SKRIPSI
Dianjurkan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
Oleh:
Rodoasi Jesaya Sibarani 140100069
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus. Karena atas segala kasih dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian ini , sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penelitian yang telah dilaksanakan ini berjudul
“Faktor Risiko Kelahiran Berat Lahir Rendah Di RSUD dr Hadrianus Sinaga Pangururan”.
Dalam penyelesaian laporan hasil penelitian ini, penulis menerima banyak bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada :
1. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K), selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
2. dr. Emil Azlin ,M.Ked(Ped) Sp.A(K), selaku dosen pembimbing I, terima kasih banyak atas arahan, ilmu, dan waktu yang telah diluangkan untuk membimbing penulis.
3. Dr. dr. Hotma Partogi Pasaribu , M.Ked (OG), Sp.OG(K), selaku dosen penguji I, terima kasih banyak atas kesempatan, arahan, ilmu dan waktu yang telah diberikan dalam pengevaluasian proses penelitian ini.
4. dr. Selvi Nafianti, M.Ked(Ped), Sp.A (K), selaku dosen penguji II,terima kasih banyak untuk kesempatan, arahan, ilmu dan waktu yang telah diberikan dalam pengevaluasian proses penelitian ini.
5. Ayahanda Prof. Dr Robert Sibarani M,S dan Ibunda dra. Peninna Simanjuntak M.S., beserta abang Echo Jumadi Sibarani S.ked dan adik Sairo Jesika Sibarani, terima kasih atas kasih sayang, doa, dan dukungannya selama ini tanpa kalian saya tak bisa seperti ini.
6. Teman-teman seperjuangan , Immanuel F.F Nababan, Edgar sihite, William pangaribuan, ian hutagaol dan Yandri Ginting, terima kasih atas kerja sama dan dukungan yang telah diberikan. Kalian kawan yang tak bisa saya lupakan.
7. Terima kasih Christine Febrina Sembiring, wanita hebat , kekasih, motivator pribadi, sang calon pendamping wisuda yang tanpa henti selalu memberikan dukungan dan semangat nasihat dan saran yang beliau berikan adalah hal yang menolong dan membuat saya tersadar untuk berusaha lebih baik dan bekerja lebih keras mengerjakan skripsi. Dan hal terkesan buat saya beliau mengingatkan lebih dekat kepada Tuhan dan jangan bersungut sugut.
8. Sahabat-sahabat seangkatan penulis yang telah memberikan dukungan, saran, dan bantuan selama menyelesaikan karya tulis ilmiahini. Maaf penulis tidak bisa menuliskan kalian satu persatu.
9. Seluruh staf pengajar dan civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas bimbingan selama perkuliahan dan penulisan karya tulis ilmiah ini
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan hasil penelitian ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi materi maupun tata cara penulisan. Penulis bersedia menerima kritik dan saran yang membangun demi perbaikan kearah sempurna.Akhir kata, semoga karya tulis ilmiah ini bermanfaat bagi semua pihak.
Medan, Desember 2017
Rodoasi Jesaya Sibarani
DAFTAR ISI
Halaman Lembar Persetujuan ...
Kata Pengantar ... iii
Daftar Isi ... v
Daftar Gambar ... vii
Daftar Tabel ... viii
DaftarSingkatan ... ix
Abstrak ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 LATAR BELAKANG ... 1
1.2 RUMUSAN MASALAH ... 2
1.3 TUJUAN PENELITIAN ... 3
1.3.1 TUJUAN UMUM ... 3
1.3.2 TUJUAN KHUSUS ... 3
1.4 MANFAAT PENELITIAN ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1 BERAT BADAN LAHIR RENDAH... 5
2.1.1 PENGERTIAN ... 5
2.1.2 EPIDEMIOLOGI ... 5
2.1.3 ETIOLOGI ... 5
2.1.4 FAKTOR IBU ... 6
2.1.4.1 FAKTOR PENGETAHUAN ... 6
2.1.4.1.1 FAKTOR PENDIDIKAN... 6
2.1.4.1.2 FAKTOR PENGETAHUAN ... 7
2.1.4.1.3 SOSIAL EKONOMI ... 7
2.1.4.1.4 PEKERJAAN ... 7
2.1.4.2 FAKTOR USIA ... 7
2.1.4.3 JARAK ANTARA PERSALINAN ... 8
2.1.4.4 RIWAYAT ABORTUS ... 10
2.1.4.5 ANTENATAL CARE ... 10
2.1.4.6 RIWAYAT PENYAKIT ... 11
2.1.4.7 PARITAS ... 14
2.1.5 FAKTOR BAYI ... 14
2.1.5.1 KEHAMILAN KEMBAR ... 14
2.1.5.2 PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT(PJT) .. 15
2.1.5.3 PENDARAHAN SUBARAKNOIDAL ... 15
2.1.5.4 FAKTOR PECAH KETUBAN DINI ... 15
2.1.5.5 HIDRAMION ... 16
2.1.6 DIAGNOSIS ... 17
2.2 KERANGKA TEORI ... 18
2.3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN ... 19
BAB III METODE PENELITIAN ... 20
3.1 JENIS PENELITIAN ... 20
3.2 LOKASI ... 20
3.3 ALAT ... 22
3.4 TENIK PENGAMBILAN DATA ... 22
3.5 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ... 23
3.6 VARIABEL DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 23
BAB IV JADWAL PENELITIAN DAN BIAYA PENELITIAN ... 26
4.1 TAHAP – TAHAP PENELITIAN ... 26
4.2 RINCIAN KEGIATAN SETIAP BULAN ... 26
4.3 WAKTU YANG DIPERLUKAN UNTUK MELAKSANAKAN SETIAP TAHAP ... 27
4.4 JADWAL PENELITIAN ... 27
4.5 BIAYA PENELITIAN ... 27
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 28
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 35
DAFTAR PUSTAKA ... 37
LAMPIRAN ... 38
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 KERANGKA TEORI ... 18 Gambar 2.2 KERANGKA KONSEP PENELITIAN ... 19
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1 JADWAL PENELITIAN ... 27
Tabel 4.5 BIAYA PENELITIAN ... 27
Tabel 5.1 PERSALINAN DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH ... 29
Tabel 5.2 PENDIDIKAN DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH ... 30
Tabel 5.3 PEKERJAAN DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH ... 30
Tabel 5.4 BERDASARKAN UMUR DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH ... 31
Tabel 5.5 PARITAS DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH ... 31
Tabel 5.6 RIWAYAT ABORTUS DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH ... 32
Tabel 5.7 JARAK KEHAMILAN DENGANBERAT BADAN LAHIR RENDAH ... 32
Tabel 5.8 KELENGKAPAN ANC DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH ... 33
Tabel 5.9 KADAR HB DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH ... 33
Tabel 5.10 TEKANAN DARAH SISTOL DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH ... 34
Tabel 5.11 TEKANAN DARAH DIASTOL DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH ... 34
DAFTAR SINGKATAN
WHO : World Health Organization
BPS : Badan Pusat Statistik
SDKI : Survei Demografi Kesehatan Indonesia Riskesda : Riset Kesehatan Dasar
RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah
Dinkes : Dinas Kesehatan KPD : Ketuban pecah dini
PROM : Premature Rupture of Membrane
TT : Tetanus Toksoid
P4K : Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi
KB : Keluarga Berencana
ANC : Antenatal Care
DM : Diabetes Mellitus
PJT : Pertumbuhan Janin Terhambat
USG : Ultrasonografi
AFI : Aminiotic Fluid Indek
ICU : Intensive Care Unit
PONEK : Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komperhensif
ABSTRAK
Latar Belakang: Setiap tahun, diperkirakan 15 juta bayi lahir prematur (sebelum 37 minggu penuh), dan jumlah ini meningkat. komplikasi kelahiran prematur merupakan penyebab utama kematian di kalangan anak-anak di bawah usia 5 tahun, yang bertanggung jawab untuk hampir 1 juta kematian pada tahun 2015. Tiga-perempat dari mereka bisa diselamatkan dengan saat ini, intervensi hemat biaya. Di 184 negara, tingkat kelahiran prematur berkisar dari 5% sampai 18% dari bayi yang lahir. Tujuan umum: Mengetahui faktor risiko kelahiran bayi prematur di RSUD Dr Hadrianus Kabupaten Samosir. Tujuan Khusus : tingkat pengetahuan dan sosial ekonomi keluarga yang mempengaruhi angka kejadian kelahiran bayi prematur, tingkat pendidikan yang mempengaruhi angka kejadian kelahiran bayi prematur, tingkat umur ibu hamil saat melahirkan mempengarui angka kejadian kelahiran bayi prematur, tingkat pendarahan antepartum yang mempengaruhi angka kejadian, riwayat pengawasan antennal pada ibu hamil, tingkat berat badan lahir rendah pada kelahiran bayi prematur, faktor risiko yang paling dominan menyebabkan tingginya kejadian kelahiran bayi premature.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi kasus kontrol. Sampel adalah 100 orang yang dimana pengambilan sample yang di ikuti dengan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi.
Hasil: dari persalinan premature terdapat 50 BBLR, dari pendidikan SD, SMP 46 BBLR,dari pekerjaan yang bekerja terdapat 46 BBLR,dari umur usia muda dan dewasa tua 27 BBLR, dari paritas multipara terdapat 28 BBLR, riwayat abortus yang pernah abortus terdapat 45 BBLR, dari jarak kehamilan kurang dari 2 tahun terdapat 46 BBLR, dari riwayat pengawasan antenatal yang tidak lengkap terdapat 47 BBLR, kadar HB yang anemia 46 BBLR, dari tekanan darah hipertensi terdapat 47 BBLR.
Kesimpulan: faktor-faktor yang mempengaruhi terjadi kelahiran bayi prematur bersignikan dengan (persalinan, pendidikan, pekerjaan, umur, paritas, riwayat abortus, jarak kehamilan, riwayat antenatal, kadar HB, tekanan darah).
Kata kunci: Kelahiran bayi Prematur, BBLR.
ABSTRACT
Background: Every year, an estimated 15 million babies are born prematurely (before 37 full weeks), and this number is increasing. Complications of preterm birth are the leading cause of death among children under the age of five, who are responsible for nearly 1 million deaths by 2015. In 184 countries, preterm birth rates range from 5% to 18% of infants born.
General Objective: The purpose of this study is to determine risk factors of preterm birth at Dr Hadrianus Hospital of Samosir District. Specific Objectives:
The family's knowledge and socioeconomic level that influence the incidence of preterm births, the level of education affecting the incidence of preterm birth, the maternal age of pregnant women affects the incidence of preterm birth, the antepartum bleeding rate that affects the incidence rate, antennal in pregnant women, low birthweight rates at preterm birth, the most dominant risk factors lead to high incidence of premature infants.
Method: This research is a quantitative research with case control study design.
The sample is 100 people in which samples are followed by inclusion criteria and exclusion criteria.
Result: From preterm labor there are 50 low birth weight, from elementary and junior high education are 46 low birth weight, from working mother there are 46 low birth weight, from young age and old adult 27 low birth weight, from multiparity exist 28 low birth weight, abortion history of abortion there were 45 low birth weight, from gestation distance less than 2 years there are 46 low birth weight, from history of incomplete antenatal supervision there are 47 low birth weight, HB anemia 46 low birth weight, from hypertensive blood pressure there are 47 low birth weight.
Conclusion: Birth, education, occupation, age, parity, history of abortion, gestational distance, antenatal history, HB levels, and blood pressure have relation to preterm birth significantly.
Keywords: Premature birth, low birth weight.
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Menurut World Health Organization (WHO)Setiap tahun, diperkirakan 15 juta bayi lahir prematur (sebelum 37 minggu penuh), dan jumlah ini meningkat.
Komplikasikelahiran prematur merupakan penyebab utama kematian di kalangan anak-anak di bawah usia 5 tahun, yang bertanggung jawab untuk hampir 1 juta kematian pada tahun 2015.Tiga-perempat dari mereka bisa diselamatkan dengan saat ini, intervensi hemat biaya.Di 184 negara, tingkat kelahiran prematur berkisar dari 5% sampai 18% dari bayi yang lahir.(WHO,2016)
Lebih dari 60% dari kelahiran prematur terjadi di Afrika dan Asia Selatan, namun kelahiran prematur benar-benar masalah global.Di negara-negara berpenghasilan rendah, rata-rata, 12% dari bayi yang lahir terlalu dini dibandingkan dengan 9% di negara-negara berpenghasilan tinggi.Dalam negara, keluarga miskin berada pada risiko yang lebih tinggi. India: 3.519.100, Cina:
1.172.300, Nigeria: 773.600 Pakistan: 748.100, Indonesia: 675.700, Dari 65 negara dengan data tren yang handal, tapi 3 menunjukkan peningkatan tingkat kelahiran prematur selama 20 tahun terakhir. Kemungkinan alasan untuk hal ini mencakup pengukuran yang lebih baik, peningkatan usia ibu dan masalah kesehatan ibu yang mendasari seperti diabetes dan tekanan darah tinggi, penggunaan yang lebih besar dari perawatan kesuburan yang mengarah ke peningkatan tingkat kehamilan kembar, dan perubahan dalam praktek kebidanan seperti kelahiran lebih caesar sebelum jangka waktu. (WHO,2016)
Ada perbedaan dramatis dalam kelangsungan hidup bayi prematur tergantung di mana mereka dilahirkan. Sebagai contoh, lebih dari 90% dari bayi yang sangat prematur (<28 minggu) lahir di negara-negara berpenghasilan rendah mati dalam beberapa hari pertama kehidupan; namun kurang dari 10% dari bayi usia kehamilan ini mati dalam pengaturan berpenghasilan tinggi. (WHO,2016)
Semua angka kematian bayi dan anak hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 lebih rendah dari pada hasil SDKI tahun 2007.
Untuk periode lima tahun sebelum survei, angka kematian bayi dari hasil SKDI tahun 2012 adalah 32 kematian per 1.000 kelahiran hidup dan kematian balita adalah 40 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Sama dengan pola SDKI tahun 2007, lebih dari tiga perempat dari semua kematian balita terjadi dalam tahun pertama kehidupan anak dan mayoritas kematian bayi terjadi pada periode neonates. (SDKI, 2012)
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) yang dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 2007 menunjukkan bahwa penyebabkematian terbanyak pada kelompok bayi 0-6 hari didominasi oleh gangguan/kelainan pernafasan (35,9%), prematuritas (32,4%) dan sepsis (12%). Untuk penyebab utama kematian bayi pada kelompok 7-28 hari yaitu Sepsis (20,5%), malformasi kongenital (18,1%) dan pnemonia (15,4%). Dan penyebab utama kematian bayi pada kelompok 29 hari–11 bulan yaitu Diare (31,4%), pnemonia (23,8) dan meningitis/ensefalitis (9,3%). Dilain pihak faktor utama ibu yang berkontribusi terhadap lahir mati dan kematian bayi 0-6 hari adalah hipertensi maternal (23,6%), komplikasi kehamilan dan kelahiran (17,5%), ketuban pecah dini dan pendarahan antepartum masing-masing 12,7% (DinkesSumut , 2012).
Menurut BPS Provinsi Sumatera Utara tahun 2012 angka kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup per Kabupaten, Kabupaten Samosir memiliki 17,7per 1.000 kelahiran hidup. (DinkesSumut , 2012).
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah, apakah faktor-faktor risiko kelahiran berat lahir rendah di RSUD Dr Hadrianus Sinaga Pangururan Kabupaten Samosir.
1.3. TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 TUJUAN UMUM
Mengetahui faktor risiko kelahiran berat lahir rendah di RSUD Dr Hadrianus Kabupaten Samosir.
1.3.2 TUJUAN KHUSUS
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini antara lain:
1. Mengetahuipengaruh tingkat pendidikan ibu dengan angka kejadian kelahiran berat lahir rendahdi RSUD Dr Hadrianus Sinaga Pangururan Kabupaten Samosir.
2. Mengetahui pengaruh tingkat paritas dengan angka kejadian kelahiran berat lahir rendahdi RSUD Dr Hadrianus Sinaga Pangururan Kabupaten Samosir.
3. Mengetahui pengaruh tingkat umur ibu hamil saat melahirkan angka kejadian kelahiran berat lahir rendah di RSUD Dr Hadrianus Sinaga Pangururan Kabupaten Samosir.
4. Mengetahui pengaruh tingkat jarak kehamilan dengan angka kejadian di RSUD Dr Hadrianus Sinaga Pangururan Kabupaten Samosir.
5. Mengetahui pengaruh riwayat pengawasan antennal pada ibu hamil di RSUD Dr Hadrianus Sinaga Pangururan Kabupaten Samosir.
6. Mengetahui pengaruh tingkat tekanan darah / hipertensi pada kelahiran berat lahir rendah pada RSUD Dr Hadrianus Sinaga Pangururan Kabupaten Samosir.
7. Menegetahui pengaruh tingkat kadar Hb (anemia) pada kelahiran berat lahir rendah pada RSUD Dr Hadrianus Sinaga Pangururan Kabupaten Samosir.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan maanfaat untuk:
1. Bagi Pemerintahan Kabupaten Samosir penelitian ini bermanfaat sebagai bahan masukan dalam menyusun rencana kebijakan atau rencana program untuk merespon dan mengantisipasi peningkatan angka kejadian kelahiran prematur sehingga dampak tersebut pada kesejahteran sosial - ekonomi masyarakat dapat dicegah;
2. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Samosir dan RSUD Dr Hadrianus Sinaga Pangururan Kabupaten Samosir khususnya, penelitian ini bermanfaat sebagai bahan masukan penyusunan perencanaan promosi kesehatan, khususnya dalam pencegahan dan penangulanggan berat lahir rendahserta dampak buruknya yang rentan terjadi pada ibu hamil;
3. Bagi peneliti, penelitian ini bermanfaat dalam memperluas wawasan tentang kelahiran berat lahir rendah;
4. Sebagai bahan informasi dan pengembangan bagi penelitian sejenis dan berkelanjutan.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bayi Berat Lahir Rendah 2.1.1 PENGERTIAN
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir (Mulyaman, 2009)
Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah prematuritas dengan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR). Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi yang berat kurang dari 2500 gram pada waktu lahir bayi prematur .
2.1.2 EPIDEMIOLOGI KELAHIRAN BERAT LAHIR RENDAH
Lebih dari 60% dari kelahiran berat lahir rendah terjadi di Afrika dan Asia Selatan, namun kelahiran berat lahir rendah benar-benar masalah global.Di negara-negara berpenghasilan rendah, rata-rata, 12% dari bayi yang lahir terlalu dini dibandingkan dengan 9% di negara-negara berpenghasilan tinggi.Dalam negara, keluarga miskin berada pada risiko yang lebih tinggi. India: 3.519.100, Cina: 1.172.300, Nigeria: 773.600, Pakistan: 748.100, Indonesia: 675.700.Dari 65 negara dengan data tren yang handal, tapi 3 menunjukkan peningkatan tingkat kelahiran prematur selama 20 tahun terakhir.
2.1.3 ETIOLOGI KELAHIRAN PREMATUR
Persalinan prematur merupakan prosses yang multifaktorial.Kombinasi keadaaan obsetrik, sosiodemografi, dan faktor medik mempunyai pengaruh terhadap terjadinya persalinan prematur. Kadang hanya risiko tunggal dijumpai seperti distensi berlebih uterus, ketuban pecah dini, atau trauma. Banyak kasus persalinan prematur sebagai akibat proses patogenik yang merupakan mediator
biokimia yang mempunyai dampak terjadinya kontraksi rahim dan perubahan serviks, yaitu: (Mochtar,2014).
a. Aktivitas aksis kelenjar hipotalamus – hipofisis – adrenal baik pada ibu maupun janin, akibat stress pada ibu atau janin;
b. Inflamasi desidua-korioamnion atau sistemik akibat infeksi asenden dari trakus genitourinaria atau inflaksi sistemik;
c. Perdarahan desidua;
d. Peregangan uterus patologik;
e. Kelainan pada uterus atau serviks.
2.1.4 FAKTOR IBU
2.1.4.1 FAKTOR PENGETAHUAN DAN SOSIAL EKONOMI 2.1.4.1.1 FAKTOR PENDIDIKAN
Indeks pembanguanan manusia yang di kembangkan oleh Badan Pembangunan – Perserikatan Bangsa-Bangsa mencakup tiga indikator utama, yaitu: pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Hal ini sangat beralasan karena memang ketiga faktor ini bukan karena saling terkait dan mempengaruhi, tetapi saling melengkapi dalam membentuk kualitas hidup manusia. Oleh sebab itu rendahnya ketiga faktor tersebut, jelas akan menimbulkan masalah di masyarakat, dan juga saling memepengaruhi satu dengan yang lainnya. (Notoatmojo,2012)
Kalau kita amati dalam masyarakat, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia ini tiga masalah sosial yang ada adalah: a) kebodohan akibat rendahnya pendididkan, b) berbagai macam penyakit akibat rendahnya derajat dan pelayanan kesehatan, dan c) kemiskinan akibat rendahnya ekonomi.(Notoatmojo,2012)
2.1.4.1.2 FAKTOR PENGETAHUAN
Pengetahuan adalah hasil pengindaraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu pengindraan sehingga menghasilkan
pegetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatiandan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra pendengaran (telinga), dan indra penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda- beda..(Notoatmojo,2012).
2.1.4.1.3 SOSIAL EKONOMI
Ibu hamil dengan tingkat sosial ekonomi rendah akan mendapatkan kesejahteraan fisik dan psikologis yang buruk. Status gizi ibu hamil pun akan menurun karena zat gizi yang didapat kurang berkualitas yang dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan pada ibu hamil (Sulistyawati, 2013).
Salah satu akibat dari penurunan status gizi pada ibu hamil adalah anemia karena kekurangan zat besi dan asam folat saat kehamilan.Hal tersebut dapat menyebabkan anemia pada ibu hamil yang dapat berakibat pada terjadinya persalinan prematur (Cunningham, 2013).
2.1.4.1.4 PEKERJAAN
Pekerjaan fisik yang berat, tekanan mental (stress), kecemasan yang tinggi dapat meningkatkan kejadian prematur.Pekerjaan fisik yang berat, yang mengkondisikan ibu hamil untuk berdiri lama, seperti Sales Promotion Girl (SGP), perjalanan panjang dan pekerjaan yang mengangkat beban berat berisiko melahirkan prematur.Sebuah studi di University College Dublin, Irlandia mengatakan bahwa wanita hamil yang pekerjaannya menuntut kekuatan fisik lebih beresiko melahirkan secara prematur atau lahir dengan berat badan di bawah normal. Selain itu tingkat stres serta waktu kerja yang panjang juga akan berdampak buruk bagi si calon bayi. (Simbolon, Fransiska. 2014)
2.1.4.2 FAKTOR USIA
Usia wanita mempengaruhi resiko kehamilan. Anak perempuan berusia kurang dari 20 tahun dan rentan terhadap terjadinya pre-eklampsi dan
eklampsi.Mereka juga lebih mungkin melahirkan prematur atau bayi dengan berat badan rendah atau bayi kurang gizi. Wanita yang berusia 35 tahun atau lebih rentan terhadap tekanan darah tinggi, preeklampsi dan eklampsi, perdarahan antepartum (plasenta previa, solusio plasenta) diabetes atau fibroid di dalam rahim serta lebih rentan terhadap gangguan persalinan sehingga mudah terjadi partus premature. (Ritonga Baurlina,2014).
Dari penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara umur ibu dengan hasil kehamilan. Pada umur <20 tahun atau ≥35 tahun resiko terjadinya prematuritas dan komplikasi kehamilan akan semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena pada usia<20 tahun kondisi ibu masih dalam masa pertumbuhan, sehingga masukan makanan banyak dipakai untuk ibu yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin. (Ritonga Baurlina,2014)
Dari hasil penelitian Riana Lumban Gaol di Rumah Sakit Ibu dan Anak Badrul Aini Medan Tahun 2002-2003, dari 59 ibu yang melahirkan bayi yang prematur, ibu berusia 20-35 tahun sebanyak 42 orang (71,19%) dan yang berusia
<20 dan >35 tahun sebanyak 17 orang (28,81%). Dari perhitungan Odds Ratiomenunjukkan bahwa umur <20 tahun dan >35 tahun mempunyai resiko 2,78 (OR=2,779) untuk terjadinya kelahiran prematur dibandingkan ibu dengan umur 20-35 tahun.(Ritonga Baurlina,2014)
2.1.4.3 JARAK ANTARA PERSALINAN
Pada wanita yang melahirkan anak dengan jarak yang sangat berdekatan (dibawah dua tahun) akan mengalami peningkatan resiko terhadap terjadinyaperdarahan pada trimester ketiga termasuk karena alasan plasenta previa, anemia atau kurang darah, ketupan pecah dini, endometriosis masa nifas serta yang terburuk yakni kematian saat melahirkan. (Ritonga Baurlina,2014)
Wanita yang hamil dengan jarak terlalu dekat beresiko tinggi mengalami komplikasi diantaranya kelahiran prematur, bayi dengan berat badan rendah, bahkan bayi lahir mati. Meningkatnya resiko ini tidak berkaitan dengan faktor resiko lain, seperti komplikasi pada kehamilan pertama, usia ibu waktu
melahirkan, dan status ekonomi ibu. Jarak kehamilan terlalu dekat menyebabkan ibu punya waktu yang terlalu singkat untuk memulihkan kondisi rahimnya.Setelah rahim kembali kekondisi semula, barulah merencanakan punya anak lagi.
(Ritonga Baurina.,2014) 2.1.4.4 Riwayat Abortus
Menurut definisi WHO, abortus adalah hilangnya janin atau embrio dengan berat kurang dari 500 gram atau setara dengan sekitar 20-22 minggu kehamilan.
(Simbolon, Fransiska. 2014)
Aborsi bisa meningkatkan risiko infeksi yang bisa mempengaruhi kehamilan selanjutnya. Aborsi dapat merusak dinding rahim, tempat janin tumbuh dan berkembang. Dinding rahim merupakan tempat melekatnya plasenta, salah satu fungsi plasenta ialah tempat pembuatan hormon-hormon dan jika plasenta tidak bekerja dengan baik maka pembuatan hormon terganggu. Jika kadar progesteron turun akan timbul kontraksi pada rahim. (Simbolon, Fransiska. 2014)
Kejadian abortus diduga mempunyai efek terhadap kehamilan berikutnya, baik pada timbulnya penyulit kehamilan maupun pada hasil kehamilan itu sendiri.
Wanita dengan riwayat abortus mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya persalinan prematur, abortus berulang, dan BBLR. (Simbolon, Fransiska. 2014)
Penelitian Rahmawati (2006) di Rumah Sakit Dr.Sardjito Yogyakarta pada periode waktu 2003-2005 mendapatkan bahwa ibu yang mengalami persalinan prematur memiliki peluang 2,5 kali memiliki riwayat abortus dibandingkan dengan ibu yang mengalami persalinan matur. (Simbolon, Fransiska. 2014)
2.1.4.5 ANTENATAL CARE
Pelayanan kesehatan ibu hamil diwujudkan melalui pemberian pelayanan antenatal sekurang-kurangnya 4 kali selama masa kehamilan, dengan distribusi waktu minimal 1kali pada trimester pertama (usia kehamilan 0-12 minggu), 1 kali pada trimester kedua (usia kehamilan 12-24 minggu), dan 2 kali pada trimester ketiga (usia kehamilan 24-36 minggu). Standar waktu pelayanan tersebut
dianjurkan untuk menjamin perlindungan terhadap ibu hamil dan atau janin, berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan dan penanganan dini komplikasi kehamilan. (Supriyantoro,2013)
Antenatal care merupakan pelayanan yang diberikan oleh perawat kepada wanita yang sedang hamil, misalnya melakukan pemantauan kesehatan secara fisik, psikologis, termasuk pertumbuhan dan perkembangan jenis serta untuk mempersiapkan proses persalinan dan kelahiran supaya ibu siap menghadapi peran baru sebagai orang tua. (Wagiyo, 2016)
Pelayanan ANC yang sesuai standar meliputi timbang berat badan, pengukuran tinggi badan, tekanan darah, nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas), tinggi fundus uteri, menentukan presentasi janin dan denyut jantung janin, skrining status imunisasi tetanus dan memberikan imunisasi TT (Tetanus Toksoid) bila diperlukan, pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan, test laboratorium (rutin dan khusus), termasuk P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi ) serta KB pasca persalinan.(Simbolon, Fransiska. 2014).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung diperoleh hasil bahwa ibu yang tidak melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) mempunyai risiko mengalami persalinan prematur sebanyak 3,1 kali (95%CI:2,38-4,07) dibandingkan ibu yang melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) (Simbolon, Fransiska. 2014).
2.1.4.6. RIWAYAT PENYAKIT 1. Hipertensi / Pre-eklamsia
Hipertensi di kategorikan sistolik/diastolik > 140/90 mmHg.Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5-15% penyulit kehamilan dan merupakan salah satu dari tiga penyebab tertinggi moralitas dan morbilitas ibu bersalin.hipertensi merupakan tanda terpenting guna menegakkan diagnosis hipertensi dalam kehamilan. Tekanan diastolik menggambarkan resistensi perifer, sedangkan tekanan sistolik, menggambarkan besaran curah jantung.Pada preeklamsia peningkatan reaktivitas vaskulaar dimulai umur
kehamilan 20 minggu, tetapi hipertensi dideteksi umumnya pad trimester II.Tekanan darah tinggi pada preeklamsia bersifat labil dan mengikuti irama sirkadian normal.(Saifuddin ,2014)
Tekanan darah menjadi normal beberapa hari pascapersalinan, kecuali beberapa kasus preeklamsia berat kembalinya tekanan darah normal dapat terjadi 2-4 minggu pascapersalinan.Pre-eklamsia dan eklamsia memberi pengaruh buruk pada kesehatan janin yang disebabkan oleh menurunnya perfusi utero plasenta, hipovelemia, vasospasme, dan kerusakan sel endotel pembuluh darah plasenta. Dampak preeklamsia pada janin adalah:
intrauterine growth restrictiction (IUGR) dan ologohidramnion dan menaikan morbilitas dan mortalitas janin, secara tidak langsung akibat IUGR, prematuritas, oligohidramnion dan solusio plasenta. (Saifuddin ,2014).
2. Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus (penyakit gula) merupakan kelainan herediter dengan ciri insufiensi atau absennya insulin dalam sirkulasi darah, konsentrasi gula darah tinggi dan berkurangnya glikogenesis. Penyakit ini akan menyebabkan perubahan-perubahan metabolik dan hormonal pada penderita yang juga dipengaruhi oleh kehamilan, sebaliknya diabetes mempengaruhi kehamilan dan persalinan (Ritonga Baurlina, 2014).
Sekitar 40-60% ibu yang mengalami Diabetes Mellitus (DM) pada kehamilan dapat berlanjut mengidap DM setelah persalinan.Karena itu disarankan agar setelah persalinan pemeriksaan gula darah diulang secara berkala misalnya setiap enam bulan sekali.Komplikasi pada ibu dan bayi meningkat karena adanya perubahan metabolik. Bila kadar gula darah ibu tidak terkendali, maka akan terjadi keadaan gula darah ibu hamil yang tinggi (hiperglikemia) yang dapat menimbulkan risiko pada ibu hamil tersebut dan janin yang dikandungnya. (Ritonga Baurlina,2014).
Dan dilaporkan terjadinya cacat bawaan karena DM yang tidak diobati pada waktu kehamilan serta juga dapat terjadi kelainan neurologik dan
psikologik di kemudian hari dan bahkan dapat terjadi kematian janin dalam kandungan. Pada ibu hamil dengan DM yang tidak diobati pada waktu kehamilan juga dapat menimbulkan risiko terjadinya penyulit pada kehamilan berupa pre-eklampsi, lahir prematur, kelainan letak pada janin, cairan ketuban yang berlebihan (hidramnion) dan infeksi pada saluran kemih (RitongaBaurlina ,2014).
3. Anemia
Anemia adalah suatu keadaan di mana jumlah eritrosit yang beredar atau konsentrasi hemoglobin yang menurun.Kategori anemia yaitu jika HB
<11gr/dl. Selama kehamilan, anemia lazim terjadi dan biasanya disebabakan oleh defisiensi besi, sekunder terhadap kehilangan darah sebelumnya atau masukan besi yang tidak adekuat.Anemia jarang menciptakan krisis kedaruratan akut selama kehamilan, namun pada hakekatnya setiap masalah kedaruratan dapat diperberat oleh anemia yang telah ada.(Simbolon, Fransiska. 2014)
Pada kehamilan 36 minggu, volume darah ibu meningkat rata-rata 40 sampai 50 persen di atas keadaan tidak hamil.Walaupun eritropoesis diperkuat oleh volume eritrosit meningkat, namun lebih banya plasma ditambahkan ke dalam sirkulasi ibu, akibatnya konsentrasi hemoglobin maupun hematokrit menurun selama kehamilan.(Simbolon, Fransiska.
2014).
Semakin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahiran akan semakin banyak kehilangan zat besi dan semakin anemis. Pengaruh anemia pada masa kehamilan terutama pada janin dapat mengurangi kemampuan metabolisme tubuh ibu sehingga menganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, akibatnya terjadi abortus, kematian intrauterin, persalinan prematur, berat badan lahir rendah, kelahiran dengan anemia, terjadi cacat bawaan, bayi mudah mendapat infeksi dan inteligensi rendah.Pada ibu yang mengalami anemia kehamilan mempunyai risiko
untuk mengalami komplikasi persalinan 1,42 kali lebih besar dibandingkan dengan ibu yang tidak mengidap anemia. (Simbolon, Fransiska. 2014)
2.1.4.7PARITAS
Paritas adalah jumlah persalinan yang pernah dialam oleh ibu sebelum kehamilan atau persalinan.
Partitas dikelompokkan menjadi 4 golongan yaitu :
1. Nullipara: golongan ibu dengan paritas 0 (ibu yang belum pernah melahirkan bayi)
2. Primipara: golongan ibu dengan paritas 1 ( wanita yang pernah melahirkan bayi sebanyak satu kali)
3. Multipara: golongan ibu dengan paritas 2-5 ( wanita yang pernah melahirkan bayi sebanyak dua hingga lima kali).
4. Grande Multripara: golongan ibu dengan paritas >5 (wanita yang pernah melahirkan bayi sebanyak lebih dari lima kali).
Berdasarkan hasil penelitian irmawati tahun 2010, ibu yang melahirkan anak pertama akan mengurangi resiko terjadinya persalinan prematur (OR 0,56), jadi primipara merupakan faktor proteksi terhadap kejadian persalinan prematur. ( Simbolon, Fransiska 2014)
2.1.5 FAKTOR BAYI
2.1.5.1 KEHAMILAN KEMBAR
Kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih.Kehamilan kembar dapat memberikan risiko yang lebih tinggi terhadap bayi dan ibu.Oleh karena itu, dalam menghadapi kehamilan kembar harus dilakukan pengawasan hamil yang lebih intensif. Kebutuhan untuk pertumbuhan hamil kembar lebih besar sehingga apabila terjadi difisiensi nutrisi seperti anemia hamil dapat mengganggu pertumbuhan janin dalam rahim.(Manuaba,2012)
Pada kehamilan kembar umumnya sering mengalami berbagai keluhan seperti terasa sesak nafas, sering ingin kencing, edema tungkai, pembesaran pembuluh darah (varises).Pertumbuhan janin pada kehamilan kembar tergantung dari faktor plasenta apakah menjadi satu atau bagaimana lokasi implantasi plasentanya yang mempengaruhi pertumbuhan pada janin.Pada kehamilan kembar dengan distensi uterus yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya persalinan premature. (Manuaba,2012)
2.1.5.2 PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT (PJT)
Pertumbuhan janin terhambat ditentukan bila berat janin kurang dari 10%
dari yang harus dicapai pada usia kehamilan tertentu. Biasanya perkembangan yang terhambat diketahui setelah 2 minggu tidak ada pertumbuhan.Dahulu PJT disebut sebagai intrauterine growth retardation (IUGD), tetapi retardation kiranya tidak tepat.Tidak semua PJT adalah hipoksik atau patologik karena ada 25-60 % yang berkaitan dengan kostitusi etnik dan besar orang tua. (Wiknjosastro, 2014)
Secara klinik awal pertumbuhan janin yang terhambat dikenal setelah 28 minggu. Namun, secara utrasonografi mungkin sudah dapat diduga lebih awal dengan ada biometri dan taksiran berat janin yang tidak sesuai dengan usia gestasi. Secara klinik pemeriksaan fundus umumnya dalam sentimeter akan sesuai dengan usia kehamilan. Bila lebih rendah dari 3 cm, patut dicurigai adanya PJT, meskipun sensivitasnya hanya 40%. (Wiknjosastro, 2014)
2.1.5.3 PENDARAHAN SUBARAKNOIDAL
Pendarahan ini juga ditemukan pada bayi-bayi premature dan mempunyai hubungan erat dengan anoksia atau hipoksia pada saat lahir.Bayi dengan perdarahan intracranial menunjukkan gejala-gejala afeksia yang sukar diatas.Ia setengah sadar, merintih pucat, sesak nafas, muntah dan kadang kadang kejang. Ia dapat meninggal atau dapat hidup terus tanpa gejala- gejala lanjut atau menunjukan gejala gejala neurologic yang beraneka ragam, bergantung pada
tempat dan luasnya kerusakan jaraingan otak akibat pendarahan. Gambaran klinis gejala gejala tersebut terkenal sebagai cerebral palsy.(Saifuddin, 2014)
2.1.5.4. FAKTOR PECAH KETUBAN DINI
Dalam keadaan normal, selaput ketuban pecah dalam proses persalinan, ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan.
Bila ketuban pecah dini terjadi sebelum 37 minggu disebut Ketuban Pecah Dini pada kehamilan prematur. Faktor risiko untuk terjadinya ketuban pecah dini yaitu:
1. Berkurangnya asam askorbik sebagai komponen kolagen
2. Kekurangan tembaga dan asam askorbik yang berakibat pertumbuhan struktur abnormal karena antara lain merokok. (Soewarto, 2014)
Ketuban pecah dini (KPD) atau Premature Rupture of Membrane (PROM) merupakan keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan.Bila KPD terjadisebelum usia kehamilan 37 minggu, disebut sebagai ketuban pecah dini pada kehamilan prematuratau Preterm Rupture of Membrane (PROM). Pecahnya selaput ketuban tersebut diduga berkaitan dengan perubahan proses biokimiawi yang terjadi dalam kolagen matriks ekstraselamnion, korion dan apoptosis membran janin.Prevalensi KPDberkisar 3-18% dari seluruh kehamilan.Saat aterm, 8-10% wanita hamil datang dengan KPD dan 30-40% dari kasus KPD merupakan kehamilan preterm atau hanya sekitar 1,7% dari seluruh kehamilan. (Lowing, 2015)
2.1.5.5HIDRAMION
Hidramion merupakan suatu keadaan dimana jumlah air ketuban jauh lebih banyak dari normal biasanya lebih dari 2 liter, volume air ketuban sekitar 500- 1500 ml polihdramion: volume air ketuban >2000 ml sedangkan secara klinik adalah penumpukan cairan ketuban yang berlebihan sehingga menimbulkan rasa tidak nyama pada pasien. Sedangkan secara USG jika Aminiotic Fluid Indek (AFI)
> 20 atau lebih.Polihidramion dapat terjadi jika janin tidak menelan dan menyerap cairan ketuban dalam jumlah normal.Yang sering kita jumpai adalah hidramion
yang ringan, dedngan jumlah cairan 2-3 liter.Yang berat dan akut jarang.
Frekuensi hdiramion kronis adalah 0,5-1%. Insiden dari kongenitalanomali lebih sering kita dapati yaitu 17,7 – 29% (Kurniawati, 2015)
2.1.6 DIAGNOSIS
Beberapa kreteria diagnosis ancaman persalinan preterm, yaitu:
a. Kontraksi yang berulang sedikitnya 7 -8 menit sekali, atau 2-3 kali dalam waktu 10 menit;
b. Adanya nyeri pada punggung bawah (low back pain);
c. Perasaan menekan daerah serviks;
d. Pemeriksaan serviks menunjukkan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm, dan penipisan 50 – 80 %;
e. Persentasi janin rendah sampai spina isiadika;
f. Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal terjadinya preterm;
g. Terjadinya pada usia kehamilan 22 – 37 minggu.
Beberapa kreteria diagnosis bayi kurang bulan atau bayi prematur, yaitu:
a. Berat badan < 2500 gram, panjang badan kurang dari 45 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm, lingkar dada kurang dari 30 cm.
b. Masa gestasi kurang dari 37 minggu.
c. Kepala lebih besar daripada badan.
d. Kulit : tipis transparan, rambut lanugo banyak, terutama pada dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak kulit berkurang, lemak subkutan kurang.
e. Otot hipotonik lemah.
f. Reflek tonus otot masih lemah, reflek menghisap dan menelan serta reflek batuk belum sempurna.
g. Tulang rawan dan daun telinga immature (elastik daun telinga masih kurang sempurna).
h. Pernafasan tidak teratur, dapat terjadi apnea (gagal nafas).
i. Kepala tidak mampu tegak
j. Pernafasan sekitar 45 sampai 50 kali/menit, dan frekuensi nadi 100 sampai 140 kali/menit
k. Sering anemia
l. Genetalia belum sempurna, labio minora belum tertutup oleh labia minora (pada wanita) dan pada laki-laki testis belum turun
2.2 KERANGKA TEORI
Berdasaran tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian ini, yaitu:
Gambar 2.1KERANGKA TEORI KELAHIRAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH
Etiologi
Pengertian Epidemiologi
Diagnosis
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
2.3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN
Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:
Variabel Bebas
• Pekerjaan
• Pendidikan
• Umur
• Jarak antara persalinan
• Riwayat pengawasan antenatal
• Riwayat abortus
• Paritas
• Hipertensi
• Persalinan
• Anemia
Gambar 2.2. KERANGKA KONSEP PENELITIAN
Variabel Terikat KELAHIRAN BAYI
BERAT LAHIR RENDAH
METODE PENELITIAN
3.1 JENIS PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus kontrol.
3.2 LOKASI
Penelitian ini akan dilakasanakan di RSUD. Hadrianus Sinaga Panggururan.Populasi adalah seluruh ibu bersalin dirawat inap di RSUD Hadrianus Sinaga Panggururan.
Sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.(Yusuf,2015)
Perkiraan besar sampel dapat dilakukan dengan berbagai cara; dasar yang digunakan untuk estimasi bergantung pada tujuan penelitian serta desain yang dipilih.(Sastroasmoro,2014)
2 2 1
2 2 2 1 1 2
1 ( )
) ( 2
P P
O P Q P z n PQ
n
zx
KeteranganRumus : n = Besar sampel minimal
P1 = Proporsi pemaparan pada kelompok kasus (𝑃1 = 𝑂𝑅
𝑂𝑅+1) P2 = Proporsi pemaparan pada kelompok kontrol (P2= 𝑃1
𝑂𝑅(1−𝑃1)+𝑃1) α = Tingkat kemaknaan ( 0,05) dengan Zα = 1,96
β = Kekuatan penelitian (80%) dengan Zβ= 0,842 P = ½ (P1+P2)
Q1 = 1-P1
Q2 = 1-P2
Q = 1-P
2
196 2
) 50 , 0 77 , 0 (
5 , 0 5 , 0 23 , 0 77 , 0 842 , 0 37 , 0 63 , 0 2 (
n
n = 50,42
Dari perhitungan didapat nilai n=50,42 yang jika dibulatkan menjadi 50.
Dengan perbandingan kasus kontrol adalah 1:1 maka jumlah sampel dalam masing-masing kelompok adalah 50
Pengambilan sampel pada penelitian ini ditentukan dengan pertimbangan tertentu.
Kriteria sebagai berikut:
Kriteria inklusi:
1. Ibu bersalin yang mengalami persalinan prematur pervagina;
2. Ibu bersalin yang mempunyai rekam medis lengkap (umur, pekerjaan, paritas ibu, jarak antar kelahiran, riwayat prematur sebelumnya, dan riwayat penyakit).
Kriteria inklusi kelompok control:
1. Ibu bersalin yang mengalami persalinan matur pervagina
2. Ibu bersalin yang mempunyai rekam medik lengkap (umur, pekerjaan, paritas ibu, jarak antar kelahiran, riwayat prematur sebelumnya, dan riwayat penyakit).
Kriteria ekslusi:
1. Ibu bersalin prematur atau matur yang persalinannya disengaja tanpa indikasi yang jelas
3.3 ALAT
1. Rekam medis
3.4 TEKNIK PENGAMBILAN DATA Data yang digunakan terdiri dari:
1. Data Sekunder
Data Sekunder anatara lain rekam medik, dan data kasus kelahiranprematur yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, Dinas Kesehatan Kabupaten Samosir, dan RSUD Dr Hadrianus Sinaga Pangururan.
3.5 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
Data yang telah diperoleh akan dimasukkan dan diolah dalam software pengolah data dengan menggunakan program computer SPSS 17. Kemudian data dianalisis menggunakan uji hipotesis Chi-Square.
3.6 VARIABEL DAN DEFINISI OPERASIONAL 1. Persalinan
Proses pengeluaaran hasil konsepsi (janin) yang telah cukup bulan atau dapat dapat di luar kandungan melalui jalan lain lahir.
Cara ukur : Data dari rekam medik Skla ukur : Ordinal
Hasil ukur : 1. Persalian Prematur (>30 minggu dan <36 minggu) 2. Persalinan matur (37-41 minggu)
2. Pendidikan
Pendidikan formal yang pernah ditempuh ibu berdasarkan jenjang pendidikan SD sederajat, SMP sederajat, SMA sederajat, dan Perguruan Tinggi
Cara ukur : Data dari rekam medik Skala ukur : Ordinal
Hasil Ukur : 1. SD, SMP sederajat
2. SMA, Perguruan Tinggi sederajat
3. Perkerjaan
Jenis pekerjaan ibu yang juga menjadi sumber penghasilan keluarga Cara ukur : Data dari rekam medik
Skala ukur : Ordinal Hasil ukur :1. Bekerja
2.Tidak bekerja / Ibu rumah tangga
4. Umur
Usia ibu saat persalinan dilakukan Cara ukur : Data dari rekam medik Skala ukur : Ordinal
Hasil Ukur : 1. <19 tahun 2. 20-34 tahun 3. >34 tahun
5. Paritas
Kehamilan yang mencapai viabilitas, baik kelahiran hidup maupun kelahiran bayi mati, tunggal, atau kembar yang pernah dialami ibu.
Cara ukur : Data dari rekam medik Skala ukur : Ordinal
Hasil ukur : 1. Paritas >1 2. Paritas ≤ 1
6. Riwayat abortus
Mengalami abortus pada kehamilan sebelumnya Cara ukur : Data dari rekam medik
Skala ukur : Ordinal
Hasil ukur : 1. Ada riwayat abortus 2.Tidak ada riwayat abortus
7. Jarak Kehamilan
Jarak kehamilan adalah interval waktu antara kehamilan saat ini dengan kehamilan sebelumnya dalam tahun.
Cara ukur :Data dari rekam medik Skala ukur : Ordinal
Hasil ukur :1. <2 Tahun 2. ≥2 Tahun
8. Kelengkapan ANC
Pemeriksaan kehamilan sebelum persalinan minimal empat kali yaitu satu kali trimester I, satu kali trimester II, dan dua kali trimester III.
Cara ukur : Data dari rekam medik Skala ukur : Ordinal
Hasil ukur : 1. Tidak lengkap 2. Lengkap
9. Kadar HB
Kadar Hemoglobin dalam darah ibu hamil yang menunjukkan terjadinya anemia atau tidak.
Cara ukur : Data dari rekam medik Skala ukur : Ordinal
Hasil ukur : 1. <11 gr (Anemia) 2. ≥11 gr (Tidak Anemia) 10. Tekanan darah
Tekanan darah ibu pada saat sebelum persalinan.
Cara ukur : Data dari rekam medik Skala ukur : Ordinal
Hasil ukur : 1. >140/90 mmHg (Hipertensi) 2. ≤140/90 mmHg (Normal)
4.1 TAHAP – TAHAP PENELITIAN
Ada empat tahap tahap kegiatan penelitian yang akan dilakukan sebagaimana yang ada diuraikan berikut ini:
Kegiatan pertama adalah Pengumpulan data yang berkenaan dengan penelitian.Data diperoleh dari Rekam Medik dari RSUD Hadrianus Sinaga Pangururan. Dan juga diperoleh dengan Kuisoner dari informan atau ibu ibu yang pernah melahirkan bayi premature.
Kegiatan kedua adalah menganalisis data yang sudah diambil pada Rekam Medik dan Kuisoner dengan dimasukkan dan diolah dalam softwarepengolah data dengan menggunakan program komputer.
Kegiatan ketiga adalah Penulisan dan bimbingan dengan dosen pembimbing agar mempersiapkan hasil agar bias layak maju di seminar hasil.
Kegiatan keempat adalah mempersentasikan hasil yang sudah diperoleh dari pengumpulan data dan yang sudah di analisis data.
4.2 RINCIAN KEGIATAN SETIAP BULAN Bulan Juli: Pengambilan data
Bulan Agustus: Analisis data
Bulan Sepetember–November: Penulisan Hasil dan Bimbingan dengan Dosen pembimbing
Bulan Desember: Seminar Hasil Penelitian
4.3 WAKTU YANG DIPERLUKAN UNTUK MELAKSANAKAN SETIAP TAHAP
Pengambilan Data = 1 bulan Analisis Data = 1 bulan
Penulisan Hasil dan bimbinggan dengan Dosen Pembimbing = 3 bulan
4.4 JADWAL PENELITIAN
Tabel 4.1 Jadwal Penelitian NO Jenis Kegiatan Bulan
ke- 7 8 9 10 11 12
1 Pengambilan data 2 Analisis data
3
PenulisanHasil dan Bimbingan dengan Dosen pembimbing.
4 Seminar Hasil
4.5 BIAYA PENELITIAN
Tabel 4.2 Biaya Penelitian
Jenis Pengeluaran Biaya Yang Diusulkan Transportasi dan Akomodasi 1.800.000,-
Kertas dan jilid lux 550.000,-
Total Anggaran 2.350.000,-
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN KABUPATEN SAMOSIR
Luas wilayah Kabupaten Samosir1.444,25Km2 yang secara administratif terdiri dari 13 kecamatan, 106 kelurahan.Jumlah penduduk kabupaten Samosir pada tahun 2016 adalah 150.187 jiwa, dengan jumlah rumah tangga 29.837 RT.
Tingkat kepadatan penduduk tahun 2016 sebesar 0,09% jiwa/km2 .
Kota Pangururan sekaligus ibu kota kecamatan dan ibu kota kabupaten merupakan ibukota kabupaten, pusat perdagangan dan pusat pemerintahan memiliki jumlah penduduk terbesar 30.468 jiwa dengan 6.943 rumah tangga tingkat kepadatan tertinggi 246,14 jiwa/km2. Berdasarkan kelompok umur, penduduk kabupaten Samosir tergolong dalam struktur muda. Hal ini dapat dilihat dari persentase penduduk usia muda (0-14 tahun), yaitu 14.601, usia produktif (14-64) 711.53 jiwa, dan penduduk usia lanjut (65+ tahun ) sebanyak 8211 jiwa.
(BPSKab.SAMOSIR, 2016)
Rumah Sakit Dr Hadrianus P Sinaga Pangururan
Penelitian ini dilakukan di Rumah sakit Dr Hardiamus P Sinaga Pangururan yang berada di wilayah Kecamatan Pangururan, Kabupaten SAMOSIR. RSU Dr Hadrianus Sinaga yakni satu dari sekian Layanan Kesehatan milik PEMKAB Samosir yang berbentuk RSU, dikelola oleh Pemda Kabupaten dan tercatat kedalam RS Kelas C. Layanan Kesehatan ini telah terdaftar mulai 27/01/2016 dengan Nomor Surat Izin 495/Menkes/SK/V/2008 dan Tanggal Surat Izin 28/05/2008 dari MENKES dengan Sifat Tetap. Sesudah melangsungkan Proses AKREDITASI RS Seluruh Indonesia dengan proses Pentahapan I (5 Pelayanan) akhirnya diberikan status Bersyarat Akreditasi Rumah Sakit. RSU ini beralamat di Jl. Dr Hadrianus Sinaga No. 86 Pangururan, Samosir, Indonesia.
RSU Dr Hadrianus Sinaga Memiliki Layanan Unggulan di Bagian PONEK. RSU Milik PEMKAB Samosir ini Memiliki Luas Tanah 27.775 dengan Luas Bangunan 10.259,5. Terdapat ruang ICU, ruang bayi baru lahir, kamar bersalin, ruang operasi dan ruang isolasi.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian berdasarkan persalinan, hasil pengeluaran janin cukup atau persalianan matur (diatas 37 minggu) dan pengeluaran janin tidak cukup bulan atau persalinan premature (dibawah 37 minggu).Hasil yang di analisa sebagian besar kelahiran dengan persalinan premature membuat berat badan lahir rendah.Sesuai dengan teori bahwa kurang bulan (prematur), yaitu bayi yang dilahirkan dengan masa gestasi (kehamilan) <37 minggu (<259 hari).Dan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram.
Tabel 5.1Persalinan dengan Berat Badan Lahir Rendah
Persalinan BB kelompok
BBLR BBNormal
Persalinan mature 0 50
Persalinan Premature 50 0
Total 50 50
Hasil penelitian berdasarkan pendidikan, yang dimana di bagi atas dua kategori yaitu SD,SMP dan SMA dari hasil analisa yang menempuh pendidikan SD,SMP lebih rentan terjadinya berat badan lahir rendah di bandingkan yang menempuh pendidikan SMA. Dari hasil penelitian yang terdahulu menyatakan bahwa faktor pendidikan signifikan mempengaruhi kejadian kelahiran bayi prematur di mana wanita berpendidikan lebih rendah cendrung 1,077 kali lebih besar untuk mengalami kelahiran bayi prematur dibandingkan dengan ibu berpendidikan tinggi. (Dwi sulistiarini, 2016)
Tabel 5.2 Pendidikan dengan Berat Badan Lahir Rendah
Pendidikan Bbkelompok
BBLR BB Normal
SD, SMP 46 4
SMA 4 46
Total 50 50
Hasil penelitian berdasarkan Pekerjaan, yang dimana di bagi atas dua kategori yaitu ibu rumah tangga dan bekerja dari hasil analisa yang bekerja lebih banyak membuat berat badan lahir rendah di bandingkan dengan yang ibu rumah tangga.Tidak ada penelitian yang menunjang dengan penelitian ini. Tetapi mungkin ada banyak faktor yang lain yang bisa mempengaruhinya.
Tabel 5.3Pekerjaan dengan Berat Badan Lahir Rendah
Pekerjaan BB kelompok
BBLR BBNormal
Ibu Rumah Tangga 4 38
Bekerja 46 12
Total 50 50
Hasil penelitian berdasarkan umur, umur subjek berkisar antara 16-45 tahun, yang di bagi atas muda, dewasa muda dan dewasa tua. Umur ibu yang beresiko dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun dalam penelitian ini lebih banyak mengakibatkan kelahiran bayi yang Berat badan lahir rendah.dari hasil penelitian yang terdahulu dari Ayu Idaningsih didapatkan hubungan umur ibu dengan persalinan premature ( Ayu Idaningsih,2015).
Tabel 5.4Berdasarkan Umur dengan Berat Badan Lahir Rendah
Umur kelompok BB Kelompok
BBLR BB Normal
Muda 3 0
Dewasa Muda 23 49
Dewasa tua 24 1
Total 50 50
Hasil penelitian berdasarkan paritas, paritas dengan terdapat dua kategori yaitu primapara dan multipara.Hasil analisa yang di dapat multipara lebih banyak mengakibatkan berat badan lahir rendah. Hasil dari penelitian sebelum nya menyatakan bahwa persalinan prematur lebih banyak terjadi pada ibu paritas yg tinggi. Ibu bersalin dengan paritas tinggi mengalami kehamilan dan persalinan berulang kali sehingga pada sistem reproduksi terdapat penurunan fungsi dan akan meningkat menjadi faktor resiko tinggi apabila ibu dengan paritas lebih dari lima. ( Ayu Idaningsih, 2015)
Tabel 5.5 Berdasarkan Paritas dengan Berat Badan Lahir Rendah
Paritas Bbkelompok
BBLR BB Normal
Primapara 22 2
Multipara 28 48
Total 50 50
Hasil penelitian berdasarkan riwayat abortus , riwayat abortus terdapat dua kategori yaitu pernah abortus dan tidak pernah abortus. Dari hasil analisa terbanyak yang pernah abortus yang mengakibatkan terjadinya berat badan lahir rendah.Temuan ini sejalan dengan riwayat keguguran atau abortus bahwa wanita yang memiliki riwayat keguguran atau abortus memiliki berisiko 0,920 kali lebih
rendah untuk mengalami kelahiran bayi prematur dibandingkan dengan ibu tanpa riwayat keguguran. (Dwi Sulistiarini, 2016).
Tabel 5.6Riwayat Abortus dengan Berat Badan Lahir Rendah
Abortus Bbkelompok
BBLR BB Normal
Tidak Pernah Abortus
5 46
Pernah Abortus
45 4
Total 50 50
Hasil penelitian berdasarkan jarak kehamilan, jarak kehamilan terdapat dua kategori kurang dari dua tahun dengan lebih dari dua tahun.Dari hasil analisa terbanyak yang jarak kehamilan kurang dari dua tahun lebih banyak mengakibatkan terjadinya berat badan lahir rendah.Hasil ini sesuai dengan penelitian yang menyatakan bahwa jarak kehamilan merupakan faktor risiko kejadian kelahiran prematur.(Agustiana,2012)
Tabel 5.7Jarak Kehamilan denganBerat Badan Lahir Rendah
Jarak Kehamilan
Bbkelompok
BBLR BB Normal
Kurang dari 2 tahun
46 3
Lebih dari 2 tahun
4 47
Total 50 50
Hasil penelitian berdasarkan kelengkapan ANC, kelengkapan ANC terdapat dua kategori yaitu lengkap dengan tidak lengkap.Hasil analisa pengawasan ANC yang tidak lengkap banyak mengakibatkan terjadinya berat badan lahir rendah. Hasil penelitian ini di dukung dengan penelitian yang menyatakan Ibu yang tidak melakukan pemeriksaan kehamilan secara lengkap, yaitu minimal satu kali pada trimesterpertama, minimal satu kali pada trimester kedua, dan minimal dua kali pada trimester terakhir berisiko 1,534 kali lebih besar untuk mengalami kelahiran prematuredibandingkan dengan ibu yang melakukan pemeriksaan kehamilan lengkap. Hal ini menunjukkan bahwa pemeriksaan kehamilan penting dilakukan untuk menjaminkesehatan ibu dan anak sehingga ibu dapat melahirkan anak yang sehat pada usia kehamilan yang ideal (sembilan bulan).(Dwi Sulistiarini, 2013)
Tabel 5.8
Kelengkapan ANC dengan Berat Badan Lahir Rendah Riwayat Pengawasan Antenatal BB kelompok
BBLR BBNormal
Lengkap 3 49
Tidak Lengkap 47 1
Total 50 50
Hasil penelitian berdasarkan kadar Hb, berdasarkan Hb terdapat dua kategori yaitu anemia dengan tidak anemia. Hasil analisa kadar Hb yang anemia lebih banyak menagakibatkan terjadinya berat badan lahir rendah di bandingkan tidak anemia. Hasil penelitian ini di dukung penelitian di Korea yang menyatakan bahwa anemia pada ibu hamil berkontribusi 1,53 kali terhadap kelahiran premature.Hasil penelitian ini berjumlah sampel penelitian sebanyak 70.895 wanita berdasarkan data sekunder di Rumah Sakit Universitas Myoungji, Korea.(Yi, Han, & Ohrr 2013)
Tabel 5.9KadarHb dengan Berat Badan Lahir Rendah
Kadar HB BB kelompok
BBLR BBNormal
Anemia 46 0
Normal 4 50
Total 50 50
Hasil penelitian berdasarkan tekanan darah, tekanan darah di bagi dua yaitu hipertensi (diatas 140/90) dan normal (dibawah 140/90).Hasil penelitian yang di dapat orang terkena hipertensi dapat menimbulkan berat badan lahir rendah pada anak baru lahir di bandingkan dengan tekanan darah normal. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa preeklamsi atau hipertensi pada ibu hamil berisiko 1,25 kali terhadap kelahiran prematur.(Vogel,2013) Penelitian Novita Paembonan juga menyatakan bahwa preeklamsi atau hipertensi dalam kehamilan beresiko 2.744 kali terhadap kelahiran prematur.(Novhita ,2013)
Tabel 5.10Tekanan Darah Sistol dengan Berat Badan Lahir Rendah
Tekanan darah sistol BB kelompok
BBLR BBNormal
Normal 3 48
Hipertensi 47 2
Total 50 50
Tabel 5.11Tekanan Darah Diastol dengan Berat Badan Lahir Rendah
Tekanan darah diastol BB kelompok
BBLR BBNormal
Normal 3 49
Hipertensi 47 1
Total 50 50
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Terdapat pengaruh antara Persalinan dengan Berat badan lahir Rendah.
2. Terdapat pengaruh antara Pendidikan dengan Berat Badan Lahir Rendah.
3. Terdapat pengaruh antara Pekerjaan dengan Berat Badan Lahir Rendah.
4. Terdapat pengaruh antara Umur dengan Berat Badan Lahir Rendah.
5. Terdapat pengaruh antara Paritas dengan Berat Badan Lahir Rendah.
6. Terdapat pengaruh Riwayat Abortus dengan Berat Badan Lahir Rendah.
7. Terdapat pengaruh Jarak Kehamilan antara dengan Berat Badan Lahir Rendah.
8. Terdapat pengaruh kelengkapan ANC dengan Berat Badan Lahir Rendah.
9. Terdapat pengaruh kadar Hb dengan Berat Badan Lahir Rendah.
10. Terdapat pengaruh Tekanan Darah dengan Berat Badan Lahir Rendah.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti mencoba memberikan saran maupun masukkan bagi Pemerintahan Kabupaten Samosir, Dinas Kesehatan Kabupaten Samosir dan RSUD Dr Hadrianus Sinaga Pangururan Kabupaten Samosir, dan peneliti selanjutnyayaitu sebagai berikut:
1. Perlunya dilakukan penyuluhan pada masyarakat yang memiliki balita dengan ibu hamil yang memiliki resiko kelahiran berat lahir rendah, untuk mengurangi resiko kelahiran dengan bayi berat lahir rendah.
2. Perlu waktu yang lebih lama bagi peneliti untuk melaksanakan penelitian untuk mencapai hasil yang lebih sempurna
3. Bagi peneliti selanjutnya mengenai gambaran faktor risiko Bayi Prematur
pada ibu hamil, diharapkan membahas lebih dalam faktor-faktor risiko seperti pekerjaan, abortus, tekanan darah, anemia.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina,tria. 2012. Faktor-faktor yang berhubungan dengan persalinan prematur di indonesia tahun 2010 (Analisi Data Riskesdas 2010). Universitas Indonesia
Ayu.Idaningsih.2015. Faktor-faktor yang berhubungan dengan persalinan prematur di RSUD cideres kabupaten majalengka.
Cunningham. 2013. Obstetri Williams. Jakarta : EGC.
DepartmentKesehatanRepublik Indonesia, Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar.
Dwi Sulistiarini Dkk.2016. Faktor-faktor yang memengaruhi kelahiran prematur di Indonesia, e-Jurnal WIDYA Kesehatan dan Lingkungan.
Kurniawati.Ika.Yuliana,2015.Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir Pada Bayi NY.
H dengan Prematur di RSU Assalam Gemolong Sragen. Surakarta.
Lemeshow, H, Klar,L. 1997. Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan Edisi Terjemahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Lowing, dkk. 2015. Gambaran Ketuban Pecah Dini di Rsup Prof Dr. R. D.
Kandou Manado. Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.
Jurnal E-Clinic (Ecl), Volume 3, Nomor 3.
Manuaba 2012. Ilmu Kebidanan, Peyakit Kandungan, dan KB , EGC, Jakarta.
Mulyaman 2009, Ilmu Kebidanan , Jakarta
Nashihatu Diniya, 2016. Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Berat Bayi Baru Lahir Di Wilayah Kerja Puskesmas Martapura Kabupaten Banjar.
Lampung.
Notoatmodjo, soekidjo.2012, Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.
Novita.Paembonan. 2013 Faktor Risiko kejadian kelahiran prematur di rumah sakit ibu dan anak siti fatimah kota makasar.
Primadi Oscar. 2014. Profil Kesehatan Indonesia 2014. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Ritonga Baurlina. Pengaruh Faktor Ibu terhadap Kelahiran Prematur di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Sidimpuan. Ilmu Kesehatan Masyarakat Tesis 2014.
Sastroasmoro, Sudigdo, 2014. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis, Sagung Seto, Jakarta.
Saifuddin, B. A(ed). 2014 , Ilmu kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta.
Simbolon, Fransiska. 2014.FAKTOR RISIKO KEJADIAN PERSALINAN PREMATUR DI RSUD DR. PIRNGADI KOTA MEDAN TAHUN 2012- 2013.
Surjantini, S.H., Profil Kesehatan Profil Sumatera Utara 2012, Sumatera Utara:
DinkesSumut; 2012.
Suryamin, Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, Jakarta: BPS;
2013.
Sulistyawati, Ari. 2013, Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan (Edisi Revisi).
Jakarta: Salemba Medica.
Supriyantoro. 2013 Profil Kesehatan Indonesia 2012, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Surat Keputusan Gubernur Sumatrea Utara Nomor 188.44/623/KPTS/2016 Tentang Penetapan Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017 Gubernur Sumatera Utara.
Tuti Hadiningsih, 2014 Buku saku Manajemen Unit Persalinan edisi 2, EGC, Jakarta.
Vogel, J. P., lee,A.C.& Souza, J.P.2013. Maternal morbidity and preterm birth in 22 low and middle-income countries: a secondary analysis of the WHO Global Survey dataset. BMC Pregnancy and Childbirth,14.
Wagiyo 2013, Asuhan Keperawatan Antenatal dan Intranal dan Bayi Baru Lahir Fisiologis dan Patofisologis.Yogyakarta.
Wiknjosastro, H. 2014, Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka SarwonoPrawirohardjo, Jakarta.
World Health Organization (WHO), 2016 Preterm birth from:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs363/en/
Yi, S.-W., Han, Y.-J. & Ohrr, H. 2013. ‘Anemia before pregnancy and risk of preterm birth, low birth weight and small-for-gestational-age birth in Korean women’. European Journal of Clinical Nutrition, 67, 337-342.
Yusuf Febriani Susi, 2015. Metodelogi Penelitian Kesehatan.Darmais Press Padangsidimpuan.
Lampiran 1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Rodoasi Jesaya Sibarani
Tempat, Tanggal Lahir : Medan, 23 Januari 1996
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Jln. Tridarma no 138 Komplek USU, Medan -20155
Riwayat Pendidikan :
1. TK Fajar Medan(1999-2000)
2. SD Swasta Santo Antonius 1 medan (2000-2006) 3. SMPSwasta Methodist 1 Medan (2006-2009) 4. SMA Negeri 4 Medan(2009-2014)
5. Fakultas Kedokteran USU Medan (20014-sekarang)
Riwayat Organisasi:
1. Anggota KASTRAD PEMA FK USU 2015
2. Ketua KAM PEMBAHARUAN FKUSU 2016
Lampiran 3
SURAT ETHICAL CLEARENCE
Lampiran 4
ANALISIS STATISTIK SPSS
umur Kelompok * BBKelompok Crosstabulation
Count
BBKelompok
Total BBLR BB Normal
umur Kelompok Muda 3 0 3
Dewasa Muda 23 49 72
Dewasa Tua 24 1 25
Total 50 50 100
Chi-Square Tests
Value df
Asymp. Sig. (2- sided)
Pearson Chi-Square 33.549a 2 .000
Likelihood Ratio 40.023 2 .000
Linear-by-Linear Association 17.098 1 .000
N of Valid Cases 100
a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,50.
RiwayatPengawasanAntenatal * BBKelompok Crosstabulation
Count
BBKelompok
Total BBLR BB Normal
RiwayatPengawasanAntenat al
Lengkap 3 49 52
Tidak Lengkap 47 1 48
Total 50 50 100