• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Modern Cubism Architecture pada Sekolah Tinggi Parahyangan Design & Art of Collage di Kota Baru Parahyangan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Penerapan Modern Cubism Architecture pada Sekolah Tinggi Parahyangan Design & Art of Collage di Kota Baru Parahyangan"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

© Prodi Arsitektur Itenas Maret 2021

Penerapan Modern Cubism Architecture pada Sekolah Tinggi Parahyangan Design & Art of Collage

di Kota Baru Parahyangan

Muhammad Ikhlas Miftahuddin

1 Jurusan Arsitektur, Fakultas Arsitektur dan Desain, Itenas, Bandung Email: [email protected]

ABSTRAK

Aliran arsitektur modern kubisme berkembang pada abad ke-19 di Perancis sebagai bentuk perlawanan dari arsitektur klasik yang penuh dengan ornamen.Aliran ini lebih sederhana dan lebih mengutamakan fungsi bangunan. Oleh karenanya konsep ini dinilai tepat diterapkan pada perancangan Sekolah Tinggi Parahyangan Design & Art of Collage yang berlokasi di Kota Baru Parahyangan. Penerapan konsep ini diwujudkan pada pengolahan desain fasad,desain pintu dan jendeala serta penggunaan material bangunan. Hasil rancangan berupa fasad dengan pola-pola geometris dengan warna-warna primer, yaitu merah, kuning dan biru yang diharapkan dapat mempresentasikan sebuah bangunan sekolah tinggi seni rupa modern. selain itu, material yang digunakan yaitu material modern, seperti : kaca, beton, Alumunium Composite Panel (ACP), Baja dan Metal yang juga dapat diharapkan dapat mencerminkan fungsi bangunannya.Hasil keseluruhan rancangan menghasilkan sebuah bangunan sekolah tinggi seni yang simpel namun ekspresif. Bangunan memiliki kenyamanan visual serta menciptakan sebuah lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman karena dilengkapi dengan ruang terbuka hijau dan taman untuk kegiatan diskusi, pameran sehingga diharapkan kreatifitas mahasiswa dapat tergali secara optimaldan dapat menghasilkan lulusan berkualitas. Diharapkan pula penerapan konsep Arsitektur Modern Kubisme dapat menghasilkan bangunan Sekolah Tinggi Seni yang unik dan menjadi daya tarik tersendiri di lingkungan Kota Baru Parahyangan.

Kata kunci: Arsitektur Modern Kubisme, Kota Baru Parahyangan, Sekolah Tinggi Seni Rupa Modern ABSTRACT

The flow of modern cubism architecture developed in the 19th century in France as a form of resistance from classical architecture which was full of ornamentation. This stream was simpler and prioritized building functions. Therefore, this concept is considered appropriate to be applied to the design of the Parahyangan Design & Art of College College which is located in Kota Baru Parahyangan. The application of this concept is manifested in the processing of facade designs, door and window designs and the use of building materials. The design result is a facade with geometric patterns with primary colors, namely red, yellow and blue which are expected to represent a modern art high school building. In addition, the materials used are modern materials, such as: glass, concrete, Aluminum Composite Panel (ACP), Steel and Metal which can also be expected to reflect the function of the building. The overall design results in a simple yet expressive art high school building. The building has visual comfort and creates a safe and comfortable educational environment because it is equipped with green open spaces and a garden for discussion activities, exhibitions so that it is hoped that student creativity can be explored optimally and can produce quality graduates. It is also hoped that the application of the concept of Modern Cubist Architecture can produce a unique Art College building and become a special attraction in the Kota Baru Parahyangan citizens.

Keywords: College of Modern Fine ,Kota Baru Parahyangan, Arts Modern Cubism Architecture

(2)

1. PENDAHULUAN

Kota Bandung merupakan salah satu kota pendidikan di Indonesia. Dimana banyaknya perguruan tinggi di Kota Bandung yang diminati oleh calon mahasiswa-mahasiswi Jawa Barat atau Bahkan luar pulau Jawa, isu ini yang menjadi awal dari potensialnya perancangan sekolah tinggi seni dan desain di Jawa Barat, tepatnya di Kota Baru Parahyangan.

Seni terbagi menjadi seni murni dan seni terapan. Seni yang meliputi seni patung dan lukis telah banyak berkembang hingga era kontemporer [1]. Seiring bertambahnya minat jasa desain dan seni,namun kurang diiringi bertambahnya desainer, diantaranya desain interior, desain komunikasi visual yang lebih dikenal dengan desain grafis, desain tekstil, maupun desain produk. Tidak banyaknya lembaga pendidikan yang dapat menyiapkan desainer siap pakai untuk mengisi kekosongan dari banyaknya permintaan jasa seni dan desain, lembaga yang ada hanya sebatas lembaga pendidikan non-formal berupa kursus komputer dan hanya pada bidang desain Grafis Di-sisi lain dari aspek firmitas, bangunan seni harus tetap memeperhatikan aspek Utilitas dan venustas. Didalam arsitektur sebuah bangunan merupakan representasi dari fungsi yang ada didalamnya. Maka dari itu proses merancang perlu diperhatikan, dengan tetap merancang bangunan yang respon terhadap lingkungan sekitar dan tetap memiliki langgam atau identitas bangunan itu sendiri. Dalam kasus ini tema atau langgam arsitektur yang dipilih adalah arsitektur modern kubisme, hal ini karena kubisme/ cubist sangat merepresentasikan gaya seni murni [2].

2. EKSPLORASI DAN PROSES RANCANGAN

2.1 Definisi Proyek

Bangunan Pendidikan merupakan sebuah bangunan yang didalamnya memfasilitasi kegiatan belajar mengajar dan kegiatan administrasi [3]. Sementara itu, Seni Rupa merupakan cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep titik, garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika. [3]. Korelasi dari pengertian tersebut ditarik kesimpulan bahwa pemilihan konsep bangunannya ialah Arsitektur Modern Kubisme karena aliran cubism terinspirasi dari seni lukis yang muncul dan mulai berkembang pada abad-19 di Prancis, Paris.

Aliran kubisme muncul karena rasa bosan terhadap aliran arsitektur klasik yang penuh dengan ornament.

Kubisme adalah suatu aliran dalam seni rupa yang bertitik tolak dari penyederhanaan bentuk-bentuk alam secara geometris (berkotak-kotak) sehingga arsitektur kubisme kuat kaitannya bangunan pendidikan dan seni rupa.

2.2 Identifikasi Lokasi

Kawasan Parahyangan Design & Art Of Collage dengan fungsi bangunan pendidikan ini berada dilahan sebesar 24.950 m2. Memiliki regulasi KDB sebesar 60%, kemudiah KLB sebesar 1.0, lalu GSB sebesar 8 m, untuk KDH sebesar 30%. Luas bangunan keseluruhan yang boleh terbangun sebesar 10000 m2 . Kawasan pendidikan ini dibangun diatas lahan berkontur dengan skala yang cukup luas membuatnya perlu pengolahan khusus dalam menata fungsi dan ruang pada area site. Aksesibilitas lokasi dapat dijangkau oleh Bus, Truk, kendaraan roda 4, roda 2, dan sepeda, untuk transportasi publik nya ada Bis Damri.

Lokasi Site dapat dikatakan strategis karena akses dapat dijangkau oleh kendaraan dengan mudah, serta berdekatan dengan perumahan dan pusat kota. Lokasi tapak termasuk kedalam kawasan binaan terpadu, juga memiliki aksesibilitas yang strategis dekat dengan jalan tol, stasiun, dan terminal. Sehingga membuat site dapat mudah diakses oleh pengunjung. Site dikelilingi dengan berbagai macam fungsi kawasan diantaranya seperti pada peta Gambar 1.

(3)

di Kota Baru Parahyangan

Arsitektur Modern Kubisme/Cubism adalah satu gaya/aliran dalam seni rupa yang berfokus pada penyederhanaan bentuk atau ornamen objek secara geometris (kubus/kotak). Arsitektur aliran kubisme sendiri adalah langgam desain yang terinspirasi dari seni lukis yang muncul dan berkembang pada abad ke-19 di Paris, Prancis. Aliran arsitektur kubisme merupakan suatu perlawanan terhadap arsitektur klasik yang penuh dengan ornamen yang dianggap tidak perlu karena tidak ada hubungannya dengan fungsi bangunan [4]. Prinsip dari aliran kubisme menonjolkan aspek ruang atau tiga dimensi dan waktu, dimana hal itu tidak terdapat dalam aliran klasik-tradisional. Aliran kubisme tidak langsung diterima begitu saja oleh kalangan masyarakat pencinta seni.

Architecture cubism mempengaruhi bidang arsitektur dalam elemen utama pendukung arsitektur yaitu material, ruang dan pencahayaan. Dalam arsitektur klasik, material adalah hal utama yang memberikan kekuatan dalam konstruksi. Ruang terletak dibalik dinding tebal di mana cahaya masuk hanya sedikit.

Namun sejak aliran cubism muncul, arsitektur bukan lagi selubung, tetapi ruang menjadi aspek paling dominan. Aliran Cubism termasuk dalam aliran arsitektur modern awal Fungsionalisme atau rasionalisme. Elemen bangunan mengutamakan pada fungsi yang pada akhirnya dapat menimbulkan keindahan tanpa adanya hiasan atau dekorasi satupun. Architecture cubism menggunakan modul dalam perencanaan ruang, sehingga memaksimalkan fungsi ruang dan ruang menjadi optimal. Sistem ini menjadikan suatu bangunan dibangun dalam waktu yang cepat dan memungkinkan dibangun dalam jumlah yang banyak. Elemen- elemen bangunan dibuat dan dicor di pabrik yang selanjutnya perakitan dapat dilakukan di lapangan secara langsung serta memerlukan waktu yang singkat. Bagian-bagian dari bangunan seperti pondasi, kolom, tiang, tangga dan lain-lain dibuat di pabrik, kemudian dipasang dan disambung menjadi bangunan dalam jumlah sesuai kebutuhan [5].

3.1 Elaborasi Tema

Pemilihan tema arsitektur modern kubisme ialah untuk menciptakan sebuah bangunan sekolah seni dan desain yang merepresentasikan aliran seni modern, khususnya dari fasad bangunan. Dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Elaborasi Tema

Elaborasi Tema

Sekolah Tinggi Arsitektur Modern Kubisme

Mean

Sekolah Tinggi merupakan tempat dimana sarana belajar mengajar

Arsitektur modern kubisme adalah gaya arsitektur yang mementingkan fungsi dengan bentuk yang simple, kotak, namun tetap menarik

Gambar 1. Peta Peruntukan Lahan

Sumber : http://www.maps.google.com/ , diakses pada tanggal 16 Oktober 2020

Kab. Bandung Barat

(4)

Problem

Banyaknya Sekolah Tinggi yang kurang dalam fasilitas dan teknologi yang kurang memadai

Perlunya kontekstualitas dalam menerapkan desain kubisme, baik itu kontras maupun selaras

Fact

Sekolah Tinggi Seni Rupa merupakan program studi yang menarik, karena mahasiswanya yang ekspresif

Kubisme merupakan sebuah gaya seni modern yang sangat identik kaitannya dengan seni rupa & kriya

Need

Rancangan Sekolah Tinggi yang memfasilitasi untuk segala jenis aktivitas kampus.

Rancangan Sekolah tinggi yang menerapkan desain minim ornamen dan fasad yang merepresentasikan seni, serta menyatu dengan alam.

Goal

Menciptakan Bangunan Sekolah tinggi yang menarik perhatian masyarakat dan menjadi icon Kampus Seni dan Desain Jawa Barat

Menciptakan bangunan pendidikan berupa sekolah tinggi yang dapat dibanggakan, khususnya di bidang seni rupa dan desain

Concept

PARAHYANGAN DESIGN & ART COLLAGE

Rancangan Sekolah tinggi Seni Rupa dan Desain dengan fasilitas modern, bentuk bangunan yang identik dengan seni rupa, yang merepresentasikan seni, yaitu kreativitas

3. HASIL RANCANGAN

3.1 Konsep Zoning dan Sirkulasi Tapak

Zoning yaitu pembagian kawasan ke dalam beberapa zona sesuai dengan fungsi dan karakteristik semula atau diarahkan bagi pengembangan fungsi-fungsi lain. Pada Gambar 2 menjelaskan zoning dalam tapak. Zoning dalam tapak dibagi menjadi 2 zona yaitu zoning service (warna merah) dan zoning public (warna merah).

Zoning dibagi menjadi beberapa area, yaitu area publik, area semi publik, area privat dan area servis yang dapat dilihat pada Gambar 2, antara lain: [a] Area sisi tapak yang dekat dengan jalan akan menjadi area publik, tempat drop off penumpang dan parkir untuk bus [b] Area semi publik adalah area rencana bangunan akan ditempatkan pada site yaitu berada pada bagian tengah site [c] Area servis diperuntukan

Gambar 2. Pembagian Zona Dan Sistem Sirkulasi Dalam Tapak

(5)

di Kota Baru Parahyangan

pengguna bangunan tertentu saja. Sirkulasi pada tapak dibagi menjadi sirkulasi kendaraan (bus, motor, mobil, kendaraan servis) dan juga pejalan kaki. Aksesibilitas dan sirkulasi tapak dapat dilihat pada Gambar 3. Seluruh kendaraan pribadi masuk dan keluar site melalui Jalan Parahyangan Raya 28. Dan juga Jalan Bujanggamanik.

3.2 Konsep Massa Bangunan

Konsep gubahan massa pada bangunan berawal dari kondisi tapak yang dikaitkan dengan tema perancangan. Dengan memberikan orientasi dan node , dimana site berada disudut sehingga perlu adanya respon pada bangunan terhadap node , massa bangunan mengikuti bentuk kontur dan bentuk bangunan dilakukan substraktif dan aditif menyesuaikan kontur tapak dan tata letak pada site. Gubahan massa dapat dilihat pada Gambar 4

3.3 Konsep Fasad Bangunan

Fasad pada bangunan menerapkan permainan warna primer yaitu biru, kuning dan merah yang disesuaikan dengan bentuk kubisme dan permainan repetition/pengulangan dari kaca dan jendela. Untuk dapat memenuhi konsep Architecture Cubism tersebut maka elemen atap pada fasad bangunan

“disembunyikan” dan fasad bangunan menggunakan Alumunium Composite Panel/ACP agar lebih mudah pada perawatan berkala nya.,. Pada beberapa bagian fasad bangunan juga terdapat secondary skin (terutama bagian yang menghadap ke Barat). Dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 3. Gubahan Massa Dan Siteplan

Gambar 4. Perspektif Mata Burung

(6)

Pada detail fasad seperti terlihat pada Gambar 6, ditandai dengan adanya secondary skin berupa rangka plat besi yang berfungsi mereduksi panas di sore dan siang hari, juga sebagai elemen estetik agar fasad bangunan lebih “berekspresi”

Pada fasad secara mendetail, dapat terlihat terdapat beberapa penggunaan dinding kaca dan ACP yaitu pada bagian sisi utara dan selatan bangunan, Tujuannya untuk menangkap angin dan cahaya yang masuk di permukaan fasad bangunan. Sehingga dalam ruangan akan mendapatkan udara alami yang pada akhirnya akan mengurangi intensitas penggunaan mesin penghawaan buatan yang dapat mengeluarkan emisi dan berdampak pada lingkungan setempat dan material ACP menjadi pembayang bagi ruang dalamnya. Selain penggunaan material ACP, kaca pun sebagai material pendukung dalam bangunan ini.

Dengan system rangka yang sama dengan pemasangan ACP yaitu menggunakan rangka baja hollow dengan ukuran 5 - 10 cm dengan mempertimbangkan tebal, ukuran kaca, dan jenis kaca yang digunakan.

Gambar 5. Desain Fasad Bangunan

Gambar 6. Detail fasad Gedung Rektorat

(7)

di Kota Baru Parahyangan

3.4 Eksterior Bangunan

Pada Gambar 7. memperlihatkan Perspektif Eksterior Birdeye, terlihat adanya fasilitas taman dan plaza dan dekat dengan parkir bus. Kemudian akses plaza yang dapat diakses melalui jalan utama.Terlihat atap flattruss dengan penutup zincalum yang tidak terlihat dari mata manusia.

Gambar 8. merupakan Perspektif Eksterior Human eye pada bagian main enterance, terdapat area plaza dan drop off yang langsung menuju Bangunan.

Pada Gambar 9. Area Selasar juga taman tengah (Courtyard) dimana mahasiswa atau pengunjung dapat melihat dan menikmati area pamer outdoor saat sedang ada pasar seni bulanan/tahunan.

Gambar 7. Perspektif Eksterior Birdeye

Gambar 8. Perspektif Eksterior Human Eye

Gambar 9. Perspektif Area Coutryard (R. Pamer outdoor)

(8)

Pada Gambar 10. Area aktif mahasiswa, yaitu foodcourt dan Studio belajar. Foodcourt berdekatan dengan ruang UKM dan Perpustakaan, sedangkan R.Studio dekat dengan ruang kelas mahasiswa

3.5 Rancangan Struktur

Penggunaan struktur pada bangunan ini menyesuaikan dengan kecepatan memasang dan kemudahan dalam pengadaan ke lapangan. Sistem dan material struktur yang digunakan sesuai dengan konsep yang direncanakan sebelumnya. Berikut adalah beberapa ketentuan yang ditetapkan dalam Bangunan Parahyangan Design & Art of Collage antara lain; Kolom beton bertulang 50 x 50 cm , Balok beton bertulang 60 x 40 cm, Rangka atap flat truss penutup zincalum, Pondasi borepile , Poer beton 200 x 50 cm.

Seluruh komponen tersebut tertuang dalam Gambar 11. yang dijelaskan melalui gambar pot.prinsip gedung 1 memotong main entrance mulai dari sub structure hingga upper structure.

4. SIMPULAN

Gambar 10. Perspektif Foodcourt dan R.Studio

Gambar 11. Potongan Prinsip Gd.1

(9)

di Kota Baru Parahyangan

pendekatan kontekstual ini dapat disimpulkan bahwa bangunan yang dirancang merupakan bangunan pendidikan dapat memberikan fasilitas sarana dan prasarana yang mampu meningkatkan daya belajar dan melalui pendekatan pengalaman ruang secara mendalam. Selain itu, arsitektur kubisme juga dapat memberikan suatu identitas yang orientasi bangunan dan fasadnya menjadi iconic di kawasan KBP. Jadi dengan menerapkan arsitektur modern kubisme yang memiliki bentuk formal(kotak) namun tetap ekspresif memberikan identitas bangunan dengan fungsi dalam dan luarnya terlihat formal tapi tetap dinamis.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Sudarso (1980), Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern, Studio Delapan Puluh Enterpise, Jakarta

[2] Id.Wikipedia.com (2003) “Definisi Sekolah Tinggi” [Online]

https://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_tinggi Diakses 13 Oktober 2020.

[3] Peraturan Menteri Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi (2015) Nomor 44 Tahun 2015 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi Pasal 32, 34, 35, DAN 37

[4] Asternia, Monica (2018), “Galeri Seni Fotografi dan Pers Di Kota Semarang”. [Online] , Thesis, Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang

[5] Arsitektur Modern Kubisme (2020) ,DIAKSES 19 SEPTEMBER 2020. [Online]

https://WWW.ARSITUR.COM/ARSITEKTUR_ MODERN_KUBISME

Gambar

Tabel 1. Elaborasi Tema
Gambar 2. Pembagian Zona Dan Sistem Sirkulasi Dalam Tapak
Gambar 3. Gubahan Massa Dan Siteplan
Gambar 6. Detail fasad Gedung Rektorat
+3

Referensi

Dokumen terkait

Lokasi O Theós Chamogelá Water Park yang berada di Kota Baru Parahyangan merupakan lokasi yang cukup strategis sebagai tempat wisata pelepas penat, penerapan dari tema

Tema arsitektur tropis ini diterapkan pada massa bangunan yang terdapat pada desain ini dengan tujuan membuat sebuah bangunan yang memperdulikan dengan lokasi yang

Arsitektur minimalis dipilih sebagai konsep bangunan agar gedung kantor Dinas Kesehatan Daerah yang dipadukan dengan kantor Palang Merah Indonesia, tampil lebih modern dan

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS Saya yang bertandatangan dibawah ini: Nama : Wina Belladina NIM : 21.2014.222 Menyatakan sesungguhnya bahwa Judul Tugas Akhir: PENERAPAN KONSEP

Sudarwani, M Maria; 2012; Penerapan Green Architecture dan Green Building Sebagai Upaya Pencapaian Sustainable Architecture; Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Pandanaran; Jurnal..

HALAMAN PENGESAHAN PERANCANGAN SEKOLAH TINGGI SENI MUSIK DAN TARI DENGAN KONSEP MUSICAL NOTE ANALOGUES DI KOTA BARU PARAHYANGAN TUGAS AKHIR Oleh Raden Valdy Sukyadi Hidayat

Bangunan dirancang dengan menerapkan konsep Arsitektur Tropis yang pada dasarnya memperhatikan iklim, lingkungan sekitar dan selalu memberikan jawaban atau adaptasi bentuk bangunan

Pendekatan ini diterapkan pada bentuk massa bangunan dan desain fasad dengan pengolahan bentuk geometris yang simple dan warna-warna netral dengan tampilan yang bersih serta mampu