• Tidak ada hasil yang ditemukan

BABII LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BABII LANDASAN TEORI"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BABII

LANDASAN TEORI

Dalam Bab II ini menjelaskan beberapa topik yang berkaitan dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya, teori-teori peiidukung hutang, teori contracting dalam hubungannya pada kebijakan pendanaan dan dividen, dan struktur modal yang mempunyai keterikatan dengan kriteria-kriteria kemakmuran

pemeg~ng

saham terhadap kenaikan hutang dan kenaikan dividen.

2.1 Tinjauan penelitian sebelumnya

Filosofi keputusan pendanaan memiliki anggapan yang sama-sama bertujuan untuk memakmurkan atau meningkatkan kesejahteraan para pemegang saham yang tercermin pada kenaikan harga saham. Konflik kepentingan yang terjadi antara pemegang saham, pemegang obligasi dan para manajer, karena keputusan pendanaan, karena disatu pihak dianggap dapat meningkatkan kesejahteraan dan dilain pihak mengurangi kesejahteraan para pemegang saham ( Smith, 1990 ).

Kapasitas hutang perusahaan adalah proporsi maksimum dari hutang yang

dapat dimasukkannya dalam struktur modal dan masih mempertahankan biaya modal

terendah. Tetapi peningkatan hutang bukanlah solusi optimal bagi suatu perusahaan,

implikasinya adalah manajer perusahaan yang didanai hutang punya kecenderungan

untuk memilih proyek yang lebih beresiko.

(2)

Bab ll Landasan Teori halaman 18

Duran ( 1952 ), berpendapat bahwa nilai perusahaan yang menggunakan hutang akan lebih tinggi dari nilai perusahaan yang tidak menggunakan hutang.

Pendapat

ini

kemudian dibantah oleh Miller dan Modigliani (1960), menyatakan kembali sebagai revisinya atas artikel sebelumnya, bahwa dalam keadaan ada pajak, keputusan pendanaan menjadi relevan, karena pada umumnya bunga yang dibayarkan akan mempengaruhi pendapatan yang dikenakan pajak. Hal ini berarti perusahaan dapat meningkat nilainya dengan menggunakan hutang. Menurunkan nilai perusahaan dan biaya-biaya dari hutang yang mempertahankan investasi dalam proyek yang meningkatkan nilai perusahaan. Perusahaan yang memiliki kesempatan berinvestasi yang baik diharapkan memiliki tingkat hutang yang rendah secara relatif terhadap perusahaan yang mantap. Penelitian

Stutz

juga menemukan bukti bahwa pada umumnya para manajer akan merasa enggan untuk: mengimplementasikan tingkat hutang yang optimal karena adanya ancaman pcngambilalihan ( takeover ).

Dalam dunia nyata tidak ada perusahaan yang menggunakan hutang dalam jumlah yang sangat besar, walaupun berdasarkan teori Miller & Modigliani, semakin besar hutang yang digunakan maka semakin tinggi nilai perusahaan. Model Mi11er &

Modigliani mengabaikan faktor biaya kebangkrutan dan biaya keagenan. Masalah keagenan bisa terjadi jika pihak-pihak yang bekerja sama memiliki tujuan yang berbeda sehingga masing-masing memiliki sikap yang berbeda terhadap resiko (Jensen & Mecking, 1979).

Kamath, 1997 melakukan penelitian survey terhadap 690 perusahaan yang terdaftar pada NYSE periode 1988-1990, dengan response rate 142 perusahaan tentang berbagai praktik dan pandangan manajeriaJ berkenaan dengan keputusan

W:SIJ££1 221 !!JtlSJJ££1 a t u : tt Ui 5 M££ Zt!!I&Ututi!i!iililiMIIiiiMIIMNiiiMiiiiiM

(3)

Bab II Landasan Teori halaman 19

-mu·~·wnnrwua-rrliinnfiirisiiiif'T'ffrrw···yrrrrr·r;r··r··fwriai···m···11inTnM•-

pendanaanjangka panjang. Hasil survey menunjang perusahaan lebih suka mengikuti

financing hierarchy

atau

pecking order h}pothesis

daripada mempertahankan struktur modal yang ditargetkan atau

balance theory.

Perusahaan yang mengikuti

pecking order theory

untuk memperoleh dana baru memandang

debt nitio

adalah berhubungan pada

past profit

dan

past growth.

2.2 Teori-teori pendukung hutang

Dalam menentukan berapa banyak hutang yang dapat dengan aman dipegang perusahaan, perlu dipertimbangkan risiko dasar yang ada dalam bisnis itu. Bagi seorang manajer, dividen tunai pemegang saham cukup penting. Perusahaan lebih suka melepas proyek yang menguntungkan daripada merealokasi dividen tunai yang diharapkan pemegang saham untuk investasi.

Resiko bisnis (Kale et al. 1991) menjelaskan bahwa adanya penggunaan hutang yang tinggi akan meningkatkan probabilitas kebangkrutan. Resiko bisnis ditentukan oleh variabilitas pendapatan yang ak:an diterima pada masa yang ak:an datang (Ferri & Jones, 1979).

Titman & Wessel (1988) dalam studinya apakah sebaiknya suatu perusahaan memutuskan menggunakan equity atau hutang haruslah melihat faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi

debt equity ratio

suatu perusahaan.

Debt equity ratio

atau hutang modal merupak:an variabel yang menjelaskan perubahan harga saham (Watts dan Zimmerman, 1986). Efeknya terhadap kemakmuran pemegang saham yaitu diharapkan variabel diatas menjadi negatif Seorang investor ak:an lebih mudah memberikan hutang apabila disertai dengan jaminan yang ada. Dilain pihak:

il!Jtl!l!l$!ttt!JJ!i i!! i i!! 2 1 i 2 til it iii !i!!S!Jl ! 2 !hi! tJ !&! !lib &! 2 t J S!!!U6MWiiiMifliAfiii&i

(4)

apabila perusahaan menggunakan hutang dengan disertai ]amman maka akan mengurangi resiko kebangkrutan perusahaan tersebut.

Baskin (1989) menemukan bukti penelitian bahwa debt leverage berhubungan positif signifikan dengan growth, berhubungan terbalik dengan profit dan dividend yang dibayarkan lebih tinggi dimasa lalu dan cenderung hutang kembali.

Brigham & Gapenski, 1996: 421 mynyatakan bahwa perusahaan yang pertumbuhannya pesat cenderung lebih menggunakan hutang daripada ekuitas. Hal tersebut menjawab mengapa masih ada keraguan emiten untuk menerbitkan ekuitas yang disebabkan oleh persoalan asimetrik information dan biaya emisi penerbitan ekuitas, maka perusahaan adalah lebih mungkin menerbitkan hutang daripada ekuitas.

2.3 Teori contracting dalam hubungannya pada kebijakan pendanaan dan dividen

Teori contracting secara prinsip menggunakan asumsi utama bahwa pemilihan kebijakan perusahaan bertujuan untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Argumentasi ini mulai populer setelah adanya perdebatan tentang eksistensi ide akuntansi positif yang menyatakan bahwa adanya banya~ perbedaan dalam kebijakan prosedur akuntansi diantara perusahaan berkaitan dengan perilaku manajemen perusahaan (Watts dan Zimmerman, 1990). Perbedaan dalam kebijakan prosedur akuntansi berkaitan dengan perpektif efficiency contracting

dan

pandangan manajemen yang opportunistism. Dalam perspektif efficiency contracting secara khusus manajer akan memilih metode akuntansi yang akan meminimkan agency cost. Dengan demikian, manajer akan memaksimalkan nilai perusahaan.

iiiiiiliiJJ& SJi liZ I Iii b iiSS 12 hihiiiiii !21 21 I IE iii iJ £! I ! liliU ililiililtl2!&1!2&ihii!!SSII£iiiiilibi!I!WiiiihiiiiAiiiliilil&

(5)

Kepentingan pembelanjaan menyangkut tentang bagaimana membiayai kegiatan perusahaan, bagaimana memperoleh dana dengan biaya minimal serta komposisi sumber pembiayaan optimal. Empat sumber dana utama yang dapat digunakan perusahaan untuk membelanjai operasi perusahaan yaitu hutang, saham preferen, saham biasa dan laba ditahan (Lawrence, 1983) membedakan karakteristik keempat sumber dana perusahaan tersebut. Penentuan untuk membelanjai operasi perusahaan sebaiknya menggunakan modal sendiri atau hutang tergantung pada tingkat bunga dan return yang diharapkan. Perusahaan menentukan membelanjai operasi perusahaan berupa biaya bunga. Tambahan penghasilan

ini

apabila ditanamkan akan menambah modal sendiri.

Pemenuhan kebutuhan dana dengan menggunakan sumber dana dari luar ( eksternal financing) mempunyai

resiko

yang lebih besar dari menggunakan sumber dana dari dalam perusahaan (internal financing), seperti keuntungan dari operas1 perusahaan. Perusahaan dengan keuntungan yang besar akan lebih sedikit memerlukan dana dari luar perusahaan dibanding perusahaan dengan keuntungan yang lebih kecil. Hal ini didukung oleh hipotesis yaitu penggunaan hutang oleh suatu perusahaan akan meningkatkan resiko para pemegang saham. Dalam teori portofolio apabila resiko yang ditanggung para pemegang saham meningkat maka pemegang saham tersebut akan menuntut return yang Iebih tinggi, sehingga ada hubungan yang positip antara resiko jika mengambil altematif hutang dengan return yang didapat jika perusahaan tersebut meningkatkan hutangnya.

Masalah perubahan kebijakan dividen ini akan lebih jelas jika kita mempertimbangkan adanya sumber pembelanjaan yang berasal dari luar perusahaan

I Sitl!JJ!t!!!JM!Uil!Jli!!i!!S tJt t!J!U!i!:SJ!tut t !J tt tit SJt! &J tt tt ::S ti 2 tt J t-J!tWMiiiiliiLiliR!Ii!IDMibliiiiliiiW!PtiiiAWWW

Asosiasi Kemakmuran Peme2an2 Saham terhsuiAn ll'.,.naHran u .. +n~~ . J - -T.r ___ ,.

(6)

( eksternal financing).

Perusahaan akan membelanjai investasinya dengan keuntungan yang ditahan. Untuk ini Modigliani dan Miller menunjukkan bahwa dengan suatu keputusan investasi tertentu, ratio dividen yang dibagikan tidaklah ada artinya bagi kemakmuran pemegang saham. Mereka mengatakan bahwa dengan suatu keputusan investasi, yang relevan adalah tingkat keuntungan investasi tersebut, bukan pembagian keuntungan itu. Inilah teori ketidakrelevanan yang diungkapkan oleh Miller dan Modigliani. Pengaruh pembayaran dividen terhadap kemakmuran pemegang saham, akan diimbangi dengan jumlah yang sama dengan cara pembelanjaan yang lain.

Suatti perusahaan perlulah memilih kebijakan dividen yang cenderung akan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham. Dalam teori kebijakan dividen yang optimal

(dividend pcr;~out ratio

yang optimal) haruslah ditentukan dengan memperhatikan kesempatan-kesempatan investasi yang dimiliki perusahaan dan berbagai preferensi yang dimiliki para

inves~or

mengenai dividen dan

capital gain.

Semakin tinggi dividen dibagikan tanpa kenaikan hutang kepada pemegang saham akan mengurangi kesempatan perusahaan untuk mendapatkan sun:tber dana intern dalam rangka mengadakan reinvestasi, sebab pertumbuhan dividen akan semakin berkurang.

Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya dividen yang akan dibayarkan oleh perusahaan kepada pemegang saham antara lain adalah:

2 Merton H. Miller and Franco Modigliani, "Dividend Policy, Growth and the Valuation of Shares"

Journal ofBusiness 34 (October 1961) 411-433

lit i!!! iiM2 tt il t it ttl tt iiiJSil Jill ttttttst£ 2 sttttttltSitttiiMIZttiisttttt iitti JtJJttii:U::ttJZUAttiittttttJJS!itJt£iiJJ::S:tttttttt JtiiJJ:SiiiiJJ£ i!JJSl!Uti£AUJAUMiihihihhdiiiiiiM!iidiii

Asosiasi Kemakmuran Peme2an2 Saham terhBdAn Jl' .. n .. a, .... u •• .o~--.... __ T-'"---·• ·

(7)

1. Posisi Likuiditas Perusahaan

Cash dividend

merupakan arus kas keluar bagi perusahaan, oleh karena itu hila perusahaan membayarkan dividen berarti harus bisa menyediakan uang kas yang cukup banyak dan ini menurunkan tingkat Iikuiditas perusahaan. Bagi perusahaan yang kondisi Iikuiditasnya kurang baik, biasanya dividen payout perusahaan rationya kecil dan sebaliknya.

2. Kebutuhan melunasi hutang

Salah satu sumber dana perusahaan adaJah kreditor berupa hutang baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dan hutang-hutang ini harus segera dibayarkan pada saat jatuh tempo ditambah bunga.

3. Rencana perluasan

Perusahaan yang berkembang ditandai dengan semakin pesatnya pertumbuhan perusahaan, dan· hal ini bisa dilihat dari perluasan yang dilakukan oleh perusahaan. Semakin pesat pertumbuhan perusahaan, juga semakin pesat perluasan yang dilakukan. Konsekwensinya semakin besar kebutuhan dana untuk membiayai perluasan tersebut. Kebutuhan dana dalam rangka ekspansi tersebut bisa dipenuhi baik dari hutang, menambah modal sendiri yang berasal dari pemilik, dan salah satunya juga bisa diperoleh dari

internal resources

berupa memperbesar Iaba yang ditahan.

Dengan demikian semakin pesat perluasan yang dilakukan perusahaan semakin kecil

dividend payout ratio

jika tidak diikuti dengan hutang yang meningkat.

iiMAWM£ itstUI hili lit 2 2 t! Sii£ tJ ! i!JS!Jii JJiS U! :Si I SJi S: S::i!J!SJ££S:SDi!Si!Li t 5!£ 2! i!S::ill i!NAAiiiiA!IiliiiiiiiiiM

(8)

Bab II Landasan Teori halaman 24

4. Kesempatan investasi

Kesempatan investasi JUga merupakan faktor yang mempengaruhi besarnya dividen yang akan dibagi. Semakin terbuka kesempatan investasi semakin kecil dividen yang dibagikan sebab dananya digunakan untuk memperoleh kesempatan investasi. Namun bila kesempatan investasi kurang baik, maka dananya lebih banyak akan digunakan untuk membayar dividen.

2.4 Struktur modal

Harris & Raviv (1991), mengindikasikan bahwa pemilihan struktur modal memberi sinyal kepada para outsider atau investor tentang inforfuasi insider. Myers, 1984 menyatakan para investor tertarik pada pemilihan pendanaan karena perubahan harga saham terjadi pada saat keputusan pemilihan struktur modal diumumkan.

Filosofi pendanaan atas dasar bo.lance theory, perusahaan mendasarkan keputusan pendanaan pada suatu struktur modal yang ditargetkan atau struktur modal yang optimal. Oleh karena itu perusahaan melakukan upaya-upaya secara su.dar untuk mempertahankan struktur modal yang optimal untuk memaksimumkan nilai perusahaan (Kamath, 1997). Struktur modal yang optimal dibentuk dengan menyeimbangkan benefit, dari penghematan pajak atas penggunaan hutang terhadap cost, biaya kebangkrutan (Myers,1984; Baskin,1989; Stulz, 1991 in Haris & Raviv 1991 ; Brigham & Gapenski, 1996 : 382). Filosofi balance theory memprediksikan suatu hubungan yang negatif antara variabilitas pendapatan dan penggunaan hutang (Thies & Klock, 1991 ).

iiAIUiiUN!iJ iii I I £tt it i!Wi iJ illiiiUI!ii£1 II iiii Mil£! 21 iii iLl 12 MM lUI liiliiUI&Liiblli . . IWJMUIUlliiiWiliililiiiiiiiiiiii&

Asosiasi Kemakmuran Pemt>.9Ano !':aha...,. + .. ~t.n..ln- v- ___ .. __ ~ · -

(9)

Myers (1984), menjelaskan bahwa jika

balance theory

adalah benar perusahaan mungkin kadang-kadang berada diatas dan dibawah struktur modal yang optimal atau yang ditargetkan. Perusahaan

yang

struktur modalnya dibawah struktur modal yang optimal adalah lebih mungkin m~ngganti penggunaan

ekuitas

dengan hutang. Sebaliknya struktur modalnya diatas struktur modal yang optimal adalah Iebih mungkin mengganti pengganti hutang dengan

ekuitas

(Myers, 1984 dan Marsh, 1982).

Filosofi pendanaan atas dasar kerangka

pecking order hypothesis,

perusahaan berusaha untuk menerbitkan sekuritas berdasarkan suatu urutan atau

hierarchy

yang paling menguntungkan pada suatu waktu tertentu dan tidak mendasarkan pada struktur modal yang ditargetkan (Kamath, 1997). Berdasarkan

pecking order theory,

perusahaan lebih cenderung memilih pendanaan yang berasal dari internal daripada ekstemal. Apabila digunakan dana yang berasal dari ekstemal, urutan pendanaan yang disarankan atau diinginkan perusahaan pertama dari pendanaan hutang, kedua dari penerbitan ekuitas baru (Myers, 1984). Alasannya adalahpara manajer tidak menginginkan teijadinya dilusi terhadap nilai saham bagi para pemegang saham (Viswanath, 1994 ). Filosofi

balance theory

memprediksikan suatu hubungan yang negatif antara variabilitas pendapatan dan penggunaan hutang (Thies & Klock, 1991).

Perusahaan dengan pendapatan yarig relatif stabil memungkinkan untuk memprediksikan pendapatan yang akan datang secara tepat. Pendapatan yang stabil memungkinkan perusahaan tersebut meminjam atau hutang dengan jumlah yang lebih besar.

·WAiWJJtl!illi 2 !S I 2 J !SU!!JJJJZSU S 2 J !!&& UZl !£ E-IIWM£22tli&IWii&Williliiiill

(10)

Hasil penelitian konsisten dengan pecking order theory juga membuktikan, bahwa debt ratio berhubungan terbalik dengan profit (Titman

&

Wessels, 1988;

Baskin 1989; Thies

&

Klock 1991; Kamath 1997). Temuan ini meJtielaskan bahwa perusahaan yang memiliki kemampuan menghasilkan laba adalah lebih mungkin menggunakan dana internal.

Filosofi keputusan pendanaan baik berdasarkan pada balance theory maupun pecking order theory keduanya memiliki anggapan yang sama-sama bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan kesejahteraan para pemegang saham. Saham yang tercermin pada kenaikan harga saham. Konflik kepentingan yang terjadi antara stockholder, bondholder dan para manajer, karena keputusan pendanaan, disatu pihak dianggap dapat meningkatkan kesejahteraan dan dipihak lain mengurangi kesejahteraan para pemegang saham (Smith, 1990). Masalah keagenan bisa teijadi jika pihak-pihak bekeija sama memiliki tujuan yang berbeda, sehingga masing-

masing memiliki sikap yang berbeda terhadap resiko (Jensen & Meckling, 1976).

Dengan demikian pemahaman terhadap filosofi struktur modal perusahaan akan membantu menentukan altematif pendanaan dan investasi yang tepat, sehingga dapat untuk meningkatkan nilai perusahaan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal.

Walaupun sulit untuk menentukan komposisi sumber pembiayaan yang optimal, perusahaan perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat dijadikan dasar dalam menentukan modal (Brigham, I 992).

liiiiNiiii&u

tJu:suuaas a

u ; ;

:s ;;;

at ; ;

sa

uu;; was £JJ s

stu

£J !!U!

u "

ttuzu...,....

Asosiasi Kemakmuran Peml'_ggno ~ .. h ... ~J.n...ln-T-"---"-- - ... ·

(11)

Faktor-faktor pembiayaan optimal antara lain:

1. Stabilitas penjualan

Perusahaan yang kondisi penjualan relatif stabil akan lebih aman apabila lebih banyak menggunakan hutang dibanding perusahaan yang kondisi penjualannya tidak stabil. Perusahaan yang penjualannya stabil, memiliki kemampuan yang lebih besar dalam memenuhi kewajibannya, baik berupa angsuran hutang maupun pembayaran bunga.

2. Struktur aktiva

Perusahaan yang memiliki aktiva yang aman sebagai agunan atau jaminan dapat mengunakan hutang lebih besar. Aktiva · berupa aktiva tetap seperti tanah, bangunan merupakan aktiva yang dapat digunakan sebagai agunan dalam permintaan pinjaman atau hutang.

3. Operating leverage

Proporsi biaya tetap perusahaan akan menentukan pemilihan struktur modalnya.

Apabila proporsi biaya tetapnya relatif kecil maka perusahaan dapat menggunakan hutang yang lebih besar.

4. Tingkat pertumbuhan

Perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi cenderung menggunakan hutang yang relatif lebih besar dibanding dengan perusahaan yang tingkat pertumbuhannya rendah.

5. Probabilitas

Perusahaan yang tidak banyak menggunakan hutang memiliki tingkat ROI

(Return on Investment)

yang tinggi.

Ui! J1t ilffi£ l W l! l l SSL!l l 2 l2 lllll &Elb S!lS&ll£ l! l2l li lll! lllbllDElllllZl&llll::SU&ll l 2 SSll-Ul!lst IIH IRI i&&&&

Asosia~i 'K"tnalz.nn .. ,_ »---c-.- •

(12)

6. Pajak

Bunga hutang mengurangi probabilitas sehingga bagi perusahaan yang dibebani pajak yang tinggi akan Iebih memilih menggunakan tingkat hutang yang lebih besar.

7. Pengawasan

Dalam menggunakan hutangnya atau penerbitan saham perusahaan harus mempertimbangkan posisi

penga~asan

manajemen. Apabila manajemen sekarang memiliki hak suara Iebih dari

50 %

sehingga manajemen tidak dalam posisi harus membeli saham baru dengan demikian bisa memilih menggunakan hutang sebagai altematifutamanya dalam membiayai operasinya.

8. Sikap manajemen

Manajemen yang konservatif lebih cenderung menggunakan hutang yang Iebih kecil. Perilaku manajemen dalam pertumbuhan perusahaan dalam teori tidak mempengaruhi suatu kebijakan yang diambil oleh perusahaan, tetapi dalam prakteknya sangatlah mempengaruhi.

9. Sikap kreditor dan konsultan

Sebelum melakukan peminjaman, perusahaan akan mendiskusikan masalah penentuan struktur modal ini dengan kreditor maupun konsultan yang memberikan saran pada perusahaan. Apabila sikap kreditor Iunak dalam memberikan pinjaman dan berdasarkan saran konsultan penggunaan pinjaman tersebut tidak beresiko maka perusahaan cenderung menggunakan hutang.

liMUi&iiiiMWAIMJ i ;; i2i 12 2 ii!i#i!U!i&MJUihihiUAiiiUU:bibiiiE£ihibl&UQUi!!Uii!i!Jii£1ill&JEUSSSAJJili.JMIIhWUUiM-ii!iiiiiU!II

Asosiasi Kemakmuran Pemegang Saham terhadap Kenaikan Hutan2 dan Kenaikan Divirl~>n

(13)

Bab II Landasan Teori halaman 29 -···m···m··:mijjjijijjijfr•·r···ifirf·rriinra'fiMiiiwu;··rmT··rr-··rrnaunrtiil13r·nrmanaimmr·m····r,,mijnnrrr-

10. Kondisi pasar

Kondisi pasar modal jangka panjang maupun jangka pendek akan menentukan struktur modal perusahaan. Dengan kondisi pasar modal yang sedang lesu maka tidak banyak investor yang menanamkan modalnya pada saham dengan demikian perusahaan akan lebih memilih menggunakan hutang lebih banyak.

11. Kondisi internal perusahaan

Pendapatan perusahaan akan menentukan harga saham suatu perusahaan sehingga perusahaan akan lebih menyukai menggunakan hutang sampai pendapatannya naik dan meningkatkan harga saham. Dalam hal ini akan berdampak pada kenaikan dividen yang dapat memakmurkan pemegang saham.

12. Flesibilitas keuangan

Flesibilitas perusahaan dalam menggunakan hutang maupun modal sendirinya akan menentukan struktur modalnya. Dalam kondisi ekonomi yang baik perusahaan dapat memilih menggunakan hutang maupun modal sendiri. Namun pada kondisi ekonomi yang buruk penyandang dana hanya akan bersedia memberikan dana yang aman yaitu hutang.

a;;u;;a;u :Zittumu;uuuttum

ttttt£ ::au

:u an;

Mt ;;

stsLust

xmas;;;;; aua:uuaanm!iiiiiJ!!iihliiiiili!IMMiiiiiiiiMII

Referensi

Dokumen terkait

yaitu hanya menggunakan variabel rasio early warning system mencakup rasio tingkat kecukupan dana, underwriting ratio, rasio beban klaim, rasio likuiditas,

Total baseline emisi GRK untuk skenario tinggi yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil dan emisi fugitive meningkat dengan pertumbuhan sebesar 7,7%

Abidin, dapat kita pahami bahwa partai politik memenuhi rumusan korporasi yang terdiri dari sekumpulan manusia (dalam hal ini adalah perwakilan partai politik) yang diberikan hak

Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis bakteri yang ditemukan pada air tambak dan udang galah segar dengan media chromocult, mengamati pengaruh konsentrasi chitosan

Saya, Encik Navinkumar A/L Subramaniam telah menubuhkan Perniagaan Murni pada 1 Julai 2010 dengan modal sebanyak RM80 000 dimasukkan ke dalam akaun bank,membawa masuk

Pelaksanaan pendidikan agama Islam pada anak wanita karier (studi kasus keluarga perawat Rumah Sakit Islam Magelang) pada keluarga Sri Widayati adalah usaha yang

Peneliti memilih menggunakan analisis semiotika Roland Barthes dengan tujuan dapat mengupas dan membedah makna-makna yang terkandung dalam film “Joker”, yang dilihat dari segi

manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) yang dibuat oleh luar negeri, tujuan dan sasaran K3, identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian resiko,