Semnaskan-UGM XV | Dewan Redaksi - iii PROSIDING
SEMINAR NASIONAL TAHUNAN XV
HASIL PENELITIAN PERIKANAN DAN KELAUTAN TAHUN 2018 JILID I : BUDIDAYA PERIKANAN
DEWAN REDAKSI
Diterbitkan oleh : Departemen Perikanan - Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Penanggung jawab : Ketua Departemen Perikanan – Fakultas Pertanian UGM
Pelindung : Jamhari, S.P., M.P., Dr. Penyunting : Alim Isnansetyo, Ir., M.Sc., Dr.
Alimuddin, Ir., M.Sc., Dr. Amir Husni, S.Pi., M.P., Dr. Bambang Triyatmo, Ir., M.P., Dr. Bejo Slamet, Drs., M.Si.
Charles P. H. Simanjutak, S.Pi., M.Si., Ph.D. Dini Wahyu Kartika Sari, S.Pi., M.Si., Ph.D. Djumanto, Ir., M.Sc., Dr.
Dwiyitno, Dr.
Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., Dr. Ervia Yudiati, Ir, M.Sc., Dr. Fajar Basuki, Ir., M.S., Dr. Farida Ariyani, Ir., M.App.Sc. Fronthea Swastawati, Ir., M.Sc., Dr. Hamdan Syakuri, S.Pi., M.Si., Dr. rer.nat Ign. Hardaningsih, Ir, M.Si., Dr.
Indah Istiqomah, S.Pi., M.Sc., Ph.D. Indun Dewi Puspita, S.P., M.Sc., Ph.D. Latif Sahubawa, Dr., Ir., M.Si.
M.F. Raharjo, Ir., Dr., Prof. Mala Nurilmala, S.Pi., M.Si., Dr. Muhammad Nursid, S.Pi., M.Si., Dr. Munasik, Ir., M.Sc., Dr.
Murwantoko, Ir., M.Si., Dr. Namastra Probosunu, Drs., M.Si. Nurfitri Ekantari, S.Pi., M.P., Dr.
Nurjanah, Ir., M.S., Dr., Prof.
R.A. Siti Ari Budhiyanti, S.TP., M.P., Dr. Riza Y. Setyawan, S.Kel., M.Sc., Dr. rer.nat. Rustadi, Ir., M.Sc., Dr., Prof.
iv - Semnaskan-UGM XV | Dewan Redaksi
Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2018 Sarjito, Ir., M.App.Sc., Dr.
Satrijo Saloko, Ir., M.P., Dr. Senny Helmiyati, S.Pi., M.Sc.
Sharifuddin Bin Andy Omar, M.Sc., Dr, Prof Suadi, S.Pi., M.Sc., Ph.D.
Subaryono, Ir., M.A., Ph.D. Triyanto, Ir., M.Si., Dr.
Tuty Arisuryanti, Dra., M.Sc., Ph.D. Ustadi, Ir., M.P., Dr., Prof.
Redaksi Pelaksana : Dini Wahyu Kartika Sari, S.Pi., M.Si., Ph.D. Faizal Rachman, S.Si., M.Sc.
Anes Dwi Jayanti, S.Pi., M.Si.
Susana Endah Ratnawati, S.Pi., M.Si. Afif Whelly Artissandi
Cahyaningtyas Dwi Umayah Feni Susanti
Tribuana Maharani Muria
Alamat Redaksi : Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM Jl. Flora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Semnaskan-UGM XV | ISSN - v Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Seminar Nasional Tahunan XIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (2018:Yogyakarta) Prosiding Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan Tahun 2018
Jilid I: Budidaya Perikanan
Penyunting Isnansetyo, A... (et al.) Yogyakarta
Departemen Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, 2018
ISSN: 2477-6327
1.
Isnansetyo, A.
@ Hak Cipta dilindungi undang-undang All rights reserved
Penyunting: Isnansetyo, A. et al. Diterbitkan oleh:
Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2018
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin dari penyunting
Semnaskan-UGM XV | Kata Pengantar - vii KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselenggaranya “SEMINAR NASIONAL TAHUNAN XV HASIL PENELITIAN PERIKANAN DAN KELAUTAN TAHUN 2018” Departemen Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Pengembangan IPTEK yang bersifat dasar, strategis, terapan dan adaptif dalam bidang perikanan dan kelautan serta dukungan kelembagaan yang kuat sangat diperlukan untuk menunjang pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kegiatan seminar nasional tahunan hasil penelitian perikanan dan kelautan dilaksanakan dalam rangka inventarisasi penelitian-penelitian yang telah dilakukan dan mengetahui teknologi yang telah dihasilkan.
Makalah yang dipresentasikan pada seminar telah melalui tahap seleksi abstrak dan berjumlah kurang lebih 300 makalah dari berbagai perguruan tinggi, instansi pemerintah, lembaga penelitian dan pengembangan baik pemerintah maupun swasta. Makalah yang dipresentasikan sebagian diterbitkan dalam Prosiding dan dalam bentuk jurnal yang dikelola oleh Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Makalah-makalah yang diterbitkan dalam prosiding ini telah dievaluasi oleh reviewer, dewan redaksi dan diperbaiki melalui proses koreksi substansi, penyuntingan, penyeragaman sistematika, pembetulan pengetikan dan pengaturan tata letak.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada: 1. Rektor Universitas Gadjah Mada
2. Dekan Fakultas Pertanian UGM 3. Ketua Departemen Perikanan UGM 4. Pemakalah dan peserta dalam seminar ini
5. Semua pihak yang turut serta dalam mensukseskan seminar dan membantu penerbitan prosiding ini.
Akhirnya, kami mohon maaf apabila ada kekurangan dalam penyelenggaraan seminar maupun penyajian prosiding ini. Harapan kami, semoga prosiding ini dapat bermanfaat.
Yogyakarta, November 2018 Tim Penyunting
Semnaskan-UGM XV | Daftar Isi - ix DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Dewan Redaksi ... iii
ISSN ... v
Kata Pengantar ... vii
Daftar Isi ... ix BIDANG BUDIDAYA PERIKANAN A (PAKAN & GENETIKA)
BA-02 PEMBESARAN LOBSTER PASIR (Panulirus homarus) DI BAK FIBERGLASS DENGAN PERBEDAAN PAKAN
Bejo Slamet
1 BA-06 PERFORMA PERTUMBUHAN POST-JUVENILE IKAN BETOK (Anabas
testudineus) KETURUNAN F1 DAN F2 PADA FASE PENDEDERAN Helmizuryani, Iin S. Aminah, Boby Muslimin dan Khusnul Khotimah
9 BA-08 DISEMINASI TEKNOLOGI PEMBENIHAN KERAPU DI KABUPATEN
HALMAHERA UTARA Suko Ismi dan Jhon H. Hutapea
17 BA-19 APLIKASI PAKAN PADA PEMELIHARAAN BENIH ABALON, Haliotis
squamata
Ibnu Rusdi dan Muhammad Marzuqi
25
BIDANG BUDIDAYA PERIKANAN B
BB-09 PENGARUH DOSIS PROBIOTIK PADA PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN LELE (Clarias sp.) TAHAP PEMBESARAN Puspita Dewi, Bambang Triyatmo dan Indah Istiqomah
33 BB-11 PENGARUH BOBOT BIBIT DAN JARAK TANAM TERHADAP
PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT Gelidium corneum Muslimin, Nelly H. Sarira dan Petrus R. Pong-Masak
45 BB-12 PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI PAKAN IKAN GURAMI (Osphronemus
goramy Lac.) YANG DIPUASAKAN SECARA PERIODIK Andi M. Ismail
53 BB-19 UJI KETAHANAN IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypophthalmus)
GENERASI KEDUA HASIL SELEKSI PADA PH EKSTRIM Jadmiko Darmawan, Priadi Setyawan, Evi Tahapari dan Suharyanto
59 BB-20 PENGARUH DOSIS EKSTRAK KASAR KEMANGI (Ocimum basilicum)
DAN LAMA WAKTU PERENDAMAN YANG BERBEDA DALAM PROSES ANESTESI TERHADAP KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN MAS KOKI (Carassius auratus)
Maheno S. Widodo dan Pardina Y. Wardani
65
BIDANG BUDIDAYA PERIKANAN C
BC-03 HUBUNGAN PANJANG–BERAT DAN FAKTOR KONDISI IKAN PATIN JAMBAL (Pangasius djambal) G1 HASIL SELEKSI
Jadmiko Darmawan dan Evi Tahapari
x - Semnaskan-UGM XV | Daftar Isi
Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2018
BC-09 STUDI KEMATIAN IKAN KERAPU HIBRID (Epinephelus sp.) YANG DIBUDIDAYAKAN PADA KOLAM SEMEN
Ratna A. Kurniasih dan Nanda R. Prasetiawan
83 BC-16 UJI KETAHANAN IKAN GURAMI HIBRID DAN NON HIBRID
TERHADAP INFEKSI BUATAN DENGAN BAKTERI Mycobacterium fortuitum DAN Aeromonas hydrophila
Desy Sugiani, Otong Z. Arifin, Akhmad Yani, Asependi dan Ade Hendrik
95
BC-18 POTENSIAL BAKTERI HETEROTROF SEBAGAI ANTI BAKTERI PATOGEN PADA UDANG DAN IKAN
Feliatra, Nursyirwani, Iesye Lukystiowaty dan Andre P. Zimma
101
BIDANG POSTER BUDIDAYA
PB-02 PENGARUH JENIS TALI PENGIKAT RUMPUN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT Halymenia sp. Siti Fadilah dan Wiwin K. P. Sari
109 PB-03 ANALISIS KEANEKARAGAMAN MAKROALGA DI PERAIRAN TANJUNG
BENOA, BALI
Siti Fadilah dan Pustika Ratnawati
115 PB-04 EFEK PERENDAMAN EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica papaya
Linn) DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN LELE DUMBO (Clarias
gariepinus) UMUR 11 SAMPAI 25 HARI YANG DIINFEKSI Aeromonas hydrophila
Maria Agustini, Muhajir, Ully Wulandari dan Mohamad Fathoni
123
PB-05 TEKNOLOGI TRANSPORTASI TERTUTUP DENGAN DURASI PENGANGKUTAN BERBEDA PADA BENIH IKAN MAS RAJADANU Cyprinus carpio
Deni Radona dan Irin I. Kusmini
133
PB-06 PENGAMATAN PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT DENGAN METODE LONG LINE DI PERAIRAN BOLAANG MONGONDOW PROVINSI SULAWESI UTARA
Muslimin dan Wiwin K. P. Sari
139
PB-07 PERKEMBANGAN LARVA IKAN KERAPU RAJA SUNU, Plectropoma laevis YANG DIBERI PAKAN ROTIFER SAJA DAN KOMBINASI ROTIFER DENGAN KOPEPODA ASAL TAMBAK
Regina Melianawati dan Bejo Slamet
147
PB-08 PENINGKATAN PRODUKTIVITAS IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypophthalmus) MENGGUNAKAN BENIH HASIL SELEKSI YANG DIPELIHARA DI KOLAM TEMBOK
Evi Tahapari dan Jadmiko Darmawan
155
PB-09 SIFAT FISIK PAKAN IKAN LELE (Clarias sp.) PADA BEBERAPA FORMULA
Putri Wullandari, Naila Zulfia dan Toni D. Novianto
161 PB-10 PENGARUH PEMBERIAN PAKAN ALAMI TERHADAP WARNA DAN
PEFORMA IKAN LEMON (Labidochromis caeruleus Fryer 1959) Faris Ramdan Wibisono, Senny Helmiat dan Ign. Hardaningsih
Semnaskan-UGM XV | Daftar Isi - xi Daftar Peserta ... 231 Indeks Penulis ... 235 Indeks Kata Kunci ... 237 PB-11 PENINGKATAN KUALITAS BIBIT RUMPUT LAUT Gracilaria verrucosa
MELALUI METODE SELEKSI VARIETAS DI PALOPO (SULAWESI SELATAN)
Nova F. Simatupang, Petrus R. Pong-Masak dan Pustika Ratnawati
175
PB-12 PENGARUH DOSIS PERENDAMAN PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT Eucheuma denticulatum
Nelly H. Sarira dan Pustika Ratnawati
185 PB-13 PENENTUAN JARAK ANTAR RUMPUN DALAM BUDIDAYA RUMPUT
LAUT Sargassum sp. DENGAN METODE LONG LINE DI PERAIRAN TABULO SELATAN, GORONTALO
Wiwin K. P. Sari dan Muslimin
193
PB-14 HUBUNGAN PANJANG DAN BOBOT IKAN GURAMI (Osphronemus goramy) DARI EMPAT DAERAH BERBEDA SELAMA TIGA BULAN PEMELIHARAAN
Rita Febrianti, Sularto dan Nunuk Listiyowati
199
PB-15 EFEKTIFITAS PEMBERIAN MINERAL KALSIUM TERHADAP PERKEMBANGAN LARVA UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) STRAIN GI MACRO II
Fajar Anggraeni, Hary Krettiawan, Dessy N. Astuti dan Asep Sopian
209
PB-17 PERFORMA LARVA UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii, De Man 1879) STRAIN GI MACRO II DAN ASAHAN
Dessy N. Astuti, Fajar Anggraeni, Hary Krettiawan dan Asep Sopian
213 PB-18 KERAGAAN LARVA UDANG GALAH TUMBUH CEPAT DAN MATANG
KELAMIN LAMBAT GENERASI KETIGA (G3)
Asep Sopian, Fajar Anggraeni, Hary Krettiawan dan Ahmad A. Akbar
219 PB-19 PENINGKATAN JANTAN FUNGSIONAL INDUK KERAPU SUNU
(Plectropomus leopardus) DENGAN IMPLANTASI HORMON 17 α MT DALAM MENDUKUNG USAHA PRODUKSI BENIH SECARA BERKELANJUTAN
Tony Setia Dharma, Gigih S. Wibawa dan Sari B. Moria
Semnaskan-UGM XV | Poster Budidaya Perikanan (PB-03) - 115 Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2018
PB - 03 ANALISIS KEANEKARAGAMAN MAKROALGA DI PERAIRAN TANJUNG BENOA, BALI
Siti Fadilah* dan Pustika Ratnawati Loka Riset Budidaya Rumput Laut
*e-mail: [email protected] Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman makroalga di Perairan Tanjung Benoa, Bali. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2017. Pengamatan makroalga menggunakan transek garis sepanjang 50 m dan transek kuadran 1 m² dengan jarak antar kuadran 4 m. Identifikasi dilakukan dengan membandingkan spesies yang ditemukan dengan buku dan website identifikasi. Variabel-variabel lingkungan yang diukur secara in situ meliputi suhu, salinitas, kecepatan arus dan derajat keasaman (pH). Sementara variabel yang diukur secara ex situ adalah nitrat, fosfat, amoniak, TSS, BOD dan COD. Hasil penelitian mengidentifikasi ada 14 spesies makroalga yang terdiri dari 4 spesies dalam kelompok Chlorophyta, 4 spesies termasuk dalam Phaeophyta dan 6 spesies termasuk Rhodophyta. Spesies makroalga dengan kelimpahan tertinggi adalah Ulva lactuca. Kandungan fosfat dan nitrat perairan sangat tinggi dibandingkan standar kelayakan untuk biota laut (lamun) menurut peraturan daerah setempat. Keanekaragaman makroalga di pantai Tanjung Benoa ini termasuk dalam kategori sedang yang mengindikasikan kondisi ekosistem seimbang dan tekanan ekologis sedang.
Kata kunci: keanekaragaman, kelimpahan, makroalga, Tanjung Benoa Pengantar
Perairan laut Indonesia dikenal memiliki kekayaan sumber daya hayati yang melimpah. Keanekaragaman hayati yang tinggi tersebut dipengaruhi oleh letak geografis yang strategis, variasi iklim musiman, interaksi lintasan arus dari samudera Hindia dan Pasifik, keragaman tipe habitat dan ekosistem di dalamnya (Mulyana & Dermawan, 2008). Salah satu sumber dayati yang melimpah tersebut adalah makroalga. Weber van Bosse dalam ekspedisi Siboga tahun 1899-1900 telah melaporkan sekitar 629 spesies makroalga di perairan Indonesia-Malaysia. Makroalga tersebut terdiri dari sekitar 138 jenis alga hijau, 94 jenis alga coklat, dan 397 jenis alga merah (Luning, 1990).
Makroalga telah menjadi komoditi ekonomi untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Sejak lama beberapa spesies makroalga telah dimanfaatkan untuk bahan makanan bagi manusia, misalnya Ulva dan Caulerpa. Sementara spesies makroalga lainnya diketahui memiliki kandungan hidrokoloid yang digunakan di berbagai industri seperti farmasi dan kosmetik. Hidrokoloid yang bernilai tersebut yaitu karaginan, agar dan alginat.
Meskipun keanekaragaman makroalga tinggi, masih sedikit spesies makroalga yang dapat dibudidayakan oleh manusia. Makroalga yang telah umum dibudidayakan misalnya Gracilaria sebagai penghasil agar dan Kappaphycus alvarezii sebagai penghasil kappa karaginan. Beberapa spesies lainnya, seperti Gelidium dan Sargassum, dipanen dari alam. Pemanenan dari alam ini dapat mengganggu ekosistem jika over eksploitasi.
Penyebaran spesies makroalga di alam mengikuti kondisi perairan dan substrat di suatu lokasi. Tanjung Benoa yang dipilih sebagai lokasi pengamatan merupakan salah satu daerah pantai di Bali yang telah beralih fungsi menjadi kawasan wisata. Pantai Tanjung Benoa ditetapkan sebagai salah satu kawasan wisata bahari dengan daya tarik wisata berupa keindahan alam bawah laut dan aktivitas olahraga air (Nuryasa et al., 2017). Berdasarkan informasi dari pembudidaya rumput laut Barong (Halymenia sp.) di Bali, perairan Tanjung Benoa menjadi salah satu lokasi untuk koleksi bibit awal Halymenia dari alam. Halymenia merupakan salah satu jenis makroalga yang menjadi kandidat jenis rumput laut baru yang dibudidayakan.
116 - Semnaskan-UGM XV | Fadilah & Ratnawati
dalam pengembangan budidaya jenis rumput laut baru yang koleksi awalnya dari alam serta untuk pengelolaan sumberdaya plasma nutfah rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman makroalga di Perairan Tanjung Benoa, Bali.
Bahan dan Metode
Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-September 2017 dengan lokasi pengamatan adalah di perairan Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Pengamatan dilakukan di area di sekitar koordinat 8°45’30,7’’ LS dan 115°13’38,1’’ BT (Gambar 1). Pengamatan kelimpahan makroalga ini dilakukan dengan metode transek. Transek garis dibentangkan sepanjang 50 m tegak lurus terhadap garis pantai dan transek kuadran diletakkan di sisi kanan dan kiri transek garis. Jarak antar transek kuadran sejauh 4 m. Transek kuadran berukuran 1 × 1 m terbuat dari pipa PolyVinil Chloride (PVC) berdiameter ½ inchi yang dibagi menjadi 9 plot.
Gambar 1. Lokasi pengamatan kelimpahan makroalga di perairan Tanjung Benoa, Bali. Pengamatan makroalga dilakukan saat perairan surut dengan mengikuti jadwal pasang surut yang dikeluarkan oleh pihak berwenang setempat (Gambar 2). Berdasarkan informasi, waktu yang tepat untuk melakukan pengamatan di lokasi adalah saat ketinggian air di bawah 1 m, sehingga pengamatan dilakukan setelah pukul 13.00 WITA hingga 17.30 WITA.
Gambar 2. Dinamika ketinggian air laut di daerah Benoa (08°44’40’’ S - 115°12’38’’ T). Garis putus-putus menunjukkan waktu pengamatan.
Jenis rumput laut serta penutupan rumput laut yang ditemukan dalam tiap luasan transek kuadran dicatat. Rumput laut diambil dari lokasi dan diidentifikasi. Identifikasi spesies makroalga dilakukan dengan membandingkan spesies yang ditemukan di lokasi dengan buku dan website identifikasi. Buku yang digunakan adalah “FAO Species Identification Guide for Fishery Purposes” dan website “Algaebase.org”.
Pengukuran variabel kualitas lingkungan dilakukan di sekitar transek. Variabel-variabel lingkungan yang diukur secara langsung di lapangan (in situ) meliputi suhu (°C), salinitas (mg/l), kecepatan arus (cm/detik) dan derajat keasaman (pH). Sementara variabel yang diukur di laboratorium (ex situ) adalah nitrat, fosfat, amoniak, TSS, BOD dan COD.
Semnaskan-UGM XV | Poster Budidaya Perikanan (PB-03) - 117 Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2018 Keanekaragaman makroalga dihitung dengan menggunakan beberapa persamaan, yaitu: Kerapatan relatif (KR)
Kerapatan dihitung dengan menghitung jumlah individu setiap spesies makroalga pada luasan. Kerapatan relatif dihitung dengan membagi kerapatan suatu spesies dengan kerapatan seluruh spesies:
Penutupan relatif (DR)
Penutupan relatif (DR) dihitung dengan membandingkan antara penutupan suatu spesies dengan penutupan seluruh spesies:
Frekuensi relatif (FR)
Frekuensi relatif (FR) dihitung dengan membandingkan antara frekuensi suatu spesies dengan frekuensi seluruh spesies:
Indeks Nilai Penting (INP)
Indeks Nilai Penting (INP) menggambarkan pentingnya peranan suatu spesies dalam komunitas. INP dihitung dengan rumus:
Indeks keanekaragaman jenis (H)
Untuk mengetahui indeks keanekaragaman jenis makroalga menggunakan rumus indeks keanekaragaman Shannon-Wienner:
dimana :
H’ : Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener ni : Jumlah individu jenis ke-i
N : Jumlah individu seluruh jenis t : Jumlah spesies
H’< 1 : Keanekaragaman rendah, distribusi tiap jenis rendah, stabilitas komunitas rendah, tekanan ekologi tinggi
1≤H’≤3 : Keanekaragaman sedang, distribusi tiap jenis sedang, stabilitas komunitas sedang, tekanan ekologi sedang
H’ > 3 : Keanekaragaman tinggi, distribusi tiap jenis tinggi, stabilitas komunitas tinggi, tekanan ekologi rendah
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan di perairan Tanjung Benoa ditemukan 14 spesies makroalga dari 3 (tiga) divisi dengan jumlah total individu sebanyak 890 individu. Jumlah spesies yang ditemukan ini lebih banyak daripada penelitian yang dilaporkan oleh Herlinawati et al. (2018) di perairan Pulau Serangan, Denpasar Selatan, Bali yaitu 12 spesies. Namun bila dibandingkan dengan penelitian yang dilaporkan Sulistijo & Atmadja (1980) di Tanjung Benoa ditemukan 43 spesies maka jumlah spesies yang ditemukan di penelitian ini lebih sedikit. Divisi Chlorophyta terdiri atas 2 ordo, 3 famili dan 4 spesies; Phaeophyta terdiri atas 1 ordo, 1
100% Jumlah Individu Jenis A
KR
Jumlah Individu Seluruh Jenis
= ×
100%
DR Penutupan Individu Jenis A Jumlah Penutupan Seluruh Jenis
= ×
100% Frekuensi Jenis A
FR
Frekuensi Seluruh Jenis
= × INP KR= + FR + DR ' t .ln i ni ni H N N =
∑
118 - Semnaskan-UGM XV | Fadilah & Ratnawati
famili dan 4 spesies; Rhodophyta terdiri atas 6 ordo, 6 famili dan 6 spesies (Tabel 1). Proporsi spesies dari masing-masing divisi yaitu dari Chlorophyta 28,57%, Phaeophyta 28,57% dan Rhodophyta 42,86%. Rhodophyta ditemukan terbanyak dibandingkan divisi lainnya karena kelimpahan spesies makroalga ini di perairan Indonesia memang lebih tinggi yaitu sekitar 63% (Luning, 1990).
Tabel 1. Beberapa jenis makroalga yang ditemukan di perairan Tanjung Benoa, Bali.
CHLOROPHYTA RHODOPHYTA PHAEOPHYTA
Ordo Ulvales Famili Ulvaceae Ulva lactuca Ordo Bryopsidales Famili Caulerpaceae Caulerpa lentillifera Caulerpa sertularioides Famili Halimedaceae Halimeda macroloba Ordo Gracilariales Famili Gracilariaceae Gracilaria sp. Ordo Gelidiales Famili Pterocladiaceae Pterocladia sp. Ordo Gigartinales Famili Cystocloniaceae Hypnea sp. Ordo Ceramiales Famili Rhodomelaceae Laurencia papillosa Ordo Halymeniales Famili Halymeniaceae Halymenia durvillaei Ordo Corallinales Famili Corallinaceae Amphiroa sp. Ordo Dictyotales Famili Dictyotaceae Dictyopteris sp. Dictyota dichotoma Dictyota bartayresiana Padina australis
Spesies yang termasuk dalam divisi Chlorophyta atau alga hijau yaitu Caulerpa sertulariodes, Halimeda macroloba, Caulerpa lentillifera dan Ulva lactuca (Tabel 1). Umumnya, makroalga di divisi ini berwarna hijau hingga hijau kekuningan karena didominasi oleh klorofil (Dasgupta, 2015). Caulerpa sertulariodes mempunyai tampilan khas pada blade-nya yang seperti bulu unggas. Halimeda macroloba seperti kepingan lempengan yang tersusun dari struktur keras berkalsium. Caulerpa lentillifera mempunyai tampilan seperti buah anggur (sea grape) yang tersusun memadat pada cabang tegaknya. Sementara itu Ulva lactuca tersusun dari lembaran-lembaran tipis transparan yang berkilau.
Spesies yang termasuk dalam divisi Phaeophyta atau alga cokelat yaitu Dictyota dichotoma, Dictyota bartayresiana dan Dictyopteris sp. dan Padina australis (Tabel 1). Umumnya, makroalga ini berwarna cokelat, cokelat pucat hingga cokelat kemerahan karena didominasi pigmen fucoxanthin (Dasgupta, 2015). Dictyota dichotoma, Dictyota bartayresiana dan Dictyopteris sp. mempunyai kemiripan pada bentuk talusnya yang mempunyai percabangan dua-dua. Sementara, Padina australis mempunyai bentuk khas seperti kipas dengan talus lembaran tipis yang bersegmen-segmen.
Kelompok Rhodophyta (alga merah) mendominasi spesies makroalga yang ditemukan di lokasi pengamatan. Spesies makroalga yang termasuk dalam Rhodophyta yaitu Gracilaria sp., Pterocladia sp., Hypnea sp., Halymenia durvillei, Amphiroa sp. dan Laurencia papillosa (Tabel 1). Makroalga ini umumnya berwarna merah, merah kekuningan, hingga merah gelap kehijauan karena dominasi pigmen phycoerythrin dan phycocyanin (Dasgupta, 2015). Gracilaria sp. memiliki talus silindris yang panjang, percabangan tidak teratur, dan berwarna hijau sampai coklat. Pterocladia sp. mempunyai talus pipih, banyak percabangan, permukaan talus kasar dan berwarna merah. Hypnea sp. mempunyai talus seperti serabut dan percabangan tidak teratur. Halymenia durvillei mempunyai talus pipih dengan banyak percabangan dan berwarna merah kecoklatan. Amphiroa sp. mempunyai talus tegak, percabangan tidak teratur, keras dan berwarna merah. Laurencia papillosa memiliki talus yang tertutup ramuli bulat dalam jumlah banyak, percabangan tidak teratur, berwarna cokelat.
Semnaskan-UGM XV | Poster Budidaya Perikanan (PB-03) - 119 Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2018 Tabel 2. Nilai kelimpahan dan keanekaragaman makroalga di perairan Tanjung Benoa, Bali.
No Nama makroalga Kerapatan relatif (%) Frekuensi relatif (%) Dominansi relatif (%) INP (%) H’
1 Ulva lactuca 52,70 47,70 7,07 107,46 0,338 2 Gracilaria sp. 11,80 11,29 28,47 51,56 0,072 3 Pterocladia sp. 8,76 10,37 30,08 49,21 0,217 4 Dictyopteris sp. 8,54 8,76 22,90 40,19 0,114 5 Caulerpa sertularioides 8,99 10,14 3,37 22,50 0,213 6 Hypnea sp. 3,37 4,84 0,72 8,93 0,019 7 Halimeda macroloba 1,80 1,84 1,54 5,18 0,038 8 Halymenia durvillaei 0,45 0,92 2,17 3,54 0,024 9 Amphiroa sp. 0,79 1,38 1,27 3,43 0,252 10 Dictyota dichotoma 0,79 0,23 1,27 2,28 0,029 11 Caulerpa lentillifera 0,79 1,15 0,21 2,15 0,038 12 Padina australis 0,56 0,69 0,48 1,74 0,210 13 Laurencia papillosa 0,34 0,46 0,29 1,09 0,038 14 Dictyota bartayresiana 0,34 0,23 0,16 0,73 0,019 Jumlah 100,00 100,00 100,00 300,00 1,622
Nilai frekuensi relatif spesies makroalga pada Tabel 2 menunjukkan bahwa Ulva lactuca ditemukan hampir di sebagian area dengan memiliki nilai frekuensi tertinggi sebesar 47,70%. Sebanyak 3 (tiga) spesies makroalga memiliki nilai frekuensi sebesar 10-20%, sedangkan sebanyak 10 spesies makroalga jarang ditemukan yang ditunjukkan dengan nilai frekuensi kurang dari 10%.
Nilai kerapatan (kelimpahan) relatif menunjukkan bahwa makroalga U. lactuca memiliki nilai kelimpahan relatif tertinggi yaitu 52,70%. Sementara spesies makroalga lainnya memiliki nilai kelimpahan relatif yang termasuk dalam kategori rendah.
Berbeda dari dua nilai sebelumnya, nilai dominansi relatif untuk U. lactuca rendah dan berada di bawah 10%. Berdasarkan pengamatan, morfologi U. lactuca yang ditemukan kebanyakan dalam tahap baru tumbuh dan tahap pembesaran sehingga area penutupan menjadi lebih sempit. Sementara itu meskipun tidak melimpah, Pterocladia dan Gracilaria mempunyai dominansi relatif yang tinggi dibandingkan spesies lainnya karena secara morfologi keduanya mempunyai talus yang rimbun dan lebih besar daripada U. lactuca sehingga area penutupan lebih luas.
INP (Indeks Nilai Penting) merupakan parameter kuantitatif yang digunakan untuk menyatakan tingkat dominansi spesies dalam suatu komunitas. Berdasarkan hasil perhitungan, terlihat bahwa U. lactuca menjadi spesies paling dominan di lokasi pengamatan dengan nilai INP tertinggi yaitu 107,46%. Berdasarkan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H’), keanekaragaman makroalga di Tanjung Benoa ini termasuk kategori sedang (1 < H’ < 3). Nilai tersebut menjelaskan bahwa perairan Tanjung Benoa memiliki kondisi ekosistem seimbang dan tekanan ekologis sedang.
Selama pengamatan berlangsung, suhu perairan rata sekitar 27,5 °C, salinitas rata-rata sekitar 34,5 ppt, pH rata-rata-rata-rata 8,25 dan kecepatan arus rata-rata-rata-rata 0,77 m/detik (Tabel 3). Parameter yang tampak menonjol adalah kandungan nitrat dan fosfat. Fosfat mencapai 3,34 mg/l, sedangkan nitrat mencapai 6,80 mg/l. Kecerahan perairan teramati 100% dan biota asosiasi yang mendominasi berupa lamun (seagrass) serta dasar perairan berpasir dan berbatu. U. lactuca, Gracilaria sp. dan Dictyopteris sp. banyak ditemukan berasosiasi dengan lamun. Menurut Santoso et al. (2018), lamun yang tumbuh di perairan Tanjung Benoa adalah jenis Thalassia hemprichii.
120 - Semnaskan-UGM XV | Fadilah & Ratnawati Tabel 3. Kualitas perairan di Tanjung Benoa, Bali.
Variabel Nilai Lamun*) Wisata bahari*)
TSS (mg/l) 19,33 ± 2,31 20 20 Amoniak (mg/l) 0,07 ± 0,01 0,3 nihil BOD (mg/l) 33,41 ± 4,56 20 10 COD (mg/l) 81,22 ± 1,44 <20 Fosfat (mg/l) 3,34 ± 0,41 0,015 0,015 Nitrat (mg/l) 6,80 ± 0,28 0,008 0,008 Arus (m/detik) 0,77 ± 0,06 Salinitas (ppt) 34,5 ± 0,55 33-34 alami pH 8,25 ± 0,05 7-8,5 7-8,5 Suhu (°C) 27,5 ± 0,84 28-30 alami
*)Pergub Bali No 16 tahun 2016
Kondisi ekosistem hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil pengamatan diversitas lamun di perairan Tanjung Benoa yang dilakukan Faiqoh & Atmaja (2015). Hasil pengamatan melaporkan 9 jenis lamun di Tanjung Benoa dengan komunitas labil. Aktivitas manusia dari wisata laut dapat memberikan tekanan ekologis bagi ekosistem lamun. Sedikit perubahan lingkungan akan mengubah ekosistem lamun.
Sementara itu kandungan nitrat dan fosfat di perairan adalah variabel penting untuk makroalga. Berdasarkan hasil analisis kualitas air, nitrat dan fosfat di lokasi pengamatan menunjukkan nilai yang sangat tinggi dibandingkan dengan standar kelayakan untuk biota laut (lamun) menurut Peraturan Gubernur Bali No. 16 tahun 2016. Hal ini mengindikasikan kemungkinan nutrisi perairan pada waktu tersebut berada pada level tinggi atau telah terjadi eutrofikasi. Diduga eutrofikasi terjadi akibat aktivitas wisata, limbah domestik dan transportasi di sekitar perairan.
Tanjung Benoa merupakan obyek wisata yang dikhususkan untuk olahraga air. Selain itu di kawasan Tanjung Benoa ini juga didirikan beberapa hotel yang memberikan fasilitas penginapan pada wisatawan serta terdapat kawasan pemukiman penduduk sekitar. Diduga limbah domestik dari hotel dan penduduk telah menyumbang terjadinya eutrofikasi ini. Hal inilah juga yang diduga menjadi penyebab bloomingnya makroalga spesies U. lactuca.
Gambar 3. Curah hujan tahun 2016 hingga 10 September 2017. Sumber: BMKG, lokasi pengamatan stasiun meteorologi Ngurah Rai (08°44’45’’ LS - 115°10’09’’ BT).
Semnaskan-UGM XV | Poster Budidaya Perikanan (PB-03) - 121 Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 28 Juli 2018
Gambar 4. Kecepatan angin tahun 2016 hingga 10 September 2017. Sumber: BMKG, lokasi pengamatan stasiun meteorologi Ngurah Rai (08°44’45’’ S - 115°10’09’’ T). Berdasarkan data dari BMKG, curah hujan pada saat penelitian ini dilakukan (bulan Agustus sampai awal September 2017) sangat rendah (Gambar 3). Namun kecepatan angin menunjukkan ada peningkatan mulai dari bulan Mei 2017 (Gambar 4). Mayakun & Prathep (2005) melaporkan makroalga melimpah selama musim kemarau yang mungkin disebabkan oleh peningkatan intensitas cahaya dan akumulasi nutrien selama musim hujan. Selanjutnya, alga melakukan fotosintesis tinggi dan tumbuh di awal musim kemarau.
Selain faktor alam, kelimpahan dan keanekaragaman makroalga juga dipengaruhi aktifitas manusia. Cara pemanenan makroalga di alam dengan membabat habis berakibat pertumbuhan makroalga terganggu sehingga waktu panen akan mundur (Kadi, 2015). Perlu dilakukan manajemen strategi untuk mengukur populasi minimal yang layak dengan potensi pemindahan biologis yang dapat digunakan untuk menentukan keberlanjutan suatu populasi makroalga (ASC-MSC, 2017).
Kesimpulan
Keanekaragaman makroalga di Tanjung Benoa ini termasuk dalam kategori sedang yang mengindikasikan kondisi ekosistem seimbang dan tekanan ekologis sedang. Ulva lactuca mempunyai kelimpahan tertinggi diantara 13 spesies lainnya yang teridentifikasi.
Daftar Pustaka
ASC-MSC (Aquaculture Stewardship Council dan Marine Stewardship Council). 2017. Standar Rumput Laut (Alga). ASC-MSC: 7-93
Dasgupta, CN. 2015. Algae as a source of phycocyanin and other industrially important pigment. Dalam Dasgupta Ed. Algal Biorefinery: an integrated approach: 253-276 Faiqoh, E. & P.S.P. Atmaja. 2015. Distribusi spasial dan identifikasi biodiversitas lamun di
perairan Tanjung Benoa. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II. Inovasi Humaniora, Sains dan Teknlogi untuk Pembangunan berkelanjutan. Kuta. 29-30 Oktober 2015: 2173-2180
FAO. 1998. FAO Species Identification Guide for Fishery Purposes: The living marine resources of the western central Pacific. Volume 1. FAO United Nation. Roma. Hal 1-37.
122 - Semnaskan-UGM XV | Fadilah & Ratnawati
Herlinawati, N.D.P.D., I.W. Arthana & A.P.W.K. Dewi. 2018. Keanekaragaman dan Kerapatan Rumput Laut Alami Perairan Pulau Serangan Denpasar Bali. Journal of Marine and Aquatic Sciences 4(1): 22-30
Kadi, A. 2015. Stok Rumput Laut Alami di Perairan Teluk Prigi Trenggalek Jawa Timur. Biosfera 32(3): 176-184
Luning, K. 1990. Seaweeds: Their environment, biogeography and ecophysiology. John Wiley and Sons, Inc. New York.
Mayakun. J. & A. Prathep. 2005. Seasonal variation in diversity and abundance of macroalgae at Samui Island, Surat Thani Province, Thailand. Songklanakarin Journal Science Technology 27 (3): 653-663
Mulyana, Y. & A. Dermawan. 2008. Konservasi kawasan perairan Indonesia bagi masa depan dunia. Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta. 36 hal.
Nuryasa, I.K., E. Suardana & I.B. Manuaba. 2017. Taman wisata bahari di tanjung benoa, kuta selatan, Badung. Jurnal Anala 2(16): 58-66
Pemerintah Daerah Bali. 2016. Peraturan Gubernur No 16 tahun 2016 tentang Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup. Berita Daerah Provinsi Bali Tahun 2016, No 16. Sekretaris Daerah Provinsi Bali. Denpasar.
Santoso, B., I.G.B.S. Dharma & E. Faiqoh. 2018. Pertumbuhan dan produktivitas dayn Thalassia hemprichii (Ehrenb) Ascherson di perairan Tanjung Benoa, Bali. Journal of Marine and Aquatic Sciences 4(2): 278-285
Sulistijo & W.S. Atmadja. 1980. Komunitas Rumput Laut di Tanjung Benoa, Bali. Dalam Burhanuddin MK, Moosa & H. Razak Eds. Sumber Daya Hayati Bahari. LON-LIPI, Jakarta: 1-10