BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sharah Shoes merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang pembuatan sepatu wanita dan pria yang hanya melayani penjualan barang secara tunai. Proses produksi dilakukan berdasarkan pesanan dan untuk memenuhi stok.
Sharah Shoes tidak hanya menerima pesanan dengan jumlah banyak tetapi juga menerima pesanan satuan. Namun untuk pesanan satuan harga yang dikenakan akan lebih mahal dibandingkan dengan pesanan dengan jumlah banyak (partai). Data tahun 2017 menunjukkan jika harga partai Rp100.000,- maka harga satuan bisa mencapai Rp130.000,-. Dalam satu bulan Sharah Shoes dapat memproduksi kurang lebih 1.500 pasang sepatu. Lama proses produksi untuk pesanan satuan kurang lebih dua hari sedangkan pesanan partai paling lama satu minggu.
Proses produksi di Sharah Shoes terdapat empat bagian. Bagian pertama yaitu pembuatan pola yang dikerjakan oleh satu orang karyawan. Pembuatan pola dilakukan ketika dibutuhkan saja saat terdapat pola baru. Selanjutnya bagian upper yang dikerjakan oleh empat orang karyawan. Bagian upper mengerjakan bagian atas sepatu dengan bahan baku yang sudah ditentukan. Pengerjaan bagian upper dibantu menggunakan mesin jahit. Pembelian bahan baku pada Sharah Shoes dilakukan tidak berdasarkan pesanan, tetapi juga untuk memenuhi stok persediaan bahan baku.
Bahan baku utama yang digunakan oleh Sharah Shoes adalah sintesis, kulit dan kain, sedangkan bahan penolong yang digunakan oleh perusahaan antara lain karet, fiber, plastik, lem, paku, amplas, benang, solek, tekson besi, spon/ busa latek, renda dan aksesoris sepatu lainnya.
Setelah bagian upper dikerjakan kemudian dilanjutkan ke bagian sol. Pembuatan sol
dikerjakan oleh empat orang karyawan menggunakan mesin gurinda yang berfungsi
untuk menghaluskan sol. Kemudian bagian finishing yang dikerjakan oleh dua orang
kerja pada Sharah Shoes dihitung berbeda-beda berdasarkan tingkat kesulitan produk yang dipesan. Tarif biaya tenaga kerja pada tahun 2017 untuk pesanan partai tipe sepatu flat kurang lebih Rp14.000,- per pasang dan Rp20.000,- per pasang untuk tipe heels. Sedangkan tarif biaya tenaga kerja untuk pesanan satuan kurang lebih Rp20.000,- tipe sepatu flat dan Rp45.000,- tipe sepatu heels.
Berdasarkan penjelasan mengenai proses produksi yang terjadi, maka biaya produksi dan penentuan harga yang ditetapkan di setiap produk akan berbeda-beda berdasarkan tingkat kesulitan, jumlah pesanan dan bahan baku yang digunakan.
Semakin banyak jumlah produk yang dipesan maka biaya overhead yang dibebankan untuk setiap pesanan semakin besar pula. Biaya produksi dapat diklasifikasikan menjadi biaya tetap dan biaya variable. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tidak berubah walaupun terjadi perubahan volume kegiatan atau produksi dan jumlah biaya per unitnya [1]. Contoh biaya tetap pada produksi di Sharah Shoes yaitu biaya tenaga kerja bagian pola. Sedangkan biaya variable adalah biaya yang jumlah totalnya berubah secara proporsional sesuai dengan volume kegiatan atau produksi dan jumlah biaya per unitnya tidak mengalami perubahan [1]. Contoh biaya variable pada Sharah Shoes adalah biaya tenaga kerja bagian jahit, bagian sol, dan bagian finishing. Perusahaan dapat menghitung biaya produksi berdasarkan klasifikasi biaya yang terjadi dengan mempertimbangkan jumlah pesanan.
Sharah Shoes dalam menentukan harga produk masih menghitung secara manual
tanpa menggunakan metode pembiayaan. Penentuan harga produk yang tidak
sesuai akan berpengaruh terhadap perhitungan laba perusahaan, karena perusahaan
belum memperhitungan biaya-biaya yang terjadi saat proses produksi ke dalam
perhitungan harga pokok produksi. Selain itu pencatatan yang dibuat oleh Sharah
Shoes hanya pencatatan pesanan pelanggan dan tidak adanya pencatatan laporan
keuangan. Berdasarkan uraian sebelumnya, agar proses penentuan harga produk
sesuai dengan seluruh biaya produksi yang dikeluarkan maka diperlukan pencatatan
akuntansi berupa pencatatan perhitungan biaya produksi menggunakan metode
harga pokok pesanan dengan mempertimbangkan perilaku biaya.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dapat disimpulkan dari penjelasan pada latar belakang adalah sebagai berikut.
a. Bagaimana perusahaan menangani pencatatan pesanan pelanggan ?
b. Bagaimana perusahaan mengklasifikasikan perilaku biaya dalam proses produksi di setiap produk berdasarkan pesanan ?
c. Bagaimana perusahaan menentukan harga pokok produksi dengan metode harga pokok pesanan ?
d. Bagaimana perusahaan menghasilkan jurnal, buku besar, kartu biaya pesanan, harga pokok produksi, dan laba rugi ?
1.3 Tujuan
Tujuan dibuatnya proyek akhir yang menghasilkan keluaran sebuah aplikasi ini adalah sebagai berikut.
a. Aplikasi mampu menangani pencatatan pesanan pelanggan,
b. Aplikasi mampu mengklasifikasikan perilaku biaya dalam proses produksi di setiap produk berdasarkan pesanan,
c. Aplikasi mampu menentukan harga pokok produksi dengan metode harga pokok pesanan,
d. Aplikasi mampu menghasilkan jurnal, buku besar, kartu biaya pesanan, harga pokok produksi, dan laba rugi dengan metode variable costing.
1.4 Batasan Masalah
Batasan masalah pada proyek akhir ini adalah sebagai berikut.
a. Tidak mengangani pembelian bahan baku, persediaan bahan baku,
d. Tidak menangani perhitungan gaji, e. Tidak menangani pembayaran gaji, dan
f. Sisa pembayaran diasumsikan dilakukan saat proses selesai produksi.
1.5 Metode Pengerjaan
Metode pengerjaan yang digunakan pada proyek akhir ini yaitu metode Software Development Life Cycel (SDLC). Metode SDLC merupakan sebuah proses mengembangkan dan mengubah suatu sistem perangkat lunak dengan menggunakan model dan metodologi yang digunakan untuk mengembangkan sistem-sistem perangkat lunak sebelumnya [2].
SDLC memiliki beberapa model dalam penerapan tahapan prosesnya. Model yang digunakan pada proyek akhir ini yaitu model SDLC air terjun (waterfall) sering juga disebut model sekuensial linier (sequential linier) atau alur hidup klasik (classic life cycle). Model waterfall menyediakan pendekatan alur hidup perangkat lunak secara terurut dimulai dari analisis, desain, pengodean, dan pengujian. Berikut gambar dan penjelasan pada setiap tahap.
Gambar 1- 1 Metode Waterfall
a. Analisis
Analisis kebutuhan dan pengumpulan data pada penyusunan laporan proyek akhir ini dilakukan dengan metode pengamatan, wawancara dan study literature. Metode
Analisis Desain Pengodean Pengujian
Sistem / Rekayasa
Informasi
pengamatan dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung proses bisnis pada Sharah Shoes untuk mengetahui keadaan perusahaan tersebut.
Kemudian menggunakan metode wawancara yaitu dilakukan dengan mengajukan pertanyaan secara lisan kepada pemilk Sharah Shoes. Terakhir menggunakan metode study literatur yaitu dengan melakukan pencarian informasi yang berkaitan dengan penyusunan proyek akhir melalui sumber buku, proyek akhir sebelumnya, dan berkas lainnya. Analisis kebutuhan perangkat lunak dilakukan untuk mengumpulkan data dari perusahaan agar mengetahui keinginan user. Selain itu dilakukan perancangan sistem dengan UML yaitu usecase diagram, activity diagram, sequence diagram, dan pembuatan Entity Relationship Diagram (ERD).
b. Desain
Desain perangkat lunak adalah proses multi langkah yang fokus pada desain pembuatan program perangkat lunak termasuk struktur data, diagram relasi antar tabel, arsitektur perangkat lunak, representasi antarmuka yang dapat dibuat menggunakan Balsamiq Mockups, dan prosedur pengodean. Tahap ini mentranslasi kebutuhan perangkat lunak dari tahap analisis kebutuhan ke representasi desain agar dapat diimplementasikan menjadi program pada tahap selanjutnya.
c. Pembuatan kode Program
Proses pembuatan kode program merupakan tahap selanjutnya setelah desain. Hasil dari analisis perancangan sistem diimplementasikan ke dalam program perangkat lunak. Mengimplementasikan hasil analisis perancangan sistem ke dalam kode program menggunakan bahasa programan. Bahasa pemrograman yang digunakan pada proyek akhir ini yaitu PHP, sedangkan untuk pengolahan data menggunakan Mysql. Hasil dari pembuatan kode program adalah program komputer.
d. Pengujian
Pengujian perangkat lunak pada proyek akhir ini menggunakan metode Black Box
Testing (BBT) dan User Acceptance Test (UAT). Metode BBT yaitu metode pengujian
yang hanya fokus pada pengujian fungsionalitas tanpa melihat kode program.
sistem. Proses pengujian dilakukan untuk meminimalisir terjadinya kesalahan (error), memastikan sistem berjalan sesuai dengan perancangan dan fungsionalitas sudah sesuai dengan kebutuhan.
1.6 Jadwal Pengerjaan
Jadwal pengerjaan proyek akhir ini dapat dilihat pada table 1-1.
Tabel 1- 1 Jadwal Pengerjaan