commit to user43 BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Area Yang Memiliki Risiko Kebakaran Tertinggi di PT Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah
PT Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah memiliki tiga unit tangki penimbunan berkapasitas 39.000 kiloliter untuk bensin (premium), tiga unit tangki pertamax berkapasitas 10.000 kiloliter, 1 unit tangki minyak pertalite berkapasitas 5.000 kiloliter dan tiga unit tangki minyak solar dengan kapasitas 45.000 kiloliter. Satu unit tangki feed stock berkapasitas 500 kiloliter dan satu unit tangki FAME berkapasitas 500 kiloliter.
Untuk menjaga dan mengawasi persediaan BBM di PT Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah maka operasi penerimaan, penimbunan dan penyaluran (PPP) BBM di Terminal BBM Boyolali harus dilaksanakan dengan baik dan memperhatikan unsur keselamatan sehingga dalam operasi PPP produk BBM dapat terjaga mutu dan kwantitasnya serta keamanan bagi pekerjanya. Untuk memastikan bahwa perusahaan sangat siap dalam menghadapi keadaan emergency, perusahaan perlu menghitung dan menganalisis kemungkinan terburuk kebakaran yang terjadi di perusahaan serta menyiapkan sumber daya pemadaman yang cukup untuk fase pemadaman area yang terbakar dan area di sekitarnya.
Dari data dan hasil observasi yang penulis lakukan di PT Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah area yang memiliki resiko kebakaran tertinggi
commit to user
adalah di area penimbunan pada tangki timbun nomor 8 yang berisi produk solar dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 4: Langkah Penyusunan Sistem Tanggap Darurat Sumber: PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah 2016
Karena tangki penimbunan nomor 08 memiliki diameter 38,80 meter, ketinggian tangki 12,90 meter, luas area tangki 1.181 m², luas dinding tangki 1.571 m², volume tangki 13.713 , solar dalam tangki 08 sebesar 80% dari volume tangki. Apabila tangki penimbunan nomor 08 terbakar akan menyebabkan terjadinya Pool Fire Diameter sebesar 38,80 m, Pool Fire Flame Hight sebesar 36,26 m, Heat Pool Fire Release Rate sebesar 2.359.960 kW, Flame Emissive Power sebesar 27,81 kW/m², Pool Fire Burning Duration selama 52 jam 37 menit 55 detik jika tidak dilakukan penanggulangan. Data bahwa tangki yang memiliki resiko kebakaran paling
commit to user
tinggi di PT Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah dapat dilihat pada lampiran 1.
Menurut An International Association of Oil & Gas Producer Report No. 434 – 14.1, March 2010. Jarak auxiliary protection tangki sekitarnya berdasarkan jarak fatality tangki pada level 12,50 kW/m². Dari data yang didapatkan di TBBM Boyolali yang kemudian penulis lampirkan pada lampiran 1, jika tangki penimbunan nomor 08 terbakar dan paparan panas pada level 12,50 kW/m² maka jarak fatality area berjarak 45,97 m atau 46 m dari dinding luar tangki penimbunan nomor 08. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa tangki timbun yang berada di sekitar tangki penimbunan nomor 08 dan berjarak kurang dari 46 m dari dinding luar tangki penimbunan nomor 08 harus di proteksi atau di cooling. Dilihat pada gambar 1 tangki sekitar yang masuk dalam fatality area saat tangki penimbunan nomor 08 terbakar adalah tangki penimbunan nomor 05, 07, 09 dengan jarak 16 m, tangki penimbunan nomor 04 dengan jarak 40 m dan tangki penimbunan nomor 06 dengan jarak 37 m.
B. Jumlah Kebutuhan Air PMK dan Foam Tangki Nomor 08
Sebelum melakukan perhitungan kebutuhan air dan foam saat terjadi kebakaran pada tangki nomor 08 di PT Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah, ada beberapa hal yang harus dipenuhi sesuai dengan Standart Requirement Based on NFPA 11.
commit to user
Tangki nomor 08 berisi produk solar sebagai produk kelas II atau other, berdiameter 36,78 meter dan tinggi 12,91 meter sehingga perhitungan kebutuhan foam dan air untuk proses emergency response pada tangki penimbunan nomor 08 akan menjadi sebagai berikut :
Tabel 1. Jenis Produk BBM PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah
No. Nama Produk
Foam Solution Time Delivery
% foam
Class Foam
Chamber
Foam Monitor
Spill Fire
1 Avigas 55 65 30 3 1B
2 Avtur 30 50 20 3 Other
3 Bio diesel 30 50 20 3 Other
4 Bio premium 55 65 30 6 1A
5 Crude Oil 55 65 30 3 1A
6 Kerosine 30 50 20 3 Other
7 LAWS 55 65 30 3 Other
8 MDF 30 50 20 3 Other
9 Methanol 55 65 30 6 1A
10 MFO 30 50 20 3 1A
11 Naphta 55 65 30 3 1B
12 Pertamax 55 65 30 3 1B
13 Pertamax 95 55 65 30 3 1B
14 Premium 55 65 30 3 1B
15 SBPX 55 65 30 3 1B
16 Solar 30 50 20 3 Other
17 Solar Dex 30 50 20 3 Other
18 Minyak Slop 55 65 30 3 Other
19 FAME 30 50 20 3 Other
20 Pelumas 30 50 20 3 Other
Sumber: PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah
Dibawah ini adalah perhitungan risiko untuk memenuhi kebutuhan air PMK dan foam untuk kebakaran tangki timbun nomor 08 :
1. Top Pouer/Foam Chamber NFPA 11-14. Table 5.2.5.2.2 a. Discharge time (Dt) = 30 menit
b. Application rate (Ar) = 4,10 lpm/m²
commit to user
c. Foam concentrate (Fc) 3% Water concentrate (Wc) 97 % Foam Solution Requirement = L. permukaan tangki 08 x Ar
= 1.062 x 4,10
= 4.354 lpm
Foam Liquid Requirement = Foam Solution Requirement x F
= 4.354 x 3%
= 131 lpm
Fire Water Requirement = Foam Solution Requirement x Wc
= 4.354 x 97%
= 4.223 lpm
Jadi kebutuhan Foam Chamber pada saat pemadaman untuk waktu 30 menit membutuhkan Foam Liquid sebanyak 3.930 liter dan Air sebanyak 126.690 liter.
2. Spill Fires
a. Discharge time (Dt) = 20 menit b. Application rate (Ar) = 189 lpm
c. Foam concentrate (Fc) 3% Water concentrate (Wc) 97%
Jumlah Hose Stream = 3 unit
Foam Liquid Requirement = Jumlah nozzle spill x Ar x Fc = 3 x 189 x 3%
= 17 lpm
Fire Water Requirement = Jumlah nozzle spill x Ar x Wc = 3 x 189 x 97%
commit to user = 550 lpm
Jadi untuk Spill Fires dalam waktu 20 menit dibutuhkan Foam Liquid sebanyak 340 liter dan Air sebanyak 11.000 liter.
3. Auxuiliary Cooling
Dari data hasil perhitungan risiko menggunakan software Archie, Tangki disekitar tangki 08 yang masuk dalam area fatality dan harus dilakukan dan pendinginan ketika tangki 08 terbakar yaitu tangki nomor 04,05,06,07,09. Maka hasil perhitungannya akan sebagai berikut :
a. Discharge Time (Dt) = 4 jam b. Application Rate (Ar) = 4,10 lpm
Tangki yang terbakar = π x d. tangki 08 x t. tangki 08 x 4,10
= π x 36,78 x 12,91 x 4,10
= 6.113 lpm
Tangki Nomor 07 = (1/4 x π x d. tangki 07² x Ar) + (1/2 x π x d.tangki 07 x t.tangki 07 xAr)
= (1/4 x 3,14 x 36,78² x 4,10 ) + (1/2 x 3,14 x 36,78 x 12,91 x 4,10)
= 7.410 lpm
Tangki Nomor 09 = (1/4 x π x d. tangki 07² x Ar)+(1/2 x π x d. tangki 07 x t. tangki 07 x Ar)
= (1/4 x 3,14 x 36,78² x 4,10 ) + (1/2 x 3,14 x 36,78 x 12,91 x 4,10)
= 7.410 lpm
commit to user
Tangki Nomor 05 = (1/4 x π x d. tangki 05² x Ar)+(1/2 x π . x d. tangki 05 x t. tangki 05 x Ar)
= (1/4 x 3,14 x 27,15² x 4,10 ) + (1/2 x 3,14 x 36,78 x 9,24 x 4,10)
= 3.987 lpm
Tangki Nomor 04 = (1/4 x π x d. tangki 04² x Ar) + (1/2 x π x d. tangki 04 x t. tangki 04 x Ar)
= (1/4 x 3,14 x 27,16² x 4,10 ) + (1/2 x 3,14 x 36,78 x 9,23 x 4,10)
= 3.988 lpm
Tangki Nomor 06 = (1/4 x π x d. tangki 05² x Ar) + (1/2 x π x d. tangki 05 x t. tangki 05 x Ar)
= (1/4 x 3,14 x 27,15² x 4,10 ) + (1/2 x 3,14 x 36,78 x 9,24 x 4,10)
= 3.987 lpm
Keb. total Auxiliary Cooling = Keb. T 07 + Keb. T 09 Keb. T 04 + Keb. T 05 + Keb. T 06
= 7.410 + 7.410 + 3.987 + 3.988 + 3.987
= 26.783 lpm
commit to user 4. Total kebutuhan air pemadaman
Dari data perhitungan pada point a, b dan c dapat disimpulkan sebagai berikut :
Kebutuhan Total Air Pemadam = Keb. Tangki terbakar + Jumlah auxiliary cooling + Keb. Air Foam chamber + Keb. Air Foam Monitor + Keb. Air Spill Fire
= 6.113 + 26.783 + 4.223 + 0 + 550
= 37.669 lpm
= 9.951 gpm
Menurut API RP 2001 Fire Protection in Refineries 7th Edition 1998, kebutuhan air yang harus disediakan minimum 4 jam untuk pemadaman kebakaran. Jadi total kebutuhan air yang harus disediakan untuk kebakaran tangki timbun nomor 08 adalah 37.669 lpm x 240 menit
= 9.040.560 liter atau 2.388.240 galon atau 9.500 m³. Sedangkan PT Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah masih memiliki 2 Kolam air PMK. Kolam 1 memiliki panjang 50 m, lebar 30 m dan kedalaman 3 m sehingga memiliki volume 3000 m³. Kolam 2 memiliki panjang 50 m, lebar 26 m dan kedalaman 2 m sehingga memiliki volume 2600 m³ ditambah kolam kecil dengan kapasitas air sebanyak 200 m3. Jumlah total persediaan air PMK yang terdapat di PT Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah hanya sebanyak 5.600 m³. Itu artinya jika tangki nomor 08
commit to user
terbakar, persediaan air PMK belum cukup untuk proses penanggulangan kebakaran di tangki nomor 08.
Dari data perhitungan kebutuhan pompa PMK dan air pemadam pada lampiran 2, pompa yang dibutuhkan untuk melakukan proses pemadaman tangki nomor 08 secara efektif dan efisien yaitu harus memiliki kapasitas total minimal sebesar 10.000 gpm. Sedangkan pompa PMK yang dimiliki oleh PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah hanya memiliki kapasitas total 6.000 gpm.
5. Total Kebutuhan Foam = Keb. Foam pada Foam Chamber + Keb. Foam pada Spill Fire
= 30 x 131 + 20 x 17
= 4.270 liter
PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah memiliki Foam Tank berkapasitas 10.000 liter foam dan persediaan foam sebanyak 5.890 liter. Kebutuhan Foam untuk proses pemadaman kebakaran pada tangki timbun nomor 08 adalah 4.270 liter. Itu berarti foam yang di butuhkan sudah tersedia di PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah. Dai pehitungan kebutuhan pompa PMK dan pemadam bisa dilihat di lampiran 2.
commit to user
C. Skenario Implementasi Sistem Tanggap Darurat Untuk Kebakaran 1. Skenario Kebakaran Tangki Timbun 07
Pada hari jumat pukul 08.30 WIB kawasan PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah dalam kondisi hujan dan berpetir. Beberapa saat kemudian Free Vent Valve tangki timbun nomor 07 tersambar petir dan terbakar. Tangki timbun nomor 07 berisi produk solar dengan volume tangki setengah dari kapasitas tangki. Kebakaran tersebut diketahui oleh salah satu pekerja di area workshop PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah dan segera dilaporkan kepada petugas HSSE melalui HT. Lay out dari area tangki timbun yang terbakar dapat dilihat dari gambar berikut :
Gambar 5. Area Tangki Penimbunan PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah
Sumber: PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah.2016
commit to user
Skenario diatas dapat didekati dengan perhitungan matematis terkait besaran paparan panas dan radiasi yang dihasilkan. Perhitungan matematis dapat dilakukan dengan menggunakan Software Archie.
Sebagai perbandingan dilakukan juga perhitungan secara Chemical Process Quantitative Analysis (CPQRA). Untuk secara detail dari gambar Lay Out PT Petamina. TBBM Boyolali, Jawa Tengah terdapat di lampiran 3.
2. Perhitungan Besaran Panas Menggunakan Software Archie
Software Archie digunakan untuk menghitung simulasi paparan panas pada tangki yang terbakar, dari Software Archie ini kita bisa mengetahui besaran radius panas, perkiraan ketinggian api, fatality zone radius dan injury zone radius. Untuk mengetahui data tersebut menggunakan Software Archie kita harus memiliki data berat Molekul, SG minyak, normal boiling point dan luasan area terbakar. Berikut adalah gambar tampilan dari Software Archie untuk tangki nomor 07 :
Gambar 6. Perhitungan Berdasarkan Software Archie Sumber: PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah.2016
commit to user
Dari perhitungan dengan menggunakan Software Archie diperoleh data sebagai berikut (asumsi luasan api terbuka sama dengan luas atap tangki) :
Tabel 2. Data Hasil Perhitungan Dengan Software Archie
HASIL OUTPUT SATUAN (ft) SATUAN (m)
Burning pool radius 63,7 19,41
Flame height 113 34,43
Fatality Zone Radius
106 32,29
Injury Zone Radius 151 46
Sumber : PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa proses pemadaman oleh regu pemadam harus berada pada jarak minimal 46 meter dari sumber kebakaran untuk menghindari terlukanya regu pemadam itu sendiri.
3. Perhitungan Besaran Panparan Panas berdasarkan CPQRA
Untuk mendapatkan efek paparan panas berdasarkan jarak, maka pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan hitungan berdasarkan Chemical Process Quantitative Analysis (CPQRA). Untuk dapat menghitung besaran paparan panas menggunakan metode CPQRA diperlukan data sebagai berikut :
commit to user
Tabel 3. Parameter Perhitungan Besaran Panas Untuk Produk Solar
No. Parameter Besaran
1 Berat Molekul 226,16
2 Spesific Gravity 0,836
3 Normal Boling Point 494 ºF
4 Heat of Combustion 39700 Kj/kg
5 Burning Rate 0,35 kg/m²s
Sumber: PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah a. Perhitungan Besaran Panas Api
Besaran panas api dipengaruhi oleh luasan permukaan minyak yang terbakar. Diamsusikan luasan permukaan api sama dengan luas permukaan tangki, jadi :
Dari data luas permukaan api dapat ditentukan bahwa besaran panas yang ditimbulkan oleh kebakaran. Besaran panas yang ditimbulkan oleh kebakaran dipengaruhi juga oleh heat combustion dan burning rate dari suatu produk dengan perhitungan sebagai berikut :
Q = Mb Ec A = 0,035 kg/m²s x 39.700 kJ/kg x 1.181,77 m² Q = 16,42 x kJ/s
Q = 16,42 x Kw Dimana :
Q = Heat Release Solar (W)
commit to user
E = Heat of Combustion (Solar = 39.700 kJ/kg) A = Luasan yang terbakar (m²)
Mb = Burning Rate (Solar = 0,035 kg/m²s)
Diatas adalah besaran api yang dihasilkan dari kebakaran (pool fire) Solar tanpa memperhatikan jumlah massa solar yang terbakar.
1) Ketinggian api
Dari hasil perhitungan menggunakan Software Archie dihasilkan perhitungan ketinggian api yaitu H = 30,80 meter.
2) Perhitungan Radiant Heat
Perhitungan perubahan fraksi panas untuk hidrokarbon adalah 0,35
QR = 0,35 x 16,42 x 105 kW QR = 5,75 x 105 kW
3) Perhitungan Factor Geometri
Factor geometri perubahan panas berdasarkan jarak dari sumber panas adalah (asumsi jarak 10 meter dari sumber kebakaran) :
4) Nilai Transmissivity
Nilai transmissivity biasa disebut atmospheric trnsmitance mengacu pada humiditas udara sekitar tangki yang
commit to user
terbakar, asumsi humiditas udara diluar ruangan berada pada kisaran antara 70% sampai 75%. Nilai transmissivity pada jarak 10 meter dengan humiditas pada kisaran 70% adalah 0,82.
5) Perhitungan Radiant Flux
Perubahan panas pada jarak 10 meter adalah sebagai berikut:
Qx = τQRFp
Qx = 0,82 x 5,75 x 105 kW x 7,96 x 10-4 = 373,30 kW/ m2 Radiasi panas yang diterima pada jarak 10 meter dari sumber kebakaran adalah sebesar 373,30 kW/ m2, nilai tersebut akan menentukan kebutuhan proses proteksi paparan (exposure protection) terhadap tangki disekitar sumber api.
Tabel 4. Perubahan Radiasi Panas (Radiant Flux) Pada jarak tertentu
Jarak Paparan
(X) (m)
Fraksi radiasi hidrokarbon
Faktor Geometri (Fp) (m-2)
Transmissivity Radiant Flux (QR) (kW/m2) 10 5,72 x 105 7,96 x 10-4 0,82 373,43 15 5,72 x 105 3,54 x 10-4 0,81 163,94 20 5,72 x 105 1,99 x 10-4 0,77 87,66 25 5,72 x 105 1,27 x 10-4 0,75 54,64 30 5,72 x 105 8,85 x 10-5 0,735 37,19 35 5,72 x 105 6,50 x 10-5 0,73 27,13 40 5,72 x 105 4,98 x 10-5 0,72 20,49 Sumber: PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah
commit to user 4. Rencana Penanggulangan
Proses penanggulangan dapat dilakukan dengan pendinginan di tangki utama, reduksi paparan panas (exposure protection), melokalisir sumber kebakaran (confinment) dan memadamkan kebakaran (extinguishment).
a. Pendinginan di Tangki Utama
Pendinginan tangki utama bertujuan untuk mengurangi paparan panas yang ditimbulkan oleh kebakaran pada tangki, pendinginan dilakukan dengan menyemprotkan air pada seluruh permukaan dinding tangki yang terbakar dengan menggunakan hydrant yang terdekat yaitu hydrant nomor 11 dan 12 dengan kapasitas masing-masing 2 x 250 gpm discharge outlet.
Kapasitas Hydrant = 2 x (2x250) gpm
= 1000 gpm
= 3785 lpm
Berdasarkan NFPA 15 (Explanatory Material Point A.7.4.2) kemampuan air dengan application rate 8,20 lpm/ m2 (0,20 gpm/ft2) dapat menyerap besaran panas sebesar 18,93 kW/ m2. Bisa dikatakan paparan reduksi panas pada proses pendinginan tangki adalah 2,31 kW/ m2 tiap liter per menit, sedangkan luas permukaan tangki adalah sekitar 1.559 m2, artinya jika 2 hydrant digunakan untuk mendinginkan seluruh permukaan tangki adalah sebagai berikut :
commit to user
/m2
Jadi perhitungan reduksi panasnya adalah sebagai berikut : Reduksi Panas = 2,37LPM/ m2x 2,31kW/ m2
= 5,46 kW/ m2
Dibawah ini adalah tabel perubahan radiasi panas :
Tabel 5. Perubahan Radiasi Panas (Radiant Flux) Setelah Tangki Utama Didinginkan
Jarak Paparan
(X)
Fraksi radiant kebakaran
Faktor Geometri (Fp) (m-2)
Transmissivity Radiant Flux (QR)
(kW/m2) 10 m 5,72 x 105 7,96 x 10-4 0,82 367,97 15 m 5,72 x 105 3,54 x 10-4 0,81 158,48 20 m 5,72 x 105 1,99 x 10-4 0,77 82,20 25 m 5,72 x 105 1,27 x 10-4 0,75 49,18 30 m 5,72 x 105 8,85 x 10-5 0,735 31,73 35 m 5,72 x 105 6,50 x 10-5 0,73 21,67 40 m 5,72 x 105 4,98 x 10-5 0,72 15,03 Sumber: PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah
b. Exposure Protection
Exposure Protection dilakukan dengan proses pendinginan (cooling) yang bertujuan mereduksi paparan panas dan juga untuk melokalisir sumber panas. Pada tangki yang terpapar panas, proses pendinginan dapat dilakukan dengan mengaktifkan water sprinkler.
Berdasarkan tabel diatas dapat diperkirakan paparan panas yang diterima oleh tangki sekitar berjarak cukup dekat dengan sumber kebakaran. Dan tangki sekitar paparan panas yang diterima yang berada dalam jarak cukup dekat dengan tangki 07 adalah sebagai berikut :
commit to user
Tabel 6. Rekapitulasi Paparan Panas yang Diterima Tangki Sekitar No.
Tangki Timbun
Produk Diameter Jarak Dari Tangki 07
Paparan Panas
04 Pertamax 27,2 m 27,4 m 110,49
Kw/m2
05 Pertamax 27,2 m 38 m 17,69
kW/m2
08 Solar 38,9 m 30,5 m 30,72
Kw/m2 Sumber: PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah
Berdasarkan NFPA 15 (Explanatory Material Point A.7.4.2) dinyatakan bahwa suhu tangki BBM yang menerima paparan panas sebesar 63,10 kW/ m2 akan mencapai 100º (yang telah melewati flash point dari sebagian besar produk BBM) dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan diameter tangki terebut. Berdasarkan Tabel 5.5. Paparan panas yang diterima oleh tangki nomor 05 dan 08 cukup kecil jika dibandingkan dengan nilai besaran panas (63,10 kW/ m2) yang dapat menyebabkan tangki terbakar dengan sendirinya. Oleh karena itu exposure protection tangki nomor 08 dan tangki nomor 05 bersifat optimal.
Sedangkan paparan panas yang diterima oleh tangki nomor 04 besar paparan panas lebih dari 63 kW/m² yang dapat menyebabkan tangki nomor 04 dapat terbakar dengan sendirinya.
Oleh karena itu Exposure protection tangki nomor 04 harus dilakukan.
commit to user
Water deluge yang telah terpasang memiliki application rate sebesar 10,20 lpm/m2, sehingga proses exposure protection dapat dengan hanya dengan menggunakan water sprinkler tanpa harus menambahkan pendinginan tambahan melalui sarana dan fasilitas pemadam yang lain. Exposure protection untuk tangki 04,05, dan 08 sesuai dengan NFPA 15 (Chapter 7.4.2.1) harus diproteksi dengan application rate sebesar 10,2 lpm/m2. Pada tabel 5.8 Dapat dilihat kebutuhan air untuk pendinginan tangki sekitar.
Tabel 7. Kebutuhan Air Pendingin Tangki Sekitar
No. Tangki L.Dinding (m²) Kebutuhan Air (lpm)
08 1261,3 12865,26
04 525,8 5363,16
05 841,8 8586,36
Total 26814,78
Sumber: PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah c. Extinguishment (Pemadaman)
Proses pemadaman dilakukan dengan memutus segitiga api dan untuk memutusnya dapat dilakukan dengan menggunakan foam dan air. Tangki nomor 07 telah dilengkapi dengan 3 unit foam chamber sesuai standar yang tercantum pada NFPA 11 (Tabel 5.2.5.1). Foam application rate fixed outlet adalah sebesar 4,10 lpm/m2 selama 55 menit (NFPA 11 Tabel 5.2.5.2.2). Kebutuhan foam dan air adalah sebagai berikut :
1) Luas permukaan yang di proteksi adalah sebesar 1.181,77 m2
commit to user
2) Kebutuhan air = 4,10 lpm/m2 x 1.181,77 m2 x 97 % = 4.699,89 lpm
3) Kebutuhan foam = 4,1 lpm/m2 x 1.181,77 m2 x 3% = 145,36 lpm
d. Skema Pemadaman
Dibawah ini adalah gambar skema pemadaman kebakaran tangki timbun nomor 07
Gambar 7. Skema Pemadaman
Sumber: PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah.2016 e. Perhitungan Kebutuhan Air dan Kapasitas Sarana dan fasilitas
Pemadam yang Dimiliki
Dilihat dari rencana penanggulangan kebakaran maka dapat di ketahui kebutuhan air yang digunakan selama dalam proses pemadaman. Dengan data tersebut maka kita dapat mengevaluasi perbandingan sarana dan fasilitas pemadam dengan kebutuhan air
commit to user
selama proses pemadaman. Jumlah air yang dibutuhkan pada saat pemadaman dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 8. Total Kebutuhan Air
No. Kebutuhan Air Jumlah
1 Pendinginan Utama 3785 lpm
2 Pendinginan Tangki Sekitar 26814,78 lpm
3 Pemadaman 5827,5 lpm
Total 36427,28 lpm
Sumber: PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah
Jumlah air yang dibutuhkan selama pemadaman adalah sekitar 36.427,28 lpm atau sekitar 9.624 gpm, setelah mengetahui data total air yang dibutuhkan selama pemadaman maka kita dapat mengevaluasi sarana dan fasilitas pemadam yang dimiliki oleh PT.
Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah terutama pada kapasitas pompa dan bak PMK. Data Berikut adalah data sarana dan fasilitas pemadam yang dimiliki PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah.
Tabel 9. Sarana dan Fasilitas Pemadam
No. Sarana dan Fasilitas Kapasitas 1 Pompa PMK TBBM 2000 GPM (3 unit) 2 Pompa Foam TBBM 50 GPM (1 unit ) 3 Foam Tank TBBM Kapasitas 10.000 L 4 Portable Pump 500 GPM Angus Diesel
5 Sumber Air 5400 m3 + 200 m3
6 Fire Jeep 1 unit Isuzu D-Max
Kapasitas Pompa 150 GPM , Tangki Air 500 L 7 Water Recovery 10 LPS + 10 LPS 8 Foam Chamber tangki
07
3 x 250 LPM Sumber: PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah
commit to user
Dari data sarana dan fasilitas maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa kapasitas pompa yang dimiliki kurang, kapasitas pompa yang dimiliki adalah 6.000 GPM. Sedangkan kebutuhan pompa sesungguhnya adalah sekitar 9.624,116 GPM. Sedangkan bak PMK yang tersedia adalah 5.600 , atau 5.600.000 liter. Jika di konvensikan ke galon yaitu sekitar 1.479.524 galon. Jika digunakan untuk pemadaman dengan kapasitas pompa sebesar 6.000 gpm maka pemadaman akan bertahan sekitar 4 jam, dan jika digunakan untuk kapasitas pompa 9.624,116 gpm maka pemadaman dapat bertahan selama 2,5 jam. Foam yang dibutuhkan untuk pemadaman adalah 145,36 lpm. Sedangkan foam yang dimiliki sebanyak 5.890 liter dan kapasitas foam tank adalah 10.000 liter sehingga foam hanya bisa memadamkan dalam waktu 1 jam saja
Standar yang tercantum dalam NFPA 11 (Tabel 5.2.5.1).
Foam application rate fixed oultlet adalah sebesar 4,1 lpm/ m2 selama 55 menit (NFPA 11 Tabel 5.2.5.2.2), itu artinya bahwa target pemadaman sekitar 55 menit bisa tercover dengan kapasitas air dalam bak PMK.
commit to user
f. Tindakan Penanggulangan Operasional TBBM Boyolali
Gambar 8. Organisasi Keadaan Darurat
Sumber: PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah.2016 1) Uraian Tugas
Untuk desain baju pada tugas-tugas yang sudah diuraikan dibawah terdapat di lampiran 4.
a) Mendeklarasikan level emergency 1, 2 dan 3
b) Mencari informasi penting dari Incident/ Support/ General Commander yaitu:
(1) Jumlah orang dilapangan TKP (2) Kondisi orang di TKP
(3) Kondisi plant dan peralatan (4) Kondisi fasilitas
(5) Pertimbangan lingkungan
(6) Pengembangan yang diharapkan dilapangan
commit to user
(7) Rencana awal untuk dilaksanakan oleh IC
(8) Support segera dari Tim Manajemen dan Tim Support c) Memerintahkan Log Keeper mencatat semua informasi
penting diatas
d) Membagikan semua informasi dengan anggota tim emergency dan tim support yang relevan
e) Melanjutkan meng update ke ERC dengan permintaan atau tindakan yang dilakukan oleh IC
f) Meyakinkan White Board membuat catatan kronologis emergency dengan bahasan yang mudah dipahami
g) Sebagai orang kedua dari sistem komando, yakinkan selalu berkomunikasi lebih intens dengan ERC bertindak pro-aktif dan berpikir kedepan.
2) Incident Commander
a) Meyakinkan level emergency dan diinfokan ke Deputy ERC untuk di declare
b) Memberikan komando, mengerti situasi sesuai dengan kondisi dan informasi yang ada
c) Mencari informasi penting yaitu jumlah orang di TKP, kondisi peralatan penanggulangan, pengembangan yang di harapkan dari On Scene Commander
d) Memerintahkan evakuasi dan meyakinkan berjalan dengan baik
commit to user
e) Mengupdate informasi ke Deputy ERC, Support dan General Commander
f) Mendelegasikan tugas-tugas pada tim sesuai bagan organisasi emergency system untuk mencapai sasaran
g) Menngumumkan api sudah dapat dikuasi/aman sesuai info dari On Scene Commander
h) Mereview secara terus menerus rencana dan memperbaiki jika dibutuhkan.
3) General Commander
a) Membantu Deputy ERC untuk mengumpulkan informasi kejadian
b) Rutin meng-update deputy ERC dari semua tindakan yang sudah dilakukan
c) Menjaga komunikasi dengan medikal, koordinator komunikasi dan konsumsi, serta rescue team
d) Membuat pemberitahuan ke Pemerintah, agen-agen eksternal dan internal yang terdaftar di prosedur emergency e) Meyakinkan bahwa tidak ada info yang dikeluarkan tanpa
izin dari Deputy ERC
f) Bertindak pro-aktif dalam memberikan respon
g) Selalu menghubungi dan menjaga komunikasi yang terbuka dengan keluarga pekerja melalui Tim Response Keluarga (TRK)
commit to user
h) Merancang bantuan untuk berhubungan dengan Tim Response Keluarga
i) Meyakinkan tidak ada informasi yang sensitif dan kritikal atau detail melalui telepon di release keluar
j) Mengumpulkan dokumentasi perusahaan untuk mencatat semua panggilan yang masuk dan keluar.
General Commander menjadi ketua dari 4 tim yaitu :
a) Medical Team yang bertugas berkoordinasi dengan general commander untuk pertolongan pertama, membawa korban ke klinik untuk dilakukan pertolongan pertama dan berkoordinasi dengan medical area untuk pertolongan lebih lanjut jika diperlukan
b) Tim evakuasi dokumen dan komunikasi yang bertugas berkoordinasi dengan general commander untuk membantu kebutuhan tim penanggulangan keadaan darurat, melakukan evakuasi dokumen atau aset yang perlu dilakukan pengamanan
c) Tim komunikasi dan koordinasi yang bertugas berkoordinasi dengan general commander untuk informasi kondisi terakhir di TKP, mengkomunikasikan dengan pihak-pihak terkait (konsumen/pelanggan) untuk hal-hal yang telah disetujui oleh general commander dan deputy ERC
commit to user
d) Tim evakuasi yang bertugas menjalankan instruksi general commander untuk melakukan evakuasi, melakukan operasi penyelamatan jiwa (recue) dan material (salvage), mengadakan komunikasi dengan on scene commander mengenai usaha-usaha penyelamatan, dan menentukan peralatan yang ada kaitannya dengan usaha-usaha penyelamatan.
4) Support Commander
a) Membantu deputy ERC untuk mengumpulkan informasi kejadian
b) Rutin meng-update deputy ERC dari semua tindakan yang sudah dilakukan
c) Menjaga komunikasi dengan medikal, koordinator komunikasi dan konsumsi, serta rescue team
d) Membuat pemberitahuan ke Pemerintah, Agen-agen eksternal dan internal yang terdaftar di prosedur emergency e) Meyakinkan bahwa tidak ada info yang dikeluarkan tanpa
izin dari deputy ERC
f) Bertindak pro-aktif dalam memberikan respon
g) Selalu menghubungi dan menjaga komunikasi yang terbuka dengan keluarga pekerja melalui tim response Keluarga (TRK)
commit to user
i) Merancang bantuan untuk berhubungan dengan tim response Keluarga
j) Meyakinkan tidak ada informasi yang sensitif dan kritikal atau detail melalui telepon di release keluar.
k) Mengumpulkan dokumentasi perusahaan untuk mencatat semua panggilan yang masuk dan keluar.
Support commander menjadi ketua dari 3 tim yaitu :
a) Sekuriti yang bertugas melakukan pengamanan pada saat emergency dan melarang personil tidak berkepentingan masuk ke TKP, memberitahukan ke Support Commander jika tim bantuan dari luar perusahaan datang jika diperlukan, membantu menghitung pekerja yang berada dititik berkumpul/titik evakuasi
b) Tim Logistik sarana dan fasilitas yang bertugas membantu menyediakan tambahan peralatan penanggulangan kebakaran jika diperlukan (seperti foam, nozzle, selang, dsb), mempersiapkan transportasi untuk pekerja dan keperluan logistik.
5) On Scene Commander
a) Membantu Deputy ERC untuk mengumpulkan informasi kejadian
b) Rutin meng update deputy ERC dari semua tindakan yang sudah dilakukan
commit to user
c) Menjaga komunikasi dengan medikal, koordinator komunikasi dan konsumsi, serta rescue team
d) Membuat pemberitahuan ke Pemerintah, Agen-agen eksternal dan internal yang terdaftar di prosedur emergency e) Meyakinkan bahwa tidak ada info yang dikeluarkan tanpa
izin dari Deputy ERC
f) Bertindak proaktif dalam memberikan respon
g) Selalu menghubungi dan menjaga komunikasi yang terbuka dengan keluarga pekerja melalui Tim Response Keluarga (TRK)
h) Merancang bantuan untuk berhubungan dengan Tim Response Keluarga
i) Meyakinkan tidak ada informasi yang sensitif dan kritikal atau detail melalui telepon di release keluar
j) Mengumpulkan dokumentasi perusahaan untuk mencatat semua panggilan yang masuk dan keluar.
6) Telephone Responder
a) Meyambung telepon ke deputy ERC dan anggota management team lainnya sehingga informasi ini bisa di share dengan manajer lini dan IC
b) Jawab dan catat semua percakapan dan permintaan terkait insiden
commit to user
c) Kumpulkan dan susun catatan khusus perusahan dan formulir panggilan masuk
d) Berbicara dengan pihak luar dan cara simpatik, hindari perasaan tidak sabar dan kasar menghadapi penelepon
e) Jangan di release material yang sensitif dan tidak punya otorisasi tanpa adanya persetujuan
f) Hanya pernyataan resmi perusahaan yang boleh diberikan g) Ketika menjawab panggilan telepon atau menelepon
yakinkan lagi penelpon akan anda telepon ulang lagi, atau memberikan dia nomor telepon bisa dihubungi kemudian h) Sampaikan juga semua permintaan ke PIC dari HR dalam
EMT
i) Mintakan tambahan personil untuk membantu anda jika bebannya tinggi
j) Berhubungan segera dengan kantor sekuriti jika pihak keluarga atau media ada di resepsionis dan menyebabkan kebingungan.
Penyampaian permintaan bisa melewati facsimile keadaan darurat yang terdapat di lampiran 5. Dan untuk pernyataan Emergency System terdapat di lampiran 6. Serta facsimile permintaan bantuan pada lampiran 7.
commit to user 7) Log Keeper
a) Tugas anda adalah mencatat semua kejadian kunci/utama pada saat pengelolaan situasi darurat atau sebagai tim support
b) Meng-update catatan di board sehingga bisa dilihat semua orang dalam ruangan emergency
c) Tulis dengan kalimat yang mudah dibaca, dan bagus juga bila dicetak
d) Gunakan warna yang berbeda atau kata kunci yang digaris bawahi, waktu atau lokasi, jadi lebih terlihat jelas di ‘white board’ yang ada
e) Urutannya dibuat dalam bentuk kronologi kejadian
f) Jaga disiplin untuk TIME OUT, ingatkan deputy ERC yang bertugas untuk melakukan TIME OUT dalam interval tertentu
g) Catatan kejadian yang anda buat akan digunakan setelah insiden selesai oleh investigator, sehingga buatlah secara akurat
h) Bandingkan White Board dengan catatan lain yang ada di ruangan Puskodal
Formulir Log Keeper terdapat di lampiran 8.
commit to user 8) Operation Commander
a) Meyakinkan atas laporan kejadian insiden di tempat kejadian
b) Mengamankan operasional sehubungan dengan terjadinya insiden
c) Berkoordinasi dengan Incident Commander untuk pengisolasian serta perubahan pola operasi bila diperlukan d) Berkoordinasi dengan maintenance jika diperlukan
perbaikan peralatan pada saat emergency.
g. Langkah-Langkah Penanggulangan Kebakaran Tangki nomor 07 Saat terjadi kebakaran sarana dan peralatan K3LL harus dipersiapkan, data tersebut bisa dilihat di lampiran 9. Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan pada saat terjadi keadaan darurat kebakaran:
1. Karyawan Terdekat
Karyawan terdekat yang yang mengetahui atau melihat ke adanya kebakaran segera bertindak :
a) Memberitahukan kepada petugas disekitarnya. Selanjutnya bila kebakaran dapat ditanggulangi, segera melapor ke HSSE
b) Segera melaporkan kejadian tersebut ke HSSE, Operation Head Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah atau pejabat yang ditunjuk maupun petugas lainnya menggunakan
commit to user
HT/Radio, Hand set phone terdekat, Menelpon langsung ke HSSE atau Operation Head PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah dengan menyebut nama pelapor dan lokasi kebakaran, menekan tombol Fire Alarm/Emergency Break Glass terdekat.
Sambil menunggu petugas bantuan datang, pekerja tersebut melakukan tindakan Pengawasan diluar area injury zone dan menunggu perintah selanjutnya serta harus mengetahui daftar nomor penting untuk komando selanjutnya. Terdapat di lampiran 10.
2. Petugas HSSE
a) Segera melapor kepada Supervisor HSSE selaku On Scene Commander
b) Segera menuju ke lokasi kebakaran dengan membawa peralatan pemadaman
c) Tim HSSE segera melakukan upaya penanggulangan keadaan darurat
d) Salah satu petugas HSSE segera menghubungi petugas- petugas yang terlibat dalam Organisasi Keadaan Darurat (OKD).
commit to user 3. Utilities/Proses Control Data
Tindakan penanggulangan yang dilakukan antara lain adalah sebagai berikut :
a) Bagian control room akan menghentikan kegiatan penerimaan dan penyaluran
b) Menutup kerangan pada inlet dan outlet seluruh Tangki Timbun
c) Menghentikan pemompaan ke filling shed dan menutup valve
d) Membuka seluruh bottom loader dan mengatur evakuasi mobil.
4. Tim Evakuasi dari Fungsi Transportasi
a) Tim evakuasi pekerja memulai upaya evakuasi terhadap seluruh pekerja baik yang ada di lapangan maupun pekerja yang berada di kantor
b) Tim evakuasi mobil tangki memulai upaya evakuasi terhadap seluruh mobil tangki yang masih berada di area filling shed
c) Supervisor HSSE/On Scene Comander
d) Segera mendatangi lokasi untuk menganalisis kejadian terbakarnya tangki timbun
e) Melaporkan hasil analisis lapangan kepada OH selaku Mission Coordinator
commit to user
f) Menghubungi lokasi tambahan personil dari luar (tim medis dan aparat setempat untuk penjagaan)
g) Memerintahkan Fire Officer untuk segera melakukan upaya pemadaman kebakaran
h) Memerintahkan tim penunjang untuk segera melakukan tugasnya masing-masing apabila diperlukan
i) Melaporkan kondisi lapangan kepada deputy ERC (OH TBBM Boyolali) via HT
j) Fire Brigade, regu penanggulangan, fire truck dan seluruh sarana dan fasilitas yang akan digunakan dalam penanggulangan telah tiba di lokasi kebakaran
k) Pompa PMK diaktifkan
l) Memerintahkan petugas HSSE untuk membuka kerangan water sprinkler Tangki 05, 06 dan 08
m) Memerintahkan kerangan foam chamber T.07 untuk dibuka dan pompa foam diaktifkan.
5. Operation Head Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah / Mission Comander
a) Menyatakan bahwa tengah terjadi keadaan darurat apabila kejadian kebakaran telah disinyalir akan mengganggu kegiatan operasional
b) Memerintahkan untuk membunyikan sirine tanda keadan darurat
commit to user
c) Memantau/melakukan koordinasi penanggulangan kebakaran darurat kebakaran, termasuk koordinasi tim penunjang
d) Mengumpulkan tim manajemen dan pekerja lain yang terkait di PUSKODAL PT. Pertamina TBBM Boyolali, Jawa Tengah untuk mempermudah koordinasi upaya pemadaman
e) Memberikan informasi kepada S & D Region Manager 4 dan HSSE Area Manager JBT bahwa telah terjadi keadaan darurat.
6. Regu Penyerang Api
a) Operator Pompa PMK & Foam
1) Segera menuju rumah pompa pemadam apabila mendengar tanda bahaya kebakaran
2) Menyalakan/ mengoperasikan pompa pemadam, mempersiapkan foam dan jalur pipa pemadam yang dibutuhkan dalam penanggulangan tumpahan minyak b) Regu Penanggulangan I & II
1) Mempersiapkan peralatan pemadaman (hydrant yang akan digunakan, selang, Y piece, foam, kunci-kunci, dll) sesuai dengan kebutuhan dalam penanggulangan kebakaran
commit to user
2) Menuju lokasi kejadian apabila mendengar sirine tanda bahaya kebakaran
3) Melakukan pemadaman kebakaran sesuai dengan instruksi dari Fire Officer/ On Scene Commander
c) Pemadam Api Berjalan Lancar 1) Foam Chamber telah berfungsi 2) Upaya pendinginan telah berfungsi
3) Fire Officer senantiasa berkoordinasi dengan OSC dalam upaya penanggulangannya
4) OSC senantiasa melaporkan keadaan yang terjadi dilapangan kepada mission coordinator
5) Mission coordinator menyatakan keadaan darurat berakhir
6) Deputy ERC melaporkan kepada kepada S & D Region Manager 4 bahwa keadaan darurat telah berhasil dikendalikan
7) Deputy ERC memerintahkan kepada Operation Commander untuk menganalisa situasi yang berkaitan dengan operasional dan memulai operasional kembali jika keadaan telah memungkinkan
8) OSC memerintahkan regu evakuasi untuk mengembalikan pekerja ke tempat masing-masing
commit to user
setelah dilakukan pengabsenan dan pengecekan kondisi pekerja
9) Pemadaman Berjalan Dengan Aman h. Prediksi Waktu Pemadaman
Response Time : 10 menit (waktu dimulai dari saat menerima berita/alarm sampai media pemadam busa keluar melalui outlet foam chamber terdapat pada Lampiran 11.
Dari skenario yang telah dijelaskan diatas yang kemudian dievaluasi oleh tim OKD diperoleh kesimpulan atau disebut Fire Risk Card Tangki 07 terdapat pada Lampiran 12.