• Tidak ada hasil yang ditemukan

ENT UPDATE. Publikasi Ilmiah Program Studi THT-KL FK Udayana. Editor : dr. I DG Arta Eka Putra Sp.THT-KL (K) dr. I Putu Yupindra Pradiptha

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ENT UPDATE. Publikasi Ilmiah Program Studi THT-KL FK Udayana. Editor : dr. I DG Arta Eka Putra Sp.THT-KL (K) dr. I Putu Yupindra Pradiptha"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 01, No.1 Maret 2017

ENT UPDATE

Publikasi Ilmiah Program Studi THT-KL FK Udayana

Editor :

dr. I DG Arta Eka Putra Sp.THT-KL (K) dr. I Putu Yupindra Pradiptha

PROGRAM STUDI THT-KL FK UNUD/RSUP SANGLAH DENPASAR

(2)

KATALOG DALAM TERBITAN

ENT UPDATE

Publikasi Ilmiah Program studi THT-KL FK Udayana

Editor :

dr. I DG Arta Eka Putra, Sp.THT-KL(K) dr. I Putu Yupindra Pradiptha

ISBN : 978-602-1672-81-5

Vi x 198 halaman, 21 x 29,7

Penerbit :

PT. Percetakan Bali, Jl. Gajah Mada I/1 Denpasar 80112, Telp. (0361) 234723, 235221

NPWP.01.126.5-904.000, Tanggal pengukuhan DKP : 01 Juli 2006

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga ENT UPDATE Publikasi Ilmiah Program Studi THT-KL FK Udayana dapat diselesaikan dengan baik. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penyusunan buku ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberi balasan atas segala bantuan yang telah diberikan.

Kami menyadari bahwa buku yang telah disusun masih jauh dari sempurna sehingga kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan. Akhir kata, semoga buku ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Denpasar, Maret 2017

Editor

(4)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar……….………3 Daftar Isi……….………...4 Abses Peritonsil Pada Anak……….………5 Richard P. Simbolon, I DG Arta Eka Putra

Peranan Vitamin D Pada Rinitis Alergi…….……….………..25 U Tei Dominica Fredlina, I Made Sudipta

Faktor Prognosis dan Stadium Klinis Karsinoma Nasofaring………..……..55 Eka Arie Yuliani, I Gde Ardika Nuaba

Neuroblastoma Pada Sistem Saraf Pusat Yang Meluas Sampai Ke Kavum Nasi Pada Pasien Dewasa………...………77 Luh Witari Indrayani, I Ketut Suanda

Tuli Sensorineural Mendadak Pasca Kateterisasi Jantung…………...………107 Luh Witari Indrayani, Eka Putra Setiawan

Penatalaksanaan Abses Septum Nasi Pada Anak…...………128 U Tei Dominica Fredlina, Luh Made Ratnawati

Penatalaksanaan Benda Asing Button Battery di Telinga……….146 U Tei Dominica Fredlina, Komang Andi Dwi Saputra

Penatalaksanaan Neuritis Vestibuler……….………..…161 Richard P. Simbolon, I Made Wirandha

Diagnosis dan Penatalaksanaan Silent Sinus Syndrome………….………...176 Richard P. Simbolon, Sari Wulan Dwi Sutanegara

Abses Ruang Submandibula Sinistra Dengan Perluasan Ke Ruang Submental………...………199 I GA Trisna Dewi, I Wayan Sucipta

Efektivitas Continous Positive Airway Pressure (CPAP) Pada Obstructive Sleep Apnea (OSA)………..222 Putu Mayestika Sesarini, Agus Rudi Astutha

Diagnosis dan Penatalaksanaan Sindrom Dehisensi Kanalis Semisirkularis Superior

……….………250 Richard P. Simbolon, Wayan Suardana

(5)

PENATALAKSANAAN NEURITIS VESTIBULER Oleh :

Richard P. Simbolon, I Made Wiranadha

Bagian SMF/Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar

I. PENDAHULUAN

Neuritis vestibuler merupakan penyakit yang ditandai dengan timbulnyavertigo akut dengan nistagmus spontan yang disertai dengan gejala vegetatif.1Neuritis vestibuler merupakan penyakit dengan urutan ketiga terbanyak sebagai penyebab vertigo vestibuler perifer.2

Neurutis vestibuler dapat terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan, khususnya mengenai kelompok usia dewasa.3,4 Penyebab utama dari neuritis vestibuler sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Agen virus, gangguan vaskuler dan reaksi imun dicurigai berperan dalam neuritis vestibuler.4

Gejala klinis yang paling sering ditemukan pada neuritis vestibuler yaitu vertigo akut dengan gejala vegetatif berupa mual dan muntah. Umumnya tidak disertai dengan gangguan pendengaran atau gangguan neurologi lainnya. Umumnya keluhan vertigo dirasakan sampai beberapa hari.5 Meskipun neuritis vestibular dan labirintitis mungkin terkait erat dalam beberapa kasus, namun neuronitis vestibular dibedakan dari labirintitis berdasarkan fungsi pendengaran yang masih ada.6

Penanganan neuritis vestibuler mencakup terapi simtomatis dan suportif selama periode akut yang ditimbulkan.3 Penderita dapat diberikan obat-obatan seperti antivestibuler dan antiemetik untuk mengontrol vertigo, mual dan muntah.7,8

Tujuan dari penulisan ilmiah ini adalah untuk melaporkan satu kasus neuritis vestibuler.

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anatomi

Pada telinga bagian dalam terdapat organ pendengaran dan keseimbangan

yang terletak pada pars petrosa os temporal. Labirin terdiri dari labirin tulang yaitu kanalis semisirkularis, vestibulum dan koklea sedangkan labirin membran yang terletak

(6)

di dalam labirin tulang terdiri dari duktus semisirkularis, utrikulus dan duktus koklearis (Gambar 1). Antara labirin tulang dan labirin membran terdapat ruang yang berisi cairan perilimfe. Vestibulum adalah suatu ruangan kecil yang berbentuk oval dengan ukuran ± 5x3 mm dan memisahkan koklea dari kanalis semisirkularis.9,10

Gambar 1. Anatomi labirin tampak anterolateral.9

Koklea menyerupai rumah siput yang merupakan organ pendengaran dengan panjang sekitar 3,1-3,3 cm. Koklea membentuk 2,5 kali putaran dengan tinggi sekitar 0,5 cm. Koklea dan organ vestibuler terdapat didalam tulang temporal. Pada koklea terdapat tiga kanal yaitu: skala vestibuli, skala media dan skala timpani (Gambar 2).9 Skala media terletak ditengah koklea yang dipisahkan dari skala vestibuli oleh membran reissner’s dan dari skala timpani oleh membran basiler.10

Organ corti melintasi sepanjang membran basiler. Dimana terdapat satu baris sel- sel rambut bagian dalam dan tiga baris sel-sel rambut bagian luar. Setiaptelinga ditemukan sekitar 3500 sel rambut bagian dalam yang disokong oleh sel falangeal.

Sekitar 12.000 sel rambut bagian luar dimana disokong oleh sel deiters. Serat saraf kranial ke-8 melintasi terowongan menuju ke sel-sel rambut luar.10

(7)

Gambar 2. Struktur koklea dan organ corti.9

Struktur dari sel-sel rambut dalam organ corti mencerminkan fungsinya sebagai reseptor sensoris, yang mentransduksi sinyal mekanik menjadi aktivitas elektrokemikal.

Sensoris sel-sel rambut koklea berinteraksi dengan sistem saraf melalui cabang saraf pendengaran dari saraf kranialis ke-8 (vestibulokoklear).10

Koklea dipersarafi oleh 3 jenis serabut saraf yaitu serabut saraf aferen pendengaran, serabut saraf eferen pendengaran dan serabut saraf otonom. Serabut saraf aferen pendengaran merupakan sel bipolar, sel tubuh yang terletak di ganglion spiral yang terletak di kanal tulang, yaitu Rosenthal’s canal. Pada manusia saraf pendengaran memiliki sekitar 30.000 serabut saraf aferen. Dua jenis serat saraf aferen telah diidentifikasi. Tipe I adalah berselubung mielin dan memiliki large cell bodies dan merupakan 95% dari serat-serat saraf pendengaran. Tipe IIyaitu sekitar 5% dari saraf pendengaran adalah tidak berselubung myelin dan memiliki small cell bodies.10

Nervus VIII pada dasarnya adalah tiga komponen yang berbeda dimana ada dua saraf vestibuler yaitu superior dan inferior serta saraf koklearis. Saraf-saraf tersebut bersama-sama melalui tulang kepala di meatus auditori internal. Kanal ini juga berisi nervus VIII dan pasokan darah ke telinga bagian dalam yaitu arteri auditori internal.

Saraf melewati meningen menuju ke batang otak. Saraf vestibuler menuju ke nukleus vestibularis dan saraf koklearis menuju ke nucleus Koklearis.11

(8)

Suplai darah ke koklea berasal dari arteri labirin. Arteri ini berasal dari arteri serebelum antero inferior dan mengikuti nervus viii di meatus auditori internal, kemudian bercabang sebagai arteri vestibularis anterior dan aparatus vestibularis. Lebih lanjut melalui meatus auditori internal arteri labirin bercabang membentuk arteri vestibulokoklear yang menyuplai bagian-bagian dari koklea. Cabang lainnya adalah arteri modiular spiralis yang berfungsi menyuplai darah kolateral ke koklea. Arteri labirin adalah end-artery dengan sedikit atau tanpa suplai darah kolateral ke koklea. Penting untuk dicatat bahwa arteri labirin yang berjalan di meatus auditori internal bukan arteri tunggal, namun berupa arteriol kecil, hamper seperti pleksus arteri.10,11

2.2. Epidemiologi

Neurutis vestibuler dapat terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan,

terutama kelompok usia dewasa.3,4 Insiden neuritis vestibuler di Inggris dilaporkan mencapai 3,5 per 100.000 orang per tahun.5,12 Neuritis vestibuler umumnya terjadi pada rentang usia 30-60 tahun.5 Menurut penelitian, tidak ada dominasi laki-laki maupun wanita yang lebih banyak menderita penyakit ini.6

2.2 Etiopatogenesis

Penyebab utama neuritis vestibuler sampai saat ini masih menjadi

perdebatan. Agen virus, gangguan vaskuler dan reaksi imun dicurigai berperan dalam neuritis vestibuler.4

Beberapa teori menjelaskan penyebab tersering neuritis vestibuler adalah virus.

Namun bukti nyata tentang penyebab pasti dari neuritis vestibuler masihterbatas. Pada studi terhadap tulang temporal pasien dengan neuritis vestibuler menunjukkan beberapa spektrum cedera dari normal hingga timbulnya degeneratif yang siginfikan menyebabkan perubahan pada nervus vestibuler, ganglion scarpa dan neuroepitel vestibuler.13 Adanya kehilangan struktur neuron pada ganglion vestibuler dan atropi pada epitel sensori vestibuler yang terkait menunjukkan infeksi virus yang terisolasi pada nervus vestibuler.14 Lokasi cedera paling sering ditemukan di bagian nervus vestibuler superior.13,14

(9)

Pada pemeriksaan histopatologi nervus vestibuler ditemukan gambaran yang sama pada kasus herpes zoster oticus. Percobaan yang dilakukan dengan hewan tikus pada neuritis vestibuler ditemukan adanya pertumbuhan herpessimplex virus tipe-1 (HSV-1) yang diinokulasi pada aurikula tikus tersebut.

Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) HSV-1 ditemukan sebanyak dua per tiga kasuspenderita neuritis vestibuler yang dilakukan pemeriksaan polymerase chainreaction (PCR) pada ganglia vestibuler manusia.5

2.3 Diagnosis

Diagnosis neuritis vestibuler dapat ditegakkan dengan anamnesis,pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.6,14Beberapa gejala neuritis vestibuler diantaranya yaitu:

timbulnya vertigo mendadak yang mengakibatkan mual dan muntah serta ketidakseimbangan tubuh dan nistagmus.13,14 Intensitas vertigo dapat meningkat selama rentang waktu 1 jam. Umumnya gejala vertigo diperberat oleh gerakan kepala namun vertigo dapat berkurang bila kepala dalam keadaan stabil dan mata terpejam. Gejala pusing pada neuritis vestibuler biasanya terjadi dalam kurun waktu beberapa hari sampai beberapa minggu dengan gejala oscillopsia atau lingkungan sekeliling terasa berputar.

Pasien mengeluh ketidakseimbangan saat berusaha berdiri atau berjalan dan bergerak ke arah labirin yang terkena. Keluhan vertigo akan berkurang dalam beberapa hari kemudian. Namun beberapa pasien dilaporkan timbul gangguan keseimbangan dalam beberapa bulan kemudian. Tidak ditemukan gangguan pendengaran pada neuritis vestibuler.14

Nistagmus bersifat akut atau sub akut dengan deviasi bola mata ke arah telinga yang tidak terkena neuritis vestibuler. Nistagmus timbul spontan dan tipenya horizontal pada fase akut penyakit. Nistagmus ini bersifat searah dengan fase yang cepat ke arah telinga yang tidak terkena neuritis vestibuler.6,14

Meskipun dalam ketidakseimbangan, pasien mampu untuk berdiri tanpa memerlukan bantuan ketika matanya terbuka. Pasien mungkin akan terjatuh ke arah labirin yang terkena ketika berdiri dengan mata tertutup atau ketika berjalan. Perbaikan gejala disebabkan kombinasi pemulihan fungsi vestibuler perifer dan kompensasi sentral.14 Pada neuritis vestibuler tidak didapatkan abnormalitas pada pemeriksaan

(10)

neurologis. Pada neuritis vestibuler didapatkan respon kalori pada telinga, yakni berkurang sampai tidak ada.13 Tes kalori sebaiknya dikerjakan pada hari ke-3 atau hari ke-4 setelah onset gejala untuk mengetahui adanya paresis kanal.14

Neuritis vestibuler sebenarnya merupakan diagnosis klinis, namun beberapa pemeriksaan khusus dapat membantu menunjang diagnosis terutama pada fase akut.

Pemeriksaan subjective visual horizontal test (SVH) merupakan pemeriksaan yang dapat dikerjakan untuk menegakkan diagnosis neuritis vestibuler. Pasien dengan neuritis vestibuler didapatkan penyimpangan >20o dari true gravitionalhorizontal. Pemeriksaan penunjang yang berperan antara lain elektronistagmografidengan lensa frenzel. Pada pemeriksaan elektronistagmografi akan didapatkan nistagmus ke arah telinga yang tidak terkena neuritis vestibuler. Pemeriksaan radiologi seperti CT scan atau MRI hanya diperlukan apabila terdapat kecurigaan kelainan sentral seperti stroke infark maupun perdarahan pada batang otak dan serebelum. Pemeriksaan radiologis juga dapat dilakukan apabila tidak ada perbaikan setelah 48 jam dari onset.7,13

2.5 Diagnosis Banding

Diagnosis banding dari neuritis vestibularis antara lain pseudoneuritisvestibuler, migrain vestibuler dan penyakit meniere.5 Neuritis vestibuler harus dibedakan dengan kelainan vestibuler sentral seperti infark serebelum.4

2.6.Penatalaksanaan

Penatalaksanaan neuritis vestibuler sebagian besar dengan medikamentosa.

Obat-obatan yang berperan dalam neuritis vestibuler antara lain antivertigo, kortikosteroid dan pengobatan umumnya didasarkan pada respon pasien yang mual terhadap obat.5,6,8 Kortikosteroid yang dianjurkan adalah metil prednisolon. Pemberian metil prednisolon akan mempercepat perbaikan fungsi vestibuler.13

Pada neuritis vestibuler fase akut yang berlangsung selama satu sampai tiga hari diperlukan istirahat di ruang gelap, kortikosteroid, pemasangan infus dan antivertigo.4 Obat sedatif vestibuler golongan antihistamin seperti dimenhidrinat dengan dosis 50-100 mg setiap 6 jam atau antikolinergik seperti skopolamin hidrobromida dapat diberikan pada fase akut. Setelah lima sampai tujuh hari, fase akut lewat, mual hilang, pasien di

(11)

mobilisasi segera. Setelah satu sampai enam minggu sebagian besar pasien tidak merasakan gejala, bahkan saat tubuh bergerak lambat.5

Fisioterapi atau terapi fisik dapat meningkatkan kompensasi vestibuler sentral terhadap defisit perifer. Fisioterapi yang diberikan berupa latihan berdiri statis, latihan dinamis untuk menjaga keseimbangan tubuh dan stabilisasi gerakan bola mata selama pergerakan mata-kepala-tubuh.5

2.7.Komplikasi

Komplikasi pada neuritis vestibuler antara lain adalah benign paroxysmal

positioning vertigo (BPPV) dan somatoform phobic postural vertigo.

Tingkatkekambuhan neuritis vestibuler cukup rendah, sekitar 1,9% mengalami kekambuhan 29-39 bulan setelah episode yang pertama.5

2.8 Prognosis

Prognosis pada pasien neuritis vestibuler secara umum baik, sebagian besar

pasien kembali normal. Pasien dengan usia muda biasanya akan sembuh lebih cepat.

Pasien dengan usia tua dapat mengalami ketidakseimbangan yang menetap sehingga memerlukan latihan keseimbangan.4

III. LAPORAN KASUS

Pasien inisial OES, laki-laki, usia 30 tahun, suku Bali, datang ke IRD RSUP

Sanglah pada tanggal 25 September 2016 dengan keluhan pusing berputar yang timbul mendadak sejak ± 2 hari yang lalu, pusing berputar semakin berat terutama bila kepala bergerak, mual dan muntah ada terutama setiap makan dan minum, nyeri telinga tidak ada, penurunan pendengaran tidak ada, telinga mendenging atau mendengung tidak ada, demam tidak ada, batuk dan pilek juga tidak ada, pasien juga mengeluhkan timbul gelembung-gelembung berisi cairan di sekitar bibir dan menyebar sampai ke leher yang disertai rasa nyeri dan panas sejak ± 4 hari sebelumnya (Gambar 3).

(12)

Gambar 3. Pasien OES, laki-laki, usia 29 tahun.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, kesadaran kompos mentis, nadi 80 kali/menit, respirasi 18 kali/menit dan suhu aksila 36,5oC. Pada pemeriksaan telinga dalam batas normal, pemeriksaan tes penala: Rinne test positif pada kedua telinga; Webber test tidak ada lateralisasi; Schwabach test sama dengan pemeriksa, pada pemeriksaan hidung dalam batas normal, pemeriksaan tenggorok dalam batas normal.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis dengan observasi vertigo et causa suspek neuritis vestibuler. Pasien dirawat inap, diberikan infus NaCl 0,9% 20 tetes per menit, obat-obatan intravena: Ranitidin 50 mg tiap 12 jam;

Ondansetron 8 mg tiap 12 jam; Ketorolak 10 mg tiap 8 jam; Metil prednisolon 62,5 mg tiap 12 jam, obat-obatan oral: Betahistin 12 mg tiap 12 jam; Flunarizin 5 mg tiap 24 jam, pemeriksaan laboratorium lengkap, foto rontgen toraks, konsultasi teman sejawat Kulit dan Kelamin. Pasien direncanakan untuk dilakukan pemeriksaan timpanometri, audiometri, tes keseimbangan dan tes kalori.

(13)

Pada tanggal 26 September 2016, keluhan pusing berputar masih ada, mual berkurang, muntah sudah tidak ada, terapi dilanjutkan. Hasil konsultasi dengan teman sejawat Kulit dan Kelamin, pasien didiagnosis dengan Herpes simplex labialis rekuren, diberikan antibiotik topikal Asam Fusidat krim tiap 12 jam. Pada pemeriksaan darah lengkap didapatkan hasil: leukosit 4,23x103/L, hemoglobin 14,57 g/dL, eritrosit 4,95 x103/L , hematokrit 43,46%, trombosit 261,10x103/L. Pada pemeriksaan kimia darah didapatkan hasil: SGOT 16,20 U/L, SGPT 11,70 U/L, albumin 4,01 g/dL, BUN 14,00 mg/dL, kreatinin 1,14 mg/dL, natrium 139 mmol/L, kalium 4,02 mmol/L, glukosa acak 88,00 mg/dL, trigliserida 96,00 mg/dL, kolesterol total 185,00 mg/dL, HDL 28,00 mg/dL, LDL 144,00 mg/dL. Foto toraks PA didapatkan hasil: cor dan pulmo kesan normal.

Pada hari yang sama tanggal 26 September 2016, pada pasien dilakukan pemeriksaan timpanometri, audiometri, tes keseimbangan dan tes kalori. Dari pemeriksaan timpanometri didapatkan hasil yang normal, yaitu tipe A pada kedua telinga, sedangkan hasil pemeriksaan audiometri didapatkan pendengaran normal pada kedua telinga (Gambar 4). Dari tes keseimbangan didapatkan hasil: Rombergtest (+) dengan kecenderungan jatuh ke kanan, stepping test (+) dengan rotasidibawah 90o, past pointing test (–) dan positional test (+) dimana terdapat nistagmus spontan tipe horizontal, sedangkan pada tes kalori didapatkan hasil reaktif pada kedua telinga. Pasien didiagnosis dengan observasi vertigo et causa neuritis vestibuler

(14)

Gambar 4. Hasil timpanometri dan audiometri pasien

Tanggal 27-28 September 2016, keluhan pusing berputar mulai berkurang, mual dan muntah sudah tidak ada, pemberian Ketorolak dihentikan, terapi lain dilanjutkan.

(15)

Pada tanggal 29 September 2016, keluhan pusing berputar sudah tidak ada, obat-obatan oral yang diberikan: Ranitidin 150 mg tiap 12 jam; Metil prednisolon 8 mg tiap 12 jam, Betahistin 12 mg tiap 12 jam; Flunarizin 5 mg tiap 24 jam. Pasien diperbolehkan pulang dan kontrol kembali ke Poliklinik THT-KL 4 hari lagi.

Pada tanggal 3 Oktober 2016, pasien kontrol ke Poliklinik THT-KL, keluhan sudah tidak ada, obat-obatan oral: Metil prednisolon 4 mg tiap 12 jam, Betahistin 12 mg tiap 12 jam;

Flunarizin 5 mg tiap 24 jam. Pasien kontrol kembali ke Poliklinik THT-KL 1 minggu lagi.

Pada tanggal 10 Oktober 2016, pasien kontrol kembali ke Poliklinik THT-KL, keluhan tidak ada, obat-obatan oral dihentikan semuanya.

IV. PEMBAHASAN

Neurutis vestibuler dapat terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan, terutama kelompok usia dewasa, umumnya terjadi pada rentang usia 30-60 tahun dan tidak ada dominasi laki-laki maupun wanita yang lebih banyak menderita penyakit ini.3-6,12 Pada kasus ini dijumpai pada seorang laki-laki, usia 30 tahun.

Penyebab utama neuritis vestibuler sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Beberapa teori menjelaskan penyebab tersering neuritis vestibuler adalah virus. Adanya kehilangan struktur neuron pada ganglion vestibuler dan atropi pada epitel sensori vestibuler yang terkait menunjukkan infeksi virus yang terisolasi pada nervus vestibuler.4,13,14 Berdasarkan anamnesis pasien ini, timbul gelembung-gelembung berisi cairan di sekitar bibir dan menyebar sampai ke leher yang disertai rasa nyeri dan panas sejak ± 4 hari sebelumnya, atau 2 hari sebelum serangan vertigo dan disesuaikan dengan diagnosis pasien ini yang dikonsulkan ke teman sejawat Kulit dan Kelamin, dimana pasien didiagnosis dengan Herpes simplex labialis rekuren.

Beberapa gejala neuritis vestibuler diantaranya yaitu: timbulnya vertigo mendadak yang mengakibatkan mual dan muntah serta ketidakseimbangan tubuh dan nistagmus. Umumnya gejala vertigo diperberat oleh gerakan kepala namun vertigo dapat berkurang bila kepala dalam keadaan stabil dan mata terpejam. Gejalapusing biasanya terjadi dalam kurun waktu beberapa hari sampai beberapa minggu dengan gejala oscillopsia atau lingkungan sekeliling terasa berputar, tidak ditemukan gangguan pendengaran.6,13,14 Hal-hal tersebut sesuai dengan gejala yang dikeluhkan pasien ini, yaitu pusing berputar yang timbul mendadak sejak ± 2 hari sebelum ke rumah sakit,

(16)

pusing berputar semakin berat terutama bila kepala bergerak, mual dan muntah juga muncul setiap makan dan minum.

Nistagmus bersifat akut atau sub akut dengan deviasi bola mata ke arah telinga yang tidak terkena neuritis vestibuler. Nistagmus timbul spontan dan tipenya horizontal serta bersifat searah dengan fase yang cepat ke arah telinga yang tidak terkena neuritis vestibuler. Meskipun dalam ketidakseimbangan, pasien mampu untuk berdiri tanpa memerlukan bantuan ketika matanya terbuka. Pasien mungkin akan terjatuh ke arah labirin yang terkena ketika berdiri dengan mata tertutup atau ketika berjalan. Pada neuritis vestibuler didapatkan respon kalori pada telinga berkurang sampai tidak ada. Tes kalori sebaiknya dikerjakan pada hari ke-3 atau hari ke-4 setelah onset gejala untuk mengetahui adanya paresis kanal.6,13,14 Pada pemeriksaan pasien ini tidak ditemukan gangguan pendengaran sesuai dengan hasil timpanometri dan audiometri yaitu dalam batas normal, pada pemeriksaan tes keseimbangan didapatkan hasil: Romberg test (+) dengan kecenderungan jatuh ke kanan, stepping test (+) dengan rotasi dibawah 90o, past pointing test (–) dan positional test (+) dimana terdapat nistagmus spontan tipe horizontal, sedangkanpada tes kalori didapatkan hasil reaktif pada kedua telinga.

Penatalaksanaan neuritis vestibuler sebagian besar dengan medikamentosa. Obat-obatan yang berperan dalam neuritis vestibuler antara lain antivertigo, kortikosteroid dan pengobatan umumnya didasarkan pada respon pasien yang mual terhadap obat. Kortikosteroid yang dianjurkan adalah metil prednisolone, yang akan mempercepat perbaikan fungsi vestibuler.

5,8,13,15

Penatalaksanaan pasien ini adalah dengan pemberian obat-obatan yaitu: Ranitidin, Ondansetron, Ketorolak, Metil prednisolon, Betahistin dan Flunarizin sesuai dengan penatalaksanaan neuritis vestibuler.

Komplikasi pada neuritis vestibuler antara lain adalah benign paroxysmalpositioning vertigo (BPPV) dan somatoform phobic postural vertigo dengan tingkatkekambuhan neuritis vestibuler cukup rendah, sekitar 1,9% mengalami kekambuhan 29-39 bulan setelah episode yang pertama.5 Pada pasien ini tidak ditemukan komplikasi.

Prognosis pada pasien neuritis vestibuler secara umum baik, sebagian besar pasien kembali normal. Pasien dengan usia muda biasanya akan sembuh lebih cepat.4 Pada kasus ini didapatkan prognosis baik, dimana pasien kembali normal.

V.KESIMPULAN

(17)

Neuritis vestibuler adalah penyakit yang ditandai dengan timbulnya vertigo

akut dengan nistagmus spontan dan disertai dengan gejala vegetatif. Penyebab utama neuritis vestibuler sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Namun agen virus, gangguan vaskuler dan reaksi imun dicurigai berperan dalam neuritis vestibuler. Penanganan neuritis vestibuler mencakup terapi simptomatis dan suportif selama periode akut yang ditimbulkan. Penderita dapat diberikan obat-obatan seperti antivestibuler dan antiemetik untuk mengontrol vertigo, mual dan muntah.

Telah dilaporkan satu kasus neuritis vestibuler pada pasien laki-laki, usia 29 tahun.

Pusing berputar terutama bila kepala bergerak, mual dan muntah dikeluhkan pasien ini, pada pemeriksaan didapatkan gangguan keseimbangan dan nistagmus. Diagnosis neuritis vestibuler ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan penunjang. Dengan penatalaksanaan yang tepat didapatkan hasil penyembuhan dan prognosis yang baik pada pasien ini.

DAFTAR PUSTAKA

(18)

1) Kassner SS, Schottler S, Bonaterra GA, Straeter JS, Hormann K, Kinscherf R, dkk.

Proinflammatory activation of peripheral blood mononuclear cells in patients with vestibular neuritis. Audiol Neurotol. 2011;16:242-7.

2) Hotson JR dan Baloh RW. Acute vestibular syndrome. The New England Journal of Medicine. 1998;339:680-5.

3) Johnson J dan Lalwani AK. Meniere’s disease, vestibular neuronitis, paroxysmal positional vertigo and cerebellopontine angle tumors. Dalam: Snow Jr JB, Ballenger J, penyunting.

Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Edisi ke-16. London: Hamilton; 2003. h. 408- 42.

4) Probst R, Grevers G, Iro H. Basic otorhinolaryngology. Thieme. 2006. h. 282-3.

5) Strupp M dan Brandt T. Vestibular neuritis. Seminars in Neurology. 2009;29(5):509-19.

6) Marill KA. Vestibular neuronitis. Diakses 29 September 2016. Diunduh dari: URL:

http://emedicine.medscape.com/article/794489-overview.

7) Brandt T. Management of vestibular disoders. J Neurol. 2000;247:491-9.

8) Greco A, Macri GF, Gallo A, Fusconi M, Virglio DE, Pagliuca G, dkk. Is vestibular neuritis an immune related vestibular neuropathy inducing vertigo? Journal of Immunology Research. 2014:1-8.

9) Moore KL dan Agur AMR. Essential clinical anatomy. Edisi ke-3. Lippincott Williams and Wilkins. 2007. h. 573-6.

10) Gacek RR dan Gacek MR. Anatomy of the auditory and vestibular system. Dalam: Snow Jr JB, Ballenger J, penyunting. Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Edisi ke-16.

London: Hamilton; 2003. h. 1-24.

11) Mills JH, Khariwala SS, Weber PC. Anatomy and physiology of hearing. Dalam: Bailey BJ, Johnson JT, penyunting. Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Edisi ke-4. Philadelphia:

Lippincott Williams and Wilkins; 2006. h. 1883-903.

12) Goudakos JK, Markou KD, Vidal VF, Vital V, Tsaligopoulos M, Darrouzet V.

Corticosteroids in the treatment of vestibular neuritis: A systematic review and meta- analysis. Otology and Neurotology. 2010;31:183-9.

13) Lalwani AK. Current diagnosis & treatment in otolaryngology head and neck surgery. Edisi ke-2. McGraw Hill. 2007.

(19)

14) Halmagyl GM, Thurtell MJ, Curthoys IS. Vertigo: Clinical syndromes. Dalam: Gleeson M, penyunting. Scott Brown’s Otorhinolaryngology Head and NeckSurgery. Edisi ke-7.

London: Edward Arnold Ltd; 2008. h. 3751-7.

15) Strupp M, Zingler VC, Arbusow V, Niklas D, Maag KP, Dieterich M, dkk.

Methylprednisolone, valacyclovir, or the combination for vestibular neuritis. The New England Journal of Medicine. 2004;351:354-61.

16) Sprenger A, Zils E, Stritzke G, Kruger A, Rambold H, Helmchen C. Do predictive mechanism improve the angular vestivulo-ocular reflex in vestibular neuritis? Audiol Neurotol. 2006;11:53-8.

17) Palla A, Straumann D, Bronstein AM. Vestibular neuritis: vertigo and the high-acceleration vestibulo-ocular reflex. J Neurol. 2008;255:1479-82.

18) Cummings CW. Cummings otolaryngology head and neck surgery. Edisi ke-4. Mosby Elsevier. 2005.

19) Lee YJ, Shin JE, Park MS, Kim JM, Na BR, Kim CH, dkk. Comprehensive analysis of head shaking nystagmus in patients with vestibular neuritis. Audiol Neurotol. 2012;17:228-34.

20) Shupak A, Issa A, Golz A, Margalit K, Braverman I. Prednisone treatment for vestbular neuritis. Otol Neurotol. 2008;29(3):368-74.

21) Amber KT, Castano JE, Angeli SI. Prophylactic valacyclovir in a patient with reccurent vestibular disturbances secondary to vestibular neuritis. American Journal of Otolaryngology Head and Neck Surgery. 2012;33:487-8.

22) Hillier SL dan Hollohan V. Vestibular rehabilitation for unilateral peripheral vestibular dysfunction. Cochrane Database Syst Rev. 2007;(4):CD005397.

23) Bergenius J dan Perols O. Vestibular neuritis: A follow up study. ACTA Otolaryngol.

1999;119:895-9.

Gambar

Gambar 1. Anatomi labirin tampak anterolateral. 9
Gambar 2. Struktur koklea dan organ corti. 9
Gambar 3. Pasien OES, laki-laki, usia 29 tahun.
Gambar 4. Hasil timpanometri dan audiometri pasien

Referensi

Dokumen terkait

(1996) juga mempelajari ukuran populasi dan daya jelajah rayap tanah dengan metode teknik tanda tangkap.Asumsi-asumsi yang mendasari semua analisis teknik tanda tangkap adalah:

Nilai rata-rata aroma tortilla ubi jalar ung pada gambar histogram memberikan hasir berkisar 4,27 - 4,63 (antara tidak suka dana suka ) dengan masing-masing

Alur kerja pengujian alat rancang bangun robot pemindah barang menggunakan WiFi module ditunjukkan pada Gambar 7. Langkah pertama adalah dengan memulai menjalankan aplikasi

Berdasarkan rumusan Pasal 116 ayat (1) yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana lingkungan adalah: pertama, korporasi yang meliputi badan usaha, baik yang berbadan

Selain itu, pada baris “tentang negara yang lucu” menunjukkan bahwa fakta yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia cenderung memiliki sisi negatif perihal pencapaian terhadap

dengan ditanggapi aktif oleh peserta didik dari kelompok lainnya sehingga diperoleh sebuah pengetahuan baru yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelompok kemudian,

Berapa jumlahpenciptaangreen jobs di Indonesia yang dihasilkan dengan menggunakan model skenario investasi hijau (green investment) di sektor pertanian.. Berapa

Untuk mengetahui penilaian responden terhadap dimensi-dimensi Festival Quality Djakarta Warehouse Project 2014, data yang telah di peroleh akan di olah