• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PEMBERIAN SUKROSA TERHADAP AKTIVITAS GLIKOGEN SINTASE DAN BERAT BADAN JANIN TIKUS PUTIH Rattus norvegicus.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH PEMBERIAN SUKROSA TERHADAP AKTIVITAS GLIKOGEN SINTASE DAN BERAT BADAN JANIN TIKUS PUTIH Rattus norvegicus."

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBERIAN SUKROSA TERHADAP AKTIVITAS

GLIKOGEN SINTASE DAN BERAT BADAN JANIN

TIKUS PUTIH Rattus norvegicus

TESIS

Oleh : ANA FAIZAH BP. : 1021212054

PROGRAM PASCASARJANA ILMU BIOMEDIK UNIVERSITAS ANDALAS

(2)

PROGRAM PASCASARJANA ILMU BIOMEDIK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS TESIS, MARET 2014

ANA FAIZAH

PENGARUH PEMBERIAN SUKROSA TERHADAP AKTIVITAS GLIKOGEN SINTASE DAN BERAT BADAN JANIN TIKUS PUTIH Rattus norvegicus vii + 83 halaman + 7 tabel + 18 Gambar + 11 lampiran

ABSTRAK

Perubahan metabolisme tubuh pada masa kehamilan bersifat anabolik, asupan dan nafsu makan meningkat, sedangkan aktivitas berkurang. Faktor kebiasaan orang Indonesia mengkonsumsi makanan dan minuman manis (sukrosa) akan cepat diserap dan diubah menjadi energi, serta disimpan di jaringan hati dan otot (glikogen). Proses glikogenesis melibatkan aktivitas glikogen sintase sebagai katalisator. Apabila proses penyimpanan tidak seimbang dengan penggunaan energi akan menyebabkan kenaikan berat badan yang berlebihan, sehingga dapat meningkatkan resiko persalinan terkait dengan peningkatan berat badan janin yang dipengaruhi kondisi ibu selama hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian sukrosa terhadap aktivitas glikogen sintase dan berat badan janin tikus Rattus norvegicus.

Penelitian ini menggunakan metode post test only control group design,

dilakukan terhadap tikus Rattus norvegicus betina umur 2-3 bulan, berat 250-300 gram dan belum pernah hamil. Sampel terdiri dari 20 ekor tikus yang dibagi menjadi 4 kelompok yaitu : kelompok kontrol, kelompok P1, kelompok P2, dan kelompok P3. Selain kelompok kontrol, semua kelompok tikus diberi sukrosa yang dilarutkan dengan 10 ml aquabides melalui sonde dengan dosis masing-masing kelompok : 400, 600, 800 mg/kgBB/hari selama 18 hari masa kehamilan. Variabel dalam penelitian ini yaitu sukrosa, aktivitas glikogen sintase dan berat badan janin. Aktivitas glikogen sintase dalam satuan pg/ml diukur dengan metode ELISA menggunakan spektrofotometer, sedangkan berat badan janin tikus diukur menggunakan neraca analitik digital dalam satuan gram.

Hasil penelitian menunjukkan aktivitas glikogen sintase pada kelompok kontrol yaitu 79,21 pg/ml, pada P1 terjadi peningkatan 125,55 pg/ml, sedangkan P2 terjadi penurunan 90,14 pg/ml, namun pada P3 kembali pada aktivitas enzim 77,27 pg/ml. Rerata berat badan janin tikus pada kelompok kontrol 2,79 gram, pada P1 terjadi peningkatan 3,61 gram, pada P2 juga terjadi peningkatan 4,21 gram, dan P3 juga terjadi peningkatan 4,61 gram. Analisis data dengan one way ANOVA terhadap aktivitas glikogen sintase dan berat badan janin tikus menunjukkan kedua data tersebut terdistribusi normal dan masing-masing nilai p < 0,001 berarti ada perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan.

Dapat disimpulkan ada pengaruh pemberian sukrosa terhadap aktivitas glikogen sintase dan berat badan janin tikus Rattus norvegicus.

(3)

BIOMEDICAL SCIENCE OF POST GRADUATE PROGRAM MEDICAL FACULTY OF ANDALAS UNIVERSITY

THESIS, DECEMBER 2013 ANA FAIZAH

THE INFLUENCE OF GIVING SUCROSE TO THE GLYCOGEN SYNTHASE ACTIVITY AND WEIGHT OF FETUS Rattus norvegicus

vii + 83 pages + 7 tables + 18 pictures + 11 appendix

ABSTRACT

Body metabolism changes in the age of pregnancy have an anabolic characteristic, which is intake and meal desire are increase, but less activities. It is necessary to fulfill needs, increasing mother energy savings as preparation for birth and lactate, and also for supporting fetus growth. Beside that there are some factors from Indonesian habit consumes sweet drinks and meals (sucrose) which are absorbed rapidly and changed into energy and it will be saved in liver and muscles (glycogen), in the process of glycogenesis involve glycogen syntase activities as a catalyst. If a storage process is imbalance with the utilizing of energy, will be caused increasing weight, and it may increase the birth risk, which fetus weight gain is influence by mother’s condition in the pregnant period. The aim of this research is to knows the influence of giving glycogen synthase activity and weight of fetus Rattus norvegicus.

This research used post test only control group design method, conduct toward female Rattus norvegicus at age 2-3 month, 250-300 grams weigth and never been pregnant before. Samples are 20 rats that devide into 4 groups there are: control group, 1st treatment group (P1), 2nd treatment group (P2), and third treatment group (P3). In addition to control group, all of rat groups are given sucrose with dosage: 400, 600, and 400 mg/200 kg weight/day in each group.

The result of analysis data with one way ANOVA toward glycogen synthase activity and rat fetus weight, where are both data distributed normally and the p values are 0.000 each, it means that there are meaning differences between control group with treatment groups. According to the result of analysis data of glycogen synthase activity with Bonferroni’s statistical test (Post Hoc Test) shows meaning differences between control group with P1. It found between P1 within P2 and P3 groups by value p < 0.05. Instead the result of analysis data of rat fetus weigth with Bonferroni’s statistical test (Post Hoc Test) also shows meaning differences between control group with the treatment groups (P1, P2 dan P3). It also found between P1 with P2 and P3 groups by value p < 0.05.

It can be concluded that there is influence of sucrose to the glycogen synthase activity and weigth of fetus Rattus norvegicus.

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah

Kehamilan didefinisikan sebagai keadaan yang diawali oleh tahap

konsepsi, yaitu bersatunya sel ovum dan spermatozoa, yang terjadi setelah

proses ovulasi atau runtuhnya ovum dari folikel di dalam ovarium (Hamilton,

1995). Selanjutnya pada dua minggu pertama akan terbentuk zygot (individu

baru) sebagai sel pertama yang dihasilkan dari konsepsi yang akan terus

berkembang, sehingga pada minggu ke-tiga sampai ke-enam akan berkembang

menjadi embrio, dan sesudah minggu ke-enam mulai disebut janin atau fetus

(Sadler, 1995). Secara fisiologis kehamilan mulai dari tahap ovulasi hingga

partus akan berlangsung selama 280 hari (40 minggu) dan tidak lebih dari 300

hari (43 minggu) (Bobak, 2004).

Selama masa kehamilan, tubuh ibu akan membutuhkan nutrisi yang lebih

banyak dibanding dengan kondisi sebelum hamil untuk memenuhi kebutuhan

bagi pertumbuhan dan perkembangan janin serta pendukungnya antara lain:

plasenta, uterus, membran, cairan dan pasokan darah ibu untuk janin. Pada

dasarnya diet harian yang disarankan selama kehamilan adalah diet yang

bervariasi meliputi sayur dan buah segar, susu, makanan dengan kandungan

protein nabati (seperti: kacang kedelai) dan protein hewani (seperti: daging, ikan

dan telur), beberapa lemak (seperti margarine, minyak atau lemak mentega),

serta sekitar dua liter cairan per hari. Sehingga peningkatan berat badan ibu dan

(5)

Berdasarkan AKG (Angka Kecukupan Gizi) Indonesia tahun 2004,

untuk ibu hamil trimester 1 dihitung setara dengan kebutuhan energi wanita

dalam kondisi tidak hamil ditambah 180 Kkal, sedangkan pada ibu hamil

trimester 2 dan trimester 3 dihitung setara dengan kebutuhan energi wanita tidak

hamil ditambah 300 Kkal. Kalori tambahan dapat diperoleh dari makanan yang

kaya akan kalsium, protein dan zat besi. Adapun penambahan kalori dalam diet

ibu hamil tidak disarankan diet tinggi kalori yang kurang mengandung gizi

seperti keripik kentang, cake, kue kering, permen, minuman bersoda dan

minuman tinggi kalori yang dapat meningkatkan berat badan ibu selama

kehamilan dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin

(Simkin, 2007).

Faktor yang mempengaruhi pertambahan berat badan pada masa

kehamilan dan berat janin antara lain: makanan ibu sebelum dan selama

kehamilan, usia ibu, urutan kelahiran, paritas, jenis kelamin janin, gaya hidup

merokok, konsumsi alkohol, kejadian anemia kronis pada ibu (Coad, 2006).

Adapun faktor penyebab atau etiologi primer dari peningkatan berat badan

selama masa kehamilan yaitu konsumsi makanan dan minuman tinggi kalori.

Hal ini diperkuat dengan pemikiran yang berkembang di masyarakat awam

bahwa masa kehamilan berarti bahwa ibu hamil hendaknya mengkonsumsi

makanan sekitar dua porsi dari sebelum hamil mengingat ibu hamil adalah untuk

memelihara dan mempertahankan kehidupan dua orang yaitu ibu dan janin yang

ada dalam rahimnya, sehingga ibu hamil cenderung tidak membatasi asupan

energi sebagaimana yang telah dianjurkan (Moore, 1993).

Peningkatan berat badan ibu pada saat hamil secara berlebihan ini

(6)

berlebihan, dimana hal ini terkait dengan faktor kebiasaan orang Indonesia

mengkonsumsi makanan yang manis atau tinggi kalori, salah satunya dengan

penggunaan gula tambahan pada makanan atau minuman yang dikonsumsi.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang dilakukan oleh

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007, diperoleh data

bahwa kebiasaan mengkonsumsi makanan manis pada populasi orang Indonesia

diatas usia 10 tahun mencapai 65,2% (PERKI dan PERDOSSI, 2010).

Kenaikan berat badan yang berlebihan pada masa kehamilan hingga

lebih dari 3 kilogram tiap bulan akibat konsumsi makan tinggi kalori yang

berlebihan akan mengacu pada kondisi obesitas dalam kehamilan. Adapun salah

satu kriteria obesitas pada masa kehamilan dan kenaikan berat badan setiap

minggu selama kehamilan, ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh (Body

Mass Index) yang direkomendasikan Institute of Medicine: Nutrition during

Pregnancy Washington DC menyatakan bahwa kategori obesitas pada masa

kehamilan yaitu apabila BMI > 29,0 kg/m2 (Moore, 1993).

Penelitian yang dilakukan Hayes, seorang ahli biokimia di McMaster

University di Hamilton Ontario yang juga melibatkan beberapa ahli biokimia

lainnya menunjukkan bahwa dari 300.000 kelahiran di Kanada setiap tahunnya,

sekitar 23 persen ibu hamil yang obesitas mengalami sejumlah komplikasi pada

proses kelahiran. Selain itu bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan obesitas

cenderung berisiko menderita penyakit kardiovaskular, obesitas, hipertensi,

diabetes tipe 2 dan masalah pada jantung di kemudian hari. Hal tersebut

mungkin disebabkan kurangnya suplai oksigen ke janin selama dalam

kandungan akibat perkembangan pembuluh darah di plasenta yang terganggu

(7)

Hasil suatu penelitian menunjukan bahwa ibu hamil dengan kelebihan

berat badan memiliki resiko lebih tinggi akan terjadinya gangguan kehamilan

spesifik seperti preeklamsia dan diabetes gestasional. Penelitian oleh Rice

Sebastian, Illanes, dan Mitchell1 (2000), hampir 30% jumlah kasus diabetes

gestasional yang dalam institusinya dalam rentang waktu antara tahun 1995

hingga 1999 terkait dengan kelebihan berat badan pada ibu hamil. Secara

keseluruhan menunjukkan bahwa ibu hamil dengan kasus kelebihan berat badan

memiliki angka kejadian preeklamsia sebesar 14±25% dan angka kejadian

diabetes gestasional sebesar 6±14% (Rice et al., 2012).

Hasil penelitian menunjukkan seberapa besarnya angka Sectio caesaria

pada wanita dengan obesitas (15-25%) dibandingkan dengan wanita yang

memiliki berat badan normal (4,8%). Mayoritas penelitian yang ada melaporkan

bahwa peningkatan angka Sectio caesaria terutama dikarenakan makrosomia

atau bayi besar dengan angka wanita obesitas lebih dari 30% (Wibowo, 2012).

Gula tambahan merupakan gula yang diperoleh dari bahan makanan dan

melalui proses kimiawi, dan ditambahkan dalam proses pembuatan suatu produk

makanan. Gula jenis ini dikenal dengan istilah added sugar atau WHO

menggunakan istilah free sugar, yang didefinisikan sebagai semua jenis

monosakarida dan disakarida (termasuk sukrosa) yang ditambahkan ke dalam

makanan yang diolah, dimasak, dan dikonsumsi termasuk gula alami yang

terbuat dari madu, sirup dan jus buah. The American Heart Association

merekomendasikan pembatasan free sugar intake 100 kalori per-hari untuk

wanita (atau setara dengan 6 sendok teh per-hari dan 150 kalori per-hari untuk

(8)

Sukrosa (C12H22O11) merupakan suatu disakarida yang dibentuk dari

monomer-monomernya yang berupa unit glukosa dan fruktosa yang terhubung

melalui ikatan glikosida. Penambahan sukrosa dalam makanan berfungsi

sebagai sumber karbon. Sukrosa atau gula dapur diperoleh dari gula tebu atau

gula bit, dan juga terdapat pada tumbuhan lain seperti buah nanas dan dalam

wortel. Hidrolisis sukrosa akan memecah ikatan glikosida, dan mengubah

sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa dikatalis oleh enzim sukrose, yang juga

disebut invertase karena hidrolisis mengubah aktifitas optik dari putaran ke

kanan menjadi ke kiri (Stryer, 1995).

Pada tahun 1950, pertama kali dilakukan penelitian efek pemberian diet

tinggi sukrosa pada tikus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tikus menderita

sindrom metabolik, yang meliputi hiperglikemia, resistensi insulin,

hiperlipidemia, hipertensi, obesitas dan hiperurikemia. Akan tetapi hasil

penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa kelainan tersebut ternyata bukan

disebabkan oleh sukrosa melainkan disebabkan oleh efek metabolisme fruktosa.

Fakta-fakta menunjukkan bahwa sukrosa dan fruktosa mempunyai efek

neuropsikiatrik. Gula dapat menimbulkan efek adiksi seperti additive drug pada

umumnya. Tikus yang diberi karbohidrat memperlihatkan sugar craving,

keadaan tersebut disebabkan gula berikatan dengan reseptor dopamin dan

opioid, terekspresinya mRNA enkefalin, disertai pelepasan dopamin dan

asetilkolin pada nukleus akumben (Johnson, et al., 2009). Penelitian lain

menyebutkan bahwa pemberian sukrosa terbukti dapat menurunkan nyeri dalam

non-famakologis pain management pada neonatus yang dilakukan prosedur

(9)

Diet tinggi sukrosa pada kehamilan dapat meningkatkan resiko

komplikasi maternal yang dapat membahayakan nyawa ibu dan janin. Pada

dasarnya, gula merupakan salah satu jenis karbohidrat diperlukan tubuh manusia

sebagai sumber energi. Dengan strukturnya yang sederhana, gula dapat cepat

dimetabolisme tubuh untuk menghasilkan energi dibandingkan sumber

karbohidrat lain. Energi yang berasal dari gula tiap gram adalah 4 kkal (Johnson,

et al., 2009).

Salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya peningkatan berat

badan selama kehamilan adalah banyak mengkonsumsi gula tambahan yang

terdapat dalam makanan atau minuman. Makanan atau minuman manis saat

dikonsumsi, akan diserap dengan cepat ke dalam pembuluh darah, sehingga

meningkatkan kadar hormon insulin. Selanjutnya, hormon insulin ini akan

bekerja menarik gula dan lemak dari darah untuk disimpan di jaringan sebagai

cadangan dalam bentuk glikogen dalam hati dan jaringan otot, dimana dalam

proses glikogenesis (atau proses sintesis glikogen dari glukosa) akan melibatkan

enzim glikogen sintase. Proses penyimpanan ini jika tidak seimbang dengan

pengeluaran energi akan menyebabkan terjadinya kenaikan berat badan yang

dapat menjurus menjadi obesitas (Linder, 2006).

Metabolisme glukosa dalam kehamilan menunjukkan adanya perubahan

kadar glukosa darah yang berubah-ubah selama masa kehamilan dimana kadar

glukosa darah pada waktu puasa akan lebih rendah, adanya kenaikan nilai

post-prandial memanjang dimana hal ini dikaitkan dengan masa pengosongan

lambung yang lebih lama, serta adanya kondisi dimana kehamilan merupakan

(10)

Pembentukan glikogen dari glukosa, baik di dalam hati maupun dalam

otot dapat berlangsung karena adanya uridin di-fosfat glukosa yang dapat

dibentuk dari reaksi uridin tri-fosfat dengan glukosa 1-fosfat. Sedangkan

kebalikan dari glikogenesis yaitu glikogenolisis, artinya reaksi pemecahan

molekul glikogen menjadi molekul glukosa. Glikogen yang terdapat dalam hati

dan otot dapat dipecah menjadi molekul glukosa 1-fosfat melalui suatu proses

yang disebut fosforilasi, yaitu reaksi dengan melibatkan asam fosfat dengan

bantuan enzim fosforilase sebagai katalisator pada reaksi glikogenolisis

(Poedjiadi, 1994). Glukosa 1-fosfat yang dihasilkan oleh penguraian glikogen

dalam otot dapat diubah menjadi glukosa 6-fosfat untuk digunakan lebih lanjut

dalam proses glikolisis. Akan tetapi karena di dalam sel otot tidak terdapat

enzim fosfatase maka glukosa 6-fosfat tidak dapat diubah menjadi glukosa, yang

selanjutnya akan menjadi cadangan glikogen di dalam jaringan otot yang apabila

terus menerus menumpuk akan menimbulkan manifestasi berupa peningkatan

massa otot yang menimbulkan peningkatan berat badan (Linder, 2006).

Sumber energi yang digunakan selama perkembangan janin adalah

glukosa, sedangkan sintesis lemak dan protein yang terjadi relatif sedikit yang

ditunjukkan melalui reaksi oksidasi lipid maupun asam amino. Selama gestasi

akhir, glikogen yang disimpan di dalam hati relatif banyak, dimana mekanisme

untuk memobilisasi glukosa dari glikogen hati ini akan diaktifkan setelah janin

dilahirkan. Dalam hal ini didukung adanya mekanisme enzim yang

memungkinkan oksidasi asam amino maupun lemak. Glukoneogenesis dan

glikogenolisis membutuhkan pengaktifan dan pengembangan enzim hati saat

(11)

Intake free sugar pada ibu hamil, dalam hal ini sukrosa, akan

meningkatkan kadar glukosa dalam darah, yang selanjutnya akan mempercepat

proses glikolisis untuk diubah menjadi energi yang dibutuhkan tubuh selama

kehamilan. Adanya mekanisme dan peran insulin dalam mempertahankan

glukosa darah dalam batas normal, maka glukosa akibat intake sukrosa

berlebihan akan disimpan di hati dan jaringan otot sebagai cadangan energi

melalui proses glikogenesis. Dimana proses glikogenesis ini akan mengubah

glukosa menjadi glikogen dengan perantara enzim glikogen sintase sebagai

katalisator. Glikogen hati berperan sebagai cadangan energi selama puasa,

sehingga tubuh akan tetap bisa beraktifitas (Mayasari, 2012).

Berdasarkan uraian latar belakang diatas penulis tertarik untuk

mengetahui pengaruh pemberian sukrosa pada masa kehamilan dengan

menggunakan parameter yang berkaitan dengan proses sintesis glikogen dari

molekul glukosa yakni enzim glikogen sintase pada serum darah tikus putih

betina Rattus norvegicus dalam keadaan hamil, serta pengaruhnya terhadap

berat badan janin.

1.2 Rumusan masalah

1.2.1Apakah ada pengaruh pemberian sukrosa terhadap aktivitas glikogen sintase pada tikus putih betina Rattus norvegicus ?

(12)

1.3 Tujuan penelitian

1.3.1Tujuan umum penelitian

Mengetahui pengaruh pemberian sukrosa terhadap aktivitas glikogen

sintase dan berat badan janin tikus putih betina Rattus norvegicus.

1.3.2Tujuan khusus penelitian

1) Untuk mengetahui pengaruh pemberian sukrosa terhadap aktivitas glikogen

sintase pada tikus putih betina Rattus norvegicus.

2) Untuk mengetahui pengaruh pemberian sukrosa terhadap berat badan janin

tikus putih betina Rattus norvegicus.

1.4 Manfaat penelitian

Dengan adanya temuan bahwa adanya pengaruh pemberian sukrosa

terhadap aktivitas glikogen sintase dan berat badan janin tikus putih betina

Rattus norvegicus, maka penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada ranah

akademik, selain itu pada penelitian lanjutan, dan bagi masyarakat terutama

kepada ibu hamil.

1.4.1Akademik

Sebagai bahan kajian dan pengembangan ilmu untuk mengetahui

pengaruh sukrosa terhadap berat badan janin melalui proses glikolisis dan

(13)

1.4.2Klinik

Sebagai bahan pertimbangan dalam pemeriksaan aktivitas glikogen

sintase pada ibu hamil dengan kondisi peningkatan berat badan dan berat badan

janin lebih dari normal selama masa kehamilan, terutama pada ibu hamil dengan

konsumsi sukrosa yang berlebihan.

1.4.3Masyarakat

Memberikan informasi kesehatan kepada masyarakat, terutama kepada

ibu hamil sehubungan dengan pengaruh konsumsi tinggi sukrosa pada masa

kehamilan terhadap berat badan janin, sehingga konsumsi sukrosa pada masa

Referensi

Dokumen terkait

Menyatakan bahwa karya ilmiah/skripsi yang berjudul : Pengaruh Seledri (Apium graviolens) Sebagai Alternatif Untuk Menurunkan Berat Badan (Obesitas) Tikus Putih (Rattus norvegicus)

PENGARUH PAPARAN GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK HANDPHONE DALAM PERIODE AKUT TERHADAP MEMORI KERJA.. DAN INTAKE SUKROSA PADA TIKUS PUTIH ( Rattus norvegicus ) GALUR

Melalui penelitian ini, peneliti ingin melihat adakah perbedaan panjang serta berat tubuh fetus tikus putih ( Rattus norvegicus ) galur Sprague-Dawley yang diberikan asam folat

Daun Bangunbangun (Plectranthus amboinicus Lour. Spreng) Terhadap Berat Badan, Kadar SGPT, SGOT dan Gambaran Histologi Hati Tikus Putih (Rattus norvegicus ) Diabetik

PENGARUH MONOSODIUM GLUTAMAT TERHADAP KADAR HORMON TESTOSTERON DAN BERAT TESTIS. PADA TIKUS PUTIH JANTAN

Serbuk cabai rawit (Capsicum frutescens L) dapat meningkatkan nafsu makan dan berat badan anak tikus putih (Rattus norvegicus L) dengan dosis efektif yaitu

Diperlukan perhitungan ulang dosis yang tepat untuk pembuatan infusa daun kelor (Moringa oleifera) dikarenakan kenaikan berat badan tikus putih (Rattus norvegicus)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi dari daun Leilem (Clerodendrum minahassae) pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus), sehingga Masyarakat