• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI PELAYANAN KERETA API BANDAR UDARA BERDASARKAN STANDAR PELAYANAN MINIMUM (SPM)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EVALUASI PELAYANAN KERETA API BANDAR UDARA BERDASARKAN STANDAR PELAYANAN MINIMUM (SPM)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Konferensi Nasional Teknik Sipil 16 1 Denpasar, 27 – 28 Oktober 2022

EVALUASI PELAYANAN KERETA API BANDAR UDARA BERDASARKAN STANDAR PELAYANAN MINIMUM (SPM)

Dinda Sekar Selni Prawardani1 dan Imam Basuki2

1Jurusan Teknik Sipil, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jl. Babarsari 44 Yogyakarta Email: [email protected]

2 Jurusan Teknik Sipil, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jl. Babarsari 44 Yogyakarta Email: [email protected]

ABSTRAK

Salah satu faktor pemerintah Yogyakarta membangun Bandar Udara Internasional Yogyakarta dikarenakan kapasitas bandar udara Adisutjipto hanya mampu menampung 1,2 juta penumpang tetapi kenyataannya jumlah penumpang bisa mencapai lima kali lipat melebihi daya tampung. Dikarenakan jadwal penerbangan yang sangat padat tersebut serta kapasitas bandara yang kurang memadai, maka sejak tahun 2020 rerata penerbangan dialihkan ke Bandar Udara Internasional Yogyakarta (YIA) “dikutip dari website resmi Adisutjipto airport”. Letak bandar udara yang jauh dari pusat kota berpengaruh dalam hal pengembangan moda transportasi massal Kereta Api sebagai salah satu connector (penghubung) langsung antara bandar udara dengan pusat kota Yogyakarta.

Stasiun Kereta api bandara YIA mulai dioperasikan sejak bulan oktober 2021. Dalam kurun waktu yang terbilang baru tersebut, maka perlu adanya evaluasi terhadap fasilitas pelayanan di dalam Kereta Api Bandara serta di Stasiun Bandara YIA.

Tahapan yang diperlukan dalam melakukan penelitian ini diantaranya: persiapan, identifikasi masalah, pengumpulan data, evaluasi data, pembahasan, serta kesimpulan dan saran. Pemerintah sendiri memiliki Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api yang tercantum dalam Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Nomor PM 63 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api, di Stasiun maupun di Perjalanan.

Dalam peraturan tersebut memiliki 6 jenis pelayanan yaitu diantaranya: Keselamatan, Keamanan, Kehandalan/Keteraturan, Kenyamanan, Kemudahan, dan Kesetaraan. Untuk mengetahui apakah ke-6 jenis pelayanan tersebut sudah memenuhi standar pelayanan, maka dapat dilakukan evaluasi menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data secara observasi langsung di lapangan dan melalui kuesioner, sehingga diketahui pelaksanaan standar pelayanan minimum di Kereta Api Bandara dan di Stasiun Bandar Udara YIA.

Kata kunci: Standar Pelayanan Minimum, Stasiun, Kereta Api Bandar Udara

1. PENDAHULUAN

Sebagai salah satu kota pariwisata di Indonesia, menyebabkan jumlah penduduk di Yogyakarta selalu bervariasi (David, 2015). Pergerakan penduduk yang masuk maupun keluar kota tersebut sangat mempengaruhi dari segi transportasi di kota Yogyakarta. Masyarakat umumnya menggunakan moda transportasi massa seperti Pesawat jika tujuan yang ditempuh cukup jauh, selain itu juga bisa menggunakan Bus Antar Kota dan Kereta Api apabila kota yang dituju tidak begitu jauh atau masih didalam satu pulau yang sama.

Transportasi perkeretaapian menurut (Keputusan Menteri Perhubungan RI No. KM 296 Tentang Rencana Induk Perkeretaapian Nasional, 2020) memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan moda transportasi lainnya, antara lain: kapasitas angkut besar (massal), cepat, aman, hemat energi, serta ramah Iingkungan dan membutuhkan lahan yang relatif sedikit.

Salah satu program pemerintah dalam dokumen (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Permbangunan Nasional BAPPENAS, Tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca, 2012) dalam sosialisasi di semarang dijelaskan bahwa kota-kota di pulau Jawa dapat berpartisipasi dalam menurunkan emisi dengan karakteristik pulau jawa yaitu daerah perkotaan adalah dengan melakukan penataan dari segi transportasi, karena transportasi merupakan salah satu penyumbang emisi terbesar, maka dengan meminimalkan penggunaan kendaraan pribadi dan lebih berfokus dalam peningkataan dan pengadaan moda transportasi massal dalam hal ini Kereta Api yang diharapkan dapat turut serta membantu memberikan kontribusi yang besar bagi lingkungan dikarenakan Kereta Api merupakan moda dengan konsumsi energi yang efisien per satuan penumpang dan gas buang

(2)

atau polutan yang dimiliki rendah, terlebih perkembangan kereta api sudah sangat pesat dimana menggunakan energi listrik sebagai pengganti bahan bakar minyak (Keputusan Menteri Perhubungan RI No. KM 296 Tentang Rencana Induk Perkeretaapian Nasional, 2020).

Stasiun Kereta Api Bandara YIA dibangun bersamaan dengan dibangunnya Bandara Yogyakarta International Airport yang terletak di kecamatan Temon Kabupaten Kulon Progo. Letak Bandar Udara yang sangat jauh dari pusat Kota Yogyakarta yaitu 45 km membuat pemerintah membangun fasilitas Stasiun Kereta Api Bandara untuk membantu memudahkan pengguna jasa bandara dari dan menuju Bandar Udara Internasional Yogyakarta.

Dalam penyediaan fasilitas massal seperti kereta api dan stasiun bandara ini, tidak akan terlepas dari sebuah Standar Pelayanan Minimum bagi semua pengguna jasa. Menurut Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Nomor PM 63 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api, Standar pelayanan minimum yang selanjutnya disingkat SPM adalah ukuran minimum pelayanan yang harus dipenuhi oleh penyedia layanan dalam memberikan pelayanan kepada pengguna jasa, yang harus dilengkapi dengan tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan janji penyedia layanan kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau dan terukur.

Berdasarkan penjelasan mengenai SPM tersebut serta kondisi stasiun Bandara YIA yang belum lama beroperasi yaitu sejak 17 September 2021 “dikutip dari website resmi Tribun.Jogja, 2021”, maka dilakukan evaluasi SPM terhadap tolok ukur Kereta Api Bandara dan Stasiun Bandara YIA dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui cara observasi, sehingga peneliti dapat mengetahui kondisi real terhadap ketersediaan pelayanan fasilitas sesuai dengan peraturan yang berlaku.

2. LANDASAN TEORI

Perkembangan akan jumlah kegiatan manusia menuntut tersedianya sarana dan prasarana fasilitas transportasi yang baik untuk dapat melakukan berbagai kegiatan tersebut. Sarana transportasi yang dimaksud merupakan stasiun, yang merupakan salah satu objek perpindahan manusia ataupun barang yang berfungsi memulai dan mengakhiri suatu perjalanan dan perpindahan objek.

1. Perkeretaapian.

Perkeretaapian menurut UU No. 23 Tahun 2007, ialah suatu kesatuan sistem untuk kegiatan penyelenggaraan transportasi kereta api yang terdiri dari sarana dan prasarana, sumber daya manusia, serta norma, kriteria, persyaratan dan beberapa prosedur.

Dalam Peraturan Menteri Perhubungan RI No. PM 38 Tahun 2021 Bab II Pasal 4, kegiatan perkeretaapian bertujuan untuk:

1. Memenuhi kebutuhan dalam hal pendanaan berkelanjutan melalui investasi suatu Badan Usaha.

2. Meningkatkan kualitas, kuantitas, serta efisiensi dalam pengadaan prasaranan perkeretaapian umum dengan menggunakan cara bersaing yang sehat.

3. Meningkatkan kualitas pembangunan, pengoperasian, perawatan prasarana kereta ai umum dan atau mendorong digunakannya prinsip pengguna jasa membayar pelayanan yang diterimanya.

2. Stasiun Kereta Api.

Stasiun Kereta api menurut Undang-Undang Republik Indonesia No, 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, menjabarkan bahwa stasiun merupakan salah satu prasarana perkeretaapian yang berfungsi sebagai tempat kereta api berangkat maupun berhenti untuk kegiatan pelayanan diantaranya: naik turunnya penumpang, bongkar muat barang, serta untuk keperluan operasi dari kereta api itu sendiri, yang dimana tercantum pada pasal 54 yaitu stasiun kereta api, sekurang-kurangnya harus dilengkapi dengan beberapa fasilitas diantaranya:

1. Keselamatan 2. Keamanan 3. Kenyamanan

4. Naik Turunnya Penumpang 5. Disabilitas

6. Kesehatan 7. Fasilitas umum

Kegiatan usaha penunjang di dalam stasiun kereta api dapat dilakukan dengan syarat tidak mengganggu fungsi stasiun itu sendiri. Stasiun dikelompokkan kedalam beberapa kelas yaitu: kelas besar, kelas sedang, dan kelas kecil (UU No 23 tahun 2007 Pasal 56 tentang perkeretaapian).

Pengelompokkan kelas stasiun kereta api bisa ditetapkan berdasarkan kriteria sebagai berikut:

(3)

1. Fasilitas Operasi 2. Frekuensi lalu lintas 3. Jumlah penumpang 4. Jumlah barang 5. Jumlah jalur, dan 6. Fasilitas penunjang

3. Standar Pelayanan Minimum (SPM).

Standar Pelayanan Minimum atau yang disingkat dengan SPM menurut Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Nomor PM 63 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api adalah ukuran minimum pelayanan yang harus dipenuhi oleh penyedia layanan dalam memberikan pelayanan kepada pengguna jasa, yang harus dilengkapi dengan tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan janji penyedia layanan kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau dan terukur.

SPM sendiri mencakup 6 unsur pelayanan baik itu untuk SPM Angkutan Orang Dengan Kereta Api di Stasiun, serta SPM Angkutan Orang Dengan Kereta Api di Perjalanan yang disajikan kedalam tabel 3.1 berikut:

Tabel 1. Jenis Pelayanan SPM Angkutan Orang dengan Kereta Api No Jenis Pelayanan

1 Keselamatan

2 Keamanan

3 Kehandalan/ Keteraturan

4 Kenyamanan

5 Kemudahan

6 Kesetaraan

Standar Pelayanan Minimum angkutan orang dengan kereta api berlaku bagi pelayanan kereta-kereta berikut:

1. Kereta Rel Listrik 2. Light Rail Transit (LRT) 3. Mass Rapid Transit (MRT) 4. Kereta Api Bandara

SPM angkutan orang dengan kereta api di perjalanan memiliki tolak ukur diantaranya:

1. Stasiun dengan penumpang < 10.000 per hari 2. Stasiun dengan penumpang 10.000-50.000 per hari 3. Stasiun dengan penumpang > 50.000 per hari

Selanjutnya untuk SPM angkutan orang dengan kereta api di perjalanan memiliki tolak ukur sebagai berikut:

1. Kereta Api Antar Kota

2. Kereta Api dalam kota, KRL, MRT dan LRT 3. Kereta Api Bandara

3. METODOLOGI PENELITIAN

Didalam penelitian ini digunakan pendekatan dengan metode kualitatif. Metode kualitatif sendiri menurut (Sugiyono, 2015) dalam bukunya yang berjudul “Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D”. Metode kualitatif adalah metode penelitian yang dipakai untuk meneliti suatu kondisi objek yang alamiah dimana pengambilan sampel atau sumber data dilakukan secara terencana, teknik pengumpulan dengan cara gabungan serta analisis data nya bersifat kualitatif dimana lebih menekankan pada suatu makna daripada generalisasi.

(4)

Metode yang digunakan didalam penelitian ini menggunakan metode studi lapangan yang kemudian dianalisis dengan cara deskriptif atau berdasarkan data, gambar, dan informasi yang diperoleh dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi dan kuesioner yang termasuk ke dalam data primer dan kemudian membandingkan hasil observasi tersebut dengan data sekunder untuk menilai kelengkapan dan kesesuaian fasilitas SPM di Stasiun maupun di kereta api Bandar Udara YIA.

1. Analisis Data

Pengumpulan data merupakan suatu kegiatan yang melakukan adanya pengambilan dan pencatatan data secara langsung di lapangan sebagai bahan penelitian atau analisis. Data tersebut bertujuan untuk mencapai hasil akhir dari suatu penelitian yang dilaksanakan. Didalam penelitian ini menggunakan dua data yaitu data primer dan data sekunder.

1. Data Primer

Data primer yang dibutuhkan didalam penelitian ini adalah hasil observasi (pengamatan secara langsung) serta kuesioner yang disebar secara online untuk mengetahui kepuasan terhadap fasilitas pelayanan yang ada di Stasiun (pnp < 10.000/hari) dan di Kereta Api Bandar Udara YIA

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan jenis data yang bisa diperoleh dari beberapa sumber, misalnya studi yang telah dilakukan oleh peniliti-peneliti sebelumnya, ataupun data berupa dokumen resmi yang tertulis dan berasal dari instansi terkait. Secara garis besar, data sekunder ini memiliki fungsi untuk memperkuat data primer dan bisa digunakan untuk menganalisis data. Didalam penelitian ini, data sekunder yang digunakan berasal dari dokumen resmi yang bersumber dari Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Nomor PM 63 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api.

Berdasarkan kedua jenis data tersebut baik primer dan sekunder, keduanya dilakukan secara beriringan dimana penulis terlebih dahulu mengumpulkan data sekunder kemudian dilanjutkan dengan mengumpulkan data primer yang dikerjakan dengan cara Observasi secara langsung didalam Stasiun maupun di Kereta Api Bandara YIA ditambah dengan menyebarkan kuesioner online untuk mengetahui secara umum terkait kepuasan penumpang terhadap fasilitas yang diberikan, kemudian antara data primer dan sekunder, keduanya dianalisis dan dibandingkan sehingga peneliti dapat menjawab hipotesisnya berdasarkan kesimpulan dari hasil yang diperoleh.

(5)

2. Bagan Alir

Gambar 1. Bagan Alir Penelitian.

4. PEMBAHASAN

Penelitian yang dilakukan di lapangan dengan menggunakan data primer yang diperoleh dari observasi secara langsung dan juga kuesioner online, dijabarkan sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi yang dilakukan secara langsung terhadap fasilitas, baik di stasiun maupun di dalam EVALUASI HASIL OBSERVASI

KA DI STASIUN

KA DI PERJALANAN 1. KESELAMATAN

2. KEAMANAN 3. KEHANDALAN/

KETERATURAN 4. KENYAMANAN 5. KEMUDAHAN 6. KESETARAAN

PENGUMPULAN DATA

DATA SEKUNDER

HASIL DAN PEMBAHASAN

KESIMPULAN DAN SARAN

SELESAI MULAI

IDENTIFIKASI MASALAH

DATA PRIMER

OBSERVASI PM PERHUBUNGAN NO. 63

TAHUN 2019 (SPM KA)

(6)

kereta api bandar udara adalah sebagai berikut:

- secara umum, fasilitas yang diberikan ada yang telah memenuhi peraturan dan ada juga yang belum memenuhi.

Berdasarkan pengamatan penulis dan juga rekan-rekan yang ikut membantu dalam observasi, tidak ditemukan beberapa fasilitas atau kesesuaian terhadap standar pelayanan sebagai berikut:

1. Di dalam stasiun:

- Sticker titik kumpul evakuasi, - Fasilitas obat-obatan,

- Ketersediaan informasi mengenai kursi yang tersedia didalam seluruh kelas KA, - Toilet baik untuk pria, wanita dan juga kaum difabel didalam stasiun,

- Mushola didalam stasiun, - Alat pengukur suhu ruang,

- Penanda dilarang merokok didalam setiap ruang publik stasiun, - Tempat duduk bagi penumpang kebutuhan khusus.

2. Di dalam Kereta Api Bandar Udara:

- Suhu yang melebihi batas maksimal

- Display nomor operasi kereta api bandara yang dipasang dibagian muka kereta - Fasilitas P3K yang tidak lengkap

- Tidak semua penumpang duduk 2. Kuesioner.

Untuk memperkuat hasil pengamatan melalui cara observasi, maka dilakukan penyebaran kuesioner secara online bagi penumpang kereta api yang diharapkan hasil akhir dari kuesioner tersebut bisa dinilai dan disimpulkan secara langsung.

Berikut beberapa pertanyaan yang bersifat pendapat (opini penumpang) terkait fasilitas pelayanan yang ada, dimana tidak semua unsur didalam standar pelayanan minimum dipertanyakan, karena untuk mengukur tingkat kepuasan antara satu dengan penumpang lain bisa saja berbeda.

1. Rencana isi kuesioner untuk fasilitas pelayanan di Stasiun:

- Fasilitas Kesehatan yang mudah dilihat dan dijangkau (fasilitas obat-obatan, kursi roda, tandu, tabung oksigen)

- Kinerja petugas keamanan dalam menjaga keamanan dan ketertiban di dalam stasiun.

- Penempatan informasi pengaduan (No. Polres/polsek setempat, call center) yang mudah terlihat bagi penumpang yang membutuhkan bantuan.

- Pelayanan pada fasilitas penjualan tiket manual melalui loket.

- Durasi waktu yang dipakai untuk proses pelayanan pada Loket penjualan tiket (manual) - Informasi jadwal kereta api dan peta jaringan pelayanan kereta api yang mudah terbaca - Fasilitas pengeras suara untuk informasi kedatangan kereta api yang jelas terdengar oleh semua

penumpang

- Kondisi fasilitas ruang tunggu (boarding) yang terawat, bersih, dan tidak berbau.

- Ketersediaan toilet bagi pria, wanita, dan disabilitas didalam stasiun - Ketersediaan Mushola didalam stasiun

- Kondisi suhu didalam ruang tunggu stasiun

- Kondisi Stasiun selalu bersih dan terkontrol selama jam operasional kereta api - Ketersediaan tanda larangan merokok di setiap ruang publik stasiun

- Kemudahan dalam mengetahui informasi pelayanan (denah stasiun, nama stasiun, jadwal operasi kereta api, tarif kereta api, jalur evakuasi apabila terjadi keadaan darurat) yang jelas terbaca dan juga dapat didengar oleh seluruh penumpang

- Fasilitas layanan penumpang (tersedia 1 petugas yang cakap berkomunikasi) untuk memberikan informasi dan layanan pengaduan.

- Kemudahan penumpang untuk melihat penanda penunjuk arah

- Ketersediaan tempat duduk bagi penumpang disabilitas di dalam ruang tunggu stasiun.

- Tinggi meja loket yang disesuaikan dengan tinggi kursi roda bagi penumpang disabilitas 2. Rencana isi kuesioner untuk fasilitas pelayanan di Kereta Api Bandara:

- Kelengkapan alat P3K di dalam kereta api bandara.

- Toilet berfungsi dengan baik, bersih, dan tidak berbau selama di dalam perjalanan.

- Kenyamanan suhu didalam kereta api selama perjalanan.

- Efektivitas ruang khusus bagasi untuk menempatkan barang bawaan di dalam kereta agar tidak mengganggu penumpang.

(7)

- Keadaan kereta yang selalu bersih, bebas dari kotoran, sampah, debu, dan bau, serta dilengkapi dengan petugas kebersihan.

- Penyampaian informasi dengan intensitas suara yang dapat didengar oleh semua penumpang kereta api.

5. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil data primer dengan teknik pengumpulan data observasi dan kuesioner yang kemudian dibandingkan terhadap data sekunder, ditemukan bahwa terdapat fasilitas yang sudah sesuai menurut ketersediaan, tetapi yang tersedia belum tentu fasilitas pelayanan tersebut dirasa puas oleh para penumpang.

Beberapa kesimpulan yang didapat dari responden terhadap kuesioner yang diberi terkait fasilitas pelayanan di stasiun dan di dalam kereta, adalah sebagai berikut:

1. Penumpang mengharapkan kursi kereta dapat dipilih ketika membeli tiket online

2. Penumpang puas dan fasilitas yang ada memudahkan para pengguna kereta api dari arah bandara maupun arah menuju bandara, untuk kebersihan dan kenyamanannya responden yang bersangkutan sangat puas.

semoga kedepannya makin dipertahankan dan semakin meningkat baik fasilitas dan lain sebagainya.

3. Untuk suhu didalam kereta tidak stabil, kadang cukup sejuk , kadang sangat terasa panas (dilihat dari banyak sedikitnya penumpang dalam satu satuan waktu keberangkatan).

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Amperani, Marsela. 2016. Kualitas Pelayanan Kereta Api Logawa Kelas Ekonomi-AC PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daop V Purwokerto, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Arfadian, David. R. 2015. Strategi Pariwisata Provinsi D.I.Y (Daerah Istimewa Yogyakarta) Menjelang Bergulirnya AEC (Asean Economic Community): Thesis Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Ariyani, Destya. A. 2019. Penerapan Standar Pelayanan Minimum Informasi Dalam Memberikan Kemudahan Terhadap Pengguna Jasa Kereta Api di Stasiun Besar Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Permbangunan Nasional BAPPENAS Tahun 2012, Tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca.

Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No. KM 296 Tahun 2020, Tentang Rencana Induk Perkeretaapian Nasional.

Kurniawan, Wahyu D. 2021. Evaluasi Kinerja Pelayanan Stasiun Kereta Api Sidoarjo Berdasarkan Standar Pelayanan Minimum dan IPA (Importance Performance Analysis), Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya, Surabaya.

Riyanta, W. 2000. Persepsi Penumpang Kereta Api Terhadap Tingkat Pelayanan Stasiun Tugu Yogyakarta: Thesis Program Pascasarjana Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No. 33 Tahun 2011, Tentang Jenis, Kelas dan Kegiatan di Stasiun Kereta Api.

Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No. PM 38 Tahun 2021, Tentang Pengadaan Badan Usaha dalam Penyelenggaraan Prasarana Perkeretaapian Umum.

Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 63 Tahun 2019, Tentang Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api.

Pradana, M. Fakhruriza, dkk. 2015. Evaluasi Pelayanan Stasiun Tangerang Kota Tangerang. Jurnal Kajian Teknik Sipil Volume 3 Nomor 2.

Ratnasari, S. D. 2017. Evaluasi Standar Pelayanan Minimum dan Tingkat Kepuasan Penumpang di Stasiun Kereta Api Jember dengan PenerapanSistem Boarding Pass. Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan, ISSN 2548-9518. Volume 1 Nomor 2.

Rijal, Syamsu. 2019. Implementasi Standar Pelayanan Minimum Stasiun Kereta Api Malang Kota Lama (Kajian Perspektif Mashlahah dan Pasal 54 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang.

Sugiyono (2015). Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.

Bandung: Alfabeta.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian.

Widoyoko, Eko Putro. 2014. Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Referensi

Dokumen terkait

Analisis data terhadap tabel tersebut di atas maka dapat dinyatakan bahwa masih ditemukan responden memberikan penilaian pada jawaban a dengan skor 1 dimana skor

perkembangan transportasi kota Cirebon yang dilalui jalur lintas kereta api. dari Jakarta menuju Jawa Tengah dan Jawa

disebutkan dalam pasal 35 bahwa stasiun kereta api berfungsi sebagai tempat.. kereta api berangkat atau berhenti untuk melayani naik turun

Di bawah ini terdapat pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan kinerja Fasilitas. yang terdapat di stasiun Prujakan menurut persepsi

Hasil perhitungan panjang landasan pacu (runway) pada kondisi eksisting dimana setelah dicoba perhitungan menggunakan dua buah pesawat yaitu B 737 – 300 dan B 747 –

EVALUASI KINERJA STASIUN KERETA API BERDASARKAN STANDAR PELYANAN MINIMAL DI STASIUN ( STUDI KASUS STASIUN PRUJAKAN CIREBON, JAWA BARAT ), Raden Aji Laksono, NPM