• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan religiositas siswa di Sekolah Menengah Pertama Kanisius Kalasan Yogyakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengembangan religiositas siswa di Sekolah Menengah Pertama Kanisius Kalasan Yogyakarta"

Copied!
176
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN RELIGIOSITAS SISWA

DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KANISIUS KALASAN YOGYAKARTA

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Agama Katolik

Oleh: Agung Jiwantoro

NIM: 121124067

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan kepada

kedua orang tuaku (Petrus Sujono dan Maria Magdalena Marjiwatun Tri Nugroho), kakak saya (Fransiska Tutut Paulina), teman-teman PAK Angkatan 2012, seluruh warga SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta, serta semua orang yang telah membantu

(5)

MOTTO

Tuhan memanggil melalui suara hati,

suara Tuhan yang membuat jiwa menjadi penuh iman, kasih, dan harapan.

“Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; Janji Tuhan adalah murni; Dia menjadi perisai

(6)
(7)
(8)

ABSTRAK

Judul skripsi ini adalah PENGEMBANGAN RELIGIOSITAS SISWA DI

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KANISIUS KALASAN

YOGYAKARTA. Pemilihan judul ini bertitik tolak dari keprihatinan penulis atas realitas yang terjadi terhadap perkembangan religiositas remaja yang semakin memprihatinkan. Kenyataan menunjukkan bahwa remaja mudah terjerumus dalam tindakan yang dapat merugikan bagi dirinya sendiri maupun orang lain. SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta sebagai sekolah Katolik dipanggil untuk membantu dalam pengembangan religiositas siswa. Berdasar pada pernyataan tersebut bahwa remaja mudah terjerumus dalam budaya baru yang belum tentu baik dan SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta sebagai sekolah Katolik dipanggil untuk membantu dalam pengembangan religiositas siswa, maka skripsi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana upaya SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta sebagai sekolah Katolik dalam mengembangkan religiousitas siswa.

Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah bagaimana pelaksanaan pengembangan religiositas di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta sebagai sekolah Katolik telah mendukung sikap religiousitas siswa. Untuk mengkaji masalah ini diperlukan data yang akurat. Oleh karena itu penyebaran angket kepada siswa dan wawancara terhadap guru di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta telah dilaksanakan. Di samping itu studi pustaka juga dimanfaatkan untuk memperoleh pemikiran-pemikiran agar dapat menjadi bahan yang mendukung serta mampu direfleksikan, sehingga diperoleh gagasan-gagasan yang dapat dipergunakan sebagai sumbangan dalam upaya pengembangan religiousitas siswa di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta.

(9)

ABSTRACT

The title of this thesis is DEVELOPING RELIGIOSITY IN JUNIOR HIGH SCHOOL KANISIUS KALASAN YOGYAKARTA. The title is chosen from concerns of

the author’s of on reality that happens to the developing of adolescent religiosity is

increasingly alarming. Reality shows that adolescents are vulnerable to actions that can be harmful to themselves or others. Junior High School Kanisius Kalasan Yogyakarta as a Catholic schools called in to assist in the developing of students' religiosity. Based on the statement that adolescents are vulnerable to a new culture that is not necessarily good and Junior High School Kanisius Kalasan Yogyakarta as a Catholic school called in to assist in the developing of religiosity students, the thesis is purports to determine the extent of the effort Junior High School Kanisius Kalasan Yogyakarta as a Catholic school in developing students religiosity.

The main issue in this thesis is religiosity how the implementation of the religiosity developing program in Junior High School Kanisius Kalasan Yogyakarta as a Catholic school has supported the attitude religiousitas students. To investigate this issue is accurate data. Therefore, distributing questionnaires to students and interviews with teachers at Junior High School Kanisius Kalasan Yogyakarta are employee in this research. In addition, the literature study is also used to obtain ideas that may be material to support and be able to be reflection, in order to obtain ideas that can be used as a contribution in the developing of students in Junior High School Kanisius Kalasan Yogyakarta.

(10)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat limpahan kasih sayang-Nya, skripsi dengan judul PENGEMBANGAN RELIGIOSITAS SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KANISIUS KALASAN YOGYAKARTA ini terselesaikan dengan baik.

Tujuan penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan untuk Program Studi Pendidikan Agama Katolik. Skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan, dukungan dan doa dari berbagai pihak. Maka dari itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada:

1. Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung, S.J., M.Ed., selaku Kaprodi yang telah bersedia memberi dukungan, perhatian, motivasi kepada penulis selama berproses di Prodi PAK.

2. Y.H Bintang Nusantara, SFK, M.Hum, selaku dosen utama dan sekaligus dosen pembimbing akademik yang telah meluangkan waktu dalam mendampingi, menuntun, memberikan saran dan kritik kepada penulis dalam mengembangkan ide sehingga penulis semakin bersemangat untuk menyelesaikan skripsi.

3. Y. Kristianto, SFK, M.Pd, selaku dosen penguji kedua, yang selalu memberikan motivasi kepada penulis demi penyelesaian skripsi ini.

(11)

5. Semua Staf Dosen Prodi PAK, yang sudah membantu penulis dalam menuntut ilmu di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 6. Segenap Staf Sekretariat, Perpustakaan Prodi PAK maupun USD Pusat dan

seluruh karyawan bagian lain yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

7. Yusup Indrianto P., S.Pd selaku Kepala SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta yang memberikan ijin kepada penulis untuk menjalankan penelitian di sekolah.

8. Darmini, S.Pd, Y. Endang Setya H., S.Pd, Agustina Kurnia Pancarini, S.Pd dan B. Sri Sumekar Harjanti selaku guru di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta yang telah meluangkan waktu untuk dapat diwawancara.

9. Siswa-siswi kelas IX SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta yang telah meluangkan waktu memberikan jawaban dalam penelitian melalui angket.

10.Bapak Petrus Sujono dan Ibu Maria Magdalena Marjiwatun Tri Nugraha, selaku orangtua penulis yang selalu mendampingi, memberi kasih sayang dan membantu penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan lancar.

11.Kakak saya Fransiska Tutut Paulina yang selalu mendukung dan menyemangati penulis menyelesaikan skripsi.

12.Teman-teman mahasiswa khususnya angkatan 2012 yang selalu memberikan dukungan dan semangat dalam penyelesaian skripsi ini.

(12)

Penulis menyadari bahwa keterbatasan pengetahuan dan pengalaman dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun demi perbaikan skripsi ini akan penulis terima dengan senang hati. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi semua yang membacanya.

(13)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR SINGKATAN ... xviii

DAFTAR TABEL ... xx

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Permasalah... 5

C. Tujuan Penulisan ... 5

D. Manfaat Penulisan ... 5

E. Metode Penulisan ... 6

F. Sistematika Penulisan ... 6

BAB II. PENGEMBANGAN RELIGIOSITAS DI SEKOLAH KATOLIK ... 9

A. Pengertian Religiositas ... 10

1. Religiositas: Bagian Terdalam dari Pribadi Manusia ... 10

2. Religiositas: Melintasi Agama-agama ... 11

3. Religiositas: Melintasi Rasionalisasi ... 12

B. Aspek Religiositas ... 13

1. Aspek Religiositas Belief ... 13

2. Aspek Religiositas Practice ... 14

(14)

4. Aspek Religiositas Knowledge ... 15

a. Perkembangan Religiositas Remaja dalam Aspek Belief... 17

b. Perkembangan Religiositas Remaja dalam Aspek Practice ... 18

c. Perkembangan Religiositas Remaja dalam Aspek Feeling ... 19

d. Perkembangan Religiositas Remaja dalam Aspek Knowledge ... 19

e. Perkembangan Religiositas Remaja dalam Aspek Effect... 20

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Religiositas Remaja ... 21

5. Dimensi Religiositas Pendidikan di Sekolah Katolik ... 28

a. Dimensi Religiositas Iklim Sekolah ... 28

b. Dimensi Religiositas Kehidupan dan Karya Sekolah .... 29

(15)

Di Sekolah Katolik ... 30

BAB III. PENELITIAN TENTANG PELAKSANAAN PENGEMBANGAN RELIGIOSITAS SISWA DI SMP KANISIUS KALASAN YOGYAKARTA ... 35

A. Gambaran Umum SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta ... 35

1. Sejarah Singkat SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta ... 36

2. Visi SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta ... 36

3. Misi SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta ... 37

4. Tujuan SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta ... 38

5. Lingkungan Fisik SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta ... 40

6. Gambaran Guru SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta ... 40

2. Laporan Penelitian Melalui Penyebaran Angket ... 55

a. Identitas Responden... 56

(16)

SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta... 59

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Pengembangan Religiositas di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta ... 66

e. Upaya untuk Meningkatkan Pengembangan Religiositas siswa di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta ... 68

3. Laporan Hasil Penelitian Wawancara dengan Para Guru Di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta ... 72

4. Pembahasan Hasil Penelitian ... 83

a. Pemahaman Pengembangan Religiositas di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta ... 84

b. Pelaksanaan Pengembangan Religiositas Di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta ... 85

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Pengembangan Religiositas di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta ... 91

d. Upaya untuk Meningkatkan Pengembangan Religiositas Siswa di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta ... 94

D. Kesimpulan Penelitian ... 98

BAB IV. PANDUAN REFLEKSI SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN PENGEMBANGAN RELIGIOSITAS SISWA DI SMP KANISIUS KALASAN YOGYAKARTA ... 101

A. Latar Belakang Penyusunan Panduan Refleksi ... 101

B. Tujuan Penyusunan Panduan Refleksi ... 102

C. Materi Pokok Panduan Refleksi ... 103

D. Petunjuk Penggunaa Panduan Refleksi ... 106

E. Contoh Panduan Refleksi ... 109

1. Materi (Belief): Percaya Keberadaan Allah ... 109

2. Materi (Practice): Mengikuti Ibadah... 110

3. Materi (Feeling): Merasakan Kehadiran Allah ... 112

4. Materi (Knowledge): Pendidikan Religiositas ... 113

5. Materi (Effect): Perilaku Sehari-hari ... 114

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 115

A. Kesimpulan ... 115

B. Saran ... 116

(17)

LAMPIRAN ... 120

Lampiran 1: Surat Permohonan Izin Penelitian ... (1)

Lampiran 2: Transkip Hasil Wawancara Guru ... (2)

Lampiran 3: Kisi-kisi dan Angket ... (6)

Lampiran 4: Contoh Jawaban Responden ... (14)

(18)

DAFTAR SINGKATAN

A. Singkatan Teks Kitab Suci

Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia.

Ef : Efesus

Mzm : Mazmur

B. Singkatan Dokumen Gereja

GE : Gravissimum Educationis

Dekrit Konsili Vatikan II tentang Pendidikan Kristen tanggal 28 Oktober 1965.

LG : Lumen Gentium

Dekrit Konsili Vatikan II tentang Gereja tanggal 21 November 1964.

GS : Gaudium Et Spes

Dekrit Konsili Vatikan II tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini tanggal 7 Desember 1965.

SC : Sacrosanctum Concilium

Dekrit Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci tanggal 4 Desember 1963.

KGK : Katekismus Gereja Katolik

Terjemahan Indonesia dikerjakan berdasarkan edisi Jerman oleh P. Herman Embuiri, SVD. Tahun 2014.

C. Singkatan Lain

IKAPI : Ikatan Penerbit Indonesia BKSN : Bulan Kitab Suci Nasional

PA : Putra Altar

IQ : Intelligence Quotient

PAK : Pendidikan Agama Katolik

R : Responden

(19)

P : Persentase

J : Jumlah siswa yang memilih alternatif jawaban tertentu T : Jumlah total seluruh responden

dll : dan lain-lain

No : Nomor

SMP : Sekolah Menengah Pertama Mapel : Mata Pelajaran

BNN : Badan Narkotika Nasional

MS : Microsoft Word

SJ : Serikat Jesus

IPA : Ilmu Pengetahuan Alam

SK : Surat Keputusan

KD : Kompetensi Dasar

KKM : Kriteria Kelulusan Minimal

KTSP : Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan RPP : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

CTL : Contextual Teaching and Learning

PAIKEM :Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan

SDM : Sumber Daya Manusia UKS : Unit Kesehatan Sekolah

HP : Handphone

(20)

DAFTAR TABEL

1. Tabel 1. Kisi-kisi Kuesioner 2. Tabel 2.Kisi-kisi Wawancara

3. Tabel 3. Identitas Responden (N=60)

4. Tabel 4. Pemahaman Pengembangan Religiositas di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta (N=60)

5. Tabel 5. Pelaksanaan Pengembangan Religiositas di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta (N=60)

6. Tabel 6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Pengembangan Religiositas di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta (N=60)

7. Tabel 7. Upaya untuk Meningkatkan Pengembangan Religiositas Siswa SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta (N=60)

8. Tabel 8. Hasil Penelitian Wawancara dengan Para Guru di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta

(21)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Religiositas mempunyai peran yang penting dalam menentukan arah kehidupan dan perilaku seseorang. Religiositas adalah relasi antara pribadi dengan Allah yang diwujudnyatakan dalam hidup di tengah masyarakat. Dengan memiliki religiositas, seseorang bisa mengendalikan tingkah laku mereka dalam menghadapi setiap persoalan hidup serta mampu mengambil keputusan yang tidak merugikan pihak manapun, dan yang terpenting tidak bertentangan dengan ajaran Injil. Seorang religiositas akan mampu secara kritis menilai perbuatan apa yang baik dan perlu dilakukan, serta mengetahui perbuatan yang dinilai buruk dan tidak perlu dilakukan (Sarwono, 1989: 91).

(22)

mereka sebagai remaja, baik itu saat ketika berada di sekolah atau ketika berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat (Sarwono, 1989: 71-91).

Religiositas remaja perlu dikembangkan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis antara pribadi dengan Allah dan sesama. Pada masa remaja, mereka mengalami perubahan dalam minat religiositas. Masa remaja mengalami masa keraguan religiositas, remaja banyak yang bersikap skeptis dalam menjalankan ajaran atau perintah agamanya, bila ajarannya tidak sesuai dengan keinginannya, remaja akan mencari kepercayaan baru dari orang terdekat mereka, baik itu teman, tetangga dll. Di berbagai negara peristiwa seperti ini sering terjadi kepada remaja yang kurang memiliki ikatan religiositas. Oleh sebab itu, sering remaja menjadi mangsa baru bagi mereka kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab untuk mempengaruhi remaja mengikuti kultur baru yang belum tentu baik. Maka perlu bagi remaja untuk memiliki religiositas yang kuat agar mereka tidak mudah terpengaruh oleh budaya baru yang dapat merugikan pribadi remaja dan orang di sekitar remaja yaitu masyarakat (Hurlock, 1980: 222)

(23)

44.768 jiwa dan mengalami peningkatan pecandu dari tahun ke tahun (Sumber: bnn.go.id). Kenakalan remaja lainnya adalah begitu mudahnya remaja sekarang untuk terpancing emosi dengan hal-hal kecil dan nekat menghabisi lawannya melalui berbagai cara, salah satunya menggunakan zat kimia untuk melumpuhkan musuh mereka yang sebenarnya masih berusia remaja (Sumber: kompas.com). Kasus remaja lainnya adalah remaja sekarang semakin nekat untuk memperoleh apa yang mereka inginkan, di Jakarta 4 remaja merampok sepeda motor teman sendiri (sumber: merdeka.com). Di dunia dewasa ini remaja mempunyai intelektual yang baik, tetapi kebanyakan dari mereka tidak diimbangi oleh moral yang baik pula, maka begitu banyak remaja putri yang hamil di luar nikah dan jumlah kasus kelahiran remaja di luar nikah setiap tahunnya semakin bertambah (sumber: liputan6.com)

(24)

SMP Kanisius Kalasan sebagai sekolah Katolik sudah berupaya memberikan sarana bagi siswa untuk mengembangkan religiositas mereka, yaitu dengan adanya pendidikan religiositas, misa pelajar yang diikuti oleh seluruh siswa se-kecamatan Kalasan dan rekoleksi siswa SMP Kanisius Kalasan yang diadakan sebulan sekali. Selain itu juga setiap sebelum dan sesudah pelajaran diawali dengan doa. Di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta juga selalu mendoakan doa Malaikat Tuhan (Angelus) dengan speaker yang dipimpin oleh salah satu siswa yang bertugas, serta setiap ada lomba SMP Kanisius Kalasan selalu mengadakan lomba yang menumbuhkan religiositas, misal seperti lomba CCA (Cerdas Cermat Alkitab), lector, dan Mazmur. SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta memiliki letak geografis yang strategis dalam pengembangan religiositas siswa, karena letaknya yang bersebelahan dengan Gereja Paroki Kalasan, setiap sebulan sekali di awal bulan selalu diadakan refleksi bersama, yang dituliskan pada buku khusus, untuk mengetahui pergulatan siswa, dari refleksi tersebut tentu sangat beragam ada siswa yang kuat religiositasnya, tapi ada juga siswa yang kurang religiositasnya.

Berdasarkan uraian di atas penulis ingin mengetahui sejauh mana upaya SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta sebagai sekolah Katolik dalam mengembangkan religiositas siswa. Dalam rangka ini penulis memberi judul skripsi yakni “PENGEMBANGAN RELIGIOSITAS SISWA DI SEKOLAH MENENGAH

PERTAMA KANISIUS KALASAN YOGYAKARTA.”

(25)

mengembangkan iklim religiositas di sekolah melalui berbagai macam metode yang membantu siswa untuk mengembangkan religiositas agar menjadi pribadi yang utuh.

B. Rumusan Permasalahan

Berdasarkan pada latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka masalah pokok dalam skripsi ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana pengembangan religiositas siswa di sekolah Katolik?

2. Bagaimana pengembangan religiositas siswa di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta?

3. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pengembangan religiositas siswa di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta?

C. Tujuan Penulisan

Penulisan skripsi ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui bagaimana pengembangan religiositas siswa di sekolah Katolik. 2. Mengetahui bagaimana pengembangan religiositas siswa di SMP Kanisius

Kalasan Yogyakarta.

3. Mengembangkan religiositas siswa di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta.

D. Manfaat Penulisan 1. Bagi Pendidik:

(26)

2. Bagi Penulis:

Menambah pemahaman, pengalaman, pengetahuan serta wawasan akan pentingnya peranan sekolah Katolik dalam mengembangkan religiositas siswa di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta.

3. Bagi Sekolah SMP Kanisius Kalasan:

Supaya SMP Kanisius Kalasan selaku sekolah Katolik dapat lebih memperhatikan perkembangan religiositas siswa.

4. Bagi Kampus PAK

Membantu Program Studi PAK untuk menyediakan data ilmiah mengenai pengembangan religiositas siswa di sekolah Katolik.

E. Metode Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode deskriptif analitis, dengan memanfaatkan data dari studi pustaka yang relevan dan mendukung, serta penelitian untuk memperoleh gambaran tentang upaya “Pengembangan Religiositas

Siswa Di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta.”

F. Sistematika Penulisan

Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai isi menyeluruh skripsi ini, penulis akan menggambarkan sistematika sebagai berikut:

(27)

Bab kedua menguraikan tentang pengembangan religiositas di sekolah Katolik, yang terdiri dari lima bagian. Bagian pertama mengenai pengertian religiositas. Bagian kedua mengenai aspek religiositas yang terdiri dari aspek religiositas belief, aspek religiositas practice, aspek religiositas feeling, aspek religiositas knowledge, dan aspek religiositas effect. Bagian ketiga mengenai perkembangan religiositas remaja terdiri atas perkembangan remaja, 5 aspek dalam perkembangan religiositas remaja, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan religiositas remaja. Bagian keempat mengenai dimensi religiositas di sekolah Katolik yang meliputi sekolah pada umumnya, makna sekolah Katolik, alasan keberadaan sekolah Katolik, tujuan sekolah Katolik, dan dimensi religiositas pendidikan di sekolah Katolik. Bagian kelima mengenai usaha pengembangan religiositas siswa di sekolah Katolik.

Bab ketiga menguraikan metodologi penelitian dan pembahasan hasil penelitian terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama mengenai metodologi penelitian yang terdiri dari permasalahan, tujuan penelitian, jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, sampel penelitian, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, dan analisis data. Bagian kedua mengenai hasil penelitian dan pembahasan, meliputi laporan pelaksanaan penelitian, laporan penelitian melalui penyebaran angket, laporan hasil penelitian wawancara dengan para guru, dan pembahasan hasil penelitian. Bagian ketiga mengenai kesimpulan penelitian

(28)

panduan refleksi, tujuan penyusunan panduan refleksi, materi pokok panduan refleksi, petunjuk penggunaan panduan refleksi, dan contoh-contoh panduan refleksi.

(29)

BAB II

PENGEMBANGAN RELIGIOSITAS DI SEKOLAH KATOLIK

(30)

kelima membahas mengenai usaha pengembangan religiositas siswa di sekolah Katolik.

A. Pengertian Religiositas

Pemahaman yang lebih luas mengenai pengertian religiositas akan lebih jelas dan lebih lanjut dibahas dalam tiga bagian berikut. Bagian pertama mengenai religiositas: bagian terdalam dari pribadi manusia. Bagian kedua tentang religiositas: melintasi Agama-agama. Sedangkan bagian ketiga mengenai religiositas: melintasi rasionalisasi.

1. Religiositas: Bagian Terdalam dari Pribadi Manusia

Religiositas menunjuk pada kedalaman pribadi manusia dalam berhubungan dengan yang Ilahi, dan memuat kepercayaan, keterkaguman, hormat, penyerahan diri, kasih sayang, dan lain-lain. Religiositas semata-mata bukan hanya tingkah laku dalam keagamaan, misal pergei ke Gereja atau berziarah, tetapi lebih merupakan segi kedalaman, segi batin manusia, walaupun segi seperti ini dapat diungkapkan dengan berbagai cara misal pergi ke tempat Ibadah (Gereja atau Masjid dll). Religiositas lebih melihat aspek yang ‘di dalam lubuk hati’ riak getaran hati nurani pribadi, sikap

personal yang sedikit banyak misteri bagi orang lain, karena menapaskan intimitas, ‘de coeur’ dalam Pascal, yaitu cita rasa yang mencakup totalitas (termasuk rasio dan

rasa manusiawi) ke dalam si pribadi manusia (Y.B.Mangunwijaya, 1982: 11).

(31)

Suci, ibadat dan lain sebagainya. Religiositas yang diungkapkan dalam bahasa non agama misalnya kegiatan kemanusiaan, menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan, berbagi berkat yang sudah diterima dari Allah untuk dibagikan kepada sesama (waktu, tenaga, ekonomi dll).

Sejarah religiositas merupakan drama hilangnya dan ditemukannya kembali nilai-nilai keagamaan yang berlangsung terus-menerus. Sejarah religiositas menyoroti tentang kerinduan manusia akan kebutuhan-kebutuhan paling dalam dan paling eksistensial yang tidak bisa dituntaskan dengan rumusan-rumusan doktrinal. Dengan kata lain, setiap jaman mempunyai tantangannya yang unik dalam menemukan serta mengungkapkan pengalaman-pengalaman keberagamaan (Moedjanto, 1995: 209).

2. Religiositas: Melintasi Agama-agama

Religiositas Juga dapat dikatakan sebagai suatu karya nyata yang tidak terbatas pada agama-agama tertentu, tetapi religousitas justru menjadi pendorong seseorang untuk meningkatkan kualitas diri dalam hubungannya dengan yang Ilahi yang berdampak pada kemakmuran atau kesejahteraan umat manusia. Y.B Mangunwijaya menulis tentang religiositas itu sebagai berikut:

“Pada tingkat religiositas, bukan peraturan atau hukum yang berbicara, akan tetapi keiklasan, kesukarelaan, kepasrahan diri kepada Tuhan. Dalam rasa hormat takjub, namun pula dalam rasa cinta. Dalam suasana pujian yang tidak lagi mencari menang. Karena tergenang oleh rasa syukur penuh rendah diri, sebab kita sadar bahwa yang menang bukan agama ini atau agama itu melainkan Tuhan Allah sendiri, yang Maha Agung, namun juga Maha pemurah dan Maha kasih (Mangunwijaya, 1991: 6)”.

(32)

menghargai dan muncul rasa peduli terhadap sesama dan alam. Berbicara mengenai religiositas biasanya tidak terlepas dari kemrosotan kualitas penghayatan orang dalam beragama. Religiositas, dengan demikian merupakan salah satu bentuk kritik terhadap kualitas keberagamaan seseorang terhadap agama sebagai lembaga dan ajaran. Kritik dimaksudkan untuk membuka jalan supaya kehidupan orang beragama menjadi semakin intens. Moedjanto (1995: 208) mengatakan bahwa semakin orang religiositas, semakin hidupnya menjadi nyata. Religiositas pertama-tama tidak dipertentangkan dengan ketidak beragaman seseorang dengan ireligiositas. Religiositas lebih berkaitan dengan sikap orang untuk menjaga kualitas keberagamaannya dilihat dari dimensinya yang paling mendalam dan personal yang sering kali berada di luar kategori-kategori ajaran agama yang resmi. Religiositas sangat sulit untuk diukur atau dinilai dari gejala-gejala lahiriah semata. Religiositas merupakan isi, dasar dari agama atau hidup keagamaan manusia. Maka jika tanpa religiositas hidup keagamaan jadi tanpa arti dalam menjalaninya atau dapat dikatakan dalam hidup beragama akan menjadi sesuatu yang hampa, karena religiositas yang menentukan kualitas hidup beragama. Orang yang rajin mengikuti peraturan keagamaan, belum tentu manusia itu religiositas. Berdasarkan dari beberapa definisi tersebut dapat disimpukan bahwa religiositas dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang ada di dalam diri seseorang yang mendorongnya bertingkah laku, bersikap, dan bertidak sesuai dengan ajarannya.

3. Religiositas: Melintasi Rasionalisasi

(33)

dipungkiri dan tidak dapat diabaikan, bahwa perkembangan zaman dapat mempengaruhi pandangan seseorang salah satunya yaitu, munculnya rasionalisme, semenjak saat itu orang-orang beragama tidak hanya dibantu untuk bersifat kritis, namun sikap kritis ini mendorong orang untuk mengaitkan agama dengan irasionalitas. Di Prancis, Pascal membela agama dan religiositas dengan meluncurkan sebuah ungkapan yang masih termahsyur sampai sekarang: Hati mempunyai rasionya sendiri (Moedjanto, 1995: 210). Maka religiositas mengembangkan segi terdalam dari diri manusia, meskipun religiositas itu melintasi rasionalisasi, namun tidak ada satu pertentangan sesungguhnya antara religiositas dan rasionalisasi, tetapi justru yang utama rasionalisasi orang merupakan akal budi menghadapi setiap persoalan, karena Allah yang mewahyukan rahasia-rahasia dan mencurahkan iman telah menempatkan di dalam roh manusia cahaya akal budi.

B. Aspek Religiositas

Religiositas memiliki berbagai aspek, dalam Paloutzian ada 5 aspek religiositas akan lebih jelas dibahas dalam lima bagian berikut. Bagian pertama mengenai aspek religiositas belief. Bagian Kedua membahas tentang aspek religiositas practice. Bagian ketiga membahas aspek religiositas feeling. Bagian keempat mengenai aspek religiositas knowledge. Bagian kelima mengenai aspek religiositas effect.

1. Aspek Religiositas Belief

(34)

bagaimana menonjol bahwa kepercayaan dalam kehidupan seseorang. Misalnya, keyakinan akan keberadaan Tuhan adalah ideologi agama, dengan kata lain aspek

belief merupakan dimensi ideology, memberikan gambaran sejauh mana seseorang menerima hal-hal yang dogmatik dalam ajaran agamanya. Misalnya: percaya adanya surga, Neraka, malaikat, kiamat, dan lain-lain (Paloutzian, 1996: 15).

2. Aspek Religiositas Practice

Aspek religiositas practice, mengacu pada serangkaian perilaku yang diharapkan dari seseorang yang menyatakan keyakinan agama tertentu. Penekanannya bukan pada efek agama mungkin memiliki pada "non religiositas" aspek kehidupan sehari-hari seseorang, tapi pada tindakan spesifik yang merupakan bagian dari dirinya religiositas. Maka aspek practice dapat disebut sebagai dimensi ritual, yakni sejauh mana seseorang mengerjakan kewajiban-kewajiban ritual agamanya. Misalnya: mengikuti Misa kudus pada hari minggu (Paloutzian, 1996: 16).

3. Aspek Religiositas Feeling

(35)

4. Aspek Religiositas Knowledge

Aspek religiositas knowledge, merupakan dimensi intelektual, yaitu seberapa jauh pengetahuan seseorang terhadap ajaran agama yang dianutnya, terutama yang terdapat dalam Kitab Suci ataupun karya tulis lain yang berpedoman pada Kitab Suci. Misalnya: orang mengetahui maksud dari hari raya agamanya, hukum atau dogma ajarannya, memahami isi Kitab Suci dan lain sebagainya (Paloutzian, 1996: 19).

5. Aspek Religiositas Effect

Aspek religiositas effect, mengacu pada perilaku, tetapi tidak perilaku yang merupakan bagian resmi dari praktik keagamaan itu sendiri. Sebaliknya, referensi di sini adalah untuk efek agama seseorang memiliki di sisi lain "non religiositas" segi kehidupan seseorang. Yakni mengungkapkan sejauh mana perilaku seseorang dimotivasi oleh ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya: Mau mengampuni kesalahan sesama yang telah menyakitinya dengan sengaja atau tidak sengaja, mendoakan dan mencintai musuhnya, dan lain-lain (Paloutzian, 1996: 19).

C. Perkembangan Religiositas Remaja

(36)

wawasan tentang diri sendiri dan kemampuan menangkap humor. Memiliki falsafah hidup tertentu, remaja mulai mengetahui kedudukannya di masyarakat dan mengetahui bagaimana harus bersikap di dalam masyarakat. Beberapa kelompok keagamaan menganggap masa remaja sebagai saat yang tepat untuk mengembangkan religiositas baik itu di sekolah maupun ketika berada di tengah masyarakat.

1. Perkembangan Remaja

Menurut Hurlock (1980: 222) perkembangan remaja ditandai oleh beberapa sikap. Perkembangan itu adalah sebagai berikut:

a. Pertumbuhan Pikiran dan Mental

Periode remaja memang disebut sebagai periode keraguan religiositas. Wagner menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan keraguan religiositas tersebut adalah tanya-jawab religiositas. Menurut Wagner para remaja ingin mempelajari agama berdasar pengertian intelektual dan tidak ingin menerima begitu saja. Mereka meragukan agama bukan karena ingin “agnostic” atau “ateis”, melainkan karena mereka ingin menerima agama sebagai sesuatu yang bermakna. Mereka ingin mandiri dan bebas menentukan keputusan-keputusan mereka sendiri ( Hurlock, 1980: 222). b. Perkembangan Perasaan

(37)

penggunaan keyakinan serta kotbah dalam penyelesaian masalah sosial, politik dan ekonomi (Hurlock, 1980: 222).

c. Sikap dan Minat

Sikap dan minat remaja terhadap perkembangan religiositas dapat dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka.

2. 5 Aspek dalam Perkembangan Religiositas Remaja

Remaja dilihat sebagai periode yang sangat penting dalam memperkembangkan sikap religiositasnya, di mana ditandai dengan pemekaran diri yang tidak hanya bersifat secara fisik tetapi juga dalam religiositasnya. Beberapa kelompok keagamaan memandang masa remaja sebagai saat “penyadaran”,

maksudnya bahwa masa remaja adalah saat di mana keimanan yang tadinya bersifat pinjaman, kini menjadi miliknya sendiri (Hamalik, 1995: 108). Dalam pernyataan tersebut terdapat anggapan bahwa masa remaja merupakan suatu masa dimana remaja telah siap untuk melakukan pertobatan atau siap untuk menceburkan dirinya serta terlibat langsung dalam memperkembangkan sikap religiositasnya mereka dalam kehidupan. Dalam membahas perkembangan religiositas remaja, kiranya perlu mengetahui aspek akan sikap religiositas remaja.

a. Perkembangan Religiositas Remaja dalam Aspek Belief.

(38)

sehari-hari dan dapat menolongnya untuk dapat mengatasi konflik atau permasalahan yang sedang mereka hadapi, serta dapat mengatasi keragu-raguan yang dialami oleh remaja. Dalam kesadaran mengenai masalah yang dialami oleh remaja, ada yang masih kurang bersikap toleran terhadap dogma-dogma yang mereka anggap kuno. Dalam hal seperti ini remaja memerlukan agama yang dapat menolongnya untuk mengolah masa transisi yang dialami oleh para remaja (Supriyati, 1988:359).

b. Perkembangan Religiositas Remaja dalam Aspek Practice.

(39)

bersama-sama remaja yang lain, tentu gerakan ini harus timbul melalui bagian terdalam dari diri setiap remaja yang disebut sebagai religiositas remaja.

c. Perkembangan Religiositas Remaja dalam Aspek Feeling.

Dalam perkembangan remaja terdapat kecenderungan mengalami perubahan di dalam cara berpikir dan cara mereka merasakan kehadiran Allah “religiositas

feeling”. Perkembangan itu dipengaruhi oleh pengalamaan keagamaan yang

menunjuk pada pengalaman subjektif individu dalam berhubungan dengan yang Ilahi. Meskipun bersifat pribadi, tetapi tetap mempunyai elemen sosial, karena mempengaruhi pribadi dalam menginterpretasikan pengalaman personal tersebut. Pengalaman keagamaan yang personal itu berbeda-beda intensitasnya. Pengalaman-pengalaman religiositas bisa berbentuk rasa damai, atau kagum yang bersifat sesaat saja atau juga pengalaman mistik yang luar biasa. Isi dari pengalaman religiositas itu berbeda-beda. Di dalamnya bisa terdapat pengalaman yang menggembirakan seperti damai, harmonis, sukacita, merasa dicintai oleh Allah dan rasa aman. Namun dipihak lain ada juga pengalaman yang tidak menggembirakan yang mengasilkan teror, ketakutan, dan kecemasan. Sementara itu, isi dari pengalaman-pengalaman itu bergantung pada religiositas tentang apa yang dihadapi, sehingga remaja dapat memberikan gambaran tentang perasaan-perasaan yang dialami individu, bahwa remaja mempunyai perasaan dicintai oleh Allah tergantung dari pengalaman religiositas yang dialami oleh remaja sebagai individu (Raho, 2013: 16).

d. Perkembangan Religiositas Remaja dalam Aspek Knowledge

(40)

pekerjaan yang menuntut pendidikan tinggi, maka pendidikan akan dianggap seperti batu loncatan saja, contoh konkritnya beberapa tahun terakhir kriteria kelulusan siswa menitik beratkan pada ujian nasional, mereka cenderung untuk lebih serius mendalami materi pelajaran yang diajukan di ujian nasional saja dan kurang memperhatikan materi pelajaran yang lain (Hurlock, 1980: 220). Kurang minatnya remaja terhadap ilmu pengetahuan tertentu biasanya menunjukkan cara-cara berikut, remaja bekerja di bawah kemampuannya atau dalam mengerjakan tidak pernah serius, peristiwa ini sering terjadi pada usaha dan upaya untuk mengembangkan religiositas remaja dalam aspek knowledge, sehingga ketika ditanya siapa itu Kristus?, Apa maksud kedatangan Yesus Kristus di dunia?, mereka akan menjawab dasarnya saja atau kulitnya dan tidak terpikirkan untuk mendefinisikan jawaban dari pertanyaan tersebut, sebab mereka bekerja (berfikir) di bawah kemampuannya, padahal sebenarnya para siswa memiliki potensi yang sangat besar untuk mampu menjawab dengan lebih baik, dan bahkan mampu mengambil makna dari apa yang mereka pelajari serta mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari mereka. e. Perkembangan Religiositas Remaja dalam Aspek Effect

(41)

yang hanya efektif bila ada perilaku yang nyata-nyata salah dan hukuman bagi pelakunya. Bahkan sejumlah telaah mengenai kenakalan remaja menunjukkan bahwa hukuman tidak hanya mencegah perbuatan yang salah tetapi malah menjadi pendorong untuk berperilaku salah, maka ada istilah bagi para remaja, bahwa “peraturan dibuat untuk dilanggar”, dan ketika remaja berbuat salah, mereka akan

mencari berbagai alasan untuk dapat menghindari kesalahan agar terbebas dari berbagai bentuk hukuman dengan melakukan berbagai cara, yaitu dengan berbohong, menyalahkan orang lain dll.

Peran suara hati dalam pengendalian perilaku remaja sangatlah penting untuk menimbulkan sikap perilaku yang baik ketika berada di tengah-tengah masyarakat, remaja yang memiliki suara hati yang matang tentu selalu merasa bersalah dan malu ketika berperilaku yang tidak baik, rasa bersalah ini penting timbul dari dalam diri setiap remaja, sehingga remaja selalu berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan atau berbuat salah lagi, karena motivasi ini timbul dari dalam diri remaja itu sendiri. Telaah-telaah mengenai perkembangan moral telah menekankan bahwa cara yang efektif bagi semua orang untuk mengawasi perilakunya sendiri adalah melalui pengembangan suara hati, yaitu kekuatan ke-dalam (batiniah) yang tidak memerlukan pengendalian lahiriah (Hulrock, 1980: 226).

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Religiositas Remaja

a. Faktor Keluarga

(42)

penting bagi perkembangan religiositas remaja khususnya menyangkut aspek belief

(43)

b. Faktor Sekolah

(44)

hati, persiapan yang amat seksama, kesediaan tiada hentinya untuk membaharui dan menyesuakan diri dengan kondisi dan keadaan siswa yang nantinya akan berdampak pada perkembangan siswa secara utuh (GE, art. 5).

c. Faktor Masyarakat

Remaja juga merupakan manusia yang mempunyai tempat dan peran yang khas dalam kehidupan di tengah masyarakat, sehingga sebagai keseluruhan masyarakat dituntut untuk memperlihatkan sekaligus memberikan contoh-contoh sikap religiositas yang baik bagi para remaja, secara khas dalam aspek religiositas

effect yang mengacu pada perilaku. Masyarakat majemuk yang tidak mengikatkan diri pada sikap religiositas dalam hidup sehari-hari akan kehilangan arah hidup dalam kesejahteraan bersama, menjadikan nilai-nilai sosial yang dihayati sering tidak jelas (KWI, 1996: 452). Masyarakat harus memberikan contoh atau pengalaman yang baik kepada remaja, bahwa masyarakat mempunyai prinsip-prinsip mau menolong orang dalam mengatasi masalah sosial, bersikap terbuka dan peduli terhadap sesama. Prinsip saling berbagi, tolong-menolong seperti ini perlu diwujudkan secara nyata di tengah masyarakat untuk memberikan teladan bagi para remaja, sehingga masayarakat dalam hal ini sesuai dengan pengembangan aspek religiositas effect yang mengacu pada perilaku yang tidak terbatas pada praktik keagamaan, tetapi lebih terhadap segi perilaku kehidupan dalam hidup sehari-hari di tengah masyarakat. d. Faktor Gereja

(45)

dapat dikatakan sejauh mana seseorang mengerjakan kewajiban-kewajiban ritual keagamaannya. Karena Konsili Vatikan II menyebut Gereja “Persekutuan iman, harapan dan cinta” (LG, art. 8), persekutuan persaudaraan yang menerima Yesus

dengan iman dan cinta kasih (GS, art. 32). Tetapi Konsili juga mengajarkan bahwa Gereja dibentuk kerena perpaduan unsur manusia dan Ilahi (LG, art. 8). Kesatuan Gereja terjadi tidak hanya karena karya Roh Kudus, tetapi juga hasil komunikasi antar manusia, khususnya perwujudan komunikasi iman di antara anggota Gereja. Komunikasi iman terjadi terutama dalam perayaan iman (KWI, 1996: 392). Remaja sebagai anggota Gereja juga mempunyai tempat dan peran tersendiri di dalam komunikasi iman yang terjadi dalam perayaan iman, tentu remaja dalam keikutsertaan penuh dan aktif dalam perayaan Liturgi (SC, art. 41), Gereja mempunyai peran untuk mewujudkan keterlibatan remaja tersebut.

D. Dimensi Religiositas di Sekolah Katolik

(46)

1. Sekolah Pada Umumnya

Sekolah mempunyai makna yang istimewa. Sekolah secara terus-menerus mengembangkan daya kemampuan akal budi siswa melalui pendidikan yang terstruktur dan sistematis. Tujuan dari sekolah adalah untuk menumbuhkan kemampuan memberi penilaian yang cermat, memperkenalkan harta warisa budaya yang telah dihimpun oleh generasi-generasi masa silam, meningkatkan kesadaran akan tata-nilai, menyiapkan siswa untuk mampu mengelola kejujuran, menciptakan suasana kerukunan antar siswa yang mempunyai latar belakang budaya, watak, agama, suku yang berbeda, serta mengembangkan sikap saling memahami (GE, art. 5). Maka sekolah dapat juga disebut sebagai satuan pendidikan atau lembaga pendidikan untuk proses belajar dan mengajar serta tempat untuk menerima dan memberi materi pelajaran, supaya peserta didik dapat berkembang baik dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

2. Makna Sekolah Katolik

Sekolah Katolik mendapat perhatian lebih dari Gereja setelah Konsili Vatikan II, secara khusus ditekankan dalam deklarasi Konsili tentang pendidikan Kristen

(Gravvisimum educationis). Melalui gagasan deklarasi itu dokumen GE

(47)

bersama di sekolah yang dijiwai oleh semangat Injil kebebasan dan cinta kasih, dan membantu kaum muda, supaya dalam mengembangkan kepribadian mereka sekaligus berkembang sebagai ciptaan yang baru. Kedua: sekolah Katolik mengarahkan seluruh kebudayaan manusia kepada pewartaan keselamatan, sehingga pengetahuan yang secara berangsur-angsur diperoleh siswa tentang dunia, kehidupan dan manusia disinari oleh terang iman (GE, art. 8).

3. Alasan Keberadaan Sekolah Katolik

Konggregasi suci menyatakan, saat sekarang ini merupakan waktu yang tepat berupa penegasan kembali nilai pendidikan sekolah Katolik bagi perkembangan para remaja. Konggregasi suci menyadari ada masalah-masalah serius mengenai pendidikan Kristen di dalam masyarakat yang majemuk. Karena itu perlulah memusatkan segala perhatian kepada sifat dan ciri sekolah Katolik, yaitu memiliki mutu keKatolikannya, artinya Kristus adalah dasar dari sekolah Katolik, terciptanya lingkungan yang dijiwai oleh semangat cinta kasih, kepedulian, toleransi dan berbagi. Konggregasi suci mempercayakan untuk menggembalakan kaum muda Katolik di sekolah, dengan berdasar pada dokumen Gravvisimum Educationis, diharapkan kaum muda mendapatkan sistem pendidikan yang efektif, sesuai dengan kebutuhan kaum muda masa kini akan pendidikan yang utuh, baik dari segi intelektual dan juga segi religiositas di sekolah-sekolah Katolik (Sewaka, 1991: 15).

4. Tujuan Sekolah Katolik

Dalam dokumen Konsili Vatikan II, tentang Gravvisimum Educationis,

(48)

juga siswa harus memiliki religiositas dalam diri mereka, dengan cara memperkenalkan warisan budaya kristiani, meningkatkan kesadaran akan tata-nilai, memupuk sikap saling toleransi terhadap sesama tanpa pilih-pilih, dan saling memahami satu sama-lain. Maka dengan itu semua, dapat menciptakan hidup berbudaya, kemasyarakatan dan keagamaan. Sehingga dengan sendirinya siswa akan menjadi rasul awam yang mewartakan Kabar Gembira Yesus Kristus kepada sesama di tengah hidup masyarakat luas (GE, art. 5).

5. Dimensi Religiositas Pendidikan di Sekolah Katolik

Konsili Vatikan II melalui dokumen Gravissimum Educationis mengupayakan pendidikan Kristen bagi siswa yang berada di sekolah Katolik. Sebagai sekolah Katolik, perlu menciptakan suasana lingkungan sekolah yang dijiwai oleh semangat Injil Yesus Kristus, sekolah mengupayakan untuk membimbing remaja agar berkembang menjadi pribadi yang utuh dan sekaligus sebagai ciptaan baru berkat Sakramen Baptis terlaksana bersama-sama, agar cahaya iman dapat menerangi segala sesuatu di dunia, tentang kehidupan dan pribadi manusia yang dipelajari secara bertahap oleh siswa.

a. Dimensi Religiositas Iklim Sekolah

(49)

dan macam-macam kegiatan lainnya. Tentu semua itu harus dijiwai oleh semangat cinta kasih kepada sesama, maka saat ada siswa yang masuk ke lingkungan sekolah, mereka patut mendapat kesan bahwa ia memasuki suatu lingkungan baru yang diterangi oleh cahaya iman kasih yang diwujudkan dalam hidup bersama sesama di tengah masyarakat (Sewaka, 1991: 91). Maka hendaknya semangat Injil nampak jelas dalam cara berpikir dan ketika mengambil keputusan atau tindakan, sehingga memberikan dorongan kepada semua warga sekolah untuk memiliki religiositas yang nampak dalam hidup sehari-hari mereka, dengan begitu mereka dapat mengetahui hal baik atau buruk, agar apa yang dilakukan tidak bertentangan dengan budaya yang sudah ada atau dengan Injil.

b. Dimensi Religiositas Kehidupan dan Karya Sekolah

(50)

tanggung jawab bila kesulitan muncul; menghargai sesama; loyal dan cinta kepada sesama; jujur; toleran dan baik dalam segala hubungan.

c. Pengajaran Agama di Kelas dan Dimensi Religiositas Pendidikan

Magisterium menyatakan bahwa bersama dan bekerja sama dengan keluarga, sekolah menyediakan kemungkinan-kemungkinan untuk berkatekese yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Tentu ini khusus menunjuk kepada sekolah Katolik, karena ciri khas sekolah Katolik dan alasan yang mendasari keberadaannya, alasan mengapa orang tua Katolik lebih suka menyekolahkan anaknya ke sekolah Katolik, justru adalah mutu pengajaran agama yang dipadukan ke dalam keseluruhan pendidikan para siswa (Sewaka, 1991: 108-109). Tentu tidaklah mudah menyelaraskan kedua aspek tersebut, karena di satu sisi sekolah Katolik merupakan lembaga pendidikan dengan cara dan metode serta tujuan pendidikan yang sama dengan sekolah pada umumnya, tetapi di sisi lain sekolah Katolik sebagai komunitas Kristen yang tujuan pendidikannya berakar dalam Kristus dan Injil-Nya. Maka perlu juga diperhatikan secara khusus, sehingga antara usaha untuk meneruskan kebudayaan secara serius dan kesaksian Injil yang kokoh tidak saling berbenturan, tetapi malah saling melengkapi dan mendukung.

E. Usaha Pengembangan Religiositas Siswa di Sekolah Katolik

(51)

ada pengembangan religiositasnya yang diberikan kepada siswa (Sewaka, 1991: 83), melalui;

1. Usaha Pengembangan dalam Aspek Belief

Malino memperkenalkan dan mengembangkan pola-pola pendekatan pendidikan agama Katolik yang sering dikenal sebagai model “Pelajaran

Pergumulan”, di sekolah dalam upaya untuk meningkatkan aspek religiositas belief

peserta didik. Pendekatan ini berorientasi pada pengetahuan yang tidak lepas dari pengalaman yang dialami oleh masing-masing peserta didik, oleh sebab itu dalam pendidikan agama Katolik dituntut untuk selalu dapat mendampingi peserta didik “menggumuli hidupnya” dalam hidup sehari-hari di tengah masyarakat. Maka hidup

(52)

2. Usaha Pengembangan dalam Aspek Practice

Kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan di sekolah juga ada yang mengandung unsur untuk menunjang program pengajaran pendidikan agama Katolik misalnya, ziarah rohani, koor lagu-lagu Gereja, putra altar, musik, Ibadat Sabda, Misa pelajar, dll. Perilaku siswa yang menyatakan keyakinan agama pada dimensi ritual dapat tumbuh dan menjadi semangat bagi siswa untuk terlibat di dalamnya. Supaya dengan demikian para siswa mencapai kedewasaan penuh dan ikut serta mengusahakan pertumbuhan Tubuh Mistik (GE, art. 2).

3. Usaha Pengembangan dalam Aspek Feeling

Suasana sekolah dijiwai oleh semangat cinta kasih kepada sesama warga sekolah, sehingga saat siswa berada di sekolah Katolik, ia patut mendapatkan kesan, bahwa ia memasuki suatu lingkungan yang sungguh diterangi oleh cahaya iman dan mempunyai ciri khusus yang dijiwai oleh cinta kasih dan kebebasan Injil. Semangat Injil, hendaknya selalu nampak jelas dalam cara berpikir dan hidup secara Kristen yang menjiwai semua segi iklim pendidikan di sekolah. Sehingga tercipta dimensi religiositas bahwa para siswa semakin merasa mencintai dan dicintai Tuhan, maka berdampak pada perilaku siswa, dalam hubungan antarpribadi yang akrab dan serasi dan dalam kesediaan untuk melayani (Sewaka, 1991: 91-92).

4. Usaha Pengembangan dalam Aspek knowledge

(53)

mengembagkan pengetahuan. Seperti apa yang telah dikatakan oleh Magisterium: “Bersama dan bekerjasama dengan keluarga, sekolah menyediakan kemungkinan -kemungkinan untuk berkatekese yang tidak boleh dilalaikan.” Ini menjadi ciri khas

sekolah Katolik dan alasan mendasari keberadaannya, serta alasan mengapa orang tua Katolik lebih suka anaknya menempuh pendidikan di sekolah Katolik karena perkembangan siswa yang utuh. Sebagai sekolah Katolik perlu menentukan prinsip-prinsip dasar yang mengatur pendidikan agama di sekolah Katolik, dan karena itu mengenai pendekatan secara konkret yang harus dilakukan dalam pengajaran agama. Sebab di satu pihak sekolah Katolik adalah lembaga masyarakat, tapi di sisi lain sekolah Katolik adalah “Komunitas Kristen” yang tujuan pendidikannya berakar

dalam Kristus dan Injil-Nya, sehingga diperlukan sinkronisasi antara keduanya yang akan berdampak pada perkembangan siswa secara utuh (Sewaka, 1991: 108-109).

5. Usaha Pengembangan dalam Aspek effect

Dalam situasi dunia dewasa seperti sekarang ini, di mana sering terjadi peperangan antara budaya yang baik dengan budaya yang tidak baik, sebagai sekolah Katolik yang bergerak di dalam dunia pendidikan ilmu pengetahuan, dunia pendidikan Iman dan dunia pendidikan karakter, tentu tidak bisa diam saja mengikuti arus yang ada, maka nantinya tidak akan ada dampak apapun demi perkembangan manusia zaman ini (Suparno, 2014: 8).

(54)
(55)

BAB III

PENELITIAN TENTANG

PELAKSANAAN PENGEMBANGAN RELIGIOSITAS SISWA DI SMP KANISIUS KALASAN YOGYAKARTA

Bab ini untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan pengembangan religiositas di SMP Kanisius Kalasan sebagai sekolah Katolik. Pada bagian pertama penulis akan menguraikan terlebih dahulu gambaran umum SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta yang meliputi sejarah, visi, misi, tujuan, lingkungan fisik, keadaan guru dan siswa. Bagian kedua membahas mengenai metodologi penelitian, dan pada bagian ketiga menguraikan tentang hasil penelitian dan pembahasan berdasar penelitian yang diadakan di sekolah. Pembahasan penelitian ini berguna untuk memperoleh gambaran mengenai sejauh mana pelaksanaan pengembangan religiositas siswa di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta. Pada bagian akhir bab ini berupa kesimpulan dari hasil penelitian yang berguna untuk penyusunan upaya pada bab berikutnya.

A. Gambaran Umum SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta

(56)

Sekolah sangat menekankan pendidikan pada umumnya, tetapi juga sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai dasar Kristiani seperti cinta kasih, peduli, bela rasa dan persaudaraan. Melalui praobservasi mengungkapkan bahwa, sekolah berusaha menyelenggarakan pendidikan yang dapat mengembangkan siswa menjadi pibadi yang utuh.

1. Sejarah Singkat SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta

Kehadiran Gereja di dunia persekolahan secara khas nampak melalui sekolah Katolik (GE, art. 8). Selaras dengan itu, mulai tahun 1946 Gereja Paroki Kalasan membangun Sekolah Menengah Pertama untuk melengkapi kegiatan kerasulan paroki dalam dunia pendidikan. Melalui rintisan umat dan didukung oleh romo paroki pada waktu itu yang bernama Rm. Prof. Dr. P. Zoetmoelder, SJ. Dalam perkembangannya romo paroki dan umat di Gereja Kalasan mulai menyadari akan pentingnya pendidikan bagi masyarakat maka, bangunan sekolah mulai dibagun di dekat Gereja Paroki Kalasan untuk melengkapi karya kerasulan paroki Kalasan dalam dunia pendidikan pada tahun 1963 yang diprakarsai oleh Romo Y. Holven SJ, yang pada waktu itu akan berubah nama menjadi SMP Pancapana. Tetapi karena situasi sekolah, maka SMP Pancapana diserahkan pengelolaannya kepada Yayasan Kanisius cabang Yogyakarta dan berubah nama menjadi SMP Kanisius Kalasan sampai sekarang.

2. Visi SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta

(57)

a. Unggul dalam bersikap berdasarkan nilai-nilai Kristiani.

b. Unggul dalam disiplin, kepatuhan, tata tertib, bekerja, dan belajar. c. Unggul dalam lomba kesenian.

d. Unggul dalam lomba olah raga.

e. Unggul dalam prestasi Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA. f. Unggul dalam berkomunikasi dengan Bahasa Inggris.

g. Unggul dalam pemandu acara, pidato, debat, dan cerdas cermat dalam (Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris).

h. Unggul dalam karya ilmiah remaja. i. Unggul dalam kepedulian sosial.

j. Unggul dalam nilai ujian siswa dan daya saing masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

k. Unggul dalam pengoperasian komputer program MS Word, Excel, dan Corel Draw.

l. Unggul dalam jiwa wira swasta.

3. Misi SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta

Dari visi yang sudah dirumuskan, sekolah merumuskan misi yang merupakan penjabaran visi dan digunakan sebagai rancangan tindakan untuk mewujudkan Visi tersebut. Misi SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta sebagai berikut:

a. Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan juga budaya bangsa sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.

(58)

c. Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif sepadan seluruh warga sekolah.

d. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga setiap siswa dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

e. Menerapkan menejemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah, Yayasan, dan Komite Sekolah.

4. Tujuan SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta

Pelaksanaan misi tersebut bukanlah perkara yang mudah, maka diperlukan tuntutan yang terumuskan dalam tujuan. Dalam rangka mengupayakan misi tersebut, sekolah mengembangkan tujuan-tujuan lembaga yang lebih konkrit. Tujuan SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta dirumuskan sebagai berikut:

a. Menjadikan sekolah berstandar Nasional. Dicapai dengan misi tentang pengembangan kurikulum.

b. Sekolah mengembangkan pemetaan SK, KD, Indikator dan penilaian semua mata plajaran kelas VII sampai dengan kelas IX dan dievaluasi serta direvisi setiap awal tahun ajaran berikutnya.

c. Sekolah menganalisa Kriteria Kelulusan Minimal (KKM) semua mata pelajaran setiap awal tahun ajaran.

(59)

e. Sekolah mengembangkan panduan guru untuk semua mata pelajaran kelas VII sampai dengan kelas IX dan dievaluasi serta direvisi setiap awal tahun ajaran. f. Sekolah mengembangkan penilaian yang meliputi Ulangan Harian, Ulangan

Tengah Semester, Ulangan Akhir Semester, dan Ulangan Kenaikan Kelas, kelas VII sampai dengan kelas IX semua mata pelajaran setiap tahun ajaran. g. Sekolah mencapai Standar Isi, telah dibuat KTSP, silabus lengkap, sistem

penilaian lengkap, KKM lengkap, RPP lengkap, panduan guru lengkap, dan penilaian lengkap.

h. Sekolah mencapai standar proses pembelajaran meliputi: ditetapkan KKM, sekolah melaksanakan pendekatan belajar tuntas, dengan metode CTL, pendekatan pembelajaran individual, PAIKEM, dll.

i. Sekolah mencapai standar sarana dan prasarana sekolah meliputi: semua sarpras, fasilitas, peralatan, dan perawatan memenuhi standar perawatan minimal.

j. Sekolah mencapai standar kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan meliputi : Kepala Sekolah memiliki sertifikat pendidik dan sertifikat kepala yang diterbitkan oleh lembaga yang ditetapkan pemerintah, semua guru berkualifikasi S1, semua mengajar sesuai bidangnya dll.

k. Sekolah memiliki/mencapai standar pengelolaan sekolah meliputi: pencapaian standar pengelolaan, pembelajaran, kurikulum, sarpras, SDM, kesiswaan, administrasi, dll.

(60)

5. Lingkungan Fisik SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta

SMP Kanisius Kalasan terletak di Jl. Jogja – Solo Km. 13, Telpon 0274 – 496 427, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Lokasi SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta tepat berada di samping Gereja Marganingsih Kalasan. Lingkungan SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta cukup memadai untuk proses belajar mengajar dengan bangunan yang permanen dan bersampingan dengan Gereja. Hal ini menciptakan iklim sekolah yang mendukung kegiatan proses belajar mengajar dalam memperkembangkan IQ dan sekaligus pengembangan religiositas.

SMP Kanisius Kalasan mempunyai 9 ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah dan ruang tata usaha dengan bangunan gedung yang permanen. SMP Kanisius Kalasan juga memiliki perpustakaan yang menyediakan buku-buku penunjang proses belajar mengajar agar memudahkan para siswa mencari buku-buku yang dapat menunjang pengetahuan siswa selama menempuh pendidikan di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta. Sarana prasarana pendukung lain ialah kelengkapan ruang laboratorium, ruang UKS, kantin. Kelengkapan lain yang tak kalah pentingnya adalah papan presensi, majalah dinding, alat peraga, kalender pendidikan, silabus, agenda kegiatan, jadwal pelajaran, papan pengumuman utama dan 8 kamar mandi dengan kondisi permanen dan layak untuk dipakai. Semua fasilitas yang telah disebutkan di atas sangat mendukung kelangsungan proses pengembangan siswa secara utuh.

6. Gambaran Guru SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta

(61)

Yogyakarta. Sekolah mempunyai 12 guru dengan status 8 guru tetap Yayasan Kanisius dan 4 guru tidak tetap. Seluruh guru memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing dan memperoleh alokasi waktu pengajaran berdasarkan mata pelajaran yang diampu, dari semua guru yang ada di SMP Kanisius Kalasan tidak ada yang memiliki latar belakang pendidikan Kataketik. Meski begitu para guru di sekolah ini menjunjung tinggi pengabdian dan pelayanan kepada siswa dengan penuh cinta kasih terlihat adanya upaya dari setiap guru untuk terlibat dalam pendampingan pengembangan religiositas siswa yang dilakukan dengan koordinasi dengan guru-guru lain, agar pendampingan pengembangan religiositas dapat terlaksana tanpa mengurangi jam mata pelajaran yang lain, dan mendampingi siswa untuk mengikuti berbagai lomba atau kegiatan di luar jam sekolah hingga menyediakan waktu di luar jam pembelajaran untuk pengayaan atau remidial. Sekolah juga seringkali meminta para guru untuk mengikuti retret/rekoleksi, seminar, lokakarya maupun pelatihan baik di tingkat pemerintah kota maupun yayasan pusat.

Para guru diminta untuk memenuhi kewajiban hadir paling lambat 15 menit sebelum proses belajar mengajar dimulai. Guru juga wajib memberi senyum sapa salam kepada seluruh warga sekolah. Semua kewajiban guru tersebut diupayakan untuk keberhasilan proses pendidikan di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta agar dapat mendukung dalam menciptakan iklim lingkungan sekolah yang penuh cinta kasih dan mengembangkan religiositas warga SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta.

7. Gambaran Siswa SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta

(62)

ekonomi yang berbeda-beda. Berdasarkan praobservasi yang telah dilakukan keadaan siswa SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta cukup rapi, cukup sopan, cukup rajin, cukup disiplin, meski begitu tetap saja ada siswa kurang memiliki religiositas, misal membawa rokok, HP, sepeda motor, suka mengejek teman, berantem, mencontek, membolos sekolah dan tidak mengerjakan tugas atau kurangnya minat dalam belajar khususnya pendidikan religiositas. Siswa mempunyai anggapan bahwa hanya mata pelajaran yang diajukan di ujian nasional saja yang menjadi perhatian mereka dalam belajar. Padahal siswa SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta mempunyai potensi dalam mengembangkan religiositas di sekolah, karena sekolah menyediakan berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan berbagai macam aspek religiositas misal, pendidikan religiositas, doa sebelum dan sesudah pelajaran, rekoleksi, ekstrakurikuler.

Siswa SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta juga diminta untuk menciptakan budaya senyum, sapa dan salam kepada seluruh warga sekolah, sehingga dapat menciptakan situasi sekolah yang sungguh nyaman, aman dan tentram bagi semuanya, maka dengan begitu siswa dapat mengembangkan pendidikan IQ dan sekaligus pengembangan religiositas yang baik. Harapan dari sekolah, siswa lulusan SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta adalah pibadi yang beriman tangguh, jujur, peduli sesama, tanggung jawab dan bermoral.

B. Metodologi Penelitian

(63)

Kanisius Kalasan Yogyakarta sebagai sekolah Katolik. Sebelum masuk dalam penguraian tentang penelitian, penulis akan menguraikan terlebih dahulu tentang permasalahan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan pengembangan religiositas siswa, faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan pengembangan religiositas siswa, dan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pelaksanaan pengembangan religiositas siswa di sekolah, oleh sebab itu ada tujuan penelitian, jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, responden penelitian, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, pembahasan dan hasil penelitian.

1. Permasalahan

a. Sejauh mana pelaksanaan pengembangan religiositas di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta sebagai sekolah Katolik telah mendukung sikap religiositas siswa? b. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan pengembangan religiositas siswa

di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta?

c. Upaya apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengembangan religiositas siswa di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta?

2. Tujuan Penelitian

a. Mengetahui sejauh mana pelaksanaan pengembangan religiositas di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta sebagai sekolah Katolik telah mendukung sikap religiositas siswa.

(64)

c. Mengetahui upaya apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengembangan religiositas siswa di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta.

3. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan motode deskriptif dan analisis data. Metode penelitian kualitatif sebagai mana yang diungkapkan Bogan dan Taylor (dalam Moleong, 2012: 4) sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Jenis penelitian kualitatif juga sering disebut sebagai metode etnografi karena pada awalnya metode penelitian ini lebih banyak digunakan untuk penelitian di bidang antropologi budaya. Penelitian kualitatif di lakukan pada objek yang alamiah, yaitu objek yang berkembang apa adanya tidak di manipulasi oleh peneliti (Sugiyono, 2010: 14-15). Penelitian menggunakan pendekatan metodologi kualitatif dan kuantitatif, namun pendekatan kualitatif dipilih sebagai pendekatan utama. Penggunaan dua pendekatan ini tidak saling bertentangan. Menurut Moleong (2012: 38), “kedua pendekatan tersebut dapat digunakan apabila desainnya adalah memanfaatkan satu paradigma sedangkan paradigma lainnya hanya sebagai pelengkap saja”. Kedua pendekatan tersebut digunakan sebagaimana mestinya untuk keperluan menyusun skripsi.

(65)

peristiwa tertentu berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana mestinya yang kemudian diiringi dengan upaya pengambilan kesimpulan berdasarkan fakta-fakta historis tersebut. Penulis juga mendukung data tersebut dengan metode penelitian kuantitatif melalui analisis tabel berisi hasil penelitian beserta persentasenya berupa angka.

Penulis memilih jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan angket karena peneliti ingin menekankan pada kualitas dari hasil yang diperoleh dari responden. Melalui penelitian kualitatif ini penulis dapat terlibat secara langsung dalam proses penelitian. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi penulis untuk terjun langsung, serta terlibat secara langsung dalam berproses bersama responden di mana penelitian diadakan, dengan menyesuaikan diri pada kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan.

4. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 15 s.d. 27 Agustus 2016 di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta.

5. Sampel Penelitian

(66)

Dalam hal ini penulis mengambil tiga kelas sebagai responden penelitian, yaitu kelas VIII-A, VIII-C, IX-B, yang keseluruhannya berjumlah 83 siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik purposive sample. Teknik purposive sample, yaitu menggali informasi yang akan menjadi dasar dari rancangan dan teori yang muncul, teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu (Moleong, 2012: 224-225).

6. Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini ada dua variabel yang hendak diteliti yakni pengembangan religiositas di sekolah Katolik.

Tabel 1. Kisi-Kisi Kuesioner

a. Tujuan keberadaan sekolah Katolik b. Ciri-ciri sekolah Katolik

c. Pengertian religiositas

d. Alasan pengembangan religiositas di sekolah Katolik

e. Tujuan pengembangan religiositas di sekolah Katolik

a. Pengembangan dalam religiositas

belief.

b. Pengembangan dalam religiositas

practice.

c. Pengembangan dalam religiositas

feeling.

d. Pengembangan dalam religiositas

(67)

knowledge.

e. Pengembangan dalam religiositas

effect.

a. Usaha pengembangan religiositas siswa dalam aspek belief.

b. Usaha pengembangan religiositas siswa dalam aspek practice.

c. Usaha pengembangan religiositas siswa dalam aspek feeling.

d. Usaha pengembangan religiositas siswa dalam aspek knowledge.

e. Usaha pengembangan religiositas siswa dalam aspek effect.

a. Apa yang menjadi kekhasan SMP Kanisius Kalasan dengan sekolah

pada umumnya? 2 1

(68)

pengembangan religiositas di sekolah Katolik

pengembangan religiositas siswa di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta?

c. Mengapa religiositas perlu dilaksanakan di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta? mendukung dan menghambat pelaksanaan pengembangan religiositas di SMP Kanisius

Kalasan Yogyakarta? 5 1

(69)

bagian terkecil dalam data yang memiliki makna dikaitkan dengan masalah penelitian. Dalam pengumpulan data yang utama penulis menggunakan metode angket sedangkan untuk metode wawancara hanya untuk melengkapi data-data yang hendak dikumpulkan. (Moleong, 2012: 288) mengatakan bahwa “data yang diperoleh

dikelompokkan berdasarkan pertannyaan yang telah disiapkan. Pengelompokkan ini bertujuan untuk menemukan arti data dengan cara menarik hubungan-hubungan sesuai dengan permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian”.

Gambar

Tabel 1. Kisi-Kisi Kuesioner
Tabel 2. Kisi-Kisi Wawancara
Tabel 3. Identitas Responden (N=60)
Tabel 4. Pemahaman Pengembangan Religiositas di SMP Kanisius Kalasan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis data mengenai pengaruh insentif, lingkungan kerja, dan keselamatan kerja terhadap semagat kerja pada Waterboom Mulia Wisata Klambu

Pengaruh pupuk kandang kambing terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai Dari analisis sidik ragam dapat diketahui bahwa pupuk kandang kambing tidak berpengaruh

Secara Teoritis, diharapkan dari penelitian ini dapat memberikan sumbangan di bidang kenotariatan, khususnya bagi para notaris dan calon notaris dalam memahami perlindungan

Genotipe pembanding jagung ketan memiliki nilai yang nyata lebih tinggi pada karakter bobot biji dan produktivitas.. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok genotipe uji

Faktor-faktor tersebut diproksikan dalam ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, profile perusahaan, dewan komisaris independen, kepemilikan manajerial, kepemilikan

Dengan ini diumumkan berdasarkan Surat Penetapan Femenang Pengadaan Langsung Paket PekerjaanPengadaanTerpalrKegiatat PendampinganPada Kelompok Tani Pembadrdaya lkan, Nomor

Pantai Sembilangan masih kurang memadai untuk daerah tujuan wisata, yaitu kurangnya prasarana seperti lampu jalan yang masih minim bahkan dibeberapa jalan tidak ada penerangan

Tujuan ini diharapkan dapat tercapai melalui pencapaian tiga target khusus berikut ini: (1) tersusunnya kerangka kerja memahami matematika sekolah menengah yang dapat