BAB II
KAJIAN TEORITIS
2.1 Teori Produksi
Dalam industri modern yang ada dalam pasar global dan sangat kompetitif, aktivitas berproduksi bukan di pandang sebagai aktivitas mentransformasikan input menjadi output, tetapi di pandang sebagai aktivitas penciptaan nilai tambah, dimana setiap aktivitas dalam proses produksi harus memberikan nilai tambah. Pemahaman terhadap nilai tambah ini penting agar dalam setiap aktivitas berproduksi selalu menghindari pemborosan.
Dengan demikian produksi dapat di katakan sebagai suatu aktivitas dalam perusahaan industri berupa penciptaan nilai tambah dari input menjadi output secara efektif dan efesien sehingga produk sebagai output dari proses penciptaan nilai tambah itu dapat di jual dengan harga yang kompetitif dipasar global.
Richard Bilass (1989: 114), mengatakan bahwa hubungan fisik antara input sumber daya perusahaan dan outputnya berupa barang dan jasa perunit waktu, fungsi produksi dapat di nyatakan sebagai berikut:
A = f (a, b, c, d, ……)
Dimana A adalah output, a, b, c, dan d, adalah input-input yang mengahasilkan A
Sadono Sukirno (1985:152) menjelaskan bahwa fungsi produksi selalu di nyatakan dalam bentuk rumus sebagai berikut:
Q = f (K, L, R, T)
Dimana:
Q = jumlah produksi K = jumlah stok modal L = tenaga kerja
R = jumlah kekayaan alam T = teknologi
Senada dengan yang di katakana oleh Samuelson dan Nordhaus (2003:125) tentang hubungan input dan output yaitu bahwa hubungan antara jumlah input yang di perlukan dan jumlah output yang dapat dihasilkan disebut fungsi produksi.
Fungsi produksi menentukan output maksimum yang dapat dihasilkan dari sejumlah tertentu input, dalam kondisi keahlian dan pengetahuan teknis yang tertentu.
Fungsi produksi menggambarkan hubungan antara input dan output. Input atau factor-faktor produksi biasanya di klasifikasikan sebagai tanah, tenaga kerja (labour) atau modal. Tanah dan tenaga kerja di kategorikan sebagai input yang tidak di produksi untuk menjadi input untuk proses produksi selanjutnya.
Fungsi produksi mempunyai sifat-sifat seperti fungsi utility. Jika input bertambah, output juga meningkat, namun tambahan imput pertama kan memberikan tambahan output yang lebih besar di banding dengan tambahan output yang di sebabkan oleh tambahan input berikutnya. Sifat ini disebut law of diminishing return (T. Sunaryo, 2001:71)
Secara grafis, ceteris paribus, fungsi produksi tenaga kerja saja (L)
(diasumsikan K tetap), maka Q (L) adalah sebagai berikut:
seeeeecaras
Gambar 2.1 Fungsi Produksi
Secara matematis, sifat fungsi produksi naik (ika input bertambah maka output bertambah) di indikasikan dengan turunan pertama Q terhadap L adalah positif, sedangkan sifat kenaikan yang mennurun (menggambarkan law of diminishing return) di indikasikan dengan turunan kedua Q terhadap L negative (kurva concept)
Dalam Budiono (1982:64) mengatakan bahwa setiap proses produksi mempunyai landasan teknis yang dalam ekonomi di sebut fungsi produksi.
Fungsi produksi merupakan suatu pungsi atau persamaan yang menunjukan hubungan antara tingkat output dan tingkat kombinasi penggunaan input-input.setiap produesen dalam teori dianggap mempunyai suatu fungsi produksi sebagai berikut:
Q = f (X
1, X
2, X
3,……..Xn) Keterangan :
Q = tingkat produksi
X
1, X
2, X
3, ….Xn = berbagai input yang di gunakan 0
Q
L
Q = f (L)
Tentang law of diminishing return, Budiono juga mengatakan bahwa dalam teori ekonomi diambil pula satu asumsi dasar mengenai sifat dari fungsi produksi. Yaitu fungsi produksi dari semua produksi dimana semua produsen dianggap tunduk pada suatu hokum yang di sebut law of diminishing return. Senada denngan Sunaryo (2001) Budiono juga mengatakan bahwaahukum ini menerangkan bila satu macam input di tambah penggunaanya sedangkan input lain tetap maka tambahan output yang di hasilkan mula-mula naik tetapi kemudian seterusnya menurun bila input itu tersebut di tambah.
Tambahan output yang di hasilkan dari penambahan 1 (satu) unit input variable tersebut disebut Marginal Physical Product (MPP) dari input tersebut.
X
1MPP Q
∆
= ∆
Kurva Total Physical Product (TPP) adalah kurva yang menunjukan tingkat produksi total (sama dengan Q) pada berbagai tingkat penggunaan input variable (input-input lain dianggap tetap). TPP = f (X) atau Q = f (X).
Kurva Marginal Physical Product (MPP) adalah kurva yang menunjukan tambahan (kenaikan) dari TPP, yaitu ∆Q dan ∆TPP yang disebabkan oleh penggunaan tambahan 1 (satu) unit input variable.
dX X df X Q X
MPPx TPP ( 0 )
∆ =
= ∆
∆
= ∆
Kurva Avirage Physical Product (APP) adlah kurva yang menunjukan hasil rata-rata perunit variable pada berbagai tingkat penggunaan input tersebut.
X X f X Q X
APPx TPP ( )
=
=
=
Secara grafik hubungan antara kurva-kurva TPP, MPP, dan APP adalah sebagai berikut:
•
Gambar. 2.2 Kurva TPP, MPP, dan APP Hubungan antara ketiga kurva tersebut di tandai oleh:
• Penggunaan input X sampai pada tingkat dimana TPP cekung ke atas (0 sampai dengan A), maka MPP naik demikian pula APP.
• Pada tingkat penggunaan input X yang menghasilkan TPP yang naik dan cembung ke atas (yaitu antara A dan C), MPP menurun.
• Pada tingkat pengunaan X yang menghasilkan TPP yang menurun, maka MPP negative.
• Pada tingkat penggunaan input X dimana garis singgung pada TPP persis melalui titik orogin B, maka MPP = App maksimum.
Y
TPP
0 X
Y
APP
X
System produksi merupakan system integral yang mempunyai komponen structural dan fungsional. System produksi mempunyai beberapa karakteristik berikut:
• Mempunyai komponen-komponen atau elemen-elemen yang saling berkaitan satu sama lain dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Hal ini berkaitan dengan komponen structural yang membengun system produksi itu.
• Mempunyai tujuan yang mendasari keberadaanya, berupa menghasilkan produk (barang dan jasa) yang dapat di jual denngan harga yang kompetitif di pasar.
• Mempunyai aktivitas berupa proses transformasi nilai tambah input menjadi output secara efektif dan efesien.
• Mempunyai mekanisme yang mengendalikan pengoperasianya, berupa optimal pengalokasian sumber-sumber daya.
System produksi memiliki komponen atau elemen structural dan fungsional yang berperan penting menunjang kontinuitas operasional system produksi itu. Komponen atau elemen structural yang membentuk system produksi terdiri dari: bahan (material), mesin dan peralata, tenaga kerja, modal dan energi, informasi, tanah, dan lain-lain.
Sedangkan komponen atau elemen fungsional terdiri dari supervise, perencanaan, pengendalian, koordinasi dan kepemimpinan, yang kesemuanya berkaitan dengan manajemen dan organisasi. Suatu system produksi selalu berada dalam lingkungan, sehingga aspek-aspek lingkungan seperti: perkembangan teknologi, social dan ekonomi, serta kebijaksanaan pemerintah akan sangat mempengaruhi keberadaan system produksi itu.
Secara skematis sederhana, system produksi dapat di gambarkan seperti Gambar 2.3
Gambar 2.3 LINGKUNGAN sss
Gambar 2.3 Sistem Produksi (Vincent Gasperesz) (1999:169)
Pada dasarnya input dalam proses produksi dapat di klasifikasikan ke dalam dua jenis yaitu input tetap (fixed input) dan input variable (variable input). Input tetap di definisikan sebagai suatu input bagi system produksi yang tingkat penggunaan input itu tidak tergantung pada jumlah output yang di produksi. Input tetap hanya di peruntukan bagi periode jangka pendek, sedangkan untuk periode jangka panjang semua input dipertimbangkan sebagai input variable.input variabeldi definisikan sebagai suatu input bagi system produksi yang tingkat penggunaanya tergantung pada jumlah output yang akan di produksi (Vincent Gasperesz,1999)
Dalam system produksi terdapat beberapa input baik variable maupun tetap, sebagai berikut:
• Tenaga Kerja (labour). Opersi siatem produksi membutuhkan intervensi manusia dan orang-orang yang terlobat dalam proses system produksi dianggap
INPUT PROSES OUTPUT
-Tenaga kerja -Modal -Energi -Informasi -Manajemen
PROSES TRANSFORMASI
NILAI TAMBAH
PRODUK (barang dan jasa)
Umpan balik untuk pengendalian input,proses,
dan teknologi
sebagai input tenaga kerja. Input tenaga kerja dapat di klasifikasikan sebagai input tetap
• Modal. Operasi sitem produksi membutuhkan modal. Dalam ekonomi
manajerial, berbagai macam fasilitas peralatan, mesin-mesin produksi, bangunan pabrik, gudang dan lain-lain dianggap sebagai modal. Biasanya dalam periode jangka pendek, modal di klasifikasikan sebagai input tetap
• Material. Agar system produksi dapat menghasilkan manufaktur, maka di perlukan material atau bahan baku.
• Energi. Mesin-mesin produksi dan aktivitas pabrik lainya membutuhkan energi untuk menjalankan aktifitas itu.
• Tanah. System produksi manufaktur membutuhkan lokasi (ruang) untuk mendirikan pabrik, gudang dan lain-lain
• Informasi. Dalam industri modern, informasi telah dipandang sebagai input.
Berbagai macam informasi tentang: kebutuhan atau keinginan konsumen, harga produk di pasar, perilaku pesaing di pasar di anggap sebagai input informasi.
• Manajerial. System industri modern yang ada dalam lingkungan pasar global yang amat sangat kompetetif membutuhkan supervise, perencanaan, pengendalian, koordinasi dan kepemimpinan yang efektif untuk meningkatkan performansi system itu secara terus meneru. Input ini di kenal sebagai input manajerial atau sebagai input enterpreunia, yang di klasifikasikan sebagai input tetap.
Kebanyakan teori produksi berpokus pada efesiensi, yaitu (1) memproduksi output
semaksimum mungkin dengan penggunaan input yang tetap atau (2) memproduksi
output pada tingkat tertentu dengan biaya produksi yang seminimum mungkin. System
produksi modern lebih mempokuskan perhatian pada pendekatan ke dua, yaitu
memproduksi output pada tingkat tertentu sesuai dengan permintaan pasar, dengan biaya produksi seminimum mungkin.
2.2 Fungsi Produksi Cobb Douglass
Fungsi produksi yang sering di gunakan oleh para ahli ekonomi adalah fungsi produksi Cobb Douglass (Gasperesz, 1999:200). Senada dengan yang di katakana Gasperesz, Sunaryo (2001) juga mengatakan bahwa penjulasan tentang fungsi produksi juga akan lebih gambling dengan symbol matematis yang eksplisit. Hal ini di gambarkan dan di jelaskan dengan fungsi produksi Cobb Douglass. Fungsi produksi Cobb Douglass dengan dua input (KdanL) adalah:
Q = K
αL
β0 < α, β < 1
0 < α, β < 1, menunjukan produk marginal untuk setiap input adalah menurun dengan kenikan pemakaian jumlah input
Fuugsi produksi Cobb Douglass merupakan suatu pungsi persamaan yang melibatkan dua atau lebih variable. Variable yang satu di sebut variable dependen yang di jelaskan (Y) dan variable lainya di sebut variable independent yang menjelaskan (X) (Soekartawi, 1997: 154. dalam Mira Mirawati, 2004). Penyelesaian hubungan antara X dan Y biasanya dengan cara regresi yaitu variasi dari Y akan di pengaruhi variasi dari X.
Sifat-sifat fungsi produksi Cobb Douglass adalah sebagai berikut:
• K dan L bias saling mensubstitusi
Jika tenaga kerja menjadi mahal perusahaan akan mensubstitusi temnaga kerja
dengan modal. Sifat substitusi antar input ini mengikuti kaidah marginal rate of
technical substitution/transformation yang di gambarkan oleh kurva isoquant.
• L Q K Q
δ δ δ
δ , > 0 produktifitas marginal dari factor-faktor produksinya adalah
positif. Formula itu menunjukan produk marginal modal dan tenaga kerja adalah positif. Marginal Product Of Capital (MPP) dan Marginal Product Of Labour (MPL) bergantung pada tingkat output dan tingkat penggunaan modal dan tenaga kerja.
• L L
Q K K
Q δ δ
δ δ δ
δ
2 2, < 0, produktifitas marginal dari factor-faktor produksinya
mengikuti hukum kenaikan yang berkurang (law of diminishing return). Saat ini mencerminkan bahwa fungsi produksi Cobb Douglass bersifat concave, implikasinya, fungsi tersebut mempunyai nilai maksimal.
• Q =(K)
α(L)
β, bersifat
- Contans return to scale, jika (α + β) = 1, artinya, jika input K dan L bertambah masing-masing menjadi dua kalinya, maka outputnya juga bertambah dua kali.
Dalam hal ini output bertambah secara proporsional dengan penambahan input.
- Increasing return to scale, jika (α + β ) > 1 artinya, jika input K dan L bertambah masing-masing menjadi dua kalinya, maka outputnya juga bertambah lebih dari dua kalinya. Dalam hal ini, output bertambah lebih dari proporsi penambahan input.
- Decreasing return to scale, jika (α + β ) < 1 artinya, jika input K dan L
bertambah masing-masing dua kalinya, maka outputnya bertambah kurang dari
dua kalinya, output bertambah kurang dari proporsi penambahan input. Kondisi
ini bias terjadi karena kompleksitas proses produksi menjadi sangat tinggi jika
skala operasi menjadi lebih besar. Decreasing return to scale yaitu rata-rata
akan naik sejalan dengan kenaikan jumlah input.
Dilihat dari penggunaan inputnya, fungsi produksi Cobb Douglass dapat di bedakan menjadi fungsi Cobb Douglass jangka pendek dan fungsi Cobb Douglass jangka panjang.
A. Fungsi Produksi Cobb Douglass Jangka Pendek
Jangka pendek merupakan suatu periode dimana perusahaan dapat menyesuaikan produksi dengan cara mengubah factor-faktor variable seperti bahan baku dan tenaga kerja tetapi tidak dapat mengubah factor-faktor tetap seperti modal (Samuelson dan Nordhaus, 2003)
Syarat dalam kondisi jangka pendek adalah minimal ada satu factor yang menghambat proses adjustmen factor produksi (atau harganya) sehingga tidak terjadi
‘’seketika’’. Jadi konsep jangka pendek menunjukan adanya friksi dalam perekonomian yang menghambat prosses relokasi dalam perekonomian. Fenomena adanya friksi perekonomian bias muncul dalam kondisi harga yang sulit berubah seperti pada harga tenaga kerja (upah).
Apabila input modal dianggap tetap dalam periode produksi jangka pendek, serta hanya terdapat satu input variable tenaga kerja yang dipertimbangkan dalam analisis produksi, maka fungsi produksi Cobb Douglass jangka pendek (the short run Cobb Douglass production function), dinotasikan dalam model berikut:
Q = δL
βKeterangan:
Q = kuantitas output yang di produksi
L = kuantitas input tenaga kerja yang di gunakan
δ (delta) adalah konstanta yang dalam fungsi produksi Cobb Douglass jangka
pendek, merupakan indeks efisiensi yang mencerminkan hubungan antara kuantitas
yang di produksi (Q) dan kuantitas input tenaga kerja yang di gunakan (L), semakin
besar nilai konstanta δ, efisiensi penggunaan input tenaga kerja dalam metode produksi dan lain-lain, akan tercermin melalui nilai konstanta δ dalam fungsi produksi Cobb Douglass baru lebih besar dari fungsi produksi Cobb Douglass yang lama.
β (beta) merupakan elastisitas output dari tenaga kerja (output elasticity of labour),
yang merupakan suatu ukuran sensitivitas kuantitas output yang di produksi terhadap perubahan penggunaan input tenaga kerja, dan di definisikan sebagai persentase perubahan kuantitas output yang di produksi di bagi denngan persentase perubahan penggunaan input tenaga kerja.
Khusus untuk fungsi produksi Cobb Douglass jangka pendek, dapat di tunjukan secara matematik, bahwa koefisien β dalam fungsi Q = δL
β, merupakan koefisien elastisitas output dari tenaga kerja sebagai berikut:
β β
β β
β
β β =
=
∆
= ∆
=
∂
=
∂
=
∆
∆
∆
= ∆
∆
= ∆
−
Q L L Q Q
L L E Q
L Q L
L L L Q
Q L L Q L
E Q
l l
) (
%
%
1
Berdasarkan konsep bahwa = = β
L L