JURNAL R'SET AKUNTAIUS' DA'U KEUANGAtr Vol. 2, No. 2, Agustns 2006
Hal.98-106
ANALISIS HAR]IIONISASI . DI INDONES]A AKU NTANSI
.W'IRAWIN
EIIil'NO DYI RAI'ANTO
Universitas
Kristst Dtna
WacanaAbstrsct
Recently, accormting harmonizatiot become big issue and has contin- ued to spread
oomd
the world. Tlrc objective of this study is to inves- tigote the degree of nationalrccourting
hirmonization in Indonesia.Empirical
studyis
conductedby
using several accounting valuation such ascashflow vahdion of
inventory, deprcciation, and segment rcpnrting. Basic in&tstryotd
chemical, variousin&utry,
and consumergool
ittdustryoe
usedre
smryel.It
is foundtlut in
many respects most comlreties useMbwt ,rwtWs
except cashflow
rcport- ing.It is
too eorlyto
corrclude thatffiional
hmmonization l:us takenplrce
in btdonesia Burtlu
progrrrs of ,tdiorrol humonizotiottis
stitl in process.Keywords:
accowtting humoniz.Aion, national harmonization, H-IndeksAnalisis Harmonisasi Akuntansi..., Wirawan Endro Dwi Radianto 99
Pendahuluan
Meningkatry
kegiatan perdagangan antar negara serta munculnya penrsahaan multinasional mengakibatkan timbulnya kebutuhan akan suatu standar akuntansi yang berlaku secara luas di seluruh dunia. Adanya lingkungan dan kondisi hukum, sosial politik dan ekonomi yang berbeda-beda antar negara menyebabkan standar akuntansi setiap negara berbeda.Tekanan-tekanan internasional bagi peningkatan komparabilitas akrmtansi antar negara dan keterbukaan informasi dilakukan oleh banyak perusahaan terutama perusahaan multinasional (Gray dan Radebaudir,2OO2). Tekanan
ini
semakin mendasari bahwa peningkatan komparabilitas laporan keuangan antar negara akan mempermudah perbandingan kinerja dan prospek perusahaan internasional yang lebih baik yang akhimya berdampak pada perekonomian dunia. Tekanan-tekanan bagi harmonisasi akuntansi internasional sebagai sarana pencapaian komparabilitas semakin berkembangterutama di Eropa, namun istilahharmonisasi seringkali dipertukarkandengan standarisasi. [Iarmonisasi mencenninkan pendekatan yang lebih fleksibel dibandingkan dengan standarisasi, yang pada akhirnya berdampak pada pendekatan yang lebih ketat dan berdampak pada keseragaman standarakuntansi. MenurutLarson& Kenny(1999), harmonisasi akuntansi akan mengurangi perbedaan sistem akuntansi dengan menggabungkan dan mengkombinasi banyak standar melalui proses yang terstruktur dan sinergis. Karenaitu
harmonisasi akuntansi adalah suatuproses menuju sistemyang seragamyang akan mengurangi variasi standar akuntansi dan berdampak pada meningkatnya komparabilitas laporan keuangan.Saat ini isu mengenai harmonisasi standar akuntansi telah meningkat dan sulit untuk dielakkan (Keegan, 1988). Di Meksiko, The Instituto Mexicao de Contadores Publicos (IMCP) merekomendasikan bahwa harmonisasi standar akuntansi berbasis standar akuntansi internasional menjadi prioritas bagi pengembangan akuntansi di Meksiko (Jef- frey, 1999). Di Australia, harmonisasi standar akuntansi internasional menjadi faktor pengarah dalam mereka melakukan penyusuan dan implementasi standar akuntansi Aus- tralia (Ravlic, 1999). Sedangkan di Cina rekonsiliasi perbedaan standar akuntansi yang diadopsi oleh Cina dan negara barat ternyata mendukung Cina untuk mengembangkan standar akuntansinya yang sesuai dengan standar akuntansi internasional.
Di
ASEAN beberapa negara sudah melakukanpror"t
harmonsasi dengan standar akuntansi internasional, misalnya Singapura yang mulai mengadopsi standar akuntansi internasional tahun 1977 walaupun dengan beberapa penyesuaian. Malaysia melalui MASB berinisiatif mengembangkan standar akuntansi yang berstandar international. Hal ini dilakukan pada tahun 1998 dengan mengembangkan 24 standar akuntansi yang didalamnya terdapat adopsi dari standar akuntansi internasional sebanyak 19 standar.Padatahun lgT3,ThelnternationalAccounting Standards Board (IASB) didirikan dengan mengemban misi yaitu mengembangkan standar akuntansi internasional (Berton, 1999). Saat
ini
standar akuntansi internasional dari IASB sudah diterima di beberapaJRAK, Agushrs 2006
pasar modal misalnya di London, Jerman, Hong Kong, Singapura, dan Swiss. Sehingga LASB menerima duktmgan yeng sangat besar dalam rangka usahanya untuk melakukan harmonisasi akuntansi intemasional (tarson & Kenny, 1999).
Perkernbangaa hannonisasi akuntansi meningkat karena beberapa ke, rntungan yaitu (Ttrmer,1983,Tht lgQ6,Aitken&Islam,1984)misalnyabiayayangdapatdihematoleh psusatraan muhinasioml, per*ngkatan komparabilitas dari analisis laporan keuaogan antar negara, peningkatan lualit*s standar ahrntansi, peningkatan 'bahasa' akuntansi yang sama anbrnegara DiAusaliaharmonisasi akuntansi memberikan manfaatyaitu
me4iqgkattf
komparabilitas dari laporan keuangan sehingga dapat menyediakan inforurasi yang bermurfaathgi
penggrma internasional dengan memberikan informasi yang berkualitas bagikeprtusan invest*sidanpemberianLredit, mengurangi hambatan dalam aliran modal antarnegaradenganmeilguaagiperbedamketentuandalam laporankeuangarL me'ngurangi biaya yaag dikeluarkan oleh penrsahaan multinasional Ausfalia, dan meningkatkan kualitas standar akuntansi Australia (htQ//www.aasb.com.au/workprod dms /10!-7-01:pdf , 2001).Perkembangan harmonisasi aliuntansi sangat bergantung pada peran regulator akuntansi dan perusalraan yang berada dalam setiap negara dalam mendukung proses ttrsebut. Di Indenesia isu hrmonisasi alaurtansi internasional juga mulai mcnjadi isu yang cuktp menarik. Hal ini di&gkapkan oleh Agung Nugroho Soedibyo (2004) bahwa Indone-
siahrusrrmgadopsi#arakrmtansi
intemasionaluntukmemudatrkanperusahaanasing yangakanmeqiual sahamdilndonesiaatau sebaliknya. Walaup-undemikiaamengadopsi standar intemasionath*an
hal yang mudah. Hingga saat ini ba{u 50 persen Pernyataan StandarAkuntansi Keuanpn (PSAK) di Indonesia yang mengacu pada standar ahrntansi internasimal yang dikeluar&an Dewan standar akuntansi internasional ftornpas, 2004).Penggunaan standarakunknsi internasional di Indonesia sebenarnya sudah berjalan sejak tahun I9?3 dengan menggunakan aturan:aturan akuntansi yang berasal dari Belanda.
Kemudian, tahun 1974 hingga tatrun 1984, lndonesia menggunakan aturan Generally Accepted Aecowtttttg Priwiples (GAAP) dari Amerika Serikat. Tatrun selanjutnya, ada pada attrran'aturan dalam GAAP, tetapi Indonesia tetap menggunakannya.
Tahun 1994, Indonesia mulai menggunakan aturan akuntansi dari standar akuntansi internasional hingga mat ini.
Adatiga level harmonisasi akuntansi yaitu internasional, regional, drn nasional (Van derTaq 1988, Chairan dan Radianto, 2002). Harmonisasi akuntansi internasional sangat bergantrmg pada pffies hannonisasi di tingkat regional dan nasional. Penelitian ini berhrjuan mengekplorasi harrnonisasi akuntansi nasional di Indonesia sehingga dapat bemranfaat untuk rnenguji sampai sejauh mana perkembangan proses harmonisasi yang terjadi di lndonesia.
Analisis Harmonisasi AkuntanSi.. ., Wirawan Endro Dwi Radianto
Tinjauan Libratur
penelitian mengenai harmonisasi akuntansi sangat sedikit dilakukan
diAsi4
terutama diIndonesia. Beberapa penelitian mengenai harmonisasi telah dilalalkan di beb€raparcgarEt baik di Eropa maupun di Austalia.
Canibado dan Mora (2000) melakukan sArdi harmonisasi akunansi di Eropa Mereka menemukan bahwa walaupun banyak hambatan dalam proses harmonisasi namun harmonisasi menunjukkan kemajuan denganbanyaknya perusahaan multinasimal Eropa yang melakukan kompromisasi saodar akuntansi dalanr melakukan kegiatann- ya-
M*F
jug"- menetiti bagaimana regulator nremiliki peran yang sangat pentlng dalam usatla harmonisasi akuntansi.
parker dan Morris (1993) Melakukan simulasi perhitungan hamronisasi akuntansi pada
l0
negara dengan membandingkan C-Indeks dan l-Indeks. Penemuan mereka menunlulrt an batrwa'C-Indeks lebih stabil dalam menghittrng harmonisasi akuntansi dibandingkan dengan l-Indeks. Sehingga mereka merekomendasikan untuk menggunakan C-Indeks-dalam menghitung harmonisasi d<untansi antar negara. Aisbitt (2ffi1) meneliti perkembangan harmonisasi di negara Skandinavia (Denmark, Finlandiq Norwegi4 dan -swedia)dengan menggunakan C-Indeks. Aisbitt menemukan bahwa disamping terjadi proses harmonisasi akunAnsi namun juga terjadi proses de-harmonisasi dalam rentang
",.f.to
penelitian. Sedangkan Gray dan Emenyonu (1992) menginvestigasi prakted harmonisasi a}untansiyangterjadi di Perancis, danlnggris. Penelitian ini menggunakanl- Indeks dan menemukan batrwa ada perbedaan proses harmonisasi aktrntansi di tiga negara tersebut.Leo G Van der Tas (l 98E) mengembangkan metode mengukur derajat harrronisasi akuntansi dari praktek pelaporan keuangan. Metode yang dikembangkan sangat berguna
untuk
menentukan masalah dalam proses harmonisasi akuntansi. Metode yang dikembangkan bermanfaat bag,i standard setter dalam mengimplementasikan standar akuntansi yang dibuat. Tiga metode yang dikembangkan oleh Van der Tas yaitu H-Indeks yang digunakan untuk mengukur harmonisasi tingkat nasional, C-Indeks yang digunakan untuk mengukur harmonisasi beberapa negara, dan I-Indeks untuk mengukm harmonisasi internasional.Chairas dan Radianto (2002) melakukan penelitian mengenai hambah yangtimbul dalam proses harmonisasi akuntansi di ASEAN. Penelitian ini menemukan b&wa meskipun terdapathambatantetapiharmonisasiregionalmembawadampakyangpositifhgiAsEAl'I- Ilarmonisasi regional di ASEAN sangat bergantung pada setiap negaraA$:EAll. Dengan menggunakan sampel industri elekfionika
di
lima negara ASEAN, dibmukanbahwa sebagian besar standar akuntansi sesuai atau menuju ke standar akuntansi internasional dan banyak perusahaan telah menggunakan standar akuntansi yang sama-JRAK,Agustus 2006
,. iletoda Riset
Jenis Datr, Populasi dan Tehnik
Sa@ing
,Penelitian
ini
menggunakan sumber data sekunder yang berasal dari Indonesia Searity Market Database dengan periode lapomn'keuangah 2001 dan'2005. Periode te*ebut diambil uniuk lebih memperlihatkan proses harrrirnisasi akuntansi nasional yang terjadi. Populasi d4ri penelitian ini adalah basic indusny and chemical, vmiousin&s- try,
dan castorner goods industry yang tedaftar di BEJ.':':' f.["it
pengambilan sampel dengaa menggunakan pwposive sampling.Metodeini
digunakan penulis karena herdasarkaa pertimbangan mengenai kelengkapan data"k€jelasan data serta'ketersediaan data yang akah- dikumpulkan. Disamping
itu
untuk memperkecil kesalahan dalam proses pe,milihan'sampel. Sampel penelitian yang akan diguriakan harus memenuhi beberapa syarat yaihr kel€ngkapan data tahun 2001 dan 2005, Serta tersedianya irformasi mengenai aspek laporan keuangan yaitu penyajian laporan ams kas, nietgde riifai perolehanpersedil{
metgde penyusutan,&n petaporl
segmen.lletoda Analisis Data
,
.
Dzttudianalisis.dengan melakukan penghitungan Harfindal Indeks atau yang lebih dikenal dengaa H-Indeks (Van der Tas, 1988). H-Indekq digunakan untuk menghitung indeks hgr&oqimsi nasional atau dalam satu negiara. Menurut Parker dau Morrir (13P,,S)Rumus H-Indeks t€pat dilatukan untuk mengfuitung harmonisasi alarntansi pada konsentrasi industri-B,umrpH-Indeks Jnij J&LL ll adalah sebagai berikut:
,:
F
.. r I-r ii,r: li;: ,,.i r:.'
H= He&edah&{+deks k:jumlah metode akuntansi
ffi= Freknernsiire{atiffari metode akuntansi
i
Analisis dilakhlkhn untuk setiap industri menunrt metode akuntansi yang digunrilefirdir total industri sampel.
Analisis Data dan Pembahasan
Data yang tersedia sebanyak 153 perusahaan. Dari jumlah tersebut beberapa data laporan keuangan untuk tatnm dan metode akuntansi ymg disyaratkan tidak tersedia.
Data yang dapat diolah mencakup perusahaan basic
in&ntry od
chemical sebanyak 51 perusatraan, various,industry sebanyak32 perusahaan,dan customer goods in$us- ,r,, sebanyak 29, sehingga total terdapat I 12 perusahaan. Data yang dapat diolah kernudian {ihitungindeksnyadenganmenggunakanH-Indeksrmtuksetiaptahun.Indpksharrnonisasi dapat dilihat pada tabel I :TABELl lndeks Harmonisasi
Aspek Laporan Keuangan Tahun
2000 200s
Penyajian Laporan Arus
kas 1.0000
1.0000Nilai Perolehan
Persediaan 0.3726
A.4972Metode
Penyusutan 0.7130
0.7489 Pelaporan Segmen0.5005
0.5733Tabel I menunjukkan harmonisasi akuntansi yang terjadi pada tahun 2000 dan 2005. Dari
4
aspek laporan keuangan, satu aspek sudah terjadi proses harmonisasi yaitu aspek penyajian laporan arus kas. Secar umum seluruh aspek laporan keuangan yang dirinci menjadi penyajian laporan arus kas, nilai perolehan persediaan, metode penyusutan, dan pelaporan segmen menunjukkan proses menuju harmonisasi akuntansiyaitu mengarahke angka indeksl,
Pergerakan indeks yang paling rendah yaitu pada aspek nilai perolehan persediaan. Sedangkan peningkatan indeks harmonisasi yang paling tinggi pada indeks nilai perolehan persediaan dan paling rendah pada aspek metode penyusutan. Namun demikian tiga aspek laporan keuangan yaitu nilai perolehan persediaaq metode penyusutan, dan pelaporan segmen masih jauh dari harmonisasi.TABEL2
lndeks Harmonisasi datam Setiap lndustri
Konsentrasi
Industri
ArusK4! Persediaan Penyusutan
Segmen2000 2005 2000 200s 2000 200s 2000
200s Basic IndustryVarious Industry Consumer Good Indust
1 .0000 1 .0000 0.4s17 0.5902 0.8554 0.9616 0.4365 o.SgZS
1.0000 1.0000 0.3496
o.Un
0.6938 0.646s 0.5356'
0.52931
0000
1 .0000 0.2937 0.3341 0.5529 0.5719 0.5885 0.6338JRAK, Agustus 2006
Tirbel2 menunjuk*an harmonisasi akuntansi yangtorjadi padatahun 2000 dan 2005
unfirk
basicindusry
dan chemical. Seluruh aspek laporan keuangan menunjukkan peningkatan indeks ke arah harmonisasi akunansi (kecuali aspek penyajian laporan anrsk* y*g t"ap
stabil). Peningkatan indeks harmonisasi yang paling tinggi pada pelaporan segmen-dan potirg rendah pada aspek metode penyusutan. Tingginya indeks pelaporan*!r"n
dipengamhi oleh revisi pada tahun 2fi)0 unhrk Pernyataan Standar Akuntansi feuangan nomor 5 yaitu mengenai pelaporan segmen.tlal
ini dapat dilihat dari banyalatyap"*ratr""n
yang mencantumkan adanya revisi untuk standar tersebut pada catatan atas laporan keuangan.Harmonisasi akuntansi pada voiotts fuetstry menunjukkan penurunan indeks.
penurunan yang paling besar terjadi pada metode ponyusutarL kemudian diikuti oleh pelaporan segnen dan aldlirnya pada nilai perolehan persediaan. Sedangkan pada industri
Zoi*rn g*dindeks
harmonisasi tertingi (selain penyajian arus kas) terdapat pada nilaiperolehan persediaan yang diikuti oleh pelaporan segmen.
yrious
infustry menunjukkan penurunan indeks harmonisasi. Beberapa faktor yangmempenganilriyaifir industrib€rsanglflfranmenghasilkanprodukyangcukupbervariasi dan prosei produksinya berbeda setiap penrsahaan. Pnodukyangbervariasi tentunya akan menyebabkan batran baku produk temebut juga b€n ariasi. Hd ini menyebabkan banyaknya alternatif metode yang digunakan. Karena cukup banyak variasi produknya, maka aktiva yang digunakao juga tergpnhmg pada siklus produksinya Karena itu dapat dipatrami bahwair**nur"ut
"banyakmenggunakanalternatifmetodepenyusutanaktivayangdimiliki.Namun demikian penurunan tingkat harmonisasi tidak begitu signifikan.
Bukti errpiris menunjukkan batrwaperusaluan sampel selalu menyajikan laporan arus kas dengan menggunakan metode langsung. Penrsatraan sampel dalam menilai perolehan,persediaan mengaratr pada satu metode yaitu metode tata-rata tertimbang.
Nu.*
demikian penggunaan secara bersamaan dalam persediaan yang memilik jenis berbeda juga kerap dilakukan, misalnya perusahaan menggunakan metode ruta'rata tertimbanguntuftjenis persediaan tertentu dan metode FIFO untukjenis yang lain.tahun 2000 terdapat sekitar 7 metode yang digunakan perusahaan dalam melakukan penilaian perolehan persediaan. Jumlah ini berkurang sehingga pada tahun 2005 hanya terdapat
j
alternatifnilai
perolehan persediaan. Artinya harmonisasi akuntansi telah berlangsung.penggunaan metode penyusutan dengan metode garis lurus seringkali digunakan oleh perusahaan dalam melakukan penyusutan aktivaberbentuk bangunan, perlengkapan, dan kendaraan. Namun demikian gabungan metode garis lurus dengan metode lain cukup banyak dilakukan oleh perusahaan walaupun tetap metode garis lurus merupakan pilihan utama peniiut
"*.
Metode garis lurus yang digunakan untuk aktiva tertentu memiliki umur penyusutan yang cukup bervariasi yaitu misalnya untuk aktiva gedung bervariasi antara 15 tahun sarnpai 40 tahun, tetapi penelitian ini tidak sampai merinci periode tersebrrt.Pelaporan segmen perusahaan pada tatrun 2000 mengarah pada pelaporan berbasis usaha saja, sedangkan pada tahun 2005 mengarah pada pelaporan segmen usaha dan geografi. Hal ini sebagai dampak perusahaan merespon revisi PSAK nomor 5. Namun
Analisis Harmonisasi Akuntansi..., Wirawan Endro Dwi Radianto
demikian masih banyak perusahaan yang melaporkan salah satu segmen karenaproduk yang mereka hasilkan hanya sahr jenis atau mereka hanya menjuaV mendistribusi pada satu area geosafi.
Keeimpulan
Ilarmonisasi akuntansi sebagai bagan dari akuntansi berdimensi internasional mulai dipertimbangkanolehbanyakpihaktoutamadiEropa,Asia,danAustralia Banyakmanfaat yang dapat diperoleh dari hannonisasi akuntansi baik untuk level internasional, regronal, bahkan nasional' Indonesia sudah saatnya
memiliki
standar akuntansi berdimensi internasional, hal ini sudah ditunjultan dengan banyaknya staadar akuntansi Indonesia yang menga{opsi standar akunansi internasional.Ilarmonisasinasionald@memudahkaninvestorglobalbatrkan investorlolal(dalam negeri) untukmelakukan analisis laporan keuanganyang lebih akuratkarenakualitasdan komparabilitas yang meningfut. Peirblitian ini membuktikan bahwa walaupun harmonisasi akuntansi 'seperti' berjatan larrba! tetapi proses tersebr$ terus berlangsirng. Kunci proses harmonisasi akuntansi terletak pada perusahaan-perusahaan yang merupakan penggerak bisnis di Indonesia. Semakin perusahaan mengimplernentasi standar yang sama rnaka semakin cepat proses harmonisasi yang akan menmgkatkan indeks harrnonisasi nasional Keterbatasan Penelitian dan
lmplilasi
untuk Penelitian SelaniutnyaBeberapa keterbatasan pmelitian dapat dijelaskan sebagai
berikut:
. ;1. Penelitian hanya dibatasi pada kelompok 3 kelompok industui yaitu basic fudrntry
od
chemicol,
vriaus
industry, dan eonsumer good industry. Penelitian selanjutnya dapatdilanjutkandenganrrengambilkelompok industri lain atauseluruh selcoiindusti yangterdaftar di BEJ. Penanrbahan sampel unmk setiap industri juga dapat dilakukan untukmemberikanhasityaog lebihmewakili prosesharmonisasi akuntansi di Indcine- sia.2.
Aspek taporan keuanganyang digunakan meliputi 4 aspekyaitu penyajian laporan arus kas, nilai pe,roldran persediaafi, metode penyusutan, dan pelaporan segmen. Oleh karena itu penelitian selanjutrya dapat memasu*ikan aspek lain dalam laporan keuangan atau merinci lebih detail asfek laporan keuangan tersebut misalnya periode penyusutan yang dilakukan.3.
Penelitian ini tidak melakukan pargujian dengan m€tode statistik unflrk menguji perbedaan indeks harrrcnisasi akuntansiantr
periode. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat menganalisis denenn melakukan pengujiao seeara statistik.4.
Periode penelitian hanya dua tahun denganjeda waktu limatahun,.penelitian lanjutan dapat menggrrnakan periode wakftr setiap tahun sehingga dapat diperlihatkan lebih detail bagaimana proses harmonisasi akuntansi.JRAK, Agustus 2006
DAFTAR
PUSTAKA, Komp&s, 14 Oktober 2A04
, Pikiran Rakyat, 18 Oktober 2004
Aisbitt (2001), Measurement of Harmony of Financial Reporting Within and Between Countries: The Case of Nordic Countries, The Europecn Accotmting Review Volume
l0:l
Aitken, M.J. and M.A. Islam (1984) Dispelting argrnnents against InternationalAccounting Standards, International Journal of Accounting Edrcation and Research,
vol.
19, issue2,3546.
Berton, Lee (1999) Countdown to harmonization, Institutional Investor;New York, vol.
66, issue 9, 34-35
Canibano and Mora (2000), Evaluating the Statistical Significance of De Facto Accounting I{amr-onization:
A
Study of European Global Players, The Europemt AccountingReviewYohtme9.'3
Chairas and Radianto (2002), Accounting tlamronization inASEAN: The Process, Benefits, and Obstacles. Thesis tidak dipublikasikan, Gotheborg University Sweden.
Gray and Emenyonu (1992) EC Accounting Harmonisation:
An
Empirical Studyof
Measurement Practices
in
France, Germany, and theUK
Accounting and Business Resewch Volume 23.Gray and Radetaugh QOO2) International Accotmting and Multinational Enterprises
finh1 *.j,Mley
leffrey, G.Ujn"dj11999) Do-wn Mexico way, Accountancy;London; March, vol. 123, Issue 1267:9tr-93..,
.11;, ,, .
f""S*,
1s1p,.(tqqq) Global financial regulation,l ccountancy, London, May,vol. 123, issue 1269,82Larson*RBbfrf1.{.{, and Kenny, SaraYork, The harmonizationof international accounting ,
gprl&iddii.ogr"rr
in the I 990s ? , Multinational Business Review;Detroit, Spring,v9f,.7, issug
l,l-12.
Leo Van,.@rTas (1988), Measuring Harmonization of Financial Reporting Practice, Accotmting and Business Research
Spring.
,parkaGrffi:ffi6,p,pis (1998), International Harmony Measures of Accounting Policy:
r
.-€dfi#eFati$a Statistical Properties,Accowfiing and Business ReseuehYolume 29:1 Ravlic, Tqm (1999) The standards revolution: The view from the AARF, Ausnalian CPA,Tad''fdi6iii"(191e;
ffre
Singapore experience, Accountancy, Londoh, Septernber, vol'I 18, issue 1237 ,68-69.
Turner, John N. (1983) International Harmonization:
A
Professional Goal, Journalof
Accotmtoncy, vol. January, 58-59.
http ://www.aasb.com.aulworkptod dcrc,s / I 02