PENGARUH METODE PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN METODE PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING
TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA (Kuasi Eksperimen Mata Pelajaran Pengantar Ekonomi Bisnis
Kompetensi Dasar Teori Elastisitas Permintaan dan Elastisitas Penawaran Kelas X PM
di SMK Negeri 1 Bandung)
TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Magister Pendidikan dalam Bidang Pendidikan Ekonomi
Oleh:
Estu Niana Syamiya 1303223
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG
PENGARUH METODE PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN METODE PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING
TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA (Kuasi Eksperimen Mata Pelajaran Pengantar Ekonomi Bisnis
Kompetensi Dasar Teori Elastisitas Permintaan dan Elastisitas Penawaran Kelas X PM
di SMK Negeri 1 Bandung)
Oleh:
Estu Niana Syamiya
Sebuah tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Program Studi Pendidikan Ekonomi SPs UPI
Bandung
© Estu Niana Syamiya 2015 Universitas Pendidikan Indonesia
Juni 2015
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
ESTU NIANA SYAMIYA
PENGARUH METODE PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN METODE PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING
TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA (Kuasi Eksperimen Mata Pelajaran Pengantar Ekonomi Bisnis
Kompetensi Dasar Teori Elastisitas Permintaan dan Elastisitas Penawaran Kelas X PM
di SMK Negeri 1 Bandung)
Telah disetujui dan disahkan oleh :
Mengetahui
Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia
Prof. Dr. H. Disman, MS. NIP 19590209 198412 1 001
PEMBIMBING
ABSTRAK
Estu Niana Syamiya. 2014. “Pengaruh Metode Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Metode Discovery Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis (Studi Kuasi Eksperimen pada Mata Pelajaran Pengantar Ekonomi Siswa Kelas X Jurusan Pemasaran SMK Negeri 1 Bandung Tahun
2014/2015)”. Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Agus Rahayu, MP.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa yang mendapatkan perlakuan metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan metode pembelajaran discovery pada mata pelajaran ekonomi di kelas X Pemasaran SMK Negeri 1 Bandung.
Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan bentuk Nonequivalent (Pretest and Posttest) Control Group Design. Teknik Analisis data dengan statistik parametrik yang meliputi uji beda rata-rata (paired sampels t-test dan independent samples t-test), gain score dan perhitungan effect size dengan menggunakan bantuan SPSS versi 17.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa sebelum dan sesudah perlakuan dengan menggunakan metode pembelajaran Problem Based Learning sebesar 20,3, dan pembelajaran discovery sebesar 22,4. Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa yang menggunakan metode pembelajaran Problem based learning terhadap kelas kontrol dan metode pembelajaran discovery lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa yang menggunakan metode pembelajaran discovery lebih tinggi dibandingkan dengan kelas metode pembelajaran Problem based learning.
ABSTRACT
Estu Niana Syamiya. 2014. "The Influence of Problem Based Learning Methods and Discovery Methods Toward Student’ Critical Thinking Ability (Quasi Experimental Study On Supply And Demand Of Basic Competence Elasticity In 10th Grade of Marketing of SMKN 1 Bandung 2014/2015)" , Supervisor: Prof. Dr. Agus Rahayu, MP.
This research in the fundamental of the low ability to critical thinking of students in class X SMK Negeri 1 Bandung. The purpose of this study was to determine differences in critical thinking skills of students who receive treatment learning methods Problem Based Learning and learning methods discovery on economic subjects.
The method used in this research is quasi experimental with Nonequivalent (Pretest and Posttest) Control Group Design. The data analysis technique with parametric statistical, test of difference (paired samples t-test and independent samples t-test), gain score and effect size calculation used in this research is SPSS versi 17.
The results of the study show that there are differences in the increase in critical thinking skills of students before and after treatment using problem Based Learning methods = 20,3 and discovery methods = 22,4. There are differences in the students' critical thinking skills problem Based Learning Methods and discovery Methods is more higher to improve the critical thinking ability than the control class that uses a conventional method. There are differences in the students' critical thinking skills discovery Methods is more is more higher to improve the critical thinking ability than the the Problem Based Learning Methods.
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
ABSTRAK ... ii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2 Rumusan Masalah Penelitian ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS ... 10
2.1 Teori Belajar ... 10
2.2 Teori belajar Kognitif ... 14
2.3 Teori Konstruktivisme ... 19
2.4 Kemampuan Berpikir Kritis ... 22
2.4.1Indikator Kemampuan Berpikir Kritis ... 24
2.5 Metode Problem Based Learning ... 28
2.5.1Tujuan Metode Problem based Learning ... 29
2.5.2Karakteristik Metode Problem Based Learning ... 30
2.5.3Ciri-ciri Metode Problem Based Learning ... 30
2.5.4Langkah-langkah dalam Metode Problem Based Learning ... 31
2.6 Metode Discovery ... 36
2.6.1 Tujuan Metode Discovery... 38
2.6.2Ciri-ciri Metode Discovery ... 39
2.6.3 Langkah-Langkah Metode Discovery... 40
2.6.4Kelebihan dan Kelemahan Discovery Learning ... 42
2.8 Kerangka Pemikiran ... 47
2.9 Hipotesis Penelitian ... 52
BAB III METODE PENELITIAN ... 53
3.1 Metode Penelitian ... 53
3.2 Objek Penelitian... 54
3.3 Variabel Penelitian... 54
3.3.1 Kemampuan Berpikir Kritis ... 54
3.3.2 Metode Problem Based learning ... 58
3.3.3 Metode Discovery ... 57
3.4 Alat tes ... 58
3.5 Analisis Alat Tes... 58
3.5.1 Uji Validitas ... 58
3.5.2 Uji Reliabilitas ... 59
3.5.3 Tingkat Kesukaran Soal ... 60
3.5.4 Daya Pembeda ... 62
3.6 Rancangan Analisis dan Pengolahan Data ... 64
3.6.1 Uji Normalitas ... 64
3.6.2 Uji Homogenitas ... 66
3.6.3 Uji Hipotesis ... 66
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 71
4.1 Deskripsi Tempat penelitian ... 71
4.2 Deskripsi Pelaksanaan Penelitian ... 71
4.3 Hasil Penelitian ... 73
4.3.1 Uji Hipotesis Pertama ... 74
4.3.2 Uji Hipotesis kedua ... 78
4.3.3 Uji Hipotesis Ketiga ... 82
4.3.4 Uji Hipotesis Keempat ... 88
4.3.5 Uji Hipotesis Kelima ... 94
4.4 Pembahasan Hasil penelitian ... 99
4.4.2 Pembahasan Pembelajaran Ekonomi dengan MetodeDiscovery dalam
meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Siswa ... 104
4.4.3 Perbedaaan kemampuan berpikir kritis siswa dengan menggunakan menggunakan metode (Problem Based Learning) dengan Metode Ceramah. ... 106
4.4.4 Perbedaaan kemampuan berpikir kritis siswa dengan menggunakan menggunakan metode Discovery dengan Metode Ceramah. ... 108
4.4.5 Perbedaaan kemampuan berpikir kritis siswa dengan menggunakan menggunakan metode (Problem Based Learning) dengan Metode Discovery. ... 109
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 112
5.1 Kesimpulam ... 112
5.2 Saran ... 113
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. 1 Nilai Rata-Rata ... 3
Tabel 1. 2Analisis Soal Pra Penelitian ... 3
Tabel 2. 1 Indiktor Berpikir Kritis ... 26
Tabel 2. 2Langkah-Langkah Metode PBL ... 32
Tabel 2. 3 Prosedur Pembelajaran Metode PBL ... 34
Tabel 2. 4 Penelitian terdahulu... 44
Tabel 3. 1 Desain Kuasi Penelitian ... 53
Tabel 3. 2 Variabel Berpikir Kritis ... 55
Tabel 3. 3 Kriteria Skor Kemampuan Berpikir Kritis ... 56
Tabel 3. 4 Hasil Uji Validitas ... Tabel 3. 5 Klasisfikasi Tingkat Reliabilitas ... 60
Tabel 3. 6 Hasil Uji Reliability Statistics ... 60
Tabel 3. 7 Interpretasi Tingkat Kesukaran ... Tabel 3. 8 Hasil Uji Tingkat Kesukaran Soal ... 62
Tabel 3. 9 Klasifikasi Daya Pembeda ... 63
Tabel 3.10 Hasil Uji Beda Soal ... 64
Tabel 4. 1 Deskripsi Kemampuan Berpikir Kritis metode PBL ... 74
Tabel 4. 2 Uji Normalitas Pretest dan PosttesetMetode PBL ... 75
Tabel 4. 3 Uji Homogen PretestdanPostTest Berpiki Kritis Metode PBL .... 75
Tabel 4. 4 Hasil Uji Kesamaan Pretest dan Post test berpikir Kritis ... 77
Tabel 4. 5 N-Gain Kemampuan Berpikir Kritis Metode PBL ... 77
Tabel 4. 6 Deskriptif Statistic Kemampuan Berpikir Metode Discovery ... 78
Tabel 4. 7 Uji Normalitas Pretset dan Posttest Metode Discovery ... 89
Tabel 4. 8 Uji Homogenitas Pretest dan Posttest Metode Discovery ... 80
Tabel 4. 9 Uji Kesamaan Pretest dan Posttest Metode Discovery ... 81
Tabel 4. 11 Rata-rata N-Gain Metode PBL dan Metode Ceramah ... 83
Tabel 4. 12 Uji Normalitas N-Gaian Kemampuan Berpikir pada Metode PBL dan Metode Ceramah ... 84
Tabel 4. 13Uji Homogenitas N-Gain Berpikir Kritis ... 85
Tabel 4. 14 Independent Sample Test Metode PBL dan Metode ceramah ... 86
Tabel 4. 15Uji Anova dan Eta ... 87
Tabel 4. 16 Rata-Rata N-Gain Metode Discovery dan Metode Ceramah ... 88
Tabel 4. 17 Hasil Uji NormatifMetode Discovery dan Metode Ceramah... 90
Tabel 4. 18 Uji Homogenitas Metode Discovery dan Metode Ceramah... 91
Tabel 4. 19 Independent Sample Test Metode Discovery dan Metode Ceramah ... 92
Tabel 4. 20 Hasil Uji Anova dan Eta Metode Discovery dan Metode Ceramah ... 93
Tabel 4. 21 Rata-Rata Kemampuan Berpikir Kritis Metode PBL dan Metode Discovery ... 94
Tabel 4. 22 Hasil Uji Normalitas Metode PBL dan Metode Discovery ... 95
Tabel 4. 23 Hasil Uji Homogenitas kemampuan Berpikir Kritis Metode PBL dan Metode Discovery ... 96
Tabel 4. 24 Independent Sample test Metode PBL dan Metode Discovery ... 98
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2. 1 Kerangka Pemikiran ... 51
Gambar 3.1 Daerah Penolakan dan Penerimaan H0 ... 67
Gambar 4. 1 Rata-rata Nilai Gain Kelas Eksperimen Pembelajaran Berbasis
Masalah (Problem Based Learning) dan Kelas Kontrol ... 83
Gambar 4. 2 Rata-rata Nilai Gain Kelas Eksperimen metode Discovery
dan Kelas Kontrol ... 89
Gambar 4. 3 Rata-rata Nilai Gain Kelas Eksperimen metode Pembelajaran
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A1 Silabus...120
LampiranA2 RPP ...125
LampiranA3 Lembar Kerja Siswa ...199
Lampiran B1 Kisi-Kisi Instrumen Soal...209
LampiranB2 Soal-Soal Validitas ...219
LampiranB3 SoalPreteset dan posttest ...224
LampiranC1 Uji Validitas ...229
LampiranC2 Uji Reabilitas ...230
LampiranC3 Hasil Uji Tingkat Kesukaran ...231
Lampiran C4 Hasil Uji Tingkat Beda ...232
LampiranD1Tabulasi Data Gain kemampuan Berpikir Kritis Metode PBL ...233
Lampiran D2Output SPSS Statistik Deskriptif ...236
LampiranD3Uji Normalitas Metode PBL ...237
LampiranD4 Uji Normalitas Metode Discovery ...237
Lampiran D5Uji Normalitas Metode Ceramah ...238
LampiranD6 Uji Homogenitas Metode PBL ...239
LampiranD7Uji Homogenitas Metode Discovery ...240
Lampiran D8 Uji Homogenitas Metode Ceramah ...241
LampiranD9Output SPSS 17UjiHipotesis1 ...242
Lampiran D10 Output SPSS 17UjiHipotesis2 ...243
LampiranD11 Output SPSS 17UjiHipotesis3 ...244
Lampiran D12 Output SPSS 17UjiHipotesis4 ...245
Lampiran D13 Output SPSS17UjiHipotesis5 ...246
Lampiran E1 Dokumentasi Pretest dan Post test Kelas Kontrol ...249
LampiranE2 Dokumentasi pretest dan posttest Kelas Ekesperimen PBL ...250
Lampiran E3 Dokumentasi Pretest dan Post test Kelas Eksperimen Discovery 251 LampiranE4 Dokumentasi Proses Pembelajaran Kelas Kontrol ...252
Lampiran E5 Dokumentasi Kelas Discovery ...253
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan kualitas
manusia seutuhnya, adalah misi pendidikan yang menjadi tanggung jawab
profesional setiap guru. Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi pengetahuan
kepada siswa di kelas karena materi yang diperolehnya tidak selalu sesuai dengan
perkembangan masyarakatnya. Yang dibutuhkannya adalah kemampuan untuk
mendapatkan dan mengelola informasi yang sesuai dengan kebutuhan profesinya.
Mutu pengajaran tergantung pada pemilihan strategi yang tepat bagi tujuan yang
ingin dicapai, terutama dalam upaya mengembangkan kreativitas dan sikap inovatif
peserta didik. Menurut Lorin dan David (2010:12) yang mengemukkan bahwa
klasifikasi tujuan pembelajaran dalam ranka taksonomi pendidikan ini membantu
guru merencanakan secara sistematis cara yang efektif untuk memfasilitasi siswa
mempelajari tujuan pembelajarannya.
Perubahan paradigma dari pengajaran (teaching), atau instruksi yang
berfokus kepada aktivitas guru (teacher centered) menuju pembelajaran yang
berfokus pada aktivitas siswa (student centered). Hal inilah yang disebut dengan
membangun pengetahuan sendiri (kostruktivisme).
Menurut pandangan konstruktivistik, belajar merupakan suatu proses
pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh siswa. Ia harus
aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna
tentang hal-hal yang sedang dipelajari, tetapi yang paling menentukan terwujudnya
gejala belajar adalah niat belajar siswa itu sendiri, sementara guru dalam belajar
konstruktivistik berperan membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh
siswa berjalan lancar dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir.
Kemampuan berpikir merupakan kemampuan yang dapat dipelajari dan
dikembangkan salah satunya di sekolah. Dampak yang akan dirasakan jika siswa
tidak mampu berpikir kritis maka siswa tersebut akan pasif. Karena salah satu ciri
berpikir kritis yaitu siswa selalu bertanya dalam proses pembelajaran. Berdasarkan
kurikulum 2013 siswa dituntut aktif dalam proses pembelajaran (student centre) dan
2
Kompetensi) yang mengharapkan siswa menguasai kecakapan hidup (life skill) yang
salah satunya adalah kecakapan berpikir (thinking skill) yang harus diajarkan pada
semua mata pelajaran.
Dalam kurikulum 2013 di SMK , untuk pelajaran ekonomi diberikan porsi
tersendiri berpisah dengan materi sosial lainnya menjadi pelajaran pengantar
ekonomi bisnis. Pengantar ekonomi bisnis ini adalah mata pelajaran yang harus
diberikan kepada semua program keahlian, sedangkan untuk materinya sendiri
didalamnya lebih menyangkut materi ekonomi. Ekonomi merupakan ilmu tentang
perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang
bervariasi, dan berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan
kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi. Luasnya ilmu ekonomi dan terbatasnya
waktu yang tersedia membuat standar kompetensi dan kompetensi dasar ini dibatasi
dan difokuskan kepada fenomena empirik ekonomi yang ada disekitar peserta didik,
sehingga peserta didik dapat merekam peristiwa ekonomi yang terjadi disekitar
lingkungannya dan mengambil manfaat untuk kehidupannya yang lebih baik.
SMK Negeri 1 Bandung merupakan salah satu sekolah kejuruan terfavorit di
Kota Bandung. Hal ini terbukti dengan banyaknya prestasi yang diraih oleh
siswa-siswi SMK Negeri 1 baik mulai tingkat kota bandung sampai pada tingkat nasional,
Contohnya beberapa kali menjadi juara tingkat nasional dalam lomba kompetensi
siswa pada bidang akuntansi maupun administrasi perkantoran. Dari hasil observasi
dan wawancara yang dilakukan peneliti dengan ibu Atty Srie selaku guru mata
pelajaran pengantar ekonomi bisnis kelas X di SMK Negeri 1 Bandung diperoleh
informasi bahwa dalam proses belajar mengajar, siswa masih kurang berperan aktif .
Hal ini terlihat dari pasifnya siswa-siswa dalam proses pembelajaran, mereka lebih
banyak mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru. Tentunya hal tersebut
sangat bertentangan dengan kurikulum 2013, dimana dalam kurikulum 2013 ingin
merubah gaya berfikir dalam standar proses yang tadinya lebih ke teacher centre
menjadi student centre. Akan tetapi dalam pelajaran pengantar ekonomi bisnis belum
bisa seperti itu. Kemampuan berpikir siswa bisa terlihat dari perolehan presentase
3
Tabel 1. 1
Nilai Rata-Rata Ujian Akhir Semester Ganjil
Mata Pelajaran Pengantar Ekonomi Kelas X SMK Negeri 1 Bandung Kompetensi Keahlian Pemasaran
Tahun Pelajaran 2013/2014
No Kelas Nilai Rata-Rata KKM
1. X AK 1 69,66 75
2. X AK 2 70,56 75
3. X AK 3 72,91 75
4. X AK 4 65,06 75
Rata-Rata Nilai 69,54
Sumber: Nilai Guru Kelas X SMKN 1 Bandung
Dari hasil belajar siswa tersebut dapat dijelaskan bahwa nilai rata-rata ujian
akhir semester ganjil untuk mata pelajaran pengantar ekonomibisnis masihrendah.
Hal tersebut dapat dilihat dari perolehan rata-rata kelas masih di bawah standar
kriteria kelulusan minimal (KKM). Berikut ini hasil analisis soal ujian akhir semester
ganjil untuk mata pelajaran pengantar ekonomi.
Tabel 1. 2
Analisis Soal Pra Penelitian
Mata Pelajaran Pengantar Ekonomi Kelas X AP 4 SMK Negeri 1 Bandung
Sumber : Hasil Observasi Lapangan
Dari data-data di atas maka dapat dikatakan bahwa tingkat kemampuan
berpikir kritis siswa di SMK Negeri 1 Bandung masih rendah. Hal ini dapat
dibuktikan dengan nilai rata-rata kelas yang belum mencapai standar KKM. Dan
setelah mengadakan pra penelitian dengan menyebarkan soal-soal diketahui bahwa
Skor Jumlah Siswa Presentase
10 - -
20 - -
30 - -
40 10 32,3 %
50 15 48,4 %
60 4 12,9%
70 2 6,40 %
80 - -
90 - -
100 - -
4
perolehan nilai siswa masih rendah. Menurut Richard Parker (1986 : 5) “Critical Thinking as fair mindedly interpreting, analyzing, or evaluating information,
arguments, or experiences with a set of reflective attitude skills, and abilities to guide our thoughts, beliefs, and actions”. Hal tersebut menerangkan bahwa Berpikir kritis menafsirkan adil dengan pikiran, menganalisis, mengevaluasi atau informasi,
argumentasi, atau pengalaman dengan satu set keterampilan sikap reflektif, dan
kemampuan untuk membimbing pikiran kita, keyakinan, dan tindakan.
Maka dari itu, peneliti beranggapan perlu adanya suatu metode dan strategi
pembelajaran yang tepat yang mampu membuat kemampuan berpikir kritis siswa
meningkat. Seorang guru harus menguasai beberapa macam metode agar dapat
memilih dan menggunakan metode yang paling efektif untuk mencapai suatu tujuan
pembelajaran.
Salah satu obat atau solusi untuk mengatasi masalah kemampuan berpikir
kritis siswa SMK yaitu dengan menggunakan metode Problem Based Learning, serta
metode Pembelajaran Discovery Learning. Menurut Seng dalam buku Suparno
(2013:5) pembelajaran berbasis masalah yang diterapkan pada siswa dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kiritis
Metode Problem Based Learning banyak digunakan pada disiplin ilmu
kesehatan. Tetapi metode ini sudah menyebar ke seluruh disiplin ilmu seperti
ekonomi, manajemen dan lain sebagainya. Salah satu metode yang digunakan untuk
meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa yaitu Metode Problem Based
Learning (PBL). Hal tersebut sejalan dengan pendapat Victor Forrester (2004) dalam
jurnal yang mengatakan bahwa metode Problem Based Learning tujuannya yaitu
untuk meningkatkan keterampilan belajar yang spesifik misalnya konstruksi
pengetahuan dan penalaran.
Dalam kurikulumnya, dirancang masalah-masalah yang menuntut mahasiswa
mendapatkan pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam
memecahkan masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki kecakapan
berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang
sistematik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti
5
PBL merupakan salah satu alternatif metode pembelajaran yang
memungkinkan siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, karena di
dalam PBL siswa dihadapkan pada masalah sebagai stimulus yang menjadi fokus dan
harus dipecahkan dalam aktivitas belajar. Menurut Jauhar (2003:37) menyampaikan
pandangannya tentang PBL sebagai pembelajaran konstruktivistik sebagai berikut:
1) Mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam konteks yang relevan,
2) Mengutamakan proses, 3) Menanamkan pembelajaran dalam konteks pengalaman
sosial, 4) Pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman.
Alder dan Milne (1997:195) mendefinisikan PBL dengan metode yang
berfokus kepada identifikasi permasalahan serta penyusunan kerangka analisis dan
pemecahan.
Metode PBL sebagai solusi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis
juga disampaikan oleh Duch, Groh, and Allen (Savery, J. R. 2006:12) bahwa:
The methods used in PBL and the specific skills development, including the ability to think critically,analyze and solve complex, real worls problems, to find, evaluate, and use appropriate learning resources; to work cooperatively to demonstrate effective communications skills, and to use content knowledge and intellectual skills to become continual learners.
Menerangkan bahwa :
Metode yang digunakan dalam PBL dan pengembangan keterampilan khusus, termasuk kemampuan untuk berpikir kritis, menganalisa dan memecahkan kompleks, masalah nyata, untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan sumber daya pembelajaran yang tepat; untuk bekerja sama untuk menunjukkan keterampilan komunikasi yang efektif, dan menggunakan pengetahuan dan keterampilan intelektual konten untuk menjadi pembelajar terus-menerus.
Selain metode Problem Based Learning ada juga metode discovery learning
yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Metode Discovery
Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang
terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi
diharapkan siswa mengorganisasi sendiri.
Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai
pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara
6
kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin merubah
kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented.
Menurut Brunner dalam buku Slameto (2003:11) mengemukakan bahwa,
Dalam proses belajar mementingkan partisipasi aktif dari setiap siswa dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan, dan dalam upaya meningkatkan belajar perlu lingkungan dimana dinamakan “discovery learning” siswa dapat melakukan eksplorasi, penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui.
Menurut Bruner terhadap proses belajar daripada hasil belajar,metode yang
digunakannya adalah metode Penemuan (discovery learning). Discovery learning
dari Bruner merupakan model pengajaran yang dikembangkan berdasarkan pada
pandangan kognitif tentang pembelajaran dan prinsip-prinsip konstruktivitas.
Bruner menjelaskan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan
kritis jika guru memberikan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan termasuk
konsep melalui contoh-contoh yang mewakili aturan tersebut.
Selanjutnya menurut Ballew (1967:2) mengutarakan bahwa salah satu tujuan
pembelajaran discovery learning adalah agar siswa memiliki kemampuan berpikir
kritis.
Mengacu kepada keseluruhan paparan di atas, dan dalam upaya memahami
dan memecahkan masalah rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa SMK Negeri
1 Bandung. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis perlu melakukan
penelitian tentang “Pengaruh Metode Pembelajaran Problem Based Learning dan
Metode Pembelajaran Discovery Learning Terhadap Kemampuan Berpikir
Kritis Siswa (Kuasi Eksperimen pada Mata Pelajaran Pengantar Ekonomi
7
1.2 Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan pernyataan permasalahan di atas, masalah dalam penelitian ini
secara spesifik dirumuskan dalam pertanyaan penelitian.
1. Apakah terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa sebelum dan
sesudah pembelajaran dengan menggunakan metode Problem Based
Learning?
2. Apakah terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis sebelum dan
sesudah pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Discovery
Learning?
3. Apakah terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis antara pembelajaran
menggunakan metode PBL dengan kelas yang menggunakan metode
pembelajaran konvensional?
4. Apakah terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis antara metode
pembelajaran Discovery learning dengan kelas yang menggunakan metode
pembelajaran konvensional?
5. Apakah terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis antara pembelajaran
dengan metode pembelajaran PBL dengan kelas yang menggunakan metode
pembelajaran Discovery Learning ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini diarahkan untuk mengetahui pengaruh metode
pembelajaran Problem based Learning dan metode pembelajaran Discovery Learning
terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran pengantar Ekonomi
Bisnis. untuk lebih jelasnya dapat dirinci sebagai berikut.
1. Untuk Mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa sebelum
dan sesudah pembelajaran dengan menggunakan metode Problem Based
Learning.
2. Untuk Mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis sebelum dan
sesudah pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Discovery
8
3. Untuk Mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis antara pembelajaran
menggunakan metode PBL dengan kelas yan menggunakan metode
pembelajaran konvensional.
4. Untuk Mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis antara metode
pembelajaran Discovery learning dengan kelas yang menggunakan metode
pembelajaran konvensional.
5. Untuk Mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis antara pembelajaran
dengan metode pembelajaran PBL dengan kelas yang menggunakan metode
pembelajaran Discovery Learning.
1.4 Manfaat Penelitian
Dengan diadakannya penelitian ini diharapkan ada manfaat baik secara
teoritis maupun praktis:
1. Manfaat secara teoritis
b. Sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis
siswa SMA dengan menerapkan metodeProblem based Learning dan metode
discovery learning dalam proses pembelajaran dikelasnya untuk mata
pelajaran pengantar ekonomi bisnis.
c. Penelitian ini mampu memberikan dukungan empiris terhadap khasanah teori
dan konsep pembelajaran terutama bagi konsep metode PBL dan metode
discovery learning, yang mendorong untuk pengkajian lebih mendalam.
d. Penelitian ini memberi alternatif metode pembelajaran bagi praktisi
pendidikan dalam mengembangkan pross pembelajaran.
2. Manfaat secara praktis
a. Bagi siswa, proses pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir
kritis dalam belajar
b. Bagi guru, penelitian ini merupakan masukan dalam memperluas
pengetahuan dan wawasan tentang metode pembelajaran, terutama dalam
9
c. Bagi sekolah, penelitian dapat memberikan sumbangan dalam rangka
perbaikan metode pembelajaran dan pemanfaatan media untuk pelajaran
Pengantar Ekonomi Bisnis di sekolah
d. Bagi penulis, dapat memperoleh pengalaman langsung dengan menggunakan
metode PBL dan metode discovery learning dalam proses pembelajaran
e. Semua pihak yang berkepentingan untuk dapat dijadikan bahan rujukan untuk
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen .
Metode eksperimen adalah metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk
mengetahui pengaruh variabel independen (treatment/perlakuan) tehadap variabel
dependen (hasil) dalam kondisi yang terkendalikan ( Sugiyono, 2013:160). Desain
penelitian yang digunakan adalah desain Nonequivalent Control Group Designyang
merupakan desain penelitian eksperimen semu atau kuasi eksperimen (Quasi
Experiment).
Pada desain ini digunakan tiga sampel kelas, satu kelas eksperimen yang
diberikan perlakuan Metode Problem Based Learning, satu kelas eksperimen
menggunakan Metode Pembelajaran Discovery dan satu kelas untuk kelas kontrol
yaitu kelas yang diberikan perlakukan metode konvensional, sehingga desain yang
digunakan adalah kuasi eksperimen yang dapat diilustrasikan dalam tabel 3.1.
Tabel 3.1
Desain Kuasi Penelitian
Kelas Pretest Perlakuan Postest
Eksperimen O1 X1 O2
Eksperimen O1 X2 O2
Kontrol O1 O2
1 Desain Kuasi Penelitian
Keterangan:
O1 : Tes awal pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
O2 : Tes akhir pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
X1 : Perlakuan dengan menggunakan pembelajaran metode Problem Based
Learning
54
3.2 Objek Penelitian
Dalam penelitian ini objek penelitiannya adalah kemampuan berpikir kritis
sedangkan unit analisisnya adalah siswa SMK Negeri 1 Bandung.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Siswa SMK Negeri 1 Bandung,
Tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 872 siswa. Sampel penelitian ini adalah
siswa kelas X semester 2 SMK Negeri 1 Bandung. Sampel pada penelitian ini terdiri
dari tiga kelas, yaitu 2 kelas eksperimen dengan metode PBL dan Discovery
Learning dan sebagai kelas kontrol dengan metode konvensional (ceramah).
Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling
sebanyak 3 dari 4 kelas dan dipilih kelas X PM 1 , X PM 4 dan X PM 3 dengan
pertimbangan siswa X telah mendapat materi prasyarat sehingga dapat dijadikan
dasar untuk melaksanakan tindakan pembelajaran sesuai dengan yang dikehendaki
dalam penelitian ini, dan kemampuan kelas X yang diperkirakan telah dapat
mengikuti proses pembelajaran yang akan diberikan. Dari kedua kelas tersebut
ditentukan kelas X PM 3 yang terdiri dari 36 orang siswa sebagai kelas eksperimen
yang mendapat pembelajaran dengan metode PBL, sedangkan kelas X PM 4 sebagai
kelas kontrol terdiri dari 36 orang siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan
metode Discovery Learning dan X PM 1 yang terdiri dari 35 orang yang
mendapatkan pembelajaran dengan metode konvensional (ceramah).
3.3 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari tiga variabel yaitu Variabel bebas
dalam penelitian ini yaitu metode Problem Based Learning dan metode Discovery
Learning sedangkan variabel terikatnya yaitu kemampuan berpikir kritis.
3.3.1 Kemampuan Berpikir Kritis
Berpikir kritis yang dimaksud dalam kajian ini adalah berpikir kritis yang
didefinisikan sebagai keterampilan yang aktif mengenai masalah-masalah,
55
Tabel 3. 2
Variabel Berpikir Kritis No Indikator Berpikir
Kritis
Sub Indikator Berpikir Kritis
No Pertanyaan
1. Elementary Clarification (memberikan penjelasan sederhana) Memfokuskan pertanyaan 7,22
Menganalisis argumen 6,17 Bertanya dan menjawab
pertanyaan klarifikasi dan pertanyaan yang menantang
1.4,5
2 Basic Support (membangun
keterampilan dasar)
Mempertimbangkan kredibitas ( kriteria suatu sumber)
11, 13
Mengobservasi dan mempertimbangakan observasi
8,18
3 Inference
(Menyimpulkan)
Membuat dediksi dan mempertimbangkan hasil deduksi.
10
Membuat induksi dan mempertimbangakan hasil induksi.
15,19
Membuat dan
mempertimbangkan keputusan
20, 23
4 Advance clasification (membuat
klasifikasi lanjut)
Mengidentifikasi istilah dan mempertimbangkan definisi
14, 3
Mengidentifikasi asumsi 9, 16 5 Strategies and
tactics (strategi dan taktik)
Memutuskan suatu tindakan
2, 24
Berinteraksi dengan orang lain.
12, 21
Sumber: Ennis (Prabawati, Mega Nur, 2011 : 40)
Berdasarkan indikator-indikator di atas maka dikembangkan instrument untuk
mengukur kemampuan berpikir kritis kepada siswa yang diukur menggunakan teknik
penilaian tes tertulis dengan bentuk instrument esai.
Adapun pemberian skor untuk soal- soal berpikir kritis dalam bentuk plhan
berganda dengan memakai alasan mengacu kepada holistic sclae dari north caroline
56
Tabel 3.3
Kriteria Skor Kemampuan Berpikir Kritis
Respon Anak didik terhadap soal Skor
Tidak ada pilihan ganda dan alasan yang dijawab dengan benar 0
Hanya Alasan saja yang dijawab dengan benar 1
Hanya pilihan ganda yang dijawab dengan benar 2
Semua aspek pertanyaan dijawab dengan lengkap/jelas dan benar 3
Ratnaningsih (2003 : 35)
3.3.2 Metode Problem Based Learning
Problem Based Learning (PBL) dalam penelitian ini didefinisikan sebagai
metode pembelajaran yang menjadikan permasalahan yang berkaitan dengan
topik-topik dalam kurikulum sebagai titik tolak dalam proses pembelajaran secara mandiri
dan kolaboratif. Tahapan yang dipakai dalam proses pembelajaran dalam penelitian
ini, terdiri dari langkah-langkah yaitu sebagai berikut (Richard I. Arends, 2012:411):
1. Orientasi siwa pada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menginformasikan metode PBL dalam
melaksanakan pembelajaran. Memotivasi siswa untuk terlibat pada aktivitas
penyelesaian masalah, meminta siswa terlibat langsung dan aktif dalam
memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan
mengenalkan siswa pada masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Menjelaskan logistik yang
dibutuhkan. Menunjukkan dan menjelaskan alat-alat (logistik) yang akan
digunakan dalam kegiatan pembelajaran seperti soal, LKS, Video, PPTM LCD
dan alat tulis yang dibutuhkan
2. Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Guru mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan
dengan masalah tersebut. Meminta siswa untuk bergabung bersama
kelompoknya. Menetapkan ketua kelompok masing-masing dan mendelegasikan
tugas secara merata
57
Masing-masing individu dalam kelompok diberikan dorongan untuk
mengumpulkan informasi sesuai permasalahan selama pembelajaran
berlangsung. Melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan lebih
akurat dan agar mampu memecahkan masalah tersebut.
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu dalam merencanakan dan menyiapkan laporan.
Mempresentasikan hasil kegiatannya di depan kelas yang diwakili oleh satu
kelompok yang bersedia dipilih secara acak, sementara kelompok lainnya
menanggapi dengan memberikan pertanyaan atau pendapat.
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses penyelesaian masalah
Guru membantu dan mengarahkan siswa untuk melakukan tanya jawab terhadap
hasil penyelidikan mereka serta proses yang mereka gunakan. Merefleksi proses
pembelajaran dengan meninjau permasalahan awal melalui
pertanyaan-pertanyaan
3.3.3 Metode Discovery Learning
Menurt Balim (2009:20) Langkah-langkah dasar dalam melakukan pelajaran
penemuan adalah:
1. Jelaskan kepada siswa tujuan pelajaran dan memberitahu mereka pentingnya untuk mencapai tujuan itu. ("Hari ini kita akan mempelajari konsep. Hal ini penting untuk dipahami karena)
2. Tampilkan contoh berbagai konsep dan menggunakan nama konsep ("melihat laporan, gambar, grafik, diagram, dll Mereka adalah contoh dari konsep) 3. Mengharuskan siswa untuk menemukan atau menyimpulkan ciri-ciri tertentu
dari contoh yang disajikan. ("Apa karakteristik yang membuat masing-masing contoh?)
4. Jika perlu, isyaratkan siswa dalam rangka mendorong penemuan mereka. ("Bagian mana dari contoh yang ada yang merupakan konsep?)
5. Mintalah siswa untuk secara resmi menentukan konsep. ("Bagaimana Anda mendefinisikan konsep).
Akhirnya, mengharuskan siswa untuk menerapkan konsep untuk kasus baru
untuk memastikan pembentukan konsep dan untuk memperkuat dan memperluas
58
3.4 Alat Test
Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah kemampuan
berpikir kritis dimana tujuanya auntuk mengukur sejauh mana penggunaan
pembelajaran metode Problem Based Learning dan metode Discoery dalam
meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Dalam penelitian ini, instrumen yang
digunakan berupa tes awal (pretest) dan tes akhir (posttest). Tes diadakan dalam
bentuk pretest dan posttest. Pretest diberikan sebelum perlakuan dengan tujuan
mengetahui skor hasil belajar awal siswa sebelum perlakuan pada kelompok
eksperimen. Sementara posttest diberikan setelah perlakuan dengan tujuan untuk
mengetahui peningkatan skor hasil belajar siswa setelah perlakuan pada
kelompok eksperimen, sehingga diperoleh gain, yaitu selisih antara skor pretest
dan skor posttest.
3.5 Analisis Uji Alat Tes
Untuk mengetahui kualitas instrumen tes tersebut, maka sebelumnya
dilakukan uji coba instrumen terhadap siswa. Instrumen tes yang berkualitas
dapat ditinjau dari beberapa hal diantaranya validitas, reliabilitas, indeks
kesukaran dan daya pembeda. Adapun penjelasan dari hal tersebut adalah:
3.5.1 Validitas
Pengujian validitas alat tes dilakukan untuk mengetahui ketepatan alat tes
dalam mengukur kemampuan berpikir kritis siswa yang disesuaikan dengan indikator yang ada. Sugiyono (2008:137) menjelaskan bahwa “instrument yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrument yang digunakan dapat mengukur apa yang seharusnya diukur.”
Data soal diuji coba dengan program SPSS versi 17.0 sehingga diperoleh
nilai koefesien korelasi validitas butir. Adapun jumlah soal adalah 24 soal
dengan sampel 36 siswa. Berkenaan dengan rumus validitas yaitu (df = 36-2 =
34), maka r tabel adalah 0.329. adapun data keseluruhan dari validitas soal
59
Tabel 3.4
Uji Validitas Soal Tes Kemampuan Berpikir Kritis
No Soal r Hitung r table Keterangan
1 0.354 0.329 VALID
2 0.359 0.329 VALID
3 0.341 0.329 VALID
4 0.069 0.329 TIDAK VALID
5 0.377 0.329 VALID
6 0.359 0.329 VALID
7 0.492 0.329 VALID
8 0.382 0.329 VALID
9 0.471 0.329 VALID
10 0.409 0.329 VALID
11 0.370 0.329 VALID
12 0.408 0.329 VALID
13 0.344 0.329 VALID
14 0.335 0.329 VALID
15 0.007 0.329 TIDAK VALID
16 0.413 0.329 VALID
17 0.418 0.329 VALID
18 0.384 0.329 VALID
19 0.394 0.329 VALID
20 0.339 0.329 VALID
21 0.397 0.329 VALID
22 0.443 0.329 VALID
23 0.335 0.329 VALID
24 0.373 0.329 VALID
Sumber : Lampiran C1
Uji coba soal tes kemampuan berpikir terdiri 24 soal pada awalnya
dengan bentuk pilihan berganda beralasan. Berdasarkan hasil validitas soal,
terdapat 15 soal yang valid dan p soal tidak valid. 15 soal yang telah valid akan
dipergunakan untuk pretest dan posttest.
3.5.2 Realibilitas
Menurut Kusnendi (2008:96) koefisien alpha Cronbach merupakan
statisitk uji yang paling umum digunakan para peneliti untuk menguji reliabilitas
suatu instrumen penelitian. Dilihat menurut statistik alpha Cronbach, suatu
instrumen penelitian diindikasikan memiliki reliabilitas yang memadai jika
koefesien alpha Cronbach lebih besar atau sama dengan 0,70. Adapun rumusnya
adalah sebagai berikut:
60
Keterangan:
r = Koefisien realibilitas
n = Jumlah soal
S12 = Variansi skor soal tertentu (soal ke 1)
ΣSi2 = Jumlah varians skor seluruh soal menurut skor soal tertentu
St2 = Varians skor seluruh soal menurut skor siswa perorangan
Tabel 3. 5
Klasifikasi Tingkat Reliabilitas
Interval Koefisien Tingkat Reliabilitas
0,90< r ≤1,00 Sangat tinggi
0,70 < r ≤ 0,90 Tinggi
0,40 < r ≤ 0,70 Sedang
0,20 < r ≤ 0,40 Rendah
r ≤ 0,20 Sangat rendah
Nilai r yang diperoleh dari perhitungan ditafsirkan dengan menggunakan
interpretasi nilai r dari Guilford dan data yang diperoleh dianalisis dengan SPSS
17 untuk mengetahui nilai Alpha.
Setelah dilakukan perhitungan, maka diperoleh koefesien realiabilitas soal
tes pilihan berganda beralasan sebesar 0.589 yang berarti soal-soal yang
diujicobakan termasuk dalam klasifikasi tingkat realibilitas sedang
Tabel 3.6
HASIL UJI REALIBILITAS
Cronbach's Alpha N of Items
.697 24
3.5.3 Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran butir soal (item) merupakan rasio antar penjawab item
dengan benar dan banyaknya penjawab item (Arikunto, 2010:128). Tingkat
kesukaran merupakan suatu parameter untuk menyatakan bahwa item soal adalah
mudah, sedang dan sukar. Tingkat kesukaran dapat dihitung dengan rumus
61
P =
Keterangan :
P : IndeksKesukaran
B : Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan benar
Js : Jumlah seluruh siswa peserta tes
Untuk mengklasifikasikan tingkat kesukaran soal, digunakan interpretasi
tingkat kesukaran dikemukan oleh Suherman dan Kusumah (2003). Interpretasi
tersebut disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 3. 7
Interpretasi Tingkat Kesukaran
Harga TK Klarifikasi
TK = 0,00 Soal terlalu sukar 0,00 < TK ≤ 0,30 Soal Sukar 0,30 < TK ≤ 0,70 Soal Sedang 0,70 < TK < 1,00 Soal Mudah
[image:30.595.201.410.277.391.2]62
Rangkuman hasil perhitungan uji tinkat kesukaran untuk tiap soal dapat
[image:31.595.131.517.164.548.2]lihat pada tabel 3.8 berikut
Tabel 3.8
Hasil Uji Tingkat Kesukaran Soal Tes Kemampuan Berpikir Kritis
NO
SOAL JBA JBB JSA 2.JSA TK
KETERANGA N
1 8 2 18 36 0.27 SUKAR
2 14 4 18 36 0.5 SEDANG
3 20 4 18 36 0.66 SEDANG
5 9 0 18 36 0.25 SUKAR
6 17 5 18 36 0.61 SEDANG
7 21 3 18 36 0.66 SEDANG
8 24 11 18 36 0.97 MUDAH
9 30 12 18 36 0.88 MUDAH
10 22 4 18 36 0.72 MUDAH
11 16 4 18 36 0.55 SEDANG
12 19 6 18 36 0.69 SEDANG
13 24 7 18 36 0.86 MUDAH
14 17 2 18 36 0.52 SEDANG
16 19 6 18 36 0.69 MUDAH
17 26 6 18 36 0.94 MUDAH
18 25 10 18 36 0.97 MUDAH
19 20 6 18 36 0.72 MUDAH
20 17 9 18 36 0.72 MUDAH
21 14 3 18 36 0.47 SEDANG
22 20 5 18 36 0.69 MUDAH
23 21 8 18 36 0.81 MUDAH
24 23 12 18 36 0.97 MUDAH
Sumber : Lampiran C3
Hasil uji tingkat kesukaran soal menunjukan bahwa 1 soal termasuk dalam
kriteria sukar, 4 soal termasuk soal tingkat sedang, 10 soal termasuk soal mudah.
3.5.4 Daya Pembeda
Setiap butir soal tes hasil belajar siswa diawali dengan pengurutan skor
total seluruh seluruh soal yang dari yang terbesar ke yang terkecil seperti pada
perhitungan tingkat kesukaran soal. Kemudian dilanjutkan dengan menentukan
63
menggunakan skor kelompok atas dan kelompok bawah. Adapun harganya
dihitung dengan rumus berikut;
DP=
Keterangan:
DP = Daya pembeda
JBA = Jumlah jawaban benar untuk kelompok atas
JBB = Jumlah jawaban benar untuk kelompok bawah
N = Jumlah siswa kelompok atas atau kelompok bawah
Penentuan jawaban benar dan salah dari soal tes kemampuan berfikir
kritis yang berbentuk uraian ini sama seperti pada perhitungan tingkat kesukaran
butiran soal tes. Jumlah jawaban benar untuk masing-masing kelompok
selanjutnya digunakan untuk menghitung harga DP dengan rumus di atas. Untuk
mengklasifikasikan daya pembeda soal digunakan interpretasi daya pembeda.
Interpretasi daya pembeda dari tes yang dilakukan itu disajikan dalam tabel
[image:32.595.183.422.447.567.2]berikut:
Tabel 3. 9
Interpretasi Daya Pembeda
Nilai DP Klasifikasi
DP ≤ 0,00 Sangat Jelek 0,00 < DP ≤ 0,20 Jelek
0,20 DP ≤ 0,40 Cukup
0,40 < DP ≤ 0,70 Baik 0,70 < DP ≤ 1,00 Sangat Baik
Rangkuman hasil tes daya pembeda pada kemampuan berpikir kritis dilihat pada
64
Tabel 3.10
Uji Daya Pembeda Soal Tes Kemampuan berpikir Kritis
NO
SOAL JBA JBB JSA 2.JSA TK KETERANGAN
1 8 2 18 36 0.33 SEDANG
2 14 4 18 36 O.55 BAIK
3 20 4 18 36 0.88 SANGAT BAIK
5 9 0 18 36 0.5 BAIK
6 17 5 18 36 0.66 BAIK
7 21 3 18 36 1 SANGAT BAIK
8 24 11 18 36 0.72 SANGAT BAIK
9 30 12 18 36 1 SANGAT BAIK
10 22 4 18 36 1 SANGAT BAIK
11 16 4 18 36 0.66 BAIK
12 19 6 18 36 0.72 SANGAT BAIK
13 24 7 18 36 0.94 SANGAT BAIK
14 17 2 18 36 0.83 SANGAT BAIK
16 19 6 18 36 0.72 SANGAT BAIK
17 26 6 18 36 1.1 SANGAT BAIK
18 25 10 18 36 0.83 SANGAT BAIK
19 20 6 18 36 0.77 SANGAT BAIK
20 17 9 18 36 0.44 BAIK
21 14 3 18 36 0.61 BAIK
22 20 5 18 36 0.83 SANGAT BAIK
23 21 8 18 36 0.72 SANGAT BAIK
24 23 12 18 36 0.61 BAIK
Sumber : Lampiran C4
Dari hasil perhitungan daya pembeda pada uji soal instrumen dapat diketahui bahwa 2 soal termasuk kriteria cukup, 6 soal termasuk kriteria baik, 7 soal termasuk kriteria baik sekali.
3.6 Rancangan Analisis dan Pengolahan Data
3.6.1 Uji Normalitas Data
Uji normalitas dilakukan untuk melihat bahwa data yang diperoleh tersebar
secara normal atau tidak. Pengujian ini menggunakan tes kecocokan chi-kuadrat
dengan langkah-langkahnya sebagai berikut :
1. Membuat distribusi frekuensi
a. Menentukan rentang
R = skor tertinggi – skor terendah
65
K = 1 + 3,3 log n
c. Menentukan panjangnya interfal (P)
d. Memasukan data skor ke dalam tabel
X Fi Xi Fi.Xi (Xi – X) Fi (Xi-X) 2
e. Menghitung rata-rata skor dengan rumus :
∑ ∑
f. Menghitung standar deviasi dengan rumus :
∑
g. Menguji Normalitas dengan langkah-langkah berikut ini :
1) Menentukan batas kelas interval (L), yaitu degan cara batas ujung bawah
kelas interval – 0,5 dan ujung kelas interval ditambah 0,5
2) Mentransformasikan batas kelas interval ke dalam bentuk normal standar Z,
dengan rumus :
c. Menghitung luas kelas interval (L)
L kelas interval dihitung dengan menggunakan standar Z yaitu dengan cara Za -
Zb
d. Menghitung frekuensi yang diharapkan (Ei), yang dapat dihitung dengan rumus
berikut ini :
Dim;ana :
Ei : frekuensi yang diharapkan
I : luas kelas interval
N : jumlah data
e. Menghitung Chi-Kuadrat dengan rumus
66
g. Menentukan nilai Chi-Kuadrat pada daftar nilai ditentukan
h. Menentukan kriteria uji normalitas
Jika hitung tabel maka data distribusi normal dan jika diluar kriteriatersebut maka data tidak terdistibusi normal.
3.6.2 Uji Homogenitas
Uji homogenitas dua buah varian dilakukan apakah kedua populasi
mempunyai varians yang homogeny atau heterogen. Tes uji homogen dua buah
varians ini dilakukan bila dua kelompok data ternyata berdisribusi normal. Adapun
langkah-langkahnya sebagai berikut :
1. Menentukan varians data penelitian
2. Menghitung nilai F dengan rumus :
Dimana :
F : nilai terbesar uji homogenitas
: varians terbesar
: varians terkecil
3. Menentukan derajat kebebasan (dk) dengan rumus :
=
4. Mnentukan kriteria pengujian homogeitas
Jika F hitung F tabel maka data terdistribusi homogen dan jika diluar kriteria
tersebut maka data tida terdistribusi homogeny.
3.6.3 Uji Hipotesis (Uji t )
Uji hipotesis dalam penelitian di dasarkan pada data peningkatan pemahaman
siswa terhadap konsep ekonomi, yaitu data selisih nilai pre-test dan
post-test.Pengujian hipotesis tersebut menggunakan uji-t independen dua arah ( t- test
independent). Uji t independen dua arah ini digunakan untuk menguji signifikansi
perbedaan rata- rata ( mean) yang terdapat pada program pengolahan data. Pengujian
uji dua arah ini dilakukan karena tidak mengetahui kemana arah kurva hasil
67
diperbandingkan pada pengujian hipotesis ini adalah skor gain post-test dan pre-test
antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, baik secara keseluruhan maupun
setiap ranah. kriteria pengujian untuk hipotesis ini adalah
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1≠ µ2
Dimana : µ1 = skor gain kelompok ekperimen
µ2 = skor gain kelompok Kontrol
jika dibandingkannya dengan T table, maka :
- Jika Thitung> Ttabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima
- Jika Thitung≤ Ttabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak
Berikut merupakan gambaran daerah penolakan dan penerimaan H
Daerah penolakan H0 Daerah penolakan
H0
Daerah penerimaan
[image:36.595.96.518.97.472.2]d 1 (T tabel minimum) d 2 (T tabel maksimum)
Gambar 3.1
Daerah penolakan dan penerimaan H0
Selanjutnya selisih gain kontrol dan eksperimen tersebut dihitung Normalized
Gain (N-Gain). Untuk menghitung Normalized Gain (N-Gain) pada table di atas
digunakan rumus sebagai berikut:
) ( ) ( test pre skor maksimum skor test pre skor test post skor Gain N
(Suharsimi Arikunto, 2006:126)
Penelitian ini hipotesis akan disimbolkan dengan hipotesis alternatif (HA)
dan hipotesis nol (H0). Agar tampak ada dua pilihan, hipotesis ini perlu didampingi
oleh pernyataan lain yang isinya berlawanan. Pernyataan ini merupakan hipotesis
68
1. H0: μ1 μ2
Tidak Terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa sebelum dan
sesudah pembelajaran dengan menggunakan metode Problem Based Learning.
H1: μ1≠ μ2
Terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa sebelum dan sesudah
pembelajaran dengan menggunakan metode Problem Based Learning.
dengan kriteria :
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1≠ µ2
Dimana : µ1 = N-Gain kelompok ekperimen
µ2 = N- Gain kelompok Kontrol
jika dibandingkannya dengan T table, maka :
- Jika Thitung> Ttabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima
- Jika Thitung≤ Ttabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak
2. H0: μ1 μ2
Tidak Terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis sebelum dan sesudah
pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Discovery Learning.
H1: μ1≠ μ2
Terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis sebelum dan sesudah
pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Discovery Learning.
dengan kriteria :
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1≠ µ2
Dimana : µ1 = N-Gain kelompok ekperimen
µ2 = N- Gain kelompok Kontrol
jika dibandingkannya dengan T table, maka :
- Jika Thitung> Ttabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima
69
3. H0: μ1 μ2
Tidak Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis antara pembelajaran
menggunakan metode PBL dengan kelas yan menggunakan metode pembelajaran
konvensional.
H1: μ1≠ μ2
Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis antara pembelajaran
menggunakan metode PBL dengan kelas yan menggunakan metode pembelajaran
konvensional.
dengan kriteria :
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1≠ µ2
Dimana : µ1 = N-Gain kelompok ekperimen
µ2 = N- Gain kelompok Kontrol
jika dibandingkannya dengan T table, maka :
- Jika Thitung> Ttabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima
- Jika Thitung≤ Ttabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak
4. H0: μ1 μ2
Tidak Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis antara metode
pembelajaran Discovery learning dengan kelas yang menggunakan metode
pembelajaran konvensional.
H1 : μ1 ≠ μ2 : Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis antara metode
pembelajaran Discovery learning dengan kelas yang menggunakan metode
pembelajaran konvensional.
dengan kriteria :
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1≠ µ2
Dimana : µ1 = N-Gain kelompok ekperimen
70
jika dibandingkannya dengan T table, maka :
- Jika Thitung> Ttabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima
- Jika Thitung≤ Ttabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak
5. H0: μ1 μ2
Tidak Terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis antara pembelajaran
dengan metode pembelajaran PBL dengan kelas yang menggunakan metode
pembelajaran Discovery Learning.
H1: μ1≠ μ2
Terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis antara pembelajaran dengan
metode pembelajaran PBL dengan kelas yang menggunakan metode
pembelajaran Discovery Learning.
dengan kriteria :
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1≠ µ2
Dimana : µ1 = N-Gain kelompok ekperimen
µ2 = N- Gain kelompok Kontrol
jika dibandingkannya dengan T table, maka :
- Jika Thitung> Ttabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima
- Jika Thitung≤ Ttabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak
Artinya antara metode pembelajaran problem based learning dan discovery
learning akanada yang lebih unggul dalam meningkatkan kemampuan berpikir
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Hasil penelitian ini menunjukkan struktur hubungan metode pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) dan metode pembelajaran Discovery yang
mempengaruhi kemampuan berpikir kritis di SMK Negeri 1 Bandung. Sehingga
diperoleh beberapa kesimpulan yang merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan dalam rumusan masalah. Kesimpulan tersebut adalah:
1. Terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa sebelum dan sesudah
pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) pada kelas eksperimen. Dibandingkan antara sebelum dan
sesudah perlakuan metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL),
kemampuan berpikir kritis siswa dalam mata pelajaran ekonomi untuk
kompetensi dasar elastistitas permintaan dan penawaran terdapat peningkatan
setelah diberikan perlakuan dengan mengunakan metode pembelajaran Problem
Based Learning (PBL). Maka dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) berpengaruh secara positif terhadap kemampuan
berpikir kritis siswa.
2. Terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa sebelum dan sesudah
pembelajaran dengan menggunakan metode Discovery pada kelas eksperimen.
Dibandingkan antara sebelum dan sesudah metode Discovery, kemampuan
berpikir kritis siswa dalam mata pelajaran ekonomi untuk kompetensi dasar
elastistitas permintaan dan penawaran terdapat peningkatan setelah diberikan
perlakuan dengan mengunakan metode pembelajaran Discovery. Maka dapat
disimpulkan bahwa metode Discovery berpengaruh secara positif terhadap
kemampuan berpikir kritis siswa.
3. Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa dalam mata pelajaran
ekonomi pada kompetensi dasar elastisitas permintaan dan penawaran antara
siswa yang belajar dengan metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
dibandingkan kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional (ceramah).
Dilihat dari nilai rata-rata gainnya, peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa
113
dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional
(ceramah). Metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL) lebih efektif
dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran
ekonomi. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) berpengaruh secara positif terhadap peningkatan
kemampuan berpikir kritis siswa.
4. Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa dalam mata pelajaran
ekonomi pada kompetensi dasar elastisitas permintaan dan penawaran antara
siswa yang belajar dengan metode Discovery dibandingkan kelas kontrol yang
menggunakan metode konvensional (ceramah). Dilihat dari nilai rata-rata
gainnya, peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang belajar dengan
metode Discovery lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol yang
menggunakan metode konvensional (ceramah). Metode Discovery lebih efektif
dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran
ekonomi. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa metode Discovery berpengaruh
secara positif terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa.
5. Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis antara siswa kelas eksperimen
dalam mata pelajaran ekonomi pada kompetensi dasar elastisitas permintaan dan
penawaran antara siswa yang belajar dengan perlakuan metode Discovery
dibandingkan dengan kelas yang menggunakan metode Problem Based Learning
(PBL). Dilihat dari nilai rata-rata gainnya, peningkatan kemampuan berpikir
kritis siswa yang belajar dengan perlakuan metode Discovery lebih tinggi
dibandingkan dengan kelas yang menggunakan metode Problem Based Learning
(PBL). Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa metode Discovery dan metode
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berpengaruh secara positif
terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian, maka penelitian mengajukan
saran atau rekomendasikan sebagai berikut:
1. Bagi guru, pengunaan metode Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem
114
pengajaran karena sesuai dengan hasil penelitian ini yang menunjukkan
kedua metode ini mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
peningkatanke mampuan berpikir kritis siswa dan metode-metode sesuai
dengan tuntutan pendidikan sekarang yang menginginkan cara belajar yang
aktif dan terpusat dengan siswa (student center). Proses pembelajaran
dibangun dari siswa lewat pengalaman-pengalaman yang mereka buat sendiri,
sehingga pemahaman mereka terhadap materi bias bertahan lebih lama dan
lebih baik.
2. Penggunaan metode Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based
Learning) dan discovery ini bias memberikan hasil baik jika persiapan untuk
pelaksanaannya dimaksimalkan. Kedua metode ini membutuhkan persiapan
dan pemahaman yang tinggi. Persiapan tidak hanya dilakukan oleh guru,
tetapi siswa juga harus disiapkan sebelum melaksanakan metode-metode ini.
3. Bagi sekolah, metode-metode pembelajaran yang mampu meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswaa tau menjadikan proses belajar yang kritis
harus sering dilakukan. Dengan proses pembelajaran yang kritis diharapkan
siswa mampu memberikan kebebasan berpikir kepada siswa sehingga bias
memunculkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang baru, kemampuan
memecahkan masalah, kemampuan berkomunikasi yang nantinya bias
berguna bagi siswa itu sendiri.
4. Bagi peneliti selanjutnya dalam melakukan penelitian menggunakan
metode-metode ini harus memperhatikan instrumen yang digunakan dalam mengukur
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Abdorrakhman Ginting. (2012). Esensi Praktis Belajar & Pembelajaran (Disiapkan untuk Pendidikan Profesi dan Sertifikasi Guru-Dosen). Bandung: Humaniora Abidin, Yunus (2014). Desain Sistem Pembelajaran Dalam Konteks Kurikulum
2013. Bandung: PT Refika Aditama
Adler, Ralph W. and Milne, Markus J. 1997. Improving The Quality of Accounting
Students’Learning Through Action-Oriented Learning Tasks. Accounting Education. Vol. 6 No. 3: 191-215.
Amir, M. Taufiq. (2009). Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning(Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pembelajar Di Era Pengetahuan). Jakarta: Kencana.
Arif Mustafa(2011). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:PT.Rineka Cipta.
Arend, R.I. (2012). Learning to Teach. New York: McGraw Hill.
Arikunto, Suharsimi. (2010). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara.
Azhar Lalu (1993). Proses Belajar Mengajar Pola CBSA. Surabaya:UsahaNasional.
Balım, A. G. (2009). The Effects of Discovery Learning on Students’ Success and
Inquiry Learning Skills. Egitim Arastirmalari Eurasian Journal of Educational Research , 35, 1-20.
Baharudin & Esa Nur Wahyuni. (2010). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Ballew, H. 1967.Discovery Learning and Critical Thinking in Alegbra. Alegbra :The University Of North Carolina Press.
Budiningsih, Asri C. Belajar dan Pembelajaran. (2005). Jakarta: PT Rineka Cipta.
Blumhof, J., Hall, M., and Honeybone, A. 2001. Using Problem-Based Learning to Develop Graduate Skills, dalam Planet Special Edition, Case Studies in Problembased Learning (PBL) from Geography, Earth and Environmental Sciences,hal. 6-10, LTSN, UK.
116
Costa, A. L. (ed). (1985). Developing Minds: A Resource Book For Teaching
Thinking. Alexandria: ASCD.
Cucu Suhada(2009). Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: RefikaAditama.
Duch, Barbara Susan E. Groh, and Deborah E. Allen. (2001). The Power of Problem
Based Learning (A Practical “How To” for Teaching Undergraduate
Courses in Any Discipline). Sterling, Virginia. Stylus Publishing, LLC
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Eveline Siregar & Hartininara. (2010). Teori Belajar dan Pembelajaran. bogor: Ghalia Indoneisa
Fisher, Alec. (2007). Berpikir Kritis Sebuah Pengantar. Jakarta: Erlangga
Fogarty, R. 1997. Problem-based learning and other curriculum modelsfor the
multiple intelligences classroom. Arlington Heights Illionis: Sky Light.
Frandsen (1961). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Hassoubah, Z. I.(2002). Mengasah Pikiran Kreatif dan Kritis. Bandung: Nuansa
Jacobsen.David A, et all. (2009). Methodes For Teaching (Metode-Metode Pengajaran Meningkatkan Belajar Siswa TK-SMA). Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Jauhar. M. (2003). Implementasi PAIKEM dari behavioristik sampai Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka Raya
Kusnendi. (2008). Model-Model Persamaan Struktural (Satu dan Multigroup Sampel dengan LISREAL). Bandung: Alfabeta.
Lorin W & David R Karthwohl (2010). Kerangka Landasan Pembelajaran, Pengajaran, dan Assesment (Revisi Taksonomi Pendidikan Blom). Ypgyakarta: Pustaka Pelajar.
Moon, Jennifer. (2008).Critical Thingking (An Exploration Of Theory And Practice). New York: Routledge.
Moedjiono, Dimyati (1993) . Stategi Belajar Mengajar . Jakarta: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional.
117
Purbawati, Mega Nur (2011). Pengaruh Penggunaan Pembelajaran dengan Teknik SQ3R Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemahaman dan Berpikir Kritis Peserta Didik SMA. Tesis UPI:Tidak Dipublikasikan.
Ratnaningsih (2003). Mengembangkan Kemampuan Berfikir Mateatis Peserta didik melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Tesis UPI;Tidak Dipublikasikan
Richard parker (1986). Critical Thinking. Evaluating Clalims and Argument in Everyday Life. California; Mayfield Publishing Company.
Rusman. (2013). Metode-Metode Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Rustaman (2003). Strategi Belajar Mengajar. Bandung:UPI
Sanjaya, W. (2010). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Schafersman, Steven D. 1991. An Introduction to critical thinking.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitaf Kualitatif R&D. Bandung: Alfabeta.
Suryosubroto B (2009). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta
Slameto (2003). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Suherman, dkk. (2001). Common TexBook Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika UPI Bandung.
Suparno. (2013). Pengaruh Metode PBL