BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 69 Volume 3, Nomor 2, Agustus 2005
PEMUL IH AN BPR D I ACEH PASC A B ENC AN A AL AM
Oleh : Hernowo Koentoadji1
1 Analis Hukum, Tim RUU dan Pengkajian Hukum, Direktorat Hukum, Bank Indonesia.
Bencana alam yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam dan sebagian wilayah Sumatera Utara telah enam bulan berlalu, namun upaya-upaya pemulihan pasca bencana dimaksud masih terus berlangsung dan dilakukan di berbagai bidang. Dalam rangka mendukung upaya pemulihan perkonomian, khususnya di bidang perbankan, Bank Indonesia pada tanggal 1 Juli 2005 telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia No. 7/17/PBI/2005 tentang Perlakuan Khusus Terhadap Bank Perkreditan Rakyat Pasca Bencana Alam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara.
Kondisi BPR pasca bencana alam
Pasca bencana alam yag terjadi di Provinsi NAD dan di kabupaten Nias, Sumatera Utara, BPR-BPR yang beroperasi di Provinsi NAD tidak luput dari kerusakan, baik dalam kondisi hancur gedungnya mampu kerusakan yang lebih ringan. Dari beberapa BPR yang beroperasi, terdapat 1 BPR yang mengalami kerusakan yang paling
parah dalam kondisi hancur, sedangkan beberapa BPR lainnya, kerusakan yang diderita tidak sampai hancur namun mengalami kerusakan gedung kantornya saja tetapi masih dapat beroperasi. Sementara itu, kondisi BPR yang hancur tersebut saat ini juga telah menginformasikan akan segera beroperasi kembali. Kerusakan yang lain yang dialami termasuk hancurnya dokumen-dokumen perbankan pada BPR-BPR. Disamping itu, beberapa dari pengurus BPR tersebut juga termasuk yang menjadi korban dari bencana alam.
Sementara itu di lain pihak, sebagian BPR masih dapat beroperasi, namun demikian debitor dari BPR tersebut yang mengalami musibah dan hingga
kini belum diketahui keberadaannya.
BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 70 Volume 3, Nomor 2, Agustus 2005
nasabah debitur yang terkena dampak bencana tersebut antara lain timbulnya kesulitan bagi debitur dimaksud untuk mengembalikan pinjaman yang diperoleh dari BPR sesuai dengan
kesepakatan sebagaimana tertuang dalam perjanjian kredit
atau akad pembiayaan dalam hal BPRS, antara bank dengan nasabahnya.
Kondisi tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi kondisi operasional BPR/BPRS yang bersangkutan.
Upaya Bank Indonesia
Dalam rangka membantu upaya pemulihan konsidi kehidupan perekonomian tersebut, Bank Indonesia selaku otoritas perbankan telah melakukan berbagai upaya antara lain dengan mengeluarkan peraturan guna membantu perbankan memulihkan kegiatan perbankan.
Ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia adalah ketentuan yang mengatur mengenai perlakuan khusus bagi perbankan di NAD khususnya terkait dengan kualitas kredit.
Bagi Bank Umum, Bank Indonesia telah mengeluarkan ketentuan tersebut pada bulan Januari 2005 melalui PBI No. 7/5/PBI/2005 tentang Perlakuan Khusus Terhadap Bank Umum
Pascabencana Nasional di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara. Semantara itu, bagi BPR, Bank Indonesia mengeluarkan PBI No. 7/17/PBI/2005 tentang Perlakuan Khusus Terhadap Bank Perkreditan Rakyat Pasca Bencana Alam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara.
Pokok-pokok pengaturan
Dalam PBI No. 7/17/PBI/2005 tentang Perlakuan Khusus Terhadap Bank Perkreditan Rakyat Pasca Bencana Alam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara, yang terdiri dari 6 pasal tersebut di atur bahwa kualitas kredit yang diselamatkan digolongkan lancar sampai dengan 31 Januari 2008. Penyelamatan kredit dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu pertama melalui pola penjadwalan
kembali (rescheduling) yaitu
perubahan syarat kredit yang hanya menyangkut jadwal pembayaran dan/atau jangka waktu; kedua, melalui pola
persyaratan kembali
(reconditioning), yang dilakukan
BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 71 Volume 3, Nomor 2, Agustus 2005
dan atau persyaratan lainnya sepanjang tidak menyangkut perubahan maksimum saldo kredit; ketiga melalui pola
penataan kembali (restructuring)
yaitu perubahan syarat-syarat kredit yang menyangkut penambahan dana BPR dan atau konversi seluruh atau sebagian tunggakan bunga menjadi kredit yang dapat disertai dengan penjadualan kembali dan atau persyaratan kembali.
Pelonggaran kredit yang diberikan tersebut tidak semata-mata berlaku bagi semua kredit, namun terdapat batasan-batasan sesuai dengan persyaratan tertentu, yaitu kredit yang telah diberikan pada saat berlakunya PBI dimaksud disalurkan kepada nasabah debitur dengan lokasi proyek atau lokasi usaha di Provinsi NAD dan atau Kabupaten Nias, Sumatera Utara; dan telah atau diperkirakan mengalami kesulitan pembayaran pokok dan atau bunga kredit atau margin atau bagi hasil pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang disebabkan oleh dampak dari bencana alam Provinsi NAD dan Kabupaten Nias, Sumatera Utara.
Disamping adanya pelonggaran kredit tersebut, upaya yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mendukung upaya BPR untuk memulihkan kondisi usahanya juga dilakukan melalui adanya pengecualian pengenaan sanksi membayar atas keterlambatan pelaporan bagi BPR. Pengecualian tersebut berlaku untuk pelaporan Pedoman Penyusunan Laporan Bulanan BPR, Laporan BMPK, Laporan Rencana Kerja, laporan Pelaksanaan Rencana Kerja, Laporan Keuangan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi. Pengecualian tersebut berlaku sampai dengan tanggal 31 Agustus 2005.