• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Data

Penelitian menggunakan tiga SD yang terdiri kelompok eksperimen, kelompok kontrol serta uji coba instrumen. Kelompok eksperimen yaitu SD Negeri Gentan 2 berjumlah 17 peserta didik, kelompok kontrol SD Negeri Paluhombo 2 berjumlah 14 peserta didik, dan kelompok uji coba instrumen yaitu SD Negeri Mertan 3 12 peserta didik. Data berasal dari nilai tes keterampilan menulis puisi dan skor motivasi belajar pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

a. Sajian Data Penelitian

1) Data Skor Tes Keterampilan Menulis Puisi

Setiap sampel dalam penelitian ini diberikan perlakuan (treatment) yang berbeda, kelompok eksperimen mengaplikasikan model moody dan pada kelompok kontrol mengaplikasikan model explicit instruction. Untuk pengukuran keterampilan menulis puisi diperoleh dengan test akhir peserta didik (posst-tesst)

a) Kelompok Eksperimen

Berdasarkan dari post-test keterampilan menulis puisi kelompok eksperimen pada Lampiran 14, dapat dibuat tabel distribusi frekuensi 4.1 berikut :

(2)

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Skor Post-test Keterampilan Menulis Puisi Kelompok Eksperimen

No Rentang Frekuensi (fi)

Median

(xi) xi.fi Persentase (%)

1 65 - 70 2 67,5 135 12

2 71 - 76 5 73,5 367,5 29

3 77 - 82 4 79,5 318 24

4 83 - 88 3 85,5 256,5 18

5 89 - 94 2 91,5 183 12

6 95 - 100 1 97,5 97,5 5

TOTAL 17 1.357,5 100

Gambaran data lebih jelas pada Tabel 4.1 ditunjukkan histogram 4.1:

Gambar 4.1 Histogram Hasil Post-test Eksperimen

Tabel 4.1 dan Gambar 4.1 menunjukkan post-test kelompok eksperimen disajikan dengan banyak kelas 6 dan interval 6, dengan skor tertinggi 95 dan terendah 65. Memperoleh nilai 65-70 2 anak persentase 12%, memperoleh skor 71-76 sebanyak 5 anak persentase 29%. Memperoleh nilai 77-80 4 anak persentase 24%, peserta didik yang memperoleh skor 83-88 sebanyak 3

2

5

4

3

2

1

0 1 2 3 4 5 6

65 - 70 71 - 76 77 - 82 83 - 88 89 - 94 95 - 100

Frekuensi

Posttest Kelas Eksperimen

(3)

persentase 18%. Memperoleh nilai 89-94 2 perserta persentase 12%, memperoleh skor 95-100 1 anak persentase 5%. Dari data skor post-test diperoleh rerata 80 serta simpangan baku 7,70.

b) Kelompok Kontrol

Berdasarkan data-data post-test keterampilan menulis puisi kelompok kontrol pada Lampiran 15, dapat dibuat tabel distribusi frekuensi pada tabel 4.2 :

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Skor Posst-tesst Kelompok Kontrol No Interval Frekuensi

(fi)

Median

(xi) xi.fi Persentase (%)

1 50 - 57 2 53,5 107 14

2 58 - 65 2 61,5 123 14

3 66 - 73 2 69,5 139 14

4 74 - 81 5 77,5 387,5 36

5 82 - 89 2 85,5 171 14

6 90 - 97 1 93,5 93,5 8

TOTAL 15 1.021 100

Gambaran data lebih Tabel 4.2 ditunjukkan gambar 4.2 berikut ini :

Gambar 4.2 Histogram Post-test Kontrol

2 2 2

5

2

1

0 1 2 3 4 5 6

50 - 70 58 - 65 66 - 73 74 - 81 82 - 89 90 - 97

Frekuensi

Hasil Posttest Kelas Kontrol

(4)

Tabel 4.2 dan Gambar 4.2 bahwa posttest kelompok eksperimen disajikan dengan banyak kelas 6 dan interval 6, dengan skor tertinggi 90 dan terendah 50. Memperoleh nilai 50-57 2 anak persentase 14%. Nilai 58-65 2 anak persentase 14%, nilai 66-73 2 peserta persentase 14%. Peserta didik memperoleh skor 74-81 sebanyak 5 peserta didik dengan persentase 36%.

Nilai 82-89 2 peserta persentase 14%. Nilai 90-97 1 peserta didik persentase 8%. Dari data skor post-test diperoleh rerata sebesar 72 dan simpangan baku 11,55.

Sesuai tes kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dapat dicari ukuran tendensi antara lain rerata (x), nilai tengah (Me), dan nilai sering muncul (Mo) serta ukuran dispersi antara lain standar deviasi (S), nilai paling tinggi (Maks) dan nilai paling rendah (Min) yang dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3 Distribusi Data Skor Test Keterampilan Menulis Puisi Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Grup Ukuran Tedensi Sentral Ukuran Dispersi

X Mo Me Maks Min S

Eksperimen 80 75 80 95 65 7,70

Kontrol 72 75 75 90 50 11,55

Sesuai Tabel 4.3 menunjukkan kelompok eksperimen diperoleh rerata 80; sering muncul 75; nilai tengah 80; skor maksimal 95; skor minimal sebesar 65; dan standar deviasi 7,70. Kelompok kontrol diperoleh rerata sebesar 72;

sering muncul 75; nilai tengah 75; nilai maksimal 95; nilai minimal 50; dan standar deviasi sebesar 11,55.

(5)

2) Data Skor Angket Motivasi Belajar

Mengukur motivasi belajar menggunakan angket motivasi belajar untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data motivasi belajar peserta didik berupa skor angket motivasi belajar.

a) Kelompok Eksperimen

Angket motivasi belajar diberikan kepada kelompok eksperimen setelah dilakukan perlakuan (treatment) sebanyak dua kali. Data sebaran skor angket motivasi belajar untuk kelompok eksperimen disajikan pada tabel 4.4 berdasarkan nilai angket motivasi belajar kelompok eksperimen Lampiran 16.

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Skor Angket Motivasi Belajar Kelompok Eksperimen

No Innterval

Frekuensi

(fi)

Median

(xi)

xi.fi

Persentase

(%)

1 71 - 76 1 73,5 73,5 6

2 77 - 82 7 79,5 556,5 41

3 83 - 88 1 85,5 85,5 6

4 89 - 94 6 91,5 549 35

5 95 - 100 2 97,5 195 12

TOTAL 17 427,5 1459,5 100

(Sumber: Data Hasil analisis pada Lampiran 16)

(6)

Gambaran data lebih jelas ditunjukkan gambar 4.3 berikut ini :

Gambar 4.3 Histogram Skor Angket Motivasi Belajar Kelompok Eksperimen

Tabel 4.4, Gambar 4.3, memperoleh skor 71-76 sebanyak 1 peserta didik dengan persentase 6%. nilai 77-82 7 peserta persentase 41%. Nilai 83- 88 1 peserta persentase 6%. Nilai 89-94 6 peserta persentase 35%. Niali 95- 100 2 peserta didik. Hasil keseluruhan rerata angket motivasi belajar kelompok eksperimen 86.

b) Kelompok Kontrol

Angket motivasi belajar pada penelitian ini diberikan kepada kelompok kontrol setelah dilakukan perlakuan (treatment) sebanyak dua kali. Data sebaran skor angket motivasi belajar untuk kelompok kontrol disajikan pada tabel 4.5 berdasarkan nilai angket motivasi belajar kelompok kontrol Lampiran 17.

1

7

1

6

2

0 2 4 6 8

71 - 76 77 - 82 83 - 88 89 - 94 95 - 100

Frekuensi

Skor Angket Motivasi Belajar Kelompok Eksperimen

(7)

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Angket Motivasi Belajar Kelompok Kontrol

No Nilai Frekuensi

1 74 1

2 75 1

3 82 1

4 83 2

5 84 1

6 85 2

7 86 1

8 87 1

9 88 2

10 89 1

11 90 1

Jumlah 14

(Sumber: Data Hasil analisis pada Lampiran 17)

Gambaran data lebih jelas ditunjukkan histogram gambar 4.4 berikut ini :

Gambar 4.4 Histogram Skor Angket Motivasi Belajar Kelompok Kontrol

Tabel 4.5, Gambar 4.4 diatas, dapat dilihat yang memperoleh nilai 74- 79 2 peserta persentase 14%. Nilai 80-85 6 peserta persentase 43%. Nilai 86- 91 sebanyak 6 peserta didik dengan persentase 43%. Untuk hasil rerata data angket motivasi belajar kelompok kontrol sebesar 84.

0 2 4 6 8

74 - 79 80 - 85 86 - 91

Frekuensi

Skor Angket Motivasi Belajar Kelompok Kontrol

(8)

3) Skor Keterampilan Menulis Puisi Berdasarkan Motivasi Belajar

Pada penelitian ini terdapat dua macam motivasi yaitu motivasi belajar tinggi serta motivasi belajar rendah. Sehingga motivasi belajar tinggi yang skor angket di atas rata-rata, sedangkan untuk skor angket yang sama dengan atau di bawah rata-rata dikategorikan motivasi rendah. Untuk rata-rata hasil angket motivasi belajar, kelompok eksperimen sebesar 86 serta kelompok kontrol sebesar 84. Data sebaran motivasi belajar peserta didik kelompok eksperimen dan kontrol sesuai Tabel 4.6 dan 4.7:

Tabel 4.6 Penyebaran Nilai Angket Motivasi Belajar Kelompok Eksperimen

Motivasi Belajar Nilai Frekuensi

Tinggi X > 86 9

Rendah X ≤ 86 8

(Sumber: Data Hasil Analisis pada Lampiran 16)

Berdasarkan 4.6, bahwa angket motivasi belajar kelompok eksperimen sebanyak 9 peserta bermotivasi belajar tinggi, sedangkan sebanyak 8 peserta memiliki motivasi belajar rendah.

Tabel 4.7 Peyebaran Nilai Angket Motivasi Belajar Kelompok Kontrol

Motivasi Belajar Nilai Frekuensi

Tinggi X > 84 9

Rendah X ≤ 84 5

(Sumber: Data Hasil Analisis pada Lampiran 17)

Berdasarkan 4.7, bahwa angket motivasi belajar kelompok kontrol sebanyak 9 peserta bermotivasi belajar yang tinggi, sedangkan sebanyak 5 peserta memiliki motivasi belajar rendah.

Nilai keterampilan menulis puisi sesuai motivasi belajar anak didik pada Tabel 4.8:

(9)

Tabel 4.8 Nilai Keterampilan Menulis Puisi Berdasarkan Motivasi Motivasi

Belajar Maks Min Keterampilan Menulis Puisi

Mean S

Tinggi 95 50 78 10,98

Rendah 85 55 73,84 8,93

(Sumber: Data Hasil Analisis pada Lampiran 20 dan 21)

Tabel 4.8, skor keterampilan menulis puisi berdasarkan motivasi belajar diperoleh rata-rata skor pada kategori motivasi belajar tinggi sebesar 78;

standar deviasi sebesar 10,98, skor maksimal 95 dan skor minimal 50.

Kategori motivasi belajar rendah rerata 73,84; standar deviasi 8,93; skor maksimal 85 dan skor minimal 55.

4) Data Skor Keterampilan Menulis Puisi Berdasarkan Interaksi Model Pembelajaran serta Motivasi Belajar

Data nilai keterampilan menulis puisi berdasarkan model pembelajaran dan motivasi belajar pada kelompok eksperimen serta kelompok kontrol secara ringkas Tabel 4.9:

Tabel 4.9 Deskripsi Skor Keterampilan Menulis Puisi Berdasarkan Model Pembelajaran serta Motivasi Belajar

Motivasi Belajar

Keterampilan Menulis Puisi

Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol

Mean S Mean S

Tinggi 83 7,0710 73 12,2474

Rendah 76 6,9436 70 11,180

(10)

2. Uji Prasyarat Analisis

Uji prasyarat analisis bertujuan supaya mengetahui syarat yang diminta untuk uji anava. Sehingga uji prasyarat analisis diaplikasikan sebelum pengujian hipotesis penelitian dengan anava. Uji prasyarat terdiri dari uji keseimbangan, uji nomalitas, dan homogenitas:

a. Uji Keseimbangan

Uji keseimbangan digunakan untuk bahwa kedua sempel yang memiliki kemampuan pertama yang sama atau tidak. Data berasal pretesst antara kelompok eksperimen serta kelompok kontrol. Soal pretest sebanyak 1 soal yang sudah divalidasi oleh expert judgment. Adapun rataan dan simpangan baku skor pretest keterampilan menulis puisi Tabel 4.10

Tabel 4.10 Rataan serta Standar Defisiasi Pretest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Kelompok Jumlah Peserta Didik Rata-rata Simpangan Baku

Eksperimen 17 53,53 11,69

Kontrol 14 52,14 10,13

(Sumber: Data Hasil Analisis pada Lampiran 9)

Tabel 4.10 rerata skor pretest kelompok eksperimen sebesar 55,55 simpangan baku 11,69. Sedangkan, kelompok kontrol 52,14 simpangan baku 10,13. Uji keseimbangan menggunakan uji-t dengan sampel diuji dulu apa berdistribusi nomal atau tidak. Uji nomalitas awal kelompok eksperimen serta kelompok kontrol dapat Tabel 4.11:

Tabel 4.11 Analisis Statistik Uji Normalitas Skor Pretest

Kelompok Lmaks Ltabel Keputusan Uji

Eksperiment 0,120 0,206 Ho diterima

Kontrol 0,148 0,227 Ho diterima

(Sumber: Data Hasil Analisis pada Lampiran 10 dan 11)

Tabel 4.11 sampel berawal dari populasi berdistribusi normal yang ditunjukkan oleh harga Lmaks sampel tidak melebihi Ltabel maka Ho diterima.

(11)

Uji homogenitas dengan rumus uji Bartlert dengan statistika ujji Chi-Quadrat (x2) serta taraf signifikan 0,05 nilai statistika uji kelompok eksperimen serta kelompok kontrol x2hitung = 0,55 serta x2tabel = 3,841 sehingga Ho diterima karena x2hitung = 0,55 < x2tabel(0,05,1). Dengan hal tersebut kedua kelompok berasal dari populasi yang homogen.

Berdasarkan perhitungan uji normalitas dan uji homogenitas bahwa kedua sampel tersebut berasal dari populasi berdistribusi normal serta variannya homogen, sehingga dilakukan uji-t. Jawaban keseimbangan rumus uji-t thitung = 0,13 sesuai dengan perhitungan thitung = 0,13 € DK = {t|t < -2,04 atau t > 2,04) atau thitung bukan anggota daerah kritis, sehingga Ho diterima. Maka, dua sampel antara kelompok control dan kelompok eksperimen mempunyai keterampilan awal menulis puisi yang sama atau tidak berbeda.

b. Uji Normalitas

Uji normalitas dalam penelitian menggunakan metode Liliefors yang bertujuan mengetahui sampel populasi tersebut berdistribusi normal maupun tidak.

Menggunakan rumus Liliefors statistik uji dan harga kritik uji normalitas taraf signifikan 0,05 sampel penelitian sesuai 4.12 :

Tabel 4.12 Uji Normalitas

Sumber Lmaks Ltaabel Keputusan Uji

Kelompok Eksperimen 0,153 0,206 Ho diterima Kelompok Kontrol 0,116 0,227 Ho diterima Motivasi Belajar Tinggi 0,158 0,200 Ho diterima Motivasi Belajar Rendah 0,140 0,234 Ho diterima

(Sumber: Data Hasil Analisis pada 22, 23, 25, dan 26)

Tabel 4.12 diketahui L = maxs {|F(Zi) – S(Zi)|} kelompok eksperimen, kelompok kontrol, motivasi belajar tinggi serta motivasi belajar rendah tak melebihi Ltabel, maka Ho diterima. Maka, sampel berasal populasi berdistribusi normal.

(12)

c. Uji Homogenitas

Uji Bartlerrt dengan uji Chi-quadrat digunakan untuk uji homogenitas. Untuk mengerti sampel penelitian asalnya dari populasi variansinya homogen atau tidak.

Hasil dari uji homogenitas penelitian Tabel 4.13 sebagai berikut : Tabel 4.13 Analisa Statistik Homogenitas

Sumber X2hitung X2tabel Keputusan Uji Kelompok Eksperimen

dan Kelompok Kontrol 1,98 3,841 Ho diterima Motivasi Belajar Tinggi dan

Motivasi Belajar Rendah 0,62181 3,841 Ho diterima

AntarSel 3,22 7,815 Ho diterima

Harga statistik uji homogenitas kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ialah x2hitung = 1,98, x2tabel tingkat signifikan 0,05 ialah x0,05;1 = 3,841; x2hitung = 1,98 <

x0,05;1 = 3,841 sehingga Ho diterimaa. Menunjukkan kedua kelompok berawal dari populasi yang variansinya homogen.

Harga statistik uji homogenitas motivasi belajar tinggi serta motivasi belajar rendah ialah x2hitung = 0,62181 x2tabel pada tingkat signifikan 0,05 ialah x0,05;1 = 3,841;

x2hitung = 0,62181 < x0,05;1 = 3,841 sehingga Ho diterima. Menunjukkan kedua kelompok berasal dari populasi yang variansinya homogen.

Harga statistik uji homogenitas antar sel x2hitung = 3,22 x2tabel pada tingkat signifikan 0,05 ialah x0,05;3 = 7,815; karena x2hitung = 3,22 < x0,05;3 = 7,815 maka Ho

diterima. Hal ini berarti kedua kelompok berawal dari populasi variansinya homogen.

3. Hasil Uji Hipotesis

Uji hipotesis menguji hipotesis dalam penelitiaan ini. Uji hipotesis menggunakan taraf signifikasi 𝛼 = 0,05 dengan uji statistik analisa varian dua jalur

(13)

sel tak sama. Uji tersebut mengukur perbedaan efek faktor A (model pembelajaran) B (motivasi belajar), interaksi AB variabel terikat (keterampilan menulis puisi).

Uji prasyarat telah dilakukan dan terpenuhi, maka dilanjutkan pengujian hipotesis penelitian dengan menggunakan analisa varian dua jalur sel tak sama signifikan 𝛼 = 0,05. Hasil perhitungan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama dipaparkan 4.14:

Tabel 4.14 Hasil Analisa Varian Dua Jalur Sel Tak Sama Sumber

Varian JK DK RJK Fhitung Ftabel Keputusan Uji Antar A 573,97 1 573,97 6,20 4,21 H0 ditolak Antar B 390,91 1 390,91 4,25 4,21 H0 ditolak Interaksi AXB 44,5 1 44,5 0,48 4,21 H0 diterima

Dalam 2.498,21 27 92,52 - - -

Total 3.159,68 30 - - - -

(Sumber: Data Hasil Analisis pada Lampiran 29) Berdasarkan 4.14, maka :

1) Perbedaan efek utama baris (A) , HoA ditolak

Menunjukkan bahwa ada perbedaan pengaruh keterampilan menulis puisi peserta didik diajar dengan model pembelajaran Moody dan peserta didik yang diajar dengan model pembelaaran Explicit Instruction.

2) Perbedaan efek utama kolom (B) , HoB ditolak

Menunjukkan ada perbedaan pengaruh keterampilan menulis puisi peserta didik yang bermotivasi belajar tinggi dengan peserta didik yang bermotivasi belajar rendah.

3) Perbedaan efek utama interaksi (AB) , HoAB diterima

Tidak ada interaksi model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap keterampilan menulis puisi.

Hasil statistik uji hipotesis menggunakan analisis variansi dua jalan diperoleh koefisien FA dan koefisien FB menampilkan perbedaan yang signifikan, sedangkan untuk koefisien FAB tidak terdapat perbedaan signifikan maka tidak perlu dilakukan uji

(14)

lanjut. Untuk mencari tahu mana yang lebih baik dengan cara membandingkan besarnya rerata skor keterampilan menulis puisi baik rerata antar baris maupun rerata antar kolom. Hasil perhitungannya dirangkum dalam tabel 4.15 berikut ini :

Tabel 4.15 Rerataan Skor Masing-Masing Sel

Model Pembelajaran Motivasi Belajar Rerata

Marginal Tinggi (B1) Rendah (B2)

Moody (A1) 83 76 79,5

Explicit Instruction (A2) 73 70 75,5

Rataan Marginal 78 73

Berdasarkan tabel 4.15 rataan marginal baris (A1) adalah 79,5 rataan marginal baris (A2) adalah 75,5. Rataan marginal kolom (B1) adalah 78 dan rataan marginal kolom (B2) adalah 73.

Hipotesis pertama (H0A) ditolak artinya terdapat perbedaan pengaruh signifikan keterampilan menulis puisi antara peserta didik yang diajar dengan model pembelajaran Moody dan peserta didik yang diajar dengan model pembelajaran Explicit Instruction. Hipotesis pertama (H0A) tidak perlu dilakukan uji lanjut pasca anava karena hanya ada dua kategori yaitu model pembelajaran Moody dan model pembelajaran Explicit Instruction. Oleh karena itu, untuk mengetahui yang lebih baik, cukup dengan membandingkan rataan marginal masing-masing model pembelajaran.

Rataan marginal baris A1 = 79,5 > rataan marginal baris A2 = 75,5. Hal tersebut menunjukkan bahwa rataan marginal model pembelajaran Moody lebih besar daripada model pembelajaran Explicit Instruction. Sehingga, keterampilan menulis puisi peserta didik yang diajar dengan model pembelajaran Moody lebih baik dibandingkan peserta didik yang diajar dengan model pembelajaran Explicit Instruction.

Hipotesis kedua (H0B) ditolak berarti terdapat perbedaan pengaruh keterampilan menulis puisi antara peserta didik yang bermotivasi belajar tinggi dan bermotivasi belajar rendah. Hipotesis kedua (H0B) tidak membutuhkan uji lanjut pasca anava karena hanya ada dua kategori yaitu motivasi belajar tinggi dan motivasi belajar rendah. Oleh karena itu, untuk mengetahui yang lebih baik, cukup dengan

(15)

membandingkan rataan marginal masing-masing motivasi belajar. Rataan marginal baris B1 = 78 > rataan marginal baris B2 = 73. Hal tersebut berarti rataan marginal motivasi belajar tinggi lebih besar daripada motivasi belajar rendah Sehingga, keterampilan menulis puisi peserta didik yang bermotivasi belajar tinggi lebih baik dibandingkan peserta didik yang bermotivasi belajar rendah.

Hipotesis ketiga (H0AB) diterima yang berarti tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap keterampilan menulis puisi. Hipotesis ketiga (H0AB) tidak perlu dilakukan uji lanjut. Adapun beberapa alasan tidak ada interaksi model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap keterampilan menulis puisi karena: (1) kurangnya teori-teori yang menunjang penelitian, (2) adanya kesalahan pengambilan sampel (sampling), (3) sampel hanya sedikit, (4) kesalahan peneliti dalam hal perhitungan, (5) ketidakhadiran peserta didik saat pretest, tindakan dan posttest, (6) kurangnya keseriusan peserta didik saat mengerjakan tes menulis puisi, (7) kurangnya ketidaktahuan guru mengajarkan model pembelajaran kepada peserta didik, (8) bentuk tes menulis puisi uraian menyebabkan penilaiannya dipengaruhi oleh subjektifitas.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Sesuai hipotesis menggunakan analisa varian dua jalur dengan sel tak sama diperoleh hasil hipotesis pertama (H0A) ditolak, hipotesa kedua (H0B) ditolak, dan hipotesis ketiga (H0AB) diterima. Berikut penjelasan hasil uji hipotesis:

1. Hipotesis Pertama

Berdasarkan analisis variansi dua jalan diketahui bahwa H0A ditolak sebab FA

= 6,20 > F0,05,1,30 = 4,21. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan pengaruh keterampilaan menulis puisi peserta didik diajar model Moody dengan diajar model Explicit Instruction. Dari rataan marginalnya, kelompok peserta didik yang diajar model pembelajaran Moody rerata nilai lebih tinggi dibandingkan diajar model pembelajaran Explicit Instruction yaitu 79,5 > 75,5. Dapat diketahui

(16)

peserta didik diajar model Moody berpengaruh lebih baik daripada diajar model Explicit Instruction.

Pembelajaran model Moody mengarah pada model pembelajaran sastra dengan cara belajar aktif dan kreatif. Penerapannya membuat peserta didik lebih terlatih dalam menulis. Hal tersebut dapat dilihat dari langkah-langkah model Moody yaitu dari menceritakan kembali pengalamannya dengan teman, mencertiakan dengan gaya bahasa dan imajinasinya di depan kelas, menuliskan pengalamannya, kemudian membuat karya sastra puisi. Dalam kegiatan belajar tersebut guru hanya berperan sebagai fasilitator sehingga keadaan belajar di kelas lebih efektif. Serta adanya keterlibatan peserta didik saat pembelajaran secara langsung dengan memperoleh pengalamannya yang berarti pada dirinya dapat melatih imajinasi peserta didik kemudian dikembangkan pengalamannya dalam membuat puisi untuk dikomunikasikan kepada orang lain.

2. Hipotesis Kedua

Berdasarkan analisis variansi dua jalan bahwa H0B ditolak FB = 4,25 > F0,05,1,30

= 4,21. Hal tersebut menunjukkan adanya pengaruh perbedaan keterampilan menulis puisi peserta didik bermotivasi belajar tinggi dengan bermotivasi belajar rendah. Dari rataan marginalnya, bermotivasi belajar tinggi mempunyai rataan yang sangat tinggi dari kelompok bermotivasi rendah 86 > 84. Dari rataan tersebut, dapat diketahui bahwa keterampilan menulis puisi antara peserta didik bermotivasi belajar tinggi berpengaruh lebih baik dari peserta didik bermotivasi belajar rendah.

Adanya motivasi belajar peserta didik semakin terdorong melakukan aktivitas belajar yang menyenangkan, bersemangat dan penuh perhatian terdahap guru dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga, makin tinggi motivasi belajar dimiliki peserta didik, hasil serta prestasi peserta didik juga lebih baik. Apabila peserta didik yang memiliki motivasi belajar rendah cenderung tidak peduli dengan hasil yang diperoleh. Sesuai dengan teori motivasi belajar Uno (2016: 23) bahwa keberhasilan dalam pembelajaran ditentukan oleh motivasi belajar peserta didik.

(17)

3. Hipotesis Ketiga

Hasil analisis varian dua jalan H0AB diterima FAB = 0,48 < F0,05,1,30 = 4,21.

Tidak ada interaksi model pembelajaran dan motivasi belajar pada keterampilan menulis puisi. Oleh sebab itu, penggunaan model pembelajaran serta adanya motivasi belajar tidak berpengaruh terhadap keterampilan menulis puisi.

Hasil analisa menyatakan bahwa tidak ada pengaruh interaksi model pembelajaran serta motivasi belajar tehadap keterampilan menuli puisi.

Keterampilan menulis puisi dapat dipengaruhi model pembelajaran secara umum, baik peserta diajar model Moody maupun model Explicit Instruction. Semakin baik dan bervariasi dari model pembelajaran yang digunakan, maka semakin tinggi keterampilan menulis puisi setiap kelompok peserta didik tanpa memperhatikan tinggi rendanya motivasi belajar. Adapun beberapa alasan tak adanya interaksi model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap keterampilan menulis puisi karena:

a. Kurangnya teori-teori yang digunakan peneliti dalam menunjang penelitian b. Adanya kesalahan pengambilan sampel atau sampling penelitian oleh peneliti.

c. Sampel hanya sedikit dan terbatas. Sampel hanya 2 SD dengan jumlah peserta didik kelas V sebanyak 31 orang, sehingga sampel kurang representatif.

d. Kesalahan peneliti dalam hal perhitungan analisis data.

e. Ketidakhadiran peserta didik saat pretest, tindakan dan posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang dapat mempengaruhi hasil pembelajaran.

f. Kurangnya keseriusan peserta didik pada kelompok eksperimen maupun kontrol saat mengerjakan tes menulis puisi.

g. Ketidaktahuan atau kurangnya pemahaman peserta didik saat mengisi angket motivasi belajar.

h. Peneliti kurang mengajarkan mengenai model pembelajaran Moody kepada guru kelas V di SD eksperimen dan model pembelajaran Explicit Instruction kepada guru kelas V di SD kontrol.

(18)

i. Bentuk tes menulis puisi uraian menyebabkan penilaiannya dipengaruhi oleh subjektifitas, sehingga kurang mampu menunjukkan keterampilan menulis puisi.

j. Kelompok eksperimen mudah mendapat gangguan saat mengerjakan tes, hal tersebut karena tempat duduk pada kelas eksperimen melingkar.

Temuan tersebut membuktikan, model pembelajaran Moody secara signifikan terbukti dapat berpengaruh pada keterampilan menulis puisi peserta didik.

Referensi

Dokumen terkait

Yang dimaksud menghisab saat terbanam matahari ialah saat terbenam matahari pada tanggal terjadinya ijtimā’ tersebut. Penentuan saat terbenam matahari ini diperlukan

Meskipun buku ini lebih banyak membahas tentang penyusunan tugas akhir untuk mahasiswa S1, tetapi buku ini telah menginspirasi saya dalam membimbing murid-murid

berteman dengan orang yang melakukan seks bebas, anak tersebut akan terpengaruh sehingga akan bebas, anak tersebut akan terpengaruh sehingga akan mengikuti perilaku temannya.

Konsep verba serial dalam penelitian ini mengacu pada karakteristik verba serial sebagai ciri pembeda antara konstruksi serial dan konstruksi verbal biasa atau

 Struk akan muncul jika transaksi berhasil dan harus ditandangi oleh nasabah pengguna kartu kredit.. Jika tidak berhasil, maka anda tanda peringatan bahwa

Berdasarkan analisis bivariat dan analisis multivariat logistik regresi didapatkan bahwa peran PMO yang kurang baik mempunyai kecenderungan/berisiko untuk menyebabkan penderita

2.2.4 Pengaruh Positive Word of Mouth in- group terhadap Niat Pembelian Word of mouth, Menurut Tatik Suryani (2008:191) dan (Reingen dan Kernan 1986, dalam Desmond

lain yang bukan pihak pada statuta untuk dapat. ah harus memenuhi syarat-syarat yang