• Tidak ada hasil yang ditemukan

Artikel Sopyan Pembelajaran Tematik Inte (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Artikel Sopyan Pembelajaran Tematik Inte (1)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BIODATA PENULIS

A. Data Pribadi

Nama

: Sopyan Hendrayana, S.Pd

Tempat, Tanggal Lahir

: Bogor, 29 Juni 1988

Jenis Kelamin

: Pria

Tinggi, Berat Badan

: 165 cm, 53 kg

Golongan Darah

: A

Status Perkawinan

: Belum Kawin

Agama

: Islam

Pekerjaan Sekarang

: Guru SD Laboratorium UPI Cibiru

Mahasiswa Pascasarjana UPI Jurusan Pendidikan Dasar

Alamat asal

: Kp. Cibodas No. 26 RT. 02 RW. 03 Desa Cibodas

Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor. Kode POS 16830

Alamat sekarang

: Jl. UPI Cibiru, Gg. Istikomah VI Cinunuk Cileunyi

Bandung

Telepon

: 085213748468

Email

: [email protected]

B. Latar Belakang Pendidikan

SD

: SDN Malati (Bogor)

Tahun: 2000

SMP

: SMPN 1 Jonggol (Bogor)

Tahun: 2003

SMA

: SMAN 1 Jonggol (Bogor)

Tahun: 2006

Perguruan Tinggi

: S1 PGSD Universitas Pendidikan Indonesia

Kampus cibiru (Bandung)

S2 Pendidikan Dasar

Universitas Pendidikan Indonesia

Tahun: 2011

2012 (Sekarang)

(2)

DALAM MENGEMBANGKAN SIKAP ILMIAH PESERTA DIDIK SD Sopyan Hendrayana

Universitas Pendidikan Indonesia

ABSTRAK

Thematic integrative model of learning is integrated by using a unifying theme among the subjects. Thematic integrative curriculum in 2013 using a scientific approach in which to apply scientific attitude through the stages; observation, asking, reasoning, doing, processing, presenting, summarizing, and communicating. Knowledge is not good enough if not supported with activities involving psikomorik or skills. It is intended that students can experience a positive development in terms of both knowledge and skills. But here the teacher has a very important role that knowledge and those skills can evoke attitudes in line with expectations, one of which is the scientific attitude. This was carried out in order to balance the ability of learning hard skills and soft skills, so that the scientific attitude of students will appear and the students will be used to solve problems and be ready to face the future development of the golden era.

Tematik integratif merupakan model pembelajaran terpadu dengan menggunakan tema sebagai pemersatu antar mata pelajaran. Tematik integratif dalam kurikulum 2013 menggunakan pendekatan scientific yang di dalamnya menerapkan sikap ilmiah melalui tahapan; pengamatan, menanya, menalar, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Pengetahuan yang baik tidak cukup apabila tidak didukung dengan kegiatan yang melibatkan psikomorik atau keterampilan. Hal tersebut dimaksudkan agar peserta didik dapat mengalami perkembangan positif baik dari segi pengetahuan maupun keterampilan. Namun di sini guru memiliki peran yang sangat penting agar pengetahuan dan keterampilan tersebut dapat membangkitkan sikap yang sesuai dengan harapan, salah satunya adalah sikap ilmiah. Hal ini diupayakan agar pembelajaran dapat menyeimbangkan kemampuan hard skill dan soft skill, sehingga sikap ilmiah peserta didik akan muncul dan peserta didik akan terbiasa memecahkan masalah dan siap untuk menghadapi perkembangan zaman dimasa keemasannya.

Kata kunci :tematik integratif, pendekatan scientific, sikap ilmiah

Pendahuluan

Perkembangan zaman senantiasa menuntut dunia pendidikan untuk melakukan perubahan, perubahan tersebut akan berbanding lurus dengan perubahan pola sistem pembelajaran. Peningkatan mutu pembelajaran di sekolah akan selalu mendapatkan perbaikan-perbaikan secara berkelanjutan. Perbaikan dan penyempurnaan tersebut dilakukan melalui perubahan kurikulum sekolah oleh pemerintah. Kurikulum itu memang bersifat dinamis, harus selalu menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Di samping itu melalui berbagai observasi, evaluasi pendidikan, masukan dari para pakar pendidikan serta masukan dari masyarakat, maka pemerintah berusaha untuk memperbaiki kurikulum yang mereka pandang perlu untuk diadakan perbaikan dan penyempurnaan. Meskipun masyarakat banyak yang mengasumsikan,bahwa setiap ganti menteri mesti ganti kurikulum. Sebagai sorang guru yang professional, sudah seharusnya cepat merespon perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum yang terjadi merupakan hal yang biasa dan merupakan suatu keniscayaan dalam rangka mengikuti perkembangan masyarakat yang begitu cepat. (Kunandar,2007;107).

(3)

mendapatkan nilai pengetahuan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai sikap moral dan ilmiahnya, misalnya nilai Agama 9, IPA 9 tetapi masih adanya peserta didik Sekolah Dasar (SD) yang berkata kasar dengan membawa nama binatang, kurang peduli lingkungan, mencontek saat ujian, sekolah menengah yang tawuran, hingga korupsi di setiap elemen kelembagaan. Hal itu menunjukkan bahwa insan tersebut belum mampu memecahkan masalah secara ilmiah dan sikap ilmiah pada diri peserta didik belum betul-betul tertanam sejak dini, karena pada saat pembelajaran guru hanya fokus pada penguasaan segi kognitif peserta didik saja.

Begitu pentingnya sikap ilmiah untuk ditanamkan karena akan berpengaruh pada keseimbangan anatara hard skill dan soft skill. Di mana hard skill berkaitan dengan kemampuan pengetahuan sedangkan soft skill berkaitan dengan sikap (khususnya sikap ilmiah) maupun keterampilan, dan permasalahan di atas menunjukkan adanya kurang keseimbangan antara hard skill dan soft skill. Maka dari itu perlu adanya pola pembelajaran yang memungkinkan dapat mengembangkan dan menyeimbangkan potensi peserta didik baik dari segi hard skill maupun soft skill sehingga sikap ilmiahnya akan muncul. Ternyata pola pembelajaran tersebut ada dalam kurikulum 2013 yang baru-baru ini diluncurkan oleh pemerintah, di mana dalam kurikulum tersebut menerapkan pembelajaran tematik integratif yang dapat mengupayakan keseimbangan hard skill maupun soft skill dan memunculkan sikap ilmiah.

Pemerintah mulai tahun ajaran 2013- 2014 akan menerapkan kurikulum 2013 di setiap jenjang pendidikan sekolah, khususnya tingkat SD/MI mulai dari kelas 1 dan 4. Di mana jenjang sekolah SD/MI mendapatkan porsi perubahan yang cukup banyak dibandingkan jenjang sekolah SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK. Salah satu ciri kurikulum 2013 adalah bersifat tematik integratif. Berkaitan dengan pembelajaran tematik integratif maka penulis pada kesempatan ini akan mengkaji ruang lingkup pembelajaran tematik integratif dan hubungannya terhadap sikap ilmiah.

Pembahasan

Pengertian Tematik Integratif

Tematik berasal dari bahasa Yunani, yaitu tithenai yang berarti “menempatkan” atau “meletakkan” dan kemudian kata tersebut mengalami perkembangan sehigga kata tithenai berubah menjadi tema. Menurut arti katanya tema berarti ” sesuatu yang telah diuraikan ” atau “ sesuatu yang telah ditempatkan”(Gorys Keraf,2001;107). Pengertian secara luas, bahwa tema merupakan alat atau wadah untuk mengenalkan berbagai konsep kepada anak didik secara utuh.

(4)

Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya: a) Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu.

b) Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama.

c) Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.

d) Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik.

e) Peserta didik mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.

f) Peserta didik lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain.

g) Guru dapat menghemat waktu karena beberapa mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan.

Karakteristik Pembelajaran Tematik Integratif

Penerapan pembelajaran tematik integratif di SD dapat disebut sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan, terutama dalam rangka mengimbangi padatnya isi kurikulum yang sering terjadi dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Penjejalan isi kurikulum tersebut dikhawatirkan akan mengganggu perkembangan anak, karena terlalu banyak menuntut anak untuk mengerjakan aktivitas atau tugas-tugas yang melebihi kapasitas dan kebutuhan mereka. Dengan demikian, anak hanya merespon segalanya dari guru, dan mereka akan kehilangan pengalaman pembelajaran yang alamiah dan langsung (direct experiences). Pengalaman-pengalaman sensorik yang membentuk dasar kemampuan pembelajaran abstrak peserta didik menjadi tidak tersentuh, padahal hal tersebut merupakan karakteristik utama perkembangan anak usia SD. Di sinilah mengapa pembelajaran tematik sebagai pendekatan baru dianggap penting untuk dikembangkan di SD.

Terdapat beberapa karakteristik yang perlu dipahami dari pembelajaran tematik integratif, yaitu:

a. Berpusat pada peserta didik (student centered), sedangkan guru berperan sebagai fasilitator.

b. Dapat memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik (direct experiences).

c. Pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas, bahkan dalam pelaksanaan di kelas-kelas awal SD, fokus pembelajaran diarahkan kepada

Tema

Berhemat Energi

Kelas IV

SBdP

3.5 Mengetahui berbagai alur cara dan megolah media

karya (kincir angin)

Matematika 4.1 Mengemukakan pemecahan masalah dengan

KPK dan FPB

(5)

pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan peserta didik.

d. Menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran.

e. Bersifat luwes (fleksibel), sebab guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya.

f. Hasil pembelajaran dapat dikembangkan sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik.

g. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.

Rambu-rambu Pembelajaran Tematik Integratif

Adapun rambu-rambu pembelajaran tematik adalah sebagai berikut: a. Tidak semua mata pelajaran harus disatukan.

b. Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester

c. Kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, tidak harus dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak dapat diintegrasikan dibelajarkan secara tersendiri.

d. Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tem lain maupun disajikan secara tersendiri.

e. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta pananaman nilai-nilai moral.

f. Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, lingkungan dan daerah setempat.

Kelebihan Pembelajaran Tematik Integratif

Pembelajaran tematik memiliki kelebihan dan arti yang penting, yakni: a. Menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan anak didik.

b. Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak didik.

c. Hasil belajar dapat bertahan lama, karena lebih berkesan dan bermakna.

d. Mengembangkan keterampilan berfikir anak didik sesuai dengan persoalan yang dihadapi.

e. Menumbuhkan keterampilan social melalui kerja sama.

f. Memiliki sikap toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain. g. Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi

dalam lingkungan anak didik.

Sikap Ilmiah

(6)

Sikap ilmiah sering dikaitkan dengan pembelajaran sains. Keduanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Menurut National Curriculum Council dalam Bundu, Patta (2006: 39), bahwa sikap ilmiah sangat penting dimiliki pada semua tingkatan pendidikan sains. Adapun sikap ilmiah tersebut di antaranya:

a. Hasrat ingin tahu

Namun pada tingkat SD sikap ilmiah yang difokuskan yaitu membangkitkan rasa ingin tahu (curiosity), sikap penemuan fakta dan data (inventiveness) sikap berpikir kritis (critical thinking) dan ketekunan (persistence). (Bundu, Patta. 2006:40). Penilaian hasil belajar Sains dianggap lengkap jika mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Sikap merupakan tingkah laku yang bersifat umum yang menyebar tipis diseluruh hal yang dilakukan anak didik. Tetapi sikap juga merupakan salah satu yang berpengaruh pada hasil belajar anak didik.

 Menggunakan beberapa alat indera untuk menyelidiki materi dan organisme

 Mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiwa

 Memperlihatkan minat pada hasil percobaan Sikap Penemuan

(inventiveness)

 Menggunakan alat tidak seperti biasanya dan dengan cara yang konstruksif

 Menyarankan percobaan-percobaan baru

 Menguraikan konklusi baru dari pengamatan mereka Berpikir Kritis

(critical thinking)

 Menggunakan fakta-fakta untuk dasar konklusi mereka

 Menunjukkan laporan yang berbeda dengan teman kelasnya

 Merubah pendapat dalam merespon terhadap fakta Ketekunan

(persistence)

 Melanjutkan meneliti sesuatu sesudah “kebaruannya” hilang

 Mengulangi satu percobaan meskipun berakibat kegagalan

 Melengkapi satu kegiatan meskipun teman kelsanya selesai lebih awal.

Salah satu tujuan pengembangan sikap ilmiah adalah untuk menghindari munculnya sikap negatif dari peserta didik. Harlen (Patta Bundu, 2006: 45) mengemukakan empat peranan utama pendidik dalam mengembangkan sikap ilmiah yaitu:

(7)

b. Memberi penguatan positif kepada peserta didik seperti memberi penguatan, penghargaan, dan pujian yang tulus;

c. Menyediakan kesempatan mengembangkan sikap ilmiah; dan

d. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk merefleksikan perilaku dan motivasinya pada bidang sains.

Pembelajaran Tematik Integratif dalam Mengembangkan Sikap Ilmiah

Pembelajaran tematik integratif menggunakan salah satu model pembelajaran terpadu yaitu model jaring laba-laba (webbed model). Menurut Robin Fogarty dalam Kemdikbud (2013:205). Model ini berangkat dari pendekatan tematik sebagai acuan dasar bahan dan kegiatan pembelajaran. Tema yang dibuat dapat mengikat kegiatan pembelajaran, baik dalam mata pelajaran tertentu maupun antarmata pelajaran. Sedangkan proses pembelajaran menggunaan pendekatan pendekatan scientific, hal ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Oleh karena itu kondisi pembelajaran yang diharapkan dapat mendorong peserta didik untuk mencari tahu dari berbagai sumber maupun melalui kegiatan observasi.

Kondisi pembelajaran dengan menggunakan tematik integratif diarahkan agar peserta didik mampu merumuskan masalah (dengan banyak menanya), bukan hanya menyelesaikan masalah dengan menjawab saja. Pembelajaran diharapkan diarahkan untuk melatih berpikir analitis (peserta didik diajarkan bagaimana mengambil keputusan) bukan berpikir mekanistis (rutin dengan hanya mendengarkan dan menghapal semata). Namun selain itu pembelajaran tematik integratif didukung dengan penggunaan pendekatan scientific, di mana pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, menanya, menalar, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Dengan demikian, proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah. Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria berikut ini.

a. Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.

b. Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.

c. Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran.

d. Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain.

e. Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran.

f. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris.

(8)

seperti kegiatan praktikum. Hal tersebut dimaksudkan agar peserta didik dapat mengalami perkembangan positif baik dari segi pengetahuan maupun keterampilan. Namun di sini guru memiliki peran yang sangat penting agar pengetahuan dan keterampilan tersebut dapat membangkitkan sikap yang sesuai dengan harapan, salah satunya adalah sikap ilmiah. Jadi dengan kata lain berdasarkan gambar 2 (Drake, Susan M. 2004:50) bahwa sikap ilmiah akan muncul apabila didukung dengan pengetahuan yang benar dan keterampilan yang baik.

KNOW DO

Enduring Complex

Understandings Interdisciplinary Performance skills Interdisciplinary

concept

Disciplinary skills Disciplinary concept

Topiccs

Lower-order skills Facts, facts, facts

Gambar 2 (Drake, Susan M. 2004:50)

Tahapan Pembelajaran

Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘apa’. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

Adapun contoh tahapan pembelajaran dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Contoh Tahapan Pembelajaran

KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN ALOKASIWAKTU

Pendahuluan  Guru memberikan salam dan mengajak berdoa (religius).

10 menit BE

(9)

KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN ALOKASIWAKTU

 Mengecek kehadiran peserta didik.

 Peserta didik diajak untuk bersyukur dengan adanya energi yang banyak manusia gunakan. (dengan membaca alhamdulillah)

 Melakukan apersepsi melalui pengajuan masalah oleh peserta didik atau guru tentang hemat energi “lampu di siang hari masih menyala, maka apa yang harus kita lakukan?, mengapa demikian...?”

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan tersebut dan ruang lingkup materi yang akan dipelajari.

Inti  Peserta didik membaca teks tentang menghemat energi dengan intonasi dan kosakata yang jelas.

 Peserta didik mencermati gambar, kemudian diminta menyampaikan pendapat dan perasaannya setelah melihat gambar tersebut. (Mengamati gambar tentang menghemat energi dan boros energi)

 Peserta didik membuat 6 pertanyaan (5W + 1H) tentang teks dan gambar menghemat energi. (Menanya)

 Peserta didik menjawab 6 pertanyaan dengan cara disilang dengan teman sebangkunya.

 Peserta didik dibentuk menjadi 5 kelompok.

 Peserta didik melakukan pengamatan di sekitar

(10)

KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN ALOKASIWAKTU

kegiatan pembelajaran. (menyimpulkan)

 Peserta didik mencoba untuk membuat poster dalam rangka mengajak masyarakat untuk menghemat energi. (Mengkomunikasikan)

Penutup Peserta didik dengan bimbingan guru menyimpulkan

hasil pembelajaran yang sudah disampaikan.

Guru memberi kesempatan kepada beberapa peserta didik untuk menyampaikan pendapatnya tentang pembelajaran yang telah diikuti.

Peserta didik mendapatkan soal evaluasi tentang materi ajar melalui buku teks.

Guru menyampaikan pesan moral untuk senantiasa melakukan penghematan energi listrik dengan dimulai pada diri sendiri di lingkungan rumah.

Peserta didik mendapat tugas rumah untuk bekerjasama dengan orang tua dalam mendata jumlah lampu yang ada di rumah.

Salam dan doa penutup.

10 menit

Kesimpulan

Berdasarkan hasil kajian di atas menunjukkan bahwa melalui pembelajaran tematik integratif dapat mengembangkan kemampuan sikap ilmiah peserta didik, hal tersebut didukung dengan adanya penggunaan pendekatan sciantific dalam proses pembelajaran di kurikulum 2013. Di mana scientific itu sendiri memiliki tahapan di antaranya; pengamatan, menanya, menalar, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Tahapan tersebut memiliki kesamaan dengan ciri-ciri sikap ilmiah dalam pembelajaran sains, ciri-ciri tersebut muncul berdasarkan karakteristik peserta didik yang pada usia SD memiliki potensi untuk dapat mengembangkan sikap ilmiah. Selain itu pendekatan scientific atau pendekatan ilmiah lahir berlandaskan atas tujuan pendidikan nasional yang mengharapkan pendidikan dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki sikap ilmiah yang baik dengan didukung keseimbangan hard skill (kognitif) dan soft skill (apektif dan psikomotor) yang handal, sehingga peserta didik siap untuk menghadapi perkembangan zaman dimasa keemasannya.

DAFTAR PUSTAKA

(11)

Angelillo, Janet. (2008). Whole-Class Teaching Minilessons and More. Portsmouth: Heinemann

Bundu, Patta. (2006). Penilaian Keterampilan dan Sikap Ilmiah dalam Pembelajaran Sains SD. Jakarta: Depdiknas

Drake, Susan M and Burns, Rebecca C. (2004). Meeting Standards Through Integrated Curriculum. United States: ASCD

Drake, Susan M. (2007). Creating Standards-Based Integrated Curriculum.California: Corwin Press

Keraf Gorys, (2001), Komposisi. Ende-Flores: Nusa Indah

Kunandar, (2007). Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta. PT Rajagrafindo

NN. (2013). Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Depdikbud

Sukmadinata, Nana Syaodih. (2004). Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung: yayasan Kusumakarya

Gambar

Tabel 1
Gambar 2 (Drake, Susan M. 2004:50)

Referensi

Dokumen terkait

Parameter yang digunakan untuk meninjau kelayakan investasi yaitu menggunakan metode Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), Internal Rate of Return (IRR)

Berbicara lembaga pendidikan Islam pada peroiode Mekkah, pada saat itu masih sangat sederhana sekali tepat pertama yang digunakan Rosulullah untuk proses pembelajaran para

PENGARUH PROFITABILITAS DAN KINERJA LINGKUNGAN TERHADAP PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Kecenderungan ini menuntut pada kebutuhan untuk melakukan integrasi terhadap sistem yang berorientasi fungsi agar dapat sejalan dengan proses bisnis.. Yayasan Pendidikan

Berdasarkan fungsi penggunaan sapaan, sapaan bahasa Lampung dialek Komering berfungsi untuk menyapa atau memanggil, melestararikan adat budaya Lampung, menunjukan

Cara Cepat Belajar SPSS 17.0 dan Aplikasi Statistik Penelitian.. Rif‟atul „Aini, Pengaruh Kedisiplinan Terhadap Prestasi Belajar Siswa di MAN Rejotangan

membentuk dan mempengaruhi interaksi mereka dengan orang-orang dan benda-benda. Sehingga guna membantu keluarga untuk mengoptimalkan perkembangan anak CVI dibutuhkan

Kalus embriogenik jahe berumur 10 minggu yang dikulturkan di dalam medium selektif MS + 3% manitol dengan penambahan berbagai taraf konsentrasi filtrat (0 –