29 BAB III
UPACARA PERKAWINAN ADAT SUNDA
A. Sejarah Upacara Perkawinan Adat Sunda
Awal munculnya upacara adat perkawinan di Jawa Barat tidak jelas. Dalam buku Pelajaran Tata Rias Pengantin Sunda Putri dan Sunda Siger yang di tulis oleh Rukmini Tri Rohani, menjelaskan bahwa upacara adat perkawinan muncul bersamaan dengan adanya kerajaan Sunda, yaitu dengan adanya perkawinan antara para bangsawan atau raja-raja tatar Sunda, karena sampai sekarangpun bagaimana primitifnya suku bangsa selalu memiliki upacara adat. Kemungkinan lain adalah adanya pengaruh Jawa yang masuk ke Jawa Barat, dengan terjadinya perkawinan antara keturunan kerajaan Jawa dengan kerajaan Sunda. Di samping adanya pengaruh dari kerajaan-kerajaan Jawa, juga adanya pengaruh dari luar seperti Cina, sebagaimana terlihat dari tata busana pakaian pengantin di berbagai daerah di Jawa Barat.43
Pada waktu sebelum Islam masuk Jawa Barat, masyarakat masih menganut kepercayaan animisme yang ditandai dengan pemujaan terhadap arwah leluhur.
Hal ini timbul karena mereka masih percaya bahwa arwah leluhur selalu ada di sekitar mereka, walaupun alamnya berbeda. Kepercayaan terhadap arwah leluhur ini merupakan kepercayaan orang Sunda ketika masa pra sejarah. Hal tersebut merupakan efek dari pola pikir masyarakat Sunda yang meyakini bahwa manusia pada hakikatnya, tidak hidup sendiri di dunia ini, melainkan ditemani oleh arwah
43 Rukmini Tri Rohani, Pelajaran Tata Rias Pengantin Sunda Putri dan Sunda Siger, Bandung; Mitra Buana, 1989, hal. 18
30
nenek moyang. Dengan demikian, arwah nenek moyang dianggap sebagai roh kebaikan yang akan membuat kehidupan manusia menjadi lebih bahagia. Oleh karena itu, pada setiap tahapan upacara adat, masyarakat Sunda biasanya menggunakan simbol sebagai media atau lambang.44
Pengaruh lainnya, masuk dari agama Hindu, pengaruhnya baru tampak pada pertengahan abad ke-5, yang untuk pertama kalinya menyentuh lapisan atas dan sebagian kecil dari masyarakat Sunda pada saat itu telah memeluk agama Hindu, sedangkan sebagian besar masyarakat Sunda masih memuja arwah leluhur.
Kebudayaan Hindu hanya dikenal di kalangan Istana, karena masyarakat Sunda lebih cenderung memilih kepercayaan yang telah mereka anut, karena dalam menyembah kepercayaan kepada arwah leluhur tidak memerlukan bangunan dan waktu menyembahnya juga sebentar. Oleh karena itu, upacara adat tradisional Sunda saat itu banyak terdapat unsur-unsur yang bukan dari agama Islam, melainkan dari zaman sebelumnya.45
Upacara adat adalah suatu upacara yang dilakukan secara turun-temurun yang berlaku di suatu daerah. Berbagai macam tata upacara adat yang berlaku di berbagai daerah adalah tatanan nilai-nilai luhur yang telah dibentuk oleh para sesepuh dan diturunkan dari generasi ke generasi. Karena itu upacara adat perkawinan merupakan serangkaian kegiatan tradisional turun temurun, yang mana hal ini sesuai dalam tembang sawer:
Seni Sunda pikeun silih nuduhkeun jalan nu luhur Seni urun-tumurun Turunan ti karuhun
44 Wawancara dengan Ki Nana Kusmayana, Seniman Ciamis, 15 Februari 2015, Pukul 17.00
45 Rukmini Tri Rohani, Op. Cit, hal. 19
31 Seni Sunda seni asli turunan ti nini aki Warisan Sunda ti karuhun urang…46
Menurut Ki Nana, upacara perkawinan adat Sunda di Jawa Barat pada awalnya diajarkan oleh Mang Koko yang berasal dari Bandung. Namun tidak ada yang tahu bagaimana asal usul upacara perkawinan adat Sunda. Mang Koko, nama aslinya Haji Koko Koswara, lahir di Indihyang, Tasikmalaya, 10 April 1917 dan wafat 04 Oktober 1985. Beliau adalah seorang Guru, santri, sastrawan, pencipta lagu, penulis, jurnalis, pembaharu karawitan Sunda, dan patut menjadi suri teladan bagi praktisi seni di zaman sekarang. Mang Koko telah sukses mencipta kawih untuk anak-anak sampai tingkat dewasa, karya-karyanya berupa kawih, tembang, pupuh, dan lain-lain.47
Upacara adat perkawinan hanyalah sebuah budaya atau acara ceremony, yang jika tidak dilakukan tidak ada pengaruh atau akibat buruk bagi pengantin, karena dalam perkawinan yang wajib dilakukan hanyalah akad nikah untuk menghalalkan sebuah ikatan, namun yang namanya budaya tentu harus dilestarikan.48 Upacara perkawinan dilakukan tergantung pada pemimpin upacara yang membawakan, hal ini menjelaskan bahwa peran manusia sangat penting dalam perkembangan kebudayaan. Dalam hal ini, manusia yang memegang kendali atas kehidupan dan perkembangan kebudayaan. Seperti penjelasan Geertz bahwa kebudayaan tidak lebih ditambahkan oleh manusia. Tradisi-tradisi sebagai
46 Wawancara dengan Bu Jojoh, Juru sawer di Desa Cipicung, 19 Mei 2014 pukul 11.00 WIB di rumahnya
47 Di akses dari http//abidin76.blogspot.com/2012/04/h-koko-koswara- sang-maestro-tatar-sunda-html?m=1, pada Selasa, 17 Februari 2015, Pukul 17.00
48 Wawancara dengan Ki Nana Kusmayana, Seniman Ciamis, 15 Februari 2015, Pukul 17.00
32
bagian dari kebudayaan, juga kurang lebih ditambahkan oleh manusia itu sendiri, mereka berhak untuk mengubah ataupun menerimanya
B. Pengertian Perkawinan
Perkawinan adalah sebuah momen bersatunya sepasang kekasih dalam ikatan suami istri yang disahkan dihadapan Tuhan dan diakui oleh negara.
Perkawinan merupakan suatu peristiwa yang sangat sakral dan dinantikan setiap pasangan, sakral menurut Eliade yaitu memanifestasikan diri sebagai sebuah realitas yang secara keseluruhan berbeda tingkatannya dengan realitas-realitas
“alami”.49 Sakral sendiri bagi masyarakat Sunda yaitu sebagai sarana manusia berhubungan dengan Illahi. Oleh karena itu tidak sedikit pasangan yang melakukan persiapan perkawinan jauh hari sebelumnya, dan yang paling penting dilakukan oleh pasangan menjelang perkawinan adalah mendekatkan diri kepada Tuhan dan memohon restu-Nya agar perkawinan yang dilangsungkan sukses, lancar, dan bahagia lahir batin selamanya.
Perkawinan bukan semata-mata untuk memuaskan nafsu, melainkan meraih ketenangan, ketentraman dan sikap saling mengayomi di antara suami istri dengan dilandasi cinta dan kasih sayang yang mendalam.50 Karena dengan cinta dan kasih sayang tidak hanya memungkinkan pasangan tersebut membentuk kehidupan keluarga yang damai dan bahagia, tetapi juga memberi kekuatan yang dibutuhkan untuk mengutamakan nilai-nilai kebudayaan yang lebih tinggi. Hal ini tersurat dan tersirat di dalam tata upacara perkawinan. Semua kegiatan termasuk segala
49 Daniel L. Pals, Dekonstruksi Kebenara; Kritik tujuh Teori Agama, Yogyakarta:
IRCiSoD, 2001, hal. 270
50 Mohammad Asnawi, Nikah Dalam Perbincangan Dan Perdebatan, Yogyakarta:
Darussalam, 2004, hal. 20
33
perlengkapan upacara adat merupakan lambang yang mempunyai makna dan pengharapan tertentu, yang bertujuan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar semua permohonan dapat dikabulkan.
Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan kemasyarakatan, banyak orang lalai dan tidak mengindahkan tradisi, sehingga kini orang kurang memahami hal ihwal upacara adat. Mereka yang memahaminya sangat terbatas, sehingga dikhawatirkan upacara adat yang mempunyai nilai luhur ini, secara berangsur akan tergeser oleh nilai dari luar yang tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia.51 Salah satu contoh adalah upacara perkawinan adat Sunda, yang sebagian orang hampir melupakannya, karena nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya hanya diketahui oleh pemangku adat ataupun orang yang bergerak di bidang event organizer perkawinan.
Menjelang perkawinan dan sesudah akad nikah, upacara lebih condong kepada unsur kepercayaan yang diungkapkan dalam bentuk arti kiasan dan lambang peristiwa. Sedangkan dalam tata upacara akad nikah dilaksanakan sesuai dengan hukum dan peraturan agama yang dianut secara penuh. Dengan demikian tata upacara perkawinan adat Sunda merupakan perpaduan dari unsur sifat, karakteristik, kepercayaan dan agama, yang kesemuanya saling menopang satu sama lain. Dari rangkaian peristiwa atau momen ini, upacara perkawinan mempunyai makna tersendiri, yang mengarah kepada keselamatan dan kebahagiaan pengantin di kemudian hari. Namun dalam upacara perkawinan ada hal-hal yang masih tetap dipertahankan, ada pula yang sudah mulai tidak
51 Thomas Wiyasa Bratawidjaja, Upacara Perkawinan Adat Sunda, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, hal. 9
34
dipergunakan atau dikurangi intensitasnya.52 Hal ini dikarenakan "sang pengantin"
tidak mau bertele-tele dan ingin lebih sederhana.
Setiap etnik tertentu memiliki prosesi upacara perkawinan yang berbeda, yang dilihat dari segi pakaian, tata rias, aksesoris dan tata cara pelaksanaan perkawinan dari setiap daerah. Salah satu diantaranya yaitu prosesi perkawinan adat Sunda di daerah Jawa barat kabupaten Kuningan Desa Cipicung, yang mana prosesi perkawinan tersebut dilakukan dalam beberapa tahap yaitu mapag panganten, seserahan, akad nikah, sungkeman, sawer panganten, nincak endog, buka pintu dan huap lingkung. Keseluruhan upacara tersebut merupakan adat- istiadat turun-temurun yang mempunyai nilai-nilai luhur yang telah dibentuk oleh para sesepuh dan diturunkan dari generasi ke generasi.
C. Prosesi Upacara Perkawinan Adat Sunda a. Upacara Mapag Panganten
Upacara mapag panganten adalah upacara adat pada pelaksanaan perkawinan, dimana pada upacara ini merupakan sebuah upacara yang unik karena adanya tokoh Ki Lengser yang bertugas untuk memimpin jalannya upacara. Upacara mapag panganten dilakukan sebelum pengantin pria tiba dan sebelum ijab qabul. Sebelum di mulai, para nayaga (pemain gamelan) degung melantunkan tembang-tembang sambil menunggu persiapan upacaranya selesai, ketika upacaranya sudah siap yakni ditandai dengan telah tibanya sang mempelai pria, maka para nayaga akan melantunkan tembang
52 Wawancara dengan Bapak H. Ukari, Tokoh masyarakat Desa Cipicung, 10 agustus 2014 pukul 10.00 WIB di kediamannya.
35
penyambutan dan memulai upacara dengan gending-gending saat upacara berlangsung,
Upacara Mapag panganten adalah salah satu ritual yang menjadi bagian dari seluruh rangkaian upacara adat perkawinan dalam masyarakat Sunda.
Secara etimologi, kata mapag dalam bahasa Sunda berarti menjemput atau menyambut. Maka mapag panganten adalah acara menyambut kedatangan pengantin dan keluarganya.53 Dalam hal ini yang disambut adalah pihak pengantin pria karena pada umumnya upacara perkawinan masyarakat Sunda dilaksanakan di kediaman keluarga pengantin wanita. Upacara mapag panganten dilakukan sebagai adat sopan santun atau tatakrama yang telah menjadi kebiasaan umum, yaitu adanya saling menghargai.
Upacara mapag panganten dimulai ketika pengantin laki-laki serta rombongan telah datang ke tempat upacara. Pengantin laki-laki didampingi orang tua dan kerabat dekatnya datang beriringan. Rombongan harus menunggu kesiapan pihak keluarga pengantin perempuan yang akan mapag (menyambut).
Setelah semuanya siap, Ki Lengser54(penetua adat) yang bertindak sebagai pemimpin upacara memberi tanda kepada para panayagan55(pemain musik), pager ayu (penari), punggawa (prajurit penjaga), dan pihak keluarga pengantin perempuan yang akan menyambut kedatangan pengantin laki-laki,
53 Wawancara dengan Bu Jojoh, Juru sawer di Desa Cipicung, 19 Mei 2014 pukul 11.00 WIB di rumahnya
54Ki Lengser merupakan jelmaan Ki Semar, seorang tokoh pawayangan yang mengabdikan hidupnya untuk melayani umat manusia. Lihat Kamus Bahasa Sunda, Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda, Bandung; Tarate, 1985, hal. 276
55Panayagan adalah bentuk jamak dari nayaga (pemain gamelan, Ind.)
36
bahwa upacara akan segera dilaksanakan. Repertoar gending bubuka menandai dimulainya upacara. Kemudian Ki Lengser mempersilahkan para punggawa untuk mengawal pengantin laki-laki beserta rombongan. Setelah terjadi percakapan antara Ki Lengser dengan ketua rombongan, para pager ayu (penari) yang terdiri dari enam orang kemudian menyambut kedatangan rombongan dengan tarian dan tabur bunga.
b. Upacara Seserahan
Setibanya calon pengantin pria beserta rombongan di rumah calon pengantin wanita, maka diadakan penyambutan dengan pengalungan bunga yang terbuat dari bunga melati kepada calon pengantin pria yang dilakukan oleh ibu calon pengantin wanita, yang melambangkan bahwa pihak wanita menyambut kedatangan calon pengantin pria dengan hati suci bersih dan tangan terbuka. Dalam upacara ini, orang tua calon pengantin pria menyerahkan putranya kepada orang tua calon pengantin wanita sambil membawa barang-barang keperluan pengantin wanita, yaitu pakaian wanita mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki yang merupakan simbolisasi dari pihak pria sebagai bentuk tanggung jawab kepada pihak keluarga wanita.
Upacara seserahan ini dilaksanakan dengan susunan acara sebagai berikut:56
1. Pembukaan dengan ucapan selamat datang kepada para tamu, bersyukur kepada Tuhan serta permohonan maaf jika ada kekurangan dalam penyelenggaraannya.
56 Wawancara dengan Bapak Madhusen, Sesepuh Desa Cipicung, 25 Juli 2014, Pukul.
10.00, di Acara perkawinan
37
2. Sambutan dari pihak tuan rumah yang dibawakan oleh ayah calon pengantin wanita atau wakil yang dipercayakannya, dan isi sambutanya berupa pertanyaan tentang maksud kedatangan rombongan.
3. Sambutan dari pihak tamu, yang dibawakan oleh ayah calon pengantin pria atau wakil yang dipercayakan, dan mengemukakan tentang pemenuhan janji yang telah diucapkan pada waktu melamar dengan maksud hendak menyerahkan putranya serta sekedar memberi bingkisan.
4. Sambutan dari pihak tuan rumah kembali, yang mengemukakan rasa gembira menerima pemberian yang sangat berharga dari pihak tamu sambil mengucapkan syukur kepada Tuhan.
5. Penyerahan atau serah terima secara smbolik calon pengantin pria dan semua barang bingkisan.
6. Penutup dengan berdoa, biasanya dibawakan oleh kiai atau ajengan.
Ada sebuah pribahasa Sunda “ngaleut ngeungkeuy ngabandaleut ngemat- ngemat nyatang pinang”, yang artinya beriring-iringan melewati lembah dan bukit.57 Namun dengan berkembangnya zaman, pribahasa itu mungkin kurang mengena karena dulunya seserahan dilakukan dengan jalan kaki, tapi sekarang memakai kendaraan bermotor, mobil, dan jalan-jalan beraspal sudah merata ke pelosok Desa.
57 Obrolan dengan Ibu Jojoh, Juru Sawer di Desa Cipicung, 20 Juni 2014 pukul 10.00 WIB di rumahnya
38 c. Akad Nikah
Dengan didampingi oleh calon mertuanya, pengantin pria dibawa masuk ke ruangan akad nikah dan dipersilakan duduk di kursi yang telah disiapkan.
Selanjutnya pembawa acara mempersilakan kedua orang tua calon pengantin, saksi, petugas dari Kantor Urusan Agama (KUA), serta beberapa orang tua dari kedua belah pihak untuk duduk di tempat yang telah disediakan.
Pengantin wanita dipersilakan duduk di samping calon suaminya yang selanjutnya segera dilanjutkan upacara Akad Nikah. Sebelum ijab (akad nikah) di mulai, kedua calon pengantin dikerudungi tudung panjang yang berwarna putih, ini melambangkan penyatuan dua insan yang masih murni, lahir maupun batin. Setelah akad nikah selesai, kedua pengantin dipersilakan berdiri untuk serah terima mas kawin dan menerima buku nikah masing- masing.
Menurut sesepuh, mas kawin hanya sebagai lambang saja bukan sebagai pembeli suka atau tanda cinta. Mas ialah sebuah logam mulia yang warnanya kekuning-kuningan dan benda berharga dari benda-benda lainnya. Kawin artinya kawan atau teman setia. Mas kawin bagi masyarakat Sunda tidak terlalu diutamakan, hal ini tergantung kemampuan calon pengantin pria dan biasanya telah dirundingkan pada waktu melamar atau pada waktu seserahan.
Mas kawin tersebut dapat berupa uang, barang seperti emas, alat-alat sembahyang atau Kitab Suci, dan lain-lain.58 Dengan demikian upacara akad
58 Obrolan dengan Bapak K. Didin, Tokoh Agama di Desa Cipicung, 22 Mei 2014 pukul 15.00 WIB di acara Perkawinan
39
nikah selesai, ditutup dengan doa dan ucapan terima kasih kepada penghulu dan para saksi.
Dalam peraturan agama, perkawinan dianggap sah apabila pada waktu akad nikah dihadiri oleh; kedua calon pengantin, wali (bapak dari kedua calon pengantin atau wakil yang ditunjuk olehnya), saksi (sedikitnya dua orang), petugas khusus dari urusan keagamaan yaitu penghulu.
d. Upacara Sawer Panganten
Upacara sawer adalah upacara memberi nasihat-nasihat perkawinan kepada pengantin, dan dilakukan di panyaweran yang tempatnya antara halaman dan rumah, tempat jatuhnya air dari atap. Karena sawer berasal dari kata awer yang artinya air jatuh menciprat.59 Pada pelaksanaannya, kedua pengantin didudukkan di kursi yang telah disediakan, wanita di sebelah kiri dan pria di sebelah kanan. Keduanya dipayungi dan didampingi oleh sanak saudara. Setelah itu dimulailah upacara nyawer yang dilakukan oleh wakil orang tua pengantin wanita, dengan menyanyikan tembang sawer yang isinya petuah-petuah dan doa-doa, diselingi dengan menaburkan beras putih, Kunyit yang dilarutkan ke dalam air, kemudian dipakai mengaduk beras putih sehingga beras tersebut menjadi kuning, uang logam, payung, permen, sirih yang digulung dengan bentuk cerutu berisi gambir, kapur sirih, pinang, dan tembakau, yang kesemuanya dicampur dalam satu wadah. Penaburan bahan sawer tersebut, melambangkan bahwa kedua pengantin tidak boleh segan-
59 Wawancara dengan Pak H. Ukari, Tokoh Masyarakat di Desa Cipicung, 10 Agustus 2014 pukul 10.15 WIB di rumahnya
40
segan memberikan bantuan/harta kekayaan kepada sanak saudara dan orang lain.
Upacara adat perkawinan Sunda tidak lepas dari fungsi komunikasi, yakni komunikasi langsung yang berupa verbal dengan menggunakan kata-kata seni yang dinyanyikan atau dalam bahasa Sundanya “digalindengkeun”,
“dikawihkeun”, supaya harmonis, tidak bosan dan cukup berkesan. Selain itu, ada juga komunikasi tidak langsung yang berupa non verbal dengan menggunakan simbol atau siloka, misalnya pada bahan-bahan perlengkapan yang digunakan dalam upacara sawer; beras, kunyit, permen, sirih, payung, dan uang logam, yang kesemuanya mengandung makna tertentu bagi kehidupan pengantin.
e. Upacara Sungkem
Upacara sungkem yaitu upacara permohonan maaf kepada orang tua sebagai tanda bakti dan rasa terima kasih atas bimbingan dari lahir sampai ke perkawinan. Selain itu kedua pengantin mohon doa restu dalam membangun kehidupan rumah tangga yang baru, agar selalu mendapatkan berkah dan rahmat Tuhan.60
Pelaksanaan upacara sungkem, diawali dengan pengantin pria dan wanita melakukan sembah sungkem kepada orang tua masing-masing. Pengantin secara bergantian melakukan sungkeman kepada ayah dan ibu dari pengantin perempuan, kemudian kedua pengantin melakukan sungkeman kepada kedua orang tua pengantin pria. Kepada siapa pertama kali sungkem, ada yang
60 Obrolan dengan Ibu Tuti, Penata Rias Pengantin di Desa Cipicung, 22 Mei 2014 pukul 15.00 WIB di rumahnya.
41
berpendapat kepada ibu dulu, karena beliau yang melahirkan kita, dan ada juga yang berpendapat kepada ayah, karena beliau adalah kepala keluarga.
Namun hal itu terserah pihak keluarga atau pengantin yang menentukan.
Saat melakukan sungkeman, baik dengan orang tua pengantin wanita atau orang tua pengantin pria, kedua pengantin duduk jongkok dan menundukkan kepalanya, kedua orang tua mengulurkan tangan kanannya untuk dijabat dan dicium, sedangkan tangan kiri orang tua mengelus kepada kedua pengantin.
Upacara sungkem biasanya dipandu oleh juru rias, yang dalam pelaksanaanya juru rias menembangkan pupuh61 sebagai berikut:
Permios catur miwulang Nerapkeun catur pamilih Nyai Eulis anak ama Elingkeun ieu pepeling Nyai geus titis tulis Ngan nepi ka ieu waktu Dina tanggungan ama Lantaran geus aya deui
Anu wajib gaganti indung jeung bapak Permana caroge tea
Nu baris ngaping ngajaring Pupujaan dunya akherat
61 Pupuh adalah Sekar berirama bebas tapi dalam syair lagunya terikat oleh ketentuan yang telah baku, yang meliputi guru lagu dan guru wilangan. Lihat kamus Sunda-Indonesia, Elis Suryani, Ragam Pesona Budaya Sunda, Bogor; Ghalia Indonesia, hal. 287
42 Peupeujeuh Nyai anaking
Sing bisa titip diri Ulun kumawula tuhu Ama ngadoa-doa Muga-muga diri Nyai
Jeung Ngkangna manjing Dina kasenangan
Permisi akan menasehati
Menyampaikan kata-kata pilihan Nyai Eulis anak bapak
Ingatkan nasehat ini Nyai telah ditakdirkan Hanya sampai saat ini Jadi tanggungan ayah Karena sudah ada lagi
Yang wajib jadi pengganti ibu dan ayah Ketentuan suami adalah
Yang akan menjaga-jaga Pujaan dunia akhirat
Ingatkan benar-benar anakku Harus dapat menitipkan diri Mengabdi dengan setia Ayah mendoakan
43 Moga-moga diri Nyai
Bersama suamimu mendapat kesenangan..62
Upacara sungkem selalu diidentikan dengan prosesi yang paling mengharukan. Pengantin perempuan dan orang tua pengantin biasanya selalu menangis saat upacara ini, karena merupakan proses dimana pengantin meminta maaf dan izin kepada orang tua, dan orang tua telah berhasil menuntaskan putra putrinya menuju kemandirian membentuk keluarga. Bagi sang mempelai upacara sungkem merupakan peristiwa yang dinantikan untuk memohon doa restu orang tua.63
f. Upacara Nincak Endog (Injak telur)
Upacara injak telur adalah upacara yang melambangkan cara berkomunikasi atau pergaulan antara suami istri dalam kehidupan sehari-hari.
Upacara injak telur ini dilakukan Setelah upacara sawer selesai, kedua mempelai dipersilakan berdiri untuk melakukan upacara nincak endog, pengantin pria berdiri di bawah tangga dan pengantin wanita berdiri di anak tangga yang lebih tinggi sambil membawa kendi dan saling berhadapan muka.64 Upacara terus dipimpin oleh juru rias yang menjelaskan maksud dan arti upacara yang akan dilangsungkan itu.
Bahan-bahan yang digunakan dalam upacara nincak endog mengandung arti sebagai lambang dan nasihat untuk keselamatan kedua mempelai. Bahan- bahan tersebut terdiri dari:
62 Thomas Wiyasa Bratawidjaja, Op. Cit, hal. 104
63 Wawancara dengan Ibu Tinah, warga Desa Cipicung, 22 Mei 2014, Pukul 13.00 WIB, di acara perkawinan
64 Obrolan dengan Ibu Tuti, Penata Rias Pengantin, 04 Agustus 2014, Pukul 09.15 WIB di rumahnya.
44
Sagar; yaitu lidi (harupat) tujuh tangkai. Lidi mempunyai sifat keras, tidak
mudah patah atau getas. Suatu nasihat agar kedua mempelai jangan mudah marah sebab akan mengakibatkan hidup tak tentram atau harmonis.
Telur ayam sebutir melambangkan suatu itikad atau kemauan bulat untuk
bertindak sebagai manusia yang bertanggung jawab dan pasrahnya seorang istri untuk mengikuti bimbingan suaminya, pergaulan suami istri, menghasilkan bibit keturunan berupa lendir yang menyerupai isi telur ayam, manusia lahir dari bahan yang sama, oleh karena itu tidak ada alasan untuk angkuh, sombong, dan merasa lebih dari yang lain.
Ajug (pelita) bersumbu tujuh buah, tetapi sekarang sering dipergunakan
lilin, melambangkan sebagai penerang bagi kedua mempelai dalam menjalankan rumah tangga, agar keduanya saling asah, asuh, dan asih.
Elekan yaitu potongan bambu yang diambil tidak dengan ruasnya, sesuatu
yang kosong. Hal ini sebagai petunjuk bahwa kedua mempelai harus berilmu, jangan sampai kosong seperti elekan tersebut.
Kendi kecil berisi air bening, melambangkan alat pembersih dan sebagai
pendingin atau penenteram suasana dikala hati sedang gundah.
Dalam menjelaskan makna dan arti benda-benda tersebut juru rias biasanya sangat lincah menguraikan sambil melucu, sehingga upacara menjadi meriah, terutama hal yang menyinggung masalah yang biasa dilakukan oleh pasangan suami istri. Pelaksanaan upacara injak telur dimulai dengan pengantin pria dan pengantin wanita disuruh memegang sagar tujuh tangkai. Ajug yang dipegang oleh pengantin pria dinyalakan, kemudian
45
pengantin wanita menyulutkan lidi-lidi tersebut sampai terbakar. Selanjutnya dipadamkan, serta lidi-lidi tersebut dipatahkan dan akhirnya dibuang. Setelah selesai membuang patahan lidi, pengantin pria menanggalkan atau melepaskan selop kaki kanan untuk memulai acara nincak endog dan elekan diletakkan di tanah di depannya. Telur dan elekan harus sekaligus pecah.
Setelah itu pengantin wanita mencuci kaki pengantin pria dengan air dari kendi kecil. Setelah airnya kosong, kendi tersebut dibanting sampai pecah, melambangkan kepuasan hati, istri harus senang melayani suami dan suami harus masuk ke rumah dengan hati yang bersih, bening dan segar.65
g. Upacara Huap Lingkung
Huap Lingkung adalah suatu perumpamaan dari kehidupan suami-istri yang harmonis, selalu penuh kerinduan, saling cinta mencintai, dan saling membutuhkan. Upacara ini dipimpin oleh juru rias dan disaksikan oleh kedua orang tua pengantin, keluarga dan sering juga oleh kawan-kawan dekat kedua mempelai. Hidangan makanan untuk huap lingkung menurut kelazimannya disajikan oleh pengantin wanita, sebagai hidangan pertama dari sang istri terhadap suaminya setelah keduanya menikah. Ini mengandung makna bahwa sejak itu orang tua kedua belah pihak tidak akan mengurusnya lagi, tidak memberi makan sebagaimana sebelumnya. Hal ini dapat juga diartikan sebagai suapan, pemberian dan pengurusan terakhir orang tua terhadap kedua mempelai, yang selanjutnya kedua calon pengantin sendiri yang mengurus keperluan hidupnya.
65 Wawancara dengan Ibu Jojoh, Juru Sawer di Desa Cipicung, tanggal 20 Juni 2014 pukul 13.00 di rumahnya
46
Dalam upacara ini kedua orang tua pengantin pun menyuapi calon pengantin secara bergantian, ini melambangkan suatu ungkapan bahwa suapan-suapan yang dikerjakan oleh kedua orang tua pengantin adalah merupakan suapan terakhir terhadap anak-anaknya. Selesai penyuapan, kedua mempelai memegang bakakak ayam (ayam bakar), masing-masing memegang pahanya, Juru rias memberi aba-aba dan kedua mempelai saling tarik bakakak ayam tersebut sampai terbagi dua. Menurut kepercayaan orang Sunda, siapa yang berhasil mendapatkan bagian lebih besar, dialah yang akan membawa rezeki paling besar. Selain itu, bermakna juga bahwa suami istri dalam berumah tangga nanti harus sama-sama bekerja atau saling memberi dorongan dalam mencari rezeki. Pelaksanaan upacara huap lingkung ini, tidak selalu sama dalam urutannya, ada yang mendahulukan acara menarik bakakak ayam, baru kemudian saling menyuapi. Hal ini tergantung dari yang memimpin upacara. Setelah upacara huap lingkung selesai, maka acara dilanjutkan dengan memberikan kesempatan kepada kedua pengantin untuk menerima doa restu dari sanak keluarga.66
66 Wawancara dengan Ibu Jojoh, Juru Sawer di Desa Cipicung, tanggal 20 Juni 2014 pukul 13.00 di rumahnya