BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian irigasi
Irigasi merupakan sebuah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk memenuhi kebutuhan pertanian dan digunakan untuk keperluan seperti air baku, penyediaan air minum, pembangkit tenaga listrik, keperluan industri, perikanan dan lain-lain.
Sumber air yang digunakan untuk irigasi adalah air yang ada dipermukaan tanah seperti sungai, danau, waduk dan mata air. Kemudian air hujan yang ditampung dengan waduk buatan atau embung.
2.2 Sistem Irigasi
Pada umumnya sistem irigasi di Indonesia pengaliran airnya dengan sistem jaringannya terbagi menjadi 3 golongan :
2.2.1 Sistem Irigasi Sederhana
Sistem irigasi ini baik bangunan maupun pemeliharaannya dilakukan oleh para petani dan pada umumnya jumlah arealnya relatif kecil. Biasanya terdapat dipegunungan, sedangkan sumber daya airnya didapat dari sungai-sungai kecil yang airnya mengalir sepanjang tahun. Bangunan bendungnya dibuat dari tumpukan batu dan bangunannya dibuat sangat sederhana serta tidak dilengkapi dengan pintu air dan alat ukur debit air sehingga pembagian airnya tidak dapat dilakukan dengan baik.
2.2.2 Sistem Irigasi Setengah Teknis
Sistem irigasi ini seluruh bangunan yang ada di dalam jaringan irigasi setengah teknis konstruksinya bisa permanen atau setengah permanen akan tetapi tidak dilengkapi dengan pintu air dan alat pengukur debit. Pada sistem ini pembangunaanya dilakukan oleh pemerintah Departemen Pekerjaan Umum.
2.2.3 Sistem Irigasi Teknis
Pada sistem irigasi ini seluruh bangunan yang ada di dalam jaringan irigasi teknis semua konstruksinya permanen dan juga dilengkapi dengan pintu-pintu air dan alat ukut debit, dimana pembagian airnya bisa diatur dan bisa diukur dan disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga pembagian atau perberian air ke areal sawah dilakukan
Disamping itu untuk menjamin tidak terjadinya banjir, dibuat jaringan pembuang tersier, sekunder dan induk yang nantinya air tersebut dialirkan langsung ke sungai.
Saluran ini juga berfungsi untuk membuang air sisa pemakaian sawah.
2.3 Skema Jaringan Irigasi dan Skema Bangunan 2.3.1 Skema Jaringan Irigasi
Skema jaringan irigasi merupakan gambaran yang menampilkan saluran mulai dari bendung, saluran primer, sekunder, bangunan bagi, bangunan sadap dan petak- petak tersier dengan standar sistem tata nama.
2.3.2 Skema Bangunan
Skema bangunan adalah yang menampilkan khusus jumlah dan macam-macam bangunan yang ada pada tiap-tiap ruas saluran dan benda dalam satu daerah jaringan irigasi dengan standar sistem tata nama.
2.4 Istilah-Istilah Irigasi dan Pengertiannya
Agar tidak terjadi persepsi yang berbeda terhadap istilah-istilah menurut peraturan pemerintah republik indonesia nomor.20 tahun 2006 tentang irigasi degan istilah sebgai berikut :
1. Daerah irigasi adalah kesatuan wilayah yang mendapat air dari satu jaringan irigasi.
2. Jaringan irigasi dimulai dari bendung, jaringan saluran pembawa, jaringan saluran pembuang, bangunan pengatur air, dan bangunan pelengkapnya menjadi satu kesatuan di dalam melayani kebutuhan air untuk irigasi.
3. Saluran primer adalah saluran pembawa pertama yang menyadap air langsung dari bendung.
4. Saluran sekunder dalah saluran pembawa kedua yang mengambil air dari saluran induk.
5. Saluran tersier adalah saluran pembawa ketiga yang mengambil dari saluran sekunder.
6. Saluran pembuang/drainase adalah pengaliran sisa pemakaian air irigasi yang sudah tidak digunakan lagi dan dibuang melalui jaringan saluran pembuang.
7. Waduk adalah tempat/wadah penampungan air dari sungai yang dapat digunakan untuk pembgankit listrik, irigasi, air minum, perikana dan industri.
8. Embung merupakan wadah penampungan air irigasi pada waktu terjadi surplus air di sungai atau air hujan.
9. Bangunan air adalah bangunan-bangunan yang bersangkutan dengan air yang utamanya yang berkaitan dengan jaringan irigasi.
10. Bangunan sadap utama adalah bangunan yang diletakkan melintang sungai yang fungsinya untuk meninggikan muka air sungai dan kemudian disadap dan dialirkan ke saluran primer.
11. Bangunan bagi adalah bangunan yang fungsinya membagikan air baik saluran primer ke saluran sekunder, atau dari saluran sekunder ke saluran sekunder yang lain.
12. Bangunan sadap dalah bangunan yang fungsinya membagikan air ke saluran tersier. Letaknya bisa disaluran primer da juga saluran sekunder.
13. Bangunan bagi-sadap adalah gabungan dari bangunan bagi dan bangunan sadap, yang berfungsi membagikan air baik dari saluran primer ke saluran sekunder maupun dari saluran sekunder ke saluran sekunder lainnya dan memberikan sadapan ke saluran tersier.
14. Daerah potensial yaitu daerah yang mempunyai kemungkinan baik untuk dikembangkan.
15. Daerah fungsional adalah bagian dari daerah potensial yang telah memiliki jaringan irigasi yang telah dikembangkan. Daerah fungsional luasnya sama atau lebih kecil dari daerah potensial.
2.5 Pengolah Data Sumber Daya Air-Pengelolaan Aset Irigasi
Pengolah Data Sumber Daya Air-Pengelolaan Aset Irigasi atau disingkat PDSDA–PAI adalah sebuah aplikasi yang memadukan antara penggunaan data tabular dan spasial (peta untuk jaringan irigasi / skema irigasi). Berdasarkan hal tersebut, maka PDSDA-PAI dibangun dengan mengintegrasikan perangkat lunak berbasis tekstual dengan sistem informasi geografis. Filosofi dari pengembangan PDSDA-PAI digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.4 Filosofi pengembangan PDSDA-PAI
Sustain (keberlanjutan) dari sistem adalah tujuan utama dari dibangunnya PDSDA-PAI. Fakta empiris menunjukkan bahwa pembangunan suatu sistem informasi di instansi pemerintahan (Departemen, Dinas, BUMN, dll) di Indonesia seringkali hanya bersifat parsial dan sporadis. Hal ini dikarenakan seringkali suatu
proyek (project based) tanpa memikirkan aspek-aspek pendukung lainnya, misalnya : kelembagaan, prosedur operasional, aspek legal, sumberdaya manusia, dan lain-lain. Akibatnya, sistem tidak pernah bisa direplikasikan dan operasionalisasinya hanya sebatas kurun waktu proyek tersebut. Hal ini berimplikasi pada mubazirnya biaya yang dikeluarkan. Berdasarkan hal tersebut, PDSDA-PAI berusaha untuk memenuhi kebutuhan semua persyaratan berlanjutnya sistem melalui tahapan-tahapan pengembangan yang konkrit, terstruktur, dan terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut. Kajian-kajian khusus mengenai kelembagaan, penyusunan perundangan, peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dan prosedur operasional standar, telah dilakukan sebagai acuan bagi PDSDA-PAI dan selanjutnya dituangkan ke dalam arsitektur pengembangan PDSDA-PAI yang komprehensif.
Ada dua hal mendasar yang menjadi pertimbangan dalam pengembangan PDSDA-PAI, yaitu aspek yang terkait dengan biaya pengembangan dan implementasi (efektivitas biaya), dan aspek reliabilitas dari sistem aplikasi yang dikembangkan (kehandalan sistem).
2.5.1. Efektivitas Biaya
Terhadap aspek biaya pengembangan dan implementasi, pengembangan PDSDA- PAI menekankan pada keefektifan biaya (cost effective), yaitu dengan berusaha untuk menggunakan biaya yang optimal. Pengertian optimal disini adalah bahwa sulit untuk dipungkiri bahwa suatu pengembangan sistem informasi memerlukan biaya yang tidak sedikit, namun beberapa hal yang bisa dilakukan penghematan terhadap biaya adalah sebagai berikut :
1. Penggunaan perangkat lunak yang tanpa biaya (freeware dan opensource) 2. Fleksibilitas dalam implementasi
3. User friendly
4. Integrasi dengan aplikasi lain
2.5.2 Kehandalan Sistem (Reliability)
Kehandalan dari suatu sistem bukan diukur dari seberapa banyak fitur yang disiapkan oleh sistem tersebut (misal : penggunaan GIS hanya sebagai aksesoris), melainkan sistem harus mampu menerjemahkan dan mengakomodasi keinginan pengguna dalam pengelolaan sistem tersebut.
PDSDA-PAI menggunakan formulir survey yang telah disepakati oleh semua pihak dan dibakukan sebagai acuan terhadap data yang akan dimasukkan, diolah dan dibuatkan informasinya. Tentunya bahwa formulir survey tersebut telah pula mengkaji hal-hal yang terkait dengan kelembagaan, perundangan, peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dan prosedur operasional standar. Selain berfungsi sebagai tools yang bisa dimanfaatkan oleh pengguna operasional, PDSDA-PAI juga bisa mengeluarkan informasi untuk konsumsi pengambilan keputusan atau manajerial, sebagai berikut :
Prioritas investasi perbaikan aset
Kondisi aset
Fungsi aset
Tingkat kekritisan aset
Sisa Umur aset
Ketersediaan Air 2.6 Penggunaan Aplikasi
Untuk menjalankan aplikasi PDSDA-PAI, Gunakan Windows Explorer dan masuk ke direktori dimana aplikasi ini diinstalkan. Anda bisa membuat shortcut di desktop sehingga tidak perlu setiap saat membuka dengan Windows Explorer dengan cara klik kanan pada PDSDA_PAI.EXE dan klik send to – desktop (create shortcut).
Klik ganda pada PDSDA_PAI..EXE. Selanjutnya akan muncul menu sebagai berikut :
Gambar 2.5 Penggunaan Aplikasi PDSDA-PAI
Klik menu Arsip–Login, untuk masuk ke sistem sebagai pengguna sesuai dengan otorisasi yang diberikan. Pada saat pertama kali sistem digunakan, default nama pengguna sebagai contoh : pdsda_pai dan kata kunci : Teknik Sipil dan klik tombol login. Selanjutnya, silahkan ganti kata kunci untuk pengguna karena kata kunci tersebut akan digunakan sebagai supervisor sistem aplikasi ini.
2.7 Editing Data Tabular
Tombol navigasi berikut ini akan dijumpai dalam pemeliharaan data tabular
Gambar 2.6 Editing Data Tabular
Tombol Keterangan
Awal Menuju ke record pertama dari tabel yang aktif
Sebelum Menuju ke satu record sebelumnya dari tabel yang aktif Berikut Menuju ke satu record berikutnya dari tabel yang aktif Akhir Menuju ke record terakhir dari tabel yang aktif
Tambah Menambahkan data Hapus Menghapus data Simpan Menyimpan data
Batal Membatalkan perubahan
2.8. Struktur Menu
Struktur menu utama PDSDA PAI adalah sebagai berikut :
Gambar 2.7 Struktur Menu
Menu utama dari PDSDA-PAI terdiri dari :
1. Arsip 2. Data 3. Laporan 4. Supervisor 5. Peta
7. Windows 8. Panduan 2.8.1 Arsip
Menu arsipterdiridarisubmenu :
Gambar 2.8 Menu Arsip
Menu arsip terdiri dari submenu :
1) Login
Digunakan untuk masuk ke sistem aplikasi.
Gambar 2.9 Login Sistem Aplikasi
Masukkan nama pengguna dan kata kunci anda. Jika anda belum terdaftar, maka hubungi supervisor sistem anda.
2) Logout
Digunakan untuk keluar dari sistem aplikasi.
3) Ganti Kata Kunci
Digunakan untuk mengganti kata kunci pengguna yang aktif.
4) Setup Printer
Digunakan untuk memilih printer yang akan digunakan untuk pencetakan.
Gambar 2.10 Setup Printer 5) Keluar
Digunakan untuk keluar dari sistem aplikasi. Ini juga bisa dilakukan dengan mengklik tombol pada kanan atas.
2.8.2 Data
Menu data terdiri dari submenu :
Gambar 2.11 Menu Data
Menu data terdiri dari submenu :
1) Tabel Referensi
Digunakan untuk melakukan pemeliharaan data terhadap tabel-tabel referensi yang akan dijadikan acuan agar konsistensi data terjaga.
Gambar 2.12 Tabel Referensi
Tabel referensi mencakup :
1. Administrasi kewilayahan yang terdiri dari propinsi dan kabupaten. Kodifikasi tabel propinsi dan kabupaten yang telah dimasukkan menggunakan standarisasi yang digunakan oleh Biro Pusat Statistik
2. Wilayah Sungai dan DAS berdasarkan PerMen 11A/KPTS/2006 Tentang Wilayah Sungai
– Standarisasiuntuk Wilayah Sungai PP.UU.SS PP=KodePulau, UU= No.Urut, SS=Status WS
– Standarisasi untuk DAS PP.UU PP=Kode Pulau, UU= No.Urut
3. Status WS dan Status Daerah Irigasi 4. Tabel Kode Aset
Gambar 2.13 Tabel referensi Informasi yang harus diisikan terdiri dari :
Kode aset (berdasarkan standarisasi kodifikasi aset pada inventarisasi jaringan irigasi)
Dummy : diisi Y (a) atau T (tidak). Dummy digunakan untuk asset bangunan yang secara kenyataan di lapangan tidak ada, kebutuhannya hanyalah sebatas untuk pembuatan skema irigasi.
Warna adalah warna pada simbol yang akan ditampilkan pada aset tersebut
Ukuran adalah ukuran pada simbol yang akan ditampilkan pada aset tersebut.
Indeks huruf digunakan untuk aset bangunan
2) Daerah Irigasi
Gambar 2.14 Pengisian Data Daerah irigasi
Digunakan untuk melakukan pemeliharaan data aset jaringan irigasi. Sebelum dilakukan pengisian data, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Kode dan Nama Daerah Irigasi harus dimasukkan. Klik tombol cetak untuk melakukan pencetakan
Gambar 2.15 Form Pengisian Data Daerah Irigasi
Untuk pengisian data ketersediaan air harus diisikan terlebih dahulu nama sumber airnya, dan selanjutnya klik tombol pada bagian kanan
Sehingga akan muncul tampilan sebagai berikut :
Gambar 2.16 Pengisian data ketersediaan Air
Isi tahun data dan data debit dalam 10 harian. Klik tombol cetak untuk mencetak laporan ketersediaan air.
Untuk mengganti kode daerah irigasi, klik tombol dan masukkan kode irigasi baru
Pengisian aset jaringan irigasi dimulai dengan pengisian skema irigasi.
Klik tombol untuk melakukan pengisian skema irigasi secara manual.
o Jika skema irigasi belum ada, maka akan muncul pertanyaan apakah skema irigasi akan dibuat.
o Skema irigasi terdiri dari dua file spasial yaitu bangunan dan saluran. Format dari file tersebut adalah shapefile dan disimpan di subdirektori pai_peta. Standarisasi penamaannya adalah B_XXXXXXXXXXXX dan B_XXXXXXXXXXXX. Dimana B=Bangunan, S=Saluran dan X=Kode Daerah Irigasi
o Topologi secara otomatis dilakukan oleh sistem aplikasi, yaitu dengan menambahkan kode bangunan hulu dan hilir pada saluran, dan menambahkan kode saluran pada bangunan pelengkap
o Pembuatan skema irigasi dimulai dengan urutan sebagai berikut :
Bangunan Pengambilan / Bangunan Irigasi
Bangunan Pertemuan, dengan terlebih dahulu memilih bangunan hulunya
Bangunan Pelengkap dengan mengklik pada saluran dimana bangunan pelengkap itu berada
o Saluran akan secara otomatis terbentuk
o Editing atribut dilakukan dengan mengklik bangunan atau saluran pada skema irigasi.
Pemeliharaan data aset jaringan irigasi dilakukan dengan menglik tombol
pada pemeliharaan data irigasi. Bagian ini hanya akan menjelaskan pembuatan skema irigasi dari awal dan tidak bergeoreferensi.
Gambar 2.17 Pembuatan Skema Irigasi
Tombol-tombol fungsi dalam pembuatan skema irigasi adalah sebagai berikut :
Gambar 2.18 Tombol-tombol Fungsi Pembuatan Skema Irigasi
Tombol Keterangan
Perbesar Untuk memperbesar tampilan skema irigasi (Zoom-in) Perkecil Untuk memperkecil tampilan skema irigasi (Zoom-out) Geser Untuk menggeser tampilan peta (Pan)
Editing Untuk melakukan editing data aset irigasi (bangunan/saluran) yang dipilih
In/Drain Untuk membuat bangunan pengambilan (pada saluran pembawa) atau bangunan drainase (pada bangunan drainase)
Tombol Fungsi
Area Skema Irigasi
Pertemuan Untuk membuat bangunan pembagi (pada saluran pembawa) atau bangunan pertemuan (pada saluran drainase)
Pilih Untuk menentukan bangunan hulu dari suatu saluran Pelengkap Untuk membuat bangunan pelengkap pada suatu saluran
Sisip Untuk menyisipkan bangunan pertemuan diantara dua bangunan pertemuan atau bangunan pertemuan dengan bangunan pengambilan/drainase
Pindah Untuk memindahkan lokasi dari aset bangunan Saluran Untuk melakukan modifikasi terhadap gambar saluran
Hapus Temu Untuk menghapus suatu bangunan pertemuan. Saluran akan dire-route ke bangunan hulu dan bangunan hilirnya
Hapus Bgn Untuk menghapus suatu bangunan dan bangunan-bangunan serta saluran-saluran dibawahnya
Cari Untuk mencari aset jaringan irigasi Penuh Untuk menampilkan keseluruhan peta
Cetak Untuk mencetak tampilan skema irigasi yang sedang aktif ke printer
Contoh pembuatan skema irigasi untuk saluran pembawa/drainase :
Gambar 2.19 Skema Irigasi Untuk Saluran Pembawa Bangunan
In/Drain
Bangunan Pertemuan
Bangunan Pelengkap
Editing Atribut
Aset
1. Klik pada tombol in/drain, kemudian klik pada area skema irigasi. Selanjutnya akan muncul tampilaan konfirmasi untuk memilih jenis bangunan (bangunan pengambilan atau bangunan drainase). Jenis bangunan pengambilan terdiri dari bendungan, bendung, Pompa Elektrik, Pompa Hidrolik dan Tanpa Bangunan.
Sedangkan jenis bangunan drainase adalah Tanpa Bangunan. Definisi tanpa Bangunan adalah bahwa tidak ada bangunan pada aset tersebut. Tanpa Bangunan diperlukan karena filosofi pengembangan PDSDA-PAI hanya menggambar titik posisi dari bangunan, sementara saluran akan otomatis terbentuk dari dua buah titik aset bangunan. Tampilan berikut akan muncul :
Gambar 2.20 Menu Bangunan Pengambilan
Sebagai contoh : isi nomenklatur dengan B01, rotasi simbol dengan 0 dan nama dengan 1. Catatan : rotasi simbol digunakan untuk merotasi bentuk simbol pada skema irigasi.
2. Untuk membuat bangunan pertemuan, maka harus diidentifikasi terlebih dahulu bangunan hulunya. Klik tombol pilih dan klik pada bangunan sehingga bangunan
Gambar 2.21 Menu Pembuatan Bangunan Pertemuan
3. Klik pada bangunan pertemuan dan klik lokasi bangunan pertemuan tersebut di area skema irigasi.
Gambar 2.22 Menu Pengisian Data Bangunan Pertemuan
Isi informasi mengenai bangunan pertemuan dan saluran yang akan terbentuk secara otomatis. Klik simpan jika sudah selesai.
Gambar 2.23 Hasil Pengisian Data Bangunan Pertemuan
Lakukan hal yang sama untuk beberapa bangunan pertemuan di saluran pembawa. Jika bangunan hulu akan dipindahkan, maka klik Pilih dan klik pada bangunan yang akan dijadikan sebagai bangunan hulu.
4. Untuk mengisi bangunan pelengkap, klik pada tombol pelengkap dan klik pada saluran di skema irigasi. Bangunan pelengkap adalah bangunan yang berada pada saluran irigasi, sehingga pada saat klik di skema irigasi, haruslah mengenai salurannya.
Gambar 2.24 Pengisian Data Bangunan Pelengkap
Pilih jenis bangunan pertemuan, nomenklatur, rotasi simbol dan nama bangunan
5. Klik Editing untuk melakukan editing data tabular aset bangunan atau aset sungai.
Pilih layer aktifnya (bangunan atau saluran).
Gambar 2.25 Editing Data Tabular
Klik pada skema irigasi sehingga akan muncul tampilan sebagai berikut :
Gambar 2.26 Menu Pengisian data Bangunan Pengambilan
Klik pada data bangunan untuk mengisi data tabular bangunan tersebut.
Gambar 2.27 Data Bendungan
Data Statis adalah data yang relatif tetap dan tidak berubah, sedangkan data dinamis adalah digunakan untuk mengukur kondisi dan kinerja dari aset.
Gambar 2.28 Menu Bagian Bangunan Skema Irigasi
Klik pada foto untuk memasukkan data foto aset pada tahun survey tersebut :
Klik cetak untuk membuat laporan mengenai data survey aset.
Gambar 2.30 Laporan Data Survey Aset
Lakukan hal yang sama untuk aset saluran dan bangunan yang lainnya. Tombol sisip digunakan untuk menyisipkan bangunan pertemuan diantara dua bangunan pertemuan atau bangunan pertemuan dengan bangunan pengambilan/drainase. Klik tombol sisip dan klik pada saluran sehingga akan muncul konfirmasi untuk menambahkan bangunan pertemuan
Gambar 2.31 menyisipkan bangunan pertemuan antara bangunan pertemuan dengan bangunan pengambilan
Jika diklik Yes maka akan terbentuk bangunan pertemuan baru.
Gambar 2.32 proses penyisipan bangunan petemuan dengan bangunan pengambilan.
Tombol pindah digunakan untuk memindahkan lokasi dari aset bangunan. Saluran akan secara otomatis mengikuti perpindahan dari aset bangunan tersebut.
Gambar 2.33 tombol pindah untuk memindahkan aset bangunan
Tombol saluran digunakan untuk memodifikasi gambar saluran dengan menggunakan vertex (ruas) dari saluran tersebut. Klik pada tombol saluran , maka akan muncul pilihan-pilihan sebagai berikut :
a. Pilih saluran, digunakan untuk memilih saluran yang akan dimodifikasi b. Geser vertex, digunakan untuk menggeser vertex dari saluran yang dipilih (a) c. Tambah vertex, digunakan untuk menambah vertex dari saluran yang dipilih
(a)
d. Hapus vertex, digunakan untuk menghapus vertex dari saluran yang dipilih (a)
Gambar 2.34 proses penggunaan tombol saluran
Tombol Hapus Temu, digunakan untuk menghapus suatu bangunan pertemuan.
Saluran akan dire-route ke bangunan hulu dan bangunan hilirnya.
Gambar 2.35 proses penghapusan suatu bangunan
Gambar 2.36 proses penghapusan suatu bangunan
Tombol Hapus Bgn digunakan untuk menghapus suatu bangunan dan bangunan- bangunan serta saluran-saluran dibawahnya. Untuk penghapusan apabila sudah dilakukan tidak bisa dibatalkan.
Tombol cari digunakan untuk mencari aset jaringan irigasi
Gambar 2.37 menu cari lokasi
Klik pada layer dan masukkan nama obyek yang akan dicari, selanjutnya klik cari obyek. Klik tombol cari lokasi di peta untuk menuju ke lokasi yang dimaksud.
Tombol Penuh digunakan untuk menampilkan keseluruhan skema irigasi. Tombol Cetak digunakan untuk mencetak tampilan skema irigasi yang sedang aktif ke printer default
Tombol digunakan untuk melakukan cleaning data peta. Cleaning dimaksudkan untuk menyesuaikan peta saluran dan bangunan irigasi yang sudah dimiliki ke standar yang bisa digunakan oleh aplikasi PDSDA_PAI. File peta yang akan dilakukan cleaning harus menggunakan format shapefile (.shp) dan terdiri dari dua layer yaitu layer bangunan dan layer saluran. Sumber dari file peta ini bisa dari hasil survai GPS, hasil dijitasi, atau peta-peta yang sudah dimiliki. Pada saat diklik tombol clean peta, maka akan muncul tampilan sebagai berikut :
Gambar 2.38 Menu Cleaning Peta
Isi shape file bangunan dan saluran, selanjutnya klik tombol cleaning, maka akan muncul tampilan sebagai berikut :
Gambar 2.39 Cleaning Skema Irigasi
Otomatis akan terbentuk dua buah shapefile di subdirektori pai_peta sebagai berikut:
o Layer bangunan menggunakan nomenklatur B_xxxxxxxxx (x=Kode DI)
o Layer saluran menggunakan nomenklatur S_xxxxxxxxx (x=Kode DI)
Untuk melakukan cleaning data layer bangunan, lakukan hal-hal sebagai berikut : o Klik pada tombol edit dan pilih layer aktif bangunan, dan klik
bangunan pada peta
Gambar 2.40 Cleaning Data Bangunan
o Isi jenis bangunan (harus dipilih) dan isian yang lainnya. Catatan : nomor record saluran hanya diisi jika bangunan tersebut adalah bangunan pelengkap, yaitu dengan melihat pada peta nomor record saluran dimana bangunan tersebut berada
Untuk melakukan cleaning data layer saluran, lakukan hal-hal sebagai berikut :
o Klik pada tombol edit dan pilih layer aktif saluran, dan klik saluran pada peta
o Isi jenis saluran (harus dipilih), nomor record bangunan hulu dan hilir (harus diisi), dan isian lainnya. Sebagai contoh : saluran
nomor 2, maka nomor record bangunan hulunya adalah 1, dan nomor record bangunan hilirnya adalah 2
Untuk penghapusan data, lakukan hal yang sama dengan pengeditan data.
Penambahan data bangunan pengambilan, bangunan pertemuan dan bangunan dilakukan dengan mengklik terlebih dahulu ikon-ikonnya. Catatan: Untuk penambahan bangunan pertemuan dan bangunan pelengkap harus diklik pada salurannya. Khusus untuk bangunan pertemuan, saluran otomatis akan displit menjadi dua saluran, yang menjadi saluran hilir dan saluran huludari bangunan pertemuan yang baru tersebut.
Lakukan cleaning untuk semua bangunan dan saluran. Jika sudah selesai, maka klik tombol posting. Jika masih terdapat obyek yang belum clean (baik bangunan atau saluran), maka akan ditampilkan obyek-obyek tersebut.
Gambar 2.41 Objek Belum Clean
Klik ganda pada baris yang akan dilakukan cleaning data dan peta akan secara otomatis menuju ke lokasi tersebut dan memberi tanda blink pada lokasi tersebut. Pilih edit bangunan atau edit saluran untuk melakukan cleaning data.
Jika sudah tidak ada lagi obyek yang belum clean, maka akan muncul konfirmasi
, jika diklik Yes, maka peta tersebut telah selesai diclean. Selanjutnya jika ingin melakukan pengisian data, gunakan edit skema.
Transfer data peta ke Google Map, dimaksudkan agar peta bisa diintegrasikan dengan
peta satelit yang diproduksi oleh google earth. Klik pada tombol , maka akan muncul tampilan sebagai berikut :
Gambar 2.42 Transfer Data peta Ke Google Earth
Isi nama file KML yang akan digunakan untuk menampung data peta dari jaringan irigasi. Selanjutnya klik tombol generate. Catatan: ekstensi dari file harus kml agar bisa dibaca oleh Google Earth.
2.8.3 Laporan
Menu laporan terdiri dari submenu daerah irigasi :
Gambar 2.43 Menu Laporan
Klik pada daerah irigasi sehingga akan muncul tampilan sebagai berikut :
Gambar 2.44 Laporan Daerah irigasi
Ada 2 jenis laporan daerah irigasi, yaitu : 1. Detail aset irigasi
Detail aset irigasi akan menghasilkan laporan keseluruhan aset irigasi yang ada di suatu daerah irigasi tertentu. Klik direktori output, untuk menyimpan file output dalam format xls.
Gambar 2.45 Laporan daerah Irigasi
Misalkan direktori output disimpan pada e:\PDSDA-PAI-output, maka di direktori tersebut akan secara otomatis terbentuk file dengan struktur sebagai berikut :
Gambar 2.46 Data Ouput PDSDA-PAI
Kode dan nama daerah irigasi Kelompok aset Nama Aset Tahun survey aset.
Klik pada salah satu file maka akan muncul inventarisasi aset irigasi pada tahun survey tersebut.
2. Summary aset irigasi.
Digunakan untuk menampilkan summary aset dari suatu daerah irigasi.
Gambar 2.47 Summary Aset Irigasi 2.8.4 Supervisor
Gambar 2.48 Menu Supervisor
Pemeliharaan Pengguna, digunakan untuk melakukan pemeliharaan data pengguna.
Ada dua jenis level pengguna, yaitu supervisor dan operator. Hanya pengguna dengan level supervisorlah yang bisa menjalankan menu supervisor, sementara pengguna dengan level operator berhak untuk melakukan pemeliharaan data.
Gambar 2.49 Pemeliharaan Pengguna
Upgrade Database, digunakan mengupgrade database PDSDA-PAI yang lama jika ada perubahan versi dari sistem aplikasi PDSDA-PAI.
2.8.5 Peta
Klik pada menu peta sehingga akan muncul tampilan sebagai berikut :
Gambar 2.50 Menu Peta
Area toolbar Area Indeks
Peta
Area Legenda
Area Peta
Area pada peta dibagi atas :
1. Area toolbar, adalah area yang berisi tombol-tombol yang akan difungsikan untuk menjalankan aplikasi peta.
Gambar 2.51 Area Toolbar
Fungsi dari tombol-tombol tersebut adalah sebagai berikut :
Proyek baru, digunakan untuk membuat proyek baru. Definisi proyek adalah kumpulan dari file peta, atribut, kustomisasi legenda, dan lain-lain.
Proyeksamadengan Project (di ArcView) dan workspace (di MapInfo)
Bukaproyek, digunakanuntukmembukaproyek yang telahada (disimpan)
Simpanproyek, digunakanuntukmenyimpanproyek
Simpan sebagai proyek baru, digunakan untuk menyimpan proyek dengan nama baru
Simpanke file citra, digunakanuntukmenyimpantampilanpetake file citra Cetak Peta
Cari Lokasi Tampilan Utuh Properti Informasi Geser Perkecil Perbesar
Simpan ke file citra
Simpan sebagai proyek baru Simpan Proyek
Buka Proyek Proyek Baru
Perkecil, digunakan untuk memperkecil tampilan peta (Zoom-out)
Geser, digunakan untuk menggeser tampilan peta (Pan)
Informasi, digunakan untuk mendapatkan informasi dari layer yang aktif
Properti, digunakan untuk mengatur tampilan dan fitur-fitur peta
Tampilan utuh, digunakan untuk menampilkan keseluruhan peta
Cari lokasi, digunakan untuk melakukan pencarian lokasi
Cetak peta, digunakan untuk melakukan pencetakan peta
2. Area indeks peta, adalah area yang digunakan untuk menampilkan indeks peta.
3. Area legenda, adalah area yang digunakan untuk menampilkan legenda peta.
4. Area peta, adalah area yang digunakan untuk menampilkan peta.
Pada saat awal akan muncul tampilan peta kosong. Jika anda sudah pernah membuat suatu proyek, maka proyek tersebut bisa dipanggil dengan mengklik tombol (buka peta) pada area toolbar. Selanjutnya bisa dilakukan proses-proses dibawah ini.
Catatan : proses-proses ini bukan merupatan urutan sekuensial.
1. Klik tombol (properti), untuk masuk ke properti peta sehingga akan muncul tampilan sebagai berikut
Gambar 2.52 Properti Peta
Klik tutup untuk menutup properti peta
Properti peta terdiri dari : Scrollbar (untuk menampilkan moda gulung), 3D (3 Dimensi), dan background (untuk mengganti background) dari area peta
Layer adalah daftar layer yang akan ditampilkan. Gunakan tombol-tombol sebagai berikut :
Tombol Fungsi
Menaikkan urutan dari layer yang dipilih
Menurunkan urutan dari layer yang dipilih Menambah layer
Mengedit layer
Menghapus layer
Gambar 2.53 Daftar Layer
Klik pada tab peta indeks, maka akan muncul tampilan sebagai berikut
Seperti pada tab peta utama, maka properti peta terdiri dari : Scrollbar (untuk menampilkan moda gulung), 3D (3 Dimensi), dan background (untuk mengganti background) dari area peta indeks. Klik pada propereti layer untuk menampilkan peta indeks yang akan ditampilkan. Catatan : peta indeks yang biasanya digunakan adalah lokasi administrasi (kabupaten, propinsi atau indonesia).
Pada saat diklik tombol penambahan layer , pengeditan layer pada peta utama atau properti layer pada peta indeks, maka akan muncul tampilan sebagai berikut
Gambar 2.55 Property Layer
Pilih nama file peta (layer) yang akan ditampilkan. Isian yang bisa dikustomisasi o Legenda, yaitu tampilan teks yang akan ditampilkan di legenda o Warna obyek (bisa diklik pada warna)
o Tampilkan label, adalah untuk menampilkan label pada peta dan field peta adalah label yang akan ditampilkan
o Huruf, ukuran huruf dan warna huruf dari legenda
o Tinggi label pada peta, derajat rotasi, skala zoom, posisi horisontal, dan posisi vertikal (pada saat awal, gunakan defaultnya)
o Selanjutnya klik tombol apply, jika kustomisasi sudah selesai dilakukan
o Jika akan diedit, maka klik ganda pada nama layernya atau gunakan tombol edit
Gambar 2.56 File Peta
Klik Kriteria Tema pada property layer untuk membuat peta tema
sehingga akan muncul tampilan sebagai berikut :
Gambar 2.58 Menu Tema
Klik (buat tema)
Gambar 2.59 Kriteria Tema
Pilih pada field yang akan dibuatkan tema dan klik ganda pada field tersebut, selanjutnya klik tombol Apply. Untuk mengganti property tema, sorot kriteria tema
yang akan diganti propertinya kemudian diklik ganda atau klik tombol (ganti properti tema), maka akan muncul tampilan
Gambar 2.60 Tampilan Kriteria Tema
Ganti warna dan label sesuai kriteria tema yang ditetapkan, selanjutnya klik apply, sehingga akan muncul tampilan peta tematik sebagai berikut
Gambar 2.61 Tampilan Peta Tematik Untuk menyimpan perubahan klik simpan proyek.
1. Untuk memperbesar tampilan skala peta, maka klik tombol (perbesar).
Pada saat perbesaran atau perkecilan skala peta, maka peta indeks pada pojok kiri atas memberi tanda lokasi daerah pada area peta tersebut dengan warna kotak merah.
2. Untuk memperkecil tampilan skala peta, maka klik tombol (perkecil) dan
3. Untuk menggeser tampilan peta, maka klik tombol (geser), dan drag pada area peta. Menggeser peta bisa pula dilakukan dengan menggeser kotak warna merah pada indeks peta
4. Untuk mengetahui informasi dari obyek peta, maka klik tombol (informasi), dan klik pada area peta. Catatan : Informasi yang ditampilkan sesuai dengan layer aktifnya. Jika layer aktifnya adalah irigasi, maka yang akan ditampilkan adalah data irigasi.
5. Tombol (tampilan utuh) digunakan untuk menampilkan keseluruhan tampilan peta
6. Klik tombol (cari), untuk mencari lokasi pada peta.
Gambar 2.62 Pencarian Lokasi Pada Peta
Pilih layer dan isi nama obyeknya, jika nama obyek ditemukan, klik ganda pada obyek atau klik cari lokasi peta, maka tampilan akan menuju ke lokasi obyek dan obyek tersebut dikedip-kedipkan.
7. Untuk menceta kpeta, klik tombol (cetak peta), sehingga akan muncul tampilan sebagai berikut
Gambar 2.63 Kriteria Pencetakan Peta Isi judul 1 dan judul 2, dan klik tombol cetak
Gambar 2.64Peta Sumber Daya Air
Catatan :
Agar peta bangunan dan saluran terhubung dengan database PDSDA-PAI, maka lakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Layer bangunan harus dirubah nama layernya menjadi Bangunan Irigasi
Gambar 2.65 Layer Bangunan Irigasi
2. Layer saluran harus dirubah nama layernya menjadi Saluran Irigasi
Gambar 2.66 Layer Saluran Irigasi
2.8.6 Skin
Gambar 2.67 Menu Skin
Terdiri dari dua submenu, yaitu :
Tanpa Skin / Dengan Skin, yaitu pilihan untuk menggunakan skin atau tidak.
Ganti skin, yaitu untuk mengganti skin yang aktif.
2.8.7 Windows
Menu windows terdiri dari dua submenu, yaitu :
Tile, yaitu posisi ubin untuk child windows
Cascade, yaitu posisi bertumpuk untuk child windows
2.8.8 Panduan
Menu yang terdiri dari dua submenu, yaitu :
Tentang, yaitu berisi informasi mengenai PDSDA-PAI.
Panduan, yaitu menampilkan panduan penggunaan PDSDA-PAI.