LAPORAN PENELITIAN
PEMERINTAHAN DESA BERBASIS BUDAYA LOKAL
(Studi Kasus di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh)Disusun Dalam Rangka Penyediaan Data dan Informasi Tentang Politik Lokal Untuk DPD-RI
Oleh: Drs. Zakaria, M.SP Drs. Ermansyah, M.Hum Husnul Isa Harahap, S.Sos, M.Si Faisal Andri Mahrawa, S.IP, M.Si Fernanda Putra Adela, S.Sos, MA
Dr. Ir. Khairani Hanum Adil Arifin, MA Dr. Mirza Nasution
Dra. Hindun Mario Firmansyah, S.Sos.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Proposal Penelitian: Pemerintahan Desa Berbasis Budaya Lokal: Studi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh
1. Lembaga Penyelenggara Penelitian : Universitas Sumatera Utara 2. Personalia Penelitian
a. Jumlah Keseluruhan : 14 Orang
b. Pelindung : Rektor Universitas Sumatera Utara c. Penanggungjawab : 1. Ketua Lembaga Penelitian USU
2. Dekan FISIP USU
b. Kabupaten/Kota : Tarutung, Gunung Tua, Solok, Tanah Datar, Sigli, Lhokseumawe
c. Provinsi : Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh 4. Luaran yang dihasilkan : Pemerintahan Desa Berbasis Budaya Lokal 5. Jangka Waktu Pelaksanaan : 10 Bulan
6. Biaya Total : Rp. 99.850.000,-
7. Sumber : Dewan Perwakilan Daerah Repubik Indonesia
Mengetahui,
Pembantu Rektor IV Koordinator,
Bidang Perencanaan dan Kerjasama
Prof. Dr.NingrumNatasya Sirait, S.H.,M.Hum Drs. Zakaria, MSP NIP. 19620117 198903 2 002 NIP. 19580115 198601 1 002
Menyetujui,!
Rektor Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK
Penelitian dilatarbelakangi oleh adanya perubahan aturan maupun kondisi yang mempengaruhi sistem pemerintahan desa di berbagai daerah di Indonesia. Keberagaman istilah dari sistem pemerintahan terendah (Gampong di Aceh, Huta di Sumatera Utara, dan Nagari di Sumatera Barat) menjadikan ketiga propinsi tersebut menarik untuk diteliti sebagai implementasi dari adanya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang direvisi menjadi Undang-Undang 32 Tahun 2004. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi, wawancara, dan observasi lapangan. Penelitian ini untuk menjawab permasalahan mengenai bagaimana keberadaan desa atau desa dengan nama lain di masa sekarang ini. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada Propinsi Sumatera Utara, pemerintahan terendah disebut desa mengikuti istilah umum yang dibuat pemerintah, sementara istilah huta untuk menyebut sistem pemerintahan desa tidak lagi digunakan. Di Propinsi Sumatera Barat, nagari merupakan istilah yang digunakan dalam sistem pemerintahan terendahnya yang merupakan gabungan dari beberapa jorong yang pada masa Orde Baru disebut dengan desa. Sistem pemerintahan nagari mengakar pada adat atau budaya Minangkabau. Suatu sistem pemerintahan otonom yang melibatkan semua unsur-unsur lokal dalam mengambil keputusan melalui musyawarah. Pada propinsi Aceh, perubahan desa manjadi gampong dimulai melalui Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 yang kemudian perubahan kelurahan menjadi gampong setelah adanya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2007. Akan tetapi implementasinya lambat akibat keterlambatan pembuatan Qanun.
KATA PENGANTAR
Penyeragaman dalam sistem pemerintahan terendah melalui UU 5/1979 hadir pada masa pemerintahan orde baru. Hal inilah yang menyebabkan hilangnya corak dari identitas masyarakat yang berbasis pada budaya lokal. Sebagai sebuah bangsa yang dihuni oleh berbagai kebudayaan dengan sistem pemerintahannya sendiri yang telah ada sebelum Indonesia merdeka diseragamkan oleh rezim orde baru melalai UU 5/1979, sehingga seluruh daerah di Indonesia tidak lagi menerapkan sistem pemerintahan terendahnya dalam bingkai budaya lokal, melainkan diganti dengan model pemerintahan desa yang merupakan corak dari identitas kebudayaan masyarakat Jawa.
Sejak desentralisasi dan otonomi daerah digulirkan di Indonesia melalui Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 memberikan peluang kepada daerah-daerah di Indonesia untuk membentuk sistem pemerintahan terendahnya dalam identitas kebudayaan lokal menggantikan sistem pemerintahan terendah yang selama ini di dalam pola yang seragam seperti istilah desa yang ada dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 Tentang Pemerintahan Desa.
Pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk mengakomodir keinginan desa-desa yang ada di wilayahnya sebagai sebuah kesatuan masyarakat hukum adat sesuai dengan amanat undang-undang melalui regulasi peraturan daerahnya masing-masing. Tanggungjawab pemerintah daerah untuk menjaga serta melestarikan model-model pemerintahan yang ada dalam masyarakat sesuai dengan nilai-nilai kebudyaan masyarakat setempat. Daerah tidak harus lagi menggunakan istilah desa seperti model yang ada dalam UU 5/1979, akan tetapi daerah dapat menggunakan istilah pemerintahan dalam kesatuan masyarakat adatnya yang sesuai dengan latar belakang identitas kebudyaan setempat.
dilakukan di tiga propinsi, yaitu: Propinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Dalam kesempatan ini, kami sebagai tim peneliti mengenai ”Pemerintahan Desa Berbasis Budaya Lokal” mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc(CTM). Sp.A(K)
2. Pembantu Rektor IV, Prof. Ningrum Natasya Sirait, M.Li. 3. Para anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. 4. Dekan FISIP USU dan Dekan Hukum USU
5. Para camat beserta jajarannya di kecamatan Siborong-Borong, kecamatan Padang Bolak, kecamatan Batupjat Barat, kecamatan Kota Sigli, kecamatan Lima Kaum, kecamatan X Koto Diatas.
6. Para kepala desa, kepala gampong, dan wali nagari dan jajarannya di tempat penelitian.
7. Para tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh agama yang telah memberikan informasi di tiga lokasi penelitian kepada tim peneliti.
8. Serta seluruh pihak-pihak yang telah membantu dalam penelitian ini. Tim peneliti mengharapkan sumbangan kritikan serta masukan dari seluruh pihak untuk penelitian di masa yang akan datang. Semoga penelitian yang telah dilakukan ini bermanfaat bagi seluruh pihak, khusunya yang konsentrasi dalam mendalami pemerintahan desa.
DAFTAR ISI
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian... 3
1.4. Kerangka Teoritis... 3
BAB II Metodologi dan Deskripsi Lokasi Penelitian 2.1. Metode Penelitian... 11
2.1.1. Lokasi penelitian... 11
2.1.2. Tipe Penelitian... 11
2.1.3. Teknik Pengumpulan Data... 11
2.1.4. Analisis Data... 12
2.2. Deskripsi Lokasi Penelitian... 12
2.2.l. Provinsi Sumatera Utara... 12
2.2.1.1. Profil Desa di Kecamatan Padang Bolak... 12
2.2.1.2. Profil Desa di Kecamatan Siborong-Borong... 19
2.2.2. Provinsi Sumatera Barat... 27
2.2.2.1. Sejarah, Letak dan Kondisi Geografis Nagari Limo Kaum... 27
2.2.2.2. Sejarah, Letak dan Kondisi Geografis Nagari Bukik Kanduang... 31
2.2.2.3. Kependudukan di Nagari Limo Kaum... 33
2.2.2.4. Kependudukan di Nagari Bukik Kanduang... 35
2.2.2.5. Mata Pencaharian Penduduk di Nagari Limo Kaum... 38
2.2.2.6. Mata Pencaharian Penduduk di Nagari Bukik Kanduang... 40
2.2.3. Nanggroe Aceh Darussalam... 42
2.2.3.1. Kota Lhokseumawe... 42
2.2.3.2. Kabupaten Pidie... 48
BAB III Hasil Penelitian dan Pembahasan 3.1. Hasil Penelitian dan Pembahasan di Sumatera Utara... 51
3.1.1. Sistem Pemerintahan Desa... 51
3.1.2. Lembaga yang Terkait dengan Pemerintahan Desa... 55
3.1.2.1. Pemerintahan Desa/Kepala Desa... 56
3.1.2.3. Lembaga Kemasyarakatan... 60
3.1.3. Sumber Ekonomi Pemerintahan Desa... 61
3.1.4. Peran Negara dalam Melindungi Pemerintahan Desa... 64
3.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan di Sumatera Barat... 67
3.2.1. Limo Kaum dan Bukik Kanduang: Kembali Bernagari... 67
3.2.2. Lembaga-lembaga yang Terkait dengan Pemerintahan Nagari... 71
3.2.3. Perekonomian Nagari... 76
3.2.4. Peran Negara Melindungi Pemerintahan Nagari... 79
3.3. Hasil Penelitian dan Pembahasan di Nanggroe Aceh Darussalam……….. 82
3.3.1. Bangkitnya Identitas Lokal Sebagai Konteks Kembalinya Pemerintahan Gampong... 82
3.3.1.1. Tata Pemerintahan Terendah di Aceh... 85
3.3.1.1.1. Mukim... 85
3.3.1.1.2. Gampong... 87
3.3.2. Hadirnya Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) Sebagai Wujud Kembalinya Gampong... 91
3.3.3. Peran Pemerintah Aceh Dalam Menghidupkan Kembali Gampong…….... 94
3.3.4. Bantuan Keuangan Pemakmoe Gampong (BKPG) Sebagai Pendorong Pembentukan Gampong... 97
BAB IV Penutup 4.1. Kesimpulan... 102
4.2. Saran... 106
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Jadwal Kegiatan... 9
Tabel 2 Profil Desa Purba Sinomba... 14
Tabel 3 Penduduk Menurut Jenis Kelamin tahun 2009... 14
Tabel 4 Rata-Rata Anggota Rumah Tangga Thun 2009... 15
Tabel 5 Banyaknya Mutasi dan Mutandis Penduuduk Tahun 2009... 15
Tabel 6 Mata Penvaharian Penduduk Tahun 2009... 16
Tabel 7 Banyaknya Ternak Tahun 2009... 16
Tabel 8 Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Tahun 2009... 17
Tabel 9 Banyaknya Rumah Tangga Tahun 2009... 18
Tabel 10 Jumlah Penduduk Nagari Lima Kaum Tahun 2009... 33
Tabel 11 Jumlah Penduduk Nagari Bukik Kanduang Berdasarkan Jenis Kelamin di Setiap Jorong... 36
Tabel 12 Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian... 40
Tabel 13 Banyaknya Gampong di Lhokseumawe Tahun 2009... 44
Tabel 14 Penggunaan Lahan di Muara Satu... 44
Tabel 15 Gampong dan Luasnya di Kota Lhokseumawe... 45
Tabel 16 Penduduk Laki-laki dan Perempuan Tiap Gampong Kecamatan Muara Satu... 46
Tabel 17 Perangkat Gampong di Kecamatan Muara Satu... 47
Tabel 18 Jumlah Penduduk Gampong Dalam Kecamatan... 49
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Desa merupakan sesuatu organisasi yang penting sebagai bagian dari kesatuan organisasi pemerintahan. Desa menjadi tumpuan karena di desalah terdapat aktivitas masyarakat yang menghidupi kota. Di desa juga terdapat aktivitas masyarakat yang mengedepankan aspek sosial kultural. Selain itu di desa pula isu-isu seputar nilai-nilai kearifan lokal serta isu-isu lingkungan dan perlindungan kelestarian alam diwujudkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda.
Kebijakan tentang desa di Indonesia menunjukkan berdampak luas pada kehidupan di desa, baik dalam aspek sosial, ekonomi, politik maupun sosiologis. Di masa pemerintahan Orde Baru, pengaturan tentang pemerintahan desa terdapat dalam UU No.5/1979. Dilihat dari UU ini, desa disebut sebagai wilayah administrative. Belakangan diketahui bahwa undang-undang No UU No.5/1979
menyebabkan desa kehilangan ciri khasnya. Komunitas desa harus menerapkan sistem pemerintahan desa yang berbeda dengan sistem yang mereka gunakan sebelum lahirnya UU No.5/1979.
Dalam perspektif ini UU No.5/1979 menyebabkan hilangnya corak desa yang lama. UU No. 5/1979 juga menyebabkan hilangnya hak-hak yang dimiliki
oleh desa dalam hal pengaturan dan penguasaan atas aset utama masyarakat desa. Aset masyarakat desa tersebut berupa lingkungan alam yang nilainya tidak bisa dipisah-pisahkan. Tanah, air yang berasal dari sungai, hutan yang menjadi resapan air maupun aset alam lainnya menjadikan desa sebagai basis kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam secara damai. Pola ini memberikan dampak keuntungan bersama.
satunya adalah kekuatan modal sosial. Persatuan masyarakat desa yang kuat adalah suatu sistem yang integral yang memberikan peluang kepada masyarakat desa untuk menjalankan program desa secara bersama-sama dan untuk kepentingan bersama.
Kini, UU No. 5/1979 tentang Pemerintahan Daerah digantikan dengan UU No 22/1999. Dalam perkembangannya UU No.22/1999 direvisi menjadi UU No. 32/2004 (khususnya Bab XI tentang pemerintahan desa). Perubahan ini dapat diintrepretasikan sebagai jalan untuk mengembalikan desa sebagaimana hakikat desa. Apalagi landasan perubahan tersebut sering dikaitkan dengan Undang-Undang Dasar 1945, khususnya tentang kemakmuran rakyat. Kondisi ini memberikan harapan tentang perubahan desa menjadi lebih baik sebagaimana yang diharapkan.
Dengan dikeluarkannya UU No. 22/1999 dan UU No. 32/2004 tersebut, maka tentunya ditanggapi oleh berbagai masyarakat ataupun komunitas adat di berbagai daerah di Indonesia. Berbagai komunitas adat tersebut kembali memunculkan bentuk pemerintahan lokalnya. Kenyataan ini menarik untuk dikaji. Hal tersebut dapat menunjukkan pemerintahan desa atau desa dengan nama lain,
mulai mengakar pada budayanya.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di latar belakang, maka permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah bagaimana keberadaan desa atau desa dengan nama
lain di masa sekarang ini ? Permasalahan ini dijabarkan ke dalam 4 (empat) pertanyaan penelitian yaitu:
1. Apakah sistem pemerintahan desa atau desa dengan nama lain tersebut berbasis budaya lokal ?
2. Lembaga-lembaga apa saja yang terdapat dalam pemerintahan desa atau desa dengan nama lain tersebut ?
3. Darimana saja sumber-sumber ekonomi pemerintahan desa atau desa dengan nama lain tersebut ?
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan:
1. Sistem pemerintahan desa atau desa dengan nama lain tersebut yang berbasis budaya lokal;
2. Lembaga-lembaga yang terdapat dalam pemerintahan desa atau desa dengan nama lain tersebut;
3. Sumber-sumber ekonomi pemerintahan desa atau desa dengan nama lain tersebut;
4. Peran negara dalam melindungi pemerintahan desa atau desa dengan nama lain yang berbasis budaya lokal.
Manfaat penelitian ini antara lain, secara akademis penelitian ini dapat memperluas khazanah pengetahuan khususnya tentang pemerintahan desa atau desa dengan nama lain yang berbasis budaya lokal. Secara praktis, dapat memberikan masukan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam membuat berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemerintahan desa atau desa dengan nama lain.
1.4. Kerangka Teoritis
Secara etimologis istilah atau perkataan “desa” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “tanah air, tanah asal atau tanah kelahiran” (Soeparmo, 1977:15). Selain itu defenisi yang dikemukakan oleh Kartohadikoesoemo (1984:16) tentang desa sebagai suatu kesatuan hukum, dimana bertempat tinggal
Sebagai ruang (space), tetrsedianya arena perencanaan pembangunan, social capital, penyelenggaraan pelayanan publik, gerakan sosial, pemberdayaan,
partisipasi, dan lain-lain. Kondisi demikian tentu harus terus dipelihara agar tatanan kehidupan masyarakat desa dapat tetap bertahan sesuai dengan semangat hadirnya sebuah desa dalam kehidupan masyarakat lokal.
Selain desa juga ada kelurahan yang juga digunakan dalam konteks tata pemerintahan Indonesia. Sehingga perlu kiranya dipahami konseptualisasi antara kedua lembaga tersebut yang dapat kita lihat melalui konsep self-governing community dan local state government yang coba dijelaskan sebagai berikut:
1.4.1. Self Governing Community
Kata self-governing community diambil dari istilah masyarakat Eropa, yang dalam bahasa perundang-undangan kita dimaksudkan sebagai “kesatuan masyarakat hukum” (Eko, 2005). Sesungguhnya konsep demikian tersebut sering digunakan dalam memahami “otonomi”, dimana otonomi dalam konteks daerah juga dipahami sebagai hak dan wewenang untuk mengatur rumah tangganya sendiri serta masyarakat didaerah tersebut.
Sebenarnya otonomi jika dilihat dari sisi yang lain terdiri dari tiga unsur
penting. Pertama, keleluasaan lokal untuk mengambil keputusan dalam rangka mengatur rumah tangganya sendiri atau kepentingan masyarakatnya sesuai kebutuhan dan aspirasi yang berkembang dalam masyarakat tersebut. Kedua, Kekebalan dari “campur tangan” (intervensi) pemerintah yang bisa mengganggu keleluasaan dan menmghambat kemandirian lokal. Makna kekebalan disini bukan
Dengan adanya otonomi tersebut, maka kemudian gagasan otonomi harus didukung dengan adanya desentralisasi. Desentralisasi merupakan pelimpahan wewenang, tanggungjawab, kekuasaan, dan sumber daya dari pemerintah pusat ke daerah termasuk pemerintahan desa. Ketika otonomi dipahami sebagai kesatuan masyarakat hukum (self-governing community) maka desentralisasi merupakan bentuk kebijakan negara untuk mengakui keberadaan masyarakat hukum ditingkat lokal yang sekaligus membentuk pemerintahan lokal (local-self government) Pada pemerintahan Indonesia, desentralisasi inilah yang menjadi “ruh” terhadap keberadaan pemerintah daerah otonom atau otonomi daerah.
1.4.2. Local Government
Local government mengandung tiga arti (Hoeesein, 2001:3), yaitu Pertama, berarti pemerintahan lokal. Kedua, berarti pemerintahan lokal yang dilakukan oleh pemerintah. Ketiga, berarti daerah otonom. Dalam arti yang pertama merujuk pada lembaga/organnya, sehingga local government adalah organ/badan/lembaga pemerintah di tingkat daerah. Istilah local government kemudian dikenal dengan istilah local authority (United Nation:1961). Kedua istilah tersebut kemudian merujuk pada council dan mayor yang rekrutmen
pejabatnya melalui proses election. Dalam konteks Indonesia, istilah ini merujuk pada kepala daerah dan DPRD.
Dalam arti yang kedua, local government bermakna sebagai fungsi/kegiatannya, yang berarti pemerintahan daerah. Terdapat perbedaan antara pemerintah daerah dengan pemerintahan daerah, dimana pemerintah daerah
adalah organisasinya yang berbentuk pasif, sementara pemerintahan daerah merupakan bentuk aktifnya. Dengan demikian pemerintahan daerah adalah kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
Dalam pengertian ketiga, local government dimaknai sebagai daerah otonom, yang definisinya diberikan oleh The United Nation of Public Administration, yaitu subdivisi politik nasional yang diatur oleh hukum dan secara
Dari ketiga penjabaran mengenai local government tersebut, dapat terlihat bahwa otonomi daerah berarti pemerintahan daerah otonom (self local-government). Pemerintahan daerah otonom adalah pemerintahan yang badan pemerintahannya dipilih oleh masyarakat setempat yang akan memiliki kewenangan untuk mengurus rumah tangganya sendiri berdasarkan regulasi yang ada. Kelurahan sendiri dapat dimasukkan dalam pengertian local government yang pertama, dimana local government berarti organ/badan/organisasi pemerintah di daerah atau wadah yang menyelenggarakan pemerintahan di daerah, dimana kelurahan merupakan organisasi pemerintah daerah yang birokratis dan wadah untuk menjalankan kegiatan pemerintahan.
Sutoro Eko (2008) kemudian menjelaskan setidaknya terdapat tida posisi politik desa di Indonesia:
a) Desa sebagai organisasi komunitas lokal yang memiliki pemerintahan sendiri atau disebut sebagai self governing community, komunitas lokal membentuk dan menyelenggarakan pemerintahan sendiri berdasarkan pranata lokal, bersifat swadaya dan otonom.
b) Local self government merupakan bentuk pemerintahan lokal yang otonom,
sebagai konsekwensi dari desentralisasi politik (devolusi).
c) Local state government, merupakan bentuk lain dari pemerintahan yang sentralistik, yang tidak melakukan devolusi, melainkan hanya melakukan dekonsentrasi
Konsep pemerintahan desa yang berbasis pada budaya lokal dimaksudkan
kognitif yang berlaku pada berbagai tingkat pengetahuan, perasaan, dan kesadaran. Hal ini menunjukkan kebudayaan sebagai sistem pengetahuan yang bersifat operasional, yaitu sebagai keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh manusia sebagai makhluk sosial yang isinya adalah perangkat-perangkat model-model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan yang dihadapi, serta untuk mendorong dan menciptakan tindakan –tindakan yang diperlukannya (Suparlan dalam Sobuwati dkk, 1993).
Sebagai pengetahuan, kebudayaan adalah suatu satuan ide yang ada dalam kepala manusia dan bukan suatu gejala (yang terdiri atas kelakukan dan hasil kelakuan manusia). Sebagai satuan ide, kebudayaan terdiri atas rangkaian konsep-konsep dan model-model pengetahuan mengenai berbagai tindakan dan tingkah laku yang seharusnya diwujudkan oleh pendukungnya dalam menghadapi suatu lingkungan sosial, lingkungan alam, dan lingkungan binaan. Kebudayaan sebagai model-model pengetahuan tercakup di dalamnya serangkaian nilai-nilai, norma, hukum maupun peraturan-peraturan yang ada di dalam kebudayaan itu sendiri. Jadi, nilai-nilai tersebut dalam penggunaannya adalah selektif sesuai dengan
lingkungan yang dihadapi oleh pendukungnya.
Dengan demikian, pemerintahan desa yang berbasis budaya lokal pada dasarnya menunjuk kepada pemerintahan desa dengan otonomi komunitas asli. Hal ini telah dimulai oleh beberapa desa seperti halnya di Sumatera Barat dengan kembali kepada konsep awal yakni: Nagari Gantuang Ciri, Sumani, dan Alahan
Panjang (Nomba dkk, 2002). Ketiga nagari yang telah yang telah kembali ke konsep awal pemerintah terkecil dan otonomi dalam konteks budaya Minangkabau merupakan suatu tanggapan terhadap otonomi daerah yang diberlakukan pemerintah.
kehidupan sosial yang terjaga dan terciptanya kesejahteraan sosial masyarakat lokal.
Dari aspek politik, pemerintahan desa yang berbasis budaya lokal sebagai perwujudan dari self-governing community dan local government dalam pengertian sebagai wilayah otonom yang diatur oleh hukum dan secara substansial memiliki kontrol atas urusan-urusan lokal. Seyogianya kemampuan dan keberadaan pemerintahan desa yang berbasis budaya lokal dalam mengurus rumah tangganya sendiri harus difasilitas dan dilegalisasi keberadaannya oleh negara.
1.5. Sistematika
Laporan penelitian secara keseluruhan dibagi atas beberapa BAB:
Bab I: Pendahuluan yang berisi tentang uraian latar belakang penelitian, perumusan masalah, kerangka teori dan sistematika penelitian. Bab II: Deskripsi metode penelitian dan lokasi penelitian yang terdiri dari tiga provinsi, yakni, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh.
Bab III : Analisis terhadap pemerintahan desa di tiga provinsi, yakni, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh.
Bab IV : Penutup yang berisi kesimpulan penelitian dan saran.
1.6. Waktu Penelitian
Kegiatan penelitian dilakukan kurang lebih selama 3 bulan. Diawali dengan pembuatan proposal penelitian. Dilanjutkan dengan kegiatan pra
Tabel 1
Kegiatan penyajian hasil penelitian berupa kegiatan seminar dan diskusi.
Kegiatan dilakukan setelah laporan penelitian telah selesai. Pentingnya kegiatan ini untuk menguji keterandalan data-data hasil penelitian serta analisisnya. Outputnya adalah penyempurnaan laporan penelitian. Hasil output ini berupa laporan akhir penelitian. Akhirnya kegiatan ditutup dengan penggandaan laporan
penelitian yang telah direvisi.
1.7. Karakteristik Peneliti
BAB II
METODOLOGI DAN DESKRIPSI PENELITIAN
2.1. Metode Penelitian
2.1.1. Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan di tiga wilayah atau provinsi yaitu Sumatera
Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Hal ini didasarkan pada kekhasan pada
pemerintahan desa yang bernuansa lokalitas. Seperti halnya di Sumatera Barat
(Minangkabau) yang tercermin dalam konsep Pemerintahan Nagari, Sumatera
Utara dalam bentuk Huta, serta di Provinsi Aceh dengan model Gampoeng.
2.1.2. Tipe Penelitian
Penelitian ini bertipekan eksploratif-deskriptif dengan pendekatan
kualitatif. Dengan kata lain, suatu penelitian yang menggali dan memahami secara
mendalam tentang pemahaman pemerintahan desa berbasis budaya lokal.
2.1.3. Teknik Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini dapat dibagi atas dua jenis, yakni data primer
dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari penelitian
lapangan. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari
literatur-literatur, jurnal, dokumen-dokumen, atau lainnya yang mendukung penelitian ini.
Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara. Observasi
dilakukan untuk mengamati proses-proses sosial yang terwujud di masyarakat
desa serta berjalannya pemerintahan desa. Seluruh hasil observasi dituangkan ke
dalam catatan lapangan. Observasi menggunakan alat bantu berupa kamera foto,
dan alat perekam gambar (video recorder).
Wawancara yang dilakukan adalah wawancara mendalam. Wawancara
mendalam ditujukan kepada informan. Informan dibedakan atas tiga jenis, yaitu,
informan pangkal, informan kunci dan informan biasa. Informan pangkal adalah
orang yang pertama sekali dijumpai di lapangan yang dapat memberikan
gambaran awal tentang kondisi desa. Informan kunci adalah orang yang
yang dituakan). Sedangkan informan biasa adalah masyarakat desa yang dianggap
memahami tentang aspek yang dikaji.
Wawancara mendalam yang ditujukan kepada informan kunci dan
informan biasa dilakukan untuk memperoleh informasi tentang bentuk
pemerintahan desa sebagai cerminan kearifan lokal, lembaga-lembaga yang
dibutuhkan dan yang terkait dengan pemerintahan desa yang menjaga kearifan
lokal tersebut, sumber-sumber ekonomi desa yang dikelola dalam rangka
mensejahterakan masyarakat desa, dan peran negara dalam melindungi
pemerintahan desa yang berbasis kearifan lokal. Jumlah informan disesuaikan
dengan kebutuhan data.
Proses wawancara dibantu dengan pedoman wawancara. Pedoman
wawancara berisikan poin-poin pokok yang terkait dengan aspek-aspek yang akan
diteliti. Proses wawancara dibantu dengan alat perekam suara (tape recorder).
Seluruh hasil wawancara dituangkan dalam catatan wawancara.
2.1.4. Analisis Data
Analisis data dilakukan secara analisis kualitatif. Data yang telah
terkumpul, baik dari hasil observasi dan wawancara dikelompokkan ke dalam
beberapa kategori sesuai dengan kebutuhan atau aspek yang dikaji dan
diinterpretasi secara kualitatif, serta dikaitkan dengan data sekunder yang tersedia.
2.2. Deskripsi Lokasi Penelitian
2.2.l. Provinsi Sumatera Utara
2.2.1.1. Profil Desa di Kecamatan Padang Bolak
Desa Purba Sinomba adalah satu dari 76 desa di Kecamatan Padang Bolak
yang merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Padang Lawas Utara. Nama
desa lain misalnya Desa Mompang II, Desa Gulangan, Desa Simaninggir, Desa
Sigama dan Desa Batang Pane I. Jika ditambah dengan satu kelurahan maka
jumlah satuan pemerintahan terendah di kecamatan ini adalah 77 desa/kelurahan.
Nama Kelurahan di Kecamatan Padang Bolak adalah Kelurahan Pasar Gunung
Tua.
Kabupaten Padang Lawas Utara sendiri, merupakan kabupaten baru.
2007 tentang Pembentukan Kabupaten Padang Lawas Utara dalam Daerah
Provinsi Sumatera Utara. Dulunya, Kabupaten ini merupakan bagian dari
Kabupaten Tapanuli Selatan. Daerah ini memiliki 9 kecamatan, yaitu: Kecamatan
Batang Onang, Kecamatan Padang Bolak Julu, Kecamatan Portibi, Kecamatan
Padang Bolak, Kecamatan Simangambat, Kecamatan Halongonan, Kecamatan
Dolok, Kecamatan Dolok Sigompulon, dan Kecamatan Hulu Sihapas.
Kecamatan Padang Bolak memiliki 12 desa swakarya dan 65 desa
swasembada.1 Contoh desa yang termasuk desa swasembada antara lain Batang Pane I, Batang Pane II, Batang Pane III, Aek Jangkang dan Simbolon. Sedangkan
contoh desa yang termasuk desa swakarya antara lain desa Rampa Jae, Gunung
Tua Julu, Losung Batu dan Batu Sundung. Dalam hal ini, Desa Purba Sinomba
termasuk desa Swasembada.
Jarak Ibukota Kecamatan ke Desa Purba Sinomba sejauh 4,0 km. Jarak ini
adalah jarak yang dekat karena Jarak desa terdekat sejauh 2,5 Km yaitu Desa
Gunung Tua Julu, sedangkan jarak desa terjauh mencapai 48 Km yaitu Desa
Batang Pane I. Jika menggunakan becak motor dari kantor Kecamatan Padang
Bolak menuju Desa Purba Sinomba memakan waktu kurang dari 12 menit.
Kondisi jalan cukup baik. Namun demikian, terdapat jalan berbatu jika perjalanan
diarahkan menuju Bagas Godang.
Wilayah pedesaan di Kecamatan Padang Bolak bisa dikatakan berbukit.
Misalnya Desa Mompang II, Desa Simaninggir, Desa Tangga Hambeng, Desa
Sidingkat, Desa Garonggang. Desa Purba Sinomba termasuk desa dengan kategori
datar, meskipun pada kenyataannya keadaan tanah di wilayah ini masih
bergelombang. Beberapa Desa yang bertanah datar, contohnya antara lain Desa
Simbolon, Desa Aek Jangkang, Desa Patang Pane I, dan Desa Batang Pane II.
Desa Purba Sinomba merupakan desa yang luasnya sebesar 13,03 Km2. Rasio wilayah ini dengan total luas kecamatan sebesar 1,61%. Jika dilihat dan
dibandingkan dengan rasio wilayah desa-desa lain di Kecamatan Padang Bolak,
maka Desa Purba Sinomba dapat dikatakan memiliki wilayah yang luasnya
sedang. Sebagai perbandingan Desa terluas di kecamatan ini memilik wilayah
24,00 Km2. Secara umum Desa Purba Sinomba memiliki lebih banyak tanah kering. Luasnya 1.168 ha. Tanah sawah seluas 105 ha. Sisanya adalah tanah
perumahan dan pekarangan masyarakat desa.
Tabel 2
Profil Desa Purba Sinomba
No Identifikasi Jumlah
1 Luas Area 13,03 Km2
2 Penduduk 1.767 orang
3 Kepadatan Penduduk 135,61
Sumber: diolah dari data BPS, Kecamatan Padang Bolak Dalam Angka 2010.
Penduduk di Desa Purba Sinomba berjumlah 1.767 orang dengan
kepadatan Penduduk 135,61 (lihat Tabel 1). Dilihat dari jenis kelaminnya,
penduduk Desa Purba Sinomba lebih banyak perempuan. Jumlah Perempuan
mencapai 914 orang. Sementara itu, jumlah laki-laki mencapai 853 orang. Pada
umumnya mereka yang berjenis kelamin laki-laki meninggalkan desa untuk
mencari kehidupan baru (merantau).
Tabel 3
Penduduk Menurut Jenis Kelamin Tahun 2009
No Identifikasi Jumlah
1 Laki-Laki 853
2 Perempuan 914
3 Rasio Jenis Kelamin 93,33
Sumber: diolah dari data BPS, Kecamatan Padang Bolak Dalam Angka 2010.
Jumlah rumah tangga Desa Purba Sinomba sampai tahun 2009 mencapai
425 Kepala Keluarga. Adapun jumlah rata-rata anggota rumah tangga per rumah
tangga adalah 4,15 orang (lihat Tabel 3). Keberadaan Rumah Tangga sedemikian
bahwa banyak wilayah yang masih belum digunakan sebagai pemukiman. Dengan
kata lain lahan non pemukiman lebih luas daripada lahan pemukiman.
Tabel 4
Rata-rata Anggota Rumah Tangga Tahun 2009
No Identifikasi Jumlah
1 Penduduk 1.767
2 Banyaknya Rumah Tangga 426
3 Rata-rata ART per Rumah Tangga 4,15
Sumber: diolah dari data BPS, Kecamatan Padang Bolak Dalam Angka 2010.
Mobilitas penduduk desa Purba Sinomba umumnya lebih rendah.
Dibanding jumlah yang pindah, lebih banyak jumlah yang datang. Meski
demikian penduduk yang datang biasanya masih keluarga dekat dengan para
penduduk setempat. Kedekatan itu dapat dilihat dari nama marga yang sama.
Misalnya saja penduduk dengan marga Harahap.
Tabel 5
Banyaknya Mutasi dan Mutandis Penduduk Tahun 2009
No Identifikasi Jumlah
1 Lahir 9
2 Mati 6
3 Datang 125
4 Pindah 6
Sumber: diolah dari data BPS, Kecamatan Padang Bolak Dalam Angka 2010.
Komposisi mata pencaharian penduduk di Desa Purba Sinomba
bervariatif. Namun demikian, penduduk di desa ini secara umum bergantung pada
sektor pertanian. Ada 352 orang yang merupakan petani. Kemudian disusul
dengan mereka yang Pegawai Negeri sebanyak 31 orang. Lalu pedagang 15 orang,
(lihat Tabel 5). Komposisi ini menegaskan kalau desa Purba Sinomba merupakan
desa yang bergantung di sektor pertanian.
Tabel 6
Mata Pencaharian Penduduk Tahun 2009
No Identifikasi Jumlah
1 Pegawai Negeri 31
2 Pegawai Swasta 6
3 TNI 1
4 Petani 352
5 Pedagang 15
6 Pensiunan 5
7 Lainnya 16
Sumber: diolah dari data BPS, Kecamatan Padang Bolak Dalam Angka 2010.
Di sektor peternakan, terdapat data yang menunjukkan bahwa masyarakat
desa Purba juga memiliki pendapatan dari sektor ini. Data 2009 menunjukkan
terdapat ternak ayam (1986), itik/bebek (122), sapi (30), kerbau (11), kambing
(40) dan domba 18 ekor (lihat Tabel 6). Besarnya jumlah petani di Desa Purba
Sinomba, mendorong para petani untuk berorganisasi. Sampai dengan tahun 2009,
terdapat 2 organisasi kelompok tani. Total jumlah anggota kelompok tani tersebut
mencapai 216 orang. Jumlah ini cukup banyak meski sebenarnya masih terdapat
petani yang tidak berorganisasi atau tidak bergabung dalam organisasi tersebut.
Tabel 7
Banyaknya Ternak Tahun 2009
No Identifikasi Jumlah
1 Ayam 1986
2 Itik/Bebek 122
3 Sapi 30
4 Kerbau 11
6 Kambing 40
7 Domba 18
8 Babi -
Sumber: diolah dari data BPS, Kecamatan Padang Bolak Dalam Angka 2010.
Pasangan Usia Subur (PUS) di Desa Purba Sinomba tidak terlalu aktif
berpartisipasi dalam penggunaan alat kontrasepsi. Menurut data partisipasi
penggunaan alat kontrasepsi tahun 2009, jumlah yang berpartisipasi baru
mencapai angka 50% dari total pasangan usia subur (226 pasangan). Dengan kata
lain masih terdapat 50% lagi yang belum berpartisipasi dalam penggunaan alat
kontrasepsi tersebut. Jumlahnya adalah 108 pasangan usia subur.
Keluarga yang ada di desa Purba Sinomba dapat dikatakan sebagai
keluaraga tingkat kesejahteraannya masih tergolong rendah (lihat Tabel 7).
Tingkat kesejahteraan ini dilatarbelakangi oleh sumber pendapat masyarakat yang
bergantung pada hasil pertanian. Umumnya petani di desa ini adalah petani yang
menanam padi. Selain itu adapula yang bertanam jagung dan berkebun. Adapun
perkebunan yang menjanjikan pendapatan yang baik adalah perkebunan kelapa
sawit.
Tabel 8
Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Tahun 2009
No Identifikasi Jumlah
1 Pra KS 16
2 KS-I 74
3 KS-II 180
Jumlah 270
Sumber: diolah dari data BPS, Kecamatan Padang Bolak Dalam Angka 2010.
Desa Purba Sinomba didukung oleh fasilitas Ibadah yang cukup baik.
Terdapat 1 buah masjid di desa ini. Selain itu terdapat 7 buah musholla
dengan fasilitas tempat berwudhu, peralatan pengeras suara, bedug dan ambal
serta dilengkapi dengan papan pengumuman.
Penduduk atau masyarakat Desa Purba Sinomba adalah penganut agama
Islam. Keberadaan sarana ibadah yang cukup banyak tersebut menjelaskan
perilaku masyarakat yang pada umumnya suka beribadah ke Masjid. Khususnya
untuk Shalat Maghrib. Tidak hanya kalangan orang tua, namun kalangan anak
muda juga ada yang rajin ke masjid untuk melaksanakan shalat maghrib
berjamaah.
Aktivitas sosial masyarakat tidak terlepas dari ikatan keagamaan yang kuat
diantara masyarakat. Dalam hal ini adanya kelompok pengajian di Desa Purba
Sinomba mengisyaratkan bahwa masyarakat menjalin komunikasi sosial melalui
ibadah dan kegiatan keagamaan. Kegiatan tersebutlah yang mempersatukan
masyarakat dan menjadi media komunikasi masyarakat. Termasuk untuk
melaksanakan kegiatan sosial seperti gotong royong, kegiatan pesta pernikahan
dan kegiatan lain seperti Maulid Nabi Muhammad SAW.
Total rumah di daerah ini 426 rumah. Secara umum merupakan rumah
tidak permanen. Sebagian besar lainnya merupakan bangunan semi permanen.
Terdapat bangunan permanen 85 unit rumah. Semua rumah sudah mendapat aliran
listrik (terdapat 350 Rumah Tangga Pelanggan PLN). Di Desa Purba Sinomba
terdapat 1 bengkel sepeda motor. Selain itu terdapat 2 kilang padi, 4 pedagang
minayak eceran (bensin/solar/oli), terdapat 28 warung. Realisasi PBB di Desa
Purba Sinomba masih nol, dari pokok penetapan PBB sebesar RP.4.212.505.
Tabel 9
Banyaknya Rumah Tahun 2009
No Identifikasi Jumlah
1 Permanen 85
2 Semi Permanen 130
3 Tidak Permanen 211
Jumlah 426
Cirikhas rumah di Desa Purba Sinomba adalah rumah panggung.
Tingginya kira-kira satu meter. Bahan yang digunakan sebagai tangga adalah batu
yang di semen. Sementara itu dindingnya adalah kayu. Demikian pula lantainya
yang terbuat dari kayu. Jendelanya juga terbuat dari bahan kayu, sebagian yang
lain nampak sudah menggunakan kaca. Bahan atap yang digunakan adalah atap
seng. Rumah panggung yang ada sekarang merupakan rumah panggung yang
lama yang usianya sudah mencapai puluhan tahun. Bahkan Bagas Godang
(Rumah Besar – yang merupakan rumah adat tempat kediaman raja) diperkirakan
memiliki usia lebih dari seratus tahun.
Kondisi Bagas Godang tersebut cukup memprihatinkan karena posisinya
saja agak sudah miring ke kanan. Hal ini menunjukkan bahwa tiang-tiang
penyangga rumah sudah tidak sekuat dulu. Dindingnya hanya tinggal separuh saja
(hanya bagian depan yang tersisa), sementara sisanya sudah habis karena
mengalami pelapukan atau dimakan rayap. Tangganya juga sudah retak dan
sebagian terbelah. Atapnya tidak utuh lagi karena lapuk setelah berkarat.
Sehari-hari Bagas Godang hanya merupakan bangunan tua yang tidak
terawat dan hampir rubuh. Bagi penduduk yang tinggal didekat Bagas Godang,
keberadaannya hanya menimbulkan kekhawatiran kalau-kalau bagas Godang akan
runtuh dan menimpa rumah yang ada disebelahnya. Kekawatiran ini semakin
besar karena rumah yang ada disebelahnya merupakan rumah panggung yang juga
sudah berusia lanjut.
2.2.1.2. Profil Desa di Kecamatan Siborong-Borong
Kecamatan Siborong-borong adalah salah satu kecamatan di Kabupaten
Tapanuli Utara. Kecamatan lain misalnya adalah Pahae Julu, Purbatua, Sipahutar,
Muara dan Sipoholon. Total kecamatan di kabupaten ini, ada 15 Kecamatan.
Kecamatan yang paling banyak jumlah desa/kelurahannya adalah Kecamatan
Tarutung yakni 30 desa/kelurahan (23 desa dan 7 kelurahan). Adapun yang paling
sedikit adalah Kecamatan Simangumban (7 Desa). Jumlah keseluruhan desa dan
kelurahan mencapai 225 (214 Desa dan 11 Kelurahan). Desa-desa tersebut
tersebar diwilayah Tapanuli Utara yang pada umumnya dihuni oleh masyarakat
Pada masa Hindia Belanda, Kabupaten Tapanuli Utara termasuk
Kabupaten Dairi dan Toba Samosir yang sekarang termasuk dalam keresidenan
Tapanuli yang dipimpin seorang Residen Bangsa Belanda yang berkedudukan di
Sibolga. Keresidenan Tapanuli yang dulu disebut Residentie Tapanuli terdiri 4
Afdeling (kabupaten) yaitu Afdeling Batak Landen, Afdeling Padang Sidempuan,
afdeling Sibolga dan Afdeling Nias. Afdeling Batak Landen dipimpin seorang
Asisten Residen yang ibukotanya Tarutung yang terdiri 5 Onder Afdeling
(Wilayah) yaitu :
1. Onder Afdeling Silindung (Wilayah Silindung) ibukotanya Tarutung.
2. Onder Afdeling Hoovlakte Van Toba (Wilayah Humbang) ibukotanya
Siborong-Borong
3. Onder Afdeling Toba (Wilayah Toba) ibokotanya Balige
4. Onder Afdeling Samosir (Wilayah Samosir) ibukotanya Pangururan.
5. Onder Afdeling Dairi Landen (Kabupaten Dairi sekarang) ibukotanya
Sidikalang.
Tiap-tiap Onder Afdeling mempunyai satu Distrik (Kewedanaan) dipimpin
seorang Distrikchoolfd bangsa Indonesia yang disebut Demang dan membawahi
beberapa Onder Distriken (Kecamatan) yang dipimpin oleh seorang Asisten
Demang. Menjelang Perang Dunia II, distrik-distrik di seluruh keresidenan
Tapanuli dihapuskan dan beberapa Demang yang mengepalai distrik-distrik
sebelumny diperbantukan ke kantor Controleur masing-masing dan disebut
namanya Demang Terbeschingking. Dengan penghapusan ini para asisten
Demang yang ada di kantor Demang itu ditetapkan menjadi Asisten Demang di
Onder Distrik bersangkutan. Kemudian tiap Onder distrik membawahi beberapa
negeri yang dipimpin oleh seorang kepala Negeri yang disebut Negeri Hoofd.
Pada waktu berikutnya diubah dan dilaksanakan pemilihan, tetapi tetap
memperhatikan asal-usulnya.
Negeri-negeri ini terdiri dari beberapa kampong, yang dipimpin seorang
kepala kampong yang disebut Kampung Hoafd dan juga diangkat serupa dengan
pengangkatan Negeri Hoofd. Negeri dan Kampung Hoofd statusnya bukan
pegawai negeri, tetapi pejabat-pejabat yang berdiri sendiri di negeri/kampungnya.
khusus Negeri Hoofd menerima tiap-tiap tahun upah yang di sebut Yoarrliykse
Begreting. Tugas utama Negeri dan kampong Hoofd ialah memelihara keamanan
dan ketertiban, memungut pajak/blasting/rodi/ dari penduduk Negeri/kampung
masing-masing. Blasting/rodi ditetapkan tiap-tiap tahun oleh kontraleur sesudah
panen padi.
Pada waktu pendudukan tentara Jepang Tahun1942-1945 struktur
pemerintahan di Tapanuli Utara hampir tidak berubah, hanya namanya yang
berubah seperti:
1. Asistent Resident diganti dengan nama Gunseibe dan menguasai seluruh
tanah batak dan Tanah Batak Sityotyo.
2. Demang-demang Terbeschiking menjadi Guntyomme memimpin
masing-masing wilayah yang disebut Gunyakusyo.
3. Asisten Demang tetap berada di posnya masing-masing dengan nama Huku
Guntyo dan kecamatannya diganti dengan nama Huku Gunyakusyo
4. Negeri dan Kampung Hoofd tetap memimpin Negeri/Kampungnya
masing-masing dengan mengubah namanya menjadi Kepala Negeri dan Kepala
Kampung.
Sesudah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan, pemerintah
mulailah membentuk struktur pemerintahan baik di pusat dan di daerah. Dengan
diangkatnya Dr.Ferdinand Lumbantobing sebagai Residen Tapanuli, disusunlah
struktur pemerintahan dalam negeri di Tapanuli khususnya di Tapanuli Utara.
Pada tahun 1946 terjadi Agresi I oleh Belanda dimana Belanda mulai menduduki
daerah Sumatera Timur maka berdasarkan pertimbangan-pertimbangan strategi
dan untuk memperkuat pemerintahan dan pertahanan, kabupaten Tanah Batak
dibagi menjadi 4 kabupaten dan memperbanyak kecamatan.
Setelah Belanda meninggalkan Indonesia pada pengesahan kedaulatan,
pada permulaan tahun 1750 di Tapanuli di bentuk kabupaten baru yaitu
Kabupaten Tapanuli Utara (dulu Kabupaten Batak), Kabupaten Tapanuli Selatan
(dulu Kabupaten Padang Sidempuan), Kabupaten Tapanuli Tengah (dulu
kabupaten Sibolga) dan Kabupaten Nias (dulu Kabupaten Nias). Dengan
tahun 1947 di bubarkan. Disamping itu ditiap kabupaten dibentuk badan legislatif
Dewan Perwakilan Rakyat Sementara yang anggotanya partai politik setempat.
Salah satu upaya untuk mempercepat laju pembangunan ditinjau dari
aspek pertumbuhan ekonomi daerah, pemerataan hasil-hasil pembangunan dan
stabilitas keamanan adalah dengan jalan pemekaran wilayah. Pada tahun 1998
kabupaten Tapanuli Utara dimekarkan menjadi dua kabupaten yaitu Kabupaten
Tapanuli Utara dan Kabupaten Toba Samosir sesuai dengan Undang-Undang
Nomor 12 tahu 1998 tantang Pembentukkan Kabupaten Toba Samosir dan
Kabupaten Mandailaing Natal.
Kemudian pada tahun 2004 Kabupaten Tapanuli Utara dimekarkan
kembali menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten
Humbang Hasudutan sesuai dengan Undang-Undang No.9 Tahun 2003 tentang
pembentukkan Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Pakpak Barat dan Kabupaten
Humbang Hasundutan.
Kabupaten Tapanuli Utara merupakan daerah yang cukup terkenal di
kawasan Nusantara, terutama karena potensi alam dan sumber daya manusianya.
Potensi alam antara lain luasnya lahan kering untuk dijadikan persawahan baru
dan membangun irigasi. Sebagian perairan Danau Toba yang dimiliki dan sungai
yang cukup banyak untuk dimanfaatkan potensinya untuk irigasi, pengembangan
perikanan maupun pembangkit tenaga listrik. Keindahan alam dengan panorama
khususnya Pulau Sibandang di kawasan Danau Toba di Kecamtan Muara, dan
Wisata Rohani Salib Kasih. Kekayaan seni budaya asli merupakan potensi daerah
dalam upaya mengembangkan kepariwisataan nasional.
Potensi sumber daya manusia sudah tidak diragukan lagi bahwa cukup
banyak putera-puteri Tapanuli yang berjasa baik di bidang pemerintahan, dunia
usaha dan sebagainya. Siborong-borong pernah menjadi ibukota tanah Batak.
Selain Bakkara yang dikenal sebagai ibukota Dinasti Sisingamangaraja. Hal itu
terjadi karena adanya dua kelompok yang bertikai. Ada dua kubu yang
memerintah di tanah Batak saat itu. Satu kubu pimpinan Fakih Amiruddin yang
wilayahnya meliputi Rao, tanah Batak selatan sampai Asahan, Padang Lawas dan
saudaranya sendiri Sisingamangaraja X yang menjadi penguasa tradisional Toba
dengan pusat di Bakkara.
Fakih Amiruddin memerintah dari Siborong-borong lebih kurang pada
tahun 1800-an, dalam konflik dengan kerabatnya pihak Sisingamangaraja X di
Toba. Pemerintahan Fakih Sinambela di Tanah Batak dibagi dalam empat
wilayah. Masing-masing wilayah dipimpin oleh panglima.
Secara umum, suku Batak memiliki falsafah adat Dalihan Na Tolu yakni
Somba Marhula-hula (hormat pada pihak keluarga ibu/istri) Elek Marboru (ramah
pada keluarga saudara perempuan) dan Manat Mardongan Tubu (kompak dalam
hubungan semarga). Dalam kehidupan sehari-hari, falsafah ini dipegang teguh dan
hingga kini menjadi landasan kehidupan sosial dan bermasyarakat di lingkungan
orang Batak.
Kabupaten Tapnuli Utara merupakan salah satu dari 25 daerah
Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara terletak di wilayah pengembangan
dataran tinggi Sumatera Utara berada pada ketinggian 300-1500 meter di atas
permukaan laut. Topografi dan kontur tanah kabupaten Tapanuli Utara beraneka
ragam yaitu yang tergolong datar (3.15 persen), landai (26,86 persen, miring
(25,62 persen) dan terjal (44,35 persen).
Secara astronomis kabupaten Tapanuli Utara berada pada posisi 10 20’-2041’ Lintang Utara dan 98005’-99016’ Bujur Timur. Sedangkan secara geografis letak Kabupaten Tapanuli Utara diapit atau berbatas langsung dengan lima
kabupaten yaitu, di sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Toba Samosir, di
sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Labuhan Batu, disebalah Selatan
berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatat dan di sebelah barat berbatasan
dengan kabupaten Humbang Hasudutan dan Tapanuli Tengah.
Letak geografis dan astronomis kabupaten Tapanuli Utara ini sangat
menguntungkan karena berada pada jalur lintas dari beberapa Kabupaten di
provinsi Sumatera Utara. Luas Wilayah Luas Wilayah Kabupaten Tapanuli Utara
sekitar 3.800,81 km2 terdiri dari luas 3.793,71 km2 dan luas perairan Danau Toba
6.60 km2. Dari 15 kecamatan yang ada, kecamatan yang paling luas di Kabupaten
dari luas kabupaten, dan kecamatan yang terkecil luasnya yaitu Kecamatan Muara
sekitar 79,75 km2 atau 2.10 persen.
Salah satu unsur cuaca/iklim adalah curah hujan. Kabupaten Tapanuli
Utara yang berada pada ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan laut
sangat berpeluang memperoleh curah hujan yang banyak, Selama tahun 2005,
rata-rata curah hujan tahunan tercatat 1.843 mm dan lama hari hujan 168 hari atau
rata-rata curah hujan bulanan sebanyak 153.58 mm dan lama dari hujan 14 hari.
Dari rata-rata curah hujan tertinggi terjadi pada bulan September yaitu 307 mm
dan lama hari hujan 21 hari dan curah hujan terendah pada bulan Juni yaitu 11
mm dan lama hari hujan 7 hari.
Kabupaten Tapanuli Utara secara wilayah adminstrasi terdiri dari 15
kecamatan. Kelimabelas kecamatan ini terbagi dalam 214 desa dan 11 kelurahan.
Kecamatan yang paling banyak jumlah desa/keluarahan yaitu kecamatan Tarutung
(23 desa dan 7 kelurahan) dan yang paling sedikit jumlah desanya yaitu
kecamatan Simangumban (7 desa).
Keadaan desa/kelurahan ditinjau dari tingkat perkembangannya masih
sangat memprihatikan, dari 225 desa/keluarahn baru 1.33 persen desa/kelurahan
swasembada sisanya 38.67 persen desa swakarya dan 60 persen desa swadaya.
Pada tahun 2006, melalui Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Utara No.
04.05.6 dan 07 tahun 2006 dibentuk desa pemekaran sebanyak 10 desa yaitu,
Desa Pertengahan, Hutajulu Parbalik Hutatua dan Horisan Ranggigit di Kecamatn
Pamonangan, Desa Sitabo-Tabo Toruan dan Silait-Lait Di Kecamatan
Siborong-Borong., Desa Parsormirninan 1, Silantom Jae dan padang Parsadaan di
Kecamatan Pangaribuan serta Desa Hutaraja Simanungkalit di Kecamatan
Sipoholon.
Sektor pertanian, bagi daerah Kabupaten Tapanuli Utara sampai saat ini
masih merupakan tulang punggung perekonomian daerah sebagai penghasil nilai
tamabah dan devisa maupun sumber lapangan pekerjaan sebagian besar
penduduknya. Hal ini ditunjukkan dari kontribusi sektor pertanian dalam
pembentukkan PDRB pada tahun 2005 masih tetap dominan yakni 56.08 persen
Pertanian merupakan sumber pendapatan terbesar daerah Siborong borong,
kemudian disusul berdagang dan pegawai negeri. Komoditas utama yang ditanam
dengan urutan palawija (Jagung, kacang, dan ubi) kemudian padi. Sistem
budidaya yang digunakan adalah budidaya lahan kering, yang pada
pertanamannya sangat mengharapkan curah hujan semata.
Mengingat pentingnya sektor pertanian bagi daerah Kabupaten Tapanuli
Utara yang mana memberikan fasilitas dan dorongan yang lebih terarah bagi
perkembangan pembangunan kerakyatan. Pemerintahan daerah Kabupaten
Tapanuli Utara yakni “Mewujudkan Kemakmuran Masyarakat Berbasis
Pertanian”. Sektor pertanian, yang terdiri dari sub sektor tanaman bahan makanan,
perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Sub sektor pertanian yang
paling dominan yang dibudidayakan masyarakat di Kabupaten Tapanuli Utara
adalah sub sektor tanaman bahan makanan mencakup tanaman padi, palawija dan
hortikultura. Untuk tanaman padi dan palawija, padi memiliki luas panen terbesar
seluas 27.365 ha. Sedangkan untuk tanaman sayuran, cabe memiliki luas panen
terbesar yaitu sebesar 345 ha.
Pada umunya perkebunan di Kabupaten Tapanuli Utara adalah perkebunan
rakyat, belum terdapat usaha perkebunan yang diusahakan oleh perusahaan
perkebunan. Walaupun demikian dimasa mendatang diharapkan perkebunan
rakyat ini semakin berkembang. Jenis komoditi unggulan yang dibudidayakan
masyarakat Kabupaten Tapanuli Utara adalah tanaman kemenyan. Hal ini terlihat
dari besarnya luas tanaman kemenyan yaitu seluas 16.282,50 ha dan luas tanam
terbesar ada di Kecamatan Pangaribuan seluas 3.084 ha. Kemudian diikuti oleh
tanaman kopi dengan luas tanam terbesar juga terdapat di kecamatan Pangaribuan
yaitu seluas 2.757,50 ha.
Pertambahan populasi ternak selama 3 tahun terakhir ini tidak terlalu
menunjukkan perubahan besar. Misal pada tahun 2004 populasi kerbau sebanyak
15.324 ekor bertambah menjadi 15.777 ekor selama tahun 2005. Sedang untuk
ternak kecil seperti babi, bertambah dari 29.465 ekor pada tahun 2004 menjadi
30.791 ekor pada tahun 2005 dan untuk ternak unggas seperti ayam contohnya,
Daerah Kabupaten Tapanuli Utara selain memiliki Danau Toba juga
terdapat kolam, rawa, dan beberapa aliran sungai yang cukup panjang yang dapat
dimanfaatkan untuk pengembangan perikanan. Namun usaha perikanan pada
umunya adalah usaha rumah tangga dalam skala kecil. Menurut sifat usahanya ada
yang sudah dikelola secara budidaya dan melalui penangkapan di perairan umum.
Rumah tangga budidaya ikan lokasi usahanya ada di kolam dan sawah sedangkan
penangkapan ikan dilakukan di sungai, rawa dan danau.
Jumlah rumah tangga budidaya ikan pada tahun 2005 sebanyak 3.638
rumah tangga dan penangkapan ikan ada sebanyak 979 rumah tangga. Dan hasil
produksi budidaya sebanyak 9.325,2 ton dan hasil penangkapan sebanyak 1.120
ton. Jumlah rumah tangga dan hasil produksi ini menunjukkan kenaikan dai tahun
2004.
Kawasan hutan menurut fungsinya dibagi menjadi 4 yaitu hutan produksi.
Hutan produksi terbatas, hutan lindung dan hutan konservasi. Luas kawasan hutan
pada tahun 2005 di Kabupaten Tapanuli Utara tercatat 234.395,64 ha, terdiri dari
hutan produksi seluas 95.436,ha, hutan produksi terbatas seluas 89.352,97 ha,
hutan lindung 47.771,52 ha dan hutan konservasi seluas 1.834,76 Ha.
Perda No. 04 Tahun 2010 jo. Perda No. 03 Tahun 2008 tentang Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Kabupaten Tapanuli Utara, terdiri dari : Asisten Tata
Pemerintahan, Bagian Pemerintahan, Bagian Hukum dan Organisasi, Bagian
Pemberdayaan Perempuan, Asisten Ekonomi, Pembangunan dan Sosial, Bagian
Perekonomian, Bagian Pengendalian Program, Bagian Kesejahteraan Rakyat,
Asisten Administrasi dan Umum, Bagian Umum dan Perlengkapan, Bagian
Pemuda dan Olahraga, Bagian Humas dan Keprotokolan, Staf Ahli Bupati, Staf
Ahli bidang Pemerintahan, Staf Ahli bidang Hukum dan Politik, Staf Ahli bidang
Pembangunan, Staf Ahli bidang Ekonomi dan Keuangan, Staf Ahli bidang
Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia.
Perda No. 05 Tahun 2010 jo. Perda No. 04 Tahun 2008 tentang Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah Kabupaten Tapanuli Utara, terdiri
dari: Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan
Informatika, Dinas Cipta Karya dan Perumahan, Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan, Dinas Kehutanan, Dinas Perikanan dan Peternakan, Dinas Pertanian
dan Perkebunan, Dinas Koperasi, UKM Perindustrian dan Perdagagan, Dinas
Pertambangan dan Energi, Dinas Kependudukandan Catatan Sipil, Dinas Pasar,
Kebersihan dan Pertamanan , Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan
Asset.
Perda No. 06 Tahun 2010 jo. Perda No. 05 Tahun 2008 tentang Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Tapanuli Utara,
terdiri dari: Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Badan
Kepegawaian Daerah, Badan Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan
Kehutanan, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa, Badan KB
dan PKS, Kantor Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat, Kantor
Pelayanan Perizinan Terpadu, Kantor Lingkungan Hidup, Satuan Polisi Pamong
Praja, Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah, Kantor Ketahanan Pangan,
Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
2.2.2. Provinsi Sumatera Barat
2.2.2.1. Sejarah, Letak dan Kondisi Geografis Nagari Limo Kaum.
Nagari Limo Kaum merupakan salah satu wilayah pemerintahan yang
terendah di dalam Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar Propinsi
Sumatera Barat. Kaum di sini dapat dipahami dalam pengertian teritorial. Jika
dikaitkan dengan nama nagarinya, Nagari Limo Kaum ini merupakan kumpulan
dari 5 (lima) pemukiman yang sekaligus menunjukkan sekelompok orang atau
kaum yang menempatinya yakni: Tigo Tapian, Koto Gadih, Kubu Rajo, Piliang,
dan Balai Labuah. Kelima wilayah atau kaum tersebut menjadi wilayah
pemukiman yang disebut jorong (dusun). Pada masa era pemerintahan Soeharto
jorong tersebut merupakan wilayah pemerintahan yang disebut dengan desa.
Terkait dengan sejarah Nagari Limo Kaum maka dapat dinyatakan bahwa
nagari ini didirikan oleh 5 (lima) kaum yang datang ke nagari ini yang akhirnya
menempati 8 (delapan) jorong sebagai wilayah pemukiman mereka.
sebagai nagari pertama masyarakat Minangkabau. Kepergian mereka sebanyak
lima kaum tersebut ke luar dari Nagari Pariangan dimungkinkan karena
perkembangan penduduk, sehingga membutuhkan pemukiman baru. Dengan
demikian, Nagari Limo Kaum dianggap sebagai pemukiman kedua setelah Nagari
Pariangan. Hal tersebut juga dibenarkan oleh tokoh-tokoh adat di nagari ini.
Kelima kaum dengan masing-masing suku yang ada di nagari ini memiliki
pimpinan adat di tiap sukunya yang disebut sebagai penghulu dan bergelar datuk.
Mereka juga dikenal sebagai ninik mamak. Namun, dari kelima kaum tersebut
dahulunya ada 5 (lima) pucuk adat yang menjadi pemimpin di nagari. Mereka
berhak mengambil keputusan dan kebijakan adat di Nagari Limo Kaum
(Mahmoed IA, 2008). Datuk yang berlima ini secara otomatis membawahi seluruh
ninik mamak yang ada di kawasan atau di kaumnya.
Dijelaskan lebih lanjut bahwa kelima datuk tersebut memiliki tugas
tersendiri yakni;
1. Datuk Basa, pucuk adat Kaum Tigo Tapian sebagai Imam,
2. Datuk Rajo Penghulu, pucuk adat Kaum Koto Gadih sebagai Manti atau Juru
Bicara,
3. Datuk Rajo Malano, pucuk adat di Kaum Kubu Rajo sebagai Maulana atau
Suluh nagari,
4. Datuk Rajo Nan Khatib, pucuk adat di Kaum Balai Labuah sebagai Khatib
nagari, dan
5. Datuk Tan Naro, pucuk adat di Kaum Piliang sebagai Bilal dan Dubalang
(Hulubalang) atau pagarnya nagari.
Jika ada keputusan-keputusan yang mereka ambil, maka keputusan itu
disampaikan oleh Datuk Rajo Penghulu kepada seluruh ninik mamak di nagari,
dibacakan oleh Datuk Rajo Nan Khatib, dijelaskan oleh Datuk Rajo Malano, dan
ditegaskan oleh Datuk Tan Naro.
Walaupun kelima datuk pucuk ini merupakan pemimpin di kawasannya
masing-masing, namun pucuk adat tertinggi di Nagari Limo Kaum di tangan
Datuk Bandaro Nan Kuniang. Beliau memegang keputusan datuk yang lima
tersebut. Dalam hal ini, Datuk Bandaro Nan Kuniang tidak boleh memberi
berbunyi “gajah gadang patah gadiang”. Artinya, kebesarannya diakui, tetapi
tidak memegang kekuasaan untuk memutuskan.
Saat ini Nagari Limo Kaum terdiri dari 8 (delapan) jorong yang terdiri dari
3 (tiga) jorong yang sama dengan nama kaumnya, 3 (tiga) jorong hasil dari
perkembangan pemukiman Kaum Tigo Tapian, dan 2 (dua) jorong dari
pemekaran pemukiman Kaum/Jorong Balai Labuah. Secara keseluruhan
jorong-jorong tersebut yakni:
1. Kaum Tigo Tapian yang meliputi jorong: Balai Batu 5 (lima) suku, Tigo
Tumpuak 3 (tiga) suku, dan Dusun Tuo 4 (empat) suku
2. Kaum/JorongKoto Gadih 4 (empat) suku
3. Kaum/JorongKubu Rajo 3 (tiga) suku
4. Kaum/JorongPiliang 3 (tiga) ninik
5. Kaum Balai Labuah 6 (enam) suku meliputi Jorong Balai Labuah Ateh
dan Jorong Balai Labuah Bawah
Melihat kenyataan adanya kaum yang sekaligus menjadi nama pemukiman
pemukiman tersebut maka dapat dinyatakan pula bahwa kaum dapat dipahami
juga sebagai sekelompok orang yang memiliki pertalian darah yang terdiri dari
laki-laki dan perempuan yang berasal dari satu ibu (Mahmoed IA, 2008) atau
sekelompok orang yang terikat pertalian darah lima generasi ke atasnya yang
posisinya terletak di bawah sekelompok orang yang disebut dengan sesuku
(Navis, 1986). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kaum sebagaimana
dalam pengertian adat atau budaya Minangkabau merupakan sekelompok orang
yang terikat pertalian darah.
Dari kelima kaum tersebut maka terdapat sejumlah 28 suku dari suku-suku
yang ada di masing-masing jorong di nagari ini yang meliputi suku: Sungai Napa,
Sumagek, Jambak, Supanjang, Mandaliko di Jorong Balai Batu; Sumagek,
Kampai, Balai Gamba di Jorong Tigo Tumpuak; Caniago, VII Rumah, Korong
Gadang, Sumagek di Jorong Dusun Tuo; Sungai Napa, Patopang, Paruik Nan
Panjang, Supanjang di Jorong Koto Gadih; Mandaliko, Sumagek, Singkuang di
Jorong Kuburajo; Mandaliko, Singkuang, Piliang di Jorong Piliang; serta suku
Labuah. Dari ke-28 suku yang ada tersebut dan jika dipilah berdasarkan nama
suku yang sama, maka terdapat 17 nama suku di Nagari Limo Kaum.
Melihat dari nama nagari yang memuat angka 5 (lima), 28 jumlah suku di
keseluruhan jorong, 17 nama suku, maka semuanya itu terkait dengan agama
Islam (Mahmoed, 2008). Lima terkait dengan sholat 5 (lima) waktu yang
diwajibkan dalam agama Islam, 28 menjelaskan jumlah gerak tubuh manusia jika
ia sholat 4 (empat) raka’at, dan 17 menunjukkan jumlah raka’at dari 5 (lima) kali
sholat wajib sehari semalam bagi ummat Islam. Kenyataan ini menunjukkan
bahwa ada kaitan antara kehidupan masyarakat yang didasarkan pada adat
(budaya) dengan Islam sebagai agama yang dianut masyarakat Limo Kaum atau
masyarakat Minangkabau umumnya. Sebagaimana yang tertuang melalui salah
satu filosofi Minangkabau yang berbunyi “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi
Kitabullah”. Filosofi tersebut menjelaskan adat saling terkait atau saling
menopang dengan agama Islam. Adat dan Islam menjadi identitas masyarakat
Limo Kaum dan masyarakat Minangkabau pada umumnya. Adat dan Islam
merupakan 2 (dua) identitas yang tidak terpisahkan.
Berdasarkan data dari profil nagari, pemerintahan di Nagari Limo Kaum
telah terbentuk sejak jaman penjajahan Belanda pada tahun 1840 hingga saat ini.
Namun, secara adat atau budaya Minangkabau, pemerintahan nagari itu sendiri
telah ada sebelum masa penjajahan Belanda. Hal ini dapat dijelaskan bahwa
nagari merupakan suatu pemerintahan otonom dengan dilengkapi syarat-syarat
tertentu yang harus dipenuhi secara adat atau budaya untuk berdirinya sebuah
nagari (Navis, 1986). Namun, pembentukan struktur dan pelaksanaan
administratif sebuah nagari secara efektif berlangsung sejak masa penjajahan
Belanda. Di Nagari Limo Kaum sendiri dimulai sejak tahun 1840 (Profil Nagari,
2010). Dari tahun 1840 hingga saat ini, dan dari bentuk awal pemerintahan yang
sudah berbentuk nagari, desa, dan saat ini kembali bernagari, Nagari Limo Kaum
telah dipimpin oleh 18 orang. Kedelapanbelas orang tersebut telah memimpin
nagari ini dengan periode kepemimpinan yang berbeda.
Letak Nagari Limo Kaum yang berada dalam wilayah perkotaan
mengakibatkan tingkat perkembangannya sangat pesat. Bahkan, nagari ini dapat
yang berada di wilayah Nagari Limo Kaum. Jarak nagari ini dengan ibu kota
propinsi lebih kurang 97 Km dengan waktu tempuh selama 3 (tiga) jam.
Sedangkan jarak nagari ini ke ibu kota kabupaten lebih kurang 3 (tiga) Km
dengan waktu tempuh 10 menit.
Sebagai salah satu dari 5 (lima) nagari yang ada di Kecamatan Lima
Kaum dan memiliki 8 (delapan) jorong, Nagari Limo Kaum memiliki luas
wilayah lebih kurang 2.300 Ha. Secara geografis, Nagari Limo Kaum berada pada
ketinggian lebih kurang 400 meter di atas permukaan laut. Kondisi topografis
berupa dataran tinggi dan bergelombang dengan suhu rata-rata 25 sampai dengan
32 derajat celcius. Nagari ini memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:
sebelah Utara berbatas dengan Nagari Baringin, sebelah Selatan berbatas dengan
Nagari Rambatan, sebelah Timur dengan Nagari Baringin, dan sebelah Barat
dengan Nagari Cubadak.
Dengan perkembangan nagari yang pesat maka lahan pertanian yang
dimiliki masyarakat semakin berkurang. Hal ini disebabkan kebutuhan untuk
wilayah pemukiman. Lahan pertanian telah beralih fungsi menjadi wilayah
pemukiman penduduk. Hal ini juga didasarkan atas letak keberadaan Nagari Limo
Kaum yang menjadi pusat kecamatan dan menjadi perlintasan baik untuk ke Kota
Batusangkar sebagai pusat kabupaten dan Kota Padang sebagai ibu kota Propinsi
Sumatera Barat. Akhirnya Nagari Limo Kaum menjadi nagari yang terbuka dan
memiliki masyarakat yang heterogen.
2.2.2.2. Sejarah, Letak dan Kondisi Geografis Nagari Bukik Kanduang.
Menurut sejarahnya, nenek moyang penduduk asli Nagari Bukik
Kanduang berasal dari Nagari Pariangan. Dari Pariangan ini, mereka turun
mencari pemukiman baru dengan berbagai alasan yang salah satu
kemungkinannya dapat dikatakan karena perkembangan penduduk. Setelah
melewati berbagai bukit dan lembah sampailah mereka salah satunya ke kawasan
atau jorong yang disebut Panjalangan (Profil Nagari Bukik Kanduang, 2010).
Dijelaskan bahwa nama Panjalangan berasal dari pengertian nenek yang berbaju
panjang tangan. Beliaulah yang sampai di Panjalangan, bermukim dan