2.1 Kajian Teoretis 2.1.1 Pasar Modal
Menurut Martalena dan Malinda (2011), pengertian pasar modal yaitu:”Pasar modal terdiri dari kata pasar dan modal. Jadi, pasar modal dapat diidentifikasi sebagai tempat bertemunya permintaan dan penawaran terhadap modal, baik dalam bentuk ekuitas maupun hutang jangka panjang”.
Didalam undang-undang, pasar modal didefinisikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.
(Bab 1, Pasal 1, angka 13, UURI no 8, 1995 tentang pasar modal)
Menurut Martalena dan Malinda (2011), Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjual belikan, baik surat utang (obligasi), ekuiti (saham), reksadana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain (misalnya pemerinyah), dan sebagai sarana bagi kegiatan berinvestasi.
Dengan demikian, pasar modal memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana kegiatan jual-beli dan kegiatan terkait lainnya.
Instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar modal merupakan instrumen jangka panjang (jangka waktu lebih dari 1 tahun) seperti saham, obligasi, warant, right, reksadana, dan berbagai instrumen derivarif seperti option, futures, dan lain-lain.
Pasar modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua funsi, yaitu pertama sebagai sarana bagi pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang diperolehdari modal dapat digunakan untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal dan lain-lain. Dengan demikian, masyarakat dapat menempatkan dana yang dimilikinya sesuai karakteristik keuntungan dan resiko masing-masing instrumen. Pasar modal bertindak sebagai penghubung antara para investor dengan perusahaan ataupun institusi pemerintah melalui perdagangan instrumen keuangan jangka panjang, seperti obligasi, saham dan sebagainya.
2.1.2 Laporan Keuangan
Setiap perusahaan, baik bank maupun non bank pada suatu waktu (periode) akan melaporkan semua kegiatan keuangannya. Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi keuangan perusahaan.
Baik kepada pemilik, manajemen maupun pihak luar yang berkepentingan terhadap laporan tersebut.
Menurut Kasmir (2003), Laporan Keuangan Bank adalah:“Laporan Keuangan Bank menunjukan kondisi keuangan bank secara keseluruhan.
Dari laporan ini akan terbaca bagaimana kondisi bank yang sesungguhnya, termasuk kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Laporan ini juga menunjukan kinerja manajemen bank selama satu periode”
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) (2004), dinyatakan bahwa:
Tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum adalah memberikan informasi tentang laporan keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukan pertanggung jawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercaya kepada mereka.
Sedangkan tujuan laporan keuangan bank menurut Kasmir (2003) yaitu:
1. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah aktiva dan jenis- jenis aktiva yang dimiliki.
2. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah kewajiban dan jenis- jenis kewajiban baik jangka pendek (lancar) maupun jangka panjang.
3. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah modal dan jenis- jenis modal pada waktu tertentu.
4. Memberikan informasi tentang hasil usaha yang tercermin dari jumlah pendapatan yang diperoleh dan sumber-sumber pendapatan bank tersebut.
5. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam periode tertentu.
6. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi dalam aktiva, kewajiban dan modal suatu bank.
7. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen dalam suatu periode dari hasil laporan keuangan yang disajikan.
Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh bank akan memberikan berbagai manfaat kepada berbagai pihak. Masing-masing pihak mempunyai kepentingan dan tujuan tersendiri terhadap laporan keuangan yang diberikan oleh bank. Adapun pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap laporan keuangan bank menurut Kasmir (2003) adalah sebagai berikut:
1. Pemegang Saham
Kegunaannya adalah untuk melihat kemajuan perusahaan dalam menciptakan laba dan pengembangan usaha bank tersebut.
2. Pemerintah
Bagi pemerintah adalah untuk mengetahui kemajuan dan kepatuhan bank dalam melaksanakan kebijakan moneter dan pengembangan sektor- sektor industri tertentu.
3. Manajemen
Untuk menilai kinerja manajemen bank dalam mencapai terget-target yang telah ditetapkan. Kemudian juga untuk menilai kinerja manajemen dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya.
4. Karyawan
Untuk mengetahui kondisi keuangan bank, sehingga karyawan juga merasa perlu mengharapkan peningkatan kesejahteraan apabila bank mengalami keuntungan dan sebaliknya.
5. Masyarakat Luas
Bagi masyarakat luas merupakan suatu jaminan terhadap dananya yang disimpan di bank. Jaminan ini diperoleh dari laporan keuangan yang ada dengan melihat angka-angka yang ada di laporan keuangan dimana dapat mengetahui kondisi bank yang bersangkutan.
Seperti lembaga lainnya, bank juga memiliki beberapa jenis laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan SAK. Jenis-jenis laporan keuangan bank menurut Kasmir (2003) adalah sebagai berikut:
1. Neraca
Neraca merupakan laporan yang menunjukan posisi keuangan bank pada tanggal tertentu. Posisi keuangan yang dimaksudkan adalah posisi aktiva (harta), passiva (kewajiban dan ekuitas) suatu bank. Penyusunan komponen di dalam neraca didasarkan pada tingkat likuiditas dan jatuh tempo.
2. Laporan Komitmen dan Kontinjensi
Laporan komitmen merupakan suatu ikatan atau kontrak yang berupa janji yang tidak dapat dibatalkan secara sepihak (Irrevocable) dan harus dilaksanakan apabila persyaratan yang disepakati bersama dipenuhi. Contoh laporan komitmen adalah komitmen kredit, komitmen
penjualan atau pembelian aktiva bank dengan syarat Repurchase Agreement (Repo), sedangkan laporan kontinjensi merupakan tagihan atau kewajiban bank yang kemungkinan timbulnya tergantung pada terjadi atau tidaknya satu atau lebih peristiwa di masa yang akan datang.
Penyajian laporan komitmen dan kontinjensi disajikan sendiri tanpa pos lama.
3. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi merupakan laporan keuangan bank yang menggambarkan hasil usaha bank dalam suatu periode tertentu.
4. Laporan Arus Kas
Merupakan laporan yang menunjukan semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan bank baik yang berpengaruh langsung maupun yang tidak langsung terhadap kas. Laporan arus kas harus disusun berdasarkan konsep kas selama periode laporan.
5. Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas Laporan Keuangan Merupakan laporan yang berisi catatan tersendiri mengenai posisi devisa netto menurut jenis mata uang dan aktivitas lainnya.
6. Laporan Keuangan Gabungan dan Konsolidasi
Laporan gabungan merupakan laporan dari seluruh cabang-cabang bank yang bersangkutan baik yang ada di dalam negeri maupun yang di luar negeri. Sedangkan laporan konsolidasi merupakan laporan bank yang bersangkutan dengan anak perusahaannya.
2.1.3 Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan merupakan suatu teknik analisa yang dalam banyak hal mampu memberikan petunjuk atau indikator atau gejala-gejala yang timbul di sekitar kondisi yang melingkupinya. Analisa laporan keuangan yang dihitung dan diinterpretasikan secara tepat akan mampu menunjukan aspek-aspek dimana penilaian dan evaluasi lebih lanjut harus dilakukan.
Menurut Harahap (2002), pengertian analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut:“Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data non kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat.”
Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa analisis laporan keuangan digunakan sebagai alat untuk membantu dalam pengambilan keputusan, dan dalam analisis ini, laporan keuangan digunakan sebagai sumber informasi. Analisis laporan keuangan membantu untuk mendapatkan pengertian yang lebih baik tentang keadaan keuangan perusahaan. Para pengambil keputusan memerlukan informasi-informasi yang tepat dan relevan sebelum keputusan diambil, dan informasi dalam bentuk “mentah” sering tidak menunjukan hubungan-hubungan yang penting.
Menurut Harahap (2004), analisis laporan keuangan bertujuan untuk 1. Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam daripada
yang terdapat dari laporan keuangan biasa.
2. Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata (explicit) dari suatu laporan keuangan atau yang berada di balik laporan keuangan (implicit).
3. Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
4. Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen intern laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari luar perusahaan.
5. Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-model dan teori yang terdapat di lapangan seperti untuk memprediksi, peningkatan (rating).
6. Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil keputusan.
7. Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut kriteria tertentu yang sudah dikenal dalam dunia bisnis.
8. Dapat membandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain dengan periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau standar ideal.
9. Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami perusahaan, baik posisi keuangan, hasil usaha, struktur keuangan, dan sebagainya.
10. Dapat memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan di masa yang akan datang.
Dalam mengadakan interpretasi dan analisis laporan keuangan suatu perusahaan seorang analisis memerlukan adanya ukuran tertentu yang sering digunakan adalah rasio.
Menurut Harahap (2004): “Rasio keuangan adalah angka-angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (berarti).”
Menurut pandji Anoraga dan Pakarti (2008) Rasio Profitabilitas merupakan, menunjukan kemampuan dari perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Menurut Darsono dan Ashari (2005) Rasio Profitabilitas meliputi: GPM (Gross Profit Margin), NPM (Net Profit Margin), ROA (Return to Total Asset), ROE (Return On Equity), EPS (Earning Per Share), Payout Ratio, Retention Ratio, Produktivity Ratio. Di antara rasio- rasio yang termasuk dalam rasio profitabilitas Peneliti hanya mengambil satu di antaranya yaitu ROA (Retun On Asset) rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dari setiap satu rupiah aset yang di gunakan. Dengan menggunakan rasio ini, kita bisa
menilai apakah perusahaan ini efisien dalam memanfaatkan aktivanya dalam kegiatan operasional perusahaan.
Menurut pandji Anoraga dan Pakarti (2008), Rasio Profitabilitas merupakan menunjukan kemampuan dari perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.
Menurut Darsono dan Ashari (2005) Rasio Profitabilitas meliputi:
GPM (Gross Profit Margin), NPM (Net Profit Margin), ROA (Return to Total Asset), ROE (Return On Equity), EPS (Earning Per Share), Payout Ratio, Retention Ratio, Produktivity Ratio. Diantara rasio-rasio tersebut maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan ROA (Return to Total Asset) sebagai variabel X1dan ROE (Return On Equity) sebagai variabel X2.
2.1.4 ROA (Return On Asset)
Menurut Darsono dan Ashari (2005), ROA (Return On Asset) Merupakan rasio antara laba bersih setelah pajak (earning after tax) terhadap total asset. Return On Asset menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari nilai aktiva. Rasio ini sangat penting, mengingat keuntungan yang memadai diperlukan untuk mempertahankan sumber-sumber modal bank.
Menurut Lestari dan Sugiharto (2007) ROA adalah rasio yang digunakan untuk mengukur keuntungan bersih yang diperoleh dari penggunaan aktiva. Dengan kata lain, semakin tinggi rasio ini maka semakin baik produktivitas asset dalam memperoleh keuntungan bersih.
Hal ini selanjutnya akan meningkatkan daya tarik perusahaan kepada investor. Peningkatan daya tarik perusahaan menjadikan perusahaan tersebut makin diminati investor, karena tingkat pengembalian akan semakin besar. Hal ini juga akan berdampak bahwa harga saham dari perusahaan tersebut di Pasar Modal juga akan semakin meningkat sehingga ROA akan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan.
Angka ROA dapat dikatakan baik apabila > 2%. Return On Assets menunjukkan seberapa banyak laba bersih yang bisa diperoleh dari seluruh kekayaan yang dimiliki perusahaan, karena itu dipergunakan angka laba setelah pajak dan (rata-rata) kekayaan perusahaan.
Rumus :
= ℎ ℎ
× 100%
Jika dihubungkan antara keuntungan yang diperoleh dari operasi perusahaan dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan tersebut, maka jika ROA semakin tinggi menunjukkan bahwa kinerja perusahaan semakin baik, karena laba meningkat, maka investor akan memperoleh keuntungan yang diterima dari deviden akan semakin meningkat. Dengan demikian maka akan menjadi daya tarik bagi pemegang saham maupun calon investor untuk menanamkan dananya ke dalam perusahaan tersebut. Dengan banyaknya investor yang menginginkan saham perusahaan tersebut, sehingga berdampak pada kenaikan harga saham.
2.1.5 ROE (Return On Equity)
Menurut Ciaran Walsh (2003), ROE (Return On Equity) Rasio ini bisa dikatakan sebagai rasio yang paling penting dalam keuangan perusahaan.
ROE mengukur pengembalian absolut yang akan diberikan perusahaan kepada para pemegang saham. Suatu angka ROE yang bagus akan membawa keberhasilan bagi perusahaan, yang mengakibatkan tingginya harga saham dan membuat perusahaan dapat dengan mudah menarik dana baru. Hal itu juga akan memungkinkan perusahaan untuk berkembang, menciptakan kondisi pasar yang sesuai, dan pada gilirannya akan memberikan laba yang lebih besar, dan seterusnya. Semua hal tersebut dapat menciptakan nilai yang tinggi dan pertumbuhan yang berkelanjutan atas kekayaan para pemiliknya.
Rasio ini menggunakan hubungan antara keuntungan setelah pajak dengan modal sendiri yang digunakan perusahaan. Yang dianggap modal sendiri adalah saham biasa, agio saham, laba ditahan, saham preferen dan cadangan-cadangan lain. Melihat hubungan-hubungan itu, Return On Equity tidak lain adalah rentabilitas ekonomi. Bagi perusahaan pada umumnya masalah rentabilitas adalah lebih penting daripada masalah laba, karena laba yang besar saja belumlah merupakan ukuran bahwa perusahaan itu telah bekerja dengan efisien (Riyanto, 1993).
ROE memberikan indikasi bahwa pengembalian yang akan diterima investor akan tinggi sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham tersebut, dan hal itu menyebabkan harga pasar saham cendrung naik.
Menurut Lestari Menurut Harahap (2007) ROE digunakan untuk mengukur besarnya pengembalian terhadap investasi para pemegang saham. Angka tersebut menunjukkan seberapa baik manajemen memanfaatkan investasi para pemegang saham. ROE diukur dalam satuan persen. Tingkat ROE memiliki hubungan yang positif dengan harga saham, sehingga semakin besar ROE semakin besar pula harga pasar, karena besarnya dan Sugiharto (2007) ROE adalah rasio yang digunakan untuk mengukur keuntungan bersih yang diperoleh dari pengelolaan modal yang diinvestasikan oleh pemilik perusahaan. ROE diukur dengan perbandingan antara laba bersih dengan total modal. Angka ROE yang semakin tinggi memberikan indikasi bagi para pemegang saham bahwa tingkat pengembalian investasi makin tinggi. Menurut Lestari dan Sugiharto (2007) angka ROE dapat dikatakan baik apabila > 12%.
Salah satu alasan utama perusahaan beroperasi adalah menghasilkan laba yang bermanfaat bagi para pemegang saham, ukuran dari keberhasilan pencapaian alasan ini adalah angka ROE berhasil dicapai. Semakin besar ROE mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi pemegang saham.
Rumus :
= Laba Bersi Setelah Pajak
+ × 100
2.1.6 Harga Saham
Menurut Jogiyanto, (2010) Saham adalah surat berharga sebagai bukti penyertaan atau kepemilikan individu maupun institusi dalam suatu perusahaan. Pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual/beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek di antara mereka yaitu merupakan bursa efek (stock exchange). Suatu perusahaan dapat menjual hak kepemilikannya dalam bentuk saham (stock). Jika perusahaan hanya mengeluarkan suatu kelas sahm saja, saham ini disebut dengan saham biasa common stock. Untuk menarik investor potensial lainnya, suatu perusahaan mungkin juga mengeluarkan kelas lain dari saham, yaitu yang disebut dengan saham preferen (preferred stock). Saham preferen mempunyai hak-hak prioritas dari saham preferen yaitu hak atas deviden yang tetap dan hak terhadap aktiva jika terjadi likuidasi. Akan tetapi, saham preferen umumnya tidak mempunyai hak veto seperti yang dimiliki oleh saham biasa. Pemegang saham adalah pemilik perusahaan yang berhak atas aktiva perusahaan dan bertanggung jawab atas hutang – hutang perusahaan. Saham yang telah beredar di masyarakat dapat berpindah tangan melalui pasar sekunder, pasar sekunder di Indonesia adalah Bursa Efek Indonesia (BEI) Dan Bursa Efek Surabaya ( BES ).
Pengertian harga saham menurut Jogiyanto ( 2000), adalah :“Harga saham yang terjadi dipasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh
pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan dipasar modal”.
Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2006), Selembar saham mempunyai nilai atau harga dan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
1. Harga Nominal
Harga nominal merupakan nilai yang tertera pada lembaran surat saham yang besarnya ditentukan dalam Anggaran Dasar Perusahaan.
Harga nominal sebagian besar merupakan harga dugaan yang rendah, yang secara arbitrer dikenakan atas saham perusahaan. Harga ini berguna untuk menentukan harga saham biasa yang dikeluarkan.
Besarnya harga nominal memberikan arti penting saham karena dividen minimal biasanya ditetapkan berdasarkan nilai nominal.
2. Harga Perdana
Harga ini merupakan pada waktu harga saham tersebut dicatat dibursa efek. Harga saham pada pasar perdana biasanya ditetapkan oleh penjamin emisi (underwriter) dan emiten. Dengan demikian akan diketahui berapa harga saham emiten itu akan dijual kepada masyarakat biasanya untuk menentukan harga perdana.
3. Harga Pasar
Harga ini merupakan harga yang ditetapkan di Bursa Saham (Stock Exchange) bagi saham perusahaan publik, atau estimasi harga untuk perusahaan yang tidak memiliki saham. Dalam bursa saham, angka ini berubah setiap hari sebagai respons terhadap hasil aktual atau yang
diantisipasi dan sentiment pasar secara keseluruhan atau sektoral sebagaimana tercermin dalam indeks Bursa Saham. Hal itu juga menunjukkan bahwa tujuan utama manajemen adalah menjamin harga sebaik mungkin dalam kondisi apapun.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa harga saham akan terbentuk dari adanya transaksi yang terjadi di pasar modal yang ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan dengan dipengaruhi oleh beberapa factor.
Menurut Arifin (2001) faktor – faktor yang mempengaruhi harga saham adalah sebagai berikut:
a. Kondisi fundamental emiten
Faktor fundamental merupakan faktor yang erat kaitannya dengan kondisi perusahaan yaitu kondisi manajemen organisasi sumber daya manusia, kondisi keuangan perusahaan yang tercermin dalam kinerja keuangan perusahaan.
b. Hukum permintaan dan penawaran
Setelah faktor fundamental faktor permintaan dan penawaran menjadi faktor kedua yang mempengaruhi harga saham. Dengan asumsi bahwa begitu investor mengetahui kondisi fundamental perusahaan mereka akan melakukan transaksi jual beli. Tranasaksi–transaksi inilah yang akan mempengaruhi fluktuasi harga saham.
c. Tingkat suku bunga
Dengan adanya perubahan suku bunga, tingkat pengembalian hasil berbagai sarana investasi akan mengalami perubahan. Bunga yang tinggi akan berdampak pada alokasi dana investasi pada investor. Investor produk bank seperti deposito atau tabungan jelas lebih kecil resikonya jika dibandingka dengan investasi dalam bentuk saham, karena investor akan menjual saham dan dananya akan ditempatkan dibank. Penjualan saham secara serentak akan berdampak pada penurunan harga saham secara signifikan.
d. Valuta asing
Mata uang amerika (Dollar) merupakan mata uang terkuat diantara mata uang yang lain. Apabila dolar naik maka investor asing akan menjual sahamnya dan ditempatkan dibank dalam bentuk dolar sehingga menyebabkan harga saham akan naik.
e. Dana asing dibursa
Mengamati jumlah dana investasi asing merupakan hal yang penting, karena demikian besarnya dana yang ditanamkan, hal ini menandakan bahwa kondisi investasi di Indonesia telah kondusif yang berarti pertumbuhan ekonomi tidak lagi negatif, yang tentu saja akan merangsang kemampuan emiten untuk mencetak laba. Sebaliknya jika investasi asing berkurang, ada pertimbagan bahwa mereka sedang ragu atas negeri ini, baik atas keadaan sosial politik maupun keamanannya.
Jadi besar kecilnya investasi dana asing di bursa akan berpengaruh pada kenaikan atau penurunan harga saham.
f. Indeks harga saham
Kenaikan indeks harga saham gabungan sepanjang waktu tertentu, tentunya mendatangkan kondisi investasi dan perekonomian negara dalam keadaan baik. Sebaliknya jika turun berarti iklim investasi sedang buruk. Kondisi demikian akan mempengaruhi naik atau turunnya harga saham di pasar bursa.
g. News and rumors
Berita yang beredar di masyarakat yang menyangkut beberapa hal baik itu masalah ekonomi, sosial, politik keamanan, hingga berita seputar reshuffle kabinet. Dengan adanya berita tersebut, para investor bisa memprediksi seberapa kondusif keamanan negeri ini sehingga kegiatan investasi dapat di laksanakan. Ini akan berdampak pada pergerakan harga saham di bursa.
Menurut Husnan (1998), analisis fundamental mencoba memperkirakan harga saham dimasa yang akan datang dengan:
1. Mengestimasi nilai faktor–faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan datang.
2. Menetapkan hubungan variabel–variabel tersebut sehingga di peroleh taksiran harga saham. Model ini sering disebut sebagai share price forecasting dan sering digunakan dalam berbagai pelatihan analisis sekuritas. Dalam model ini langkah yang paling
penting adalah mengidentifikasi faktor–faktor fundamental yang diperkirakan akan mempengaruhi harga saham. Faktor yang dianalisis merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi perusahaan, yang meliputi kondisi manajemen, organisasi, SDM, dan keuangan perusahaan yang tercermin dalam kinerja perusahaan. Menurut Jogiyanto (1998) analisis fundamental merupakan analisis yang menggunakan data–data finansial yaitu data–data yang berasal dari laporan keuangan perusahaan, seperti laba, deviden yang dibagi dan sebagainya. Dengan demikian untuk menganalisis harga saham digunakan analisis fundamental. Analisis fundamental merupakan analisis yang berkaitan dengan kondisi internal perusahaan.
2.1.7 Pengaruh ROA dan ROE Terhadap Harga Saham
Menurut Kasmir (2003), ROA (Return on Assets) merupakan rasio untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menghasilkan laba dengan memanfaatkan aktiva yang dimiliki. Tinggi rendahnya ROA juga akan mempengaruhi harga saham. ROA yang tinggi berarti rasio profitabilitas juga tinggi, yang berarti bank sukses dalam menghasilkan laba. Laba yang tinggi berarti menjadi bukti investor mendapatkan tingkat pengembalian yang semakin besar yang sehingga para calon investor dapat memilih berinvestasi di PT ULTRAJAYA MILK INDUSTRY Tbk.
Sebaliknya ROA yang rendah berarti profitabilitas perusahaan juga rendah
dan rendahnya profitabilitas berarti perusahaan kurang sukses dalam menghasilkan laba. Laba yang rendah berarti bukti para investor tidak tertarik berinvestasi pada perusahaan tersebut.
ROE (Return On Equty) merupakan rasio laba bersih setelah pajak (earning after tax) setelah dikurangi deviden saham preferen terhadap modal sendiri. Karena rasio ini digunakan untuk menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal sendiri
Oleh karena itu adalah wajar jika investor akan tertarik terhadap suatu saham yang memberikan return atau keuntungan yang besar. Jadi rasio ini sering dipakai oleh para investor dalam pengambilan keputusan pembelian saham suatu perusahaan. Jika rasio ini nilainya semakin optimal penggunaan modal sendiri suatu perusahaan dalam menghasilkan laba dan peningkatan laba berarti terjadi pertumbuhan dalam perusahaan.
Semakin tinggi laba berarti semakin ingin saham tersebut diinginkan untuk dibeli. Sehingga akan menyebabkan permintaan akan meningkat dan selanjutnya harga saham akan naik. Dengan demikian ROE akan mempengaruhi perubahan harga. Hal tersebut berpengaruh terhadap perubahan harga. Menurut Edi Subiyantoro dan Fransisca.
2.1.8 Penelitian Terdahulu
Ada beberapa penelitian terdahulu yang diambil peneliti dalam penelitian ini:
Risqol Maula, Penilaian tentang kinerja perbankan tentunya memberikan dampak terhadap harga saham yang dikeluarkan pada tiap
perusahaan perbankan, saham merupakan salah satu instrument pasar modal yang mendorong perkembangan pasar modal Indonesia, penelitian ini bertujuan untuk mengtahui pengaruh kinerja keuangan yang dalam hal ini Cash Ratio, Return On Assets dan Capital Adequacy Ratio terhadap harga saham perbankan yang masuk dalam penghitungan Indeks LQ45 pada periode 2005-2009. Dalam penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan populasi sebanyak 9 perusahaan yang kemudian dengan menggunakan metode purposive sampling diperoleh sampel sebanyak 3 perusahaan yaitu Bank CIMB Niaga (BNGA), Bank International Indonesia (BNII) dan Bank Danamon (BDMN), variable pada penelitian ini terdiri dari Variabel bebas dalam hal ini Cash Ratio, Return On Assets dan Capital Adequacy Ratio, dan Variabel terikat yaitu Harga saham, pengujiannya dilakukan dengan Regresi Linear Berganda dengan mempertimbangkan tiga asumsi klasik, yaitu, Heteroskedasitas, Multikolinearitas dan Normalitas.
Dari Hasil Analisis di dapat niali Fhitung BNGA sebesar 5,947 >
Ftabel 0,389, BNII sebesar 0,740 > 0,389 dan BDMN sebesar 307.021 >
0,398 dengan level of Signifikan 5% dan membuktikan bahwa secara simultan variable Independent dalam penelitian ini mampu menjelaskan perubahan harga saham BNGA sebesar 78,8,%, BNII sebesar -24,2% dan BDMN sebesar 99,6%, sedangkan secara parsial hanya variable Cash ratio yang mempunyai pengaruh yang Signifikan terhadap harga saham
perbankan yang masuk dalam penghitungan Indeks LQ45, akan tetapi variabel Independent yang lainnya tidak berpengaruh.
Dian Novita, Analisis Pengaruh ROA, ROE, NPM dan Inflasi Terhadap Harga Saham pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2005-2009. Sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, yang didapat melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengambilan data di website Bursa Efek Indonesia.
Dalam penelitian ini digunakan alat analisis regresi berganda dengan bantuan alat analisis komputerisasi. Pengolaha data yang dilakukan antara lain: uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, uji autokorelasi, uji regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) ROA tidak berpengaruh terhadap harga saham, (2) ROE tidak berpengaruh terhadap harga saham, (3) NPM tidak berpengaruh terhadap harga saham, (4) Inflasi tidak berpengaruh terhadap harga saham, (5) Secara simultan variabel independen ROA, ROE, NPM, dan INFLASI secara bersama-sama berpengaruh terhadap harga saham.
Ringkasan penelitian terdahulu yang diambil peneliti dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 2.1 dibawah ini:
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu No. Judul Penelitian Peneliti
(Tahun)
Metode
Statistik Hasil Penelitian
1
Pengaruh Cash Ratio, Return On Asset dan capital Adequacy Ratio terhadap Harga Saham Perbankana yang masuk dalam Perhitungan Indrks LQ45.
Risqol Maula (2010)
Analisis Regresi Linear Berganda
Cash ratio,
Return On assets dan Capital Adequacy Ratio berpengaruh Signifikan
terhadap harga saham.
2
Analisis pengaruh ROA, NPM, dan inflasi terhadap Harga Saham pada Perusahaan makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2005-2009
Dian Novita (2011)
Analisis Regresi Berganda
Secara simultan variabel independen ROA, ROE, NPM, dan INFLASI secara bersama-sama
berpengaruh terhadap harga saham.
2.1.9 Kerangka Pemikiran
Kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting Sugiyono (2010).
Adapun kerangka pikir peneliti dalam penelitian ini dinyatakan dalam bentuk skema sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Analisis yang dilakukan terhadap laporan keuangan akan mengarahkan kepada penarikan kesimpulan tentang kondisi keuangan perusahaan. Dalam hal ini sesuai tabel fenomena dari data ROA, ROE dan Harga Saham di atas maka peneliti menarik kesimpulan bahwa ROA adalah rasio yang digunakan untuk mengukur keuntungan bersih yang diperoleh dari penggunaan aktiva. Dengan katalain, semakin tinggi rasio
Fenomena ROA (Return On assets),ROE (Return On Equity) dan Harga Saaham pada tahun 2008-2012 pada PT Ultrajaya Milk
Industry, Tbk.
Dasar Teori
ROA (Return On assets,ROE (Return On Equity) dan Harga Saaham pada tahun 2008-2012 pada PT Ultrajaya Milk Industry, Tbk.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
ROA (Return On assets) dan ROE (Return On Equity)
Pengujian Hipotesis
Pembahasan
Penelitian Terdahulu
ini maka semakin baik produktivitas asset dalam memperoleh keuntungan bersih. Hal ini selanjutnya akan meningkatkan daya tarik perusahaan kepada investor. Peningkatan daya tarik perusahaan menjadikan perusahaan tersebut makin diminati para investor, karena tingkat pengembalian akan semakin besar. Hal ini juga akan berdampak bahwa Harga Saham dari perusahaan tersebut di Pasar Modal juga akan semakin meningkat sehingga ROA akan berpengaruh terhadap Harga Saham perusahaan.
Terkait dengan ROE (Return On Equity) dan harga saham bahwa hal ini kontradiktif dengan teorinya Menurut Edi Subiyantoro dan Fransisca yang mengatakan bahwa: ROE (Return On Equty) merupakan rasio laba bersih setelah pajak (earning after tax) setelah dikurangi deviden saham preferen terhadap modal sendiri. Karena rasio ini digunakan untuk menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal sendiri. Oleh karena itu adalah wajar jika investor akan tertarik terhadap suatu saham yang memberikan return atau keuntungan yang besar. Jadi rasio ini sering dipakai oleh para investor dalam pengambilan keputusan pembelian saham suatu perusahaan. Jika rasio ini nilainya semakin optimal penggunaan modal sendiri suatu perusahaan dalam menghasilkan laba dan peningkatan laba berarti terjadi pertumbuhan dalam perusahaan.
Semakin tinggi laba berarti semakin ingin saham tersebut diinginkan untuk dibeli. Sehingga akan menyebabkan permintaan akan meningkat dan selanjutnya harga saham akan naik. Dengan demikian ROE akan
mempengaruhi perubahan harga. Hal tersebut berpengaruh terhadap perubahan harga.
2.1.10 Hipotesis
Dalam penelitian ini peneliti membuat hipotesis, yaitu bahwa ROA (Return On Assets) dan ROE (Return On Equity) dapat berpengaruh terhadap Harga Saham pada PT Ultrajaya Milk Industry, Tbk Periode tahun 2008 sampai dengan 2012.