• Tidak ada hasil yang ditemukan

Draft Artikel Hasil Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Draft Artikel Hasil Penelitian"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Draft Artikel Hasil Penelitian

PENELITIAN KOMPETITIF DOSEN Kluster: Penelitian Pengembangan Program Studi

Analisis Komparatif Konsep Lembaga Keuangan Perbankan Sosial Syariah Indonesia dan Luar Negeri

1. Dr. Alimin, Lc., M.Ag./ 2005057202 (Ketua Tim) 2. Dr. Rizal Fahlefi, M.Si /2029067302 (Anggota) 3. Drs. Hafulyon, MM/ NIDN: 2024057801 (Anggota) 4. Zulkifli, S.Ag., MH, 2010106302 (Anggota)

Dilaksanakan Atas Biaya DIPA IAIN Batusangkar Sesuai Surat Perjanjian Kontrak Penelitian

Nomor : B-1377/ln.27/R.IV/TL.00/06/2021 Tanggal 03 Juni 2021

JURUSAN PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BATUSANGKAR

2021

(2)

Analisis Komparatif Konsep Lembaga Keuangan Perbankan Sosial Syariah Indonesia dan Luar Negeri

5. Dr. Alimin, Lc., M.Ag./ 003445873347 (Ketua Tim) 6. Dr. Rizal Fahlefi, M.Si /2029067302 (Anggota) 7. Drs. Hafulyon, MM/ NIDN: 2024057801 (Anggota) 8. Zulkifli, S.Ag., MH, 2010106302 (Anggota)

Abstrak

Dengan banyak bermunculan lembaga keuangan sosial syariah kontemporer, baik dalam dan luar negeri, maka perlu dilihat perbandingan antar berbagai konsep tersebut. Penelitian di bahas melalui analisis metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian komparatif terhadap lima lembaga keuangan sosial yang ada, baik di dalam, maupun di luar negeri. Berdasarkan penelitian yang sudah peneliti lakukan tentang perbandingan konsep lima lembaga keuangan sosial Islam, dalam dan luar negeri, maka peneliti menyimpulkan bahwa lembaga keuangan sosial model perbankan syariah yang ada di Indonesia sudah bersifat utuh 100% sosial, namun dalam bentuk lembaga keuangan mikor, sedangkan di luar negeri tidak 100% sosial, tapi sudah bersifat bank umum. Terdapat kesamaan yang sangat banyak pada tiga lembaga keuangan sosial mikro yang ada di Indonesia, mulai dari tahun berdiri, soliditas tujuan sosial, status lembaga, jenis sumber modal, dan sasaran nasabah pembiayaan. Sedangkan perbandinan konsep antara Lembaga keuangan sosial perbankan syariah antara dalam dan luar negeri, hampir semuanya berbeda. Lima lembaga keuangan sosial yang diteliti sejalan dengan ekonomi syariah, kecuali pada Vakifbank Turki karena sumber dana, penyaluran dana, laba, dan sasaran benefit sosial tidak sejalan dengan syariah.

Keyworsd: Lembaga Keuangan Sosial Syariah; Bank Wakaf; Bank Sosial; Konsep

lembaga keuangan sosial syariah; funding; financing

(3)

Analisis Komparatif Konsep Lembaga Keuangan Perbankan Sosial Syariah Indonesia dan Luar Negeri

A. Latar Belakang Masalah

Lembaga keuangan perbankan sosial syariah adalah termasuk produk baru dalam perkembangan ekonomi syariah, seiring dengan berkembangnya produk “wakaf tunai” karena dana wakaf tunai sejalan konsep investasi lembaga keuangan perbankan yang rendah risiko, oleh karena itu lembaga-lembaga keuangan sosial syariah yang sudah muncul utamanya mengusung konsep bank wakaf. Dan berdasarkan penelusuran penulis, konsep yang ditawarkan oleh para pakar ekonomi syariah tentang bentuk lembaga keuangan perbankan sosial syariah masih tergolong sangat sedikit. Satu buku termasuk utuh membahas konsep lembaga keuangan sosial perbankan syariah adalah buku Fahd Abdurrahman al-Yahya berjudul al-Bank Waqfi, dari Universitas Qusaim, tahun 2013, dan artikel Toward an Islamic Social (Waqf) Bank oleh Mohammad Tahir Sabit Haji dalam International Journal of Trade, Economics and Finance, Vol. 2, No. 5, October 2011. Namun demikian kini sudah berdiri empat entitas lembaga keuangan sosial syariah yaitu: Bank Wakaf Mikro di Indonesia, Bank Infak di Indonesia, Vakifbank (Bank Wakaf) di Turki, dan Social Islami Bank Limited (SIBL) di Pakistan.

Maka keempat bank sosial Islam tersebut menarik untuk dikaji dari sisi perbandingan konsep dan diujikan (dianalisis) sejalan dengan efesiensi ekonomi syariah (taat asas syariah dan memunuhi tuntutan ekonomi).

Di luar negeri, dikenal bank pioner pengelolaan dana wakaf, yaitu Social Islami Bank Limited (SIBL) yang secara tegas menyematkan kata “Islamic sosial” pada namanya. Dalam laporan tahunan Sibl Bank, aset wakaf tunai tidak menjadi bagian saham bank tapi sebagai deposit, maka dari total deposit 248,324,489,649 taka, terdapat 317,048,976 taka dana wakaf tunai.

1

berdasarkan data ini, konsep sibl bank ini ia menjadikan dana wakaf sebagai salah satu dana pihak ketiga, bukan dana pihak pertama, dan dana tunai menggunakan akad mudharabah yang berbagi hasil dengan bank.

1

Annual Report 2018 Social Islami Bank Limited, hal. 241, sumber:

https://www.siblbd.com/about/financialreports#Annual, akses: 1 Maret 2021

(4)

Di Turki dikenal Bank Wakaf dengan nama Vakifbank (berdiri tahun 1954) yang diakui oleh banyak kalangan sebagai bank wakaf pertama di dunia sesuai dengan nama yang disematkan pada bank ini, sebagaimana dalam tulisan Uswatun Hasanah,

2

dan Zainul Arifin

3

. Namun demikian, ahli lainnya seperti Fahd Yahya dalam bukunya al-Bank al-Waqfiy secara tegas menyatakan bahwa di dunia saat ini tidak ada bank wakaf, termasuk Vakif Bank yang ada di Turki yang secara jelas menyebut dirinya sebagai bank wakaf.

4

Berkaca pada ruang yang lebih luas, sebenarnya Bank Wakaf memiliki konsep yang lebih luas dari sisi pandangan makro ekonomi Islam, karena konsep Bank Wakaf yang dikonsep oleh banyak ahli ekonomi Islam adalah Bank Wakaf Komersial, persis seperti bank umum biasanya yang bertujuan profit yang dananya disalurkan pada salura yang sangat aman risiko, tapi profitnya digunakan untuk kepentingan sosial, sebagaimana dalam konsep Fahd Abdurrahman al-Yahya dalam bukunya al-Bank Waqfi, dari Universitas Qusaim, Saudi Arabia, tahun 2013

5

. Bahkan konsep bank wakaf seperti ini sudah dilaksanakan oleh Kekhalifahan Turki Usmani dalam penyaluran dana yang sangat aman dengan skim ba’i al-wafa’, sebagaimana disebut oleh Murat Cizakca.

Sedangkan Asad Zaman secara tegas menyatakan bahwa waqf sebagai lembaga yang dapat mengatasi berbagai akibat buruk bank konvensional kapitalististik, ia menyatakan

“ This spirit was implemented in Islamic society by an institution which the opposite of a bank, namely a waqf”.

6

Asad Zaman meyakini bahwa bank wakaf akan memberikan dampak multiplier efek positif dalam mengatasi berbagai keburukan ekonomi kapitalis ribawi sekaligus memberikan penawar bagi berbagai masalah makro ekonomi (kemiskinan, pengangguran, pemerataan, dan pertumbuhan ekonomi).

2

Laporan Akhir Pengkajian Hukum Tentang Aspek Hukum Wakaf Uang, Tim dipimpin oleh : Prof. Dr. Uswatun Hasanah, MA, Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia 2009, hal. 29, tersedia:

https://www.bphn.go.id/data/documents/pkj_aspek_hukum_wakaf_uang.pdf

3

Jurnal Bimas Islam Vol.8. No.IV 2015, tersedia:

jurnalbimasislam.kemenag.go.id›jbi›download

4

(Fahd al-Yahya, al-Bank Waqfi, 2013:191)

5

Fahd Abdurrahman al-Yahya, al-Bank Waqfi, Universitas Qusaim, Saudi Arabia, 2013

6

Asad Zaman, Artikel: Building Genuine Islamic Financial Institutions,

Sumber: https://azprojects.wordpress.com/2018/09/09/building-genuine-islamic-

financial-institutions/, diposting: 9 September 2018.

(5)

Berdasarkan perbedaan konsep keempat lembaga keuangan perbankan sosial syariah tersebut dan pentingnya peranannya sebagai lembaga keuangan strategis dalam mengatasi berbagai masalah sosial negara secara mikro dan makro sebagaimana yang dinyatakan oleh Asad Zaman, maka penelitian tentang studi komparatif konsep bank wakaf ini perlu dilakukan yang akan dianalisi berdasar sudut pandang efesiensi ekonomi syariah (taat asas dan bermanfaat maksimal secara ekonomi).

B. Kajian Terdahulu Relevan

Mohammad Tahir Sabit Haji dalam artikelnya, Toward an Islamic Social (Waqf) Bank, pada International Journal of Trade, Economics and Finance, Vol. 2, No. 5, October 2011, menyatakan bahwa konsep bank sosial Islam, harus mengedepankan ciri- ciri yang benar-benar non profit atau sosial murni yang sejalan dengan hukuk Islam. Ia melihat hanya dana cash wakaf yang paling sesuai dengan bank sosial Islam karena sifat bertahannya modal. Sedangkan Fahd Yahya dalam bukunya al-Bank Waqfi menekankan bahwa konsep bank sosial Islam haruslah dalam bentuk bank komersial dalam mencari laba, namun semua hasilnya atau laba bersih digunakan untuk tujuan-tujuan sosial.

Dengan demikian, terdapat berbagai konsep yang nampaknya saling melengkapi untuk diperoleh suatu konsep yang lengkap dan kukuh untuk berdirinya sebuah lembaga perbankan sosial Islam yang diperlukan pada zaman modern ini.

D. Temuan Penelitian Dan Pembahasan A. Bank Wakaf Turki

Vakifbank didirikan berdasarkan Undang-undang nomor 6219 tanggal 11

Januari 1954 dengan modal TL 50 juta untuk memanfaatkan aset berbagai yayasan amal

dengan cara yang paling efisien, untuk berkontribusi pada tabungan negara dengan

manajemen dan pemahaman kerja yang diperlukan perbankan modern, dan

menggunakan simpanan yang terkumpul sesuai dengan kebutuhan pembangunan

ekonomi. Vakifbank tunduk pada ketentuan hukum privat, mulai beroperasi pada 13

April 1954. Sejak itu, Vakifbank terus memberikan kontribusi penting bagi

pertumbuhan dan perkembangan ekonomi negara Turki, dan kami mewakili tradisi dan

pengalaman dalam sistem perbankan negara. Selain menyediakan produk dan layanan

perbankan inti, Vakifbank juga berlakusebagai bank investasi dan melakukan kegiatan

(6)

pasar modal. Vakifbank memberikan berbagai layanan keuangan termasuk leasing keuangan dan anjak piutang melalui anak perusahaan keuangan Vakifbank dengan teknologi canggih. (Vakifbank Annual Report 2020, 22, tersedia:

https://www.vakifbank.com.tr/annual-reports.aspx?pageID=638)

Vakifbank Annual Report 2020 juga melaporkan bahwa Vakifbank berhasil mendapatkan dana 5,1 miliar USD dari pasar internasional termasuk di dalamnya 4,3 miliar USD obligasi eurobond yang berhasil dijual kepada investor global, merupakan pinjaman obligasi terbesar dalam sejarah Vakifbank, dengan rata-rata bunga 6%/tahun.

Ini menunjukkan bahwa rating dan kepercayaan dunia kepada Vakifbank semakin meningkat. (Vakifbank Annual Report 2020:58)

Dari data Vakifbank Annual Report nampak bahwa kepemilikan bank ini didominasi oleh harta Pemerintah Turki. Dan pada tahun 2020 terdapat pemilik saham baru yang cukup besar, yaitu Turkey Wealth Fund (TWF), sebuah perusahaan milik Pemerintah Turki yang didirikan pada Agustus 2016. Dana TWF dioperasikan dengan

"Rencana Investasi Strategis", yang telah disetujui oleh Kabinet. Perusahaan dan kekayaan yang sebelumnya dimiliki oleh berbagai lembaga negara, dapat dialihkan ke dana dan subdana TWF jika dipandang perlu. Pada tanggal 6 Februari 2017, TWF diumumkan bahwa Ziraat Bankasi dan banyak perusahaan negara lainnya telah

diserahkan kepada TWF.

(https://www.tvf.com.tr/en/home, dan :https://www.ifswf.org › members › turkey- wealth-fund, akses: 10 September 2021)

Berdasarkan data di atas, nampak jelas bahwa Vakifbank adalah bank milik pemerintah secara murni yang sudah mengambil alih semua harta wakaf publik dan keluarga yang ada pada masa Turki Usmani, untuk digunakan untuk kemaslahatan Negara Turki, dengan sistem operasional bank konvensional, bukan berdasarkan sistim syariah. Nampaknya nama bank ini tetap mengabadikan dana wakaf dalam bentuk nama, tapi tujuan yang relatif sama. Secara jelas dalam laporan keuangan Vakifbank disebutkan bahwa bank ini mendapatkan laba dari bunga utang (Annual…. 2020:195)

Dengan demikian, jelaslah bahwa sumber utama dari dana Vakifbank berasal

dari dana wakaf di seluruh negara Republik Turki, lalu dana itu tidak disebut dana

wakaf lagi, tapi sebagai dana milik negara yang dikelola dalam bentuk perbankan

(7)

modern untuk kemaslahatan negara secara keseluruhan, adapun operasional bank ini tidak sejalan syariah Islam, atau bukan dalam bentuk bank syariah (Islamic Bank) tapi secara konvensional yang menggunakan bunga atau riba sebagai alat mendapatkan laba, dan peneliti tidak menemukan satupun kata “Islam” dan kata waqf atau vakif dalam laporan tahunan Vakifbank pada tahun 2020, kecuali kata “Islamic Development Bank”

dalam uraian kerjasama. Demikian juga dengan laporan tahunan pada tahun 2018 dan 2019.

Namun demikian, pelaksanaan model Vakifbank cukup bagus jika saja tersebut benar-benar milik lembaga wakaf yang beroperasional secara Islami, sehingga mempunyai nilai-nilai religius dari aspek keislaman, dan mempunyai motivasi nilai keagamaan bagi para stakeholders dalam memajukan bank ini.

Oleh karena itu, dari modal yang mewakili entitasnya sebagai pemilik bank (sharesholders) pada awalnya berasal dari modal Islami, yaitu harta tunai yayasan- yayasan wakaf, lalu modal-modal lainnya yang berasal dari negara ikut mendominasinya. Dari aspek nama sangat Islami, dan ikut mendukung serta memotivasi dunia lain untuk mengembangkannya sebagai “bank wakaf”, dan nama penggunaan nama wakaf atau vakif pada bank ini, dalam analisis peneliti, tidak tepat lagi jika dilihat dari substansinya yang tidak sesuai dengan substansi wakaf. Dari segi konsep operasional, bank ini menggunakan konsep konvensional yang mempraktikkan bunga atau riba, dan berbagai prinsip nilai lainnya dalam ekonomi Islam mungkin juga tidak diperhatikan seperti berinvestasi pada sektor-sektor bisnis yang dilarang syariah seperti menyalurkan dana pada perusahaan rokok, minuman keras, atau usaha yang tidak sejalan dengan syariah. Dari sisi tujuan atau visi misi bank, dari banyak aspek sejalan dengan syariah, yaitu menggunakan laba untuk kemaslahatan publik, dan itu adalah spirit dari tujuan wakaf.

B. Social Islami Bank Ltd (SIBL)

Pada tingkat operasional, kelebihan bank ini adalah ia mampu

mengkombinasikan tiga sektor usaha, dan ini adalah misi dari bank Sibl, yaitu, 1)

Sektor Formal sebagai bank komersial dengan teknologi terkini; 2) ii) Sektor Non-

Formal dalam bentuk memajukan Program Pembiyaan Keluarga, pembiayaan mikro

(8)

dan usaha kecil; dan, 3) Sektor Sukarela (pilantropi) dalam bentuk memobilisasi Modal Sosial melalui WAQF TUNAI dan lainnya. Ketiga kegiatan sektor tersebut akan saling bergantung satu sama lain melalui Dana Sosial dan Skema Pemberdayaan Sosial, sehingga membuat semua kegiatan ini transparan dan terbuka menjunjung nilai ekonomis, sosial, dan etis. (Mobas Shirin Jyoti, et.al. 2018)

7

Bank Sibl Bangladesh ini telah memobilisasi wakaf benda gerak, dalam bentuk uang yang diproduk dalam produk sertifikat wakaf. Social Islami Bank Ltd (SIBL) dalam menintrodusir Sertifikat Wakaf Tunai Ini adalah suatu produk baru dalam sejarah perbankan sector voluntary. Di kota Dhaka, SIBL membuka peluang kepada masyarakat untuk membuka rekening deposito wakaf uang untuk berbagai macam tujuan produktif.

Bank Sibl berfungsi sebagai fasilitator sekaligus pengelola wakaf uang, membantu masyarakat untuk membuat tabungan wakaf, menjadikan tabungan masyarakat sebagai modal, dan menyalurkan keuntungan pengelolaan untuk kesejahteraan masyarakat.

(Effendi, 2020:231)

8

Wakaf Tunai, sebagai produk terkenal dan spesifik yang dipelopori oleh SIBL, tapi diakui bahwa sejauh ini bank masih kurang fokus dalam mengembangkannya. Bank merevitalisasi produk unik ini di tahun 2015, karena pengembangan sosial yang maksimial sangat dimungkinkan melalui Wakaf Tunai. Oleh karena itu, bank mengerahkan segala upaya untuk meningkatkan basis simpanan Wakaf Tunai di Bank.

Total setoran Wakaf Tunai pada tahun 2015 sudah mencapai Tk. 99,28 juta atau tumbuh 80,06% dibandingkan dari tahun 2014. Sedangkan total setoran dalam rekening Wakaf Tunai Bank sudah mencapai Tk. 178,83 juta sampai dengan akhir tahun 2015. Pada tahun 2020, dana wakaf tunai sudah mencapai Tk. 377.056.255,- (377 juta taka), dan sudah memberikan laba sebanyak 31,173 juta taka, atau dengan setara dengan 364.705 USD, yang dalam rupiah setara dengan Rp. 5.470.588.235,- (5,5 miliar rupiah), jika satu USD sama dengan 15 ribu rupiah. Sedangkan pada tahun 2018 laba dana wakaf tunai adalah setara dengan 4,3 miliar ruppiah sebagai dapat dilihat pada gambar berikut (Sibl Annual Report, 2015-2020)

7

Mobas Shirin Jyoti, et.al. 2018. University of Dhaka: Banking & Isurance Departement University. Paper, 30 April 2018: Comparison Between First Security Islami BankLtd. & Social Islami Bank Ltd.

8

Effendi, Deden. 2020. Legislasi Wakaf dan Fungsi Sosial Ekonomi di

Indonesia. Cetakan pertama I. UIN Sunan Gunung Djati Bandung: Pusat Pengabdian

Kepada Masyarakat LP2M.

(9)

Social Islami Bank Ltd (SIBL) terkenal dengan produk Sertifikat Wakaf Tunai- nya, namun ia juga memberdayaan laba atau bonus dari tabungan dan/atau deposito zakat, yang jumahnya pada tahun 2020 mencapai 14 juta taka, sedangkan tingkat bagi hasil yang diberikan hampir sama dengan tingkat bagi deposito hasil wakaf tunai, sebagai tingkat bagi hasil tertinggi karena bersifat sosial, yaitu 9% pada tahun 2019, dan 7% pada tahun 2020. Bank Sibl telah membuat produk baru bernama "Zakat Fund", pada pada 31 Desember 2020 atas cadangan yang ditahan sepanjang tahun dengan jumlah hitungan 2,8%, bukan 2,5% karena tahun masehi lebih panjang dari hijriyah selama 11 hari. Dalam Bank Sibl, pemegang saham harus membayar zakat individu mereka berdasarkan nilai nominal (Taka- 10.00 per saham) dari kepemilikan saham individu mereka bersama dengan aset zakat lainnya.

Sebagai kesimpulan dari konsep sosial pada lembaga keuangan Sibl Bank adalah bahwa bank ini sudah melaksanakan misi sosial keuangan Islam dalam salah bagian kegiatannya, atau sudah menjadi bagian yang terintegrasi dengan core kegiatan perbankan sebagai sebuah lembaga keuangan, pada sisi funding dan financing serta profit yang dilaporkan dalam laporan keuangan bank.

Ketika bank ini menggunakan laba yang didapatkan dari produk Cash Waqf Deposit Account menjadi sumber utama dari dana CSR Bank Sibl. Hal ini juga sudah membantu keuangan bank dari beban kewajiban melaksanakan CSR, karena bank sudah sukarela mengembangkan wakaf dari sumber yg gratis dan abadi, bank juga dapat bagi hasil sebagai pemasukan bank, minimal meringankan beban operasional bank.

Bagusnya lagi, dana wakaf tunai itu bersifat abadi sehingga ia terus berakumulasi, dan ini akan sangat membantu semua pihak, termasuk bagi bank itu sendiri.

D. Lembaga-lembaga Keuangan Sosial Mikro Syariah Indonesia

Tahun 2018 terdapat perkembangan yang menarik perhatian banyak di Indonesia

tentang munculnya tiga lembaga Keuangan Sosial Mikro Syariah, yaitu Bank Wakaf

Mikro (BWM), Bank Infak, dan Baznas Microfinance Desa (BMD). Menariknya lagi

ketiga lembaga keuangan mikro itu hampir mempunyai tujuan yang sama, lahir pada

tahun yang sama, sistem operasional yang juga relatif sama dari aspek penggunaan akad

al-qardh al-hasan dalam pembiayaan disertai pemberdayaan yang cukup intensif, sistim

(10)

kontro tanggung renteng, namun dengan beberapa perbedaan seperti dari aspek sumber dana dan biaya operasional.

Dengan demikian, sekilas nampak bahwa lembaga Keuangan Sosial Syariah di luar negeri dalam bentuk bank, sedangkan di Indonesia lebih fokus pada lembaga Keuangan Sosial Mikro Syariah.

1. Bank Wakaf Mikro (BWM)

Bank Wakaf Mikro yang disingkat dengan BWM, pertama kali diresmikan pada Oktober 2017 oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo, di Pesantren KHAS Kempek Cirebon (Laporan Perkembangan Keuangan Syariah Indonesia OJK, 2018:71). Koperasi LKMS KHAS KEMPEK, Surat Izin Operasional: KEP- 56/KO.0201/2017. Kini, bulan Juni tahun 2020 sudah terdapat 61 Bank Wakaf Mikro (BWM) pada berbagai pesantren di berbagai daerah Indonesia (Situs resmi BWM:

http://lkmsbwm.id, akses: 11 September 2021).

Sumber BWM adalah berasal dari para donatur, baik bersifat sedekah, wakaf, ataupun bantuan lepas, lalu dana tersebut diserahkan kepada LAZ BSM untuk disalurkan ke BWM-BWM di Indonesia. Dana tersebut disalurkan kepada masarakat ekonomi lemah yang berada di sekitar pesanteran dalam bentuk akad al-qardh al-hasan tanpa ada margin, ataupun murabahah dengan margin rendah yaitu 3%. Disamping menyalurkan dana, BWM juga memberikan pembinaan atau pemberdayaan masarakat.

Biaya operasional BWM berasal dari laba deposito dana BWM yang sengaja disisihkan untuk didepositokan di berbagai bank syariah. Ketika dana dari nasabah sudah kembali, maka dana itu akan disalurkan lagi kepada nasabah semula dengan jumlah lebih tinggi atau kepada masarakat ekonomi lemah lainnya untuk pengembangan usaha mereka.

Strategi BWM dalam menjamin pengembalian dana adalah dengan sistem tanggung renteng (dalam bentuk kelompok-kelompok kecil pembiayaan), dimana nasabah harus membuat suatu kelompok pembiayaan. (Laporan Perkembangan Keuangan Syariah Indonesia OJK, 2017 sampai 2020)

Berdasarkan wawancara antara tim peneliti dengan Dafri Harweli, M. Pd.I,

pimpinan cabang BWM al-Kautsar di Payakumbuh, Sumatera Barat, pada tanggal 14

Juli 2021 bertempat di Kantor BWM, memberikan penjelasan sebagaimana yang

(11)

dijelaskan sesuai dengan konsep yang terdapat pada Laporan Perkembangan Keuangan Syariah Indonesia OJK di atas. Namun yang menarik dari penjelasannya adalah pada aplikasi lapangan BWM, bahwa LKMS BWM ini benar-benar mengkombinasikan antara penyaluran pembiayaan yang berciri lembaga keuangan dengan pendampingan terpadu sebagai bagian dari pemberdayaan masarakat miskin.

2. Bank Infaq

Bank Infaq resmi dibuka oleh Sandiaga Solahuddin Uno (Mantan Cawapres RI dan Pebisnis Muslim Indonesia), sebagai Pembina Bank Infaq, pada Hari Rabu tanggal 10 April 2019 di Istora Gelora Bung Karno. Berdasarkan wawancara peneliti dengan Rezza Artha, Ketua Umum Bank Infaq dan juga mantan Ketua MES (Masarakat Ekonomi Syariah) jakarta, (Sabtu, 4 September 2021) Bank ini bertujuan untuk memberdayakan pengusaha masarakat ekonomi kelas bawah (mikro dan ultra mikro), sedangkan sumber dana atau modal Bank Infaq murni berasal dari infak masarakat umum dengan memperkuat basis kebersamaan komunitas, bukan dari bantuan perusahaan tertentu seperti CSR perusahaan. Maka Bank Infaq ini berbeda dengan BWM OJK yang topdown, ia berbasis komunitas sekali.

Jika pada akhir Agustus tahun 2019 baru terdapat 9 Bank Infaq di Indonesia,

yang terdiri dari 3 Bank Infaq di Jakarta, 5 Bank Infaq di Semarang dan 1 Bank Infaq di

Sukabumi (Rezza Artha, Antaranews, 2019), maka berdasarkan wawancara dengan tim

peneliti dengan dengan Rezza Artha, sekjen Bank Infaq, (Sabtu, 4 September 2021),

pada 31 Agustus 2021 sudah terdapat 68 Bank Infak di Indonesia yang tersebar pada 15

propinsi. Total infak yang masuk mencapai 1,830 milyar, dan nampak pada data bahwa

terdapat penambahan infak 8 juta perminggu, dengan rata-rata infak yang masuk

perminggu sejumlah 125 ribu pada setiap bank infak tersebut dimana setiap anggota

berinfak 5000 rupiah permiggu. Total jumlah dana yang sudah disalurkan adalah 2

milyar 364 ribu rupiah, dan pengurus serta anggota boleh mendapatkan pembiayaan dari

Bank Infaq. Terdapat pula wakaf tergalang sebanyak 9 juta rupiah. Dari aspek SDM,

saat ini Bank Infaq mempunyai 1586 anggota, 941 tenaga kerja, dan 604 orang

(12)

pengurus. Ini berarti bahwa terdapat 3.131 orang yang aktif atau bekerja pada Bank Infaq ini.

Selanjutnya, Rezza Artha menyatakan bahwa pengurus BWM mengadakan rapat evaluasi setiap minggu. Biaya operasional Bank Infaq berasal dari “hak amil” yang berjumlah 12.5% dari total infak yang masuk ditambah dengan infak rutin dari pada para donatur.

Produk penyaluran dana Bank Infak adalah menggunakan skim al-qardh al- hasan, yaitu pinjaman murni yang tidak menerapkan laba ataupun margin keuntungan, dimana nasabah peminjam hanya akan mengembalikan pebiayaan sesuai dengan besar utangnya. Namun, demikian, sama dengan BWM OJK, Bank Infak juga menerapkan pola tanggung renteng (satu kelompok nasabah pembiayaan yang saling bertanggungjawab) dalam menjamin risiko pinjaman sekaligus memberikan pendampingan terpadu dari aspek spiritual, pendidikan, dan ekonomi yang mereka sebut dengan TKEU, yaitu kependekan dari Tadarus, Kajian, Edukasi, dan Umum (Rezza Artha, Wawancara, Sabtu, 4 September 2021).

3. Baznas Microfinance Desa (BMD)

Baznas Microfinance beroperasi berdasarkan SK Ketua BAZNAS No. 20 Tahun 2018 tentang Lembaga Baznas Microfinance sebagai program dibawah Direktorat Pendistribusian dan Pendayagunaan. (Siduppa, 2020:27).

Dalam menggali informasi dan data utama tentang Baznas Microfinance Desa,

tim peneliti mendapatknnya dari tiga sumber utama, yaitu: 1) situs resmi Baznas

Microfinance Desa pada https://microfinance.baznas.go.id/ , 2) Wawancara melalui

aplikasi zoom meeting dengan Bapak Nur Aziz, Kepala Baznas Microfinance Desa

Pusat, pada tanggal 15 Juli 2021, dan 3) Wawancara langsung dengan Bapak Rodi

Hartono, Manajer BMD Kota Bukittinggi, di Kantor BMD Bukittinggi pada tanggal 27

Juli 2021. Sumber data pertama dan kedua berguna untuk mengetahui konsep dari

BMD, sedangkan wawancara kedua, berguna untuk melihat bukti aplikasi terhadap

konsep dari BMD ini, dan juga sebagai bagian dari langka validitas data. Peneliti

(13)

menemukan bahwa konsep yang didapatkan dari sumber pertama dan kedua tidak berlawanan atau sejalan dengan dengan yang didapatkan dari sumber data ketiga.

Secara konsep Nur Aziz menjelaskan bahwa konsep umum lembaga BMD tidak banyak mengalami perobahan sejak tahun 2018, namun dari aspek lapangan yang bersifat dinamis, BMD selalu melakukan evaluasi sehingga diperoleh strategi baru yang sejalan dengan kebutuhan lapangan. Misalnya jika suatu BMD mengalami keberhasilan dalam pengelolaan maka sistem manajemen kantor cabang akan bisa berdiri sendiri, tidak akan tergantung 100% pada Baznas Nasional sebagamana yang terjadi selama ini, seperti dari aspek pencarian sumber dana dan penyaluran dana secara langsung dari kantor cabang ke nasabah. (Wawancara: Noor Azis, Kepala Program BMFi, 27 Juli, 2021)

Sumber Dana atau modal dari BMD ini berasal dari infak masarakat ditopang dengan dana zakat, namun porsi dana zakat berkisar antara 10% sampai 25%, namun penggunaan dana zakat khusus untuk pengadaan barang-barang produktif bagi pengusaha mikro dan ultra mikro, misalnya untuk pengadaan kompor, alat produksi, atau gerobak pedagang keliling yang sudah tidak layak pakai, maka zakat itu tergolong dalam zakat produktif yang taat kepada aturan syariah, sedangkan modal usaha tunai berasal dari dana infak masarakat yang masuk ke rekening Baznas (Noor Aziz, Wawancara Zoom Meeting, 27 Juli 2021; dan, Rodi Hartono, Wawancara langsung, 27 Juli 2021).

Dalam bukti lapangan, BAZNAS RI menyalurkan dana secara langsung ke rekening nasabah mustahik, bukan dana tunai dari kantor cabang. Maka jumlah dana yang disalurkan kepada BMD Bukittinggi pada tahun 2018 dengan penyaluran pinjaman sejumlah Rp. 496.000.000 kepada 34 kelompok yang berjumlah 248 orang mustahik, tahun 2019 terdapat penyaluran pinjaman sebanyak Rp. 316.490.000 dan bantuan lepas sejumlah Rp. 333.490.000 kepada 30 kelompok yang berjumlah 188 orang mustahik, tahun 2020 penyaluran pinjaman sejumlah Rp.

194.000.000 dan bantuan lepas sejumlah Rp.32.663.000 kepada 23 kelompok yang

berjumlah 130 orang mustahik. BMD memberikan bantuan kepada kelompok

mustahik yang terdiri dari 4-7 orang.

(14)

Dalam analisis peneliti, jika melihat pada laporan keuangan tahunan Baznas Pusat RI per 31 Desember tahun 2020, jumlah dana yang diperoleh dari infak dan sedekah cukup besar, yaitu mencapai 76 milyar pada tahun 2020, sedangkan pada tahun 2019 diperoleh sebanyak 41 milyar, sedangkan dana zakat diperoleh sebanyak 305 milyar pada tahun 2020, dan 248 milyar pada tahun 2019. (Laporan Keuangan Badan Amil Zakat Nasional 2020, tersedia: https://baznas.go.id/keuangan/2020, akses 12 September 2020). Melihat jumlah dana infak sedekah sekitar 50 milyar rupiah per tahun tersebut, adalah cukup rasional, Baznas Nasional menyelurkan dana untuk BMD, sedangkan pengalokasian dana BMD dari zakat masih tergolong kecil. Data juga menunjukkan bahwa potensi dana infak dan sedekah pada Baznas cukup besar, yaitu mencapai 16% dari dana zakat pertahun. Sedangkan data bulan Juni 2021 menunjukkan bahwa bulan Juni 2021 diperoleh dana infak sedekah sebanyak 8,1 miliar rupiah (Laporan Keuangan Bulanan Badan Amil Zakat Nasional Per Juni 2020, tersedia:

https://baznas.go.id/keuangan/2020, akses 12 September 2020).

Penyaluran dana BMD ke nasabahnya adalah dengan menggunakan akad al- qardh al-hasan, sedangkan nasabah yang menjadi sasaran adalah pengusaha kecil mikro dan ultramakro, ditambah dengan sistem jaminan dalam bentuk tanggung renteng, dan didukung dengan kegiatan pemberdayaan atau pendampingan usaha dari pihak BMD. Untuk saat ini, dana yang disalurkan pada nasabah usaha mikro dan ultra mikro berkisar antara Rp.1 juta s/d 2 juta dengan tipe akad al-qardh al- hasan, yaitu pinjaman tanpa ada menarik margin keuntungan, tapi nasabah peminjam hanya diwajibkan mengembalikan pebiayaan sesuai dengan besar utangnya. Dana tersebut akan dikembalikan oleh nasabah mustahik dalam 10 kali atau 10 bulan angsuran. Metode penyaluran dana dilakukan dengan sistem tanggung renteng, melalui kelompok yang beranggotakan 10 orang, dimana hanya ada 1 ketua kelompok yang bertanggung jawab dalam mengkoordinir anggota, dan membayar angsuran tiap minggunya. (Noor Aziz, Wawancara Zoom Meeting, 27 Juli 2021; dan, Rodi Hartono, Wawancara langsung, 27 Juli 2021)

Dari tahun 2018 sampai saat ini 2021, jumlah mustahik penerima dana

BMD Bukittinggi sudah mencapai 566 orang nasabah, 87 kelompok pembiayaan,

dengan total dana penyaluran 1,4 milyar rupiah.

(15)

Setiap tahunnya BAZNAS RI menganggarkan dana kepada BMD Bukittinggi untuk disalurkan masyarakat. Anggaran tersebut bersumber dari infaq dan zakat Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa tahun 2018 penyaluran pinjaman sejumlah Rp. 496.000.000 kepada 34 kelompok yang berjumlah 248 orang mustahik namun pada tahun ini belum ada penyaluran bantuan lepas. Tahun 2019 penyaluran pinjaman sebanyak Rp. 316.490.000 dan bantuan lepas sejumlah Rp.

333.490.000 kepada 30 kelompok yang berjumlah 188 orang mustahik, tahun 2020 penyaluran pinjaman sejumlah Rp. 194.000.000 dan bantuan lepas sejumlah Rp.32.663.000 kepada 23 kelompok yang berjumlah 130 orang mustahik. BMD memberikan bantuan kepada mustahik yang dibentuk menjadi pekelompok, setiap kelompok terdiri dari 4-7 orang.

Dari aspek biaya operasional, semua biaya BMD Bukittinggi sebagai kantor cabang ditanggung Baznas Pusat. Ini berarti bahwa peranan kantor cabang adalah mengelola dana yang sudah disalurkan, mengumpulkan angsuran pinjaman dan memberikan pendampingan.

BAZNAS Microfinance (BMFi) adalah lembaga program yang melakukan pendayagunaan zakat untuk usaha produktif kepada masyarakat yang tergolong mustahik dan memiliki komitmen berwirausaha bentuk permodalan (microfinance.baznas.go.id)

Tujuan dari program ini untuk mengentaskan kemiskinan sekalian memberantas rentenir yang banyak menindas pengusaha kecil. Pada program ini, pengentasan kemiskinan direalisasikan melalui pemberian bantuan berupa modal bagi pelaku usaha kecil menengah. Program Baznas Microfinance Desa akan membuka akses pembiayaan kepada para pelaku usaha kecil, memberikan pelayanan perluasan usaha serta dukungan peningkatan kapasitas usaha melalui pelatihan, workshop dan kegiatan lain yang sejenis (microfinance.baznas.go.id)

Mengingat permodalan merupakan faktor utama yang diperlukan untuk

mengembangkan suatu unit usaha. Kurangnya permodalan pada usaha kecil menengah

dikarenakan karakteristik usaha yang tertutup, mengandalkan modal dari sipemilik yang

jumlahnya sangat terbatas, sedangkan modal pinjaman dari Bank atau lembaga

(16)

keuangan lainnya sulit diperoleh karena persyaratan secara administratif dan teknis yang diminta oleh Bank tidak dapat dipenuhi.

D. Kesimpulan Perbandingan Konsep

Berdasarkan deskrisi dan pembahasan terhadap data yang sudah peneliti kemukakan di atas, peneliti menyimpulkan berbagai persamaan dan perbedaan, dan juga ciri khas masing-masing lima lembaga keuangan di atas dalam bentuk tebel berikut ini:

Tabel Perbandingan Konsep Lima Lembaga Keuangan Sosial Syariah Dalam dan Luar Negeri

Vakifbank Turki

Sibl Bank Banglades h

Bank Wakaf Mikro

Bank Infaq

BMD Baznas

Mulai Beroperasi/

Berdiri

1954 1995 2018 2018 2018

Status Struktur Manajemen

Milik Negara 100%

(Kemensos, BUMN, dan Kemenkeu)

Mandiri (Swasta)

Top-Down Manajemen di bawah OJK, LKMS, tapi pengelolaan dana bersifat mandiri.

Mandiri, tapi dibina dan diawasi oleh Yayasan Infak Dunia

Terpusat /Topdown manajemen/sang at tergantung (dalam asuhan) dari Pusat, Pengelolaan Dana Semi Mandiri.

Tujuan Sosial

Bisnis dan Sosial

Bisnis dan Sosial

Murni Sosial Murni Sosial

Murni Sosial

Jenis Sasaran Tujuan Sosial (Penerima Manfaat Sosial)

Sosial Umum (Publik Masarakat)

Sosial Umum (Publik Masarakat)

Hanya Pelaku Usaha Ultra Mikro (Kaum Miskin)

Hanya Pelaku Usaha Ultra Mikro (Kaum Miskin)

Hanya Pelaku Usaha Ultra Mikro (Kaum Miskin)

Soliditas/

Intensitas Sebagai Lembaga Keuangan Sosial Islami

0%

(50% dari sisi tujuan sosial umum (BUMN)

1%, karena Dana Wakaf Tunai hanya 1%

dari Dana bisnis

100% (Funding dan Financing)

100%

(Funding dan Financing )

100% (Funding dan Financing)

Kualifikasi sebagai Lembaga Keuangan Sosial

“Islami”

(Penerapan nilai-nilai

Konvension al (Non Islami)

Islami Islami (Terdapat kelemahan dari sisi penamaan lembaga

“wakaf”, namun benar dari spirit wakaf dalam

Islami Islami

(17)

Islam) mempertahanka n modal dan menyalurkan manfaat) Sumber

Modal dan Dana

Pemerintah, Wakaf, dan Publik

Binis dan Wakaf dan zakat

Sumbangan Umum dan Infak

Infak Saja dan Bantuan Lepas

Infak dan Zakat

Jenis Sumber Modal

Bisnis dan Sosial umum

Bisnis dan Sosial Islam (zakat dan wakaf)

Murni Sosial Murni Sosial

Murni Sosial

Sasaran Penyaluran /Pembiayaa n

Publik Konvension al

Publik Islami (sesuai peruntukan atau tujuan wakaf)

Hanya Pelaku Usaha Ultra Mikro (Kaum Miskin)

Hanya Pelaku Usaha Ultra Mikro (Kaum Miskin)

Hanya Pelaku Usaha Ultra Mikro (Kaum Miskin)

Sumber Dana untuk tujuan sosial (Alat pencapaian benefit)

Totalitas, tapi publik konvensiona l (sama dengan perusahaan BUMN)

Laba dari Pengelolaa n Wakaf Tunai dan Zakat

Modal dan Sedikit Laba (3%) Jika memungkinkan.

Modal Modal

Biaya Operasional

Laba Kotor Laba Kotor Laba investasi deposito pada bank umum

Hak Amil (12,5%) dan Infak rutin (donatur tetap:

Anggota Komunita s

[pengurus , pekerja, dan nasabah - iyuran])

Baznas

Nasional/Pusat (Infak, sedekah, dan zakat)

E. Kesimpulan Dan Saran A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang sudah peneliti lakukan tentang perbandingan

konsep lima lembaga keuangan sosial Islam, dalam dan luar negeri, maka peniliti

menyimpulkan sebagai berikut:

(18)

1. Lembaga keuangan sosial model perbankan syariah yang ada di Indonesia sudah bersifat utuh 100% sosial, namun dalam bentuk lembaga keuangan mikor, sedangkan di luar negeri tidak 100% sosial, tapi sudah bersifat bank umum.

2. Terdapat kesamaan yang sangat banyak pada tiga lembaga keuangan sosial mikro yang ada di Indonesia, mulai dari tahun berdiri, soliditas tujuan sosial, status lembaga, jenis sumber modal, dan sasaran nasabah pembiayaan.

3. Sedangkan perbandinan konsep antara Lembaga keuangan sosial perbankan syariah antara dalam dan luar negeri, hampir semuanya berbeda.

4. Lima lembaga keuangan sosial yang diteliti sejalan dengan ekonomi syariah, kecuali pada Vakifbank Turki karena sumber dana, penyaluran dana, laba, dan sasaran benefit sosial tidak sejalan dengan syariah.

B. Saran

1. Model lembaga keuangan sosial Vakifbank dapat dijadikan sebagai konsep baru lembaga keuangan sosial Islam kontemporer, dari aspek bersifat komersial dari dalam mencari laba, namun sosial dalam penyaluran laba.

2. Disarankan kepada para pegiat lembaga keuangan sosial Islam, khususnya BWI (Badan Wakaf Indonesia) untuk mendirikan lembaga keuangan wakaf mikro sebagaimana yang sudah dilaksanakan oleh Baznas Nasional.

3. Adalah lebih baik baik lembaga-lembaga keuangan perbankan syariah di

Indonesia pengelola deposito wakaf tunai untuk memberikan tingkat bagi hasil

tertinggi sebagaimana yang dilakukan oleh Sibl bank karena wakaf ini kegiatan

murni sosial. Hal menjadi akan daya tarik masarakat untuk berwakaf tunai.

(19)

I. Daftar Pustaka

Abdul Ghaniy al-Ghanimiy al-Maidani, al-Lubab fi Syarh al-Kitab, Tahkik: Mahmud Amin an-Nawawiy, (Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabiy, t.th.), jilid. 1, hal. 223 Abû Muhammad `Aliŷ ibn Ahmad ibn Sa`îd ibn Hazm al-Andalusiŷ (w.456H), al-

Muhallâ, (Beirut: al-Maktabaħ at-Tijâriŷ), jil. 9, hal. 164

Asad Zaman, Artikel: Building Genuine Islamic Financial Institutions, Sumber:

https://azprojects.wordpress.com/2018/09/09/building-genuine-islamic- financial-institutions/, diposting: 9 September 2018.

Annual Report 2018 Social Islami Bank Limited, hal. 82, sumber:

https://www.siblbd.com/about/financialreports#Annual, akses: 1 Maret 2021)

Atika Zahra Maulida dan Agus Purnomo, Potensi Dana Infaq Bagi Kesejahteraan Masyarakat Kota Banjarmasin, Proceeding Antasari International Conference, Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin Hal. 566. Tersedia: http://jurnal.uin-antasari.ac.id › article › download.

Cizakca, Murat, Incorporated Waqfs, makalah pada Konferensi Waqf for the Development of the Umma, 11 Agustus 2008 di Johor Baru, Malaysia.

Cizakca, Murat, Was Shari'ah indeed the culprit? Makalah Pada INCEIF, Kuala Lumpur, 2010, hal. 39, dan juga pada: Cizakca, Murat, Incorporated cash waqfs and mudaraba, Islamic non-bank _nancial instruments from the past to the future, Makalah pada Bahcesehir University, Istanbul, Turkey, 2004

Erwandi Tarmizi dkk, Bank Infaq: Tinjauan Kritis Perspektif Fiqh Muamalah, AL-URBAN: Jurnal Ekonomi Syariah dan Filantropi Islam Volume 4 (1), 2020. Tersedia:

https://journal.uhamka.ac.id › article › download.

Fahd Abdurrahman al-Yahya, al-Bank Waqfi, Universitas Qusaim, Saudi Arabia, 2013 Fillah Fitaloka, Implementasi Konsep Pengentasan Kemiskinan Dalam Perspektif Islam

Di Bank Wakaf Mikro Al Fitrah Wava Mandiri, Program Studi Ekonomi Syariah, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam, 2019, hal. 75

Habib Ahmed, Makalah: Waqf-Based Microfinance: Realizing The Social Role Of

Islamic Finance, Islamic Research and Training Institute, IDB, International

(20)

Seminar on Integrating Awqaf in the Islamic Financial Sector, Singapore , March 6-7, 2007, hal. 19

https://money.kompas.com/read/2019/07/27/181800726/ojk-targetkan-buka-100-bank- wakaf-mikro-di-2019

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180327213212-78-286378/bank-wakaf- mikro-ojk-dinilai-tak-penuhi-syarat-lembaga-wakaf

Kementrian Perwakafan Kuwait, al-Mausû`aħ al-Fiqhiŷaħ al-Kuwaitiŷaħ, (Kuwait:

Kementrian Perwakafan Kuwait, 2006), cet. I, jil. 17, hal. 295

Mahmud Ahmad Mahid, Nizham al-Waqf fi at-Tathbiq al-Mu'ashir, (Jeddah: IRTI-IDB, 2003), hal. 139

Mahmud ibn Ahmad an-Najjari Mazah, al-Muhith al-Burhaniy, (Beirut: Dar Ihya' at- Turats al-'Arabiy, t.th.), jilid. 5., hal. 707.

Martini Dwi Pusparini, Konsep Wakaf Tunai Dalam Ekonomi Islam: Studi Pemikiran Abdul Mannan, Jurnal Ekonomi Syariah Falah, Vol. 1, No.1, Februari 2016.

Mohammad Tahir Sabit Haji Mohammad, Permissibility of Establishing Waqf Bank in Islamic Law, International Conference on Sociality and Economics Development, IPEDR vol.10 (2011) © (2011) IACSIT Press, Singapore,hal. 253

Mohammad Tahir Sabit Haji, Toward an Islamic Social (Waqf) Bank, International Journal of Trade, Economics and Finance, Vol. 2, No. 5, October 2011.

Muhammad ibn 'Ulaitsah 'Usair Al-Fazziy, Istibdal A'yân al-Waqf baina al-Mashlahah wa al-Istila', Makalah: Muktamar Ke-3 Tentang Wakaf di KSA, hal. 15

Muhammad 'Utsman Syabîr, al-Mu'âmalât al-Mâliŷaħ al-Mu'âshiraħ fi al-Fiqh al- Islâmiŷ, (Yordania: Dâr al-Nafâ'is, 199), cet. 3, hal. 235

Munawar Iqbal dan Thariqullah Khan, Public Financing Expenditure: An Islamic Perspectif, Occasional Paper IRTI, (Jeddah: IRTI IDB, 2004), hal. 63-65

Taqiŷuddin Ahmad ibnu Taimiŷaħ, Majmû' Fatâwâ Ibnu Taimiyaħ, (Beirut: Dâr al- Wafâ', 2005), jil. 31, hal. 234-235

Uswatun Hasanah, Cash Waqf and People Economic Empowerment In Indonesia,

Jurnal Economics and Finance in Indonesia Vol. 59 (2), hal. 215-232

(21)
(22)

Referensi

Dokumen terkait

Namun, jika pada tingkat signifikansi lebih dari 5%, maka dapat diketahui bahwa pengaruh yang nyata antara ukuran perusahaan, profitabilitas dan leverage sebagai

Perumusan Kebijakan: Perumusan Sasaran Permusan Kebijakan Implementasi Kebijakan Monitoring Kebijakan Evaluasi Kebijakan •Politik •Ekonomi •Administr asi •Teknologi •Sosial,

Menjelang Ujian Nasional Banyak siswa yang merasa cemas terutama siswa kelas XII hal itu terjadi semenjak Ujian Nasional djadikan standar nilai kelulusan ketakutan siswa tidak

1. Implementasi Pasal 45 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Terkait Dengan Kewajiban Orangtua Terhadap Anak Setelah Terjadinya Perceraian Di Kota

Berdasarkan penelitian dan analisis yang peneliti lakukan dengan menggunakan alat bantu program SPSS 23, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa hipotesis yang

tersebut, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah DKI Jakarta memiliki khasanah arsip dalam wujud dan bentuk media rekam yang beragam, salah satunya adalah arsip foto, dalam rangka

Selain itu, juga untuk mengetahui risiko apa saja yang termasuk katagori major risk yang dilakukan berdasarkan hasil identifikasi dan penilaian (assessment) dalam

Pengembangan Program Intervensi Dini Bersumberdaya Keluarga Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu..