PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan merupakan sumber daya alam yang menyimpan berbagai potensi yang kini gangguannya semakin meluas. Kebakaran hutan merupakan salah satu bentuk gangguannya. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan cukup besar mencakup kerusakan ekologis, menurunnya keanekaragaman hayati, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas tanah, perubahan iklim mikro maupun global, dan asapnya mengganggu kesehatan masyarakat Indonesia bahkan negara lain karena asapnya melintasi batas negara. Kebakaran hutan juga mengganggu transportasi baik darat, sungai, danau, laut dan udara. Hal ini disampaikan oleh Direktotar Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam pada tahun 2003.
Asap tebal dari kebakaran hutan berdampak negatif karena dapat mengganggu kesehatan masyarakat terutama gangguan saluran pernapasan. Selain itu asap tebal juga mengganggu transportasi khususnya tranportasi udara disamping transportasi darat, sungai, danau, dan laut.
Dampak lainnya adalah kerusakan hutan setelah terjadi kebakaran dan hilangnya margasatwa. Hutan yang terbakar berat akan sulit dipulihkan, karena struktur tanahnya mengalami kerusakan. Hilangnya tumbuh-
tumbuhan menyebabkan lahan terbuka, sehingga mudah tererosi, dan tidak dapat lagi menahan banjir.
Penyebab kebakaran hutan sampai saat ini masih menjadi topik perdebatan, apakah karena alami atau karena kegiatan manusia. Namun berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama kebakaran hutan adalah faktor manusia yang berawal dari kegiatan atau permasalahan-permasalahan seperti sistem perladangan tradisional dari penduduk setempat yang berpindah-pindah, pembukaan hutan oleh para pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk industri kayu maupun perkebunan kelapa sawit dan permasalahan yang terakhir adalah penyebab struktural yaitu kombinasi antara kemiskinan, kebijakan pembangunan dan tata pemerintahan, sehingga menimbulkan konflik antar hukum adat dan hukum positif negara.
Upaya pencegahan telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini, diantaranya yaitu memantapkan kelembagaan dengan membentuk Sub Direktorat Kebakaran Hutan dan Lembaga non struktural, melengkapi perangkat lunak berupa petunjuk teknis pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan, melengkapi perangkat keras berupa peralatan pencegah dan pemadam kebakaran hutan, melakukan pelatihan pengendalian kebakaran hutan bagi aparat pemerintah, tenaga BUMN dan perusahaan kehutanan serta masyarakat sekitar hutan, pengadaan kampanye dan penyuluhan melalui berbagai Apel Siaga pengendalian kebakaran hutan,
Transmigrasi), Kanwil Dephut, dan jajaran Pemda oleh Menteri Kehutanan dan Menteri Negara Lingkungan Hidup dan dalam setiap persetujuan pelepasan kawasan hutan bagi pembangunan non-kehutanan, selalu disyaratkan pembukaan hutan tanpa bakar. (Soemarsono, 1997)
Namun, dari semua upaya pencegahan itu belom dapat dilaksanakan secara maksimal karena adanya keterbatasan di setiap upayanya mulai dari SDM dan SDA. Pencegahan lebih awal diperlukan pula teknologi yang lebih baik dalam mengidentifikasi titik api atau yang dalam istilah kehutanan disebut hotspot. Pelacakan dan pemetaan titik api akan lebih baik jika ditunjang dengan program yang baik pula. Pelacakan titik api dilakukan oleh satelit NOAA-18.
Permasalahan lain yang dihadapi adalah Dinas Kehutanan Provinsi di Indonesia hanya menerima koordinat letak titik api tanpa dipetakan dengan detail. Padahal, pemetaan titik api dalam sebuah peta secara detail akan mampu memudahkan dalam upaya pencegahan dan perlindungan hutan dan lahan. Salah satu Dinas Kehutanan Provinsi yang mengalami masalah terebut adalah Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat. Provinsi Kalimantan Barat tentu termasuk dalam salah satu provinsi di Indonesia yang mengalami kebakaran hutan yang cukup banyak dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir. Tentu dengan adanya aplikasi yang dapat memetakan titik api dalam data spasial akan mampu membantu upaya pencegahan dan penanganan lebih dini.
1.2 Ruang Lingkup
Ruang lingkup pembahasan pada pembuatan aplikasi Sistem Informasi Geografi berbasis web untuk masalah persebaran titik api (hotspot) yaitu memberikan informasi mengenai pemantauan penyebaran titik api di suatu wilayah. Aplikasi berbasis web tersebut menampilkan laporan yang disesuaikan kebutuhan pengguna.
Ruang lingkup penelitian dibatasi pada:
1. Pemaparan data spasial dan non-spasial yang diperoleh dari Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat.
a. Pemetaan titik api di Provinsi Kalimantan Barat setiap bulan pada tahun 2011.
b. Pemetaan titik api di Provinsi Kalimantan Barat pada setiap kabupaten dan kecamatan.
c. Pemetaan titik api di Provinsi Kalimantan Barat berdasarkan vegetasinya.
2. Pemetaan batas-batas wilayah administrasi berdasarkan peta Provinsi Kalimantan Barat.
1.3 Tujuan dan Manfaat
Dalam sub-bab ini akan dibahas mengenai tujuan dan manfaat penyusunan skripsi ini.
1.3.1 Tujuan
Tujuan yang ingin diperoleh dari skripsi ini sebagai berikut:
1. Menganalisis sistem infomasi di Dinas Kehutanan yang berkaitan dengan persebaran titik api (hotspot) melalui data-data yang telah ada serta memberikan laporan secara berkala dalam kurun waktu tahun 2011 guna membantu pengambilan keputusan dalam pengendalian dan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Kalimantan Barat.
2. Merancang database Sistem Informasi Geografis yang terintegrasi.
3. Merancang aplikasi berbasis web mengenai pemantauan penyebaran titik api (hotspot) di suatu wilayah yang dapat diakses oleh masyarakat umum.
1.3.2 Manfaat
Manfaat yang ingin dicapai adalah:
1. Bagi Dinas Kehutanan Kalimantan Barat: membantu Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat untuk mengambil keputusan yang tepat dan cepat dalam pengendalian dan penanganan kebakaran hutan dan lahan.
2. Bagi masyarakat umum: memberikan informasi mengenai persebaran titik api agar masyarakat Kalimantan Barat dapat berperan aktif dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan sejak dini.
1.4 Metodologi Penelitian 1.4.1 Metode Analisis
Analisis dilakukan dengan tujuan mengetahui kebutuhan informasi pengguna. Dengan demikian, akan diketahui informasi-informasi
mana sajakah yang diperlukan sehingga informasi yang diberikan oleh aplikasi ini tidak akan sia-sia.
1. Studi literatur
Studi literatur dilakukan dengan membaca, mempelajari, meringkas, dan menyimpulkan informasi yang diperoleh dari buku-buku referensi, majalah, jurnal, maupun hasil penelitian lain yang berkaitan dengan aplikasi yang akan dibuat.
2. Pencarian fakta
Pencarian fakta adalah suatu proses formal penggunaan teknik-teknik tertentu untuk mengumpulkan fakta yang ada di lapangan.
Teknik pencarian fakta yang digunakan yaitu:
a. Wawancara adalah teknik pencarian fakta dengan cara melakukan tatap muka langsung dengan narasumber yang ingin dimintai keterangan. Teknik ini sering digunakan karena informasi yang didapat lebih dapat dipercaya. Wawancara dilakukan untuk menyelidiki dan mengklarifikasikan fakta serta mengidentifikasi kebutuhan pengguna. Wawancara dilakukan terhadap pihak Dinas Kehutanan Kalimantan Barat untuk mendapatkan penjelasan langsung mengenai berbagai informasi tentang kebutuhannya.
b. Penelusuran dokumentasi dilakukan untuk mencari data dari dokumen dan catatan yang dimiliki oleh pihak terkait. Data yang diperoleh akan dikumpulkan untuk menambah informasi yang dibutuhkan dalam membangun Sistem Informasi Geografis.
1.4.2 Metode Perancangan
Dalam sub-bab ini akan dibahas mengenai metode perancangan database dan metode perancangan aplikasi.
1.4.2.1 Metode Perancangan Database
Metode perancangan database yang digunakan untuk penyusunan skripsi ini adalah metode Database Application Life Cycle yang meliputi:
a. Database Planning b. System Definition
c. Requirements collection and analysis d. Database Design
1. Perancangan Conceptual Database 2. Perancangan Logical Database 3. Perancangan Physical Database e. DBMS Selection
f. Application Design g. Prototyping
h. Implementation
i. Data Conversion and Loading j. Testing
k. Operational Maintenance
1.4.2.2 Metode Perancangan Aplikasi
Metode perancangan aplikasi yang digunakan untuk penyusunan skripsi ini adalah metode SDLC (System Development Life Cycle), di mana
metode SDLC lebih difokuskan pada pendekatan waterfall. Yang dimana pendekatan ini terdiri dari:
1. Requirements Definition 2. System and software design 3. Implementation and unit testing 4. Integration and system testing 5. Operation and maintenance
1.5 Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pemahaman, maka secara keseluruhan penulisan skripsi ini dibagi menurut sistematika sebagai berikut:
BAB 1: PENDAHULUAN
Bab ini memberikan penjelasan singkat mengenai latar belakang permasalahan dalam penulisan skripsi, ruang lingkup masalah yang dibahas, tujuan dan manfaat penulisan skripsi, penggunaan metodologi, dan sistematika penulisan skripsi.
BAB 2: LANDASAN TEORI
Menguraikan teori umum yang memiliki relevansi untuk dijadikan landasan atau dasar penelitian. Teori tersebut diperoleh dari berbagai sumber dan merupakan hasil penelitian kepustakaan.
BAB 3: ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM
Menerangkan analisis dan perancangan sistem yang dibangun,
masalah, analisis data, perancangan basis data, perancangan Data Flow Diagram, perancangan State Transaction Diagram, serta perancangan layar dan menu.
BAB 4: IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Menerangkan kebutuhan perangkat keras dan perangkat lunak, menunjukkan hasil perancangan, serta evaluasi sistem.
BAB 5: SIMPULAN DAN SARAN
Merupakan bagian penutup yang berisikan kesimpulan dari seluruh penelitian yang telah dilakukan, disertai oleh beberapa saran dari penulis yang diharapkan dapat bermanfaat bagi penelitian di masa mendatang.