• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH SHOPPING LIFESTYLE DAN FASHION INVOLVEMENT TERHADAP IMPULSE BUYING PRODUK KOSMETIK PADA GIANT HYPERMART PONDOK TJANDRA SIDOARJO.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH SHOPPING LIFESTYLE DAN FASHION INVOLVEMENT TERHADAP IMPULSE BUYING PRODUK KOSMETIK PADA GIANT HYPERMART PONDOK TJANDRA SIDOARJO."

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

HYPERMART PONDOK TJ ANDRA

SIDOARJ O

SKRIPSI

Disusun Oleh:

Muhammad Fir mansyah 0912010060/ FE/EM

FAKULTAS EKONOMI

(2)

PENGARUH SHOPPING LIFESTYLE DAN FASHION

INVOLVEMENT TERHADAP IMPULSE BUYING

PRODUK KOSMETIK PADA GIANT

HYPERMART PONDOK TJ ANDRA

SIDOARJ O

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan Dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

J ur usan Manajemen

Disusun Oleh:

Muhammad Fir mansyah 0912010060/ FE/EM

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL `VETERAN`

J AWA TIMUR

2013

(3)

HYPERMART PONDOK TJ ANDRA

SIDOARJ O

Yang diajukan

Muhammad Fir mansyah 0912010060/ FE/EM

Telah disetujui untuk diseminarkan oleh

Pembimbing Utama

Dra.Ec.Hj.Malicha Tanggal : ………..

Mengetahui

Ketua Jurusan Progam Studi Manajemen

(4)

PENGARUH SHOPPING LIFESTYLE DAN FASHION

INVOLVEMENT TERHADAP IMPULSE BUYING

PRODUK KOSMETIK PADA GIANT

HYPERMART PONDOK TJ ANDRA

SIDOARJ O

Yang diajukan

Muhammad Fir mansyah 0912010060/ FE/EM

Telah diseminarkan dan disetujui untuk menyusun skripsi oleh

Pembimbing Utama

Dra.Ec.Hj.Malicha Tanggal : ………..

Mengetahui

Ketua Jurusan Progam Studi Manajemen

Dr.Muhajir Anwar.MM NIP. 19650907199103101

(5)

HYPERMART PONDOK TJ ANDRA

SIDOARJ O

Yang diajukan

Muhammad Fir mansyah 0912010060/ FE/EM

Disetujui untuk mengikuti Ujian Lisan oleh

Pembimbing Utama

Dra.Ec.Hj.Malicha Tanggal : ………..

Mengetahui

Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

(6)

SKRIPSI

PENGARUH SHOPPING LIFESTYLE DAN FASHION

INVOLVEMENT TERHADAP IMPULSE BUYING

Telah Dipertahankan Dihadapan Dan diterima

Oleh tim Penguji Skripsi J urusan Manajemen Fakultas Ekonomi Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur

Pada tanggal 31 Mei 2013.

Pembimbing Tim Penguji

Pembimbing Utama 1. Ketua

Dra.Ec.Hj.Malicha Dra.Ec.Hj.Malicha

2. Sekretaris

Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur

Dr. Dhani Ichsanudin Nur. SE,MM. NIP. 19630924 198903 1001

(7)

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, atas rahmat dan

ber-Katnya yang diberikan kepada peyusun sehingga skripsi yang berjudul ”Pengar uh

Shopping Lifestyle dan Fashion Involvement, Ter ha dap Impulse Buying Produk

Kosmetik di Giant Hyper mar t Pondok Tjandr a Sidoar jo”

Penyusunan skripsi ini ditujukan untuk memenuhi syarat penyelesaian Studi

Pendidikan Strata Satu, Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen, Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, Surabaya.

Pada kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan terima kasih kepada semua

pihak yang telah memberikan bimbingan, petunjuk serta bantuan baik spiritual

maupun materiil,khusunya kepada :

1. Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Dr. Dhani Ichsanudin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3. Dr. Muhadjir Anwar, MM, selaku Ketua Program studu Manajemen Fakultas

Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

4. Dra.Ec.Hj.Malicha selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah memberikan

(8)

5. Para dosen yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis

Selama menjadi mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa

Timur .

6. Kepada kedua orang tuaku dan kakak adik tercinta yang telah memberikan

dukungan moril ataupun materia.

7. Berbagai pihak yang turut membantu dan menyediakan waktunya demi

terselesainya skripsi ini yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu.

Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa apa yang telah disusun dala, skripsi ini

masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat berharap saran dan kritik

membangun dari pembaca dan pihak lain.

Akhir kata, peneliti berharap agar skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak

yang membutuhkan.

Salam hormat,

Surabaya, Mei 2013

Penulis

(9)

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

ABSTRAKSI ... vi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

BAB II TINJ AUAN PUSTAKA 2.1 Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu ... 9

2.2 Landasan Teori ... 9

2.2.1 Shopping Lifestyle ... 11

2.2.1.1 Pengertian Shopping Lifestyle ... 11

2.2.2 Fashion involvement ... 13

2.2.2.1 Pengertian Fashion involvement ... 13

2.2.3. Impulse Buying ... 16

2.2.3.1 Pengertian Impulse Buying ... 16

2.2.3.2 Elemen Pembelian Tidak Terencana ( Impulse Buying ) . 17 2.2.3.3 Tipe Pembelian Tidak Terencana Impulse Buying ... 18

2.2.3.4 Faktor-faktor Yang mempengaruhi Impulse Buying ... 19

2.2.4 Pengaruh Shopping Lifestyle Terhadap Impulse Buying .. 21

(10)

2.4. Hipotesis ... 23

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 24

3.1.1 Pengukuran Variabel ... 25

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskriptif Hasil Penelitian ... 45

4.1.1 Gambaran Umum ... 45

4.2 Analisis Karakteristik Responden ... 45

4.2.1 Deskripsi Variabel ... 47

4.2.1.1 Deskripsi Variabel Shopping Lifestyle (X1) ... 47

4.2.1.2 Deskripsi Variabel Fashion involvement (X2) ... 49

4.2.1.3 Deskripsi Variabel Impulse Buying ... 52

4.3. Analisis Data ... 54

4.3.1 Evaluasi Atas Outlier ... 54

4.3.2 Intrepetasi Hasil PLS ... 55

4.3.2.1 Pengujian Outter Model... 55

4.3.2.2 Analisis PLS... 60

4.3.2.3 Evaluasi Pengujian Inner Model ... 60

4.4 Pembahasan ... 64

(11)

5.1. Kesimpulan ... 67

5.2. Saran ... 67

DAFTAR PUSTAKA

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Top Brand Index Kosmetik Tahun 2009-2012 ... 3

Tabel 4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 45

Tabel 4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 46

Tabel 4.3. Frekuensi Jawaban Responden Mengenai Shopping Lifestyle .. 47

Tabel 4.4. Frekuensi Jawaban Responden Mengenai Fashion Involvement 49 Tabel 4.5. Frekuensi Jawaban Responden Mengenai Impulse Buying ... 52

Tabel 4.6. Outlier Data ... 54

Tabel 4.7 Outer loading ... 56

Tabel 4.8. AVE ... 58

Tabel 4.9. Reliabilitas Data ... 59

Tabel 4.10. R-Square ... 61

Tabel 4.11. Outter Weight ... 62

Tabel 4.12. Inner weight ... 63

(13)

Gambar 3.1 langkah-langkah analisis PLS... 32

Gambar 3.2. Jalur PLS ... 34

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Kuesioner

Lampiran 2 : Tabulasi Jawaban Responden

Lampiran 3 : Hasil Uji Outlier

Lampiran 4 : Evaluasi Model Pengukuran (Outer Model)

Lampiran 5 : Evaluasi Model Pengukuran (Inner Model)

(15)

HYPERMART PONDOK TJ ANDRA

Penelitian ini dilakukan pada produk kosmetik terkenal, Tetapi dalam salah satu penghargaan mengenai kekuatan suatu merek di Indonesia yaitu Top Bran Index (TBI) ternyata Kosmetik berdasarkan survey TBI tersebut mengalami penurunan pada tahun 2012 dibandingkan dengan tahun 2009 dan 2011. Masyarakat high income akan membeli kosmetik yang sedang dicari dengan harga, kualitas, serta mode yang diinginkan, ketika masyarakat dari kelas high income me-lihat produk yang sulit dicari ditemukan maka ia akan membeli produk tersebut meskipun ia tidak merencanakan pembelian tersebut yang menyebabkan terjadinya impulse buying.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh konsumen yang berbelanja di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebesar 108 responden. Data yang dipergunakan adalah data primer yaitu data yang berdasarkan kuisioner hasil jawaban responden. Sedangkan analisis yang dipergunakan adalah Partial least Square.

Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa : 1). Adanya shopping lifestye yang tinggi dapat meningkatkan impulse buying produk kosmetik pada Giant Hypermart Pondok Tjandra. 2). Adanya fashion involvement yang tinggi dapat meningkatkan impulse buying produk kosmetik pada Giant Hypermart Pondok Tjandra.

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin modern menyebabkan

banyaknya pembangunan mall atau shopping centre. Indonesia Tourism News

melansir bahwa kehadiran mall di Surabaya telah mengukuhkan jati diri sebagai

kota perdagangan. Selain itu, dengan kehadiran mall diharapkan dapat menjadi

daya tarik wisata. Kini Surabaya telah memiliki setidaknya 32 shopping mall dan

diperkirakan akan terus bertambah tiap tahunnya. Kelahiran shopping mall di

Surabaya diawali dengan adanya Tunjungan Plaza, yang disusul Delta Plaza dan

Surabaya Mall pada tahun 1986. Kehadiran tiga shopping mall tersebut secara

perlahan diikuti pusat-pusat perbelanjaan modern lainnya hingga mencapai

booming pada periode tahun 2005-2008 (Indonesia Tourism News, 2008).

Salah satu bentuk media perbelanjaan modern tersebut seperti Giant

Hypermart. Giant Hypermart adalah sebuah perusahaan retail yang menyediakan

produk dalam bentuk barang salah satunya yaitu kosmetik. Perusahaan tersebut

tentunya memiliki berbagai macam strategi dalam melakukan penjualan

produknya seperti pemberian diskon pada setiap bulan sekali dengan tujuan agar

konsumen tertarik dan tetap mengkonsumsi produk yang ditawarkan oleh Gyant

Hypermart. Bertambahnya shopping centre di Surabaya dari tahun ke tahun

menjadikan peluang bisnis bagi para pelaku bisnis terutama dibidang fashion

karena banyak pengunjung yang berkunjung ke shopping centre, dimana sebagian

besar pengunjung yang berkunjung karena ingin berbelanja pakaian. Fenomena

(17)

tersebut menyebabkan kebanyak-an mall yang ada menjual berbagai jenis fashion

baik untuk pria maupun wanita yang berada di boutique, factory outlet ataupun di

department store yang mempunyai fasilitas pelayanan dan mutu yang sesuai

dengan standart yang diterapkan tiap toko. Fashion adalah jenis tenant utama dari

sebuah shopping centre atau mall, berupa toko baju anak, pria dan wanita yang

berbentuk butik atau ready–to–wear, termasuk toko aksesoris dan kosmetika

(Indonesia Shopping Centers, 30 Januari 2009), ketika melihat pakaian yang

dipajang di etalase toko yang menarik menurut pengunjung tersebut maka

pengunjung tadi akan membeli pakaian yang di inginkan meskipun harus

mengeluarkan uang lebih demi mendapatkan pakaian yang diinginkan. Pernyataan

tersebut di dasari oleh persentase masyarakat Surabaya yang datang ber-kunjung

di mall untuk berbelanja sebesar 51% di-bandingkan aktivitas lainnya (“29 Proyek

Manantang Krisis Global”, Maret 2009).

Kosmetik merupakan industri yang akan terus bertumbuh seiring pasar

yang makin meluas. Hal ini disebabkan hampir semua perempuan, bahkan

anak-anak yang baru menginjak remaja pun, akrab dengan berbagai pernak-pernik

kosmetik. Dapat dikatakan bahwa produk kosmetik telah menjadi bagian dari

keseharian konsumen, baik perempuan yang tinggal di perkotaaan maupun

pedesaan, contohnya bedak wajah, alas bedak, lipstik, pembersih muka, pelembab

muka, dan pemutih wajah (”Bergulat Habis Membangun Merek”, 27 Juli 2006).

Data Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia melansir dalam setahun

penjualan kosmetik perawatan tubuh mencapai Rp 15-20 triliun. Sementara untuk

(18)

3

penjualan Rp 5-7 triliun setahun. Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian

kosmetik di Indonesia sangat besar. Seiring perkembangan jaman, kosmetik

seolah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian kaum wanita. Hal ini memberikan

peluang bagi industri kosmetik di Indonesia, sehingga banyak bermunculan

produk baru dipasaran yang dapat menimbulkan persaingan cukup ketat

(”Bergulat Habis Membangun Merek”, 27 Juli 2006).

Salah satu sektor industri yang berpotensial adalah sektor industri

kosmetik. Industri kosmetik tahun 2010 dan 2011 mengalami pertumbuhan

sebesar 10%-15%, industri ini terus menerus berkembang setiap tahunnya

menunjukan bahwa sektor industri ini memberikan peluang yang cukup besar bagi

perusahaan-perusahaan yang ingin memasuki industri ini

(www.buyusa.gov/indonesia/en).

Sejumlah perusahaan besar kosmetik sudah tidak asing lagi di Indonesia,

seperti Mustika Ratu, Martha Tilaar, Vita Pharm, Unilever, Yasulor, Ristra

Indolab dan lain-lain. Perusahaan-perusahaan dalam industri kosmetik tersebut

mengeluarkan berbagai brand produk yang memenuhi industri kosmetik.

Persaingan dan peluang yang terjadi pada industri kosmetik menjadikan tantangan

bagi perusahaan untuk terus memproduksi produk yang berkualitas, bervariasi dan

dapat bersaing dengan produk-produk luar serta untuk dapat mempertahankan

perusahaannya di masa yang akan datang.

Shopping lifestyle mengacu pada pola konsumsi yang mencerminkan

pilihan seseorang tentang bagai-mana cara menghabiskan waktu dan uang. Dalam

arti ekonomi, shopping lifestyle menunjukkan cara yang dipilih oleh seseorang

(19)

untuk mengalokasikan pen-dapatan, baik dari segi alokasi dana untuk berbagai

produk dan layanan, serta alternatif-alternatif tertentu dalam pembedaan kategori

serupa (Zablocki dan Kanter, 1976: 269-297) dalam Sugiharto dan Japarianto,

(2011).

Dalam pemasaran fashion, fashion involvement mengacu pada ketertarikan

perhatian dengan kategori produk fashion (seperti pakaian). Fashion involve-ment

digunakan terutama untuk meramalkan variabel tingkah laku yang berhubungan

dengan produk pakaian seperti keterlibatan produk, perilaku pembelian, dan

karakteristik konsumen (Browne and Kaldenberg, 1997; Fairhurst, 1989;

Flynnand Golds-mith, 1993 dalam Park 2006).

Keputusan pembelian yang dilakukan belum tentu direncanakan, terdapat

pembelian yang tidak direncanakan (impulse buying) akibat adanya rang-sangan

lingkungan belanja. Implikasi dari lingkungan belanja terhadap perilaku

pembelian mendukung asumsi bahwa jasa layanan fisik menyediakan ling-kungan

yang mempengaruhi perilaku konsumen, dihubungkan dengan karakteristik

lingkungan kon-sumsi fisik (Bitner, Booms, dan Tetreault, 1990) dalam Sugiharto

dan Japarianto, (2011).

Penelitian ini dilakukan pada beberapa produk kosmetik terkenal, Tetapi

dalam salah satu penghargaan mengenai kekuatan suatu merek kometik di

Indonesia yaitu Top Bran Index (TBI) ternyata ada beberapa kosmetik

berdasarkan survey TBI tersebut mengalami penurunan pada tahun 2011

dibandingkan dengan tahun 2009 dan 2011 berikut hasil pengukurannya dapat

(20)

5

Tabel 1.1. Data Top Brand Index Kosmetik pada tahun 2009

Ant i Aging

Tabel 1.2. Data Top Brand Index Kosmetik pada tahun 2010

Anti Aging

Tabel 1.3. Data Top Brand Index Kosmetik pada tahun 2011

Anti Aging

(21)

Berdasarkan hasil survei di atas menunjukan bahwa dari tahun 2009

hingga tahun 2011 terdapat beberapa merek kosmetik mengalami penurunan

dilihat dari presentase penilaian lembaga tersebut . Indikasi lain yang menunjukan

bahwa minat beli terhadap merek kosmetik sedang mengalami penurunan adalah

dilihat dari volume penjualan merek kosmetik. Sebagai Berikut:

Tabel 1.4. Penjualan Kosmetik 2009-2011 Dalam Rupiah

Nama

Penjualan

2011 2012

Pond's 321 milliar 198 milliar

Viva 357 milliar 223 milliar

Ovale 86 milliar 77 milliar

Sariayu 56 milliar 43 milliar Mustika Ratu 48 milliar 37 milliar

Sumber : www.swa.com,(2012).

Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa penjualan kosmetik tahun

2011 mengalami penurunan penjualan, berdasarkan hasil tersebut menunjukan

adanya sebuah kejenuhan dan penurunan minat beli terhadap kosmetik di pasaran

dan bermunculan produk baru yang lebih menarik dipasaran. Hal ini kemungkinan

disebabkan karena keunggulan produk yang disampaikan dalam iklan bagi

masyarakat high income berbelanja hal yang sudah menjadi lifestyle mereka

adalah mereka akan rela mengorbankan sesuatu demi mendapatkan produk yang

mereka senangi. Masyarakat high income akan membeli pakaian yang sedang

dicari dengan harga, kualitas, serta mode yang diinginkan, ketika masyarakat dari

kelas high income me-lihat produk yang sulit dicari ditemukan maka ia akan

membeli produk tersebut meskipun ia tidak meren-canakan pembelian tersebut

(22)

7

Amstrong (dalam Nugraheni, 2003) gaya hidup seseorang dapat dilihat

dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk

mendapatkan atau mempergunakan barang-barang dan jasa sehingga sangat

berpengaruh dalam melakukan pembelian impulse ketika berada di pusat

perbelanjaan, gaya hidup dan perilaku pembelian impulse itu mempunyai

hubungan yang erat.

Hubungan yang positif antara tingkat keterlibatan dan mode pembelian

pakaian adalah konsumen dengan high fahion involvement lebih menyukai kepada

pembelian pakaian.Oleh karena itu, diasumsikan bahwa konsu-men dengan higher

fashion involvement lebih menyukai menggunakan fashion oriented impulse

buying. Sugiharto dan Japarianto, (2011).

Berdasarkan latar belakang tersebut maka oleh karena itu dalam penelitian

ini diambillah judul ”Pengaruh Shopping Lifestyle dan Fashion Involvement,

Ter hadap Impulse Buying Produk Kosmetik di Giant Hypermart Pondok

Tjandr a Sidoar jo”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan judul yang akan dibahas maka ada beberapa rumusan masalah

yang dikemukakan sebagai berikut :

1. Apakah shopping lifestyle berpengaruh terhadap Impulse Buying Produk

Kosmetik di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo?

2. Apakah fashion involvement berpengaruh terhadap Impulse Buying Produk

Kosmetik di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo?

(23)

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah yang telah

dikemukakan tersebut, maka tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah sebagai

berikut :

1. Untuk menganalisis pengaruh shopping lifestyle terhadap Impulse Buying

Produk Kosmetik di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo.

2. Untuk menganalisis pengaruh fashion involvement terhadap Impulse Buying

Produk Kosmetik di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian yang penulis lakukan nantinya

diharapkan dapat bermanfaat dan berguna antara lain :

1. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan ide dan pemikiran

pada Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo .

2. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan dapat memacu pihak

lainnya yang akan mengadakan penelitian lebih lanjut.

(24)

9

BAB II

TINJ AUAN PUSTAKA

2.1. Hasil-hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang dapat digunakan sebagai acuan obyek penelitian

diambil dari jurnal yang telah dilakukan oleh Sugiharto dan Japarianto, (2011)

dengan judul penelitian ”Pengaruh Shopping Life Style Dan Fashion Involvement

Terhadap Impulse Buying Behavior Masyarakat High Income Surabaya”. Adapun

rumusan masalah yang diambil: Apakah shopping lifestyle dan fashion

involvement berpengaruh terhadap impulse buying behaviour pada masyarakat

high income di Surabaya?

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Berdasarkan pada hasil

pembahasan mengenai shopping lifestyle, fashion involvement terhadap impulse

buying behavior, dapat disimpulkan beberapa hal yaitu:a. Shopping lifestyle

berpengaruh signifikan terhadap impulse buying behavior pada masyarakat high

income di Galaxy Mall Surabaya b. Fashion involvement berpengaruh signifikan

terhadap impulse buying behavior pada masyarakat high income di Galaxy Mall

Surabaya c. Shopping lifestyle memiliki pengaruh yang paling dominan diantara

variabel lain yang ada terhadap impulse buying behavior pada masyarakat high

income di Galaxy Mall Surabaya

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Hatane Samuel (2006) dengan judul

Dampak respon emosi terhadap kecenderungan perilaku pembelian impulse

konsumen online dengan sumberdaya yang dikeluarkan dan orientasi belanja

sebagai variabel mediasi.

(25)

Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan pengaruh stimulus

antara format media offline dengan media online terhadap respon emosi dan

kecenderungan perilaku pembelian impulse. Ditemukan bahwa stimulus dari

format media online memberikan dampak respon emosi dan kecenderungan

perilaku pembelian impulse yang lebih kuat. Dalam kelompok format media

online ditemukan juga bahwa bentuk format audio-visual dan teks gambar

mempunyai stimulus yang tidak berbeda secara statistik dan lebih kuat

dibandingkan format animasi gambar. Hasil temuan lainya. menunjukan bahwa

respon emosi mempunyai dampak positip secara langsung terhadap

kecenderungan perilaku pembelian impulse. Selain itu sumberdaya yang

dikeluarkan dapat merupakan mediasi positip antara respon emosi dengan

orientasi belanja rekreasi, dan negatip untuk orientasi belanja kenyamanan.

Orientasi belanja kenyamanan merupakan mediasi positip antara sumberdaya

yang dikeluarkan dengan kecenderungan perilaku pembelian impulse, sedangkan

orientasi belanja rekreasi merupakan mediasi negatif.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Rohman, Fatchur, (2009). dengan

judul penelitian “Peran Nilai Hedonik Konsumsi Dan Reaksi Impulse Sebagai

Mediasi Pengaruh Faktor Situasional Terhadap Keputusan Pembelian Impulse Di

Butik Kota Malang”. Adapun rumusan masalah yang diajukan adalah: 1). apakah

faktor situasional dapat mempengaruhi reaksi impulse pelanggan? apakah faktor

situasional dapat mempengaruhi nilai hedonik konsumsi pelanggan? apakah reaksi

impulse dan nilai hedonik konsumsi mempengaruhi keputusan pembelian

(26)

11

pelanggan? apakah faktor situasional dapat mempengaruhi nilai pelanggan?

apakah nilai utilitarian konsumsi dan nilai pelanggan mempengaruhi kepuasan

pelanggan? apakah nilai pelanggan dan kepuasan pelanggan mempengaruhi

loyalitas pelanggan?.

Hasil penelitian menunjukan bahwa pengusaha butik perlu melakukan

hubungan baik dengan pelanggan butik, caranya dengan memiliki daftar nama,

alamat, dan nomor telepon konsumen untuk memudahkan dalam memberikan

informasi tentang produk-produk baru yang lagi musim. Hasil studi menunjukkan

bahwa konsumen berbelanja ke butik untuk mengikuti trend pakaian yang sedang

musim sehingga kecepatan informasi mengenai mode mendapat perhatian

konsumen. Pengusaha butik perlu memperhatikan desain interior dan exterior

karena hasil studi menunjukkan bahwa konsumen berbelanja ke butik tidak hanya

berharap mendapatkan barang saja akan tetapi juga untuk mendapatkan

pengalaman yang menyenangkan.

2.2. Landasan Teori

2.2.1. Shopping Lifestyle

2.2.1.1. Pengertian Shopping Lifestyle

Shopping lifestyle mengacu pada pola konsumsi yang mencerminkan

pilihan seseorang tentang bagai-mana cara menghabiskan waktu dan uang. Dalam

arti ekonomi, shopping lifestyle menunjukkan cara yang dipilih oleh seseorang

untuk mengalokasikan pen-dapatan, baik dari segi alokasi dana untuk berbagai

produk dan layanan, serta alternatif-alternatif tertentu dalam pembedaan kategori

(27)

serupa (Zablocki dan Kanter, 1976, p. 269-297) dalam Sugiharto dan

Japarianto,(2011).

Hawkins et al (2001), memandang Gaya hidup sebagai pusat dari proses

konsumsi. Gaya hidup ditentukan oleh faktor-faktor seperti emosi, kepribadian,

motivasi, persepsi, pembelajaran, aktivitas pemasaran, budaya, nilai, demografi,

status sosial, dan kelompok referensi yang berhubungan dengan kebutuhan atau

sikap yang akan menentukan proses-proses konsumsi dalam situasi-situasi yang

dihadapi konsumen (pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi dan

seleksi, pemilihan toko dan pembelajaran, serta proses-proses setelah pembelian

terjadi. Gaya hidup seseorang terbentuk sejak kecil dan dipengaruhi oleh berbagai

hal, antara lain kebudayaan, nilai-nilai yang dianut, tempat tinggal, teman

kelompok, keluarga, cara belajar, kepribadian, sikap dan lain-lainnya.

Betty Jackson (2004) mengatakan shopping lifestyle merupakan ekspresi

tentang lifestyle dalam berbelanja yang mencerminkan perbedaan status sosial.

Cara kita berbelanja mencerminkan status, martabat, dan kebiasaan. Betty Jackson

juga mengatakan bahwa seseorang akan rela membeli merk yang disenangi

meskipun orang tersebut tidak punya cukup uang”. Hal ini jelas bahwa shopping

telah menjadi lifestyle bagi setiap orang di dunia dan telah menjadi hal yang

sangat penting bagi setiap orang.

Cobb dan Hoyer (1986) dalam Sugiharto dan Japarianto,(2011).

Mengemukakan bahwa untuk mengetahui hubungan shopping lifestyle terhadap

(28)

13

a. Menanggapi untuk membeli setiap tawaran iklan mengenai produk fashion

b. Membeli pakaian model terbaru ketika melihatnya di Galaxy Mall

c. Berbelanja merk yang paling terkenal

d. Yakin bahwa merk (produk kategori) terkenal yang di beli terbaik dalam hal

kualitas

e. Sering membeli berbagai merk (produk kategori) daripada merk yang biasa di

beli.

f. Yakin ada dari merk lain (kategori produk) yang sama seperti yang di beli

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa shopping

lifestyle adalah cara seseorang untuk mengalokasikan waktu dan uang untuk

berbagai produk, layanan, teknologi, fashion, hiburan dan pendidikan. Shopping

lifestyle ini juga ditentukan oleh beberapa faktor antara lain sikap terhadap merek,

pengaruh iklan dan kepribadian.

2.2.2. Fashion Involvement

2.2.2.1. Pengertian Fashion Involvement

Menurut O’Cass, involvement adalah minat atau bagian motivasional yang

ditimbulkan oleh stimulus atau situasi tertentu, dan ditujukan melalui ciri

penampilan (O’Cass, 2004 dalam Park 2005). Sedangkan menurut Zaichkowsky,

involvement didefinisikan sebagai hubungan seseorang terhadap sebuah objek

berdasarkan kebutuhan, nilai, dan ketertarikan (Zaichkowsky, 1985, pp. 341-352)

dalam Sugiharto dan Japarianto,(2011).

Involvement dapat dipandang sebagai motivasi untuk memproses

informasi (Mitchell, 1979, pp. 191-196). Selama involvement meningkatkan

(29)

produk, konsumen akan memperhatikan iklan yang ber-hubungan dengan produk

tersebut, memberikan lebih banyak upaya untuk memahami iklan tersebut dan

memfokuskan perhatian pada informasi produk yang terkait di dalamnya, di sisi

lain, seseorang mungkin tidak akan mau repot untuk memperhatikan informasi

yang diberikan (Celsi dan Olson, 1988, pp. 210-224). Begitu pula dengan fashion,

banyak orang terlibat dengan fashion, menghabiskan waktu dan uang untuk gaya

terbaru, sedangkan yang lain (sering kali pria memenuhi syarat di kategori ini)

menemukan bahwa berbelanja pakaian adalah sebuah tugas.

Dalam pemasaran fashion, fashion involvement mengacu pada ketertarikan

perhatian dengan kategori produk fashion (seperti pakaian). Fashion involve-ment

digunakan terutama untuk meramalkan variabel tingkah laku yang berhubungan

dengan produk pakaian seperti keterlibatan produk, perilaku pem-belian, dan

karakteristik konsumen (Browne and Kaldenberg, 1997; Fairhurst,1989; Flynnand

Golds-mith, 1993 dalam Park 2006). Sebagai contoh, O’Cass (2004) dalam Park

(2006) menemukan bahwa fashion involvement pada pakaian ber-hubungan sangat

erat dengan karakteristik pribadi (yaitu wanita dan kaum muda) dan pengetahuan

fashion, yang mana pada gilirannya mempengaruhi kepercayaan konsumen di

dalam membuat keputusan pembelian.

Sebagaimana ditetapkan sebelumnya, involvement dapat berupa banyak

bentuk. Involvement adalah konsep yang kabur karena tumpang tindih dengan

hal-hal lain dan mempunyai arti yang berbeda bagi orang yang berbeda. Sebenarnya

erdapat beberapa jenis involvement yang berhubungan dengan produk, pesan,

(30)

15

merupakan interaksi antara konsumen dengan suatu produk. Dalam pemasaran

fashion, fashion involvement mengacu pada ketertarikan perhatian dengan

kategori produk fashion (seperti pakaian). Fashion involvement digunakan

terutama untuk meramalkan variabel tingkah laku yang berhubungan dengan

produk pakaian seperti keterlibatan produk, perilaku pembelian, dan karakteristik

konsumen.

Dalam Kim (2005) mengemukakan bahwa untuk mengetahui hubungan

fashion involvement terhadap impulse buying behavior adalah dengan

menggunakan indikator:

a. Mempunyai satu atau lebih pakaian dengan model yang terbaru (trend)

b. Fashion adalah satu hal penting yang mendukung aktifitas

c. Lebih suka apabila model pakaian yang diguna-kan berbeda dengan yang lain

d. produk menunjukkan karakteristik

e. Dapat mengetahui banyak tentang seseorang dengan pakaian yang digunakan

f. Ketika memakai pakaian favorit, membuat orang lain tertarik melihatnya

g. Mencoba produk fashion terlebih dahulu sebelum membelinya

h. Mengetahui adanya fashion terbaru dibandingkan dengan orang lain

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa fashion

involvement adalah keterlibatan seseorang dengan suatu produk pakaian karena

kebutuhan, kepentingan, ketertarikan dan nilai terhadap produk tersebut. Dalam

membuat keputusan pembelian pada fashion involvement ditentukan oleh

beberapa faktor yaitu karakteristik konsumen, pengetahuan tentang fashion, dan

perilaku pembelian.

(31)

2.2.3. Impulse Buying

2.2.3.1. Pengertian Impulse Buying

Pembelian yang tidak direncanakan (impulse buying) didefinisikan sebagai

tindakan membeli yang dilakukan tanpa memiliki masalah sebelumnya atau

maksud/niat membeli yang terbentuk sebelum memasuki toko. Pembelian ini

dapat dijelaskan sebagai pilihan yang dibuat pada saat itu juga karena perasaan

positif yang kuat mengenai suatu benda (Mowen dan Minor, 2002:65).

Pernyataan tersebut didukung oleh Iyer (fadjar, 2007), impulse buying

adalah suatu fakta kehidupan dalam perilaku konsumen yang dibuktikan sebagai

suatu kegiatan pembelian yang berhubungan dengan lingkungan dan keterbatasan

waktu dalam berbelanja, dimana rute pembelian yang mereka lakukan semestinya

berbeda. Rute tersebut dapat dibedakan melalui hirarki impulse yang

memperlihatkan bahwa perilaku didasarkan pada respon afektif yang dipengaruhi

oleh perasaan yang kuat (Mown dan Minor, 2002), sehingga impulse buying

menurut Hoch et al., terjadi ketika terdapat perasaan positif yang sangat kuat yang

kemudian diikuti oleh sikap pembelian (Negara dan Dharmmesta, 2003).

Pembelian impulse didefinisikan sebagai pembelian yang tidak terencana

yang dikarakteristikkan dengan pengambilan keputusan yang relatif cepat, dan

prasangka subyektif terhadap keinginan segera memiliki (Rock dan Gardner

dalam Wathani, 2009). Salomon dalam Wathani (2009) menyatakan bahwa

pembelian impulsif merupakan suatu aksi yang tidak terencana yang dipacu oleh

(32)

17

Menurut Semuel (2005), sebagian orang menganggap kegiatan belanja

dapat menjadi alat untuk menghilangkan stres, atau menghabiskan uang dapat

mengubah suasana hati seseorang. Kemampuan untuk menghabiskan uang

membuat seseorang merasa berkuasa. Pembelian tidak terencana, berarti kegiatan

untuk menghabiskan uang yang tidak terkontrol, dan kebanyakan pada

barang-barang yang tidak diperlukan oleh konsumen. Barang-barang-barang yang dibeli secara

tidak terencana (produk impulse) kebanyakan adalah produk-produk dengan harga

murah yang tidak terduga. Penjual menarik konsumen ketika indera perasa

mengirimkan pesan kepada otak konsumen yang mengatakan, “Saya ingin ini!”

atau “Saya tidak dapat hidup tanpa itu!” Beberapa macam dari barang-barang

konsumen adalah ‘pembelian tidak terencana.’

2.2.3.2. Elemen Pembelian Tidak Ter encana (Impulse Buying)

Loudon dan Bitta dalam Wathani (2009) mengemukakan lima elemen

penting yang membedakan tingkah laku konsumen yang impulse dan yang tidak,

yaitu:

a. Konsumen merasakan adanya suatu dorongan yang tiba-tiba dan spontan

untuk melakukan suatu tindakan yang berbeda dengan tingkah laku

sebelumnya.

b. Dorongan tiba-tiba untuk melakukan suatu pembelian menempatkan

konsumen dalam keadaan ketidakseimbangan secara psikologis, dimana

untuk sementara waktu ia merasa kehilangan kendali.

(33)

c. Konsumen akan mengalami konflik psikologis dan ia berusaha untuk

menimbang antara pemuasan kebutuhan langsung dan konsekuensi jangka

panjang dari pembelian.

d. Konsumen akan mengurangi evaluasi kognitif dari produk.

e. Konsumen seringkali membeli secara impulsif tanpa memperhatikan

konsekuensi yang akan datang.

2.2.3.3. Tipe Pembelian Tidak Terencana (Impulse Buying)

Menurut Stren, pembelian tidak terencana (impulse buying) dapat

digolongkan sebagai berikut: David Loudon, Albert J Della Bitta dan Hawkins

Stren (Fadjar, 2007):

a. Pembelian tidak terencana murni (pure impulse buying)

Pembelian yang murni disebabkan oleh suatu pola pembelian yang

menyimpang dari pembelian normal.

b. Pembelian tidak terencana karena pengalaman masa lalu (reminder

impulse buying)

Pembelian ini terjadi ketika seorang pembeli “diingatkan” oleh sebuah

stimulus di alam toko yang bersangkutan. Misalnya: produk itu sendiri,

bahan di tempat pembelian. Hal tersebut membuat dia seolah-olah

memerlukan dan harus membeli produk itu.

c. Pembelian tidak terencana yang timbul karena sugesti (suggestion impulse

(34)

19

Pembelian tidak terencana ini terjadi apabila konsumen yang bersangkutan

baru pertama sekali melihat produk tersebut dimana kualitas, fungsi, dan

kegunaan produk tersebut sesuai dengan apa yang diharapkannya.

d. Pembelian tidak terencana yang disebabkan situasi tertentu (planned

impulse buying)

Pembelian tidak terencana ini terjadi pada saat pusat perbelanjaan

melakukan promosi, seperti pemberian potongan harga (diskon) dan

pemberian kupon berhadiah

2.2.3.4. Faktor-Faktor Yang Mempengar uhi Impulse Buying

Beberapa peneliti telah menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi

Pembelian Impulse. . Thai (2003)

1. Faktor Internal

a. Emotion

Emosi diidentifikasikan sebagai faktor yang sangat mempengaruhi

pembelian impulse. “Emosi konsumen juga dapat mempengaruhi

pembelian dimana seorang konsumen yang bahagia akan melakukan

pembelian lebih banyak daripada konsumen yang tidak bahagia”. Mood

adalah bagian dari emosi.

Mehrabian dan Russell (1974), Mehrabian (1980) dan Donovan dan

Rossiter (1982) dalam Thai,(2003), yang terdiri dari 3 faktor yaitu:

- Pleasure, Mengacu pada tingkat dimana individu merasakan penuh

kegembiraan dan bahagia, atau merasa puas dalam suatu situasi.

(35)

- Arousal, Mengacu pada tingkat dimana individu merasakan tertarik

(interest) teehadap sesuatu dalam situasi tertentu.

- Dominance, Mengacu pada tingkat perasaan yang direspon konsumen

saat mengendalikan atau dikendalikan oleh lingkungan.

b. Hedonic Pleasure

Beberapa peneliti perilaku konsumen menunjukkan bahwa pembelian

impulse lebih memuaskan keinginan hedonic.

c. Cognitive

Menurut Peter dan Olson (2005), cognitive lebih mengacu pada proses

berpikir dimana didalamnya terdapat pengetahuan (knowledge), arti atau

maksud (meaning) dan kepercayaan (belief). Misalnya, sweater ini terbuat

dari benang wol (knowledge).

d. Affective

Menurut Peter dan Olson (2005), affective biasanya segera berpengaruh

dan secara otomatis terhadap aspek-aspek dari emosi (emotions) dan

perasaan (feeling states). Misalnya saat melihat warna yang kita sukai,

perasaan kita akan cenderung menjadi bahagia (feeling), toko yang penuh

dan sesak bisa membuat kita stres dan meninggalkan toko (emotion)

tersebut.

2. Faktor Eksternal

Bahwa konsumen lebih memilih daya tarik fisik suatu toko daripada kualitas

barang dan harga. Pemilihan konsumen atas toko dipengaruhi oleh store

(36)

21

akan menghindari atau meninggalkan toko jika setting toko tersebut

mengundang stress.

2.2.4. Pengaruh Shopping Lifestyle Terhadap Impulse Buying

Shopping menjadi salah satu lifestyle yang paling digemari, untuk

memenuhi lifestyle ini masyarakat rela mengorbankan sesuatu demi mencapainya

dan hal tersebut cenderung mengakibatkan impulse buying. Ketika terjadi

pembelian impulsif akan memberikan pengalaman emosional lebih dari pada

rasional, sehingga tidak dilihat sebagai suatu sugesti, dengan dasar ini maka

pembelian impulsif lebih dipandang sebagai keputusan rasional dibanding

irasional dan hubungan sembilan karakteristik produk yang mungkin dapat

mempengaruhi pembelian impulsif, yaitu harga rendah, kebutuhan tambahan

produk atau merk, distribusi massa, self service, iklan massa, display produk yang

menonjol, umur produk yang pendek, ukuran kecil, dan mudah disimpan.

Sugiharto dan Japarianto,(2011).

Amstrong (dalam Nugraheni, 2003) gaya hidup seseorang dapat dilihat

dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk

mendapatkan atau mempergunakan barang-barang dan jasa sehingga sangat

berpengaruh dalam melakukan pembelian impulse ketika berada di pusat

perbelanjaan, gaya hidup dan perilaku pembelian impulsie itu mempunyai

hubungan yang erat

2.2.5 Pengaruh Fashion Involvement Terhadap Impulse Buying

Pakaian sangat terkait dengan keterlibatan ke karakteristik pribadi (yakni

perempuan dan muda) dan pengetahuan tentang fashion, yang pada giliran-nya

(37)

dipengaruhi oleh keyakinan konsumen dalam membuat keputusan pembelian.

Selain itu, hubungan yang positif antara tingkat keterlibatan dan mode pembelian

pakaian adalah konsumen dengan high fahion involvement lebih menyukai kepada

pembelian pakaian.Oleh karena itu, diasumsikan bahwa konsu-men dengan higher

fashion involvement lebih menyukai menggunakan fashion oriented impulse

buying. Sugiharto dan Japarianto, (2011).

Produk pakaian karena pakaian merupakan salah satu kebutuhan primer

dan pakaian merupakan sarana untuk menunjang penampilan atau sebagai

identitas diri serta yang berhubungan dengan gaya hidup yang disebut sebagai

fashion. Oleh karenanya, konsumen berusaha untuk selalu mengikuti mode

produk-produk fashion yang selanjutnya akan berdampak pada perilaku konsumtif

(O’Cass, 2004). Kecenderungan seseorang untuk memiliki penampilan yang

menarik menyebabkan orang sering melakukan pembelian tanpa direncanakan

untuk jenis produk fashion.

2.3. Kerangka Konseptual

Impulse Buying (Y)

Fashion Involvement

(X2) Shopping Lifestyle

(38)

23

2.4. Hipotesis

1. Di duga bahwa shopping lifestyle berpengaruh positif terhadap impulse buying

pada Giant Hipermart pondok Tjandra Sidoarjo

2. Di duga bahwa fashion involvement berpengaruh positif terhadap impulse

buying pada Giant Hipermart pondok Tjandra Sidoarjo

(39)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Definisi operasional dan pengukuran variabel berisi pernyataan tentang

pengoperasiaan atau pendefinisian konsep penelitian termasuk penetapan cara dan

satuan pengukuran variabelnya, adalah sebagai berikut:

1. Shopping Lifestyle (X1)

Merupakan gaya hidup customer pada kategori fashion (seperti pakaian) yang

diukur melalui indikator: Sugiharto dan Japarianto,(2011).

a. Membeli setiap tawaran iklan mengenai produk kosmetik.

b. Membeli kosmetik terbaru ketika melihatnya di giant pondok tjandra

c. Berbelanja merek yang paling terkenal

d. Yakin bahwa merk terkenal yang dibeli terbaik dalam hal kualitas.

e. Sering membeli berbagai merk (produk kategori) daripada merk yang

biasanya dibeli.

f. Yakin ada dari merk lain (kategori) yang sama seperti yang dibeli.

2. Fashion Involvement (X2)

Merupakan ketertarikan perhatian pelanggan pada kategori fashion yang

diukur melalui pernyataan:

a. Mempunyai satu atau lebih kosmetik dengan model yang terbaru (trend)

b. Kosmetik adalah satu hal penting yang mendukung aktifitas

c. Lebih suka apabila kosmetik yang digunakan berbeda dengan yang lain

(40)

25

e. Dapat mengetahui banyak tentang seseorang dari kosmetik yang

digunakan

f. Ketika memakai kosmetik favorit, membuat orang lain tertarik melihatnya.

g. Mengetahui adanya kosmetik terbaru dibandingkan dengan orang lain

3. ImpulseBuying (Y)

adalah pembelian yang tidak direncanakan, dimana karakteristiknya adalah

pengambilan keputusannya dilakukan dalam waktu yang relatif cepat; dan

adanya keinginan untuk memiliki secara cepat. Variabel ini diukur dengan

indikator:

a. Bila ada tawaran khusus, cenderung berbelanja banyak

b. Berbelanja tanpa berpikir panjang dulu sebelumnya.

c. Segera memasuki sebuah toko kosmetik untuk membeli sesuatu.

d. Cenderung terobsesi untuk membelanjakan uang yang dibawa sebagian

atau seluruhnya untuk produk kosmetik

e. Cenderung membeli produk kosmetik meskipun tidak begitu

membutuhkannya

3.1.1. Pengukur an Variabel

Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan

skala interval. Sedangkan metode pengukuran sikap dalam penelitian ini adalah

skala semantic differential scale yaitu penilaian tujuh butir yang menyatakan

secara verbal dua kutub (bipolar) penilaian yang ekstrem,dapat berupa penilaian

mengenai: baik-buruk, kuat-lemah, modern-kuno. Responden diminta mengisi

yang tersedia untuk merefleksikan seberapa dekat sikap responden terhadap

(41)

subyek, obyek atau kejadian tertentu.metode ini umumnya digunakan untuk

mengetahui sikap pnilaian responden terhadap merk dagang, produk, identifikasi

perusahaan, individu tertentu, dan dimensi construct yang lain-lain.

Sering Jarang

3.2.Teknik Pengambilan Sampel

a. Populasi

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh konsumen yang

berbelanja di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo.

b. Sampel

Untuk penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan non probability

sampling dengan teknik purposive Sampling yaitu penarikan sampel

berdasarkan ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki oleh sampel. Ciri-ciri

sampel tersebut adalah: konsumen yang berbelanja berusia minimal 15tahun di

Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo.

Menurut Ferdinand (2002:48).

- Ukuran sampel yang harus terpenuhi dalam model ini adalah 100 -200

sampel untuk teknik (Maximum Likelihood Estimation).

- Tergantung pada jumlah parameter yang diestimasi pedomannya adalah

(42)

27

- Karena terdapat 18 indikator maka jumlah sampel dalam penelitian ini

adalah (18X6=108) maka sampel yang digunakan adalah minimal sebesar

108 responden.

3.3.Teknik Pengumpulan Data

3.3.1. J enis Data

• Data Primer

Data primer yang diolah dalam penelitian ini diperoleh dengan menyebarkan

kuesioner kepada konsumen yang berbelanja di Giant Hypermart Pondok

Tjandra Sidoarjo.

3.3.2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam analisis ini adalah data yang diambil

langsung dengan cara menyebarkan kuesioner.

3.3.3. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam skripsi ini dilakukan dengan menggunakan

beberapa cara berikut:

a. Tanya Jawab / Wawancara

Merupakan kegiatan langsung dengan bertanya jawab kepada responden.

b. Kuisioner

Yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan daftar

pertanyaan kepada konsumen yang berbelanja di Giant Hypermart Pondok

Tjandra Sidoarjo untuk diisi agar memperoleh jawaban langsung dari

konsumen.

(43)

3.4. Uji Validitas Dan Reliabilitas

3.4.1. Uji Validitas

Uji validitas adalah suatu derajat ketepatan alat ukur penelitian tentang isi

sebenarnya yang diukur. Analisis validitas item bertujuan untuk menguji apakah

tiap butir pertanyaan benar-benar sudah sahih, paling tidak kita dapat menetapkan

derajat yang tinggi dari kedekatan data yang diperoleh dengan apa yang diyakini

dalam pengukuran. Sebagai alat ukur yang digunakan, analisis ini dilakukan

dengan cara mengkorelasiakn antar skor item denga skor total item. Dalam hal ini

koefisien korelasi yang nilai signifikasinya lebih kecil dari 5 % (level of

significance) menunjukkan bahwa item-item tersebut sudah sahih sebagai

pembentukan indikator.

3.4.2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas untuk mengetahui apakah instrumen memiliki indeks

kepercayaan yang baik jika diujikan berulang. Suatu instrument pengukuran

dikatakan reliable jika pengukurannya konsisten dan akurat. Jadi uji reliabilitas

dilakukan dengan tujuan mengetahui konsistensi dari instrument sebagai alat ukur,

sehingga hasil pengukuran dapat dipercaya. Dalam penelitian ini menggunakan

rumus Cronbach Alpha dengan bantuan software smart PLS. Suatu pertanyaan

pada kuesioner dikatakan reliabel jika nilai Alpha Cronbach > 0,60 (Purbayu &

(44)

29

3.5. Teknik Analisis dan Uji Hipotesis

3.5.1. Teknik Analisis

Partial Least Square (PLS) merupakan sebuah metode untuk

mengkonstruksi model-model yang dapat diramalkan ketika faktor-faktor terlalu

banyak. PLS dikembangkan pertama kali oleh Wold sebagai metode umum untuk

mengestimasi path model yang menggunakan variabel laten dengan mutiple

indikator. PLS juga merupakan factor indeterminacy metode analisis yang

powerful karena tidak mengasumsikan data harus dengan pengukuran skala

tertentu, jumlah sampel kecil. Awalnya Partial least Square berasal dari ilmu

sosial (khususnya ekonomi, Herman Wold, 1996). Model ini dikembangkan

sebagai alternatif untuk situasi dimana dasar teori pada perancangan model lemah

atau indikator yang tersedia tidak memenuhi model pengukuran refleksif. PLS

selain dapat digunakan sebagai konfirmasi teori juga dapat digunakan untuk

membangun hubungan yang belum ada landasan terorinya atau untuk pengujian

proposisi.

PLS adalah dalam penggunaan model persamaan struktural untuk menguji

teori atau pengembangan teori untuk tujuan prediksi oleh Ghozali (2008: 5). Pada

situasi dimana penelitian mempunyai dasar teori yang kuat dan pengujian teori

atau pengembangan teori sebagai tujuan utama riset, maka metode dengan

covariance based (Generalized Least Squares) lebih sesuai. Namun demikian

adanya indeterminacy dari estimasi factor score maka akan kehilangan ketepatan

prediksi dari pengujian teori tersebut. Untuk tujuan prediksi, pendekatan PLS

lebih cocok. Karena pendekatan untuk mengestimasi variabel laten dianggap

(45)

sebagai kombinasi linier dari indikator maka menghindarkan masalah

indeterminacy dan memberikan definisi yang pasti dari komponen skor.

PLS merupakan pendekatan yang lebih tepat untuk tujuan prediksi, hal ini

terutama pada kondisi dimana indikator bersifat formatif. Dengan variabel laten

berupa kombinasi linier dari indikatornya, maka prediksi nilai dari variabel laten

dapat dengan mudah diperoleh, sehingga prediksi terhadap variabel laten yang

dipengaruhinya juga dapat dengan mudah dilakukan (Ghozali 2008).

3.5.1.1. Cara Kerja PLS

Estimasi parameter yang didapat dengan PLS dapat dikategorikan menjadi

tiga. Kategori pertama yaitu weight estimate yang digunakan untuk menciptakan

skor atau nilai variabel laten. Kedua mencerminkan estimasi jalur (path estimate)

yang menghubungkan variabel laten dan antar variabel laten dan indikatornya

(loading), ketiga berkaitan dengan means dan lokasi parameter (nilai konstanta

regresi) untuk indikator dan variabel laten. Untuk memperoleh ketiga estimasi ini,

PLS menggunakan proses iterasi tiga tahap dan setiap tahap iterasi menghasilkan

estimasi. Tahap pertama menghasilkan weight estimate, tahap kedua

menghasilkan estimasi untuk inner model dan outer model, tahap ketiga

menghasilkan estimasi means dan lokasi(konstanta).

Selama iterasi berlangsung inner model estimate digunakan untuk

mendapatkan outside approximation weigth, sementara itu outer model estimate

digunakan untuk mendapatkan inside approximation weight. Prosedur iterasi ini

akan berhenti ketika persentase perubahan setiap outside approximation weight

(46)

31

3.5.1.2. Model Spesifikasi PLS

PLS terdiri atas hubungan eksternal ( outer model atau model pengukuran)

dan hubungan internal (inner model atau model struktural). Hubungan tersebut

didefinisikan sebagai dua persamaan linier, yaitu model pengukuran yang

menyatakan hubungan antara peubah laten dengan sekelompok peubah penjelas

dan model struktural yaitu hubungan antar peubah-peubah laten (Gefen,2000).

Model analisis jalur semua variabel laten dalam PLS terdiri dari tiga set

hubungan; (1) inner model yang menspesifikasi hubungan antar variabel laten

(structural model), (2) outer model yang menspesifikasi hubungan antara variabel

laten dengan indikator atau variabel manifestasinya (measurement model), dan (3)

weight relation dalam mana nilai kasus dari variabel laten dapat diestimasi.

3.5.1.3. Langkah-Langkah PLS

Langkah-langkah pemodelan persamaan struktural PLS dengan software

adalah seperti dapat dilihat pada Gambar 3.1.

(47)

Gambar 3.1. Langkah-langkah Analisis PLS

(1). Langkah Pertama: Merancang Model Str uktural (inner model)

Perancangan model struktural hubungan antar variabel laten pada PLS

didasarkan pada rumusan masalah atau hipotesis penelitian.

(a) Teori, kalau sudah ada

(b) Hasil penelitian empiris

(c) Analogi, hubungan antar variabel pada bidang ilmu yang lain

(d) Normatif, misal peraturan pemerintah, undang-undang

(e) Rasional.

(48)

33

Oleh karena itu, pada PLS dimungkinkan melakukan eksplorasi hubungan

antar variabel laten, sehingga sebagai dasar perancangan model struktural bisa

berupa proposisi. Hal ini tidak direkomendasikan di dalam SEM, yaitu

perancangan model berbasis teori, sehingga pemodelan didasarkan pada hubungan

antar variabel laten yang ada di dalam hipotesis.

(2). Langkah Kedua: Merancang Model Pengukuran (outer model)

Pada PLS perancangan model pengukuran (outer model) menjadi sangat

penting, yaitu terkait dengan apakah indikator bersifat refleksif atau formatif.

Merancang model pengukuran yang dimaksud di dalam PLS adalah menentukan

sifat indikator dari masing-masing variabel laten, apakah refleksif atau formatif.

Kesalahan dalam menentukan model pengukuran ini akan bersifat fatal, yaitu

memberikan hasil analisis yang salah.

Dasar yang dapat digunakan sebagai rujukan untuk menentukan sifat

indikator apakah refleksif atau formatif adalah: teori, penelitian empiris

sebelumnya, atau kalau belum ada adalah rasional. Pada tahap awal penerapan

PLS, tampaknya rujukan berupa teori atau penelitian empiris sebelumnya masih

jarang, atau bahkan belum ada. Oleh karena itu, dengan merujuk pada definisi

konseptual dan definisi operasional variabel, diharapkan sekaligus dapat

dilakukan identifikasi sifat indikatornya, bersifat refleksif atau formatif.

(3). Langkah Ketiga: Mengkonstruksi diagr am J alur

Bilamana langkah satu dan dua sudah dilakukan, maka agar hasilnya lebih

mudah dipahami, hasil perancangan inner model dan outer model tersebut,

(49)

Selanjutnya dinyatakan dalam bentuk diagram jalur. Contoh bentuk diagram jalur

untuk PLS dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 3.2. Contoh Diagr am J alur untuk PLS

Fashion involvement

Impulse buying shopping lifestyle

X16 X15 X14 X13 X12 X11

X27 X26 X25 X24 X23 X22 X21

Y1

Y2

Y3

Y4

(50)

35

(4). Langkah Keempat: Konversi diagr am J alur ke dalam Sistem Per samaan

a) Outer model, yaitu spesifikasi hubungan antara variabel laten dengan

indikatornya, disebut juga dengan outer relation atau measurement model,

mendefinisikan karakteristik variabel laten dengan indikatornya. Model

indikator refleksif dapat ditulis persamaannya sebagai berikut:

x = Λxξ + εx

y = Λyη + εy

Di mana X dan Y adalah indikator untuk variabel laten eksogen (ξ) dan

endogen (η). Sedangkan Λx dan Λy merupakan matriks loading yang

menggambarkan seperti koefisien regresi sederhana yang menghubungkan

variabel laten dengan indikatornya. Residual yang diukur dengan εx danεy

dapat diinterpretasikan sebagai kesalahan pengukuran atau noise.

Model indikator formatif persamaannya dapat ditulis sebagai berikut:

ξ = ΠξXi + δx

η = ΠηYi + δy

Dimana ξ, η, X, dan Y sama dengan persamaan sebelumnya. Πx dan Πy

adalah seperti koefisen regresi berganda dari variabel laten terhadap

indikator, sedangkan δx dan δy adalah residual dari regresi.

Pada model PLS Gambar 3 terdapat outer model sebagai berikut:

Untuk variabel latent eksogen 1 (reflektif)

x1 = λx1ξ1 + δ1

x2 = λx2ξ1 + δ2

(51)

x3 = λx3ξ1 + δ3

Untuk variabel latent eksogen 2 (formatif)

ξ2 = λx4 X4 + λx5 X5 + λx6 X6 + δ4

Untuk variabel latent endogen 1 (reflektif)

y1 = λy1η1 + ε1

y2 = λy2η1 + ε2

Untuk variabel latent endogen 2 (reflektif)

y3 = λy3η2 + ε3

y4 = λy4η2 + ε4

b) Inner model, yaitu spesifikasi hubungan antar variabel laten (structural

model), disebut juga dengan inner relation, menggambarkan hubungan

antar variabel laten berdasarkan teori substansif penelitian. Tanpa

kehilangan sifat umumnya, diasumsikan bahwa variabel laten dan

indikator atau variabel manifest diskala zero means dan unit varian sama

dengan satu, sehingga parameter lokasi (parameter konstanta) dapat

dihilangkan dari model.

Model persamaannya dapat ditulis seperti di bawah ini:

η = βη + Γξ + ζ

Dimana η menggambarkan vektor vaariabel endogen (dependen), ξ adalah

vektor variabel laten eksogen dan ζ adalah vektor residual (unexplained

variance). Oleh karena PLS didesain untuk model rekursif, maka

(52)

37

dependen η, atau sering disebut causal chain system dari variabel laten

dapat dispesifikasikan sebagai berikut:

ηj = Σi βji ηi + Σi γjbξb + ζj

Dimana γjb (dalam bentuk matriks dilambangkan dengan Γ) adalah

koefisien jalur yang menghubungkan variabel laten endogen (η) dengan

eksogen (ξ). Sedangkan βji (dalam bentuk matriks dilambangkan dengan

β) adalah koefisien jalur yang menghubungkan variabel laten endogen (η)

dengan endogen (η); untuk range indeks i dan b. Parameter ζj adalah

variabel inner residual.

Pada model PLS Gambar 3 inner model dinyatakan dalam sistem

persamaan sebagai berikut:

η1 = γ1ξ1 + γ2ξ2 + ζ1

η2 = β1η1 + γ3ξ1 + γ4ξ2 + ζ2

c) Weight relation, estimasi nilai variabel latent. Inner dan outer model

memberikan spesifikasi yang diikuti dengan estimasi weight relation

dalam algoritma PLS:

ξb = Σkb wkb xkb

ηi = Σki wki xki

Dimana wkb dan wki adalah k weight yang digunakan untuk membentuk

estimasi variabel laten ξb dan ηi. Estimasi data variabel laten adalah linear

agregat dari indikator yang nilai weight-nya didapat dengan prosedur

estimasi PLS.

(53)

(5). Langkah Kelima: Estimasi

Metode pendugaan parameter (estimasi) di dalam PLS adalah metode

kuadrat terkecil (least square methods). Proses perhitungan dilakukan dengan

cara iterasi, dimana iterasi akan berhenti jika telah tercapai kondisi konvergen.

Pendugaan parameter di dalam PLS meliputi 3 hal, yaitu :

1) Weight estimate yang digunakan untuk menghitung data variabel laten

2) Estimasi jalur (path estimate) yang menghubungkan antar variabel laten dan

estimasi loading antara variabel laten dengan indikatornya.

3) Means dan parameter lokasi (nilai konstanta regresi, intersep) untuk

indikator dan variabel laten.

Sebagai langkah awal iterasi, algoritmanya adalah menghitung

aproksimasi outside dari variabel latent dengan cara menjumlahkan indikator

dalam setiap kelompok indikator dengan bobot yang sama (equal weight). Bobot

untuk setiap iterasi diskalakan untuk mendapatkan unit varian dari skor variabel

laten untuk N kasus dalam sampel. Dengan menggunakan skor untuk setiap

variabel latent yang telah diestimasi, kemudian digunakan untuk pendugaan

aproksimasi inside variabel laten.

Ada tiga skema bobot aproksimasi inside yang telah dikembangkan untuk

mengkombinasikan variabel laten tetangga (neighboring LV) untuk mendapatkan

estimasi variabel laten tertentu yaitu: centroid, factor dan path weighting. Skema

weighting dengan centroid merupakan prosedur asli yang digunakan oleh Wold.

Metode ini hanya mempertimbangkan tanda korelasi antara variabel laten dan

(54)

39

model struktural tidak diperhitungkan. Skema weighting dengan faktor

menggunakan koefisien korelasi antara variabel laten dengan variabel laten

tetangga sebagai pembobot (weight). Variabel laten menjadi principal component

(komponen utama) dari variabel laten tetangganya. Skema weighting dengan

faktor memaksimumkan varian dari komponen utama variabel laten ketika jumlah

variabel laten menjadi tak terhingga jumlahnya. Skema dengan path weighting

membobot variabel laten tetangga dengan cara berbeda tergantung apakah

variabel laten tetangga merupakan anteseden atau konsekuen dari variabel laten

yang ingin kita estimasi.

Dengan hasil estimasi variabel laten dari aproksimasi inside, maka

didapatkan satu set pembobot baru dari aproksimasi outside. Jika skor

aproksimasi inside dibuat tetap (fixed), maka dapat dilakukan regresi sederhana

atau regresi berganda bergantung apakah indikator dari variabel laten bersifat

refleksif ataukah model berbentuk formatif. Oleh karena

inside

outside

(55)

systematic part accounted

(6). Langkah Keenam: Goodness of Fit

outer model

convergent discriminant validity composite

realibility outer model

substantive content

relative weight

(56)

inner model

Stone-Geisser Q Square test

bootstrapping

a). Outer Model

Outer model

try out

Convergent validity

loading

Discriminant validity

cross loading

cross loading

cross loading

square root of average variance extracted

square root of average

(57)
(58)

m

R path analysis

(7). Langkah Ketujuh: Pengujian Hipotesis

outer model

inner model

inner model

distribution free

t-test

p-value ≤

(59)

number of samples

case per sample

3. Asumsi PLS

inner model

4. Sample Size

resampling Bootestrapping

structural paths inner model.

(60)

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskr iptif Hasil Penelitian

4.1.1. Gambaran Umum Per usahaan

Lokasi penelitian ini berada di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo,

adapun alasan peneliti memilih lokasi tersebut adalah sebagai berikut:

a. Penduduknya terdiri dari berbagai strata baik ekonomi, pendidikan dan

pekerjaan yang beraneka ragam.

b. Sebagian besar penduduknya melakukan konsumsi yang tinggi..

c. Wilayah tersebut merupakan tempat yang strategis dalam melakukan

aktivitas jual beli.

d. Tingkat pembelian konsumen yang cenderung tinggi sebab dilokasi

tersebut mendukung sekali dalam melakukan pembelian akan suatu

produk.

4.2. Analisis Karakteristik Responden

Data mengenai keadaan responden dapat diketahui melalui jawaban

responden dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner.

a. Jenis Kelamin

Dari 108 responden yang menjawab kuesioner yang telah diberikan dapat

diketahui jenis kelamin dari responden yakin pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.1. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%) 1 Laki-laki 48 44.4% 2 Wanita 60 55.6% 108 100%

Sumber: Data kuesioner diolah

(61)

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa responden yang berkunjung

dan berbelanja di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo. kuisioner dibagikan

sebanyak 108 kuisioner, 48 berjenis kelamin laki-laki dan berjenis kelamin

perempuan sebanyak 60 responden, hal ini menunjukkan bahwa mayoritas yang

menjadi karyawan pada perusahaan tersebut adalah perempuan..

b. Usia

Dari 108 responden yang menjawab kuesioner yang telah diberikan dapat

diketahui usia para responden yaitu pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

No Usia (Tahun) Jumlah Persentase (%) 1 21-30 20 14.84% 2 31-40 55 48.7% 3 41-50 33 29,6% Total 108 100%

Sumber: Data diolah

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat dari responden yang berkunjung dan

berbelanja di Giant Hypermart Pondok Tjandra Sidoarjo lebih didominasi oleh

responden yang berusia 31-40 tahun sebanyak 55 responden, kemudian pada

peringkat kedua adalah responden yang berusia 41-50 tahun sebanyak 33

(62)

47

4.2.1. Deskr ipsi Variabel

4.2.1.1. Deskr ipsi Variabel Shopping Lifestyle(X1)

Tabel 4.3. Frekuensi Hasil Jawaban Responden Mengenai Shopping Lifestyle

No Pertanyaan Skor Jawaban Skor

1 2 3 4 5 6 7

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Indikator pertama dari shopping life style, yaitu Membeli setiap tawaran iklan mengenai

produk kosmetik, mendapat respon terbanyak pada skor 5 dengan jumlah

responden sebanyak 40, kemudian terbanyak kedua terdapat pada skor 6

Gambar

Tabel 1.1. Data Top Brand Index Kosmetik pada tahun 2009
Tabel 1.4. Penjualan Kosmetik 2009-2011 Dalam Rupiah
Gambar 3.1.  Langkah-langkah Analisis PLS (Resampling Bootstraping)
Gambar 3.2. Contoh Diagram Jalur untuk PLS
+7

Referensi

Dokumen terkait

uan dari ide ari eksperimen hasil angket y kan bahwa p at pada gu an pada pemb umah. akukan oleh gu n pembelajaran kan Model Guided Discov ra mandiri mel b yang bersifa onsep.

penuh. Para pelaku yang paling penting dalam kehidupan seorang anak adalah, orang tuanya. Oleh karena itu, keluarga dapat menjadi faktor tunggal yang terpenting

Penyelesaian model goal programming dapat dibantu oleh software Lingo untuk mencari solusi yang optimal hasil dari output Lingo akan menunjukkan

Event , dan What They Say. Halaman ini merupakan halaman yang akan muncul ketika guru melakukan login pada CAT. Halaman ini terdapat menu utama seperti halaman utama, hanya

Pondok Pesantren sekarang ini mengalami pergeseran nilai yang luar biasa khususnya berkaitan dengan dunia pekerjaan. Sekarang ini pengembangan kewirausahaan di

Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa secara umum anak pada masa akhir kanak-kanak di Yogyakarta memiliki tingkat kenakalan yang rendah.. Kata Kunci: Kenakalan Anak,

Berdasarkan Tabel 4.9 nilai AIC untuk metode GWNBBR Adaptive Bisquare Kernel menghasilkan nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan metode Regresi Binomial Negative

Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para penulis/penerbit yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional