• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

5 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Peneliitian dari Zaini dan Bustomi (2015), tentang “Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Singkong Gajah di Kecamatan Anggana Kabupaten Kutai Kartanegara”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan finansial usahatani singkong gajah di kecamatan anggana kabupaten Kutai Kartanegara. Data yang diperlukan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode sensus, yaitu seluruh petani singkong gajah dijadikan sebagai responden. Data sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan. Diketahi bahwa di Kecamatan Anggana terdapat 22 petani yang membudidayakan singkong gajah, sehingga seluruh petani dijadikan sebagai responden. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kriteria investasi yaitu dengan melihat nilai dari NPV, Net B/C Ratio, IRR dan payback period. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai dari kriteria investasi yaitu NPV sebesar Rp. 1.524.362.592, Net B/C Ratio sebesar 2,56 dan IRR sebesar 73%. Perhitungan payback period dalam perhitungan ini adalah selama 1 tahun 4 bulan. Hasil ini menunjukan bahwa usahatani singkong gajah di Kecamatan Anggana layak secara finansial untuk dikembangkan. Analisis sensitivitas menunjukan bahwa batas atas kelayakan usahatani singkong gajah adalah jika terjadi penurunan harga singkong 22% dan kenaikan biaya oprasional 24% maka usahatani singkong gajah masih layak untuk dikembangkan.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian Zaini dan Bustomi (2015) yaitu sama- sama melakukan analisis finansial, sedangkan perbedaannya penelitian terdahulu menggunakan analisis kelayakan usahatani singkong Gajah dengan menggunakan NPV, Net B/C Ratio, IRR dan payback period.

Nasution (2009) menganalisis pengaruh modal kerja, luas lahan, dan tenaga kerja terhadap produksi nenas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel modal kerja, luas lahan dan tenaga kerja terhadap produksi nenas”. Metode penelitian yang digunakan adalah secara sensus dimana jumlah

(2)

6

semua populasi dijadikan sebagai sampel dengan menggunakan analisis regresi linear berganda (jika fungsi priduksi linear), Analisis Cobb – Douglas (jika fungsi produksi non-linear), dan tabulasi sederhana. Hasil penelitiannya adalah: Modal kerja, Luas lahan dan Tenaga kerja secara serempak berpengaruh nyata terhadap produksi nenas sedangkan secara persial modal kerja dan tenaga kerja tidak memberikan pengaruh nyata terhadap produksi sedangkan luas lahan berpengaruh nyata terhadap produksi. Persamaan penelitian ini dengan penelitian Nasution (2009 yaitu sama-sama melakukan analisis usahatani terkait mengenai hasil produksi, sedangkan perbedaannya penelitian terdahulu menggunakan analisis analisis regresi linear berganda untuk mencari pengaruh pengaruh modal kerja, luas lahan, dan tenaga kerja terhadap produksi nenas

Auni (2017) menjelaskan tentang Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor- Faktor Produksi Pada Usahatani Kentang di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara”. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling dengan jenis data cross section dan alat analisis data yang digunakan yaitu fungsi produksi stochastic frontier. Hasil penelitian adalah faktor produksi, bibit, pestisida pupuk, dan tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil produksi kentang sedangkan luas lahan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap hasil produksi kentang. Persamaan penelitian ini dengan penelitian Auni (2017) yaitu sama-sama melakukan analisis efisiensi usahatani, sedangkan perbedaannya penelitian terdahulu menggunakan analisis fungsi produksi stochastic frontier untuk mengetahui efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani.

Penelitian yang dilakukan Riyanti (2011) dengan judul “Analisis Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Pada Usahatani Bawang Merah Varietas Bima di Kabupaten Brebes”. Metode dasar penelitian adalah deskriptif analitik dan pelaksanaannya dengan survai. Penentuan lokasi penelitian menggunakan metode stratified dan pengambilan sampel petani dengan metode proportion random sampling dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitiannya adalah luas lahan, benih, tenaga kerja, dan pestisida cair berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah varietas bima.

(3)

7

Sedangkan penggunaan pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah variatas bima. Persamaan penelitian ini dengan penelitian Riyanti (2011) yaitu sama-sama melakukan analisis efisiensi usahatani, sedangkan perbedaannya penelitian terdahulu menggunakan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui analisis efisiensi ekonomi penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani.

Penelitian yang dilakukan Ermiati (2010), dengan judul “Analisis Kelayakan dan Kendala Pengembangan Usahatani Jahe Putih Kecil di Kabupaten Sumedang”. Teknik analisis data menggunakan dianalisis melalui pendekatan analisis Benefit Cost (B/C) ratio, Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR). Hasil penelitiannya adalah Usahatani jahe layak untuk dikembangkan karena nilai NPV positif (Rp794.160), B/C Rasio > 1 (1,7) dan >

IRR estimasi (1%/bulan). Kendala utama dalam usahatani jahe yaitu teknik budidaya yang diterapkan belum sesuai dengan teknologi yang dianjurkan, belum menggunakan bibit varietas unggul, keterbatasan modal petani, fluktuasi harga produksi, tingkat pendidikan dan pengalaman petani pernah gagal dalam berusahatani jahe. Persamaan penelitian ini dengan penelitian Ermiati (2010) yaitu sama-sama melakukan analisis kelayakan usahatani, sedangkan perbedaannya penelitian terdahulu menggunakan analisis pendekatan analisis Benefit Cost (B/C) ratio, Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR) untuk melakukan analisis kelayakan usahatani.

Penelitian yang dilakukan oleh Barokah, Rahayu dan Sundari (2016), dengan judul “Analisis Biaya dan Pendapatan Usahatani Wortel Di Kabupaten Karanganyar”. Hasil dari analisis dapat diambil kesimpulan bahwa penerimaan yang diperoleh petani di Kabupaten Karanganyar dalam usahatani wortel adalah sebesar Rp. 12.217.054,26 per Ha dengan rata-rata pendapatan dari usahatani wortel oleh petani sampel adalah sebesar Rp 7.456.350,45 per hektar. Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 4.760.703,81 per Ha sehingga diperoleh pendapatan sebesar Rp. 7.456.350,45 per Ha. Perhitungan R/C ratio sebesar 2,75 menunjukkan bahwa usahatani wortel yang dilakukan petani sudah efisien.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian Barokah, Rahayu dan Sundari (2016),

(4)

8

yaitu sama-sama melakukan analisis biaya dan pendapatan usahatani, sedangkan perbedaannya penelitian terdahulu menggunakan analisis pendekatan analisis perhitungan R/C ratio untuk mengetahui tingkat efisiensi.

Penelitian yang dilakukan Leovita, Asmarantaka dan Daryanto (2015), yang berjudul "Analisis Pendapatan Dan Efisiensi Teknis Usahatani Ubi Jalar Di Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat". Hasil dari penelitian ini adalah Nilai R/C ratio sebesar 1,8 menunjukkan bahwa usahatani ubi jalar layak untuk diusahakan. Variabel-variabel yang mempengaruhi produksi ubi jalar pada taraf α=1 persen adalah variabel jumlah bibit, jumlah pupuk organik, jumlah tenaga kerja dalam keluarga dan jumlah tenaga luar keluarga. Sedangkan jumlah pupuk anorganik berpengaruh pada taraf α=10 persen.Tingkat pencapaian efisiensi teknis (TE) usahatani ubi jalar tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani ubi jalar di lokasi penelitian sudah efisien dengan efisiensi teknis rata-rata 0.85. Variabel yang berpengaruh nyata dalam pencapaian efisiensi teknis adalah keanggotaan dalam kelompok tani nyata pada taraf α=10 persen. Variabel umur dan status kepemilikan lahan masing- masing nyata pada taraf α=20 persen. Persamaan penelitian ini dengan penelitian Leovita, Asmarantaka dan Daryanto (2015), yaitu sama-sama melakukan analisis biaya dan pendapatan usahatani, sedangkan perbedaannya penelitian terdahulu menggunakan analisis pendekatan analisis perhitungan R/C ratio untuk mengetahui tingkat efisiensi.

Penelitian yang dilakukan Thamrin, Mardhiyah dan Merpaung (2013), yang berjudul "Analisis Usahatani Ubi Kayu (Manihot utilissima)". Hasil dari penelitian ini adalah Secara simultan (serempak) biaya faktor – faktor produksi (luas lahan, bibit, tenaga kerja, dan pupuk) berpengaruh terhadap pendapatan petani ubi kayu pada tingkat kepercayaan 95%.. Secara parsial luas lahan berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani ubi kayu pada tingkat kepercayaan 95%. Variable bibit, tenaga kerja.dan pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani ubi kayu pada tingkat kepercayaan 95%. Analisis Retrun Cost Ratio (R/C) bahwa nilai R/C 7.5 > 1, dengan demikian usahatani ubi kayu layak untuk dikembangkan. Persamaan penelitian ini dengan penelitian

(5)

9

Thamrin, Mardhiyah dan Merpaung (2013), yaitu sama-sama melakukan analisis usahatani, sedangkan perbedaannya penelitian terdahulu menggunakan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh biaya faktor – faktor produksi (luas lahan, bibit, tenaga kerja, dan pupuk) berpengaruh terhadap pendapatan.

Penelitian yang dilakukan oleh Putra (2012) yang berjudul "Analisis Usahatani Kentang Sembalun". Hasil dari penelitian tersebut adalah usahatani kentang Atlantis layak dilaksanakan berbasiskan kemitraan dengan PT Indofood, curahan waktu kerja pria lebih tinggi dari wanita dalam usahatani kentang Atlantis dan kemitraan yang dibangun oleh PT Indofood dengan kelompok horsela belum dilandasi oleh perjanjian tertulis yang mengikat secara hukum. Persamaan penelitian ini dengan penelitian Putra (2012)yaitu sama-sama melakukan analisis usahatani, sedangkan perbedaannya penelitian terdahulu menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan kemitraan.

2.2 Landasan Teori 2.2.1 Usahatani

Usahatani adalah suatu kegiatan mengusahakan dan mengkoordinir faktor- faktor produksi berupa lahan, tenaga kerja, dan modal sehingga memberikan manfaat sebaik-baiknya. Usahatani merupakan cara-cara menentukan, ngorganisasikan, dan mengkoordinasikan penggunaan faktor-faktor produksi seefektif dan seefisien mungkin sehingga usaha tersebut memberikan pendapatan semaksimal mungkin (Suratiyah, 2008). Petani dapat memperoleh keuntungan maksimal dengan cara mengadakan pemilihan penggunaan faktor produksi secara tepat, mengkombinasikan secara optimal dan efisien (Dewi, Siswanto, Santoso dan Prasetyo, 2018).

Prasetya (2006) menyatakan usahatani adalah ilmu yang mempelajari norma-norma yang dapat dipergunakan untuk mengatur usahatani sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh pendapatan setinggi-tingginya. Sementara menurut Daniel (2001) usahatani adalah ilmu yang mempelajari cara-cara petani untuk mengkombinasikan dan mengoperasikan berbagai faktor-faktor produksi (tanah, tenaga kerja, modal dan manajemen) serta bagaimana petani memilih jenis dan

(6)

10

besarnya cabang usahatani berupa tanaman atau ternak yang dapat memberikan pendapatan yang sebesar-besarnya dan secara kontinyu. Menurut Efferson (2001), usahatani adalah ilmu yang mempelajari caracara pengorganisasian dan pengoperasian di unit usahatani dipandang dari sudut efisiensi dan pendapatan yang kontinyu.

Menurut Soekartawi (2002), usahatani biasa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan sumberdaya yang mereka miliki (kuasai) sebaik-baiknya, dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output). Tersedianya sarana atau faktor produksi (input) belum berarti produktifitas yang diperoleh petani akan tinggi.

Namun bagaimana petani melakukan usahanya secara efisien adalah upaya yang sangat penting. Efisiensi teknis akan tercapai bila petani mampu mengalokasikan faktor produksi sedemikian rupa sehingga produksi tinggi tercapai. Bila petani mendapat keuntungan besar dalam usahataninya dikatakan bahwa alokasi faktor produksi efisien secara alokatif. Cara ini dapat ditempuh dengan membeli faktor produksi pada harga murah dan menjual hasil pada harga relatif tinggi.

Bila petani mampu meningkatkan produksinya dengan harga sarana produksi dapat ditekan tetapi harga jual tinggi, maka petani tersebut melakukan efisiensi teknis dan efisiensi harga atau melakukan efisiensi ekonomi. Dalam kegiatan usahatani selalu diperlukan faktor-faktor produksi berupa lahan, tenaga kerja, dan modal yang dikelola seefektif dan seefisien mungkin sehingga memberikan manfaat sebaik-baiknya. Faktor produksi adalah semua korbanan yang diberikan pada tanaman agar tanaman tersebut mampu tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Faktor produksi dikenal pula dengan istilah input dan korbanan produksi. Faktor produksi memang sangat menentukan besar-kecilnya produksi yang diperoleh. Faktor produksi lahan, modal untuk membeli bibit, pupuk, obat-obatan dan tenaga kerja dan aspek manajemen adalah faktor produksi yang terpenting. Hubungan antara faktor produksi (input) dan produksi (output) biasanya disebut dengan fungsi produksi atau faktor relationship.

(7)

11

Terdapat tiga pola hubungan antara input dan output yang umum digunakan dalam pendekatan pengambilan keputusan usahatani yaitu:

1. Hubungan antara input-output, yang menunjukkan pola hubungan penggunaan berbagai tingkat input untuk menghasilkan tingkat output tertentu (dieksposisikan dalam konsep fungsi produksi)

2. Hubungan antara input-input, yaitu variasi penggunaan kombinasi dua atau lebih input untuk menghasilkan output tertentu (direpresentasikan pada konsep isokuan dan isocost)

3. Hubungan antara output-output, yaitu variasi output yang dapat diperoleh dengan menggunakan sejumlah input tertentu (dijelaskan dalam konsep kurva kemungkinan produksi dan isorevenue) Ketiga pendekatan di atas digunakan untuk mengambil berbagai keputusan usahatani guna mencapai tujuan usahatani yaitu: a) menjamin pendapatan keluarga jangka panjang, b) stabilisasi keamanan pangan, c) kepuasan konsumsi, d) status sosial, dsb.

2.2.2 Budidaya Porang

Budidaya merupakan salah satu kegiatan alternatif dalam meningkatkan produksi. Syarat terlaksananya kegiatan budidaya adalah adanya organisme yang akan dibudidayakan, media hidup organisme, dan wadah/ tempat budidaya.

(Arsad et al., 2017). Budidaya porang merupakan upaya diversifikasi bahan pangan serta penyediaan bahan baku industri yang dapat meningkatkan nilai komoditi ekspor di Indonesia. Komposisi umbi porang bersifat rendah kalori, sehingga dapat berguna sebagai makanan diet yang menyehatkan. (Sari dan Suhartati, 2009). Penerapan teknik budidaya perlu dilakukan untuk mempercepat masa matang sadap dan mengoptimalkan produktivitas tanaman. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengolahan tanah, penanaman tepat waktu, penggunaan lubang tanam yang besar, pemupukan yang tepat dan berimbang, serta pengendalian penyakit.

(8)

12 2.2.3 Produktivitas

Pengukuran produktivitas tanaman dengan menggunakan suatu alat tertentu dan metode tertentu. Informasi pokok yang dikumpulkan melalui survei adalah data produktivitas (hasil per hektar) dan informasi pendukung lainnya seperti jenis lahan, cara penanaman, jenis intensifikasi, jenis varietas benih, banyaknya benih yang digunakan, banyaknya pupuk yang digunakan, banyaknya pestisida yang digunakan dan informasi kualitatif terkait dengan produktivitas.

Produktivitas usahatani dapat dinaikan dengan menambah pemakaian beberapa sarana produksi, terutama pemkaian pupuk urea, benih dan luas lahan. Kenaikan tingkat keuntungan usahatani dapat ditingkatkan dengan menurunkan beberapa harga sarana produksi seperti benih, pupuk serta luas lahan (Wirawan, Susrusa dan Ambarawati, 2014).

2.2.4 Porang

Porang (Amorphophallus oncophyllus Prain) merupakan salah satu jenis tumbuhan umbi-umbian. Tumbuhan ini berupa semak (herba) yang dapat dijumpai tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis. Belum banyak dibudidayakan dan ditemukan tumbuh liar di dalam hutan, di bawah rumpun bambu, di tepi sungai dan di lereng gunung (pada tempat yang lembab) (Sari dan Suhartati, 2009).

2.3 Struktur Biaya Usahatani 2.3.1 Bibit

Bibit adalah berupa tumbuhan muda (kecil) dan sudah mengalami masa penyemaian, sudah berdaun atau sudah bisa di tanam di lahan. Bibit disini diartikan adalah tanaman yang masih kecil yang sudah memiliki daun, akar, batang muda (sudah berbentuk tanaman) yang sudah siap untuk ditanam. Bibit bahan pertanaman berupa vegetatif, terdiri dari (Fitria, 2017) :

1. Tanaman muda asal biji, misalnya : a. Bibit cabutan

b. Bibit puteran c. Bibit setump

(9)

13

2. Bahan tanaman asal pembiakan secara vegetative misalnya : a. Cangkokan

b. Stek

3. Organ khusus dari tanaman, misalnya : a. Setolon

b. Umbi batang c. Bulbus dan suing d. Bulbil

e. Anakan

2.3.2 Sewa Tanah

Status sewa adalah bentuk penguasaan lahan dimana terjadi pengalihan hak garap dari pemilik lahan kepada orang lain dengan cara membayar kepada pemilik tanah. Bentuk kelembagaan seperti ini sudah menjadi bagian dari tatanan masyarakat pedesaan dimana keberadaannya bersifat dinamis antar ruang dan waktu. Jadi terlihat bahwa lahan merupakan faktor produksi utama dalam usaha pertanian. Dengan kata lain, eksistensi lahan dapat digarap sebagai tumpuan dalam produksi usahatani yang dapat mendatangkan kesempatan kerja dan prolehan imbalan (pendapatan) (Rumallang, 2019).

2.3.3 Pajak

Pajak lahan merupakan pajak yang paling efisien diantara jenis-jenis pajak lainnya karena pajak lahan dapat digunakan untuk mengatur persediaan lahan untuk pasaran dan penggunaan lahan. Keuntungan yang diperoleh dari penggunaan pajak bagi berbagai tipe pengembangan lahan dapat menjadi sangat berpengaruh bagi penggunaan lahan (Wafda, 2004).

2.3.4 Tenaga Kerja

Tenaga kerja adalah salah satu unsur penentu, terutama bagi usahatani yang tergantung pada musim. Kelangkaan tenaga kerja berakibat mundurnya penanaman sehingga berpengaruh pada pertumbuhan tanaman, produktivitas dan

(10)

14

kualitas produk. Tenaga kerja berdasarkan asal (sumber) tenaga kerja dapat dibagi menjadi dua, yaitu (Tain, 2005) :

1. Tenaga kerja dari dalam keluarga 2. Tenaga kerja dari luar keluarga

2.3.5 Pupuk

Peranan pupuk dalam kegiatan usahatani mejadi sangat penting. Usaha yang dilakukan untuk memperbaiki kesuburaan tanah adalah dengan melakukan pemupukan menggunakan pupuk organik. Kandungan unsur hara dalam pupuk kandang tidak terlalu tinggi, tetapi jenis pupuk ini mempunyai fungsi lain yaitu dapat memperbaiki sifat-sifat fisik tanah seperti permeabilitas tanah, prositas tanah, struktur tanah, daya menahan air dan kation-kation tanah (Roidah, 2013).

2.3.6 Obat

Obat pertanian atau dengan sebutan lain Pestisida adalah zat kimia maupun jasad renik maupun virus yang digunakan untuk mencegah hama penyakit yang berpotensi merusak tanaman dan mengganggu hasil pertanian.

Tidak hanya hama saja, pestisida pun mampu memberantas tanaman pengganggu atau gulma. Selain itu, pestisida memiliki fungsi untuk mengatur maupun merangsang tumbuhnya tanaman. Pestisida juga bisa mencegah hama-hama air selain hama darat dan binatang pengganggu seperti ular. Termasuk memberantas binatang yang menyebabkan penyakit pada manusia (Geek, 2019).

2.4 Analisa Ekonomi Usahatani 2.4.1 Total Biaya (Total Cost)

Menurut (Usry, 2005) adalah : Biaya Produksi adalah jumlah dari tiga unsur biaya yaitu biaya produksi langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.” Biaya produksi langsung dan biaya tenaga kerja langsung dapat digolongkan kedalam golongan utama (primer cost). Biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik dapat digabung kedalam golongan konversi (Conversion Cost), yang mencerminkan biaya pengubahan bahan langsung menjadi barang jadi.

(11)

15

Menurut (Halim, 2010), “Biaya merupakan pengeluaran yang sudah terjadi (expired) yang digunakan dalam memproses produk yang dihasilkan”. Tentang biaya Mulyadi menyatakan: Biaya dapat diartikan dalam arti sempit dan luas.

Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Dalam arti sempit, biaya merupakan sumber ekonomi untuk memperoleh harga pokok. (Mulyadi, 2007). Dari pengertian tersebut yang dimaksud dengan biaya adalah semua pengorbanan sumber ekonomi yang dapat diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan terjadi untuk tujuan tertentu.

Pada proses produksi perusahaan manufaktur kegiatan utamanya adalah mengolah bahan mentah menjadi barang jadi. Dalam proses produksi tersebut dibutuhkan biaya yang disebut biaya produksi. Pengertian biaya produksi menurut (Mulyadi, 2007), “Biaya produksi adalah biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi barang jadi yang siap dijual”. Menurut (Yana, 2008), “Biaya produksi adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi atau semua beban yang ditanggung oleh produsen untuk menghasilkan suatu barang atau jasa”.

Dari pengertian tersebut yang dimaksud dengan biaya produksi adalah semua biaya yang disebabkan karena adanya proses produksi. Biaya produksi dalam suatu perusahaan (khususnya manufaktur) merupakan bagian terpenting dalam proses produksi, hal ini dikarenakan biaya produksi dalam perusahaan tersebut merupakan pengeluaran yang paling besar diantara biaya-biaya yang lain dan terjadi terus menerus selama proses produksi terus berjalan.

Menurut (Sukirno,2003) biaya produksi digolongkan menjadi biaya tetap/Fixed Cost (FC), biaya variabel/Variable Cost (VC) dan total biaya/Total Cost (TC).

2.4.2 Biaya Tetap

Adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli faktor-faktor produksi yang tidak habis dipergunakan dalam sekali proses produksi, misalnya sewa tanah dan modal (depresiasi dan bunga). Menurut (Sukirno, 2003), biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi (input) yang tidak dapat diubah jumlahnya. Bahkan bila untuk sementara produksi dihentikan, biaya tetap ini

(12)

16

harus tetap dikeluarkan dalam jumlah yang sama. Sedangkan atas dasar hubungannya dengan produksi yang dihasilkan, biaya tetap diartikan sebagai biaya yang dikeluarkan untuk pembayaran faktor produksi yang besarnya tidak dipengaruhi oleh besarnya produksi yang dihasilkan. Yang termasuk biaya tetap adalah biaya pajak bumi dan bangunan, biaya sewa tanah dan gudang, biaya penyusutan mesin dan gedung dan biaya pembayaran kembali pinjaman.

2.4.3 Biaya Variabel

Adalah biaya yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan kuantitas produk yang dihasilkan. Makin besar kuantitas produksi makin besar pula jumlah biaya variabel. Yang termasuk dalam biaya variabel adalah biaya input lancar yaitu biaya tanaga kerja baik tenaga kerja buruh maupun tenaga kerja, biaya pakan dan lain-lain.

2.4.4 Biaya Total

Biaya total/Total Cost (TC) merupakan keseluruhan jumlah biaya produksi yang dikeluarkan. Biaya total diperoleh dari penjumlahan antara biaya tetap dan biaya variabel (Sukirno, 2003).

2.4.5 Produksi

Produksi adalah suatu kegiatan antar faktor-faktor produksi dan capaian tingat produksi yang dihasilkan, dimana faktor tersebut sering disebut output.

Menurut ekonomi pertanian, produksi adalah banyaknya produk usahatani yang diperoleh dalam rentang waktu tertentu. Satuam yang banyaknya digunakan adalah ton pertahun atau kilogram per tahun, tergantung dari potensi hasil setiap jenis komoditi. Produksi tanaman sebagai kegiatan atau sistem budidaya tanaman yang melibatkan beberapa faktor produksi seperti tanah, iklim, farietas, kultur teknik, pengelolaan serta alat-alat agar diperoleh hasil maksimum secara berkesinambungan (Yanuari, 2017).

(13)

17 2.4.6 Penerimaan (Total Revenue)

Penerimaan adalah perkalian dari total fisik (produksi) dengan nilai harga per satuan produksi. Penerimaan usahatani adalah nilai uang yang diperoleh dari hasil penjualan produk yang dihasilkan sehingga besarnya tergantung pada volume produk dan harga jualnya. (Tain, 2005)

2.4.7 Pendapatan (Profit/ Keuntungan)

Pendapatan merupakan pengurangan antara penerimaan dengan biaya explisit. Pendapatan dari usahatani agar meningkat perlu adanya peningkatan efisiensi biaya, misalnya antara lain penggunaan tenaga kerja luar keluarga dialihkan dengan penggunaan tenaga kerja dalam keluarga. (Tain, 2005).

2.5 Kerangka Pemikiran

Usahatani porang merupakan salah satu sektor unggulan di Desa Pait yang perlu diperhatikan karena memiliki potensi yang sangat baik untuk petani.

Masyarakat Desa Pait masih berusahatani dengan skala yang relatif kecil.

Beberapa petani menjadikan usahatani ini sebagai mata pencaharian, meski pada kenyataannya pendapatan yang diterima masih relatif rendah.

Pengembangan usahatani porang di Desa Pait perlu dilakukan guna meningkatkan pendapatan petani dan taraf kesejahteraan. Kenyataannya masih ada keterbatasan yang ditemui dilapangan dalam pengembangan usahatani tersebut. Keterbatasan yang dihadapi yaitu harga bibit, lahan, keterampilan petani sebagai pengemban usahatani serta pemodalan. Petani porang di desa Pait pernah melakukan perhitungan secara sistematis mengenai biaya produksinya dan pendapatan yang diperoleh. Petani akan membeli peralatan, perlengkapan, obat untuk pengendalian penyakit dan menambahkan modal jika diperlukan. Petani tidak menghitung apakah besarnya biaya produksi yang telah dikeluarkan tersebut sebanding dengan jumlah pendapatan sehingga diperlukan kajiann mengenai aspek finansial sehingga ushatani yang dilakukan benar-benar memberikan keuntungan bagi petani.

(14)

18

Analisis aspek finansial meliputi biaya, penerimaan dan pendapatan yang digunakan untuk mengetahui total besarnya biaya dan penerimaan yang diperoleh, sehingga dapat diketahui keuntungan yang didapat oleh petani porang. Analisis usahatani ini dilakukan sebagai bahan evaluasi bagi petani porang di Desa Pait sehingga dapat diketahui layak atau tidaknya budidaya porang untuk dikembangkan dimasa yang akan datang. Alur kerangka pemikiran penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1

Gambar 1 Bagan Kerangka Pemikiran Pendapatan Usahatani

Porang Biaya Produksi

Usahatani (TC)

Usahatani Porang di Desa Pait kecamatan Kesambon

Input : 1. Lahan 2. Bibit 3. Pupuk 4. Tenaga Kerja

Analisis Efisiensi Penerimaan Petani (TR) Produksi

Harga (P)

Gambar

Gambar 1 Bagan  Kerangka Pemikiran Pendapatan Usahatani

Referensi

Dokumen terkait

Namun dari keseluruhan sampel, waktu penyayatan yang memberikan nilai ID/IG terbesar adalah pada waktu 10 jam.Sehingga untuk karakterisasi lebih lanjut dipilih sampel dengan

(Sumber data. Humas Pemda Bolaang Mongondow Utara.2012). Persoalan pembangunan yang ada ditingkat masyarakat dapat terselesaikan secara parsitipasif. Selain itu, dengan

Salah satu alasannya adalah eksternalitas dan free ridding – kekuatan pasar tidak bias memberikan perusahaan full social benefits terhadap keputusan produksi informasi

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa kualitas produk adalah suatu usaha untuk memenuhi atau melebihi harapan pelanggan, dimana suatu

Galuh Melati Ningtias Juanda Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayas Serang Tahun 2017 hasil penelitian dengan judul penerapan

Persamaan penelitian ini dengan penelitian Yeye Susilowati dan Tri Turyanto (2011) yaitu sama-sama menggunakan alat uji analisis regresi berganda, variable Dependent

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat hikmat dan kasih karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

 Tahap ketiga, berdasarkan renstra yang telah disahkan oleh Ketua STIT Al- Hikmah dan Pengurus Yayasan, Kepala Biro, Ketua LPPM beserta Kaprodi menyusun renop