SURVEI PANAS BUMI TERPADU
(GEOLOGI, GEOKIMIA DAN GEOFISIKA) DAERAH KAMPALA
KABUPATEN SINJAI, SULAWESI SELATAN
Oleh :
Andri Eko S.W., Fredi Nanlohi, Bakrun
Kelompok Kerja Penelitian Panas Bumi
SARI
Daerah panas bumi Kampala yang terdapat di wilayah Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan mempunyai manifestasi panas bumi berupa mata air panas Panggo dengan temperatur 62 °C, Kampala
dengan temperatur 55 °C, Pangesoran 42 °C dan batuan teralterasi. Secara Geologi, manifestasi panas
bumi yang muncul dipermukaan berasosiasi dengan kegiatan intrusi basaltis. Stratigrafi daerah panas bumi Kampala terdiri dari satuan batuan sedimen berumur Miosen yang diintrusi oleh retas-retas basal berumur Pliosen dan ditutupi oleh endapan Aluvial yang berumur Holosen. Batuan sedimen tersesarkan oleh struktur sesar normal Kalamisu berarah baratlaut-tenggara (NW-SE), kemudian melalui sesar ini muncul retas-retas basal yang berfungsi sebagai sumber panas di daerah panas bumi Kampala. Pemunculan manifestasi panas bumi daerah ini sangat dipengaruhi oleh sesar normal berarah timurlaut-baratdaya (NE-SW) terdiri dari sesar normal Panggo, Pangesoran dan sesar normal Kampala.
Hasil pengukuran tahanan jenis mapping diperoleh tahanan jenis rendah < 20 Ohm-m pada bentangan AB/2=250 sampai AB/2=1000 meter terdapat disekitar air panas Kampala dan disebelah utara air panas Panggo. Daerah yang bertahanan jenis rendah ini merupakan daerah prospek panas bumi dengan
luas daerah sekitar 7 km2.
PENDAHULUAN
Ketersediaan energi panas bumi di Indonesia secara umum berasosiasi dengan daerah magmatik dan vulkanik sebagai sumber panasnya. Kepulauan Indonesia yang berada di jalur gunungapi merupakan daerah yang berpotensi bagi terbentuknya energi panas bumi.
Jalur gunungapi sepanjang pantai barat Pulau Sumatera menerus ke daerah selatan Pulau Jawa, memanjang hingga ke Pulau Bali dan Nusa Tenggara, kemudian berbelok ke arah utara ke Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Kepulauan Filipina. Pembentukan busur vulkanik menjadi landasan terhadap besarnya potensi panas bumi, sekaligus peluang untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Indonesia.
Untuk inventarisasi Panas Bumi daerah Sulawesi pada umumnya tidak berasosiasi dengan daerah vulkanik seperti pada daerah Panas Bumi Kampala Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan tenaga listrik tersebut, Pemerintah Pusat melalui Pusat Sumber Daya Geologi telah melakukan penyelidikan pendahuluan lanjutan energi alternatif panas bumi di daerah Kampala dan sekitarnya, Kecamatan Sinjai Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, dengan metoda geologi, geokimia dan geofisika, berada pada koordinat geografis 9.434.000 – 9.423.000 mN dan
187.000-197.000 mE (Gambar 1).
Target utama dari survei ini adalah untuk menentukan litologi, struktur geologi, sumber panas (heat-source), tipe fluida, suhu reservoar, konfigurasi batuan dan struktur bawah permukaan, luas daerah prospek, nilai potensi cadangan, dan pemanfaatan fluida tersebut.
GEOMORFOLOGI
geomorfologi daerah panas bumi Kampala, Sinjai dapat dibagi menjadi dua satuan yaitu : Geomorfologi Perbukitan dan Geomorfologi Pedataran.
Geomorfologi Perbukitan menempati ± 90% dari daerah panas bumi Kampala, Sinjai, terdiri dari Geomorfologi Sedimen dan geomorfologi perbukitan basal.
Geomorfologi Perbukitan Sedimen, dicirikan
oleh bentuk-bentuk perbukitan yang khas sebagai sisa erosi sehingga kadang-kadang tampak sebagai perbukitan yang terpisah satu dengan lainnya. Relief umumnya sedang hingga kasar, tingkat erosi umumnya tua. Terdapat dua buah sungai utama yaitu Sungai Salo Sinjai yang mengalir di bagian utara dan Sungai Kalamisu yang mengalir di bagian tengah daerah panas bumi Kampala. Sungai-sungai utama tersebut berkelok-kelok mencirikan tingkat erosi yang cukup tua dan mempunyai cukup banyak anak-anak sungai. Secara keseluruhan sungai-sungai yang mengalir pada satuan geomorfologi perbukitan ini membentuk pola aliran mendaun atau dendritik. Geomorfologi daerah ini dibangun oleh batuan sedimen yang terdiri dari konglomerat, batu pasir berukuran sangat kasar hingga sangat halus, lanau dan lempung.
Geomorfologi Perbukitan Basalt, dicirikan oleh
bentuk morfologi perbukitan intrusi yang dapat dipisakan dari morfologi di sekitarnya. Relief umumnya kasar dengan tingkat erosi umumnya sedang, di daerah ini hanya ditemukan alur-alur sungai yang hanya mengalir saat musim hujan. Dibangun oleh batuan intrusi/ retas-retas basalt .
Geomorfologi Pedataran, menempeti
peta,penyebarannya menempati daerah bagian timurlaut peta (± 5% dari peta), relief permukaan umumnya halus hingga tidak berlereng, tingkat erosi termasuk tua dicirikan oleh bentuk sungai yang berkelok-kelok (meander). Dibangun oleh endapan permukaan (alluvial).
STRATIGRAFI
Stratigrafi daerah panas bumi Kampala, Sinjai dapat dibagi menjadi 3 (tiga) satuan batuan yaitu batuan sedimen, batuan intrusi basal dan endapan alluvial.
Batuan Sedimen, terdiri dari perselingan antara
konglomerat, batu pasir berukuran kasar hingga sangat halus, lanau dan batu lempung. Umumnya berlapis baik, terlipat lemah, jurus bervariasi dari timurlaut-baratdaya hingga
baratlaut-tenggara dengan kemiringan
maksimum 10o, pada beberapa tempat di sekitar
sesar normal Kalamisu kemiringan batuan
mencapai 60o kemungkinan karena pengaruh
pergerakan sesar. Batuan sedimen ini dapat dikorelasikan dengan Formasi Walanae berumur Miosen Akhir hingga Pliosen (N18-N20) dengan ketebalan mencapai 2500 m (Rab Sukamto dkk, 1982)
Batuan Intrusi Basal, merupakan retas-retas
yang mengintrusi batuan sedimen, kontak yang tajam dengan batuan sedimen tidak ditemukan. Sebagian besar dari basalt ini bertekstur afanitik, pada beberapa lokasi ditemukan bertekstur porfiritik dengan fenokris plagioklas, piroksen, mika, olivine, tertanam dalam masa dasar afanitik. Pada beberapa tempat, bagian permukaan dari singkapan basal ini telah mengalami ubahan terutama pada rekahan-rekahan yang terdapat pada basal. Di sekitar pemunculan mata air panas Panggo ditemukan basal ini terubah sangat kuat. Basal ini dapat dikorelasikan dengan kelompok retas basal pada geologi lembar Ujung Pandang, Benteng dan Sinjai yang diperkirakan berhubungan dengan gerakan mengkubah pada kala Pliosen. (Rab Sukamto dkk, 1982).
Endapan Aluvial, merupakan endapan
permukaan yang terdiri dari endapan pantaai dan endapan sungai hasil rombakan dari batuan yang lebih tua. Endapan Aluvial ini berumur Holosen.
STRUKTUR GEOLOGI
Struktur geologi ditemukan di daerah panas bumi Kampala, Sinjai terdiri dari struktur sesar dan kekar. Struktur sesar dicirikan oleh adanya deretan mata air panas, cermin sesar, gawir sesar, kemiringan lapisan batuan sedimen dan ciri sesar lainnya. Sesar normal tersebut terdiri dari :
Sesar normal Kalamisu, berarah baratlaut –
Sesar normal Panggo, berarah
timurlaut-baratdaya (NE-SW), dimana blok sesar bagian baratlaut relatif bergerak turun. Sesar ini memotong baatuan sedimen dan retas basalt.
Sesar normal Pangesoran, berarah
timurlaut-baratdaya (NE-SW), dimana blok sesar bagian baratlaut relatif bergerak turun. Sesar ini memotong batuan sedimen dan retas basal.
Sesar normal Kampala, berarah baratdaya -
timurlaut (SW-NE), dimana blok sesar bagian tenggara relatif bergerak turun. Sesar ini memotong batuan sedimen dan retas basalt. Pasangan sesar Kampala dengan sesar Pangesoran membentuk struktur graben.
HIDROGEOLOGI
Hampir sebagian besar dari daerah panas bumi Kampala, Sinjai merupakan batuan sedimen yang bersifat porus dan permeable, terlebih lagi pada batuan sedimen yang tersesarkan, sehingga dapat berfungsi sebagai daerah tadah hujan dan peresapan (recharge) air meteorik/air hujan dari permukaan ke bawah permukaan. Air meteorik ini akan terpanasi oleh suatu sumber panas yang berasal dari sisa magma pembentuk retas-retas basalt. Air yang telah terpanasi tersebut akan naik mengisi batuan reservoir, dalam hal ini batuan sedimen, melalui media rekahan-rekahan yang terbentuk karena struktur sesar. Sebagian dari air panas tersebut akan naik ke permukaan melalui media sesar dan akan muncul di permukaan sebagai daerah manifestasi panas bumi Kampala.
MANIFESTASI PANAS BUMI
Terdapat 3 Mata air panas didaerah panas bumi Kampala dan sekitarnya sedangkan tidak ditemukan manifestasi fumarola dan solfatara (tabel 1).
Mata air panas Panggo berada pada posisi (UTM) X = 194119 mE dan Y = 9426510 mN yang terletak di desa Kaloling. Temperatur
manifestasi terukur sebesar 62 ºC dengan
temperatur udara 34 ºC. Besar debit 1 lt/detik
dengan pH terukur 8.46 dan Konduktivitas sebesar 3350 µS/cm.
Mata air panas Kampala terletak di dekat jalan raya Sinjai – Malino yang berada pada posisi
(UTM) X = 189783 mE dan Y = 9430828 mN yang terletak di desa Kampala. Temperatur
manifestasi terukur sebesar 55 ºC dengan
temperatur udara 32 ºC. Besar debit 0.5 lt/detik
dengan pH terukur 7.34 dan Konduktivitas sebesar 3500 µS/cm.
Mata air panas Pangesoran terletak di dekat jalan raya Sinjai – Makasar yang berada pada posisi (UTM) X = 191913 mE dan Y = 9427720 mN yang terletak di desa Salohe. Temperatur
manifestasi terukur sebesar 42 ºC dengan
temperatur udara 31.5 ºC. Besar debit 0.05
lt/detik dengan pH terukur 8.45 dan Konduktivitas sebesar 2700 µS/cm.
Kandungan kimia air panas Panggo menunjukkan tipe air Klorida. Penggunaan
persamaan geotermometer SiO2 menghasilkan
temperatur 106 oC sedangkan dari persamaan
geotermometer NaK diperoleh 110 oC. Estimasi
temperatur bawah permukaan yang di ambil di
daerah Penyelidikan ini adalah 110 oC, yang
diambil berdasarkan geotermometer Na-K.
GEOLISTRIK
Hasil pengukuran tahanan jenis pada bentangan AB/2=250 m (gambar 4) memperlihatkan pola kontur tahanan jenis rendah < 20 Ohm memanjang pada lintasan B dan diapit oleh tahanan jenis lebih tinggi yaitu antara tahanan jenis 20 – 30 Ohm, 30 - 50 Ohm-m dan > 50 Ohm-m. Pada bentangan AB/2 = 500 m (gambar 5), tahanan jenis rendah menyempit membetuk pola poligon tertutup, terdapat pada lintasan B yaitu dekat dengan airpanas Kampala, selanjutnya pola kontur tahanan jenis rendah pada bentangan AB/2=800 m (gambar 6) terbagi dua kelompok yaitu kelompok pertama masih di sekitar airpanas Kampala dan kelompok ke dua berada di lintasan C-8000 dengan kontur tertutup. Pada bentangan AB/2=1000 m (gambar 7) tahanan jenis rendah tidak membentuk pola kontur yang baik, akan tetapi tahanan jenis rendah masih konsisten berada di dekat airpanas Kampala dan disekitar titik amat C-8000.
merupakan lempung dari batuan sedimen Formasi Walanae dan ditutup oleh lapisan dengan tahanan jenis 70 - 150 Ohm-m pada kedalaman >300 m (gambar 8), diperkirakan lapisan yang paling bawah adalah basal yang sudah mengalami pelapukan dan retas oleh aktifitas tektonik.
DISKUSI
Struktur Sesar yang mengontrol pemunculan manifestasi panas bumi adalah sesar normal Panggo, Pangesoran dan Kampala yang berarah timurlaut – baratdaya (NE – SW). Pemunculan manifestasi ini akibat kegiatan intrusi batuan basal dimana di perkirakan sumber panas (Heat Source) berasal dari batuan basal.
Tahanan jenis rendah < 20 Ohm-m terdapat secara konsisten berada di lintasan B dekat airpanas dan di lintasan C disekitar titik amat C-8000 yaitu disekitar terdapatnya alterasi, dengan adanya indikasi dipermukaan yaitu airpanas dan adanya alterasi diharapkan tahanan jenis rendah tersebut merupakan indikasi adanya aktifitas panas di bawah permukaan bukan dari batuan sedimen yang mendominasi daerah penyelidikan. Tahanan jenis rendah tersebut keberadaannya disekitar struktur yang berarah baratlaut-tenggara hampir sejajar dengan aktifitas Tektonik Sulawesi.
Hasil pengukuran sounding di 4 titik amat menunjukkan belum ditemukan zona tahanan jenis rendah (Clay Cap) dan reservoar diduga berada masih jauh di kedalaman.
KESIMPULAN
Batuan tertua adalah batuan sedimen yang dapat dikorelasikan dengan Formasi Walanae berumur Miosen Akhir hingga Pliosen (N18-N20) dengan ketebalan mencapai 2500 m (Rab Sukamto dkk, 1982). Struktur sesar didominasi arah timurlaut – baratdaya (NE – SW) dimana pemunculan manifestasi dikontrol oleh sesar normal Panggo, Kampala dan Pangesoran. Perkiraan daerah prospek berdasarkan hasil pengukuran tahanan jenis mapping diperoleh tahanan jenis rendah <
20 Ohm-m pada bentangan AB/2=250 sampai AB/2=1000 meter terdapat disekitar air panas Kampala dan disebelah utara air panas Panggo
dengan luas ± 7 Km2.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih disampaikan kepada Institusi Pusat Sumber Daya Geologi (PSDG) yang telah memberikan ijin pemakaian data, sehingga berbentuk makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Fournier, R.O., 1981. Application of Water
Geochemistry Geothermal Exploration and Reservoir Engineering, “Geothermal System: Principles and Case Histories”. John Willey & Sons. New York.
Giggenbach, W.F., 1988. Geothermal Solute
Equilibria Deviation of Na-K-Mg – Ca Geo- Indicators. Geochemica Acta 52. pp. 2749 – 2765.
Lawless, J., 1995. Guidebook: An Introduction
to Geothermal System. Short course. Unocal Ltd. Jakarta.
Mahon K., Ellis, A.J., 1977. Chemistry and
Geothermal System. Academic Press Inc. Orlando.
Telford, W.M. et al, 1982. Applied Geophysics.
Cambridge University Press. Cambridge.
Sjaiful Bachri dan Muzil Alzwar 1975.
Laporan Inventarisasi Kenampakan Gejala Panas Bumi Daerah Sulawesi Selatan.
Moch Bagdja P, Ir Suharsono Kamal dan Wawan Suherman. Laporan
Penyelidikan Geokimia Regional bersistem Daerah Kabupaten Bulukumba, Sinjai, Maros, Bone dan Bantaeng Propinsi Sulawesi Selatan.
Rab Sukamto dan S Supriatna,1982. Peta
Tabel 1. Data Sampel Geokimia Daerah Panas Bumi Kampala Kab. Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan
Koordinat (UTM) T.manif T. ud debit EC
No. Nama/Lokasi Kode
X (m) Y (m) (oC) (oC)
pH
(l/detik) (µS/cm)
1 AP.PANGGO APPG 194119 9426510 61.4 34.1 8.46 1.0 3350
2 AP. KAMPALA APKA 189783 9430828 55.4 32.1 7.34 0.5 3500
3 AP. PANGESORAN APPS 191913 9427720 42.6 31.5 8.45 0.05 2700
Gambar 1. Peta Lokasi Penyelidikan Daerah Panas Bumi Kampala, Sinjai.
Peta
1200BT 1190
Lokasi
penyelidikan
U
4 0LS
5 0LS
Gambar 3. Peta Distribusi pH Daerah Panas Bumi Kampala
187000 188000 189000 190000 191000 192000 193000 194000 195000 196000 197000
9423000
9434000 100
200
Kampungbaru Kaherang
Jekka Botoboto Cameru Bulu yanete
Ajudolloe SINJAI SELATAN
Liang
Malimpo Hilalang 2
Topangka Ammaseng
Timbasoang
Lalengpitue Buhungtelue
Waepellae
Pallie
Bulumaceling Bontobulaeng
Salobelang SINJAI TIMUR
Buabua
Tolesang Pakkita
Bontotenga
Hempenge 2 Bungae SINJAI UTARA
Tanassang
Salo Messa
Salo Bigang
Salo Cape Salo
Salo Dondo
Salo Barulonang
Salo Kalamisu
Salo Palapala
Salo B aringang
Salo Sinjai
A 2500
A 10000
A 10500
A 11000 B 1000
B 10000
B 10500
B 11000 C 1500
C 10000
C 10500
C 11000
Sungai dan anak sungai
Jalan provinsi, jalan kabupaten Kontur anomali tahanan jenis semu
Titik pengukuran geolistrik
Mata air panas
Kontur ketinggian interval 50 meter
A 5000
PETA TAHANAN JENIS SEMU DAERAH PANAS BUMI KAMPALA
KABUPATEN SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN
AB/2 =250 M
187000 188000 189000 190000 191000 192000 193000 194000 195000 196000 197000
9434000 100
200
Kampungbaru Kaherang
Jekka Botoboto Cameru Bulu yanete
Ajudolloe SINJAI SELATAN
Liang
Malimpo Hilalang 2
Topangka Ammaseng
Timbasoang
Lalengpitue Buhungtelue
Waepellae
Pallie
Bulumaceling Bontobulaeng
Salobelang SINJAI TIMUR
Buabua
Tolesang Pakkita
Bontotenga
Hempenge 2 Bungae SINJAI UTARA
Tanassang
Salo Messa
Salo Bigang
Salo Cape S
Salo Do ndo
Salo Barulonang
Salo Kalamisu
Salo Palapala
Salo Baringang
Salo Sinjai
A 2500
A 10000
A 10500
A 11000 B 1000
B 10000
B 10500
B 11000 C 1500
C 10000
C 10500
C 11000
Sungai dan anak sungai
Jalan provinsi, jalan kabupaten Kontur anomali tahanan jenis semu
Titik pengukuran geolistrik
Mata air panas
Kontur ketinggian interval 50 meter
A 5000
PETA TAHANAN JENIS SEMU DAERAH PANAS BUMI KAMPALA
KABUPATEN SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN
AB/2 =500 M
Gambar 5 Peta Tahanan Jenis Semu AB/2=500 meter
187000 188000 189000 190000 191000 192000 193000 194000 195000 196000 197000
9423000
9434000 100
200
Kampungbaru Kaherang
Jekka Botoboto Cameru Bulu yanete
Ajudolloe SINJAI SELATAN
Liang
Malimpo Hilalang 2
Topangka Ammaseng
Timbasoang
Lalengpitue Buhungtelue
Waepellae
Pallie
Bulumaceling Bontobulaeng
Salobelang SINJAI TIMUR
Buabua
Tolesang Pakkita
Bontotenga
Hempenge 2 Bungae SINJAI UTARA
Tanassang
Salo Messa
Salo Bigang
Salo Cape S
Salo Barulonang
Salo Kalam isu
Salo Palapala
Salo B aringang
Salo Sinjai
A 2500
A 10000
A 10500
A 11000 B 1000
B 10000
B 10500
B 11000 C 1500
C 10000
C 10500
C 11000
Sungai dan anak sungai
Jalan provinsi, jalan kabupaten Kontur anomali tahanan jenis semu
Titik pengukuran geolistrik
Mata air panas
Kontur ketinggian interval 50 meter
A 5000
PETA TAHANAN JENIS SEMU DAERAH PANAS BUMI KAMPALA
KABUPATEN SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN
AB/2 =800 M
187000 188000 189000 190000 191000 192000 193000 194000 195000 196000 197000
9434000 100
200 Kampungbaru Kaherang
Jekka Botoboto Cameru Bulu yanete
Ajudolloe SINJAI SELATAN
Liang
Malimpo Hilalang 2
Topangka Ammaseng
Timbasoang Lalengpitue Buhungtelue
Waepellae
Pallie
Bulumaceling Bontobulaeng
Salobelang SINJAI TIMUR
Buabua Tolesang Pakkita Bontotenga
Hempenge 2 Bungae SINJAI UTARA
Tanassang
Salo Messa
Salo Bigang
Salo Cape
Salo Pa
Salo Do ndo
Salo Barulonang
Salo Kalam isu
Salo Palapala
Salo B aringang
Salo Sinjai
A 2500
A 10000
A 10500
A 11000 B 1000
B 10000
B 10500
B 11000 C 1500
C 10000
C 10500
C 11000
Sungai dan anak sungai
Jalan provinsi, jalan kabupaten Kontur anomali tahanan jenis semu
Titik pengukuran geolistrik
Mata air panas
Kontur ketinggian interval 50 meter
A 5000
PETA TAHANAN JENIS SEMU DAERAH PANAS BUMI KAMPALA
KABUPATEN SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN
AB/2 =1000 M
Gambar 7 Peta Tahanan Jenis Semu AB/2=1000 meter
-400
B 8000 B9000
150
PENAMPANG TAHANAN JENIS SEBENARNYA DAERAH PANAS BUMI KAMPALA, KABUPATEN SINJAI
PROVINSI SULAWESI SELATAN
5 - 25 Ohm-m , Tanah penutup
5 - 7 Ohm-m , Batuan sedimen
70 - 150 Ohm-m , Basalt KETERANGAN