BAB III Hasil Penelitian dan Pembahasan
3.1.3. Sumber Ekonomi Pemerintahan Desa
Dalam Peraturan Pemerintah No 72 Tahun 2005 tentang Desa disebutkan bahwa pembangunan desa dilakukan dengan berbasiskan perencanaan pembangunan desa yang disusun secara partisipatif oleh pemerintahan desa sesuai dengan kewenangannya. Waktu perencanaan tersebut dibagi kedalam dua hal: jangka pendek dan jangka menengah.
Menurut Camat Padang Bolak Tunggul P. Hr, pendapatan desa sangat tergantung kepala desa. Misalnya Kepala Desa membuat Lubuk Larangan. Jika sudah panen maka akan ada tambahan ke kas desa. Dengan adanya Lubuk Larangan, masyarakat juga terbantu untuk mendapatkan ikan. Jika dulunya ikan sudah langka di sebuah desa, maka setelah adanya Lubuk Larangan ikan tidak langka lagi.
Pada kenyataanya tidak semua kepala desa mampu membuat program yang berguna bagi masyarakatnya. Di Desa Purba Sinomba tidak ditemukan adanya program yang bersifat kreatif dalam rangka meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Tidak ada lubuk larangan, juga belum ada peraturan kepala desa yang berhasil dijalankan dengan baik.
Cara lain adalah dengan model fee koperasi. Fee diambil dari hasil pertanian yang ada di desa. Misalnya setiap Kerbau yang dijual dapat diambil fee dalam jumlah tertentu (contoh 10 persen dari hasil penjualan atau kurang dari itu). Di Desa Purba Sinomba peraturan yang sudah dikaji antara BPD dan Kepala Desa adalah mewajibkan para pengantin pria yang melamar anak gadis dari Desa Purba Sinomba membayar fee untuk kas desa. Namun dalam implementasinya cara ini tidak efektif karena tidak ada dasar hukum yang kuat untuk melaksanakan aturan tersebut. Dengan kata lain orang yang melamar anak gadis dari Desa Purba Sinomba tidak selalu bersedia membayar fee tersebut karena merasa dasar hukum formal tidak pernah ada yang mengikat seperti itu.
Pada umumnya belum ada buruh tani di daerah ini karena semua masyarakat masih memiliki tanah. Tanah ulayat sudah dibagi-bagi kepada masyarakat. Di Kecamatan Padang Bolak masih ada tanah ulayat, namun jumlahnya sudah sangat terbatas, dan letaknya di daerah perbukitan. Misalnya di daerah Desa Hulu Batang Pane.
Salah satu contoh pembangunan desa yang dilakukan di Desa Purba Sinomba adalah pembangunan jembatan. Prosesnya pada waktu itu melalui musyawarah. Pada awalnya ada informasi yang mengatakan bahwa ada dana yang akan hibahkan kepada masyarakat untuk pembangunan (dari Bank Dunia). Lalu masyarakat bermusyawarah untuk menentukan kira-kira apa yang ingin dibangun dari dana tersebut. Dari musyawarah tersebut muncul dua pendapat: Pendapat pertama, dana itu akan berguna jika dipakai untuk membangun irigasi. Irigasi diperlukan untuk mempebaiki hasil pertanian. Pendapat kedua, dana itu akan berguna jika dipakai untuk membangun jembatan. Jembatan diperlukan agar masyarakat bisa menyeberang sungai dengan aman dan lancar. Pendapat ketiga agar sekolah dasar di Desa Purba Sinomba diperbaiki. Akhirnya setelah bermusyawarah diputuskan bahwa dana tersebut digunakan untuk membangun jembatan.
Menurut Tengku Adil Harahap baik keberadaan kepala desa maupun BPD bermanfaat namun belum maksimal. Hal ini disebabkan karena ekonomi masyarakat masih lemah. Akibatnya masyarakat hanya mau bergerak dalam program desa jika ada imbalannya secara tunai. Jadi, jika diajak dalam rencana dan program pembangunan desa, selalu menanyakan apakah ada uangnya atau tidak. Selain itu aparatur desa belum memiliki fasilitas yang memadai seperti kantor maupun peralatannya. Bahkan aparatur desa begaji sangat rendah.
Anggaran belanja desa seharusnya ada yang berasal dari bantuan pemerintah. Pada kenyataannya memang ada tetapi jumlahnya sangat kecil. Swadaya masyarakat merupakan jalan keluar mengatasi persoalan pendapatan desa atau sumber ekonomi desa. Disamping itu, ternyata batas-batas tanah ulayat masih menimbulkan persoalan karena seringkali ditandai oleh batas-batas alam seperti sungai. ”tandanya sungai, kalau bagian ke hulu adalah bagian si A, maka bagian yang ke hilir adalah bagian si B”. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan dalam cara pandang masyarakat antara mempertahankan adat atau mengikuti perkembangan zaman.
Di Desa Kecamatan Siborong-Borong, sumber pendapat desa diperoleh dari pajak desa. Besar kecilnya pajak desa ditentukan secara sepihak oleh kepala desa. Keberlanjutan desa tentunya tidak terlepas dari anggara biaya yang diperoleh dari pengutipan pajak seperti pajak pesta, hasil bumi dan bangunan. Akan tetapi pajak pesta yang sudah ditentukan oleh aparat desa tidak dapat dilaksanakan secara sempurna. Hal ini disebabkan beberapa hal seperti: Pertama, belum ada instrumen (peraturan dan undang-undangnya) yang dibuat untuk mengatur berapa besarnya pajak pesta yang dikenakan; Kedua, kesadaran masyarakat yang rendah akan manfaat pajak tersebut bagi kelangsungan dan keberlanjutan pemerintahan desa; Ketiga, rendahnya kemampuan aparat desa, dalam pengutipan pajak pesta tersebut, Keempat, adat istiadat, keraguan dari aparat desa untuk meminta pajak pesta jika yang melaksanakan pesta berasal dari semarga atau orang yang muliakan oleh adat.
lainnya masih mengharap kucuran dana dari pusat/negara. Peran pengelola (managing) desa meliputi seperangkat perilaku yang terpusat di sekitar pengerjaan segala sesuatu melalui dan dengan orang yang memungkinkan sebagai fungsi manajemen dapat dipenuhi secara efektif dan efisien.4
Secara tradisional pengelolaan mencakup lima perangkat pelaku yaitu perencanaan, pengorganisasian, komando, koordinasi, dan pengendalian. Kelima perilaku tersebut diterapkan pada sumberdaya modal, dan pada akhir-akhir ini juga harus diterapkan pada sumberdaya manusia dan teknologi. Adanya perubahan besar pada konteks politik, sosial, dan ekonomi dalam duapuluh tahun terakhir ini ternyata memunculkan perubahan paradigma masyarakat akan pemimpin desa. Pada jaman dahulu pemimpin desa berasal dari pengetua adat yang memiliki pengaruh yang kuat terhadap segala bentuk aspek kehidupan. Akan tetapi saat ini pergeseran nilai telah terjadi, masyarakat cenderung untuk menilai sesuatu secara ekonomi. Pengetua adat tidak lagi memiliki tanah yang luas atau dengan kata lain tidak kaya, yang berakibat pada pergeseran nilai kepatuhan terhadap perintahnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa baik di wilayah Padang Lawas Utara maupun di Tapanuli Utara telah terjadi pergeseran nilai-nilai masyarakat. Satu sisi masyarakat masih menghormati nilai-nilai lama, akan tetapi disisi lain nilai-nilai lama itu mulai tergantikan dengan nilai-nilai baru yakni modern. Contohnya tanah adat satu sisi dianggap sebagai sesuatu yang perlu mendapat perlindungan, namun satu sisi masyarakat juga tidak keberatan kalau tanah dibagi-bagi menjadi milik individu yang bisa diperjual belikan.