• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Paradigma Penelitian

Untuk menjawab pertanyaan penelitian, peneliti perlu mendalami objek penelitian menggunakan paradigma tertentu. Paradigma digunakan dalam penelitian untuk menangkap perspektif tertentu dalam melihat dunia, terdiri dari ontologi (kebenaran dari suatu realitas), metodologi (cara mendapatkan pengetahuan), dan epistemologi (apa yang diketahui dan siapa yang dapat tahu); di dalamnya pun terkandung nilai, metodologi, tujuan, dan persepsi tertentu (Mathison, 2005, p. 289). Berdasarkan literatur-literatur sebelumnya, Yin (2016) menyimpulkan adanya dua kutub paradigma, yakni positivisme dan konstruktivisme yang masing-masing memiliki karakteristik berlawanan dalam memandang realitas, keterkaitan nilai dalam penelitian, penyertaan konteks dan waktu, serta kausalitas (p. 22). Di antara dua kutub paradigma tersebut, terdapat paradigma postpositivism, kritis, transformatif, dan pragmatis (Yin, 2016, p. 22).

Positivisme, misalnya, memandang realitas sebagai kesatuan tunggal dan menekankan penelitian yang bebas nilai, bebas konteks dan waktu, serta mendorong pendalaman kausalitas dari masalah yang diteliti (Yin, 2016, p. 22). Sebaliknya, paradigma konstruktivisme, memungkinkan seorang peneliti ikut menyertakan nilai-nilai subjektivitas tertentu dengan hasil yang terkait konteks

(2)

dan waktu, dan tidak menekankan kausalitas dalam penelitiannya (Yin, 2016, p. 22).

Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah postpositivism. Sebagai kritik terhadap paradigma positivistik, paradigma ini memungkinkan adanya probabilitas dan ketidakpastian ketimbang semangat positivisme yang asli (Yin, 2016, p. 22). Hal ini dikarenakan postpositivism lebih mengakomodasi ilmu sosial yang meneliti manusia dan perilakunya yang tidak konstan, berbeda dengan positivistik yang lazim di dalam ilmu pengetahuan alam, yang menekankan penggalian pengetahuan melalui fenomena yang dapat diukur, diamati, empirik, yang kemudian diuji menggunakan metode ilmiah. Namun, ilmuwan postpositivism tetap mempertahankan pengamatan empirik yang dipandu metode ilmiah (Baran & Davis, 2012, p. 12). Paradigma ini masih sejalan dengan positivistik yang memandang realitas tunggal, berkebalikan dengan konstruktivisme yang lebih memercayai bahwa realitas bersifat ganda alias relatif.

Sejak awal, penelitian ini berfokus pada fenomena produksi infografik di media Katadata.co.id, sehingga merupakan penelitian yang bergerak di bidang ilmu komunikasi yang menggali perilaku manusia. Penelitian juga disusun secara ilmiah, yang bertujuan untuk memaparkan penerapan model elemen infografik di Katadata.co.id, sehingga dapat menjadi evaluasi dan menambah wawasan baru terkait strategi grafis media dalam memvisualisasikan informasi pada infografik berita. Peneliti meyakini adanya model elemen infografik yang tunggal, alias satu untuk semua disiplin. Oleh karenanya, dengan model yang

(3)

sudah ada, peneliti menempatkannya ke dalam konteks disiplin jurnalisme. Hasil penelitian berupa penerapan model yang memiliki keunikan tersendiri di bidang jurnalisme setidaknya menunjukkan ketidakpastian akan realitas model elemen infografik tersebut saat diterapkan pada seluruh disiplin.

Untuk menjawab pertanyaan penelitian, elemen infografik ini tidak dapat dilepaskan dari konteks yang menyertainya. Oleh karenanya, dengan argumen-argumen yang telah dipaparkan, paradigma postpositivism lebih tepat digunakan dalam melihat konteks elemen infografik sebagai bagian dari keseluruhan proses produksi infografik berita.

3.2 Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Setidaknya ada lima hal yang membuat penelitian kualitatif berbeda dengan jenis lainnya. Pertama, penelitian kualitatif mempelajari makna kehidupan manusia dalam kondisi dunia yang sesungguhnya dengan intervensi prosedur penelitian yang seminimal mungkin. Karena mempelajari makna yang diberikan partisipan penelitian terhadap dunia sekitarnya, peneliti kualitatif harus menangkap perspektif partisipan tersebut. Hal ini menjadi pembeda kedua yang mencirikan penelitian kualitatif dalam memprioritaskan perspektif partisipan penelitian, bukan perspektif peneliti. Ketiga, penelitian kualitatif juga memberi ruang terhadap kondisi kontekstual partisipan penelitian, baik secara sosial,

(4)

institusional, budaya, hingga lingkungannya. Jenis penelitian lain cenderung kesulitan untuk menggambarkan kondisi kontekstual tersebut (Yin, 2016, p. 9). Keempat, penelitian kualitatif berangkat dari fungsinya untuk menjelaskan atau menggambarkan pemikiran atau perilaku manusia melalui konsep yang sudah ada atau bahkan konsep baru, sehingga penelitian kualitatif tak hanya sekadar deskripsi atau buku harian. Terkadang, penelitian kualitatif bahkan bertujuan untuk mengembangkan konsep-konsep baru. Kelima, peneliti kualitatif mengenal proses pengumpulan, pengintegrasian, dan pelaporan data dari berbagai sumber bukti yang kemudian dapat ditriangulasi untuk membuat jalur pemeriksaan bukti yang terpusat (Yin, 2016, pp. 10-11).

Kemampuan jenis penelitian kualitatif untuk menggambarkan perilaku manusia yang sesungguhnya, beserta dengan perspektif dan kondisi kontekstualnya, sangat cocok untuk penelitian ini. Dengan demikian, peneliti dapat mendalami pemaknaan, perspektif, dan kondisi kontekstual partisipan penelitian dalam menerjemahkan informasi ke dalam elemen infografik seperti peta, chart, dan diagram. Ciri penelitian kualitatif yang mengaitkan data lapangan dengan teori dan konsep juga selaras dengan penelitian ini, yang menggali penerapan model elemen infografik di Katadata.co.id berdasarkan konsep model elemen infografik Rajamanickam. Agar dapat menjadi model yang terpadu, triangulasi data pun menjadi penting seperti yang disebutkan Yin. Penelitian kualitatif juga dapat mengakomodasi perspektif paradigma postpositivism (Yin, 2016, p. 301).

(5)

Sementara itu, sifat penelitian lebih merujuk pada sifat deskriptif dalam menggambarkan penerapan model elemen infografik dari perpektif partisipan penelitian di Katadata.co.id. Penelitian ini pun tidak berusaha menunjukkan hubungan atau pun membandingkan antarvariabel. Dengan sikap deskriptif, seorang peneliti lebih mendalami gambaran suatu variabel, baik satu atau lebih, dengan tidak membuat perbandingan atau hubungan dengan variabel lainnya (Abdurrahman & Muhidin, 2011, p. 7). Adapun penyajian deskripsi dapat dilakukan dengan beragam variasi tingkat kerincian, seperti deskripsi tebal (thick description) yang memungkinkan penelitian terbebas dari perspektif peneliti-sentris, sehingga pembaca dapat secara mendalam memahami manusia, perilaku, dan kondisi sosial yang diteliti sesuai konteksnya (Yin, 2016, p. 227).

3.3 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Metode ini memiliki definisi ganda: berdasarkan substansi dan teknik. Secara substansial, studi kasus merupakan metode empirik untuk meneliti fenomena kontemporer secara mendalam dengan melibatkan konteks realitas yang menaunginya, khususnya saat fenomena dan konteks tersebut tak dapat dipisahkan secara jelas. Dari segi teknik, studi kasus melibatkan banyak variabel ketimbang poin-poin data, memerlukan pengembangan proposisi teoretis untuk merancang desain penelitian, dan mengandalkan banyak sumber bukti yang ditriangulasi

(6)

(Yin, 2018, A twofold definition of case study as a research method section, para. 1-7).

Dengan cirinya sebagai penelitian mendalam, studi kasus semakin relevan saat pertanyaan penelitian berbunyi “bagaimana” dan “mengapa” yang mencari penjelasan akan suatu fenomena kontemporer (Yin, 2018, Tip: How do I know if I should be doing case study research? section, para. 1). Dengan pertanyaan penelitian seputar bagaimana penerapan elemen infografik di Katadata.co.id, studi kasus menjadi pilihan agar peneliti dapat mengupas fenomena kompleks tersebut. Pemilihan metode ini juga tak lepas dari pertimbangan peneliti agar dapat menangkap gambaran penerapan model elemen infografik di Katadata.co.id yang utuh beserta konteksnya. Apalagi, infografik sebagai format berita juga lazim digunakan media saat ini, termasuk Katadata.co.id; menjadikannya sebagai fenomena kontemporer.

Studi kasus memiliki kecocokan dengan paradigma postpositivism yang digunakan peneliti. Metode ini sering digunakan untuk mengakomodasi penelitian dengan orientasi perspektif realis, akar dari paradigma postpositivist (Yin, 2018, Applicability of different epistemological orientations section, para. 2). Studi kasus juga dipertimbangkan sebagai opsi dalam melaksanakan penelitian kualitatif, karena mampu menghasilkan temuan yang maksimal (Yin, 2018, Variations in Case Studies as a Research Method section, para. 4). Selain itu, beberapa studi kasus terkenal dengan sifat deskriptif pun dapat ditemukan meski banyak yang dengan keliru mengasosiasikan studi kasus sebagai metode eksploratif, padahal studi kasus dapat digunakan untuk penelitan yang bersifat

(7)

deskriptif, eksplanatif, maupun eksploratif (Yin, 2018, Relationships Among the Methods: Not Hierarchical section, para. 1-4). Dengan demikian, penelitian ini memiliki konsistensi dari paradigma, jenis, sifat, dan metode yang digunakan.

Untuk menentukan kasus (case) yang diteliti, perlu ditempuh dua tahap: pendefinisian kasus dan pembatasan kasus (Yin, 2018, The “case” section, para. 1). Kasus dapat berupa entitas, kegiatan, atau seorang individu tertentu (Yin, 2018, The “case” section, para. 4). Untuk mengetahui penerapan model elemen infografik di bidang jurnalistik, peneliti mengambil kasus berupa media berita, yang merupakan sebuah entitas. Karena model elemen infografik dalam konsepnya tidak identik dengan medium tertentu, peneliti tidak menentukan batasan apakah kasus yang dipilih merupakan media daring, cetak, atau pun media penyiaran.

Dalam mendesain penelitian, studi kasus tunggal tepat untuk dilakukan dalam beberapa kondisi, dengan lima dasar kasus tunggal: kritis, ganjil, umum, pengungkapan, atau longitudinal (Yin, 2018, Five rationales for single-case designs section, para. 2). Kasus umum diambil sebagai dasar studi kasus tunggal ini, karena kasus umum bertujuan untuk memaparkan keadaan dari realitas sehari-hari yang mungkin mengandung nilai-nilai ataupun proses sosial tertentu yang berkaitan dengan proposisi teoretis (Yin, 2018, Five rationales for single-case designs section, para. 5). Dengan dasar tersebut, peneliti mengambil suatu media berita sebagai kasus yang dapat menggambarkan kondisi realitas pembuatan infografik sehari-hari, yang di dalamnya dapat memberikan

(8)

wawasan terkait penerapan elemen infografik sesuai dengan proposisi teoretis penelitian ini.

Pemilihan kasus perlu melihat relevansinya dengan teori atau proposisi teoretis (Yin, 2018, Five rationales for single-case designs section, para. 3). Dalam melakukan studi kasus tunggal, pilihlah kasus yang memiliki sumber data yang paling banyak (Yin, 2018, A one-phased approach section, para. 2). Selain itu, di dalam studi kasus tunggal, juga dibutuhkan investigasi terhadap kandidat kasus yang akan dipilih untuk menghindari representasi yang keliru dan mendapatkan kasus dengan akses pengumpulan data yang lebih optimal (Yin, 2018, Five rationales for single-case designs section, para. 9). Dengan demikian, pemilihan media berita sebagai kasus harus melihat kemungkinan jawaban pertanyaan penelitian dapat ditemukan dari media tersebut.

Dengan pertanyaan penelitian seputar penggunaan elemen infografik, seperti chart, peta, dan diagram, peneliti memilih media daring Katadata.co.id sebagai kasus. Katadata.co.id dipilih karena konsisten menyajikan infografik yang mengandung dan menitikberatkan visualisasi, termasuk elemen-elemen visual infografik. Keadaan tersebut selaras dengan apa yang dipaparkan Valero Sancho (2001) bahwa infografik merupakan produk jurnalistik yang berbasis visual (p. 21). Selain itu, Katadata.co.id juga menyajikan infografik dalam tiga medium: statis, bergerak, dan interaktif. Infografik statis Katadata.co.id disajikan dalam format gambar melalui kanal khusus “Infografik” (katadata.co.id/infografik), sedangkan infografik bergerak disajikan melalui animasi dalam video. Adapun infografik interaktif disajikan dalam situs web

(9)

yang umumnya menyatu dengan artikel berita dalam kanal “Analisis” (katadata.co.id/analisis), juga melalui produk bernama “Databoks”.

Gambar 3.1 Infografik Statis Katadata.co.id “Polemik Bersekolah saat Normal Baru”, Dipublikasikan 3 Juni 2020

Sumber: (Lidwina, 2020f)

Sebagai bukti, seorang peneliti dapat menunjukkan dokumentasi terbatas dari masing-masing kasus yang dipilih (Yin, 2018, A one-phased approach section, para. 1). Untuk itu, peneliti menyusun dokumentasi untuk membuktikan argumentasi pemilihan media Katadata.co.id sebagai kasus. Dokumentasi pertama merupakan Gambar 3.1, infografik statis yang diunggah pada 3 Juni 2020 tentang kegiatan sekolah di era normal baru, yang

(10)

mengandung ikon (elemen diagram) dan chart batang (elemen chart). Ada juga Gambar 3.2 yang merupakan infografik statis Katadata.co.id, diunggah pada 9 Agustus 2019, memadukan ikon (elemen diagram), diagram timeline (elemen diagram), dan peta skematis (elemen peta) dalam menggambarkan informasi terkait pemadaman listrik massal di Jawa pada Agustus 2019.

Gambar 3.2 Infografik Statis Katadata.co.id “Transmisi Bermasalah Penyebab Listrik Padam Serentak”, Dipublikasikan 9 Agustus 2019

Sumber: (Tim Publikasi Katadata, 2019b)

Sementara itu, Gambar 3.3 merupakan contoh infografik bergerak dari Katadata.co.id. Gambar 3.3 merupakan tangkapan layar video “Polemik Karhutla Indonesia” yang dipublikasikan pada 2 Juni 2020, berupa infografik bergerak yang menampilkan animasi chart batang (elemen chart). Infografik interaktif dapat diamati pada Gambar 3.4 yang merupakan bagian dari berita “Posisi Kesiapan Indonesia di Dunia Hadapi Ledakan Covid-19” yang

(11)

dipublikasikan pada 22 April 2020, yang menampilkan statistik melalui bentuk peta data (elemen peta).

Gambar 3.3 Infografik Bergerak Katadata.co.id “Perbandingan Titik Api 2015-2019” dalam Video “Polemik Karhutla Indonesia”, Dipublikasikan 2

Juni 2020

Sumber: (Katadata.co.id, 2020b)

Gambar 3.4 Infografik Interaktif Katadata.co.id “Ketersediaan dan Kebutuhan Ventilator” dalam Berita “Posisi Kesiapan Indonesia di Dunia

Hadapi Ledakan Covid-19”, Dipublikasikan 22 April 2020

Sumber: (Jayani, 2020d)

Namun, dari ketiga medium tersebut, medium statis cenderung merupakan satu-satunya medium yang menyajikan beragam variasi elemen infografik, baik dalam jenis diagram, peta, dan chart. Hal ini dapat dilihat pada

(12)

produk-produk infografik statis di laman kanal “Infografik” pada situs web Katadata.co.id. Sementara itu, infografik bermedium bergerak dan interaktif lebih didominasi oleh elemen chart dan peta terkait data kuantitatif saja (seperti pada Gambar 3.3 dan 3.4), sehingga cenderung terbatas dalam menyajikan variasi dari jenis elemen peta, diagram, dan chart. Dengan demikian, hanya format statis yang lebih berpotensi dapat menjawab pertanyaan penelitian seputar penggunaan diagram, peta, dan chart.

Selain itu, infografik diyakini menyajikan penggabungan elemen-elemen infografik yang terpadu dalam merepresentasikan informasi (Rajamanickam, 2005, p. 8). Perpaduan elemen-elemen infografik ini dapat diamati meski hanya pada satu sajian infografik statis Katadata.co.id, seperti halnya paduan ikon (elemen diagam), peta skematis (elemen peta), dan diagram timeline (elemen diagram) dalam menggambarkan secara komprehensif kronologi pemadaman listrik massal (Gambar 3.2). Namun, perpaduan antarelemen tersebut cenderung tidak ditonjolkan pada infografik bergerak dan statis (Gambar 3.3 dan 3.4) dengan elemen yang masing-masing berdiri sendiri dan tidak membangun keterpaduan.

Infografik berformat statis ini juga merupakan produk infografik pertama dan sudah dikembangkan sejak awal pendirian Katadata.co.id, sesuai yang dipaparkan A. W. Yudhistira (personal communication, 14 Oktober 2020). Format statis ini juga unggul karena dapat diproses dan dibaca secara instan, serta memberi kesempatan kepada audiens untuk menentukan sendiri kecepatan membaca dan titik mana yang akan dibaca terlebih dahulu, berbeda

(13)

dengan format bergerak, misalnya, yang harus disaksikan audiens dari awal hingga akhir untuk memahami informasi yang disampaikan (L. E. M. Hutabarat, personal communication, 28 Oktober 2020).

Untuk itu, kelebihan-kelebihan tersebut menjadi dasar peneliti untuk memfokuskan penelitian pada infografik berformat statis dari Katadata.co.id, utamanya format tersebut yang memiliki akses dan sumber data yang optimal dalam menjawab pertanyaan penelitian berbasis ketiga jenis elemen tersebut. Oleh karenanya, peneliti memilih media Katadata.co.id sebagai kasus.

3.4 Key Informan dan Informan (Studi Kasus)

Informan memainkan peran penting dalam penelitian ini. Partisipan dalam penelitian dapat bergeser peran menjadi informan saat individu tersebut tak hanya memberikan wawasan mendalam terkait topik penelitian, tetapi juga memberikan saran terkait orang lain yang dapat diwawancarai atau juga bukti-bukti baru (Yin, 2018, Prolonged case study interviews section, para. 2).

Sementara itu, informan yang dapat memberikan informasi tertentu pada suatu aspek spesifik dan dapat membuka akses terhadap individu lain yang dapat diwawancara, baik yang menguatkan atau melemahkan bukti, disebut sebagai informan kunci (key informant) (Yin, 2018, Prolonged case study interviews section, para. 2).

Agar peneliti dapat mewawancarai informan yang tepat, informan dalam penelitian ini perlu memenuhi beberapa kriteria, seperti:

(14)

1. terlibat dalam proses produksi infografik statis di Katadata.co.id, 2. memiliki kapasitas, pengetahuan, atau kompetensi terkait elemen

visual infografik statis, seperti diagram, peta, dan chart, beserta penggunaannya untuk menggambarkan informasi tertentu.

Individu yang memenuhi kriteria sebagai informan tersebut dapat meliputi redaktur pelaksana, editor, jurnalis, jurnalis multimedia, dan desainer grafis yang merupakan kolaborator utama dalam pembuatan infografik statis. Redaktur pelaksana atau editor, khususnya, dapat menjadi informan kunci. Hal ini dikarenakan selain menjadi pihak yang mengetahui dan memegang tanggung jawab utama terhadap penggunaan elemen visual tertentu dalam infografik statis yang dipublikasikan, editor atau redaktur pelaksana dapat membuka akses terhadap calon informan lain dalam menguatkan bukti.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Studi kasus menjadi metode yang menguntungkan dalam penelitian ini, karena keunggulannya dalam mengakomodasi beragam sumber bukti: dokumen, artefak, wawancara, observasi langsung, hingga observasi partisipatoris (Yin, 2018, Control over behavioral events and focus on contemporary as opposed to entirely historical events section, para. 3). Tiga teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini mencakup:

(15)

1. Dokumentasi

Segala bentuk informasi yang terdokumentasi, baik dalam bentuk kertas maupun elektronik, dapat menjadi sumber bukti yang relevan dalam studi kasus, seperti surat elektronik, notula rapat, laporan, agenda, proposal, kliping berita, dan lainnya. Dokumentasi ini bisa jadi mengandung bias dan tidak akurat, sehingga tidak dapat dianggap sebagai dokumentasi/rekaman yang sebenarnya terhadap suatu kegiatan (Yin, 2018, Documentation section, para. 1-3).

Untuk studi kasus, dokumentasi dapat menguatkan bukti dari sumber lain: mengoreksi pengejaan nama maupun jabatan yang disebut dalam teknik wawancara, menyediakan detail yang lebih spesifik dari suatu informasi pada bukti lain, dan membuat kesimpulan baru. Namun, kesimpulan ini perlu dianggap sebagai dugaan yang perlu diselidiki (Yin, 2018, Documentation section, para. 4).

Dokumen yang dapat dikumpulkan sebagai data penelitian ini adalah notula rapat redaksi yang membahas produksi infografik statis, pedoman/SOP terkait elemen infografik, komunikasi formal maupun informal seperti di antaranya surat elektronik, memo, pesan instan, dan catatan agenda pemberitaan media, khususnya yang terkait dengan produksi infografik statis. Tak hanya itu, kliping berita, atau pun sketsa dan hasil infografik statis yang sudah atau pun belum dipublikasikan dapat menjadi dokumen penting sebagai contoh elemen infografik yang digunakan. Dokumen-dokumen ini dapat menjadi bahan untuk triangulasi.

(16)

2. Wawancara

Sebagai salah satu teknik pengumpulan data yang penting dari studi kasus, wawancara dapat membantu mengumpulkan pandangan seseorang terhadap sesuatu dan menjelaskan “mengapa” dan “bagaimana” dari fenomena yang diteliti. Meski wawancara dalam studi kasus lebih mirip dengan obrolan yang terkendali, peneliti tetap harus setia dengan protokol studi kasus yang telah disusun dan mengungkapkan pertanyaan dengan tidak melibatkan bias (Yin, 2018, Interviews section, para. 1-3).

Wawancara ini dapat berupa wawancara berdurasi lama, pendek, dan wawancara survei. Wawancara berdurasi lama dapat memakan waktu dua jam bahkan lebih dari satu atau lebih sesi, yang salah satunya dapat melibatkan informan kunci (Yin, 2018, Prolonged case study interviews section, para. 1-2). Untuk wawancara berdurasi pendek, durasi yang termakan hanya sekitar satu jam atau kurang, dan substansi yang dibicarakan lebih terfokus. Tipe ini juga memiliki versi kelompok, focus group, yang dilakukan dengan mengundang dan memoderatori sekelompok kecil orang untuk berdiskusi terkait sejumlah aspek, dengan harapan mendapatkan beragam perspektif dari masing-masing orang dalam kelompok tersebut (Yin, 2018, Shorter case study interviews section, para. 1-3).

Dikarenakan jenis penelitian yang condong ke arah kualitatif, teknik wawancara survei tidak dilakukan dalam penelitian ini. Perekaman wawancara juga dipilih peneliti agar dapat menangkap gambaran yang

(17)

seutuhnya dari suatu wawancara ketimbang hanya mengandalkan catatan pribadi. Namun, dalam beberapa kondisi, perekaman bisa saja tidak dimungkinkan, termasuk jika orang yang diwawancara menolaknya (Yin, 2018, Interviews section, para. 4).

Wawancara berdurasi lama akan dilakukan terhadap informan kunci, sedangkan banyaknya informasi yang dibutuhkan dari informan akan menentukan pemilihan wawancara berdurasi lama atau pendek. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepada informan dari Katadata.co.id merupakan pertanyaan penelitian yang dikembangkan ke dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan spesifik terkait varian setiap elemen diagram, peta, dan chart. Pertanyaan-pertanyaan ini dijabarkan di dalam protokol studi kasus sehingga peneliti memiliki panduan dasar, konsisten, dan terstruktur dalam mewawancarai informan.

3. Observasi langsung

Selama studi kasus dilakukan dalam latar waktu masa kini, observasi langsung dapat dimungkinkan dengan jangkauan pengumpulan data yang bersifat formal hingga kasual. Hal ini dapat mencakup rapat, kegiatan sampingan, kegiatan produksi, dan bahkan saat peneliti sedang melaksanakan wawancara sebagai teknik pengumpulan data. Bukti yang dikumpulkan selama observasi lapangan dapat menyediakan informasi tambahan yang berguna terkait topik yang diteliti (Yin, 2018, Direct Observations section, para. 1-3).

(18)

Untuk mendapatkan data yang kaya, observasi akan dilakukan terhadap kegiatan produksi infografik statis oleh jurnalis dan desainer. Kegiatan lainnya yang dapat diamati adalah rapat redaksi terkait produksi infografik, komunikasi antaranggota dalam membuat infografik statis baik secara tatap muka maupun virtual, dan proses wawancara yang dilakukan kepada setiap informan. Dari masing-masing kegiatan tersebut, dapat ditemukan kecenderungan sikap dan praktik dalam menggunakan elemen tertentu pada infografik statis. Observasi juga dapat dilakukan untuk melakukan triangulasi terhadap pemaparan elemen infografik statis dari hasil wawancara dengan penerapannya di lapangan.

3.6 Keabsahan Data

Dengan desain penelitian yang menyajikan berbagai pernyataan, penilaian terhadap kualitas desain penelitian ini dapat dilihat melalui tiga teknik: validitas konstruk, validitas eksternal, dan reliabilitas. Teknik validitas internal tidak dapat dilakukan dikarenakan penelitian ini tidak berusaha menjelaskan kausalitas suatu fenomena (Yin, 2018, Criteria for Judging the Quality of Research Designs section, para. 1-4).

1. Validitas konstruk

Untuk teknik ini, peneliti perlu mendefinisikan konsep/teori tertentu kemudian mengaitkannya dengan tujuan penelitian, dan mengidentifikasi

(19)

operasionalisasi yang cocok dengan konsep tersebut, seperti pengutipan penelitian terdahulu (Yin, 2018, Construct Validity section, para. 3).

Tiga taktik setidaknya dapat dilakukan untuk meningkatkan validitas konstruk dari studi kasus yang dilakukan: penggunaan banyak sumber bukti, pembuatan rantai bukti, dan draf penelitian yang ditinjau ulang oleh informan kunci (Yin, 2018, Construct Validity section, para. 5). Penggunaan banyak sumber merefleksikan teknik triangulasi sebagai keuntungan studi kasus, dan memungkinkan kualitas penelitian yang lebih mumpuni ketimbang hanya menggunakan satu sumber (Yin, 2018, Triangulation: Rationale for using multiple sources of evidence section, para. 1).

Penggunaan banyak sumber ini dapat memperkaya temuan penelitian yang dihasilkan, sehingga lebih mendalam dan kontekstual (Yin, 2018, Triangulation: Rationale for using multiple sources of evidence section, para. 4). Patton juga menjabarkan empat tipe triangulasi:

a. Triangulasi data (dari sumber data),

b. Triangulasi investigator (dari berbeda evaluator/peneliti), c. Triangulasi teori (dari perspektif terhadap data yang sama), d. Triangulasi metodologis (dari metode atau teknik pengumpulan

data) (seperti dikutip dalam Yin, 2018, Triangulation: Rationale for using multiple sources of evidence section, para. 6).

Triangulasi dapat ditempuh dalam penelitian ini dengan menerapkan triangulasi data, teori, dan metodologis untuk dapat menghasilkan temuan

(20)

yang akurat. Contoh dari triangulasi data adalah pencocokkan elemen infografik statis yang disebutkan dari wawancara dengan informan yang satu dengan informan yang lain, sedangkan contoh triangulasi metodologis dapat berupa pencocokan hasil wawancara terkait suatu elemen infografik dengan hasil observasi terkait penerapan elemen infografik tersebut dalam proses produksi, lalu dicocokkan pula dengan hasil dokumentasi terkait penerapan elemen infografik tersebut dalam produk final infografik statis. Dengan demikian, validitas konstruk dapat tercapai untuk penelitian ini.

2. Validitas eksternal

Teknik ini untuk mengetahui apakah hasil penelitian dapat digeneralisasi terhadap penelitian lainnya, yang terkait dengan generalisasi analitis. Agar sebuah penelitian memiliki validitas eksternal, pertanyaan penelitian harus terkait “bagaimana” dan “mengapa” dari suatu fenomena, bukan “apa” yang justru menggambarkan tren dari suatu fenomena semata dan rawan menggambarkan perbedaan dari satu fenomena dengan lainnya. Ditutup dengan penggunaan teori yang tepat dan penyertaan proposisi teoretis (untuk kasus tunggal) serta logika replikasi (untuk kasus berganda), validitas eksternal dapat terlaksana (Yin, 2018, External Validity section, para. 1-4).

Penelitian ini sudah menggunakan pertanyaan “bagaimana” untuk menggali penerapan elemen infografik di media Katadata.co.id, sehingga pertanyaan serupa dapat menggali hasil serupa di media lain. Peneliti juga menggunakan konsep yang tepat dalam menggali penerapan elemen

(21)

infografik, yakni dengan menggunakan model elemen infografik Rajamanickam, yang menjabarkan tiga jenis elemen infografik dengan penjabaran variannya masing-masing. Proposisi teoretis pun dibangun berdasarkan model elemen infografik tersebut. Dengan demikian, validitas eksternal dari penelitian ini sudah tercapai.

3. Reliabilitas

Suatu penelitian dianggap memiliki reliabilitas bila memiliki rangkaian prosedur yang jika dilaksanakan kembali akan mencapai hasil dan kesimpulan yang sama, dengan harapan dapat meminimalisasi kesalahan dan mengurangi bias (Yin, 2018, Reliability section, para. 1).

Taktik yang dapat digunakan adalah penggunaan protokol studi kasus dan pengembangan basis data studi kasus. Secara umum, reliabilitas dapat terlaksana jika peneliti melakukan dokumentasi prosedur penelitian secara detail dan berprinsip layaknya seorang auditor akan meninjau penelitian tersebut (Yin, 2018, Reliability section, para. 2-3).

Protokol studi kasus menjadi dasar untuk melakukan langkah-langkah penelitian, termasuk pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada informan. Protokol studi kasus ini menjadi dokumentasi detail akan apa yang harus dilakukan peneliti sehingga penelitian menjadi terstruktur dan konsisten untuk dilaksanakan ulang. Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menyusun protokol studi kasus tersebut. Protokol terdiri dari: (a) tinjauan keseluruhan studi kasus; (b) prosedur

(22)

pengumpulan data; (c) pertanyaan protokol; dan (d) garis besar laporan studi kasus (Yin, 2018, The Case Study Protocol section, para. 4).

3.7 Teknik Analisis Data

Seperti metode eksperimen, hasil dari studi kasus dapat digeneralisasi, tetapi melalui proposisi teoretis, bukan pada populasi. Dengan kata lain, generalisasi yang dilakukan lebih merupakan usaha untuk mengembangkan dan menggeneralisasi teori (analytical generalizations), bukan menentukan probabilitas seperti pada generalisasi dalam ilmu statistika (Yin, 2018, Generalizing from case studies? section, para. 3). Salah satu strategi untuk menganalisis hasil temuan adalah dengan bersandar pada proposisi teoretis, yang merefleksikan pertanyaan penelitian dan penelitian terdahulu (Yin, 2018, Relying on theoretical propositions section, para. 1). Proposisi ini juga telah membentuk prosedur pengumpulan data dan memengaruhi prioritas analisis, dan membantu menata keseluruhan analisis (Yin, 2018, Relying on theoretical propositions section, para. 2-3).

Dengan strategi yang bergantung pada proposisi teoretis, peneliti menganalisis temuan dengan teknik penjodohan pola (pattern matching). Teknik ini membandingkan hasil temuan studi kasus dengan apa yang telah diprediksi sebelum mengambil data (Trochim seperti dikutip dalam Yin, 2018, Pattern Matching section, para. 1). Penjodohan pola pun tetap relevan untuk dilakukan pada studi kasus deskriptif, jika proposisi teoretis yang bersifat

(23)

deskriptif telah dirumuskan sebelum pengambilan data (Yin, 2018, Pattern Matching section, para. 2). Prediksi berupa proposisi teoretis diambil dari konsep atau teori yang sebelumnya sudah ditinjau peneliti (Yin, 2018, Pattern matching for processes and outcomes section, para. 1).

Dengan demikian, teknik penjodohan pola dilakukan dengan mencocokkan hasil temuan studi kasus, berupa penerapan elemen infografik di Katadata.co.id, dengan prediksi, berupa proposisi teoretis/pertanyaan penelitian, yang disusun dari konsep model elemen infografik Rajamanickam. Jika pola dari hasil sesuai dengan prediksi, kesimpulan dapat diambil untuk menggambarkan penerapan model elemen infografik di media tersebut.

Gambar

Gambar 3.1  Infografik Statis Katadata.co.id “Polemik Bersekolah saat  Normal Baru”, Dipublikasikan 3 Juni 2020
Gambar 3.2  Infografik Statis Katadata.co.id “Transmisi Bermasalah  Penyebab Listrik Padam Serentak”, Dipublikasikan 9 Agustus 2019
Gambar 3.4  Infografik Interaktif Katadata.co.id “Ketersediaan dan  Kebutuhan Ventilator” dalam Berita “Posisi Kesiapan Indonesia di Dunia

Referensi

Dokumen terkait

Perhitungan Beban Angin Pada Kondisi Unloaded Gaya angin yang bekerja pada rangka atas tak terbebani Gaya batang yang bekerja pada rangka bawah tak terbebani. Gaya angin yang

Untuk memastikan kesinambungannya, dalam penyusunan Rencana Kerja Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung tahun 2016 perlu dilakukan evaluasi terhadap

Perumusan Kebijakan: Perumusan Sasaran Permusan Kebijakan Implementasi Kebijakan Monitoring Kebijakan Evaluasi Kebijakan •Politik •Ekonomi •Administr asi •Teknologi •Sosial,

Tujuan dari SOP ini adalah untuk mengatur alur pelaksanaan asesmen bagi seorang calon pegawai ITB (dosen dan tenaga kependidikan) agar diperoleh calon pegawai yang

Sosialisasi terhadap jenis pelayanan yang sudah ada sehingga para guru-guru lebih banyak mengenal dan pada akhirnya akan lebih aktif untuk menggunakan segala jenis

Pada Foto hasil Elektroforesis polyacrilamide terlihat bahwa jarak antara Band – Band DNA sangat dekat.Hal tersebut dapat disebabkan karena waktu yang digunakan untuk

menggunakan wewenang untuk tujuan lain dari yang menjadi tujuan wewenang tersebut, termasuk kelalaian atau pengabaian kewajiban hukum dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang

Puskesmas Kelurahan Kampung Rawa.. Alamat