commit to user BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Tempat kerja
Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, terbuka atau tertutup, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja, untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber-sumber bahaya baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air dan di udara (Tarwaka, 2008).
2. Potensi bahaya (Hazard)
Potensi bahaya adalah suatu keadaan yang memungkinkan atau berpotensi terhadap terjadinya kejadian kecelakaan berupa cedera, penyakit, kematian, kerusakan atau kemampuan melaksanakan fungsi operasional yang telah di tetapkan (Tarwaka, 2008).
3. Potensi bahaya kebakaran
Potensi bahaya kebakaran adalah segala sesuatu keadaan yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran. Oleh karena itu, diperlukan untuk identifikasi bahaya kebakaran. Untuk dapat mengidentifikasi dan mengevaluasi potensi bahaya kebakaran secara akurat dan tepat, diperlukan pemahaman secara inci tentang karakteristik dari tipikal kebakaran yang
mungkin terjadi berdasarkan kategori dan klasifikasi potensi kebakaran, sehingga dengan demikian maka dapat diketahui upaya pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran yang tepat dan sesuai dengan potensi bahayanya (Taufik Tardianto, 2006).
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 Tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan, bahaya kebakaran adalah bahaya yang diakibatkan oleh adanya ancaman potensial dan derajat terkena pancaran api sejak dari awal terjadi kebakaran hingga penjalaran api, asap dan gas yang ditimbulkan.
4. Identifikasi potensi bahaya
Identifikasi potensi bahaya (hazard) merupakan suatu proses yang dapat dilakukan untuk mengenali seluruh situasi atau kejadian yang berpotensi sebagai penyebab terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang mungkin timbul di tempat kerja. Suatu hazard di tempat kerja mungkin nampak jelas dan kelihatan seperti sebuah tangki berisi bahan kimia, atau mungkin juga tidak nampak dengan jelas atau tidak kelihatan, seperti; radiasi, gas pencemar udara (Tarwaka, 2008).
Menurut Kepmenaker No. 186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja, identifikasi potensi bahaya kebakaran diperlukan karena kewajiban pengurus mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran di tempat kerja meliputi :
a. Pengendalian setiap bentuk energi
b. Penyediaan sarana deteksi, alarm, memadamkan kebakaran dan sarana evakuasi.
c. Pengendalian penyebaran asap, panas dan gas.
d. Penyelenggaraan latihan dan gladi penanggulangan kebakaran secara berkala.
e. Memiliki buku rencana penanggulangan keadaan darurat kebakaran, bagi tempat kerja yang memperkerjakan lebih dari 50 (lima puluh) orang tenaga kerja dan atau tempat yang berpotensi bahaya kebakaran sedang dan berat.
5. Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang jelas tidak dikehendaki dan sering kali tidak terduga semula yang dapat menimbulkan kerugian baik waktu, harta benda atau properti maupun korban jiwa yang terjadi di dalam suatu proses kerja industri atau yang berkaitan dengannya (Tarwaka, 2008).
6. Kebakaran
Peristiwa terbakar adalah suatu reaksi yang hebat dari zat yang mudah terbakar dengan zat asam. Reaksi kimia yang terjadi bersifat mengeluarkan panas. Pada beberapa zat, reaksi tersebut mungkin terjadi pada suhu udara biasa. Namun pada umumnya reaksi tersebut berlangsung sangat lambat dan panas yang ditimbulkan hilang ke sekeliling (Suma’mur, 1993).
Menurut PT. INKA (Persero), kebakaran memiliki dua pengertian yaitu :
a. Suatu proses dari karakterisitik pembakaran melalui panas atau asap atau nyala atau adanya perpaduan dari ketiga-tiganya.
b. Suatu proses pengoksidasian cepat yang pada umumnya menghasilkan panas dan cahaya.
Berdasarkan pada dua pengertian tesebut dapat diambil kesimpulan bahwa kebakaran/pembakaran adalah suatu proses yang menghasilkan panas, asap dan nyala. PT. INKA (Persero) juga mengklasifikasikan kebakaran menjadi 4 kelas yaitu meliputi :
a. Kelas A
Kebakaran dari bahan-bahan padat non logam yang mudah terbakar, seperti kayu, plastik, tekstil, kertas dan sebagainya.
b. Kelas B
Kebakaran dari bahan cair atau gas, seperti bensin, solar, asitelin dan sebagainya.
c. Kelas C
Kebakaran yang disebabkan oleh arus listrik seperti konsleting, kelebihan arus dan sebagainya.
d. Kelas D
Kebakaran dari bahan-bahan logam, seperti titanium, alumunium dan sebagainya.
Timbulnya nyala api sebenarnya merupakan reaksi dari tiga unsur yaitu bahan bakar, panas dan oksigen. Hal ini sering disebut dengan segitiga api. Namun sekalipun ketiga unsur tersebut telah menyatu, tidak akan terjadi kebakaran/penyalaan jika tidak disertai rantai reaksi yang berkesinambungan. Jadi penyalaan akan terjadi jika terjadi reaksi antara ketiga unsur tersebut dengan cepat dan komposisi seimbang. Sedangkan untuk mencegah terjadinya kebakaran adalah menghindarkan bertemunya tiga unsur api (bahan bakar, panas dan oksigen).
Menurut PT. INKA (Persero) metode penanggulangan atau pemadaman kebakaran terdiri dari 3 macam yaitu :
a. Penguraian/pemisahan/starvation
Merupakan sistem pemadaman dengan cara memisahkan atau menjauhkan benda-benda yang mudah atau dapat terbakar. Metode ini cocok untuk jenis kebakaran kelas A.
b. Pendinginan atau Cooling
Merupakan sistem pemadaman dengan cara menurunkan panas, dalam hal ini air merupakan bahan pemadam yang pokok. Metode ini cocok untuk jenis kebakaran kelas A dan kelas D.
c. Isolasi/lokalisasi/smoothering
Merupakan sistem pemadaman dengan cara mengurangi kadar oksigen pada lokasi sekitar benda-benda yang terbakar. Metode isolasi ini cocok untuk jenis kebakaran kelas B, C dan D.
7. Keadaan Darurat
Keadaan dimana terjadi kebakaran, peledakan, kegagalan tenaga atau bahaya-bahaya lain yang dapat mengancam dan menghambat jalannya proses produksi, dimana sumber daya dan manajemen masih mampu menanggulangi berdasarkan prosedur yang ada (PT. INKA (Persero), 2007).
PT. INKA (Persero) membagi keadaan darurat menjadi 2 kategori yaitu :
a. Keadaan Darurat Kecil (Minor Emergency)
Keadaan darurat yang dapat ditanggulangi dengan menggunakan perangkat dan fasilitas yang tersedia di dalam PT. INKA (Persero) tanpa bantuan dari instansi terkait/diluar PT. INKA (Persero).
b. Keadaan Darurat Besar (Major Emergency)
Keadaan darurat yang tidak dapat ditanggulangi dengan menggunakan perangkat dan fasilitas yang tersedia di dalam perusahaan dan harus dilakukan dengan bantuan dan koordinasi dengan instansi terkait/PT. INKA (Persero).
8. Tanggap darurat kebakaran
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 Tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan, Sistem tanggap darurat adalah salah satu atau kombinasi dari metode yang digunakan pada bangunan untuk memperingatkan orang terhadap keadaan darurat, penyediaan
tempat penyelamatan, membatasi penyebaran kebakaran, pemadaman kebakaran , termasuk disini sistem proteksi pasif dan aktif.
Tanggap darurat adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana (Soehatman Ramli, 2010).
Tanggap adalah tindakan segera yang dilakukan untuk mengatasi kejadian bencana misalnya dalam suatu proses kebakaran atau peledakan di lingkungan industri, (Soehatman Ramli, 2010) :
a. Memadamkan kebakaran atau ledakan.
b. Menyelamatkan manusia dan korban (rescue).
c. Menyelamatkan harta benda dan dokumen penting (salvage).
d. Perlindungan masyarakat umum.
Tanggap darurat merupakan elemen penting dalam SMK3, untuk menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Tujuan K3 adalah untuk mencegah kejadian atau kecelakaan yang tidak diinginkan.
Namun demikian, jika sistem pencegahan mengalami kegagalan sehingga terjadi kecelakaan, hendaknya keparahan atau konsekuensi yang ditimbulkan dapat ditekan sekecil mungkin. Untuk itu diperlukan sistem tanggap darurat sistem tanggap darurat guna mengantisipasi berbagai
kemungkinan seperti kecelakaan, kebakaran/ peledakan, bocoran bahan kimia atau pencemaran (Soehatman Ramli, 2010).
9. Manajemen Tanggap Darurat a. Perencanaan Tanggap Darurat
Setelah semua potensi keadaan darurat diidentifikasi, dilakukan perencanaan awal (preplanning) untuk mengetahui dan mengembangkan strategi pengendaliannya. Berbagai kemungkinan keadaan darurat disimulasikan dalam bentuk skenario keadaan darurat mulai dari kecil sampai keadaan terburuk yang dapat terjadi. Dari rencana awal ini dapat diketahui apa saja sumber daya yang diperlukan strategi pengendalian yang tepat, pengorganisasian dan sistem komunikasi serta dampak terhadap lingkungan sekitar (Soehatman Ramli, 2010).
Menurut Syukri Sahab (1997), setiap rencana suatu tindakan keadaan darurat harus praktis, sederhana, dan mudah dimengerti yang mencakup berbagai skenario keadaan darurat. Kerugian yang ditimbulkan oleh keadaan darurat jika tidak diantisipasi akan sangat desar. Rencana keadaan darurat juga harus memuat hal-hal sebagai berikut :
1) Pembagian tanggung jawab yang jelas pada setiap satuan kerja/tugas, baik tanggung jawab kelompok maupun perorangan 2) Tersedianya tenaga terampil dan siap setiap saat untuk
melaksanakan tugas yang telah ditentukan dengan cepat dan baik
3) Gerakan segera setiap satuan kerja/tugas yang sesuai dengan pembagian tugas dan tanggung jawab dalam rencana keadaan darurat apabila tanda bahaya berbunyi.
b. Organisasi Tanggap Darurat
Menurut Kepmen No.186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran Di tempat Kerja, organisasi tenggap darurat kebakaran adalah satuan tugas yang mempuyai tugas khusus fungsional di bidang kebakaran.
Berdasarkan ketentuan organisasi tanggap darurat menurut Kepmen No.186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran Di tempat Kerja, diantaranya :
1) Terdapat organisasi tanggap darurat
2) Petugas penanggung jawab yang terlatih dan terdidik
3) Setiap petugas penanggung jawab mempunyai tugas dan fungsi masing-masing.
Selain itu berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 50 Tahun 2012 tentang penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, personil organisasi haruslah mempunyai tanggung jawab, wewenang, dan kewajiban yang jelas dalam penanganan K3.
c. Pelatihan
Penanggulngan keadaan darurat tidak akan berhasil jika tidak ditangani oleh petugas yang kompeten. Ciri khas dalam setiap penanggulangan keadaan darurat adalah terjadinya kepanikan,
hilangnya rantai komando yang telah disusun dan kurangnya disiplin dan tanggung jawab. Untuk menjamin keberhasilan sistem manajemen darurat diperlukan upaya pembinaan dan pelatihan yang terencana dan berkesinambungan khususnya bagi mereka yang terlibat dala rantai komando sehingga mengetahui peran dan tanggung jawabnya.
Pelatihan dapat dikemas dalam bentuk simulasi (table disk simulation), permainan peran atau uji coba dalam kondisi dalam
berbagai bentuk skenario (Soehatman Ramli, 2010).
Tim pelaksana misalnya tim pemadam kebakaran, medis, keamanan dan lainnya juga perlu diberi pelatihan sehingga mampu menjalankan tugasnya dengan tepat dan cepat (Soehatman Ramli, 2010).
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI No. 50 Tahun 2012 tentang penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, petugas penanganan keadaan darurat ditetapkan dan diberikan pelatihan khusus serta diinformasikan kepada seluruh orang yang ada di tempat kerja. Dan menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 TentangPersyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan, yang menyatakan bahwa latihan menuju jalan ke luar dan menuju relokasi darurat, dimana dipersyaratkan untuk seluruh klasifikasi hunian bangunan gedung, harus dilaksanakan dengan frekuensi yang cukup untuk membiasakan penghuni dengan prosedur latihan dan
pelaksanaan latihan yang merupakan hal rutin. Latihan termasuk prosedur yang sesuai untuk memastikan bahwa semua orang berpartisipasi dalam latihan.
10. Sarana Proteksi Aktif
Definisi sarana proteksi aktif menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 Tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan adalah sistem proteksi kebakaran yang secara lengkap terdiri atas sistem pendeteksian kebakaran baik manual ataupun otomatis, sistem pemadam kebakaran berbasis air seperti sprinkler, pipa tegak dan slang kebakaran, serta sistem pemadam kebakaran berbasis bahan kimia, seperti APAR dan pemadam khusus.
Tujuan dari sistem proteksi aktif menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 adalah:
a. Melindungi penghuni dari kecelakaan atau luka, dengan memperingatkan kepada penghuni akan adanya suatu kebakaran, sehingga dapat melaksanakan evakuasi dengan aman.
b. Melindungi penghuni dari kecelakaan atau luka pada waktu melakukan evakuasi pada saat kejadian kebakaran.
Fungsi dari sistem proteksi aktif menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008, suatu bangunan dilengkapi dengan sarana proteksi kebakaran sedemikian rupa sehingga:
a. Penghuni diperingatkan akan adanya suatu kebakaran dalam bangunan sehingga dapat melaksanakan evakuasi dengan aman.
b. Penghuni mempunyai waktu untuk melakukan evakuasi secara aman sebelum kondisi pada jalur evakuasi menjadi tidak tertahankan oleh akibat kebakaran.
Sarana proteksi aktif kebakaran menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 meliputi :
a. APAR
Menurut Permenaker No. 04/MEN/1980 tentang syarat- syarat pemasangan dan pemeliharaan APAR, alat pemadam api ringan (APAR) adalah alat yang ringan serta mudah dilayani oleh satu orang untuk memadamkan api pada mula terjadi kebakaran.
Sedangkan menurut NFPA (2002), alat pemadam api ringan adalah alat yang ringan yang digunakan oleh satu orang untuk memadamkan api pada mulai terjadi kebakaran. Media pemadaman api yang umum dipakai untuk alat pemadam api ringan adalah air, busa, serbuk kimia kering, dan karbon dioksida (CO2).
Menurut PT. INKA (Persero) (2010), setiap jenis APAR memiliki fungsi sendiri-sendiri untuk memadamkan kebakaran.
Penggunaan APAR berdasarkan jenis kebakaran tersaji pada tabel 1 :
commit to user
Tabel 1. Penggunaan Alat Pemadam Berdasar Jenis Kebakaran
Catatan : √ dapat digunakan √√ paling tepat digunakan
- tidak dapat digunakan
Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per‐04/MEN/1980 Tentang Syarat‐Syarat Jenis Bahan yang
Terbakar
Media Pemadam yang Digunakan Api Kecil Memakai APAR
Api Besar
CO2 Tepung Busa Air
Benda-benda dimana sisa yang terbakar
meninggalkan arang/ abu
√ √√ √ √√
Air bertekanan dengan
menggunakan jet, spray nozzle Plastik, lilin, cat,
lemak, gemuk, oli, pernis, alkohol, ester, bensin dan minyak hidrokarbon lainnya
√√ √√ √√ -
Busa atau light water, air bertekanan dengan menggunakan fog nozzle
Gas methan, propan, asitelin dan lain sebagainya
√√ √√ - -
Tutup aliran atau sumbernya kemudian pergunakan uap air, gas nitrogen atau gas CO2
bertekanan Listrik yang masih
bertekanan √√ √√ Tepung kering,
CO2
Kendaraan bermotor √√ √√
Logam magnesium, alumunium,
uranium, titanium, zirconiumor
Khusus hanya dengan methal dry powder yang merupakan campuran bahan sodium, potasium dan barium clorida
pemasangan APAR yang sesuai apabila memenuhi syarat sebagai berikut :
1) Setiap satu atau kelompok alat pemadam api ringan harus ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat dengan jelas, mudah dicapai dan diambil serta dilengkapi dengan pemberian tanda pemasangan.
2) Pemberian tanda pemasangan tersebut harus sesuai dengan lampiran I.
3) Tinggi pemberian tanda pemasangan tersebut adalah 125 cm dari dasar lantai tepat diatas satu atau kelompok alat pemadam api ringan bersangkutan.
4) Pemasangan dan penempatan alat pemadam api ringan harus sesuai dengan jenis dan penggolongan kebakaran.
5) Penempatan antara alat pemadam api yang satu dengan lainnya atau.kelompok satu dengan lainnya tidak boleh melebihi 15 meter, kecuali ditetapkan lain oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja.
6) Semua tabung alat pemadam api ringan sebaiknya berwarna merah.
b. Alarm Kebakaran
Menurut NFPA (2002), alarm kebakaran adalah komponen dari sistem yang memberikan isyarat atau tanda adanya suatu kebakaran. Sistem alarm kebakaran terdapat dua jenis sistem, yaitu :
1) Sistem alarm kebakaran manual, yang memungkinkan seseorang menyatakan tanda-tanda bahaya segera secara memijit atau menekan tombol dengan tangan.
2) Sistem otomatis, yang menemukan kebakaran dan memberikan tanda secara sendiri tanpa dikendalikan orang.
Kepmenaker No. 186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran Di tempat Kerja, pengurus memiliki kewajiban mencegah, mengurangi, dan memadamkan kebakaran di tempat kerja meliputi penyediaan sarana deteksi, alarm, pemadam kebakaran dan sarana evakuasi.
11. Sarana Penyelamat Jiwa
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 Tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan, sarana penyelamatan adalah sarana yang dipersiapkan untuk dipergunakan oleh penghuni maupun petugas pemadam kebakaran dalam upaya penyelamatan jiwa manusia maupun harta-benda bila terjadi kebakaran pada suatu bangunan gedung dan lingkungan.
Tujuan sarana penyelamatan menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 Tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan adalah mencegah terjadinya kecelakaan atau luka pada waktu melakukan evakuasi pada saat keadaan darurat terjadi. Sedangkan
fungsi setiap bangunan harus dilengkapi dengan sarana evakuasi yang dapat digunakan oleh penghuni bangunan, sehingga memiliki waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa terhambat hal-hal yang diakibatkan oleh keadaan darurat.
Sarana penyelamat jiwa menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 meliputi :
a. Sarana Jalan Keluar
Secara ideal, semua bangunan harus memiliki sekurang- kurangnya dua jalan penyelamat diri pada dua arah yang bertentangan terhadap setiap kebakaran yang terjadi pada sembarangan tempat dalam bangunan tersebut, sehingga tak seorangpun bergerak kearah api untuk menyelamatkan diri. Jalan- jalan penyelamatan demikian harus dipelihara bersih, tidak terhalang oleh barang-barang, mudah terlihat dan di beri tanda tanda yang jelas (Suma’mur, 1993).
Jauh maksimum jalan penyelamatan yang pada umumnya diterima adalah sekitar 40 m, sekalipun pada bangunan-bangunan yang resiko kebakarannya kecil atas dasar sifat tahan api jarak tersebut dapat diperbesar menjadi 50 m. Sebaliknya, manakala bahaya perembetan api sangat cepat, jarak tersebut harus dikurangi, katakanlah menjadi menjad 30 m atau kurang dari 30m. Jarak tersebut harus diperhitungkan menurut keadaan sebenarnya dan tidak
menurut garis lurus sebagai akibat barang-barang atau hadangan yang ada (Suma’mur, 1993).
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 Tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan, Sarana atau jalan ke luar dari bangunan harus disediakan agar penghuni bangunan dapat menggunakannya untuk penyelamatan diri dengan jumlah, lokasi dan dimensi sarana ke luar tersebut sesuai dengan:
1) Jarak tempuh
2) Jumlah, mobilitas dan karakter lain dari penghuni bangunan gedung
3) Fungsi atau penggunaan bangunan 4) Tinggi bangunan gedung
5) Arah sarana ke luar apakah dari atas bangunan gedung atau dari bawah level permukaan tanah.
Selain itu jalan ke luar harus ditempatkan terpisah dengan memperhitungkan:
1) Jumlah lantai bangunan yang dihubungkan oleh jalan ke luar tersebut
2) Sistem proteksi kebakaran yang terpasang pada bangunan gedung 3) Fungsi atau penggunaan bangunan gedung
4) Jumlah lantai yang dilalui
5) Tindakan petugas Pemadam Kebakaran
Agar penghuni atau pemakai bangunan dapat menggunakan jalan ke luar tersebut secara aman, maka jalur ke jalan ke luar harus memiliki dimensi yang ditentukan berdasarkan:
1) Jumlah, mobilitas dan karakter-karakter lainnya dari penghuni atau pemakai bangunan gedung.
2) Fungsi atau pemakaian bangunan gedung.
b. Komunikasi
Komunikasi memegang peranan penting mendukung keberhasilan sistem tanggap daruarat. Komunikasi dapat dikelompokkan atas komunikasi internal dan komunikasi eksternal.
Komunikasi internal harus dirancang mulai dari diteksi keadaan darurat sampai ke penanggulangannya. Komunikasi eksternal dengan pemerintah daerah atau masyarakat sekitar kegiatan organisasi untuk mencegah kepanikan atau jatuhnya korban yang tidak diinginkan.
Masyarakat seharusnya diberi informasi yang jelas mengenai kondisi keadaan darurat, potensi bahaya yang dapat timbul serta langkah- langkah pengamanan yang diperlukan (Soehatman Ramli, 2010).
c. Pintu Darurat
Pintu darurat harus tahan api (ILO 1989), pintu darurat juga harus diberi tanda sehingga dibedakan dengan pintu yang lain. Pintu darurat harus diatur sedemikian rupa sehingga dimana saja dapat menjangkaunya tidak melebihi jarak yang telah ditetapkan sesuai dengan klasifikasi kebakaran. Setiap gedung harus memiliki pintu
kebakaran sebagai pintu darurat untuk keluar. Pintu darurat harus memenuhi ketentuan, seperti : berhubungan langsung dengan tempat jalan keluar, memiliki lebar yang memadai , dilengkapi dengan batang panic dan tahan api beberapa jam.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 Tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan menyatakan bahwa eksit, selain pintu eksit utama dibagian luar bangunan gedung yang jelas dan nyata diidentifikasi sebagai eksit, harus diberi tanda dengan sebuah tanda yang disetujui yang mudah terlihat dari setiap arah akses eksit.
d. Sumber Daya Darurat
Pada peristiwa kebakaran, biasanya disertai dengan padamnya aliran listrik utama. Oleh karena itu, penting disediakan sumber energi cadangan untuk penerangan darurat, baik pada tanda arah jalan keluar maupun jalur evakuasi. Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 Tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan, pasokan daya listrik dari sumber utama (primer) dan darurat harus memenuhi ketentuan teknis yang berlaku dan digunakan antara lain untuk mengoperasikan peralatan sebagai berikut :
1) Pencahayaan darurat,
2) Sarana komunikasi darurat, 3) Lift kebakaran,
4) Sistem deteksi dan alarm kebakaran, 5) Sistem pipa tegak dan slang kebakaran, 6) Sistem sprinkler kebakaran otomatis, 7) Alat pengendalian asap,
8) Pintu tahan api otomatis, 9) Ruang pengendali kebakaran.
Selain itu menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 Tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan, daya listrik yang dipasok untuk mengoperasikan sistem daya darurat diperoleh sekurang-kurangnya dari dua sumber tenaga listrik sebagai berikut:
1) Sumber Daya Listrik dapat diperoleh dari PLN dan atau sumber darurat berupa baterai, generator dan lain-lain.
2) Sumber daya listrik darurat harus direncanakan dapat bekerja secara otomatis apabila sumber daya utama tidak bekerja dan harus dapat bekerja setiap saat.
3) Bangunan atau ruangan yang sumber daya utamanya dari PLN harus dapat juga dilengkapi dengan generator sebagai sumber daya darurat dan penempatannya harus memenuhi Tingkat Ketahanan Api (TKA) yang berlaku,
e. Tanda Petunjuk Keluar
Arah jalan keluar harus diberi tanda yang dapat terlihat jelas dan mudah ditemukan. Dalam keadaan terancam biasanya muncul keragu-raguan. Kejelasan arah jalan keluar, karena dalam suatu gedung bangunan mungkin saja ada pegawai atau pengunjung yang tidak mengenal dengan baik letak jalan keluar di gedung bagunan tersebut (ILO, 1989).
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 Tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan, eksit selain pintu eksit utama dibagian luar bangunan gedung yang jelas dan nyata diidentifikasi sebagai eksit, harus diberi tanda dengan sebuah tanda yang disetujui yang mudah terlihat dari setiap arah akses eksit.
Selain itu akses ke eksit harus diberi tanda dengan tanda yang disetujui, mudah terlihat disemua keadaan dimana eksit atau jalan untuk mencapainya tidak tampak langsung oleh penghuni. Selain itu tanda yang digunakan dapat berupa simbol berupa gambar maupun tulisan dalam huruf datar yang dapat dibaca, atau kata yang tepat digunakan adalah EKSIT.
f. Titik Berkumpul
Titik berkumpul atau titik aman adalah bagian dari bangunan dimana pekerja dapat terlindungi dari api dan asap kebakaran sampai pekerja dapat diselamatkan.
Titik berkumpul atau Assembly point tidak sembarang mdalam menentukan letaknya. Ada beberapa pertimbangan dalam hal menentukan letak assembly point yaitu berjarak cukup jauh dan aman dari jatuhan dan bahaya lainnya, lokasinya memiliki akses menuju tempat yang lebih aman serta tidak menghalangi kendaraan penanggulangan keadaan bahaya, bebas dari kemungkinan bahaya lain, diuji secara periodik dengan situasi aktual, namun dilengkapi dengan perhitungan empiris (Fajar Ichwan, 2011).
Assembly point juga menyediakan ruang 30 cm2untuk satu orang (tanpa melihat ukuran gemuk/kurusnya) dan dengan tinggi 2 m (minimum) atau lebih tinggi. Ini dikalikan jumlah orang yang mampu ditampung dalam assembly point tersebut sehingga didapat jumlah luas minimal assembly point yang dibutuhkan. Beberapa bangunan instansi pemerintahan dan perusahaan swasta ada yang menetapkan ruang per orang 35-45 cm2(Fajar Ichwan, 2011).
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 Tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan, tempat aman adalah :
1) Suatu tempat aman di dalam bangunan gedung, seperti : a) Yang tidak ada ancaman api.
b) Dari sana penghuni bisa secara aman berhambur setelah menyelamatkan diri dari keadaan darurat menuju tempat lain atau ruang terbuka, atau
2) Suatu jalan atau ruang terbuka.
12. Prosedur Tanggap Darurat
Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 50 Tahun 2012 tentang penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Perusahaan harus memiliki prosedur sebagai upaya menghadapi keadaan darurat kecelakaan dan bencana industri, yang meliputi:
a. penyediaan personil dan fasilitas P3K dengan jumlah yang cukup dan sesuai sampai mendapatkan pertolongan medik; dan
b. proses perawatan lanjutan.
Prosedur menghadapi keadaan darurat harus diuji secara berkala oleh personil yang memiliki kompetensi kerja, dan untuk instalasi yang mempunyai bahaya besar harus dikoordinasikan dengan instansi terkait yang berwenang untuk
13. Prosedur pemulihan setelah keadaan darurat
Organisasi perlu membuat prosedur rencana pemulihan keadaan darurat sebagai bagian dari rencana keadaan darurat/ bencana untuk membantu penyembuhan tenaga kerja di lokasi secepat mungkin setelah kejadian berakhir. Dengan prosedur tersebut perusahaan dapat mengurangi waktu yang diperlukan mengembalikan ke operasi normal dan membantu tenaga kerja yang cidera. Setelah krisis ditanggulangi,
rencana pemulihan keadaan darurat dilakukan jika kegiatan operasional tidak berjalan. Jika tidak, kehilangan waktu dalam pemulihan akan memakan produksi organisasi (ISO 14001, 1996).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 50 Tahun 2012 tentang penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja menyatakan bahwa dalam melaksanakan rencana dan pemulihan keadaan darurat setiap perusahaan harus memiliki prosedur rencana pemulihan keadaan darurat secara cepat untuk mengembalikan pada kondisi yang normal dan membantu pemulihan tenaga kerja yang mengalami trauma. Serta prosedur untuk pemulihan kondisi tenaga kerja maupun sarana dan peralatan produksi yang mengalami kerusakan harus ditetapkan dan dapat diterapkan sesegera mungkin setelah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
B. Kerangka Pemikiran
Keterangan : = belum terjadi = apabila terjadi
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Tempat Kerja
Manajemen Tanggap Darurat Kebakaran Identifikasi Bahaya Kebakaran
Perencanaan Tanggap
Darurat Organisasi Tanggap
Darurat
Pelatihan
Sarana Proteksi Aktif Jika Terjadi Bahaya Kebakaran
Sarana Penyelamat Jiwa Prosedur Tanggap Darurat
Rencana Pemulihan
Normal Potensi Bahaya
Potensi Bahaya Kebakaran
Potensi Bahaya Lain