Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Penulisan modul Pengenalan Rusunawa merupakan bagian yang perlu diketahui oleh para peserta diklat, untuk memberikan wawasan dalam memahami modul-modul diklat yang terkait dalam pelatihan ini.
Dalam modul Pengenalan Rusunawa ini diuraikan masalah kriteria perencanaan dan kriteria teknis bangunan dari rusunawa bertingkat rendah dan rusunawa bertingkat tinggi, sehingga para peserta diklat dalam menjalankan pengawasan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
Uraian dalam modul Pengenalan Rusunawa ini sudah barang tentu akan terkait dengan diklat modul yang lain, yaitu
a. Modul Diklat Pemanfaatan Rusunawa b. Modul Diklat Pengelolaan Rusunawa
c. Modul Diklat Perencanaan Pemeliharaan Dan Perawatan Rusunawa d. Modul Diklat Pemeliharaan Rusunawa
e. Modul Diklat Perawatan Rusunawa
f. Modul Diklat Kunjungan Lapangan Rusunawa g. Modul Diklat Semunar Rusunawa
1.2 Deskripsi Singkat
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 28H ayat (1) menegaskan bahwa, Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
Jika kita melihat kondisi sekarang, dimana masih banyaknya masyarakat berpenghasilan rendah (yang untuk selanjutnya dalam modul diklat 1 ini kami sebut sebagai MBR) yang masih banyak yang belum mampu dan belum dapat menghuni rumah yang layak, khususnya di daerah seputar perkotaan, dan hal ini akan mengakibatkan timbulnya dan terbentuknya kawasan yang kumuh. Program Pemerintah untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah dan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan perumahan tersebut, salah satunya dapat dilakukan dengan melalui pembangunan rumah susun sebagai bagian dari pembangunan perumahan mengingat keterbatasan lahan di perkotaan. Pembangunan rumah susun ini diharapkan mampu mendorong pembangunan perkotaan yang sekaligus menjadi solusi peningkatan kualitas permukiman. Dan masyarakat berpenghasilan rendah
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 2 adalah masyarakat yang mempunyai keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat dukungan pemerintah untuk memperoleh rumah susun.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Rumah Susun, telah memberikan kewenangan yang luas kepada Pemerintah di bidang penyelenggaraan rumah susun dan memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk melakukan penyelenggaraan rumah susun di daerah sesuai dengan kewenangannya. Kewenangan yang diberikan tersebut didukung oleh pendanaan yang berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara maupun anggaran pendapatan dan belanja daerah. Undang-Undang ini juga mengatur kegiatan perencanaan, pembangunan, penguasaan dan pemanfaatan, pengelolaan, pemeliharaan dan perawatan, pengendalian, kelembagaan, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran masyarakat yang dilaksanakan secara sistematis, terpadu, berkelanjutan, dan bertanggung jawab.
Jenis rusunawa adalah rusunawa bertingkat rendah dan rusunawa bertingkat tinggi.
Di dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/Prt/M/2007 Tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Susun Sederhana Bertingkat Tinggi, menyebutkan definisi Rusuna Bertingkat Tinggi adalah bangunan gedung rumah susun sederhana dengan jumlah lantai bangunan lebih dari 8 lantai dan maksimum 20 lantai.
Rusunawa adalah untuk masyarakat berpenghasilan rendah, sehingga sasaran pembangunan rusunawa diantaranya adalah rusunawa untuk TNI/POLRI, rusunawa untuk pekerja, dan rusunawa untuk pendidikan berasrama.
1.3 Tujuan Pembelajaran 1.3.1 Kompetensi Dasar
Setelah mengikuti mata diklat Pengenalan Rusunawa ini, peserta dapat memahami kebijakan dan program Pemerintah tentang penyelenggaraan rusunawa di Indonesia, jenis-jenis rusunawa dan sasaran pembangunan rusunawa
1.3.2 Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti mata diklat Pengenalan Rusunawa ini,
1. Peserta mampu menjelaskan tentang kriteria perencanaan bangunan rusunawa bertingkat rendah
2. Peserta mampu menjelaskan tentang ketentuan teknis bangunan rusunawa bertingkat rendah
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 3 3. Peserta mampu menjelaskan tentang kriteria perencanaan bangunan rusunawa
bertingkat tinggi
4. Peserta mampu menjelaskan tentang ketentuan administratif bangunan rusunawa bertingkat tinggi
5. Peserta mampu menjelaskan tentang ketentuan teknis tata bangunan rusunawa bertingkat tinggi
6. Peserta mampu menjelaskan tentang ketentuan teknis keandalan bangunan rusunawa bertingkat tinggi
7. Peserta mampu menjelaskan tentang ketentuan biaya bangunan rusunawa bertingkat tinggi
1.4 Materi Pokok dan Sub Materi Pokok 1. Jenis-jenis rusunawa.
a. Rusunawa bertingkat rendah b. Rusunawa bertingkat tinggi 2. Sasaran pembangunan rusunawa
a. Rusunawa untuk TNI/POLRI b. Rusunawa untuk pekerja
c. Rusunawa untuk pendidikan berasrama 1.5 Bahan Untuk Pembelajaran
Bahan untuk pembelajaran berupa:
a. Bahan tayang, berupa power point
b. LCD (Liquid Crystal Display) atau menggunakan LED (Light Emitting Diode) c. Laptop
d. Spidol e. Buku catatan
1.6 Petunjuk Untuk Pembelajaran
Mata diklat “Pengenalan Rusunawa” akan diselengarakan dalam 3 jp atau selama 135 menit, yang terdir dari:
± 10% atau sekitar 15 menit untuk pendahuluan dan pengkondisian
± 70% atau sekitar 100 menit penyampaian materi pokok, yang terdiri dari, - 50 menit penyampaian pemahaman tentang materi jenis-jenis rusunawa - 50 menit penyampaian pemahaman tentang materi sasaran pembangunan
rusunawa
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 4
± 20% atau sekitar 20 menit untuk Penutup yang terdiri dari:
- Ringkasan/rangkuman materi dan tanya jawab - Evaluasi pembelajaran
N0
Materi Modul I Pengenalan Rusunawa
Kegiatan
Instruktur Peserta Latih 1 Pendahuluan dan
pengkondisian suasana (10 menit)
a. Pengkondisian suasana dan memotivasikan peserta
b. Maksud pelatihan c. Ringkasan materi
a. Menyimak dan mencatat penjelasan instruktur b. Aktif berkomentar c. Aktif bertanya
2 Penjelasan tentang jenis- jenis rusunawa (50 menit)
a. Menjelaskan kebijakan Pemerintah dalam penyelenggaraan rumah susun b. Menjelaskan definisi
rumah susun c. Menjelaskan jenis-
jenis rumah susun d. Menjelaskan rumah
susun berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor :
05/Prt/M/2007 Tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Susun
Sederhana Bertingkat Tinggi
a. Mempersiapkan segala sesuatunya untuk pelatihan terkait
b. Menyimak (attentively) penjelasan dari instruktur c. Mencatat semua
penjelasan yang penting sesuai kebutuhan masing- masing peserta
d. Aktif memberikan
Komentar
Masukan
Usulan yang
konstruktif/membangun
3 Penjelasan tentang sasaran pembangunan rusunawa (50 menit)
a. Menjelaskan Program Pembangunan rusun untuk TNI/POLRI b. Menjelaskan maksud
dan tujuan rusunawa TNI/POLRI
c. Menjelaskan Rusunawa Untuk
a. Mempersiapkan segala sesuatunya untuk pelatihan terkait
b. Menyimak (attentively) penjelasan dari instruktur c. Mencatat semua
penjelasan yang penting sesuai kebutuhan masing-
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 5 N0
Materi Modul I Pengenalan Rusunawa
Kegiatan
Instruktur Peserta Latih Pekerja
d. Menjelaskan Rusunawa Untuk Pendidikan Berasrama
masing peserta d. Aktif memberikan
Komentar
Masukan
Usulan yang
konstruktif/membangun 4 Penutup (25 menit) a. Instruktur membuat
ringkasan/rangkuman b. Tanya jawab
c. Melaksanakan evaluasi
a. Menyimak rangkuman b. Tanya jawab dan diskusi
BAB II
JENIS-JENIS RUSUNAWA
2.1 Rusunawa Bertingkat Rendah
Rumuah Susun Sederhana Sewa adalah untuk memenuhi kebutuhan perumahan dan memberikan akomodasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan dapat dihuni dan sewa. Rumuah Susun Sederhana Sewa merupakan program pemerintah.
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 6 Dalam. Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor : 14 /Permen/M/2007 Tentang Pengelolaan Rumah Susun Sederhana Sewa, disebutkan definisi rusunawa adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam arah horisontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing digunakan secara terpisah, status penguasaannya sewa serta dibangun dengan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dengan fungsi utamanya sebagai hunian.
2.1.1 Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti mata diklat Pengenalan Rusunawa ini,
1. Peserta mampu menjelaskan tentang kriteria perencanaan bangunan rusunawa rusunawa bertingkat rendah
2. Peserta mampu menjelaskan tentang ketentuan teknis bangunan rusunawa rusunawa bertingkat rendah
2.1.2 Kriteria Perencanaan Rusunawa Bertingkat Rendah 1
Dalam beberapa hal kriteria perencanaaan rusunawa bertingkat rendah sesuai PP no 4 tahun 1988, adalah sama dengan rusunawa bertingkat tingkat tinggi, kecuali dalam beberapa hal karena masalah teknis karena ketinggian bangunan. Dalam kriteria perencanaan rencana bangunan rusunawa harus berisi rencana tapak beserta denah dan potongan yang menunjukan dengan jelas batasan secara vertikal dan horizontal dari satuan rumah susun yang dimaksud. Untuk memberikan batas yang jelas, maka batas pemilikan bersama harus digambarkan secara jelas dan mudah di mengerti oleh semua pihak dan ditunjukkan dengan gambar dan uraian tertulis yang terperinci.
Semua ruang yang dipergunakan untuk kegiatan sehari-hari harus mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan udara luar dan pencahayaan langsung maupun tidak langsung secara alami, dalam jumlah yang cukup sesuai dengan persyaratan yang berlaku. Dalam hal hubungan langsung maupun tidak langsung dengan udara luar dan pencahayaan langsung maupun tidak langsung secara alami tidak mencukupi atau tidak memungkinkan, harus diusahakan adanya pertukaran udara dan pencahayaan buatan yang dapat bekerja terus menerus selama ruangan tersebut digunakan, sesuai dengan persyaratan yang berlaku.
1 Sumber data-data dalam narasi ini diambil dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1988 Tentang Rumah Susun
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 7 Dalam rumah susun harus dilengkapi dengan :
a. jaringan air bersih yang memenuhi persyaratan mengenai perpipaan dan perlengkapannya termasuk meter air, pengatur tekanan air, dan tangki air dalam bangunan;
b. jaringan listrik yang memenuhi persyaratan mengenai kabel dan perlengkapannya, termasuk meter listrik dan pembatas arus, serta pengamanan terhadap kemungkinan timbulnya hal-hal yang membahayakan;
c. jaringan gas yang memenuhi persyaratan beserta perlengkapannya, termasuk meter gas, pengatur arus, serta pengamanan terhadap kemungkinan timbulnya hal-hal yang membahayakan;
d. saluran pembuangan air hujan yang memenuhi persyaratan kualitas, kuantitas, dan pemasangan;
e. saluran pembuangan air limbah yang memenuhi persyaratan kualitas, kuantitas, dan pemasangan;
f. saluran dan/atau tempat pembuangan sampah yang memenuhi persyaratan terhadap kebersihan, kesehatan, dan kemudahan;
g. tempat untuk kemungkinan pemasangan jaringan telepon dan alat komunikasi lainnya;
h. alat transportasi yang berupa tangga, lift atau eskalator sesuai dengan tingkat keperluaan dan persyaratan yang berlaku;
i. pintu dan tangga darurat kebakaran;
j. tempat jemuran;
k. alat pemadam kebakaran;
l. penangkal petir;
m. alat/sistem alarm;
n. pintu kedap asap pada jarak-jarak tertentu;
o. generator listrik disediakan untuk rumah susun yang menggunakan lift.
Bagian-bagian dari kelengkapan yang merupakan hak bersama harus ditempatkan dan dilindungi untuk menjamin fungsinya sebagai bagian bersama dan mudah dikelola.
Beberapa persyaratan kriteria perencanaan untuk rumah susun sederhana adalah.
a. Harus mempunyai ukuran standar yang dapat dipertanggungjawabkan, dan memenuhi persyaratan sehubungan dengan fungsi dan penggunaanya serta harus disusun, diatur, dan dikoordinasikan untuk dapat mewujudkan suatu keadaan yang dapat menunjang kesejahteraan dan kelancaran bagi penghuni dalam menjalankan kegiatan seharihari untuk hubungan ke dalam maupun ke luar.
b. Dapat berada pada permukaan tanah, diatas atau di bawah permukaan tanah, atau sebagian di bawah dan sebagian di atas permukaan tanah, merupakan dimensi dan volume ruang tertentu sesuai dengan yang telah direncanakan.
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 8 c. Harus dapat memenuhi kebutuhan penghuni sehari-hari.
d. Pemenuhan untuk kebutuhan para penghuni sehari-hari harus dapat disediakan pada bagian bersama.
e. Bagian bersama yang berupa ruang untuk umum, ruang tangga, lift, selasar, harus mempunyai ukuran yang memenuhi persyaratan dan diatur serta dikoordinasikan untuk dapat memberikan kemudahan bagi penghuni dalam melakukan kegiatan sehari-hari baik dalam hubungan sesama penghuni, maupun dengan pihak-pihak lain, dengan memperhatikan keserasian, keseimbangan, dan keterpaduan.
f. Benda bersama harus mempunyai dimensi, lokasi, kualitas, kapasitas yamg memenuhi persyaratan dan diatur serta dikoordinasikan untuk dapat memberikan keserasian lingkungan guna menjamin keamanan dan kenikmatan para penghuni maupun pihak-pihak lain, dengan memperhatikan keselarasan, keseimbangan, dan keterpaduan.
g. Harus dibangun di lokasi yang sesuai dengan peruntukan dan keserasian lingkungan dengan memperhatikan rencana tata ruang dan tata guna tanah yang ada.
h. Harus dibangun pada lokasi yang memungkinkan berfungsinya dengan baik saluran-saluran pembuangan dalam lingkungan ke sistem jaringan pembuangan air hujan dan jaringan air limbah kota.
i. Lokasi rumah susun sederhana harus mudah dicapai angkutan yang diperlukan baik langsung maupun tidak langsung pada waktu pembangunan maupun penghunian serta perkembangan dimasa mendatang, dengan memperhatikan keamanan, ketertiban, dan gangguan pada lokasi sekitarnya.
j. Lokasi rumah susun sederhana harus dijangkau oleh pelayanan jaringan air bersih dan listrik.
k. Dalam hal lokasi rumah susun sederhana belum dapat dijangkau oleh pelayanan jaringan air bersih dan listrik, penyelenggara pembangunan wajib menyediakan secara tersendiri sarana air bersih dan listrik sesuai dengan tingkat keperluannya, dan dikelola berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
l. Kepadatan bangunan dalam lingkungan harus memperhitungkan dapat dicapainya optimasi daya guna dan hasil guna tanah, sesuai dengan fungsinya, dengan memperhatikan keserasian dan keselamatan lingkungan sekitarnya, berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku.
m. Tata letak bangunan harus menunjang kelancaran kegiatan sehari-hari dengan mempertimbangkan keserasian, kesimbangan, dan keterpaduan.
n. Tata letak bangunan harus memperhatikan penetapan batas pemilikan tanah bersama, segi-segi kesehatan, pencahayaan, pertukaran udara, serta pencegahan dan pengamanan terhadap bahaya yang mengancam keselamatan
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 9 penghuni, bangunan, dan lingkungannya berdasarkan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
o. Lingkungan rumah susun sederhana harus dilengkapi dengan prasarana lingkungan yang berfungsi sebagai penghubung untuk keperluan kegiatan sehari- hari bagi penghuni, baik ke dalam maupun ke luar dengan penyediaan jalan setapak, jalan kendaraan, dan tempat parkir.
p. Penyediaan prasarana lingkungan harus mempertimbangkan kemudahan dan keserasian hubungan dalam kegiatan sehari-hari dan pengamanan bila terjadi hal-hal yang membahayakan, serta struktur, ukuran, dan kekuatan yang cukup sesuai dengan fungsi dan penggunaan jalan tersebut.
q. Lingkungan rumah susun sederhana harus dilengkapi dengan prasarana lingkungan dan utilitas umum yang sifatnya menunjang fungsi lainnya dalam rumah susun yang bersangkutan, meliputi :
1) Jaringan distribusi air bersih, gas, dan listrik dengan segala kelengkapannya termasuk kemungkinan diperlukannya tangki-tangki air, pompa air, tangki gas, dan gardu-gardu listrik;
2) Saluran pembuangan air hujan yang menghubungkan pembuangan air hujan dari rumah susun ke sistem jaringan pembuangan air kota;
3) Saluran pembuangan air limbah dan/atau tangki septik yang menghubungkan pembuangan air limbah dari rumah susun ke sistem jaringan air limbah kota, atau penampungan air limbah tersebut ke dalam tangki septik dalam lingkungan;
4) Tempat pembuangan sampah yang fungsinya adalah sebagai tempat pengumpulan sampai dari rumah susun selanjutnya dibuang ke tempat pembuangan sampah kota, dengan memperhatikan faktor-faktor kemudahan pengangkutan, kesehatan, kebersihan, dan keindahan;
5) Kran-kran air untuk pencegahan dan pengamanan terhadap bahaya kebakaran yang dapat menjangkau semua tempat dalam lingkungan dengan kapasitas air yang cukup untuk pemadam kebakaran;
6) Tempat parkir kendaraan dan/atau penyimpanan barang yang diperhitungkan terhadap kebutuhan penghuni dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya sesuai dengan fungsinya;
7) Jaringan telepon dan alat komunikasi lain sesuai dengan tingkat keperluanya.
Dalam Rumah susun sederhana dan lingkungannya harus disediakan ruangan- ruangan dan/atau bangunan untuk tempat berkumpul, melakukan kegiatan masyarakat, tempat bermain bagi anak-anak, dan kontak sosial lainnya, sesuai dengan standar yang berlaku.
Dalam lingkungan rumah susun sederhana yang sebagian atau seluruhnya digunakan sebagi hunian untuk jumlah satuan hunian tertentu, selain penyediaan ruang
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 10 dan/atau bangunan harus disediakan pula ruangan dan/atau bangunan untuk pelayanan kebutuhan sehari-hari sesuai dengan standar yang berlaku.
2.1.3 Ketentuan Teknis Bangunan Rusunawa Bertingkat Rendah
Rusunawa harus direncanakan dan dibangun dengan struktur, komponen dan penggunaan bahan bangunan yang memenuhi persyaratan konstruksi sesuai dengan standar yang berlaku. Struktur, komponen dan penggunaan bahan bangunan rusunawa tersebut harus diperhitungkan kuat dan tahan terhadap :
a. Beban mati;
b. Beban bergerak
c. Gempa, hujan, angin, banjir;
d. Kebakaran dalam jangka waktu yang diperhitungkan cukup untuk usaha pengamanan dan penyelamatan;
e. Daya dukung tanah;
f. Kemungkinan adanya beban tambahan, baik dari arah vertikal maupun horizontal;
g. Gangguan/perusak lainnya, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Beberapa persyaratan dalam pemanfaatan bangunan rusunawa diantaranya adalah, a. Pemanfaatan bagian atap (roof) harus disesuaikan dengan daya dukung struktur
bangunan rusunawa;
b. Pemanfaatan bagian bangunan balkon atau dinding bangunan hanya dapat digunakan untuk tanaman dalam pot/ gantung;
c. Dinding bagian dalam bangunan dapat dimanfaatkan untuk menempatkan papan informasi.
d. Ketentuan-ketentuan teknis diatur oleh Menteri Pekerjaan Umum.
2.2 Rusunawa Bertingkat Tinggi 2
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/Prt/M/2007 Tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Susun Sederhana Bertingkat Tinggi, menyebutkan definisi Rusuna Bertingkat Tinggi adalah bangunan gedung rumah susun sederhana dengan jumlah lantai bangunan lebih dari 8 lantai dan maksimum 20 lantai. Penyelenggaraan Rusuna Bertingkat Tinggi dilaksanakan oleh pengembang, penyedia jasa konstruksi, dan pengguna Rusuna Bertingkat Tinggi.
2 Sumber data-data dalam narasi ini diambil dari Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/Prt/M/2007 Tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Susun Sederhana Bertingkat Tinggi
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 11 2.2.1 Kriteria Perencanaan Rusunawa Bertingkat Tinggi
Dalam pelaksanaan pembangunan rusuna bertingkat tinggi, para penyelenggara pembangunan perlu mengikuti pedoman teknis sebagai petunjuk dalam pelaksanaannya, agar bangunan gedung rusuna bertingkat tinggi dapat terwujud sesuai dengan fungsi, persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan serta serasi dan selaras dengan lingkungannya. Dan selain dari pada itu juga agar rusuna bertingkat tinggi diselenggarakan dengan tertib, efisien dalam penggunaan sumber daya dan terjangkau, efektif dengan mempertimbangkan aspek budaya dan pola hidup calon penghuni, serta berkelanjutan.
Lingkup Pedoman Teknis ini meliputi a. kriteria perencanaan,
b. ketentuan administratif,
c. ketentuan teknis tata bangunan,
d. ketentuan teknis keandalan bangunan, dan
e. ketentuan pembiayaan bangunan rusuna bertingkat tinggi.
a. Kriteria Perencanaan Rusuna Bertingkat Tinggi yang meliputi 1) Kriteria Umum.
Kriteria Umum adalah kriteria persyaratan untuk pemenuhan tujuan pengaturan bangunan gedung
2) Kriteria Khusus.
Kriteria Khusus adalah kriteria persyaratan untuk pemenuhan tujuan pengaturan bangunan rusuna bertingkat tinggi
Kriteria Umum:
Dalam penyelenggaraan Rusuna Bertingkat Tinggi yang pelaksanaannya oleh pengembang, penyedia jasa konstruksi, dan/atau pengguna Rusuna Bertingkat Tinggi harus memenuhi kriteria umum sebagai berikut :
1) Bangunan Rumah Rusuna Bertingkat Tinggi harus memenuhi persyaratan fungsional, andal, efisien, terjangkau, sederhana namun dapat mendukung peningkatan kualitas lingkungan di sekitarnya dan peningkatan produktivitas kerja.
2) Kreativitas desain hendaknya tidak ditekankan kepada kemewahan material, tetapi pada kemampuan mengadakan sublimasi antara fungsi teknik dan
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 12 fungsi sosial bangunan, dan mampu mencerminkan keserasian bangunan gedung dengan lingkungannya;
3) Biaya operasi dan pemeliharaan bangunan gedung sepanjang umurnya diusahakan serendah mungkin;
4) Desain bangunan rusuna bertingkat tinggi dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat dilaksanakan dalam waktu yang pendek dan dapat dimanfaatkan secepatnya.
5) Bangunan rusuna bertingkat tinggi harus diselenggarakan oleh pengembang atau penyedia jasa konstruksi yang memiliki Surat Keterangan Ahli sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
Kriteria Khusus
Dalam penyelenggaraan Rusuna Bertingkat Tinggi yang pelaksanaannya oleh pengembang, penyedia jasa konstruksi, dan/atau pengguna Rusuna Bertingkat Tinggi harus memenuhi kriteria khusus sebagai berikut :
a. Rusuna bertingkat tinggi yang direncanakan harus mempertimbangkan identitas setempat pada wujud arsitektur bangunan tersebut;
b. Masa bangunan sebaiknya simetri ganda, rasio panjang lebar (L/B) < 3, hindari bentuk denah yang mengakibatkan puntiran pada bangunan;
c. Jika terpaksa denah terlalu panjang atau tidak simetris : pasang dilatasi bila dianggap perlu;
d. Lantai Dasar dipergunakan untuk fasos, fasek dan fasum, antara lain : Ruang Unit Usaha, Ruang Pengelola, Ruang Bersama, Ruang Penitipan Anak, Ruang Mekanikal-Elektrikal, Prasarana dan Sarana lainnya, antara lain Tempat Penampungan Sampah/Kotoran;
e. Lantai satu dan lantai berikutnya diperuntukan sebagai hunian yang 1 (satu) Unit Huniannya terdiri atas:
1) 1(satu) RuangDuduk/Keluarga, 2) 2(dua) Ruang Tidur,
3) 1(satu) KM/WC, dan
4) Ruang Service (Dapur dan Cuci) dengan total luas per unit adalah 30 m2.
f. Luas sirkulasi, utilitas, dan ruang-ruang bersama maksimum 30% dari total luas lantai bangunan;
g. Denah unit rusuna bertingkat tinggi harus fungsional, efisien dengan sedapat mungkin tidak menggunakan balok anak, dan memenuhi persyaratan penghawaan dan pencahayaan;
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 13 h. Struktur utama bangunan termasuk komponen penahan gempa (dinding
geser atau rangka perimetral) harus kokoh, stabil, dan efisien terhadap beban gempa;
i. Setiap 3 (tiga) lantai bangunan rusuna bertingkat tinggi harus disediakan ruang bersama yang dapat berfungsi sebagai fasilitas bersosialisasi antar penghuni.
j. Sistem konstruksi rusuna bertingkat tinggi harus lebih baik, dari segi kualitas, kecepatan dan ekonomis (seperti sistem formwork dan sistem pracetak) dibanding sistem konvensional;
k. Dinding luar rusuna bertingkat tinggi menggunakan beton pracetak sedangkan dinding pembatas antar unit/sarusun menggunakan beton ringan, sehingga beban struktur dapat lebih ringan dan menghemat biaya pembangunan.
l. Lebar dan tinggi anak tangga harus diperhitungkan untuk memenuhi keselamatan dan kenyamanan, dengan lebar tangga minimal 110 cm;
m. Railling/pegangan rambat balkon dan selasar harus mempertimbangkan faktor privasi dan keselamatan dengan memperhatikan estetika sehingga tidak menimbulkan kesan masif/kaku, dilengkapi dengan balustrade dan railling;
n. Penutup lantai tangga dan selasar menggunakan keramik, sedangkan penutup lantai unit hunian menggunakan plester dan acian tanpa keramik kecuali KM/WC;
o. Penutup dinding KM/WC menggunakan pasangan keramik dengan tinggi maksimum adalah 1.80 meter dari level lantai.
p. Penutup meja dapur dan dinding meja dapur menggunakan keramik. Tinggi maksimum pasangan keramik dinding meja dapur adalah 0.60 meter dari level meja dapur;
q. Elevasi KM/WC dinaikkan terhadap elevasi ruang unit hunian, hal ini berkaitan dengan mekanikal-elektrikal untuk menghindari sparing air bekas dan kotor menembus pelat lantai;
r. Material kusen pintu dan jendela menggunakan bahan allumunium ukuran 3x7 cm, kusen harus tahan bocor dan diperhitungkan agar tahan terhadap tekanan angin. Pemasangan kusen mengacu pada sisi dinding luar, khusus untuk kusen yang terkena langsung air hujan harus ditambahkan detail mengenai penggunaan sealant;
s. Plafond memanfaatkan struktur pelat lantai tanpa penutup (exposed);
t. Seluruh instalasi utilitas harus melalui shaft, perencanaan shaft harus memperhitungkan estetika dan kemudahan perawatan;
u. Ruang-ruang mekanikal dan elektrikal harus dirancang secara terintegrasi
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 14 dan efisien, dengan sistem yang dibuat seefektif mungkin (misalnya: sistem plumbing dibuat dengan sistem positive suction untuk menjamin efektivitas sistem).
v. Penggunaan lif direncanakan untuk lantai 6 keatas, bila diperlukan dapat digunakan sistem pemberhentian lif di lantai genap/ganjil.
2.2.2 Ketentuan Administratif Rusunawa Bertingkat Tinggi
Ketentuan administratif rusuna bertingkat tinggi yang meliputi kejelasan status hak atas tanah, status kepemilikan bangunan, status perizinan termasuk izin mendirikan bangunan gedung (IMB).
Setiap penyelenggaraan rusuna bertingkat tinggi harus memenuhi ketentuan administratif bangunan gedung, yang meliputi:
a. Status hak atas tanah
Bangunan rusuna bertingkat tinggi hendaknya dibangun di atas tanah/lahan yang mempunyai kejelasan status hak atas tanah dan tidak dalam sengketa.
b. Status kepemilikan rusuna bertingkat tinggi
Kepemilikan unit rusuna bertingkat tinggi menjadi hak milik pembeli dalam hal Rusuna dibangun sebagai Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami), sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
c. Status perizinan
Setiap rusuna bertingkat tinggi harus dibangun berdasarkan Izin Mendirikan Bangunan Gedung (IMB) yang diterbitkan oleh pemerintah daerah setempat mengacu pada keterangan rencana tata kota, RTRW, atau RTBL atas permohonan pengembang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Selain dari pada itu perlu pula ditambahkan yang termasuk dalam Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 21.Tahun 2011 Tentang Pedoman Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sewa, yang sebagai pengganti Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat9/PERMEN/M/2008 tentang Pedoman Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Pada Lembaga Pendidikan Tinggi dan Lembaga Pendidikan Berasrama sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan pemenuhan kebutuhan hunian rumah susun sewa.
Bahwa Bantuan pembangunan rumah susun sewa harus memenuhi persyaratan administratif sebagai berikut:
a. Surat permohonan
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 15 1) Surat permohonan ditujukan kepada Menteri
2) Surat permohonan untuk bantuan pembangunan rumah susun dengan ketentuan sebagai berikut:
a) PNS pada instansi Pemerintah ditandatangani oleh pimpinan Kementerian atau Lembaga;
b) PNS pada instansi daerah provinsi ditandatangani oleh gubernur;
c) PNS pada instansi daerah kabupaten/kota ditandatangani oleh bupati/walikota;
d) pegawai negeri di lingkungan TNI ditandatangani oleh Menteri Pertahanan Republik Indonesia;
e) pegawai negeri di lingkungan POLRI ditandatangani oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia;
f) mahasiswa, tenaga pendidik, peneliti, dan kependidikan ditandatangani oleh pimpinan perguruan tinggi atau ketua yayasan dan dilengkapi dengan rekomendasi dari Kementerian Pendidikan Nasional atau Kementerian Agama sesuai kewenangannya;
g) siswa dan/atau santri, tenaga pendidik, dan kependidikan ditandatangani oleh pimpinan perguruan tinggi atau ketua yayasan dan dilengkapi dengan rekomendasi dari Kementerian Pendidikan Nasional atau Kementerian Agama sesuai kewenangannya;
h) pekerja paramedis, dan pekerja industri, ditandatangani pimpinan lembaga, ketua yayasan, pimpinan BUMN/D, atau ketua koperasi dengan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, atau Kementerian/lembaga terkait sesuai kewenangannya;
i) petugas pada kawasan perbatasan, pekerja di daerah tertinggal, masyarakat sangat miskin, atlet, dan nelayan ditandatangani pimpinan BUMN/D atau bupati/walikota dengan rekomendasi dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Sosial, Kementerian Pemuda dan Olahraga atau Kementerian Kelautan dan Perikanan sesuai kewenangannya.
b. Proposal
Proposal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan gambaran secara menyeluruh mengenai lembaga/yayasan/BUMN/D, koperasi atau kabupaten/kota calon penerima bantuan beserta rencana usulan sebagai dasar pengajuan bantuan pembangunan rumah susun sewa. Proposal sebagaimana dimaksud diatas harus dilengkapi dengan:
1) surat dukungan;
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 16 2) surat pernyataan; dan
3) surat kesanggupan penyertaan.
Surat dukungan sebagaimana dimaksud diatas dengan ketentuan:
1) surat dukungan ditujukan kepada Menteri,
2) surat dukungan dari pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota menjelaskan bentuk dukungan yang dapat diberikan secara tertulis; dan 3) surat dukungan dari pimpinan instansi kementerian/lembaga terkait berupa
rekomendasi bantuan pembangunan rumah susun sewa.
Surat pernyataan merupakan pernyataan dari lembaga/yayasan/BUMN/D atau pemerintah daerah calon penerima bantuan sebagaimana dimaksud diatas dengan ketentuan:
1) kepemilikan dan penguasaan tanah berupa tanda bukti penguasaan yang sah
2) menyediakan dan menyerahkan lahan dalam kondisi siap bangun;
3) jaminan tidak mengalihfungsikan pemanfaatan bangunan rumah susun sewa;
4) kesediaan menerima dan mengelola rumah susun sewa;
5) lokasi sesuai dengan RTRW;
6) tidak melakukan perubahan lokasi pembangunan rumah susun sewa yang telah ditetapkan; dan tidak melakukan perubahan disain bangunan rumah susun sewa yang telah ditetapkan.
7) Surat pernyataan sebagaimana tercantum pada lampiran 3 Peraturan Menteri ini.
Surat kesanggupan penyertaan merupakan penyertaan kesanggupan dari lembaga/yayasan/BUMN/D, koperasi atau pemerintah daerah calon penerima bantuan dengan ketentuan:
1) menyelesaikan biaya administrasi penyambungan air minum dan listrik;
2) menyediakan tanah siap bangun;
3) menyediakan meubeler;
4) melakukan pemanfaatan dan pengelolaan rumah susun sewa; dan 5) menjaga kelestarian lingkungan pada lokasi rumah susun sewa.
6) Surat kesanggupan penyertaan sebagaimana tercantum pada lampiran 4 Peraturan Menteri ini.
7) Surat kesanggupan penyertaan mengenai biaya administrasi penyambungan air minum dan listrik, serta menyediakan meubeler dilampirkan dengan dokumen rencana dana.
8) Dalam hal biaya administrasi penyambungan air minum dan listrik, serta menyediakan meubeler, penerima bantuan harus memenuhi persyaratan:
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 17 (a) dana yang bersumber dari APBN/APBD dibuktikan dengan dokumen
rencana anggaran dan biaya; atau
(b) dana yang bersumber selain dari APBN/APBD dibuktikan dengan dokumen rencana anggaran dan biaya atau dokumen anggaran lain yang sah.
Dalam hal terjadi perubahan lokasi dan/atau perubahan disain bangunan rumah susun sewa, wajib menyampaikan surat yang ditandatangani oleh pimpinan lembaga, ketua yayasan, pimpinan BUMN/D, atau ketua koperasi untuk mendapat persetujuan Kepala Satuan Kerja yang melaksanakan pembangunan bantuan rumah susun sewa. Persetujuan terhadap perubahan lokasi dan/atau perubahan disain bangunan disampaikan kepada Deputi Bidang Perumahan Formal sebagai laporan.
Dalam hal lembaga, yayasan, BUMN/D, koperasi atau kabupaten/kota calon penerima bantuan tidak memenuhi persyaratan proposal beserta kelengkapannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, maka Menteri dapat melakukan penundaan program bantuan pembangunan rumah susun sewa.
2.2.3 Ketentuan Teknis Tata Bangunan Rusunawa Bertingkat Tinggi 2.2.3.1 Peruntukan Dan Intensitas Bangunan
Bangunan rusuna bertingkat tinggi harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam ketentuan tata ruang dan tata bangunan dari lokasi yang bersangkutan yang ditetapkan dalam:
1) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah;
2) Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR); dan/atau
3) Peraturan bangunan setempat dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL).
Bangunan rusuna bertingkat tinggi yang dibangun harus memenuhi persyaratan kepadatan (Koefisien Dasar Bangunan) dan ketinggian (Jumlah Lantai Bangunan, Koefisien Lantai Bangunan) bangunan gedung berdasarkan rencana tata ruang wilayah daerah yang bersangkutan, rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan, serta peraturan bangunan setempat, dengan tetap mempertimbangkan:
1) kemampuan dalam menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan optimalisasi intensitas bangunan;
2) tidak mengganggu lalu lintas udara.
Dalam hal pembangunan rusuna bertingkat tinggi dibangun dalam skala kawasan, maka perhitungan KDB-nya didasarkan pada total luas lantai dasar
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 18 bangunan rusuna bertingkat tinggi terhadap total luas daerah/kawasan perencanaan.
Bangunan rusuna bertingkat tinggi harus memenuhi ketentuan garis sempadan bangunan dan jarak bebas antar bangunan gedung, dengan ketentuan sebagai berikiut:
1) Dalam hal bangunan rusuna bertingkat tinggi dibangun berbatasan dengan jalan, maka tidak boleh melanggar garis sempadan jalan yang ditetapkan untuk jalan yang bersangkutan.
2) Dalam hal bangunan rusuna bertingkat tinggi dibangun berbatasan dengan sungai, maka tidak boleh melanggar garis sempadan sungai yang ditetapkan untuk sungai yang bersangkutan.
3) Dalam hal bangunan rusuna bertingkat tinggi dibangun di tepi
pantai/dan maka tidak boleh melanggar garis sempadan pantai/danau yang bersangkutan.
4) Jarak bebas bangunan rusuna bertingkat tinggi terhadap bangunan gedung lainnya minimum 4 m pada lantai dasar, dan pada setiap penambahan lantai/tingkat bangunan ditambah 0,5 m dari jarak bebas lantai di bawahnya sampai mencapai jarak bebas terjauh 12,5 m.
5) Jarak bebas antar dua bangunan rusuna bertingkat tinggi dalam suatu tapak diatur sebagai berikut:
a) dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan, maka jarak antara dinding atau bidang tersebut minimal dua kali jarak bebas yang ditetapkan;
b) dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan/atau berlubang, maka jarak antara dinding tersebut minimal satu kali jarak bebas yang ditetapkan;
c) dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan, maka jarak dinding terluar minimal setengah kali jarak bebas yang ditetapkan.
6) Ketentuan tentang garis sempadan dan jarak bebas antar bangunan ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat dan/atau peraturan menteri.
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 19 2.2.3.2 Arsitektur Bangunan Gedung
a. Persyaratan Penampilan Bangunan Gedung
1) Bentuk denah bangunan gedung rusuna bertingkat tinggi sedapat mungkin simetris dan sederhana, guna mengantisipasi kerusakan yang diakibatkan oleh gempa.
2) Dalam hal denah bangunan gedung berbentuk T, L, atau U, atau panjang lebih dari 50 m, maka harus dilakukan pemisahan struktur atau delatasi untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat gempa atau penurunan tanah.
3) Denah bangunan gedung berbentuk sentris (bujursangkar, segibanyak, atau lingkaran) lebih baik darpada denah bangunan yang berbentuk memanjang
dalam mengantisipasi terjadinya kerusakan akibat gempa.
4) Atap bangunan gedung harus dibuat dari konstruksi dan bahan yang ringan untuk mengurangi intensitas kerusakan akibat gempa.
Delatasi pemisahan struktur Delatasi atau pemisahan struktur
Delatasi atau pemisahan struktur
> 50 m
> 50 m
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 20 b. Perancangan Ruang Dalam
1) Bangunan rusuna bertingkat tinggi sekurang-kurangnya memiliki ruang- ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan pribadi, kegiatan keluarga/bersama dan kegiatan pelayanan.
2) Satuan rumah susun sekurang-kurangnya harus dilengkapi dengan dapur, kamar mandi dan kakus/WC.
c. Persyaratan Tapak Besmen Terhadap Lingkungan
1) Kebutuhan besmen dan besaran koefisien tapak besmen (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan, ketentua teknis, dan kebijaksanaan daerah setempat.
2) Untuk keperluan penyediaan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP yang memadai, lantai besmen pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap besmen kedua (B-2) yang di luar tapak bangunan harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman.
d. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir
1) Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah, jelas dan terintegrasi dengan sarana transportasi baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi.
2) Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki termasuk penyandang cacat dan lanjut usia.
3) Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran, dan kendaraan pelayanan lainnya.
4) Sirkulasi perlu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan, rambu- rambu, papan informasi sirkulasi, elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman), guna mendukung sistem sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika.
5) Setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi diwajibkan menyediakan area parkir dengan rasio 1 (satu) lot parkir kendaraan untuk setiap 5 (lima) unit hunian yang dibangun.
6) Penyediaan parkir di pekarangan boleh mengurangi daerah penghijauan yang telah ditetapkan.
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 21 7) Perletakan Prasarana parkir bangunan rusuna bertingkat tinggi tidak
diperbolehkan mengganggu kelancaran lalu lintas, atau mengganggu lingkungan di sekitarnya.
e. Pertandaan (Signage)
1) Penempatan pertandaan (signage), termasuk papan iklan/reklame, harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/dipertahankan, baik yang penempatannya pada bangunan, kaveling, pagar, atau ruang publik.
2) Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/kawasan tertentu, Kepala Daerah dapat mengatur pembatasan- pembatasan ukuran, bahan, motif, dan lokasi dari signage.
f. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan Gedung
1) Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan memperhatikan karakter lingkungan, fungsi dan arsitektur bangunan.
2) Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum.
3) Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan, silau, visual yang tidak menarik, dan telah
memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan.
2.2.3.3 Pengendalian Dampak Lingkungan
a. Setiap kegiatan dalam penyelenggaraan rusuna bertingkat tinggi tidak diperbolehkan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan yang meliputi:
1) perubahan pada sifat-sifat fisik dan/atau hayati lingkungan, yang melampaui baku mutu lingkungan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan;
2) perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui, berdasarkan pertimbangan ilmiah;
3) hal-hal yang mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan/atau endemik, dan/atau dilindungi menurut ketentuan peraturan perundang-undangan terancam punah, atau habitat alaminya mengalami kerusakan;
4) hal-hal yang menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung, cagar alam, taman nasional, suaka margasatwa, dan sebagainya) yang telah ditetapkan menurut ketentuan peraturan
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 22 perundang-undangan;
5) hal-hal yang merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi;
6) hal-hal yang mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi;
7) hal-hal yang mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau kontroversi dengan
masyarakat, dan/atau pemerintah .
b. Kegiatan pembangunan rusuna bertingkat tinggi yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan, atau secara teknologi dapat dikelola dampak pentingnya, tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL, tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan.
c. Ketentuan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pembangunan bangunan Rusuna Bertingkat Tinggi dan lingkungannya yang harus memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
2.2.3.4 Rencana Tata Bangunan Dan Lingkungan (RTBL)
a. Dalam hal pembangunan rusuna bertingkat tinggi merupakan bagian dari suatu pengembangan kawasan terpadu, maka pengembangannya harus disusun berdasarkan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan kawasan yang bersangkutan.
b. RTBL merupakan tindak lanjut rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana teknik ruang kabupaten/kota, dan sebagai panduan rancangan kawasan, dalam rangka perwujudan kesatuan karakter, kualitas bangunan gedung dan lingkungan yang berkelanjutan, serta merupakan instrumen guna meningkatkan:
1) Perwujudan kesatuan karakter;
2) Kualitas bangunan gedung; dan 3) Lingkungan yang berkelanjutan
c. RTBL tersebut digunakan sebagai panduan dalam pengendalian pemanfaatan ruang suatu lingkungan/kawasan, yang memuat:
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 23 1) Program Bangunan dan Lingkungan
2) Rencana Umum dan Panduan Rancangan 3) Rencana Investasi
4) Ketentuan Pengendalian Rencana dan Pedoman Pengendalian Pelaksanaan d. Ketentuan penyusunan RTBL mengikuti Pedoman Umum Penyusunan RTBL
yang berlaku.
2.2.4 Ketentuan Teknis Keandalan Bangunan Rusunawa Bertingkat Tinggi 2.2.4.1 Persyaratan Keselamatan
a. Persyaratan Struktur Bangunan Gedung 1) Struktur Bangunan Gedung
a) Setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi, strukturnya harus direncanakan dan dilaksanakan agar kuat, kokoh, dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan keselamatan (safety), serta memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi bangunan gedung, lokasi, keawetan, dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya.
b) Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh- pengaruh aksi sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur,baik beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa, angin, pengaruh korosi, jamur, dan seranggaperusak.
c) Dalam perencanaan struktur bangunan rusuna bertingkat tinggi terhadap pengaruh gempa, semua unsur struktur baik bagian dari substruktur maupun struktur gedung, harus diperhitungkan dapat memikul pengaruh gempa rencana sesuai dengan zona gempanya.
d) Struktur bangunan rusuna bertingkat tinggi harus direncanakan secara daktail sehingga pada kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan, apabila terjadi keruntuhan kondisi strukturnya masih dapat memungkinkan penghuni menyelamatkan diri.
e) Dalam hal lantai dasar merupakan ruang terbuka atau ruang semi terbuka, struktur harus direncanakan dengan memperhatikan batasan perbedaan kekakuan antar tingkat seperti dipersyaratkan SNI 03-1726-2002. Jika diperlukan komponen pengaku tambahan dilantai dasar, perencanaannya harus dikoordinasikan dengan perencana arsitektur.
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 24 2) Pembebanan pada Bangunan Rusuna Bertingkat Tinggi
a) Analisis struktur harus dilakukan untuk memeriksa respon struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur kelayanan struktur, termasuk beban tetap, beban sementara (angin, gempa) dan beban khusus.
b) Penentuan mengenai jenis, intensitas dan cara bekerjanya beban harus mengikuti:
(1) SNI 03-1726-2002 Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk rumah dan gedung, atau edisi terbaru; dan
(2) SNI 03-1727-1989 Tata cara perencanaan pembebanan untuk rumah dan gedung, atau edisi terbaru.
(3) SNI 03-2847-2002; Tata Cara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung.
Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
c) Struktur Atas Bangunan Rusuna Bertingkat Tinggi.
(1) Konstruksi beton
Perencanaan konstruksi beton harus mengikuti:
(a) SNI 03-1734-1989 Tata cara perencanaan beton dan struktur dinding bertulang untuk rumah dan gedung, atau edisi terbaru;
(b) SNI 03-2847-1992 Tata cara penghitungan struktur beton untuk bangunan gedung, atau edisi terbaru;
(c) SNI 03-3430-1994 Tata cara perencanaan dinding struktur pasangan blok beton berongga bertulang untuk bangunan rumah dan gedung, atau edisi terbaru;
(d) SNI 03-3976-1995 Tata cara pengadukan pengecoran beton, atau edisi terbaru;
(e) SNI 03-2834-2000 Tata cara pembuatan rencana campuran beton normal, atau edisi terbaru; dan
(f) SNI 03-3449-2002 Tata cara rencana pembuatan campuran beton ringan dengan agregat ringan, atau edisi terbaru.
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 25 Sedangkan untuk perencanaan dan pelaksanaan konstruksi beton pracetak dan prategang harus mengikuti:
(a) Tata Cara Perencanaan dan Pelaksanaan Konstruksi Beton Pracetak dan Prategang untuk Bangunan Gedung;
(b) Metoda Pengujian dan Penentuan Parameter Perencanaan Tahan Gempa Konstruksi Beton Pracetak dan Prategang untuk Bangunan Gedung; dan
(c) Spesifikasi Sistem dan Material Konstruksi Beton Pracetak dan Prategang untuk Bangunan Gedung.
Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
(2) Konstruksi Baja
Perencanaan konstruksi baja harus mengikuti:
(a) SNI 03-1729-2002 Tata cara perencanaan bangunan baja untuk gedung, atau edisi terbaru; Tata Cara dan/atau pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja;
(b) Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja; dan
(c) Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi.
Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
d) Struktur Bawah Bangunan Rusuna Bertingkat Tinggi (1) Pondasi Langsung
(a) Pondasi langsung hanya diperbolehkan untuk menyangga komponen non struktural atau dinding-dinding pengisi bukan struktur bangunan utama.
(b) Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas.
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 26 (c) Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai
teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek, berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain.
(d) Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai.
(e) Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang
e) Keandalan Bangunan Rusuna Bertingkat Tinggi (1) Keselamatan Struktur
(a) Untuk menentukan tingkat keandalan struktur Bangunan rusuna bertingkat tinggi, harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung.
(b) Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan rusuna bertingkat tinggi harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan gedung, sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur.
(c) Pemeriksaan keandalan bangunan rusuna bertingkat tinggi dilaksanakan secara berkala, untuk mencegah terjadinya keuntuhan struktur yang tidak diharapkan, dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai keahliannya.
(2) Persyaratan Bahan
(a) Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan, termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan, serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait.
(b) Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan, harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud.
(c) Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan, serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan.
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 27 Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
b. Persyaratan Kemampuan Bangunan Rusuna Bertingkat Tinggi Terhadap Bahaya Kebakaran
1) Bangunan rusuna bertingkat tinggi harus dilengkapi dengan sistem proteksi pasif dan sistem proteksi aktif.
2) Sistem Proteksi Pasif
a) Setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi harus mempunyai sistem proteksi pasif terhadap bahaya kebakaran yang memproteksi harta milik berbasis pada desain atau pengaturan terhadap komponen arsitektur dan struktur bangunan gedung sehingga dapat melindungi penghuni dan benda dari kerusakan fisik saat terjadi kebakaran.
b) Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi resiko kebakaran, geometri ruang, bahan bangunan terpasang, dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan gedung.
c) Pada sistem proteksi pasif yang perlu diperhatikan meliputi: persyaratan kinerja, ketahanan api dan stabilitas, tipe konstruksi tahan api, tipe konstruksi yang diwajibkan, kompartemenisasi dan pemisahan, dan perlindungan pada bukaan (fire stop).
d) Sistem proteksi pasif tersebut harus mengikuti:
(1) SNI 03-1736-2000 Tata cara perencanaan sistem proteksi pasif untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung, atau edisi terbaru; dan
(2) SNI 03-1746-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan ke luar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung, atau edisi terbaru.
Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
3) Sistem Proteksi Aktif
a) Setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi, harus dilindungi terhadap bahaya kebakaran dengan proteksi aktif.
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 28 b) Penerapan sistem proteksi aktif didasarkan pada fungsi, klasifikasi, luas,
ketinggian, volume bangunan, dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan rusuna bertingkat tinggi.
c) Pada sistem proteksi aktif yang perlu diperhatikan meliputi:
(1) Sistem Pemadam Kebakaran baik berupa APAR, sprinkler, hidran box maupun hidran pilar/halaman;
(2) Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran;
(3) Sistem Pengendalian Asap Kebakaran; dan (4) Pusat Pengendali Kebakaran
d) Sistem proteksi aktif tersebut harus mengikuti:
(1) SNI 03-3987-1995 Tata cara perencanaan, pemasangan pemadam api ringan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung;
(2) SNI 03-1745-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem pipa tegak dan slang untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung, atau edisi terbaru;
(3) SNI 03-3985-2000 Tata cara perencanaan, pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung, atau edisi terbaru;
(4) SNI 03-3989-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem springkler otomatik untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung, atau edisi terbaru;
(5) SNI 03-6571-2001 Sistem pengendalian asap kebakaran pada bangunan gedung, atau edisi terbaru; dan
(6) SNI 03-0712-2004 Sistem manajemen asap dalam mal, atrium, dan ruangan bervolume besar, atau edisi terbaru.
Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
4) Persyaratan Jalan Keluar dan Aksesibilitas untuk Pemadaman Kebakaran a) Persyaratan jalan keluar dan aksesibilitas untuk pemadaman kebakaran
meliputi perencanaan akses bangunan dan lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rusuna bertingkat tinggi,
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 29 dan perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran.
b) Persyaratan jalan keluar dan aksesibilitas untuk pemadaman kebakaran tersebut harus mengikuti:
(1) SNI 03-1735-2000 Tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung, atau edisi terbaru; dan
(2) SNI 03-1736-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada gedung, atau edisi terbaru.
Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
5) Persyaratan Pencahayaan Darurat, Tanda Arah Keluar/Eksit, dan Sistem Peringatan Bahaya
a) Persyaratan pencahayaan darurat, tanda arah keluar/eksit, dan sistem peringatan bahaya dimaksudkan untuk memberikan arahan yang jelas bagi pengguna bangunan rusuna bertingkat tinggi dalam keadaan darurat untuk dapat menyelamatkan diri, yang meliputi:
(1) Sistem pencahayaan darurat;
(2) Tanda arah keluar/eksit; dan (3) Sistem Peringatan Bahaya.
b) Pencahayaan darurat, tanda arah keluar, dan sistem peringatan bahaya dalam gedung harus mengikuti SNI 03-6573-2001 Tata cara perancangan pencahayaan darurat, tanda arah dan sistem peringatan bahaya pada bangunan gedung, atau edisi terbaru. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
6) Persyaratan Komunikasi Dalam Bangunan Rusuna Bertingkat Tinggi
a) Persyaratan komunikasi dalam bangunan rusuna bertingkat tinggi dimaksudkan sebagai penyediaan sistem komunikasi baik untuk keperluan internal bangunan maupun untuk hubungan ke luar, pada
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 30 saat terjadi kebakaran dan/atau kondisi darurat lainnya. Termasuk antara lain: sistem telepon, sistem tata suara, sistem voice evacuation, dll.
b) Penggunaan instalasi tata suara pada waktu keadaan darurat dimungkinkan asal memenuhi pedoman dan standar teknis yang berlaku.
7) Persyaratan Instalasi Bahan Bakar Gas
a) Dalam hal rusuna bertingkat tinggi menggunakan gas pembakaran dari Instalasi Gas Kota, maka harus memenuhi ketentuan:
(1) Rancangan sistem distribusi gas pembakaran, pemilihan bahan dan konstruksinya mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang, atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan.
(2) Instalasi pemipaan (mulai dari katup penutup, meter-gas atau regulator) mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang, atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan.
Katup penutup, meter-gas atau regulator harus ditempatkan di luar bangunan.
(3) Pada instalasi untuk pembakaran, harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mendeteksi kebocoran gas yang secara otomatis mematikan aliran gas.
b) Dalam hal rusuna bertingkat tinggi menggunakan gas pembakaran Instalasi gas elpji (LPG), maka harus memenuhi ketentuan:
(1) Rancangan sistem distribusi gas pembakaran, pemilihan bahan dan konstruksinya mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang, atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan.
(2) Instalasi pemipaan untuk rumah tangga (domestik) dan gedung (komersial) mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang, atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan.
(3) Bila pasokan dari beberapa tabung silinder digabung ke dalam satu manipol (manifold atau header), maka harus mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang, atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Tabung-tabung silinder yang digabung harus ditempatkan di luar bangunan rusuna bertingkat
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 31 tinggi. Dalam hal tabung-tabung tersebut harus ditempatkan dalam bangunan, maka harus diletakkan di lantai dasar dan salah satu dinding ruangan gas tersebut merupakan dinding luar dari bangunan dan dinding lainnya harus memiliki TKA 120/120/120.
Tabung-tabung tersebut dapat pula diletakkan di lantai teratas bangunan rusuna bertingkat tinggi.
(4) Pada instalasi untuk pembakaran, harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mendeteksi kebocoran gas yang secara otomatis mematikan aliran gas, dan tanda “DILARANG MEROKOK”.
8) Manajemen Penanggulangan Kebakaran
Setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi harus memiliki unit manajemen pengamanan kebakaran.
c. Persyaratan Kemampuan Bangunan Rusuna Bertingkat Tinggi Terhadap Bahaya Petir dan Bahaya Kelistrikan
1) Persyaratan Instalasi Proteksi Petir
a) Setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi harus dilengkapi dengan proteksi terhadap petir, dalam upaya untuk mengurangi secara nyata risiko kerusakan yang disebabkan oleh petir terhadap bangunan gedung yang diproteksi, termasuk di dalamnya manusia serta perlengkapan bangunan lainnya.
b) Persyaratan proteksi petir harus memperhatikan sebagai berikut:
(1) Perencanaan sistem proteksi petir;
(2) Instalasi Proteksi Petir; dan (3) Pemeriksaan dan Pemeliharaan
c) Persyaratan sistem proteksi petir harus memenuhi SNI 03-7015-2004 Sistem proteksi petir pada bangunan gedung, atau edisi terbaru.
Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
2) Persyaratan Sistem Kelistrikan
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 32 a) Sistem kelistrikan dalam rusuna bertingkat tinggi harus memenuhi
Persyaratan sistem kelistrikan yang meliputi sumber daya listrik, panel hubung bagi, jaringan distribusi listrik, perlengkapan serta instalasi listrik untuk memenuhi kebutuhannya.
b) Sistem kelistrikan dalam rusuna bertingkat tinggi harus dapat menjamin aspek keselamatan manusia, keamanan instalasi listrik beserta perlengkapannya, keamanan gedung serta isinya dari bahaya kebakaran akibat listrik, dan perlindungan lingkungan.
c) Persyaratan sistem kelistrikan harus memperhatikan:
(1) Perencanaan instalasi listrik;
(2) Jaringan distribusi listrik;
(3) Beban listrik;
(4) Sumber daya listrik;
(5) Transformator distribusi;
(6) Pemeriksaan dan pengujian; dan (7) Pemeliharaan
d) Persyaratan sistem kelistrikan harus mengikuti:
(1) SNI 04-0227-1994 Tegangan standar, atau edisi terbaru;
(2) SNI 04-0225-2000 Persyaratan umum instalasi listrik (PUIL 2000), atau edisi terbaru;
(3) SNI 04-7018-2004 Sistem pasokan daya listrik darurat dan siaga, atau edisi terbaru; dan
(4) SNI 04-7019-2004 Sistem pasokan daya listrik darurat menggunakan energi tersimpan, atau edisi terbaru.
Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 33 2.2.4.2 Persyaratan Kesehatan Bangunan Gedung
a. Persyaratan Sistem Penghawaan
1) Setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi harus mempunyai ventilasi alami dan/atau ventilasi mekanik/buatan sesuai dengan fungsinya.
2) Bangunan rusuna bertingkat tinggi harus mempunyai bukaan permanen, kisi-kisi pada pintu dan jendela dan/atau bukaan permanen yang dapat dibuka untuk kepentingan ventilasi alami.
3) Persyaratan teknis sistem ventilasi, kebutuhan ventilasi, harus mengikuti:
a) SNI 03-6390-2000 Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan gedung, atau edisi terbaru;
b) SNI 03-6572-2001 Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung, atau edisi terbaru;
c) Standar tentang tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem ventilasi; dan
d) Standar tentang tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem ventilasi mekanis.
Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
b. Persyaratan Sistem Pencahayaan
1) Setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi harus memenuhi persyaratan sistem pencahayaan alami dan/atau pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya.
2) Bangunan rusuna bertingkat tinggi harus mempunyai bukaan untuk pencahayaan alami yang optimal, disesuaikan dengan fungsi bangunan hunian dan fungsi masing-masing ruang di dalamnya.
3) Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang-dalam bangunan rusuna bertingkat tinggi dengan mempertimbangkan efisiensi, penghematan energi yang digunakan, dan penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau pantulan.
4) Pencahayaan buatan yang digunakan untuk pencahayaan darurat harus dipasang pada bangunan rusuna bertingkat tinggi, serta dapat bekerja secara otomatis dan mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman.
Diklat Pemeliharaan dan Perawatan Rusunawa 34 5) Semua sistem pencahayaan buatan, kecuali yang diperlukan untuk
pencahayaan darurat, harus dilengkapi dengan pengendali manual, dan/atau otomatis, serta ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca oleh penghuni.
6) Pencahayaan alami dan buatan diterapkan pada ruangan dalam bangunan rusuna bertingkat tinggi baik di dalam bangunan maupun di luar.
7) Persyaratan pencahayaan harus mengikuti:
a) SNI 03-6197-2000 Konservasi energi sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung, atau edisi terbaru;
b) SNI 03-2396-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung, atau edisi terbaru; dan
c) SNI 03-6575-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung, atau edisi terbaru.
Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
c. Persyaratan Sistem Air Minum dan Sanitasi
1) Setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi harus menyediakan sistem air minum yang memenuhi ketentuan:
a) Sistem air minum harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan sumber air minum, kualitas air bersih, sistem distribusi, dan penampungannya.
b) Sumber air minum dapat diperoleh dari sumber air berlangganan dan/atau sumber air lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku.
c) Perencanaan sistem distribusi air minum dalam bangunan gedung harus memenuhi debit air dan tekanan minimal yang disyaratkan.
d) Penampungan air minum dalam bangunan gedung diupayakan sedemikian rupa agar menjamin kualitas air.
e) Penampungan air minum harus memenuhi persyaratan kelaikan fungsi bangunan gedung.
f) Persyaratan plambing dalam bangunan rusuna bertingkat tinggi harus mengikuti:
(1) Kualitas air minum mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan sistem Air Minum dan