ANDI RESKI ANGRAWAN 1057 202 55710
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR
2014
Bahan Baku Pada CV. Utama Jaya di Makassar Nama Mahasiswa : Andi Reski Anugrawan
No. Stambuk : 105720255710
Jurusan : Manajemen Perusahaan Fakultas : EKONOMI
Perguruan Tinggi : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Makassar, April 2014
Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Sultan Sarda. MM Samsul Rizal SE.MM
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ekonomi Ketua Jurusan Manajemen
Dr. H. Mahmud Nuhung, SE, MA Drs. Muh Aris Pasigai, MM
pengendalian persediaan bahan baku pada cv. Utama jaya, Skripsi, Jurusan manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Makassar Kata
Dalam operasinya perusahaan membutuhkan bahan baku untuk proses produksinya . Untuk itu perusahaan harus mengadakan persediaan bahan baku yang mana perusahaan harus terlebih dahulu melakukan peramalan produksi. Dalam pengadaan persediaan bahan baku perusahaan akan berusaha memperkecil segala hal yang berhubungan dengan biaya agar pengeluaran perusahaan dapat ditekan sekecil mungkin dalam mencapai hasil operasi perusahaan yang optimal.
Analisa yang dilakukan pada CV.Utama Jaya adalah untuk mengetahui apakah pembelian bahan baku kain jeans yang dilakukan sudah ekonomis atau belum. Metode yang digunakan adalah metode EOQ. Dimana analisis EOQ membahas keterkaitan antara kebutuhan bahan baku, harga, biaya pesan dan biaya simpan. Dari analisis ini, dapat dilihat bahwa jumlah pembeliaan bahan baku yang dilakukan oleh perusahaan kurang ekonomis yaitu 16 kali pemesanan, sedangkan pembelian bahan baku dengan metode EOQ adalah sebanyak 12 kali, ini berarti dengan metode EOQ lebih ekonomis sehingga akan menghemat pengeluaran biaya persediaan dan dapat mencegah resiko kekurangan bahan baku.
Daftar pustaka, 2004/2006
Kunci : Pengendalian Persediaan, CV. Utama jaya
Penyayang atas nikmat dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan penulisan skripsi ini.
Penyusunan penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat guna mencapai gelar Sarjana Muda pada Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar
Dalam menyusun penulisan skripsi ini, penulis telah banyak memperoleh bantuan maupun bimbingan dari berbagai pihak, dan untuk itu penulis hanya dapat mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis ingin pula menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. DR. irwan akib M.pd ., rektor universitas muhammadiyah Makassar yang telah memberikan fasilitas dan pendidikan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi pada universitas muhammadiyah.
2. Bapak.dr. H.mahmud nuhung SE, MA., dekan fakultas ekonomi universitas muhammadiyah Makassar dan pembimbing yang telah memberikan fasilitas dan pendidikan serta telah memberikan bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi pada universitas muhammadiyah makassar.
3. Bapak Drs.muh. aris pasigai MM., ketua jurusan yang telah memberikan seorang pembimbing sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
4. Perusahaan CV.Utama jaya khususnya kepada Bapak Suparno beserta staffnya yang telah membantu memberikan ijin bagi penulis untuk mengambil data-data yang penulis butuhkan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini
Penulis secara khusus mengucapkan terimakasih kepada orang tua atau ibu, serta teman-teman saya khususnya yang telah membantu mengantar penulis ke
menerima segala saran, demi kebaikan dan kesempurnaan penulisan skripsi ini.
Makassar April 2014 Penulis
Andi reski anugrawan
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... ii
ABSTRAK ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 2
C. Tujuan Penelitian ... 2
D. Manfaat Penelitian ... 3
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4
A. Pengertian Persediaan ... 4
B. Jenis-jenis Persediaan ... 6
C. Fungsi Persediaan ... 9
D. Macam-macam Biaya dalam Persediaan ... 12
E. Pengertian Pengendalian Persediaan ... 14
B. Metode Pengumpulan Data ... 23
C. Jenis dan Sumber Data ... 23
D. Pengumpulan Data ... 24
E. Metode Analisis Data ... 24
IV. PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN ... 27
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 27
1. Sejarah Berdirinya CV. Utama Jaya ... 27
2. Pengorganisasian CV. Utama Jaya ... 29
B. Analisis peramalan dan pengendalian persediaan C. Bahan baku pada cv. Utama Jaya ... 35
1. Kebijaksanaan Persediaan Bahan Baku CV. Utama Jaya ... 35
2. Rencana Pengembangan ... 43
D. KESIMPULAN DAN SARAN ... 58
A. Kesimpulan ... 58
B. Saran ... 59 DAFTAR PUSTAKA
Tabel 4.1 Tabel kebutuhan bahan baku ... 55
Tabel 4.2 Tabel jumlah produksi celana jeans tahun 2002 - 2009 ... 56
Tabel 4.3 Tabel perhitungan trend setengah rata-rata... 57
Tabel 4.4 Tabel peramalan dengan metode Least Square ... 59
Tabel 4.5 Tabel korelasi hasil produksi dengan kebutuhan bahan baku .... 61
Tabel 4.6 Tabel economic order quantity ... 67
Halaman
Bagan struktur perusahaan ... 39 Hubungan ROP dengan EOQ ... 72
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar pemakaian bahan baku tahun 2002-2009 ... 78 Lampiran 2 Surat keterangan dari CV. Utama Jaya ... 79
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... ii
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... B. Rumusan Masalah ... 2
C. Tujuan Penelitian ... 2
D. Manfaat Penelitian ... 3
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4
A. Pengertian Persediaan ... 4
B. Jenis-jenis Persediaan ... 6
C. Fungsi Persediaan ... 9
D. Macam-macam Biaya dalam Persediaan ... 12
E. Pengertian Pengendalian Persediaan ... 14
F. Hipotesis ... 20
B. Metode Pengumpulan Data ... 23
C. Jenis dan Sumber Data ... 23
D. Pengumpulan Data ... 24
E. Metode Analisis Data ... 24
IV. PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN ... 27
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 27
1. Sejarah Berdirinya CV. Utama Jaya ... 27
2. Pengorganisasian CV. Utama Jaya ... 29
B. Analisis peramalan dan pengendalian persediaan bahan baku pada cv. Utama Jaya ... 35
1. Kebijaksanaan Persediaan Bahan Baku CV. Utama Jaya ... 35
2. Rencana Pengembangan ... 43
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 58
A. Kesimpulan ... 58
B. Saran ... 59 DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Semakin berkembangnya jaman, maka terjadi pula perkembangan dalam bidang teknologi yang menyebabkan berkembangnya industri-industri baik itu berat, sedang maupun ringan. Dalam persaingan bisnis yang semakin ketat dewasa ini, mengharuskan perusahaan bertindak dengan hati- hati dan cermat dalam menentukan kebijakan strategi usahanya, karena apabila perusahaan mengambil kebijakan yang salah maka akan mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan.
Dalam perusahaan bahan baku sangat berpengaruh dalam operasinya karna bahan baku adalah bahan utama dalam produksinya.
Untuk kelangsungan proses produksi suatu perusahaan , maka salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah adanya persediaan bahan baku.
Persediaan adalah salah satu kekayaan yang meliputi barang barang milik perusahaan dengan maksud untuk di jual atau persediaan barang yang masih dalam proses produksi., ataupun persediaan bahan baku yang menunggu untuk di gunakan dalam suatu proses produksi.
Dalam kegiatan di suatu perusahaan, jumlah persediaan akan sangat berpengaruh terhadap keuntungan yang akan diperoleh oleh suatu perusahaan. Apabila persediaan bahan baku suatu perusahaan terlalu besar, maka akan membutuhkan dana yang cukup besar, misalnya biaya
penyimpanan di gudang, biaya pemesanan dan resiko yang akan ditanggung apabila bahan baku yang disimpan menjadi rusak atau tidak layak pakai.
Dan sebaliknya apabila persediaan perusahaan terlalu kecil maka akan mengganggu kelancaran atau kelangsungan proses produksi perusahaan.
Sehingga untuk menjaga kelancaran atau kelangsungan proses produksi, perusahaan perlu melakukan pengendalian terhadap persediaan.
Karena persediaan juga berhubungan langsung dalam proses produksi untuk mencapai target produksi yang sudah ditetapkan perusahaan sehingga dapat memenuhi permintaan pelanggan.
Oleh sebab itu setiap perusahaan haruslah dapat mempertahankan jumlah persediaan yang optimal baik dalam jumlah dan biayanya. Dalam hubungan ini maka diperlukan suatu kebijakan pengendalian persediaan demi lancarnya proses produksi.
Berdasarkan uraian di atas penulis mencoba menguraikan bagaimana melakukan perencanaan dan pengendalian persediaan pada CV.
Utama Jaya agar proses produksi dapat efektif dan efisien. Untuk itu penulis tertarik untuk mengambil judul " Analisis Peramalan Dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada CV. Utama Jaya ".
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi pokok permasalahan adalah :”bagaimanakah peramalan dan pengendalian persediaan bahan baku pada CV. Utama jaya ?”.
C. Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis peramalan atau perkiraan kebutuhan bahan baku (pakaian) CV. Utama Jaya pada tahun 2003, serta untuk mengetahui jumlah persediaan yang optimal dengan biaya yang minimal, sehingga dapat membantu kelancaran proses produksi.
D. Manfaat penelitian
a. Memberi informasi yang mungkin dapat di terapkan pada perusahaan sehubungan dengan peramalan dan pengendalian bahan baku
b. Sebagai bahan referensi bagi pembaca yang berminat sehubungan dengan masalah peramalan dan pengendalian bahan baku.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Persediaan
Setiap perusahaan, apakah perusahaan itu perusahaan perdagangan ataupun perusahaan pabrik serta perusahaan jasa selalu mengadakan persediaan. Tanpa adanya persediaan, para pengusahaakan dihadapkan pada risiko bahwa perusahaannya pada suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan pelanggan yang memerlukan atau meminta barang atau jasa yang dihasilkan. Hal ini mungkin terjadi, karena tidak selamanya barang-barang atau jasa-jasa tersedia pada setiap saat, yang berarti pula bahwa pengusaha akan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan yang seharusnya ia dapatkan.
Jadi persediaan sangat penting artinya untuk setiap perusahaan baik perusahaan yang menghasilkan suatu barang atau jasa. Persediaan ini diadakan apabila keuntungan yang diharapkan dari persediaan tersebut (terjadinya kelancaran usaha) hendaknya lebih besar daripada biaya-biaya yang ditimbulkannya. Pengertian persediaan menurut Sofjan Assauri(2006,170), Persediaan adalah suatu aktiva yang meliputi barang- barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha yang normal, atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan/proses produksi, ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi.
Jadi persediaan merupakan sejumlah bahan-bahan, parts yang disediakan dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang jadi/produk yang disediakan untuk memenuhi permintaan dari komponen atau langganan setiap waktu.
Pada dasarnya persediaan mempermudah atau memperlancar jalannya operasi perusahaan pabrik yang harus dilakukan secara berturut- turut untuk memprodusir barang-barang serta selanjutnya menyampaikannya pada pelanggan atau konsumen. Persediaan yang diadakan mulai dari yang bentuk bahan mentah sampai dengan barang jadi antara lain berguna untuk :
• Menghilangkan risiko keterlambatan datangnya barang atau bahan- bahan yang dibutuhkan perusahaan.
• Menghilangkan risiko dari material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan.
• Untuk menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran.
• Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi.
• Mencapai penggunaan mesin yang optimal.
• Memberikan pelayanan (service) kepada pelanggan dengan sebaik- baiknya dimana keinginan pelanggan pada suatu waktu dapat dipenuhi atau memberikan jaminan tetap tersedianya barang jadi tersebut.
Ada beberapa pengertian persedian antara lain:Menurut Miswanto dan Eko Widodo (2005) "Persediaan adalah salah satu kekayaan yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual atau sediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan/proses produksi atau operasi, ataupun sediaan bahan baku yang menunggu untuk digunakan dalam suatu proses produksi atau operasi". Menurut Freddy Rangkuti (2003)" Sejumlah bahan-bahan, bagian-bagian yang disediakan dan bahan- bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang jadi/produk yang disediakan untuk memenuhi permintaan dari konsumen atau langganan".
Dengan demikian jelaslah bahwa adanya persediaan dapat mempermudah ataumemperlancar jalannya operasi perusahaan pabrik, yang harus dilakukan secara berturut-turut untuk memproduksi barang- barang, serta selanjutnya menyampaikannya kepada para langganan atau konsumen.
B. Jenis-jenis Persediaan
Menurut Sofjan Assauri (2006:170), jenis-jenis Persediaan Berdasarkan Fungsinya adalah:
a. Batch Stock/Lot Size InventoryYaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan- bahan/barang-barang dalam jumlah yang lebih besar daripada jumlah yang dibutuhkan pada saat itu.
Persediaan ini timbul dimana bahan/barang yang dibeli,
dikerjakan/dibuat atau diangkut dalam jumlah yang besar(bulk), sehingga barang-barang diperoleh leibh banyak dan cepat daripada penggunaan atau pengeluarannya, dan untuk sementara tercipta suatu persediaan. Perlu kita ketahui bahwa adalah relatif lebih menguntungkan apabila kita melakukan pembelian dalam jumlah yang besar,karena kemungkinan untuk mendapatkan potongan harga pembelian, biaya pengangkutan yang lebih murah per unitnya dan penghematan dalam biaya- biaya lainnya yang mungkin diperoleh.
b. Fluctuation StockPersediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan. Dalam hal ini perusahaan mengadakan persediaan untuk dapat memenuhi permintaan konsumen, apabila tingkat permintaan menunjukkan keadaanyang tidak beraturan atau tidak tetap dan fluktuasi permintaan tidak dapat diramalkan lebih dahulu. Jadi apabilaterdapat fluktuasi permintaan yang sangat besar, maka persediaan ini dibutuhkan sangat besar pula untuk menjaga kemungkinan naik turunnya permintaan tersebut.
c. Anticipation StockPersediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan atau permintaan yang meningkat. Disamping itu anticipation stock dimaksudkan pula untuk menjaga kemungkinan sukarnya diperoleh bahan-bahan sehingga tidak mengganggu jalannya produksi atau menghindari kemacetan produksi.
Menurut Sofjan Assauri (2006 :170), jenis-jenis persediaan fisik adalah:
a. Persediaan bahan baku (Raw Materials Stock)Yaitu persediaan dari barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi, barang mana dapat diperoleh dari sumber-sumber alam ataupun dibeli dari suplier atau perusahaan yang menghsilkan bahan baku bagi perusahaan pabrik yang menggunakannya. Bahan baku diperlukan oleh pabrik untuk diolah, yang setelah melalui beberapa proses diharapkan menjadi barang jadi.
b. Persediaan bahan-bahan pembantu atau barang-barang perlengkapan (supplies stock) yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau yang dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen dari barang jadi. Mungkin pula barang setengah jadi itu merupakan bahan baku bagi perusahaan lainnya yang akan memprosesnya menjadi barang jadi.
c. Persedian barang jadi (finished goods) yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual kepada pelanggan atau perusahaan lain. Jadi barang jadi ini adalah merupakan produk selesai dan telah siap untuk dijual. Biaya- biaya yang meliputi pembuatan produk selesai terdiri dari biaya bahan baku, upah buruh langsung, serta biaya overhead yang berhubungan dengan produk tersebut.
d. Persediaan barang setengah jadi atau barang dalam proses (work in process/progress stock) Yaitu persediaan barang-barang yang keluar dari tiap-tiap bagian dalam satu pabrik atau bahan-bahan yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi lebih perlu diproses kembali untuk kemudian menjadi barang jadi. Tetapi mungkin saja barang setengah jadi bagi suatu pabrik, merupakan barang jadi bagi pabrik lain karena proses produksinya memang hanya sampai disitu saja. Menurut Yulian Yamit (2005), tipe persediaan adalah:
1. Persediaan alat-alat kantor adalah persediaan yang diperlukan dalam menjalankan fungsi organisasi dan tidak menjadi bagian dari produk akhir.
2. Persediaan bahan baku adalah item yang dibeli dari para supplier untuk digunakan sebagai input dalam proses produksi. Bahan baku ini akan ditransformasikan menjadi barang akhir.
3. Persediaan barang dalam proses adalah bagian dari produk akhir tetapi masih dalam proses pengerjaan, karena masih menunggu item yang lain untuk diproses.
4. Persediaan barang jadi adalah persediaan produk akhir yang siap untuk dijual, didstribusikan atau disimpan.
C. FungsiPersediaan
Menurut Yulian Yamit (2005), fungsi Persediaan adalah:Persediaan timbul disebabkan oleh tidak sinkronnya permintaan dengan penyediaan dan
waktu yang digunakan untuk memproses bahan baku. Untuk menjaga keseimbangan permintaan dengan penyediaan bahan baku dan waktu proses persediaan. Oleh karena ada beberapa faktor yang dijadikan fungsi persediaan:
a. Faktor waktu menyangkut lamanya proses produksi dan distribusi sebelum barang jadi sampai kepada konsumen. Waktu diperlukan untuk membuat skedul produksi, memotong bahan baku, pengiriman barang jadi ke pedagang bisar atau konsumen.Persediaan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan selama waktu tunggu.
b. Faktor ketidakpastian waktu datang dari suplier menyebabkan perusahaan memerlukan persediaan, agar tidak menghambat proses produksi maupun keterlambatan pengiriman kepada konsumen.
Persediaan bahan baku terikat pada suplier, persediaan barang dalam proses terikat pada departemen produksi, dan persediaan barang jadi terikat pada konsumen. Ketidakpastian waktu datang mengaharuskan perusahaan membuat skedul operasi lebih teliti pada setiap level.
c. Faktor ketidakpastian penggunaan dari dalam perusahaan disebabkan oleh kesalahan dalam peramalan permintaan, kerusakan mesin, keterlambatan operasi, bahan cacat, dan berbagai kondisi lainnya.
d. Faktor ekonomis adalah adanya keinginan perusahaan untuk mendapatkan alternatif biaya rendah dalam memproduksi atau membeli item dengan menentukan jumlah yang paling ekonomis.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan bahan baku menurut
Agus Ahyari(2002): Faktor faktor yang mempengaruhi persediaan bahan baku ini ada beberapa macam. Dalam hal ini faktor-faktor tersebut akan saling berkaitan, sehingga secara bersama- sama akan mempengaruhi persediaan bahan baku. Adapun faktor-faktor yang dimaksud adalah:
a. Perkiraan Pemakaian
Sebelum kegiatan pembelian bahan baku dilaksanakan maka manajemen harus dapat membuat perkiraan bahan baku yang akan dipergunakan di dalam proses produksi pada suatu periode. Perkiraan kebutuhan bahan baku ini merupakan perkiraan tentang berapa besar/jumlahnya bahan baku yang akan dipergunakan oleh perusahaan untuk keperluan proses produksi pada periode yang akan datang.
b. Harga dari Bahan
Harga daripada bahan baku yang akan dibeli menjadi salah satu faktor penentu pula dalam kebijaksanaan persediaan bahan. Harga bahan baku ini merupakan dasar penyusunan perhitungan berapa besar dana perusahaan yang harus disediakan untuk investasi dalam persediaan bahan baku ini.
c. Biaya-biaya persediaan
Biaya-biaya untuk menyelenggarakan persediaan bahan baku ini sudah selayaknya diperhitungkan pula di dalam penentuan besarnya persediaan bahan baku. Di dalam perhitungan biaya persediaan ini dikenal adanya dua type biaya, yaitu biaya-biaya yang semakin besar dengan semakin besarnya rata-rata persediaan, serta biaya yang justru
semakin kecil dengan semakin besarnya rata-rata persediaan.
d. Kebijaksanaan pembelanjaan.
Seberapa besar persediaan bahan baku akan mendapatkan dana dari perusahaan akan tergantung kepada kebijaksanaan pembelanjaan dari dalam perusahaan tersebut. Apakah perusahaan akan memberikan fasilitas yang pertama, kedua atau justru yang terakhir untuk dana bagi persediaan bahan baku ini. Di samping itu juga dilihat apakah dana yang disediakan tersebut cukup untuk pembayaran semua bahan yang diperlukan perusahaan, ataukah hanya sebagian saja.
e. Pemakaian senyatanya.
Pemakaian bahan baku senyatanya dari periode-periode yang lalu (actual demand) merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Seberapa besar penyerapan bahan baku oleh proses produksi perusahaan serta bagaimana hubungannya dengan perkiraan pemakaian yang sudah disusun harus senantiasa dianalisa. Dengan demikian maka akan dapat disusun perkiraan kebutuhan bahan baku mendekati kepada kenyataan.
f. Waktu tunggu.
Waktu tunggu (lead time) adalah merupakan tenggang waktu yang diperlukan pada saat pemesanan bahan baku sampai datangnya bahan baku itu sendiri. Waktu tunggu ini sangat perlu untuk diperhatikan oleh karena hal ini sangat perlu untuk diperhatikan karena erat hubungannya
dengan penentuan saat pemasaran kembali (re order). Dengan diketahuinya waktu tunggu yang tepat maka perusahaan akan dapat membeli pada saat yang tepat pula, sehingga resiko penumpukan persediaan atau kekurangan persediaan dapat ditekan seminimal mungkin.
D. Macam-macam Biaya dalam Persediaan
Berbagai biaya dalam persediaan Menurut Yulian Yamit(2005) adalah: Biaya persediaan merupakan keseluruhan biaya operasi atas sistem persediaan.
1. Biaya pembelian adalah harga per unit apabila item dibeli dari pihak luar, atau biaya produksi per unit apabila diproduksi dalam perusahaan. Untuk pembeliaan item dari luar, biaya per unit adalah harga beli ditambah biaya pengangkutan.Sedangkan untuk item yang diproduksi di dalam perusahaan, biaya per unit adalah termasuk biaya tenaga kerja, bahan baku dan biaya overhead pabrik.
2. Biaya pemesanan adalah biaya yang berasal dari pembelian pesanan dari suplier atau biaya persiapan apabila item diproduksi di dalam perusahaan . Biaya pemesanan dapat berupa: biaya membuat daftar permintaan, menganalisis suplier, membuat pesanan pembelian, penerimaan bahan, inspeksi bahan, dan pelaksanaan proses transaksi.
Sedangkan biaya persiapan dapat berupa biaya yang dikeluarkan akibat perubahan proses produksi, pembuatan skedul kerja, persiapan sebelum
produksi, dan pengecekan kualitas. Biaya simpan adalah biaya yang dikeluarkan atas investasi dalam persediaan dan pemeliharaan maupun investasi sarana fisik untuk menyimpan persediaan. Biaya simpan dapat berupa: biaya modal, pajak, asuransi, pemindahan persediaan, keusangan dan semua biaya yang dikeluarkan untuk memelihara persediaan.
3. Biaya kekurangan persediaan adalah konsekuensi ekonomis atas kekurangan dari luar maupun dari dalam perusahaan. Kekurangan dari luar terjadi apabila pesanan konsumen tidak dapat dipenuhi.
Sedangakan kekurangan dari dalam terjadi apabila departemen tidak dapat memenuhi kebutuhan departemen lain. Biaya kekurangan persediaan dapat berupa biaya backorder, biaya kehilangan kesempatan penjualan, dan biaya kehilangan kesempatan menerima keuntungan.
Biaya kekurangan dari dalam dapat berupa penundaan pengriman maupun ide kapasitas.
E. Pengertian Pengendalian Persediaan
Kegiatan pengendalian persediaan tidak terbatas pada perencanaan tingkat dan susunan persediaan, tetapi juga pada pengaturan dan pengendalian atas pelaksanaan pengadaan bahan-bahan skeduling (penjadualan) untuk pemesanan, pengaturan penyimpanan dan lain-lain.
Sangatlah penting bagi setiap perusahaan untuk mengadakan pengendalian persediaan, karena ini dapat membantu tercapainya tingkat
efisiensi penggunaan dana dalam persediaan. Tetapi, hal ini bukan berarti dapat.menghapus sama sekali risido yang timbul akibat adanya sediaan yang terlalu besar atau terlalu kecil, melainkan pengendalian persediaan dapat membantu mengurangi terjadinya risiko seminimal mungkin. Adapun kegiatan-kegiatan pengendalian persediaan yang efektif menurut Miswanto dan Eko Widodo (2005) adalah:
1. Memperoleh bahan-bahan, yaitu menetapkan prosedur untuk memperoleh suatu supply yang cukup dari bahan-bahan yang dibutuhkan baik kuantitas maupun kualitas.
2. Menyimpan dan memelihara bahan-bahan dalam persediaan, yaitu mengadakan suatu sistem penyimpanan untuk memelihara dan melindungi bahan-bahan yang telah dimasukkan ke dalam persediaan.
3. Pengeluaran bahan-bahan , yaitu menetapkan suatu pengaturan atas pengeluaran dan penyampaian bahan-bahan yang tepat pada saat, serta tempat dimana dibutuhkan.
4. Meminimalisasi investasi dalam bentuk bahan atau barang (mempertahankan persediaan dalam jumlah yang optimum setiap waktu).
Tujuan pengendalian persediaan menurut Miswanto dan Eko Widodo (2005) adalah:
1. Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi. Menjaga agar supaya pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar atau berlebih-lebihan, sehingga biaya-biaya yang timbul dari persediaan
tidak terlalu besar.
2. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karena ini akan berakibat biaya pemesanan menjadi besar.
Pengertian Proses Produksi Menurut Sofjan Assauri (2006:170), pengertian proses produksi adalah: "Proses produksi adalah cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan- bahan dan dana) yang ada".
Jenis-jenis Proses Produksi
a. Proses produksi yang terus-menerus (continuous processes) b. Proses produksi yang terputus-putus (intermittent processes) Adapun sifat-sifat atau ciri-ciri proses produksi yang terus-menerus ialah:
a. Biasanya produk yang dihasilkan dalam jumlah yang besar (produksi massa) dengan variasi yang sangat kecil dan sudah distandarisir.
Proses seperti ini biasanya menggunakan system atau cara penyusunan peralatan berdasarkan urutan pengerjaan dari produk yang dihasilkan, yang disebut product lay out atau departmentation by product.
b. Mesin-mesin yang dipakai dalam proses produksi seperti ini adalah mesin- mesin yang bersifat khusus untuk menghasilkan produk tersebut, yang dikenal dengan nama special purpose machines.
c. Oleh karena mesin-mesinnya bersifat khusus dan biasanya agak otomatis, maka pengaruh individual operator terhadap produk yang
dihasilkan kecil sekali, sehingga operatornya tidak perlu mempunyai keahlian atau skill yang tinggi untuk pengerjaan produk tersebut.
d. Apabila terjadi salah satu mesin/peralatan terhenti atau rusak, maka seluruh proses produksi akan terhenti.
e. Oleh karena mesin-mesinnya bersifat khusus dan variasi dari produknya kecil maka job structurenya sedikit dan jumlah tenaga kerjanya tidak perlu banyak.
f. Persediaan bahan mentah dan bahan dalam proses adalah lebih rendah daripada intermittent process/manufacturing.
Oleh karena mesin-mesin yang dipakai bersifat khusus maka proses seperti ini membutuhkan maintenance specialist yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang banyak. proses lebih tinggi daripada continuous process karena prosesnya yang terputus-putus.
Dalam proses seperti ini sering dilakukan pemindahan bahan yang bolak-balik sehingga perlu adanya ruangan gerak yang besar dan ruangan tempat bahan- bahan dalam proses yang besar. Kekurangan dan Kebaikan Masing-masing Jenis Proses Produksi Masing-masing jenis proses produksi yang telah di sebutkan mempunyai beberapa kekurangan dan kelebihan /kebaikan. Kekurangan/kerugian proses produksi yang terus menerus (continuous manufacturing) adalah :
1. Terdapat kesukaran untuk menghadapi perubahan produk yang di minta oleh konsumen atau pelanggan. Jadi proses produksi seperti ini khusus untuk menghasilkan produk-produk yang :
a. Permintaan (demand)nya besar dan stabil b. Style produknya tidak mudah berubah.
2. Proses produksi mudah terhenti, karena apabila terjadi kemacetan di suatu tempat/tingkat proses (di awal,di tengah atau di belakang),maka kemungkinan seluruh proses produksi akan terhenti di sebabkan adanya saling hubungan dan urut-urutan antara masing-masing tingkat proses.
3. Terdapat kesukaran dalam menghadapi perubahan tingkat permintaan, karena biasanya tingkat produksi (rate of production)nya telah tertentu ,sehingga sangat kaku (rigid).
Sedangkan sifat-sifat atau ciri-ciri dari proses produksi yang terputus-putus ialah:
a. Biasanya produk yang dihasilkan dalam jumlah yang sangat kecil dengan variasi yang sangat besar dan didasarkan atas pesanan.
b. Proses seperti ini biasanya menggunakan system, atau cara penyusunan peralatan berdasarkan atas fungsi dalam proses produksi atau peralatan yagn sama dikelompokkan pada tempat yang sama, yang disebut dengan process lay out atau departmentation by equipment.
c. Mesin-mesin yang dipakai dalam proses produksi seperti ini adalah mesin- mesin yang bersifat umum yang dapat digunakan untuk menghasilkan bermacam-macam produk dengan variasi yagn hampir sama, mesin ini dikenal dengan nama general purpose machines.
d. Oleh karena mesin-mesinnya bersifat umum dan biasanya kurang
otomatis, maka pengaruh individual operator terhadap produk yang dihasilkan sangat besar, sehingga operatornya perlu mempunyai keahlian atau skill yang tinggi dalam pengerjaan produk tersebut.
e. Proses produksi tidak mudah/akan terhenti walaupun terjadi kerusakan atau terhentinya salah satu mesin atau peralatan.
f. Oleh karena mesin-mesinnya bersifat umum dan variasi dari produknya besar, maka terhadap pekerjaan yang bermacam-macam menimbulkan pengawasan yang lebih sukar.
g. Persediaan bahan mentah biasanya tinggi, karena tidak dapat ditentukan pesanan apa yang akan dipesan oleh pembeli dan juga persediaan bahan dalam.
Sedangkan kebaikan/kelebihan proses produksi yang terus-menerus (continuous manufacturing) adalah ;Dapat di perolehnya tingkat biaya produksi per unit (unit production cost)yang rendah, apabila :
a. Dapat dihasilkannya produk dalam volume yang cukup besar, b. Produk yang di hasilkan distandardisir.
Dapat dikuranginya pemborosan - pemborosan dari pemakaian tenaga manusia ,terutama karena system pemindahan bahan yang menggunakan tenaga mesin/listrik.
1. Biaya tenaga kerja (labor cost)nya adalah rendah , karena jumlah tenaga kerjanya yang sedikit dan tidak memerlukan tenaga yang ahli (cukup yang setengah ahli) dalam pengerjaan produk yang dihasilkan.
2. Biaya pemindahan bahan didalam pabrik juga lebih rendah, karena jarak antara mesin yang satu dengan mesin yang lain lebih pendek dan pemindahan tersebut digerakkan dengan tenaga mesin (mekanisasi).
Kekurangan/kerugian proses produksi yan terputus-putus (intermittent manufacturing) adalah:
a. Scheduling dan routing untuk pengerjaan produk yang akan dihasilkan sangat sukar dilakukan karena kombinasi urut-urutan pekerjaan yang banyak sekali didalam memprodusir satu macam produk , dan disamping itu di butuhkan scheduling dan routing yang banyak sekali karena produknya yang berbeda tergantung pemesannya.
b. Oleh karena pekerjaan routing dan scheduling banyak sekali dan sukar di lakukan.
Maka pengawasan produksi (production control) dalam proses produksi seperti ini sangat sukar dilakukan.
3. Dibutuhkannya investasi yang cukup besar dalam persediaan bahan mentah dan bahan-bahan dalam proses ,karena prosesnya terputus- putus dan produk yang di hasilkan tergantung dari pesanan.
4. Biaya tenaga kerja dan biaya pemindahan bahan sangat tinggi, karena banyak dipergunakannya tenaga manusia dan tenaga yang di butuhkannya adalah tenaga yang ahli dalam pengerjaan produk tersebut.
Sedangkan kebaikan/kelebihan dari proses produksi yang terputus-putus (intermittent manufacturing ) adalah mempunyai fleksibilitas yang tinggi dalam menghadapi perubahan produk dengan variasi yang cukup besar.
Fleksibilitas ini diperoleh terutama dari:
a. Sistem penyusunan peralatan (lay out)nya yang berbentuk process lay out.
b. Jenis/tipe mesin di gunakan dalam proses yang bersifat umum(general purpose machines).
c. Sistem pemindahan bahan yang tidak menggunakan tenaga mesin tetapi tenaga manusia.
Oleh karena mesin-mesin yang di gunakan dalam proses bersifat umum (general purpose machines) maka biasanya dapat diperoleh penghematan uang dalam investasi mesin-mesinnya, sebab harga mesin- mesin ini lebih murah dari pada mesin-mesin yang khusus(special purpose machines).
Proses produksi tidak mudah terhenti akibat terjadinya kerusakan atau kemacetan di suatu tempat/tingkat proses.
F. Hipotesis
Peramalan menurut Yulian Yamit (2005), merupakan alat bantu yang penting dalam perencanaan yang efektif dan efisien khususnya dalam bidang ekonomi. Dalam organisasi modern mengetahui keadaan yang akan datang tidak saja penting untuk melihat yang baik atau buruk tetapi juga bertujuan untuk melakukan persiapan peramalan. Perencana organisasi sangat tertarik untuk mengetahui apakah keadaan dan kejadian yang akan datang berpengaruh terhadap organisasi.
Oleh karena itu peramalan adalah pintu yang tepat untuk mengetahui keadaan yang akan datang. Peramalan adalah prediksi, proyeksi atau estimasi tingkat kejadian yang tidak pasti dimasa yang akan datang.J3) Ketepatan secara mutlak dalam memperdiksi peristiwa dan tingkat kegiatan yang akan datang adlah tidak mungkin dicapai, oleh karena itu ketika perusahaan tidak dapat melihat kejadian yang akan datang secara pasti, diperlukan waktu dan tenaga yang besar agar mereka dapat memiliki kekuatan untuk menarik kesimpulan terhadap kejadian yang akan datang.
Kebanyakan organisasi tidak selalu menunggu pesanan datang untuk memulai kegiatan perencanaan fasilitas produksi, proses, peralatan, tenaga kerja dan kebutuhan bahan baku. Organisasi yang berhasil dalam mengantisipasi permintaan produk yang akan datang adalah ketepatan dalam mengantisipasi permintaan produk yang akan datang adalah katepatan dalam menterjemahkan informasi ke dalam faktor input yang dibutuhkan dalam peramalan permintaan.
Banyak faktor lingkungan yang mempengaruhi permintaan suatu organisasi yang menghasilkan barang atau jasa, namun tidak mungkin mengidentifikasi semua faktor dan menghitung kemungkinan pengaruhnya terhadap organisasi.
Beberapa faktor umum lingkungan yang mempengaruhi peramalan, yaitu:
a. Kondisi umum bisnis dan ekonomi b. Reaksi dan tindakan pesaing
c. Tindakan pemerintah d. Kecenderungan pasar
1. Siklus kehidupan produk 2. Gaya dan mode
e. Inovasi teknologi
Peramalan menurut Sofjan Assauri (2006:170) :"Prakiraan atau peramalan merupakan seni dan ilmu dalam memprediksikan kejadian yang mungkin dihadapi pada masa yang akan datang".
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Dan WaktuPenelitian
penelitian ini cv. utama jaya berlokasi di makassar (sulawesi selatan) sebagai tempat penulis untuk melakukan penelitian dan dirancanakan dilaksanakan bulan maret sampai mei 2014.
B. Metode Pengumpulan Data
Jenis dan tipe penelitian yang digunakan oleh peneliti menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ) pada CV. Utama Jaya."Economic Order Quantity adalah jumlah kuantitas barang yang dapat diperolah dengan biaya yang minimal, atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang optimal".16) Dalam menentukan besarnya jumlah pembelian yang optimal ini kita hanya memperhatikan biaya variabel dari penyediaan persediaan tersebut, baik biaya variabel yang sifat perubahannya searah dengan perubahan jumlah persediaan yang dibeli /disimpan maupun biaya variabel yang sifat perubahannya berlawanan dengan perubahan jumlah inventory tersebut.
C. JenisDan Sumber Data
Untuk pengumpulan data, penulis menggunakan beberapa macam metode penelitian, yaitu:
a. Penelitian Lapangan
Penelitian Lapangan yaitu cara pengumpulan data dan keterangan- keterangan yang diperlukan dengan mengadakan peninjauan langsung ke CV. Utama Jaya yang berlokasi di makassar (Sulawesi seatan) sebagai tempat penulis untuk melakukan penelitian.
b. Penelitian Kepustakaan
Yaitu cara pengumpulan data dengan jalam mempelajari dan membaca buku- buku yang berhubungan dengan ilmu ekonomi dan manajemen serta bahan- bahan pengetahuan yang penulis telah pelajari selama mengikuti kuliah di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Pengumpulan data dengan data primer yaitu dengan melakukan:
1. Observasi
Berupa pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap perusahaan yang menjadi objek penelitian selama dua minggu.
2. Wawancara
Berupa pengumpulan data dengan cara melakukan tanya - jawab dengan kepala bagian personalia yaitu Bapak Suparno dan para karyawan untuk memberikan data-data yang penulis butuhkan.
D. Metode Analisis Data
Metode analisis yang digunakan yaitu metode analisis kualitatif yang menjelaskan tentang peramalan dan pengendalian persedian bahan baku pada CV. Utama jaya (garment) . dan metode analisis kuantitatif yaitu untuk mengetahui dampak peramalan dan pengendalian persediaan bahan baku pada CV.utama jaya(garment)
Untuk menguji kebenaran hipotesis yang telah dikemukakan sebelumnya, maka digunakan metode peramalan dan rata – rata secara sederhana menghitung rataan dari data ang tersedia . persamaan dari metode ini dikemukakan armand hakim (2003) adalah sebagai berikut .
F(t) = A F(t+1) = F(t)
F(t) = peramalan pada periode t A = rata rata dari data aktual F(t) = nilai smoothing pada periode t
Besarnya EOQ dapat ditentukan dengan berbagai cara, dan antara lain yang banyak digunakan ialah dengan penggunaan rumus persedian dikemukakan bambang rianto (Hal 87) sebagai berikut:
EOQ = 2xRxS
PxI
Dimana,
R
= Jumlah (dalam unit) yang dibutuhkan selama satu periode tertentu,misalnya 1 tahun.
S = Biaya pesanan setiap P = Harga pembelian
I = Biaya penyimpanan dan pemeliharaan di gudang dinyatakan dalam persentase dari nilai rata-rata dalam rupiah dari persediaan
BAB IV
PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah Berdirinya CV. Utama Jaya
CV. Utama Jaya adalah perusahaan yang bergerak dibidang industri pakaian jadi. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1984 yang didirikan Bapak Azwir Lanur adalah seorang kontraktor di daerah Jambi denagn mana Biro Tekhnik Beringin sekitar tahun 1977. Namun usahanya ini mengalami kebangkrutan, karena kebangkrutannya ini semua harta yang dapat dinilai dengan uang seperti tanah dan investasi lainnya dijual.
Sekitar bulan Agustus - September atau menjelang puasa beliau hijrah ke Jakarta. Di Jakarta beliau mulai usaha barunya yaitu berdagang kain plakat atau sarung yang dijual secara obral. Untuk mendapatkan modal dagang, beliau meminjam uang ke koperasi Perintis sebesar Rp 100.000,- dengan uang tersebut bapak Azwir Lanur memperoleh keuntungan Rp 400.000,- usaha berdagang seperti ini hanya dilakukan dari menjelang puasa sampai setelah puasa.
Setelah lebaran beliau sempat menganggur beberapa bulan, dalam keadaan menganggur ini bapak Azwir Lanur mengotrak toko di Keramat Jati pada tahun 1979, seharga Rp 500.000,- untuk 2 tahun. Dari tempat ini beliau mulai buka usaha berdagang pakaian jadi. Usaha tersebut mengalami kemajuan sehingga beliau menambah jumlah tokonya menjadi 6 toko, semuanya berada di Kramat Jati.
Selama berdagang di Kramat Jati dari tahun 1979 sampai 1983, beliau
mulai mengangsur hutang piutangnya yang berada di Jambi. Di dalam keadaan mengangsur hutang tersebut beliau merencanakan untuk pindah ke tanah Abang, untuk pindah ke tanah Abang bapak Azwir Lanur mendapat pinjaman kredit dari Bank Bumi Daya sebesar Rp 16.000.000,-. Setelah mendapatkan kredit tersebut beliau memindahkan 4 tokonya yang di Kramat Jati ke Tanah Abang. Selama di tanah Abang beliau mengalami kemajuan, dan timbul keinginan untuk membuka usaha sendiri.
Pada tanggal 5 Januari 1984, bapak Azwir Lanur membeli mesin jahit dan mulai membuka usaha kecil-kecilan di rumah. Ternyata usahanya ini mengalami kemajuan, sehingga 6 bulan kemudian menambah membeli mesin jahit.
Perusahaan ini berkedudukan di Condet Batu Ampar Jakarta Timur.
Didirikan berdasarkan akte notaris Yudo paripurna, SH no. 23 tanggal 24 Februari 1985. Usaha konveksi yang dipimpin oleh bapak Azwir Lanur ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1989 keluar peraturan pemerintah setempat, yang tidak diizinkan adanya perusahaan dengan jumlah karyawan lebih dari 50 orang, sehubungan dengan keluarnya peraturan pemerintah tersebut maka pada tanggal 10 Agustus 1990, beliau membeli tanah di makassar seluas 2400 meter persegi. Tanah tersebut digunakan untuk membangun rumah dan garment.
Setelah lokasi konveksi dipindahkan ke ma,kassar usaha tersebut terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dan semua usaha jerih payah yang dilakukan oleh bapak Azwir Lanur berdasarkan kepercayaan diri, keberanian dan kemauan yang keras. Berkat usaha tersebut sekarang CV. Utama Jaya yang dipimpin olehnya terus berkembang menembus pasaran pakaian jadi dengan merk
Fillandy, F.I.F, dan Grafelly.
2. Pengorganisasian CV. Utama Jaya
Dalam suatu organisasi beserta aktivitasnya terhadap hubungan antar orang- orang yang menjalankan aktivitas tersebut. Makin banyak kegiatan yang dilakukan dalam organisasi makin kompleks pula hubungan dalam organisasi.
Untuk itu diperlukan suatu bagan yang menggambarkan hubungan tertentu, termasuk hubungan masing-masing kegiatan. Bagan yang dimaksud dinamakan bagan organisasi atau struktur organisasi. Yang mendasar dalam organisasi ini adalah kekuasaan (authority0 dan tanggung jawab (responsibility).
a. Struktur organisasi
Pada CV. Utama Jaya adalah sebagai berikut:
1. Komisaris 2. Direktur 3. Wakil Direktur 4. Sekretaris
5. Manajer Personalia 6. Manajer Pemasaran
7. Manajer Produksi dan Pembelian 8. Manajer Keuangan
9. Kepala Bagian Cutting 10. Kepala Bagian Sewing 11. Kepala Bagian Finishing
13. Operator
Untuk lebih jelasnya, penulis akan menguraikan struktur organisasi CV.
Utama Jaya seperti yang dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 3.1 Bagan Struktur organisasi CV. Utama Jaya
Sumber data primer b. Pengelolaan Perusahaan
1. Jumlah Karyawan
Pada dasarnya CV. Utama Jaya memiliki 50 orang karyawan yang perinciannya sebagai berikut:
Karyawan Staff : 5 orang
KOMISARIS
DIR. UTAMA
WAKIL DIREKTUR SEKERTARIS
PERSONALIA PRODUKSI PEMASARAN KEUNGAN
GUDANG
SEWING FINISHING
CUTTING
OPERATOR
Karyawan Tidak tetap : 20 orang Karyawan Security : 5 orang
2. Tugas dan Wewenang pada Organisasi CV. Utama Jaya a. Dewan Komisaris
Bertugas mengawasi jalannya perusahaan yang dilaksanakan oleh Direktur serta bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup perusahaan karena memiliki modal yang diikutsertakan dalam perseroan.
b. Direktur
Sebagai pimpinan perusahaan mempunyai tugas-tugas yang meliputi:
1) Memimpin dan menjalankan badan usaha dengan sebaik-baiknya.
2) Mewakili badan usaha didalam maupun diluar perusahaan.
3) Membuat laporan-laporan tetang hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan dalam satu periode pembukuan kepada atasan yaitu komisaris.
c. Wakil Direktur
1) Membantu segala aktivitas yang dilakukan oleh Direktur, yaitu:
2) Membantu dalam hal pengambilan keputusan untuk kepentingan perusahaan.
3) Bertanggung jawab kepada Direktur atas kelancaran perusahaan.
4) Membantu memberikan tanggapan dan saran-saran yang dapat menunjang perusahaan.
d. Manajer Personalia
Bertanggung jawab atas segala tugas atau aktivitas administrasi perusahaan dan masalah kepegawaian mengenai:
1) Bekerjasama dengan manajer lainnya untuk mengevaluasi dan menilai hasil kerja yang telah dicapai dari karyawan masing-masing bagian untuk memberikan kemungkinan-kemungkinan promosi jabatan.
2) Mengurus segala masalah pegawai terutama yang menyangkut kesejahteraan pegawai.
e. Manajer Produksi
Bagian produksi mempunyai tugas, diantaranya sebagai berikut:
1) Melakukan perencanaan proses produksi, pengawas produksi dan mengendalikan proses produksi dan juga membuat laporan secara terperinci.
2) Bagian ini bertanggung jawab terhadap hasil produksi baik mengenai kualitas maupun kuantitas. Mengadakan perlengkapan peralatan dan mesin termasuk perawatannya.
3) Menangani bahan-bahan atau celana jeans yang tidak memenuhi syarat standar mutu.
4) Melakukan pengawasan terhadap setiap departemen produksi dibawahnya (cutting, sewing dan finishing). Di CV. Utama Jaya ini bagian produksi bersatu dengan bagian pembelian dan bagian pembelian mempunyai tugas:
Mengadakan transaksi pembelian bahan dan pengadaan bahan baku untuk selanjutnya akan dilakukan proses produksi oleh bagian produksi.
f. Manajer Pemasaran
Mempunyai tugas untuk mengadakan penjualan kepada pihak konsumen dan juga bertugas untuk menarik calon konsumen dengan menggunakan saluran pemasaran yang efektif.
g. Manajer Keuangan Mempunyai tugas, antara lain:
1) Mengusahakan dan memelihara agar keuangan perusahaan selalu tersedia dalam jumlah yang wajar untuk menjamin kelancaran perusahaan.
2) Membuat dan menghitung anggaran perusahaan.
3) Mengatur dengan tertib urusan penerimaan dan pengeluaran keuangan.
h. Bidang Usaha dan Pemasaran
CV. Utama Jaya adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang garment dengan memproduksi berbagai macam celana jeans. Bahan baku yang digunakan adalah buatan dalam negeri, sedangkan untuk mesin-mesin yang digunakan masih mengimpor dari luar negeri.
Karena CV. Utama Jaya ini hanya memproduksi celana jeans dengan berbagai model dan merk maka penulis akan membagi jenis produknya menjadi dua macam yaitu basic (standar dan model). Dan merk-merk yang sudah di hak patenkan oleh perusahaan ini adalah Grafelly, Fillandy dan F.I.F. Sifat produk CV.
Utama Jaya ini adalah berdasarkan pesanan. Perusahaan memproduksi celana jeans tergantung pada mode sehingga model dan bentuknya sesuai dengan keinginan konsumen.
Pemasaran sebagai salah satu kegiatan dalam suatu organisasi yang berhubungan dengan penyaluran barang dari produsen ke konsumen dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumen dan sesuai dengan tujuan perusahaan. Pemasaran dewasa ini memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup suatu perusahaan.
Efektifitas dari pemasaran akan menentukan suatu perusahaan sukses atau gagal.
Sebagai sasaran dari pemasaran adalah pemuasan kebutuhan konsumen. Untuk itu
perusahaan harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan konsumen melalui kegiatan yang terkoordinir.
Untuk melancarkan penyaluran barang produksi ke konsumen diperlukan saluran pemasaran yang tepat dengan perhitungan biaya yang sehemat mungkin, apabila menggunakan sarana langsung atau sarana tidak langsung. Yang perlu diperhatikan produsen adalah kualitas barang yang tidak berubah atau rusak dalam perjalanan sampai ke tangan konsumen.
CV. Utama Jaya yang memproduksi pakaian jadi menggunakan saluran pemasaran secara langsung. Pemasaran produk dilakukan di daerah-daerah dan sarana langsung yang digunakan adalah melalui toko-toko milik perusahaan.
Sedangkan untuk daerah luar makassar seperti Banjarmasin, Ambon, Irian Jaya dan daerah lainnya dilakukan secara ekspedisi dimana biaya ditanggung oleh pihak pemesan atau konsumen. Sedangkan cara pembayarannya melalui rekening bank milik perusahaan.
B. Analisis peramalan dan pengendalian persediaan bahan baku pada cv. Utama jaya
1. Kebijaksanaan Persediaan Bahan Baku CV. Utama Jaya.
CV. Utama Jaya adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi pakaian jadi khususnya celana jeans. Dalam menjalankan kegiatan produksinya perusahaan memerlukan persediaan, seperti bahan baku dan bahan penolong/pembantu. Dimana dalam perusahaan ini bahan baku utamanya adalah kain jeans dan bahan penolongnya adalah kain katun, resleting dan kancing.
Pada CV. Utama Jaya pengadaan persediaan bahan baku terus diupayakan sebaik-baiknya dengan memperhatikan berbagai macam hal yang akan mempengaruhi besarnya jumlah persediaan bahan baku, seperti kemampuan keuangan perusahaan, kebutuhan bahan baku, kualitas serta tingkat harga bahan baku, untuk menghindari terhentinya kegiatan produksi.
Karena perusahaan berproduksi untuk memenuhi pesanan, dan dalam melakukan pengendalian persediaan bahan baku hanya dengan perkiraan, apabila persediaan dalam gudang sudah menipis maka perusahaan akan melakukan pembelian bahan baku. Perusahaan dalam memenuhi kebutuhan bahan bakunya tidak mengalami banyak kesulitan karena perusahaan telah mempunyai pemasok yang berasal dari Bandung dan Jakarta.
Proses produksi CV. Utama Jaya dalam memproses bahan baku kain jeans menjadi celana adalah sebagai berikut:
a. Mendisain
Di dalam memproduksi pakaian diperlukan suatu rancangan yang dibuat untuk memproduksi pakaian. Untuk perusahaan ini disain disesuaikan dengan mode yang sedang berkembang (mengikuti mode), atau dibuat oleh pihak pemesan/buyer. Di dalam rencana kerja atau work sheet tercantum disain, ukuran pakaian yang dibuat lengkap dengan aksesoris, serta bahan yang digunakan dan keterangan lainnya.
b. Ukuran
Ukuran merupakan hal yang terpenting dalam memproduksi suatu pakaian. Tanpa ukuran yang baik dan benar belum tentu akan tercipta suatu
produksi yang berkualitas. Di dalam memproduksi pakaian, CV. Utama Jaya menggunakan ukuran All Size. Dimana pada ukuran ini semua orang bisa memakainya. Untuk pembuatan pola celana khususnya jeans tergantung ukuran/nomor, berdasarkan kepada pesanan lokal atau ekspor. Kalau untuk lokal digunakan ukuran/nomor 27 sampai 32.
c. Pola
Pola merupakan suatu yang sangat penting dalam memproduksi pakaian. Pola ini dibuat berdasarkan disain atau model yang telah disetujui.
Bila buyer tidak menyediakan pola maka pihak perusahaan yang membuat pola berdasarkan work sheet.
d. Memarker.
Pada Utama Jaya marker dibuat pada sehelai bahan dengan bantuan pola yang dipindahkan pada kertas karton tebal. Pada marker ini terdapat ukuran-ukuran pola yang akan dibuat. Marker disusun sedemikian rupa dengan sehemat mungkin. Pola besar seperti celana bagian muka dan berlokasi disusun terlebih dahulu kemudian baru pola-pola kecil seperti saku, gulbi dan perlengkapan lainnya.
e. Menggelar (manual)
Menggelar pada CV. Utama Jaya caranya yaitu: bahan ditempatkan dalam penggulungan yang berbentuk bulat, kemudian ditarik perlahan-lahan dan dibentangkan di atas meja pemotongan sepanjang marker, kemudian bahan disusun sesuai dengan panjang gelaran dan panjang marker dalam jumlah tertentu.
Dalam menggelar ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan yang fatal:
1) Bahan yang siap digelar disusun rapi
2) Usahakan pada waktu menggelar bahan jangan ada yang terlipat atau menggelembung yang dapat mengakibatkan berubahnya ukuran dari pola yang semula.
Dalam meletakkan bahan kebanyakan dilakukan dengan tangan tetapi ada juga dilakukan dengan alat pembentang.
f. Memotong
Setelah selesai menggelar, maka langkah selanjutnya adalah memotong dengan menggunakan gunting listrik.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam memotong adalah:
1. Bahan yang akan dipotong permukaannya harus rata.
2. Perhatikan jumlah bahan dalam satu gelaran, lalu sesuaikan dengan kemampuan dari gunting untuk satu kali pemotongan.
3. Perhatikan arah serat kain.
4. Pada waktu menggunting dimulai dari bagian tepi.
5. Sewaktu menggunting dituntut konsentrasi penuh untuk menghindari kesalahan-kesalahan.
6. Perhatikan tentang keselamatan kerja, karena pekerjaan ini berhubungan dengan peralatan listrik yang memiliki resiko yang tinggi yaitu menggunakan gunting listrik. Sebelum disortir/dikelompokkan potongan- potongan pakaian terlebih dahulu diperiksa apakah ada yang tidak
terpotong.
g. Menyortir
Potongan-potongan ini diberi nomor agar bagian yang telah dipotong tidak bercampur dan bertukar dengan bagian lainnya, cara lain untuk mempermudah dalam proses penjahitan yaitu dengan sistem pembundelan/penyortiran
h. Menjahit
Sistem menjahit yang dilakukan di CV. Utama Jaya sistem ban berjalan, yaitu satu pakaian dilakukan oleh beberapa orang yang masing- masing mengerjakan pekerjaan tertentu secar berantai kemudian dipindahkan kepada pekerja yang berikutnya sampai pakaian selesai dijahit utuh dan siap dipakai.
Langkah kerja dalam menjahit celana pada perusahaan CV.
Utama Jaya adalah:
1. Menjahit kantong celana pada kedua sisi celana dengan menempelkan lapisan kantong pada mulut kantong celana. Setik sepanjang mulut kantong, kampuhnya ditipiskan, setelah dibalik tepi mulut kantong dijahit dengan menggunakan mesin jarum dua.
2. Pemasangan dan penjahitan zipper/resleting.
Resleting terlebih dahulu dijahit pada gulbi, selanjutnya gulbi tersebut di- stik bersama celana dari bagian baik dengan mengikuti bentuk gulbi melengkung sampai ke ujung belahan. Ujung belahan diperkuat dengan menggunakan mesin trees.
3. Penyambungan yoke (yoke garis hias) bagian belakang celana yang dilanjutkan dengan menjahit pesak celana belakang. Untuk kegiatan ini digunakan mesin jahit make up/mesin jahit yang menggunakan 5 helai benang.
4. Pembuatan dan pemasangan kantong tempel pada bagian belakang celana membentuk kantong tempel yang sudah dipotong, tepinya dipress, sehingga membentuk kantong tempel. Kantong tersebut ditempelkan pada celana bagian belakang kemudian di-setik lagi dengan menggunakan mesin jarus satu.
5. Melakukan proses gabung/body jadi untuk bagian depan dan belakang, maksudnya adalah menggabungkan pesak celana bagian depan dan bagian belakang.
6. Make up/menyambung bagian pipa celana depan dan belakang dengan menggunakan mesin make up/mesin yang menggunakan 5 helai benang sekaligus.
7. Mengobras bagian samping celana dengan menggunakan mesin obras benang lima.
8. Men-setik/menjahit bagian samping celana pada bagian baik celana dengan menggunakan mesin jarum satu.
9. Menyambung ban pinggang pada bagian celana dengan lebar + 9 cm dimasukkan ke dalam corong mesin, kemudian disetik bersamaan dengan bagian baik celana.
10. Mengklim kaki celana dan ujung ban pinggang dengan mesin jahit jarum
satu. Kaki celana terlebih dahulu dilipatkan 2 cm kemudian baru distik pada bagian buruk celana.
11. Membuat tali untuk ikat pinggang
Bahan digunting serong sebesar 2 cm, kemudian dimasukkan ke dalam corong mesin benang lima, kemudian mesin dijalankan, maka bahan yang keluar menyerupai bisband. Tali ikat pinggang ini dipotong-potong, kemudian dipasangkan kepada ban pinggang celana dengan menggunakan mesin trees.
12. Membuat lubang kancing
Lubang kancing dibuat dengan menggunakan mesin khusus, jarak dan besar kancing dapat diatur sesuai dengan keinginan.
13. Memasang kancing dengan menggunakan mesin khusus untuk memasang kancing.
i. Penyelesaian
Kegiatan penyelesaian yang dilakukan pada penjahitan celana antara lain:
1. Pencucian
Setelah semua celana dijahit, dilakukan proses pencucian. Proses pencucian menggunakan zat-zat kimia seperti Caustik soda (soda api), H20 dan sabun bubuk.
2. Membuang benang
Membuang benang adalah membersihkan semua sisa-sisa benang yang ada pada pakaian.
3. Penyetrikaan
Proses ini sangat menentukan bagus atau tidaknya hasil jahitan. Pada CV.
Utama Jaya proses penyetrikaan dilakukan dengan menggunakan tenaga manusia/tangan.
4. Pemasangan Merk dan Label
Kegiatan ini dilakukan setelah penyetrikaan. Merk dan label dipasang pada ban pinggang lalu ditempatkan di bagian belakang celana.
5. Pemeriksaan/quality control.
Kegiatan quality control ini berguna untuk mengontrol mutu dari setiap barang yang akan diproduksi, sehingga tidak menyimpang dari standar yang telah ditetapkan.
6. Pengepakan
Kegiatan pengepakan pada CV. Utama Jaya ini terdiri dari:
a. Pengepakan Master Bag/Poly Bag
Master bag/Poly bag adalah tas plastik atau kantong plastik pakaian yang dimasukkan satu per satu sesuai dengan ukuran (size).
Pengepakan dalam ukuran b. Kardus
Kardus yang digunakan adalah kardus yang tebal sudah disediakan oleh pemesan. Pengepakan dilakukan setelah pakaian disortir dan diketahui jumlah keseluruhan kemudian dimasukkan ke dalam kardus.
Selanjutnya dilem dan dicantumkan alamat yang akan dituju.
Pengaruh Pengendalian Persediaan Terhadap Kelancaran Proses Produksi Disini akan menganalisa pengaruh pengendalian persediaan bahan baku
terhadap kelancaran proses produksi pada CV. Utama Jaya, agar masalah pengendalian dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Analisa ini ditujukan untuk mendapatkan gambaran apakah perusahaan telah melakukan pengendalian persediaan bahan baku secara optimal untuk memperlancar proses produksinya.
Adapun analisa yang dipergunakan adalah sebagai berikut:
1. Analisa kebutuhan bahan baku
Dengan adanya proses produksi maka perusahaan harus menyediakan bahan baku, berarti persediaan bahan baku harus disesuaikan dengan kebutuhan bahan baku untuk proses produksi.
Untuk dapat mengetahui besarnya kebutuhan bahan baku yang diperlukan oleh perusahaan pada suatu periode, manajemen perusahaan menggunakan data-data historis untuk menyusun ramalan kebutuhan bahan baku.
Dalam menentukan kebutuhan bahan baku pada suatu periode yang akan datang, maka perusahaan dapat menggunakan metode trend setengah rata-rata yang mempunyai anggapan bahwa pemakaian bahan baku untuk keperluan proses produksi dari waktu ke waktu akan mempunyai tingkat perubahan yang tetap.
2. Rencana Pengembangan
Dengan meningkatnya minat konsumen dan ketatnya persaingan usaha dibidang bisnis manufaktur, maka seorang pimpinan perusahaan akan berusaha untuk mengembangkan usahanya. Demikian juga
dengan CV. Utama Jaya, karena prospek usahanya cukup baik maka pimpinan perusahaan akan berusaha mengembangkan usahanya dengan cara:
a. Melengkapi alat-alat komunikasi untuk mempercepat pengambilan bahan seperti: telepon, pager dan sebagainya.
b. Melengkapi alat transportasi seperti mobil untuk mempercepat pengambilan bahan atau pesanan dan pengiriman pesanan.
c. penginapan atau mess untuk karyawan yang berasal dari daerah yang jauh domisilinya dari perusahaan.
Sebelum mengadakan peramalan kebutuhan bahan baku untuk tahun 2010 , maka perlu dilihat dari data-data pemakaian bahan baku pada periode yang telah lalu tahun 2002/2009.
Tabel 4.1
Pemakaian bahan baku periode 2002-2009 Periode Kebutuhan bahan baku Tahun 2002 245060 Yard Tahun 2003 262097 Yard Tahun 2004 281825 Yard Tahun 2005 308006 Yard Tahun 2006 338469 Yard Tahun 2007 367902 Yard Tahun 2008 408780 Yard Tahun 2009 433306 Yard Sumber data primer
Keterangan : 1Yard = 0.9144 meter
Untuk memproduksi satu buah celana jeans dibutuhkan bahan baku jeans sebanyak 1.4 yard, maka celana yang dapat diproduksi adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2
Jumlah produksi celana jeans yang dihasilkan CV. Utama Jaya tahun 2002/2009
Tahun Produksi (Piece) Sisa Kain Jeans Setelah Diproduksi
2002 175040 piece 2.85 Yard
2003 187210 piece 2.14 Yard
2004 201300 piece 3.57 Yard
2005 220000 piece 4.28 Yard
2006 241760 piece 3.57 Yard
2007 262784 piece 3.14 Yard
2008 291982 piece 3.71 Yard
2009 316644 piece 3.14 Yard
Dari tabel di atas terlihat bahwa pemakaian bahan baku selalu mengalami perubahan, sesuai dengan jumlah produksi yang dihasilkan perusahaan. Kenaikan ataupun penurunan pemakaian bahan baku disebabkan oleh faktor penjualan serta adanya persaingan. Dari data pemakaian bahan baku tersebut maka dapat dihitung ramalan
Tabel 4.3
Perhitungan Trend Setengah rata-rata Peramalan tahun 2003
Tahun Kebutuhan
/tahun X Semi total Setengah rata-rata
Trend Permulaan
Tahun
2002 245060 -1.5 1096980/4 230984
2003 262097 -0.5 = 274247 259826
2004 281825 0.5 1096980 288668
2005 308006 1.5 317510
2006 338469 2.5 346352
2007 367902 3.5 1558457 1558457/4 375194
2008 408780 4.5 = 389614 404036
2009 443306 5.5 432878
x adalah jumlah unit tahun yang dihitung dari periode dasar ao =
Nilai trend pada periode dasar yang diambil dari 1096980/4 = 274247 b = 389614- 274247 = 115367 = 28842
4 4
Nilai trend permulaan tahun adalah F(t) = A + bx Y1995 = 274247 + 28842 (-1.5) = 230984 Y1996 = 274247 + 28842 (-0.5) = 259826 Y1997 = 274247 + 28842 (0.5) = 288668
Y1998 = 274247 + 28842 (1.5) = 317510
Y1999 = 274247 + 28842 (2.5) = 346352
Y2000 = 274247 + 28842 (3.5) = 375194 Y2001 = 274247 + 28842 (4.5) = 404036 Y2002 = 274247 + 28842 (5.5) = 432878 Y2003 = 274247 + 28842 (6.5) = 461720
Besarnya nilai x untuk tahun 2003 adalah 6.5 , sehingga ramalan kebutuhan bahan baku kain jeans untuk tahun 2003 adalah
Y = 274247 +28842(6.5)
= 274247 + 187473
= 461720
Jadi ramalan kebutuhan bahan baku kain jeans untuk tahun 2003 adalah sebesar 461720 yard.
Bila dicari korelaisnya antara pemakaian berdasarkan model trend linier dengan pemakaian senyatanya, akan terlihat dalam tabel dibawah ini.
Tabel 4.4
Perhitungan Korelasi Peramalan dan Pemakaian Bahan Baku Kain Jeans dengan Trend Linier Dalam Ribuan
Tahun x Y xY x2 Y2
2002 245,060 230,984 56.604,939 60.054,403 53.353,608 2003 262,097 259,826 68.099,615 68.694,837 67.509,550 2004 281,825 288,668 81.353,859 79.425,330 83.329,214 2005 308,006 317,510 97.794,985 94.867,696 100.812,600 2006 338,469 346,352 117.229,415 114.561,264 119.959,707 2007 367,902 375,194 138.034,623 135.351,881 140.770,537 2008 408,780 404,036 165.161,836 167.101,088 163.245,089 2009 433,306 432,878 187.568,634 187.754,089 187.383,362 Jumlah 2.645,445 2.655,448 911.847,906 907.810,588 916.363,667
r = nI xy - I x I y
(n I x2 - (I x)2) (n I y2 - (I y)2)
= 8(911.847,906) - (2.645,445) (2.655,448)
(8 x 907.810,588) - (2.645,445)2 (8 x 916.363,667) - (2.655,448)2
= 269.941,613
264.105,456 x 279.505,255
= 269.941,613 271.696,269
= 0.99 99%