• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan prevalensi, kesadaran dan terapi hipertensi antara kaum awam laki-laki dan biarawan (kajian faktor BMI, aktivitas fisik dan pola makan).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perbandingan prevalensi, kesadaran dan terapi hipertensi antara kaum awam laki-laki dan biarawan (kajian faktor BMI, aktivitas fisik dan pola makan)."

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

INTISARI

Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah arteri secara persisten (≥140/90mmHg). Biarawan adalah suatu golongan tertentu dalam gereja yang hidup berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Faktor risiko kesehatan yang meliputi BMI, aktivitas fisik dan pola makan. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan prevalensi, tingkat kesadaran, dan terapi hipertensi pada kaum awam laki-laki di sekitar biara dengan kaum biarawan. Jenis penelitian yang dilakukan survey observasional dengan rancangan cross-sectional. Responden penelitian berumur ≥ 25 tahun yang bersedia mengisi informed consent. Pengukuran yang dilakukan meliputi tekanan darah, body mass index, aktivitas fisik dan pola makan dengan teknik wawancara. Data diuji dengan t-test dan Chi-square. Hasil dari penelitian menunjukkan prevalensi kaum awam yang menderita hipertensi 34%, yang sadar menderita hipertensi 52,9%, yang melakukan terapi hipertensi secara rutin 72,2%, sedangkan kaum biarawan yang menderita hipertensi 27,2%, yang sadar menderita hipertensi 35,7%, yang melakukan terapi hipertensi secara rutin 40,0%. Tidak ada perbedaan prevalensi, kesadaran dan terapi antara awam laki-laki dengan biarawan.

(2)

ABSTRACT

Hypertension is an increase in arterial blood pressure persistently (≥140 / 90mmHg). Monk is a certain group within the church that lives differently by society in general. Health risk factors which include BMI, physical activity and diet. The purpose of this study was to compare the prevalence, the level of awareness and treatment of hypertension in male laity around the monastery with the monks. Type of survey research conducted observational cross-sectional design. Respondents aged

≥ 25 years who are willing to fill informed consent. Measurements performed include blood pressure, body mass index, physical activity and diet with interview techniques. Data were tested by t-test and Chi-square. Results from the study showed that the prevalence of the laity who suffer from hypertension 34%, which is aware of suffering from hypertension 52.9%, which conducts routine treatment of hypertension of 72.2%, while the monk who suffer from hypertension 27.2%, which is aware of 35 suffer from hypertension, 7%, which conducts routine treatment of hypertension 40.0%. There is no difference in the prevalence, awareness and treatment between men lay with the monks.

(3)

i

PERBANDINGAN PREVALENSI, KESADARAN DAN TERAPI HIPERTENSI ANTARA KAUM AWAM LAKI-LAKI DAN BIARAWAN

(KAJIAN FAKTOR BMI, AKTIVITAS FISIK DAN POLA MAKAN) SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm)

Program Studi Farmasi

Oleh:

Ratna Sihombing 128114143

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(4)
(5)
(6)

iv

PERSEMBAHAN

Karya ini saya persembahkan kepada Yesus sumber kebahagiaan sejati yang telah memperkenankan aku berkenalan dengan kepahitan, agar aku mengenal manisnya hidup. DIA yang telah menganugrahkan “Kasih” agar aku mengalami kebahagiaan

dan akhirnya kebahagiaanku hanya dalam kasih.

Untuk Bunda Maria yang setia mendoakan aku pada Sang Kekasih Jiwa, membuatku terpesona atas kelembutan dan kesabaran dalam merangkul kehidupan.

Untuk para dosenku yang telah bersedia menggoreskan ilmu, cinta yang menumbuhkan harapan dan cita-cita. Untuk para suster, sahabat dan teman-temanku

(7)

v

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti haturkan kepada Tuhan Bapa yang Baik Hati, atas rahmat-Nya yang memampukan peneliti untuk menyelesaikan skripsi yang berjudul “PERBANDINGAN PREVALENSI, KESADARAN DAN TERAPI HIPERTENSI ANTARA KAUM AWAM LAKI-LAKI DAN BIARAWAN (KAJIAN FAKTOR BMI, AKTIVITAS FISIK DAN POLA MAKAN )”.

Skripsi ini berhasil ditulis berkat dukungan, perhatian dan uluran tangan kasih dari banyak pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu peneliti mengucapkan rasa terimakasih kepada:

1. Dekan Fakultas Farmasi Sanata Dharma yang telah mendukung penelitian.

2. Ibu Dr.Rita Suhadi, MSi.,Apt. selaku dosen pembimbing yang telah membimbing serta memberi saran dari awal hingga terselesaikannya skripsi ini.

3. Para Romo, Frater di komunitas-komunitas Kabupaten Sleman yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.

4. Para Bapak/Saudara yang berada disekitar biara yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.

(8)

vi

6. Para Suster FSE komunitas St. Yohanes DonBosco Yogyakarta yang menjadi sahabat peneliti dalam menapaki hari-hari studi. Terimakasih atas sapaan, senyuman, kehadiran dan tegursapanya.

7. Teman-teman FKK-B 2012 yang sudah bersedia menemani, mengajari dan membantu saya dalam proses perkuliahan selama ini.

8. Seluruh dosen, laboran, karyawan yang sudah membantu dan mendukung dalam proses perkuliahan maupun praktikum selama ini.

9. Keluarga tercinta: Ayah, Ibu, Abang, Kakak dan semua keponakan. Terimakasih atas cinta, doa, dan dukungan yang tiada hentinya hingga skripsi ini dapat terselesaikan.

10. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu yang dengan caranya sendiri telah membantu selama proses perkuliahan sampai penyusunan skripsi ini.

Peneliti menyadari akan keterbatasan penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan skripsi ini. Akhirnya semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Terimakasih dan berkat Tuhan menyertai kita.

(9)
(10)
(11)

ix INTISARI

Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah arteri secara persisten (≥140/90mmHg). Biarawan adalah suatu golongan tertentu dalam gereja yang hidup berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Faktor risiko kesehatan yang meliputi BMI, aktivitas fisik dan pola makan. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan prevalensi, tingkat kesadaran, dan terapi hipertensi pada kaum awam laki-laki di sekitar biara dengan kaum biarawan. Jenis penelitian yang dilakukan survey observasional dengan rancangan cross-sectional. Responden penelitian berumur ≥ 25 tahun yang bersedia mengisi informed consent. Pengukuran yang dilakukan meliputi tekanan darah, body mass index, aktivitas fisik dan pola makan dengan teknik wawancara. Data diuji dengan t-test dan Chi-square. Hasil dari penelitian menunjukkan prevalensi kaum awam yang menderita hipertensi 34%, yang sadar menderita hipertensi 52,9%, yang melakukan terapi hipertensi secara rutin 72,2%, sedangkan kaum biarawan yang menderita hipertensi 27,2%, yang sadar menderita hipertensi 35,7%, yang melakukan terapi hipertensi secara rutin 40,0%. Tidak ada perbedaan prevalensi, kesadaran dan terapi antara awam laki-laki dengan biarawan.

(12)

x ABSTRACT

Hypertension is an increase in arterial blood pressure persistently (≥140 / 90mmHg). Monk is a certain group within the church that lives differently by society in general. Health risk factors which include BMI, physical activity and diet. The purpose of this study was to compare the prevalence, the level of awareness and treatment of hypertension in male laity around the monastery with the monks. Type of survey research conducted observational cross-sectional design. Respondents aged ≥ 25 years who are willing to fill informed consent. Measurements performed include blood pressure, body mass index, physical activity and diet with interview techniques. Data were tested by t-test and Chi-square. Results from the study showed that the prevalence of the laity who suffer from hypertension 34%, which is aware of suffering from hypertension 52.9%, which conducts routine treatment of hypertension of 72.2%, while the monk who suffer from hypertension 27.2%, which is aware of 35 suffer from hypertension, 7%, which conducts routine treatment of hypertension 40.0%. There is no difference in the prevalence, awareness and treatment between men lay with the monks.

(13)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... ... v

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... … ... vii

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ... ... viii

INTISARI ... ... ix

ABSTRACT ... ... x

DAFTAR ISI ... ... xi

DAFTAR GAMBAR ... ... xv

DAFTAR TABEL ... ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I. PENGANTAR ... ... 1

A. LATAR BELAKANG ... ... 1

1. Rumusan masalah... ... 4

2. Keaslian penelitian ... ... 5

3. Manfaat penelitian ... ... 7

B. Tujuan penelitian ... ... 7

1. Tujuan umum ... ... 7

(14)

xii

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA... ... 9

A. Hipertensi ... ... 9

B. Penatalaksanaan terapi hipertensi ... ... 12

1. Terapi non farmakologi ... ... 12

2. Terapi farmakologi ... ... 13

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi hipertensi ... ... 13

1. Faktor risiko yang tidak dapat dikontrol ... ... 13

2. Faktor risiko yang dapat dikontrol ... ... 14

D. Teori The‟Rule OF Halves’ ... ... 18

E. Profil tempat penelitian ... ... 19

F. Landasan teori ... ... 19

G. Hipotesis ... ... 21

BAB III. METODE PENELITIAN... ... 22

A. Jenis dan rancangan penelitian ... ... 22

B. Variabel penelitian ... ... 22

1. Variabel bebas ... ... 22

2. Variabel tergantung ... ... 23

3. Variabel pengacau ... ... 22

C. Defenisi operasional ... ... 23

D. Subyek penelitian ... ... 25

E. Lokasi dan waktu penelitian... ... 26

(15)

xiii

G. Teknik pengambilan sampel ... ... 27

H. Instrumen penelitian ... ... 28

I. Tata cara penelitian ... ... 28

1. Observasi awal ... ... 28

2. Permohonan izin dan kerjasama ... ... 28

3. Pembuatan informed consent ... ... 28

4. Seleksi dan penetapan calon responden ... ... 28

5. Validitas dan reliabilitas instrumen penelitian ... ... 28

6. Pengukuran tekanan darah ... ... 29

7. Pengolahan data ... ... 30

J. Analisis data penelitian ... ... 30

K. Perumusan hipotesis ... ... 31

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... ... 35

A. Prevalensi, kesadaran, dan terapi responden hipertensi ... ... 41

B. Perbandingan prevalensi, kesadaran dan terapi hipertensi antara kaum awam laki-laki dengan kaum biarawan ... ... 44

C. Faktor risiko BMI, aktivitas fisik, pola makan terhadap prevalensi, kesadaran dan terapi responden hipertensi ... ... 46

1. Pada awam ... ... 47

2. Pada biarawan ... ... 49

(16)

xiv

B. Saran ... ... 55

DAFTAR PUSTAKA ... ... 57

LAMPIRAN ... ... 62

(17)

xv

DAFTAR GAMBAR

(18)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel I. Defenisi dan klasifikasi tekanan darah (mmHg) ... 10 Tabel II. Klasifikasi BMI menurut WHO ... 15 Tabel III. Defenisi operasional penelitian pada awam laki-laki dan biarawan 23 Tabel IV. Penilaian perilaku konsumsi makanan ... 27 Tabel V. Profil penelitian pada awam dan biarawan ... 35 Tabel VI. Perbandingan profil antara awam dengan biarawan ... 36 Tabel VII. Perbedaan tekanan darah sistolik, diastolik dan denyut nadi

pada umur awam dan faktor risiko responden penelitian ... 37 Tabel VIII. Perbedaan tekanan darah sistolik, diastolik dan denyut nadi

pada umur biarawan dan faktor risiko responden penelitian ... 39 Tabel IX. Perbandingan prevalensi hipertensi antara awam dengan biarawan 44 Tabel X. Perbandingan kesadaran hipertensi antara awam dengan biarawan 44 Tabel XI. Perbandingan terapi hipertensi antara awam dengan biarawan ... 44 Tabel XII. Pengaruh BMI, aktivitas fisik dan pola makan terhadap

prevalensi hipertensi pada awam ... 46 Tabel XIII. Pengaruh BMI, aktivitas fisik dan pola makan terhadap

kesadaran hipertensi pada awam ... 49 Tabel XIV. Pengaruh BMI, aktivitas fisik dan pola makan terhadap

(19)

xvii

prevalensi hipertensi pada biarawan ... 51 Tabel XVI. Pengaruh BMI, aktivitas fisik dan pola makan terhadap

kesadaran hipertensi pada biarawan ... 52 Tabel XVII. Pengaruh BMI, aktivitas fisik dan pola makan terhadap

(20)

xviii

Daftar lampiran

Lampiran 1. Informed Consent pada awam ... 62

Lampiran 2. Informed Consent pada biarawa ... 63

Lampiran 3. SOP Pengukuran Tekanan Darah ... 64

Lampiran 4. Case Report Form (CRF) ... 65

Lampiran 5. Lembar Penjelasan Kepada Subjek Uji ... 66

Lampiran 6. Panduan Wawancara untuk CRF ... 68

Lampiran 7. Alamat biara pada penelitian ... 70

Lampiran 8. Ethical clearance ... 71

Lampiran 9. Validasi timbangan berat badan ... 72

Lampiran10. Validasi alat ukur tinggi badan ... 73

(21)

1 BAB I PENGANTAR A.Latar Belakang

Berbagai macam penyakit akibat gaya hidup yang tidak sehat sangat sering terjadi di masyarakat dewasa ini, dan salah satunya adalah hipertensi. Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama. Prevalensi hipertensi diperkirakan sekitar 1 miliar orang di seluruh dunia. Semakin tinggi tekanan darah, semakin besar kemungkinan terkena serangan jantung, gagal jantung, stroke, dan penyakit ginjal (Ekwunife, 2010).

Sampai saat ini, hipertensi masih merupakan tantangan besar di Indonesia. Hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan di tempat pelayanan kesehatan primer. Hal itu merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar 25,8%, sesuai dengan data Riset kesehatan dasar 2013. Di Indonesia terdapat pergeseran pola makan yang mengarah pada makanan cepat saji dan yang diawetkan yang mengandung tinggi garam, lemak jenuh dan serat yang rendah mulai menjamur terutama di kota-kota besar (Departemen Kesehatan RI, 2014).

(22)

mempengaruhi tekanan darah seseorang karena beberapa fungsi organ mendapatkan efek tertentu sehingga fisiologisnya berbeda. Pada orang BMI tinggi berat badan yang dimiliki juga tinggi. Hipertensi dan obesitas merupakan suatu keadaan yang sering dihubungkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Prevalensi kedua keadaan ini adalah cukup tinggi dan makin meningkat dari tahun ke tahun. Swedish

Obese Study (1999, dalam Sanif, 2008), melaporkan angka kejadian hipertensi pada

obesitas adalah sekitar 13,6 %. Selanjutnya dilaporkan oleh Sanif (2008), banyak penelitian membuktikan adanya hubungan antara indeks massa tubuh dengan kejadian hipertensi dan diduga peningkatan berat badan memainkan peranan penting pada mekanisme timbulnya hipertensi pada orang dengan obesitas. Mekanisme terjadinya hal tersebut belum sepenuhnya dipahami, tetapi pada obesitas didapatkan adanya peningkatan volume plasma dan curah jantung yang akan meningkatkan tekanan darah (Guyton, 2008).

Hipertensi dan komplikasinya dapat dicegah dengan gaya hidup sehat dan mengendalikan faktor risiko. Caranya, mempertahankan berat badan dalam kondisi normal, mengatur pola makan dengan mengkonsumsi makanan rendah garam dan rendah lemak serta memperbanyak konsumsi sayuran dan buah. Melakukan olahraga secara teratur, mengatasi stress dan emosi, menghentikan kebiasaan merokok, menghindari minuman beralkohol, dan periksa tekanan darah secara berkala (Departemen Kesehatan RI, 2010).

(23)

usul terhadap pemantauan dan juga untuk menginformasikan perkembangan strategi baru dalam meningkatkan kontrol hipertensi. Pada tahun 2008 survei kesehatan dari 199 negara untuk individu yang berusia 25 tahun ke atas melaporkan adanya prevalensi hipertensi (Chow, 2013).

Dalam World Health Statistics tahun 2012, WHO melaporkan bahwa sekitar 51% dari kematian akibat stroke dan 45% dari penyakit jantung koroner disebabkan oleh hipertensi. Di Indonesia, satu dari tiga orang penduduk usia 18 tahun keatas beresiko terkena hipertensi. Tidak ada perbedaan proporsi antara laki-laki dan wanita yang hipertensi, demikian juga dengan tingkat sosial ekonomi. Semua orang berisiko terkena hipertensi. Proporsi laki-laki dengan hipertensi 31,3%, sedangkan perempuan 31,9%. Proporsi masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah sebanyak 30,5%, dan ekonomi tinggi sebanyak 33,0% (Departemen Kesehatan RI, 2013).

(24)

makanan berlemak dan berkalori tinggi, sangat berpengaruh terhadap hipertensi (Venkataraman, 2013).

Kaul kemiskinan/kesederhanaan salah satu kaul yang diucapkan oleh para religius termasuk di dalamnya para biarawan. Kaul kemiskinan mendorong para religius untuk memadukan kesederhanaan dan kerendahan hati. Kaul kemiskinan supaya bisa menjadi nyata harus terungkap dalam segala bidang kehidupan manusia, antara lain dalam bidang ekonomi. Pada umunya para religius mewujudkan kemiskinan itu dengan cara yang berbeda dengan cara orang non-religius (Iriarte, 1995). Kehidupan biarawan memiliki pola hidup yang berbeda dengan kaum awam laki-laki. Seperti penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa para biarawan mengkonsumsi makanan sederhana setiap harinya, jarang mengkonsumsi makanan berlemak, minuman beralkohol dan jarang merokok. Kaum biarawan hidup dalam lingkungan yang tenang dan kehidupan rohani yang mendalam, sehingga dengan kehidupan rohani yang mendalam, diharapkan kaum biarawan dapat mengatasi stress dengan baik dan dengan pola hidup yang berbeda dengan masyarakat umumnya dapat memberikan perbedaan yang baik dalam bidang kesehatan khususnya hipertensi. 1. Rumusan masalah

a. Seperti apakah profil prevalensi, kesadaran, dan terapi hipertensi pada responden awam dan biarawan?

(25)

c. Apakah faktor risiko kesehatan meliputi BMI, aktivitas fisik, dan pola makan berpengaruh terhadap prevalensi, kesadaran dan terapi pada responden awam laki-laki dan biarawan?

2. Keaslian penelitian

Beberapa penelitian yang berkaitan dengan perbandingan prevalensi, kesadaran, dan terapi hipertensi yang telah dipublikasikan ditampilkan di bawah ini:

a. Prevalence, awareness, treatment and control of hypertension among adults in rural north-western China: a cross-sectional population survey (Dong, 2013)

dilakukan dengan metode cross-sectional dilakukan pada 3.000 subyek, 1355 laki dan 1645 perempuan, umur rata-rata peserta 46,3±14,2 tahun. Persentase laki-laki dengan hipertensi sebanyak 36,5%, yang sadar hipertensi 36,2%, yang menerima terapi 29,8%, hipertensi terkontrol 17,7%.

b. Factors associated with prevalence, awareness, treatment and control of hypertension among adults in Southern China: a community-based, cross-sectional

survey (Wang, 2013) dilakukan dengan metode cross-sectional dilaksanakan di 180

(26)

c. Prevalensi, kesadaran, dan terapi responden hipertensi di Dukuh Sembir, Madurejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta (Paulina, 2014) dilakukan dengan metode cross-sectional pada usia ≥40 tahun dengan jumlah responden 265 orang. Hasil dari penelitianya menunjukkan prevalensi masyarakat yang menderita hipertensi 55,8%, yang sadar menderita hipertensi 29,1%, dan yang melakukan terapi secara rutin 2,6% dan jarang terapi 14,7%.

(27)

3. Manfaat penelitian

a. Manfaat teoritis. Penelitian ini diharapkan memberikan informasi mengenai faktor risiko kesehatan terhadap responden hipertensi awam laki-laki dan biarawan sehingga dapat membantu mencegah prevalensi hipertensi, dan tekanan darah responden tetap terkontrol.

b. Manfaat praktis. Data yang didapatkan diharapkan dapat memberikan masukan kepada pemerintah setempat untuk memantau seberapa besar prevalensi, kesadaran dan terapi hipertensi pada masyarakat sehingga dapat melakukan edukasi yang bermanfaat untuk mencegah dan mengobati hipertensi. Sebagai masukan untuk biarawan agar dalam setiap hari bisa menjadwalkan pola makan sehat di komunitas masing-masing. Untuk responden sendiri agar meningkatkan perilaku pola hidup sehat, sehingga masyarakat sadar untuk melakukan pengecekan tekanan darah secara rutin untuk mendeteksi secara dini penyakit hipertensi.

B. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Mengevaluasi prevalensi, tingkat kesadaran dan terapi responden pada kelompok awam laki-laki dan biarawan.

2. Tujuan khusus

(28)
(29)

9 BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A.Hipertensi

Tekanan darah adalah suatu tenaga yang digunakan atau dipakai oleh darah yang dipompakan dari jantung ke seluruh jaringan tubuh melalui pembuluh darah. Tekanan darah sifatnya tidak tetap. Tekanan darah akan berubah-ubah sesuai dengan aktivitas tubuh maupun keadaan psikologis seseorang, pada saat aktivitas meningkat atau dalam suasana stress tekanan darah akan meningkat, sebaliknya dalam suasana istirahat, santai atau rileks, tekanan darah akan menurun. Bila tekanan darah selalu tinggi dalam situasi apapun dalam waktu lama, seseorang dapat dikatakan menderita tekanan darah tinggi (Hardi, 2009).

Beberapa penelitian melaporkan bahwa penyakit hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peluang 7 kali lebih besar terkena stroke, 6 kali lebih besar terkena congestive heart failure, dan 3 kali lebih besar terkena serangan jantung. Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH), saat ini terdapat 600 juta penderita hipertensi di seluruh dunia, dan 3 juta di antaranya meninggal setiap tahunnya. Tujuh dari setiap 10 penderita tersebut tidak mendapatkan pengobatan secara adekuat (Rahajeng, 2009).

(30)

dari 90mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat atau tenang (Kaplan, 2006).

Tabel I. Defenisi dan Klasifikasi Tekanan Darah (mmHg)

Kategori Sistolik BP

(mmHg)

Diastolik BP (mmHg)

Normal 120- 129 dan/atau 80- 84

Normal kategori tinggi 130- 139 dan/atau 85- 89 Hipertensi tingkat 1 (ringan) 140- 159 dan/atau 90- 99 Hipertensi tingkat II (sedang) 160- 179 dan/atau 100- 109 Hiperternsi tingkat III (berat) ≥ 180 dan/atau ≥ 110 Hipertensi isolasi sistolik ≥ 140 < 90

(Mancia et al., 2013) Berdasarkan penyebabnya, hipertensi digolongkan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu hipertensi primer atau esensial dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak (belum) diketahui penyebabnya. Diduga pemicu terjadinya hipertensi primer adalah karena faktor bertambahnya usia, stress psikologis yang berkepanjangan, keturunan (hereditas), gangguan pada fungsi jantung dan pembuluh darah sehingga dapat memicu peningkatan tekanan darah. Umumnya penderita hipertensi jenis ini tidak merasa apa-apa. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang sudah dapat diketahui penyebabnya. Penyebab hipertensi sekunder antara lain: gangguan pada endokrin (adrenal, tiroid, hipofisis, dan para tiroid), penyakit ginjal, kelainan hormonal (Weber, 2014).

(31)

berhenti merokok, makan makanan sehat, mengurangi asupan natrium, berolahraga secara teratur, dan membatasi konsumsi alkohol (Sheldon, 2005).

Prevalensi hipertensi di Indonesia yang didapat melalui pengukuran pada umur ≥18 tahun sebesar 25,8 persen. Prevalensi hipertensi di Indonesia yang didapat melalui kuesioner terdiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4 persen, yang didiagnosis tenaga kesehatan atau sedang minum obat sebesar 9,5 persen. Jadi prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 26,5 persen (25,8% + 0,7 %) (Riskesdas, 2013).

Hasil Riset kesehatan dasar (Riskesdas 2007) menunjukkan bahwa propinsi DIY masuk dalam lima besar provinsi dengan kasus hipertensi terbanyak. Pada hasil Riskesdas tahun 2010 kasus hipertensi di Provinsi DIY mencapai 35,8 % diatas rata-rata seluruh Indonesia yang mencapai 31,7%. Jumlah perokok di Yogyakarta pada hasil berbagai survey termasuk Susenas, telah mencapai lebih dari 30% (Departemen Kesehatan DIY, 2012). Perilaku kehidupan modern seperti pola makan tinggi kalori, lemak, kolestrol, kebiasaan merokok dan minum alkohol merupakan perilaku yang dapat menimbulkan berbagai penyakit, seperti hipertensi dan diabetes mellitus (Malope, 2012).

(32)

asupan natrium, berolahraga secara teratur, dan membatasi konsumsi alkohol (Sheldon, 2005).

B.Penatalaksanaan Terapi Hipertensi

1. Terapi Non- Farmakologi

Beberapa intervensi gaya hidup menurunkan tekanan darah adalah penurunan berat badan, pengurangan garam, latihan aerobik yang teratur, dan berhenti merokok. a. Berat badan: Pada pasien yang kelebihan berat badan atau obesitas, penurunan berat badan sangat membantu dalam mengobati gangguan hipertensi, diabetes, dan lipid. Mengganti buah-buahan dan sayuran segar untuk diet yang lebih tradisional mungkin memiliki manfaat luar penurunan berat badan (Kotchen, 2008).

b. Pengurangan garam: makanan tinggi garam sering terjadi pada banyak masyarakat. Pengurangan asupan garam dianjurkan karena dapat mengurangi tekanan darah. Seringkali, pasien tidak menyadari bahwa ada sejumlah besar garam dalam makanan seperti roti, makanan kaleng, makanan cepat saji, acar, sup, dan daging olahan. Asupan ini bisa sulit untuk berubah karena makanan asin sering bagian dari makanan tradisional yang ditemukan dalam banyak kebudayaan (Graudal et

al., 2012).

(33)

d. Konsumsi alkohol: hingga 2 sloki sehari dapat membantu dalam melindungi terhadap kejadian kardiovaskular tetapi lebih dari 2 sloki alkohol dapat meningkatkan tekanan darah dan karenanya harus diwaspadai. Pada wanita, alkohol harus dibatasi 1 sloki sehari.

e. Merokok: berhenti merokok tidak akan mengurangi tekanan darah, tapi karena merokok itu sendiri merupakan suatu faktor risiko utama kardiovaskular, pasien harus sangat disarankan untuk menghentikan kebiasaan merokok (Weber, 2014). 2. Terapi Farmakologi

Golongan Diuretik (chlorthalidone, indapamide, dan hidroklorotiazid) bekerja dengan meningkatkan ekskresi natrium oleh ginjal dan memiliki beberapa efek vasodilator. Angiotensin Converting Enzyme inhibitors atau ACEi contoh obatnya captopril, enalapril, fusinopril, dan lain-lain, memiliki mekanisme memblokir konversi angiotensin 1 menjadi angiotensin II. β-adrenergic receptor antagonists contoh obatnya atenolol, metoprolol, propranolol, nadolol, memiliki mekanisme menyebabkan penurunan curah jantung, pelepasan renin dan debit simpatik (Oussama, 2005).

C.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hipertensi 1. Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dikontrol

(34)

-23,47%) dan perempuan 21,77% (CI 95%: 21,68% -21,86%) pada usia 18 sampai dengan ≥60 tahun (Wang, 2013).

b. Umur. Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya, hal ini disebabkan pada usia tersebut fungsi ginjal dan hati mulai menurun. Kondisi yang berkaitan dengan usia ini adalah produk samping dari keausan arteriosclerosis dari arteri-arteri utama, terutama aorta, dan akibat dari berkurangnya kelenturan. Dengan mengerasnya atreri-arteri ini dan menjadi semakin kaku, arteri dan aorta kehilangan daya penyesuaian diri (Qiao, 2013).

c. Keturunan (Genetik). Kasus hipertensi yang terjadi kebanyakan adalah hipertensi primer. Umumnya karena faktor genetik. Berbagai penelitian dan studi kasus menguatkan hal tersebut. Apabila kedua orang tua memiliki hipertensi, 60% kemungkinan anaknya akan mengidapnya. Hipertensi yang lebih banyak dijumapai pada kemvar identik daripada kembar nonidentik semakin menguatkan bahwa faktor genetik merupakan penyebab hipertensi (Marliani, 2007).

2. Faktor Risiko yang Dapat Dikontrol

a. Aktivitas Fisik. Kurangnya aktifitas fisik meningkatkan risiko menderita hipertensi karena meningkatkan risiko kelebihan berat badan. Orang yang tidak aktif juga cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga otot jantungnya harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi (Appel, 2009).

(35)

darah (Sugondo, 2006). Pola makan yang tidak seimbang antara asupan dan kebutuhan baik jumlah maupun jenis makanannya, seperti makanan-makanan tinggi lemak, kurang mengkonsumsi sayuran dan buah, makanan tinggi natrium dan sebagainya dapat menyebabkan risiko terjadinya hipertensi (Lawrence, 1997). c. Obesitas. Obesitas berisiko terhadap munculnya berbagai penyakit jantung dan

pembuluh darah. Obesitas dapat meningkatkan tekanan darah karena terjadi peningkatan massa tubuh. Semakin besar massa tubuh, semakin banyak volume darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan zat makanan ke jaringan tubuh. Darah yang beredar melalui pembuluh darah bertambah ini menyebabkan peningkatan tekanan arteri sehingga tekanan darah meningkat. Telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa peningkatan tekanan darah banyak disebabkan kelebihan berat badan. BMI untuk orang Indonesia adalah 25. BMI memberikan gambaran tentang resiko kesehatan yang berhubungan dengan berat badan (Muhammadun, 2010). Rumus perhitungan BMI adalah sebagai berikut:

BMI=

(Sugondo, 2006). Nilai BMI yang direkomendasikan oleh WHO untuk Asia seperti tabel berikut:

Tabel II. Klasifikasi BMI Menurut WHO

Klasifikasi BMI (kg/m2) Risiko komorbiditas

Underweight <18,5 Rendah

(36)

Hubungan antara indeks massa tubuh dan tekanan darah di tiga populasi di Afrika dan Asia menemukan adanya kaitan yang sangat erat antara hipertensi dengan obesitas dan hubungan linear antara rata-rata BMI dan tekanan darah di Negara maju termasuk salah satunya adalah Indonesia (Tesfaye, 2007).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Shihab (2012) dengan metode cohort

prospective study, mengatakan bahwa pria yang memiliki BMI normal pada usia 25

tahun tetapi kelebihan berat badan atau obesitas pada usia 45 tahun memiliki risiko lebih tinggi terkena hipertensi (HR 1,57; 95% CI, 1,20 -2,07). Pria yang kelebihan berat badan atau obesitas pada usia 25 tahun yang tetap kelebihan berat badan atau obesitas pada usia 45 tahun berada di hampir dua kali lipat risiko hipertensi (HR 1,91; 95% CI, 1,46 -2,49) dibandingkan dengan laki-laki yang dari BMI normal baik pada usia 25 dan 45 tahun. Jumlah kecil dari orang-orang yang kelebihan berat badan atau obesitas pada usia 25 tahun, tetapi yang kehilangan berat badan dengan usia 45 tahun memiliki HR 0,91 (95% CI, 0,43-1,92).

Dampak dari mengubah seluruh pola makan telah diselidiki dalam beberapa studi yang diuji baik itu pada pola makan DASH (Dietary Approaches to Stop

Hypertension) dengan pola makan varian. Pola makan menurut DASH menekankan

(37)

tekanan darah sistolik sebesar 5,5mmHg dan 3,0mmHg untuk tekanan darah diastolik. Pada pola yang kedua (varian), yang menekankan hanya buah-buahan dan sayuran, juga menurunkan tekanan darah tetapi pada tingkat lebih rendah, sekitar setengah dari pola makan DASH (Appel, 2009).

Pada penelitian American Society of Hipertension, pola makan DASH menurunkan tekanan darah pada semua kelompok mayor (laki-laki, perempuan, pada responden orang Amerika keturunan Afrika, dan non Amerika keturunan Afrika, yang menderita hipertensi, dan tidak hipertensi). Namun, efek dari diet DASH pada orang Amerika keturunan Afrika mengurangi SBP 6,9mmHg dan DBP 3,7mmHg secara signifikan lebih besar daripada efek pada non Amerika keturunan Afrika (SBP 3,3mmHg dan DBP 2,4mmHg). Efek pada penderita hipertensi mengurangi SBP 11,6mmHg dan DBP 5,3 mmHg yang signifikan lebih besar daripada efek untuk yang tidak hipertensi SBP 3,5mmHg dan DBP 2,2mmHg (Appel, 2009).

(38)

2003). American College of Sports Medicine and the European Society of

Hypertension, merekomendasikan latihan fisik sebagai bagian dari perubahan gaya

hidup dalam pencegahan dan pengobatan hipertensi. Orang yang tidak aktif secara fisik jauh lebih mungkin mengalami masalah kesehatan. Aktivitas fisik yang cukup intens, seperti jalan cepat, menguntungkan bila dilakukan secara teratur selama ≥30 menit setidaknya 5 hari seminggu. Kurangnya aktivitas fisik meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke dan dapat menyebabkan obesitas. Di sisi lain, aktivitas fisik secara teratur membantu mengurangi tekanan darah, mengontrol berat badan dan mengurangi stres (Kokkinos, 2009).

D. Teori the ‘Rule of Halves’

The Rule of Halves’ merupakan teori penyajian median dalam statistik, yang mencakup populasi dalam bentuk apapun dan dapat menggunakan ukuran apapun. Setengah dari orang-orang akan berada pada satu sisi median dan setengahnya disisi lain. The ‘Rule of Halves’ dapat digunakan dalam penelitian bidang hipertensi (Hooker, 1999). The Rule of Halves’ menyatakan bahwa setengah dari pasien hipertensi tidak diketahui pelayanan kesehatan (yaitu tetap tidak terdiagnosis), setengah dari mereka dengan hipertensi diketahui tidak menerima pengobatan dan setengah dari orang-orang yang dirawat, tidak mencapai kontrol yang memadai (Deepa, 2003).

(39)

hipertensi dalam hal deteksi dan kontrol, sehingga membantu merencanakan strategi untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap penanganan masalah kesehatan masyarakat secara global (Rao, 2014).

E. Profil Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di biara dan juga pada kaum awam laki-laki yang berada di Kabupaten Sleman. Biarawan merupakan suatu golongan tertentu dalam gereja yang hidup dalam suatu biara untuk mengikuti jejak Tuhan dengan hidup secara khas lewat kaul-kaul yang mereka janjikan. Disana para biarawan makan, bekerja, dan melakukan segala sesuatu bersama-sama. Biara tempat tinggal biarawan, atau tempat tinggal orang yang berjanji setia, tidak menikah, hidup miskin, taat pada atasan (Faryci, 1981).

F. Landasan Teori

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada secara persisten (Kaplan, 2006). Perubahan gaya hidup yang penting termasuk menurunkan berat badan, berhenti merokok, makan makanan sehat, mengurangi asupan natrium, berolahraga secara teratur, dan membatasi konsumsi alkohol (Sheldon, 2005).

(40)

tidak seimbang antara asupan dan kebutuhan baik jumlah maupun jenis makanannya, menyebabkan risiko terjadinya hipertensi (Lawrence, 1997). Pencegah bertambahnya prevalensi hipertensi dapat melalui pengontrolan tekanan darah oleh penderita hipertensi dan yang tidak menderita hipertensi mulai usia 25 tahun keatas. Penderita hipertensi yang sudah mengetahui bahwa dirinya mengalami hipertensi, sebaiknya mematuhi untuk mengkonsumsi obat antihipertensi dan melakukan pengontrolan ke pihak pelayanan kesehatan terdekat. Kesadaran masyarakat pada umumnya, baik awam maupun biarawan terkait dengan hipertensi masih sangat kurang dan hanya sedikit dari antara mereka yang melakukan terapi secara rutin. Hal ini disebabkan penderita dan masyarakat belum menyadari bahaya hipertensi.

(41)

kesadaran, dan terapi hipertensi antara kaum awam laki-laki yang berada di sekitar biara dengan para biarawan.

G. Hipotesis

Hipotesis pada penelitian ini adalah:

a. Adanya perbedaan prevalensi, kesadaran, dan terapi hipertensi antara kaum awam

laki-laki dengan biarawan.

b. Perbedaan faktor BMI, aktivitas fisik, pola makan mempengaruhi perbedaan

(42)

22 BAB III

METODE PENELITIAN

A.Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional. Penelitian

observasional merupakan penelitian yang hanya melakukan observasi, tanpa memberikan intervensi pada variabel yang akan diteliti. Rancangan penelitian secara cross-sectional. Penelitian cross-sectional (tiap subyek penelitian hanya diobservasi

sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap variabel bebas dan variabel tergantung

diamati pada saat pemeriksaan) merupakan penelitian non-eksperimental dalam rangka mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek berupa

penyakit atau status kesehatan tertentu, dimana tiap subjek hanya diobservasi satu

kali saja dan faktor risiko serta efek diukur menurut keadaan atau status waktu

diobservasi (Sumantri, 2011). Analisis yang dilakukan adalah secara kuantitatif,

karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik

(Sugiyono, 2014). Pada penelitian ini dilakukan wawancara terstruktur secara

langsung dengan respon wawancara terstruktur sesuai Case Report Form (CRF).

B.Variabel Penelitian

Hipotesis 1: perbedaan prevalensi, kesadaran, dan terapi hipertensi pada kelompok

subyek awam dan biarawan.

1. Variabel bebas

(43)

2. Variabel tergantung

Prevalensi, kesadaran dan terapi hipertensi.

Hipotesis 2: perbedaan faktor BMI, aktivitas fisik, pola makan mempengaruhi

perbedaan prevalensi, kesadaran, dan terapi pada kelompok awam dan biarawan.

1. Variabel bebas

BMI, aktivitas fisik, pola makan.

2. Variabel tergantung

Prevalensi, kesadaran dan terapi pada masing-masing kelompok subyek.

3. Variabel pengacau (untuk hipotesis 1 dan 2 sama)

a. Variabel pengacau terkendali : usia.

b. Variabel pengacau tak terkendali : aktivitas fisik dan terapi diluar yang diteliti.

C.Definisi Operasional

Tabel III. Defenisi Operasional Penelitian pada awam laki-laki dan biarawan

Variabel Definisi operasional Cara pengukuran gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi (WHO, 2010).

Mengurangi konsumsi garam dan makan berlemak

*Rincian lihat di tabel IV

(44)

Lanjutan tabel III

Prevalensi Persentase responden yang

hipertensi dan tidak hipertensi. Standar pengukuran tekanan darah penelitian ini adalah berdasarkan klasifikasi menurut ESH dan ESC atau sebelumnya pernah memiliki tekanan darah ≥140/90mmHg) dan atau mengkionsumsi obat. 2= tidak hipertensi

(tekanan darah

<140/90mmHg)

Kesadaran Dikatakan sadar jika seseorang mengerti tentang apa yang dirasakan atau dialami. Kesadaran responden akan penyakit hipertensi dapat dilihat dari hasil wawancara terstruktur apakah responden pernah melakukan pengukuran tekanan darah sebelumnya, jika pernah dan hasil pengukuran tekanan darah termasuk hipertensi maka responden termasuk sadar terhadap penyakit hipertensi. Selain itu dilihat dari hasil pengukuran tekan darah serta faktor-faktor pendukung lainnya seperti obat yang sedang dikonsumsi oleh responden. Jika responden tidak menyadari dirinya hipertensi tetapi mengkonsumsi obat hipertensi secara rutin, maka dianggap sadar menderita hipertensi.

Terapi Responden yang mengalami

(45)

Tabel IV. Penilaian Perilaku Konsumsi Makanan

Jenis konsumsi Nilai

Makanan/minum manis Ya = 0

Tidak = 1 Makan makanan yang dimasak di rumah Ya = 1

Tidak = 0 Minyak goreng berapa kali dipakai untuk menggoreng

Catt: untuk biarawan ditanyakan kebagian dapur biara. Yang memakai 1x dianggap mengatur, ≥2 dianggap tidak mengatur

Ya = 1 Tidak = 0

Makan gorengan dalam 1 hari Ya = 0

Tidak = 1 Minum susu setiap hari rendah lemak

Ya = 1 Tidak = 0 Menyantap daging/lemak/santan dalam 1 minggu Ya = 0

Tidak = 1

1. Skor <4 adalah tidak mengatur pola makan 2. Skor ≥ 5-9 adalah mengatur pola makan

D. Subyek Penelitian

Subyek pada penelitian ini dinamakan responden penelitian. Responden

dalam penelitian ini adalah para Biarawan dan kaum awam laki-laki di sekitar biara di

kabupaten Sleman Yogyakarta, mencakup responden ≥25 tahun. Kriterian inklusi

yaitu responden dengan umur ≥25 tahun. Kriteria eksklusi yaitu responden tidak

bersedia mengikuti jalannya penelitian secara keseluruhan dan juga respon yang tidak

(46)

a.

b.

Gambar 1. Bagan profil subyek yang akan diamati dalam penelitian prevalensi, kesadaran dan terapi hipertensi berdasarkan faktor risiko BMI, Aktivitas fisik dan

pola makan antara kaum awam dengan kaum biarawan di Sleman, Yogyakarta berdasarkan teori ‘Rule of Halves’

E. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di 10 biara dan tetangga di sekitar biara kabupaten

Sleman Yogyakarta. Pengambilan sampel dilakukan secara non-random. Penelitian

ini menggunakan pendekatan cross-sectional sehingga penelitian menggunakan satu

waktu dan tidak menggunakan rentang waktu. Populasi Awam

(108 Orang)

Eksklusi

(8 Orang)

Inklusi

(100 Orang)

Populasi Biarawan

(140 Orang)

Inklusi (103 Orang) Ekslusi

(47)

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan oleh 2 orang, satu orang meneliti faktor BMI, aktivitas fisik dan pola makan dan satu orang meneliti faktor merokok, pendidikan, dan aktivitas fisik pekerjaan. Fokus penelitian ini adalah pada faktor BMI, aktivitas fisik, dan pola makan.

G. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan secara

non-random yaitu setiap anggota populasi tidak memilki kesempatan yang sama untuk

menjadi sampel (Swarjana, 2012). Jumlah responden yang ditetapkan sebanyak 200 orang yang berusia ≥25 tahun. Masing-masing 100 responden untuk awam dan biarawan. Pada penelitian ini digunakan 200 responden karena pada penelitian ini dilakukan pengujian 2 kelompok. Perhitungan sampel sebagai berikut:

Keterangan :

Zα = deviat baku alfa

P = Proporsi kategori variabel yang diteliti (kepustakaan) Q = 1-P

d = Presisi

(48)

Dilakukan random eksklusi agar usia antara responden awam dengan

biarawan sebanding. Jumlah responden pada kaum awam 8 orang dan biarawan

sebanyak 37 orang. Biarawan yang dieksklusi sebanyak 37 orang pada kelompok usia

25-35 tahun. Ekslusi dilakukan karena pada awalnya jumlah responden biarawan

telah memenuhi 100 orang, tetapi setelah data dilihat kembali, ternyata responden

yang paling banyak pada usia 25-35 tahun sehingga dilakukan eksklusi untuk

menyeimbangkan usia dengan kaum awam. Cara eksklusi random yang dilakukan

yaitu dengan cara pengambilan sampel acak sederhana yaitu dengan cara diundi.

H. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah case report form (CRF), timbangan berat badan, alat pengukur tinggi badan, sphygmomanometer digital (Omron, HEM-7203 Muko, Kyoto, Japan), dan inform consent. Alat pengukur tinggi badan dan timbangan berat badan berfungsi untuk mengukur body mass index

(BMI).

I. Tata Cara Penelitian 1. Observasi awal

Observasi awal dilakukan dengan menentukan tempat yang tepat untuk diteliti dengan prevalensi penyandang hipertensi.

2. Permohonan izin dan kerjasama

(49)

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta untuk memperoleh ethical clearance. Permohonan ijin dilakukan untuk memenuhi etika penelitian menggunakan tekanan darah manusia dan hasil penelitian dapat dipublikasikan.

3. Pembuatan informed consent

Informed consent yang dibuat harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh

Komisi Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Responden diminta untuk mengisi nama, alamat, usia dan menandatanganinya.

4. Seleksi dan penetapan calon responden

Peneliti akan memberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan dari penelitian kepada calon responden. Calon responden yang bersedia mengikuti penelitian ditanyakan kesediaannya mengikuti wawancara berdasarkan CRF dan diberi penjelasan terkait tujuan penelitian.

5. Validitas dan reliabilitas instrumen penelitian

(50)

positif dan signifikan maka instrumennya reliable. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya (Umar, 2007).

Instrumen yang memiliki reliabilitas yang baik dapat dinyatakan dengan nilai koefisien varians (CV) ≤5%. Reliabilitas dilakukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan individu sebanyak 1 kali berturut-turut. Uji validitas timbangan berat badan dan alat ukur tinggi badan dilakukan di Balai Metrologi untuk divalidasi dan ditara ulang agar sesuai dengan standar alat ukur nasional.

6. Pengukuran tekanan darah

Pengukuran tekanan darah responden yang telah menandatangani informed

consent. Pengukuran tekanan darah menggunakan sphygmomanometer digital.

Pengukuran tinggi badan dan timbangan berat badan untuk mengukur BMI (sebagai salah satu faktor risiko hipertensi).

7. Pengolahan data

Pengolahan data dilakukan dengan kategorisasi data sejenis, yaitu menyusun dan menggolongkannya dalam kategori-kategori kemudian dilakukan interpretasi data. Kategorisasi data sejenis sesuai CRF dan diolah menggunakan Microsoft Excel.

J. Analisis Data Penelitian

(51)

dan biarawan dan denyut nadi untuk biarawan. Data yang tidak terdistribusi normal menggunakan teorema limit sentral (TLS) menyatakan bahwa dalam prakteknya tak peduli distribusi probabilitas apapun yang mendasarinya, rata-rata sampel dari besaran sampel yang terdiri dari sekurang-kurangnya 30 observasi akan mendekati normal (Gujarati, 2006). Kemudian dihitung frekuensi dan deskripsi data (mean, median, dan SD) setiap satu variabel menggunakan statistik deskriptif. Data yang sudah terdistribusi secara normal dilanjutkan dengan uji t tidak berpasangan untuk mengetahui adanya perbedaan rata-rata pada lebih dari 2 kelompok data yaitu tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, denyut nadi dengan variabel umur, BMI, aktifitas fisik dan pola makan, sedangkan data yang tidak terdistribusi secara normal dianggap normal dengan teorema limit sentral, analisis proporsi pengaruh antara 2 variabel yaitu hipertensi, kesadaran, terapi terhadap BMI, pola makan dan aktifitas fisik pada tiap kelompok penelitian menggunakan uji proporsi Chi-square. (Dahlan, 2012). Setelah analisis Chi-square dilanjutkan dengan perhitungan Ods ratio untuk melihat seberapa besar pengaruh faktor risiko BMI, aktivitas fisik, pola makan terhadap variabel tergantung.

K. Perumusan Hipotesis

(52)

(0,05), artinya tidak ada pengaruh bermakna antara variabel bebas dengan variabel tergantung baik pada masing-masing kelompok awam maupun biarawan.

a. Perbedaan proporsi prevalensi, kesadaran, dan terapi hipertensi pada kelompok subyek awam dan biarawan

Untuk proporsi prevalensi: Untuk kesadaran dan terapi:

H0 = P1≤P2 H0 = P1≥P2

H1 = P1>P2 H0 = P1<P2

p <0,05

P1 = prevalensi, kesadaran, terapi pada awam. P2 = prevalensi, kesadaran dan terapi pada biarawan.

Kelompok subyek

(awam VS biarawan)

Prevalensi

Kesadaran

(53)

b. Analisis perbedaan masing-masing variabel terhadap prevalensi, kesadaran, dan terapi hipertensi

Gambar 2. Bagan Hipotesis

Untuk proporsi Prevalensi: Untuk Kesadaran dan terapi:

Ho = P1≤P2 Ho = P1≥P2

H1 = P1>P2;α <0.05 H2,3 = P1<P2

P1 = proporsi prevalensi hipertensi responden tidak olahraga; tidak mengatur pola makan atau BMI ≥25Kg/m2.

P2 = proporsi prevalensi hipertensi responden yang berolah raga; mengatur pola makan atau BMI< 25Kg/m2.

Awam

Prevalensi H1

Terapi H3 Kesadaran H2

Biarawan

Prevalensi H1

Kesadaran H2

Terapi H3

BMI

Aktivitas fisik

Pola makan

BMI

Aktivitas fisik

(54)

P1 = proporsi kesadaran:terapi hipertensi responden tidak olahraga, tidak mengatur pola makan atau BMI ≥25Kg/m2.

(55)

35 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini merupakan penelitian mandiri yang dibagi menjadi dua, yaitu faktor risiko kesehatan dan faktor sosio ekonomi pada kaum awam laki-laki dan kaum biarawan. Faktor risiko kesehatan terdiri dari BMI, aktivitas fisik, dan pola makan. Faktor sosio ekonomi terdiri dari merokok, pendidikan, pekerjaan, akses informasi.

Tabel V. Profil penelitian pada awam laki-laki dan biarawan

Variabel Awam

Penelitian “Perbandingan Prevalensi, Kesadaran, dan Terapi Responden

(56)

merupakan penelitian yang menggunakan The ‘Rule of Halves’ sebagai dasar (Deepa, 2003). Responden penelitian ini telah memenuhi kriteria penelitian baik inklusi maupun eksklusi. Profil karakteristik masing-masing kelompok responden (awam dan biarawan) dalam penelitian ini meliputi usia, tekanan darah, BMI, aktivitas fisik, dan pola makan.

Tabel VI menunjukkan perbedaan rata-rata karakteristik responden berdasarkan umur, BMI, tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan juga denyut nadi. Tujuannya untuk melihat apakah data terdistribusi secara normal. Dari hasil yang diperoleh untuk nilai umur rata-rata, BMI, tekanan darah diastolik baik untuk kaum awam maupun untuk kaum biarawan didapatkan data terdistribusi secara normal, dan untuk denyut nadi pada kaum biarawan datanya terdistribusi secara normal.

Tabel VI. Perbandingan profil antara awam dengan biarawan

Awam Biarawan p

(57)

ada perbedaan bermakna antara umur, BMI, TDD dan denyut nadi antara awam dengan biarawan. Untuk TDS, terdapat perbedaan bermakna antara awam dengan biarawan karena nilai p <0,05. Dari hasil perbedaan rata-rata karakteristik yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa tekanan darah sistolik pada awam laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan darah sistolik pada biarawan.

Tabel VII. Perbedaan Tekanan Darah Sistolik, Diastolik, dan Denyut Nadi pada Umur Kaum Awam dan Faktor Risiko Responden Penelitian

Variabel TDS (mmHg) TDD (mmHg) Denyut Nadi

(58)

variabel baik dari tekanan darah sistolik (TDS), tekanan darah sistolik (TDD), dan denyut nadi.

Tabel VII pada awam menunjukkan, kelompok umur memiliki rata-rata berbeda bermakna pada TDS, tetapi berbeda tidak bermakna untuk TDD dan denyut nadi. Terbukti bahwa semakin tinggi umur, maka tekanan darah sistolik juga akan semakin meningkat. Mengatur aktivitas fisik dan tidak mengatur aktivitas fisik memiliki rata-rata berbeda tidak bermakna pada TDS, TDD dan denyut nadi. Mengatur pola makan pada kaum awam memiliki rata-rata TDS, TDD yang berbeda bermakna dengan yang tidak mengatur pola makan, namun berbeda tidak bermakna pada denyut nadi. BMI ≥25 dengan BMI <25 memilki rata-rata berbeda bermakna pada TDS, TDD, dan denyut nadi. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi umur maka tekanan darah sitolik dan tekanan darah diastolik juga akan semakin meningkat, begitu juga dengan responden yang tidak mengatur pola makan terjadi peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik, dan responden yang memiliki BMI ≥25 berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah sitolik, tekanan darah diastolik, dan denyut nadi pada awam laki-laki. Hal tersebut sesuai dengan teori yang sudah ada.

(59)

disimpulkan bahwa biarawan yang melakukan aktivitas fisik memiliki tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik lebih rendah dibandingkan dengan biarawan yang tidak melakukan aktivitas fisik secara bermakna.

Tabel VIII. Perbedaan Tekanan Darah Sistolik, Diastolik dan Denyut Nadi pada Umur Kaum Biarawan dan Faktor Risiko Responden Penelitian

(60)

bermakna hanya pada mengatur aktivitas fisik saja terhadap tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik. Dari hasil yang didapatkan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa umur berpengaruh terhadap tekanan darah sistolik pada awam sebaliknya untuk biarawan tidak berpengaruh. Mengatur pola makan dan juga BMI berpengaruh terhadap tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan denyut nadi pada kaum awam laki-laki sedangkan untuk biarawan yang berpengaruh terhadap tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik terdapat pada mengatur aktivitas fisik.

Prevalensi pada awam dan biarawan yang menderita hipertensi cukup banyak, karena hasil dari penelitian ini prevalensi hipertensi pada awam sebesar 34,0% dan pada biarawan 27,18% sehingga total seluruhnya 61,18%. Menurut Riskesda 2013 hasil penelitian Mihardja dkk, prevalensi hipertensi di Indonesia yang didapat melalui pengukuran pada umur ≥18 tahun sebesar 25,8%, yang didapat melalui kuesioner terdiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4%, yang didiagnosis tenaga kesehatan atau sedang minum obat sebesar 9,5%, 0,1% yang minum obat sendiri. Total sampel Riskesdas: 1.027.763 orang, laki-laki sebanyak 319.121 orang hasil wawancara dan 316.617 orang yang terukur menderita hipertensi.

A.Profil Prevalensi, Kesadaran, dan Terapi Responden Hipertensi antara awam dan biarawan

(61)

28,4%, berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 8,3%, sementara berdasarkan diagnosis dan atau riwayat minum obat hipertensi adalah 8,6%.

VS

Gambar 3. Faktor Risiko Subyek dalam penelitian berdasarkan teori Rule of Halves’

(62)

bahwa frekuensi hipertensi paling banyak adalah pada kaum awam laki-laki dibandingkan dengan kaum biarawan. Persentase hipertensi pada kaum awam laki-laki sebanyak 34% sedangkan untuk kaum biarawan sebanyak 27,2%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa prevalensi hipertensi pada penelitian ini cukup banyak pada kaum laki-laki awam dibandingkan dengan kaum biarawan. Pada penelitian ini kurang sesuai dengan The’Rule of Halves’ karena jumlah pada responden awam dan

biarawan tidak mencapai setengah responden hipertensi. Meskipun hasil yang diperoleh dalam penelitian ini kurang sesuai dengan The ‘Rule of Halves’ alangkah baiknya jika responden tetap menerapkan pola hidup sehat untuk mencegah prevalensi hipertensi karena dari prevalensi hipertensi di Indonesia cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Hipertensi juga merupakan salah satu faktor risiko yang paling signifikan untuk penyakit kardiovaskuler (CVD). Prevalensi hipertensi pada penelitian ini lebih tinggi pada awam laki-laki dibandingkan dengan biarawan, hal itu kemungkinan terjadi karena awam laki-laki yang mengatur pola makan dan melakukan aktivitas fisik (olahraga) sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan biarawan.

(63)

sebanyak 35,7%. Jadi kesadaran responden hipertensi pada kaum biarawan lebih rendah dibandingkan dengan kaum awam laki-laki. Hal ini kurang sesuai dengan the ‘Rule of Halves’ karena responden hipertensi yang sadar menderita hipertensi lebih dari setengah responden hipertensi untuk kaum awam sedangkan untuk kaum biarawan kurang dari setengah responden hipertensi. Kesadaran merupakan faktor penting untuk mencapai tekanan darah terkendali. Ketika penderita hipertensi menyadari dirinya menderita hipertensi maka akan lebih memperhatikan kondisinya, kemudian melakukan terapi, dengan demikian tekanan darah tetap terkendali. Kesadaran awam laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan biarawan hal ini mungkin dikarenakan awam laki-laki lebih sering malakukan pengecekan tekanan darah di posko kesehatan dan di puskesmas terdekat. Sedangkan biarawan sangat jarang melakukan pengecekan tekanan darah.

(64)

hipertensi itu sendiri adalah untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas, mengontrol tekanan darah pasien sehingga dapat mengurangi risiko yang diakibatkan oleh hipertensi. Responden awam laki-laki lebih banyak terapi dikarenakan jumlah responden yang sadar lebih banyak dibandingkan dengan biarawan. Hal ini juga kemungkinan disebabkan kaum awam laki-laki didukung oleh keluarga dekat yang bisa mengingatkan dan memperhatikan untuk mengkonsumsi obat setiap hari seperti istri, anak dan siapa saja yang hidup bersama dengan mereka, sedangkan para biarawan tidak ada yang memperhatikan secara khusus untuk mengkonsumsi obat antihipertensi secara rutin sehingga bisa terjadi kelalaian dan kalupaan, juga biarawan lebih banyak melakukan terapi dengan cara meditasi dan mengontrol pikiran sedangkan awam laki-laki melakukan terapi dengan mengkonsumsi obat antihipertensi.

B.Perbandingan Prevalensi, Kesadaran dan Terapi Hipertensi antara kaum Awam laki-laki dengan kaum Biarawan

Perbandingan adalah membandingkan dua nilai atau lebih dari suatu besaran yang sejenis dan dinyatakan dengan cara yang sederhana. Dari sumber yang dicari, belum pernah ada ditemukan penelitian untuk kaum biarawan, kemungkinan disebabkan oleh kehidupan biarawan yang jarang diketahui oleh masyarakat luas, sehingga penelitian ini merupakan penelitian pertamakali untuk membandingkan prevalensi, kesadaran, dan terapi hipertensi pada kaum awam dengan kaum biarawan.

(65)

darah tinggi dibandingkan dengan biarawan tetapi berbeda tidak bermakna, sehingga H0 diterima karena nilai p di atas 0,05.

Tabel IX. Perbandingan prevalensi hipertensi antara awam dengan biarawan Prevalensi

Tabel X. Perbandingan kesadaran hipertensi antara awam dengan biarawan Kesadaran

Hasil dari perbandingan kesadaran hipertensi antara awam dan biarawan dalam penelitian ini yaitu awam lebih banyak 2,02 kali terhadap kesadaran hipertensi dibandingkan dengan biarawan walaupun berbeda tidak bermakna, sehingga H0 diterima karena nilai p di atas 0,05. Hasil perbandingan terapi yang didapatkan dalam penelitian ini adalah awam yang menerima terapi secara tidak bermakna lebih banyak 3,9 kali dibandingkan dengan biarawan, sehingga H0 diterima dengan nilai p> 0,05 OR 3,90 (0,76-19,95).

(66)

Meskipun secara statistik dari hasil perbandingan terapi yang didapat antara awam laki-laki dan biarawan berbeda tidak bermakna, namun secara angka kaum biarawan cenderung lebih sedikit yang melakukan terapi jika dibandingkan dengan awam laki-laki. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kaum biarawan belum menyadari tujuan dari terapi hipertensi itu sendiri yakni untuk meminimalkan risiko komplikasi akibat hipertensi dan juga kemungkinan karena kurangnya ketaatan para biarawan yang sudah mengetahui dirinya menderita hipertensi namun enggan untuk mengkonsumsi obat antihipertensi.

C.Perbedaan Faktor Risiko BMI, Aktivitas Fisik, Pola Makan terhadap Prevalensi, Kesadaran dan Terapi Responden Hipertensi Pada

Masing-masing Kelompok

Obesitas merupakan faktor risiko utama dari beberapa penyakit degeneratif dan metabolik, salah satunya adalah penyakit hipertensi. Peningkatan Index Massa Tubuh (IMT) erat kaitannya dengan penyakit hipertensi baik pada laki-laki maupun perempuan. Kenaikan berat badan sangat berpengaruh pada mekanisme timbulnya kejadian hipertensi pada orang yang obesitas, akan tetapi mekanisme terjadinya hal tersebut belum dipahami secara jelas. Diduga pada orang yang obesitas terjadi peningkatan volume plasma dan curah jantung yang akan meningkatkan tekanan darah (Sihombing, 2010).

(67)

frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga otot jantungnya harus bekerja lebih keras ketika berkontraksi. Pada orang tertentu dengan melakukan olah raga aerobic yang teratur dapat menurunkan tekanan darah tanpa perlu berat badan turun (Sheps, 2005). Menurut JNC 7 (Chobanian, 2003) aktivitas fisik seperti aerobik dan jalan cepat setidaknya 30 menit per hari secara rutin dapat menurunkan tekanan darah sistolik 4-9 mmHg. Pada penelitian ini, aktivitas fisik yang dianalisis yaitu responden yang melakukan olah raga secara rutin minimal 30 menit setiap hari.

(68)

usia, lebih tinggi pada wanita dan individu hiperkolesterol, dan lebih rendah pada perokok. Hasil yang sama ditemukan pada diet Mediterania. Hanya 60% dari individu-individu hipertensi didiagnosis melaporkan menerima dan mengikuti diet yang diresepkan untuk mengontrol hipertensi; kelompok ini menunjukkan sesuai dengan diet DASH (usia dan sex-adjusted odds ratio (aOR) 1,43; 95% CI 1,08-1,88). Dibandingkan dengan 1.518 orang hipertensi tidak menyadari kondisi mereka, mereka yang didiagnosis menunjukkan frekuensi yang sama sesuai dengan diet DASH (aOR 1,08; 95% CI 0,87-1,34) dan diet Mediterania (aOR 0,98; 95% CI 0.79- 1,20) (Munoz, 2012). Pada penelitian ini perilaku konsumsi makan makanan yang berisiko yang dianalisi yaitu: makanan manis, makanan asin, gorengan, makan makanan yang dimasak di rumah, berapa kali penggunaan minyak goreng, minum susu, makan buah-buahan, makan sayuran dalam satu hari.

1. Pada awam

Tabel XII. Pengaruh BMI, aktivitas fisik, dan pola makan terhadap prevalensi hipertensi pada awam laki-laki

(69)

Pada penelitian ini, prevalensi awam menunjukkan nilai p 0,04, 0,01 dan 0,01 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang berbeda bermakna antara BMI, aktivitas fisik, dan pola makan terhadap prevaleni hipertensi dengan OR 0,40 (95% CI:0,16-0,97) maka H0 ditolak. Dapat disimpulkan bahwa awam yang memiliki BMI ≥25 lebih sedikit 0,40 kali terhadap prevalensi hipertensi secara bermakna dibandingkan dengan awam yang memiliki BMI <25. Hal ini tidak sesuai dengan teori. Dalam teori, seharusnya BMI ≥25 memiliki prevalensi hipertensi lebih besar dibandingkan dengan BMI <25. Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa responden awam laki-laki yang memiliki BMI ≥25 lebih rendah 0,4 kali terhadap prevalensi hipertensi dibandingkan dengan awam laki-laki yang memiliki BMI <25. Setelah peneliti menelusuri kembali dari data responden awam laki-laki, BMI ≥25 lebih dominan terjadi pada usia muda, sehingga prevalensi hipertensinya lebih rendah. Demikian juga pada aktivitas fisik, awam laki-laki yang tidak melakukan aktivitas fisik berisiko lebih besar 4 kali secara bermakna terhadap prevalensi hipertensi dibandingkan dengan kaum awam laki-laki yang melakukan aktivitas fisik. Awam yang tidak mengatur pola makan berisiko lebih besar 7,56 kali secara bermakna dibandingkan dengan awam yang mengatur pola makan terhadap prevalensi hipertensi.

(70)

makan terhadap kesadaran hipertensi pada awam laki-laki, hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima.

Tabel XIII. Pengaruh BMI, aktivitas fisik dan pola makan terhadap kesadaran hipertensi pada awam laki-laki

Kesadaran

(71)

yang berpengaruh hanya terdapat pada BMI, aktivitas fisik dan pola makan terhadap prevalensi hipertensi pada awam laki-laki.

2. Pada biarawan

Tabel XV. Pengaruh BMI, aktivitas fisik, dan pola makan terhadap prevalensi hipertensi pada biarawan Pada penelitian ini pengaruh variabel terhadap prevalensi hipertensi pada biarawan menghasilkan nilai p 0,05;0,43; 0,74 untuk BMI, aktivitas fisik dan pola makan, hal tersebut menunjukkan bahwa H0 diterima, sehingga tidak terdapat hubungan yang berbeda bermakna antara prevalensi hipertensi terhadap BMI, aktivitas fisik dan pola makan. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh BMI, aktivitas fisik dan pola makan terhadap prevalensi hipertensi pada kaum biarawan.

(72)

bahwa tidak ada pengaruh BMI, aktivitas fisik dan pola makan terhadap kesadaran hipertensi pada biarawan.

Tabel XVI. Pengaruh BMI, aktivitas fisik, dan pola makan terhadap kesadaran hipertensi pada biarawan

Tabel XVII. Pengaruh BMI, aktivitas fisik, dan pola makan terhadap terapi hipertensi pada biarawan

(73)

makan terhadap terapi hipertensi pada kaum biarawan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa BMI, aktivitas fisik, dan pola makan berpengaruh hanya pada prevalensi hipertensi pada awam laki-laki, sebaliknya untuk biarawan tidak ada pengaruh BMI, aktivitas fisik dan pola makan terhadap prevalensi, kesadaran dan terapi hipertensi.

Adapun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil penelitian ini antara lain:

a. Usia responden yang masih muda sehingga belum bisa terdeteksi faktor risiko yang berpengaruh terhadap hipertensi.

b. Jumlah sampel yang sedikit pada beberapa faktor risiko, sehingga hasil yang didapat kurang bisa mewakili nilai yang sebenarnya.

c. Ketidak terbukaan responden dalam menjawab pertanyaan saat wawancara. d. Pengukuran tekanan darah sesaat dan tidak dilakukan berkali-kali agar

menunjukkan tekanan darah persisten.

(74)

54 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan

1. Prevalensi kaum awam yang menderita hipertensi sebanyak 34%, yang sadar menderita hipertensi sebanyak 52,9%, yang melakukan terapi hipertensi secara rutin sebanyak 72,2%, sedangkan kaum biarawan yang menderita hipertensi sebanyak 27,2%, yang sadar menderita hipertensi sebanyak 35,7%, yang melakukan terapi hipertensi secara rutin sebanyak 40,0%.

2. Tidak ada perbedaan perbandingan prevalensi, kesadaran dan terapi hipertensi antara awam laki-laki dengan biarawan.

3. Faktor yang mempengaruhi prevalensi hipertensi pada kaum awam adalah BMI dengan OR 0,40 (95% CI: 0,16-0,97), aktivitas fisik dengan OR 3,99 (95% CI: 1,66-9,56), pola makan dengan OR 7,56 (95% CI: 1,89-30,24), sedangkan untuk kaum biarawan tidak ada faktor risiko yang mempengaruhi prevalensi, kesadaran, dan terapi hipertensi.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang didapat, penulis memberikan saran berupa: 1. Diperlukan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat dan biarawan tentang

(75)

kejadian hipertensi, sehingga masyarakat dan biarawan sadar untuk melakukan pengecekan tekanan darah. Secara khusus bagi kaum biarawan dibutuhkan tenaga kesehatan untuk mengontrol tekanan darah para biarawan secara rutin.

2. Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian dengan memantau terapi rutin hipertensi pada masyarakat, secara khusus bagi kaum biarawan untuk mengetahui pengaruh pengobatan rutin terhadap penyakit hipertensi.

Gambar

Gambar 3. Faktor risiko subyek berdasarkan teori Rule of Halves  .................
Tabel XVII. Pengaruh BMI, aktivitas fisik dan pola makan terhadap
Tabel I. Defenisi dan Klasifikasi Tekanan Darah (mmHg) Kategori Sistolik BP  Diastolik BP
Tabel II. Klasifikasi BMI Menurut WHO BMI (kg/m2) Risiko komorbiditas
+7

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Kenyataan ini adalah cara yang menarik, tetapi berhadapan dengan orang dari budaya berbeda membutuhkan pengetahuai keanekaragaman budaya: contoh, cara

Jika salah sebuah faktor tidak terdapat dalam kajian ini maka, proses fotosentisis tidak akan berlaku dalam daun hijau tersebut.. Oleh hal yang sedemikian, faktor cahaya

Rumusan masalah yang menjadi fokus dalam penelitian tindakan ini adalah bagaimana model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) pada materi listrik dinamis

Perlindungan hukum perlakuan diskriminasi terjadi terhadap tenaga kerja wanita dapat saja terjadi yaitu dalam hal: mendapatkan hak atas kesempatan kerja yang sama

Sistem pengawasan yang dilakukan dalam perseroan haruslah didasari dengan peraturan yang berlaku dalam perseroan sehingga pengawasan yang dilakukan oleh dewan komisaris terhadap

PENGARUH KEPEMILIKAN MANAJERIAL, LEVERAGE DAN PROFITABILITAS TERHADAP KEBIJAKAN

Sistem hukum merupakan kaidah hukum yang berciri hierarkhis dari asas hukum sampai kaidah perilaku, dengan memiliki struktur dan aktualisasi hukum dari aparat penegak hukum