Mira Munawaroh, 2016
TRADISI KAWIN GANTUNG DI UJUNG GEBANG: Sebuah Kajian Histors Tahun 1970 – 2015
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil temuan di lapangan mengenai Tradisi Kawin Gantung Di Ujung Gebang: Sebuah Kajian Historis Tahun 1970 - 2015, maka terdapat empat hal yang ingin penulis simpulkan. Pertama, tradisi kawin gantung yang ada di Desa Ujung Gebang merupakan tradisi yang sudah ada sejak lama, yakni telah ada lebih dari satu abad lamanya yang diturunkan secara turun temurun oleh leluhurnya kepada masyarakat pendukungnya. Seluruh masyarakat Ujung Gebang melaksanakan tradisi tersebut, karena mereka meyakini bahwa tradisi yang telah lama ada tersebut tidak bisa begitu saja ditinggalkan. Masyarakat Ujung Gebang juga mempercayai hukum alam. Ketika mereka tidak melaksanakan tradisi yang telah diwariskan maka akan ada sesuatu yang terjadi atau celaka baik itu kepada dirinya sendiri atau pun terjadi kepada desa tersebut.
Tradisi kawin gantung merupakan tradisi mengawinkan anak yang berusia masih kecil, karena syarat dilakukannya kawin gantung adalah belum akil baligh
bagi anak laki-laki dan belum menstruasi bagi anak perempuan. Selain itu, kawin gantung yang ada pada masyarakat Ujung Gebang merupakan sebuah syarat ketika akan diadakan khitanan untuk anak laki-laki dan rasulan untuk anak perempuan. Ketika anak tersebut akan di khitan atau pun di rasul apabila mereka tidak mempunyai pasangan, maka mereka tidak bisa melaksanakan khitanan atau
rasulan tersebut.
Kedua, tradisi kawin gantung di Desa Ujung Gebang telah memiliki perubahan makna dan tujuan dari tahun ke tahun. Meskipun perubahan yang ada termasuk ke dalam perubahan yang lambat karena perubahan tersebut memerlukan waktu yang lama dan perubahan yang terjadi hanya perubahan kecil saja. Perubahan yang terjadi yaitu mengenai diadakannya kawin gantung itu sendiri serta persentase kawin gantung yang berlanjut sampai kepada pernikahan resmi ketika mereka telah dewasa.
Mira Munawaroh, 2016
TRADISI KAWIN GANTUNG DI UJUNG GEBANG: Sebuah Kajian Histors Tahun 1970 – 2015
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Selain sebagai syarat ketika akan di khitan atau di rasul, tujuan dari diadakannya kawin gantung dari tahun 1970-1994 tersebut adalah sebagai ajang perjodohan. Setiap orang tua menginginkan anaknya mendapatkan jodoh yang terbaik sehingga tidak heran para orang tua mencarikan jodoh utnuk anaknya. Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya yakni mulai tahun 1995 ketika sudah mulai terjadinya perubahan terhadap pola kehidupan serta tradisi kawin gantung sampai sekarang, tujuan dari kawin gantung itu tidak hanya sebagai ajang perjodohan saja. Tetapi juga sebagai bentuk pelestarian budaya yang dilaksanakan oleh masyarakat pendukungnya. Tradisi kawin gantung ini sudah seperti jati diri dari masyarakat Ujung Gebang.
Ketiga, perubahan yang terjadi terhadap tradisi kawin gantung yang ada di Desa Ujung Gebang dipengaruhi oleh berbagai bidang kehidupan, yaitu bidang pendidikan, bidang sosial-politik, dan bidang ekonomi. Pendidikan yang ada di Desa Ujung Gebang telah mengalami kemajuan dari sebelumnya, sebelum tahun 1995 masyarakat Ujung Gebang kebanyakan hanya bersekolah sampai pada tingkat Sekolah Dasar karena sarana pendidikan yang ada pun terbatas yakni hanya sampai Sekolah Dasar. Ketika ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi harus menempuh jarak yang jauh, dikarenakan keberadaan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas hanya ada di kecamatan dan kabupaten. Tidak hanya itu, pola pikir masyarakat Ujung Gebang yang masih rendah terhadap pendidikan mengakibatkan masyarakat Ujung Gebang tidak bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Mira Munawaroh, 2016
TRADISI KAWIN GANTUNG DI UJUNG GEBANG: Sebuah Kajian Histors Tahun 1970 – 2015
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
tersebut mengakibatkan berubahnya persentase kawin gantung yang jadi sampai kepada pernikahan resmi hanya 40-50 persen.
Berikutnya yang menyebabkan perubahan dalam tradisi kawin gantung di Desa Ujung Gebang dapat dilihat dari faktor sosial-budaya. Adanya modernisasi menyebabkan kemajuan teknologi dan informasi tak terkecuali pada masyarakat Ujung Gebang. Kemajuan teknologi menyebabkan masyarakatnya berkomunikasi dengan masyarakat luas di luar sana. Tidak hanya itu, dengan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi membuat masyarakatnya berkomunikasi dengan masyarakat di luar desa tersebut yang mempunyai banyak karakter. Banyaknya teman dan kenalan di luar desa menyebabkan mereka tidak hanya berkomunikasi dan bergaul dengan teman satu desa saja. Hal tersebut menyebabkan masyarakat Ujung Gebang mempunyai pola pikir yang baru atau yang berbeda mengenai kawin gantung. Tidak sedikit dari mereka yang tertarik untuk mempunyai pasangan yang berada di luar desa. Sehingga hal ini berpengaruh terhadap tradisi kawin gantung itu sendiri, persentase kawin gantung yang jadi sampai kepada pernikahan resmi berkurang karena dengan bertemunya dengan teman baru mengakibatkan banyaknya kawin gantung yang gagal atau bercerai karena merasa tidak cocok.
Mira Munawaroh, 2016
TRADISI KAWIN GANTUNG DI UJUNG GEBANG: Sebuah Kajian Histors Tahun 1970 – 2015
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Keempat, upaya melestarikan tradisi kawin gantung secara tidak langsung dilakukan oleh seluruh masyarakat Ujung Gebang. Hal tersebut terlihat dengan tidak adanya satu orang pun yang meninggalkan tradisi tersebut bahkan yang sedang merantau sekalipun. Mereka pulang terlebih dahulu untuk melaksanakan kawin gantung anaknya di Desa Ujung Gebang, selain itu syarat untuk melaksanakan khitan dan rasul pada masyarakat Ujung Gebang harus mempunyai pasangan. Sehingga hal tersebut mengakibatkan tradisi kawin gantung tersebut masih ada dan tetap dilaksanakan sampai saat ini oleh seluruh masyarakat Ujung Gebang. Kemudian masyarakatnya mempercayai dengan adanya hukum alam, mereka mempercayai bahwa sesuatu hal bisa terjadi baik itu celaka atau musibah ketika tradisi yang telah lama tidak dilaksanakan. Maka dari itu sampai saat ini tradisi kawin gantung yang ada di Desa Ujung Gebang masih tetap ada dan dilaksanakan oleh masyarakat pendukungnya.
5.2 Rekomendasi
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa saran atau rekomendasi yang akan disampaikan oleh penulis, di antaranya:
a. Dunia Pendidikan
Keberdaan tradisi kawin gantung sampai saat ini memperlihatkan bahwa tradisi tersebut bisa bertahan di tengah arus globalisasi. Hal tersebut didukung oleh masyarakat serta pihak yang terkait di dalamnya. Tradisi kawin gantung ini juga bisa dijadikan pembelajaran kepada siswa mengenai tradisi lokal yang masih ada sampai saat ini di Indonesia. Selain itu untuk membekali calon guru sejarah khususnya dalam memberikan atau menyampaikan materi mengenai sejarah lokal serta pengaruh Hindu yang kemudian berdifusi dengan Islam sehingga lahirlah masyarakat tradisional di Indonesia.
b. Pemerintah Desa Ujung Gebang
Mira Munawaroh, 2016
TRADISI KAWIN GANTUNG DI UJUNG GEBANG: Sebuah Kajian Histors Tahun 1970 – 2015
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
membantu supaya tradisi tersebut tidak sampai punah. Namun pengalaman penulis dalam mencari sumber rujukan mengenai tradisi kawin gantung, terutama dalam bentuk ilmiah baik itu dalam bentuk skripsi, jurnal ataupun buku dirasa cukup sulit dikarenakan belum ada yang meneliti mengenai tradisi kawin gantung sebelumnya. Sehingga dalam hal ini yang harus diperhatikan oleh pemerintah desa ataupun dinas kebudayaan setempat adalah pendokumentasian mengenai tradisi kawin gantung yang ada di Desa Ujung Gebang tersebut. Sehingga ada bukti tertulis mengenai tradisi tersebut untuk selanjutnya diturunkan kepada generasi-generasi berikutnya, tidak hanya melalui tradisi lisan atau oral tradition
dan sejarah lisan atau oral history saja.
c. Masyarakat Ujung Gebang
Selain peran pemerintah, peran masyarakat pun tidak kalah pentingnya dalam hal ini. Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat cukup penting dalam melestarikan tradisi kawin gantung tersebut. Apalagi tradisi kawin gantung ini merupakan sebuah tradisi yang muncul dari bawah ke atas. Meskipun sampai saat ini peran masyarakat sudah cukup baik yakni tetap melaksanakan tradisi tersebut berdasarkan kesadaran diri sendiri. Akan lebih baik masyarakat Ujung Gebang khususnya para sesepuh bekerjasama dengan pemerintah desa untuk mendokumentasikan tradisi tersebut supaya lebih mudah jika generasi muda ingin membaca mengenai tradisi tersbut.
d. Peneliti Selanjutnya