pijinasi yang terjadi di wilayah Ampenan Tengah tersebut merupakan perpaduan antara bahasa Indonesia, Bahasa Sasak, bahasa Arab dan bahasa Cina.
Fadjri dkk. (1992) melakukan penelitian yang berjudul “Alih Kode Pemakaian Bahasa Indonesia oleh Dosen-Dosen FKIP Universitas Mataram”. Penelitian tersebut bertujuan untuk mendeskripsikan tentang terjadinya peristiwa alih kode, serta faktor penyebabnya, khusus di kalangan dosen. Penelitian lain juga yakni, “Korelasi Antara Penguasaan Bahasa Daerah Dengan Penguasaan Bahasa Inggris Mahasiswa S1 dan D3 Bahasa Inggris FKIP Universitas Mataram”, Oleh Nurachman Hanafi dkk, (1993). Penelitian tersebut mengkaji tentang korelasi (keterkaitan) penguasaan bahasa daerah dengan penguasaan bahasa Inggris pada mahasiswa jurusan bahasa Inggris. Penelitian tersebut hanya terbatas pada tingkat korelasi penguasaan bahasa daerah dan bahasa Inggris saja tanpa menelusuri lebih jauh faktor-faktor penyebab atau indikasi dari korelasi itu sendiri. Penelitian yang
dilakukan Nurachman Hanafi, dkk, secara langsung memiliki keterkaitan disipliner dengan penelitian mengenai campur kode yang terdapat dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo.
Selain penelitian di atas penelitian lain yang patut untuk dikemukakan disini berikutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Khaerul Paridi dan Sribagus (1998) dengan judul “Interferensi Bahasa Inggris dalam Bahasa Indonesia di Daerah Pariwisata Pulau Lombok”. Penelitian yang dilakukan itu, mengacu pada gejala kebahasaan, yakni interferensi. Dalam penelitian tersebut Paridi dan Sribagus meneliti bagaimana wujud interferensi di daerah pariwisata Pulau Lombok dan faktor apa saja yang menyebabkan munculnya interferensi, serta upaya yang dilakukan untuk mengatasinya.
Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Al Idrus (2009) mengkaji tentang “Campur Kode dalam Pemakaian Bahasa Indonesia di Lingkungan Telaga Mas Ampenan Utara”. Dalam penelitian tersebut Al Idrus meneliti bagaimana bentuk, jenis dan fungsi campur kode dalam pemakaian bahasa Indonesia beserta faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode. Kedudukan dan perbedaan antara penelitian yang dilakukan oleh Al Idrus (2009) dengan penelitian ini terletak pada objek penelitian. Karena Al Idrus melakukan penelitian di lingkungan orang-orang yang memang keturunan Arab dan senantiasa hidup bersama dalam kehidupannya. Sedangkan dalam penelitian ini, yang diteliti adalah gejala bahasa berupa campur kode yang terdapat pada ceramah atau pidato.
Penelitian berikutnya yang relevan yakni dilakukan oleh Vika Aprilia (2009) dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Alih Kode dan Campur Kode dalam Lirik Lagu Baby Don’t Cry oleh Namie Amuro” pada penelitian ini mengkaji peristiwa kebahasaan berupa alih kode dan campur kode pada sebuah lirik lagu. Adapun permasalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah mengenai jenis alih kode dan campur kode serta penggunaanya dalam lirik lagu Baby Don’t Cry. Perbedaan antara penelitian yang dilakukan oleh Vika Aprilia (2009) dengan penelitian ini terletak pada objek penelitiannya. Vika melakukan penelitian pada sebuah lirik lagu sedangkan dalam penelitian ini yang diteliti berupa rekaman ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo. Selain itu juga dalam penelitian ini tidak hanya mengkaji mengenai jenis dan penggunaannya saja, tetapi mengenai jenis, bentuk, faktor penyebab, maksud dilakukannya campur kode.
Tidak hanya beberapa penelitian di atas yang relevan dengan penelitian ini. Berikutnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Rahayu (2005) dalam skripsinya yang berjudul “Alih Kode dan Campur Kode Guru Kelas 2 SDN Sumberejo II Rengen Tuban”. Dalam penelitian ini mengkaji mengenai peristiwa kebahasaan tentang alih kode dan campur kode yang terjadi pada guru SD dalam proses belajar mengajar. Karena peneliti menemukan beberapa kode yang dipakai oleh guru tersebut dalam mengajar. Oleh karena itu dalam penelitian ini ada beberapa permasalahan yang dibahas yakni mengenai jenis dan faktor penyebab alih kode dan campur kode yang terdapat pada guru SD Sumberejo II Rengen Tuban dalam pembelajaran. Lalu kedudukan dan
perbedaan antara penelitian yang dilakukan oleh Rahayu (2005) dengan penelitian ini yakni objek kajiannya dan permasalahannya berbeda meskipun keduaanya meneliti mengenai campur kode. Dalam penelitian ini objek yang dikaji adalah ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo dan permasalah yang dikaji lebih kompleks yakni mulai bentuk, jenis, faktor penyebab dan maksud dilakukannya campur kode.
Penelitian berikutnya yakni “Campur Kode Bahasa Arab dalam Pemakaian Bahasa Indonesia Aktivis Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Majelis Taklim Al-khafi FKIP Unram”, penelitian ini dilakukan oleh Fadli Afandi (2009). Pada penelitian ini mengkaji tentang peristiwa campur kode Bahasa Arab dalam pemakaian Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh aktivis UKMF majelis Taklim Al-Khafi. Dalam penelitian tersebut mendeskripsikan bagaimana bentuk, jenis, dan fungsi campur kode dalam pemakaian bahasa Indonesia serta faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode.
Dari beberapa penelitian yang relevan di atas, dapat digambarkan bagaimana persitiwa kebahasaan khususnya mengenai campur kode itu terjadi, akan tetapi dari penelitian sebelumnya belum ada yang meneliti peristiwa campur kode yang terdapat pada ceramah seorang rohaniwan Buddhis, yang dalam penelitian ini yakni Y.M. Bhikkhu Uttamo. Menjadikan rekaman ceramah sebagai objek kajian dalam penelitian. Selain itu juga belum ada penelitian yang mengkaji tentang peristiwa campur kode yang terjadi pada bahasa Indonesia dengan Bahasa Pali (bahasa dalam kitab suci agama
Buddha). Tidak hanya dengan bahasa Pali tetapi juga ditemukan campur kode dengan bahasa Inggris. Penelitian ini juga akan mengkaji mengenai bentuk, jenis, fungsi, serta faktor penyebab terjadinya campur kode dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo. Inilah yang membedakan penelitian-penelitian sebelumnya dengan penelitian ini. Jadi dapat dikatakan bahwa penelitian kali ini merupakan penelitian lanjutan atau perkembangan dari penelitian-penelitian sebelumnya.
2.2Landasan Teori
Dalam penelitian ini dibutuhkan teori-teori yang dapat dijadikan acuan atau pedoman untuk mendukung penelitian ini. Adapun teori yang dibutuhkan yakni mengenai kedwibahasaan ataupun multibahasa dan peristiwa campur kode (code mixing) ataupun teori-teori lain yang relevan dengan penelitian ini.
Pada dasarnya setiap ilmu pengetahuan lazimnya dibagi atas bidang-bidang bawahan atau cabang. Demikian pula ilmu linguistik juga lazimnya dibagi menjadi bidang bawahan yang bermacam-macam. Misalnya saja, ada linguistik antropologis, yaitu cara menyelidiki linguistik yang dimanfaatkan oleh para ahli antropologi budaya; ada juga linguistik sosiologis, atau (lebih lazim) sosiolinguistik, untuk meneliti bagaimanakah dalam bahasa itu dicerminkan hal-hal sosial dalam golongan penutur tertentu. Akan tetapi, bidang-bidang bawahan tadi semuanya mengandaikan adanya pengetahuan linguistik yang mendasarinya. Adapun bidang-bidang dalam ilmu lingustik yakni struktur kata yang disebut morfologi, struktur antar kata dalam kalimat
yang disebut sintaksis dan masalah makna yang disebut dengan semantik (Verhaar, 2004: 9).
Salah satu kajian ekstralinguistik adalah sosiolinguistik yang berasal dari kata sosiologi dan linguistik. Chaer (2010: 2) mengatakan sosiologi adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia di dalam masyarakat, dan mengenai lembaga-lembaga, dan proses sosial yang ada dalam masyarakat. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian dapat dikatakan sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu sendiri dalam masyarakat.
Alih kode dan campur kode adalah salah satu kajian dalam sosiolinguistik. Lebih lanjut Apple (dalam Chaer dan Agustina, 2010:107) mengatakan, alih kode yaitu gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi. Sedangkan Thealander (dalam Chaer dan Agustina, 2010:115) mendefinisikan campur kode sebagai peristiwa tutur yang terdapat frase-frase campuran dari frase bahasa lain yang masing-masing frase tidak mendukung fungsi sendiri-sendiri.
Alih kode biasanya digunakan secara sengaja atau secara sadar. Hal ini dikarenakan alih kode sebagian besar digunakan untuk menghormati lawan bicara dan ingin membuat percakapan tersebut menjadi lebih mendalam. Berbeda halnya dengan campur kode. Sebagian besar peristiwa campur kode
dilakukan seseorang secara tidak sengaja atau tidak sadar. Hal ini dikarenakan sikap kemultibahasaan orang tersebut yang membuat ia mencampur beberapa frase bahasa asing ke bahasa asli. Walaupun begitu, peristiwa campur kode juga dapat dilakukan dengan sengaja, yakni karena alasan akademis, keterbatasan istilah dalam bahasa asli dan sebagainya.
Dalam penelitian ini peristiwa kebahasaan yang akan dibahas adalah campur kode. Thelander (dalam Chaer dan Agustina, 2011:115) mengatakan :
“Apabila didalam suatu peristiwa tutur terdapat klausa-klausa atau frase-frase yang digunakan terdiri dari klausa dan frase campuran (hybrid clauses, hybrid phrases), dan masing-masing klausa dan frase tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri, maka peristiwa yang terjadi ini adalah campur kode.”
Kemudian aspek kebahasaan berupa campur kode yang digunakan oleh Y.M. Bhikkhu Uttamo dalam ceramahnya yang terdiri atas sepuluh file rekaman merupakan bagian dari ilmu-ilmu yang ada dalam linguistik. Sebagaimana telah disebutkan pada bab sebelumnya, bahwa salah satu peristiwa kebahasaan yang terdapat dalam ceramah oleh Y.M. Bhikkhu Uttamo adalah peristiwa campur kode (code mixing).
2.2.1 Kedwibahasaan
Istilah kedwibahasaan oleh para ahli bahasa, dianggap mengandung pengertian yang relatif, oleh karena batasan seseorang untuk dapat disebut dwibahasawan itu bersifat arbitrer dan hampir tidak dapat ditentukan secara pasti. (Anwar, 2006 : 11).
Bloomfield (1995: 54) menegaskan, penguasaan bahasa asing yang baik, tidak disertai kehilangan bahasa ibu, akan menghasilkan bilingualisme atau kedwibahasaan. Penguasaan dua bahasa seperti penutur asli, Bloomfield (1995 : 54) menganggap kedwibahasaan merupakan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa yang sama baiknya oleh seorang penutur (native like control of two language). Pendapat ini menurut persyaratan bahwa setiap bahasa dapat dipergunakan dalam setiap keadaan dengan kelancaran dan ketepatan yang sama seperti penggunaan oleh penutur asli dari setiap bahasa itu. Kedwibahasaan seperti yang dirumuskan oleh Bloomfield ini, oleh Halliday (dalam Fishman, 1964: 141) disebut dengan istilah Amblingualism.
Dalam perkembanganya, menurut Suwito (dalam Anwar, 2006 : 12). Pengertian kedwibahasaan seperti ini, kurang dapat diterima oleh para ahli bahasa lain yang muncul sesudah mereka, oleh karena untuk menentukan sejauh mana seseorang penutur menggunakan dua bahasa dengan sama baiknya, tidak mempunyai dasar sehingga sukar diukur. Oleh sebab itu, pengertian Native Like Control Of Two Language ini hanya dapat dipandang sebagai salah satu jenis kedwibahasaan.
Adapun batas kedwibahasaan menurut Wenrich (dalam Anwar, 2006: 12), adalah peristiwa pemakaian dua bahasa atau lebih secara bergantian oleh seorang penutur atau kebiasaan menggunakan dua
bahasa dalam berinteraksi dengan orang lain (Nababan, 1984 : 27), sedangkan kemampuan atau kesanggupan seseorang memakai dua bahasa disebut dwibahasawan atau bilingual.
Pengertian kedwibahasaan yang diberikan pada dua definisi di atas, tidak mempersyaratkan pengetahuan yang sama tentang dua bahasa atau lebih yang diketahui oleh dwibahasawan. Menurut Hangen, seorang dwibahasawan, tidak harus menguasai secara aktif dua bahasa, cukuplah dia tahu bahasa saja (knowledge two language), atau mengetahui secara pasif dua bahasa (a complate passive bilingualism, understanding without speaking agen dalam Suwito, 1985: 41). Batas terendah untuk menyebutkan seseorang dwibahasawan adalah kesanggupan memproduksikan tuturan yang bermakna lengkap (to produce complete heaningful utterances in other language).
Berkenaan dengan ini, Machey (1968) dalam Suwito (1985 : 55), membagi adanya tingkat kedwibahasawan yang dimaksud untuk membedakan tingkat kemampuan seseorang dalam penguasaan bahasa kedua. Tingkat-tingkat kemampuan demikian dapat dilihat dari penguasaan penutur terhadap segi gramatikal, leksikal, semantik, dan gaya yang tercermin dalam empat ketercapaian bahasanya, yaitu mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis. Makin banyak unsur tersebut dikuasai oleh seorang penutur, makin tinggi tingkat
penguasaannya, sebaliknya, makin sedikit penguasaan terhadap unsur-unsur itu, makin rendah pula tingkat kedwibahasaannya.
Lebih lanjut lagi berbicara mengenai kedwibahasaan tidak terlepas dari yang namanya Masyarakat multibahasa. Masyarakat multibahasa muncul karena masyarakat tutur tersebut mempunyai atau menguasai lebih dari satu variasi bahasa yang berbeda-beda sehingga mereka dapat menggunakan pilihan bahasa tersebut dalam kegiatan berkomunikasi. Hal tersebut bisa jadi karena dampak kemajuan zaman yang terus berkembang, sehingga ilmu pengetahuan tentang kebahasaan pun turut berkembang.
Dalam kajian sosiolinguistik terdapat beberapa pilihan-pilihan bahasa yang kemudian dibahas karena hal ini merupakan aspek terpenting yang dikaji dalam suatu ilmu kebahasaan. Lebih lanjut Sumarsono (2004:201) mengatakan ada tiga jenis pilihan bahasa yang dikenal dalam kajian sosiolinguistik, yaitu alih kode (code switching), campur kode (mixing code) dan variasi dalam bahasa yang sama (variation within the same language).
Dari ketiga jenis pilihan bahasa tersebut, dalam penelitian terbatas hanya membahas satu jenis pilihan bahasa, yaitu campur kode (mixing code). Dialek atau bahasa yang dipilih dalam suatu pembicaraan biasa disebut kode (Wardaugh dalam Chaer dan Agustina, 2010). Dalam suatu masyarakat minimal orang meguasai
satu kode saja. Akan tetapi, pada kenyataanya banyak orang yang menguasai banyak bahasa atau minimal dua bahasa (bilingual). Jadi, masyarakat yang multi bahasa muncul karena masyarakat tutur tersebut mempunyai atau menguasai lebih dari satu variasi bahasa yang berbeda-beda sehingga mereka dapat menggunakan pilihan bahasa tersebut dalam kegiatan berkomunikasi. Dengan demikian, orang harus menentukan untuk memilih, beralih atau bercampur kode ketika berinteraksi dengan orang lain. Termasuk ketika seseorang berpidato atau ceramah.
2.2.2 Campur Kode
a. Pengertian Campur Kode
Suatu keadaan berbahasa lain ialah bilamana orang mencampur dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa (speech act atau discourse) tanpa ada sesuatu yang menuntut pencampuran bahasa itu, disebut campur kode (Nababan, 1984 : 32). Campur kode terjadi karena ketergantungan penutur terhadap pemakaian bahasa. Lebih lanjut, Nababan juga menjelaskan ciri yang menonjol dalam campur kode ini adalah kesantaian atau situasi informal. Dalam situasi berbahasa yang formal, peristiwa campur kode kurang mendominasi. Kalaupun terdapat campur kode dalam keadaan demikian, itu disebabkan tidak adanya ungkapan yang terdapat dalam bahasa yang sedang dipakai itu, sehingga
perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa asing yang bersangkutan. Kadang-kadang terdapat juga campur kode ini bila pembicaraan ingin memamerkan “keterpelajarannya” atau “kedudukannya”.
Dalam masyarakat multitingkat atau bilingual seperti halnya di masyarakat Indonesia sebagian besar mengenal dan memahami dua bahasa dalam berkomunikasi, sering kita jumpai orang mengganti bahasa atau ragam bahasanya sehingga hal ini menjadi suatu kebiasaan dalam berkomunikasi.
Campur kode merupakan salah satu aspek tentang ketergantungan bahasa (language dependency) di dalam masyarakat multilingual, hampir tidak mungkin seorang penutur menggunakan satu bahasa yang lain (Anwar, 2006: 16). Dalam campur kode, penggunaan dua bahasa atau lebih, itu ditandai oleh :
1) masing-masing bahasa tidak lagi mendukung fungsi tersendiri melainkan mendukung satu fungsi, dan
2) fungsi masing-masing bahasa ditandai oleh adanya hubungan timbal balik antara peranan dan fungsi kebahasaan.
Dalam masyarakat multilingual, terdapat terdapat juga gejala lain yang disebut Alih Kode (code swithcing).
Chaer (1994 : 69) membedakan Alih Kode (code switching) dengan Campur Kode (code mixing). Apabila di dalam alih kode fungsi konteks dan relevansi situasi merupakan ciri-ciri ketergantungan, sedangkan di dalam campur kode, ciri-ciri ketergantungan ditandai oleh adanya hubungan timbal balik antara peranan dan fungsi kebahasaan. Kalau di dalam alih kode, masing-masing unsur bahasa tetap mempertahankan fungsinya sendiri-sendiri, maka di dalam gejala campur kode, unsur-unsur bahasa yang disisipkan oleh seorang penutur (dwibahasawan) disela-sela tuturannya, tidak lagi mendukung fungsi tersendiri, melainkan unsur-unsur yang merupakan gejala campur kode tersebut mendukung satu fungsi, sehingga alih kode dibedakan dari campur kode. Alih kode terjadi karena bersebab, sedangkan campur kode terjadi tanpa alasan.
Lebih lanjut Thelander (dalam Chaer dan Agustina, 2010: 115) menjelaskan perbedaan alih kode dan campur kode. Bila di dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain, maka peristiwa yang terjadi adalah alih kode. Tetapi, apabila di dalam suatu peristiwa tutur, klausa-klausa maupun frase-frase yang digunakan terdiri atas klausa-klausa dan frase campuran (hybrid clauses, hybrid phrases) dan masing-masing klausa atau frase itu tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode. Lebih
lanjut Nababan (dalam Aslinda dan Leni Syafyahya, 2007: 24) menyatakan bahwa campur kode terjadi bilamana seseorang mencampurkan dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak berbahasa tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa yang menuntut percampuran bahasa.
Contoh alih kode misalnya: Ryanto dan Adi berasal dari Sumbawa dan keduanya bercakap-cakap dengan bahasa ibunya (bahasa Sumbawa). Beberapa saat kemudian datanglah Indra orang Sasak yang tidak bisa berbahasa Sumbawa, seketika itu Ryanto dan Adi pun beralih menggunakan bahasa Indonesia sehingga terjadilah percakapan dalam bahasa Indonesia antara ketiganya. Sedangkan campur kode di dalam sebuah pembicaraan ditandai dengan adanya kata atau frase yang disisipkan pada bahasa utama, misalnya dalam bahasa Indonesia disisipkan bahasa Inggris, bahasa Pali, bahasa Arab, dan bahasa daerah. Misalnya dalam suatu diskusi terdapat seorang narasumber yang menguasai beberapa bahasa. Awalnya ia menyajikan materinya menggunakan bahasa Indonesia, tetapi di sela-sela penyampaiannya ada beberapa kata atau frase dalam bahasa Inggris. Inilah yang disebut dengan campur kode.
Fasold (dalam Chaer dan Agustina, 2010: 115) menawarkan bahwa kriteria gramatika untuk campur kode dari
alih kode. Kalau seseorang menggunakan satu kata atau frase dari suatu bahasa, berarti ia telah melakukan campur kode.
Campur kode memiliki ketergantungan yang ditandai oleh adanya hubungan timbal balik antara peranan dan fungsi bahasa. Dalam gejala campur kode unsur-unsur bahasa yang disisipkan oleh penutur (dwibahasawan) di sela-sela tuturan yang digunakan itu tidak lagi mendukung fungsi tersendiri, melainkan unsur-unsur yang merupakan gejala campur kode tersebut mendukung suatu fungsi (Rusdiawan, dkk. dalam Fadjri, dkk, 1992: 10).
b. Bentuk Campur Kode
Dalam penelitian ini, akan dibahas pula tentang bentuk-bentuk dari peristiwa campur kode. Adapun bentuk-bentuk campur kode tersebut adalah berupa kata dasar, frase, serta klausa yang kesemuannya merupakan unsur yang terdapat dalam analisis sintaksis, yaitu analisis tentang hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya atau analisis tentang makna atau arti dalam bahasa (Chaer, dalam Anwar 2006 : 15).
Kata dasar adalah kata yang belum mendapat tambahan yang berupa imbuhan (afiks) yang termasuk jenis morfem bebas. Dalam bahasa Indonesia kita memiliki empat kategori sintaksis utama: (1) verba atau kata kerja, (2) nomina atau kata benda, (3)
adjektiva atau kata sifat, (4) adverbia atau kata keterangan (Alwi dkk, 2003: 36). Frasa adalah kelompok kata yang merupakan bagian fungsional dari tuturan yang lebih panjang (Verhaar, 2004: 291). Sedangkan menurut Alwi (2003: 312) frase adalah satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak mengandung unsur predikasi. Selanjutnya terdapat bentuk klausa yang merupakan satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata atau lebih, yang mengandung unsur predikasi (Alwi dkk, 2003: 312). Selanjutnya Alwi (2003 : 39) juga menjelaskan istilah klausa dipakai untuk merujuk pada deretan kata yang paling tidak memiliki subjek dan predikat, tetapi belum memiliki intonasi atau tanda baca tertentu.
c. Jenis Campur Kode
Campur kode merupakan suatu proses pencampuran dari kode bahasa yang satu dengan kode bahasa yang lain dengan disertai tujuan tertentu, Soepomo (1978) dalam Pranowo (1996 : 13).
Campur kode dapat dibedakan menjadi dua, yakni (a) campur kode sementara dan (b) campur kode tetap. Campur kode sementara terjadi apabila pemakai bahasa sedang menyitir kalimat B2 kertika sedang ber-B1, atau sebaliknya. Campur kode tetap terjadi karena perubahan relasi antara pembicara dengan mitra
bicara, misalnya, mitra bicara semula sebagai teman akrab, tetapi mitra bicara itu sekarang menjadi atasan, biasanya pembicara mengganti kode bahasa yang dipakainya secara permanen, karena adanya perubahan status sosial dan relasi pribadi yang ada. Tidak hanya kedua jenis yang telah disebutkan di atas, tetapi juga terdapat jenis lain, yakni campur kode ke luar dan campur kode ke dalam.
Lebih lanjut dalam http://anaksastra.blogspot.com/2009
/02/alih-kode-dan-campur-kode.html campur kode dibagi menjadi
dua, yaitu campur kode ke luar (outer code-mixing) dan campur kode ke dalam (inner code-mixing).
1. Campur Kode ke Luar (Outer Code-Mixing)
Yaitu campur kode yang berasal dari bahasa asing atau dapat dijelaskan bahasa asli yang bercampur dengan bahasa asing. Contohnya bahasa Indonesia – bahasa Inggris – bahasa Jepang, dll
2. Campur Kode ke Dalam (Inner Code-Mixing)
Yaitu campur kode yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasinya. Contohnya bahasa Indonesia– bahasa Jawa–bahasa Batak– Bahasa Minang (lebih ke dialek), dll. Dalam bahasa Jepang percampuran variasi bahasa dapat berupa penggunaan katakana sebagai bahasa
serapan, dialek (osaka ben, kansai ben), ragam bahasa keigo ke futsu go dsb.
d. Fungsi Campur Kode
Peristiwa campur kode terjadi pula karena adanya beberapa fungsi, antara lain :
1) Sebagai Perulangan
Sering kali pesan dalam suatu bahasa (kode) diulangi dengan kode lain, baik secara literal atau dengan sedikit perubahan. Perulangan berfungsi untuk memberikan penekanan pada sebuah pesan atau menjelaskan apa yang telah dikatakan.
2) Sebagai Penyisip Kalimat
Campur kode dapat berfungsi sebagai penyisip kalimat atau penyempurna kalimat sehingga kalimat itu menjadi kalimat yang utuh, yang bisa berbentuk kata, frasa, atau ungkapan. Maksud utuh disini, pencampuran utuh bukan dalam hal kaidah, namun menyangkut penggabungan dua bahasa. Penyisipan kalimat di sini dimaksudkan bahwa dalam peristiwa tutur yang terjadi kalimat-kalimat yang disampaikan merupakan perpaduan antara dua bahasa atau lebih yang mengisyaratkan terjadinaya peristiwa campur kode.
3) Sebagai Kutipan
Dalam banyak hal, campur kode dapat diidentifikasikan baik sebagai kutipan langsung maupun sebagai laporan seorang penutur bilingual, dalam sela-sela pembicaraannya kadang-kadang menggunakan kode (bahasa) lain yang telah dinyatakan oleh seseorang.
4) Sebagai Fungsi Spesifikasi Lawan Tutur
Penutur bermaksud menyampaikan pesan dengan kode lain kepada salah satu dari beberapa kemungkinan lawan tutur yang mengerti bahasa penutur.
5) Unsur Mengkualifikasi Isi Pesan
Bentuk lain dari campur kode adalah pengelompokkan isi-isi pesan dalam bentuk kalimat, kata kerja, kata pelengkap atau predikat dalam konstruksi bahasa lain. (Gumpers, dalam Suwito, 1985: 71).
e. Faktor-Faktor Penyebab Campur Kode
Campur kode disebabkan oleh masyarakat tutur yang multilingual yang artinya memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan menggunakan lebih dari satu bahasa. Namun, tidak seperti alih kode, campur kode tidak mempunyai maksud dan tujuan yang jelas untuk digunakan karena campur
kode digunakan biasanya tidak disadari oleh pembicara atau dengan kata lain refleks pembicara atas pengetahuan bahasa asing yang diketahuinya.
Kemudian latar belakang terjadinya campur kode dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sikap (attitudinal type) yakni latar belakang sikap penutur, dan kebahasaan (linguistic type) yakni latar belakang keterbatasan bahasa, sehingga ada alasan identifikasi peranan, identifikasi ragam, dan keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan. Dengan demikian campur kode terjadi karena adanya hubungan timbal balik antara peranan penutur, bentuk bahasa, dan fungsi bahasa.
Campur kode adalah peristiwa kebahasaan yang disebabkan oleh faktor-faktor luar bahasa, terutama faktor-faktor yang sifatnya sosiostuasional. Menurut Suwito (1985: 72), beberapa faktor yang biasanya merupakan penyebab terjadinya campur kode antara lain :
1) Penutur
Seorang bawahan menghadap atasannya di kantor dalam situasi resmi. Pada awalnya mereka menggunakan bahasa Indonesia. Namun, karena atas kesadarannya sendiri, si bawahan ingin mengubah situasi resmi menjadi tak resmi dengan mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa
daerahnya. Dengan situasi tak resmi tersebut, diharapkan masalah-masalah yang sedang dibicarakan akan lebih mudah dipecahkan.
2) Lawan Tutur
Setiap penutur pada umumnya ingin mengimbangi bahasa yang dipergunakan oleh lawan tuturnya. Di dalam masyarakat multilingual, itu berarti bahwa seorang penutur, mungkin beralih kode sebanyak kali lawan tutur yang dihadapinya. Dalam hal ini, lawan tutur dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu (a) Yang berlatar belakang kebahasaan yang sama dengan penutur (b) Yang berlatar belakang kebahasaanya berlainan dengan penutur.
3) Situasi
Ciri yang menonjol dalam campur kode adalah kesantaian atau situasi informal. Dalam situasi formal peristiwa campur kode kurang mendominasi.
4) Kebiasaan
Oleh karena seringnya dalam berceramah selalu menggunakan atau mencampurkan bahasa Pali atau lainya. Hal ini menyebabkan kebiasaan pada Y.M. Bhikkhu Uttamo untuk bercampur kode dalam setiap ceramahnya.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1Jenis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif atau disebut juga penelitian deskriptif. Oleh karena itu, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hal ini disebabkan karena data yang terkumpul dan dianalisis dipaparkan secara deskriptif.
Metode penelitian deskriptif memiliki beberapa ciri, antara lain (1) tidak mempermasalahkan benar atau salah objek yang dikaji, (2) penekanan pada gejala aktual atau pada yang terjadi pada saat penelitian dilakukan, dan (3) biasanya tidak diarahkan untuk menguji hipotesis.
Senada dengan pendapat Arikunto (2006: 194) yang menyatakan bahwa penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji suatu hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau keadaan. Dalam penelitian ini, data yang terkumpul berupa kata-kata dan bukan dalam bentuk angka. Maka dari itu, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Alasan lain bahwa penelitian ini merupakan pendekatan kualitatif adalah (1) penyajian hasil penelitian ini berupa penjabaran tentang objek, (2) pengumpulan data dengan latar alamiah, (3) peneliti menjadi instrument utama.
3.2Data Penelitian dan Sumber Data
Data penelitian ini berupa data tertulis yakni kata yang digunakan dalam berpidato oleh Y.M. Bhikkhu Uttamo. Sedangkan sumber data dalam penelitian ini bersumber dari ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo.
3.3Instrumen Penelitian
Peneliti disebut sebagai human interest mana kala peneliti tersebut berperan sebagai sebagai instrumen’ utama. Di dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai peneliti utama. Sebagai instrumen’ tambahan atau pelengkapnya, peneliti dibantu dengan perlengkapan laptop dan CD atau rekaman ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo.
3.4Metode Pengumpulan Data
Sebagaimana dikatakan Arikunto (2006) bahwa metode penelitian adalah cara yang dilakukan oleh peneliti dalam pengumpulan data penelitiannya. Oleh karena itu, keberhasilan dalam melakukan sebuah penelitian ilmiah sangat ditentukan oleh metode yang digunakan.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak, karena cara yang digunakan peneliti untuk memperoleh data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa (Mahsun, 2011: 92). Dalam hal ini yang disimak adalah penggunaan bahasa secara lisan yang bersumber dari ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo.
Selanjutnya untuk memperoleh data yang representatif dari metode simak ini digunakan beberapa teknik yakni sebagai berikut :
1. Teknik dasar : Teknik Sadap
Teknik dasar yang digunakan pada penelitian ini meliputi teknik sadap, yaitu penyimakan dengan meyadap penggunaan bahasa seseorang atau beberapa orang. Teknik sadap cara memperoleh data dengan menyadap dan menyimak penggunaan bahasa yang digunakan Y.M. Bhikkhu Uttamo dalam ceramahnya.
2. Teknik Lanjutan I : Teknik Rekam
Agar data yang diperoleh lebih akurat dibutuhakn teknik rekam dengan cara merekam tuturan dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo. Kemudian berdasarkan hasil rekaman tersebut dilakukan transkripsi data.
3. Teknik Lanjutan II : Teknik Catat
Di samping kegiatan perekaman penulis juga melakukan pencatatan. Pencatatan dilakukan langsung pada saat teknik kedua selesai digunakan dan pada saat perekaman sudah dilakukan. Kemudian dilanjutkan dengan menganalisis data.
3.5Metode Analisis Data
Setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan analisis data. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu metode yang menggambarkan suatu keadaan, hal-hal atau peristiwa
secara sistematis, aktual, dan akurat. Seperti yang diungkapkan oleh Djadjasudarma (1993: 8) yaitu “metode deskriptif adalah metode yang bertujuan membuat deskripsi, merupakan gambaran ciri-ciri data secara akurat sesuai dengan sifat alamiah itu sendiri.
Mengingat penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, maka analisisnya fokus pada penunjukkan makna, deskripsi, penjernihan, dan penempatan data pada konteksnya masing-masing dan sering kali melukiskannya dalam bentuk kata-kata daripada angka-angka (Mahsun, 2011: 257).
Lebih lanjut dalam (Moleong dan Aminudin,1990:14) Penelitian kualitatif yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan tentang orang-orang dengan perilaku yang dapat diamati.
Menurut Moleong (2012 :280) langkah-langkah atau proses analisis data secara umum dapat digunakan sebagai berikut :
“Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari beberapa sumber, kemudian langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat abstraksi. Langkah selanjutnya adalah menyusunnya dalam satuan-satuan kemudian dikategorikan pada langkah berikutnya. Tahap akhir dari analisis ini adalah pemeriksaan keabsahan data, stelah selesai tahap ini, mulailah tahap penafsiran data dalam mengelola hasil sementara menjadi teori subtansif dengan menggunakan beberapa metode tertentu.”
Berdasarkan pendapat Moleong di atas dapat dispesifikan langkah-langkah yang digunakan dalam analisis data penelitian ini yakni dimulai dengan mengklasifikasikan data dan kemudian mendekripsikan data tersebut
sesuai dengan permasalahan yang dibahas, khususnya dalam penelitian ini mengenai peristiwa campur kode (code Mixing). Kemudian setelah itu akan disimpulkan berdasarkan hasil analisis data tersebut.
3.6Metode Penyajian Data
Penyajian hasil penelitian ini menggunakan metode informal. Metode informal yaitu metode penyajian hasil analisis data berupa perumusan dengan menggunakan kata-kata biasa, termasuk penggunaan terminologi yang bersifat teknis (Mahsun, 2011: 224). Karena dalam penelitian ini, peneliti akan menyajikan hasil analisis data dengan menggunankan kata-kata.
Dengan menggunakan metode di atas, peneliti dapat menentukan bentuk campur kode bahasa Indonesia dengan bahasa Pali dan bahasa Inggris yang terjadi secara lebih praktis yakni melalui analisis sintaksi yang kemudian dilanjutkan dengan analisis semantik sehingga data yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat dengan mudah dimengerti.
BAB IV PEMBAHASAN
Pada bagian ini penulis akan membahas mengenai permasalahan-permasalahan yang telah dirumuskan pada rumusan masalah penelitian ini, yakni mendeskripsikan tentang bentuk campur kode, jenis campur kode, fungsi campur kode dan faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode dalam pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa utama yang terdapat dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo. Keempat permasalahan tersebut akan dibahasa secara lebih rinci di bawah ini :
4.1Bentuk Campur Kode
Peristiwa campur kode terjadi karena ketergantungan penutur terhadap pemakaian bahasa. Demikian pula yang terjadi dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo. Beliau sering mencampurkan beberapa bahasa pada setiap ceramahnya, baik itu pencampuran berupa bahasa Pali maupun bahasa Inggris ke dalam bahasa utama yakni bahasa Indonesia.
Berdasarkan data yang ditemukan, bentuk campur kode dalam pemakaian bahasa Indonesia pada ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo yaitu berupa kata, frasa, serta klausa. Berikut ini akan dijelaskan bentuk-bentuk campur kode tersebut.
4.1.1 Campur Kode Berupa Kata
Kata adalah satuan bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri. Berikut penulis akan menguraikan beberapa contoh bentuk campur kode yang menggunakan kata berupa nomina atau kata benda, verba atau kata kerja, dan adjektiva atau kata sifat dalam ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo.
A. Kata Benda (Nomina)
1. Kata sila /sila/ artinya “moralitas” Tabel 1
No. Data Campur
Kode
1
Saudara-saudara, sesungguhnya kehidupan
sebagai umat awam paling tidak harus berusaha
menjalankan lima sila dalam kehidupan
sehari-hari, karena dengan merawat sila akan timbul
kebahagiaan baik dalam kehidupan saat ini maupun kehidupan berikutnya.
...Sila...
Pembahasan :
Pada tabel 1 data di atas, terdapat proses pembentukan campur kode yang dilakukan dengan penyisipan berwujud kata berbahasa Pali yakni berupa kata dasar sila yang artinya adalah ‘moralitas’. Sedangkan kata-kata yang lainnya merupakan bahasa Indonesia. Jadi dapat dikatakan bahwa pada kutipan ceramah di atas terdapat peristiwa campur kode, yakni pencampuran dua bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa Pali.
2. Kata caga /caga/ artinya “dermawan” Tabel 2
No. Data Campur
Kode
2
Dipandang dari sudut lain, memberi dapat diidentifikasi sebagai sifat pribadi yang dermawan
atau caga.
...caga.
Pembahasan :
Pada tabel 2 data di atas, terdapat proses pembentukan campur kode (code mixing) dengan penyisipan berwujud kata berbahasa Pali yakni berupa kata dasar caga yang artinya adalah ‘dermawan’. Sedangkan kata-kata yang lainnya merupakan bahasa Indonesia. Jadi dapat dikatakan bahwa pada kutipan ceramah di atas terdapat peristiwa campur kode, yakni pencampuran dua bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa Pali.
3. Kata muditta /muditta/ artinya “simpati” Tabel 3
Pembahasan :
Pada tabel 3 data di atas, terlihat terjadinya proses
No. Data Campur
Kode
3
Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temukan kasus ketika ada orang lain mengalami kesusahan, misalnya tetangga kita kecelakaan jatuh dari sepeda motor, ada orang yang malah tertawa melihat tetangganya mengalami musibah bahkan ia berkata tu rasain tu, gaya sekali sih lho
bawa motor banyak gaya, dimana rasa
mudittanya orang seperti ini.
berwujud kata berbahasa Pali yakni berupa kata muditta yang artinya adalah ‘simpati’. Sedangkan kata-kata yang lainnya merupakan bahasa Indonesia. Jadi dapat dikatakan bahwa pada kutipan ceramah di atas terdapat peristiwa campur kode, yakni pencampuran dua bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa Pali.
4. Kata dukkha /du?kha/ artinya “penderitaan” Kata sukkha /su?kha/ artinya “kebahagiaan”
Tabel 4
No. Data Campur
Kode
4
Saudara-saudara kadang-kadang Anda juga melihat di dalam Dhamma atau melihat orang-orang yang mungkin kurang mempelajari Dhamma. Mengatakan bahwa Dhamma ini adalah ajaran yang pesimis, karena isinya
ngomong dukkha dukkha terussss. Kenapa tidak
ngomong sukha sukha terussss?.
...dukkha....
..
&
...sukha...
Pembahasan :
Pada data tabel 4 di atas, terlihat terjadinya proses pembentukan campur kode (code mixing) dengan ditandai adanya penyisipan berwujud kata berbahasa Pali yakni berupa kata dukkha yang artinya adalah ‘penderitaan’ dan kata sukha yang berarti ‘kebahagiaan’. Sedangkan kata-kata yang lainnya merupakan bahasa Indonesia. Jadi dapat dikatakan bahwa pada kutipan ceramah Y.M. Bhikkhu Uttamo di atas terdapat peristiwa campur kode, yakni pencampuran dua bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa Pali.
5. Kata moha /moha/ artinya “kebodohan” Tabel 5
No. Data Campur
Kode
5
Kalau manusia yang bermental hewan itu lebih
menonjol mohanya, keodohan batin yang tidak
bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar.
...mohanya.
...
Pembahasan :
Pada data yang terdapat pada tabel 5 di atas, terlihat terjadinya proses pembentukan campur kode (code mixing) dengan ditandai adanya penyisipan berwujud kata berbahasa Pali yakni berupa kata moha yang artinya adalah ‘kebodohan’. Sedangkan yang lainnya merupakan kata-kata berbahasa Indonesia. Jadi dapat dikatakan bahwa pada kutipan ceramah di atas terdapat peristiwa campur kode, yakni pencampuran dua bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa Pali.
6. Kata tanha /tanha/ artinya “nafsu keinginan” Tabel 6
No. Data Campur
Kode
6 Penyebab dari penderitaan adalah nafsu
keinginan, tanha itu sendiri .
...tanha...
Pembahasan :
Pada data yang terdapat pada tabel 6 di atas, terlihat terjadinya proses pembentukan campur kode (code mixing) dengan ditandai adanya penyisipan berwujud kata berbahasa Pali yakni berupa kata tanha yang artinya adalah ‘nafsu
keinginan’. Sedangkan kata-kata yang lainnya merupakan bahasa Indonesia. Jadi dapat dikatakan bahwa pada kutipan ceramah di atas terdapat peristiwa campur kode, yakni pencampuran dua bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa Pali.
7. Kata avijja /awijja/ artinya “kebodohan batin” Tabel 7
No. Data Campur
Kode
7
Jangan jadikan karena Avijja penyebab Anda
melakukan perbuatan buruk, tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.
...avijja...
Pembahasan :
Pada tabel 7 data di atas, terdapat proses pembentukan campur kode yang dilakukan dengan penyisipan sebuah kata berbahasa Pali yakni berupa kata avijja yang artinya adalah ‘kebodohan batin’. Sedangkan kata-kata yang lainnya merupakan bahasa Indonesia. Jadi dapat dikatakan bahwa pada kutipan ceramah di atas terdapat peristiwa campur kode, yakni pencampuran dua bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa Pali.
8. Kata problem /problem/ artinya “masalah” Tabel 8
No. Data Campur Kode
8
Jadi anda boleh sukses, anda boleh kaya, tidak ada problem wajar sekali bekerja mencari kekayaan adalah wajar.
...problem....
Pembahasan :
Pada tabel 8 data di atas, terdapat proses pembentukan campur kode yang dilakukan dengan penyisipan berwujud kata berbahasa Inggris yakni berupa kata dasar problem yang artinya adalah ‘masalah’. Sedangkan kata-kata yang lainnya merupakan bahasa Indonesia. Jadi dapat dikatakan bahwa pada kutipan ceramah di atas terdapat peristiwa campur kode, yakni pencampuran dua bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.
9. Kata action /aeksyen/ artinya “gaya atau aksi” Tabel 9
No. Data Campur Kode
9
Di dalam mobil disetel musik kemudian langsung begini (Bhikkhu Uttamo memeragakan sebuah ekspresi tertentu) itu juga lemah mental kita, cuma gayanya yang kuat, tidak perlulah
action di dalam mobil.
...action...
Pembahasan :
Pada tabel 9 data di atas, terdapat proses pembentukan campur kode (code mixing) dengan penyisipan berwujud kata berbahasa Inggris yakni berupa kata dasar action yang artinya adalah ‘gaya’. Sedangkan kata-kata yang lainnya merupakan bahasa Indonesia. Jadi dapat dikatakan bahwa pada kutipan ceramah di atas terdapat peristiwa campur kode, yakni pencampuran dua bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.
10.Kata ending /endiɳ/ artinya “akhir” Tabel 10
No. Data Campur Kode
20
Karena memang jadi Bhikkhu kan pelayanan sosial, orang yang stress sama mertua. yah cerita mertua yang stress sama menantu, yah cerita anak stress sama orang tua, yah cerita orang tua
stress punya anak juga cerita, nah endingnya
jadi bhikkhu khan mencoba memberi solusi.
...ending...
Pembahasan :
Pada tabel 10 data di atas, terdapat proses pembentukan campur kode yang dilakukan dengan penyisipan berwujud kata berbahasa Inggris yakni berupa kata dasar ending yang artinya adalah ‘akhir’. Sedangkan kata-kata yang lainnya merupakan bahasa Indonesia. Jadi dapat dikatakan bahwa pada kutipan ceramah di atas terdapat peristiwa campur kode, yakni pencampuran dua bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.
B. Kata Kerja (Verba)
1. Kata namaskara /namaskara/ artinya “sujud” Tabel 11
No. Data Campur Kode
11
Seandainya ada dalam agama Buddha yang
mengatakan sebelum kamu bernamaskara
atau bersujud di depan patung Buddha kamu belum umat Buddha, nanti ga saya kasih pelajaran agama Buddha, saya malah ga ikut agama Buddha. Tapi justru seninya di agama Buddha ini adalah walaupun kita ga ngerti patung Buddha, walaupun kita ga ngerti upacara dhamma, tapi apabila kita mau melaksanakan dan mau berubah itu sebetulnya kita sudah Buddhis dan ini yang membuat bagi saya agama Buddha memang layak untuk menjadi jalan hidup kita.
...bernamaskara
Pembahasan :
Pada data tabel 11 di atas, terlihat terjadinya proses pembentukan campur kode (code mixing) dengan ditandai adanya penyisipan berwujud kata berbahasa Pali yakni berupa kata berimbuhan bernamaskara yang artinya adalah ‘bersujud’. Sedangkan kata-kata yang lainnya merupakan bahasa Indonesia. Jadi dapat dikatakan bahwa pada kutipan ceramah di atas terdapat peristiwa campur kode, yakni pencampuran dua bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa Pali.
2. Kata dana /dana/ artinya “memberi” Tabel 12
No. Data Campur Kode
12
Sebagai contoh praktek dana akan mengikis kencedrungan kita terhadap keserakahan. Oleh karena itu, belajarlah untuk terbiasa melepas atau memberi kepada orang lain, pada lingkungan kita.
...dana...
Pembahasan :
Pada data yang terdapat pada tabel 12 di atas, terlihat terjadinya proses pembentukan campur kode (code mixing) dengan ditandai adanya penyisipan berwujud kata berbahasa Pali yakni berupa kata dana yang artinya adalah ‘memberi’. Sedangkan kata-kata yang lainnya merupakan bahasa Indonesia. Jadi dapat dikatakan bahwa pada kutipan ceramah
di atas terdapat peristiwa campur kode, yakni pencampuran dua bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa Pali.
3. Kata kataññu /katanyu/ “bersyukur” Tabel 13
No. Data Campur Kode
13 Hidup tanpa katannu adalah hidup tanpa
keceriaan.
...katannu...
Pembahasan :
Pada data yang terdapat pada tabel 13 di atas, terlihat terjadinya proses pembentukan campur kode (code mixing) dengan ditandai adanya penyisipan berwujud kata berbahasa Pali yakni berupa kata katannu yang artinya adalah ‘bersyukur’. Sedangkan kata-kata yang lainnya merupakan bahasa Indonesia. Jadi dapat dikatakan bahwa pada kutipan ceramah di atas terdapat peristiwa campur kode, yakni pencampuran dua bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa Pali.
C. Kata Sifat (Adjektiva)
1. Kata lobha /lobha/ artinya “serakah” Tabel 14
No. Data Campur
Kode
14
Nah...berdana memiliki nilai yang luar biasa
pentingnya dalam skema Buddhis untuk
pemurnian mental, karena berdana merupakan senjata yang ampuh untuk melawan yang
namanya lobha.
Pembahasan :
Pada data tabel 14 di atas, terlihat terjadinya proses pembentukan campur kode (code mixing) dengan ditandai adanya penyisipan berwujud kata berbahasa Pali yakni berupa kata lobha yang artinya adalah ‘serakah’. Sedangkan kata-kata yang lainnya merupakan bahasa Indonesia. Jadi dapat dikatakan bahwa pada kutipan ceramah di atas terdapat peristiwa campur kode, yakni pencampuran dua bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa Pali.
2. Kata hiri /hiri/ artinya “malu”
Arti yang dipahami oleh komunitas Buddhis adalah malu berbuat jahat.
Tabel 15
No. Data Campur Kode
15
Tanamkan dalam diri masing-masing rasa Hiri
itu saudara, rasa malu berbuat jahat. Mengapa kalau nonton berita TV sudah menjadi kebiasaan mendengar berita ada pembunuhan, ada pencurian, dan sebainya. Banyak korupsi dan lain-lain. Itu semua karena sudah tidak rasa malu berbuat jahat tersebut. Inilah harta batin yang pertama.
...hiri...
Pembahasan :
Pada data yang terdapat pada tabel 15 di atas, terlihat terjadinya proses pembentukan campur kode (code mixing) dengan ditandai adanya penyisipan berwujud kata berbahasa Pali yakni berupa kata hiri yang artinya adalah ‘malu’. Tetapi arti yang dipahami oleh umat Buddha adalah malu berbuat