• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS KOMPETENSI PROFESIONAL DAN PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV ANALISIS KOMPETENSI PROFESIONAL DAN PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

42 BAB IV

ANALISIS KOMPETENSI PROFESIONAL DAN PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

MI SALAFIYAH PUCUNG KECAMATAN TIRTO KABUPATEN PEKALONGAN

A. Analisis Tentang Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam MI Salafiyah Pucung Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan

Dasar kompetensi guru adalah Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 pasal 10 ayat (1) tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada dasarnya merupakan kebijakan pemerintah yang didalamnya memuat usaha pemerintah untuk menata dan memperbaiki mutu guru di Indonesia terutama Pasal 28 ayat (3) yang menyebutkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi, pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.

(2)

Kompetensi profesional juga dapat berarti kewenangan dan kemampuan guru dalam menjalankan profesi keguruanya. Adapun yang termasuk komponen kompetensi profesional antara lain :

1. Memenuhi standar kualifikasi akademik

standar kualifikasi akademik bagi pendidik SD/MI adalah harus memilki kualifikasi minimum Diploma 4 (D4) atau sarjana(S1) dalam bidang pendidikan atau psikologi SD/MI yang diperoleh dari program studi yang terakreditasi.

Data kualifikasi akademik guru Pendidikan Agama Islam di MI Salafiyah Pucung Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan pada bab tiga halaman 35 guru Pendidikan Agama Islam MI Salafiyah Pucung Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan terdapat tiga orang guru yang belum memenuhinya. Dengan rincian 28% berijazah SLTA dengan dan 16% berijazah D2, 28% guru yang mengajar PAI tidak sesui dengan bidang pendidikanya padahal ijazah yang mereka memiliki adalah Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), selebihnya 28% guru sudah memenuhi kualifikasi dengan gelar kesarjanaan Pendidikan Agama Islam(S.Pd.I)

Dari hasil wawancara dengan Mustajab, S.Pd.I., selaku kepala Madrasah, terkait dengan kualifikasi akademik guru Pendidikan Agama Islam MI Salafiyah Pucung Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan beliau menyapaikan seperti dalam wawancara di bawah ini:

(3)

“Khususnya guru- guru yang mengajar diutamakan bagi alumni pesantren. Namun jika kita meninjau dari segi akademik, masih ada guru yang belum memenuhinya”.

Dari data tersebut dapat diketahi bahwa pihak Madrasah sebetulnya mengetahui bahwa kualifikasi akademik bagi guru formal minimal harus mempunyai standar kualifikasi akademik D4 atau sarjana(S1). Namun mengingat madrasah tersebut adalah milik pengurus Nahdlatul Ulama desa setempat pihak sekolah tetap merekrut guru Pendidikan Agama Islam meskipun tidak mempunyai ijazah sarjana pendidikan, dengan salah satu syarat adalah alumni pesantren.

2. Mampu menguasai bahan bidang studi

Penguasaan bahan bidang studi, yang dapat dilakukan dengan membaca buku- buku pelajaran, merupakan kompetensi pertama guru dan landasan pokok keterampilan mengajar.

Dari data observasi pada bab tiga halaman 32 dapat diketahui semua guru Pendidikan Agama Islam MI Salafiyah Pucung Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan sudah meeguasai materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.

Hal ini dijelaskan kepala Madrasah dalam kesempatan wawancara berikut:

“semua guru- guru PAI yang mengajar disini diutamakan bagi alumni pesantren yang lebih menguasai materi agama.”

Dari data observasi dan wawancara dengan Kepala Madrasah tersebut dapat diketahui bahwa semua guru Pendidikan Agama Islam MI

(4)

Salafiyah Pucung Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan dapat menguasai bahan bidang studi dan materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik mengingat guru PAI yang ada di MI Salafiyah Pucung Kecamatan tirto Kabupaten Pekalongan adalah alumni pesantren, bagi mereka materi agama tingkat SD/MI mudah dikuasai.

3. Mampu mengelola dan menggunakan media serta sumber belajar Pada dasarnya merupakan kemampuan guru dalam menciptakan kondisi belajar yang merangsang agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien, yaitu:

a. Mengenal, memilih, dan menggunakan media dan sumber belajar.

b. Membuat alat- alat bantu pelajaran sederhana.

c. Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam pembelajara d. Mengembangkan laboratorium.

e. Menggunakan perpustakaan dalam pembelajaran.

Dari data hasil observasi pada bab tiga halaman 32 guru Pendidikan Agama Islam MI Salafiyah Pucung Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan tidak bisa menggunakan media bantu pembelajaran yang disediakan sekolah khususnya media audio visual yang berbasis komputer seperti penggunaan komputer dan proyektor. Mereka masih menggunakan papan tulis sebagai media belajar dikelas.

Data mengenai penggunaan media pembelajaran diperoleh dari hasil wawancara para narasumber sebagai berikut:

(5)

Hasil wawancara dengan Hj. Siti Khumaidah selaku guru SKI pada tanggal 02 April 2014 dalam wawancara berikut:

“diantara kami kebanyakan belum mahir menguasai komputer apalagi menggunakan proyektor yang disediakan sekolah, hanya guru muda saja yang bisa menggunakan komputer dan proyektor karena mereka mahir menggunakanya dan itu pun jarang”

Kemudian hasil wawancara dengan kepala Madrasah Mustajab, S.Pd.I pada tanggal 10 April 2014 hasilnya sebagi berikut:

”banyak diantara guru yang masih memiliki kekurangan dalam hal kompetensi, terutama yang berkaitan dengan kompetensi profesional, ini salah satunya dapat dilihat dari cara mengajar guru yang cenderung monoton dan kurang menguasai media komputer hal ini dialami oleh teman-teman Guru PAI kecuali mereka yang mahir menggunakan komputer”

Dari data observasi dan wawancara di atas dapat diketahu bahwa belum semua guru-guru Pendidikan Agama Islam di MI Salafiyah Pucung Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan menggunakan media pembelajaran yang disediakan sekolah dalam hal ini media pembelajaran audio visual berbasis komputer. Hal ini lebih disebabkan karena mereka kurang menguasai tekhnologi sebagai media pembelajaran dengan alasan faktor usia mereka lebih tua dari guru yang lain, mereka hanya memanfaatkan papan tulis yang menurut mereka mudah digunakan

Hal ini dapat menyebabkan kebosanan bagi siswa juga bagi diri guru itu sendiri padahal dengan menguasai dan menggunakan media pembelajaran dapat membuat pembelajaran efektif, efisien dan menyenangkan. Selain itu guru juga belum memanfaatkan perpustakaan secara maksimal padahal di sekolah tersebut terdapat banyak buku-buku

(6)

agama yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar siswa.

4. Mampu mengelola kelas dan memahami karakteristik siswa

Guru harus bisa memahami karakteristik siswa, karena ia dituntut mampu memahami secara dalam tentang ciri- ciri dan perkembangan, kesulitan-kesulitan belajar siswa, seperti suka bermain, suka bekerja kelompok, cengeng dan sukar memahami penjelasan orang lain. Dengan memahami karakteristik siswa guru dapat melakukan pengelolaan kelas dengan benar sehingga guru mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi siswa.

Dari data hasil observasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam oleh guru pada bab tiga halaman 32 dapat diketahui guru Pendidikan Agama Islam MI Salafiyah Pucung Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan kurang begitu memahami karakteristik siswa karena pada saat pembelajaran banyak siswa yang ribut dan membuat gaduh meskipun pembelajaran sedang berlangsung.

Kemudian berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Baikunniyah selaku guru Fiqih pada tanggal 02 April 2014 menyatakan sebagai berikut:

“ yang pasti banyak siswa yang ribut sendiri dan akhirnya memprovokasi siswa lainya. Kadang sikap anak seperti inilah yang menjadi kesulitan tersendiri bagi guru-guru yang lain”

wawancara dengan Ismah Karimah siswa kelas V pada tanggal 05 April 2014 memper oleh data sebagi berikut:

(7)

”saya merasa guru PAI cenderung dengan cara itu-itu saja dalam meyampaikan materi pelajaran. Sehingga saya dan murid-murid lain sulit memehami materi yang disampaikan, karena kurang menarik..”

Tanggapan lain juga di sampaikan oleh salah siswi kelas VI, Vikriyatul Ulum, sebagimana berikut:

”kami kurang tertarik dengan cara guru Agama dalam mengajar, karena, biasanya dengan ceramah atau memberikan catatan, sehingga kebanyakan diantara kami merasa cepet bosan”

Dari data-data diatas dapat diketahui bahwa guru Pendidikan Agama Islam MI Salafiyah Pucung Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan kurang begitu memahami karaktristik peserta didiknya terutama pada saat pembelajaran akibatnya siswa menjadi gaduh dan rame dikelas dan akhirnya merasa bosan dengan pembelajaran. padahal dengan memahami karakter dan perubahan sikap siswa guru dapat mengetahui kesulitan-kesulitan, kekurangan guru itu sendiri. Dengan memahami karakteristik siswa pula guru dapat melakukan pengelolaan kelas dengan baik dan akhirnya kesulitan-kesulitan siswa dapat terpecahkan. Dengan demikian proses pembelajaran berjalan dengan lancar dan tujuan pembelajaran dapan tepat sasaran.

(8)

B. Analisis Tentang Upaya Peningkatan Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam MI Salafiyah Pucung Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan

Peningkatan kompetensi profesional guru dapat diartikan sebagai upaya membantu guru yang belum matang menjadi matang, yang tidak mampu mengelola sendiri dapat mengelola sendiri, yang belum memenuhi kualifikasi menjadi memenuhi kualifikasi, yang belum terakreditasi menjadi terakreditasi. Secara sederhana guru profesional adalah guru yang pada dirinya melekat kompetensi guru yang harus dimiliki baik kompetensi pedagogik, kompetensi personal, kompetensi profesional maupun kompetensi sosial sehingga proses pembelajaran berjalan dengan efektif dan efisien yang kebaikanya dapat dirasakan siswa dan dirinya sendiri.

Umumnya alat dan tehnik supervisi dapat dibedakan dalam dua macam alat atau tehnik. Tehnik yang bersifat individual, yaitu tehnik yang dilaksanakan untuk seorang guru secara individual seperti kunjungan kelas, kunjungan kelas antar guru dan menilai diri sendiri. Adapun yang dilakukan kepala sekolah dalam peningkatan kompotensi profesiaonal guru Pendidikan Agama Islam MI Salafiyah Pucung Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan dengan menggunakan tehnik yang bersifat kelompok, yaitu tehnik yang dilakukan untuk melayani lebih dari satu orang seperti Pembinaan rutin oleh Kapala Sekolah, Rapat Dinas, Kelompok Kerja Guru(KKG) dan Diklat atau penataran.

(9)

1. Upaya dari pihak sekolah

a. Pembinaan rutin kepala sekolah

Dalam wawancara dengan kepala madrasah pada tanggal 10 April 2014 dapat diperoleh wawancara sebagai berikut:

“kami rutin mengadakan pembinaan kepada seluruh guru disini sebagai bentuk evaluasi atas pembelajaran dan hal-hal lain yang dirasa perlu pembinaan”

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahu bahwa pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Adapun materi pembinaan tersebut anatara lain pembinaan dalam kehadiran guru, penggunaan metode pembelajaran yang tepat, pemanfaatan media pembelajaran yang ada dan evaluasi pembelajaran. Pembinaan tersebut difokuskan pada penggunaan media pembelajaran berbasis komputer, peningkatan dalam melakukan pengelolaan kelas dan evaluasi pembelajaran. Pembinaan ini ditujukan kepada semua guru yang ada di MI Salafiyah Pucung Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan, tidak terkecuali Guru Pendidikan Agama Islam.

b. Rapat Dinas

Kemudian dalam wawancara dengan kepala Madrasah pada tanggal 9 Maret 2014 dapat diperoleh wawancara sebagai berikut:

“Kami selaku kepala madrasah juga ada rapat-rapat yang rutin saya ikuti dengan beberapa kepala madrasah lainya di Kecamatan Tirto untuk membahas seputar permasalahan masing-masing sekolah termasuk mebahas permasalahan dalam kegiatan pengajaran”

(10)

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa rapat- rapat dinas diselenggarakan oleh kepala sekolah dalam rangka supervisi atau kepengawasan dalam pendidikan dan pengajaran.

c. Kelompok Kerja Guru (KKG)

Penulis juga melakukan wawamcara dengan Kepala Madrasah pada tanggal 10 April 2014 guna mengetahui usaha lain kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru Pendidikan Agama Islam. Hasilnya adalah sebagai berikut:

“ kami mengikut sertakan semua guru PAI dalam KKG yang diadakan oleh Kordinator Kecamatan di madrasah-madrasah yang ditunjuk agar guru dapat memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dari kegiatan tersebut mengingat PAI adalah pelajaran yang menyangkut akhlak dan prilaku”

Dari data di atas dapat diketahui KKG dan Penataran bertujuan mengembangkan pengetahuan Profesi mengajar dan menambah keterampilan guru dalam memperlengkapi kompetensi profesional mereka.

d. Diklat dan Penataran

Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah pada tanggal 10 April 2014 bahwa pihak sekolah selalu mengikut sertakan guru-guru Pendidikan Agama Islam dalam kegiatan diklat dan penataran baik yang diadakan oleh Depag maupun dari Lembaga Pendidikan Ma’arif Cabang Kabupaten Pekalongan. Hasil wawancara tersebut adalah:

“selain KKG Kami juga mengikut sertakan guru-guru PAI untuk mengikuti seminar-seminar yang diadakan oleh Depag dan Maarif cabang guna meperluas pengetahuan materi dan trampil dalam pengajaran PAI”

(11)

2. Upaya Pribadi guru Pendidikan Agama Islam MI Salafiyah Pucung Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan

Adapun upaya pribadi guru dalam usaha meningkatkan kompetensinya adalah dengan membaca buku refrensi pengajaran dan melanjutkan pendidikanya ke Perguruan Tinggi. berikut hasil wawancara penulis dengan salah satu guru yang mengajar materi Pendidikan Agama Islam pada tanggal 15 April 2014, dalam hal ini adalah pengampu pelajaran Al- Qur’an hadits kelas IV Ibu Nur Hasanah, S.Pd.SD. sebagai berikut:

“usaha pribadi kami untuk meningkatkan kemampuan profesional kami adalah membaca buku pengetahuan pembelajaran untuk menambah penguasaan dan pengetahuan dalam pengajaran kami”

Selain itu penulis juga melakukan wawancara dengan Ibu Milatina selaku guru Aqidah Akhlak kelas IV pada tanggal 15 April 2014. Hasilnya adalah sebagai berikut:

“selain kepala sekolah memberikan bimbingan kepada kami, usaha saya untuk meningkatkan kompetensi kami yaitu dengan menempuh pendidikan S-1 dan mengambil jurusan PAI”

Jadi dari hasil analisis data-data di atas dapat disimpulkan bahwa upaya Kepala Sekolah meliputi: pembinaan rutin, rapat-rapat dinas, KKG (Kelompok Kerja Guru), Diklat atau Penataran. Selain itu usaha pribadi guru yang lain dengan menempuh pendidikan S1 Jurusan Pendidikan Agama Islam dan meperdalam pengetahuan tentang pengajaran dengan membaca buku- buku refrensi yang mendukung pengajaran.

(12)

Akan tetapi kepala sekolah belum melakukan kegiatan kunjungan kelas maupun supervisi klinik agar guru lebih inovatif dan visioner sebagai supervisi yang bersifat individu. Hal ini disebabkan karena padatnya agenda dan rapat dinas lain di luar sekolah yang padat. Kemudian, Belum adanya usaha penambahan sarana dan prasarana terutama media maupun alat pembelajaran audio visual berbasis komputer yang dapat mendukung pembelajaran seperti proyektor. Hal ini dikarenakan terbatasnya dana dan biaya yang dimilki sekolah mengingat MI Salafiyah Pucung Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan adalah sekolah swasta.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk ketidaksesuaian antara jumlah material yang dikirim oleh supplier kepada pihak kontraktor dengan jumlah permintaan dari pihak kontraktor, maka dilakukan strategi

Menurut wilkinson, selain terapi keluarga dan terapi kelompok, meningkatnya tingkat depresi pada lansia di panti wredha atau penampungan-penampungan yang bersifat

pengaruh atau tidaknya Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) terhadap Return Saham perusahaan Manufaktur yang terdaftar di JII periode 2013-2015

Koefisien regresi Komite Audit (X 4 ) dengan nilai negatif yang berarti bahwa jika komite audit meningkat maka nilai perusahaan akan menurun. 2) Nilai F hitung > F

Dapatan kajian ini melaporkan mengenai isu penyelidikan berkaitan perubahan dan perkembangan budaya dan nilai-nilai murni orang-orang Melayu yang merangkumi bidang

Historiografi pembebasan ini diharapkan dapat berperan sebagai satu historiografi yang mampu membebaskan cara berpikir masyarakat terhadap masa lampau dari belenggu

- Model Sistem Informasi Pemasaran - Bentuk : Kuliah - Metode : Ceramah, Problem Based Learning, Diskusi Kelompok 2 x 50 Menit - Mahasiswa mampu menjelaskan

Undang - Undang Nomor 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia pada Pasal 2 ayat (1) mengatur mengenai pengertian Kejaksaan Republik Indonesia adalah lembaga