Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I - 1
BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Sanitasi sebagai salah satu aspek pembangunan memiliki fungsi penting dalam menunjang tingkat kesejahteraan masyarakat karena berkaitan dengan kesehatan, pola hidup, kondisi lingkungan permukiman, estetika serta kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari. Sanitasi merupakan salah satu faktor terpenting dalam mewujudkan layanan yang terkait dengan pengentasan kemiskinan dan peningkatan produktivitas.
Namun masih sering dijumpai bahwa aspek-aspek pembangunan sanitasi yang meliputi penanganan air limbah, penyediaan air bersih, penanganan persampahan dan pengelolaan drainase masih berjalan sendiri-sendiri. Meskipun masuk dalam satu bidang pembangunan yaitu sektor sanitasi tetapi masing-masing aspek tersebut ditangani secara parsial atau terpisah sehingga banyak terjadi tumpang tindih kegiatan pembangunan di bidang sanitasi oleh institusi yang berbeda- beda, di sisi lain masih banyak ditemui aspek sanitasi yang belum tertangani oleh siapapun. Hal tersebut seringkali membingungkan masyarakat sebagai penerima manfaat sekaligus pelaku pembangunan.
Pelaksanaan pembangunan sanitasi sering berjalan secara parsial dan belum terintegrasi dalam suatu “rencana besar” yang sifatnya integratif dan memiliki sasaran secara menyeluruh serta dengan jangka waktu yang lebih panjang. Masing-masing institusi melaksanakan kegiatannya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya sendiri-sendiri padahal seringkali kegiatan tersebut sebetulnya dapat diintegrasikan dalam satu kegiatan yang saling bersinergi, sementara masih terdapat pula institusi yang tidak memiliki tugas menangani sanitasi secara langsung namun sangat dibutuhkan peranannya dalam mendukung pembangunan sanitasi.
Sejalan dengan tuntutan dan cita-cita peningkatan standar kualitas hidup masyarakat sementara di sisi lain tingkat pencemaran lingkungan semakin tinggi dan adanya keterbatasan daya dukung lingkungan itu sendiri sehingga dampak negatif yang disebabkan oleh kualitas lingkungan juga masih sangat tinggi, menuntut sektor sanitasi menjadi salah satu aspek pembangunan yang harus diperhatikan. Belajar dari pengalaman, permasalahan sanitasi tidak dapat dilakukan secara parsial. Adanya perencanaan yang tumpang tindih, tidak tepat sasaran, dan tidak berkelanjutan tidak boleh terulang lagi. Sanitasi harus ditangani secara multistakeholder dan komprehensif. Siapapun yang terkait dalam penyediaan layanan sanitasi di kabupaten, harus dilibatkan secara aktif.
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I - 2
Pembangunan sektor sanitasi di Indonesia sudah harus merupakan upaya bersama yang terkoordinir dari semua tingkatan pemerintah, lembaga non pemerintah, organisasi berbasis masyarakat, LSM dan sektor swasta. Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) adalah salah satu program untuk mewujudkan perencanaan dan pembangunan sanitasi yang komprehensif. Keterlibatan lintas sektor dalam pembangunan sanitasi dilakukan demi mewujudkan kondisi sanitasi yang lebih baik, baik dalam konteks nasional (capaian universal access, 100 - 0 - 100) maupun internasional.
Salah satu upaya memperbaiki kondisi sanitasi adalah dengan menyiapkan sebuah perencanaan pembangunan sanitasi yang responsif dan berkelanjutan. Dalam hal ini, Pemerintah mendorong kota dan kabupaten di Indonesia untuk menyusun Strategi Sanitasi Perkotaan atau Kabupaten (SSK) yang memiliki prinsip:
Berdasarkan data aktual
Berskala kota atau kabupaten
Disusun sendiri oleh kota atau kabupaten (dari, oleh, dan untuk kota atau kabupaten tersebut)
Menggabungkan pendekatan bottom-up dan top-down
Guna menghasilkan SSK yang demikian, maka kota atau kabupaten harus mampu memetakan situasi sanitasi wilayahnya. Pemetaan situasi sanitasi yang baik hanya bisa dibuat apabila kota atau kabupaten mampu mendapatkan informasi lengkap, akurat, dan mutakhir (kekinian) tentang kondisi sanitasi, baik menyangkut aspek teknis mapun non teknis.
Untuk maksud tersebut maka dibentuklah kelompok kerja (Pokja) Sanitasi, yang diharapkan dapat berfungsi sebagai unit koordinasi perencanaan, pelaksanaan, pengembangan dan pengawasan serta monitoring pembangunan sanitasi dari berbagai aspek. Di tingkat nasional, koordinasi kebijakan dilakukan oleh Tim Teknis Pembangunan Sanitasi (TTPS) yang menyatukan 8 (delapan) pemangku kepentingan utama dari lingkungan pemerintah (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementrian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Kementrian Keuangan, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Kementrian Perindustrian). Di provinsi, Pokja Provinsi dibawah koordinator Sekretaris Daerah (Setda) provinsi akan menjadi titik pusat regional untuk perencanaan, pemantauan dan evaluasi sanitasi. Di level kabupaten, Pokja Sanitasi Kabupaten dibentuk dan
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I - 3
dikoordinir oleh Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota berdasarkan SE Kemendagri No. 660/4919/SJ tahun 2012.
Pokja sanitasi Kabupaten Aceh Jaya secara struktural dibentuk dengan Surat Keputusan Bupati Aceh Jaya Nomor 132 Tahun 2016, Tanggal 7 Maret 2016. Komposisi Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya terdiri dari tim pengarah dan tim teknis yang terbagi berdasarkan bidang kerjanya. Pokja sanitasi kabupaten adalah pihak yang menjadi penanggung jawab dalam mengembangkan perencanaan dan pembangunan sanitasi skala Kabupaten/kota. Mereka memastikan koordinasi antar berbagai dinas pemerintah kabupaten dan pihak-pihak non pemerintah dapat menciptakan lingkungan yang mendukung untuk perencanaan sanitasi yang terkoordinir dan sedang berjalan di tingkat kabupaten.
Fase pertama penyusunan dokumen perencanaan sanitasi Kabupaten Aceh Jaya telah berhasil menyusun Buku Putih Sanitasi (BPS), Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) dan Dokumen Memorandum Program Sanitasi (MPS). Sedangkan pada fase kedua ini, diharapkan dapat tersusun Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK). Pemutakhiran SSK dimaksudkan juga untuk mengukur hasil pembangunan sanitasi selama 5 tahun sebelumnya yang selanjutnya menjadi bahan perencanaan pembangunan sanitasi 5 tahun mendatang.
Secara umum, Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) merupakan salah satu dokumen perencanaan dari Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) di tingkat kabupaten yang dapat dijadikan sebagai pedoman semua pihak dalam membangun dan mengelola sanitasi secara komprehensif, berkelanjutan dan partisipatif untuk memperbaiki perencanaan dan pembangunan sanitasi dalam rangka mencapai target-target pencapaian layanan sektor sanitasi kabupaten dalam tiga kerangka waktu yaitu jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Sebagai langkah awal Pokja Sanitasi akan menyusun suatu perencanaan sanitasi secara lebih komprehensif, integratif, inovatif dan melibatkan masyarakat sehingga sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat. Pembangunan sanitasi tidak hanya ditekankan pada pembangunan sarana fisik tetapi ada hal lain yang perlu dilakukan agar sarana tersebut bermanfaat secara berkelanjutan. Proses perencanaan harus dilakukan dengan melihat permasalahan yang muncul baik masalah yang terkait dengan aspek teknis maupun aspek non-teknis secara menyeluruh, sehingga solusinya pun akan tepat, sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I - 4
Di dalam menyusun sebuah dokumen perencanaan diharapkan ada sinkronikasi dan sinergitas antar semua dokumen perencanaan yang ada. Posisi dokumen SSK terhadap dokumen perencanaan yang sudah ada adalah :
a). Hubungan Strategi Sanitasi Kabupaten dengan RPJMK.
RPJMK sebagai penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Aceh Jaya dipergunakan sebagai sumber dasar bagi SSK untuk perencanaan jangka pendek tahun 2017 s/d 2021. Hal ini disesuaikan dengan jangka waktu jabatan Bupati Aceh Jaya yang akan berakhir pada tahun 2017.
Oleh karena itu, SSK ini merupakan penjabaran operasional dari RPJMK khususnya yang berkaitan dengan pembangunan sanitasi yang bersifat lintas sektor, komprehensif, berkelanjutan dan partisipatif sesuai dengan konsep dasar pemikiran RPJMK.
b). Hubungan SSK dengan Rencana Strategis (Renstra) SKPK
Renstra SKPK sebagai penjabaran dari RPJMK juga dipergunakan sebagai bahan penyusunan SSK khususnya tahun rencana dari 2017 s/d 2021. Mengingat bahwa Renstra SKPK hanya mengatur tentang rencana sektor sanitasi secara parsial dan sektoral, maka dalam SSK dilakukan sinergitas rencana sektor sanitasi dalam sebuah kondisi sanitasi kabupaten yang saling berkait, simultan dan berkesinambungan. Karena Renstra SKPK dipergunakan sebagai dasar dari penyusunan SSK ini maka implementasi pembangunan sanitasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan SKPK yang terkait dengan sanitasi.
c). Hubungan SSK dengan RTRW
Kebijakan dan strategi Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Aceh Jaya Tahun 2013 - 2032 disusun dalam rangka mewujudkan rencana tata ruang ruang berkelanjutan dan operasional, serta mengakomodasi paradigma baru dalam perencanaan yang terdiri dari beberapa kebijakan dan strategi seperti yang sudah tertuang dalam SSK, dapat digunakan sebagai salah satu acuan untuk mensinergikan kebijakan dan strategi RTRW yang ada kaitanya dengan pembangunan sektor sanitasi.
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I - 5
1.2 Metodologi Penyusunan
Metode yang digunakan dalam penyusunan Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) Aceh Jaya Tahun 2016 ini adalah studi dokumen dan pengumpulan data primer dan sekunder yang ada di masing-masing SKPK yang terkait, dan didukung dengan observasi objek yang relevan.
Selain itu dilakukan beberapa jenis survey yaitu survey keterlibatan sektor swasta, survey komunikasi dan media, survey partisipasi masyarakat, sanitasi sekolah dan studi kebijakan kepada beberapa responden baik kalangan SKPK, Pengusaha, Media maupun ke masyarakat langsung dan juga dilakukan survey Environmental Health Risk Assesment (EHRA) dengan menggunakan 800 responden dari 20 desa di Kabupaten Aceh Jaya.
Analisa yang digunakan adalah analisa kualitatif dengan membandingkan data dan informasi yang ada dikaitkan dengan kondisi yang seharusnya atau kondisi ideal untuk mengetahui seberapa jauh kesenjangan (gap) yang ada. Untuk penentuan area dengan resiko tinggi digunakan analisa kualitatif hasil EHRA.
1.2.1. Tahapan Penyusunan Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) Penyusunan pemutakhiran SSK dilakukan melalui beberapa tahap yaitu:
Proses 1: Internalisasi dan penyamaan persepsi 1.1 Kick off Kabupaten Aceh Jaya
1.2 Penetapan Rencana Kerja dan Pembagian Tugas Proses 2: Pemetaan kondisi dan kemajuan pembangunan sanitasi
2.1 Pelaksanaan studi EHRA dan 6 kajian sanitasi lainnya
2.2 Pemetaan profil wilayah dan sanitasi (Instrumen Profil Sanitasi) 2.3 Identifikasi permasalahan sanitasi
2.4 Penetapan area berisiko sanitasi Proses 3: Skenario pembangunan sanitasi
3.1 Penetapan visi dan misi
3.2 Penetapan zona dan sistem sanitasi serta tujuan dan sasarannya
3.3 Perumusan strategi pembangunan sanitasi (IFAS dan EFAS serta SWOT) 3.4 Perumusan program dan kegiatan
3.5 Perumusan Monitoring dan Evaluasi Capaian SSK Proses 4: Konsolidasi penganggaran dan pemasaran sanitasi
4.1 Internalisasi ke seluruh SKPK
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I - 6
4.2 Eksternalisasi ke Pokja Provinsi dan Satker K/L dan sumber lain terkait sanitasi 4.3 Pemasaran sanitasi (CSR dan pendanaan non pemerintah lain)
4.4 Komitmen dan Indikasi Pendanaan Proses 5: Finalisasi
5.1 Pengawalan dan penganggaran 5.2 Penulisan dokumen SSK
5.3 Penyiapan ringkasan eksekutif SSK 5.4 Konsultasi Publik
5.5 Advokasi ke Bupati Kabupaten Aceh Jaya 1.2.2. Sumber Data
Sumber data dalam penyusunan buku putih dikelompokan menjadi 2 jenis yaitu:
Data primer; didalamnya meliputi penilaian resiko kesehatan lingkungan, penilaian sanitasi berbasis masyarakat, penilaian penyedia sarana sanitasi oleh sektor swasta, penilaian peran serta masyarakat dalam bidang sanitasi, peran media dalam mengkomunikasikan pembangunan sanitasi, peran sekolah dalam bidang sanitasi serta peran kelembagaan baik pemerintah, swasta dan masyarakat. Data ini diperoleh dengan cara melakukan beberapa studi terkait aspek kelembagaan, keuangan, media dan komunikasi, keterlibatan sektor swasta, keterlibatan masyarakat, sanitasi sekolah dan studi EHRA (Environmental Health Risk Assessment) dimana sebagian data ini bersifat kualitatif.
Data sekunder; data kuantitatif yang telah tersedia di setiap SKPK yang didalamnya meliputi aspek demografi, kepadatan penduduk, data keluarga miskin, kesehatan masyarakat, arah dan kebijakan pembangunan kabupaten, data kelembagaan dan keuangan, dan lain-lain yang sifatnya umum.
Sumber data sekunder untuk penyusunan dokumen pemutakhiran SSK Aceh Jaya, diantaranya:
Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Aceh Jaya 2014 - 2034, Bappeda Kabupaten Aceh Jaya.
Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMK) Kabupaten Aceh Jaya, 2012 – 2017, Bappeda Kabupaten Aceh Jaya.
Dokumen Aceh Jaya Dalam Angka Tahun 2015, BPS Kabupaten Aceh Jaya.
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I - 7
Dokumen Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Jaya Tahun 2015, Dinas Kesehatan Kabupaten .Aceh Jaya
Dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPK) Kabupaten Aceh Jaya Tahun 2015, Bappeda Kabupaten Aceh Jaya.
Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LPKJ) Kabupaten Aceh Jaya Tahun 2013, Bappeda Kabupaten Aceh Jaya Tahun 2014.
Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LPKJ) Kabupaten Aceh Jaya Tahun 2014, Bappeda Kabupaten Aceh Jaya Tahun 2015.
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya tahun 2013
Strategi Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya tahun 2013
Memorandum Program Sanitasi (MPS) Kabupaten Aceh Jaya tahun 2014
Laporan-laporan kegiatan tahunan SKPK.
1.3 Dasar Hukum
Penyusunan Dokumen Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya berpijak pada beberapa peraturan perundang-undangan yang berlaku di tingkat nasional atau pusat, propinsi maupun daerah, yang meliputi;
A. Undang-Undang :
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya, Kabupaten Aceh Tamiang di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air;
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
5. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah;
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I - 8
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh;
7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025;
8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2007 Tentang Penataan Ruang;
9. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah;
10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
12. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman;
13. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah;
B. Peraturan Pemerintah :
1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1982 Tentang Pengaturan Air;
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air;
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1991 Tentang Sungai;
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan;
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 tahun 2001 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Pengembangan Sistim Penyediaan Air Minum;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
9. Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2005 tentang Standar Pelayanan Minimum;
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I - 9
10. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;
11. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
12. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Tata Ruang.
13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 Tentang Sungai.
14. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan sampah rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga;
C. Peraturan Presiden Republik Indonesia :
1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panang Menengah Nasional (RPJM) Tahun 2004-2009.
2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2005 Tentang Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur.
3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2010 Tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur.
4. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014;
5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 185 Tahun 2014 Tentang Pengembangan Air Minum Dan Sanitasi;
D. Keputusan Presiden :
1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 Tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan;
2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 2001 Tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air;
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2002 Tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 2001 Tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air.
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I - 10
E. Peraturan Menteri Republik Indonesia :
1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/1992 tentang Persyaratan dan Pengawasan Kualitas Air;
2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis Mengenai Dampak Lingkungan Proyek Bidang Pekerjaan Umum;
3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 294/PRT/M/2005 tentang Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum;
4. Permen PU Nomor 16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan Dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman (KSNP-SPALP);
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten;
6. Permen PU Nomor 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang;
7. Permen PU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pedoman Pembinaan Penyelenggaraan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana Dan Prasarana Persampahan Dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 114 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa.
10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
F. Keputusan Menteri :
1. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 35/MENLH/7/1995 tentang Program Kali Bersih;
2. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 269/1996 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan UKL dan UPL Departemen Pekerjaan Umum;
3. Keputusan Menteri Negara lingkungan Hidup No 337/1996 tentang Petunjuk Tata Laksana UKL dan UPL Departemen Pekerjaan Umum;
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I - 11
4. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 296/1996 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan UKL –UPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum;
5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/Menkes/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan;
6. Kepmen Kimpraswil 534/2000 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Permukiman;
7. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL;
8. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu air Limbah Domestik;
9. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1205/Menkes/Per/X/2004 tentang Pedoman Persyaratan Kesehatan Pelayanan Sehat Pakai Air (SPA);
10. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/KPTS/M/2005 tentang Pedoman Pemberdayaan Penanggung Jawab Teknik Badan Usaha Jasa Konstruksi Kualifikasi Kecil;
11. Kepmen PU Nomor 21 tahun 2006 Tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan persampahan.
12. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
G. Peraturan Daerah Provinsi Aceh :
1. Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan Qanun (Lembaran Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2007 Nomor 03, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 03);
2. Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2007 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas, Lembaga Teknis Daerah, dan Lembaga Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Lembaran Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2007 Nomor 05, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 05;
3. Qanun Kabupaten Aceh Jaya Nomor 3 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Aceh Jaya.
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I - 12
H. Surat Edaran Menteri :
o Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 660/4919/SJ Tahun 2012 Tanggal 30 November 2012 Tentang Pedoman Pengelolaan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman di Daerah.
I. Surat Keputusan Bupati Aceh Jaya :
o Surat Keputusan Bupati Aceh Jaya Nomor 132 Tahun 2016 Tentang Pembentukan Kelompok Kerja Sanitasi / AMPL Kabupaten Aceh Jaya.
1.4. Sistematika Penulisan
Penyusunan Dokumen Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya ini dibagi dalam beberapa Bab dan Sub-Bab sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Berisikan latar belakang penulisan dan maksud serta tujuan penulisan dokumen sanitasi ini. Bab ini juga menguraikan metodologi penyusunan, dasar hukum, SSK Kabupaten Aceh Jaya dan sistematika penulisan.
BAB II PROFIL SANITASI SAAT INI
Menjelaskan wilayah kajian SSK dan kondisi umum Kabupaten/Kota yang mencakup: administratif, kependudukan, jumlah penduduk miskin, keuangan dan perekonomian daerah, kebijakan penataan ruang, dan struktur organisasi serta tugas dan tanggung jawab setiap perangkat daerah, komunikasi dan media. Dan juga hasil studi EHRA dan kajian lainnya teridentifikasinya permasalahan sanitasi (air limbah, sampah dan drainase), serta ditetapkannya area berisiko sanitasi yang merupakan proses pemetaan kondisi dan kemajuan pembangunan sanitasi.
Semuanya ini tertuang dalam sub bab gambaran wilayah, kemajuan pelaksanaan SSK, profil sanitasi saat ini, serta area berisiko dan permasalahan.
BAB III KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI
Bab ini menjelaskan kerangka pengembangan sanitasi yang mencakup informasi:
(i) Visi dan misi Sanitasi, (ii) Tahapan Pengembangan Sanitasi (Sistem dan zonasi),
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I - 13
(iii) tujuan dan sasaran sanitasi, (iv) skenario pencapaian sasaran, dan (v) kemampuan pendanaan sanitasi daerah .
BAB IV STRATEGI PENGEMBANGAN SANITASI
Dalam bab 5 ini akan menguraikan tentang strategi sanitasi yang mencakup aspek teknis dan aspek non teknis seperti; kelembagaan, pendanaan, komunikasi, partisipasi masyarakat dan dunia usaha serta aspek kesetaraan jender dan keberpihakan pada masyakarat miskin.
BAB V PROGRAM, KEGIATAN DAN INDIKASI PENDANAAN SANITASI
Pada dasarnya Bab ini merupakan hasil pembahasan yang diperoleh saat internalisasi dan eksternalisasi program dan kegiatan setelah dilakukan perbaikan- perbaikanseperlunya. Bab ini juga memberikan informasi detail mengenai program dan kegiatan yang dihasilkan dari simulasi menggunakan Instrumen Perencanaan Sanitasi dan juga berisi ringkasan, kebutuhan biaya pengembangan sanitasi dengan sumber pendanaan pemerintah, kebutuhan biaya pengembangan sanitasi dengan sumber pendanaan non pemerintah serta antisipasi funding gap.
BAB VI MONITORING DAN EVALUASI CAPAIAN SSK
Dalam bab terakhir ini menjelaskan mekanisme monitoring dan evaluasi implementasi SSK untuk 5 (lima) tahun kedepan yaitu tahun 2017 - 2021
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 1
BAB II
PROFIL SANITASI SAAT INI
2.1. GAMBARAN WILAYAH
2.1.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRATIF
Kabupaten Aceh Jaya terletak pada kordinat 04022’-05016’ Lintang Utara dan 95002’-96003’
Bujur Timur dengan luas daerah 326.078 Ha. Kecamatan Setia Bakti merupakan kecamatan terluas dengan luas wilayah sekitar 19 persen (62.900 Ha), sedangkan Kecamatan Indra Jaya mempunyai luas wilayah terkecil yaitu sekitar 5 persen (16.300 Ha) dari wilayah kabupaten.
Secara geografi kecamatan-kecamatan di wilayah Kabupaten Aceh Jaya berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia. Jalur sepanjang pantai juga merupakan tempat permukiman penduduk terpadat dibandingkan dengan daerah pemukiman yang jauh dari pantai.
Jaringan jalan yang menyusuri pinggir pantai yang menghubungkan Banda Aceh dengan kota-kota di bagian barat dan selatan provinsi ini menjadi faktor yang sangat mendukung bagi penduduk untuk membangun permukiman di sepanjang pantai. Pusat-pusat perdagangan dan berbagai aktivitas perekonomian lainnya pun pada umumnya berlokasi di kota-kota kecamatan yang berada di sepanjang pantai wilayah ini.
Sampai saat ini, ada 16 pulau yang terdata dan mempunyai nama. Pulau-pulau tersebut tersebar di empat kecamatan. Terdapat juga dua danau/rawa yang terletak di Kecamatan Teunom dan Panga.
A. Topografi
Secara topografi kondisi Kabupaten Aceh Jaya memiliki daratan yang berbukit-bukit, bergunung- gunung dengan tebing terjal dan kemiringan yang tajam yang dialiri sungai besar dan kecil serta dibedakan menjadi 2.000 – 2.500 Dpl, <2.000 berdasarkan kelompok ketinggian tersebut dominan memiliki ketinggian <2.000 Dpl hanya Kecamatan Sampoiniet dan Kecamatan Darul Hikmah yang memiliki ketinggian 2.000 - 2.500 Dpl.
B. Klimatologi
Sebagaimana wilayah Indonesia atau wilayah tropis lainnya, Kabupaten Aceh Jaya juga beriklim tropis (hangat dan lembab) dan dikenal 2 (dua) musim, yaitu musim hujan dengan gejolak
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 2
gelombang laut yang biasanya terjadi bulan September- Februari dengan jumlah hari hujan terbesar berkisar antara 120 -170 hari, jumlah hujan rata-rata per tahun berkisar antaran 2000 - 4000 mm.
Suhu rata-rata di wilayah Kabupaten Aceh Jaya berkisar antara 25,8 0C – 26,9 0C dan kelembaban antara 84-90,7 persen. Kecepatan angin maksimun berkisar antara 10 – 27 knot walaupun rata-rata kecepatan angin hanya sebesar 2,8 – 3,7 knot. Hari hujan rata-rata perbulan 16 hari dengan rata-rata curah hujan per bulan 328,1 mm.
Musim kemarau yang biasanya berlangsung antara bulan Meret-Agustus dengan tekanan udara rata-rata berkisar antara 260-330 C pada siang hari dan 230-250 C malam hari dan kelembapan antara 84-92 %. Kecepatan angin maksimum berkisar antara 12-15 knot walaupun rata-rata kecepatan angin hanya sebesar 0-4 knot. Berdasarkan kemiringan dan ketinggian daratan diatas 25 m dpl Kabupaten Aceh Jaya memiliki daratan yang landai.
C. Hidrologi
Dalam menunjang berbagai kegiatan seperti pertanian, industri rumah tangga dan lain sebagainya, sumber daya air yang dapat dimanfaatkan antara lain sebagai berikut:
Danau
Danau yang tersedia di Kabupaten Aceh Jaya berpotensi untuk dijadikan sebagai obyek wisata, danau-danau tersebut antara lain Geunang Laot Pinenung Suasa, Geunang Laot Bhee, dan Geunang Paya Laot.
Daerah Aliran Sungai (DAS)
Untuk memenuhi kebutuhan akan sumber daya air, perairan terbuka yang dapat dimanfaatkan yaitu sungai. DAS yang terdapat di Kabupaten Aceh Jaya meliputi: Krueng Teunom, Krueng Calang, Krueng Sabee, Krueng Lageun, Krueng Masen, Krueng Panga, Krueng Pante Kuyun, Krueng Unga, Krueng Woyla dan Krueng Lambesoi.
Beberapa Daerah Aliran Sungai dikelompokkan menjadi satu Wilayah Sungai berdasarkan wilayah strategis nasional dan lintas kabupaten. Pengelompokkan ini didasari oleh Permen PU No. 11A/PRT/M/2006 tanggal 26 Juni 2006 tentang pembagian Wilayah Sungai di Indonesia.
Luasan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terdapat di Kabupaten Aceh Jaya yang menduduki luasan tertinggi terdapat di Kecamatan Krueng Sabe dengan luas 73051,18
dan luasan terendah terdapat di Kecamatan Pasie Raya yaitu seluas 27901,64 dari
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 3
jumlah luas lahan di wilayah Kabupaten Aceh Jaya. Untuk lebih jelasnya sebaran DAS di Kabupaten Aceh Jaya dapat dilihat pada Tabel : 2.1 dan Peta 2.1.
Tabel 2.1
Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kabupaten Aceh Jaya
Nama DAS Luas (Ha)
DAS Babah Awe 3.462,14
DAS Crak Mong 5.453,16
DAS Inong 23.830,02
DAS Keueh 27,6
DAS Krueng Aceh 234,89
DAS Krueng Masen 48.770,46
DAS Lambeusoi 58.825,28
DAS Ie Item 35.226,26
DAS Ligan 29.205,04
DAS No 2.561,96
DAS Peyaba 55,46
DAS Pleng 0,68
DAS Pulau Kluang 11,06
DAS Pulau Raya 326,98
DAS Sabee 59.476,34
DAS Teunom 108.957,34
DAS Unga 15.679,46
DAS Woyla 12.202,67
DAS Gapa 401,49
Sumber: Dinas Pekerjaan Umum Kab. Aceh Jaya
Wilayah Sungai (WS)
Berdasarkan klasifikasi WS yang melewati Kabupaten Aceh Jaya adalah WS Teunom- Lambesoi, WS Krueng Aceh dan WS Woyla-Seunagan. WS Teunom-Lambeusoi terdiri dari Kecamatan Krueng Sabee, Setia Bakti, Panga, Teunom, Pasie Raya, Indra Jaya, Jaya, Sampoiniet, Darul Hikmah, WS Krueng Aceh terdiri dari Kecamatan Indra Jaya dan Jaya, dan WS Woyla-Seunagan terdiri dari Kecamatan Teunom dan Pasie Raya.
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 4
Peta 2.1 : Peta Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kabupaten Aceh Jaya
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 5
D. Administratif
Secara administratif Kabupaten Aceh Jaya terdiri dari 9 Kecamatan, 22 Mukim dan 172 Desa. Kabupaten Aceh Jaya secara administratif dibatasi oleh:
Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Pidie;
Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia dan Kabupaten Aceh Barat;
Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Pidie dan Kabupaten Aceh Barat;
Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia.
Tabel 2.2
Tabel Nama dan Luas Wilayah per-Kecamatan serta Jumlah Kelurahan
Nama
Kecamatan Jumlah Kelurahan/Desa
Luas Wilayah
Administrasi Terbangun
(Ha) (%) thd total
administrasi (Ha) (%) thd total administrasi
Teunom 22 31,600 10% 8,047 5%
Pasie Raya 14 33,200 10% 2,440 2%
Pangga 20 52,807 16% 47,302 30%
Krueng Sabee 17 18,637 6% 6,261 4%
Setia Bakti 13 62,900 19% 45,108 29%
Sampoeniet 19 50,100 15% 22,503 14%
Darul Hikmah 19 18,174 6% 14,141 9%
Jaya 34 42,360 13% 7,888 5%
Indra Jaya 14 16,300 5% 4,385 3%
TOTAL 172 326,078 100% 158,075 100%
Sumber : Instrumen Profil Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya 2016
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 6
E. Wilayah Kajian Strategi Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya
Dalam penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten ini, wilayah yang akan dikaji meliputi seluruh wilayah perkotaan dan perdesaan yang terdiri dari 9 Kecamatan, 172 Desa. Hal ini dilakukan agar Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya dapat mengetahui profil sanitasi di semua wilayah, sehingga dalam perencanaan pembangunan dibidang sanitasi akan dapat dilakukan dengan lebih tepat sasaran.
Wilayah kajian Strategi Sanitasi Kabupaten perlu dibedakan kawasan perkotaan dan perdesaan dikarenakan adanya perbedaan jenis permukiman, perilaku masyarakat dan penggunaan kawasan sebagai kegiatan ekonomi. Perbedaan ini akan membawa dampak terhadap permasalahan sanitasi yang berbeda pula untuk setiap wilayah.
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 7
Peta 2.2. Peta Wilayah Kajian Strategi Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya
Sumber : Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Aceh Jaya, 2015
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 8
2.1.2. DEMOGRAFI A. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Aceh Jaya pada tahun 2014 tercatat sebesar 86.185 jiwa.
Apabila dilihat dari jumlah penduduknya, maka kecamatan yang paling tinggi jumlah penduduknya adalah Kecamatan Krueng Sabee sebanyak 15.712 jiwa kemudian berturut-turut Kecamatan Jaya 15.699 jiwa, Kecamatan Teunom 12.745 jiwa, Kecamatan Setia Bakti 8.448 jiwa, Kecamatan Panga 7.355 jiwa, Kecamatan Sampoeniet 7.007 jiwa, Kecamatan Pasie Raya 6.513 jiwa, Kecamatan Darul Hikmah 6.445 jiwa dan Kecamatan Indra Jaya jumlah penduduk 6.261 jiwa.
Apabila dilihat dari komposisi penduduk yang tinggal di perkotaan dan perdesaan, pada tahun 2014 jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan sejumlah 5.573 jiwa atau 6,47 % dari jumlah penduduk Kabupaten Aceh Jaya. Sedangkan penduduk yang tinggal di wilayah perdesaan sejumlah 80.612 jiwa atau 93,53 % dari total penduduk. Permasalahan sanitasi diwilayah perkotaan dan perdesaan relatif berbeda, dimana hal tersebut disebabkan jenis timbulan sampah dan limbah yang berbeda pula, dimana di wilayah perkotaan cenderung menghasilkan jenis polutan yang lebih berbahaya dikarenakan adanya aktifitas rumah tangga, kegiatan bisnis dan industri. Untuk wilayah perdesaan, jenis timbulan polutan relatif kurang berbahaya dikarenakan aktifitas masyarakat yang masih tradisional, sehingga penanganannya lebih mudah. Dengan demikian, maka untuk kedepan perlu dibuat skala prioritas penanganan sanitasi dengan memperhatikan kondisi wilayah.
Rumah tangga atau biasa disebut dengan kepala keluarga (KK) menunjukkan jumlah satuan keluarga terkecil di masyarakat. Jumlah KK di wilayah Kabupaten Aceh Jaya pada tahun 2016 diwilayah perkotaan sejumlah 3.230 KK atau 13,29 % dari jumlah KK total, sedangkan di wilayah perdesaan sejumlah 21.078 KK atau sebesar 86,71 % dari total jumlah KK di Kabupaten Aceh Jaya.
Peran serta masyarakat dalam pembangunan sanitasi sangatlah diharapkan, dengan melibatkan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan sanitasi.Dengan melibatkan anggota keluarga dalam kegiatan sanitasi akan sangat efektif dikarenakan mereka akan lebih mudah mempengaruhi anggota keluarga yang lain daripada jika dilakukan oleh orang luar.
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 9
Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK
Teunom 515 129 593 148 683 171 787 197 907 227 1.045 261 14.162 3.541 16.312 4.078 18.792 4.698 21.652 5.413 24.952 6.238 28.759 7.190 14.677 3.669 16.905 4.226 19.475 4.869 22.439 5.610 25.858 6.465 29.804 7.451 Pasie Raya - - - - - - - - - - - - 6.941 1.735 7.382 1.846 7.836 1.959 8.302 2.075 8.778 2.194 9.262 2.316 6.941 1.735 7.382 1.846 7.836 1.959 8.302 2.075 8.778 2.194 9.262 2.316 Pangga - - - - - - - - - - - - 8.027 2.007 8.766 2.191 9.580 2.395 10.478 2.619 11.468 2.867 12.561 3.140 8.027 2.007 8.766 2.191 9.580 2.395 10.478 2.619 11.468 2.867 12.561 3.140 Krueng Sabee 5.231 1.308 6.202 1.550 7.360 1.840 8.738 2.185 30.666 7.667 36.428 9.107 13.386 3.346 15.869 3.967 18.818 4.705 22.327 5.582 6.218 1.554 7.386 1.846 18.617 4.654 22.071 5.518 26.178 6.544 31.065 7.766 36.884 9.221 43.814 10.954 Setia Bakti - - - - - - - - - - - - 9.253 2.313 10.139 2.535 11.113 2.778 12.185 3.046 13.366 3.342 14.667 3.667 9.253 2.313 10.139 2.535 11.113 2.778 12.185 3.046 13.366 3.342 14.667 3.667 Sampoeniet - - - - - - - - - - - - 7.581 1.895 8.201 2.050 8.871 2.218 9.595 2.399 10.377 2.594 11.222 2.805 7.581 1.895 8.201 2.050 8.871 2.218 9.595 2.399 10.377 2.594 11.222 2.805 Darul Hikmah - - - - - - - - - - - - 6.926 1.731 7.442 1.861 7.998 1.999 8.594 2.149 9.235 2.309 9.924 2.481 6.926 1.731 7.442 1.861 7.998 1.999 8.594 2.149 9.235 2.309 9.924 2.481 Jaya 7.171 1.793 8.424 2.106 9.900 2.475 11.637 2.909 34.797 8.699 40.907 10.227 11.269 2.817 13.239 3.310 15.554 3.889 18.277 4.569 364 91 428 107 18.440 4.610 21.663 5.416 25.454 6.364 29.914 7.479 35.161 8.790 41.335 10.334 Indra Jaya - - - - - - - - - - - - 6.766 1.692 7.314 1.828 7.907 1.977 8.550 2.137 9.246 2.312 10.002 2.500 6.766 1.692 7.314 1.828 7.907 1.977 8.550 2.137 9.246 2.312 10.002 2.500
Jumlah Penduduk
Total Tahun
2021 2020
Wilayah Perkotaan
2016 2017 2018
2016 2020
Wilayah Pedesaan
2019 2021 2017 2020
2019 2018
2017 2018 2019
Tahun
2021
Tahun
2016 Nama
Kecamatan
Tabel 2.3.
Jumlah penduduk dan kepala keluarga saat ini dan proyeksinya untuk 5 tahun kedepan
Sumber : Instrumen Profil Kabupate Aceh Jaya 2016, diolah
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 10
B. Kepadatan Penduduk
Dalam menentukan estimasi perkembangan penduduk, perlu diperhitungkan tingkat pertumbuhan penduduk yang akan menentukan trend perubahan dalam kependudukan dimasa yang akan datang. Tingkat pertumbuhan penduduk di Kabupaten Aceh Jaya pada tahun 2016 dibuat dengan menggunakan formulasi pertumbuhan penduduk total yang merupakan kenaikan atau penurunan jumlah penduduk yang diakibatkan oleh selisih jumlah kelahiran, kematian, dan migrasi (imigrasi dan emigrasi).
Adapun persentase pertumbuhan penduduk total dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut.
% = (L - M) + (I - E) / Po x 100%
Keterangan:
Pt = jumlah penduduk tahun akhir perhitungan Po = jumlah penduduk tahun awal perhitungan L = jumlah kelahiran
M = jumlah kematian
I = jumlah imigrasi (penduduk yang masuk ke suatu wilayah)
E = jumlah emigrasi (penduduk yang keluar atau meninggalkan suatu wilayah)
% = persentase pertumbuhan penduduk total.
Dari hasil perhitungan berdasarkan rumus diatas, didapatkan hasil untuk prosentase pertumbuhan penduduk terbesar terdapat di wilayah Kecamatan Krueng Sabee sebesar 18,49 %, sedangkan prosentase pertumbuhan penduduk terkecil terdapat di wilayah Kecamatan Pasie Raya sebesar 6,57 %.
Berdasarkan data prosentase pertumbuhan penduduk tersebut, maka dapat diperhitungkan tingkat kepadatan penduduk dengan rumus :
Pn = Po (1 + % pertumbuhan penduduk)n Keterangan :
Pn = kepadatan penduduk tahun ke n Po = Kepadatan penduduk tahun ke-1 n = tahun ke – n
Adapun data tingkat pertumbuhan dan kepadatan Kabupaten Aceh Jaya sebagaimana disampaikan dalam tabel 2.4.
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 11
2016 2017 2018 2019 2020 2021 2016 2017 2018 2019 2020 2021
Teunom 15,16% 15,18% 15,20% 15,22% 15,24% 15,26% 2 2 2 3 3 4
Pasie Raya 6,57% 6,36% 6,15% 5,94% 5,73% 5,52% 3 3 3 3 4 4
Pangga 9,13% 9,21% 9,29% 9,37% 9,45% 9,53% 0 0 0 0 0 0
Krueng Sabee 18,49% 18,55% 18,61% 18,67% 18,73% 18,79% 3 4 4 5 6 7
Setia Bakti 9,53% 9,57% 9,61% 9,65% 9,69% 9,73% 0 0 0 0 0 0
Sampoeniet 8,19% 8,18% 8,17% 8,16% 8,15% 8,14% 0 0 0 0 0 0
Darul Hikmah 7,46% 7,46% 7,46% 7,46% 7,46% 7,46% 0 1 1 1 1 1
Jaya 17,46% 17,48% 17,50% 17,52% 17,54% 17,56% 2 3 3 4 4 5
Indra Jaya 8,07% 8,09% 8,11% 8,13% 8,15% 8,17% 2 2 2 2 2 2
Tingkat Pertumbuhan (%)
Tahun
Kepadatan Penduduk (orang/Ha)
Tahun Nama
Kecamatan
Tabel 2.4
Tingkat Pertumbuhan dan Kepadatan saat ini dan proyeksinya untuk 5 tahun
Sumber : Instrumen Profil Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya 2016, diolah
C. Kemiskinan
Keberhasilan pembangunan sering dikaitkan dengan tingkat kemiskinan masyarakat pada suatu wilayah tertentu. Semakin sedikit jumlah warga miskin pada suatu wilayah menunjukkan bahwa pembangunan telah berhasil. Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat dengan penghasilan rendah cenderung kurang memperhatikan kesehatan lingkungan yang diakibatkan oleh kondisi sarana dan prasarana yang ada dan juga tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan bersama masih kurang.
Di Kabupaten Aceh Jaya, tingkat kemiskinan terbesar di Kecamatan Jaya sebesar 1.303 KK atau 16,95%, di Kecamatan Teunom 1.301 KK atau 16,93% dan di Kecamatan Krueng Sabee sebesar 1.134 KK atau 14,75 % dari 7.686 jumlah KK miskin di Kabupaten Aceh Jaya.
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 12
Tabel 2.5 Jumlah Penduduk Miskin Per-Kecamatan di Kabupaten Aceh Jaya
Nama Kecamatan Jumlah Keluarga Miskin (KK)
Teunom 1.301
Pasie Raya 756
Pangga 790
Krueng Sabee 1.134
Setia Bakti 370
Sampoeniet 547
Darul Hikmah 736
Jaya 1.303
Indra Jaya 749
Sumber : Instrumen Profil Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya 2016, diolah
2.1.3 RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ACEH JAYA
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Aceh Jaya yang selanjutnya disebut RTRW Kabupaten Aceh Jaya adalah rencana tata ruang yang bersifat umum dari wilayah kabupaten, yang berisi tujuan, kebijakan, strategi penataan ruang wilayah kabupaten, rencana struktur ruang wilayah kabupaten, rencana pola ruang wilayah kabupaten, penetapan kawasan strategis kabupaten, arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten, dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten.
Dewasa ini dinamika pemanfaatan lahan di Kabupaten Aceh Jaya berlangsung relatif cukup pesat yang memicu berbagai pertumbuhan aktivitas dibanyak sektor. Pertumbuhan ini ditandai dengan munculnya banyak bangunan baik berupa bangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial sebagai wujud pemanfaatan ruang. Berbagai aktivitas/kegiatan yang memanfaatkan ruang selayaknya dapat dikendalikan dan diarahkan agar sesuai dengan rencana tata ruang yang telah disusun untuk menghindarkan dampak pembangunan yang negatif.
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 13
Peta 2.3 Peta Rencana Struktur Ruang Kabupaten Aceh Jaya
Sumber : Rencana Tata Ruang Wilayah Kab. Aceh Jaya Tahun 2012-2032
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 14
Peta 2.4 Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Aceh Jaya
Sumber : Rencana Tata Ruang Wilayah Kab. Aceh Jaya Tahun 2012-2032
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 15
2.2. KEMAJUAN PELAKSANAAN STRATEGI SANITASI KABUPATEN
Dokumen perencanaan pembangunan sanitasi Kabupaten Aceh Jaya telah disusun pada tahun 2013 dan tahun 2014, dimana dokumen tersebut disusun menjadi tiga bagian yaitu Buku Putih Sanitasi yang menyajikan profil sanitasi tingkat Kabupaten, Strategi Sanitasi Kabupaten yang berisi rencana aksi daerah dalam penyelesaian masalah sanitasi dan Memorandum Program yang berisi rencana program dan kegiatan untuk implementasi pembangunan sanitasi. Selama kurun waktu 4 tahun tersebut tentunya banyak perkembangan dalam pembangunan sektor sanitasi, sehingga perlu untuk dipetakan perkembangan pelaksanaan strategi sanitasi kabupatenyang disusun pada tahun 2013.
Adapun dalam mengetahui perkembangan pelaksanaan strategi sanitasi kabupaten tersebut akan dibagi menjadi kemajuan pelaksanaan kegiatan dibidang air limbah domestik, persampahan dan drainase.
A. Air Limbah Domestik
Adapun kemajuan pelaksanaan strategi sanitasi kabupaten tahun 2013 adalah sebagaimana terlihat pada tabel 2.6.
Tabel 2.6
Kemajuan pelaksanaan strategi sanitasi kabupaten bidang air limbah domestik
Strategi Sanitasi Kabupaten Thn 2013-2017 SSK 2016
Tujuan Sasaran Data dasar* Status saat ini
(1) (2) (3) (4)
Meningkatkan lingkungan yang sehat dan bersih di Kabupaten Aceh Jaya melalui pengelolaan air limbah domestik yang berwawasan lingkungan
Tersedianya dokumen perencanaan pengelolaan air limbah domestik dan industri rumah tangga skala
permukiman pada akhir tahun 2017
tidak tersedianya dokumen perencanaan pengelolaan air limbah domestik dan industri rumah tangga skala permukiman
tidak tersedianya dokumen perencanaan pengelolaan air limbah domestik dan industri rumah tangga skala permukiman Meningkatnya cakupan
kepemilikan jamban keluarga dengan penggunaan tangki septic untuk rumah tangga miskin pada akhir tahun 2018
68% masyarakat mempunyai akses terhadap fasilitas jamban keluarga
79,2% masyarakat mempunyai akses terhadap fasilitas jamban keluarga
Mengoptimalkan berfungsinya IPLT pada akhir tahun 2018
Belum terbentuknya lembaga pengelola IPLT
Belum terbentuknya lembaga pengelola IPLT
Sumber : Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya 2016
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 16
B. Pengelolaan Persampahan
Pengelolaan persampahan di Kabupaten Aceh Jaya dilakukan dengan peningkatan sarana dan prasaran, sumber daya manusia dan penerapan teknologi tepat guna bagi SKPK pengelola persampahan. Disadari bersama bahwa dalam pengelolaan sampah tidak mungkin hanya dilakukan oleh pemerintah, namun peran swasta dan masyarakat harus dilibatkan, melalui peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah. Adapun perkembangan pengelolaan sampah adalah sebagai berikut :
Tabel 2.7
Kemajuan pelaksanaan strategi sanitasi kabupaten bidang pengelolaan persampahan
Strategi Sanitasi Kabupaten Thn 2013-2017 SSK 2016
Tujuan Sasaran Data dasar* Status saat ini
(1) (2) (3) (4)
Mewujudkan
lingkungan yang sehat dan bersih di
Kabupaten Aceh Jaya melalui peningkatan kualitas dan kuantitas pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan
Tersedianyan dokumen perencanaan layanan pengelolaan persampahan sampai tahun 2018
Belum tersedianyan dokumen perencanaan layanan pengelolaan persampahan
Belum tersedianyan dokumen perencanaan layanan pengelolaan persampahan Meningkatnya cakupan
layanan pengelolaan persampahan pada tahun 2018
1% Cakupan layanan
persampahan tahun 2012 3% Cakupan layanan persampahan
Sumber : Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya 2016
C. Drainase Perkotaan
Secara topografi kondisi Kabupaten Aceh Jaya memiliki daratan yang berbukit- bukit, bergunung- gunung dengan tebing terjal dan kemiringan yang tajam yang dialiri sungai besar dan kecil hal ini memberikan resiko terjadinya banjir dan genangan terutama akibat air hujan. Dengan kondisi yang seperti ini, pengelolaan drainase menjadi hal penting untuk menghindarkan wilayah – wilayah rawan banjir dan genangan dari terjadinya banjir dan genangan dengan waktu yang lama. Pembangunan dan rehabilitasi saluran drainase menjadi salah satu target dalam rangka mengurangi luas wilayah, ketinggian dan waktu terjadinya genangan. Untuk lebih memadukan
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 17
pembangunan dibidang drainase, perlu dibuat dokumen perencanaan pembangunan draainase atau master plan drainase yang akan memberikan arah dan pencapaian pembangunan dibidang drainase di Kabupaten Aceh Jaya. Adapun perkembangan pembangunan drainase di Kabupaten Aceh Jaya adalah sebagai berikut :
Tabel 2.8
Kemajuan pelaksanaan strategi sanitasi kabupaten bidang drainase perkotaan
Strategi Sanitasi Kabupaten Thn 2013-2017 SSK 2016
Tujuan Sasaran Data dasar* Status saat ini
(1) (2) (3) (4)
Meningkatkan lingkungan yang sehat dan bersih di Kabupaten Aceh Jaya melalui penyediaan sarana dan prasarana drainase
Tersedianya dokumen perencanaan
pembangunan drainase yang efisien efektif dan terpadu
Belum adanya dokumen perencanaan
pembangunan drainase
Dokumen perencanaan pembangunan drainase belum tersedia
Berkurangnya luas genangan di kabupaten Aceh Jaya
Bekurangnya luas
genagan dengan
penguatan kelembagaan
26.203 ha permukiman penduduk masih rawan banjir
Sumber : Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya 2016
2.3 PROFIL SANITASI SAAT INI
Pembangunan di Kabupaten Aceh Jaya dilaksanakan secara partisipatif, transparan dan akuntabel dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan pengertian dasar pembangunan yang berkelanjutan agar mekanisme pengelolaan, pemanfaatan sumber daya yang ada diharapkan akan bermuara kepada kualitas lingkungan yang memenuhi standar kehidupan.
Persoalan penting yang memerlukan prioritas penanganan dalam peningkatan kualitas lingkungan adalah pengelolaan sanitasi, baik sanitasi dalam kedudukan sebagai salah satu kegiatan sektoral yang menjadi bagian dari program pengelolaan lingkungan maupun sanitasi sebagai bagian dari sistem pengembangan kawasan di wilayah permukiman.
Sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan, peningkatan kualitas sanitasi di Kabupaten Aceh Jaya lebih difokuskan kepada upaya peningkatan kualitas sanitasi yang berbasis masyarakat. Sedangkan sebagai subsistem pengembangan kawasan, peningkatan
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 18
kualitas sanitasi di Kabupaten Aceh Jaya difokuskan kepada penataan drainase lingkungan, pengelolaan persampahan dan pencegahan kontaminasi terhadap air tanah oleh limbah hasil kegiatan manusia khususnya di lingkungan pemukiman yang padat penduduk dan atau pusat-pusat kegiatan masyarakat serta peningkatan kualitas, kuantitas dan kontinuitas penyediaan air minum bagi masyarakat.
Seiring dengan aktifitas pembangunan yang meningkat dengan bertambahnya penduduk akan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, apabila tidak dikelola dengan baik maka akan dapat menimbulkan masalah di bidang sanitasi. Hal ini akan menyebabkan adanya pencemaran lingkungan, menurunnya kualitas lingkungan dan estetika serta kemungkinan timbulnya penyakit sehingga merugikan masyarakat di sekitarnya.
Kebiasaan masyarakat membuang sampah dan limbah rumah tangga ke saluran drainase, sungai-sungai dan pada tempat-tempat yang bukan peruntukannya ikut memperburuk kondisi sanitasi di Kabupaten Aceh Jaya. Dari semua persoalan sanitasi di Kabupaten Aceh Jaya, penyebab utamanya adalah minimnya pengetahuan masyarakat tentang sanitasi yang berakibat kepada kurangnya kesadaran terhadap pentingnya sanitasi dalam kehidupan.
Untuk mengetahui profil sanitasi Kabupaten Aceh Jaya, dilakukan dengan menggunakan metode penyusunan diagram sistem sanitasi (DSS) sektor air limbah, persampahan dan drainase. Dengan metode ini akan dapat dilihat sistem yang ada di Kabupaten Aceh Jaya dalam pengelolaan sanitasi, sehingga akan mempermudah dalam mengidentifikasi masalah serta pemecahannya.
A. Air Limbah Domestik
(1) Sistem Dan Infrastruktur Air Limbah Domestik
Untuk mengetahui sistem dan infrastruktur pengelolaan air limbah domestik di Kabupaten Aceh Jaya, digunakan diagram sistem sanitasi (DSS), yang menjelaskan mengenai alur pengelolaan air limbah domestik mulai dari pengguna (user interface), pengumpulan dan penampungan / pengolahan awal, pengangkutan / pengaliran, (semi) pengolahan akhir terpusat dan daur ulang / pembuangan akhir. Dengan mengetahui diagram alir dari diagram sistem sanitasi tersebut, maka akan diketahui permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan air limbah domestik di Kabupaten Aceh Jaya.
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 19
Berdasarkan hasil pemetaan profil sanitasi melalui metode penyusunan diagram sistem sanitasi diperoleh 4 (empat) model sistem pengelolaan air limbah rumah tangga.
Berbagai program dan kegiatan telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya dalam upaya meningkatkan akses masyarakat dalam pengelolaan air limbah rumah tangga. Dalam pengelolaan air limbah rumah tangga dikenal beberapa hal,yaitu : 1. Sistem pengolahan setempat (on site), merupakan sistem pengolahan dimana
fasilitas instalasi pengolahan berada di dalam persil atau batas tanah yang dimiliki.
Teknologi yang digunakan dalam sistem ini adalah sistem sanitasi tanpa air (cubluk) dan sistem sanitasi dengan air (septic tank).
2. Sistem pengolahan terpusat (off site), yaitu sistem pembuangan air limbah dilakukan secara kolektif melalui jaringan pengumpul dan diolah serta dibuang secara terpusat.
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 20
Tangki Septik Individual
Tangki Septik Komunal
(≤10KK)
MCK***
Tangki Septik Komunal
(˃10KK) IPAL Komunal
IPAL
Kawasan IPAL Kota
Tangki Septik Individual
Belum Aman**
Cubluk
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 Teunom 3.186 2.282 34 31 - - - - 130 - 799
2 Pasie Raya 1.628 212 0 0 - - - - 35 - 1470
3 Panga 1.839 1.110 156 0 - - - - 77 - 574
4 Krueng Sabee 3.928 1.998 0 51 - - - - 605 - 1481
5 Setia Bakti 2.112 467 0 43 - - - - 472 - 1266
6 Sampoeniet 1.752 524 89 0 - - - - 307 - 931
7 Darul Hikmah 1.611 375 51 41 - - - - 96 - 1150
8 Jaya 3.925 2.415 458 26 - - - - 247 - 1043
9 Indra Jaya 1.565 1.143 70 50 - - - - 77 - 310
Akses Layak (KK)
BABs (KK)*
On-Site Jumlah
Penduduk (KK) Kec.
No.
Akses Dasar (KK) Off-Site
Berdasarkan skalanya, di Kabupaten Aceh Jaya belum ada sistem off site dengan skala kota, namun dilakukan dengan skala komunal diwilayah yang padat penduduk.
3. Buang air besar sembarangan (BABS), merupakan perilaku sebagian masyarakat yang tidak melakukan pengolahan terhadap limbah tinja dan langsung membuangnya ke lingkungan. Kebiasaan ini sangat mengganggu kesehatan karena pencemaran limbah tinja yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit.
Tabel 2.9
Cakupan akses dan sistem layanan air limbah domestik Kabupaten Aceh Jaya
Sumber : Instrumen Profil sanitasi Kabupaten Aceh Jaya, 2016
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 21
Tabel 2.10
Kondisi prasarana dan sarana pengelolaan air limbah domestik
No. Jenis Satuan Jumlah/
Kapasitas
Kondisi
Keterangan Berfungsi Tdk
berfungsi
1 2 3 4 5 6 7
SPAL Setempat (Sistem On-
Site)
1 Tangki Septik Komunal ˂
10 KK Unit - - -
2 MCK Unit 17 Ya -
3 Truk Tinja Unit 4 ya -
4 IPLT : kapasitas m3/hari 1 ya -
SPAL Terpusat (Sistem Off-
Site)
1 Tangki Septik Komunal ˂
10 KK Unit - - -
2 IPAL Komunal Unit - - -
3 IPAL Kawasan Unit - - -
4 IPAL Terpusat Unit - - -
Sumber : KLHKP Kabupaten Aceh Jaya, 2016
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 22
Peta 2.4 Peta cakupan akses dan sistem layanan air limbah domestik
Pemutakhiran SSK Aceh Jaya
2016
Pokja Sanitasi Kabupaten Aceh Jaya I I - 23
(2) Kelembagaan dan Peraturan
Lembaga atau dinas yang mengelola limbah cair di Kabupaten Aceh Jaya adalah Dinas Pekerjaan Umum dan Kantor Lingkungan Hidup, Kebersihan, Pertamanan, Pemadam dan Kebakaran. Dinas-dinas tersebut mempunyai tugas dan wewenang dalam hal pelayanan kepada masyarakat tentang limbah tinja. Sepertii terlampir pada Tabel 2.11 Daftar Pemangku Kepentingan Yang Terlibat Dalam Pengelolaan Air Limbah Domestik. Untuk landasan hukum yang di gunakan dalam pengelolaan limbah cair di Kabupaten Aceh Jaya antara lain adalah seperti terlampir pada Tabel 2.12 Daftar Peraturan Terkait Air Limbah Domestik Kabupaten Aceh Jaya
STRUKTUR ORGANISASI DINAS PEKERJAAN UMUM
Kepala
Sekretariat Kelompok jabatan
Fungsional
Bidang Cipta Karya
Seksi Bangunan Gedung,
Penyehatan Lingkungan Dan Air Bersih
Bidang
Pertambangan, Energi Dan
Sumber Daya Mineral
Seksi Pengembangan
Kawasan, Pemukiman Dan Perumahan
Bidang Pengairan
Bidang Bina Marga Bidang Program Dan Pelaporan
Penyelenggara Pengelolaan Air Limbah Domestik