• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANGGARAN DASAR INDEPENDEN PEKERJA SOSIAL PROFESIONAL INDONESIA PEMBUKAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANGGARAN DASAR INDEPENDEN PEKERJA SOSIAL PROFESIONAL INDONESIA PEMBUKAAN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

ANGGARAN DASAR

INDEPENDEN PEKERJA SOSIAL PROFESIONAL INDONESIA

PEMBUKAAN

Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta atas berkat dan karunia‐Nya, para Pekerja Sosial Indonesia dapat menyatukan diri, mewujudkan keinginan, tekad dan semangatnya untuk berhimpun dalam suatu wadah organisasi profesi pekerjaan sosial.

Wadah ini disepakati menjadi wahana untuk meningkatkan kompetensi dan membangun karier; menyediakan perlindungan baik bagi penerima pelayanan maupun pekerja sosial; serta menjamin praktik yang berkualitas, profesional, dan akuntabel sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan pekerjaan sosial.

Pekerjaan Sosial merupakan suatu aktivitas professional pertolongan manusia yang didasarkan pada keterpaduan kerangka pengetahuan, keterampilan dan nilai. Aktivitas profesional tersebut bertujuan membantu dan memberdayakan individu, keluarga, kelompok, organisasi sosial, dan masyarakat dalam meningkatkan dan atau memulihkan keberfungsian sosial, serta berkontribusi menguatkan dukungan kebijakan yang memungkinkan masyarakat lebih mampu mengatasi tantangan dan meningkatkan kesejahteraan sosial mereka.

Profesi Pekerjaan Sosial adalah profesi berbasis praktik dan disiplin akademis yang mempromosikan perubahan dan pembangunan sosial, kohesi sosial, dan pemberdayaan serta pembebasan orang dengan prinsip keadilan sosial, hak asasi manusia, tanggung jawab kolektif dan

(2)

ilmu‐ilmu sosial, humaniora dan modal sosial / kapital sosial / kepribumian “Indigenous knowledge”, pekerjaan sosial melibatkan orang dan struktur dengan tujuan untuk mengatasi tantangan hidup dan meningkatkan kesejahteraan (IFSW‐IASSW, Melbourne 12 Juli 2015)

Landasan nilai dan tujuan pekerjaan sosial sejalan dan menguatkan penegakan Ideologi Negara Republik Indonesia, yaitu Pancasila, yang dirumuskan dalam tujuan nasional bangsa Indonesia, yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, kemudian mengorganisir diri sesuai dengan mandat Undang-Undang No. 14 Tahun 2019 tentang Pekerja Sosial. Oleh karena itu, wadah ini dibangun untuk menguatkan komitmen, praktik, dan pengembangan profesi pekerja sosial Indonesia dalam mewujudkan tanggung jawab profesi serta berkontribusi dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Untuk menjalankan organisasi dan mengatur aktivitas pekerja sosial- pekerja sosial di Indonesia agar efektif dan efisien, ditetapkan aturan- aturan dasar yang dituangkan dalam anggaran dasar ini.

(3)

3 BAB I

NAMA, SIFAT, TEMPAT KEDUDUKAN DAN JANGKA WAKTU

Pasal 1 NAMA

(1) Organisasi ini bernama Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia yang selanjutnya berubah nama menjadi Independen Pekerja Sosial Profesional Indonesia yang disingkat IPSPI berdasarkan Surat Keputusan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: AHU-0006728.AH.01.07.TAHUN 2020

(2) IPSPI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam bahasa Inggris disebut sebagai Indonesian Association of Social Worker.

(3) IPSPI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah satu-satunya organisasi profesi Pekerja Sosial di Indonesia

Pasal 2

IPSPI adalah organisasi profesi pekerjaan sosial yang bersifat nasional, independen dan nirlaba.

Pasal 3

TEMPAT KEDUDUKAN (1) IPSPI berkedudukan di Jakarta.

(2) IPSPI dapat membentuk Dewan Pengurus Daerah yang berkedudukan di ibukota provisi, yang terdapat sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) Pekerja Sosial.

(3) Asosiasi Pekerjaan Sosial adalah bagian dari IPSPI, yang terdapat sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) Pekerja Sosial yang memiliki

(4)

kesamaan minat dan/atau bekerja pada spesialisasi praktik pekerjaan sosial tertentu.

(4) Pembentukan Dewan Pengurus Daerah dan Ikatan/Asosiasi Praktik Spesialisasi Pekerjaan Sosial wajib berafiliasi dan berdasarkan keputusan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat IPSPI

Pasal 4 JANGKA WAKTU

IPSPI didirikan di Jakarta pada tanggal 19 Agustus 1998 untuk jangka waktu yang tidak ditentukan lamanya.

BAB II

ASAS DAN LANDASAN

Pasal 5 IPSPI berasaskan Pancasila.

Pasal 6

IPSPI berlandaskan pada Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945, dan ketentuan yang lebih operasional yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2019 tentang Pekerja Sosial, serta Undang-Undang dan peraturan lainnya yang relevan dengan pengaturan keorganisasian dan konten praktik pekerja sosial.

BAB III

VISI, MISI, DAN TUJUAN

Pasal 7

Visi IPSPI adalah menjadi organisasi profesi pekerjaan sosial yang berperan dalam pengembangan keilmuan dan teknologi pekerjaan sosial,

(5)

5 meningkatkan keberfungsian sosial masyarakat, serta diakui secara nasional maupun internasional.

Pasal 8 Misi IPSPI adalah:

a. Mengembangkan kualitas praktik pekerjaan sosial sesuai dengan standar kompetensi dan standar praktik nasional maupun internasional yang berkontribusi pada pembangunan kesejahteraan sosial.

b. Mengembangkan keilmuan, teknik dan teknologi informasi praktik pekerjaan sosial selaras dengan realita keragaman dan dinamika perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia.

c. Menguatkan kapasitas pengelolaan organisasi IPSPI

d. Menguatkan eksistensi IPSPI di tingkat nasional dan internasional.

Pasal 9 (1) IPSPI bertujuan untuk:

a. Mewadahi pembinaan dan peningkatan kompetensi profesional serta meningkatkan praktik anggota dalam mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

b. Memberikan perlindungan kepada anggota dan penerima pelayanan dari praktik pekerja sosial secara adil dan proporsional untuk menjamin keselamatan para pihak.

c. Mengawasi untuk menjamin kualitas praktik melalui mekanisme pengujian kompetensi, sertifikasi, registrasi, dan pemantauan atau evaluasi praktik.

d. Berkontribusi dalam pengembangan ilmu dan teknologi pekerjaan sosial

(6)

e. Mewadahi kerja sama, komunikasi dan informasi antar anggota maupun organisasi profesi lain, serta meningkatkan pengakuan di tingkat nasional, regional, dan internasional.

(2) Tujuan IPSPI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijabarkan dalam rencana kegiatan yang dibahas dalam rapat kerja pengurus.

BAB IV

ATRIBUT DAN KODE ETIK

Pasal 10

(1) IPSPI mempunyai atribut yang terdiri atas lambang, bendera dan mars untuk menggambarkan jati diri IPSPI.

(2) Ketentuan lebih lanjut tentang atribut diatur dalam Anggaran Rumah Tangga dan selanjutnya disingkat ART.

Pasal 11

(1) Untuk menjaga martabat Pekerja Sosial dibuat Kode Etik yang ditetapkan dan disahkan oleh Kongres.

(2) Kode Etik Pekerja Sosial Indonesia adalah panduan normatif yang harus dipatuhi dalam melaksanakan kegiatan praktik atau keilmuan pekerjaan sosial.

(3) Kode Etik Pekerja Sosial Indonesia diatur tersendiri dan menjadi landasan bagi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IPSPI

(7)

7 BAB V

TUGAS DAN WEWENANG

Pasal 12 Tugas IPSPI adalah :

a Menyusun Kode Etik Pekerja Sosial yang ditetapkan dan disahkan oleh kongres

b Melaksanakan Registrasi Pekerja Sosial

c Meningkatkan pengetahuan, kompetensi, dan martabat Pekerja Sosial;

d Menyusun standar kompetensi Pekerja Sosial; dan

e Melakukan perlindungan dan pengawasan terhadap Pekerja Sosial yang melakukan Praktik Pekerjaan Sosial

Pasal 13 Wewenang IPSPI adalah :

a. Menetapkan dan menegakkan kode etik Pekerja Sosial;

b. Memberikan bantuan hukum kepada Pekerja Sosial;

c. Melakukan pembinaan dan pengembangan Pekerja Sosial;

d. Menyatakan terpuhi atau tidaknya persyaratan Registrasi Pekerja Sosial;

e. Menerbitkan, memperpanjang, membekukan, dan mencabut Surat Tanda Registrasi Pekerja Sosial Warga Negara Indonesia maupun Pekerja Sosial Warga Negara Asing;

f. Menyatakan terjadi atau tidaknya suatu pelanggaran kode etik Pekerja Sosial berdasarkan hasil investigasi;

g. Menjatuhkan sanksi terhadap Pekerja Sosial yang tidak memenuhi standar Praktik Pekerjaan Sosial;

(8)

h. Memberikan penghargaan kepada Pekerja Sosial yang berprestasi;

i. Menjatuhkan sanksi terhadap Pekerja Sosial yang melakukan pelanggaran kode etik Pekerja Sosial; dan

j. Melakukan kerja sama dengan lembaga dalam dan luar negeri untuk penyelenggaraan Praktik Pekerjaan Sosial

BAB VI KEANGGOTAAN

Pasal 14 (1) Anggota IPSPI terdiri dari,

a. Anggota Biasa;

b. Anggota Rekan; dan c. Anggota Kehormatan

(2) Anggota Biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) poin a adalah Pekerja Sosial yang telah teregistrasi sebagai anggota IPSPI

(3) Anggota Rekan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) poin c meliputi a. Sarjana kesejahteraan sosial, terapan pekerjaan sosial, atau ilmu

sosial lainnya terkait kesejahteraan sosial; dan b. Pekerja Sosial Warga Negara Asing

(4) Anggota Kehormatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) poin b adalah seseorang yang bukan Pekerja Sosial dan telah memberikan kontribusi pada profesi maupun praktik pekerjaan sosial yang manfaatnya telah dirasakan oleh Pekerja Sosial secara umum maupun masyarakat

(5) Persyaratan keanggotaan IPSPI diatur dalam ART.

Pasal 15

Hak dan kewajiban anggota di atur dalam ART.

(9)

9

BAB VII

SUSUNAN ORGANISASI

Pasal 16

(1) IPSPI memiliki susunan pengurus pada tingkat pusat dan daerah (2) Di tingkat pusat dibentuk Dewan Pengurus Pusat yang terdiri dari:

a. Dewan Pengarah Pengurus Pusat;

b. Dewan Kehormatan Kode Etik; dan c. Dewan Pengarah Pusat

(3) Di tingkat daerah dibentuk Dewan Pengurus Daerah yang terdiri dari:

a. Dewan Pengarah Pengurus Daerah; dan b. Dewan Pengurus Daerah.

(4) Struktur organisasi dan kepengurusan diatur lebih lanjut dalam ART.

BAB VIII KONGRES

Pasal 17

(1) Kongres merupakan pemegang kekuasaan tertinggi IPSPI yang diselenggarakan sekali dalam 3 (tiga) tahun.

(2) Dalam hal diduga terjadi pelanggaran serius terhadap AD/ART atau situasi genting/kahar keorganisasian yang lain, Kongres Luar Biasa dapat diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Pusat atau atas permintaan tertulis dari 2/3 Dewan Pengurus Daerah.

(3) Tata cara pelaksanaan Kongres dan Kongres Luar Biasa diatur lebih lanjut pada ART.

(10)

Pasal 18 (1) Kongres berwenang untuk:

a. Menerima atau menolak laporan pertanggungjawaban Dewan Pengurus Pusat

b. Menyusun dan menetapkan program kerja untuk periode berikutnya

c. Memutuskan masalah‐masalah mendasar / prinsip IPSPI dengan mempertimbangkan rekomendasi Dewan Kehormatan Kode Etik d. Merumuskan, merubah dan menetapkan AD/ ART

e. Merumuskan, merubah dan menetapkan Kode Etik Profesi Pekerjaan Sosial

f. Memilih dan menetapkan satu orang ketua Dewan Pengurus Pusat untuk periode berikutnya

g. Memilih dan menetapkan empat orang tim formatur Dewan Pengurus Pusat untuk periode berikutnya

h. Ketua bersama Tim Formatur menetapkan kepengurusan Dewan Pengurus Pusat periode berikutnya

i. Membubarkan IPSPI

(2) Kongres Luar Biasa berwenang untuk :

a. Meminta pertanggungjawaban Dewan Pengurus Pusat atas dugaan pelanggaran pelanggaran serius terhadap AD dan ART dan atau penjelasan tentang situasi genting/kahar keorganisasian yang lain

b. Memilih dan menetapkan Dewan Pengurus Pusat yang baru.

(11)

11 BAB IX

MUSYAWARAH DAERAH

Pasal 19

(1) Musyawarah Daerah merupakan pemegang kekuasaan tertinggi organisasi di tingkat daerah.

(2) Musyawarah daerah diselenggarakan setidaknya sekali dalam 3 (tiga)tahun.

(3) Dalam hal diduga terjadi pelanggaran serius terhadap AD/ART, Musyawarah Daerah Luar Biasa dapat diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Daerah atau atas permintaan tertulis dari 1/2 + 1 anggota.

(4) Tata cara pelaksanaan Musyawarah Daerah di atur lebih lanjut pada ART

Pasal 20 Musyawarah Daerah berwenang untuk:

(1) Memilih ketua dan pengurus

(2) Menerima atau menolak laporan pertanggungjawaban Dewan Pengurus Daerah .

(3) Menyusun dan menetapkan program kerja untuk periode berikutnya.

(4) Memilih dan menetapkan pengurus Dewan Pengurus Daerah untuk periode berikutnya.

(5) Meminta pertanggungjawaban Dewan Pengurus Daerah atas dugaan pelanggaran pelanggaran serius terhadap AD dan/ART dan atau penjelasan tentang situasi genting / kahar keorganisasian yang lain

(12)

BAB X

RAPAT ORGANISASI

Pasal 21

(1) Rapat kerja organisasi adalah pertemuan untuk merencanakan program dan kegiatan, merumuskan prosedur, pembagian tugas dalam merealisasi rencana, kerjasama dan koordinasi dengan para pihak penyedia dukungan, menetapkan mekanisme dan membahas hasil serta tindaklanjut hasil pemantauan dan evaluasi program dan kegiatan.

(2) Dewan Pengurus Pusat dan Daerah menyelenggarakan rapat kerja organisasi secara berkala

(3) Tata cara pelaksanaan rapat kerja organisasi diatur lebih lanjut dalam ART.

BAB XII

SUMBER DANA ORGANISASI

Pasal 22 (1) Sumber dana IPSPI diperoleh dari:

a. Iuran anggota;

b. Hasil kegiatan usaha organisasi; dan

c. Sumbangan atau sumber lain yang sah dan tidak mengikat serta tidak bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku.

(2) Besarnya iuran anggota diatur dalam ART.

(3) Penyelenggaraan tatakelola keuangan Dewan Pengurus Pusat wajib dikenakan audit oleh Akuntan Publik.

(13)

13 BAB XIII

PERUBAHAN ANGGARAN DASAR (AD) DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA (ART)

Pasal 23

(1) Perubahan AD dan /ART dilakukan dalam Kongres atau Kongres Luar Biasa.

(2) Perubahan seperti disebutkan pada Ayat 1 harus mendapat persetujuan dari sekurang‐kurangnya 1/2 + 1 dari jumlah pemegang hak suara dalam Kongres.

BAB XIV

PEMBUBARAN ORGANISASI

Pasal 24

(1) Pembubaran organisasi dapat dilakukan oleh Kongres atau Kongres Luar Biasa

(2) Pembubaran sebagaimana disebutkan pada ayat (1) harus mendapat persetujuan dari sekurang‐kurangnya 2/3 dari jumlah pemegang hak suara dalam Kongres.

(3) Dalam hal terjadi pembubaran sebagaimana disebutkan pada ayat (1), Kongres membentuk panitia pembubaran yang beranggotakan sejumlah DPD yang telah terbentuk untuk mengurus pembubaran organisasi.

(14)

BAB XIV LAIN‐LAIN

Pasal 25

Hal‐hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini akan diatur dalam ART serta peraturan‐ peraturan lain yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar.

Ditetapkan di : Jakarta

Pada tanggal : 13 Juni 2020

PIMPINAN SIDANG

Pimpinan Sidang I

Zaenal Abidin

Pimpinan Sidang II

Muhammad Fariz Wajdi

Pimpinan Sidang III

Aisyah Arifin

Referensi

Dokumen terkait

Prinsip dalam memutuskan alternatif-alternatif tersebut adalah alternatif yang memerlukan penanaman modal paling sedikit dan menghasilkan hasil yang secara fungsional

•Pekerja berhenti untuk melihat sesuatu terlihat pekerja tidak menggunakan safety helmet, dilokasi tersebut terlihat craine sedang membawa barang yang berpotensi

Penelitian ini ingin mengkaji lebih dalam mengenai model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) dalam pembelajaran tari halibambang di kelas XI IPS 1

Penelitian ini merupakan Pengukuran lapangan terhadap kecepatan aliran dengan menggunakan metode Pelampung, dimana metode apung (floating method) dilakukan dengan

Bagi yang masih terbiasa nyeruit cenderung tidak begitu terpengaruh dengan adanya perubahan ini, karena nyeruit dianggap sebagai kebutuhan biologis dan psikologi individu

(1) Dewan Pengurus Pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf c adalah pengurus di tingkat pusat yang terdiri dari Ketua Umum dan Anggota Pengurus Pusat,

Menjadi: “Penerapan Metode Targhib Dan Tarhib dalam Membentuk Disiplin Ibadah Santriwati di Pondok Pesantren Al Falah Puteri Banjarbaru”.. 3

Penanggung jawab pelaksanaan tindak lanjut hasil rumusan Forum Inovasi Teknologi Akuakultur pada Tahun 2016 ini adalah Kepala Bidang Perencanaan dan Kerja Sama, Pusat