• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKIBAT HUKUM DIKABULKANNYA PERMOHONAN PKPU TERHADAP PERSONAL GUARANTOR (Studi Kasus No. 15/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN Niaga/Mdn) S K R I P S I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "AKIBAT HUKUM DIKABULKANNYA PERMOHONAN PKPU TERHADAP PERSONAL GUARANTOR (Studi Kasus No. 15/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN Niaga/Mdn) S K R I P S I"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

S K R I P S I

Disusun dan Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh:

ALESSANDRO GOLFRIED PANJAITAN 160200435

DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(2)
(3)

ABSTRAK

Alessandro Golfried Panjaitan*) Prof. Dr. Sunarmi, S.H., M.Hum**)

Tri Murti Lubis, SH., M.Hum***)

Jaminan perorangan (borgtocht/ personal guarantee) sendiri biasa dikaitkan dengan jaminan perusahaan dan bank garansi. Pada dasarnya ketiga bentuk jaminan tersebut adalah sama, hanya saja pihak yang memberikan jaminannya yang berbeda.

Permasalahan dalam penelitian pengaturan jaminan perseorangan di Indonesia.

Kedudukan jaminan perseorangan dalam permohonan PKPU. Akibat hukum dikabulkannya permohonan PKPU terhadap Jaminan Perseorangan.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Sifat penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian hukum normatif dilakukan dengan studi pustaka. Metode analisis data yang digunakan dalam skripsi ini adalah analisis deskriptif.

Pengaturan jaminan perseorangan di Indonesia jaminan perorangan (personal guarantee) diatur pada Bab XVII yaitu mengenai perjanjian penanggungan. Pada Pasal 1820 KUHPerdata menjelaskan bahwa perjanjian penanggungan adalah perjanjian dengan adanya pihak ketiga yang setuju untuk kepentingan si berutang mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si berutang, apabila pada waktunya si berutang sendiri tidak berhasil memenuhi kewajibannya sehingga debitur dikatakan wanpretasi. Kedudukan jaminan perseorangan dalam permohonan PKPU tidaklah tepat karena penjamin bukan merupakan debitur utama. Penjamin dapat dimohonkan sebagai termohon dalam PKPU apabila kemudian dalam perjanjiannya penjamin menyatakan akan melunasi utang debitur utama secara tanggungmenanggung. Prinsip dalam jaminan perorangan adalah prinsip penagihan sekunder yang mana peran dan tanggung jawab penjamin perorangan muncul manakala debitur melakukan wanprestasi. Sedangkan, PKPU merupakan suatu bentuk dari usaha debitur dalam melunasi utang-utangnya.

Melalui rencana perdamaian, debitur mengajukan kepada kreditur dengan restrukturisasi ataupun cara-cara pembayaran utangnya sehingga dapat dikatakan debitur tidak melakukan wanprestasi. Akibat hukum dikabulkannya permohonan PKPU terhadap Jaminan Perseorangan. Majelis Hakim Pengadian Negeri Medan menyatakan pailit PT. Coffindo, yaitu telah diberikan somasi dan tetap tidak memenuhi kewajibannya untuk membayar sisa utang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia sebagai kreditur sehingga utangnya telah jatuh tempo dan dapat ditagih. PT. Coffindo juga memiliki utang kepada kreditur lain. Majelis Hakim menghukum para debitur pailit untuk membayar ongkos perkara sebesar Rp5.585.200,00 (lima juta lima ratus delapan puluh lima ribu dua ratus rupiah).

Kata Kunci: Dikabulkannya Permohonan PKPU Personal Guantor1

*) Mahasiswa FH USU

**) Dosen Pembimbing I

***) Dosen Pembimbing II

(4)

berkat, kasih dan penyertaan-Nya, sehingga penulis mampu menjalani masa perkuliahan sampai tahap penyelesaian skripsi yang penuh dengan tantangan dan rintangan. Skripsi dengan judul “Akibat Hukum Dikabulkannya Permohona Pkpu Terhadap Personal Guantor (Studi Kasus No 15/Pdt.Sus- PKPU/2018/PN Niaga/Mdn)” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum (Strata-1) di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara;

2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting,S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

3. Bapak Prof.Dr.OK. Saidin,S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

4. Ibu Puspa Melati Hasibuan, S.H.,M.Hum selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

5. Bapak Dr.Jelly Leviza,S.H.,M.Hum selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

6. Bapak Prof. Dr. Bismar Nasution.S.H., M.Hum selaku Ketua Departemen Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

(5)

penyempurnaan skripsi ini.

8. Ibu Prof. Dr. Sunarmi, SH.,M.Hum selaku dosen pembimbing I yang membimbing dan memberikan nasihat kepada penulis serta membantu penulis dalam penyempurnaan skripsi ini.

9. Seluruh Dosen dan seluruh Pegawai dan Administrasi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

10. Yang teristimewa dan terkasih kedua Orang tua penulis, Ayahanda dan Ibunda yang setiap waktu dan sepanjang masa memberikan motivasi dan mendoakan penulis agar dapat mencapai cita-cita yang setinggi-tingginya.

11. Saudara kandung penulis sendiri, yang senantiasa memberikan dorongan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini.

12. Kepada rekan-rekan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Mudah-mudahan skripsi ini dapat memberiksn kontribusi kepada berbagai pihak, namun penulis juga menyadari ketidaksempurnaannya. Oleh sebeb itu diharapkan kritik yang membangun untuk kesempurnaan pernelitian serlanjutnya.

Medan,9 Maret 2020 Penulis,

Alessandro Golfried Panjaitan

(6)

DAFTAR ISI ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penulisan dan Manfaat Penulisan ... 10

D. Keaslian Penulisan ... 11

E. Tinjauan Kepustakaan ... 12

F. Metode Penelitian ... 24

G. Sistematika Penulisan ... 27

BAB II PENGATURAN PERSONAL GUARANTOR DI INDONESIA ... 32

A. Pengertian Personal Guarantor menurut Undang-Undang………… ... 32

B. Perlindungan Personal Guarantor dalam Perjanjian Jaminan Perorangan (Borgtocht) ... 36

C. Pengaturan Personal Guarantor Di Indonesia……… .. 40

BAB III KEDUDUKAN PERSONAL GUARANTOR DALAM PKPU ... 44

A. Pihak yang dapat menjadi Personal Guarantor dalam Perkara PKPU... ... 44

B. Hak Istimewa Personal Guarantor menurut Undang Undang Kepailitan...46

(7)

BAB IV AKIBAT HUKUM DIKABULKANNYA PERMOHONAN PKPU TERHADAP PERSONAL GUANTOR

(STUDI KASUS NO 15/PDT.SUS-PKPU/2018/PN NIAGA/MDN . 59 A. Kasus

Posisi...59

1. Duduknya Perkara... . 59

2. Pertimbangan Hakim... . 68

3. Putusan ... 74

B. Analisis Putusan...76

BAB V PENUTUP ... 95

A. Kesimpulan... 82

B. Saran...83

DAFTAR PUSTAKA ... 83

(8)

A. Latar Belakang

Indonesia sebagai negara berkembang berupaya keras untuk dapat mewujudkan tujuan nasionalnya yaitu meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Upaya ini bidang ekonomi merupakan prioritas utama untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat. Berbagai kebijakan dibuat untuk meningkatkan dan memacu kegiatan ekonomi, memberikan kemudahan- kemudahan kepada para pelaku ekonomi untuk merentangkan sayap usahanya.2

Pengembangan dunia usaha tentu saja sangat membutuhkan fasilitas modal dalam jumlah yang tidak sedikit untuk itu dibutuhkan lembaga terkait yang memberikan dukungan dana bagi kegiatan suatu usaha. Dana bagi suatu perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya dapat diperoleh dari berbagai sumber, dapat berupa modal dan utang. Dana berupa modal diperoleh dari para pendirinya berupa setoran modal pendiri dan diperoleh dari investor. Dana berupa utang dapat diperoleh dari sumber-sumber seperti bank, lembaga pembiayaan, pasar uang maupun pasar modal.3Kegiatan perekonomian masyarakat merupakan hal yang sangat umum. Kegiatan tersebut pada akhirnya membutuhkan fasilitas kredit untuk menjalankan usahanya.4

2Niken Prasetyawati, “Jaminan Kebendaan Dan Jaminan Perorangan Sebagai Upaya Perlindungan Hukum Bagi Pemilik Piutang”, Jurnal Sosial Humaniora, Vol 8 No.1, Juni 2015, hlm. 120.

3 Ibid.

4 Ibid

(9)

Kegiatan pinjam-meminjam dipersyaratkan adanya penyerahan jaminan utang oleh debitur kepada pihak kreditur. Jaminan utang dapat berupa barang yang disebut jaminan kebendaan dan dapat berupa janji penanggungan utang yang disebut jaminan perorangan.5 Pihak yang memberikan pinjaman uang disebut kreditur atau si berpiutang. Banyak perusahaan meminjam uang kepada pihak ketiga yaitu perbankan dan lembaga keuangan lainnya. Pihak yang menerima pinjaman disebut debitur atau si berutang. Berkaitan dengan hal tersebut asas kepercayaan dari kreditur bahwa debitur dapat mengembalikan pinjaman yang diberikan dapat dibayar tepat pada waktu yang telah disepakati.6

Kreditur memberikan kepercayaan kepada debitur dengan jangka waktu dan syarat-syarat yang telah mencapai kesepakatan bersama akan mendapatkan kembali kredit yang diberikan.7 Jaminan yaitu pemberian keyakinan kepada kreditur atas pembayaran utang-utang yang telah diberikannya pada debitur, dimana hal ini terjadi, karena hukum ataupun terbit dari suatu perjanjian yang bersifat assesoir terhadap perjanjian pokoknya berupa perjanjian yang menerbitkan utang-piutang.8

Penanggungan timbul biasanya untuk menjamin perutangan dari segala macam hubungan hukum, bersifat keperdataan guna menjamin pemenuhan prestasi yang lahir dari hubungan hukum tersebut dan dapat dinilai dengan uang.

Penanggungan pribadi merupakan bagian dari skema perjanjian penanggungan

5M. Bahsan, Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit Perbankan Indonesia, (Jakarta:

RajaGrafindo Persada, 2012), hlm. 2.

6 Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan Memahami Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan, cet IV, (Jakarta:Pustaka Utama Grafiti,2010), hlm. 295.

7 Djoni S. Gazali dan Rachmadi Usman, Hukum Perbankan, Cetakan Ketiga, (Jakarta:

Sinar Grafika, 2010), hlm. 263

8Munir Fuady, Hukum Jaminan Utang,(Jakarta: Erlangga, 2013), hlm. 8.

(10)

yang diatur pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) pada Bab XVII. Inti dari perjanjian penanggungan adanya pihak ketiga yang setuju untuk kepentingan si berpiutang mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si berutang, apabila pada waktunya si berutang sendiri tidak berhasil memenuhi kewajibannya9

Saat terjadinya perjanjian utang, pihak debitur juga sering menggunakan suatu jaminan guna menjamin utang dari debitur itu sendiri. Jaminan itu sendiri dibagi menjadi dua jenis, yaitu jaminan umum dan jaminan khusus. Jaminan umum diatur dalam Pasal 1131 KUHPerdata yang menyatakan bahwa “Segala kebendaan si berpiutang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang akan ada di kemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan”. Berdasarkan aturan ini dapat disimpulkan bahwa semua harta benda debitur dapat dijadikan jaminan utang, meskipun dalam perjanjian utang piutang tersebut tidak diikuti dengan perjanjian jaminan.

Kemudian ada juga jaminan khusus, terdiri dari dua macam, yaitu jaminan perorangan dan jaminan kebendaan.10

Berkaitan dengan pemberian jaminan dalam perseroan yang biasanya dilakukan oleh penjamin dalam perjanjian pemberian kredit, dengan adanya perjanjian jaminan, penjamin dapat melakukan kewajiban debitur apabila debitur tidak dapat melakukan kewajibannya terhadap kreditur. Apabila penjamin tidak

9 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum jaminan dan Jaminan Perorangan, (Yogyakarta: Liberty, 2003), hlm.80.

10 Iswi Hariyani dan R. Serfianto D.P, Bebas Jeratan Utang-Piutang, (Yogyakarta:

Pustaka Yustisia, 2010), hlm. 73.

(11)

dapat melakukan kewajibannya maka penjamin dapat digugat pailit oleh kreditur.11

Namun hampir dapat dipastikan atas pinjaman yang diberikan tersebut, kreditur selalu meminta Personal Guarantor (Jaminan Perorangan) ataupun Corporate Guarantor (jaminan perusahaan) di samping Jaminan Kebendaan. Hal

ini menjadi salah satut pertimbangan yang sangat penting bagi kreditur dalam memberikan utang atau bank dalam memberikan kredit adalah adanya jaminan atau Guarantee yang diberikan oleh debitur terhadap kewajibannya. Adanya guarantor untuk membayar kewajiban yang tidak dapat dipenuhi ini bagi kreditur

sangat menguntungkan karena hal ini dapat mengurangi resiko kerugian. Personal Guarantee kedudukannya sebagai perjanjian accessoir antara kreditur dengan

Pihak Ketiga (Guarantor).

Apabila debitur tidak membayar hutangnya pada saat jatuh tempo, maka pihak kreditur dapat menuntut eksekusi atas benda yang telah dijaminkan oleh debitur tersebut untuk melunasi hutangnya. Sedangkan dalam jaminan perorangan atau borgtocht ini jaminan yang diberikan oleh debitur bukan berupa benda melainkan berupa pernyataan oleh seorang pihak ketiga (guarantor) yang tak mempunyai kepentingan apa-apa baik terhadap debitur maupun terhadap kreditur, bahwa debitur dapat dipercaya akan melaksanakan kewajiban yang diperjanjikan;

dengan syarat bahwa apabila debitur tidak melaksanakan kewajibannya maka pihak ketiga itu bersedia untuk melaksanakan kewajiban debitur tersebut.12

11Annisa Amalia Rachmah, “Analisis Yuridis Kedudukan Penjamin Perorangan (Personal Guarantee) Pada Kepailitan Perseroan Terbatas”, Diponegoro Law Journal, Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016, hlm. 3.

12 M.Yahya Harahap, Segi-Segi Hukum Perjanjian, (Bandung: Alumni, 1986), hlm.315

(12)

Seorang penanggung/guarantor tidak diwajibkan membayar kepada Kreditur/si berpiutang melainkan jika debitur utama lalai (wanprestasi), sedangkan harta benda si berutang harus lebih dahulu disita dan dijual untuk melunasi utangnya. Baru apabila tidak ada harta debitur utama yang dapat disita dan dilelang, tetapi hasilnya tidak cukup untuk membayar piutang kreditur dalam arti masih ada sisa piutang yang belum terbayar, baru guarantor dapat ditagih untuk membayar utang debitur utama/sisa utang debitur utama yang belum terbayar.13

Alasan adanya perjanjian penanggungan, karena si penanggung mempunyai persamaan kepentingan ekonomi dalam usaha dari peminjam (ada hubungan kepentingan antara penjamin dan peminjam), misalnya si penjamin sebagai direktur perusahaan selaku pemegang saham terbanyak dari perusahaan tersebut secara pribadi ikut menjamin hutang-hutang perusahaan tersebut dan kedua perusahaan induk ikut menjamin hutang perusahaan cabang. Sifat perjanjian penanggungan utang adalah bersifat accesoir (tambahan), sedangkan perjanjian pokoknya adalah perjanjian kreditur atau perjanjian pinjam uang antara debitur dengan kreditur.14

Istilah jaminan perseorangan berasal dari kata borgtocht, dan ada juga yang menyebutkan dengan istilah jaminan immaterial. Jaminan immaterial (perorangan) adalah jaminan yang menimbulkan hubungan langsung pada

13Rudhy A. Lontoh dkk, Penyelesaian Utang-Piutang Melalui Pailit atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Bandung: Alumni, 2001), hlm.403.

14 Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Press, 2004), hlm.219.

(13)

perorangan tertentu, hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu, terhadap kekayaan debitur pada umumnya15.

Jaminan adalah pemberian keyakinan kepada kreditur atas pembayaran utang-utang yang telah diberikannya pada debitur, dimana hal ini terjadi karena hukum ataupun terbit dari suatu perjanjian yang bersifat assesoir terhadap perjanjian pokoknya berupa perjanjian yang menerbitkan utang-piutang.16

Unsur jaminan perorangan, yaitu:

1. Mempunyai hubungan langsung pada orang tertentu;

2. Hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu; dan 3. Terhadap harta kekayaan debitur umumnya

Subekti mengartikan bahwa jaminan perorangan adalah: “Suatu perjanjian antara seorang berpiutang (kreditur) dengan seorang ketiga, yang menjamin dipenuhinya kewajiban si berhutang (debitur). Ia bahkan dapat diadakan diluar (tanpa) si berhutang tersebut”17 Subekti sebagaimana dikutip Salim, H.S mengkaji jaminan perorangan dari dimensi kontraktual antara kreditur dengan pihak ketiga.

Selanjutnya ia mengemukakan, bahwa maksud adanya jaminan ini adalah untuk pemenuhan kewajiban si berhutang, yang dijamin pemenuhannya seluruhnya atau sampai suatu bagian tertentu harta benda si penanggung (penjamin) dapat disita dan dilelang menurut ketentuan perihal pelaksanaan eksekusi putusan pengadilan18

15 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Op.Cit., hlm 4.

16 Munir Fuady, Op.Cit, hlm. 8

17 Salim HS, Op.Cit., hlm 218

18 Ibid.

(14)

Hukum kepailitan memiliki tujuan untuk mencegah pembayaran utang- utang debitur secara tidak adil dan melawan hukum yang dilakukan oleh para kreditur, praktiknya proses kepailitan, para kreditur akan melakukan perbuatan- perbuatan guna melakukan pelunasan, baik dengan hukum maupun dengan cara yang melawan hukum, sehingga tidak semua kreditur mendapatkan pembayaran yang adil, apabila harta kekayaan yang dimiliki debitur tidak cukup untuk membayar para kreditur.19

Ketentuan UUK dan PKPU mengatur debitur pada Pasal 2 ayat (1) UUK dan PKPU yaitu, pengadilan akan memberi putusan kepada debitur yang memiliki dua atau lebih kreditur yang tidak mampu membayar lunas hutang yang telah jatuh tempo, dengan cara permohonan sendiri ataupun permohonan satu atau lebih krediturnya”. Disamping itu tentang syarat pailitnya sebuah perusahaan juga diatur dalam Pasal 8 ayat (4) UUK dan PKPU.20

Perlindungan hukum yang seimbang atau adil kepada kreditur, debitur dan masyarakat yang tujuannya adalah untuk menyelesaikan masalah utang piutang antara debitur dan kreditur secara adil, cepat, terbuka dan efektif, sehingga dapat menunjang pembangunan perekonomian nasional. Perkembangannya sebuah perusahaan atau badan hukum memberikan garansi kepada kreditur berupa corporate guarantee dan ataupun personal guarantee. Jaminan immaterial terdiri

dari corporate guarantee (jaminan perorangan) sebagai penanggung untuk menjamin kepada kreditur dalam pelunasan utang debitur. Praktik yang

19 Dijan Widijowati, Hukum Dagang, (Yogyakarta: Andi Offset, 2012), hlm.215.

20 Catur Irianto, “Penerapan Asas Kelangsungan Usaha Dalam Penyelesaian Perkara Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaraan Utang (PKPU)”, Jurnal Hukum dan Peradilan, Vol.4 No. (3), 2015, hlm.401.

(15)

berkembang dimasyarakat bisnis, pihak yang menyediakan dana seringkali meminta-jaminan lainnya berupa jaminan perusahaan (corporate guarantee) maupun jaminan pribadi (personal guarantee).21

Pasal 1820 KUHPerdata, Jaminan perorangan (borgtocht atau personal guarantee) adalah suatu perjanjian dimana seorang pihak ketiga, guna

kepentingan si berpiutang, mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si berutang manakala orang ini tidak memenuhinya. Adanya jaminan perorangan itu muncul jika sebelumnya ada perjanjian pokok, maka dapat disimpulkan bahwa perjanjian jamian perorangan ini bersifat assesoir.22

Jaminan perorangan (borgtocht/ personal guarantee) sendiri biasa dikaitkan dengan jaminan perusahaan dan bank garansi. Pada dasarnya ketiga bentuk jaminan tersebut adalah sama, hanya saja pihak yang memberikan jaminannya yang berbeda. Pada jaminan perorangan (borgtocht/personal guarantee) pihak jaminan perorangan adalah orang-perorangan sedangkan dalam

jaminan perusahaan (corporate guarantee) adalah suatu badan hukum. Dilain sisi garansi bank merupakan jaminan yang diberikan oleh lembaga keuangan bank atau lembaga keuangan nonbank.23

Kedudukan penjamin dalam akta penjamin/penanggungan yang telah melepaskan hak istimewanya, dalam proses permohonan kepailitan dapat diajukan kepailitan, meskipun Undang–Undang Kepailitan (UUK) tidak mengatur secara khusus mengenai kedudukan Penjamin atau dalam hal ini guarantor, namun

21 Dijan Widijowati, Loc.Cit.

22 Soedewi Masjchun Sofwan, Himpunan Karya tentang Hukum Jaminan, (Yogyakarta:

Liberty Offset, 2002), hlm. 42

23 Munir Fuady, Hukum Jaminan Utang, (Jakarta: Erlangga, 2013), hlm. 11

(16)

dalam praktik beberapa Putusan Pengadilan baik yurisprudensi dan Putusan Pengadilan Niaga telah memutuskan bahwa penjamin menjadi debitur pailit, atau secara tanggung renteng dengan debitur bertanggung jawab terhadap utang kreditur dalam proses pengajuan kepailitan.24

Ketentuan Pasal 222 ayat (1) dan ayat (3) UUK dan PKPU, Pemohon PKPU dengan ini mengajukan Permohonan PKPU terhadap Termohon PKPU I dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kepada Termohon PKPU I guna mengajukan sebuah rencana perdamaian yang pada pokoknya berisi penawaran- penawaran pembayaran atau skema restrukturisasi utang kepada krediturnya, khususnya Pemohon PKPU. Adapun bunyi dari Pasal 222 ayat (1) UUK dan PKPU adalah sebagai berikut PKPU diajukan oleh debitur yang mempunyai lebih dari 1 (satu) kreditur” sampai saat didaftarkannya permohonan ini, diketahui Termohon PKPU I mempunyai lebih dari 1 (satu) kreditur yang lebih lanjut akan Pemohon PKPU.

Kasus yang berkaitan dengan akibat hukum dikabulkannya permohonan PKPU terhadap Personal Guarantor seperti pada PT Coffindo (Termohon PKPU I) memiliki utang yang telah jatuh tempo, dapat ditagih dan tidak dibayar kepada pemohon PKPU. Pemohon PKPU adalah suatu badan hukum berbentuk lembaga keuangan khusus yang didirikan berdasarkan berdasarkan hukum Negara Republik Indonesia, yaitu Undang-undang No. 2 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (UU LPEI) hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 11 UU LPEI. Termohon PKPU I dalam rangka meningkatkan produksi

24 Lenny Nadriana dan Isis Ikhwansyah, “Implementasi Hukum Personal Guarantee dalam Praktik Kepailitan”, Pagaruyung Jounal Law, Volume 1 No. 2, Januari 2018, hlm 143-144.

6. Putusan PKPU yang Diajukan Kreditor (Kabul)

(17)

ekspornyatelah mengajukan permohonannya kepada Pemohon PKPU melalui surat No. 0133/COFF/05/2011 tertanggal 30 Mei 2011 perihal Permohonan Fasilitas Pembiayaan Untuk Mendapatkan Fasilitas Kredit Modal Kerja Ekspor.

Atas permohonan di atas, Pemohon PKPU juga telah memberikan fasilitas Kredit Modal Kerja Ekspor (KMKE) dengan jumlah pokok sebesar Rp.3.000.000.000,- (tiga milyar Rupiah) kepada Termohon PKPU I, yang ketentuannya dituangkan kedalam Akta Perjanjian Kredit Modal Kerja Ekspor.

Awalnya antara Pemohon PKPU dan Termohon PKPU I telah menyepakati dan terikat dengan ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Akta Perjanjian Kredit Investasi. KMKE transaksional dengan limit kredit sebesar USD 1.000.000 (satu juta Dollar Amerika Serikat) dengan suku bunga sebesar 6.00%

jika fasilitas digunakan dalam USD dan sebesar 10,25% jika fasilitas digunakan dalam IDR (Rupiah Indonesia) dengan jangka waktu fasilitas sampai dengan 14 Juli 2012. KMKE I berputar/Revolving sebesar Rp.10.000.000.000,- (sepuluh milyar Rupiah) dengan suku bunga 10,25% dan jangka waktu sampai dengan 10 Februari 2013. Fasilitas KIE dengan limit kredit maksimal sebesar Rp.10.000.000.000,- (sepuluh milyar Rupiah) dengan suku bunga 10,25% dan jangka waktu maksimal 72 bulan sejak tanggal penandatanganan perjanjian kredit.

Berdasarkan uraian di atas, maka diangkatlah penelitian (skripsi) ini dengan judul “Akibat Hukum Dikabulkannya Permohonan PKPU Terhadap Personal Guarantor (Studi Kasus No 15/PDT.SUS-PKPU/2018/PN Niaga/Mdn”.

(18)

B. Perumusan Masalah

Adapun yang menjadi permasalahan dalam penulisan skripsi ini adalah mengenai hal-hal berikut :

1. Bagaimana pengaturan jaminan perseorangan di Indonesia?

2. Bagaimana kedudukan personal guarantor (jaminan perseorangan) dalam permohonan PKPU?

3. Bagaimana akibat hukum dikabulkannya permohonan PKPU terhadap Jaminan Perseorangan?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Tujuan Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan dari pembahasan di dalam skripsi ini dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui pengaturan jaminan perseorangan di Indonesia.

b. Untuk mengetahui kedudukan personal guarantor (jaminan perseorangan) dalam permohonan PKPU.

c. Untuk mengetahui akibat hukum dikabulkannya permohonan pkpu terhadap jaminan perseorangan.

2. Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan yang diperoleh dari penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

a. Secara teoritis

Secara teoritis, pembahasan mengenai akibat hukum dikabulkan permohonan PKPU terhadap jaminan perseorangan dapat memberikan pengetahuan

(19)

mengenai bagaimana pengaturan jaminan perseorangan di Indonesia, bagaimana kedudukan jaminan perseorangan dalam permohonan PKPU, serta bagaimana akibat hukum dikabulkannya permohonan PKPU terhadap jaminan perseorangan apabila terjadi PKPU.

b. Secara praktis

Pembahasan ini diharapkan dapat memberi masukan atau menjadi tambahan materi bagi pembaca dan masyarakat pada umumnya yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai akibat hukum dikabulkannya permohonan PKPU terhadap Jaminan perseorangan.

D. Keaslian Penulisan

Berdasarkan hasil penelusuran yang telah dilakukan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, baik secara fisik maupun online tidak ditemukan judul “Akibat Hukum Dikabulkannya Permohonan PKPU Terhadap Personal Guarantor (Studi Kasus No 15/Pdt.SUS-PKPU/2018/PN Niaga/Mdn)”. Tidak

ditemukan judul tersebut di atas, namun ada beberapa penelitian terdahulu membahas tentang Akibat Hukum Dikabulkannya Permohonan PKPU terhadap Personal Guarantor, antara lain :

Muhammad Wirayuda. Fakultas Hukum Universitas Lampung Bandar Lampung (2016), dengan judul penelitian Akibat Hukum Bagi Penjamin Utang (Personal Guarantor) Yang Dinyatakan Pailit (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 65 PK/Pdt.Sus-Pailit/2013). Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah:

(20)

1. Pertimbangan Majelis Hakim Mahkamah Agung atas pernyataan pailit terhadap penjamin utang (personal guarantor)

2. Akibat hukum bagi penjamin utang (personal guarantor) yang dinyatakan pailit.

Arlina Haryuningsih, Fakultas Hukum Universitas Airlangga (2016), dengan judul penelitian Permohonan Pailit Terhadap Personal Guarantor Karena Debitur Wanprestasi (Kajian Yuridis terhadap Putusan Nomor 13 / Pailit / 2010 / PN.Niaga.Jkt.Pst, Putusan Nomor 51/Pailit/2004/PN.Niaga.Jkt.Pst dan Putusan Nomor 29/Pailit/1999/PN.Niaga.Jkt.Pst). Adapun permasalahan dalam penelitian:

1. Kewajiban personal guarantor untuk menjamin debitur yang wanprestasi terhadap utang yang dapat dimohonkan pailit

2. Permohonan pailit terhadap personal guarantor harus setelah upaya hukum terhadap debitur yang wanprestasi.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini asli dan dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun akademik.

Data dalam penelitian ini didukung oleh penelitian terdahulu, pendapat para sarjana, jurnal dan artikel.

E. Tinjauan Kepustakaan

1. Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)

Ketentuan PKPU yang berlaku di Indonesia masih menjadi satu dengan Undang-Undang Kepailitan, baik semasa Faillissement Verordening Stb .1905 No.217 juncto Stb. 1906 No.348, setelah terjadinya krisis moneter di Indonesia Juli 1997, maka dirubah menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1998

(21)

tentang perubahan atas Undang-undang tentang Kepailitan dan diganti dengan UUK dan PKPU, dimana instrumen hukurn tersebut diperlukan untuk memfasilitasi permasalahan hukum pembayaran utang dan pernyataan pailit.25

UUK dan PKPU mengatur tentang PKPU, yang dimulai dari Pasal 222.

PKPU (suspension of payment atau surseance van betaling) adalah suatu masa yang diberikan oleh undang-undang melalui putusan hakim niaga di mana dalam masa tersebut kepada pihak kreditur dan debitur diberikan kesempatan untuk memusyawarahkan cara-cara pembayaran utangnya dengan memberikan rencana pembayaran seluruh atau sebagian utangnya, termasuk apabila perlu untuk merestrukturisasi utangnya tersebut. PKPU merupakan sejenis moratorium, dalam hal ini legal moratorium. 26

PKPU adalah suatu masa yang diberikan oleh Hakim Pengadilan Niaga kepada debitur dan kreditur untuk menegosiasikan cara-cara pembayaran utang debitur, baik sebagian maupun seluruhnya termasuk apabila perlu merestrukturisasi utang tersebut. Diberikannya kesempatan bagi debitur untuk menunda kewajiban pembayaran utang-utangnya, maka ada kemungkinan bagi debitur untuk melanjutkan usahanya, aset-aset dan kekayaan akan tetap dapat dipertahankan debitur sehingga dapat memberi suatu jaminan bagi pelunasan utang-utang kepada seluruh kreditur. Selain itu, juga memberi kesempatan kepada debitur untuk merestrukturisasi utang-utangnya, sedangkan bagi kreditur, PKPU yang telah diberikan kepada debitur juga dimaksudkan agar kreditur memperoleh

25 Sunarmi, Hukum Kepailitan, (Medan: USU Press, 2009), hlm. 200.

26 Munir Fuady, Hukum Pailit Dalam Teori & Praktek, (Jakarta: Citra Aditya Bakti, 2014), hlm. 175

(22)

kepastian mengenai tagihannya, utang piutangnya akan dapat dilunasi oleh debitur.27

PKPU merupakan suatu upaya yang dapat dilakukan debitur untuk menghindari kepailitan. Upaya tersebut hanya dapat diajukan oleh debitur sebelum putusan pernyataan pailit ditetapkan oleh pengadilan, karena berdasarkan Pasal 229 ayat (3) UUK dan PKPU permohonan PKPU harus diputuskan terlebih dahulu apabila permohonan pernyataan pailit dan permohonan PKPU diperiksa pada saat yang bersamaan. Agar permohonan PKPU yang diajukan setelah adanya permohonan pernyataan pailit yang diajukan terhadap debitur dapat diputus terlebih dahulu sebelum permohonan pernyataan pailit diputuskan, menurut Pasal 229 ayat (4) UUK dan PKPU wajib permohonan PKPU itu diajukan pada sidang pertama permohonan pernyataan pailit.28

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa PKPU merupakan sarana yang dapat dipakai oleh debitur untuk menghindari diri dari kepailitan, bila mengalami keadaan likuid dan sulit untuk memperoleh kredit.

Sarana yang memberikan waktu kepada debitur untuk menunda pelaksanaan pembayaran utang-utangnya seperti ini akan membuka harapan yang besar bagi debitur untuk melunasi utang-utangnya.

Kesulitan debitur seperti itu belumlah menjadi indikasi terjadinya kepailitan. Apabila debitur diberikan waktu, ia akan sanggup (mampu) untuk memenuhi atau melunasi utangnya secara penuh. Untuk itulah, debitur dapat

27 Kartini Muljadi, dan Gunawan Widjaja, Pedoman Menangani Perkara Kepailitan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 3.

28 Sutan Remi Sjahdeini, Op.Cit, hlm. 238.

(23)

memohon penundaan pembayaran dengan tujuan agar ia bisa memperbaiki ekonomi dan perusahaannya yang terjebak oleh situasi di atas 29

2. Hubungan PKPU dengan Kepailitan

Kepailitan berada dipihak kepentingan kreditur, ketentuan tentang PKPU tampak lebih memihak pada kepentingan debitur.30 Debitur bila dirinya merasa tidak mampu lagi membayar utang-utangnya dapat dengan segera mengajukan permohonan PKPU untuk menghindari pembayaran atas utang-utangnya yang telah jatuh waktu.

Permohonan PKPU dapat dilakukan dengan cara:

a. Diajukan sendiri oleh debitur yang merasa tidak dapat melanjutkan pembayaran utang-utangnya yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih dengan maksud agar tercapai perdamaian yang ditawarkannya.

b. Diajukan debitur setelah adanya permohonan pernyataan pailit yang diajukan oleh krediturnya, disertai dengan tawaran perdamaian.

c. Diajukan oleh kreditur yang memperkirakan debitur tidak dapat melanjutkan membayar utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih, dengan maksud untuk memungkinkan debitur mengajukan rencana perdamaian.31

UUK memberikan kesempatan pertama bagi kreditur dan debitur untuk menyelesaikan sengketa utang-piutangnya dengan jalan damai, hal ini dapat dilihat dari ketentuan-ketentuan yang menyatakan: apabila permohonan

29Zainal Asikin, Hukum Kepailitan dan Penundaan Pembayaran di Indonesia, (Jakarta:

Rajawali Pers,1988), hlm. 93.

30Manahan MP Sitompul, Hukum Penyelesaian Sengketa Utang Piutang Perusahaan, (Malang: Setara Press, 2017), hlm.54.

31Ibid, hlm.55.

(24)

pernyataan pailit diajukan oleh kreditur dan pada saat yang sama atau kemudian oleh debitur mengajukan PKPU, maka PKPU harus diputus terlebih dahulu

Untuk permohonan PKPU ini, harus segera ditetapkan penundaan sementara kewajiban pembayaran utang. Pemberian PKPU yang bersifat tetap oleh para kreditur, secaara tidak langsung memberikan kesempatan kepada debitur untuk menata ulang seluruh kewajibannya yang telah jatuh waktu tersebut.

Pemberian PKPU secara tetap ini harus diwujudkan dalam suatu bentuk perdamaian antara para kreditur dan debitur. Apabila para kreditur dalam rapat kreditur tidak menyetujui memberikan PKPU tetap, maka debitur harus dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga. 32

3. Syarat mengajukan PKPU

Berbeda dengan UUK yang hanya memungkinkan PKPU diajukan oleh debitur, UUK dan PKPU memberikan kemungkinan PKPU diajukan oleh kreditur.33 Syarat-syarat untuk mengajukan permohonan PKPU tertera dalam UUK dan PKPU pada Pasal 222-226, meliputi:

a. PKPU dapat diajukan oleh debitur yang memiliki lebih dari satu kreditur atau oleh kreditur.

b. Permohonan PKPU harus diajukan kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum debitur dengan ditandatangani oleh pemohon dan advokatnya.

c. Pihak-pihak yang dapat memohon PKPU yakni

32 Ibid, hlm.55.

33 Jono, Hukum Kepailitan (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm.169.

(25)

1) Debitur sendiri yang memperkirakan tidak akan dapat melanjutkan membayar utang-utangnya yang sudah jatuh tempo dan dapat ditagih.

2) Kreditur yang memperkirakan bahwa debitur tidak dapat melanjutkan membayar utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih.

3) Dalam hal debiturnya adalah bank yang dapat mengajukan permohonan PKPU adalah Bank Indonesia

4) Apabila debiturnya adalah perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, lembaga penyimpanan dan penyelesaian maka yang dapat mengajukan permohonan PKPU adalah Badan Pengawas Pasar Modal (sekarang adalah Otoritas Jasa Keuangan)

5) Apabila debiturnya adalah perusahaan asuransi, perusahaan reasuransi, dana pensiun, dan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang kepentingan publik yang dapat mengajukan PKPU adalah Menteri Keuangan.

d. Jika pemohonnya adalah debitur, permohonan PKPU harus disertai daftar yang memuat sifat, jumlah piutang, dan utang debitur beserta surat bukti secukupnya.

e. Jika pemohonnya adalah kreditur, pengadilan wajib memanggil debitur melalui juru sita dengan surat kilat tercatat paling lambat 7 hari sebelum sidang

f. Pada sidang tersebut, debitur mengajukan daftar yang memuat sifat, jumlah piutang, dan utang debitur beserta surat bukti secukupnya dan, bila ada, rencana perdamaian.

(26)

g. Pada surat permohonan dapat dilampirkan rencana perdamaian.34 h. Tata Cara Pengajuan Permohonan PKPU.

1) Permohonan pernyataan PKPU diajukan kepada Ketua Pengadilan.

2) Panitera mendaftarkan permohonan PKPU pada tanggal permohonan yang bersangkutan diajukan, dan kepada pemohon diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang dengan tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran.

3) Panitera wajib menolak pendaftaran permohonan PKPU bagi:

a) Bank karena permohonan PKPU hanya dapat diajukan oleh Bank Indonesia

b) Perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, karena permohonan PKPU hanya dapat diajukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

c) Perusahaan asuransi, perusahaan reasuransi, dana pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN),yang bergerak di bidang kepentingan publik, karena permohonan PKPU hanya dapat diajukan oleh Menteri Keuangan.

4) Panitera menyampaikan permohonan PKPU kepada Ketua Pengadilan paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan.

5) Dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) hari setelah tanggal permohonan PKPU.35 didaftarkan, pengadilan mempelajari permohonan dan menetapkan hari sidang

34 Anisa Yulinar Diani, “Kedudukan Penjamin Perorangan Sebagai Termohon Dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)”, Skripsi Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta 2018, hlm. 74.

(27)

Jadi dalam mengajukan PKPU, pemohon harus menyampaikan bukti jumlah rincian active dan pasiva dan nama kreditur dan besarnya utang. Bila permohonan PKPU diterima, pengadilan menunjuk seorang hakim pengawas dan mengangkat seorang atau lebih pengurus yang bersama debitur mengurus harta debitur. Pengurus wajib mengumumkan putusan PKPU dalam Berita Negara dan paling sedikit dua Surat Kabar Nasional. Pengurus yang diangkat harus independent dan tidak memiliki benturan kepentingan dengan debitur dan kreditur. Yang dapat diangkat jadi pengurus yaitu orang perorangan yang memiliki keahlian khususdan terdaftar di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia36

Prosedur pengajuan permohonan PKPU tidak jauh berbeda dengan prosedur pengajuan permohonan kepailitan. Berdasarkan UUK dan PKPU dibagi menjadi dua tahap, yaitu PKPU Sementara dan PKPU Tetap. Permohonan PKPU diajukan kepada Pengadilan Niaga di daerah hukum tempat kedudukan debitur sebelum adanya putusan pernyataan pailit. Jika putusan pernyataan pailit sudah diucapkan oleh hakim, maka permohonan PKPU tidak dapat diajukan lagi.

Permohonan PKPU dapat diajukan oleh debitur baik sebelum permohonan pailit diajukan ataupun setelah permohonan pailit diajukan.37

35 Ibid, hlm. 75.

36 Sentosa Sembiring, Hukum Kepailitan dan Peraturan Perundang-Undangan Yang Terkait Dengan Kepailitan, (Bandung: Nuansa Aulia,2006),hlm.39.

37 Sutan Remy Sjadeini, Op.Cit, hlm 338

(28)

4. Macam-macam PKPU

Berdasarkan pada sifat saat dijatuhkannya PKPU oleh pengadilan terhadap debitur dikenal adanya dua jenis PKPU, yaitu PKPU Sementara dan PKPU Tetap.38

1) PKPU Sementara

Ketentuan Pasal 214 ayat (2) UUK secara tegas mewajibkan pengadilan untuk segera mengabulkan penundaan sementara kewajiban pembayaran utang yang disertai dengan penunjukan seorang Hakim Pngawas dari Hakim Pengadilan dan pengangkatan 1 (satu) atau lebih pengurus yang secara bersama-sama dengan debitur akan mengurus harta debitur selama masa penundaan pembayaran sementara tersebut berlangsung. Kelanjutan dari penetapan putusan penundaan sementara kewajiban pembayaran utang, untuk memberikan keadilan bagi para kreditur, pengadilan melalui pengurus wajib untuk memanggil debitur dan kreditur yang dikenal dengan surat tercatat atau diselenggarakan dalam waktu selambat-lambatnya pada hari ke 45 (empat puluh lima) terhitung sejak putusan PKPU sementara tersebut ditetapkan.

Sifat keterbukaan yang diisyaratkan dalam Pasal 6 ayat (5) jo Pasal 214 ayat (1) jo Pasal 215 ayat (2) jo Pasal 250 ayat (2) UUK seperti disebutkan di atas, pengurus wajib segera mengumumkan putusan penundaan sementara kewajiban pembayaran utang dalam Berita Negara dan dalam sekurang-kurangnya 1 (satu) surat kabar harian yang ditunjuk oleh Hakim Pengawas. Pengumuman itu juga harus memuat undangan untuk hadir pada tanggal, tempat, dan waktu sidang,

38 Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis Kepailitan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 116.

(29)

nama Hakim pengawas dan nama serta alamat dari pengurus. Jika dalam surat permohonan tersebut dilampirkan rencana perdamaian, maka rencana perdamaian ini juga harus disebutkan dalam pengumuman tersebut. Pengumuman harus dilakukan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 21 (dua puluh satu) hari sebelum tanggal sidang yang direncanakan.39

2). PKPU Secara Tetap

Pasal 217 ayat (5) UUK menentukan bahwa pemberian PKPU secara tetap berikut perpanjangannya hanya dapat ditetapkan oleh pengadilan jika hal tersebut disetujui oleh lebih dari ½ (satu perdua) kreditur konkuren yang haknya diakui atau sementara diakui yang hadir, dan mewakili paling sedikit 2/3 (dua pertiga) bagian dari seluruh tagihan yang diakui atau yang sementara diakui dari kreditur konkuren atau kuasanya yang hadir dalam sidang tersebut. Segala perselisihan lainnya yang timbul antara pengurus dan para kreditur konkuren tentang hak suara kreditur tersebut diputuskan secara mandiri oleh Hakim Pengawas.

Jika jangka waktu penundaan sementara kewajiban pembayaran utang berakhir karena kreditur konkuren tidak menyetujui pemberian PKPU secara tetap atau perpanjangannya sudah diberikan, tetapi sampai dengan batas waktu 270 hari tersebut, belum tercapai persetujuan terhadap rencana perdamaian, maka pengurus pada hari berakhirnya PKPU wajib memberitahukan pengadilan untuk menyatakan kepailitan debitur, yang wajib dilaksanakan selambat-lambatnya pada

39 Ibid, hlm.117.

(30)

hari berikutnya. Pernyataan kepailitan ini wajib diumumkan oleh pengurus dalam surat kabar harian yang memuat pengumuman permohonan PKPU40

5. Pengertian Jaminan Perorangan (Personal Guarantor)

Pasal 1820 KUHPerdata menentukan, penjamin/borgtoch/guaranty adalah suatu perjanjian/persetujuan dengan mana seorang pihak ketiga guna kepentingan si berpiutang mengikatkan diri untuk memenuhi perikatannya diberutang manakala orang itu sendiri tidak memenuhinya. Perjanjian pemberian jaminan bersifat sukarela dan accesoir. Bersifat sukarela karena dalam hal ini pihak ketiga secara sukarela bersedia mengikatkan dirinya untuk memberikan jaminan bahwa ia akan membayar utangnya kepada kreditur. Bahkan dapat dilakukan tanpa sepengetahuan debitur (Pasal 1823 KUHPerdata). Bersifat asesor artinya adalah bahwa perjanjian penjaminan utang tidak akan ada tanpa adanya suatu perjanjian pokok (Pasal 1821 KUHPerdata). Penjamin juga tidak dapat dilakukan melebihi kewajiban debitur sebagaimana diatur Pasal 1822 KUHPerdata.41

6. Jenis Jaminan Perorangan

KUHPerdata memberikan perumusan Jaminan secara umum yang diatur dalam Pasal 1131 KUHPerdata, yaitu segala kebendaan seseorang baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan. Namun jaminan secara umum ini masih dirasakan kurang memadai oleh kreditur sehingga seringkali kreditur meminta diberikan jaminan khusus.42

40 Ibid, hlm, 120.

41 Sunarmi, Op.Cit, hlm.176.

42 Luky Pangastuti, “Pertanggung Jawaban Pihak Personal Guarantee Yang Dinyatakan Pailit,” Jurnal Repertorium, Volume II No. 2 Juli - Desember 2015, hlm. 147.

(31)

KUHPerdata, jaminan perorangan (personal guarantee) diatur pada Bab XVII yaitu mengenai perjanjian penanggungan. Pada Pasal 1820 KUHPerdata menjelaskan bahwa perjanjian penanggungan adalah perjanjian dengan adanya pihak ketiga yang setuju untuk kepentingan si berutang mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si berutang, apabila pada waktunya si berutang sendiri tidak berhasil memenuhi kewajibannya.43

Jaminan perorangan dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu:

a. Penanggung (borg) adalah orang lain yang dapat ditagih.

b. Tanggung-menanggung, yang serupa dengan tanggung renteng dan

c. Akibat dari tanggung renteng pasif hubungan hak bersifat ekstern: hubungan hak antara para debitur dengan pihak lain (kreditur) hubungan hak bersifat intern: hubungan hak antara sesama debitur itu satu dengan yang lainnya.

d. Perjanjian garansi (Pasal 1316 KUHPerdata), yaitu bertanggung jawab guna kepentingan pihak ketiga44

Penjaminan atau penanggungan diatur di dalam Pasal 1831 sampai dengan Pasal 1850 KUHPerdata. Dari ketentuan-ketentuan dalam KUHPerdata itu dapat disimpulkan bahwa seorang penjamin atau penanggung adalah juga seorang debitur. Penjamin atau penanggung adalah juga seorang debitur yang berkewajiban melunasi utang debitur kepada kreditur atau para krediturnya apabila tidak membayar utang yang telah jatuh waktu dan atau dapat ditagih. Oleh karena penjamin atau penanggung adalah debitur, maka penjamin atau penanggung dapat dinyatakan pailit berdasarkan UUK.

43 Ibid, hlm 147-148

44 Salim HS, Op.Cit., hlm 218

(32)

7. Sifat, Isi, dan Bentuk Perjanjian

Tujuan dan isi dari penanggungan yaitu memberikan jaminan untuk dipenuhinya perutangan dalam perjanjian pokok. Penanggungan merupakan salah satu bentuk jaminan kredit. Bentuk jaminan yang ditimbulkan oleh perjanjian yang bersifat perseorangan, artinya dalam penanggungan itu yang berkedudukan sebagai jaminan selalu “orang” (dapat berupa orang perseorangan maupun badan hukum).

Sifat lain dari penanggungan adalah bersifat umum, artinya mengakibatkan seluruh harta kekayaan penanggung menjadi jaminan kredit bagi debitur bersangkutan. Dalam penanggungan tidak menimbulkan hak preferen bagi kreditur. Penanggung memberikan jaminan perikatan kepada kreditur tidak dapat melebihi apa yang menjadi perikatan debitur bersangkutan (asas nemo plus), sebagaimana ketentuan dalam Pasal 1822 KUHPerdata.45

Bentuk dari perjanjian penanggungan menurut ketentuan undang-undang adalah bersifat bebas, tidak terikat oleh bentuk tertentu. Dapat berupa lisan, tertulis atau tertuang dalam akta. Namun demi kepentingan pembuktian, dalam praktik lazimnya perjanjian penanggungan dibuat dalam bentuk tertulis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hukum tidak mensyaratkan bahwa penanggungan harus berbentuk pernyataan atau perjanjian tertulis. Penanggungan harus diberikan secara tegas meskipun secara lisan saja. Ketegasan dalam hal ini diperlukan untuk menetapkan sampai sejauh mana kewajiban penanggung yang bersangkutan yaitu

45 Ayu Anissa dan Muhammad Adiguna Bimasakti, Kedudukan Debitor Utama Dan Personal Guarantor, (Jakarta: Guepedia, 2019), hlm. 70-71.

(33)

apakah hanya sebatas kewajiban pokok, atau seluruh kewajiban yang meliputi utang pokok, bunga dan biaya-biaya yang timbul46

F. Metode Penulisan

Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisa dan konstruksi, yang dilakukan secara metodologis, sistematis dan konsisten.

Metodologis berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu; sistematis adalah berdasarkan suatu sistim, sedangkan konsisten berarti tidak adanya hal-hal yang bertentangan dalam suatu kerangka tertentu.47 Untuk melengkapi penulisan skripsi agar tujuan agar dapat lebih terarah dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka metode penulisan yang digunakan antara lain:

1. Jenis dan sifat penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam menjawab permasalahan dalam pembahasan skripsi ini yaitu penelitian hukum normatif. Nama lain dari penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum doktriner, juga disebut sebagai penelitian perpustakaan atau studi dokumen. Disebut penelitian hukum doktriner, karena penelitian ini dilakukan atau ditujukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan-bahan hukum yang lain.48 Penelitian normatif yang didasarkan pada bahan hukum primer dan sekunder yaitu inventarisasi peraturan- peraturan yang berkaitan dengan permasalahan dalam skripsi49

46 Ibid, hlm. 72.

47 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 2013), hlm.46.

48 Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, (Jakarta: Sinar Grafika, 2002), hlm.13.

49 Edy Ikhsan dan Mahmul Siregar, Metode Penelitian dan Penulisan Hukum Sebagai Bahan Ajar, (Medan: Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2009), hlm.54.

(34)

Pada penelitian hukum normatif, tidak diperlukan penyusunan atau perumusan hipotesa. Mungkin suatu hipotesa kerja diperlukan, yang biasanya mencakup sistematika kerja dalam proses penelitian. Di dalam penelitian hukum sosiologis atau empiris pun tidak selalu diperlukan hipotesa, kecuali apabila penelitiannya bersifat eksplanatoris. Pada penelitian yang non-eksplanatoris, kadang-kadang juga diperlukan hipotesa, misalnya, apabila penelitian tersebut bertujuan untuk menemukan korelasi antara beberapa gejala yang ditelaah50

Sifat penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif, karena dalam pelaksanaannya meliputi data, analisis dan interpretasi tentang arti dan data yang diperoleh. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.

Fenomena disajikan secara apa adanya hasil penelitiannya diuraikan secara jelas oleh karena itu penelitian ini tidak adanya suatu hipotesis tetapi adalah pertanyaan penelitian.51

2. Sumber Data

Penyusunan skripsi ini, data dan sumber data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Data sekunder adalah mencakup dokumen-dokumen resmi, buku-buku, hasil-hasil penelitian yang berwujud laporan dan sebagainya.

50 Soerjono Soekanto Op.Cit,, hlm.53.

51 Ibid

(35)

a. Bahan hukum primer yaitu peraturan perundang-undangan yang terkait antara lain:

1. Undang-Undang Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia

3. Undang-Undnag Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.

4. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

5. Putusan No 15/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN Niaga.Mdn.

b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer yakni hasil karya para ahli hukum berupa buku, pendapat-pendapat sarjana, yang berhubungan dengan pembahasan skripsi ini52

c. Bahan hukum tersier, yakni bahan-bahan yang memberi petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder yang berupa kamus- kamus (hukum), ensiklopedia, indeks kumulatif, dan sebagainya.53

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode library research (studi kepustakaan), yaitu teknik pengumpulan

52 Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2006), hlm.30.

53 Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm.114.

(36)

data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur, catatan- catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan. Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data sekunder. Penelitian yang dilakukan dengan membaca serta menganalisa peraturan Perundang- undangan maupun dokumentasi lainnya seperti karya ilmiah para sarjana, internet, maupun sumber teoritis lainnya yang berkaitan dengan materi skripsi yang diajukan.

4. Analisa Data

Data yang berhasil dikumpulkan, data sekunder, kemudian diolah dan dianalisa dengan mempergunakan teknik analisis metode kualitatif, yaitu dengan menguraikan semua data menurut mutu, dan sifat gejala dan peristiwa hukumnya melakukan pemilahan terhadap bahan-bahan hukum relevan tersebut diatas agar sesuai dengan masing-masing permasalahan yang dibahas dengan mepertautkan bahan hukum yang ada. Mengolah dan menginterpretasikan data guna mendapatkan kesimpulan dari permasalahan serta memaparkan kesimpulan dan saran, yang dalam hal ini adalah kesimpulan kualitatif, yakni kesimpulan yang dituangkan dalam bentuk pernyataan dan tulisan54

G. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan penulisan skripsi ini, maka akan diuraikan dalam bab per bab yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah:

54 Edy Ikhsan dan Mahmul Siregar, Op.Cit, hlm.24-25.

(37)

BAB I PENDAHULUAN

Berisikan Pendahuluan yang menggambarkan secara umum tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penelitian, dan sistematika penulisan yang akan berkenaan dengan permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini.

BAB II PENGATURAN TENTANG JAMINAN PERSEORANGAN DI INDONESIA

Menjelaskan tentang Pengertian Jaminan Perseorangan menurut Undang-Undang, Hubungan antara Kreditur, Debitur dan Jaminan Perseorangan dalam perkara Keperdataan, dan Pengaturan Jaminan Perseorangan Di Indonesia

BAB III KEDUDUKAN JAMINAN PERSEORANGAN DALAM

PERMOHONAN PKPU

Berisikan tentang Pihak yang dapat menjadi Jaminan Perseorangan dalam perkara PKPU, Hak Istimewa Jaminan Perseorangan menurut Undang-Undang Kepailitan, Perbandingan Jaminan Perseorangan menurut Undang-Undang Kepailitan dan Undang-Undang Keperdataan, dan Kedudukan Jaminan Perseorangan dalam permohonan PKPU

BAB IV AKIBAT HUKUM DIKABULKANNYA PERMOHONAN PKPU

TERHADAP JAMINAN PERSEORANGAN (STUDI KASUS No 15/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN Niaga/Medan)

(38)

Dalam Bab ini akan dijelaskan tentang kasus posisi, dan analisa kasus terhadap Putusan Pengadilan Niaga Medan Nomor : 15/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN Niaga/Medan.

BAB V PENUTUP

Bagian ini berisikan Kesimpulan dan Saran yang berkaitan dengan pembahasan dalam skripsi ini.

(39)

A. Pengertian Personal Guarantor Menurut Undang-Undang

Personal guarantee berasal dari bahasa Inggris atau yang lebih sering

disebut dengan guaranty, yang orangnya dinamakan guarantor. Sedangkan dalam KUHPerdata digunakan istilah borgtocht yang berasal dari bahasa Belanda yang artinya penanggungan atau penjaminan. Penjaminan adalah perjanjian dengan mana seorang pihak ketiga, guna kepentingan si berpiutang (kreditur) mengikatkan diri untuk memenuhi perjanjian si berutang (debitur) manakala si debitur sendiri tidak memenuhinya (wanprestasi).55

Istilah guarantor dikenal dengan nama penanggung utang. Istilah penanggungan utang terdiri dari dua kata yakni penanggungan dan utang. Pasal 1820 KUHPerdata definisi Penanggungan merupakan suatu perjanjian dengan mana seorang pihak ketiga, guna kepentingan si kreditur, mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si debitur ketika debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya, sehingga dapat dikatakan pengertian penanggungan adalah menjamin dipenuhinya kewajiban atau prestasi yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan hukum.56Personal guarantee adalah penanggungan utang yang dilakukan oleh orang baik secara individu atau bersama-sama yang mengikatkan diri mereka secara pribadi.57

55Sutarno, Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank, (Bandung : Alfabeta, 2004), hlm.

137.

56 Salim H S, Op.Cit, hlm.21.

57 Ibid.

(40)

Personal guarantee adalah jaminan yang bersifat perorangan yang

menimbulkan hubungan langsung dengan orang tertentu. Personal guarantee adalah perjanjian antara kreditur (berpiutang) dengan seorang pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban debitur (si berutang). Perjanjian antara kreditur dengan pihak ketiga (penjamin) dapat dilakukan dengan sepengetahuan si debitur (si berutang) atau bahkan tanpa sepengetahuan si debitur sendiri.58

Jaminan perseorangan (persoonlijke zekerheid atau borgtocht) atau dalam istilah bisnis sehari-hari disebut juga personal guarantee sebagaimana yang diatur dalm Pasal 1820 KUHPerdata. Penangung utang disebut “penjamin”. Dalam menjamin ini dapat dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan dari debitur, pemberian jaminan tersebut di dalam praktik hukum perbankan digunakan sebagai jaminan pelengkap, bersifat melengkapi pemberian jaminan yang sudah ada.

Berbeda dengan jaminan kebendaan, dalam jaminan perseorangan tidak disebutkan harta tertentu milik penjamin yang dijadikan jaminan pelunasan kewajiban debitur kepada bank/lembaga pembiayaan. Di dalam terjadinya eksekusi maka pemenuhan hutang tersebut dapat berasal dari apapun harta bendanya penjamin, kecuali yang sudah dibebani dengan jaminan lainnya seperti hak tanggungan, gadai, ataupun hipotik.59

Apabila diperhatikan definisi tersebut, maka jelaslah bahwa ada tiga pihak yang terkait dalam perjanjian penanggungan utang, yaitu pihak kreditur, debitur, dan pihak ketiga. Kreditur disini berkedudukan sebagai pemberi kredit atau orang

58Sutarno, Op.Cit, hlm. 145.

59Irma Defita Purnamasari, Hukum Jaminan Perbankan, (Bandung: Mizan Media Utama, 2014), hlm. 149.

(41)

berpiutang, sedangkan debitur adalah orang yang mendapat pinjaman uang atau kredit dari kreditur. Pihak ketiga adalah orang yang akan menjadi penanggung utang debitur kepada kreditur manakala debitur tidak memenuhi prestasinya.60

Pemenuhan terhadap suatu perikatan antara debitur dan kreditur dilakukan oleh debitur itu sendiri. Hal tersebut dapat diketahui dari Pasal 1131 KUHPerdata

“Segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatannya perseorangan”. Akan tetapi dapat pula diberikan atau dijamin untuk dipenuhi pihak ketiga yaitu orang pribadi atau badan hukum.

Jaminan inilah yang disebut dengan personal guarantor.61

Perjanjian penanggungan pada asasnya bentuknya bebas, dalam arti dapat diberikan secara lisan maupun tertulis. Pemberian penanggungan, yang khas bukannya isi prestasi para pihak, tetapi suatu unsur formal tertentu, yaitu bahwa penanggung menjamin pelaksanaan prestasi orang lain. Konsekuensinya, isi prestasinya dapat macam-macam, bergantung dari apa yang berdasarkan perikatan pokok dijamin, ditinggalkan debitur tidak dipenuhi atau berupa janji ganti rugi senilai itu. Prestasi debitur utama yang pasti dapat diberikan oleh penanggung adalah kalau kewajiban itu berupa menyerahkan sejumlah uang tertentu.62

Perjanjian penanggungan tidak mewajibkan adanya penyerahan benda tertentu kepada kreditur melainkan berupa pernyataan atau kesepakatan penjamin

60 Ibid., hlm 219

61 Atik Indriyani, “Aspek Hukum Personal Guaranty”,Jurnal Hukum Prioris, September Vol 1, No. 1 tahun 2006, hlm. 27.

62J. Satrio, Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Pribadi Tentang Perjanjian Penanggungan Dan Perikatan Tanggung Menanggung, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1996), hlm. 53.

(42)

atau penanggung dengan kreditur yaitu mengikatkan diri dengan harta kekayaan yang ada untuk memenuhi kewajiban debitur pada waktunya dengan syarat-syarat tertentu, dengan demikian pada dasarnya penanggung bertanggung jawab untuk membayar utang tersebut dari harta kekayaannya.63

Jaminan dengan penanggungan utang itu pada prinsipnya adalah seorang borg (penjamin/penanggung) merupakan orang atau perusahaan yang ada

hubungan kepentingan di bidang bisnis antara debitur dengan borg atau penjamin tersebut. Jarang sekali terjadi seorang penjamin/penanggung tidak mempunyai hubungan atau kepentingan dengan debiturnya.64

Jaminan perorangan/personal guarantee ini jaminan yang diberikan kepada seorang kreditur bukanlah suatu barang yang berupa benda melainkan berupa pernyataan oleh pihak ketiga yang tak mempunyai kepentingan apa-apa baik terhadap debitur maupun terhadap kreditur, bahwa dalam hal ini debitur dapat dipercaya untuk melaksanakan kewajiban yang diperjanjikan, dengan syarat apabila nantinya debitur tidak melaksanakan kewajibannya maka pihak ketiga itu yang akan melaksanakan kewajiban tersebut. Dengan adanya jaminan perseorangan atau personal guarantee, maka suatu hal yang sangat berarti bagi seorang kreditur manakala debitur tidak membayar utang-utangnya maka kreditur dapat menuntut kepada seorang penjamin untuk membayar utang-utang tersebut.65 B. Perlindungan Personal Guarantor dalam Perjanjian Jaminan

Perseorangan (Borgtoch)

63 Soewarso Indrawati, Aspek Hukum Jaminan Kredit (Jakarta: Institut Bankir Indonesia, 2002), hlm. 71.

64 Sutarno, Op.,Cit, hlm.237.

65 Susanti Adi Nugroho, Hukum Kepailitan di Indonesia: Dalam Teori dan Praktik Serta Penerapan Hukumnya, (Jakarta: Prenada Media Group, 2018), hlm. 205.

(43)

Perlindungan hukum dalam masyarakat merupakan suatu sarana untuk menciptakan ketentraman dan ketertiban masyarakat, sehingga dalam hubungan antar anggota masyarakat yang satu dengan yang lainnya dapat dijaga kepentingannya. Hukum tidak lain adalah perlindungan kepentingan manusia yang berbentuk norma atau kaedah. Hukum sebagai kumpulan peraturan atau kaedah mengandung isi yang bersifat umum dan normatif, umum karena berlaku bagi setiap orang, dan normatif karena menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta menentukan bagaimana cara melaksanakan kepatuhan pada kaedah.66

Perlindungan hukum bisa berarti perlindungan yang diberikan terhadap hukum agar tidak ditafsirkan berbeda dan tidak cederai oleh aparat penegak hukum dan juga bisa berarti perlindungan yang diberikan oleh hukum terhadap sesuatu.67Hukum berfungsi sebagai perlindungan kepentingan manusia. Agar manusia terlindungi, hukum harus dilaksanakan. Pelaksanaan hukum dapat berlangsung secara normal, damai, tetapi dapat terjadi juga karena pelanggaran hukum. Pelanggaran terjadi ketika subyek hukum tertentu tidak menjalankan kewajiban yang seharusnya dijalankan, atau karena melanggar hak-hak subyek hukum lain. Subjek hukum yang dilanggar hak-haknya harus mendapat perlindungan hukum.68

Lahirnya suatu penjaminan, dapat juga dikatakan sebagai terbentuknya atau telah dilakukan suatu penjaminan baik oleh perorangan (personal guarantee)

66Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Liberty, 2003), hlm. 39

67Lenny Nadriana dan Isis Ikhwansyah, Op,Cit, hlm 100-101

68 Ibid, hlm. 101.

Referensi

Dokumen terkait

Mengingat bahwa tujuan fidusia adalah untuk memberikan jaminan atas tagihan kreditur terhadap debitur atau dengan kata lain menjamin hutang debitur terhadap kreditur dan

02 Tahun 2003, akan tetapi dalam pelaksanaannya, PERMA tersebut kurang efektif, efisien dan hasilnya juga kurang maksimal, seakan-akan hanya sekedar formalitas

Konstruksi sosial terhadap identitas pedagang kaki lima di perkotaan umumnya cenderung memberi sigma buruk terhadap mereka, yaitu sebagai parasit yang memngganggu

Beberapa kondisi kelainan intrakranial yang dapat menyebabkan kesadaran menurun adalah perdarahan, thrombus atau emboli, edema, dan tumor.. 2) Kelainan Ekstrakranial

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan akuntansi dan teknologi informasi berpengaruh positif terhadap penggunaan aplikasi pengolah angka pada UKM di

Komputer adalah salah satu dari produk teknologi yang selalu mengalami perkembangan, salah satu dari bagian tersebut adalah teknologi informasi. Dimana teknologi

Istilah RPLBK ini bisa dikatakan hal yang baru karena dulu dikenal dengan istilah Satuan Kegiatan Layanan (SATLAN). RPLBK merupakan hal yang sangat dibutuhkan

khusus yakni: 1) Bagaimanakah pola asuh orang tua pada anak usia 5-6 tahun di Taman Kanak-kanak Swasta Katolik Karya Yosef Pontianak? 2) Bagaimanakah kecerdasan sosial