The Relation Between Red Distribution Width (RDW) Change and Sepsis Mortality Rate.
Valdi Muharam Kusumadiningrat1, dr. Fitria Nurul, Sp. PD., M. Sc.2
1Student of Faculty of Medicine and Health Science Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
2Department of Internal Medicine - Faculty of Medicine and Health Sciences Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Abstract
Background: Sepsis is a combination from a condition resulted via sistemic inflamation called Systemic Inflamatory Response Syndrome (SIRS) with a definite infection site and a positive culture on that site. Systemic inflamatory responses on patients with sepsis are able to change the Red Distribution Width and increase the overall mortaliry risk. Additionally, there are evidences for a relation between RDW and mortality on chronic diseases. The aim of this study is to investigate the importance of RDW change and its relation with mortality.
Methods: This research is a cross sectional descriptive observational study over RDW change and its relation with sepsis mortality. Purposive sampling method was used for this study’s sampling technique with an addition of inclusive and exclusive criteria. Based in inclusion criteria, 81 from 110 sepsis patients were included for this study. Chi-Square test were used to investigate patients characteristic distribution and statistical analysis.
Result: There were 51 sample with RDW 72 Hours change >0,2% and 39 (76,5%) of them passed away while hospitalised. Beside that, there were 30 sample with RDW 72 Hours change <0,2% and 17 (56,7%) of them survived. Chi-square statistical analysis on RDW 72 Hours change and sepsis mortality showed a result with p<0,05 (p=0,003) thus, it can be concluded that RDW 72 Hours change had a significant relation with sepsis mortality.
Key Word: Sepsis, Red Distribution Width, Mortality
Pendahuluan
Sepsis didefinisikan sebagai sebuah kondisi kritis diakibatkan oleh infeksi viral dan bakterial yang dapat menyebabkan kerusakan organ, gagal organ, syok septik,
dan kematian1. Sepsis dan penyakit infeksi lainnya masih merupakan masalah besar di beberapa negara, terutama negara berkembang seperti Indonesia. Sepsis harus dianggap sebagai kondisi darurat karena, pada pasien sepsis terdapat
gangguan suplai nutrisi oksigen ke jaringan-jaringan tubuh yang jika tidak ditangani segera akan menyebabkan kondisi yang lebih serius1. Saat ini, sepsis merupakan salah satu penyebab utama admisi pasien ke Intensive Care Unit (ICU) dan salah satu penyebab utama kematian di negara berkembang dengan angka insidensi yang cukup tinggi2. Saat ini ada beberapa metode untuk mengetahui prognosis pasien sepsis diantaranya melalui mengukuran CRP, Prokalsitonin dan, RDW. Menurut penelitian di Jerman tahun 2012, prokalsitonin, CRP, dan RDW adalah marker penting yang dapat digunakan untuk proses diagnostik dan prognostik pasien sepsis. Prokalsitonin bekerja sebagai marker identifikasi terhadap infeksi bakteri, sedangkan RDW akan berespon terhadap reaksi inflamasi sistemik3. Berdasarkan penelitian terbaru, didapatkan hasil bahwa peningkatan RDW pada pasien infeksi berat menunjukan prognosis yang buruk4.
Bahan dan Cara
Penelitian cross sectional dengan metode purposive sampling. menggunakan data rekam medik pasien periode 2012- 2015. Populasi yang digunakan dalam penelitian in adalah pasien sepsis yang menjalani rawat inap di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit I.
Sampel yang diteliti sebanyak 91 pasien dengan melihat perubahan RDW baseline dan 72 jam setelah admisi.
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut; pasien yang memenuhi kriteria diagnosis sepsis, berusia sama dengan / lebih besar dari 18 tahun, pasien dengan kode diagnosis A419 pada rekam medis berdasarkan sistem coding ICD 10.
Sementara kriteria eksklusi adalah pasien sepsis dengan gangguan darah, pengidap HIV/AIDS, kanker stadium akhir, menerima transfusi darah, dan pasien pulang atas permintaan sendiri.
Penelitian ini dilakukan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit I pada bulan Mei–Juni 2015 dengan melihat rekam medik pasien sepsis periode 2012- 2015.
Hasil Penelitian
A. Berdasarkan Kelompok Perubahan RDW72 jam
Tabel 1. Deskripsi Karakteristik Pasien
Sumber: data sekunder rekam medis RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Pada tabel diatas didapatkan total sampel 81 pasien dengan usia rerata 46,7 tahun. Usia rerata pasien yang mengalami perubahan RDW72 jam >0,2% adalah 49,5 tahun, sedangkan pasien yang mengalami perubahan RDW72 jam <0,2% memiliki usia rerata 43,9 tahun. Perbedaan rerata antara kedua kelompok tersebut menunjukan
perbedaan yang tidak bermakna (p=0,127) sehingga, dapat disimpulkan bahwa usia tidak memiliki pengaruh terhadap perubahan RDW pada pasien sepsis. Ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Patel pada tahun 2009. Dalam penelitian nya, Patel menyebutkan bahwa kenaikan RDW dapat menjadi faktor prognostik independen. Asosiasi ini bahkan tetap signifikan setelah ada penyesuaian dengan faktor-faktor resiko kematian yang lain. Namun mekanisme fisiologis dan patofisiologis dari kenaikan RDW dan kematian masih belum sepenuhnya diketahui5.
Dari hasil penelitian di atas pula, didapatkan 46,9% pasien adalah pria dan selebihnya merupakan wanita. Namun, berdasarkan penghitungan tabulasi tidak didapatkan hasil yang bermakna antara jenis kelamin pasien dengan tingkat perubahan RDW72 jam pada pasien sepsis.
Hasil ini sesuai dengan penelitian yang
Variabel Total (n=81)
ΔRDW72 jam >0,2%
ΔRDW72 jam
<0,2%
P Value Usia 46,7 +
15,5
49,5 + 16,1 43,9 + 12,5
0,127
Laki-laki, n (%)
38 (46,9%)
25 (65 %) 13 (35%) > 0,05
dilakukan oleh Kim pada tahun 2013. Pada penelitian tersebut didapatkan nilai p value sebesar 0,1 (p>0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan RDW tidak memiliki hubungan dengan jenis kelamin6.
B. Hubungan Perubahan RDW dengan Angka Kematian Sepsis
Hasil analisa data dengan Uji Chi Square didapatkan nilai p value sebesar
0,003 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan RDW memiliki hubungan dengan angka kematian pasien sepsis.
Tabel 2. Data tabulasi antara peningkatan RDW dengan angka kematian pasien sepsis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
ΔRDW 72 jam
Status Pasien
Total P
Meninggal Sembuh
>0,2% 39 (76,5%) 12 (23,5%)
51 (100%)
0,003
<0,2% 13 (43,3%) 17 (56,7%)
30 (100%)
Sumber: data sekunder rekam medis RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Dari hasil tabulasi data dapat diketahui bahwa 39 sampel mengalami perubahan RDW72 jam >0,2% dan meninggal dunia, sedangkan pasien yang
mengalami perubahan RDW72 jam <0,2%
namun meninggal dunia sebanyak 13 sampel. Dari data diatas juga diketahui bahwa 12 sampel mengalami perubahan RDW72 jam >0,2% namun sembuh dan 13 sampel yang mengalami perubahan RDW72 jam <0,2% namun meninggal dunia.
Jika ditijau dari status pasien dan perubahan RDW72 jam, terdapat 52 (64,2%) pasien meninggal dengan 39 sampel yang mengalami perubahan RDW72 jam >0,2%
dari seluruh jumlah sampel. Ini menunjukan bahwa sepsis memiliki angka kematian yang tinggi.
Pembahasan
Naiknya RDW mengindikasikan adanya sitomembran tak stabil yang menyebabkan kerusakan organ multipel.
Sebagian dari kerusakan organ ini merupakan ireversibel. Kerusakan organ multipel inilah yang akan membuat prognosis pasien memburuk karena, kematian pada pasien sepsis diakibatkan
oleh kerusakan oran multipel yang ireversibel7. Perubahan RDW pada pasien sepsis dapat dijadikan marker prognosis yang independen. Hubungan antara perubahan RDW dan prognosis pasien sepsis tetap tidak berubah setelah ada penyesuaian terhadap faktor faktor resiko seperti usia, jenis kelamin, dan ras5.
Chen dalam penelitiannya menyebutkan bahwa peningkatan RDW pada pasien sepsis dapat merefleksikan secara komprehensif mengenai proses patofisiologis yang terjadi dalam perjalanan penyakit sepsis. Pertama, proses inflamasi akan menyebabkan naiknya kadar neurohormon dan hormon endokrin seperti noradrenalin, dan angiotensin.
Neurotransmitter tersebut dapat menstimulasi proliferasi eritrosis melalui sekresi eritrogenin (EPO) yang akan meningkatkan RDW8 .
Saat ini ada beberapa teori yang menjelaskan tentang hubungan antara sepsis dan naiknya RDW, salah satu nya
adalah teori inflamasi sistemik. Respon imunitas pada Inflamasi sistemik akan mempengaruhi fungsi sumsum tulang dan metabolisme zat besi. Selain itu, sitokin proinflamasi yang disekresi pada saat terjadinya inflamasi sistemik akan menganggu proses eritropoiesis dengan cara menghambat ekspresi reseptor eritropoietin dan menyebabkan peningkatan RDW9. Selain teori inflamasi sistemik, teori stress oksidatif juga berperan dalam proses ini. Pada penderita sepsis, terdapat stress oksidatif tinggi yang disebabkan oleh aktivasi oksigen reaktif dari proses pelepasan sitokin-sitokin pro- inflamasi. Hal ini pula yang mengakibatkan gangguan eritropoiesis dan menyebabkan peningkatan RDW8. Stres oksidatif secara langsung akan meningkatkan RDW karena tingkat stres oksidatif yang tinggi akan mengurangi usia eritrosit dan menginduksi pelepasan eritrosit muda dalam jumlah besar ke dalam sirkulasi darah perifer. Teori ini
juga menyebutkan bahwa peningkatan RDW yang diakibatkan oleh stress oksidatif dan inflamasi sistemik memiliki pengaruh terhadap progresifitas suatu penyakit dan hal tersebut dapat digunakan sebagai marker yang bermakna untuk memprediksi prognosis suatu penyakit termasuk sepsis10 .
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Pasien sepsis dengan perubahan RDW72 jam >0,2% memiliki resiko kematian sebesar 76,5%
b. Terdapat hubungan yang bermakna antara perubahan RDW dengan angka kematian sepsis dengan nilai p value 0,003. Namun perlu diperhatikan kemungkinan adanya beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut.
Saran
Beberapa hal yang dapat dilakukan baik untuk perbaikan dalam penelitian selanjutnya maupun bagi pihak rumah sakit adalah sebagai berikut:
a. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara perubahan RDW72 jam dengan angka kematian sepsis agar penanganan yang tepat dapat diberikan.
b. Penelitian yang penulis lakukan merupakan penelitian awal dan belum mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian lanjut dengan metode cohort atau case control agar hasil yang didapat lebih
maksimal dan sesuai.
c. Penetapan kriteria inklusi, eksklusi, serta faktor perancu yang tepat agar sampel yang diambil dapat menggambarkan kondisi populasi yang ada dan sesuai dengan tujuan penelitian.
Daftar Pustaka
1. Richard, M., 2013. Sepsis management as an NHS clinical priority.
2. Ahmad, M., 2014. Platelet Counts, MPV and PDW in Culture Proven and Probable Sepsis and Association of Platelet Counts with Mortality Rate.
Journal of the College of Physicians and Surgeon Pakistan, pp. 340-344.
3. Jawad, I., 2012. Assesing available information on the burden of sepsis:
global estimates of incidence, prevalence and mortality. Journal of Global Health.
4. Hyewon, L. et al., 2014. Elevated Red Blood Cell Distribution Width as a Simple Prognostic Factor in Patients with Symptomatic Multiple Myeloma.
BioMed Research International, pp. 8- 19.
5. Patel, K. et al., 2009. Red Blood Cell Distribution Width and the Risk of Death in Middle Aged and Older Adults. Arch Intern Med, 5(169), pp.
515-523.
6. Kim, C. H. et al., 2013. An Increase in Red Blood Cell Distribution Width from Baseline Predicts Mortality in
Patients With Severe Sepsis or Septic Shock. Critical Care, Volume XVII, pp. 282-287.
7. Huzniker, S., 2012. Red Cell Distribution Width and Mortality in Newly Hospitalized Patients. Am J Med, 3(125), pp. 283-291.
8. Chen, L. et al., 2015. Red Cell Distribution Width and Inappropriateness of Left Ventricular Mass in Patients with Untreated Essential Hypertension. PLoS One, 3(10).
9. Gomez, H. G. et al., 2014.
Immunological Characterization of Compensatory Anti-Inflammatory Response Syndrome in Patients With Severe Sepsis: A Longitudinal Study.
Critical Care Medicine, 42(4), pp.
771-780.
10. Wang, Y. L., Hua, Q., Bai, C. R. &
Tang, Q., 2011. Relationship between Red Cell Distribution Width and Short-term Outcomes in Acute Coronary Syndrome in a Chinese Polulation. Internal Medicine, pp.
2941-2945.