HYPERMART PONDOK TJ ANDRA
SIDOARJ O
SKRIPSI
Disusun Oleh:
Muhammad Fir mansyah 0912010060/ FE/EM
FAKULTAS EKONOMI
PENGARUH SHOPPING LIFESTYLE DAN FASHION
INVOLVEMENT TERHADAP IMPULSE BUYING
PRODUK KOSMETIK PADA GIANT
HYPERMART PONDOK TJ ANDRA
SIDOARJ O
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan Dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
J ur usan Manajemen
Disusun Oleh:
Muhammad Fir mansyah 0912010060/ FE/EM
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL `VETERAN`
J AWA TIMUR
2013
HYPERMART PONDOK TJ ANDRA
SIDOARJ O
Yang diajukan
Muhammad Fir mansyah 0912010060/ FE/EM
Telah disetujui untuk diseminarkan oleh
Pembimbing Utama
Dra.Ec.Hj.Malicha Tanggal : ………..
Mengetahui
Ketua Jurusan Progam Studi Manajemen
PENGARUH SHOPPING LIFESTYLE DAN FASHION
INVOLVEMENT TERHADAP IMPULSE BUYING
PRODUK KOSMETIK PADA GIANT
HYPERMART PONDOK TJ ANDRA
SIDOARJ O
Yang diajukan
Muhammad Fir mansyah 0912010060/ FE/EM
Telah diseminarkan dan disetujui untuk menyusun skripsi oleh
Pembimbing Utama
Dra.Ec.Hj.Malicha Tanggal : ………..
Mengetahui
Ketua Jurusan Progam Studi Manajemen
Dr.Muhajir Anwar.MM NIP. 19650907199103101
HYPERMART PONDOK TJ ANDRA
SIDOARJ O
Yang diajukan
Muhammad Fir mansyah 0912010060/ FE/EM
Disetujui untuk mengikuti Ujian Lisan oleh
Pembimbing Utama
Dra.Ec.Hj.Malicha Tanggal : ………..
Mengetahui
Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
SKRIPSI
PENGARUH SHOPPING LIFESTYLE DAN FASHION
INVOLVEMENT TERHADAP IMPULSE BUYING
Telah Dipertahankan Dihadapan Dan diterima
Oleh tim Penguji Skripsi J urusan Manajemen Fakultas Ekonomi Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur
Pada tanggal 31 Mei 2013.
Pembimbing Tim Penguji
Pembimbing Utama 1. Ketua
Dra.Ec.Hj.Malicha Dra.Ec.Hj.Malicha
2. Sekretaris
Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur
Dr. Dhani Ichsanudin Nur. SE,MM. NIP. 19630924 198903 1001
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, atas rahmat dan
ber-Katnya yang diberikan kepada peyusun sehingga skripsi yang berjudul ”Pengar uh
Shopping Lifestyle dan Fashion Involvement, Ter ha dap Impulse Buying Produk
Kosmetik di Giant Hyper mar t Pondok Tjandr a Sidoar jo”
Penyusunan skripsi ini ditujukan untuk memenuhi syarat penyelesaian Studi
Pendidikan Strata Satu, Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen, Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, Surabaya.
Pada kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan terima kasih kepada semua
pihak yang telah memberikan bimbingan, petunjuk serta bantuan baik spiritual
maupun materiil,khusunya kepada :
1. Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Dr. Dhani Ichsanudin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3. Dr. Muhadjir Anwar, MM, selaku Ketua Program studu Manajemen Fakultas
Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
4. Dra.Ec.Hj.Malicha selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah memberikan
5. Para dosen yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis
Selama menjadi mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa
Timur .
6. Kepada kedua orang tuaku dan kakak adik tercinta yang telah memberikan
dukungan moril ataupun materia.
7. Berbagai pihak yang turut membantu dan menyediakan waktunya demi
terselesainya skripsi ini yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu.
Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa apa yang telah disusun dala, skripsi ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat berharap saran dan kritik
membangun dari pembaca dan pihak lain.
Akhir kata, peneliti berharap agar skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak
yang membutuhkan.
Salam hormat,
Surabaya, Mei 2013
Penulis
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
DAFTAR LAMPIRAN ... v
ABSTRAKSI ... vi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJ AUAN PUSTAKA 2.1 Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu ... 9
2.2 Landasan Teori ... 9
2.2.1 Shopping Lifestyle ... 11
2.2.1.1 Pengertian Shopping Lifestyle ... 11
2.2.2 Fashion involvement ... 13
2.2.2.1 Pengertian Fashion involvement ... 13
2.2.3. Impulse Buying ... 16
2.2.3.1 Pengertian Impulse Buying ... 16
2.2.3.2 Elemen Pembelian Tidak Terencana ( Impulse Buying ) . 17 2.2.3.3 Tipe Pembelian Tidak Terencana Impulse Buying ... 18
2.2.3.4 Faktor-faktor Yang mempengaruhi Impulse Buying ... 19
2.2.4 Pengaruh Shopping Lifestyle Terhadap Impulse Buying .. 21
2.4. Hipotesis ... 23
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 24
3.1.1 Pengukuran Variabel ... 25
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskriptif Hasil Penelitian ... 45
4.1.1 Gambaran Umum ... 45
4.2 Analisis Karakteristik Responden ... 45
4.2.1 Deskripsi Variabel ... 47
4.2.1.1 Deskripsi Variabel Shopping Lifestyle (X1) ... 47
4.2.1.2 Deskripsi Variabel Fashion involvement (X2) ... 49
4.2.1.3 Deskripsi Variabel Impulse Buying ... 52
4.3. Analisis Data ... 54
4.3.1 Evaluasi Atas Outlier ... 54
4.3.2 Intrepetasi Hasil PLS ... 55
4.3.2.1 Pengujian Outter Model... 55
4.3.2.2 Analisis PLS... 60
4.3.2.3 Evaluasi Pengujian Inner Model ... 60
4.4 Pembahasan ... 64
5.1. Kesimpulan ... 67
5.2. Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Top Brand Index Kosmetik Tahun 2009-2012 ... 3
Tabel 4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 45
Tabel 4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 46
Tabel 4.3. Frekuensi Jawaban Responden Mengenai Shopping Lifestyle .. 47
Tabel 4.4. Frekuensi Jawaban Responden Mengenai Fashion Involvement 49 Tabel 4.5. Frekuensi Jawaban Responden Mengenai Impulse Buying ... 52
Tabel 4.6. Outlier Data ... 54
Tabel 4.7 Outer loading ... 56
Tabel 4.8. AVE ... 58
Tabel 4.9. Reliabilitas Data ... 59
Tabel 4.10. R-Square ... 61
Tabel 4.11. Outter Weight ... 62
Tabel 4.12. Inner weight ... 63
Gambar 3.1 langkah-langkah analisis PLS... 32
Gambar 3.2. Jalur PLS ... 34
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Kuesioner
Lampiran 2 : Tabulasi Jawaban Responden
Lampiran 3 : Hasil Uji Outlier
Lampiran 4 : Evaluasi Model Pengukuran (Outer Model)
Lampiran 5 : Evaluasi Model Pengukuran (Inner Model)
HYPERMART PONDOK TJ ANDRA
Penelitian ini dilakukan pada produk kosmetik terkenal, Tetapi dalam salah satu penghargaan mengenai kekuatan suatu merek di Indonesia yaitu Top Bran Index (TBI) ternyata Kosmetik berdasarkan survey TBI tersebut mengalami penurunan pada tahun 2012 dibandingkan dengan tahun 2009 dan 2011. Masyarakat high income akan membeli kosmetik yang sedang dicari dengan harga, kualitas, serta mode yang diinginkan, ketika masyarakat dari kelas high income me-lihat produk yang sulit dicari ditemukan maka ia akan membeli produk tersebut meskipun ia tidak merencanakan pembelian tersebut yang menyebabkan terjadinya impulse buying.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh konsumen yang berbelanja di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebesar 108 responden. Data yang dipergunakan adalah data primer yaitu data yang berdasarkan kuisioner hasil jawaban responden. Sedangkan analisis yang dipergunakan adalah Partial least Square.
Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa : 1). Adanya shopping lifestye yang tinggi dapat meningkatkan impulse buying produk kosmetik pada Giant Hypermart Pondok Tjandra. 2). Adanya fashion involvement yang tinggi dapat meningkatkan impulse buying produk kosmetik pada Giant Hypermart Pondok Tjandra.
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin modern menyebabkan
banyaknya pembangunan mall atau shopping centre. Indonesia Tourism News
melansir bahwa kehadiran mall di Surabaya telah mengukuhkan jati diri sebagai
kota perdagangan. Selain itu, dengan kehadiran mall diharapkan dapat menjadi
daya tarik wisata. Kini Surabaya telah memiliki setidaknya 32 shopping mall dan
diperkirakan akan terus bertambah tiap tahunnya. Kelahiran shopping mall di
Surabaya diawali dengan adanya Tunjungan Plaza, yang disusul Delta Plaza dan
Surabaya Mall pada tahun 1986. Kehadiran tiga shopping mall tersebut secara
perlahan diikuti pusat-pusat perbelanjaan modern lainnya hingga mencapai
booming pada periode tahun 2005-2008 (Indonesia Tourism News, 2008).
Salah satu bentuk media perbelanjaan modern tersebut seperti Giant
Hypermart. Giant Hypermart adalah sebuah perusahaan retail yang menyediakan
produk dalam bentuk barang salah satunya yaitu kosmetik. Perusahaan tersebut
tentunya memiliki berbagai macam strategi dalam melakukan penjualan
produknya seperti pemberian diskon pada setiap bulan sekali dengan tujuan agar
konsumen tertarik dan tetap mengkonsumsi produk yang ditawarkan oleh Gyant
Hypermart. Bertambahnya shopping centre di Surabaya dari tahun ke tahun
menjadikan peluang bisnis bagi para pelaku bisnis terutama dibidang fashion
karena banyak pengunjung yang berkunjung ke shopping centre, dimana sebagian
besar pengunjung yang berkunjung karena ingin berbelanja pakaian. Fenomena
tersebut menyebabkan kebanyak-an mall yang ada menjual berbagai jenis fashion
baik untuk pria maupun wanita yang berada di boutique, factory outlet ataupun di
department store yang mempunyai fasilitas pelayanan dan mutu yang sesuai
dengan standart yang diterapkan tiap toko. Fashion adalah jenis tenant utama dari
sebuah shopping centre atau mall, berupa toko baju anak, pria dan wanita yang
berbentuk butik atau ready–to–wear, termasuk toko aksesoris dan kosmetika
(Indonesia Shopping Centers, 30 Januari 2009), ketika melihat pakaian yang
dipajang di etalase toko yang menarik menurut pengunjung tersebut maka
pengunjung tadi akan membeli pakaian yang di inginkan meskipun harus
mengeluarkan uang lebih demi mendapatkan pakaian yang diinginkan. Pernyataan
tersebut di dasari oleh persentase masyarakat Surabaya yang datang ber-kunjung
di mall untuk berbelanja sebesar 51% di-bandingkan aktivitas lainnya (“29 Proyek
Manantang Krisis Global”, Maret 2009).
Kosmetik merupakan industri yang akan terus bertumbuh seiring pasar
yang makin meluas. Hal ini disebabkan hampir semua perempuan, bahkan
anak-anak yang baru menginjak remaja pun, akrab dengan berbagai pernak-pernik
kosmetik. Dapat dikatakan bahwa produk kosmetik telah menjadi bagian dari
keseharian konsumen, baik perempuan yang tinggal di perkotaaan maupun
pedesaan, contohnya bedak wajah, alas bedak, lipstik, pembersih muka, pelembab
muka, dan pemutih wajah (”Bergulat Habis Membangun Merek”, 27 Juli 2006).
Data Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia melansir dalam setahun
penjualan kosmetik perawatan tubuh mencapai Rp 15-20 triliun. Sementara untuk
3
penjualan Rp 5-7 triliun setahun. Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian
kosmetik di Indonesia sangat besar. Seiring perkembangan jaman, kosmetik
seolah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian kaum wanita. Hal ini memberikan
peluang bagi industri kosmetik di Indonesia, sehingga banyak bermunculan
produk baru dipasaran yang dapat menimbulkan persaingan cukup ketat
(”Bergulat Habis Membangun Merek”, 27 Juli 2006).
Salah satu sektor industri yang berpotensial adalah sektor industri
kosmetik. Industri kosmetik tahun 2010 dan 2011 mengalami pertumbuhan
sebesar 10%-15%, industri ini terus menerus berkembang setiap tahunnya
menunjukan bahwa sektor industri ini memberikan peluang yang cukup besar bagi
perusahaan-perusahaan yang ingin memasuki industri ini
(www.buyusa.gov/indonesia/en).
Sejumlah perusahaan besar kosmetik sudah tidak asing lagi di Indonesia,
seperti Mustika Ratu, Martha Tilaar, Vita Pharm, Unilever, Yasulor, Ristra
Indolab dan lain-lain. Perusahaan-perusahaan dalam industri kosmetik tersebut
mengeluarkan berbagai brand produk yang memenuhi industri kosmetik.
Persaingan dan peluang yang terjadi pada industri kosmetik menjadikan tantangan
bagi perusahaan untuk terus memproduksi produk yang berkualitas, bervariasi dan
dapat bersaing dengan produk-produk luar serta untuk dapat mempertahankan
perusahaannya di masa yang akan datang.
Shopping lifestyle mengacu pada pola konsumsi yang mencerminkan
pilihan seseorang tentang bagai-mana cara menghabiskan waktu dan uang. Dalam
arti ekonomi, shopping lifestyle menunjukkan cara yang dipilih oleh seseorang
untuk mengalokasikan pen-dapatan, baik dari segi alokasi dana untuk berbagai
produk dan layanan, serta alternatif-alternatif tertentu dalam pembedaan kategori
serupa (Zablocki dan Kanter, 1976: 269-297) dalam Sugiharto dan Japarianto,
(2011).
Dalam pemasaran fashion, fashion involvement mengacu pada ketertarikan
perhatian dengan kategori produk fashion (seperti pakaian). Fashion involve-ment
digunakan terutama untuk meramalkan variabel tingkah laku yang berhubungan
dengan produk pakaian seperti keterlibatan produk, perilaku pembelian, dan
karakteristik konsumen (Browne and Kaldenberg, 1997; Fairhurst, 1989;
Flynnand Golds-mith, 1993 dalam Park 2006).
Keputusan pembelian yang dilakukan belum tentu direncanakan, terdapat
pembelian yang tidak direncanakan (impulse buying) akibat adanya rang-sangan
lingkungan belanja. Implikasi dari lingkungan belanja terhadap perilaku
pembelian mendukung asumsi bahwa jasa layanan fisik menyediakan ling-kungan
yang mempengaruhi perilaku konsumen, dihubungkan dengan karakteristik
lingkungan kon-sumsi fisik (Bitner, Booms, dan Tetreault, 1990) dalam Sugiharto
dan Japarianto, (2011).
Penelitian ini dilakukan pada beberapa produk kosmetik terkenal, Tetapi
dalam salah satu penghargaan mengenai kekuatan suatu merek kometik di
Indonesia yaitu Top Bran Index (TBI) ternyata ada beberapa kosmetik
berdasarkan survey TBI tersebut mengalami penurunan pada tahun 2011
dibandingkan dengan tahun 2009 dan 2011 berikut hasil pengukurannya dapat
5
Tabel 1.1. Data Top Brand Index Kosmetik pada tahun 2009
Ant i Aging
Tabel 1.2. Data Top Brand Index Kosmetik pada tahun 2010
Anti Aging
Tabel 1.3. Data Top Brand Index Kosmetik pada tahun 2011
Anti Aging
Berdasarkan hasil survei di atas menunjukan bahwa dari tahun 2009
hingga tahun 2011 terdapat beberapa merek kosmetik mengalami penurunan
dilihat dari presentase penilaian lembaga tersebut . Indikasi lain yang menunjukan
bahwa minat beli terhadap merek kosmetik sedang mengalami penurunan adalah
dilihat dari volume penjualan merek kosmetik. Sebagai Berikut:
Tabel 1.4. Penjualan Kosmetik 2009-2011 Dalam Rupiah
Nama
Penjualan
2011 2012
Pond's 321 milliar 198 milliar
Viva 357 milliar 223 milliar
Ovale 86 milliar 77 milliar
Sariayu 56 milliar 43 milliar Mustika Ratu 48 milliar 37 milliar
Sumber : www.swa.com,(2012).
Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa penjualan kosmetik tahun
2011 mengalami penurunan penjualan, berdasarkan hasil tersebut menunjukan
adanya sebuah kejenuhan dan penurunan minat beli terhadap kosmetik di pasaran
dan bermunculan produk baru yang lebih menarik dipasaran. Hal ini kemungkinan
disebabkan karena keunggulan produk yang disampaikan dalam iklan bagi
masyarakat high income berbelanja hal yang sudah menjadi lifestyle mereka
adalah mereka akan rela mengorbankan sesuatu demi mendapatkan produk yang
mereka senangi. Masyarakat high income akan membeli pakaian yang sedang
dicari dengan harga, kualitas, serta mode yang diinginkan, ketika masyarakat dari
kelas high income me-lihat produk yang sulit dicari ditemukan maka ia akan
membeli produk tersebut meskipun ia tidak meren-canakan pembelian tersebut
7
Amstrong (dalam Nugraheni, 2003) gaya hidup seseorang dapat dilihat
dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk
mendapatkan atau mempergunakan barang-barang dan jasa sehingga sangat
berpengaruh dalam melakukan pembelian impulse ketika berada di pusat
perbelanjaan, gaya hidup dan perilaku pembelian impulse itu mempunyai
hubungan yang erat.
Hubungan yang positif antara tingkat keterlibatan dan mode pembelian
pakaian adalah konsumen dengan high fahion involvement lebih menyukai kepada
pembelian pakaian.Oleh karena itu, diasumsikan bahwa konsu-men dengan higher
fashion involvement lebih menyukai menggunakan fashion oriented impulse
buying. Sugiharto dan Japarianto, (2011).
Berdasarkan latar belakang tersebut maka oleh karena itu dalam penelitian
ini diambillah judul ”Pengaruh Shopping Lifestyle dan Fashion Involvement,
Ter hadap Impulse Buying Produk Kosmetik di Giant Hypermart Pondok
Tjandr a Sidoar jo”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan judul yang akan dibahas maka ada beberapa rumusan masalah
yang dikemukakan sebagai berikut :
1. Apakah shopping lifestyle berpengaruh terhadap Impulse Buying Produk
Kosmetik di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo?
2. Apakah fashion involvement berpengaruh terhadap Impulse Buying Produk
Kosmetik di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo?
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah yang telah
dikemukakan tersebut, maka tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah sebagai
berikut :
1. Untuk menganalisis pengaruh shopping lifestyle terhadap Impulse Buying
Produk Kosmetik di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo.
2. Untuk menganalisis pengaruh fashion involvement terhadap Impulse Buying
Produk Kosmetik di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian yang penulis lakukan nantinya
diharapkan dapat bermanfaat dan berguna antara lain :
1. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan ide dan pemikiran
pada Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo .
2. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan dapat memacu pihak
lainnya yang akan mengadakan penelitian lebih lanjut.
9
BAB II
TINJ AUAN PUSTAKA
2.1. Hasil-hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang dapat digunakan sebagai acuan obyek penelitian
diambil dari jurnal yang telah dilakukan oleh Sugiharto dan Japarianto, (2011)
dengan judul penelitian ”Pengaruh Shopping Life Style Dan Fashion Involvement
Terhadap Impulse Buying Behavior Masyarakat High Income Surabaya”. Adapun
rumusan masalah yang diambil: Apakah shopping lifestyle dan fashion
involvement berpengaruh terhadap impulse buying behaviour pada masyarakat
high income di Surabaya?
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Berdasarkan pada hasil
pembahasan mengenai shopping lifestyle, fashion involvement terhadap impulse
buying behavior, dapat disimpulkan beberapa hal yaitu:a. Shopping lifestyle
berpengaruh signifikan terhadap impulse buying behavior pada masyarakat high
income di Galaxy Mall Surabaya b. Fashion involvement berpengaruh signifikan
terhadap impulse buying behavior pada masyarakat high income di Galaxy Mall
Surabaya c. Shopping lifestyle memiliki pengaruh yang paling dominan diantara
variabel lain yang ada terhadap impulse buying behavior pada masyarakat high
income di Galaxy Mall Surabaya
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Hatane Samuel (2006) dengan judul
Dampak respon emosi terhadap kecenderungan perilaku pembelian impulse
konsumen online dengan sumberdaya yang dikeluarkan dan orientasi belanja
sebagai variabel mediasi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan pengaruh stimulus
antara format media offline dengan media online terhadap respon emosi dan
kecenderungan perilaku pembelian impulse. Ditemukan bahwa stimulus dari
format media online memberikan dampak respon emosi dan kecenderungan
perilaku pembelian impulse yang lebih kuat. Dalam kelompok format media
online ditemukan juga bahwa bentuk format audio-visual dan teks gambar
mempunyai stimulus yang tidak berbeda secara statistik dan lebih kuat
dibandingkan format animasi gambar. Hasil temuan lainya. menunjukan bahwa
respon emosi mempunyai dampak positip secara langsung terhadap
kecenderungan perilaku pembelian impulse. Selain itu sumberdaya yang
dikeluarkan dapat merupakan mediasi positip antara respon emosi dengan
orientasi belanja rekreasi, dan negatip untuk orientasi belanja kenyamanan.
Orientasi belanja kenyamanan merupakan mediasi positip antara sumberdaya
yang dikeluarkan dengan kecenderungan perilaku pembelian impulse, sedangkan
orientasi belanja rekreasi merupakan mediasi negatif.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Rohman, Fatchur, (2009). dengan
judul penelitian “Peran Nilai Hedonik Konsumsi Dan Reaksi Impulse Sebagai
Mediasi Pengaruh Faktor Situasional Terhadap Keputusan Pembelian Impulse Di
Butik Kota Malang”. Adapun rumusan masalah yang diajukan adalah: 1). apakah
faktor situasional dapat mempengaruhi reaksi impulse pelanggan? apakah faktor
situasional dapat mempengaruhi nilai hedonik konsumsi pelanggan? apakah reaksi
impulse dan nilai hedonik konsumsi mempengaruhi keputusan pembelian
11
pelanggan? apakah faktor situasional dapat mempengaruhi nilai pelanggan?
apakah nilai utilitarian konsumsi dan nilai pelanggan mempengaruhi kepuasan
pelanggan? apakah nilai pelanggan dan kepuasan pelanggan mempengaruhi
loyalitas pelanggan?.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pengusaha butik perlu melakukan
hubungan baik dengan pelanggan butik, caranya dengan memiliki daftar nama,
alamat, dan nomor telepon konsumen untuk memudahkan dalam memberikan
informasi tentang produk-produk baru yang lagi musim. Hasil studi menunjukkan
bahwa konsumen berbelanja ke butik untuk mengikuti trend pakaian yang sedang
musim sehingga kecepatan informasi mengenai mode mendapat perhatian
konsumen. Pengusaha butik perlu memperhatikan desain interior dan exterior
karena hasil studi menunjukkan bahwa konsumen berbelanja ke butik tidak hanya
berharap mendapatkan barang saja akan tetapi juga untuk mendapatkan
pengalaman yang menyenangkan.
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Shopping Lifestyle
2.2.1.1. Pengertian Shopping Lifestyle
Shopping lifestyle mengacu pada pola konsumsi yang mencerminkan
pilihan seseorang tentang bagai-mana cara menghabiskan waktu dan uang. Dalam
arti ekonomi, shopping lifestyle menunjukkan cara yang dipilih oleh seseorang
untuk mengalokasikan pen-dapatan, baik dari segi alokasi dana untuk berbagai
produk dan layanan, serta alternatif-alternatif tertentu dalam pembedaan kategori
serupa (Zablocki dan Kanter, 1976, p. 269-297) dalam Sugiharto dan
Japarianto,(2011).
Hawkins et al (2001), memandang Gaya hidup sebagai pusat dari proses
konsumsi. Gaya hidup ditentukan oleh faktor-faktor seperti emosi, kepribadian,
motivasi, persepsi, pembelajaran, aktivitas pemasaran, budaya, nilai, demografi,
status sosial, dan kelompok referensi yang berhubungan dengan kebutuhan atau
sikap yang akan menentukan proses-proses konsumsi dalam situasi-situasi yang
dihadapi konsumen (pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi dan
seleksi, pemilihan toko dan pembelajaran, serta proses-proses setelah pembelian
terjadi. Gaya hidup seseorang terbentuk sejak kecil dan dipengaruhi oleh berbagai
hal, antara lain kebudayaan, nilai-nilai yang dianut, tempat tinggal, teman
kelompok, keluarga, cara belajar, kepribadian, sikap dan lain-lainnya.
Betty Jackson (2004) mengatakan shopping lifestyle merupakan ekspresi
tentang lifestyle dalam berbelanja yang mencerminkan perbedaan status sosial.
Cara kita berbelanja mencerminkan status, martabat, dan kebiasaan. Betty Jackson
juga mengatakan bahwa seseorang akan rela membeli merk yang disenangi
meskipun orang tersebut tidak punya cukup uang”. Hal ini jelas bahwa shopping
telah menjadi lifestyle bagi setiap orang di dunia dan telah menjadi hal yang
sangat penting bagi setiap orang.
Cobb dan Hoyer (1986) dalam Sugiharto dan Japarianto,(2011).
Mengemukakan bahwa untuk mengetahui hubungan shopping lifestyle terhadap
13
a. Menanggapi untuk membeli setiap tawaran iklan mengenai produk fashion
b. Membeli pakaian model terbaru ketika melihatnya di Galaxy Mall
c. Berbelanja merk yang paling terkenal
d. Yakin bahwa merk (produk kategori) terkenal yang di beli terbaik dalam hal
kualitas
e. Sering membeli berbagai merk (produk kategori) daripada merk yang biasa di
beli.
f. Yakin ada dari merk lain (kategori produk) yang sama seperti yang di beli
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa shopping
lifestyle adalah cara seseorang untuk mengalokasikan waktu dan uang untuk
berbagai produk, layanan, teknologi, fashion, hiburan dan pendidikan. Shopping
lifestyle ini juga ditentukan oleh beberapa faktor antara lain sikap terhadap merek,
pengaruh iklan dan kepribadian.
2.2.2. Fashion Involvement
2.2.2.1. Pengertian Fashion Involvement
Menurut O’Cass, involvement adalah minat atau bagian motivasional yang
ditimbulkan oleh stimulus atau situasi tertentu, dan ditujukan melalui ciri
penampilan (O’Cass, 2004 dalam Park 2005). Sedangkan menurut Zaichkowsky,
involvement didefinisikan sebagai hubungan seseorang terhadap sebuah objek
berdasarkan kebutuhan, nilai, dan ketertarikan (Zaichkowsky, 1985, pp. 341-352)
dalam Sugiharto dan Japarianto,(2011).
Involvement dapat dipandang sebagai motivasi untuk memproses
informasi (Mitchell, 1979, pp. 191-196). Selama involvement meningkatkan
produk, konsumen akan memperhatikan iklan yang ber-hubungan dengan produk
tersebut, memberikan lebih banyak upaya untuk memahami iklan tersebut dan
memfokuskan perhatian pada informasi produk yang terkait di dalamnya, di sisi
lain, seseorang mungkin tidak akan mau repot untuk memperhatikan informasi
yang diberikan (Celsi dan Olson, 1988, pp. 210-224). Begitu pula dengan fashion,
banyak orang terlibat dengan fashion, menghabiskan waktu dan uang untuk gaya
terbaru, sedangkan yang lain (sering kali pria memenuhi syarat di kategori ini)
menemukan bahwa berbelanja pakaian adalah sebuah tugas.
Dalam pemasaran fashion, fashion involvement mengacu pada ketertarikan
perhatian dengan kategori produk fashion (seperti pakaian). Fashion involve-ment
digunakan terutama untuk meramalkan variabel tingkah laku yang berhubungan
dengan produk pakaian seperti keterlibatan produk, perilaku pem-belian, dan
karakteristik konsumen (Browne and Kaldenberg, 1997; Fairhurst,1989; Flynnand
Golds-mith, 1993 dalam Park 2006). Sebagai contoh, O’Cass (2004) dalam Park
(2006) menemukan bahwa fashion involvement pada pakaian ber-hubungan sangat
erat dengan karakteristik pribadi (yaitu wanita dan kaum muda) dan pengetahuan
fashion, yang mana pada gilirannya mempengaruhi kepercayaan konsumen di
dalam membuat keputusan pembelian.
Sebagaimana ditetapkan sebelumnya, involvement dapat berupa banyak
bentuk. Involvement adalah konsep yang kabur karena tumpang tindih dengan
hal-hal lain dan mempunyai arti yang berbeda bagi orang yang berbeda. Sebenarnya
erdapat beberapa jenis involvement yang berhubungan dengan produk, pesan,
15
merupakan interaksi antara konsumen dengan suatu produk. Dalam pemasaran
fashion, fashion involvement mengacu pada ketertarikan perhatian dengan
kategori produk fashion (seperti pakaian). Fashion involvement digunakan
terutama untuk meramalkan variabel tingkah laku yang berhubungan dengan
produk pakaian seperti keterlibatan produk, perilaku pembelian, dan karakteristik
konsumen.
Dalam Kim (2005) mengemukakan bahwa untuk mengetahui hubungan
fashion involvement terhadap impulse buying behavior adalah dengan
menggunakan indikator:
a. Mempunyai satu atau lebih pakaian dengan model yang terbaru (trend)
b. Fashion adalah satu hal penting yang mendukung aktifitas
c. Lebih suka apabila model pakaian yang diguna-kan berbeda dengan yang lain
d. produk menunjukkan karakteristik
e. Dapat mengetahui banyak tentang seseorang dengan pakaian yang digunakan
f. Ketika memakai pakaian favorit, membuat orang lain tertarik melihatnya
g. Mencoba produk fashion terlebih dahulu sebelum membelinya
h. Mengetahui adanya fashion terbaru dibandingkan dengan orang lain
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa fashion
involvement adalah keterlibatan seseorang dengan suatu produk pakaian karena
kebutuhan, kepentingan, ketertarikan dan nilai terhadap produk tersebut. Dalam
membuat keputusan pembelian pada fashion involvement ditentukan oleh
beberapa faktor yaitu karakteristik konsumen, pengetahuan tentang fashion, dan
perilaku pembelian.
2.2.3. Impulse Buying
2.2.3.1. Pengertian Impulse Buying
Pembelian yang tidak direncanakan (impulse buying) didefinisikan sebagai
tindakan membeli yang dilakukan tanpa memiliki masalah sebelumnya atau
maksud/niat membeli yang terbentuk sebelum memasuki toko. Pembelian ini
dapat dijelaskan sebagai pilihan yang dibuat pada saat itu juga karena perasaan
positif yang kuat mengenai suatu benda (Mowen dan Minor, 2002:65).
Pernyataan tersebut didukung oleh Iyer (fadjar, 2007), impulse buying
adalah suatu fakta kehidupan dalam perilaku konsumen yang dibuktikan sebagai
suatu kegiatan pembelian yang berhubungan dengan lingkungan dan keterbatasan
waktu dalam berbelanja, dimana rute pembelian yang mereka lakukan semestinya
berbeda. Rute tersebut dapat dibedakan melalui hirarki impulse yang
memperlihatkan bahwa perilaku didasarkan pada respon afektif yang dipengaruhi
oleh perasaan yang kuat (Mown dan Minor, 2002), sehingga impulse buying
menurut Hoch et al., terjadi ketika terdapat perasaan positif yang sangat kuat yang
kemudian diikuti oleh sikap pembelian (Negara dan Dharmmesta, 2003).
Pembelian impulse didefinisikan sebagai pembelian yang tidak terencana
yang dikarakteristikkan dengan pengambilan keputusan yang relatif cepat, dan
prasangka subyektif terhadap keinginan segera memiliki (Rock dan Gardner
dalam Wathani, 2009). Salomon dalam Wathani (2009) menyatakan bahwa
pembelian impulsif merupakan suatu aksi yang tidak terencana yang dipacu oleh
17
Menurut Semuel (2005), sebagian orang menganggap kegiatan belanja
dapat menjadi alat untuk menghilangkan stres, atau menghabiskan uang dapat
mengubah suasana hati seseorang. Kemampuan untuk menghabiskan uang
membuat seseorang merasa berkuasa. Pembelian tidak terencana, berarti kegiatan
untuk menghabiskan uang yang tidak terkontrol, dan kebanyakan pada
barang-barang yang tidak diperlukan oleh konsumen. Barang-barang-barang yang dibeli secara
tidak terencana (produk impulse) kebanyakan adalah produk-produk dengan harga
murah yang tidak terduga. Penjual menarik konsumen ketika indera perasa
mengirimkan pesan kepada otak konsumen yang mengatakan, “Saya ingin ini!”
atau “Saya tidak dapat hidup tanpa itu!” Beberapa macam dari barang-barang
konsumen adalah ‘pembelian tidak terencana.’
2.2.3.2. Elemen Pembelian Tidak Ter encana (Impulse Buying)
Loudon dan Bitta dalam Wathani (2009) mengemukakan lima elemen
penting yang membedakan tingkah laku konsumen yang impulse dan yang tidak,
yaitu:
a. Konsumen merasakan adanya suatu dorongan yang tiba-tiba dan spontan
untuk melakukan suatu tindakan yang berbeda dengan tingkah laku
sebelumnya.
b. Dorongan tiba-tiba untuk melakukan suatu pembelian menempatkan
konsumen dalam keadaan ketidakseimbangan secara psikologis, dimana
untuk sementara waktu ia merasa kehilangan kendali.
c. Konsumen akan mengalami konflik psikologis dan ia berusaha untuk
menimbang antara pemuasan kebutuhan langsung dan konsekuensi jangka
panjang dari pembelian.
d. Konsumen akan mengurangi evaluasi kognitif dari produk.
e. Konsumen seringkali membeli secara impulsif tanpa memperhatikan
konsekuensi yang akan datang.
2.2.3.3. Tipe Pembelian Tidak Terencana (Impulse Buying)
Menurut Stren, pembelian tidak terencana (impulse buying) dapat
digolongkan sebagai berikut: David Loudon, Albert J Della Bitta dan Hawkins
Stren (Fadjar, 2007):
a. Pembelian tidak terencana murni (pure impulse buying)
Pembelian yang murni disebabkan oleh suatu pola pembelian yang
menyimpang dari pembelian normal.
b. Pembelian tidak terencana karena pengalaman masa lalu (reminder
impulse buying)
Pembelian ini terjadi ketika seorang pembeli “diingatkan” oleh sebuah
stimulus di alam toko yang bersangkutan. Misalnya: produk itu sendiri,
bahan di tempat pembelian. Hal tersebut membuat dia seolah-olah
memerlukan dan harus membeli produk itu.
c. Pembelian tidak terencana yang timbul karena sugesti (suggestion impulse
19
Pembelian tidak terencana ini terjadi apabila konsumen yang bersangkutan
baru pertama sekali melihat produk tersebut dimana kualitas, fungsi, dan
kegunaan produk tersebut sesuai dengan apa yang diharapkannya.
d. Pembelian tidak terencana yang disebabkan situasi tertentu (planned
impulse buying)
Pembelian tidak terencana ini terjadi pada saat pusat perbelanjaan
melakukan promosi, seperti pemberian potongan harga (diskon) dan
pemberian kupon berhadiah
2.2.3.4. Faktor-Faktor Yang Mempengar uhi Impulse Buying
Beberapa peneliti telah menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi
Pembelian Impulse. . Thai (2003)
1. Faktor Internal
a. Emotion
Emosi diidentifikasikan sebagai faktor yang sangat mempengaruhi
pembelian impulse. “Emosi konsumen juga dapat mempengaruhi
pembelian dimana seorang konsumen yang bahagia akan melakukan
pembelian lebih banyak daripada konsumen yang tidak bahagia”. Mood
adalah bagian dari emosi.
Mehrabian dan Russell (1974), Mehrabian (1980) dan Donovan dan
Rossiter (1982) dalam Thai,(2003), yang terdiri dari 3 faktor yaitu:
- Pleasure, Mengacu pada tingkat dimana individu merasakan penuh
kegembiraan dan bahagia, atau merasa puas dalam suatu situasi.
- Arousal, Mengacu pada tingkat dimana individu merasakan tertarik
(interest) teehadap sesuatu dalam situasi tertentu.
- Dominance, Mengacu pada tingkat perasaan yang direspon konsumen
saat mengendalikan atau dikendalikan oleh lingkungan.
b. Hedonic Pleasure
Beberapa peneliti perilaku konsumen menunjukkan bahwa pembelian
impulse lebih memuaskan keinginan hedonic.
c. Cognitive
Menurut Peter dan Olson (2005), cognitive lebih mengacu pada proses
berpikir dimana didalamnya terdapat pengetahuan (knowledge), arti atau
maksud (meaning) dan kepercayaan (belief). Misalnya, sweater ini terbuat
dari benang wol (knowledge).
d. Affective
Menurut Peter dan Olson (2005), affective biasanya segera berpengaruh
dan secara otomatis terhadap aspek-aspek dari emosi (emotions) dan
perasaan (feeling states). Misalnya saat melihat warna yang kita sukai,
perasaan kita akan cenderung menjadi bahagia (feeling), toko yang penuh
dan sesak bisa membuat kita stres dan meninggalkan toko (emotion)
tersebut.
2. Faktor Eksternal
Bahwa konsumen lebih memilih daya tarik fisik suatu toko daripada kualitas
barang dan harga. Pemilihan konsumen atas toko dipengaruhi oleh store
21
akan menghindari atau meninggalkan toko jika setting toko tersebut
mengundang stress.
2.2.4. Pengaruh Shopping Lifestyle Terhadap Impulse Buying
Shopping menjadi salah satu lifestyle yang paling digemari, untuk
memenuhi lifestyle ini masyarakat rela mengorbankan sesuatu demi mencapainya
dan hal tersebut cenderung mengakibatkan impulse buying. Ketika terjadi
pembelian impulsif akan memberikan pengalaman emosional lebih dari pada
rasional, sehingga tidak dilihat sebagai suatu sugesti, dengan dasar ini maka
pembelian impulsif lebih dipandang sebagai keputusan rasional dibanding
irasional dan hubungan sembilan karakteristik produk yang mungkin dapat
mempengaruhi pembelian impulsif, yaitu harga rendah, kebutuhan tambahan
produk atau merk, distribusi massa, self service, iklan massa, display produk yang
menonjol, umur produk yang pendek, ukuran kecil, dan mudah disimpan.
Sugiharto dan Japarianto,(2011).
Amstrong (dalam Nugraheni, 2003) gaya hidup seseorang dapat dilihat
dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk
mendapatkan atau mempergunakan barang-barang dan jasa sehingga sangat
berpengaruh dalam melakukan pembelian impulse ketika berada di pusat
perbelanjaan, gaya hidup dan perilaku pembelian impulsie itu mempunyai
hubungan yang erat
2.2.5 Pengaruh Fashion Involvement Terhadap Impulse Buying
Pakaian sangat terkait dengan keterlibatan ke karakteristik pribadi (yakni
perempuan dan muda) dan pengetahuan tentang fashion, yang pada giliran-nya
dipengaruhi oleh keyakinan konsumen dalam membuat keputusan pembelian.
Selain itu, hubungan yang positif antara tingkat keterlibatan dan mode pembelian
pakaian adalah konsumen dengan high fahion involvement lebih menyukai kepada
pembelian pakaian.Oleh karena itu, diasumsikan bahwa konsu-men dengan higher
fashion involvement lebih menyukai menggunakan fashion oriented impulse
buying. Sugiharto dan Japarianto, (2011).
Produk pakaian karena pakaian merupakan salah satu kebutuhan primer
dan pakaian merupakan sarana untuk menunjang penampilan atau sebagai
identitas diri serta yang berhubungan dengan gaya hidup yang disebut sebagai
fashion. Oleh karenanya, konsumen berusaha untuk selalu mengikuti mode
produk-produk fashion yang selanjutnya akan berdampak pada perilaku konsumtif
(O’Cass, 2004). Kecenderungan seseorang untuk memiliki penampilan yang
menarik menyebabkan orang sering melakukan pembelian tanpa direncanakan
untuk jenis produk fashion.
2.3. Kerangka Konseptual
Impulse Buying (Y)
Fashion Involvement
(X2) Shopping Lifestyle
23
2.4. Hipotesis
1. Di duga bahwa shopping lifestyle berpengaruh positif terhadap impulse buying
pada Giant Hipermart pondok Tjandra Sidoarjo
2. Di duga bahwa fashion involvement berpengaruh positif terhadap impulse
buying pada Giant Hipermart pondok Tjandra Sidoarjo
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Definisi operasional dan pengukuran variabel berisi pernyataan tentang
pengoperasiaan atau pendefinisian konsep penelitian termasuk penetapan cara dan
satuan pengukuran variabelnya, adalah sebagai berikut:
1. Shopping Lifestyle (X1)
Merupakan gaya hidup customer pada kategori fashion (seperti pakaian) yang
diukur melalui indikator: Sugiharto dan Japarianto,(2011).
a. Membeli setiap tawaran iklan mengenai produk kosmetik.
b. Membeli kosmetik terbaru ketika melihatnya di giant pondok tjandra
c. Berbelanja merek yang paling terkenal
d. Yakin bahwa merk terkenal yang dibeli terbaik dalam hal kualitas.
e. Sering membeli berbagai merk (produk kategori) daripada merk yang
biasanya dibeli.
f. Yakin ada dari merk lain (kategori) yang sama seperti yang dibeli.
2. Fashion Involvement (X2)
Merupakan ketertarikan perhatian pelanggan pada kategori fashion yang
diukur melalui pernyataan:
a. Mempunyai satu atau lebih kosmetik dengan model yang terbaru (trend)
b. Kosmetik adalah satu hal penting yang mendukung aktifitas
c. Lebih suka apabila kosmetik yang digunakan berbeda dengan yang lain
25
e. Dapat mengetahui banyak tentang seseorang dari kosmetik yang
digunakan
f. Ketika memakai kosmetik favorit, membuat orang lain tertarik melihatnya.
g. Mengetahui adanya kosmetik terbaru dibandingkan dengan orang lain
3. ImpulseBuying (Y)
adalah pembelian yang tidak direncanakan, dimana karakteristiknya adalah
pengambilan keputusannya dilakukan dalam waktu yang relatif cepat; dan
adanya keinginan untuk memiliki secara cepat. Variabel ini diukur dengan
indikator:
a. Bila ada tawaran khusus, cenderung berbelanja banyak
b. Berbelanja tanpa berpikir panjang dulu sebelumnya.
c. Segera memasuki sebuah toko kosmetik untuk membeli sesuatu.
d. Cenderung terobsesi untuk membelanjakan uang yang dibawa sebagian
atau seluruhnya untuk produk kosmetik
e. Cenderung membeli produk kosmetik meskipun tidak begitu
membutuhkannya
3.1.1. Pengukur an Variabel
Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
skala interval. Sedangkan metode pengukuran sikap dalam penelitian ini adalah
skala semantic differential scale yaitu penilaian tujuh butir yang menyatakan
secara verbal dua kutub (bipolar) penilaian yang ekstrem,dapat berupa penilaian
mengenai: baik-buruk, kuat-lemah, modern-kuno. Responden diminta mengisi
yang tersedia untuk merefleksikan seberapa dekat sikap responden terhadap
subyek, obyek atau kejadian tertentu.metode ini umumnya digunakan untuk
mengetahui sikap pnilaian responden terhadap merk dagang, produk, identifikasi
perusahaan, individu tertentu, dan dimensi construct yang lain-lain.
Sering Jarang
3.2.Teknik Pengambilan Sampel
a. Populasi
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh konsumen yang
berbelanja di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo.
b. Sampel
Untuk penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan non probability
sampling dengan teknik purposive Sampling yaitu penarikan sampel
berdasarkan ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki oleh sampel. Ciri-ciri
sampel tersebut adalah: konsumen yang berbelanja berusia minimal 15tahun di
Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo.
Menurut Ferdinand (2002:48).
- Ukuran sampel yang harus terpenuhi dalam model ini adalah 100 -200
sampel untuk teknik (Maximum Likelihood Estimation).
- Tergantung pada jumlah parameter yang diestimasi pedomannya adalah
27
- Karena terdapat 18 indikator maka jumlah sampel dalam penelitian ini
adalah (18X6=108) maka sampel yang digunakan adalah minimal sebesar
108 responden.
3.3.Teknik Pengumpulan Data
3.3.1. J enis Data
• Data Primer
Data primer yang diolah dalam penelitian ini diperoleh dengan menyebarkan
kuesioner kepada konsumen yang berbelanja di Giant Hypermart Pondok
Tjandra Sidoarjo.
3.3.2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam analisis ini adalah data yang diambil
langsung dengan cara menyebarkan kuesioner.
3.3.3. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam skripsi ini dilakukan dengan menggunakan
beberapa cara berikut:
a. Tanya Jawab / Wawancara
Merupakan kegiatan langsung dengan bertanya jawab kepada responden.
b. Kuisioner
Yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan daftar
pertanyaan kepada konsumen yang berbelanja di Giant Hypermart Pondok
Tjandra Sidoarjo untuk diisi agar memperoleh jawaban langsung dari
konsumen.
3.4. Uji Validitas Dan Reliabilitas
3.4.1. Uji Validitas
Uji validitas adalah suatu derajat ketepatan alat ukur penelitian tentang isi
sebenarnya yang diukur. Analisis validitas item bertujuan untuk menguji apakah
tiap butir pertanyaan benar-benar sudah sahih, paling tidak kita dapat menetapkan
derajat yang tinggi dari kedekatan data yang diperoleh dengan apa yang diyakini
dalam pengukuran. Sebagai alat ukur yang digunakan, analisis ini dilakukan
dengan cara mengkorelasiakn antar skor item denga skor total item. Dalam hal ini
koefisien korelasi yang nilai signifikasinya lebih kecil dari 5 % (level of
significance) menunjukkan bahwa item-item tersebut sudah sahih sebagai
pembentukan indikator.
3.4.2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas untuk mengetahui apakah instrumen memiliki indeks
kepercayaan yang baik jika diujikan berulang. Suatu instrument pengukuran
dikatakan reliable jika pengukurannya konsisten dan akurat. Jadi uji reliabilitas
dilakukan dengan tujuan mengetahui konsistensi dari instrument sebagai alat ukur,
sehingga hasil pengukuran dapat dipercaya. Dalam penelitian ini menggunakan
rumus Cronbach Alpha dengan bantuan software smart PLS. Suatu pertanyaan
pada kuesioner dikatakan reliabel jika nilai Alpha Cronbach > 0,60 (Purbayu &
29
3.5. Teknik Analisis dan Uji Hipotesis
3.5.1. Teknik Analisis
Partial Least Square (PLS) merupakan sebuah metode untuk
mengkonstruksi model-model yang dapat diramalkan ketika faktor-faktor terlalu
banyak. PLS dikembangkan pertama kali oleh Wold sebagai metode umum untuk
mengestimasi path model yang menggunakan variabel laten dengan mutiple
indikator. PLS juga merupakan factor indeterminacy metode analisis yang
powerful karena tidak mengasumsikan data harus dengan pengukuran skala
tertentu, jumlah sampel kecil. Awalnya Partial least Square berasal dari ilmu
sosial (khususnya ekonomi, Herman Wold, 1996). Model ini dikembangkan
sebagai alternatif untuk situasi dimana dasar teori pada perancangan model lemah
atau indikator yang tersedia tidak memenuhi model pengukuran refleksif. PLS
selain dapat digunakan sebagai konfirmasi teori juga dapat digunakan untuk
membangun hubungan yang belum ada landasan terorinya atau untuk pengujian
proposisi.
PLS adalah dalam penggunaan model persamaan struktural untuk menguji
teori atau pengembangan teori untuk tujuan prediksi oleh Ghozali (2008: 5). Pada
situasi dimana penelitian mempunyai dasar teori yang kuat dan pengujian teori
atau pengembangan teori sebagai tujuan utama riset, maka metode dengan
covariance based (Generalized Least Squares) lebih sesuai. Namun demikian
adanya indeterminacy dari estimasi factor score maka akan kehilangan ketepatan
prediksi dari pengujian teori tersebut. Untuk tujuan prediksi, pendekatan PLS
lebih cocok. Karena pendekatan untuk mengestimasi variabel laten dianggap
sebagai kombinasi linier dari indikator maka menghindarkan masalah
indeterminacy dan memberikan definisi yang pasti dari komponen skor.
PLS merupakan pendekatan yang lebih tepat untuk tujuan prediksi, hal ini
terutama pada kondisi dimana indikator bersifat formatif. Dengan variabel laten
berupa kombinasi linier dari indikatornya, maka prediksi nilai dari variabel laten
dapat dengan mudah diperoleh, sehingga prediksi terhadap variabel laten yang
dipengaruhinya juga dapat dengan mudah dilakukan (Ghozali 2008).
3.5.1.1. Cara Kerja PLS
Estimasi parameter yang didapat dengan PLS dapat dikategorikan menjadi
tiga. Kategori pertama yaitu weight estimate yang digunakan untuk menciptakan
skor atau nilai variabel laten. Kedua mencerminkan estimasi jalur (path estimate)
yang menghubungkan variabel laten dan antar variabel laten dan indikatornya
(loading), ketiga berkaitan dengan means dan lokasi parameter (nilai konstanta
regresi) untuk indikator dan variabel laten. Untuk memperoleh ketiga estimasi ini,
PLS menggunakan proses iterasi tiga tahap dan setiap tahap iterasi menghasilkan
estimasi. Tahap pertama menghasilkan weight estimate, tahap kedua
menghasilkan estimasi untuk inner model dan outer model, tahap ketiga
menghasilkan estimasi means dan lokasi(konstanta).
Selama iterasi berlangsung inner model estimate digunakan untuk
mendapatkan outside approximation weigth, sementara itu outer model estimate
digunakan untuk mendapatkan inside approximation weight. Prosedur iterasi ini
akan berhenti ketika persentase perubahan setiap outside approximation weight
31
3.5.1.2. Model Spesifikasi PLS
PLS terdiri atas hubungan eksternal ( outer model atau model pengukuran)
dan hubungan internal (inner model atau model struktural). Hubungan tersebut
didefinisikan sebagai dua persamaan linier, yaitu model pengukuran yang
menyatakan hubungan antara peubah laten dengan sekelompok peubah penjelas
dan model struktural yaitu hubungan antar peubah-peubah laten (Gefen,2000).
Model analisis jalur semua variabel laten dalam PLS terdiri dari tiga set
hubungan; (1) inner model yang menspesifikasi hubungan antar variabel laten
(structural model), (2) outer model yang menspesifikasi hubungan antara variabel
laten dengan indikator atau variabel manifestasinya (measurement model), dan (3)
weight relation dalam mana nilai kasus dari variabel laten dapat diestimasi.
3.5.1.3. Langkah-Langkah PLS
Langkah-langkah pemodelan persamaan struktural PLS dengan software
adalah seperti dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1. Langkah-langkah Analisis PLS
(1). Langkah Pertama: Merancang Model Str uktural (inner model)
Perancangan model struktural hubungan antar variabel laten pada PLS
didasarkan pada rumusan masalah atau hipotesis penelitian.
(a) Teori, kalau sudah ada
(b) Hasil penelitian empiris
(c) Analogi, hubungan antar variabel pada bidang ilmu yang lain
(d) Normatif, misal peraturan pemerintah, undang-undang
(e) Rasional.
33
Oleh karena itu, pada PLS dimungkinkan melakukan eksplorasi hubungan
antar variabel laten, sehingga sebagai dasar perancangan model struktural bisa
berupa proposisi. Hal ini tidak direkomendasikan di dalam SEM, yaitu
perancangan model berbasis teori, sehingga pemodelan didasarkan pada hubungan
antar variabel laten yang ada di dalam hipotesis.
(2). Langkah Kedua: Merancang Model Pengukuran (outer model)
Pada PLS perancangan model pengukuran (outer model) menjadi sangat
penting, yaitu terkait dengan apakah indikator bersifat refleksif atau formatif.
Merancang model pengukuran yang dimaksud di dalam PLS adalah menentukan
sifat indikator dari masing-masing variabel laten, apakah refleksif atau formatif.
Kesalahan dalam menentukan model pengukuran ini akan bersifat fatal, yaitu
memberikan hasil analisis yang salah.
Dasar yang dapat digunakan sebagai rujukan untuk menentukan sifat
indikator apakah refleksif atau formatif adalah: teori, penelitian empiris
sebelumnya, atau kalau belum ada adalah rasional. Pada tahap awal penerapan
PLS, tampaknya rujukan berupa teori atau penelitian empiris sebelumnya masih
jarang, atau bahkan belum ada. Oleh karena itu, dengan merujuk pada definisi
konseptual dan definisi operasional variabel, diharapkan sekaligus dapat
dilakukan identifikasi sifat indikatornya, bersifat refleksif atau formatif.
(3). Langkah Ketiga: Mengkonstruksi diagr am J alur
Bilamana langkah satu dan dua sudah dilakukan, maka agar hasilnya lebih
mudah dipahami, hasil perancangan inner model dan outer model tersebut,
Selanjutnya dinyatakan dalam bentuk diagram jalur. Contoh bentuk diagram jalur
untuk PLS dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 3.2. Contoh Diagr am J alur untuk PLS
Fashion involvement
Impulse buying shopping lifestyle
X16 X15 X14 X13 X12 X11
X27 X26 X25 X24 X23 X22 X21
Y1
Y2
Y3
Y4
35
(4). Langkah Keempat: Konversi diagr am J alur ke dalam Sistem Per samaan
a) Outer model, yaitu spesifikasi hubungan antara variabel laten dengan
indikatornya, disebut juga dengan outer relation atau measurement model,
mendefinisikan karakteristik variabel laten dengan indikatornya. Model
indikator refleksif dapat ditulis persamaannya sebagai berikut:
x = Λxξ + εx
y = Λyη + εy
Di mana X dan Y adalah indikator untuk variabel laten eksogen (ξ) dan
endogen (η). Sedangkan Λx dan Λy merupakan matriks loading yang
menggambarkan seperti koefisien regresi sederhana yang menghubungkan
variabel laten dengan indikatornya. Residual yang diukur dengan εx danεy
dapat diinterpretasikan sebagai kesalahan pengukuran atau noise.
Model indikator formatif persamaannya dapat ditulis sebagai berikut:
ξ = ΠξXi + δx
η = ΠηYi + δy
Dimana ξ, η, X, dan Y sama dengan persamaan sebelumnya. Πx dan Πy
adalah seperti koefisen regresi berganda dari variabel laten terhadap
indikator, sedangkan δx dan δy adalah residual dari regresi.
Pada model PLS Gambar 3 terdapat outer model sebagai berikut:
Untuk variabel latent eksogen 1 (reflektif)
x1 = λx1ξ1 + δ1
x2 = λx2ξ1 + δ2
x3 = λx3ξ1 + δ3
Untuk variabel latent eksogen 2 (formatif)
ξ2 = λx4 X4 + λx5 X5 + λx6 X6 + δ4
Untuk variabel latent endogen 1 (reflektif)
y1 = λy1η1 + ε1
y2 = λy2η1 + ε2
Untuk variabel latent endogen 2 (reflektif)
y3 = λy3η2 + ε3
y4 = λy4η2 + ε4
b) Inner model, yaitu spesifikasi hubungan antar variabel laten (structural
model), disebut juga dengan inner relation, menggambarkan hubungan
antar variabel laten berdasarkan teori substansif penelitian. Tanpa
kehilangan sifat umumnya, diasumsikan bahwa variabel laten dan
indikator atau variabel manifest diskala zero means dan unit varian sama
dengan satu, sehingga parameter lokasi (parameter konstanta) dapat
dihilangkan dari model.
Model persamaannya dapat ditulis seperti di bawah ini:
η = βη + Γξ + ζ
Dimana η menggambarkan vektor vaariabel endogen (dependen), ξ adalah
vektor variabel laten eksogen dan ζ adalah vektor residual (unexplained
variance). Oleh karena PLS didesain untuk model rekursif, maka
37
dependen η, atau sering disebut causal chain system dari variabel laten
dapat dispesifikasikan sebagai berikut:
ηj = Σi βji ηi + Σi γjbξb + ζj
Dimana γjb (dalam bentuk matriks dilambangkan dengan Γ) adalah
koefisien jalur yang menghubungkan variabel laten endogen (η) dengan
eksogen (ξ). Sedangkan βji (dalam bentuk matriks dilambangkan dengan
β) adalah koefisien jalur yang menghubungkan variabel laten endogen (η)
dengan endogen (η); untuk range indeks i dan b. Parameter ζj adalah
variabel inner residual.
Pada model PLS Gambar 3 inner model dinyatakan dalam sistem
persamaan sebagai berikut:
η1 = γ1ξ1 + γ2ξ2 + ζ1
η2 = β1η1 + γ3ξ1 + γ4ξ2 + ζ2
c) Weight relation, estimasi nilai variabel latent. Inner dan outer model
memberikan spesifikasi yang diikuti dengan estimasi weight relation
dalam algoritma PLS:
ξb = Σkb wkb xkb
ηi = Σki wki xki
Dimana wkb dan wki adalah k weight yang digunakan untuk membentuk
estimasi variabel laten ξb dan ηi. Estimasi data variabel laten adalah linear
agregat dari indikator yang nilai weight-nya didapat dengan prosedur
estimasi PLS.
(5). Langkah Kelima: Estimasi
Metode pendugaan parameter (estimasi) di dalam PLS adalah metode
kuadrat terkecil (least square methods). Proses perhitungan dilakukan dengan
cara iterasi, dimana iterasi akan berhenti jika telah tercapai kondisi konvergen.
Pendugaan parameter di dalam PLS meliputi 3 hal, yaitu :
1) Weight estimate yang digunakan untuk menghitung data variabel laten
2) Estimasi jalur (path estimate) yang menghubungkan antar variabel laten dan
estimasi loading antara variabel laten dengan indikatornya.
3) Means dan parameter lokasi (nilai konstanta regresi, intersep) untuk
indikator dan variabel laten.
Sebagai langkah awal iterasi, algoritmanya adalah menghitung
aproksimasi outside dari variabel latent dengan cara menjumlahkan indikator
dalam setiap kelompok indikator dengan bobot yang sama (equal weight). Bobot
untuk setiap iterasi diskalakan untuk mendapatkan unit varian dari skor variabel
laten untuk N kasus dalam sampel. Dengan menggunakan skor untuk setiap
variabel latent yang telah diestimasi, kemudian digunakan untuk pendugaan
aproksimasi inside variabel laten.
Ada tiga skema bobot aproksimasi inside yang telah dikembangkan untuk
mengkombinasikan variabel laten tetangga (neighboring LV) untuk mendapatkan
estimasi variabel laten tertentu yaitu: centroid, factor dan path weighting. Skema
weighting dengan centroid merupakan prosedur asli yang digunakan oleh Wold.
Metode ini hanya mempertimbangkan tanda korelasi antara variabel laten dan
39
model struktural tidak diperhitungkan. Skema weighting dengan faktor
menggunakan koefisien korelasi antara variabel laten dengan variabel laten
tetangga sebagai pembobot (weight). Variabel laten menjadi principal component
(komponen utama) dari variabel laten tetangganya. Skema weighting dengan
faktor memaksimumkan varian dari komponen utama variabel laten ketika jumlah
variabel laten menjadi tak terhingga jumlahnya. Skema dengan path weighting
membobot variabel laten tetangga dengan cara berbeda tergantung apakah
variabel laten tetangga merupakan anteseden atau konsekuen dari variabel laten
yang ingin kita estimasi.
Dengan hasil estimasi variabel laten dari aproksimasi inside, maka
didapatkan satu set pembobot baru dari aproksimasi outside. Jika skor
aproksimasi inside dibuat tetap (fixed), maka dapat dilakukan regresi sederhana
atau regresi berganda bergantung apakah indikator dari variabel laten bersifat
refleksif ataukah model berbentuk formatif. Oleh karena
inside
outside
systematic part accounted
(6). Langkah Keenam: Goodness of Fit
outer model
convergent discriminant validity composite
realibility outer model
substantive content
relative weight
inner model
Stone-Geisser Q Square test
bootstrapping
a). Outer Model
Outer model
try out
Convergent validity
loading
Discriminant validity
cross loading
cross loading
cross loading
square root of average variance extracted
square root of average
m
R path analysis
(7). Langkah Ketujuh: Pengujian Hipotesis
outer model
inner model
inner model
distribution free
t-test
p-value ≤
number of samples
case per sample
3. Asumsi PLS
inner model
4. Sample Size
resampling Bootestrapping
structural paths inner model.
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskr iptif Hasil Penelitian
4.1.1. Gambaran Umum Per usahaan
Lokasi penelitian ini berada di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo,
adapun alasan peneliti memilih lokasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Penduduknya terdiri dari berbagai strata baik ekonomi, pendidikan dan
pekerjaan yang beraneka ragam.
b. Sebagian besar penduduknya melakukan konsumsi yang tinggi..
c. Wilayah tersebut merupakan tempat yang strategis dalam melakukan
aktivitas jual beli.
d. Tingkat pembelian konsumen yang cenderung tinggi sebab dilokasi
tersebut mendukung sekali dalam melakukan pembelian akan suatu
produk.
4.2. Analisis Karakteristik Responden
Data mengenai keadaan responden dapat diketahui melalui jawaban
responden dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner.
a. Jenis Kelamin
Dari 108 responden yang menjawab kuesioner yang telah diberikan dapat
diketahui jenis kelamin dari responden yakin pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.1. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%) 1 Laki-laki 48 44.4% 2 Wanita 60 55.6% 108 100%
Sumber: Data kuesioner diolah
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa responden yang berkunjung
dan berbelanja di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo. kuisioner dibagikan
sebanyak 108 kuisioner, 48 berjenis kelamin laki-laki dan berjenis kelamin
perempuan sebanyak 60 responden, hal ini menunjukkan bahwa mayoritas yang
menjadi karyawan pada perusahaan tersebut adalah perempuan..
b. Usia
Dari 108 responden yang menjawab kuesioner yang telah diberikan dapat
diketahui usia para responden yaitu pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
No Usia (Tahun) Jumlah Persentase (%) 1 21-30 20 14.84% 2 31-40 55 48.7% 3 41-50 33 29,6% Total 108 100%
Sumber: Data diolah
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat dari responden yang berkunjung dan
berbelanja di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo lebih didominasi oleh
responden yang berusia 31-40 tahun sebanyak 55 responden, kemudian pada
peringkat kedua adalah responden yang berusia 41-50 tahun sebanyak 33
47
4.2.1. Deskr ipsi Variabel
4.2.1.1. Deskr ipsi Variabel Shopping Lifestyle(X1)
Tabel 4.3. Frekuensi Hasil Jawaban Responden Mengenai Shopping Lifestyle
No Pertanyaan Skor Jawaban Skor
1 2 3 4 5 6 7
Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Indikator pertama dari shopping life style, yaitu Membeli setiap tawaran iklan mengenai
produk kosmetik, mendapat respon terbanyak pada skor 5 dengan jumlah
responden sebanyak 40, kemudian terbanyak kedua terdapat pada skor 6