Applied Behavior Analysis
“ Basic Concepts “
Nila Zaimatus Septiana & Paul Arjanto
Universitas Negeri Malang
2011
Konsep-konsep Dasar
Analisis Pengubahan Tingkah Laku
MAKALAH
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisis Pengubahan Tingkahlaku Dibina oleh Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A.
Oleh:
Nila Zaimatus Septiana (100111507277) Paul Arjanto (100111507273)
Program Studi Bimbingan dan Konseling Program Pascasarjana
Universitas Negeri Malang
2011
Kata Pengantar
Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat penyertaanNya sehingga makalah ini dapat kami selesaikan.
Makalah ini disusun untuk diajukan sebagai tugas mata kuliah Analisis Pengubahan Tingkah Laku dengan judul “Konsep Dasar Analisis Pengubahan Tingkah Laku” di Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang Khusus
Program Studi Bimbingan Konseling.
Terima kasih yang sedalam-dalamnya saya sampaikan kepada Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A. selaku dosen mata kuliah Analisis Pengubahan
Tingkah Laku yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya pembuatan makalah ini.
Kritik dan saran sangat diharapkan demi penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua khusunya para praktisi dan akademisi di bidang bimbingan dan konseling.
Malang, 28 Januari 2011
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
Cover ... i
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... iii
Konsep-Konsep Dasar Analisis pengubahan tingkah laku ... 1
1. Tingkah Laku (Behavior) ... 1
2. Lingkungan (Environment) ... 3
2.1. Ukuran Suatu Rangsangan ... 4
2.2. Lokus Temporal Dari Rangsangan ... 4
2.3. Fungsi-Fungsi Tingkah Laku Dari Perubahan Rangsangan ... 5
3. Tingkah Laku Respon (Respondent Bevahior) ... 5
3.1. Pengkondisian Respon (Respondent Conditioning) ... 6
3.2. Pengurangan/Penghapusan Respon (Respondent Extincion) ... 6
4. Tingkah Laku Operan (Operant Behvior) ... 7
4.1. Operant Conditioning (Pengkondisian Operan) ... 10
4.2. Penguatan/Ganjaran (Reinforcement) ... 11
4.3. Hukuman (Punishment) ... 12
4.4. Perubahan-Perubahan Stimulus Yang Berfungsi Sebagai Reinforcement Dan Punishment. ... 13
4.5. The Discriminated Operant And Three-Term Contigency. ... 14
5. Pendekatan Untuk Persiapan Kelompok ... 15
5.1. Kompleksitas Repertoire Manusia ... 16
5.2. Kompleksitas Dari Variabel-Variabel Pengontrol ... 16
5.3. Perbedaan Individu ... 17
Kesimpulan ... 19
Referensi ... 20
Konsep Dasar - Analisis Pengubahan Tingkah Laku
1
Nila Zaimatus Septiana & Paul ArjantoKONSEP-KONSEP DASAR
ANALISIS PENGUBAHAN TINGKAH LAKU
1. BEHAVIOR (TINGKAH LAKU)
Secara umum, Tingkah laku adalah aktivitas dari makhluk hidup. Tingkah laku manusia adalah segala sesuatu yang orang lakukan, mencakup bagaimana mereka bergerak dan apa yang mereka katakan, pikirkan, dan rasakan. Secara teknis, Johnston dan Pennypacker (1980, 1993a) memberikan pengertian yang lebih lengkap tentang tingkah laku.
The behavior of an organism is that portion of an organism`s interaction with its environment that is characterized by detectable displacement in space through time of some part of the organism and that results in a measurable change in at least one aspect of the environment (p. 23)
Dengan kata lain, tingkah laku organisme (makhluk hidup) adalah bagian dari interaksi makhluk hidup dengan lingkungan yang ditandai dengan terdeteksinya pemindahan dalam suatu bentuk melalui waktu (rentan waktu) yang terjadi pada beberapa bagian dari organisme dan hasil perubahan dapat diukur setidaknya dari satu aspek lingkungan.
Ungkapan, “tingkah laku organisme” membatasi pembahasan pada aktivitas dari makhluk hidup, dengan tidak mengindahkan gagasan/ide seperti “tingkah laku” pasar saham yang berada diluar tingkah laku makhluk hidup.
Ungkapan, “bagian dari interkasi makhluk hidup dengan lingkungannya”
mengspesifikasi pada hal-hal yang dibutuhkan dan kondisi yang cukup untuk terjadinya tingkah laku sebagai (a) adanya dua objek yang berbeda yaitu organisme dan lingkungan, (b) adanya hubungan di antara keduanya.
Ungkapan, “pemindahan dalam suatu bentuk melalui waktu” untuk menambahkan penjelasan tentang keadaan statis suatu organisme, definisi di atas
Konsep Dasar - Analisis Pengubahan Tingkah Laku
2
Nila Zaimatus Septiana & Paul Arjantotidak meliputi pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh tindakan dari tenaga yang bebas dari luar tubuh makhluk hidup yang dinyatakan sebagai tingkah laku.
Ungkapan ini juga menyoroti tentang sifat-sifat tingkah laku yang dapat diukur.
Johnston dan Pennypacker (1993a) menyatakan bahwa tingkah laku dapat diukur sebagai “temporal locus” (ketika dalam waktu tertentu tingkah laku itu terjadi),
“temporal extent” (rentang waktu atau durasi terjadinya tingkah laku” dan
“repeatability” (frekuensi atau banyaknya kemunculun tingkah laku yang spesifik setiap waktu)
Ungkapan, “hasil perubahan dapat diukur setidaknya dari satu aspek lingkungan". Johnston dan Pennypacker (1993a) menegaskan pentingnya pemberian ciri pada studi ilmiah tentang tingkah laku. Skinner (1969) menulis,
“untuk dapat diamati, suatu respon harus mempengaruhi lingkungan”.
Respon merupakan tindakan dari effector suatu organisme. Effector adalah suatu bagian dari organ tubuh yang terdapat serat saraf yang secara khusus untuk mengubah lingkungan secara mekanis, secara kimiawi, atau dalam bentuk energi tertentu (Michael, 2004, p. b). Effector manusia meliputi (a) otot lurik (striped muscles), misalnya: otot tulang/rangka, seperti: otot lengan. (b) otot halus, misalnya: otot perut dan otot kantung kemih. (c) kelenjar, misalnya: kelenjar adrenalin.
Setiap respon organisme memiliki topografi tertentu yang disebut dengan topografi respon. Topografi respon berkenan dengan bentuk fisik atau bentuk dari dari tingkah laku. Meskipun kadangkala hal ini berguna untuk mendeskripsikan tingkah laku melalui topografinya, analisis tingkah laku menggunakan analisis fungsional (functional analysis) untuk menganalisis tingkah laku dalam lingkungan tertentu. Sekelompok respon dengan fungsi/tujuan yang sama (dalah hal ini, setiap respon dalam kelompok menghasilkan dampak yang sama terhadap lingkungan) disebut dengan response class.
Analisis tingkah laku menggunakan istilah repertoire dalam dua pengertian.
Pertama, repertiore kadang digunakan untuk menunjukan segala tingkah laku yang dapat dilakukan organisme. Namun yang sering digunakan untuk istilah ini
Konsep Dasar - Analisis Pengubahan Tingkah Laku
3
Nila Zaimatus Septiana & Paul Arjantoadalah seperangkat atau sekumpulan pengetahuan dan ketrampilan-ketrampilan yang telah diperajari individu yang berkaitan dengan keadaan atau tugas tertentu.
2. ENVIRONMENT (LINGKUNGAN)
Segala tingkah laku muncul dalam konteks lingkungan. Johnston dan Pennypacker (1993a) memberikan definisi tentang lingkungan.
Environment refers to the conglomerate of real circumstance in which the organism or referenced part of the organism exists. In a simple way, environment is everything except the moving part of the organism involved in the behavior.
Berdasarkan pengertian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa lingkungan merupakan kumpulan dari keadaan nyata yang dialami oleh organisme atau bagian dari organisme tersebut. Lingkungan merupakan hal yang kompleks.
Analisis tingkah laku mengdeskripsikan lingkungan sebagai stimulus atau kejadian. Stimulus merupakan suatu energi pengubah yang dapat mempengaruhi organisme melalui sel-sel penerima (receptor cells). Manusia memiliki sistem receptor yang dapat mendeteksi stimulus yang berasal dari luar dan dalam tubuh.
Exteroceptors adalah organ mengindraan yang dapat mendeteksi stimulus eksternal dan dapat dilihat, didengar, penciuman, perasa dan perabaan/sentuhan.
Terdapat dua jenis organ sensoris yang dapat menangkap stimulus yang berasal dari dalam tubuh, yaitu: interoceptors, adalah organ yang dapat menerima stimulus yang berasal dari rongga perut, misalnya merasa sakit perut, dan proprioceptors, merupakan organ tubuh yang dapat merasakan gerakan dan keseimbangan kinesthetic dan i
Stimulus dapat dideskripsikan secara formal (melalui ciri-ciri fisik), secara temporal (melalui kapan lingkungan itu muncul yang berkenaan dengan kecenderungan tingkah laku) dan secara fungsional (memalui dampak dari tingkahlaku). Analisis tingkah laku menggunakan istilah stimulus class yang
Konsep Dasar - Analisis Pengubahan Tingkah Laku
4
Nila Zaimatus Septiana & Paul Arjantomenunjukan sekelompok stimuli yang dibagi dan dan telah diatur sebelumnya dari unsur-unsur yang biasa ke dalam satu atau lebih dimensi.
Ukuran Resmi Suatu Stimuli
Analisis tingkah laku sering mendeskripsikan, mengukur dan memanipulasi stimuli berdasarkan ukuran resmi, seperti ukuran, warna, intensitas, berat dan posisi dari suatu objek. Stimuli dapat berupa “nonsocial”, seperti: lampu merah, suara yang keras, dll. Stimuli dapat juga berupa “social”, seperti: pertanyaan teman, “apakah anda sudah makan?”
Lokus Temporal Dari Stimuli
Istilah antecedent menunjuk pada kondisi lingkungan atau perubahan stimulus yang memunculkan kecenderungan untuk bertindak. Karena tingkahlaku tidak dapat terjadi dalam suatu lingkungan yang hampa atau vakum, setiap respon mengambil tempat dalam konteks situasi atau kondisi terdahulu/sebelumnya.
Consequence atau akibat merupakan perubahan stimulus yang mengikuti sebuah tingkah laku. Seperti antecedent events, consequences dapat juga bersifat sosial dan non-sosial. Seperti yang terdapat dalam tabel 2.1. berikut:
Tabel 2.1.
Kombinasi antecedent (situasi) dan consequent (akibat) yang bersifat non sosial dan sosial.
Antecedent (situasi) Respon Consequent (akibat)
Mesin minuman (drink machine)
Memasukan uang koin (deposit coins)
Minuman dingin (minuman dingin)
Lima cangkir di atas meja “satu-dua-tiga-empat-lima cangkir”
Guru mengangguk dan tersenyum
Teman berkata, ”belok
kiri” Belok kiri Tiba di tempat tujuan
Teman berkata, “jam
berapa sekarang?” Jam enam Teman berkata,
“terimakasih”
Konsep Dasar - Analisis Pengubahan Tingkah Laku
5
Nila Zaimatus Septiana & Paul ArjantoFungsi Tingkah Laku Dari Perubahan Stimulus
Perubahan stimulus dapat memiliki satu atau kedua-duanya dari dua dasar dari fungsi atau dampak tingkah laku: (a) terjadi dengan segera namun memiliki efek yang sementara untuk meningkatkan atau mengurangi frekuensi munculnya tingkah laku dan/atau (b) tertunda/perlahan-lahan namun memiliki dampak yang relatif menetap/permanen dalam dalam bertingkah laku di masa yang akan datang (Michael, 1995).
3. RESPONDENT BEHAVIOR (TINGKAH LAKU RESPON)
Semua organisme yang dilahirkan ke dunia dapat melakukan respon tanpa melalui proses belajar. Respon ini bertujuan untuk melindungi organisme dari stimuli yang berbahaya, misalnya: air mata dan mana yang berkedip untuk mengeluarkan partikel/benda yang berada di kornea mata kita. Setiap hubungan antara stimulus dan respon disebut refleks (reflex), yang merupakan bagian dari organisme untuk bertahan hidup. Komponen-komponen respon dari stimulus – respon refleks disebut sebagai tingkah laku responden (respondent behavior).
Tingkah laku respondent didefinisikan sebagai tingkah laku yang ditimbulkan oleh stimuli (antecedent). Perahtikan tabel 3.1 berikut ini.
Tabel 3.1 Contoh dari Refleks tak terkondisi.
Stimulus Tak Terkondisi
Respon Tak
Terkondisi Tipe Effector Sentuhan pada kornea
mata Kedipan mata Otot lurik
Temperatur yang
rendah Menggigil Otot halus dan otot lurik
Temperatur yang tinggi Berkeringat Kelenjar dan otot halus Makan di dalam mulut Air liur Kelenjar
Rasa sakit pada kaki atau tangan
Penarikan tangan atau
kaki Otot lurik
Stimulus yang sangat menyakitkan
Meningkatnya detak jantung
Sekresi adrenalin, dll
Otot jantung Kelenjar (tanpa pembulu), dll
Konsep Dasar - Analisis Pengubahan Tingkah Laku
6
Nila Zaimatus Septiana & Paul ArjantoPengkondisian Respon (Respondent Conditioning)
Stimuli yang baru memperoleh kemampuan untuk menimbulkan respon- respon yang disebut sebagai respon terkondisi. Proses ini ditemukan oleh seorang fisiologis asal Rusia, yaitu Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), ketika sedang memperlajari sistem pencernaan anjing, Pavlov mencatat bahwa pengeluaran air liur anjing terjadi setiap kali asisten laboratorium membuka kandang untuk memberikan makanan.
Pavlov memulai menggunakan jeda waktu tertentu saat memberi makanan kepada anjing dengan menggunakan prosedur pemasangan rangsangan- rangsangan (stimulus-stimulus pairing procedure). Makan yang berada di dalam mulut merupakan stimulus tak terkondisi, bunyi metronome merupakan stimulus netral. Setelah ekspreimen beberapa kali percobaan, anjing menjadi berliur setelah mendenger bunyi metronome. Metronome merupakan stimulus terkondisi dan pengkondisian refleks tercipta. Pengkondisian respon akan menjadi lebih efektif ketika stimulus netral diberikan sesegera sebelum memberikan stimulus tak terkondisi.
Pengurangan/Penghapusan Respon (Respondent Extincion)
Pavlov juga menemukan bahwa pengkondisian refleks yang telah dibangun/diciptakan dapat menjadi lemah ketika memberikan stimulus terkondisi (bunyi) tanpa diikuti dengan stimulus tak terkondisi (makan) hal ini disebut sebagai respondent extinction (pengurangan respon). Gambar 3.1 dapat memperlihatkan skematik dari pengkondisian respon dan pengurangan respon.