• Tidak ada hasil yang ditemukan

126 106 2 PB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "126 106 2 PB"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL R'SET AKUNTAIUS' DA'U KEUANGAtr Vol. 2, No. 2, Agustns 2006

Hal.98-106

ANALISIS HAR]IIONISASI . DI INDONES]A AKU NTANSI

.

W'IRAWIN

EIIil'NO DYI RAI'ANTO

Universitas

Kristst Dtna

Wacana

Abstrsct

Recently, accormting harmonizatiot become big issue and has contin- ued to spread

oomd

the world. Tlrc objective of this study is to inves- tigote the degree of national

rccourting

hirmonization in Indonesia.

Empirical

study

is

conducted

by

using several accounting valuation such as

cashflow vahdion of

inventory, deprcciation, and segment rcpnrting. Basic in&tstry

otd

chemical, various

in&utry,

and consumer

gool

ittdustry

oe

used

re

smryel.

It

is found

tlut in

many respects most comlreties use

Mbwt ,rwtWs

except cash

flow

rcport- ing.

It is

too eorly

to

corrclude that

ffiional

hmmonization l:us taken

plrce

in btdonesia Bur

tlu

progrrrs of ,tdiorrol humonizotiott

is

stitl in process.

Keywords:

accowtting humoniz.Aion, national harmonization, H-Indeks

(2)

Analisis Harmonisasi Akuntansi..., Wirawan Endro Dwi Radianto 99

Pendahuluan

Meningkatry

kegiatan perdagangan antar negara serta munculnya penrsahaan multinasional mengakibatkan timbulnya kebutuhan akan suatu standar akuntansi yang berlaku secara luas di seluruh dunia. Adanya lingkungan dan kondisi hukum, sosial politik dan ekonomi yang berbeda-beda antar negara menyebabkan standar akuntansi setiap negara berbeda.

Tekanan-tekanan internasional bagi peningkatan komparabilitas akrmtansi antar negara dan keterbukaan informasi dilakukan oleh banyak perusahaan terutama perusahaan multinasional (Gray dan Radebaudir,2OO2). Tekanan

ini

semakin mendasari bahwa peningkatan komparabilitas laporan keuangan antar negara akan mempermudah perbandingan kinerja dan prospek perusahaan internasional yang lebih baik yang akhimya berdampak pada perekonomian dunia. Tekanan-tekanan bagi harmonisasi akuntansi internasional sebagai sarana pencapaian komparabilitas semakin berkembangterutama di Eropa, namun istilahharmonisasi seringkali dipertukarkandengan standarisasi. [Iarmonisasi mencenninkan pendekatan yang lebih fleksibel dibandingkan dengan standarisasi, yang pada akhirnya berdampak pada pendekatan yang lebih ketat dan berdampak pada keseragaman standarakuntansi. MenurutLarson& Kenny(1999), harmonisasi akuntansi akan mengurangi perbedaan sistem akuntansi dengan menggabungkan dan mengkombinasi banyak standar melalui proses yang terstruktur dan sinergis. Karena

itu

harmonisasi akuntansi adalah suatuproses menuju sistemyang seragamyang akan mengurangi variasi standar akuntansi dan berdampak pada meningkatnya komparabilitas laporan keuangan.

Saat ini isu mengenai harmonisasi standar akuntansi telah meningkat dan sulit untuk dielakkan (Keegan, 1988). Di Meksiko, The Instituto Mexicao de Contadores Publicos (IMCP) merekomendasikan bahwa harmonisasi standar akuntansi berbasis standar akuntansi internasional menjadi prioritas bagi pengembangan akuntansi di Meksiko (Jef- frey, 1999). Di Australia, harmonisasi standar akuntansi internasional menjadi faktor pengarah dalam mereka melakukan penyusuan dan implementasi standar akuntansi Aus- tralia (Ravlic, 1999). Sedangkan di Cina rekonsiliasi perbedaan standar akuntansi yang diadopsi oleh Cina dan negara barat ternyata mendukung Cina untuk mengembangkan standar akuntansinya yang sesuai dengan standar akuntansi internasional.

Di

ASEAN beberapa negara sudah melakukan

pror"t

harmonsasi dengan standar akuntansi internasional, misalnya Singapura yang mulai mengadopsi standar akuntansi internasional tahun 1977 walaupun dengan beberapa penyesuaian. Malaysia melalui MASB berinisiatif mengembangkan standar akuntansi yang berstandar international. Hal ini dilakukan pada tahun 1998 dengan mengembangkan 24 standar akuntansi yang didalamnya terdapat adopsi dari standar akuntansi internasional sebanyak 19 standar.

Padatahun lgT3,ThelnternationalAccounting Standards Board (IASB) didirikan dengan mengemban misi yaitu mengembangkan standar akuntansi internasional (Berton, 1999). Saat

ini

standar akuntansi internasional dari IASB sudah diterima di beberapa

(3)

JRAK, Agushrs 2006

pasar modal misalnya di London, Jerman, Hong Kong, Singapura, dan Swiss. Sehingga LASB menerima duktmgan yeng sangat besar dalam rangka usahanya untuk melakukan harmonisasi akuntansi intemasional (tarson & Kenny, 1999).

Perkernbangaa hannonisasi akuntansi meningkat karena beberapa ke, rntungan yaitu (Ttrmer,1983,Tht lgQ6,Aitken&Islam,1984)misalnyabiayayangdapatdihematoleh psusatraan muhinasioml, per*ngkatan komparabilitas dari analisis laporan keuaogan antar negara, peningkatan lualit*s standar ahrntansi, peningkatan 'bahasa' akuntansi yang sama anbrnegara DiAusaliaharmonisasi akuntansi memberikan manfaatyaitu

me4iqgkattf

komparabilitas dari laporan keuangan sehingga dapat menyediakan inforurasi yang bermurfaat

hgi

penggrma internasional dengan memberikan informasi yang berkualitas bagikeprtusan invest*sidanpemberianLredit, mengurangi hambatan dalam aliran modal antarnegaradenganmeilguaagiperbedamketentuandalam laporankeuangarL me'ngurangi biaya yaag dikeluarkan oleh penrsahaan multinasional Ausfalia, dan meningkatkan kualitas standar akuntansi Australia (htQ//www.aasb.com.au/workprod dms /10!-7-01:pdf , 2001).

Perkembangan harmonisasi aliuntansi sangat bergantung pada peran regulator akuntansi dan perusalraan yang berada dalam setiap negara dalam mendukung proses ttrsebut. Di Indenesia isu hrmonisasi alaurtansi internasional juga mulai mcnjadi isu yang cuktp menarik. Hal ini di&gkapkan oleh Agung Nugroho Soedibyo (2004) bahwa Indone-

siahrusrrmgadopsi#arakrmtansi

intemasionaluntukmemudatrkanperusahaanasing yangakanmeqiual sahamdilndonesiaatau sebaliknya. Walaup-undemikiaamengadopsi standar intemasionat

h*an

hal yang mudah. Hingga saat ini ba{u 50 persen Pernyataan StandarAkuntansi Keuanpn (PSAK) di Indonesia yang mengacu pada standar ahrntansi internasimal yang dikeluar&an Dewan standar akuntansi internasional ftornpas, 2004).

Penggunaan standarakunknsi internasional di Indonesia sebenarnya sudah berjalan sejak tahun I9?3 dengan menggunakan aturan:aturan akuntansi yang berasal dari Belanda.

Kemudian, tahun 1974 hingga tatrun 1984, lndonesia menggunakan aturan Generally Accepted Aecowtttttg Priwiples (GAAP) dari Amerika Serikat. Tatrun selanjutnya, ada pada attrran'aturan dalam GAAP, tetapi Indonesia tetap menggunakannya.

Tahun 1994, Indonesia mulai menggunakan aturan akuntansi dari standar akuntansi internasional hingga mat ini.

Adatiga level harmonisasi akuntansi yaitu internasional, regional, drn nasional (Van derTaq 1988, Chairan dan Radianto, 2002). Harmonisasi akuntansi internasional sangat bergantrmg pada pffies hannonisasi di tingkat regional dan nasional. Penelitian ini berhrjuan mengekplorasi harrnonisasi akuntansi nasional di Indonesia sehingga dapat bemranfaat untuk rnenguji sampai sejauh mana perkembangan proses harmonisasi yang terjadi di lndonesia.

(4)

Analisis Harmonisasi AkuntanSi.. ., Wirawan Endro Dwi Radianto

Tinjauan Libratur

penelitian mengenai harmonisasi akuntansi sangat sedikit dilakukan

diAsi4

terutama di

Indonesia. Beberapa penelitian mengenai harmonisasi telah dilalalkan di beb€raparcgarEt baik di Eropa maupun di Austalia.

Canibado dan Mora (2000) melakukan sArdi harmonisasi akunansi di Eropa Mereka menemukan bahwa walaupun banyak hambatan dalam proses harmonisasi namun harmonisasi menunjukkan kemajuan denganbanyaknya perusahaan multinasimal Eropa yang melakukan kompromisasi saodar akuntansi dalanr melakukan kegiatann- ya-

M*F

jug"- menetiti bagaimana regulator nremiliki peran yang sangat pentlng dalam usatla harmonisasi akuntansi.

parker dan Morris (1993) Melakukan simulasi perhitungan hamronisasi akuntansi pada

l0

negara dengan membandingkan C-Indeks dan l-Indeks. Penemuan mereka menunlulrt an batrwa'C-Indeks lebih stabil dalam menghittrng harmonisasi akuntansi dibandingkan dengan l-Indeks. Sehingga mereka merekomendasikan untuk menggunakan C-Indeks-dalam menghitung harmonisasi d<untansi antar negara. Aisbitt (2ffi1) meneliti perkembangan harmonisasi di negara Skandinavia (Denmark, Finlandiq Norwegi4 dan -swedia)

dengan menggunakan C-Indeks. Aisbitt menemukan bahwa disamping terjadi proses harmonisasi akunAnsi namun juga terjadi proses de-harmonisasi dalam rentang

",.f.to

penelitian. Sedangkan Gray dan Emenyonu (1992) menginvestigasi prakted harmonisasi a}untansiyangterjadi di Perancis, danlnggris. Penelitian ini menggunakanl- Indeks dan menemukan batrwa ada perbedaan proses harmonisasi aktrntansi di tiga negara tersebut.

Leo G Van der Tas (l 98E) mengembangkan metode mengukur derajat harrronisasi akuntansi dari praktek pelaporan keuangan. Metode yang dikembangkan sangat berguna

untuk

menentukan masalah dalam proses harmonisasi akuntansi. Metode yang dikembangkan bermanfaat bag,i standard setter dalam mengimplementasikan standar akuntansi yang dibuat. Tiga metode yang dikembangkan oleh Van der Tas yaitu H-Indeks yang digunakan untuk mengukur harmonisasi tingkat nasional, C-Indeks yang digunakan untuk mengukur harmonisasi beberapa negara, dan I-Indeks untuk mengukm harmonisasi internasional.

Chairas dan Radianto (2002) melakukan penelitian mengenai hambah yangtimbul dalam proses harmonisasi akuntansi di ASEAN. Penelitian ini menemukan b&wa meskipun terdapathambatantetapiharmonisasiregionalmembawadampakyangpositifhgiAsEAl'I- Ilarmonisasi regional di ASEAN sangat bergantung pada setiap negaraA$:EAll. Dengan menggunakan sampel industri elekfionika

di

lima negara ASEAN, dibmukanbahwa sebagian besar standar akuntansi sesuai atau menuju ke standar akuntansi internasional dan banyak perusahaan telah menggunakan standar akuntansi yang sama-

(5)

JRAK,Agustus 2006

,. iletoda Riset

Jenis Datr, Populasi dan Tehnik

Sa@ing

,

Penelitian

ini

menggunakan sumber data sekunder yang berasal dari Indonesia Searity Market Database dengan periode lapomn'keuangah 2001 dan'2005. Periode te*ebut diambil uniuk lebih memperlihatkan proses harrrirnisasi akuntansi nasional yang terjadi. Populasi d4ri penelitian ini adalah basic indusny and chemical, vmious

in&s- try,

dan castorner goods industry yang tedaftar di BEJ.

':':' f.["it

pengambilan sampel dengaa menggunakan pwposive sampling.Metode

ini

digunakan penulis karena herdasarkaa pertimbangan mengenai kelengkapan data"

k€jelasan data serta'ketersediaan data yang akah- dikumpulkan. Disamping

itu

untuk memperkecil kesalahan dalam proses pe,milihan'sampel. Sampel penelitian yang akan diguriakan harus memenuhi beberapa syarat yaihr kel€ngkapan data tahun 2001 dan 2005, Serta tersedianya irformasi mengenai aspek laporan keuangan yaitu penyajian laporan ams kas, nietgde riifai perolehan

persedil{

metgde penyusutan,

&n petaporl

segmen.

lletoda Analisis Data

,

.

Dzttudianalisis.dengan melakukan penghitungan Harfindal Indeks atau yang lebih dikenal dengaa H-Indeks (Van der Tas, 1988). H-Indekq digunakan untuk menghitung indeks hgr&oqimsi nasional atau dalam satu negiara. Menurut Parker dau Morrir (13P,,S)

Rumus H-Indeks t€pat dilatukan untuk mengfuitung harmonisasi alarntansi pada konsentrasi industri-B,umrpH-Indeks Jnij J&LL ll adalah sebagai berikut:

,:

F

.. r I-r ii,r: li;: ,,.i r:.'

H= He&edah&{+deks k:jumlah metode akuntansi

ffi= Freknernsiire{atiffari metode akuntansi

i

Analisis dilakhlkhn untuk setiap industri menunrt metode akuntansi yang digunrilefirdir total industri sampel.

(6)

Analisis Data dan Pembahasan

Data yang tersedia sebanyak 153 perusahaan. Dari jumlah tersebut beberapa data laporan keuangan untuk tatnm dan metode akuntansi ymg disyaratkan tidak tersedia.

Data yang dapat diolah mencakup perusahaan basic

in&ntry od

chemical sebanyak 51 perusatraan, various,industry sebanyak32 perusahaan,dan customer goods in$us- ,r,, sebanyak 29, sehingga total terdapat I 12 perusahaan. Data yang dapat diolah kernudian {ihitungindeksnyadenganmenggunakanH-Indeksrmtuksetiaptahun.Indpksharrnonisasi dapat dilihat pada tabel I :

TABELl lndeks Harmonisasi

Aspek Laporan Keuangan Tahun

2000 200s

Penyajian Laporan Arus

kas 1.0000

1.0000

Nilai Perolehan

Persediaan 0.3726

A.4972

Metode

Penyusutan 0.7130

0.7489 Pelaporan Segmen

0.5005

0.5733

Tabel I menunjukkan harmonisasi akuntansi yang terjadi pada tahun 2000 dan 2005. Dari

4

aspek laporan keuangan, satu aspek sudah terjadi proses harmonisasi yaitu aspek penyajian laporan arus kas. Secar umum seluruh aspek laporan keuangan yang dirinci menjadi penyajian laporan arus kas, nilai perolehan persediaan, metode penyusutan, dan pelaporan segmen menunjukkan proses menuju harmonisasi akuntansiyaitu mengarahke angka indeks

l,

Pergerakan indeks yang paling rendah yaitu pada aspek nilai perolehan persediaan. Sedangkan peningkatan indeks harmonisasi yang paling tinggi pada indeks nilai perolehan persediaan dan paling rendah pada aspek metode penyusutan. Namun demikian tiga aspek laporan keuangan yaitu nilai perolehan persediaaq metode penyusutan, dan pelaporan segmen masih jauh dari harmonisasi.

TABEL2

lndeks Harmonisasi datam Setiap lndustri

Konsentrasi

Industri

Arus

K4! Persediaan Penyusutan

Segmen

2000 2005 2000 200s 2000 200s 2000

200s Basic Industry

Various Industry Consumer Good Indust

1 .0000 1 .0000 0.4s17 0.5902 0.8554 0.9616 0.4365 o.SgZS

1.0000 1.0000 0.3496

o.Un

0.6938 0.646s 0.5356

'

0.5293

1

0000

1 .0000 0.2937 0.3341 0.5529 0.5719 0.5885 0.6338

(7)

JRAK, Agustus 2006

Tirbel2 menunjuk*an harmonisasi akuntansi yangtorjadi padatahun 2000 dan 2005

unfirk

basic

indusry

dan chemical. Seluruh aspek laporan keuangan menunjukkan peningkatan indeks ke arah harmonisasi akunansi (kecuali aspek penyajian laporan anrs

k* y*g t"ap

stabil). Peningkatan indeks harmonisasi yang paling tinggi pada pelaporan segmen-dan potirg rendah pada aspek metode penyusutan. Tingginya indeks pelaporan

*!r"n

dipengamhi oleh revisi pada tahun 2fi)0 unhrk Pernyataan Standar Akuntansi feuangan nomor 5 yaitu mengenai pelaporan segmen.

tlal

ini dapat dilihat dari banyalatya

p"*ratr""n

yang mencantumkan adanya revisi untuk standar tersebut pada catatan atas laporan keuangan.

Harmonisasi akuntansi pada voiotts fuetstry menunjukkan penurunan indeks.

penurunan yang paling besar terjadi pada metode ponyusutarL kemudian diikuti oleh pelaporan segnen dan aldlirnya pada nilai perolehan persediaan. Sedangkan pada industri

Zoi*rn g*dindeks

harmonisasi tertingi (selain penyajian arus kas) terdapat pada nilai

perolehan persediaan yang diikuti oleh pelaporan segmen.

yrious

infustry menunjukkan penurunan indeks harmonisasi. Beberapa faktor yangmempenganilriyaifir industrib€rsanglflfranmenghasilkanprodukyangcukupbervariasi dan prosei produksinya berbeda setiap penrsahaan. Pnodukyangbervariasi tentunya akan menyebabkan batran baku produk temebut juga b€n ariasi. Hd ini menyebabkan banyaknya alternatif metode yang digunakan. Karena cukup banyak variasi produknya, maka aktiva yang digunakao juga tergpnhmg pada siklus produksinya Karena itu dapat dipatrami bahwa

ir**nur"ut

"banyakmenggunakanalternatifmetodepenyusutanaktivayangdimiliki.

Namun demikian penurunan tingkat harmonisasi tidak begitu signifikan.

Bukti errpiris menunjukkan batrwaperusaluan sampel selalu menyajikan laporan arus kas dengan menggunakan metode langsung. Penrsatraan sampel dalam menilai perolehan,persediaan mengaratr pada satu metode yaitu metode tata-rata tertimbang.

Nu.*

demikian penggunaan secara bersamaan dalam persediaan yang memilik jenis berbeda juga kerap dilakukan, misalnya perusahaan menggunakan metode ruta'rata tertimbanguntuftjenis persediaan tertentu dan metode FIFO untukjenis yang lain.

tahun 2000 terdapat sekitar 7 metode yang digunakan perusahaan dalam melakukan penilaian perolehan persediaan. Jumlah ini berkurang sehingga pada tahun 2005 hanya terdapat

j

alternatif

nilai

perolehan persediaan. Artinya harmonisasi akuntansi telah berlangsung.

penggunaan metode penyusutan dengan metode garis lurus seringkali digunakan oleh perusahaan dalam melakukan penyusutan aktivaberbentuk bangunan, perlengkapan, dan kendaraan. Namun demikian gabungan metode garis lurus dengan metode lain cukup banyak dilakukan oleh perusahaan walaupun tetap metode garis lurus merupakan pilihan utama peniiut

"*.

Metode garis lurus yang digunakan untuk aktiva tertentu memiliki umur penyusutan yang cukup bervariasi yaitu misalnya untuk aktiva gedung bervariasi antara 15 tahun sarnpai 40 tahun, tetapi penelitian ini tidak sampai merinci periode tersebrrt.

Pelaporan segmen perusahaan pada tatrun 2000 mengarah pada pelaporan berbasis usaha saja, sedangkan pada tahun 2005 mengarah pada pelaporan segmen usaha dan geografi. Hal ini sebagai dampak perusahaan merespon revisi PSAK nomor 5. Namun

(8)

Analisis Harmonisasi Akuntansi..., Wirawan Endro Dwi Radianto

demikian masih banyak perusahaan yang melaporkan salah satu segmen karenaproduk yang mereka hasilkan hanya sahr jenis atau mereka hanya menjuaV mendistribusi pada satu area geosafi.

Keeimpulan

Ilarmonisasi akuntansi sebagai bagan dari akuntansi berdimensi internasional mulai dipertimbangkanolehbanyakpihaktoutamadiEropa,Asia,danAustralia Banyakmanfaat yang dapat diperoleh dari hannonisasi akuntansi baik untuk level internasional, regronal, bahkan nasional' Indonesia sudah saatnya

memiliki

standar akuntansi berdimensi internasional, hal ini sudah ditunjultan dengan banyaknya staadar akuntansi Indonesia yang menga{opsi standar akunansi internasional.

Ilarmonisasinasionald@memudahkaninvestorglobalbatrkan investorlolal(dalam negeri) untukmelakukan analisis laporan keuanganyang lebih akuratkarenakualitasdan komparabilitas yang meningfut. Peirblitian ini membuktikan bahwa walaupun harmonisasi akuntansi 'seperti' berjatan larrba! tetapi proses tersebr$ terus berlangsirng. Kunci proses harmonisasi akuntansi terletak pada perusahaan-perusahaan yang merupakan penggerak bisnis di Indonesia. Semakin perusahaan mengimplernentasi standar yang sama rnaka semakin cepat proses harmonisasi yang akan menmgkatkan indeks harrnonisasi nasional Keterbatasan Penelitian dan

lmplilasi

untuk Penelitian Selaniutnya

Beberapa keterbatasan pmelitian dapat dijelaskan sebagai

berikut:

. ;

1. Penelitian hanya dibatasi pada kelompok 3 kelompok industui yaitu basic fudrntry

od

chemicol,

vriaus

industry, dan eonsumer good industry. Penelitian selanjutnya dapatdilanjutkandenganrrengambilkelompok industri lain atauseluruh selcoiindusti yangterdaftar di BEJ. Penanrbahan sampel unmk setiap industri juga dapat dilakukan untukmemberikanhasityaog lebihmewakili prosesharmonisasi akuntansi di Indcine- sia.

2.

Aspek taporan keuanganyang digunakan meliputi 4 aspekyaitu penyajian laporan arus kas, nilai pe,roldran persediaafi, metode penyusutan, dan pelaporan segmen. Oleh karena itu penelitian selanjutrya dapat memasu*ikan aspek lain dalam laporan keuangan atau merinci lebih detail asfek laporan keuangan tersebut misalnya periode penyusutan yang dilakukan.

3.

Penelitian ini tidak melakukan pargujian dengan m€tode statistik unflrk menguji perbedaan indeks harrrcnisasi akuntansi

antr

periode. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat menganalisis denenn melakukan pengujiao seeara statistik.

4.

Periode penelitian hanya dua tahun denganjeda waktu limatahun,.penelitian lanjutan dapat menggrrnakan periode wakftr setiap tahun sehingga dapat diperlihatkan lebih detail bagaimana proses harmonisasi akuntansi.

(9)

JRAK, Agustus 2006

DAFTAR

PUSTAKA

, Komp&s, 14 Oktober 2A04

, Pikiran Rakyat, 18 Oktober 2004

Aisbitt (2001), Measurement of Harmony of Financial Reporting Within and Between Countries: The Case of Nordic Countries, The Europecn Accotmting Review Volume

l0:l

Aitken, M.J. and M.A. Islam (1984) Dispelting argrnnents against InternationalAccounting Standards, International Journal of Accounting Edrcation and Research,

vol.

19, issue2,3546.

Berton, Lee (1999) Countdown to harmonization, Institutional Investor;New York, vol.

66, issue 9, 34-35

Canibano and Mora (2000), Evaluating the Statistical Significance of De Facto Accounting I{amr-onization:

A

Study of European Global Players, The Europemt Accounting

ReviewYohtme9.'3

Chairas and Radianto (2002), Accounting tlamronization inASEAN: The Process, Benefits, and Obstacles. Thesis tidak dipublikasikan, Gotheborg University Sweden.

Gray and Emenyonu (1992) EC Accounting Harmonisation:

An

Empirical Study

of

Measurement Practices

in

France, Germany, and the

UK

Accounting and Business Resewch Volume 23.

Gray and Radetaugh QOO2) International Accotmting and Multinational Enterprises

finh1 *.j,Mley

leffrey, G.Ujn"dj11999) Do-wn Mexico way, Accountancy;London; March, vol. 123, Issue 1267:9tr-93..,

.11;, ,, .

f""S*,

1s1p,.(tqqq) Global financial regulation,l ccountancy, London, May,vol. 123, issue 1269,82

Larson*RBbfrf1.{.{, and Kenny, SaraYork, The harmonizationof international accounting ,

gprl&iddii.ogr"rr

in the I 990s ? , Multinational Business Review;Detroit, Spring,

v9f,.7, issug

l,l-12.

Leo Van,.@rTas (1988), Measuring Harmonization of Financial Reporting Practice, Accotmting and Business Research

Spring.

,

parkaGrffi:ffi6,p,pis (1998), International Harmony Measures of Accounting Policy:

r

.-€dfi#eFati$a Statistical Properties,Accowfiing and Business ReseuehYolume 29:1 Ravlic, Tqm (1999) The standards revolution: The view from the AARF, Ausnalian CPA,

Tad''fdi6iii"(191e;

ffre

Singapore experience, Accountancy, Londoh, Septernber, vol'

I 18, issue 1237 ,68-69.

Turner, John N. (1983) International Harmonization:

A

Professional Goal, Journal

of

Accotmtoncy, vol. January, 58-59.

http ://www.aasb.com.aulworkptod dcrc,s / I 02

J

-0 1'pdf , 200 1 .

Referensi

Dokumen terkait

pelaporan pada nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual, kecuali untuk kasus yang dideskripsikan dalam paragraf 30 dimana nilai wajar tidak dapat diukur secara andal.. •

Terbentuk sejak akhir tahun 2012, PT Penyelenggara Program perlindungan Investor Efek Indonesia (Indonesia SIPF) senantiasa mempertahankan komitmen dan kredibilitasnya

Dalam hal ini sudah dijeskan panjang lebar pada bagian-bagian sebelumnya bahwa Rasulullah sendiri yang menjadi teladan dalam kehidupan umatnya,

Dalam pengembangan strategi pengelolaan destinasi pariwisata ekologis memiliki dua kondisi yang harus dipertimbangkan, yaitu kondisi internal dan juga eksternal.. Kondisi

Identifikasi dilakukan melalui studi literatur terkait konsep lean construction khususnya terkait konsep work structuring yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan di

Polimer HDPE yang dihasilkan dari metode hot press berhasil mempertahankan ikatan silang yang terbentuk dan meningkatkan ketahanan mekanik tibial tray pada dosis

Game Sosiodrama Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Sosiologi Siswa Kelas X.. IPS 4 SMAN 4 Surakarta Tahun

Hasil dari penelitian ini adalah sebuah pembangkit listrik tenaga gelombang degan memakai pendulum seberat 1.25Kg dengan panjang tiang penyangga pendulum 80cm, menggunakan 8