• Tidak ada hasil yang ditemukan

20560 24590 1 PB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan " 20560 24590 1 PB"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

MATHEdunesa

Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Volume 2 No.6 Tahun 2017

ISSN :2301-9085

PROSES BERPIKIR SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA MATERI FAKTORISASI BENTUK ALJABAR DITINJAU

BERDASARKAN KEMAMPUAN MATEMATIKA

Wahyu Nia Tri Purwaningsih

Pendidikan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya,e-mail: [email protected]

Dr. Endah Budi Rahaju, M.Pd.

Pendidikan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail: [email protected]

Abstrak

Proses berpikir merupakan langkah-langkah terurut yang meliputi membentuk pengertian, membentuk pendapat dan membentuk kesimpulan untuk mendapatkan pengertian atau solusi dari permasalahan yang dihadapi. Kemampuan matematika yang dimiliki siswa berbeda-beda dan berpengaruh pada proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Langkah pemecahan masalah yang dapat digunakan ialah langkah pemecahan Polya yang meliputi memahami masalah, merencanakan pemecahan, menyelesaikan masalah sesuai rencana dan memeriksa hasil.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa SMP kelas VIII dalam menyelesaikan masalah matematika materi faktorisasi bentuk aljabar ditinjau berdasarkan tingkat kemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII-H SMPN 1 Tulangan tahun ajaran 2016/2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berkemampuan matematika tinggi dalam memahami masalah, membentuk pengertian dengan menyebutkan data yang diketahui dan ditanyakan, ia juga membentuk pendapat dengan menentukan data yang tidak digunakan. Selanjutnya, dalam menyelesaikan masalah ia membentuk kesimpulan dengan menggunakan langkah-langkah penyelesaian faktorisasi bentuk aljabar. Siswa berkemampuan matematika sedang ketika memahami masalah membentuk pengertian dengan menyebutkan data yang diketahui dan ditanyakan. Pada tahap memeriksa hasil, ia membentuk pendapat dengan memberikan argumen bahwa langkah yang digunakan kurang tepat karena ia lupa cara pemfaktoran bentuk aljabar namun ia menyimpulkan bahwa hasil yang didapat sudah sesuai dengan permintaan soal. Siswa berkemampuan matematika rendah dalam memahami masalah membentuk pengertian dengan menganalisis informasi soal, namun ia mengalami kesulitan menuliskan kalimat matematika dari data yang diketahui. Dalam membentuk kesimpulan pada langkah memeriksa hasil, ia ragu terhadap jawaban yang diperoleh karena banyak kesalahan dan ketidaktelitian ketika melakukan operasi perhitungan dan perkalian aljabar.

Kata Kunci: proses berpikir, masalah matematika, faktorisasi bentuk aljabar, kemampuan matematika

Abstract

The thinking process are sorted steps that include forming understanding, forming opinions and forming conclusions to gain understanding or solutions of problems faced. The student’s mathematical abilitiy are different and influence the thinking process of students in solving mathematical problems. One of problem solving steps which can be used is Polya steps include understanding the problems, made a planning steps, solved the problem and checked the result.

(2)

useless data. In problem solving, she formed conclusion by using algebraic factorization steps. In the step of checking result, she formed opinion by giving argument about the comformity of the results with the question. The student with medium mathematical ability in understanding the problem, formed understanding by mentioning the data that is known and asked. At the checking of result, she formed opinion by giving argument that the steps used aren’t accurate because she forgot about steps of algebraic factorization form. The student with low mathematical ability at understanding the problem, formed understanding by analyzing the problem information, but it was difficult to write the mathematical sentence from the known information. In formed conclusions at the checking of result step, she was doubtful of her answer due to many errors and inaccuracies when caltulated and multiplicated operation of algebraic form.

Keywords: thinking process, mathematical problem, factorization of algebraic form, mathematical ability.

PENDAHULUAN

Salah satu tujuan diberikannya matematika di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan umum dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) adalah mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai pengetahuan (Soedjadi, 2000). Disamping itu, salah satu hal yang perlu ditekankan dalam pembelajaran matematika menurut Kurikulum 2013 yaitu melatih kemampuan berpikir untuk membuat generalisasi dari fakta, data, danfenomena yang ada (Permendikbud, no 24;2016). Dalam Kurikulum 2013 pembelajaran matematika diarahkan untuk melatih siswa berpikir logis dan kreatif bukan sekedar berpikir mekanistis serta mampu bekerjasama dan berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Dengan demikian jelas bahwa salah satu hal yang perlu ditekankan dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan berpikir yang harus dimiliki oleh siswa.

Dalam menyelesaikan masalah matematika, dibutuhkan langkah pemecahan yang tepat. Salah satu langkah pemecahan yang dapat digunakan adalah langkah pemecahan masalah Polya yang meliputi memahami masalah, merencanakan pemecahan, menyelesaikan masalah sesuai rencana dan memeriksa hasil (dalam Sanwidi, 2015). Menurut Hasanah (2013) siswa melakukan proses berpikir ketika melakukan pemecahan masalah sehingga ia dapat memperoleh jawaban dari permasalahan

yang diselesaikan. Suryabrata (2015) menegaskan bahwa ada tiga langkah dalam proses berpikir yaitu membentuk pengertian, membentuk pendapat dan membentuk kesimpulan. Berdasarkan uraian tersebut setaiap langkah pemecahan masalah yang dilakukan terdapat aktivitas proses berpikir yaitu membentuk pengertian, membentuk pendapat dan membentuk kesimpulan.

Disamping itu, pemahaman terhadap masalah juga dibutuhkan siswa untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Namun tidak semua siswa mampu memahami masalah matematika yang diberikan, hal ini dipengaruhi oleh tingkat kemampuan matematika siswa yang berbeda-beda (Sukmawati, 2015). Kemampuan siswa terhadap konsep matematika yang berbeda tingkatnya menimbulkan perbedaan pada kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal matematika (Siswono, 2008). Dengan demikian, proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah matematika juga berbeda-beda bergantung pada tingkat kemampuan matematika yang mereka miliki. Menurut Nurman (2008) kemampuan matematika setiap siswa berpengaruh pada proses penyelesaian masalah yang dilakukan. Siswa yang memiliki kemampuan tinggi cenderung memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan benar,dan untuk siswa yang memiliki kemampuan rendah cenderung memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan kurang benar.

(3)

2016 menunjukkan bahwa siswa cenderung mengalami masalah selama pembelajaran ketika dihadapkan soal tentang faktorisasi bentuk aljabar khususnya jika soal tersebut berupa soal cerita. Hal ini diperkuat oleh hasil Ujian Nasional tahun 2015/2016 menyatakan bahwa penguasaan materi aljabar siswa SMP/MTs mengalami penurunan jika dibandingkan hasil Ujian Nasionail tahun 2014/2015 yaitu dari 57.28% menjadi 52.97%. Selain itu, menurut laporan TIMSS (2011) kelemahan yang dimiliki peserta didik Indonesia salah satunya ialah pada materi Masalah Matematika Materi Faktorisasi Bentuk Aljabar Ditinjau Berdasarkan Kemampuan Matematika”.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian

deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Instrumen penelitian ini terdiri dari tes kemampuan matematika (TKM), tes menyelesaikan masalah matematika (TMMM) dan pedoman wawancara. Semua instrumen yang disusun peneliti dikonsultasikan dengan dosen pembimbing terlebih dahulu, selanjutnya dikonsultasikan dengan guru mitra. Tes kemampuan matematika digunakan untuk mengetahui kemampuan matematika dengan tujuan untuk memilih subjek penelitian. Soal TKM dipilih melalui soal-soal Ujian Nasional SMP/MTs tahun 2015/2016 kemudian dikonsultasikan dengan dosen pembimbing terlebih dahulu. Soal TKM terdiri dari 10 soal yang disajikan dalam bentuk uraian dengan waktu pengerjaan selama 60 menit.

Tes menyelesaikan masalah matematika digunakan untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa berdasarkan kemampuan matematika siswa. Soal TMMM terdiri dari dua soal yang disusun oleh peneliti dengan dikonsultasikan kepada dosen pembimbing terlebih dahulu. Soal TMMM berbentuk uraian dengan pengerjaan selama 40 menit. Sebelum diberikan kepada subjek penelitian, peneliti melakukan uji keterbacaan TMMM

kepada lima siswa non-subjek kelas VIII. Satu siswa dapat memahami maksud dari soal yang diberikan dengan baik sedangkan empat siswa lainnya hanya dapat memahami hal yang diketahui.

Instrumen pedoman wawancara diperlukan karena tidak seluruhnya apa yang terdapat pada pikiran siswa tertulis pada lembar jawaban. Wawancara yang dilakukan peneliti ialah bebas terstruktur dengan pertanyaan-pertanyaan wawancara yang telah dikonsultasikan dengan dosen pembimbing terlebih dahulu.

Subjek penelitian ditentukan dengan cara memilih satu siswa dari setiap kemampuan matematika dan berdasarkan rekomendasi guru untuk memperhatikan kemampuan komunikasi yang baik. Wardani (2014) menegaskan bahwa jenis kelamin berpengaruh pada kemampuan pemecahan masalah yang dilakukan siswa. Siswa berjenis kelamin perempuan dapat melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa hasil dengan lebih baik dibandingkan siswa berjenis kelamin laki-laki. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dipilih siswa dengan jenis kelamin sama yaitu perempuan sebagai variabel kontrol. Siswa tersebut mewakili masing-masing kategori kemampuan matematika. Subjek yang dipilih juga berdasarkan rekomendasi guru, yaitu subjek yang juga memiliki kemampuan komunikasi kesimpulan dengan tujuan memberikan gambaran proses berpikir siswa berdasarkan tes menyelesaikan masalah matematika dan hasil wawancara.

(4)

Dalam tahap mereduksi data peneliti memilih hal-hal pokok yaitu fokus pada hal yang penting dan membuang data yang tidak diperlukan. Hasil wawancara yang dituangkan secara tertulis dilakukan dengan cara sebagai berikut.

1. Peneliti mendengarkan rekaman hasil wawancara beberapa kali dengan tujuan hasil wawancara yang ditulis sesuai dengan yang diucapkan subjek.

2. Membuat transkrip hasil wawancara, kemudian memeriksa kembali dengan mendengarkan rekaman hasil wawancara.

Dengan demikian data yang direduksi dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dan memberi kemudahan peneliti dalam menggambarkan proses berpikir siswa SMP dalam menyelesaikan masalah matematika.

Penyajian data adalah pengorganisasian, atau kumpulan singkat mengenai informasi yang menyatakan gambaran kesimpulan dan tindakan. Dalam tahap ini, data-data mengenai proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah matematika disusun sesuai dengan kategori siswa berkemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah.

Data hasil wawancara yang sudah ditranskrip disajikan dalam kode-kode percakapan untuk memudahkan pembaca dalam memahami hasil wawancara. Kode percakapan yang dimaksud dalam penelitian ini terdiri dari inisial “S” untuk jawaban atau pernyataan dari subjek dan “P” untuk pertanyaan yang diajukan peneliti, diikuti kriteria kemampuan matematika yaitu berkemampuan matematika tinggi (T), berkemampuan matematika sedang (Sd), berkemampuan matematika rendah (R), kemudian diikuti urutan pertanyaan atau jawaban dan diakhiri kode masalah matematika yang diberikan yaitu “01” untuk masalah matematika nomor soal 1, dan “02” untuk masalah matematika dengan nomor soal 2. Contoh, “SR302” menunjukkan subjek berkemampuan matematika rendah memberikan pernyataan ke-3 dari permasalahan nomor 2, “PT101” menunjukkan peneliti memberikan pertanyaan kepada subjek berkemampuan matematika tinggi yaitu pertanyaan ke-10 pada permasalahan nomor 1.

Penarikan kesimpulan merupakan langkah terakhir dalam analisis data. Pada penarikan kesimpulan ini, diskripsi mengenai proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah matematika dirangkum pada masing-masing subjek, kemudian disimpulkan berdasarkan perbedaan kemampuan matematika siswa yang dimiliki.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengambilan data dilaksanakan di SMPN 1 Tulangan, Sidoarjo di kelas VIII-H pada tanggal 15 sampai 17 April 2017. Data yang diperoleh dari pelaksanaan penelitian ialah data hasil tes kemampuan matematika siswa, data hasil tes menyelesaikan masalah matematika materi faktorisasi aljabar dan data hasil wawancara siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses berpikir siswa siswa berkemampuan matematika tinggi dalam memahami masalah, membentuk pengertian dengan menganalisis informasi yang terdapat pada menyelesaikan permasalahan dan data yang digunakan atau tidak digunakan untuk merencanakan pemecahan. Selanjutnya,

membentuk kesimpulan dengan

menentukan informasi yang sesuai atau yang dibutuhkan dalam merencanakan pemecahan beserta alasannya.

Pada tahap merencanakan pemecahan, siswa berkemampuan tinggi membentuk pengertian dengan menemukan keterkaitan materi permasalahan dengan materi yang pernah dipelajari. Siswa tersebut juga membentuk pendapat dengan menentukan rumus yang sesuai untuk menyelesaikan permasalahan, dan dapat memberikan penjelasan mengenai pemilihan rumus tersebut secara tepat.. Kemudian dalam

membentuk kesimpulan, dia

(5)

mempermudah memahami masalah, namun gambar yang dibuat belum menggambarkan inti permasalahan dengan jelas. Selanjutnya, membentuk pendapat dengan memberikan penjelasan mengenai rencana penyelesaian yang dipilih, dan dalam membentuk kesimpulan ia menggunakan langkah-langkah penyelesaian sesuai dengan rencana yaitu menggunakan faktorisasi bentuk aljabar pada saat menyelesaikan soal nomor 2. Namun, dia melakukan kesalahan dalam perhitungan soal nomor 1 sehingga siswa tersebut tidak menggunakan faktorisasi bentuk aljabar sebagaimana mestinya seperti soal nomor 2, dia hanya melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar dan kemudian dilanjutkan dengan proses berpikir yaitu membentuk pengertian karena waktu pengerjaan berakhir sehingga ia tidak melakukan pengecekan terhadap hasil yang diperoleh. Meskipun demikian, ia membentuk pendapat dengan memberikan argumen mengenai ketepatan langkah yang digunakan. Dalam membentuk

Siswa berkemampuan matematika sedang dalam memahami masalah, menyelesaikan permasalahan dan data yang digunakan atau tidak digunakan untuk merencanakan pemecahan disertai alasan yang jelas. Dalam membentuk kesimpulan, dia memilih informasi yang dibutuhkan untuk membuat rencana pemecahan dengan tepat disertai alasannya.

Selanjutnya siswa berkemampuan matematika sedang ketika merencanakan pemecahan, membentuk pengertian dengan menemukan keterkaitan materi permasalahan dengan materi yang sudah dipelajari. Dia juga membentuk pendapat dengan menganalisis rumus-rumus yang sesuai untuk menyelesaikan masalah yang diberikan meskipun hanya satu rumus yang disebutkan. Ia juga dapat memberikan penjelasan mengenai pemilihan rumus tersebut. Dalam membentuk kesimpulan, siswa tersebut dapat menentukan rumus yang akan digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan.

Dalam menyelesaikan masalah, siswa dengan kemampuan sedang membentuk pengertian dengan membuat rencana berupa gambar salah satu soal dari dua soal yang diberikan. Meskipun demikian, gambar yang dibuat cukup jelas dan dapat menggambarkan maksud dari permasalahan yang diberikan. Ia membentuk pendapat dengan memberikan argumen mengenai pemilihan rencana penyelesaian dengan tepat. Selanjutnya dalam membentuk kesimpulan, ia menggunakan langkah-langkah yang sesuai dengan rencana pemecahan. Ia juga membuat coretan untuk membantu perhitungan.

(6)

akhir yang diperoleh sudah sesuai dengan permintaan dari soal yang diberikan.

Proses berpikir siswa berkemampuan matematika rendah dalam menyelesaikan masalah pada soal nomor 1 berbeda dengan soal nomor 2. Banyak aktivitas proses demikian, siswa tersebut mendapatkan jawaban benar dari soal nomor 1, hal tersebut dikarenakan kesalahan perhitungan yang dilakukan.

Pada tahap memahami permasalahan soal nomor 2, siswa berkemampuan matematika rendah membentuk pengertian dengan menyebutkan data yang diketahui, data yang ditanyakan dan data yang tidak digunakan, namun ia mengalami kesulitan ketika menuliskan data yang diketahui ke dalam kalimat matematika. Kemudian pada tahap merencanakan pemecahan, ia membentuk pengertian dengan menemukan satu materi yang terkait dengan permasalahan dan materi yang sudah dipelajari, yaitu aljabar. dituliskan. Dia membentuk pendapat dengan menjelaskan bahwa informasi yang terdapat dalam soal cukup untuk menyelesaikan permasalahan, dan semua informasi dalam soal digunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Selanjutnya ia membentuk kesimpulan dengan memilih informasi berupa panjang sisi dan panjang tanah untuk merencanakan pemecahan.

Pada tahap merencanakan pemecahan, siswa berkemampuan matematika rendah

membentuk pengertian dengan pada tahap merencanakan pemecahan,

karena ia tidak dapat menganalisis rumus yang sesuai untuk menyelesaikan masalah dengan alasan yang tepat.

Kemudian pada tahap menyelesaikan masalah sesuai rencana, siswa berkemampuan matematika rendah dalam membentuk pengertian tidak membuat ilustrasi berupa gambar, karena ia merasa bahwa apa yang ditulis pada lembar jawaban sudah cukup jelas. Siswa tersebut membentuk pendapat dengan menentukan rumus yang digunakan yaitu rumus luas persegi. Hal tersebut tidak sesuai dengan pernyataan hasil wawancara sebelumnya, dia tidak menegaskan bahwa salah satu rumus yang sesuai untuk menyelesaikan permasalahan adalah luas persegi. Kemudian dalam membentuk kesimpulan, siswa berkemampuan matematika rendah menjelaskan bahwa langkah-langkah yang digunakan sudah sesuai dengan rencana penyelesaian, ia juga membuat coretan dalam pengerjaannya.

Pada tahap memeriksa hasil yang diperoleh, ssiswa berkemampuan matematika rendah membentuk pendapat dengan menegaskan bahwa langkah dan jawaban yang diperoleh belum tepat terutama ketika mencari luas tanah seluruhnya. Dalam membentuk kesimpulan, ia ragu terhadap hasil pekerjaannya, meskipun ia mendapatkan jawaban benar namun banyak kesalahan dan ketidaktelitian yang ditemukan.

PENUTUP Simpulan

Berdasarkan analisis data hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:

(7)

penyelesaian faktorisasi bentuk aljabar. Pada tahap memeriksa hasil, ia membentuk kesimpulan dengan memberikan argumen mengenai kesesuaian hasil dengan permintaan soal. 2. Proses berpikir siswa berkemampuan

matematika sedang ketika memahami masalah membentuk pengertian dengan menyebutkan data yang diketahui dan ditanyakan. Dalam menyelesaikan masalah, ia membentuk pengertian dengan membuat satu gambar dari dua soal yang diberikan. Pada tahap memeriksa hasil, ia membentuk pendapat dengan memberikan argumen bahwa langkah yang digunakan kurang tepat karena ia lupa cara pemfaktoran bentuk aljabar.

3. Proses berpikir Siswa berkemampuan matematika rendah dalam memahami masalah membentuk pengertian dengan menganalisis informasi soal, namun ia mengalami kesulitan menuliskan kalimat matematika dari data yang diketahui. Kemudian membentuk kesimpulan dengan menentukan informasi yang dibutuhkan. Dalam membentuk kesimpulan pada langkah memeriksa hasil, ia ragu terhadap jawaban yang diperoleh karena banyak kesalahan dan ketidaktelitian ketika melakukan operasi perhitungan dan perkalian aljabar.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, peneliti mengemukakan saran sebagai berikut.

1. Bagi peneliti lain sebaiknya waktu pengambilan data dengan materi yang digunakan sebagai instrumen penelitian tidak terlalu jauh sehingga siswa tidak lupa dan dapat mengerjakan sesuai kemampuannya. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengambilan data pada pertengahan semester genap, sedangkan materi tes menyelesaikan masalah didapatkan siswa pada pertengahan semester ganjil.

2. Pada saat wawancara terdapat beberapa pertanyaan yang kurang dapat dipahami oleh siswa, karena itu bagi peneliti lain

yang akan melakukan penelitian dengan menggunakan instrumen pedoman wawancara hendaknya mengajukan pertanyaan wawancara yang komunikatif sehingga siswa dapat memberikan jawaban dengan mudah, dan peneliti memperoleh data hasil penelitian secara optimal.

3. Proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah matematika berbeda-beda karena dipengaruhi tingkat kemampuan matematika yang dimiliki, oleh karena itu guru seharusnya menciptakan pembelajaran sesuai dengan proses berpikir siswa sehingga materi pelajaran yang disampaikan dan soal latihan yang diberikan dapat dipahami dengan baik oleh siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Krulik, Stephen dan Rudnick, Jesse A. 1995. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. Surabaya: PPs Universitas Negeri Surabaya.

Nurman, Try Azizah. 2008. Profil Kemampuan Siswa SMP Dalam Memecahkan Masalah Matematika Open-Ended Ditinjau dari Perbedaan Tingkat Kemampuan Matematika. Tesis tidak dipublikasikan. Surabaya: PPs Universitas Negeri Surabaya.

Permendikbud. ___________.2016. Permendikbud No. 24/2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi dasar SMP/MTs.

(https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2 016/07/19/permendikbud-2016-no-24- tahun-tentang-kompetensi-inti-dan-kompetensi-dasar/ diakses pada 13 Januari 2016).

Rahmawati, Moestadi, Mira Josy, Benny Widaryanto, dkk. 2014. Pusat Penilaian Pendidikan (2014), Laporan Hasil Ujian Nasional 2014. Jakarta: Balitbang Kemdikbud.

(8)

Siswono, Tatag Y.E, Suwidiyanti. 2008. Model Pembelajaran Matematika Berbasis Pengajuan Dan Pemecahan Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif. Surabaya: Unesa University Press.

Siswono, Tatag Y.E. 2010. Penelitian Pendidikan Matematika. Surabaya: Unesa University Press.

Soedjadi, R. 2000. Kiat-Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Sukmawati, Dinah Dessy. 2015. Proses Berpikir Kreatif Siswa SMP Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Open-Ended Ditinjau Dari Kemampuan Matematika. Skripsi tidak dipublikasikan. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

Suryabrata, Sumadi. 2015. Psikologi Pendidikan. Edisi keempat. Jakarta: Rajawali Press.

Wardani, Asizah Kurnia. 2014. “Kemampuan Pemecahan Masalah Berdasarkan Jenis Kelamin”. Jurnal Pendidikan Matematika STKIP PGRI Sidoarjo Vol. 2 No.1. (http://lppm.stkippgri.sidoarjo.ac.id

Gambar

gambar yang dibuat belum menggambarkan

Referensi

Dokumen terkait

The role of PT.Telkom is a form of Corporate Social Responsibility in Corporate Citizenship since the mission of this program is to overcome the economic problem,

Implementasi Location Based Service rute objek wisata Tegal dibuat dengan tujuan untuk membantu pengguna menemukan tempat wisata dan informasi lainnya di kota dan

Thesis with the title “The Effect Of Model Learning C ollaboration Think Pair Share (TPS) and Talking Stick on Student's Mathematics Result of seventh Grade Students at

Rincian Dokumen Pelaksanaan Anggaran Belanja Tidak Langsung Satuan Kerja Perangkat Daerah.. Rekapitulasi Belanja Langsung menurut Program dan

Membuat rencana penelitian mencakup: identifikasi variabel yang tidak diperlukan, menentukan cara untuk mengontrol variabel, memilih desain eksperimen yang

Tiga kabupaten dari propinsi Sulawesi Selatan yang dipilih menjadi lokasi penelitian yaitu Kabupaten Barru, Gowa dan Maros dikarenakan beberapa hal, sebagai berikut:

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada tingkat regulasi emosi pekerja sosial sebelum dan sesudah

Justru dari Coedes lah orang yang pertama mempunyai perhatian tentang Sriwijaya dan sekaligus menyebutkan Palembang-lah sebagai pusat dan ibukota Sriwijaya