5 A. Tinjauan Pustaka
1. Tempat Kerja
Menurut Undang-undang Republik Indonesia No.1 tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja Bab 1 Pasal 1, Tempat Kerja ialah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber-sumber bahaya sebagaimana diperinci dalam pasal 2.
Termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut.
Sedangkan Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia No: Kep-186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja , yang dimaksud dengan tempat kerja ialah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya.
2. Potensi Bahaya (Hazard)
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, potensi bahaya adalah kondisi atau keadaan baik pada orang, peralatan, mesin, pesawat, instalasi, bahan, cara kerja, sifat kerja, proses produksi dan lingkungan yang berpotensi menimbulkan gangguan, kerusakan, kerugian, kecelakaan, kebakaran, peledakan, pencemaran, dan penyakit akibat kerja.
Potensi bahaya merupakan suatu keadaan yang memungkinkan atau berpotensi terhadap terjadinya kejadian kecelakaan berupa cidera, penyakit, kematian, kerusakan atau kemampuan melaksanakan fungsi operasional yang telah ditetapkan. (Tarwaka,2008).
Menurut Tarwaka (2008) bahwa di tempat kerja, potensi sebagai sumber risiko khususnya terhadap keselamatan dan kesehatan di perusahaan akan selalu dijumpai, antara lain berupa faktor-faktor berikut ini :
a. Faktor teknis yaitu bersal atau terdapat pada perlatan kerja yang digunakan atau pekerja itu sendiri.
b. Faktor lingkungan yaitu berasal dari atau berada di dalam lingkungan, yang berasal dari proses produksi, bahan baku dan hasil akhir.
c. Faktor manusia, apabila manusia yang melakukan pekerjaan tidak dalam kondisi yang prima baik fisik maupun psikis.
d. Faktor fisika dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada tenaga kerja yang terpapar, seperti kebisingan, pencahayaan, radiasi, vibrasi, suhu ekstrim dan getaran.
e. Faktor kimia berasal dari bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi antara lain : toksisitas, gas, asap, uap, dan logam berat.
f. Faktor biologik dapat berasal dari kuman-kuman, tumbuhan, hewan, bakteri dan virus.
g. Faktor fisiologis dikarenakan penerapan ergonomi yang tidak baik atau tidak sesuai dengan norma-norma ergonomik yang berlaku, seperti sikap dan cara kerja yang tidk sesuai, pengaturan kerja yang tidak tepat, beban kerja yang tidak sesuai dan ketidak serasian antara manusia dan mesin.
h. Berasal dari proses produksi yaitu berasal dari kegiatan yang dilakukan dalam proses produksi, yang sangat tergantung dari bahan dan peralatan yang dipakai, serta jenis kegiatan yang dilakukan.
i. Kebakaran, peledakan, kebocoran.
3. Kebakaran
Kebakaran merupakan bencana atau petaka yang paling dihadapi seing dihadapi dan bisa digolongkan baik sebagai bencana alam ataupun bencana yang disebabkan oleh perbuatan manusia itu sendiri (Tarwaka,2012).
Sedangkan menurut (Suma’mur,1996), peristiwa terbakar adalah suatu reaksi yang hebat dari zat yang mudah terbakar dengan zat asam. Beberapa industri seperti industri kimia, minyak bumi dan cat sangat rawan dipandang
dari sudut kebakaran. Pada umumnya menurut Depnakertrans (1999), penyebab kebakaran dan peledakan bersumber pada 3 faktor yaitu :
a. Faktor manusia
Manusia sebagai faktor penyebab kebakaran dan peledakan antara lain dilihat dari dua faktor yaitu pekerjaannya dan pengelola yang tidak mau tahu atau kurang mengetahui prinsip dasar pencegahan kebakaran atau peledakan.
Terkadang manusia sembrono dan kurang hati-hati sehingga menimbulkan kebakaran.
b. Faktor Teknis
Faktor teknis sebagai penyebab kebakaran dan peledakan antara lain adalah:
1) Melalui proses fisik atau mekanis di mana dua faktor penting yang menjadi peranan dalam proses ini ialah timbulnya panas akibat kenaikan suhu atau timbulnya bunga api akibat dari pengetesan benda-benda maupun adanya api terbuka
2) Melalui proses kimia yaitu sewaktu-waktu pengangkutan bahan-bahan kimia berbahaya, penyimpanan dan penanganan (handling) tanpa memperhatikan petunjuk-petunjuk yang ada.
3) Melalui tenaga listrik, pada umumnya terjadi karena hubungan pendek sehingga menimbulkan panas atau bunga api dan dapat menyalakn atau membakar komponen lain.
c. Faktor alam
Faktor alam sebagai penyebab kebakaran dan peledakan seperti petir, gunung meletus dan lain-lain.
Klasifikasi kebakaran menurut National Fire Protection Association (NFPA) terdiri dari 5 kategori yaitu :
a. Kebakaran Klas A
Kebakaran yang terjadi pada bahan padat kecuali logam, kelas ini mempunyai ciri jenis kebakaran yang meninggalkan arang dan abu. Unsur bahaya yang terbakar biasanya mengandung karbon. Misalnya kayu, plastik, tekstil, kain, kertas.
b. Kebakaran Kelas B
Kebakaran yang terjadi pada bahan cair dan gas yang mudah terbakar.
Kelas ini terdiri dari unsur bahan yang mengandung hidrokarbon dan minyak bumi dan turunan kimianya. Misalnya : minyak, LPG/LNG dan bensin.
c. Kebakaran Kelas C
Kebakaran instalasi listrik bertegangan, misalnya : Breaker listrik dan alat rumah tangga lain yang menggunakan listrik.
d. Kebakaran Kelas D
Kebakaran yang terjadi pada benda-benda logam padat seperti titanium, magnesium, natrium, kalium, besi dan baja.
e. Kebakaran Kelas K
Kebakaran yang disebabkan oleh bahan akibat konsentrasi lemak yang tinggi. Kebakaran jenis ini banyak terjadi di dapur. Api yang timbul didapur dapat dikategorikan pada api Klas B.
Kebakaran tidak lepas dari adanya api, api merupakan suatu reaksi kimia atau reaksi oksidasi yang bersifat eksotermis dan diikuti oleh evolusi atau pengeluaran cahaya dan panas serta dapat menghasilkan nyala, asap dan bara.
Proses terjadinya api ini dimulai apabila terdapat tiga unsur yaitu bahan mudah terbakar, oksigen, dan panas. Apabila ketiga unsur tersebut berada dalam kondisi yang seimbang atau dalam konsentrasi tertentu timbullah reaksi oksidasi atau dikenal dengan proses pembakaran. Apabila api awal ini telah terjadi maka sebagian panas tersebut akan diserap bahan bakar atau benda disekelilingnya yang kemudian melepaskan uap dan gas yang dapat menyala berganti-ganti setelah bercampur dengan oksigen (di udara), proses ini disebut reaksi berantai. Ketiga unsur tersebut dikenal dengan sebutan segitiga api.
Dalam ilmu kebakaran ketiga komponen yang ada pada segitiga api atau fire triagle digambarkan dengan sebuah bangun dua dimensi berbentuk segitiga
sama sisi. Dimana masing-masing sisi mewakili satu komponen kebakaran api yaitu oksigen, panas, dan bahan bakar. Peristiwa pembakaran akan dapat terjadi apabila ketiga komponen tersebut berada dalam keadaan keseimbangan.(Tarwaka,2012).
Berikut ini adalah gambar segitiga api tersaji dalam gambar 1.
Gambar 1. Segitiga Api Sumber : Tarwaka, 2012
4. Potensi bahaya kebakaran
Potensi bahaya kebakaran adalah segala sesuatu keadaan yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran. Oleh karena itu, diperlukan untuk identifikasi bahaya kebakaran. Untuk dapat mengidentifikasi dan mengevakuasi potensi bahaya kebakaran secara akurat dan tepat, diperlukan pemahaman secara rinci tentang karakteristik dari tipikal kebakaran yang mungkin terjadi berdasarkan kategori dan klasifikasi potensi kebakaran, sehingga dengan demikian maka
dapat diketahui upaya pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran yang tepat dan sesuai dengan potensi bahayanya ( Makara, 2008 )
5. Kebijakan Tanggap Darurat
Penanganan tanggap darurat harus merupakan kebijakan manajemen karena menyangkut berbagai aspek seperti organisasi dan sumber daya yang memadai. Tanpa Kebijakan manajemen, program tanggap darurat tidak akan berhasil dengan baik ( Soehatman, 2010 ).
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia N0. 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja BAB II pasal 7 ayat (3) yang berisi Kebijakan K3 sebagaiman dimaksut pada ayat (1) paling sedikit memuat :
a. Visi
b. Tujuan Perusahaan
c. Komitmen dan tekad melaksanakan kebijakan; dan
d. Kerangka dan program kerja yang mencakup kegiatan perusahaan secara menyeluruh yang bersifat dan atau operasional.
Dan pasal 8 yang berbunyi :
Pengusaha harus menyebarluaskan kebijakan K3 yang telah ditetapkan kepada seluruh pekerja/buruh, orang lain selain pekerja/buruh yang berada di perusahaan pada pihak lain yang terkait.
6. Identifikasi Bahaya Kebakaran
Identifikasi potensi bahaya adalah merupakan suatu proses aktivitas yang dilakukan untuk mengenali seluruh situasi atau kejadian yang berpotensi sebagai penyebab terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang mungkin timbul di tempat kerja ( Tarwaka, 2008 )
Menurut Kepmenaker No. Kep-186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja, identifikasi bahaya kebakaran diperlukan karena kewajiban pengurus mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran di tempat kerja meliputi :
a. Pengendalian setiap bentuk energi
b. Penyediaan sarana deteksi, alarm, memadamkan kebakaran dan sarana evakuasi, pengendalian penyebaran asap, panas dan gas ;
c. Pembentukan unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja;
d. Penyelenggaraan latihan dan gladi penanggulangan kebakaran secara berkala;
e. Memiliki buku rencana penanggulangan keadaan darurat kebakaran, bagi tempat kerja yang memperkerjakan lebih dari 50 (lima puluh) orang tenaga kerja dan atau tempat yang berpotensi bahaya kebakaran sedang dan berat.
7. Keadaan Darurat
Keadaan darurat adalah suatu peristiwa yang tidak normal yang menuju kepada resiko mencelakai manusia, merusak peralatan atau lingkungan antara lain kebakaran, peledakan, kebocoran gas beracun, tumpahan material berbahaya, bencana alam, rumor dan lain-lain (Rachmawati, 2009).
Menurut Federal Emergency Management Agency (FEMA), keadaan darurat adalah segala kejadian yang tidak direncanakan yang dapat menyebabkan kematian atau injury yang signifikan pada para pekerja, pelanggan atau masyarakat umum ; atau kejadian yang dapat mematikan bisnis atau usaha, menghentikan kegiatan operasional, menyebabkan kerusakan fisik atau lingkungan, atau sesuatu yang dapat mengancam kerugian fasilitas keuangan atau reputasi perusahaan dimata masyarakat.
Sedangkan menurut National Fire Protection Association (NFPA) 1600 keadaan darurat dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
a. Keadaan Darurat Kecil
Apabila keadaan darurat yang terjadi dapat diatasi sendiri oleh petugas setempat dan tidak membutuhkan tenaga banyak.
b. Keadaan Darurat Besar
Apabila keadaan darurat yang terjadi dipandang dapat mempengaruhi jalannya operasi perusahaan atau mempengaruhi tatanan lingkungan sekitar, dan penanggulangannya diperlukan pengerahan tenaga yang banyak dan besar.
8. Tanggap darurat kebakaran
Suatu sikap untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya hal yang tidak diinginkan yang akan menimbulkan kerugian baik fisik maupun mental spiritual. Tanggap darurat berkaitan dengan perilaku (behavior) yang apabila dihubungkan dengan organisasi (organizational behaviour), baik pemerintah
maupun swasta menyangkut masalah sampai sejauh mana komitmen dan kebijakan manajemen.
Menurut Soehatman (2010) tanggap darurat adalah tindakan segera dilakukan untuk mengatasi kejadian bencana misalnya dalam suatu proses kebakaran atau peledakan di lingkungan industri:
a. Memadamkan kebakaran atau peladakan.
b. Menyelamatkan manusia dan korban (rescue) c. Menyelamatkan harta benda dan dokumen penting.
d. Perlindungan masyarakat umum
Tindakan ini dilakukan oleh tim penanggulangan bencana yang dibentuk masing- masing daerah atau organisasi.
Sedangkan menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, Sistem tanggap darurat adalah salah satu atau kombinasi dari metode yang digunakan pada bangunan untuk memperingatkan orang terhadap keadaan darurat, penyediaan tempat penyelamat, membatasi penyebaran kebakaran, pemadam kebakaran, termasuk disini sistem proteksi pasif dan aktif.
9. Manajemen Tanggap Darurat
a. Perencanaan awal tanggap darurat
Setelah semua potensi keadaan darurat diidentifikasi, dilakukan perencanaan awal (preplanning) untuk mengetahui dan mengembangkan
strategi pengendaliannya. Berbagai kemungkinan keadaan darurat disimulasikan dalam bentuk skenario keadaan darurat mulai dari yang kecil sampai kondisi terburuk yang dapat terjadi. Dari rencana awal ini dapat diketahui apa saja sumber daya yang diperlukan, strategi pengendalian yang tepat, pengorganisasian dan sistem komunikasi serta dampak terhadap lingkungan sekitarnya (Soehatman, 2010)
Sedangkan menurut (Kelly dalam Papalia, 1998) perencanaan tanggap darurat (Emergency Response Plan) merupakan tahapan mengatasi hal-hal yang terjadi sewaktu-waktu, sehingga dengan perencanaan yang mantap dapat menghindarkan bencana yang fatal. Perencanaan tersebut meliputi : 1) Pengujian teknis penyelamatan, merupakan pengamatan terhadap
efektivitas sistem penyelenggaraan yang dilakukan, diukur akurasinya diamati bila perlu dilaksanakan perbaikan.
2) Respon penyelamatan, mendorong siapa saja yang berada di tempat kerja, berpartisipasi aktif dan termotivasi didalam diri untuk siap tanggap tehadap sesuatu gejala maupun kejadian, sehingga dapat mengeliminir dan melokalisir kejadian tidak menjadi meluas
3) Perencanaan penanggulangan, dengan memadukan setiap unsur, yang telah dipersiapkan dengan secara berkala berlatih, bersimulasi maka diharapkan senantiasa dalam keadaan siap secara prima.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja BAB II Pasal 9 ayat (2) yang disebutkan bahwa, Rencana K3 disusun dan ditetapkan oleh pengusaha dengan mengacu pada kebijakan K3 yang telah ditetapkan.
b. Organisasi Keadaan Darurat
Menurut Soehatman (2010), penanganan keadaan darurat dilakukan secara terorganisir dengan melibatkan berbagai fungsi dalam organisasi sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Penanganan keadaan darurat sekurang-kurangnya melibatkan fungsi berikut ini :
1) Operasi, bertugas menjamin keamanan dan kelencaran operasi selama keadaan darurat berlangsung.
2) Teknik, bertugas menjamin dan mendukung sarana teknis yang diperlukan untuk penanggulangan keadaan darurat.
3) Sekuriti, bertugas menjaga keamanan selama keadaan darurat.
4) Medis, untuk memberikan bantuan dan pertolongan medis tehadap korban.
5) Pemadam kebakaran, bertugas menanggulangi keadaan darurat
6) Safety, bertugas menjaga dan memberikan saran dan pertimbangan keselamatan.
7) Logistik, bertugas menyediakan perlengkapan dan kebutuhan logistik untuk penanggulangan.
8) Transportasi, memberikan dukungan saran transportasi dan alat-alat berat jika diperlukan.
9) Komunikasi, membantu kelancaran jalur komunikasi selama penanggulangan baik internal maupun eksternal.
10) Humas, menjaga hubungan dengan semua pihak terkait khususnya dengan lingkungan, pemerintah dan masyarakat sekitarnya melalui informasi yang akurat dan jelas tentang keadaan darurat.
Berdasarkan Kepmenaker No. Kep-186/MEN/1999 tentang Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja, pasal 1 huruf d, yang dimaksud unit penanggulangan kebakaran adalah unit kerja yang dibentuk dan ditugaskan untuk menangani masalah penanggulangan kebakaran di tempat kerja yang meliputi kegiatan administrasi, identifikasi sumber- sumber bahaya, pemeriksaan, pemeliharaan dan perbaikan sistem proteksi kebakaran.
Unit penanggulangan kebakaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 terdiri dari :
1) Petugas peran kebakaran ialah petugas yang ditunjuk dan diserahi tugas tambahan untuk mengidentifikasi sumber-sumber bahaya dan melaksanakan upaya-upaya penanggulangan kebakaran;
2) Regu penanggulangan kebakaran ialah satuan tugas yang mempunyai tugas khusus fungsional di dibidang penganggulangan kebakaran;
3) Koordinator unit penanggulangan kebakaran;
4) Ahli k3 spesialis penanggulangan kebakaran sebagai penanggungjawab teknis.
Sedangkan pasal 1 huruf e mengenai petugas peran penanggulangan kebakaran ialah petugas yang ditunjuk dan diserahi tugas tambahan untuk mengidentifikasi sumber bahaya dan melaksanakan upaya penanggulangan kebakaran di unit kerjanya.
Pada Kepmenaker No.Kep-186/MEN/1999 pasal 7, mengenai tugas dari petugas peran kebakaran adalah :
1) Mengidentifikasi dan melaporkan tentang adanya faktor yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran;
2) Memadamkan kebakaran pada tahap awal;
3) Mengarahkan evakuasi orang dan barang;
4) Mengadakan koordinasi dengan instalasi terkait;
5) Mengamankan lokasi kebakaran.
Sedangkan tugas dari regu penanggulangan kebakaran yaitu dijelaskan dalam pasal 7, yaitu :
1) Mengidentifikasi dan melaporkan tentang adanya faktor yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran;
2) Melakukan pemeliharaan sarana proteksi kebakaran;
3) Memberikan penyuluhan tentang penanggulangan kebakaran pada tahap awal;
4) Membantu menyusun buku rencana tanggap darurat penanggulangan kebakaran;
5) Memadamkan kebakaran;
6) Mengarahkan evakuasi orang dan barang;
7) Mengadakan koordinasi dengan instalasi terkait;
8) Memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan;
9) Mengamankan seluruh lokasi tempat kerja;
10) Melakukan koordinasi seluruh petugas peran kebakaran.
Dalam pasal 9, dijelaskan mengenai tugas koordinator unit penanggulangan kebakaran yaitu:
1) Memimpin penanggulangan kebakaran sebelum mendapat bantuan dari instansi yang berwenang;
2) Menyusun program kerja dan kegiatan tentang cara penanggulangan kebakaran;
3) Mengusulkan anggaran, sarana dan fasilitas penanggulangan kebakaran kepada pengurus.
Pada Kepmenaker No. Kep-186/MEN/1999 pada pasal 10 mengenai tugas ahli K3 adalah :
1) Membantu mengawasi pelaksanaan peraturan perundang-undangan bidang penanggulangan kebakaran;
2) Memberikan laporan kepada Menteri atau pejabat yang ditunjuk sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku;
3) Merahasiakan segala keterangan tentang rahasia perusahaan atau instansi yang didapat berhubungan dengan jabatannya;
4) Memimpin penanggulangan kebakaran sebelum mendapat bantuan dari instansi yang berwenang;
5) Menyusun program kerja atau kegiatan penanggulangan kebakaran;
6) Mengusulkan anggaran, sarana dan fasilitas penanggulangan kebakaran kepada pengurus;
7) Melakukan koordinasi dengan instansi terkait.
c. Pembinaan dan Pelatihan
Organisasi hendaknya menetapkan dan memelihara prosedur untuk mengetahui kebutuhan pelatihannya. Manajemen hendaknya menetapkan tingkat pengalaman, kemampuan personil, terutama mereka yang melaksanakan fungsi manajemen lingkungan yang khusus (Hardiwiarddjo, 1997)
Menurut Soehatman (2010), penanggulangan keadaan darurat tidak akan berhasil jika tidak ditangani oleh petugas atau SDM yang kompeten. Ciri khas dalam setiap penanggulangan darurat adalah terjadinya kepanikan, hilangnya rantai komando yang telah disusun dan kurangnya disiplin dan tanggung jawab. Untuk menjamin keberhasilan sistem manajemen darurat diperlukan upaya pembinaan dan pelatihan yang terencana dan berkesinambungan khususnya bagi mereka yang terlibat dalam rantai komando sehingga mengetahui peran dan tanggung jawabnya. Pelatihan dapat dikemas dalam bentuk table desk simulation, permainan peran atau uji coba dalam kondisi dalam berbagai bentuk skenario.
Tim pelaksanaan misalnya tim pemadam kebakaran, medis, keamanan dan lainnya juga perlu diberi pelatihan sehingga mampu menjalankan tugasnya dengan tepat dan cepat (Soehatman,2010).
Petugas pemadam kebakaran dipilih dan ditunjuk melalui program pelatihan yang meliputi pendidikan teori, latihan jasmani, praktek tentang dan pengalaman-pengalaman yang benar-benar didapat dari pemadaman kebakaran. Maka percobaan sebaiknya diadakan agar seseorang mampu memeperlihatkan kesanggupan dan mengambil keputusan secara tepat saat terjadi keadaan darurat. Dalam latihan harus ditekankan bahwa cara yang tepat dan dilaksanakan secara benar adalah teraman dan paling efisien (Suma’mur,1996).
Program diklat (pendidikan dan pelatihan) ini perlu direncanakan dan setiap perusahaan harus menyelenggarakan pendidikan dan latihan tanggap darurat. Pendidikan dan latihan dalam menghadapi keadaan darurat dimaksudkan selain untuk memastikan perlindungan yang maksimal bagi jiwa dan kekayaan, juga untuk mengurangi timbulnya situasi dengan akibat yang merugikan. Semua pekerja harus mengerti dan memahami kegunaan prosedur tanggap darurat serta prosedur penanggulangannya (Makara, 2008).
10. Sarana Proteksi Kebakaran Aktif
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor :26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Sarana proteksi aktif adalah sistem proteksi
kebakaran yang secara lengkap terdiri atas sistem pendeteksian kebakaran baik manual maupun automatis, sistem pemadam kebakaran berbasis air seperti sprinkler, pipa tegak dan selang kebakaran, serta sistem pemadam kebakaran berbasis bahan kimia, seperti APAR dan pemadam khusus.
Fungsi dari sistem proteksi aktif menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008, suatu bangunan dilengkapi sarana proteksi kebakaran sedemikian rupa sehingga :
a. Penghuni diperingatkan akan adanya suatu kebakaran dalam bangunan sehingga dapat melaksanakan evakuasi dengan aman;
b. Penghuni mempunyai waktu untuk melakukan evakuasi secara aman sebelum kondisi pada jalur evakuasi menjadi tidak tertahankan oleh akibat kebakaran.
Sarana proteksi aktif kebakaran meliputi : a. APAR
Menurut Permenaker No. Per.04/MEN/1980, alat pemadam api ringan (APAR) adalah alat yang ringan serta mudah dilayani oleh satu orang untuk memadamkan api pada mula kebakaran. APAR bersifat praktis dan mudah cara penggunaannya, tapi hanya efektif untuk memadamkan kebakaran kecil atau awal mula kebakaran. Keefektifan penggunaan APAR dalam memadamkan api tergantung dari 4 faktor (ILO,1989);
1) Pemilihan jenis APAR yang tepat sesuai dengan klasifikasi kebakaran.
2) Pengetahuan yang benar mengenai teknik penggunaan APAR.
3) Kecukupan jumlah isi bahan pemadam yang ada di dalam APAR.
4) Berfungsinya APAR secara baik berkaitan dengan pemeliharaannya.
Menurut Depnaker (1999), adanya pemeriksaan, pengujian dan penandaan APAR harus meliputi :
1) Setiap APAR diperiksa dua kali dalam setahun. Pemeriksaan dalam jangka 6 bulan dan jangka 12 bulan.
2) Isi tabung harus sesuai dengan berta yang tertera pada plat.
3) Pipa saringan dan penyalur tidak boleh tersumbat.
4) Ulir tutup kepala tidak rusak.
5) Peralatan yang bergerak tidak boleh dalam rusak, harus dapat bergerak bebas, mempunyai rusuk atau sisi yang tajam dan tuas penekan harus dalam keadaan baik.
6) Gelang tutup kepala harus masih dalam keadaan baik.
7) Lapisan pelindung dari tabung gas harus dalam keadaan baik.
b. Detektor
Detektor adalah alat untuk mendeteksi kebakaran secara otomatik, yang dapat dipilih tipe yang sesuai dengan karakteristik ruangan, diharapkan dapat mendeteksi secara tepat akurat dan tidak memberikan informasi palsu (Depnakertrans, 2008).
Jenis-jenis detektor menurut Depnakertrans (1999), yaitu :
1) Detektor asap (smoke detector) adalah detektor yang bekerja berdasarkan terjadinya akumulasi asap dalam jumlah tertentu .
2) Detektor panas (heat detector) adalah detektor yang bekerja berdasarkan pengaruh panas atau temperature tertentu. Ada tiga tipe detektor panas yaitu :
a) Detektor bertemperatur tetap yang bekerja pada suatu batas panas tertentu (fixed temperature)
b) Detektor yang bekerja berdasarkan kecepatan naiknya temperature (rate of rise).
c) Detektor kombinasi yang bekerjanya berdasarkan kenaikan temperature dan batas temperature maksimum yang ditetapkan.
3) Detektor nyala api adalah detektor yang bekerja berdasarkan radiasi nyala api.
4) Detektor gas adalah detektor yang bekerja berdasarkan kenaikan konsentrasi gas yang timbul akibat kebakaran ataupun gas-gas lain yang mudah terbakar.
c. Hydrant
Menurut Depnakertrans (1999), instalasi hydrant kebakaran adalah suatu sistem pemadam kebakaran tetap yang menggunakan media pemadam air bertekanan yang dialirkan melalui pipa-pipa dan selang kebakaran. Sistem ini terdiri dari sistem persediaan air, pompa, perpipaan, kopling outlet dan intlet serta slang dan nozzle.
d. Alarm Kebakaran
Sistem alarm kebakaran (fire alarm system) pada suatu tempat atau bangunan digunakan untuk pemberitaan kepada pekerja/penghuni dimana suatu bahaya bermula. Sistem alarm ini dilengkapi dengan tanda atau alarm yang bisa dilihat atau didengar. Penempatan alarm kebakaran ini biasanya pada koridor/gang-gang dan jalan dalam bangunan atau suatu instalasi.
Sistem alarm kebakaran dapat dihubungkan secara manual ataupun otomatis pada alat-alat seperti sprinkler system, detektor panas, detektor asap, dan lain-lain (Soehatman Ramli,2005).
Sistem alarm kebakaran otomatis dirancang untuk memberikan peringatan kepada penghuni akan adanya bahaya kebakaran sehingga dapat melakukan tindakan proteksi dan penyelamatan dalam kondisi darurat.
(Kepmen PU No. 10/KPTS/2000).
Menurut Permenaker No. Per-02/MEN/1983 tentang Instalasi Alarm Kebakaran Automatik, BAB II mengenai Pemeliharaan dan Pengujian pasal 57 ayat 1 yang menyatakan bahwa terhadap instalasi alarm kebakaran automatic harus dilakukan pemeliharaan dan pengujian berkala secara mingguan, bulanan, dan tahunan dan ayat 2 yang menyatakan bahwa pemeliharaan dan pengujian tahunan dan ayat 2 yang menyatakan bahwa
pemeliharaan dan pengujian tahunan dilakukan oleh konsultan kebakaran atau organisasi yang telah diakui oleh direktur atau pejabat yang ditunjuk.
11. Sarana Penyelamat Jiwa
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, sarana penyelamatan adalah sarana yang dipersiapkan untuk dipergunakan oleh penghuni maupun petugas pemadam kebakaran dalam upaya penyelamatan jiwa manusia maupun harta-benda bila terjadi kebakaran pada suatu gedung dan lingkungan.
Menurut Kepmen PU No. 10/KPTS/2000, setiap bangunan harus dilengkapi dengan sarana evakuasi yang dapat digunakan oleh penghuni bangunan, sehingga memiliki waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa terhambat hal-hal yang diakibatkan oleh keadaan darurat.
Adapun tujan sarana penyelamatan adalah untuk mencegah terjadinya kecelakaan atau luka pada waktu melakukan evakuasi pada saat keadaan darurat terjadi. Sarana penyelamt jiwa meliputi sarana jalan keluar, tangga darurat, tanda petunjuk arah, pintu darurat, penerangan darurat, dan tempat berkumpul.
Penyelamatan jiwa manusia merupakan hal yang paling penting karena jiwa manusia tidak dapat ternilai dengan uang. Implikasi dari penyelamatan
jiwa adalah menghindarkan orang dari keterpaparan produk pembakaran seperti panas, asap, dan gas. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan memisahkan individu yang terancam dari produk yang membahayakan tersebut (ILO, 1989).
a. Jalur evakuasi
Secara ideal, semua bangunan harus memiliki sekurang-kurangnya dua jalan penyelamat jiwa pada dua arah yang bertentangan terhadap setiap kebakaran yang terjadi pada sembarangan tempat dalam bangunan tersebut, sehingga tak seorangpun bergerak kearah api untuk menyelamatkan diri.
Jalan-jalan penyelamatan demikian harus dipelihara bersih, tidak terhalang oleh barang-barang mudah terlihat dan diberi tanda yang jelas (Sumamur, 1996)
b. Komunikasi
Menurut Soehatman (2010), komunikasi memegang peranan penting mendukung keberhasilan sistem tanggap darurat. Komunikasi dapat dikelompokkan atas komunikasi internal dan komunikasi eksternal.
Komunikasi internal harus dirancang mulai dari deteksi keadaan darurat sampai ke penangggulangannya. Komunikasi eksternal dengan pemerintah daerah atau masyarakat sekitar kegiatan organisasi untuk mencegah kepanikan atau jatuhnya korban yang tidak diinginkan. Masyarakat
seharusnya diberi informasi yang jelas mengenai kondisi keadaan darurat, potensi bahaya yang dapat timbul serta langkah-langkah pengamanan yang diperlukan.
Anggota tim tanggap darurat masing-masing harus memiliki telepon genggam, radio komunikasi atau alat komunikasi lainnya, sehingga mereka dapat dikumpulkan secepat mungkin ke tempat kejadian. Nomor radio komunikasi mereka harus diberikan pada pos keamanan, meja resepsionis, operator, perwakilan lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja setempat (Soehatman,2010)
c. Pintu Darurat
Pintu darurat adalah pintu yang dipergunakan sebagai jalan keluar untuk usaha penyelamatan jiwa pada saat terjadi kebakaran. Daun pintu harus membuka keluar dan jika tertutup maka tidak bisa dibuka dari luar (self closing door). Pintu darurat ini tidak boleh terhalang dan tidak boleh terkunci serta harus berhubungan langsung dengan jalan penghubung, tangga atau halaman luar (NPFA 101).
Pintu darurat harus tahan api (Juwana, 2005), pintu darurat juga diberi tanda sehingga dibedakan dengan pintu yang lain. Pintu darurat harus diatur sedemikian rupa sehingga dimana saja dapat menjangkaunya tidak melebihi jarak yang telah ditetapkan sesuai dengan klasifikasi kebakaran.
Setiap gedung harus memiliki pintu kebakaran sebagai pintu darurat untuk keluar. Pintu darurat harus memenuhi ketentuan, seperti : berhubungan
dengan tempat jalan keluar, memiliki lebar yang memadai, dilengkapi dengan bantang panic dan tahan api beberapa jam.
d. Tanda Petunjuk Arah Keluar
Arah jalan keluar harus diberi tanda sehingga dapat terlihat dengan jelas dan dapat ditemukan. Tanda jalan keluar dan tanda yang menunjukkan jalan keluar harus mudah terlihat dan terbaca. Tanda jalan keluar yang jelas akan memudahkan dan mempercepat proses evakuasi karena menghilangkan keraguan penghuni gedung pada saat terjadinya peristiwa kebakaran (NFPA).
e. Titik berkumpul
Titik berkumpul adalah bagian dari bangunan dimana pekerja dapat dilindungi dari api sampai pekerja dapat diselamatkan. Menurut Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan tempat aman adalah:
1) Suatu tempat aman di dalam bangunan gedung seperti : a) Yang tidak ada ancaman api
b) Dari sana penghuni bisa secara aman berhambur setelah menyelamatkan diri dari keadaan darurat menuju tempat lain atau ruang terbuka, atau
c) Suatu jalan atau ruang terbuka.
12. Prosedur Tanggap Darurat
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja:
a. Lampiran 1 huruf C mengenai Pelaksanaan Rencana K3 Nomor yang menyebutkan bahwa, Perusahaan harus memiliki prosedur sebagai upaya menghadapi keadaan darurat kecelakaan dan bencana industri.
b. Lampiran II poin 6.7.5 yang berisi, instruksi/prosedur keadaan darurat dan hubungan keadaan darurat diperlihatkan secara jelas dan menyolok serta diketahui oleh seluruh tenaga kerja di perusahaan.
13. Prosedur pemulihan setelah kondisi darurat
Organisasi perlu membuat rencana pemulihan keadaan darurat untuk membantu penyembuhan tenaga kerja dilokasi secepat mungkin setelah kejadian berkahir. Dengan prosedur tersebut perusahaan dapat mengurangi waktu yang diperlukan mengembalikan ke operasi normal dan membantu tenaga kerja yang cidera. Setelah krisis ditanggulangi rencana pemulihan keadaan darurat dilakukan jika kegiatan operasional tidak berjalan. Jika tidak, kehilangan waktu dalam pemulihan akan memakan produksi organisasi (ISO 14001, 1996).
14. Investigasi dan Pelaporan
Menurut Soehatman (2010), setiap keadaan darurat harus diinvestigasi dengan teliti untuk mengetahui penyebab sekaligus juga untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan dalam proses penanggulangannya. Dari setiap kejadian dapat diketahui tingkat kesiapan individu, kondisi sarana, kelancaran
komunikasi dan kecepatan gerak tenaga pendukung yang diperlukan. Hasil penanggulangan darurat harus dilaporkan kepada manajemen sebagai bahan evaluasi peningkatannya.
15. Inspeksi dan audit
Secara berkala dilakukan audit dan inspeksi sistem tanggap darurat yang menyangkut prosedur sarana dan kemampuan petugas. Semua peralatan harus diperiksa secara berkala agar jika diperlukan siap untuk digunakan (Soehatman,2010)
B. Kerangka Pemikiran
Tempat Kerja
Potensi Bahaya Kebakaran:
1.Penggunaan CNG dan LPG 2.Listrik bertegangan
Kebijakan Tanggap Darurat
Identifikasi Bahaya Kebakaran
Manajemen Tanggap Darurat Kebakaran:
1.Perencanaan Awal Tanggap Darurat 2.Organisasi Keadaan Darurat
3.Pembinaan dan Pelatihan Tanggap Darurat
Jika Terjadi Kebakaran
Sarana Proteksi Aktif
Prosedur Tanggap Darurat
Sarana Penyelamat Jiwa
Pemulihan Setelah Kondisi Darurat : 1.Investigasi
2.Pelaporan
3. Inspeksi dan Audit
Kondisi Normal