BAB III Hasil Penelitian dan Pembahasan
3.3. Hasil Penelitian dan Pembahasan di Nanggroe Aceh Darussalam
3.3.1. Bangkitnya Identitas Lokal Sebagai Konteks Kembalinya Pemerintahan
3.3.1.1. Tata Pemerintahan Terendah di Aceh
3.3.1.1.2. Gampong
Sebenarnya, sejak dahulu keberadaan gampong diakui di Aceh tetapi dalam konteks adat. Sejak MoU Helsinki nama gampong telah diadopsi kembali untuk menggantikan nama desa yang diseragamkan di seluruh indonesia dengan UU nomor 5 tahun 1979. Akan tetapi kenyataannya, dalam hal pelaksanaan, gampong tidak ada bedanya dengan desa. Oleh sebab itu, gampong dulu hanya istilah lain dari desa. Padahal, ada perbedaan substansial antara Pemerintahan Gampong dan Pemerintahan Desa beserta perangkat dan lembaga adatnya. Namun demikian, dengan dikeluarkannya Qanun Nomor 5 tahun 2003 tentang Pemerintahan Gampong dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, paradigma itupun kemudian berubah. Gampong kemudian dilihat sebagai kesatuan masyarakat hukum dan adat dalam struktur kekuasaan terendah dan mempunyai wilayah kekuasaan sendiri serta memiliki kekayaan atau sumber pendapatan sendiri pula.
Dalam Pasal 1 (6) Qanun Nomor 5 tahun 2003 disebutkan : ”Gampong atau nama lain, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung berada di bawah Mukim atau nama lain yang menempati wilayah tertentu, yang dipimpin oleh Keuchik atau nama lain dan berhak menyelenggarakan urusan rumah tangganya sendiri.” Sementara itu dalam Pasal 10 Qanun Nomor 5 tahun 2003 disebutkan bahwa pemerintah Gampong terdiri dari Keuchik dan Imeum Meunasah beserta Perangkat Gampong. Dalam Pasal 11 Qanun Nomor 5 tahun 2003 dijelaskan pula bahwa Keuchik adalah Kepala Badan Eksekutif Gampong dalam penyelenggaraan Pemerintahan Gampong. Dengan sistem Pemerintahan Gampong, sistem demokrasi dari bawah (bottom-up) benar-benar dapat dilaksanakan.
Dalam Pemerintahan Gampong, bidang eksekutif Gampong dilaksanakan oleh Keuchik dan Teungku Imuem Meunasah dengan urusan yang berbeda. Di gampong, Pimpinan Keagamaan itu adalah Teungku Imuem Meunasah. Namun demikian, dalam Gampong posisi Imuem Meunasah setara dengan Keuchik walau masing-masing memiliki urusan yang berbeda. Camat Bathupat Barat Tarmizi, SE juga mengatakan13 “Imam gampong menyangkut dengan keagamaan, ketua
tuhapet menyangkut dengan urusan gampong dan adat-istiadat, kemudian keuchik itu mengangkut dengan pemerintahan”.
Begitu juga dengan bidang legislatif. Dalam Gampong secara tegas dibatasi bahwa unsur legislatif adalah di luar badan eksekutif. Kepala seksi pemerintahan Kecamatan Bathupat Barat, Rafyalshah, mengatakan bahwa “Tuha Peut adalah unsur legislatif di Gampong”. Ini sejalan dengan Pasal 1 (7) Qanun Nomor 5 tahun 2003 yang menyebutkan bahwa Tuha Peuet Gampong atau nama lain adalah Badan Perwakilan Gampong yang terdiri dari unsur ulama, tokoh adat, pemuka masyarakat dan cerdik pandai yang ada di Gampong. Jadi, Tuha Peut Gampong biasanya dipilih dari berbagai unsur. Unsur pemerintahan diambil biasanya orang yang sudah menjabat sebagai Keuchik atau orang yang sudah pernah terlibat dalam Pemerintahan Gampong.
Demikian halnya dengan pertanggungjawaban. Dalam kepemimpinan Keuchik, pertanggungjawaban dilakukan kepada masyarakat. Dalam kenyataan, biasanya hal itu dilaksanakan melalui Tuha Peut. Dan pemilihan Keuchik dan Tuhapet juga dilaksakan secara oleh masyarat gampong. Camat Bathupat Barat mengatakan:
“kalau misalnya untuk pemilihannya, fungsi tuhapet ialah membentuk panitia pemilihan yang namanya P2k (Panitia Pemilihan Keutchik) tapi begitu selesai pemilihan, tugasnya pun berakhir. Dan masing-masing keuchik dan tuhapet memiliki masa jabatan selama 6 tahun, kecuali Imam Meunasah yang masa jabatannya tidak terbatas, yang bisa diganti bila meninggal atau sudah uzur. Dan masing-masing gampong kemudian terdiri dari beberapa Jurong/dusun”.
Adapun tugas Tuhapeut menurut pasal 28 Qanun No.5 Tahun 2003 adalah:
1. Membentuk panitia pemilihan keuchik. 2. Menetapkan calon terpilih Geuchik. 3. Mengusulkan pemberhentian Geuchik.
4. Menyusun Reusam (peraturan) Gampong bersama Geuchik
5. Menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong bersama Geuchik 6. Memberikan persetujuan kerjasama antar gampong atau dengan pihak ketiga. 7. Memberikan saran dan pertimbangan kepada keuchik.
8. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Reusam (peraturan) dan Keputusan Geuchik.
9. Menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat.
10.Memberikan persetujuan terhadap pembentukan, pergabungan dan penghapusan gampong.
11. Memberikan persetujuan tertulis mengenai penetapan perangkat gampong. 12. Mengusulkan pejabat Geuchik.
13. Melaksanakan tugas lain berdasarkan peraturan perundang – undangan. Fungsi Tuhapeut menurut pasal 28 Qanun No.5 Tahun 2003 adalah:
1. Meningkatkan pelaksanaan syari’at islam dan adat dalam masyarakat setempat.
2. Memelihara kelestarian adat istiadat, kebiasaan – kebiasaan masyarakat dan budaya setempat yang memiliki asas manfaat.
3. Melaksanakan fungsi legeslasi, yaitu: membahas/merumuskan dan memberikan persetujuan terhadap penetapan geuchik dan reusam gampong, Rencana Anggaran dan Pendapatan Belanja Gampong sebelum ditetapkan menjadi Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong.
4. Melaksanakan Fungsi pengawasan, yaitu meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan reusam gampong, pelaksanaan anggaran dan pendapatan belanja gampong, keputusan – keputusan dan pelaksanaan lain dari geuchik.
5. Menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat kepada pemerintahan gampong.
Adapun pasal-pasal mengenai keuchik di Qanun no.5 Tahun 2003 Undang-Undang Pemerintahan Aceh diantaranya sebagai berikut:
Pasal 11 :
Keuchik adalah Kepala Badan Eksekutif Gampong dalam penyelenggaraan Pemerintahan Gampong.
Pasal 12 :
(1) Tugas dan kewajiban Keuchik adalah :
a) Memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Gampong;
c) Menjaga dan memelihara kelestarian adat dan adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat;
d) Membina dan memajukan perekonomian masyarakat serta memelihara kelestarian lingkungan hidup;
e) Memelihara ketentraman dan ketertiban serta mencegah munculnya perbuatan maksiat dalam masyarakat;
f) Menjadi Hakim perdamaian antar penduduk dalam Gampong;
g) Mengajukan Rancangan Reusam Gampong kepada Tuha Peuet Gampong untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan menjadi Reusam Gampong;
h) Mengajukan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Gampong kepada Tuha Peuet Gampong untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan menjadi Anggaran Pendapatan Belanja Gampong;
i) Keuchik mewakili Gampongnya di dalam dan di luar Pengadilan dan berhak menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya.
(2) Keuchik sebagai Hakim perdamaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f dibantu oleh Imeum Meunasah dan Tuha Peuet Gampong.
(3) Pihak-pihak yang keberatan terhadap keputusan perdamaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dapat meneruskannya kepada Imeum Mukim dan keputusan Imeum Mukim bersifat akhir dan mengikat.
Pasal 13 :
Dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana dimaksud pada Pasal 12, Keuchik wajib bersikap dan bertindak adil, tegas, arif dan bijaksana.
Pasal 14 :
(1) Keuchik memimpin penyelenggaraan pemerintahan Gampong berdasarkan kebijakan yang ditetapkannya dengan persetujuan Tuha Peuet Gampong.
(2) Dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, Keuchik bertanggung jawab kepada rakyat Gampong pada akhir masa jabatan atau sewaktu-waktu diminta oleh Tuha Peuet Gampong.
(3) Keuchik wajib menyampaikan laporan pelaksanaan tugasnya kepada Imeum Mukim, sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun yaitu pada akhir tahun anggaran atau sewaktu-waktu diminta oleh Imeum Mukim.
Pasal 15 :
Keuchik dipilih secara langsung oleh penduduk Gampong melalui pemilihan yang demokratis, bebas, rahasia serta dilaksanakan secara jujur dan adil.
Pasal 16 :
Masa jabatan Keuchik 5 (lima) tahun, terhitung mulai tanggal pelantikan dan dapat dipilih kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya.
Tugas Dan Tanggung Jawab Imeum Meunasah:
1. Mengurus, menyelenggarakan dan memimpin seluruh kegiatan yang berkenaan dengan kemakmuran mushalla.
2. Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan keagamaan dan peningkatan peribadatan serta pelaksanaan Syari’at Islam dalam kehidupan masyarakat. 3. Mengurus dan mengelola harta dan kekayaan agama di wilayah Gampong
yang bersangkutan.
4. Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan hari-hari besar Islam.
5. Mengurus dan mengkoordinasikan pelaksanaan zakat, infaq, dan shadaqah melalui Baitul Mal Gampong.
6. Menyusun dan menyampaikan rencana kerja di bidang keagamaan dan Syari’at Islam kepada Tuha Peut Gampong melalui Keuchik.
7. Mengkoordinasikan dan mengawasi kegiatan-kegiatan guru pengajian dan kegiatan balai pengajian pada tingkat Gampong.
8. Menjadi anggota Peradilan Adat dalam rapat-rapat adat pada tingkat Gampong.
9. Menjadi penasehat pada acara nikah, talak dan rujuk
3.3.2. Hadirnya Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) Sebagai