69 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah guru SMA Negeri se-kota Salatiga. Ditinjau dari jenis kelamin, jumlah responden laki-laki mempunyai prosentase sebesar 26,42 % (14 orang), sedangkan responden perempuan mempunyai prosentase sebesar 73,58 % (39 orang). Ditinjau dari jenjang pendidikannya, Dijelaskan bahwa sebagaian besar responden berpendidikan sarjana (S1) sebesar 86,76 % (46 orang), sedangkan yang berpendidikan (S2) sebesar 11,32 % (6 orang) serta 1,88
% (1 orang) yang berpendidikan DIII.
4.2 Analisis Deskripsi
Analisis deskriptif merupakan cara menganalisis data dengan mendeskripsikan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi dengan menggunakan statistik deskriptif. Selanjutnya dalam penelitian ini untuk menguji hubungan antar variabel menggunkan teknik korelasi sederhana dan untuk menguji hubungan variabel secara bersama-sama atau simultan menggunakan korelasi berganda. Oleh karena itu dalam penelitian ini disajinakan beberapa data mulai dari hasil dan deskripsi pengukuran variabel, analisis korelasi sederhana dan analisis korelasi berganda.
70 4.2.1 Motivasi
Jumlah item motivasi yang valid sebanyak 21 item dengan 5 alternatif jawaban, dengan skor terendah 1 dan tertingi 5. Penelitian ini dibuat ke dalam 5 kategori pengukuran yaitu, sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi maka, lebar interval masing-masing kategori dapat dihitung sebagai berikut :
Interval = skor tertinggi −skor terendah 5
Interval = 105−82 5 = 23
5 = 4,6
Hasil pengukuran motivasi ditampilkan pada tabel 4.1 sebagai berikut : Tabel 4.1
Hasil Pengukuran Variabel Motivasi
Kategori Interval f % Mean SD Max Min Sangat Rendah 82 - 86,6 8 15,1
Rendah 86,7 - 91,3 9 17,0
Sedang 91,4 - 96 14 26,4
Tinggi 96,1 - 100,7 11 20,8 Sangat Tinggi 100,8 - 105,4 11 20,8 53 100
93,86 6,72 105 82
Jumlah
Sumber: Hasil olah data berdasarkan angket, 2013.
Data tabel 4.1 menunjukkan bahwa rata-rata motivasi sebesar 93,86 dan standar deviasi sebesar 6,72. Selanjutnya data pada tabel 4.1 menjelaskan bahwa motivasi guru terdistribusi pada kategori sangat tinggi dengan prosentase 20,8 %, kategori tinggi 20,8 %, kategori sedang 26,4 %, kategori rendah 17,0 % dan kategori sangat rendah 15,1 %. Berdasar prosentase pada tabel 4.1, kebanyakan guru memiliki motivasi pada kategori sedang.
71
1.2.2 Keikutsertaan dalam Musyawrah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Jumlah item keikutsertaan dalam MGMP yang valid sebanyak 14 item dengan 5 alternatif jawaban dengan skor terendah 1 dan skor tertinggi 5.
Penelitian ini dibuat ke dalam 5 kategori pengukuran yaitu, sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi maka, lebar interval masing-masing kategori dapat dihitung sebagai berikut :
Interval = skor tertinggi −skor terendah 5
Interval = 70−44 5 = 26
5 = 5,2
Hasil pengukuran keikutsertaan dalam MGMP ditampilkan pada tabel 4.2 sebagai berikut :
Tabel 4.2
Hasil Pengukuran Variabel Keikutsertaan dalam MGMP Kategori Interval f % Mean SD Max Min Sangat Rendah 44 - 49,2 1 2
Rendah 49,3 - 54,5 1 2
Sedang 54,6 - 59,8 22 42 Tinggi 59,9 - 65,1 14 26 Sangat Tinggi 65,2 - 70,4 15 28
Jumlah 53 100
60,35 5,71 70 44
Sumber: Hasil olah data berdasarkan angket, 2013
Data tabel 4.2 menunjukkan bahwa rata-rata keikutsertaan dalam MGMP sebesar 60,35 dan standar deviasi sebesar 5,71. Selanjutnya data pada tabel 4.2, menjelaskan bahwa keikutsertaan dalam MGMP terdistribusi pada kategori sangat tinggi dengan prosentase 28 %, kategori tinggi 26 %, kategori sedang 42 %, kategori rendah 2 % dan kategori sangat rendah 2 %. Berdasar prosentase pada
72
tabel 4.2, kebanyakan guru memiliki frekuensi keikutsertaan dalam MGMP pada kategori sedang.
4.2.3 Pelatihan
Jumlah item pelatihan yang valid sebanyak 11 item dengan 5 alternatif jawaban dengan skor terendah 1 dan skor tertinggi 5. Penelitian ini dibuat ke dalam 5 kategori pengukuran yaitu, sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi maka, lebar interval masing-masing kategori dapat dihitung sebagai berikut :
Interval = skor tertinggi −skor terendah 5
Interval = 55−35 5 = 20
5 = 4
Hasil pengukuran pelatihan ditampilkan pada tabel 4.3 sebagai berikut : Tabel 4.3
Hasil Pengukuran Variabel Pelatihan
Kategori Interval f % Mean SD Max Min
Sangat Rendah 35 -39 3 6
Rendah 39,1 - 43,1 12 23
Sedang 43,2 - 47,2 22 42
Tinggi 47,3 - 51,3 4 8
Sangat Tinggi 51,4 - 55,4 12 23
Jumlah 53 100
45,35 4,83 55 35
Sumber: Hasil olah data berdasarkan angket, 2013
Data tabel 4.3 menunjukkan bahwa rata-rata pelatihan sebesar 45,35 dan standar deviasi sebesar 4,83. Selanjutnya, data pada tabel 4.3, dijelaskan bahwa pelatihan terdistribusi pada kategori sangat tinggi dengan prosentase 23 %,
73
kategori tinggi 8 %, kategori sedang 42 %, kategori rendah 23 % dan kategori sangat rendah 6 %. Berdasar prosentase pada tabel 4.3, kebanyakan guru mengikuti pelatihan pada kategori sedang.
4.2.4 Kinerja Mengajar
Jumlah item kinerja mengajar yang valid sebanyak 34 item dengan 5 alternatif jawaban dengan skor terendah 1 dan skor tertinggi 5. Penelitian ini dibuat ke dalam 5 kategori pengukuran yaitu, sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi maka, lebar interval masing-masing kategori dapat dihitung sebagai berikut :
Interval = skor tertinggi −skor terendah 5
Interval = 170−121 5 = 49
5 = 10
Hasil pengkuran kinerja mengajar ditampilkan dalam tabel 4.4 sebagai berikut :
Tabel 4.4
Hasil Pengukuran Variabel Kinerja Mengajar
Kategori Interval f % Mean SD Max Min Sangat Rendah 121 - 131 4 8
Rendah 132 - 142 23 43
Sedang 143 - 153 8 15
Tinggi 154 - 164 4 8
Sangat Tinggi 165 - 175 14 26
Jumlah 53 100
148
14,9 170 121
Sumber: Hasil olah data berdasarkan angket, 2013
74
Data tabel 4.4 menunjukkan bahwa rata-rata kinerja mengajar sebesar 148 dan standar deviasi sebesar 14,9. Selanjutnya, data pada tabel 4.4, dijelaskan bahwa kinerja mengajar terdistribusi pada kategori sangat tinggi dengan prosentase 26 %, kategori tinggi 8 %, kategori sedang 15 %, kategori rendah 43 % dan kategori sangat rendah 8 %. Berdasar prosentase pada tabel 4.4, kebanyakan guru memiliki kinerja mengajar pada kategori rendah..
4.3 Analisis Korelasi Sederhana dan Ganda
Pada bagian ini penulis menyajikan hasil analisis korelasi antara variabel motivasi (X1) dengan kinerja mengajar (Y), variabel keikutsertaan dalam MGMP (X2) dengan kinerja mengajar (Y), variabel pelatihan (X3) dengan kinerja mengajar (Y) dan variabel motivasi (X1), keikutsertaan dalam MGMP (X2), pelatihan (X3) dengan kinerja mengajar (Y).
1. Uji Korelasi antara Motivasi dengan Kinerja Mengajar.
Tabel 4.5 dibawah ini sesuai dengan (lampiran 5:113) menyajikan hasil korelasi Pearson Product Moment motivasi dengan kinerja mengajar.
Tabel 4.5
Koefisien Korelasi antara Motivasi (X1) dengan Kinerja Mengajar (Y)
Variabel Bebas (X1)
Variabel
Terikat (Y) N Koefisien
Korelasi (r) Signifikansi
Motivasi Kinerja Mengajar 53 0,601 0,000
Sumber: Hasil olah data berdasarkan angket, 2013
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara motivasi dengan kinerja mengajar sebesar ( r= 0,601) dengan signifikansi 0,000 < 0,05 maka, H0
75
ditolak Ha diterima. Hal ini berarti terdapat hubungan pada kategori kuat antara motivasi dengan kinerja mengajar. Semakin tinggi tingkat motivasi maka semakin tinggi kinerja mengajarnya, sebaliknya semakin rendah motivasi semakin rendah kinerja mengajar.
2. Uji Korelasi antara Keikutsertaan dalam MGMP (X2) dengan Kinerja Mengajar (Y)
Tabel 4.6 dibawah ini sesuai dengan (lampiran 5:113) menyajikan hasil korelasi Pearson Product Moment keikutsertaan dalam MGMP dengan kinerja mengajar.
Tabel 4.6
Koefisien Korelasi antara Keikutsertaan dalam MGMP (X2) dengan Kinerja Mengajar (Y)
Variabel Bebas (X1)
Variabel
Terikat (Y) N Koefisien
Korelasi (r) Signifikansi Keikutsertaan
dalam MGMP
Kinerja
Mengajar 53 0,383 0,002
Sumber: Hasil olah data berdasarkan angket, 2013
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara keikutsertaan dalam MGMP dengan kinerja mengajar sebesar (r= 0,383) dengan signifikansi 0,002 <
0,05 maka, H0 ditolak Ha diterima. Hal ini berarti terdapat hubungan pada kategori rendah antara keikutsertaan dalam MGMP dengan kinerja mengajar. Semakin tinggi keikutsertaan dalam MGMP maka semakin tinggi kinerja mengajar, sebaliknya semakin rendah keikutsertaan dalam MGMP maka semakin rendah kinerja mengajar.
76
3. Uji Korelasi antara Pelatihan (X3) dengan Kinerja Mengajar (Y)
Tabel 4.7 dibawah ini sesuai dengan (lampiran 5:113) menyajikan hasil korelasi Pearson Product Moment antara pelatihan dengan kinerja mengajar.
Tabel 4.7
Koefisien Korelasi antara Pelatihan (X3) dengan Kinerja Mengajar (Y)
Variabel Bebas (X1)
Variabel
Terikat (Y) N Koefisien
Korelasi (r) Sig-(2-tailed) Pelatihan Kinerja Mengajar 53 0,590 0,000
Sumber: Hasil olah data berdasarkan angket, 2013
Tabel 4.7 Menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara pelatihan dengan kinerja mengajar sebesar (r= 0,590) dengan signifikansi 0,000 < 0,05 maka, H0 ditolak Ha diterima. Hal ini berarti terdapat hubungan pada kategori cukup kuat antara pelatihan dengan kinerja mengajar Semakin tinggi pelatihan maka semakin tinggi kinerja mengajar, sebaliknya semakin rendah pelatihan maka semakin rendah kinerja mengajar.
4. Uji Korelasi antara Motivasi (X1), Keikutsertaan dalam MGMP (X2), dan Pelatihan (X3) dengan Kinerja Mengajar (Y).
Korelasi antara motivasi, keikutsertaan dalam MGMP, dan pelatihan dengan kinerja mengajar diuji dengan menggunakan korelasi berganda, yaitu uji korelasi yang menggunakan satu variabel terikat Y ( kinerja mengajar) dengan lebih dari satu variabel bebas X1 (motivasi), X2 (keikutsertaan dalam MGMP), dan X3 (pelatihan) secara bersama-sama.
77 Tabel 4.8
Koefisien Korelasi antara Motivasi (X1), Keikutsertaan dalam MGMP (X2), dan Pelatihan (X3) dengan Kinerja Mengajar (Y)
Variabel Bebas (X1)
Variabel
Terikat (Y) N
Koefisien Korelasi Ganda
RSquare
Sig F Change
Motivasi, Keikutsertaan dalam MGMP, Pelatihan.
Kinerja Mengajar 53 0,457 0,000
Sumber: Hasil olah data berdasarkan angket, 2013
Hasil uji korelasi berganda pada tabel 4.8 yang diambil dari (lampiran 5:114) memperoleh nilai koefisein korelasi ganda RSquare sebesar 0,457 dengan signifikansi 0,000 < 0,05 maka, H0 ditolak Ha diterima. Nilai RSquare tersebut berada pada kategori cukup kuat. Hal ini menunjukkan secara bersama-sama ketiga variabel bebas yang digunakan memiliki hubungan pada kategori cukup kuat dengan kinerja mengajar guru. Hasil ini menunjukkan bahwa bila variabel bebas motivasi, keikutsertaan dalam MGMP, dan pelatihan dilakukan secara bersama-sama akan berdampak lebih baik kepada kinerja mengajar dibanding muncul secara individu.
Nilai RSquare menunjukkan koefisien determinan, yaitu kemampuan variabel bebas menjelaskan perubahan variabel terikat. Hasil uji tabel diatas menunjukkan besarnya nilai Rsquare sebesar 0,457. Hal ini bermakna 45,7% perubahan kinerja mengajar ditentukan oleh perubahan motivasi, keikutsertaan dalam MGMP dan pelatihan, sedangkan 54,3% dipengaruhi faktor lain yang dominan mempengaruhi kinerja mengajar.
78 4.4 Pembahasan
4.4.1 Hubungan Motivasi dengan Kinerja Mengajar
Hasil perhitungan statistik memperoleh koefisien korelasi r sebesar 0,601 dengan signifikansi 0,000 < 0,05 maka, H0 ditolak Ha diterima. Hasil uji ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan pada kategori kuat antara motivasi dengan kinerja mengajar. Artinya, bahwa tinggi rendahnya kinerja mengajar salah satunya ditentukan oleh motivasi. Dampak positif motivasi terhadap kinerja mengajar dikarenakan ada dorongan dari dalam diri guru untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin dengan mengerahkan segala kemampuan dan tenaganya sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran. Setiap individu guru memiliki cara sendiri-sendiri agar pekerjaannya berhasil sesuai tujuan yang diinginkan.
Menurut statistik deskripsi, data rata-rata guru memiliki skor motivasi pada kategori kuat. Hal ini menunjukkan bahwa guru memiliki dorongan yang kuat dan memiliki semangat yang tinggi dalam bekerja. Dengan motivasi yang tinggi, guru akan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, karena pada dasarnya guru sudah terdorong untuk bekerja dengan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Herzberg dalam (David Alexio, 2011:14) menyatakan bahwa motivasi kerja adalah suatu dorongan untuk menentukan perilaku seseorang dalam melakukan pekerjaannya. Jadi, guru yang memiliki motivasi tinggi, berarti guru tersebut memiliki keinginan, cita-cita, harapan dan faktor-faktor lain yang mendorong dirinya berperilaku sebaik mungkin demi tercapainya tujuan pembelajaran.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhamad (2010:78) yang meneliti hubungan motivasi kerja dengan kinerja mengajar guru SD di Kecamatan Kedungjati Kabupaten Grobogan, menemukan
79
ada hubungan ke arah positif antara motivasi kerja dengan kinerja mengajar guru (r = 0,551) dengan signifikansi 0,000 < 0,05 yang mempunyai arti, semakin tinggi motivasi guru semakin tinggi kinerja mengajar guru.
4.4.2 Hubungan Keikutsertaan dalam MGMP dengan Kinerja Mengajar Guru
Hasil perhitungan statistik memperoleh koefisien korelasi r sebesar 0,383 dengan signifikansi 0,002 < 0,05 maka, H0 ditolak Ha diterima. Hasil uji ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan pada kategori rendah antara keikutsertaan dalam musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) dengan kinerja mengajar. Hal ini memberikan arti bahwa tinggi rendahnya kinerja mengajar salah satunya juga ditentukan oleh keikutsertaan dalam MGMP. Sebenarnya banyak dampak positif yang dapat diperoleh dari adanya MGMP diantaranya; siswa berpeluang mendapatkan pembelajaran kreatif, inovatif efektif dan menyenangkan sehingga dalam kegiatan pembelajaran siswa tidak merasa bosan. Guru juga dapat meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan dengan cara melakukan pembelajaran yang kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan dan sekolah memiliki guru professional sehingga dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Hal ini sejalan dengan Akhmad Sudrajat (akhmadsudrajat.wordpress.com:2008), Melalui kegiatan MGMP diharapkan setiap guru dapat terus mengasah kemampuan profesionalnya guna mengimbangi berbagai tuntutan perubahan pendidikan yang terjadi.
Menurut statistik deskripsi data, rata-rata guru memiliki skor keikutsertaan dalam MGMP pada kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa guru memiliki
80
frekuensi yang rendah dalam keikutsertaan MGMP sehingga dapat mempengaruhi pembelajaran walaupun tidak secara langsung. Fenomena semacam ini terjadi disebabkan karena kurang optimalnya kegiatan MGMP yang sering berbenturan dengan kegiatan lain disekolah dan topik yang disampaikan juga kurang mewakili masalah yang dialami guru didalam kelas.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Bernadus Na`antonis (2005:58) yang meneliti hubungan antara keikutsertaan guru dalam MGMP, pelatihan, dan latar belakang pendidilan dengan kinerja mengajar guru SMK Kristen Soe Kab. Timor Tengah Selatan, menemukan ada hubungan kearah positif antara keikutsertaan guru dalam MGMP dengan kinerja mengajar (r
= 0,341) dengan signifikansi 0,016 < 0,05 yang memiliki pengertian bahwa semakin tinggi keikutsertaan guru dalam MGMP semakin tinggi kinerja mengajar guru.
4.4.3 Hubungan Pelatihan dengan Kinerja Mengajar
Hasil perhitungan statistik memperoleh koefisien korelasi r sebesar 0,590 dengan signifikansi 0,000 < 0,05 maka, H0 ditolak Ha diterima. Hasil uji ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan pada kategori cukup kuat antara pelatihan dengan kinerja mengajar. Artinya bahwa tinggi rendahnya kinerja mengajar salah satunya ditentukan oleh pelatihan. Pelatihan mempunyai dampak positif terhadap kinerja mengajar, hal ini disebabkan karena pelatihan yang diberikan atau dilakukan akan memberikan kemudahan bagi guru dalam menjalankan tugasnya. Pelatihan akan membawa guru kearah yang lebih baik
81
dalam menyelesaikan tugasnya sebagai guru sehingga dapat meningkatan kompetensi guru yang berarrti kinerjanya dapat meningkat.
Menurut statistik deskripsi data, rata-rata guru memiliki skor pelatihan dalam kategori cukup kuat. Hal ini menunjukkan bahwa guru memiliki dorongan yang kuat dalam mengikuti pelatihan demi meningkatkan kompetensi guru sehingga berdampak pada kegiatan pembelajaran disekolah menjadi lebih efektif, efisien dan kreatif. Sesuai dengan pendapat Musfah (2011;61) pelatihan guru merupakan sebuah kegiatan memberikan kesempatan kepada guru untuk mendapat pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru yang mengubah perilakunya, yang akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar siswa.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Bernadus Na`antonis (2005:59) yang meneliti hubungan antara keikutsertaan guru dalam MGMP, pelatihan, dan latar belakang pendidilan dengan kinerja mengajar guru SMK Kristen Soe Kab. Timor Tengah Selatan, menemukan ada hubungan kearah positif antara pelatihan guru dengan kinerja mengajar (r = 0,447) dengan signifikansi 0,002 < 0,05 yang memiliki pengertian bahwa semakin tinggi pelatihan guru semakin tinggi kinerja mengajar.
4.4.4 Hubungan Motivasi, Keikusertaan dalam MGMP dan Pelatihan dengan Kinerja Mengajar
Secara keseluruhan, tiga variabel bebas yang digunakan yaitu motivasi, keikutsertaan dalam MGMP, dan pelatihan memiliki hubungan dengan koefisien korelasi ganda RSquare sebesar 0,457 dengan signifikansi 0,000 < 0,05 maka, H0
82
ditolak Ha diterima. Hasil uji ini menunjukkan terdapat hubungan pada kategori cukup kuat antara motivasi, keikutsertaan dalam musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), dan pelatihan secara simultan dengan kinerja mengajar. Hal ini menunjukkan adanya tiga variabel bebas tersebut secara bersamaan, akan memberikan dampak positif yang lebih besar dibanding secara individu.
Pernyataan diatas sejalan dengan pendapat dari Subari (Muhamad, 2010:18), yang menyatakan bahwa kinerja guru dipengaruhi oleh berbagai faktor yang melekat pada dirinya antara lain pendidikan formal yang pernah dijalani, motivasi kerja, faktor kesejahteraan dan jaminan hidup.
Sesuai dengan pendapat-pendapat diatas, adanya berbagai faktor yang mempengarui kinerja mengajar, maka variabel motivasi, keikutsertaan dalam MGMP dan pelatihan adalah sebagain dari faktor-faktor tersebut. Ketiga variabel tersebut mampu menjelaskan 45,7 % perubahan kinerja mengajar, sedangkan faktor lain masih dominan mempengaruhi kinerja mengajar sebesar 54,3%.
83